Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [Sejarah + Budaya] Kisah Sekilas Para Putra-Putri Prabu Brawijaya V
Total Views: 96513
Page 1 of 36 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

adi6510 - 01/01/2009 08:19 PM
#1
[Sejarah + Budaya] Kisah Sekilas Para Putra-Putri Prabu Brawijaya V
Seringkali kita mendengar nama-nama dalam sejarah seperti : Raden Patah, Panembahan Senopati, Batara Katong, Joko Tingkir aka Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Mangir, Pangeran Pengging dan masih banyak nama lainnya.

Dalam perjalanan sejarah, masing-masing nama tersebut mengukir perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang berhasil dengan sukses, ada yang masih misteri sampai hari ini, ada yang mengundang kontroversi, dan masih banyak lagi. Namun, ada satu hal yang menyatukan mereka, disadari atau tidak kita sadari, mereka adalah sama-sama berasal dari keturunan Majapahit. Terutama dari raja terakhir sebelum peristiwa runtuhnya Majapahit yang ditandai dengan candrasengkala "Sirna Ilang Kertaning Bumi" (1478 Masehi) yaitu sama-sama dari garis keturunan Prabu Brawijaya V.

Prabu Brawijaya V jika tidak salah memiliki sekitar 101 orang putra dan putri. Sebagian kecil meninggal di waktu kecil. Sedangkan sebagian besar putra-putrinya hidup sampai usia dewasa dan tersebar di aneka penjuru. Masih banyak nama-nama putra putri beliau yang tidak tercatat dan dikenal oleh orang. Padahal mungkin saja para keturunannya masih ada sampai hari ini.

Thread ini bermaksud ditujukan untuk men-dokumentasi-kan nama-nama dan kisah-kisah singkat yang berkaitan dengan para putra-putri Prabu Brawijaya V tersebut.

Kepada para sesepuh, senior dan teman-teman FS yang memiliki kisah-kisah (baik dari majalah, tabloid, cerita lisan, dongeng, cerita rakyat) tentang mereka mohon untuk di-sharing bersama. Semoga berguna buat kita semua. Setidaknya kita dapat lebih mengenal kisah-kisah para pendahulu bangsa kita dengan segala hikmahnya yang dapat kita petik dari kisah perjalanan hidupnya.


NB :
semoga tidak ada polemik dan flame di thread ini terutama berkaitan dengan runtuhnya Majapahit di masa lalu, karena thread ini tidak membahas hal tersebut.
adi6510 - 01/01/2009 08:27 PM
#2
Raden Patah, Pendiri Kesultanan Demak Bintoro
Sengaja saya angkat nama Raden Patah terlebih dahulu. Bukan karena saya terlalu nge-fans dengan beliau, tetapi karena informasi tentang Raden Patah cukup banyak terdapat di internet.

Selamat membaca.



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Raden Patah adalah pendiri dan sultan pertama Kesultanan Demak yang memerintah tahun 1475-1518. Pada masanya Masjid Demak didirikan, dan kemudian ia dimakamkan di sana.
* 1 Asal-Usul Raden Patah
* 2 Raden Patah Mendirikan Demak
* 3 Perang Demak dan Majapahit
* 4 Pemerintahan Raden Patah
* 5 Keturunan Raden Patah
* 6 Kepustakaan

Asal-Usul Raden Patah

Terdapat berbagai versi tentang asal-usul pendiri Kesultanan Demak.

Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selir Cina. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan selir Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, putri Cina dinikahi Arya Damar, melahirkan Raden Kusen.

Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama asli Raden Patah adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) raja Majapahit (versi Pararaton) dari selir Cina. Kemudian selir Cina diberikan kepada seorang peranakan Cina bernama Swan Liong di Palembang. Dari perkawinan kedua itu lahir Kin San. Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran Jin Bun adalah 1455. Mungkin Raden Patah lahir saat Bhre Kertabhumi belum menjadi raja (memerintah tahun 1474-1478).

Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Cina adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syaikh Bantong.

