Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Total Views: 26797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 20 of 80 | ‹ First  < 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 >  Last ›

buhitoz - 17/11/2011 04:49 PM
#381

Quote:
Original Posted By mas naruto


kalo versi srilanka rahwana itu justru menjadi pahlawan disana dan penggambarannya menjadi cenderung baik CMIIW Peace:

Begitulah, mbah
Setidaknya setiap cerita punya dua sisi.
D
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.
Digdadinaya - 17/11/2011 05:01 PM
#382

Quote:
Original Posted By buhitoz
Begitulah, mbah
Setidaknya setiap cerita punya dua sisi.
D
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


dan selalu punya sisi abu-abu ya kang...D
Danharuka - 17/11/2011 06:02 PM
#383

Quote:
Original Posted By buhitoz
Begitulah, mbah
Setidaknya setiap cerita punya dua sisi.
D
Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.


Jadi mirip bethari Durga ya mbah.di Jawa dan di India
Digdadinaya - 17/11/2011 06:22 PM
#384

Quote:
Original Posted By sayjei
gan ..!! maap ni ye..!! ane baru denger ada sisi abu-abu ,, bingung emang ada berapa sisi kalo ane boleh tahu ..!! :request

... ... ..


hehehehe...itu cuma ibarat aja kang...D

bahwa terkadang satu tokoh yang kita pandang jelek,masih mempunyai kebaikan...tokoh yang kita pandang baik juga punya kesalahan.
prabuanom - 17/11/2011 06:52 PM
#385

menyibak yg berwarna abu abu D
Digdadinaya - 17/11/2011 10:14 PM
#386

Quote:
Original Posted By prabuanom
menyibak yg berwarna abu abu D


saya lebih suka menyibak yang lainnya dhe....genit:
prabuanom - 17/11/2011 11:30 PM
#387

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
saya lebih suka menyibak yang lainnya dhe....genit:


menyibak pergiwa?
buhitoz - 18/11/2011 12:12 AM
#388
Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa
BERMULA dari obsesi untuk memberikan alternatif agar anaknya tak hanya terbuai tokoh hero asing di televisi, seperti Naruto, One Piece, dan Avatar. ”Kita juga punya pahlawan atau patriot yang selalu menang melawan musuh dan punya jurus-jurus sakti tak kalah dibandingkan Naruto dan yang lain itu,” kata Pitoyo Amrih. Maka, lahirlah novel-novel wayang dari tangannya.

Di tengah era modern dan teknologi komunikasi informasi yang serba digital kini, sementara dunia mitologi dianggap sudah jadi ”masa lalu”, Pitoyo dengan penuh percaya diri menuliskan novel-novel berlatar cerita wayang, seperti dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Sudah enam novel dia tuliskan.

Boleh jadi, dialah satu-satunya penulis novel wayang berbentuk sekuel. Tak seperti novel pop, malah karyanya bisa digolongkan serius kalau melihat ketebalannya yang 360-490 halaman dengan harga berkisar Rp 32.000-Rp 55.000. Rata-rata dicetak 3.000 eksemplar, novel wayangnya laku di pasaran.

Novel pertamanya, Antareja-Antasena, Jalan Kematian Para Ksatria, dikeluarkan Penerbit Pinus Yogyakarta pada 2006. ”Saya menawarkan naskah itu lewat e-mail kepada Pinus dan diterima untuk diterbitkan,” cerita Pitoyo.

Karakter inspiratif

Novelnya dicetak dalam format seperti novel pop dan ilustrasi depan bergaya realistik yang cukup menarik. ”Dalam penulisan, saya tidak memilih metafora atau sastra. Saya memilih gaya naratif-deskriptif yang mudah diterima pembaca umum,” katanya.

Novel wayang Pitoyo mengedepankan karakter tokoh-tokoh wayang yang populer namun cenderung ”dimanusiakan” menjadi manusiawi dengan kekurangan dan kelebihannya.

”Novel saya bukan kisah wayang biasa, tetapi lebih menampilkan karakter yang inspiratif bagi pembaca. Tak selalu tentang perjalanan hidup tokoh protagonis yang watak-watak baiknya bisa menjadi teladan, tetapi bisa tokoh antagonis atau kontroversial. Justru dari kesalahan atau kekeliruan dalam perjalanan hidup tokoh tersebut, kita bisa memetik hikmah sebagai pelajaran,” paparnya.

