Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Sejarah & Budaya Banyuwangi - Blambangan
Total Views: 48506
Page 14 of 27 | ‹ First  < 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 >  Last ›

igfa - 21/03/2009 03:15 PM
#261

Quote:
Original Posted By untungsuropati
cek cp om
cendol terkirim
makasih postinganya
mantab om


makasih makasih makasih......



slim buat sesepuh
igfa - 21/03/2009 03:28 PM
#262
akhirnya dapet ijo2......
hatiku senaang mendapat ijo2..
akhirnya setelah penantian ber abad2
igfa - 21/03/2009 10:04 PM
#263

kok sepi maning yah???????????????
ayo jenggirat tangiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
xlimyang - 24/03/2009 07:57 PM
#264

Quote:
Original Posted By hateisworthless
menunggu babaran dan postingan mengenai macan putih neh


yee :P .. sory lama gak ol ya tak cari bahannya dulu potonya juga
prabuanom - 26/03/2009 09:33 PM
#265

monggo monggo dilanjut
j4ck_item - 27/03/2009 02:23 PM
#266

Quote:
Original Posted By yudie278
Wah...kalo cerita mengenai blambangan, sedikit sekali sejarah atau mitos yang bercerita mengenai hal ini...yang paling terkenal ya cuma kedigdayaan Minak Jinggo dengan Damarwulan, saking populernya cerita damarwulan hingga dibuatlah kesenian JANGER oleh warga sana.

Kerajaan Blambangan kuno masih dibawah kekuasaan Bali dan tidak tersentuh oleh Kerajaan Mataram atau Majapahit, sehingga budaya blambangan tidak sama dengan budaya jawa lainnya, lebih kepada budaya bali atau hindu-india
hikayat blambangan dimulai dengan Raja yang berasal dari kediri yakni Siung Manoro dan melakukan hubungan dengan Dewi Rara Upas dari Alas Purwo, hubungan ini belum jelas apakah mereka memerintah bersama atau melalui pernikahan

Raja kedua, Kebo Marcuet, putra dari Klungkung, Bali.
Kebo Marcuet adalah anak raja klungkung yang mempunyai sepasang tanduk, hingga orangtuanya malu dan membuang ke alas Purwo, di alas purwo diambil anak oleh seorang resi sakti (pertapa) Ki Ajah Pamengger, yang merupakan kakek Joko Umbaran (Minak Jinggo). Kebo Marcuet lalu menjadi Raja di Blambangan, kesaktian kebo Marcuet meresahkan Majapahit karena terus merongrong kerajaan, diadakanlah sayembara siapa yang bia mengalahkan Kebo marcuet akan dipilih menjadi Raja di Blambangan dan dikimpoikan dengan Putri Majapahit Ratu Kencana Wungu,

Puluhan pemuda sakti tewas ditangan Kebo Marcuet, hingga datanglah Seorang Pemuda Gagah dan sakti asal brati pasuruan yang juga cucu dari Ki Ajah Pamengger guru sekaligus ayah angkat Kebo Marcuet Yakni Jaka Umbaran, kelemahan kebo Marcuet diketahui oleh Jaka Umbaran sehingga tewaslah Kebo Marcuet, Jaka Umbaran juga dibantu oleh seorang pemanjat kelapa sakti bernama Dayun. Naik Tahta lah Jaka Umbaran menjadi Raja Blambangan ketiga dengan gelar Minak Jinggo
dan Dayun penjadi sahabat sekaligus penasihat raja, dan disini tidak dikisahkan kenapa Jaka Umbaran yang gagah berubah menjadi wajah yang sangar, pincang dan agak bongkok. Sehingga pemenang sayembara yang seharusnya dinikahkan dengan Ratu kencana wungu, namun karena wajah Jaka umbaran jadi rusak dan pincang, ratu kencana wungu menolak untuk dinikahkan, hal inilah yang membuat Jaka Umbaran dendam, dan perangainya berubah menjadi ambisius, dan otoriter, dengan kesaktiannya dia meluaskan kerajaannya hingga mencaplok sebagain wilayah Majapahit sampai ke daerah Purbolinggo, puncaknya yakni dia menculik ratu Kencana Wungu dari Majapahit dan diboyong ke blambangan padahal saat itu Minak Jinggo sudah mempunyai 2 istri yang berasal dari Bali, yakni Wahito dan Puyengan. Minak Jinggo mempunyai sejata sakti dan tidak terkalahkan yakni sebuah Gada (pentungan) kuning, gada ini dikisahakan mirip dengan gada Bima (werkudoro) yakni berbentuk Rujak Polo seperti buah dewandaru, gada ini bernama Kyai Wesi Kuning.

