Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [Sejarah + Budaya] Kisah Sekilas Para Putra-Putri Prabu Brawijaya V
Total Views: 96513
Page 4 of 36 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

adi6510 - 05/01/2009 06:26 PM
#61

Quote:
Original Posted By rasyid11
matur nuwun mas adi yg kembali berbagi sejarah nusantara...


monggo dilanjut mas


@ mas rasyid 11.

Terima kasih atas apresiasinya.

adi6510 - 05/01/2009 06:29 PM
#62

Quote:
Original Posted By Kiageng Grubyuk
wah mas adi bikintread lagi, ikutan nyimak ya mas :ndeprok:


Monggo, mas.

adi6510 - 05/01/2009 06:30 PM
#63

Quote:
Original Posted By chisel
mas ikut menyimak,boleh nambahi ya tentang trah dari brawijaya.Kebetulan makam ini ada dikampungku yaitu gunungpring.


Didekat rumahku ada gunung yaitu gunungpring diatas ada makam kyai raden santri.Beliau ini dari keturunan Ki Ageng Pemanahan dari Maha Prabu Brawijaya dari Majapahit.Terus didekat rumahku juga berdiri masjid Masjid Agung Kyai Krapyak I, masjid peninggalan Kiai Raden Santri atau Pangeran Singosari .

Cerita sejarahnya, sebelum membangun masjid tersebut Pangeran Singosari (Raden Santri) yang masih keturunan Raja Mataram Islam di Yogyakarta, ditugaskan untuk mengajarkan agama Islam di wilayah Magelang. Dalam mengajarkan agama Islam di bawah bayang-bayang penjajah, Raden Santri gugur dalam perjuangan, dan meninggalkan anak bernama Kyai Krapyak yang kini diabadikan menjadi nama Masjid Kiai Krapyak I.
Sedangkan Raden Santri sendiri, mempunyai saudara Raden Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati, yang dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta, merupakan Kerajaan Mataram Islam pertama di Jawa (1588 - 1601), dan Pangeran Gagak Bening yang menjadi Adipati Pajang (1588 - 1591).
Kiai Krapyak I, mempunyai dua saudara, yakni Kiai Krapyak II yang dimakamkan di Kalibawang, dan Kiai Krapyak III di makamkan di Gunungpring, Muntilan. Kini masjid peninggalan Kiai Krapyak I hingga III ini, masih terawat dengan baik, terutama bangunannya.

maaf ya mas adi kalau nggak nyambung dengan thread mas.


@ mas chisel.

Matur nuwun sanget atas sharing informasinya.

adi6510 - 05/01/2009 06:31 PM
#64

Quote:
Original Posted By sulis2000
nuwun mas adi, monggo dilanjut lagi




cek cp nggih


@ mas sulis2000.

Matur nuwun sanget, mas.

PelawaQ Aneh - 05/01/2009 06:32 PM
#65

om @TS


selain dari catatan silsilah, biza tidak untuk tau siapa yg keturunan Brawijaya V



adi6510 - 05/01/2009 06:32 PM
#66

Quote:
Original Posted By prabuanom
mas adi ngapunten mas
request keturunan brawijaya yang lari ke bali atau tengger bahkan ke pulau pulau lainnya dong mas
matur sembah nuwun


@ mas prabuanom.

Sami-sami, mas.
Mari kita lacak bersama, mas.

adi6510 - 05/01/2009 06:34 PM
#67

Quote:
Original Posted By samin01
oh iya ikut nambahin...pangeran pencu di daerah blora dipercaya masih putra brawijaya V


@ mas samin01.

Monggo di-sharing kemawon, mas.

Jangan sungkan-sungkan.

adi6510 - 05/01/2009 06:36 PM
#68

Quote:
Original Posted By Kanj3ngromo
Bro... aq ada silsilah trah brawijaya V yg keluaran resmi keraton ngajogyakarto hadiningrat sampe turunan ke 20-an ke bawah kalo ga salah... (milik kluarga bkn dr buku) apakah ini masih masuk dlm thread ini ya... kalo ok akan ta share ni...


@ mas kanjengromo.

Monggo di-sharing di thread ini, mas.

Jangan malu-malu.

WitGedhangMabur - 05/01/2009 06:41 PM
#69

Phermisi mhas Adhi,
shaya ihkut mhenyimak yha?

Thidak mhengganggu khan?




adi6510 - 05/01/2009 06:49 PM
#70
Adipati Batara Katong, adipati Ponorogo sekaligus putra mahkota Majapahit
Berikut ini adalah kisah tentang Adipati Batara Katong. Beliau adalah Adipati Ponorogo. Jika tidak salah beliau adalah putra mahkota MaJAPAHIT yang diproyeksikan mengganti ayahanda-nya, Prabu Brawijaya V.

Namun, takdir berkata lain, sang putra akhirnya menjadi Adipati Ponorogo.

Berikut adalah cerita sekilas tentang beliau.