Menurut Sejarah Banten, Pendiri Demak bernama Cu Cu, putra mantan perdana menteri Cina yang pindah ke Jawa. Cu Cu mengabdi ke Majapahit dan berjasa menumpas pemberontakan Arya Dilah bupati Palembang. Berita ini cukup aneh karena dalam Babad Tanah Jawi, Arya Dilah adalah nama lain Arya Damar, ayah angkat Raden Patah sendiri. Selanjutnya, atas jasa-jasanya, Cu Cu menjadi menantu raja Majapahit dan dijadikan bupati Demak bergelar Arya Sumangsang.

Menurut Suma Oriental karya Tome Pires, pendiri Demak bernama Pate Rodin, cucu seorang masyarakat kelas rendah di Gresik.

Meskipun terdapat berbagai versi, namun terlihat kalau pendiri Kesultanan Demak memiliki hubungan dengan Majapahit, Cina, Gresik, dan Palembang.

Raden Patah Mendirikan Demak

Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur ke pulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren.

Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.

Menurut kronik Cina, Jin Bun pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo.

Perang Demak dan Majapahit

Perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah babad dan serat, terutama Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit. Brawijaya moksa dalam serangan itu. Untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri menduduki takhta Majapahit selama 40 hari.

Kronik Cina dari kuil Sam Po Kong juga memberitakan adanya perang antara Jin Bun melawan Kung-ta-bu-mi tahun 1478. Perang terjadi setelah kematian Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel). Jin Bun menggempur ibu kota Majapahit. Kung-ta-bu-mi alias Bhre Kertabhumi ditangkap dan dipindahkan ke Demak secara hormat. Sejak itu, Majapahit menjadi bawahan Demak dengan dipimpin seorang Cina muslim bernama Nyoo Lay Wa sebagai bupati.

Pada tahun 1485 Nyoo Lay Wa mati karena pemberontakan kaum pribumi. Maka, Jin Bun mengangkat seorang pribumi sebagai bupati baru bernama Pa-bu-ta-la, yang juga menantu Kung-ta-bu-mi.

Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 dan mengaku sebagai penguasa [[Majapahit, Janggala, dan Kadiri.

Selain itu, Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Petak yang berkisah tentang perang melawan Majapahit. Berita ini melahirkan pendapat kalau Majapahit runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan keluarga Girindrawardhana.

Pemerintahan Raden Patah

Apakah Raden Patah pernah menyerang Majapahit atau tidak, yang jelas ia adalah raja pertama Kesultanan Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, ia bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, sedangkan menurut Serat Pranitiradya, bergelar Sultan Syah Alam Akbar.

Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.

Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.

Tome Pires dalam Suma Oriental memberitakan pada tahun 1507 Pate Rodin alias Raden Patah meresmikan Masjid Agung Demak yang baru diperbaiki. Lalu pada tahun 1512 menantunya yang bernama Pate Unus bupati Jepara menyerang Portugis di Malaka.

Tokoh Pate Unus ini identik dengan Yat Sun dalam kronik Cina yang diberitakan menyerang bangsa asing di Moa-lok-sa tahun 1512. Perbedaannya ialah, Pate Unus adalah menantu Pate Rodin, sedangkan Yat Sun adalah putra Jin Bun. Kedua berita, baik dari sumber Portugis ataupun sumber Cina, sama-sama menyebutkan armada Demak hancur dalam pertempuran ini.

Menurut kronik Cina, Jin Bun alias Raden Patah meninggal dunia tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Ia digantikan Yat Sun sebagai raja selanjutnya, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.

Keturunan Raden Patah

Menurut naskah babad dan serat, Raden Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.

Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa menaklukkan Sumenep.

Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Ketika Pangeran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.

Kronik Cina hanya menyebutkan dua orang putra Jin Bun saja, yaitu Yat Sun dan Tung-ka-lo, yang masing-masing identik dengan Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.

