Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [ASK]Sejarah Amangkurat I
Total Views: 16173
Page 5 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > 

Suzaku Musha - 18/02/2009 08:48 AM
#81

Quote:
Original Posted By adi6510
Ini loh




mirip lukisan Panembahan Senopati

mangtab mas adi
jaro san - 18/02/2009 09:14 AM
#82

Quote:
Original Posted By zeth
beliau tidak pernah berperang melawan belanda,mas.
malah beliau mendekati belanda.


setoejoe dg om zeth... fakta sejarah
jaro san - 18/02/2009 09:16 AM
#83

Quote:
Original Posted By zeth
Kalau dilihat dari tingkah laku beliau selama hidup..kayaknya jauh dari kata "disucikan", deh


juga setoejoe..... !!
mantafff !!!...
jaro san - 18/02/2009 09:19 AM
#84

Quote:
Original Posted By adi6510
@ mas adipatianom. Senopati Agung Banteng Mataram adalah gelar dari Pangeran Purubaya. Beliau adalah putra dari Panembahan Senopati. Lokasi makam beliau di Wotgaleh, dekat Bandara Adisucipto Jogjakarta. Kebetulan pas liburan Imlek Januari 2009, saya ziarah ke makam beliau.


mantaffff mbah Dosen Adi6510...

lanjoet

FR nya dooonk mbah... perjalanannya ke mana ajah?... ngalami apa ajah gitu... hiks..
jaro san - 18/02/2009 09:23 AM
#85

Quote:
Original Posted By adi6510
Ini loh




WEW KEYEEEEN !!!! Mbah Adi... Panembahan Puruboyo ganteng tenan dan gagah yah??.. jg erlihat dr wajahnya bijak... sholeh.. tp di poto tsb kayaknya ada gambar lain deh??.. hmmh.. apakah itu sebuah 'lambang'???

Mbah mhn diperbesar gambar 'lambang' tsb yah?? penasaran mode om...

peace
adi6510 - 19/02/2009 06:06 AM
#86

Sabar yak. Lagi nyari pinjaman kamera HP punya temen dulu niy. Maklum saya cuman punya hp kamera VGA yang udah uzur. He he he
rider125 - 21/03/2009 05:15 AM
#87

Angkat ah...
pembahasannya biar sampe Amangkurat yang makamnya ada di Tegal
Suzaku Musha - 23/03/2009 01:28 AM
#88

nambahi poto ah

Spoiler for " Ki Ageng Pemanahan & Panembahan Senopati"




adi6510 - 25/06/2009 04:17 PM
#89

@mbah Momod...

Sepertinya thread ini lebih baik di-move ke budaya deh ...

Thanks yah


adi6510 - 02/07/2009 10:01 PM
#90
Tentang Amangkurat II
Quote:
Original Posted By rider125
Angkat ah...
pembahasannya biar sampe Amangkurat yang makamnya ada di Tegal


Lanjut yukkk ......

Rekam Jejak Bangsawan Makassar yang Melanjutkan Perjuangan di Tanah Jawa
Laporan: AKBAR HAMDAN, Makassar

Catatan dari Diskusi Diaspora Bugis-Makassar dalam Kebangkitan Nasional (1)

Sebuah film dokumenter berdurasi kurang lebih 20 menit ditayangkan di Ruang Rapat PT Media Fajar, gedung Graha Pena Makassar, Rabu siang, 27 Mei.
Film ini mengisahkan perjuangan beberapa bangsawan sekaligus panglima perang Kerajaan Gowa pasca-perjanjian Bongaya pada 1667. Adapun penontonnya adalah sejarawan, budayawan, akademisi hingga tokoh politik.

Para penonton ini antara lain Prof Dr Darmawan Mas’ud Rahman, (budayawan dari Unhas dan UNM), Prof Dr Nurhayati (sejarawan dan peneliti La Galigo dari Unhas), Prof Dr Qasim Mathar (kolumnis dan guru besar UIN Alauddin),

Suriadi Mappangara (Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar) dan Dr Andi Agustang (Ketua Program Studi Sosiologi PPs UNM). Hadir juga Dr Ahyar Anwar (budayawan muda UNM), Akbar Faizal (politisi), juga datang Iskandar Siregar dari PT Inco serta beberapa wartawan dan mahasiswa.

Film ini diawali dengan munculnya seorang pemuda bertubuh agak subur mengenakan Songkok To Bone. Dalam film itu, pemuda tersebut berperan sebagai seorang turunan Dr Wahidin Soedirohusodo, pahlawan nasional yang dipercaya sebagai pendiri Budi Utomo.

Pemuda itu kemudian melakukan napak tilas nasib keluarga Wahidin. Dia pun mengunjungi makam Wahidin di Komplek Pemakaman Melati, Sleman, Yogyakarta. Di sinilah pemuda tersebut mendapat keterangan mengenai asal-usul Wahidin.