Novel-novel wayang itu dia tulis di tengah kesibukan rutin selaku staf pada bagian validasi sebuah industri farmasi di Sukoharjo, Jawa Tengah. Selain Antareja-Antasena, enam judul novel yang telah dia tulis adalah Narasoma, Ksatria Pembela Kurawa, Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata, Darkness of Gatotkaca, Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna, dan Resi Durna Sang Guru Sejati.

”Saya berencana menulis sekuel wayang ini total 15 judul, sejak Lokapala, Arjuna Sasrabahu, Ramayana, Perang Bharatayudha, hingga Parikesit,” katanya.

Selain itu, Pitoyo juga menulis kumpulan cerita pendek wayang, seperti Kebaikan Kurawa, Inspirasi Hidup Semar dan Pandawa, serta Ilmu Kearifan Jawa.

Sebagai bukti cerita wayang yang dia tulis diterima khalayak, novelnya, Pertempuran 2 Pemanah Arjuna-Karna, menjadi novel paling laris atau National Best Seller 2010, dan dicetak ulang. Pitoyo pun turut serta memasarkan novelnya melalui internet.

”Saya agak terkejut karena pembaca novel itu ternyata beragam, mulai dari anak usia SD hingga mahasiswa, bahkan orang tua,” tuturnya.

Konsisten

Lebih dari 15 tahun terakhir Pitoyo mengumpulkan berbagai literatur wayang dan naskah kuno Jawa sejak ia bekerja dan menetap di Solo tahun 1994. Ia membuat basis data tentang wayang, seperti Pustaka Raja Purwa, Serat Bharatayudha, Serat Arjuna Wiwaha, Sumantri Ngenger, dan Ensiklopedia Wayang Purwa. Ia juga memiliki 25 buku pedalangan berbentuk file dan sekitar 400 lakon wayang purwa.

Latar belakang akademiknya selaku sarjana teknik mesin dari Institut Teknologi Bandung memberinya kerangka pikir dan cara kerja yang sistematik. Ia membuat alat bantu berupa ”peta” yang menggambarkan jagat wayang. Dalam peta itu, misalnya, ia membuat layout Kerajaan Amarta, Kerajaan Astina, atau Kerajaan Atasangin; kurun waktu pada zaman kerajaan-kerajaan tersebut; juga setting keratonnya, arsitektur bangunan, atmosfer, dan lingkungan alamnya. Ia pun merinci karakter setiap tokohnya, corak busana, hingga aksesorinya.

”Dengan cara itu, saya ingin konsisten dalam penulisan. Seperti kita temukan pada sekuel Harry Potter, misalnya. Saya juga membuat sketsa untuk setiap kerajaan atau lokasi di dalam cerita, semacam jejer dalam pakeliran,” kata Pitoyo.

Dalang muda Ki Jlitheng Suparman asal Solo mengaku kagum akan cara kerja Pitoyo. ”Intelektual seperti inilah yang diharapkan oleh kalangan dalang karena perannya sebagai pujangga yang membuat tafsir ulang atas cerita-cerita wayang dan bisa memberi inspirasi bagi dalang dalam menggarap pakeliran. Tradisi intelektual, seperti pujangga RNg Ronggowarsito, di masa lalu itulah yang sekarang ini hilang,” ungkapnya.

Nilai budaya

Bagi Pitoyo, menulis novel wayang merupakan media komunikasi kreatif tempat dia bisa mengekspresikan diri. Di sana ia bisa menyampaikan pesan tentang nilai-nilai budaya bangsa yang mulai ditinggalkan dan memilih bentuk novel karena mudah dipahami generasi sekarang.

Dunia imajinasi Pitoyo tentang wayang terbangun sejak kelas III SD. Sebulan sekali ia diajak ayahnya menyaksikan pergelaran wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh, Semarang. Juga pentas wayang di Gedung Pancasila dan di halaman RRI Semarang. Hingga SMA, ia masih asyik mendengarkan siaran wayang kulit di radio.

Kesadaran Pitoyo akan nilai-nilai budaya bangsa tergugah justru ketika mengikuti pelatihan bagi motivator dan pengembangan pribadi. Di sana ia melihat nilai yang dikembangkan cenderung didasarkan pada nilai-nilai di negara maju yang berorientasi pada materialisme.

”Saya merasa risau. Kalau nilai-nilai seperti itu yang dikembangkan, kita akan asing dengan nilai-nilai budaya sendiri. Sebagai bangsa, kita akan bangga kalau punya karakter kuat yang didasarkan nilai budaya kita,” ujarnya.

