Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > [Share] Mp3 Buddhis
Total Views: 33833
Page 10 of 29 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›

RYG Leaf - 21/03/2011 01:34 PM
#181
Puja Bakti Minggu (09 Agustus 2009) Dhammacakka
Quote:
Meningkatkan Kualitas Hidup
oleh Bhante Sudassano

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Attānañce piyaṁ jaññā, rakkheyya naṁ surakkhitaṁ

Apabila seseorang mencintai dirinya sendiri,

maka ia harus menjaga diri dengan sebaik-baiknya.

(Dhammapada, Attavagga 157)

Dalam kehidupan ini tentunya ada hal-hal yang perlu kita waspadai yaitu perbuatan yang keliru atau perbuatan yang tidak benar, karena perbuatan tersebut akan menghasilkan penderitaan. Perbuatan keliru wajar terjadi, karena kita masih diliputi oleh kekotoran batin. Bukan berarti karena hal itu wajar, lalu kita biarkan begitu saja di dalam diri kita. Tentunya hal tersebut tidak benar untuk dipertahankan. Hal yang buruk apabila dipertahankan tidak akan membawa keberuntungan dalam kehidupan ini. Tentunya bagi orang yang berpikir bijak selalu berusaha untuk memperbaiki setiap kesalahan-kesalahan dan kekeliruan yang pernah dilakukannya.

Mengingat kehidupan ini diliputi oleh penderitaan, kita sebagai umat Buddha hendaknya selalu mempunyai komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, “agar hidup kita terasa aman dan bahagia”. Tentunya untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, kita harus mempunyai usaha yang gigih dan semangat untuk mencari jalan pembebasan.

Dalam Dῑgha Nikāya II.313 Sang Buddha memberikan jawabannya agar kita selalu mempunyai upaya yang jelas dan benar di dalam hidup ini, yaitu:

1. Mencegah hal-hal buruk dan jahat yang belum ada dalam diri, agar tidak timbul.

Membangkitkan keinginan untuk mencegah munculnya keadaan-keadaan jahat yang tidak menguntungkan agar tidak muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan usaha untuk mencapai tujuan ini. Kita harus berusaha untuk mencegah hal yang tidak baik, agar hidup kita terasa nyaman.

2. Usaha rajin untuk menghilangkan keadaan-keadaan jahat dan buruk yang sudah ada dalam diri kita.

Membangkitkan keinginan untuk meninggalkan keadaan-keadaan buruk yang tidak menguntungkan yang telah muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mencapai tujuan terbebas dari keadaan-keadaan yang tak bajik. Jadi, yang dimaksudkan di sini kita menyadari kejahatan yang telah muncul dalam diri kita dengan mau menghilangkannya, serta berusaha agar kejahatan yang sama tidak terulang lagi pada masa mendatang. `Menyadari kejahatan' bukan berarti menyesali, karena penyesalan merupakan hal-hal yang tidak baik, yang didasari oleh kekecewaan, kecemasan atau ketakutan. Kejahatan tidak akan berubah menjadi baik kalau kita hanya menyesalinya saja. Kecewa hanya akan memperberat masalah saja. Dalam Dhammapada Lokavagga 173 disebutkan bahwa “Seseorang yang meninggalkan perbuatan jahat dan menggantikannya dengan perbuatan baik, maka ia akan menerangi seluruh dunia seperti bulan yang tidak tertutup oleh awan.”

3. Usaha rajin untuk menimbulkan keadaan-keadaan baik di dalam diri kita.

Membangkitkan keinginan untuk menimbulkan keadaan-keadaan yang menguntungkan yang masih belum muncul. Kita harus berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mencapainya.

"Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan dihindari, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau ternoda tergantung pada diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang dapat menyucikan orang lain." (Dhammapada, Attavagga 165)

4. Usaha rajin untuk menjaga dan mengembangkan keadaan-keadaan baik yang telah timbul agar tidak membiarkannya lenyap.

Membangkitkan keinginan untuk mempertahankan, tidak meninggalkan, melainkan mengembangkan, menambah dan memupuk hal-hal yang bajik. Hendaknya kita berupaya, mengarahkan tekad dan mengarahkan pikiran untuk mengembangkan kebajikan.

Banyak cara seseorang untuk mencapai apa yang diinginkan. Tetapi berbeda dengan ajaran Buddha. Dalam agama Buddha, kita ditekankan untuk berbuat sesuatu dengan upaya yang benar, “bukan asal-asalan”. Sang Buddha mengajarkan jalan yang pasti agar kita dapat berbahagia di dalam Dhamma. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apapun bagi masyarakat luas di sekelilingnya. Bahkan lebih jauh, dengan mengarahkan diri secara benar, seseorang dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur dan damai, dan orang tersebut bisa dikatakan mempunyai mutu kualitas hidup yang benar.

Dalam Agama Buddha, usaha sendiri senantiasa memegang peranan yang paling utama dalam meraih kemajuan dan perkembangan batiniah. Tanpa dilandasi usaha sendiri, sangatlah sulit bagi seseorang untuk meningkatkan kualitas hidup ke arah yang benar.

Memang, terkadang kita sulit untuk melihat kesalahan ataupun kekeliruan diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi kalau kita membiarkan kekotoran perilaku tersebut berkembang di dalam diri kita, karena dampaknya penderitaan. Pintu kebahagiaan akan terbuka bagi seseorang yang manjalani kehidupan dengan benar.


Download MP3
Meningkatkan Kualitas Hidup (40:23 - 4.63 MB)


Quote:
RYG Leaf - 21/03/2011 01:57 PM
#182
Puja Bakti Minggu (16 Agustus 2009) Dhammacakka
Quote:
Membangun Kesejahteraan dan Kebahagiaan
oleh Bhante Silagutto

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dhammañ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care

Dhammacārã sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca

Jalankanlah praktik hidup yang benar dan janganlah menjalankan praktik hidup yang salah.

Barang siapa yang hidup sesuai dengan Dhamma,

akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya.

(Dhammapada 169)

Kalau kita perhatikan, perjuangan bangsa Indonesia mulai jaman perjuangan kemerdekaan hingga saat ini, maka banyak perubahan yang terjadi, terutama kita saksikan kemajuan pembangunan di bidang fisik yang bisa kita saksikan sekarang ini, seperti jembatan yang panjang, pabrik-pabrik, gedung bertingkat, jalan tol, rumah sakit, sekolah-sekolah, dan sebagainya. Begitu pula pemerintah sudah berhasil memasyarakatkan pendidikan dan menjadikan masyarakat hampir semua terdidik (tidak buta huruf), bahkan sekarang ini masyarakat di desa-desa bisa baca tulis. Sekarang ini yang namanya sarjana-sarjana sudah banyak sekali. Kalau jaman dulu pendidikan tidak begitu banyak, bahkan yang tidak bisa baca tulis pun banyak, sarjana-sarjana bisa dihitung dengan jari.

Tetapi, hidup sesuai Dhamma belum memasyarakat, atau Dhamma ini belum memasyarakat. Sampai saat ini, kita masih saksikan tindak kejahatan selalu mewarnai media informasi. Sebagai anggota masyarakat, tentu kita semua merasa sangat prihatin melihat kekerasan, pertikaian, ataupun perang yang terjadi selama ini. Setiap kekerasan selalu menimbulkan korban jiwa, seolah-olah kehidupan makhluk hidup sudah tidak ada harganya lagi. Kejahatan sekarang ini sudah cukup mengkhawatirkan, baik itu kejahatan mulai dari yang kasar, makin halus, makin terselubung, makin lihai, ataupun yang makin canggih.

Moral adalah pondasi kehidupan kita, tanpa menjalankan moral yang baik, maka hidup kita tidak akan bahagia. ”Sebagai upasāka/upasῑka melaksanakan pañcasῑla, yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, berbohong, dan memakan/meminum yang dapat melemahkan kesadaran, maka ia adalah upasāka/upasῑka yang baik.” Tentu kita boleh bangga dengan kemajuan di bidang fisik dan pendidikan, tetapi di bidang moral kita belum berhasil. Memang pembangunan di bidang fisik itu penting, tetapi jangan mengabaikan moral dan hidup sesuai Dhamma. Jika hal ini bisa memasyarakat, hidup kita pun penuh dengan kedamaian. Langkah terawal dalam mencari kebahagiaan adalah belajar. Pertama kita harus belajar bagaimana kebiasaan dan emosi negatif hanya menyakiti kita dan emosi positif membantu kita. Kita juga harus mengerti bahwa emosi-emosi negatif tidak hanya menyakiti kita saja, tetapi juga masyarakat dan masa depan dunia ini, ’kebahagiaan ada di tangan kita sendiri’.

Saya rasa hampir semua lapisan dari atas, menengah, sampai bawah, yang pejabat, rohaniwan, maupun rakyat biasa, harus serentak membangun kualitas moral dan hidup sesuai Dhamma dengan sungguh-sungguh. Hanya dengan demikian bangsa ini menjadi berhasil membangun di segala bidang.

Ada empat hal yang membawa pada kesejahteraan dan kebahagiaan bagi seorang perumah tangga di dalam kehidupan yang sekarang ini. Apakah empat hal itu?

1. Pencapaian usaha yang tak kenal henti. Apapun usaha yang dilakukan oleh perumah tangga sebagai mata pencahariaannya -apakah bertani, berdagang, atau kerajinaan lain- dia terampil dan rajin; dia mencari cara-cara yang sesuai dan mampu bertindak serta mengatur segalanya dengan tepat.

2. Pencapaian perlindungan. Di sini, seorang perumah tangga membuat perlindungan dan penjagaan terhadap kekayaan yang diperoleh dengan perjuangan yang penuh semangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, dihasilkan dengan peluh di dahinya, kekayaan sah yang telah diperoleh dengan benar, sambil berpikir: ’bagaimana aku bisa mencegah agar raja-raja dan bandit-bandit tidak mengambilnya, dan pewaris yang tidak kukasihi tidak mengambilnya.

3. Persahabatan yang baik. Di sini, di desa atau kota manapun perumah tangga itu tinggal, dia berteman dengan para perumah tangga dan putra-putranya -baik muda atau tua- yang matang dalam moralitas, mantap dalam keyakinan, kedermawanan, dan kebijaksanaan; dia bercakap-cakap dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka.

4. Kehidupan yang seimbang. Di sini, seorang perumah tangga mengetahui pemasukan dan pengeluarannya, dan mengarah pada kehidupan yang seimbang. Dia tidak menghambur-hamburkan uang, namun juga tidak kikir.

Dengan demikian pemasukan melebihi pengeluarannya, bukan sebaliknya. Sama seperti seorang pandai emas atau pembantunya yang memegang timbangan mengetahui; ‘sekian jauh timbangan ini miring ke bawah, sekian jauh timbangan ini miring ke atas’.

“Kekayaan yang dikumpulkan itu memiliki empat sumber pembuangan; main wanita, mabuk-mabukan, berjudi, dan persahabatan yang tidak baik. Sama seperti sebuah tangki yang memiliki empat saluran masuk dan pembuangan, jika saluran masuknya ditutup dan saluran pembuangannya dibuka, dan tidak ada curahan hujan yang cukup untuk mengisinya, maka dapat diharapkan akan ada pengurangan jumlah air di dalam tangki, bukan penambahan. Seperti itu pula empat hal ini menyebabkan terbuangnya kekayaan yang telah dikumpulkan. (Aṅguttara Nikāya VIII, 54)


Download MP3
Membangun Kesejahteraan dan Kebahagiaan (36:42 - 4.20 MB)


Quote:
RYG Leaf - 21/03/2011 02:54 PM
#183
Puja Bakti Minggu (23 Agustus 2009) Dhammacakka
Quote:
Rekonsiliasi atau Sekadar Memaafkan
oleh Bhante Cittagutto Thera

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Yassa pāpaṁ kataṁ kammaṁ, Kusalena piṭhῑyati

So imaṁ lokaṁ pabhāseti, Abbhā mutto va candimā’ti

Barangsiapa meninggalkan perbuatan jahat

yang pernah dilakukan dengan jalan berbuat kebajikan,

maka ia akan menerangi dunia ini bagaikan bulan yang bebas dari awan.

(Dhammapada 173)

Jika dalam sebuah perselisihan dapat diselesaikan secara baik dan damai, tentu hal itu menjadi contoh dan sangat baik untuk ditiru. Akan tetapi memang ada juga banyak kasus pertengkaran yang tidak terselesaikan, bahkan semakin bertambah parah menjadi permusuhan yang tidak terhenti. Kita sebagai umat Buddha harus belajar dari ajaran Dhamma yang diberikan oleh Guru Agung kita, Buddha Gotama. Marilah kita ikuti penjabaran berikut ini.

Saling Memaafkan Satu Sama Lain

Ada kalanya suatu perselisihan atau pun pertengkaran dapat diselesaikan melalui saling memaafkan satu sama lain. Tetapi ada juga yang sulit diselesaikan jika hanya saling memaafkan semata-mata.

Dalam Ambalatthikarahulovada Sutta, Majjhima Nikāya dikatakan bahwa untuk mendorong si pelaku kejahatan dapat melihat rekonsiliasi sebagai sebuah proposisi kemenangan daripada sebuah proposisi kekalahan. Sang Buddha memuji penerimaan secara jujur sebuah celaan sebagai penghormatan daripada sebuah tindakan yang salah. Seperti Sang Buddha katakan kepada Rahula, kemampuan seseorang bisa mengetahui dan menyadari kesalahannya sendiri lalu mengakuinya di hadapan orang lain adalah faktor yang esensi untuk pembersihan pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Atau seperti yang Sang Buddha katakan dalam Dhammapada ayat 173; ’orang yang mengetahui kesalahan-kesalahannya sendiri dan mengubah jalan mereka akan menerangi dunia bagaikan bulan yang terbebas dari awan’.