Selamat membaca.



Sejarah Kabupaten Ponorogo

Napak Tilas Sejarah Ponorogo Kabupaten Ponorogo terletak 200 Km arah barat daya kota Surabaya,Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten yang terkenal dengan Reyog (bukan reog) ini mempunyaihari jadi yang unik. Karena menganut penanggalan jawa, yaitu tepat pada 1 Suro.

Pada tanggal 20 Januari 2007 atau 1 Suro 1940 ini kabupaten Ponorogo berusia 510 tahun.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, untuk memperingati ulang tahun kabupaten Ponorogo diadakan beberapa kegiatan. Salah satunya adalah napak tilas sejarah yang diadakan pada hari Jumat, 20 januari 2007.

Napak tilas tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari kota lama ke kota baru. Kota lama berada di kompleks pemakaman Betoro Katong di Desa Setono, Kec Jenangan, Ponorogo.

Sedang kota baru berada pusat kota pemerintah kabupaten Ponorogo saat ini, yaitu alun-alun dan sekitarnya. Jarak keduanya sekitar 5 Km.

Betoro Katong sendiri adalah orang pertama yang membuka atau melakukan babat alas dan dikenal sebagai adipati/bupati pertama kabupaten Ponorogo. Beliau juga diyakini sebagai orang yang melakukan penyebaran agama Islamdi Ponorogo yang sebelumnya lebih banyak menganut agama Hindu dan Budha.

Napak tilas dilakukan dengan mengarak 3 pusaka Batoro Katong dari Kompleks Makam Batoro Katong menuju alun-alun di pusat kota.

Ketiga pusaka tersebut adalah Payung Tunggul Naga, Tombak Tunggul Wulung dan Cindi (ikat pinggang) Puspito. Napak tilas tersebut juga diikuti iring-iringan kendaraan hias layaknya sebuah karnaval.

Komplek Makam Betoro Katong yang berada di Desa Setono, Kec Jenangan, Ponorogo banyak didatangi masyarakat untuk berdoa, khususnya di 1 Suro.

Juru Kunci Makam Betoro Katong, Sunardi (56 tahun). Beliau merupakan keturunan ke-13 dari Betoro Katong dan sejak 1987 menjadi juru kunci makam pendahulunya tersebut.

Juru Kunci Makam Betoro Katong, Sunardi (56 tahun).

Beliau merupakan keturunan ke-13 dari Betoro Katong dan sejak 1987 menjadi juru kunci makam pendahulunya tersebut.


sumber : jatimprov.go.id
adi6510 - 05/01/2009 06:52 PM
#71

Quote:
Original Posted By WitGedhangMabur
Phermisi mhas Adhi,
shaya ihkut mhenyimak yha?

Thidak mhengganggu khan?






Monggo, mas.

Silakan saja.

adi6510 - 05/01/2009 06:56 PM
#72
Putri Togati, salah satu putri dari Prabu Brawijaya V beserta keturunannya
Berikut ini adalah Kisah tentang Putri Togati (salah satu putri prabu Brawijaya V), beserta kisah keturunannya.

Selamat membaca.


Pada abad ke XV M. bumi nusantara ini di bawah naungan kerajaan Majapahit, dan seluruh masyarakatnya masih memeluk agama Hindu atau Budha. Begitu juga daerah Wengker selatan atau di sebut juga Pesisir selatan ( Pacitan ) yang pada waktu itu daerah tersebut masih di kuasai seorang sakti beragama Hindu yang bernama Ki Ageng Buwana Keling, yang di kenal sebagai cikal bakal daerah Pacitan.

Menurut silsilah, asal usul KI Ageng Buwana Keling adalah putra Pejajaran yang di kawinkan dengan salah satu putri Brawijaya V yang bernama putri Togati. setelah menjadi menantu Majapahit maka KI Ageng Buwana Keling mendapat hadiah tanah di pesisir selatan dan di haruskan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. KI Ageng Buwana Keling berputra tunggal bernama Raden Purbengkoro yang setelah tua bernama KI Ageng Bana Keling. Kegoncangan masyarakat KI Ageng Buwana Keling di Pesisir selatan terjadi setelah datangnya Muballigh Islam dari kerajaan Demak Bintara, yang di pimpin oleh KI Ageng Petung ( R. Jaka Deleg / Kyai Geseng ), KI Ageng Posong ( R. Jaka Puring Mas / KI Ampok Boyo ) dan sahabat mereka Syekh Maulana Maghribi. Yang meminta KI Ageng Buwana Keling beserta semua rakyat di wengker selatan untuk mengikuti atau memeluk ajaran Islam.