Di Jawa, lanjut Pitoyo, terdapat nilai-nilai budaya dan kearifan berupa falsafah dan ajaran yang menunjukkan karakter bangsa kita. Seperti falsafah ”sugih tanpa banda” yang berarti kaya tanpa harta.

”Itu bermakna bangsa kita hidupnya tak mengutamakan kekayaan atau materi karena kaya tidak hanya diukur dari materi. Begitu pula ajaran nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake (menyerbu tanpa pasukan, mengalahkan tanpa melecehkan),” katanya.

(Ardus M Sawega, Wartawan, Tinggal di Solo)

Sumber: Kompas, Jumat, 11 Maret 2011
bhuta.kala - 18/11/2011 07:24 AM
#389

ijin menyimak lagi mbah kelihatannya semakin menarik \)
agung.wijaya - 18/11/2011 07:44 AM
#390

nemu bacaan Nama Sebutan Pandita dalam pewayangan

Begawan : artinya pepunden, dijunjung tinggi dimana saja berada.
Dwija : artinya angesti terus lahir batin
Dwijajawara : artinya melakukan dua perkara, yang pertama memuja dewa, yang
kedua meminta keselamatan.
Resi : artinya suci.
Wasista : artinya lebih awas, mengetahui sebelum terjadi
Sayuti : artinya mesu cipta
Pandita : artinya guru besar yang serba putus, wajib disebut panembahan.



Angel is Gone
KangMasDibyo - 18/11/2011 09:04 AM
#391

Quote:
Original Posted By agung.wijaya
nemu bacaan Nama Sebutan Pandita dalam pewayangan

Begawan : artinya pepunden, dijunjung tinggi dimana saja berada.
Dwija : artinya angesti terus lahir batin
Dwijajawara : artinya melakukan dua perkara, yang pertama memuja dewa, yang
kedua meminta keselamatan.
Resi : artinya suci.
Wasista : artinya lebih awas, mengetahui sebelum terjadi
Sayuti : artinya mesu cipta
Pandita : artinya guru besar yang serba putus, wajib disebut panembahan.



Angel is Gone


salam kenal mbah newbie..... saya pendatang baru nih mohon dikenal ken mbah nya ya......

nganu... mau nambahin dikit, menurut kitab pergembolan yang dibawa kesana kemari .... kaya begini seingat saya

Begawan : beg gawan.... gawan ne beg, maka dalam pewayangan yang memakai nama begawan bisa anak muda, dewasa, sampai orang tuir... sebab memiliki arti apapun yang dibawa adalah cukup diakui pilihan atau jarang ada yang sama dengan dia
Dwija : ahli puja, kadang dikonotasikan sebagai ahli kebatinan
Dwijajawara : ahli kebatinan yang jarang ada tanding
Resi : dapat diartikan sebuah tanda, atau yang memiliki tanda kesucian, dalam arti bisa mendapatkan tanda kesuciannya dari olah batin nya atau dsb deh...
Wasista : waskita, kalo tidak salah berawal dari kata wasis... yang mengartikan seorang yang bijak dikarenakan kemampuanya dalam memprediksikan berbagai hal yang bertolak dari pemahamannya didalam kehidupannya (bener bener menguasai bidangnya)
Sayuti : dapat dijadikan tauladan, dapat dijadikan panutan, awalan dasar katanya adalah suyut
Pandita : dalam penulisan gaya jawa dibaca sebagai pendito, yang memiliki arti sudah "ngepen" (sudah mencapai dasar dari pengetahuan/sudah bisa menyaring kaya kopi yang sudah dituang dan "letek" nya turun semua, disaring dengan alami dan semua bisa dimurnikan), dita memiliki arti bagus..... jadi bisa menyaring semua hal yang baik sehingga mengerti akan makna sebenarnya....



kalu ndak salah begitu mbah..... muhun maap kalo salah..... Peace:
agung.wijaya - 18/11/2011 09:27 AM
#392

Quote:
Original Posted By KangMasDibyo
salam kenal mbah newbie..... saya pendatang baru nih mohon dikenal ken mbah nya ya......

nganu... mau nambahin dikit, menurut kitab pergembolan yang dibawa kesana kemari .... kaya begini seingat saya