Para sosiologis modern sudah mengenal lima strategi mendasar yang orang gunakan untuk menghindari menerima celaan bilamana mereka pernah berbuat yang membahayakan, dan diketahui bahwa ajaran Buddhadhamma tentang tanggung jawab moral memotong kelima hal itu. Kelima strategi yang dimaksud adalah:

1. Menolak tanggung jawab;

2. Menolak bahwa tindakan berbahaya telah dilakukan;

3. Menolak kepatutan korban;

4. Menentang si penuduh;

5. Mengklaim bahwa mereka dalam pelayanan yang lebih tinggi.

Ajaran dalam kitab Suci Pali menanggapi strategi-strategi tersebut:

1. Kita selalu bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita secara sadar;

2. Kita harus selalu meletakkan diri kita pada posisi orang lain;

3. Semua makhluk patut dihormati;

4. Kita harus menganggap mereka yang menunjukkan kesalahan-kesalahan seperti kalau mereka menunjukkan harta karun kita;

5. Tidak ada, tidak ada tujuan-tujuan yang lebih tinggi yang memaafkan pelanggaran sila-sila mendasar dari sikap etika.

Dalam pengolahan standar-standar itu, Sang Buddha menciptakan sebuah kontek nilai-nilai yang dapat mendorong kedua belah pihak untuk masuk ke dalam sebuah rekonsiliasi menggunakan penyampaian secara benar dan terlibat dalam refleksi secara jujur dan bertanggung jawab kepada semua pratisi Dhamma. Dengan cara seperti ini, standar sikap benar dan salah, sebagai ganti dari perlakuan keras atau perlakuan yang tidak terlalu penting, menimbulkan kepercayaan yang dalam dan bertahan lama. Untuk membuat kondusif hubungan harmonis keluar ke praktisi Dhamma, proses rekonsiliasi dengan demikian menjadi suatu peluang perkembangan internal.

Lebih Baik Rekonsiliasi

Sang Buddha mengakui bahwa tidak semua perselisihan dapat diselesaikan melalui rekonsiliasi. Ada juga masa-masa tertentu kedua pihak yang berselisih tidak mau melatih kejujuran dan mencegah bahwa rekonsiliasi yang benar diperlukan. Meskipun demikian, kadang-kadang melalui pemaafan masih diperlukan sebagai pilihan. Oleh karena itu, perbedaan antara rekonsiliasi dan pemaafan menjadi penting. Hal itu mendorong kita untuk menyelesaikan masalah tidak hanya melalui pemaafan bilamana penyelesaian secara rekonsiliasi yang benar lebih memungkinkan terjadi. Hal itu membuat kita menjadi tulus dengan pemaafan kita meskipun mungkin justru tidak terpakai.

Sebuah sutta yang terkenal di dalam Dῑgha Nikāya, yaitu Samaññāphala Sutta menceritakan: ”Merupakan penyebab tumbuhnya Dhammavinaya Ajaran para Ariya, Jika seseorang menyadari kesalahannya dan mengakuinya dengan semestinya demi perbaikan di masa depan.” (DN 2 Samaññāphala Sutta, halaman 56).

Dalam Kassapasaṁyutta, Saṁyutta Nikāya dikisahkan mengenai dua murid, satu murid Bhante Ananda bernama Bhanda dan satu murid Bhante Anuruddha bernama Abhinjika. Dalam kasus dua orang itu, yang saling bersaing dalam pembelajaran mereka, bahwa siapa di antara mereka yang dapat berbicara lebih banyak, lebih baik dan lebih panjang. Sang Buddha justru menegur mereka bahwa itu salah. Karena mereka mengakui kesalahan mereka, maka Sang Buddha memaafkan mereka. (Saṁyutta Nikāya 4 halaman 1322)

Sumber:

1. http://www.accesstoinsight.org: Reconciliation, Right & Wrong – Thanisaro

2. Dῑgha Nikāya –Maurice Walshe, DhammaCitta, 2009

3. Saṁyutta Nikāya 4, Klaten, Juni 2009


Download MP3
Rekonsiliasi atau Sekadar Memaafkan (43:04 - 4.93 MB)


Quote:
RYG Leaf - 21/03/2011 09:42 PM
#184
Puja Bakti Minggu (30 Agustus 2009) Dhammacakka
Quote:
HUT ke-24 Sima
oleh Bhante Sri Subalaratano Mahathera

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

”Tumhehi kiccaṁ ātappaṁ, Akkhātāro tathāgatā

Paṭipannā pamokkhanti, Jhāyino mārabandhanā”

”Sepantasnya kalian berusaha dalam membakar hangus kilesa, para Tathagata hanya sebagai pemberitahu.

Mereka yang telah menjalankannya selalu mengarahkan batinnya agar terlepas dari jerat Mara”

(Dhammapada 276)

Dengan genapnya usia Sῑmā VJDJ yang ke-24 ini, kita diingatkan bahwa waktu berjalan cepat dan tanpa kita sadari. Dari rawa dan kemudian menjadi perumahan mewah yang padat dan kemudian VJDJ juga saat ini tidak dapat menampung umat lagi. Karena itu ada rencana kita akan membangun gedung 10 lantai di belakang Uposathagara ini.

Menurut ajaran Guru Agung Buddha Gotama, semua makhluk tanpa kecuali mengalami Punabbhava (tumimbal lahir) berulang kali tanpa batas. Kalau saat ini kita Punabbhava menjadi manusia dan bisa menjadi umat Buddha di VJDJ, ini adalah suatu berkah dari kebajikan kita dahulu.

Tapi ingat hal ini baru awal perjuangan kita yang baru dalam membuat kebajikan lagi. Jangan kita terlena menikmati buah kebajikan yang lalu, karena bila habis kita juga masih bisa mengalami lagi kelahiran di alam yang menyedihkan. Karena selama belum mencapai tingkat ariya (minimal Sotapanna), makhluk-makhluk bisa mengalami kelahiran di alam Apaya.

Sesuai dengan kekuatan kamma yang dibuat:

1. Dewa dapat terlahir lagi sebagai manusia atau binatang.

2. Manusia dapat terlahir lagi sebagai Dewa atau binatang.

3. Binatang dapat terlahir lagi menjadi Dewa atau manusia.

Hal ini adalah hukum kesunyataan yang universal. Orang mau percaya atau tidak bukanlah masalah. Kebenaran adalah kebenaran karena tidak ada apapun yang bisa mengubah Kebenaran Mutlak (Paramattha Sacca).

Pada umumnya Dewa biasanya terlahir lagi sebagai manusia daripada makhluk yang lebih rendah. Hal ini bisa terlihat pada manusia yang berkelakuan baik, sopan santun, pintar, dan suka belajar Dhamma. Semua ini adalah indikasi Dewa yang terlahir lagi sebagai manusia.

Karena itu bila ingin mempunyai anak dari Alam Dewa, seorang ibu harus terus beradhiṭṭhāna untuk melaksanakan kemoralan yang baik dan senang akan Dhamma (kebenaran), karena Dewa yang usianya akan habis punya kekuatan untuk Punabbhava di tempat yang sesuai.

1. Guru Agung Buddha Gotama, juga ketika masih Bodhisatta di Tusita menentukan di mana akan mengalami Punabbhava.

2. Dewa Mukkhila Punabbhava lagi menjadi Bhikkhuni Uppalavanna.

Atas dasar pengertian benar ini, mari kita laksanakan praktik Dhamma untuk mengumpulkan kebajikan. Karena hanya kebajikan yang mampu memberikan perlindungan, kebahagiaan, kemampuan secara materi atau spiritual.

DIRGAHAYU

HUT Ke-24 SῙMĀ

Semoga semua makhluk hidup bahagia


Download MP3
HUT ke-24 Sima (1:10:59 - 8.13 MB)


Quote:
RYG Leaf - 22/03/2011 03:03 PM
#185
Puja Bakti Minggu (06 September 2009) Dhammacakka
Quote:
NINDA DAN PASAMSA (1)
oleh Bhante Upasamo

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Na cāhu na ca bhavissati, na cetarahi vijjati,

Ekantaṁ nindito poso, ekantaṁ vā pasaṁsito’ti.

Tidak akan ada satu orangpun yang akan terus dipuji dan terus dicela, baik waktu lalu,

sekarang atau akan datang.

(Dhammapada 228)

Nindā berarti celaan, caci-maki, hinaan, fitnah, kritikan, sedangkan pasaṁsā berarti sanjungan, pujian.

Setiap orang sangat mendambakan untuk mendapatkan pasaṁsā dan tidak menginginkan untuk mendapatkan nindā. Kita akan sangat senang dan bangga jika menerima pasaṁsā, namun akan sangat kecewa dan marah jika kita menerima nindā. Itulah kecenderungan cara kita hidup di dunia ini.

Ketika kita hanya menginginkan pasaṁsā dan menolak nindā, maka kita akan menderita karena perilaku kita masih belum sempurna, dan walaupun perilaku kita sudah sempurna seperti Sang Buddha sendiri, Beliau pun tidak selalu menerima pasaṁsā dalam hidupnya, tetapi masih juga menerima nindā. Seperti kejadian yang Beliau alami yaitu peristiwa Cinca dan Sundari yang memfitnahnya.

Sang Buddha dan para siswa-Nya terutama menerima nindā dari orang-orang yang tidak menyukainya, yaitu guru-guru agama sekte/aliran sesat. Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya sangat terkenal, dihormati, mendapat banyak dukungan, sedangkan mereka tidak, sehingga mereka menjadi iri dan benci. Karena itu mereka melakukan segala cara untuk menjatuhkan nama baik Sang Buddha dan siswa-siswa-Nya.

Anda juga tidak terlepas dari nindā, apalagi kalau pekerjaan anda, karir anda sukses, tidak semua orang senang anda berhasil. Ada yang tidak suka dan iri kemudian menyebarkan berita-berita yang tidak benar, yang tak enak didengarkan. Jika anda sukses, kekurangan mereka semakin jelas. Mereka ingin membuat anda seperti mereka.

Jadi kalau anda menerima nindā ini, bisa berarti anda orang sukses. Seperti pohon yang tinggi, semakin tinggi pohon itu maka angin yang diterimanya juga semakin banyak. Semakin anda sukses, nindā yang anda terima juga semakin banyak. Tidak ada orang yang memperhatikan orang yang tidak berhasil dan tidak melakukan sesuatu.

Jadi kita semua akan menerima nindā dalam hidup walaupun perilaku kita sudah sempurna, apalagi kalau belum sempurna. Jadi jika saat ini kita mendapatkan banyak nindā dalam hidup, terimalah karena orang yang telah sempurna pun masih menerimanya.

Tidak ada seorangpun yang akan terus menerima nindā dan pasaṁsā dalam hidupnya, seperti yang disampaikan dalam Syair Dhammapada di atas (syair 228).

Syair tersebut muncul karena adanya peristiwa Atula dan lima ratus temannya mengunjungi tiga orang thera untuk mendengarkan Dhamma, yaitu Bhante Revata, Bhante Sariputta, dan Bhante Ananda. Mereka lalu mengunjungi Sang Buddha dan Sang Buddha menasehati mereka seperti Syair Dhammapada ke 227 dan 228: ”O, Atula, sudah sejak lama, bukan sekarang saja orang yang berdiam diri dicela, orang yang berbicara banyak dicela, orang yang berbicara sedikit dicela. Di dunia ini, tidak ada satu orangpun yang tidak pernah dicela”. ”Tak akan ada satu orangpun yang akan terus dipuji dan terus dicela, baik waktu lalu, sekarang, atau akan datang”.

Mudah menerima pasaṁsā tetapi sulit menerima nindā. Sang Buddha berkata bahwa orang yang dapat menerima nindā dengan sabar sebagai manusia mulia.

Peristiwa ini terjadi ketika Sang Buddha tiba di Kosambi. Magandiya yang memiliki dendam kepada Sang Buddha menyewa orang untuk mencaci-maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk piṇḍapāta. Bhante Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk pergi ke tempat lain.

Sang Buddha menolak dan berkata, ”Di kota lain kita mungkin juga dicaci-maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang dicaci-maki. Lalu Sang Buddha membabarkan Syair Dhammapada ke 321: ”Hanya binatang yang terlatih yang dapat dibawa ke dalam suatu pertemuan. Raja hanya menunggangi gajah atau kuda yang terlatih. Di antara manusia, yang dapat mengendalikan dirinya adalah yang paling mulia, ia dapat menghadapi caci-maki banyak orang”.

Apa akibatnya jika seseorang hidup hanya menginginkan pasaṁsā dan menolak nindā? Orang itu akan berada dalam kebingungan. Semua perbuatannya akan disertai keragu-raguan.

Kalau setiap perbuatan kita selalu mendapat kritikan dan celaan, ini bisa membuat orang menjadi takut bicara, takut untuk melakukan sesuatu karena berpikir ’jangan-jangan yang saya lakukan salah, ditertawakan atau digunjingkan orang lain’. Jadi, bagaimana kita menanggapi hal ini?

Kita tidak mungkin bisa menutup mulut semua orang. Apakah kita mengetahui atau tidak, sebenarnya apapun yang kita lakukan selalu dinilai oleh orang lain sebagai baik atau buruk. Jadi yang bisa kita lakukan adalah berpegang pada hukum.

Jadi selama kita masih hidup di dunia ini, maka kita akan terus mengalami nindā dan pasaṁsā. Pasaṁsā dengan senang hati kita menerimanya, yang sulit adalah mau menerima nindā dengan keseimbangan.