Namun setelah KI Ageng Buwana Keling menolak dengan keras dan tetap tidak menganut agama baru yaitu agama Islam, maka tanpa dapat dikendalikan lagi terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan antara penganut agama Hindu yang dipimpin oleh Ki Ageng Buwana Keling dengan penganut agama Islam yang dipimpin oleh Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeikh Maulana Maghribi memakan waktu yang cukup lama , karena kedua belah pihak, memang terdiri dari orang-orang sakti. Namun akhirnya dengan keuletan dan kepandaian serta kesaktian para muballigh tersebut peperangan itu dapat dimenangkan Ki Ageng Petung dan pengikut-pengikutnya setelah dibantu oleh prajurit dari Adipati Ponorogo yang pada waktu itu bernama Raden Betoro Katong ( Putra Brawijaya V ).

Dari saat itulah maka daerah Wengker selatan atau Pacitan dapat dikuasai oleh Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeikh Maulana Maghribi, sehingga dengan mudah dapat menyiarkan agama Islam secara menyeluruh kepada rakyat hingga wafatnya, dan dimakamkan di daerah Pacitan.

Demikianlah dari tahun ke tahun sampai Bupati Jagakarya I berkuasa ( tahun 1826 ), perkembangan agama Islam di Pacitan maju dengan pesatnya, bahkan tiga tahun kemudian putra dari Demang Semanten yang bernama Bagus Darso kembali dari perantauannya mencari dan mendalami ilmu agama Islam di pondok pesantren Tegalsari Ponorogo di bawah asuhan Kyai Hasan Besari. Sekembalinya beliau dari pondok tersebut di bawah bimbingan ayahnya R. Ngabehi Dipomenggolo mulai mendirikan pondok di desa Semanten ( 2 Km arah utara kota Pacitan ). setelah kurang lebih satu tahun kemudian pindah ke daerah Tremas, maka dari saat itulah mulai berdiri Pondok Tremas.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa KH. Abdul Manan pada masa kecilnya bernama Bagus Darso. Sejak kecil beliau sudah terkenal cerdas dan sangat tertarik terhadap masalah-masalah keagamaan. Dalam masa remajanya beliau dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo untuk mempelajari dan memperdalam pengetahua agama Islam di bawah bimbingan Kyai Hasan Besari. Selama disana Bagus Darso selalu belajar dengan rajin dan tekun. Karena ketekunannya, kerajinannya serta kecerdasan yang dibawanya semenjak kecil itulah maka kepandaian Bagus Darso didalam menguasai dan memahami ilmu yang dipelajarinya melebihi kawan-kawan sebayanya, sehingga tersebutlah sampai sekarang kisah-kisah tentang kelebihan beliau. Diantara kisah tersebut adalah sebagai berikut :

Pada suatu malam yang dingin dimana waktu itu para santri Pondok Tegalsari sedang tidur pulas, sebagaimana biasasnya Kyai Hasasn Besari keluar untuk sekedar menjengu anak-anak didiknya yang sedang tidur di asrama maupun di serambi masjid. Pada waktu beliau memeriksa serambi masjid yang penuh ditiduri oleh para santri itu, tiba-tiba pandangan Kyai tertumbuk pada suatu pemandangan aneh berupa cahaya yang bersinar, dalam hati beliau bertanya, apakah gerangan cahaya aneh itu. Kalau cahaya kunang tentu tidak demikian, apalagi cahaya api tentu tidak mungkin, sebab cahaya ini mempunyai kelainan. kemudian dengan hati-hati, agar tidak sampai para santri yang sedang tidur, Kyai mendekati cahaya aneh itu. Makin dekat dengan cahaya aneh tersebut keheranan Kyai bertambah, sebab cahaya itu semakin menunjukkan tanda-tanda yang aneh. Dan kemudian apa yang disaksikan Kyai adalah suatu pemandangan yang sungguh luar biasa, ssebab cahaya itu keluar dari ubun-ubun salah satu santrinya. Kemudian diperiksanya siapakah sesungguhnya santri yang mendapat anugerah itu.Tetapi kegelapan malam dan pandangan mata yang sudah kabur terbawa usia lanjut menyebabkan usaha beliau gagal. Namun Kyai Hasan Ali tidak kehilangan akal, dengan hati-hati sekali ujung ikat kepala santri itu diikat sebagai tanda untuk mengetahui besok pagi kalau hari sudah mulai terang. Esoknya sehabis sembahyang Subuh, para santri yang tidur di serambi masjid disuruh menghadap beliau. Setelah mereka menghadap, dipandangnya satu demi satu santri tersebut dengan tidak lupa memperhatikan ikat kepala masing-masing. Disinilah beliau mengetahui bahwa sinar aneh yang semalam keluar dari ubun-ubun salah satu santri nya berasal dari salah satu santri muda pantai selatan ( Pacitan ) yang tidak lain adalah Bagus Darso. Dan semenjak itu perhatian Kyai Hasan Ali dalam mendidik Bagus Darso semakin bertambah, sebab beliau merasa mendapat amanat untuk mendidik seorang anak yang kelak kemudian hari akan menjadi pemuka dan pemimpin umat.