Suma Oriental menyebut Pate Rodin memiliki putra yang juga bernama Pate Rodin, dan menantu bernama Pate Unus. Berita versi Portugis ini menyebut Pate Rodin Yunior lebih tua usianya dari pada Pate Unus. Dengan kata lain Sultan Trenggana disebut sebagai kakak ipar Pangeran Sabrang Lor.

Sumber : wikipedia
adi6510 - 01/01/2009 08:55 PM
#3
Pangeran Panggung aka Wali Joko
Putra Kerajaan Majapahit Dirikan Masjid di Kendal

LEBIH dari empat abad silam, atau tepatnya 1210 H, Wali Joko mendirikan sebuah masjid di Kendal. Wali Joko yang di saat mudanya bernama Pangeran Panggung merupakan putra bungsu Prabu Kertabumi/Brawijaya V dengan Permaisuri Murdaningrum, seorang putri dari Kerajaan Campa (Thailand). Pangeran Panggung datang dan mendirikan masjid di daerah Kendal, setelah melewati pengembaraan cukup panjang. Pengembaraan yang harus dilakukan, setelah kerajaannya, yaitu Majapahit, runtuh karena diserang pasukan Prabu Girinda Wardana (Kediri).

Kini, masjid peninggalan Wali Joko tersebut dikenal dengan Masjid Agung. Seiring berjalannya waktu, masjid yang berdiri ''gagah'' di pusat Kota Kendal ini telah mengalami delapan kali renovasi. Di sisi lain, tidak banyak benda-benda peninggalan yang dapat ditemui di masjid itu. Menurut catatan takmir masjid, sejarah hanya menyisakan antara lain berupa, maksurah atau tempat shalat bagi bupati kala itu, mimbar tempat khotbah berbahan kayu jati yang di bagian muka bertuliskan tahun 1210, serta bergambar beduk dan penabuhnya.

Di kompleks berdirinya masjid yang saat ini sedang dibangun sebuah menara dengan tinggi 45 meter. Adanya makam di kompleks masjid, pada awalnya adalah rumah Wali Joko.

''Selain makam Wali Joko yang berada di depan sebelah selatan Masjid Agung, di belakang masjid juga terdapat dua makam ulama. Yaitu makam Kiai Abu Sujak yang di era 1800-an adalah penghulu pertama Masjid Agung dan makam Wali Hadi yang meninggal pada 1930. Semasa hidup, Wali Hadi merupakan pengisi pengajian di masjid ini,'' papar KH Makmun Amin, takmir Masjid Agung Kendal.

KH Makmun Amin mengatakan berdasar penelusuran sejarah yang berhasil dirangkumnya, disebutkan Wali Joko masih memiliki hubungan darah dengan Raden Patah, raja pertama Kerajaan Demak Bintoro. Raden Patah adalah putra Prabu Kertabumi dengan Permaisuri putri Kerajaan Campa, Dewi Kian (Jin Bum).

Buka Bersama

''Wali Joko yang memiliki nama kecil Jaka Suwirya adalah kakak-beradik dengan Sri Batara Katong (Sunan Katong) yang dimakamkan di Kaliwungu. Saat muda, Wali Joko pernah berguru pada Syeh Siti Jenar. Raden Patah yang mengetahui hal ini, kemudian menasehati Wali Joko agar meninggalkan ajaran yang dinilai menyimpang dari syariat Islam, utamanya di bidang tauhid itu. Raden Patah menyarankan agar Wali Joko belajar agama kepada Sunan Kalijaga yang beraliran ahlusunnnah wal jama'ah.''

Di masjid yang didirikannya, dulu Wali Joko memiliki sejumlah santri. ''Beliau menanggung seluruh kebutuhan hidup para santrinya. Selain diberi pembelajaran ilmu agama, para santri juga dikaryakan antara lain dengan mengolah lahan pertanian dan tambak. Apa yang dilakukan Wali Joko, kami petik hikmahnya. Salah satunya yaitu membuat tradisi buka bersama di bulan Ramadan,'' jelasnya.