Orang tidak bijaksana menerima nindā dan pasaṁsā dalam hidupnya, demikian pula orang bijaksana. Yang berbeda adalah sikap atau cara dalam menghadapinya.

Orang bijaksana memahami nindā dan pasaṁsā sebagai kondisi dunia yang terus berganti, mereka tidak kekal. Kadang menerima nindā, kadang menerima pasaṁsā. Jadi ketika menerimanya, orang bijaksana tidak terlena dalam pasaṁsā dan tidak kecewa jika menerima nindā.



Download MP3
NINDA DAN PASAMSA (1) (31:59 - 3.66 MB)


Quote:
RYG Leaf - 22/03/2011 03:22 PM
#186
Puja Bakti Minggu (13 September 2009) Dhammacakka
Quote:
Kembalilah ke Jalan Benar
oleh Bhante Hemadhammo

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Maggān’ aṭṭhaṅgiko seṭṭho

Di antara semua jalan, Jalan Arya berunsur delapan adalah yang terbaik.

(Dhammapada 273)

Banyak orang yang menawarkan jalan untuk mencapai alam bahagia (surga) setelah kematian nanti, dan tidak sedikit orang yang tertarik dan mengikuti penawaran itu. Sesungguhnya, untuk mencapai alam surga dalam pandangan Buddhis tidaklah sulit, hanya dengan mengembangkan keyakinan kepada Tiratana bisa mencapai alam surga, hanya dengan mempraktikkan Sila akan tercapai alam surga, bahkan jika merujuk dalam Vimānavatthu, hanya dengan berdana dapat dicapai alam bahagia. Dalam pandangan Buddhis, alam surga bukanlah tujuan utama, karena di alam surga pun masih mengalami kematian.

Sang Buddha penemu Jalan Arya Berunsur Delapan, jalan yang hanya diajarkan oleh para Buddha, jalan yang membedakannya dari setiap ajaran agama dan filsafat lain. Jalan Arya Berunsur Delapan disebut juga Jalan Tengah, karena jalan ini menghindari dua jalan ekstrim yaitu pemuasan diri dan penyiksaan diri. Jalan ini namanya Jalan Arya, unsur pembentuknya ada delapan. Semua unsur pembentuk Jalan Arya harus dilaksanakan, tidak bisa lakukan satu unsur atau beberapa unsur saja. Jalan ini bukan hanya untuk mencapai alam-alam bahagia, namun dapat membebaskan manusia dari segala penderitaan.

Kedelapan unsur dari jalan itu adalah:

1. Pengertian benar (Sammā-diṭṭhi)

2. Pikiran benar (Sammā-saṅkappa)

3. Ucapan benar (Sammā-vācā)

4. Perbuatan benar (Sammā-kammanta)

5. Mata pencaharian benar (Sammā-ājῑva)

6. Usaha benar (Sammā-vāyāma)

7. Perhatian benar (Sammā-sati)

8. Konsentrasi benar (Sammā-samādhi)

Pengertian benar dalam arti pokoknya adalah memahami kehidupan sebagaimana yang sebenarnya. Untuk itu seseorang perlu mengerti secara jelas mengenai Empat Kebenaran Mulia. Dengan memahami kebenaran-kebenaran tersebut berarti memahami seluk beluk kehidupan. Pengertian benar sangatlah penting, karena menuntun ke tujuh unsur yang lain dalam Jalan Arya Berunsur Delapan. Pengertian benar memastikan kebenaran pikiran dan keselarasan gagasan. Ketika pikiran dan gagasan menjadi jelas dan bermanfaat, ucapan dan perbuatan akan mengikuti pemimpinnya. Pengertian benar juga menyebabkan seseorang menghentikan usaha yang tanpa hasil dan mengusahakan upaya untuk membantu mengembangkan perhatian benar. Pengertian benar bertolak belakang dengan pengertian salah. Kalau diawali dengan pengertian yang salah, maka pikiran, ucapan, dan perbuatan pun akan menjadi salah.

Pikiran benar adalah pikiran yang terbebas dari pikiran jahat, yang ada adalah pikiran baik yang penuh cinta kasih dan pikiran yang penuh dengan belas kasihan atau tanpa kekerasan. Pikiran benar ini harus ditanamkan dan dikembangkan terhadap semua makhluk hidup tanpa membedakan ras, kasta, suku, jenis kelamin ataupun agama. Mereka harus mencakup semua makhluk hidup, tanpa dibatasi prasangka. Memancarkan pikiran-pikiran yang mulia seperti itu tidaklah mungkin bagi orang yang mementingkan diri sendiri dan egois.

Ucapan benar adalah bagian pertama dari kelompok moral kebajikan, menghindari dusta dan selalu berbicara jujur, menghindari kebohongan yang menimbulkan pertentangan, dan sebaliknya berbicara hal yang menghasilkan kerukunan dan kedamaian. Menghindari caci maki dan ucapan kasar, dan sebaliknya berbicara dengan kata-kata yang halus dan sopan. Menghindari omong kosong, membual atau bergunjing, dan sebaliknya berbicara hal yang berarti dan terpuji. Dalam berbicara seharusnya tidak dikuasai oleh pikiran-pikiran yang jahat seperti ketamakan, kemarahan, kecemburuan, kesombongan atau egoisme.

Perbuatan benar adalah bagian kedua dari kelompok moral kebajikan, yaitu menghindari terhadap tiga perbuatan yang salah: pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila, serta senantiasa selalu mengembangkan serta menanamkan belas kasih terhadap seluruh makhluk hidup, hanya mengambil apa yang diberikan, dan menjalani hidup suci, setia dalam perkawinan bagi umat awam, dan hidup selibat bagi bhikkhu dan bhikkhuni.

Mata pencaharian benar adalah menghindari perdagangan yang bertentangan dengan Dhamma seperti perdagangan alat-alat perang dan senjata yang mematikan, perdagangan hewan-hewan untuk disembelih, perdagangan manusia, perdagangan minuman keras dan narkoba yang memabukkan, serta perdagangan racun.

Usaha benar adalah usaha yang keras untuk mencegah timbulnya pikiran-pikiran jahat dan tidak benar yang belum timbul, membuang pikiran-pikiran jahat yang telah timbul, menghasilkan dan mengembangkan pikiran-pikiran baik yang belum timbul, serta meningkatkan dan mempertahankan pikiran-pikiran baik yang telah ada.

Perhatian benar adalah penerapan atau pengembangan kesadaran dalam hal: kegiatan badan jasmani, perasaan, keadaan pikiran, fenomena pikiran atau objek-objek mental. Sebagai unsur dari Jalan Arya yang saling bergantungan, perhatian benar membantu usaha benar. Keduanya bersama-sama bekerja untuk mengawasi timbulnya pikiran-pikiran yang tidak baik dan mengembangkan pikiran-pikiran baik yang telah ada. Manusia mewaspadai perbuatannya dalam ucapan, tindakan jasmani dan pikiran, menghindari semua hal yang mengganggu kemajuan batinnya.

Konsentrasi benar, merupakan unsur ke-8 dari Jalan Arya, adalah memperkuat keteguhan pikiran yang dapat disamakan dengan api yang tidak berkedip dari sebuah pelita di tempat yang tidak berangin. Konsentrasi menetapkan pikiran pada tempatnya dan membuatnya tidak bergerak dan tidak terganggu. Latihan yang benar dari konsentrasi mempertahankan pikiran dalam keadaan seimbang. Banyak rintangan batin yang dihadapi oleh si pelaku meditasi, tetapi dengan bantuan usaha benar dan perhatian benar, ia dapat menyingkirkan rintangan itu dan memperoleh konsentrasi sempurna. Pikiran yang terkonsentrasi dengan sempurna tidak terganggu oleh objek-objek indrawi, karena ia dapat melihat segala sesuatu menurut apa adanya.

Jalan ini adalah jalan satu-satunya untuk membebaskan manusia dari segala penderitaan. Di dalam Mahāparinibbāna Sutta, Dῑgha Nikāya, Sang Buddha mengatakan bahwa jika Jalan Arya Berunsur Delapan masih ada dan dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, maka dunia ini tidak akan kosong dari orang-orang yang mencapai kesucian. Jadi walaupun Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha sudah lebih dari 25 abad yang lalu, jika kita praktikkan dengan sungguh-sungguh, kitapun bisa mencapai kesucian, ini berarti ajaran Sang Buddha tetap relevan sampai sekarang ini.


Download MP3
Kembalilah ke Jalan Benar (47:52 - 5.48 MB)


Quote:
RYG Leaf - 22/03/2011 08:00 PM
#187
Puja Bakti Minggu (20 September 2009) Dhammacakka
Quote:
Memahami Tujuan Hidup
oleh Bhante Chandaviro

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Yo ca vassasataṁ jῑve, kusῑto hῑnavῑrῑyo

Ekāhaṁ jῑvitaṁ seyyo, vῑriyaṁ ārabhato daḷhaṁ

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan tidak bersemangat,

maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang berjuang dengan penuh semangat.

(Dhammapada 112)

Sampai sekarang ini mungkin kita sering melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas sehingga hasilnya pun tidak begitu memuaskan. Sebagai contoh: pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa saya datang ke vihara? Untuk apa saya pergi ke vihara? Atau mungkin ada orang lain bertanya kepada kita, untuk apa anda pergi ke vihara?

Jika diri kita saja tidak tahu jawabannya, maka berarti apa yang kita lakukan selama ini tidak punya tujuan yang jelas. Jika kita melakukannya tanpa tujuan yang jelas, berarti kita melakukannya sesuka hati kita, akhirnya tidak ada semangat dan motivasi dalam berbuat kebajikan.

Contoh yang lain adalah: seperti kita bekerja, kita sekolah, kita berbisnis, dan lain sebagainya. Jika kita kerja tanpa tujuan, maka kita bekerja semau kita, tetapi kalau mengerti tujuan bekerja, berbisnis, sekolah dan lain-lain tadi adalah untuk mencapai kebahagiaan hidup, mencapai kesejahteraan hidup, maka kita akan bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam melakukannya.

Sebagai umat awam yang belum menikah, mungkin punya keinginan untuk mencari pasangan hidup. Dan jika dia tidak mengerti lebih jauh untuk apa mencari pasangan hidup, berarti tidak ada hal yang harus dicapai dalam hidup berkeluarga tersebut. Lalu apa tujuan mencari pasangan hidup? Jawaban secara umum kemungkinan adalah untuk mendapatkan keturunan, ingin membahagiakan orangtua, ingin membangun rumah tangga yang baik dan lain-lain.

Dalam Dhammacakkappavaṭṭhāna Sutta, Sang Buddha menguraikan bagaimana caranya agar kita terbebas dari penderitaan. Cara menghilangkan penderitaan adalah melenyapkan nafsu keinginan yang tidak benar (tanha), setelah itu baru melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu: Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar. Dari apa yang diuraikan dalam jalan mulia tersebut maka sangat jelas bahwa Sang Buddha mengajarkan Dhamma tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan, baik kebahagiaan duniawi (lokiya) maupun kebahagiaan di luar duniawi (lokuttara).

Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa sebagai perumah tangga umumnya adalah ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Di sini disebutkan bahwa untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan sebagai perumah tangga, hendaknya memiliki empat iddhipada atau empat syarat agar tercapai kesuksesan dalam bekerja atau berusaha, yaitu:

1. Chanda yaitu merasa puas dan gembira ketika mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.

2. Viriya yaitu usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.

3. Citta yaitu memperhatikan dengan sungguh-sungguh ketika melakukan suatu pekerjaan, tanpa melalaikannya.

4. Vimaṁsa yaitu yang terbaik dari pekerjaan yang sedang dikerjakan (A.IV.285)

Selain hal di atas, untuk mencapai kebahagiaan duniawi, selanjutnya Sang Buddha menyampaikan berkenaan dengan empat macam kebahagiaan yaitu:

1. Atthi Sukha: bahagia karena dapat bekerja dan bahagia karena memiliki harta kekayaan.

2. Bhoga Sukha: kebahagiaan karena dapat mempergunakan kekayaan.

3. Anana Sukha: kebahagiaan karena terbebas dari utang.

4. Anavajja Sukha: kebahagiaan karena memiliki kekayaan yang tidak didapat dari hasil kejahatan. (A.IV)

Untuk menjaga kebahagiaan yang terkumpul agar tidak lenyap, maka diperlukan kunci keunggulan kualitas sebagai berikut:

1. Kejujuran

2. Tidak menyerah pada kegagalan, yang merupakan awal keberhasilan.

3. Mempunyai niat baik

4. Memiliki pola pikir kekinian

5. Komitmen/tekad

6. Tanggung jawab

7. Sikap luwes

8. Hidup seimbang


Download MP3
Memahami Tujuan Hidup (1:04:39 - 7.40 MB)


Quote:
RYG Leaf - 22/03/2011 08:23 PM
#188
Puja Bakti Minggu (27 September 2009) Dhammacakka
Quote:
Harta Yang Terbaik
oleh Bhante Dhammiko

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Yassa dānena sῑlena saññamena damena ca

Niddhi sunihito hoti itthiyā purisassa vā.

Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu serta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan “Harta” yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria.

(Nidhikhaṇḍa Sutta, Gāthā 6)

Memiliki harta kekayaan adalah keinginan setiap orang. Sang Buddha menjelaskan dalam Pattakamma Sutta, Saṁyutta Nikāya bahwa ada empat keinginan yang diinginkan oleh setiap orang. Salah satu dari empat keinginan itu adalah memiliki harta kekayaan di samping menjadi orang terpandang, umur panjang dan kesehatan, serta kebahagiaan surgawi kelak setelah meninggal. Dhamma menilai semua keinginan itu adalah keinginan yang wajar, keinginan yang normal.