Tayangan lalu diarahkan pada dua makam lainnya, yakni makam Dr KRT Radjiman Widiodiningrat yang merupakan saudara sepupu Dr Wahidin Soedirohusodo, serta makam I Manggaleng Karaeng Daeng Naba. Ternyata,

Wahidin maupun Radjiman adalah keturunan Karaeng Daeng Naba, putera Makassar yang menurut catatan sejarah, menjadi salah satu komandan divisi tempur paling inti yang pernah dimiliki Kerajaan Mataram. Saat itu, Karaeng Daeng Naba mengabdi pada Amangkurat II, Raja Mataram.

Penonton kemudian diajak menyaksikan peristiwa yang terjadi sekitar 300 tahun lampau. Masa di mana Karaeng Daeng Naba berkiprah di tanah Jawa. Akan tetapi, Karaeng Daeng Naba hanya menjadi pemeran pembantu dalam film bisu tersebut. Pemeran inti yang sebenarnya adalah Karaeng Galesong dan Trunajaya.

Karaeng Daeng Naba dan Karaeng Galesong memang masih keluarga dekat. Keduanya bersepupu, sama-sama bangsawan Kerajaan Gowa, dan sama-sama memimpin ribuan pasukan Bugis-Makassar.

Ada satu lagi tokoh Makassar dalam film ini, yakni Karaeng Bontomarannu. Namun tokoh yang dikenal sangat buas di lautan sehingga membuat keder pasukan Belanda ini, tidak terlalu ditonjolkan dalam film tersebut.

Dikisahkan, sejumlah bangsawan yang kecewa dengan perjanjian Bongaya yang ditandatangani Sultan Hasanuddin dan VOC pada tahun 1667, meninggalkan Kerajaan Gowa dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat. Karaeng Galesong yang bernama lengkap I Mannindori I Kare Tojeng Karaeng Galesong juga termasuk jajaran bangsawan yang sangat kecewa.

Perjanjian Bongaya ini memang melemahkan posisi Kerajaan Gowa. Sebab, isinya mengharuskan Sultan Hasanuddin melepaskan hak penguasaan atas daerah-daerah Bugis serta perairan Maluku hingga Ternate.

Bersama ribuan prajurit yang tetap loyal kepadanya, Karaeng Galesong pun menyeberangi lautan menuju tanah Jawa. Di Pulau Jawa, Karaeng Galesong masih berharap dapat berjuang melawan penjajahan Belanda.

Daerah pertama yang didatangi adalah Kesultanan Banten, kerajaan sahabat Kerajaan Gowa. Apalagi saat itu, Karaeng Galesong mengetahui bahwa Syekh Yusuf, yang juga bangsawan Gowa, membantu Kesultanan Banten menghadapi pasukan Belanda.

Tetapi karena suatu masalah, Karaeng Galesong dan prajuritnya meninggalkan tanah Banten. Dalam perjalanannya kemudian, Karaeng Galesong bertemu dengan Trunajaya (Trunojoyo), seorang bangsawan Madura. Trunajaya lalu mengajak Karaeng Galesong berjuang menghadapi Kerajaan Mataram, yang sesungguhnya menjadi “kerajaan boneka” Kolonial Belanda.

Gayung bersambut. Karaeng Galesong yang memang tak pernah suka dengan Belanda setuju bergabung Trunajaya. Keduanya pun mulai menyusun strategi untuk menjatuhkan Kerajaan Mataram. Koalisi ini semakin diperkuat dengan hubungan pernikahan antara Karaeng Galesong dan Suratna, puteri Trunajaya.

Bermodalkan keberanian, aliansi pasukan Bugis Makassar yang dikomandani Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomarannu, serta pasukan Trunajaya, memulai penyerangan pada 1675. Kekuatan pasukan ini akhirnya dapat menaklukkan pasukan Mataram.

Dalam waktu singkat, Gresik, pesisir Jawa Timur hingga pantai utara Jawa sudah berhasil dikuasai oleh pasukan sekutu Galesong-Bontomarannu-Trunajaya. Puncaknya, pada 2 April 1677, Kraton Plered yang menjadi kebanggaan Kerajaan Mataram jatuh di tangan Trunajaya.

Pejabat Kerajaan Mataram kocar-kacir. Raja Amangkurat I bahkan melarikan diri. Karena dianggap sangat berjasa dalam menumbangkan Kerajaan Mataram, Karaeng Galesong diangkat sebagai Palimbahan atau Raja Muda di Pulau Madura. Inilah pencapaian tertinggi dari seorang bangsawan Gowa di daerah perantauan.

Namun perang itu belum berakhir. Di tempat pelariannya, Amangkurat I memerintahkan tiga puteranya membangun kembali kekuatan. Tak lama kemudian, Amangkurat I meninggal karena sakit. Adipati Anom, putera pangeran lalu diangkat menggantikan ayahnya. Dia pun menjadi Amangkurat II.