Di bulan suci, sejak beberapa tahun ini takmir Masjid Agung menyediakan makan dan minum untuk berbuka bagi semua lapisan masyarakat. Misalnya, para musafir yang kebetulan singgah di masjid itu. ''Selain melestarikan tradisi tersebut, di bulan Ramadan takmir masjid juga menggelar pengajian kitab kuning. Banyak santri kalong atau santri pendatang mengaji di masjid ini setiap malamnya. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kendal. kitab kuning berisi uraian dan penjabaran para ulama yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Seperti di masjid-masjid umumnya, pada Ramadan juga diisi dengan kegiatan tadarus .'' (Setyo Sri Mardiko-84)

Sumber : suaramerdeka.com
Suzaku Musha - 01/01/2009 09:08 PM
#4

sekedar info

Ki Ageng Genis, di masjid Laweyan Solo juga turunan Brawijaya V



nice share mas adi
adi6510 - 01/01/2009 09:12 PM
#5
Syekh Bela Belu dan Syekh Dami Aking
SYEKH BELA BELU

Babad Demak menyebutkan bahwa setelah Majapahit runtuh karena serangan Demak, banyak putra-putri keturunan Brawijaya yang mengungsi menyelamatkan diri. Salah satunya ialah Raden Dhandhun, putra Prabu Brawijaya dari selir.

Dalam usia yang masih terbilang muda, Raden Dhandhun terpisah dari keluarganya, keluar masuk hutan, mendaki gunung, menuruni jurang, terlunta-lunta tak jelas arah tujuannya.

Hingga pada suatu ketika Raden Dhandhun tiba di Desa Mancingan, Yogyakarta. Pada waktu itu, di Mancingan ada seorang pendeta Budha (Hindu?) yang sangat mumpuni ilmu agamanya dan bernama Kyai Selaening. Oleh sang pendeta, Raden Dhandhun diganti namanya menjadi Kyai Bela-belu untuk keperluan penyamaran identitas.

Beliau diperintahkan untuk ke puncak gunung sebelah barat Gunung Sentana yaitu setelah Gunung Bantheng. Kyai Bela Belu ini sejak tiba sudah terlihat kalau ia rajin melakukan tapa. Ia biasa tidak tidur hingga tiga sampai empat hari. Tetapi, Raden Dhandhun tidak kuat menahan lapar, sebentar-sebentar ia harus makan. Sebab, tiap hari ia biasa makan tiga sampai empat kali. Kesukaannya adalah nasi ayam liwet yaitu nasi yang dimasak menggunakan santan kelapa dan dalamnya diisi dengan daging ayam.

Karenanya, kemudian Kyai Selaening meminta Raden Dhandhun untuk mencuci beras di Sungai Beji, sebelah utara Parangendhog, kira-kira 5 km dari Gunung Bantheng. Dengan cara seperti itu nafsu makannya dapat dikurangi menjadi sekali dalam sehari.

Saking gemarnya melakukan ulah batin, Kyai Bela Belu pun kemudian memperoleh kelebihan yang bisa digunakan untuk menolong warga desa sekitarnya. Karena itu, sampai makamnya saja hingga kini masih dianggap keramat. Setelah Kyai Selaening masuk Islam, Kyai Bela Belu juga ikut pula masuk Islam. Oleh Syekh Maulana, Kyai Bela Belu diberikan sebutan sebagai Syekh yang berarti sang guru, meskipun beliau adalah seorang putra raja.

Babad tidak menyebutkan apakah Kyai Bela Belu itu menikah atau tidak. Sebab tidak ada orang yang mengaku sebagai keturunannya Syekh Bela Belu. Bahkan setelah wafat pun tidak ada yang tahu dimana makam beliau yang sesungguhnya. Tetapi yang pasti, makamnya terdapat di sebelah barat Gunung Sentana. Letak makam Syekh Bela Belu baru ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IV sewaktu ia berkuasa.