Demikianlah salah satu kisah KH. Abdul Manan pada waktu mudanya di Pondok Tegalsari dalam cerita. Dan setelah Bagus Darso dianggap cukup ilmuyang diperolehnya di Pondok Pesantren Tegalsari, beliau kembali pulang ke Semanten. Di desa inilah beliau kemudian menyelenggarakan pengajian yang sudah barang tentu bermula dengan sangat sederhana. Dankarena semenjak di Pondok Tegalsari beliau sudah terkenal sebagai seorang santri yang tinggi ilmunya, maka banyaklah orang Pacitan yang mengaji pada beliau. Dari sinilah kemudian di sekitar masjid didirikan pondok untuk para santri yang datang dari jauh. Namun beberapa waktu kemudian pondok tersebut pindah ke daerah Tremas setelah oleh ayahnya beliau dikawinkan dengan Putri Demang Tremas R. Ngabehi Hongggowijoyo. Sedang R. Ngabehi Honggowijoyo itu sendiri adalah kakak kandung R. Ngabehi Dipomenggolo.

Diantara faktor yang menjadi penyebab perpindahan Kyai Abdul Manan dari daerah Semanten ke desa Tremas, yang paling pokok adalah pertimbangan kekeluargaan yang dianggap lebih baik beliu pindah ke daerah Tremas. Pertimbangan tersebut antara adalah, karena mertua dan istri beliau menyediakan daerah yang jauh dari keramaian atau pusat pemerintahan, sehingga merupakan daerah yang sangat cocok bagi para santri yang ingin belajar dan memperdalam ilmu agama.

Berdasarkan pertimbangan itulah maka beliau kemudian memutuskan pindah dari Semanten ke daerah Tremas, dan mendirikan pondok pesantren yang kemudian disebut “ Pondok Tremas “. Demikianlah sedikit sejarah berdirinya Pondok Tremas yang dipelopori oleh beliau KH. Abdul Manan pada tahun 1830 .

sumber : pondoktremas.com
adi6510 - 05/01/2009 07:02 PM
#73
Ki Ageng Pasek (Pangeran Arya Kusuma) = menantu Prabu Brawijaya V
Berikut ini adalah kisah tentang Ki Ageng Pasek, salah satu menantu Prabu Brawijaya V dan juga senopati dari Majapahit.


Bagi yang memiliki minat dan ketertarikan berwisata spiritual Tirta Yatra, yaitu melakukan perjalanan napak tilas persembahyangan mengunjungi pura-pura, baik yang berada di daratan pulau bali ataupun di nusantara, pastilah mengenal Pura Patilesan (peristirahatan) Kyayi I Gusti Ageng Pemacekan, yang lebih di kenal sebagai Pura Pasek dan merupakan induk dari Pura Pasek yang ada di daratan Bali. Pura ini terletak di desa Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Indonesia. Kira-kira 35 km sebelah timur kota Solo, satu jam perjalanan ditempuh dengan kendaraan. Letaknya yang tidak jauh dari obyek wisata Tawangmangu, di kaki gunung Lawu membuat pura Pemacekan yang dikelilingi alam nan hijau menjadi semakin sejuk.

Menengok kembali sejarah jaman dulu, pada awalnya bangunan ini memang merupakan tempat peribadatan umat Hindu yang berupa punden atau candi atau pura. Sebagaimana masyarakat Jawa pada zaman dulu memang banyak sekali penganut Hindu, tak terkecuali di wilayah Karangpandan ini. Hal ini terbukti ditemukannya bangunan Hindu di daerah sekitar tak jauh dari pura Pemacekan semisal Candi Sukuh, Candi Cetho, dll. Namun seiring berjalannya waktu, dengan terjadinya akulturasi kebudayaan antara penganut agama lain, penganut Hindu di sekitar pura menjadi semakin sedikit, meski dalam catatan sejarah, bangunan yang memiliki dominasi warna kuning dan merah ini pernah di bangun menjadi lebih megah dan mewah pada masa Pakoe Boewono XII. Keterlibatan raja dari Keraton Surakarta dalam pembangunan kembali Pura Pemacekan (Pura Pasek) ini adalah cukup beralasan, karena bila di lihat dari silsilah vertikal raja-raja yang yang terpampang di dinding bangunan Pura Pemacekan itu, di mulai dari kerajaan Singosari dimasa pemerintahan Ken Arok hingga raja Surakarta yang sekarang adalah masih memiliki ikatan darah persaudaraan dengan Ki Ageng Pasek atau di kenal dengan nama Pangeran Arya Kusuma ini karena merupakan salah seorang menantu Pangeran Brawijaya V (raja terakhir dari kerajaan Majapahit), yang patilesannya terdapat di dalam bangunan Pura Pasek ini. Ki Ageng Pasek yang dikenal sebagai Arya Kusuma juga adalah seorang senopati kerajaan yang memiliki keahlian khusus, penunggang kuda saat berperang. Hingga meninggalnya dan kemudian dimakamkan di desa Pasek, Kecamatan Karangpandan, kabupaten Karanganyar, yang saat ini tepat di petilesannya didirikan Pura Pemacekan (Pura Pasek).