Jenis Harta

Dalam Kitab Paramatthajotika, Kitab Komentar dari Khuddakapāṭha dijelaskan ada empat jenis harta, yaitu: harta tak bergerak, harta bergerak, harta bagai kaki tangan, harta bagai pengikut.

Harta tak bergerak adalah harta yang berupa harta benda {emas, tanah, ladang, atau lainnya yang sejenis (kekayaan materi)}. Harta bergerak adalah harta yang berupa para pegawai dan hewan ternak peliharaan atau apapun yang sejenis. Harta bagai kaki tangan adalah ilmu pengetahuan dan keterampilan atau apapun yang sejenis yang diperoleh dari pelatihan dan menyatu pada diri seseorang (selalu dibawa) seolah-olah seperti kaki-tangan. Harta bagaikan pengikut adalah harta yang berupa jasa kebajikan (berdana, memiliki sila, bermeditasi) atau jasa kebajikan apapun yang sejenis yang memberikan buah yang diinginkan di sana-sini seolah-olah mengikuti orangnya.

Orang kebanyakan memiliki kecenderungan mengejar harta yang bersifat materi, karena memang tak dapat dipungkiri bagi perumah tangga bahwa memiliki harta kekayaan adalah penyebab kebahagiaan (atthi sukha). Bagi seorang bhikkhu mengejar kekayaan materi adalah sesuatu yang harus dihindari. Dalam Catuma Sutta, Majjhima Nikāya dijelaskan bahwa ada empat macam bahaya bagi seorang bhikkhu dengan simbolisasi ombak, buaya, pusaran air, dan ikan buas.

Ombak adalah simbolisasi dari diombang-ambingnya seorang bhikkhu dalam kemarahan. Buaya adalah simbolisasi termakannya seorang bhikkhu dalam kerakusan materi. Pusaran air adalah simbolisasi dari terseretnya seorang bhikkhu dalam lima kesenangan indera, dan ikan buas (hiu) adalah simbolisasi termangsanya seorang bhikkhu oleh wanita.

Sifat dari Harta Kekayaan Materi

Dalam agama Buddha, kita diajarkan tentang adanya hukum konsekuensi atau hukum sebab-akibat. Apapun yang kita lakukan dengan dilandasi niat, apapun yang kita miliki, akan ada konsekuensi yang muncul dari tindakan dan kepemilikan itu.

Demikian pula dari adanya kepemilikan harta kekayaan. Dalam Aṅguttara Nikāya, III, 259, Sang Buddha menjelaskan konsekuesi kerugian dan keuntungan memiliki harta kekayaan materi.

Kerugian memiliki kekayaan materi:

1. Terancam bahaya kebakaran,

2. Terancam bahaya banjir,

3. Terancam disita pemerintah (jika mendapatkannya dengan cara yang melanggar hukum),

4. Terancam bahaya perampokan,

5. Terancam penghamburan oleh ahli waris yang boros.

Keuntungan memiliki kekayaan materi:

1. Dengan adanya harta seseorang dapat membuat dirinya senang,

2. Ia dapat membuat orang tuanya senang,

3. Ia dapat membuat isteri, anak-anak, pelayan dan pegawainya senang, serta,

4. Ia dapat membuat teman-teman dan sahabat-sahabatnya senang, dan

5. Kepada para pertapa dan brahmana orang yang memiliki harta kekayaan itu dapat melakukan persembahan dengan tujuan mulia, untuk kebahagiaan di alam mendatang, serta agar terlahir di alam surga.

Inilah realita yang ada dari adanya kepemilikan.

Orang Buta, Bermata Satu, dan Bermata Sehat.

Andha Sutta, Puggala Vagga-Tika Nipāta, Aṅguttara Nikāya menjelaskan perumpamaan tentang tiga kualitas orang yang mencari dan memiliki harta.

Orang yang tidak tahu cara mengumpulkan kekayaan dan juga tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang buta (andha), orang yang hanya tahu cara mengumpulkan kekayaan, tetapi tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang yang mempunyai mata satu (ekacakkhu) dan seseorang yang mengetahui cara mengumpulkan dan menggunakan kekayaan yang telah didapatkannya dengan jalan yang benar diibaratkan sebagai orang yang bisa melihat dengan kedua matanya (dvecakkhu).

Harta yang Terbaik

Nidhikhaṇḍa Sutta, Khuddaka Nikāya berisikan khotbah Sang Buddha yang menjelaskan tentang harta yang terbaik bagi seorang wanita ataupun pria. Harta itu meliputi empat hal, yang berupa berdana (dānena), memiliki moralitas yang baik (sῑlena), dapat menahan nafsu (saññamena), dan mempunyai pengendalian diri (damena).

Sumber:

- Buddhavacana, Penerbit Karaniya, 1993.

- Khuddakapāṭha 3, Wisma Sambodhi, Klaten, 2006


Download MP3
Harta Yang Terbaik (45:59 - 5.26 MB)


Quote:
RYG Leaf - 23/03/2011 02:50 PM
#189
Puja Bakti Minggu (04 Oktober 2009) Dhammacakka
Quote:
Belenggu
oleh Bhante Cittavaro

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Na ve kadariyā devalokaṁ vajanti bālā have ṭappasaṁ santidaṁ

Dhῑro ca dānaṁ anumodamāno teneva so hoti sukhῑparattha

Sesungguhnya orang kikir tidak dapat pergi ke alam dewa, orang bodoh tidak memuji kemurahan hati, akan tetapi orang bijaksana senang dalam memberi, dan karenanya ia akan bergembira di alam berikutnya.

(Dhammapada 177)

Sejatinya di dalam benak setiap makhluk, seperti para dewa, manusia dan makhluk hidup lainnya, muncul keinginan untuk selalu berada dalam situasi nyaman dan menikmati suatu kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Mereka tidak berharap menjadi musuh, seteru atau pecundang bagi yang lainnya. Tidak juga mereka berharap untuk menjadi makhluk yang gemar menyakiti makhluk hidup lain, berlaku kasar, kejam atau mengerahkan kekuatan jahat atas dorongan materi.

Semua makhluk hidup menghendaki rasa aman, damai, terbebas dari rasa takut dan merasa berbahagia dalam jangka waktu lama, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, para makhluk tersebut selalu dalam bahaya, seperti larut dalam kesedihan berkepanjangan dan didera penderitaan. Apakah hal-hal yang menjadi sebab munculnya situasi ini?

Saat ini kita mendengar suara-suara ramai dari berbagai belahan dunia, hiruk pikuk masyarakat luas tentang keinginan untuk membentuk dunia yang damai serta adanya kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Dunia kita akhirnya akan menjadi suatu tempat tinggal yang nyaman dan berbahagia jika kita bisa merealisasi impian tersebut, tetapi faktanya, impian untuk mengangkat harkat hidup manusia tersebut masih jauh dari harapan. Jikalau keadaannya selalu demikian, kemudian muncul pertanyaan, apa yang menyebabkan sulitnya keluar dari rasa frustasi itu?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Issā dan Macchariya sebagai dua belenggu yang menjadi sebab utama ketidakbahagiaan semua makhluk.

Issā adalah perasaan cemburu atau irihati, perasaan irihati inilah yang menjadi sebab munculnya kehendak jahat kepada seseorang atau suatu makhluk yang berseberangan dengan kita. Siapapun juga, jikalau selalu dipenuhi perasaan irihati, maka hidupnya tidak akan menjadi tenang meskipun ia selalu berkata ingin hidup damai dan bahagia. Ketidakbahagiaan dari orang yang selalu irihati atas keberhasilan orang lain timbul karena hatinya dipenuhi kehendak jahat. Rasa irihatinya melihat kesuksesan pihak lain membakar dirinya dari dalam. Banyak orang hidup menderita karena dipenuhi perasaan irihati, tidak kurang dan tidak lebih yang ingin dikatakan adalah obyek rasa irinya benar-benar telah menjadi musuhnya.

Karakteristik irihati adalah munculnya keengganan untuk melihat kekayaan dan kemajuan orang lain. Irihati bersifat merusak ke dalam diri, karena akan memunculkan perasaan dengki dan nafsu jahat, perasaan irihati mengakibatkan penderitaan, jikalau belenggu ini tidak diputuskan, ia akan terbawa sampai ke kehidupan mendatang.

Orang yang irihati merasa benci melihat kemajuan dan kebahagiaan pihak lain. Jadi, karakteristik irihati adalah munculnya perasaan tidak suka melihat kesejahteraan orang lain. Ia tidak suka melihat orang lain lebih maju, dipromosikan pada kedudukan yang lebih tinggi, tampan atau cantik serta lebih sukses. Otomatis orang yang dipenuhi perasaan irihati lebih dulu menderita dibanding obyeknya.

Macchariya adalah pikiran picik yang membuat enggan melihak pihak lain lebih baik dibanding dirinya. Jikalau dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat materi macchariya berarti sifat kikir.

Timbulnya sifat kikir pada umumnya disebabkan adanya anggapan bahwa mereka berhak seutuhnya atas harta kepemilikan yang didapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya salah, kendati tidak sepenuhnya tepat, sebab di dalam realitas kehidupan manusia memiliki kemampuan berpikir, fisik dan kesempatan yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang bodoh, ada yang jenius, ada yang mujur dan ada yang kurang beruntung.

Konsekuensinya perbedaan yang timbul akan menimbulkan hasil yang berbeda, termasuk pendapatan dan kesuksesan materi. Pada waktu yang sama diperlukan keseimbangan relatif untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, sejahtera dan harmonis. Pada poin inilah, perlu adanya orang yang berlebihan materi untuk berbuat baik dengan cara mau berbagi.

Karakteristik kepemilikan sifat macchariya yang ekstrim adalah kecenderungan menyimpan rapat-rapat harta kepemilikannya untuk kepentingan dirinya, berhubungan dengan ketidakinginan pihak lain memilikinya atau berhubungan dengan obyek di mana ia terikat.

Ada enam jenis keterikatan atas harta benda sehubungan dengan sifat kikir ini, yakni:

1. Tempat tinggal,

2. Teman-teman atau sahabat dekat,

3. Barang berwujud seperti perabot rumah tangga dan lainnya,

4. Makanan dan minuman,

5. Pelajaran, dan

6. Puji-pujian.

Dua belenggu, Issā dan Macchariya membuat kita frustasi karena akan mendatangkan kesedihan, bahaya, pertentangan, permusuhan dan perkelahian. Yang perlu direnungkan lebih jauh adalah apa yang menyebabkan timbulnya perasaan irihati dan sifat kikir ini? Akar dari dua bentuk belenggu ini adalah rasa suka dan tidak suka.

Meskipun demikian, ada obat untuk menyingkirkan kedua bentuk perasaan negatif tersebut. Obat yang dimaksud adalah melihat, menyadari semua fenomena yang muncul dari keenam indrawi sebagaimana adanya. Setelah itu pada tahap awal lepaskan, uraikan bentuk-bentuk perasaan buruk tersebut serta perbanyak munculnya bentuk-bentuk pikiran yang baik.

Sumber:

Sakka Pañha Sutta


Download MP3
Belenggu (55:07 - 6.31 MB)


Quote:
RYG Leaf - 23/03/2011 08:41 PM
#190
Puja Bakti Minggu (11 Oktober 2009) Dhammacakka
Quote:
Memahami Perubahan Menemukan Kebahagiaan
oleh Bhante Adhiratano

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Uttiṭṭhe nappamajjeyya, dhammaṁ sucaritaṁ care

Dhammacārῑ sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca

Sadarlah akan kenyataan, jangan tertipu, hiduplah sesuai dengan Dhamma.

Seseorang yang hidup sesuai Dhamma, akan hidup berbahagia

dalam kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang.

(Dhammapada Loka Vagga 168)

Sore itu, pukul 17:16 orang tidak pernah berpikir suasana akan berubah seketika. Guncangan gempa di Padang banyak mengakibatkan bangunan roboh, terbakar, bahkan tidak sedikit korban yang meninggal. Kita sendiri juga telah mengalami guncangan gempa yang cukup kuat. Gempa tidak pernah dapat diprediksi dengan tepat kapan akan terjadi, sama tidak jelasnya dengan kehidupan ini. Dari kejadian gempa di Padang, kita dapat belajar bahwa hidup ini begitu rentan, kegembiraan seketika dapat tergantikan dengan kesedihan, keuntungan tergantikan dengan kerugian, sehat tergantikan dengan sakit, nama baik dan pujian tergantikan dengan hinaan dan cacian, semuanya berubah... dan orang tidak pernah suka dengan perubahan ini.

Perubahan ingin menyadarkan kita tentang ketidaksempurnaan dari kehidupan. Tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan; ada kegelisahan, ketakutan, sakit, kesedihan, kekecewaan, kehilangan dan semua ketidakpuasan yang dapat dirangkum dalam satu kata, ’dukkha’. Tidak mudah dan tidak akan pernah mudah ketika harus berhadapan dengan kenyataan tentang dukkha. Pikiran kita cenderung berpikir “seharusnya” pada apa yang terjadi. Sulit menerima apa yang terjadi inilah salah satu beban yang kerap dipanggul kemana-mana. Menerima dan memaafkan adalah langkah awal untuk meletakkan beban. Sulit..., memang! Tetapi bukan berarti tidak bisa! Belajar untuk menerima tanpa ’tapi’, menerima berarti tidak menyesali, menerima berarti mau bangkit kembali!