KembaliMajapahit kelabakan, kali ini juga dimunculkan Sayembara serupa, yakni siapa yang dapat membunuh Minak Jinggo akan dinikahkan dengan ratu kencana wungu, kembali ratusan pemuda tewas mengikuti sayembara ini, hingga muncullah seorang pemuda yang juga masih pangeran Majapahit dari selir Parabu Barwijaya, yang bernama Damarwulan.

Peperangan anatara Damarwulan dan minak jinggo diceritakan sampai berhari2 karena sama-sama sakti, kisah perjuanagn dan peperangan ini sangatlah populer disana sehingga kesenian pun diberi nama JANGER, dan cerita peperangan ini juga dibuatkan sebuah pantun yang sering dinyanyikan oleh sinden2 dan para pelaku kesenian lainnya, inilah pantunnya

Anjasmara arimami
Masmirah kulaka warta
Aning kutha Prabalingga
Prang tandhing lan Urubisma
Karia mukti wong ayu
Pun kakang pamit palastra

kisah cerita damarwulan dapat mengalahkan Minak Jinggo hingga tewas, sehigga Ratu kencana wungu dapat diselamatkan dan diboyong ke majapahit, dan damarwulan dinikahkan dengan ratu kencana wungu dan menjadi raja, disni tidak dijelaskan menjadi raja majapahit atau bukan.

Kerajaan Blambangan yang kosong, diisi oleh Patih Siung Laut, yang asli Blambangan, dia mempunyai putri cantik bernama Dewi Sedah Merah yang akan dinikahkan dengan Patih Joto Suro, namun sang putri memilih kabur ke Mataram (Jawa Tengah) bersama kekasihnya Pangeran Julang.
Siung Laut bersama istrinya hijrah ke Bali menjadi raja bergelar Jaya Prana dan Layon Sari.

Lalu Jatu Suro menjadi Raja di Blambangan, dan menyerang Mataram untuk mengambil kembali dewi Sedah merah untuk dinikahi, namun Dewi sedah merah memilih bunuh diri. Jatu Suro kembali menginginkan seorang untuk dinikahi, kali ini istri patihnya Ario Bendung, untuk mengakalinya Ario Bendung disuruh menyerang Mataram, ketika Ario bendung menyerang mataram sang istri didekati Joto suro, sang putri inipun memilih bunuh diri, Cerita ini sampai ke Ario Bendung, Ario Bendung marah dan mengamuk dia lalu membunuh Joto Suro, setelah membunuh entah mengapa Sang Ario Bendungpun bunuh diri. Diceritakan setelah kisah Ario Bendung ini kerajaan blambangan kosong, dan masyarakatnya berboyong2 pindah ke mataram. Blambangan dilanda Lahar, sehingga seluruh kerajaan tertutup oleh lahar, dan lama kelamaan Blambangan menjadi hutan belantara bagian dari Alas Purwo...
Sampai disini habis cerita Kerajaan Blambangan.