sumber : kemoning.info
adi6510 - 05/01/2009 07:15 PM
#74
Adipati Batara Katong dan pusakanya (bagian 2)
ROKOK klembak menyan, bubur merah putih dan kemenyan dibakar adalah sesaji untuk tombak Kyai Tunggul Naga, tombak pusaka Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kyai Tunggul Naga ini dulunya adalah pusaka milik Raden Batara Katong Adipati di Ponorogo pada awal masa pemerintahan Kasultanan Demak Bintara. Ada dua versi tentang asal muasal tombak pusaka tersebut. Yang pertama versi keturunan Demang Kutu Ki Ageng Suryangalam dan versi Babad Ponorogo. Sedang pamornya kudung, tangkainya dari sulur pohon jati, ada ukirannya naga. Ukuran panjang kira-kira 60 cm.

Menurut H Mardi yang menyimpan tombak ini, pada tahun 1990 ada orang dari Jakarta menawar tombak Kyai Tunggul Naga dengan harga Rp 1 miliar. Tetapi tombak tidak dilepas karena memang niatnya tidak akan dijual. H Mardi ini mengaku keturunan ke 17 dari Demang Kutu Ki Ageng Suryangalam. Yang membuatnya heran, ada orang tahu dirinya menyimpan tombak Kyai Tunggul Naga. Padahal sudah dibuat rahasia.

Versi keturunan Demang Kutu, tombak Kyai Tunggul Naga dulunya milik Ki Ageng Suryangalam yang menjadi demang di Kutu. Menurut Dr GR Lono Lastoro Simatupang dosen jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM yang melakukan penelitian reog di Ponorogo, Demang Suryangalam sebelumnya pujangga di istana Majapahit. Ia pergi meninggalkan istana karena kecewa. Nasehat-nasehatnya untuk menata negeri Majapahit tidak didengarkan oleh Prabu Kertabhumi. Menjelang runtuhnya kerajaan besar itu, keadaan negeri semrawut, bobrok. Banyak gerakan separatis ingin memisahkan diri dari Majapahit.

Sikap oposan Demang Suryangalam ini membuat Prabu Kertabhumi marah, ia kemudian menyuruh salah seorang puteranya yang bernama Raden Batara Katong untuk menangkap Demang Suryangalam. Setelah berhasil mengalahkan Demang Kutu, Raden Batara Katong kemudian memiliki tombak Kyai Tunggul Naga. Adapun tombak itu aslinya berasal dari Tuban, pusaka Adipati Tuban Ranggalawe. Tombak Kyai Tunggul Naga dikenal sebagai pusaka yang ampuh.

Sedang versi Babad Ponorogo, tombak Kyai Tunggul Naga diperoleh Batara Katong dari hasil bersemadi di sebuah tanah lapang tanpa rumput sehelai pun yang disebut ara-ara. Waktu itu Ponorogo masih disebut Wengker. Raden Batara Katong ditemani oleh Ki Ageng Mirah, Patih Seloaji dan Jayadipa. Dari ara-ara itu didapatkan tombak Kyai Tunggul Naga, payung dan sabuk. Menurut penelitian Lono Lastoro Simatupang, meskipun Batara Katong sudah bisa mengalahkan Demang Kutu, tetapi tidak menghapus kesenian reog yang diciptakan oleh Demang Suryangalam. Bahkan kemudian menyuruh Ki Ageng Mirah untuk menggarap ulang kesenian reog disesuaikan dengan garis kebijaksanaan Batara Katong sebagai penguasa Wengker. Kesenian reog garapan Demang Suryangalam waktu itu bersifat satire mengeritik kebobrokan Majapahit.

Meskipun begitu, Batara Katong setelah menang tidak melarang kesenian reog. Bahkan menggunakan reog untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan tugasnya. Reog digarap ulang oleh Ki Ageng Mirah, dengan menghilangkan sindiran yang mengarah ke pemerintah Majapahit.

sumber : indospiritual.com
WitGedhangMabur - 05/01/2009 07:18 PM
#75

Quote:
Original Posted By satriawibawa
( ... )
Karena dulu Bali adalah wilayah taklukan Majapahit maka ditempatkanlah para Pangeran & Arya Majapahit untuk menjadi Raja2 di berbagai wilayah Bali. Keturunan Raja2 Bali ini bisa dikenali dr gelar di depan nama mereka semisal Cokorda, Gusti, Dewa atau Anak Agung.


Sangat menarik
WitGedhangMabur - 05/01/2009 07:22 PM
#76

Quote:
Original Posted By adi6510
Berikut ini adalah kisah tentang Adipati Batara Katong. Beliau adalah Adipati Ponorogo. Jika tidak salah beliau adalah putra mahkota MaJAPAHIT yang diproyeksikan mengganti ayahanda-nya, Prabu Brawijaya V.