Tak dapat dipungkiri ada segenap dukkha dalam kehidupan ini, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dari kehidupan. Hidup ini tetap saja indah walau tidak sempurna. Hanya karena dibutakan oleh kebodohan (moha), maka keindahan itu tidak tampak. Benar ada dukkha dalam kehidupan kita tetapi itu bukan milik kita, mereka hanya bagian dari kita. Sudah sangat lama pikiran kita tersesat, kita begitu percaya pada apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Kita anggap semua adalah milik kita. Yang mana milik kita yang sesungguhnya? Semua datang dan pergi dengan sendirinya sesuai dengan kondisi yang ada.

Ketidakmampuan untuk memahami perubahanlah yang mengakibatkan harus adanya dukkha yang tidak perlu. Kerentaan, sakit, kematian dan perpisahan dengan yang dicintai, disenangi adalah wujud dari perubahan yang sulit untuk dihadapi. Karena sulit, maka Sang Buddha menganjurkan untuk kita merenungkan kerap kali semua itu sebagai suatu kewajaran. Ketika kita mampu melihat perubahan yang terjadi sebagai suatu kewajaran, maka berangsur-angsur dukkha itu akan sirna, kegelisahan akan lenyap dan keindahan hidup akan nampak. Inilah kekuatan Dhamma yang mampu membuat hidup yang tidak sempuna ini menjadi tetap indah.

Pada masa lampau, ketika Guru Agung kita Sang Buddha menyadarkan seorang ibu yang bernama Kisagotami tentang kewajaran suatu perpisahan dari yang dicintai, disayangi, kewajaran dari kematian. Ketika Kisagotami mampu melihat kewajaran tersebut, maka kegelisahan dan kesedihannya sirna. Pada saat ini pun demikian, ada sebuah keluarga suatu ketika mendapati bahwa balitanya ada perbedaan dari bayi lucu yang lain. Mereka mendapati kuku-kuku putra kesayangannya berwarna sedikit kebiru-biruan, setelah diperiksa keberapa dokter ahli, ternyata putra mereka mengalami kelainan jantung, dokter mengatakan jantungnya “bocor.” Betapa terkejutnya mereka mendengar hal itu, kepala mereka terisi penuh tentang hal-hal yang tidak diharapkan yang akan terjadi di kemudian hari, kebahagiaan perlahan berubah; batin menjadi sedih, gelisah, takut dan apalah…., tetapi, lambat laun ketika mereka sering berkunjung ke tempat dimana putranya dirawat, mereka mulai melihat sekitar, mulai benar-benar memperhatikan sekitar dan ternyata…, apa yang mereka alami juga dialami oleh orang tua lain, oleh banyak orang tua lain, ternyata mereka tidak sendiri ada banyak yang mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Kesedihan mereka mulai mereda, kekhawatiran dan ketakutan berangsur-angsur pergi. Mereka mampu melihat kewajaran, sambil tetap berjuang tanpa lagi memanggul beban kesedihan.

Jadi, masalah tidak terletak pada perubahan yang terjadi, tetapi lebih pada bagaimana kita menyikapi perubahan tersebut. Bila kita mampu memandang perubahan sebagai suatu kewajaran, maka kita mempunyai kekuatan lebih untuk menghadapinya. Bila kita mampu memandang setiap perubahan yang tidak menyenangkan sebagai bayar hutang, inilah sikap batin yang lebih membahagiakan karena tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sang Buddha telah menyadarkan bahwa kita adalah pewaris kamma kita sendiri.

Hiduplah sesuai Dhamma karena Dhamma mampu menyembuhkan segala dukkha dahulu, kini, maupun akan datang karena Dhamma tak lapuk oleh waktu. Pahamilah perubahan…, sadarlah akan kenyataan, jangan tertipu.

Semogga semua makhluk hidup berbahagia.


Download MP3
Memahami Perubahan Menemukan Kebahagiaan (52:08 - 5.97 MB)


Quote:
RYG Leaf - 24/03/2011 10:01 AM
#191
Puja Bakti Minggu (18 Oktober 2009) Dhammacakka
Quote:
Bala
oleh Bhante Sudassano

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Uṭṭhānavato satῑmato, sucikammassa nisammakārino

Saññatassa ca dhammajῑvino, appamattassa yaso bhivaḍḍhatῑ

Tabah dan penuh perhatian, suci dalam setiap tingkah laku,

mengendalikan diri dengan baik, dan hidup secara benar,

maka orang yang selalu sadar ini akan maju dengan cepat.

(Dhammapada, II:4)

Dalam kenyataan hidup, ketika kita sedang mengalami permasalahan, kita membutuhkan jawaban yang tepat untuk menghadapi masalah yang sedang kita alami. Lalu apakah yang dipakai oleh kita untuk menghadapi permasalahan kita? Apakah dengan kegelisahan, berpasrah diri, atau menyerah begitu saja serta membencinya? Tentunya kalau hal tersebut kita lakukan, kita akan semakin menderita. Maka dari itu, tidak lain kita harus memiliki mental yang kuat, mental yang sehat untuk menghadapi segala macam penderitaan yang kita alami. Apakah benar, mental yang kita miliki sudah kuat untuk menghadapi penderitaan? Tentunya hal tersebut sulit kita jawab dengan tepat. Kebanyakan orang ketika tertimpa musibah mengeluh dengan berkata ’aku menderita, stress’ ketika melihat kenyataan hidup tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tentunya hal tersebut kita pernah mengalaminya. Atau bukan hanya mengalaminya, mungkin kita pernah terpuruk tak berdaya ketika derita menimpa diri kita. Itu akibat mental kita lemah tidak mempunyai kekuatan untuk menangkal derita yang sedang kita alami.

Pada kenyataannya, memang sangat sulit untuk memperoleh pikiran atau mental yang kuat dan sehat. Karena kalau berbicara mengenai mental, terkadang seseorang minatnya sedikit. Kebanyakan menyukai hal-hal yang sifatnya menyenangkan, tidak mau bersusah payah atau berjuang untuk mencari obat mental. Kalau mental kita kuat, kita akan tahan, dan kita akan sangat mengerti bagaimana sikap kita untuk menghadapi masalah yang sedang mendera kita. Kita harus mengerahkan sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang kita cita-citakan. Bukan hanya diucapkan saja, tetapi dengan belajar Dhamma. Lalu apa yang kita pelajari dengan Dhamma itu sendiri? Yaitu salah satu Dhamma yang Sang Buddha katakan dalam Aïguttara Nikàya, Pa¤cakanipàta yang isinya Sang Buddha menunjukkan lima penopang agar mental kita memiliki kekuatan, serta tahan untuk membebaskan dari derita, yaitu:

1. Saddhabala
Keyakinan, yang dimaksud di sini adalah keyakinan terhadap Dhamma yang telah diajarkan oleh guru Agung kita. Keyakinan dapat kita peroleh dengan banyak belajar Dhamma, praktik Dhamma, sehingga kita mempunyai pemahaman tentang kehidupan kita, yang sebenarnya penuh dengan perubahan. Maka dari itu, dengan sendirinya kita menjadi yakin terhadap Dhamma, bahwa Dhamma akan melindungi seseorang yang mempraktikkan Dhamma. Ketika keyakinan yang kita miliki dilandasi pemahaman, maka keyakinan itu akan berguna untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan kita.

2. Viriyabala
Yang dimaksud di sini adalah semangat untuk mengurangi hal yang buruk dan semangat meningkatkan kebajikan. Ini yang harus kita munculkan. Permasalahannya, bagaimana kita memunculkan semangat? Se-mangat muncul kalau kita mengingat kesenangan kita itu apa, dengan artian bahwa apabila kita ingin hidup bebas, bahagia, tenang dan sebagainya, hendaknya motivasi seperti itu harus kita perhatikan. Dengan demikian maka timbullah semangat ketika kita sedang mengalami penderitaan. Karena apa? Kita ingin bahagia, maka dari itu kita bangkit, berjalan sesuai dengan Dhamma.

3. Satibala
Memiliki perhatian, mengembangkan perhatian dengan kebijaksanaan yang luhur adalah hal yang mulia. Lalu apa yang harus kita perhatikan? Kita memperhatikan dengan penuh berhati-hati dalam hal bertindak, berucap, berpikir, perhatian terhadap apa yang sedang dilakukan, ingat kepada apa yang telah dilakukan. Inilah yang mengandung kekuatan. Kalau kita tidak ada perhatian, maka kita gampang terserang oleh kekotoran batin.

4. Samādhibala
Keteguhan pikiran, amatlah diperlukan yang nantinya akan membuat pikiran kita lebih konsisten terhadap apa yang dilakukan dengan dilandasi pemahaman. Maka hal tersebut akan membuahkan kekuatan bagi kita dalam hal kebaikan.

5. Paññābala
Mampu melihat dengan jelas, mana yang patut kita harus kembangkan sesuai Dhamma dan mana hal-hal yang patut kita tinggalkan. Tentunya hal ini kalau kita miliki, akan membuat kita berjaya di dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita akan hidup dengan damai di alam ini maupun di alam selanjutnya. Inilah yang dinamakan kekuatan kebijaksanaan.

Demikianlah lima hal di atas apabila dilaksanakan dengan benar, akan memperkuat batin kita agar berani untuk menghadapi permasalahan-permasalahan dalam hidup kita ini. Dengan yakin terhadap Dhamma, memiliki semangat yang tak tergoyahkan, perhatian yang benar, batin yang teguh dan kebijaksanaan yang luar biasa, mental kita akan kuat dan kita tidak putus asa atau hampa karena didera oleh penderitaan. Oleh karena itu, lima bala tentara tersebut sangat berguna untuk kita jalani di dalam kehidupan sehari-hari.


Download MP3
Bala (35:14 - 4.03 MB)


Quote:
RYG Leaf - 24/03/2011 11:05 AM
#192
Puja Bakti Minggu (25 Oktober 2009) Dhammacakka
Quote:
Sona dan Tali Kecapi
oleh Bhante Atthadhiro

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Taṇhāya jāyatῑ soko, taṇhāya jāyatῑ bhayaṁ

Taṇhāya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ

Dari keinginan timbullah kesedihan, dari keinginan timbullah ketakutan. Seseorang yang terbebas

dari keinginan tidak akan mengalami kesedihan dan ketakutan

(Dhammapada 216)

Dalam hidup ini kita memiliki sebuah impian atau cita-cita yang hendak kita capai. Pada umumnya hampir setiap orang memiliki sebuah impian atau cita-cita. Seperti impian untuk menjadi orang kaya, impian menjadi orang yang berkedudukan, dan lain-lain. Impian atau cita-cita adalah hal penting yang harus dimiliki setiap orang, karena impian atau cita-cita merupakan arah yang hendak dicapai seseorang dalam kehidupan ini. Pada dasarnya, setiap impian atau cita-cita itu bersifat bisa membawa pada kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah impian bagi semua orang tanpa melihat status dan profesi.

Setiap cita-cita atau impian yang seseorang pilih pada dasarnya karena merasa cocok atau senang dengan hal tersebut. Karena adanya rasa senang atau kesukaan, akan mendorong adanya minat dan semangat. Semangat inilah yang akan mampu mendorong untuk merealisasikan apa yang dicita-citakan. Tetapi banyak yang kurang memahami tentang seberapa besar semangat juang harus dimiliki atau yang diperlukan, sehingga tak jarang ketika seseorang berusaha untuk memperoleh cita-cita atau impiannya justru mengalami kekecewaan dan keputusasaan.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena semangat juang yang berkobar terlalu tinggi (ambisius) dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan apa yang diharapkan. Dengan adanya semangat juang yang terlalu besar, maka semangat itu berubah menjadi nafsu keinginan, sehingga ketika sudah berusaha dengan luar biasa tetapi hasilnya kurang sesuai maka akan menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, putus semangat, depresi bahkan hingga mengalami gangguan jiwa.

Agar tidak mengalami hal semacam itu, maka kita semestinya berusaha memahami diri sendiri tentang seberapa besar kemampuan kita. Tanpa memahami hal ini, kita tidak mungkin mencapai cita-cita yang hendak kita capai. Ibarat pepatah kuno ”cebol nggayuh lintang”. Yang memiliki makna bahwa sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi (mustahil).

Sona dan tali kecapi

Di jaman Sang Buddha, ada seorang bhikkhu yang bernama Sona. Sona ini dulunya adalah seorang pemain kecapi. Setelah ia mendengar Dhamma dari Sang Buddha, ia memiliki keyakinan yang besar terhadap Dhamma, dan ia menyatakan diri untuk menjadi bhikkhu. Setelah menjadi bhikkhu, ia berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebebasan, maka siang malam ia meditasi terus-menerus dengan bersemangat. Tetapi ia tidak pernah melihat seberapa besar kemampuan yang dimiliki. Karena semangat yang begitu keras tetapi kebebasan belum ia raih, maka ia mulai putus asa, sehingga muncul niat untuk meninggalkan latihannya itu.

Sang Buddha yang mengetahui hal ini kemudian mendatangi Bhikkhu Sona, dan Bhikkhu Sona bercerita tentang usaha yang pernah ia lakukan dengan begitu bersemangat, melebihi kemampuannya tetapi kebebasan belum ia peroleh, sehingga membuat ia menjadi putus asa.

Setelah mengetahui hal ini, Sang Buddha memberikan motivasi terhadap Bhikkhu Sona. Karena ia dulunya seorang pemain kecapi, maka Sang Buddha memberi perumpamaan tentang kecapi, agar mudah ia pahami. Lalu Sang Buddha bertanya kepada Bhikkhu Sona: ’Bagaimana cara memainkan kecapi?’. Sang Buddha bertanya: ’Bagaimana kalau senar kecapi itu jika dimainkan terlalu kencang?’ Bhikkhu Sona menjawab: ’Suara yang dihasilkan akan tidak enak didengarkan, bahkan bisa membuat senar kecapi menjadi putus.’ ’Lalu bagaimana kalau senar kecapi terlalu kendor?’ Bhikkhu Sona menjawab: ’Suara yang dihasilkan menjadi tumbang’. ’Lalu bagaimana agar suara yang dihasilkan itu menjadi benar-benar indah dan menarik untuk didengarkan?’ Bhikkhu sona menjawab: ’Agar suara kecapi itu indah, maka senar kecapi meski sesuai, tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu kendor’. ’Seperti itulah latihan yang perlu kau jalankan.’ Setelah memahami hal ini, Bhikkhu Sona kembali berlatih dengan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya, sehingga ia mencapai kebebasan.