Yang menarik dalam sejarah atau babad tanah Jawi tidak ada terdapat nama Damarwulan.
Yang ada adalah kisah Seorang Putri Brawijaya III yang bernama Dewi Kencanawulan yang menikah dengan Raja pengging bernama Prabu Pancadriya mempunyai putri bernama Asmayawati/Dewi Asamaya Sekar yang nikah dengan Raja Buaya Putih dan mempunyai Seorang Putra bernama Raden Jaka Sengara, disini disebutkan Putri Brawijaya IV yang bernama Retno Ayu pembayun diculik Raja Blambangan yang bernama Menak Dah Putih atau Minak Jinggo, Raden Jaka Sengara mengikuti sayembara Majapahit dan membunuh Minak Jinggo, Retno Ayu Pembayunpun diboyong oleh Raden Jaka Sengara yang merupakan bekas Kerajaan Pengging yang waktu itu dalam kekuasaan Kerajaan Demak.

Raden Jaka Sengara yang membela Demak gugur dalam Perang saudara antara Mapahit dan Demak. Dan meninggalkan dua orang Putra, yakni:
1.R. Kebo Karinasan >---- Pertapa gunung Merapi
2.R. Kebo Kenanga/ Ki ageng >pengging----- Ayah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya murid Sunan Kalijaga yang merupakan Raja Pajang yang terkenal sakti mandraguna

gitu aja kali ya...seklumit kisah Kerajaan Blambangan Kuno...


akhirnya ada tambahan jga di sini

monggo di lanjut kang
xlimyang - 27/03/2009 03:05 PM
#267

KERAJAAN Blambangan adalah cikal bakal munculnya Kabupaten Banyuwangi. Kebesaran daerah di ujung timur pulau Jawa ini identik dengan keemasan masa kerajaan Majapahit. Sayangnya, sejumlah petilasan yang membuktikan kebesaran Blambangan sudah musnah. Hanya beberapa yang tersisa. Itu pun dalam kondisi memrihatinkan.

Menilik cerita sejarah, Blambangan ada tahun 700 - 1400 masehi. Kurangnya bukti prasasti membuat kehadiran kerajaan ini hanya tersebar sebagai cerita rakyat. Silsilah keturunan bangsawannya pun samasekali tidak ada.

Dari hikayat yang berkembang, ada lima raja yang pernah memerintah Blambangan. Raja pertama Siung Manoro yang datang dari Kediri, Jawa Timur. Tokoh ini pertama kali masuk ke Alas Purwo dan bertempat tinggal di rumah penguasanya, Mbah Dewi Roro Upas. Tidak disebutkan pasti sampai kapan pemerintahan Siung Manoro dan hubungannya dengan ratu Alas Purwo tersebut.

Raja kedua, Kebo Marcuet, putra seorang bangsawan dari Klungkung, Bali. Disebutkan, tokoh ini memiliki sepasang tanduk. Karena keanehan inilah, dia dibuang orangtuanya ke Alas Purwo. Di tempat ini, dia dirawat seorang rsi sakti, Ki Ajah Pamengger, yang juga kakek Minak Jinggo atau Joko Umbaran, salah seorang raja Blambangan.

Selanjutnya Blambangan dipegang Joko Umbaran, pemuda sakti asal daerah Brati, Pasuruan. Kala itu, kerajaan Majapahit dipimpin ratu Kencono Wungu. Naiknya Joko Umbaran menjadi raja diawali sayembara sang Ratu. Ratu cukup repot dengan kehadiran adipati Blambangan Kebo Marcuet yang mulai merongrong Majapahit.

Akhirnya disayembarakan, siapa yang mampu membunuh Kebo Marcuet akan diberi tanah Blambangan dan dijadikan suami Kencono Wungu. Joko Umbaran berhasil membunuhnya. Dia menang setelah dibantu seorang pemanjat kelapa, Dayun. Kemenangan itu harus dibayar mahal. Wajah Joko Umbaran rusak dan kakinya pincang.

Joko Umbaran dinobatkan menjadi raja Blambangan bergelar Minak Jinggo atau Uru Bismo. Dalam hikayat suku Jawa, Minak Jinggo digambarkan seorang raja yang jahat. Dia memiliki senjata besi kuning yang sakti dan memiliki dua istri, Wahito dan Puyengan. Dua permaisuri ini konon berasal dari Bali.