Namun, takdir berkata lain, sang putra akhirnya menjadi Adipati Ponorogo.

Berikut adalah cerita sekilas tentang beliau.

Selamat membaca.



Sejarah Kabupaten Ponorogo

Napak Tilas Sejarah Ponorogo Kabupaten Ponorogo terletak 200 Km arah barat daya kota Surabaya,Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten yang terkenal dengan Reyog (bukan reog) ini mempunyaihari jadi yang unik. Karena menganut penanggalan jawa, yaitu tepat pada 1 Suro.

Pada tanggal 20 Januari 2007 atau 1 Suro 1940 ini kabupaten Ponorogo berusia 510 tahun.

Seperti daerah lainnya di Indonesia, untuk memperingati ulang tahun kabupaten Ponorogo diadakan beberapa kegiatan. Salah satunya adalah napak tilas sejarah yang diadakan pada hari Jumat, 20 januari 2007.

Napak tilas tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari kota lama ke kota baru. Kota lama berada di kompleks pemakaman Betoro Katong di Desa Setono, Kec Jenangan, Ponorogo.

Sedang kota baru berada pusat kota pemerintah kabupaten Ponorogo saat ini, yaitu alun-alun dan sekitarnya. Jarak keduanya sekitar 5 Km.

Betoro Katong sendiri adalah orang pertama yang membuka atau melakukan babat alas dan dikenal sebagai adipati/bupati pertama kabupaten Ponorogo. Beliau juga diyakini sebagai orang yang melakukan penyebaran agama Islamdi Ponorogo yang sebelumnya lebih banyak menganut agama Hindu dan Budha.

Napak tilas dilakukan dengan mengarak 3 pusaka Batoro Katong dari Kompleks Makam Batoro Katong menuju alun-alun di pusat kota.

Ketiga pusaka tersebut adalah Payung Tunggul Naga, Tombak Tunggul Wulung dan Cindi (ikat pinggang) Puspito. Napak tilas tersebut juga diikuti iring-iringan kendaraan hias layaknya sebuah karnaval.

Komplek Makam Betoro Katong yang berada di Desa Setono, Kec Jenangan, Ponorogo banyak didatangi masyarakat untuk berdoa, khususnya di 1 Suro.

Juru Kunci Makam Betoro Katong, Sunardi (56 tahun). Beliau merupakan keturunan ke-13 dari Betoro Katong dan sejak 1987 menjadi juru kunci makam pendahulunya tersebut.

Juru Kunci Makam Betoro Katong, Sunardi (56 tahun).

Beliau merupakan keturunan ke-13 dari Betoro Katong dan sejak 1987 menjadi juru kunci makam pendahulunya tersebut.


sumber : jatimprov.go.id


Quote:
Original Posted By adi6510
ROKOK klembak menyan, bubur merah putih dan kemenyan dibakar adalah sesaji untuk tombak Kyai Tunggul Naga, tombak pusaka Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Kyai Tunggul Naga ini dulunya adalah pusaka milik Raden Batara Katong Adipati di Ponorogo pada awal masa pemerintahan Kasultanan Demak Bintara. Ada dua versi tentang asal muasal tombak pusaka tersebut. Yang pertama versi keturunan Demang Kutu Ki Ageng Suryangalam dan versi Babad Ponorogo. Sedang pamornya kudung, tangkainya dari sulur pohon jati, ada ukirannya naga. Ukuran panjang kira-kira 60 cm.

Menurut H Mardi yang menyimpan tombak ini, pada tahun 1990 ada orang dari Jakarta menawar tombak Kyai Tunggul Naga dengan harga Rp 1 miliar. Tetapi tombak tidak dilepas karena memang niatnya tidak akan dijual. H Mardi ini mengaku keturunan ke 17 dari Demang Kutu Ki Ageng Suryangalam. Yang membuatnya heran, ada orang tahu dirinya menyimpan tombak Kyai Tunggul Naga. Padahal sudah dibuat rahasia.

Versi keturunan Demang Kutu, tombak Kyai Tunggul Naga dulunya milik Ki Ageng Suryangalam yang menjadi demang di Kutu. Menurut Dr GR Lono Lastoro Simatupang dosen jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM yang melakukan penelitian reog di Ponorogo, Demang Suryangalam sebelumnya pujangga di istana Majapahit. Ia pergi meninggalkan istana karena kecewa. Nasehat-nasehatnya untuk menata negeri Majapahit tidak didengarkan oleh Prabu Kertabhumi. Menjelang runtuhnya kerajaan besar itu, keadaan negeri semrawut, bobrok. Banyak gerakan separatis ingin memisahkan diri dari Majapahit.

Sikap oposan Demang Suryangalam ini membuat Prabu Kertabhumi marah, ia kemudian menyuruh salah seorang puteranya yang bernama Raden Batara Katong untuk menangkap Demang Suryangalam. Setelah berhasil mengalahkan Demang Kutu, Raden Batara Katong kemudian memiliki tombak Kyai Tunggul Naga. Adapun tombak itu aslinya berasal dari Tuban, pusaka Adipati Tuban Ranggalawe. Tombak Kyai Tunggul Naga dikenal sebagai pusaka yang ampuh.