Kisah di atas ini juga sebagai renungan bagi kita, agar ketika kita berusaha untuk menggapai cita-cita yang kita impikan, kita tidak terlalu bernafsu dan juga tidak terlalu malas. Tetapi kita perlu keseimbangan dan tahu seberapa besar kemampuan yang kita miliki. Tanpa melihat kemampuan yang kita miliki, kita bisa putus di tengah jalan.

Kesimpulan

Dengan memahami hal ini semoga kita sewaktu sedang berusaha untuk mencapai impian atau cita-cita, kita bisa tahu seberapa besar kemampuan yang kita miliki, sehingga kita tidak menjadi tegang atau tertekan tetapi bisa menjadi nyaman dan tenang. Ingatlah tentang seberapa besar kemampuan yang kita miliki dan mainkanlah secara seimbang seperti perumpamaan kecapi tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu kendor.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


Download MP3
Sona dan Tali Kecapi (36:06 - 4.13 MB)


Quote:
RYG Leaf - 24/03/2011 11:21 AM
#193
Kathina Puja (2009) Dhammacakka
Quote:
Kathina Puja (2009) Dhammacakka
oleh Bhante Sri Pannavaro Mahathera

Download MP3
Kathina Puja (2009) Dhammacakka (55:24 - 6.34 MB)


Quote:
RYG Leaf - 25/03/2011 07:57 PM
#194
Puja Bakti Minggu (29 November 2009) Dhammacakka
Quote:
Menjadi Manusia Yang Seutuhnya
oleh Bhante Adhiratano

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Candanaṁ tagaraṁ vāpi, uppalaṁ atha vassikā

Etesaṁ gandhajātānaṁ, sῑlagandho anuttaro

Harumnya kebajikan (sila) adalah jauh melebihi harumnya kayu cendana,

bunga tagara, teratai ataupun melati hutan.

(Dhammapada 55)

Di suatu senja Y.A. Ananda sedang duduk sendiri. Dalam pikiran Beliau timbul masalah yang berkaitan dengan bau dan wangi-wangian. Ia berpikir: "Harumnya kayu, harumnya bunga-bunga, dan harumnya akar-akaran semuanya menyebar searah dengan arah angin tetapi tidak bisa berlawanan dengan arah angin. ”Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat melawan arah angin? Apakah tidak ada wangi-wangian yang dapat merebak ke seluruh dunia?” Tanpa menjawab pertanyaannya sendiri, Y.A. Ananda menghampiri Sang Buddha dan meminta jawaban dari-Nya. Sang Buddha mengatakan, ”Ananda, andai saja, ada seseorang yang berlindung terhadap Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Saṅgha), yang melaksanakan lima latihan sila, yang murah hati dan tidak kikir, seseorang yang sungguh bijaksana dan layak memperoleh pujian. Kebaikan orang tersebut akan menyebar jauh dan luas, dan para bhikkhu, brahmana dan semua umat akan menghormatinya di manapun ia tinggal”.

Lima sila (lima aturan kemoralan) yang diajarkan oleh Sang Buddha merupakan pedoman dasar yang menjadikan kita manusia yang seutuhnya, tanpa lima sila ini, manusia hanya akan menjadi ”seperti manusia”. Sila merupakan langkah awal yang menjadi dasar dari jalan kesucian, tanpa sila tidak ada jalan pembebasan dari penderitaan (dukkha), Sang Buddha merangkum jalan kebebasan ini menjadi Sῑla-Samādhi-Paññā di mana yang satu dengan lainnya saling melengkapi dan menunjang.

Lima sila tersebut adalah penghindaran dari menyakiti terlebih membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil barang yang bukan miliknya (mencuri), menghindari perbuatan asusila, menghindari ucapan yang tidak benar dan menghindari makan dan minuman yang dapat melemahkan kesadaran. Lima sila ini merupakan pagar yang mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang buruk (akusala kamma) melalui tiga pintu perbuatan yaitu :

1. Melalui jasmani berupa penghindaran dari menyakiti terlebih membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil barang yang bukan miliknya, dan menghindari perbuatan asusila.

2. Melalui ucapan berupa penghindaran dari ucapan yang tidak benar termasuk ucapan yang memecah-belah, ucapan kasar dan pembicaraan yang tidak bermanfaat.

3. Melalui pikiran berupa niat jahat, serakah dan pandangan yang keliru karena absennya kesadaran.

Dalam Dῑgha Nikāya 26: Cakkavatti Sῑlhanāda Sutta, Sang Buddha menjelaskan umur kehidupan manusia akan menurun seiring dengan turunnya kemoralan yang dimiliki oleh manusia. ”...Pembunuhan meningkat, dan dari pembunuhan kebohongan meningkat, dari meningkatnya kebohongan umur kehidupan manusia menurun...”. Dengan mentaati sila berarti kita peduli pada kepentingan, kesejahteraan dan kedamaiaan diri sendiri dan orang lain, karena sila berfungsi untuk menghancurkan kejahatan, dan menjaga, memelihara serta mempertahankan perbuatan baik yang telah ada, dengan kata lain melaksanakan sila berarti kita menciptakan keharmonisan dalam kehidupan ini.

Lima sila ini akan terwujud dalam diri seseorang apabila orang tersebut mau mengembangkan perasaan malu untuk berbuat jahat (hiri) dan takut pada akibat dari perbuatan jahat yang dilakukan (ottappa). Terdapat dua jenis pelaksanaan sila. Tingkatan yang dasar di mana seseorang melaksanakan sila karena dorongan dari luar, karena adanya peraturan, adat, norma sosial, malu dan takut. Pada tahapan ini sila dilaksanakan dengan perhatian, pengetahuan, kesabaran dan kekuatan dari kemauan dan semangat. Jenis yang kedua karena dorongan dari dalam yang terbentuk karena kebiasaan dari pengendalian diri, seseorang yang telah membiasakan hidup sesuai dengan Sila maka tidak akan melanggar walaupun ada kesempatan, telah pantang untuk melanggar.

Banyak manfaat dari sila yang ditaati sebagai pedoman hidup setidaknya dapat digolongkan menjadi 3 tingkatan manfaat yaitu pada kehidupan saat ini berupa rasa aman, ketiada penyesalan dan reputasi yang baik. Sang Buddha bersabda kepada Ananda sebagai berikut: ”Ananda, Sila memiliki tiada penyesalan sebagai tujuan dan buahnya”. (Aṅguttara Nikāya IV).

Manfaat yang kedua pada kehidupan yang akan datang berupa kelahiran ke alam-alam bahagia. Sang Buddha menjelaskan di dunia ini berlaku hukum alam yang bekerja secara alamiah tanpa ada yang mengatur hukum ini yang di kenal sebagai hukum sebab-akibat, taat pada sila berarti kita telah membuat sebab-sebab kebahagiaan yang nantinya akan berakibat pada kelahiran ke alam-alam surga. Manfaat ketiga yang paling tinggi dari pelaksanaan sila adalah pencapaian Nibbāna, kebebasan total dari penderitaan yang dapat dicapai baik dalam kehidupan sekarang atau dalam kehidupan masa depan tergantung pada kematangan spiritual kita. Mengingat besarnya manfaat sila, hendaklah seseorang yang menginginkan kebahagiaan baik pada saat ini maupun yang akan datang untuk hidup sesuai dengan sila.


Download MP3
Menjadi Manusia Yang Seutuhnya (47:01 - 5.32 MB)


Quote:
RYG Leaf - 25/03/2011 08:34 PM
#195
Puja Bakti Minggu (15 November 2009) Dhammacakka
Quote:
Hukum Kamma
oleh Bhante Khemaviro

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Kalau kita melakukan perbuatan yang buruk melalui ucapan, badan jasmani, dan pikiran, maka hasilnya pun buruk atau akibatnya buruk. Sebaliknya, apabila kehendak, yang mendasari perbuatan itu “benar” (baik), maka dari kehendak yang baik akan muncul ucapan yang baik (benar), perbuatan jasmani yang benar, dan pikiran yang benar, maka hasilnya pun bahagia, tenang, dan tentram.

Hukum kamma ini adalah hukum alam, ada lima hukum alam yaitu:

1. Bija niyama

Bija niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan biji-bijian. Dari bakal tanaman ini akan tumbuh tanaman, lengkap dengan batang, daun, bunga, dan buah. Tetapi ada juga tanaman yang tidak menghasilkan bunga dan juga tidak menghasilkan buah.

2. Utu niyama

Utu niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan utu (suhu/cuaca). Di dunia ini ada daerah yang mengalami musim salju (hujan es). Kalau di daerah tropis daerah panas, tidak ada hujan salju, di daerah tropis, yang ada hanya musim hujan, musim dingin, dan musim kemarau. Utu niyama juga berhubungan dengan kapan musim hujan, kapan musim kemarau, dan kapan musim dingin.

3. Citta niyama

Citta niyama adalah hukum alam yang berhubungan dengan citta (pikiran). Pikiran adalah suatu keadaan yang selalu menerima dan memikir objek.

4. Kamma niyama

Kamma niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan kamma (perbuatan). Perbuatan ada tiga, yaitu:

a. Perbuatan benar

b. Perbuatan tidak benar

c. Perbuatan netral

Perbuatan netral hanya dilakukan oleh para Arahat yang telah bebas dari lobha, dosa, dan moha.

5. Dhamma niyama

Dhamma niyama adalah hukum alam yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Contoh: turunnya hujan hangat (panas) dan dingin untuk memandikan Bodhisatta Gotama ketika Beliau terlahir di dunia, juga munculnya gempa bumi yang dahsyat dan mengerikan ketika Sang Buddha mengambil keputusan untuk memasuki nibbāna.

Hukum-hukum alam ini hanya ditemukan kembali oleh para Buddha. Memang ada saatnya Dhamma dilupakan oleh umat manusia. Kalau tidak ada lagi yang mempraktikkan Dhamma, maka keadaan menjadi kacau, usia kehidupan menjadi pendek, pencurian, pembunuhan, kebohongan, fitnah merajalela, orang minum-minuman yang memabukkan sampai hilang ingatan, mudah marah, maka muncullah perkelahian, pembunuhan, keadaan menjadi semrawut tidak menentu.

Para Buddha muncul di dunia untuk menemukan kembali hukum-hukum alam tersebut. Kita perlu mempelajari hukum-hukum alam tersebut supaya kita berbahagia.

Dalam kitab Dhammapada, Sang Buddha mengatakan bahwa: ”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.” (Dhammapada, 1)

Sebaliknya, Sang Buddha juga mengatakan demikian: ”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya.” (Dhammapada, 2)

Dari kedua syair ini dapat disimpulkan bahwa: lebih baik kita bahagia daripada menderita. Kebahagiaan seperti panjang usia, sehat, wajah cantik/ganteng, juga harta benda melimpah, semuanya didapat dari melakukan perbuatan baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan.

Oleh karena itu, setelah mengenal Dhamma ini, maka tugas kita sebagai umat Buddha adalah selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti: mempraktikkan sila, melatih samādhi, juga tidak lupa menunjang kehidupan para bhikkhu. Mereka yang tekun mempelajari dan mempraktikkan Dhamma dengan tujuan untuk memperoleh kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan inilah kita mengikis kekotoran batin sehingga bisa bebas dari penderitaan dan hidup bahagia dalam kehidupan ini juga.

Selamat melakukan perbuatan-perbuatan benar sehingga kita memperoleh buah-buah yang membahagiakan dalam kehidupan ini seperti kesehatan, panjang usia, wajah cantik, wajah yang enak dipandang dan harta benda yang melimpah.

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā

Semoga semua makhluk hidup berbahagia


Download MP3
Hukum Kamma (1:00:27 - 6.92 MB)


Quote:
RYG Leaf - 25/03/2011 08:44 PM
#196
Puja Bakti Minggu (01 November 2009) Dhammacakka
Quote:
Kenangan & Harapan
oleh Bhante Silagutto

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Atῑtaṁ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṁ

Yadatῑtampahῑnantaṁ, appattañca anāgataṁ

Tidak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu, tidak sepatutnya berharap pada sesuatu

yang akan datang. Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau, dan sesuatu yang

akan datang adalah hal yang belum tiba.

(Bhaddekaratta Sutta, dikutip dari Paritta Suci)

Kebahagiaan, itulah dambaan hampir setiap orang, dari anak-anak hingga orang dewasa mendambakannya. Hampir setiap kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kebahagiaan. Dari pemulung hingga penjabat tinggi ingin hidup bahagia, tidak ada satu makhluk pun yang ingin hidup menderita. Kendati demikian, banyak orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan, karena salah mengambil jalan (tidak sesuai Dhamma). Tentu sebagai umat Buddha kita berpedoman pada Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha selama 45 tahun supaya hidup kita bahagia. Dhamma telah terbukti menuntun kita ke arah yang benar dan memberikan kebahagiaan bagi yang mempraktikkannya. Tentu kita harus pandai memilih yang tepat sesuai Dhamma, jangan sampai kita salah memilih yang akan membuat hidup kita menderita.