Seperti yang disebutkan oleh R. Ng. Djadjalana dalam Bab Pesanggrahan Parangtritis tahun 1933. Disebutkan sekitar tahun 1830 di Grogol (sebelah utara Parangtritis) ada seorang sesepuh desa yang juga menjabat sebagai Demang Pemajegan (Pemaosan) yang masih merupakan keturunan dari Kyai Selaening dan sering melakukan tapa. Pada suatu malam tatkala Demang Pemajegan pergi ke Segara Kidul (Laut Selatan), ia melihat cahaya rembulan yang tampak dari balik Gunung Sentana dan jatuh di Gunung Bantheng. Di lain hari lagi, ia melihat cahaya seperti tugu yang terus amblas di Gunung Bantheng. Kejadian ini dialami berkali-kali. Kemudian lama-lama tempat jatuhnya cahaya di Gunung Bantheng ini ditandainya dengan tanda dari kayu.

Kejadian ini kemudian diceritakannya kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IV sekalian memohon izin untuk menggali dasar dari patok makam, siapa tahu diketemukan benda-benda yang aneh. Setelah disetujui, dilakukanlah penggalian. Pada saat itu ditemukan obyek berupa empat buah batu hitam yang berjejeran, dua di utara dan dua di selatan. Seperti makam yang berdampingan tetapi tanpa nisan yang membedakannya.

Di dekatnya ditemukan sebuah lempengan batu hitam bergambar ilir (semacam kipas dari anyaman bamboo) dan iyan (semacam tampah yang juga terbuat dari anyaman bamboo). Dimana iyan dan ilir adalah alat untuk mendinginkan nasi, yakni setelah nasi diler di tampah barulah dikipasi dengan kipas tadi.
Kejadian atas temuan inipun kemudian diberitahukan kepada Sri Sultan. Dan dilihat dari diketemukannya gambar ilir dan iyan , Sri Sultan pun kemudian menetapkan bahwa kuburan itu adalah makamnya Syeh Bela Belu. Sedangkan yang di sebelahnya adalah makam adiknya Kyai Dami (Gagang) Aking, yang juga terkenal akan tapa tanpa henti hingga lupa akan makan dan minum.
Karena kesungguhan Syekh Bela Belu dan juga Kyai Gagang Aking dalam melakukan tapa, maka keduanya kemudian bisa mencapai apa yang dicita-citakan, yaitu pencerahan .

Kemudian atas perintah Sri Sultan pulalah makam di Gunung Bantheng ini kemudian dicungkup kayu jati. Bagian luarnya dilapisi menggunakan batu hitam dan atasnya dilangse. Kini, makam dijaga oleh abdi dalem keraton yang juga adalah penjaga makam dari Syekh Maulana.

Selain kisah di atas, Syekh Bela Belu serta adiknya Syekh Dami Aking juga diyakini sebagai murid dari Sunan Kalijaga, yang diperintahkan untuk melakukan tapa di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Pertapaan Lemah Putih, yang sangat melegenda di daerah Nganjuk, Jawa Timur.

Sumber : jalantrabas.blogspot.com
peregrinefalcon - 01/01/2009 09:20 PM
#6

threat sejarah...
manstab....

likenoother - 01/01/2009 09:21 PM
#7

lanjut mas adi... sudah lama tak bersua dirimu....

nice Thread....
adi6510 - 01/01/2009 09:33 PM
#8

Quote:
Original Posted By Suzaku Musha
sekedar info

Ki Ageng Genis, di masjid Laweyan Solo juga turunan Brawijaya V



nice share mas adi


@ mas suzaku. Njih, mas. Sepertinya ki ageng enis masih keturunan Prabu Brawijaya V dari garis Raden Bondan Kejawan. CMIIW, please.

adi6510 - 01/01/2009 09:36 PM
#9

Quote:
Original Posted By peregrinefalcon
threat sejarah...
manstab....




@ mas peregrinefalcon.

Terima kasih atas perhatiannya.

adi6510 - 01/01/2009 09:37 PM
#10

Quote:
Original Posted By likenoother
lanjut mas adi... sudah lama tak bersua dirimu....

nice Thread....