Sedang versi Babad Ponorogo, tombak Kyai Tunggul Naga diperoleh Batara Katong dari hasil bersemadi di sebuah tanah lapang tanpa rumput sehelai pun yang disebut ara-ara. Waktu itu Ponorogo masih disebut Wengker. Raden Batara Katong ditemani oleh Ki Ageng Mirah, Patih Seloaji dan Jayadipa. Dari ara-ara itu didapatkan tombak Kyai Tunggul Naga, payung dan sabuk. Menurut penelitian Lono Lastoro Simatupang, meskipun Batara Katong sudah bisa mengalahkan Demang Kutu, tetapi tidak menghapus kesenian reog yang diciptakan oleh Demang Suryangalam. Bahkan kemudian menyuruh Ki Ageng Mirah untuk menggarap ulang kesenian reog disesuaikan dengan garis kebijaksanaan Batara Katong sebagai penguasa Wengker. Kesenian reog garapan Demang Suryangalam waktu itu bersifat satire mengeritik kebobrokan Majapahit.

Meskipun begitu, Batara Katong setelah menang tidak melarang kesenian reog. Bahkan menggunakan reog untuk tujuan-tujuan yang sesuai dengan tugasnya. Reog digarap ulang oleh Ki Ageng Mirah, dengan menghilangkan sindiran yang mengarah ke pemerintah Majapahit.

sumber : indospiritual.com



Nama kecil Ponorogo bernama Wengker.
Sejarah bercerita bahwa ia terlahir dengan budaya Budhaisme dengan pemimpin Surya Ngalam/Demang Kutu. Dia adalah keturunan Majapahit yang membelot. Walhasil setelah Bhre Kertabumi ( Brawijaya V ) naik tahta di kerajaan Majapahit tahun 1486 M. Beliau mengutus seorang raden Bathoro Katong. Bersama dengan Seloaji berangkatlah dari Majapahit menuju ke Wengker untuk menemui Surya Ngalam (Ki Ageng Kutu).
Sebelum menemui Demang Kutu, Bathoro katong bertemu dengan Ki Ageng dari Desa Mirah, anak Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Mirah adalah mubalig yang telah beberapa waktu bertugas menyebarkan agama islam di Wengker. Banyak hal penting keadaan Bumi Wengker yang dijelaskan Ki Ageng Mirah yang telah lama berpangalaman di Bumi Wengker. Kepada Bathoro Katong mereka bersepakat berjuang bersama Ki Ageng Mirah menyebarkan agama Islam dan Bathoro Katong di bidang Pemerintahan.
Untuk mempermudah pencapaian tujuan, Ki Ageng Mirah menghendaki Bathoro Katongmasuk Islam. Dengan sukarela ( tidak berkeberatan ) Bathoro katong masuk islam. Setelah itu Bathoro Katong dan Ki Ageng mirah selalu bekerja sama mempelajari situasi dan kondisi Wengker agar misi dan tujuannya tercapai. Ki Ageng Mirah merasa gembira karena dapat bekerja sama dengan Bathoro Katong yang masih keturunan Majapahit itu. Di samping itu Bathoro Katong dan Ki Ageng Mirah mengatur siasat untuk menghadapi Kedemangan Kutu yang membangkang pemerintahan Majapahit, disebabkan:

a. Ki Ageng Kutu adalah keturunan Majapahit yang berkuasa di Wengker
b. Kertabumi pernah merebut tahta Pandan Salas leluhur Ki Ageng Kutu
c. Pemerintahan Majapahit dalam keadaan lemah karena adanya perebutan kekuasaan

Untuk menaklukkan Demang Kutu Bathoro katong menempuh jalan damai, pendekatan
kekeluargaan dan toleransi, yakni :

a. Menyatukan wawasan /cara pandang bahwa antara Ki Ageng Kutu dengan Raden Katong bukanlah musuh
b. Bathoro Katong memperistri Niken Sulastri putri Ki Ageng Kutu
c. Dapat memiliki ( menguasai ) keris Kyai Jabardas dan keris Rawe Puspita andalan Kedemangan Kutu

Dengan 3 aspek tersebut tercapai Ki Ageng Kutu lengser alias kalah dan sebagian pengikutnya lari ke bawah kaki gunung Bromo dan sekarang masih ada keturan Wengker baru. Setelah semua usai beliau raden Bathoro Katong menyebarkan agama Islam dengan bantuan Ki Ageng Mirah dan Seloaji. Lambat tahun raden Bathoro Katong Mendirikan Kadipaten Ponorogo mengganti nama asal yakni Wengker. Sedang beliau memberi nama ponorogo berasal dari Pono (tirakat) dan Rogo (jiwa).
Dengan semua pihak perangkat yang terkait Bathoro Katong ( Raden Katong ) dapat mendirikan Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV dan menjadi Adipati yang pertama. Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut dengan menggunakan Buku Handbook Of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Pon 1 Besar 1418a, bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dhulhijah 901 H. Maka dengan terlantiknya beliau menjadi adipati pertama Ponorogo mulai menapak dewasa.