Karena kesaktiannya, Minak Jinggo menjadi raja yang ditakuti. Kekuasaannya terus meluas hingga Probolinggo. Kondisi ini menjadi ancaman bagi Ratu Kencono Wungu.

Apalagi, Minak Jinggo mulai menagih janji untuk bisa dinikahi sesuai bunyi sayembara.
Dalam kondisi tegang, Ratu Kencono Wungu memerintahkan seorang pemuda sakti, Damarwulan, untuk menumpas Minak Jinggo. Usaha ini berhasil.

Minak Jinggo terbunuh dan kepalanya dipenggal. Kisah perjuangan Damarwuan ini hingga sekarang menjadi cerita sejarah paling pupuler bagi komunitas warga Banyuwangi. Begitu populernya, warga membuatnya menjadi sebuah kesenian Damarwulan yang dikenal dengan Janger.

Dikisahkan, setelah membunuh Minak Jinggo, Damarwulan dinikahi Ratu Kencono Wungu dan menjadi raja Majapahit.

Setelah Minak Jinggo, Blambangan dipimpin adipati Siung Laut yang asli warga Blambangan. Dia memiliki seorang putri cantik, Dewi Sedah Merah. Putri ini rencananya dinikahkan dengan patihnya, Joto Suro. Namun, sang Putri memilih kabur ke Mataram (Jawa Tengah) bersama kekasihnya, Pangeran Julang. Kemudian, Siung Laut hijrah ke Bali bersama permaisurinya dan bergelar Jaya Prana dan Layon Sari.
Raja terakhir Blambangan adalah Joto Suro.

Setelah diangkat menjadi raja, Joto Suro kembali ingin mendapatkan Dewi Sedah Merah. Pasukan Joto Suro menyerang Mataram. Usahanya berhasil. Sedah Merah diboyong ke Blambangan. Suaminya, Pangeran Julang, memilih kabur. Meski menjadi tawanan, Dewi Sedah Merah menolak dinikahi. Dia memilih mati dengan cara bunuh diri. Selama menjadi raja, Joto Suro mengangkat patih Ario Bendung.

Ario Bendung kemudian ditipu agar menyerang Mataram. Padahal itu hanyalah akal-akalan Joto Suro untuk menikahi istri Ario Bendung. Namun, gagal, istri Ario Bendung menolak, lalu dibunuh Joto Suro. Mendengar istrinya tewas, Ario Bendung mengamuk. Ia membunuh Joto Suro.

Tanpa penyebab yang jelas, Ari Bendung akhirnya bunuh diri dan tewas di Mataram. Kepergian Ario Bendung ke Mataram bertepatan munculnya banjir lahar yang melanda Blambangan.

Saat itu penduduk Blambangan hanya tinggal 10 orang. Lima bertahan di Blambangan, sisanya memilih pindah ke Mataram. Konon, sejak itu Blambangan menjadi hutan belantara. Seluruh bekas kerajaan yang ditinggalkan hancur tertimbun lahar.

Kisah sejarah Blambangan versi Jawa tersebut dimentahkan para budayawan Banyuwangi. Minimnya bukti di lapangan makin menguatkan pernyataan itu. Sampai kini, Blambangan tetap diyakini baru muncul sekitar tahun 1700, yakni, selama kepemimpinan Prabu Tawang Alun dengan kerajaannya di Desa Macanputih, Kabat.

Tawang Alun diyakini keturunan bangsawan Majapahit dari Jember. Kemudian mendirikan kerajaan Macan Putih sebagai ibu kota Blambangan. Sebelum menetap di Macan Putih, Tawang Alun memindahkan pusat pemerintahannya tiga kali. Pertama di Lateng, Rogojampi, lalu ke Bayu, Songgon, dan terakhir ke Macan Putih, Kabat.