Setiap orang mempunyai kenangan dan harapan yang berbeda-beda, ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan. Memang betul kata pepatah, ‘tidak ada orang yang menyesal di depan, tetapi selalu menyesal di belakang setelah kita melakukan atau setelah kita bertindak’.

Efek dari kenangan ada yang bermanfaat dan ada juga yang tidak bermanfaat yang hanya menimbulkan penyesalan, kekecewaan, stress, dan lain sebagainya. Memang betul kita harus belajar dari masa lalu supaya kita lebih baik dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Tetapi sering kali kenangan yang pahit itu yang selalu diingat dan sering kali diulangi lagi, tidak mau berusaha membuat sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu pula dengan kenangan yang manis. Banyak orang yang terhanyut di dalamnya dan juga tidak mau melakukan sesuatu yang baru lagi. Kini kenangan tinggal kenangan, setiap saat kata-kata ‘kenapa…? mengapa…?’ Selau mengisi pikiran kita. Kalau hal ini masih bercokol di dalam pikiran kita, maka kita membuang waktu sia-sia yang tidak bermanfaat. Sangat banyak sekali orang yang meratapi masa lalunya.

Begitu pula banyak orang yang berharap supaya masa depannya bahagia, makmur, dan lain sebagainya. Boleh-boleh saja kita mempunyai harapan dan cita-cita, tidak jadi masalah dan juga tidak ada yang melarang, bahkan anak kecil pun kalau kita tanya tentu harapannya pasti ingin hidup bahagia. Harus kita ketahui bahwa harapan itu tidak pasti, masa depan hanya terdiri dari kemungkinan-kemungkinan, kita hanya bisa membuat rencana-rencana tetapi itu pun tidak pasti. Apa yang kita harapkan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan yang diterima.

Harapan memang sejenis ENERGI. Harapan membuat orang menjadi maju dari hari ke hari. Harapan juga sering kali membuat banyak orang menjadi kecewa. Karena harapanlah membuat banyak orang menjadi penuh derita. Jika kita membantu orang dengan penuh harapan, menimbulkan kekecewaan. Kerja keras penuh harapan, mudah kecewa; sekolah penuh harapan, mudah kecewa; punya anak penuh harapan, mudah kecewa. Hal itu karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Kedua hal inilah (kenangan dan harapan) yang sering muncul di pikiran kita, yang menyebabkan banyak orang cemas, kecewa, dan lain sebagainya. Banyak orang yang tidak bisa tidur akibat dari terlalu memikirkan hal ini, sangat banyak orang yang mengkonsumsi obat penenang supaya bisa tenang. Kapankah waktu yang paling penting? Saat inilah waktu yang paling penting, karena hari inilah kita bisa melakukan apa saja untuk kehidupan kita. Mau bahagia, sedih, menolong orang, mengisi waktu sendiri, itu merupakan pilihan kita. Karena hari inilah yang menentukan masa depan kita. Jika kita melakukan sesuatu yang baik, maka masa depan pun menjadi lebih baik, begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan sesuatu yang tidak baik, masa depan pun juga tidak baik.


Download MP3
Kenangan & Harapan (47:01 - 2.69 MB)


Quote:
RYG Leaf - 25/03/2011 08:57 PM
#197
Puja Bakti Minggu (08 November 2009) Dhammacakka
Quote:
NINDA DAN PASAMSA (2)
oleh Bhante Upasamo

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Na cāhu na ca bhavissati, na cetarahi vijjati,

Ekantaṁ nindito poso, ekantaṁ vā pasaṁsito’ti.

Tidak akan ada satu orangpun yang akan terus dipuji dan terus dicela,

baik waktu lalu, sekarang, atau akan datang.

(Dhammapada 228)

Nindā berarti celaan, caci maki, hinaan, fitnah, kritikan, sedangkan pasaṁsā berarti sanjungan, pujian.

Jika kita memperhatikan syair Dhammapada di atas, berarti semua orang akan mengalami pujian dan celaan dalam hidupnya. Ini adalah satu kebenaran yang akan dialami oleh semua

Nindā dan pasaṁsā muncul karena ada sebabnya, bukan tanpa sebab. Sebabnya karena kita hidup di dunia ini. Sebab lainnya adalah sikap kita suka melihat kekurangan orang lain juga kita tidak suka melihat keberhasilan orang lain. Sebab lainnya adalah kecendrungan kita selalu memberikan penilaian pada apa saja yang terjadi melalui indria kita, yaitu indria mata, telinga, hidung, mulut, kulit, dan pikiran.

Karena sebab-sebab itulah, maka kita akan mengalami nindā dan pasaṁsā dalam hidup kita. Jika kita hanya menginginkan yang satu dan menolak yang lainnya, akan membuat kita menderita.

Karena kita semua akan mengalaminya, berpeganglah pada Dhamma dalam menjalani hidup.

Orang yang tidak bijaksana menerima nindā dan pasaṁsā dalam hidupnya, demikian pula orang yang bijaksana. Yang berbeda adalah sikap atau cara menghadapinya.

Orang bijaksana memahami bahwa nindā dan pasaṁsā adalah kondisi dunia yang terus berganti dan bersifat tidak kekal. Ketika menerimanya, mereka tidak terlena ataupun kecewa.

Apakah kritikan dan pujian dibenarkan dalam agama Buddha?

Sebagai umat Buddha, apakah dibenarkan jika kita memberikan pujian dan celaan kepada orang lain?

Perhatikanlah Aṅguttara Nikāya, II, 97 berikut:

Pengembara Potaliya berkunjung kepada Sang Bhagavā, lalu Sang Bhagavā berkata kepadanya: ”Potaliya, ada empat jenis manusia di dunia ini. Siapa sajakah keempat jenis manusia itu?

1. Seseorang mengkritik apa yang pantas dikritik pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak memuji apa yang pantas dipuji.

2. Seseorang mengkritik apa yang pantas dikritik dan memuji apa yang patut dipuji pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran.

3. Seseorang memuji sesuatu yang patut dipuji pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak mengkritik apa yang pantas dikritik.

4. Seseorang tidak mengkritik apa yang pantas dikritik, dan tidak memuji apa yang patut dipuji.

Dari pernyataan ini bisa kita ketahui, apakah kritikan dan pujian dibenarkan atau tidak dibenarkan dalam Agama Buddha.

Jika kita bisa melakukannya, Sang Buddha menyebutnya sebagai ’manusia yang paling mengagumkan dan langka’.


Download MP3
NINDA DAN PASAMSA (2) (44:26 - 5.09 MB)


Quote:
RYG Leaf - 25/03/2011 09:14 PM
#198
Puja Bakti Minggu (22 November 2009) Dhammacakka
Quote:
Banyak Cara Untuk Berbuat Kebaikan
oleh Bhante Cittanando Thera

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Yathā pi puppharāsimhā, kayirā mālāguṇe bahū

Evaṁ jātena maccena, kattabbaṁ kusalaṁ bahuṁ

Seperti dari setumpuk bunga-bunga dapat dibuat banyak karangan bunga,

demikian pula hendaknya banyak kebajikan yang dapat

dilakukan oleh manusia di dunia ini.

(Dhammapada IV:10)

Kelahiran kita di alam manusia seperti sekarang ini karena kekuatan buah kebajikan di masa lampau, minimal mempunyai kebajikan moralitas atau Pañcasīla Buddhis. Tanpa adanya buah kebajikan itu, sangat sulit bahkan tidak mungkin seseorang dapat terlahir di alam manusia ini. Oleh karena itu, sesulit apapun atau sebahagia apapun kondisi kita pada saat ini, seharusnya tidak melupakan perbuatan-perbuatan baik agar dapat meningkatkan kualitas hidup kita menjadi lebih bahagia dan lebih baik lagi. Kualitas hidup itu dapat diraih hanya dengan berbuat baik, dan berbuat baik itulah sesungguhnya praktik Dhamma.

Ketika mendengar anjuran praktik Dhamma, mungkin bagi beberapa orang hal ini kadang-kadang terdengar begitu sulit. Mungkin saja mereka berpikir. ”Oh, kalau begitu saya harus menjadi bhikkhu, tinggal di vihara atau tinggal di hutan dan sebagainya”. Padahal sebenarnya, praktik Dhamma tidak hanya untuk bhikkhu saja, melainkan untuk kebutuhan semua orang.

Untuk itu, perlu adanya pemahaman untuk mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan hidup. Umat Buddha tidaklah cukup hanya membaca buku Dhamma, begitu pula dengan hanya memiliki suatu pengetahuan teoritis Buddha Dhamma. Juga sebaliknya, tidaklah cukup secara membuta mengikuti tradisi Buddhisme tanpa suatu pengetahuan akan makna yang sesungguhnya. Setelah pemahaman itu dimiliki oleh seorang umat Buddha, maka ia pun akan menyadari bahwa kelahiran di alam manusia ini merupakan keberkahan dan kesempatan emas bagi dirinya yang telah menemukan ajaran Sang Buddha. Hal tersebut dikarenakan dapat terlahir sebagai manusia saja sangat sulit, apalagi dapat menemukan ajaran Dhamma dari seorang Buddha. Setelah kita belajar dari ajaran Dhamma itu, seseorang akan menjadi bijaksana, ia seharusnya juga mengumpulkan banyak jasa kebajikan, seperti sekumpulan bunga-bunga yang dapat dirangkai menjadi banyak karangan bunga, demikian pula hendaknya banyak kebajikan yang dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini.

Dalam kehidupan sehari-hari pun terdapat banyak cara untuk melakukan kebajikan yang berarti juga mempraktikkan Dhamma, diantaranya berbuat baik dengan:

1. Dānamaya: berbuat kebaikan dengan jalan berdana,

2. Sῑlamaya: berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan sīla,

3. Bhāvanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan meditasi,

4. Apacāyanamaya: berbuat kebaikan dengan jalan merendahkan diri,

5. Veyyāvacamaya: berbuat kebaikan dengan jalan membalas membantu,

6. Pattidānamaya: berbuat kebaikan dengan jalan membagikan sesuatu kepada orang lain,

7. Pattānumodanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan merasa gembira melihat kebaikan orang lain,

8. Dhammassavanamaya: berbuat kebaikan dengan jalan mendengarkan dan belajar Dhamma,

9. Dhammadesanāmaya: berbuat kebaikan dengan jalan mengajarkan Dhamma,

10. Diṭṭhujukamma: berbuat kebaikan dengan jalan mempunyai pandangan benar.

Sepuluh cara untuk berbuat baik ini merupakan tuntunan bagi setiap orang di dalam mempraktikkan Dhamma.

Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan manfaat atau buah dari perbuatan berjasa. Ada lima hal yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini yang merupakan buah kebajikan. Apakah yang lima itu? Umur panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga. Tetapi dari lima hal itu, Sang Buddha tidak mengajarkan bahwa kelimanya harus dicapai lewat doa atau lewat sumpah. Seandainya saja orang dapat memperolehnya lewat doa atau sumpah, siapa yang tidak akan memperolehnya? Akan tetapi bagi seorang siswa agung yang menginginkan kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga, tidaklah sesuai bila seseorang berdoa untuk hal-hal itu atau bergembira dalam melakukannya. Sebaiknya, seseorang justru mengikuti jalan kehidupan yang menopang untuk kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga. Dengan mengikuti jalan itu, seseorang akan memperoleh kehidupan yang panjang, keelokan, kebahagiaan, kemashyuran dan kelahiran ulang di surga.”

Setelah umat Buddha dapat melakukan perbuatan baik di alam manusia ini, hendaknya juga harus menyadari dan tidak seharusnya berhenti pada kebajikan duniawi saja, karena sesungguhnya masih ada kebajikan yang lebih tinggi dan luhur. Meskipun kebajikan duniawi akan mendatangkan umur panjang, kebahagiaan, keelokan, kemashyuran, kelahiran ulang di alam bahagia dan sebagainya. Kebajikan itu masih mengalami perubahan atau tidak kekal (anicca), menimbulkan ketidakpuasan (dukkha), serta bukan aku (anattā). Oleh karena itu, seberapa banyak pun keuntungan, kebahagiaan, keberhasilan yang telah diperoleh dari buah kebajikan itu masih ada batasnya, dan si pembuat kebajikan pun dapat merosot pada kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan dan mendatangkan penderitaan.

Untuk mengakhiri penderitaan itu, Sang Buddha telah menunjukkan Jalan Tengah yang menganjurkan cara hidup yang benar. Jalan yang mengantarkan seseorang mencapai pembebasan akhir penderitaan dan kelahiran kembali. Jalan Tengah itu terdiri dari:

1. Sammā-diṭṭhi: memiliki pengertian yang benar tentang Empat Kesunyataan Mulia,

2. Sammā-saṅkappa: pikiran yang benar untuk waspada melenyapkan pikiran yang jahat dan mengembangkan pikiran yang baik,

3. Sammā-vācā: selalu bicara benar, jujur, dan ramah,

4. Sammā-kammanta: memiliki perbuatan yang benar melalui badan,

5. Sammā-ājiva: memiliki mata pencaharian yang benar,

6. Sammā-vāyāma: selalu berdaya upaya yang benar, selalu menjaga agar pikiran yang jahat tidak muncul dan pikiran yang baik dapat muncul,

7. Sammā-sati: memiliki perhatian yang benar dan tepat terhadap apapun yang dihadapi,

8. Sammā-samādhi: memiliki samādhi yang benar untuk mencapai kebijaksanaan.

Dalam kehidupan umumnya dilaksanakan bertahap melalui sīla (3, 4, 5), samādhi (6, 7, 8), dan paññā (1, 2). Jadi ketiga ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu jalan. Hanya dalam hal mana yang lebih menonjol saja dapat dikatakan melaksanakan sīla, melaksanakan samādhi atau melaksanakan paññā.