Begawan : beg gawan.... gawan ne beg, maka dalam pewayangan yang memakai nama begawan bisa anak muda, dewasa, sampai orang tuir... sebab memiliki arti apapun yang dibawa adalah cukup diakui pilihan atau jarang ada yang sama dengan dia
Dwija : ahli puja, kadang dikonotasikan sebagai ahli kebatinan
Dwijajawara : ahli kebatinan yang jarang ada tanding
Resi : dapat diartikan sebuah tanda, atau yang memiliki tanda kesucian, dalam arti bisa mendapatkan tanda kesuciannya dari olah batin nya atau dsb deh...
Wasista : waskita, kalo tidak salah berawal dari kata wasis... yang mengartikan seorang yang bijak dikarenakan kemampuanya dalam memprediksikan berbagai hal yang bertolak dari pemahamannya didalam kehidupannya (bener bener menguasai bidangnya)
Sayuti : dapat dijadikan tauladan, dapat dijadikan panutan, awalan dasar katanya adalah suyut
Pandita : dalam penulisan gaya jawa dibaca sebagai pendito, yang memiliki arti sudah "ngepen" (sudah mencapai dasar dari pengetahuan/sudah bisa menyaring kaya kopi yang sudah dituang dan "letek" nya turun semua, disaring dengan alami dan semua bisa dimurnikan), dita memiliki arti bagus..... jadi bisa menyaring semua hal yang baik sehingga mengerti akan makna sebenarnya....



kalu ndak salah begitu mbah..... muhun maap kalo salah..... Peace:


makasih kang penjelasannya shakehand


Angel is Gone
latip.gerus - 18/11/2011 10:07 AM
#393

emang bener sebuah cerita wayang bisa menggambarkn khidupan manusia entah dengan alam entah dengan sesama manusia entah dengan sang MAHA PENCIPTA,,,,,,patut bangga jdi orang indonesia akan ragam budaya,,,
iloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias
Digdadinaya - 18/11/2011 11:04 AM
#394

Quote:
Original Posted By agung.wijaya
nemu bacaan Nama Sebutan Pandita dalam pewayangan

Begawan : artinya pepunden, dijunjung tinggi dimana saja berada.
Dwija : artinya angesti terus lahir batin
Dwijajawara : artinya melakukan dua perkara, yang pertama memuja dewa, yang
kedua meminta keselamatan.
Resi : artinya suci.
Wasista : artinya lebih awas, mengetahui sebelum terjadi
Sayuti : artinya mesu cipta
Pandita : artinya guru besar yang serba putus, wajib disebut panembahan.



Angel is Gone


wah.........ternyata gak cuma Begawan ato Pandita doank ya..
termasuk juga sebutan Brahmana juga kah??

oh ya kang Agung...(ehm...)
dipojok kanan bawah kok ada tulisan "angel is gone"....D
balaprabu - 18/11/2011 12:16 PM
#395

menyimak gan, pembahasan begawan, brahmana, resi, wuih lengkap D
agung.wijaya - 18/11/2011 12:45 PM
#396

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
wah.........ternyata gak cuma Begawan ato Pandita doank ya..
termasuk juga sebutan Brahmana juga kah??

oh ya kang Agung...(ehm...)
dipojok kanan bawah kok ada tulisan "angel is gone"....D


iya kang...sesuatu deh pokoknya \(



Angel is Gone
KangMasDibyo - 18/11/2011 12:59 PM
#397

Quote:
Original Posted By agung.wijaya
makasih kang penjelasannya shakehand


Angel is Gone


iya sama sama dik..... hihihihihihihihihihi kan kan aku dipangil kang.... jadi sah dong manggil dik.... Peace:
KangMasDibyo - 18/11/2011 01:02 PM
#398

Quote:
Original Posted By balaprabu
menyimak gan, pembahasan begawan, brahmana, resi, wuih lengkap D


hlo... gembolan ne ra ditok ke pisan...... kan kan.... ben seruuuuuu gitu ... yuk mari.... genit:
balaprabu - 18/11/2011 01:06 PM
#399

Quote:
Original Posted By KangMasDibyo
hlo... gembolan ne ra ditok ke pisan...... kan kan.... ben seruuuuuu gitu ... yuk mari.... genit:


hura duwe gembolan pak dhe o
KangMasDibyo - 18/11/2011 01:36 PM
#400

Quote:
Original Posted By balaprabu
hura duwe gembolan pak dhe o


hihihihihihihi...... .... sik sik aku ta ngelar gembolan kantung ajaib que..... (icon kedip kedip) hohohohohohohohohohohohohohohohoho.........
Page 20 of 80 | ‹ First  < 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Wayang, Silakan Anda Lihat Dari Berbagai Sudut.