Keturunan Tawang Alun, Rempeg Jogopati, yang berperang puputan melawan Belanda juga diyakini masih memiliki ikatan darah dengan keraton Mengwi, Badung. Dari sinilah nama Banyuwangi muncul setelah menghilangnya Blambangan.

“Bukti sejarah Blambangan memang sangat minim. Apalagi tidak ada satu pun prasasti yang menyebutkannya. Kami hanya menganalisis dari berbagai sumber yang otentik,” kata budayawan Banyuwangi, Hasan Ali.

Konon, dari buku-buku sejarah yang ada di perpustakaan Leiden, Belanda, nama Blambangan hanya disebut sejak pemerintahan Tawangalun. Sebutan ‘Blambangan’ juga misterius.

Ada yang menyebut cikal bakalnya adalah tirto arum. Ada juga dari kesusastraan kerajaan Kediri yang menyebut Blambangan dengan Balamboangan. Artinya, daerah subur penghasil padi terbesar selama pemerintahan Majapahit.

[IMG]http://www.lareosing.org/wp-content/uploads/box-macan-putih-300x296.jpg[IMG]
must.andrew - 27/03/2009 03:38 PM
#268

wuih...sejarah bianyuwangai tambyah mantep....

prabuanom - 27/03/2009 03:50 PM
#269

mantab kang xlimyang
xlimyang - 27/03/2009 07:13 PM
#270

Quote:
Original Posted By prabuanom
mantab kang xlimyang


potoe sik rung sempat kan nang kuburan tawang alun ambi nang patung plus peninggalane :P sabar yoh!
j4ck_item - 28/03/2009 09:18 AM
#271

lanjotno kang xlimyang

ngemeng2 kesok ison mulih Bwi iki

oleh tach mampir2 mrono?...

cek pm yo..
prabuanom - 28/03/2009 09:44 AM
#272

Quote:
Original Posted By xlimyang
potoe sik rung sempat kan nang kuburan tawang alun ambi nang patung plus peninggalane :P sabar yoh!


cek cpne kang
xlimyang - 28/03/2009 02:30 PM
#273

Quote:
Original Posted By prabuanom
cek cpne kang


nggoh opo iku cak, aku gak mudeng
prabuanom - 28/03/2009 07:15 PM
#274

iku ijo ijo ne
xlimyang - 29/03/2009 02:34 PM
#275

Quote:
Original Posted By prabuanom
iku ijo ijo ne


wekekkeke matur nuwun
Na2nkbwi - 10/04/2009 07:34 PM
#276

Waaah... jadi lebih banyak tahu tentang Ilmu pengasihan nich....
Maturtengkyu...
xlimyang - 10/04/2009 08:20 PM
#277

Quote:
Original Posted By Na2nkbwi
Waaah... jadi lebih banyak tahu tentang Ilmu pengasihan nich....
Maturtengkyu...


halah yg dicari pengasihan, mahabah apaom?? bwi mana?? lare ngndi riko??
adipatianom - 11/04/2009 11:27 AM
#278

sik mbah, aku takok oleh ya?pesareane mbah tawang alun teng pundi njih?ada hubungan dengan menak koncar ga kang di lumajang?. adakah makam dari minak jinggo itu sendiri?nyuwun penjabaranya kang
xlimyang - 11/04/2009 11:33 AM
#279

takok nang aku tah ?

tepane nang deso cawang, kadung teko labanasem terus nguloon terus ngalorr sampe kertosari teruusss pas tikungan yo nang daerah kunu
adipatianom - 11/04/2009 11:43 AM
#280

Quote:
Original Posted By xlimyang
takok nang aku tah ?

tepane nang deso cawang, kadung teko labanasem terus nguloon terus ngalorr sampe kertosari teruusss pas tikungan yo nang daerah kunu


kuburane mbah tawangalun?opo sopo kang?akeh sing jiaroh rono?potone pok o rek. penasaran aku.
Page 14 of 27 | ‹ First  < 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [share] Sejarah & Budaya Banyuwangi - Blambangan