Terima kasih atas perhatiannya.

baretta98 - 01/01/2009 10:46 PM
#11

Quote:
Original Posted By adi6510


Keturunan Raden Patah

Menurut naskah babad dan serat, Raden Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.

Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa menaklukkan Sumenep.

Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Ketika Pangeran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.



Sumber : wikipedia


Ikut nambahin dikit bos Adi

Putra Pangeran Sekar Seda lepen adalalah Arya Penangsang atau Arya Jipang seorang bupati yang berkedudukan di Jipang Panolan ( sisa sisa peninggalannya masih bisa ditemui di daerah Cepu kabupaten Blora ).
Arya Penangsang yang terlibat dalam perebutan tahta Demak di bekingi gurunya Sunan Kudus terlibat rivalitas dengan Mas Karebet/Jaka Tingkir yang dibekingi juga oleh gurunya Sunan Kalijaga
little_vampire - 01/01/2009 10:56 PM
#12

pernah denger waktu mulai masuknya pengaruh Islam di Jawa... Raja Brawijaya beserta pengikutnya melarikan diri ke Gunung Kidul..

ada yg bisa bagi infonya nggak?
baretta98 - 02/01/2009 11:33 PM
#13

Quote:
Original Posted By little_vampire
pernah denger waktu mulai masuknya pengaruh Islam di Jawa... Raja Brawijaya beserta pengikutnya melarikan diri ke Gunung Kidul..

ada yg bisa bagi infonya nggak?


Pada waktu jatuhnya majapahit sebagian pengikutnya melarikan diri ke daerah Gunung Bromo ,komunitasnya sampai sekarang kita kenal sebagai suku Tengger.
Sebagian lagi melarikan diri ke P.Bali
Brawijaya V dan sebagian pengikutnya melarikan diri ke daerah gunung Lawu ( Perbatasan Jatim-Jateng ).Peninggalannya candi cetho dan candi sukuh.Kalau kita mendaki G.Lawu sebelum puncak Arga Dumilah ada bekas pertapaan Brawijaya V yang dikenal dengan Arga Dalem
masbondjol - 02/01/2009 11:45 PM
#14

Nice thread


Dulu waktu sekolah paling sebel ma sejarah... sekarang jadi ngikuti terus tulisan mas adi dan para kaskuser.. Suwun mas
黄金比φ1,618033988 - 03/01/2009 02:24 AM
#15

ini soal ada hub ama diponegoro dkk gak?
Suzaku Musha - 03/01/2009 02:31 AM
#16

P.Diponegoro itu jaman Mataram Islam setelah kraton jadi 4 di solo dan yogya


klo Brawijaya itu jauh sebelumnya di era Majapahit
黄金比φ1,618033988 - 03/01/2009 02:44 AM
#17

oooooooooo jadi seakarakarna gak ada hubungan yak ooooooooooooo
Suzaku Musha - 03/01/2009 02:54 AM
#18

Quote:
Original Posted By
oooooooooo jadi seakarakarna gak ada hubungan yak ooooooooooooo


ya adalah, semua trah dari Mataram Islam termasuk P.Diponegoro itu turunan trah Majapahit khususnya Brawijaya V
黄金比φ1,618033988 - 03/01/2009 03:00 AM
#19

Quote:
Original Posted By Suzaku Musha
ya adalah, semua trah dari Mataram Islam termasuk P.Diponegoro itu turunan trah Majapahit khususnya Brawijaya V

oooo gitu.sorry bro gw gak mudeng.
黄金比φ1,618033988 - 03/01/2009 03:01 AM
#20

Quote:
Original Posted By Suzaku Musha
P.Diponegoro itu jaman Mataram Islam setelah kraton jadi 4 di solo dan yogya


klo Brawijaya itu jauh sebelumnya di era Majapahit

katanya di jogja masih ada tempat makan kudanya ya?trus hubungannya apa?
Page 1 of 36 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [Sejarah + Budaya] Kisah Sekilas Para Putra-Putri Prabu Brawijaya V