Seiring peredaran tahun ponorogo terkenal dengan reyognya.yang begitu memikat hingga malaisya medoktrin bakwa itu kesenian negaranya. adapun dengan bukti sejarah dan kuatnya solidaritas masyakat hal ini dapat teratasi.
Spoiler for Reyog
Tidak hanya satu versi yang diceritakan asal muasal kesenian Reog Ponorogo. Sebuah buku terbitan Pemda Kabupaten Ponorogo pada tahun 1993 menyebutkan, sejarah lahirnya kesenian ini pada saat Raja Brawijaya ke-5 bertahta di Kerajaan Majapahit.
Untuk menyindir sang raja yang amat dipengaruhi oleh permaisurinya ini, dibuatlah barongan yang ditunggangi burung merak oleh Ki Ageng Tutu Suryo. Lebih lanjut cerita rakyat yang bersumber dari Babad Jawa menyatakan pada jaman kekuasaan Batera Katong, penambing yang bernama Ki Ageng Mirah menilai kesenian barongan perlu dilestarikan.
Ki Ageng Mirah lalu membuat cerita legendaris tentang terciptanya Kerajaan Bantar Angin dengan rajanya Kelono Suwandono. Kesenian Reog ini pertama bernama Singa Barong atau Singa Besar mulai ada pada sekitar tahun saka 900 dan berhubungan dengan kehidupan pengikut agama Hindu Siwa. Masuknya Raden Patah untuk mengembangkan agama Islam disekitar Gunung Wilis termasuk Ponorogo, berpengaruh pada kesenian reog ini. Yang lalu beradaptasi dengan adanya Kelono Suwandono dan senjata Pecut Samagini.sedang menurut para sesepuh desa saya kronologi terjadinya reyog disebabkan raden klonosewandono ingin melamar putri raja jenggolo bernama songgolangit namun dengan syart harus ada hiburan 2hewan yang bersatu.walhasil terjadilah reog.
dan sekarang guna memperinganti hari jadi kota ponorogo bertepatan tahun baru hijriyah yang terkenal dengan grebeg suro dipentaskan dan dilombakan seni reog ponorogo bertarap nasional.yang pada tahun lalu wonogiri penggondol penghargaan secara berturut.

sumber : http://ponorogo-ponorogocity.blogspot.com


Sesuai dengan yang diceritakan mbah Sunardi..


Dan seingat saya beliau sempat cerita kalau Prb Batara Katong itu juga murid Sunan Kalijaga,
dan beliaulah yang menugaskan untuk menyebarkan Islam ke timur.



adi6510 - 05/01/2009 07:30 PM
#77
Ki Ageng Pengging Sepuh = Pangeran Handayaningrat = menantu Prabu Brawijaya V
Nama asli Andayaningrat adalah Jaka Sengara. Ia diangkat menjadi bupati Pengging karena berjasa menemukan Ratu Pembayun putri Brawijaya raja Majapahit (versi babad), yang diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Jaka Sengara berhasil menemukan sang putri dan membunuh penculiknya.

Jaka Sengara kemudian menjadi bupati Pengging, bergelar Andayaningrat atau Ki Ageng Pengging I (versi lain menyebutnya Jayaningrat). Kedua putranya menempuh jalan hidup yang berbeda. Kebo Kanigara yang setia pada agama lama meninggal saat bertapa di puncak Gunung Merapi. Sedangkan Kebo Kenanga masuk Islam di bawah bimbingan Syekh Siti Jenar anggota Walisanga.

Serat Kanda mengisahkan, Andayaningrat membela Majapahit saat berperang melawan Demak. Ia tewas di tangan Sunan Ngudung panglima pasukan Demak yang juga anggota Walisanga.

sumber : wikipedia.com
adi6510 - 05/01/2009 07:32 PM
#78

Quote:
Original Posted By WitGedhangMabur
Selepas dari benar tidaknya,
seingat saya mbah Sunardi sempat cerita kalau Prb Batara Katong itu juga murid Sunan Kalijaga,
dan beliaulah yang menugaskan untuk menyebarkan Islam ke timur.





Yap benar mas, seingat saya : Adipati Batara Katong adalah murid salah seorang wali songo, mas.

PelawaQ Aneh - 05/01/2009 07:43 PM
#79

ga biza ya om

prabuanom - 05/01/2009 08:08 PM
#80

mulai kebuka neh anak turun majaphit
suwun mas adi
Page 4 of 36 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [Sejarah + Budaya] Kisah Sekilas Para Putra-Putri Prabu Brawijaya V