Download MP3
Banyak Cara Untuk Berbuat Kebaikan (1:00:55 - 6.97 MB)


Quote:
RYG Leaf - 26/03/2011 07:17 PM
#199
Puja Bakti Minggu (06 Desember 2009) Dhammacakka
Quote:
Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Berpikir Benar
oleh Bhante Abhayanando

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Bukan ibu maupun ayah,

juga bukan sanak keluarga yang dapat melakukan hal ini,

karena pikiran yang terarah dengan benar,

yang dapat meningkatkan kualitas seseorang.

(Dhammapada, Cittavagga-43)

Pada suatu hari ada yang bertanya kepada saya, ”usaha apa yang harus kita lakukan supaya dapat meningkatkan kualitas diri?”. Kemudian saya berusaha menjawab, dan jawaban yang saya simpulkan adalah manusia harus berupaya untuk belajar dan praktik Dhamma, salah satunya adalah dengan mengarahkan pikiran dengan benar.

Banyak orang berharap kualitas hidupnya meningkat, baik yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya batiniah. Untuk meningkat-kan kualitas hidup yang sifatnya duniawi manusia harus memiliki pengetahuan dan juga ketrampilan yang kemudian diupayakan dalam bentuk bekerja sesuai bidang masing-masing. Faktor yang lain yang tidak kalah penting adalah senang dengan pekerjaan yang dilakukan, memiliki semangat, fokus ketika bekerja, ulet, sabar dan selalu mengevalusi apa yang sudah dilakukan. Semua faktor itu akan mengkondisikan tercapainya kebahagiaan duniawi.

Bukan berarti tidak ada masalah yang dihadapi dalam mem-perjuangkannya. Walaupun harus berhadapan dengan masalah, yang penting bagi mereka yang berjuang harus tetap ingat dengan tujuan utama dan jangan sampai larut dan tenggelam dalam permasalahan tersebut. Dalam hal ini dibutuhkan sikap mental yang positif. Bagaimana sikap mental positif itu bisa ber-kembang dalam diri seseorang?

Kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dengan harapan untuk meningkatkan kualiatas diri. Salah satu caranya adalah berupaya agar pikiran ini tetap sehat. Pikiran yang sehat dapat membantu seseorang ketika dalam keadaan kalut atau mengalami luka batin. Banyak orang berkata, ”untuk memiliki pikiran yang sehat tidaklah mudah.” Kenapa tidak mudah? Karena pikiran itu sifatnya sulit untuk dikendalikan. Pikiran itu lembut dan licin. Pikiran lebih suka hal-hal yang menyenang-kan dibandingkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Itulah sebagian dari sifat pikiran.

Oleh karena itu, Sang Buddha selalu mengingatkan agar manusia harus menjaga pikiran. Pikiran yang terjaga akan selalu sehat dan jauh dari penyakit batin. Pikiran yang terjaga akan membuat seseorang memiliki sikap mental positif. Pikiran memang sulit dikendalikan, maka harus ada upaya untuk mengendalikannya. Pikiran memang liar tetapi harus ada upaya untuk menjinakannya. Pikiran yang senang pada objek-objek yang menyenangkan harus diarahkan dengan benar.

Kenapa pikiran harus dijaga dan dirawat? Pikiran itu adalah sumber dari kejahatan, kebaikan dan kesucian. Pikiran yang tidak diarahkan dengan baik akan membuat seseorang menjadi merosot sedang-kan pikiran yang diarahkan dengan baik akan meningkat kualitas hidup seseorang. Ingat dalam Dhammapada, Yamakavagga syair 1 dan 2 meng-uraikan bahwa pikiran itu pelopor, pemimpin, dan penentu. Jika pikiran itu sebagai pemimpin, pelopor, dan penentu, maka pikiran itu pengaruh-nya sangat kuat terhadap ucapan dan tindakan seseorang. Kalau pikiran itu terjaga dengan benar, maka ucapan dan tindakan seseorang juga akan mengarah pada kebaikan. Sebaliknya, jika pikiran itu tidak terjaga dengan baik, maka orang tersebut akan mengalami kemerosotan.

Dari uraian di atas jelas bahwa mengarahkan pikiran ke arah yang benar itu sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Pertanyaannya, ”apa itu pikiran benar dan bagaimana mengarahkan pikiran ke arah yang benar?” Apa yang anda lakukan ketika anda dalam keadaan bermasalah? Kebanyakan orang cenderung berpikir buruk dan sebagian kecil yang berpikir positif. Kenapa? Karena pikiran yang belum terjaga dengan baik, sehingga tidak menuju ke arah yang benar. Berpikir yang benar adalah berpikir yang sesuai Dhamma diantaranya pikiran yang lepas dari ego (nekkhamma), pikiran memaafkan (khamanasila), pikiran berterima kasih (katavedita), berpikir tidak jahat (avyapada), dan berpikir tanpa kekerasan (avihimsa).

Kalau manusia dapat berpikir seperti di atas alangkah indahnya kehidupan ini. Kehidupan ini akan dipenuhi dengan manusia yang selalu berpikir dengan benar. Pikiran benar menjauhkan manusia dari kebencian, kekerasan, perilaku jahat, dan hal-hal buruk lainnya. Inilah kualitas diri yang diharapkan manusia. Kualitas diri tidak dapat dilepaskan dengan pikiran yang diarahkan dengan benar.

Untuk mendapatkan pikiran yang seperti itu (pikiran benar), tidaklah mudah karena melalui proses perjuangan gigih. Banyak kesulitan yang akan dihadapi ketika berupaya memperjuangkan pikiran yang benar. Banyak orang yang kemudian menyerah kalah terhadap kesulitan dan akhirnya gagal. Orang yang memiliki sikap mental seperti itu selamanya tidak akan dapat meningkatkan kualitas diri. Teruslah berjuang walau harus berhadapan dengan kesulitan. Ingatlah dengan baik-baik dan selalu merenungkan bahwa pikiran yang benar akan membuat kualitas diri meningkat sedang pikiran yang tidak terjaga akan membuat kualitas seseorang merosot.

Sumber:

- Dhammasari; MP. Sumedha Vidyadharma

- Dasar Pandangan Agama Buddha; Ven. S. Dhammika

- Dhammapada; Yayasan Dhammadipa Arama


Download MP3
Meningkatkan Kualitas Diri Dengan Berpikir Benar (43:21 - 4.96 MB)


Quote:
RYG Leaf - 26/03/2011 08:04 PM
#200
Puja Bakti Minggu (13 Desember 2009) Dhammacakka
Quote:
Mengatasi Lobha - Dosa - Moha. Dapatkah?
oleh Bhante Cittagutto Thera

Spoiler for "selengkapnya"
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Anavassutacittassa - ananvāhatacetaso

Puññanapāpapahῑnassa - natthi jāgarato bhayan’ti

Orang yang pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian,

telah mengatasi keadaan baik dan buruk;

maka orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada lagi ketakutan.

(Dhammapada 39)

Pada umumnya orang masih merasa khawatir dan takut atas hal-hal tertentu yang buruk akan menimpa dirinya dan justru mengejar hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari, demikianlah memang kenyataannya. Lalu, bagaimana kemungkinan-kemungkinan orang tertentu yang sudah tidak merasa takut lagi terhadap permasalahan hidup seperti itu? Mari kita telusuri uraian lebih lanjut.

Hidup Disertai Lobha - Dosa - Moha

Istilah lobha, dosa, moha atau dalam bahasa Indonesia disebut keserakahan, kebenacian, kebodohan batin, adalah sebutan-sebutan yang sudah sangat dikenal oleh semua kalangan tokoh maupun umat Buddha secara nasional bahkan internasional. Meskipun demikian, tidak demikian dengan istilah itu terhadap maksud dan pengertian yang sesungguhnya dikandung di dalamnya.

Segala bentuk sikap dan tindakan apa yang dilakukan oleh setiap individu dalam berbuat sesuatu didahului dan disertai oleh ketiga unsur tersebut di atas. Seperti yang kita temukan terdapat dalam Aṅguttara Nikāya III.33 dikatakan bahwa ada tiga penyebab asal mula tindakan, yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha). Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan keserakahan, terlahir dari keserakahan, disebabkan oleh keserakahan, muncul dari keserakahan, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan kebencian, terlahir dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, muncul dari kebencian, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Selanjutnya dikatakan bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan kebodohan batin, terlahir dari kebodohan batin, disebabkan oleh kebodohan batin, muncul dari kebodohan batin, akan masak di mana pun individu itu terlahir, dan di mana pun tindakan itu masak, di sanalah individu itu mengalami buah dari tindakannya, tak peduli apakah di dalam kehidupan ini, atau di dalam kehidupan berikutnya, atau di dalam kehidupan-kehidupan mendatang selanjutnya’.

Lebih lanjut dalam Aṅguttara Nikāya III.33 itu dikatakan bahwa, sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan diletakkan di ladang yang subur, ditabur di tanah yang sudah dipersiapkan dengan baik: jika ada cukup hujan, benih-benih ini akan tumbuh, menjadi tinggi dan amat subur.

Persoalan-persoalan apa saja dalam hidup setiap orang apabila masih disertai dengan unsur-unsur lobha, dosa, atau moha, memang berat dan sulit untuk mengatasinya. Namun, akan berbeda apabila unsur-unsur tersebut dapat dikikis secara total.

Hidup Tanpa Lobha - Dosa - Moha

Di kalangan tokoh atau pun umat Buddha tertentu, istilah keserakahan (lobha), kebencian (dosa), kebodohan batin (moha) tidak hanya dikenal dan populer di kalangan mereka, tetapi juga ada di antara mereka yang cukup mengenal dan memahami makna dan arti dari istilah-istilah itu dalam praktik kehidupan sehari-hari di masyarakat luas. Artinya ada di antara mereka meskipun sedikit, orang tertentu yang mengerti dan mengenal apa sebenarnya arti dari istilah keserakahan, kebencian, kebodohan batin itu. Bagaimana semua itu bisa timbul, berkembang dan menjadi sangat kuat dalam batin seseorang. Orang seperti ini dapat diketahui dalam bersikap terkait dengan bahaya laten lobha, dosa, moha ini, seperti apa. Mereka bisa saja berbuat sesuatu tetapi tidak dengan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, tetapi dengan amat sangat tulus dan ikhlas menyadari dan melepaskan apa pun yang mungkin harus diberikan kepada orang lain. Atau kejadian apa yang menimpa diri dan keluarganya dalam hidup, masih bisa memaklumi dan menyadari itu sebagai hal yang wajar terjadi, terhadap hal itu mereka tidak terlalu memper-masalahkan.

Dalam Aṅguttara Nikāya III.33 dikatakan bahwa, ada tiga penyebab lain asal mula tindakan, yaitu tanpa keserakahan, tanpa kebencian dan tanpa kebodohan batin. Dikatakan lebih lanjut bahwa, ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa keserakahan, terlahir dari tanpa keserakahan, disebabkan oleh tanpa keserakahan, muncul dari tanpa keserakahan, ... ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa kebencian, terlahir dari tanpa kebencian, disebabkan oleh tanpa kebencian, muncul dari tanpa kebencian, ... ‘Jika suatu tindakan dilakukan dengan tanpa kebodohan batin, terlahir dari tanpa kebodohan batin, disebabkan oleh tanpa kebodohan batin, muncul dari tanpa kebodohan batin, maka begitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin telah lenyap, tindakan itu ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul-punggur pohon palem, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa mendatang.

Sama seperti benih-benih yang tidak rusak, tidak busuk, tidak lapuk karena angin dan matahari, yang mampu tumbuh dan diletakkan di ladang yang subur: jika seseorang membakarnya sehingga menjadi abu, kemudian menampi abu itu di angin yang kencang atau membiarkannya terbawa arus yang mengalir deras, maka benih-benih itu akan langsung hancur, lenyap sepenuhnya, tak mampu bertunas dan tak lagi bisa muncul di masa mendatang.

Demikian pula, jika tindakan yang dilakukan dengan tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kegelapan batin, begitu keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin itu telah lenyap, tindakan ini ditinggalkan, terpotong di akarnya, dibuat gersang seperti tunggul-punggur pohon palem, terhapus sehingga tidak lagi bisa muncul di masa mendatang.

Kumpulan Kebajikan Sebagai Modal

Secara logika, apa yang dijelaskan di atas sebagai pohon yang mampu tumbuh subur, suatu tindakan baik yang dilakukan dengan tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, akan menjadi tumpukan modal besar untuk berjuang mengatasi baik dan buruk. Seseorang seharusnya dapat memahami bahwa dengan mengumpulkan kebajikan dan berusaha untuk tidak menambah kejahatan/keburukan, tentu akan membuat diri akan mempunyai peluang untuk mempelajari dan melakukan hal-hal seperti:

1. Menjaga agar tidak berbuat jahat

2. Menambah kebaikan

3. Menjaga agar batin tidak dikuasai nafsu keserakahan dan kebencian

4. Membersihkan batin hingga tuntas sampai pengikisan akar-akar semua tindakan.

Setelah berbuat sesuatu tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, kemudian semua keserakahan, kebencian, kebodohan batin yang tersisa sebelumnya telah habis, maka semua telah terpotong habis, tidak ada lagi sisa sedikitpun.

Berjuanglah untuk mengatasi semua itu.

Sumber:

1. http://www.accesstoinsight.org/tipitaka

- Nidana Sutta – Thanisaro

2. Petikan Aṅguttara Nikāya, Klaten, Maret 2003


Download MP3
Mengatasi Lobha - Dosa - Moha. Dapatkah? (50:17 - 5.76 MB)


Quote:
Page 10 of 29 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > [Share] Mp3 Buddhis