Amangkurat II yang memendam kusumat terhadap pemberontakan Trunajaya, akhirnya meminta bantuan Kompeni Belanda. Permintaan ini pun dikabulkan Belanda. Bagaimana pun, Kolonial Belanda juga menganggap Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong sebagai ancaman serius bagi misi VOC yang ingin menguasai seluruh pantai di nusantara ini.

Maka terkumpullah sekitar 1800 orang. 800 orang prajurit Belanda, sisanya lebih 1000 orang adalah campuran macam-macam etnis. Pada pertempuran jilid dua inilah, tokoh Daeng Naba mulai dimunculkan.

Karaeng Naba, ternyata merupakan komando divisi tempur VOC. Amangkurat II lalu meminta Karaeng Daeng Naba membujuk Karaeng Galesong agar tidak membantu Trunajaya. Itu agar pasukan Mataram lebih mudah melumpuhkan pasukan Trunajaya.

Sebelum pertempuran meletus, Karaeng Daeng Naba pun mendatangi Karaeng Galesong. Tetapi bukan pertempuran yang terjadi. Karaeng Galesong malah menyambut saudara sepupunya ini dengan penuh suka cita.

Di dalam film itu, diungkapkan bahwa Karaeng Daeng Naba sebenarnya hanya menyusup ke organisasi VOC. Malah, Karaeng Daeng Naba menyusun strategi agar di pertempuran nanti, pasukannya tidak bertemu. Tetapi justru harus menyerang pasukan Belanda.

Sayangnya, rencana itu tidak berjalan mulus. Ternyata, ada pengkhianatan dalam koalisi Trunajaya dan Karaeng Galesong. Seseorang telah memfitnah Karaeng Galesong dengan mengatakan dia tidak lagi mau membantu Trunajaya.

Situasi ini semakin diperparah dengan kekalahan demi kekalahan yang diderita Trunajaya. Malah, Karaeng Bontomarannu harus gugur dalam sebuah pertempuran di perairan Semarang. Trunajaya sangat kecewa dengan tindakan menantu kesayangannya itu. Kekecewaan Trunajaya ini bahkan dicatat dalam Babad Tanah Jawi dan Babad Kraton.

Sementara di pihak Karaeng Galesong sendiri, strategi yang sebelumnya disusunnya bersama Karaeng Daeng Naba berantakan. Alih-alih bahu-membahu menghadapi pasukan Belanda, pasukan Karaeng Galesong malah dikalahkan prajurit Belanda dan Mataram. Di sebuah pertempuran mempertahankan Benteng Plered, Karaeng Galesong pun gugur.

Gugurnya Karaeng Galesong membuat kekuatan Trunajaya menyusut drastis. Sebulan kemudian pada tahun 1679, Trunajaya menyerahkan diri ke Amangkurat II. Namun, Amangkurat II telanjur memendam kusumat yang amat dalam. Dengan sebilah keris, Amangkurat II mengakhiri nafas Trunajaya.

Kisah berlanjut lagi kepada Karaeng Daeng Naba. Dianggap berjasa meredam perlawanan Trunajaya, Amangkurat II kemudian menikahkan Karaeng Daeng Naba dengan putri Tumenggung Sontoyodo II. Bukan hanya itu, ia juga dihadiahi tanah perdikan yang sekarang ini berada di daerah Melati, Sleman, Yogyakarta.

Dari hasil pernikahan antar-etnis ini, kelak lahir pahlawan Jawa terkemuka bernama Dr Wahidin Soedirohoesodo, seratus tahun kemudian.

Film yang seluruhnya bersetting di Sleman, Yogyakarta ini pun berakhir. Para penonton pun memberikan pendapat yang sangat beragam mengenai film itu. Ada yang menanggapi sejarah dalam film itu, namun tak sedikit pula yang mengomentari film itu sendiri. Seperti apa tanggapan para budayawan, sejarawan dan akademisi se Makassar itu? Ikut lanjutannya pada edisi besok. (*)

sumber : fajar.co.id

adi6510 - 30/11/2009 07:16 PM
#91
Hubungan Sunan Amangkurat I, Keraton Mataram dan Keraton Cirebon
Quote:
Original Posted By rider125
Angkat ah...
pembahasannya biar sampe Amangkurat yang makamnya ada di Tegal


Hubungannya sebagai berikut :

Ratu Wanawati Raras bersuami Pangeran Sawarga, dan berputra 4 orang :
1. Ratu Ayu Sakluh (lahir 1545),
2. Pangeran Emas (lahir 1547) kelak bergelar Panembahan Ratu,
3. Pangeran Manis (1548), dan
4. Pangeran Wirasuta (lahir 1550).

Ratu Ayu Sakluh menikah dengan Sultan Agung, berputra Sunan Amangkurat I.

Pangeran Emas atau Panembahan Ratu pada tahun 1568 menggantikan buyutnya (Susuhunan Jati) sebagai Panembahan Carbon....

Sementara putri dari Amangkurat I bersuamikan Pangeran Putra, yang bergelar Panembahan Girilaya (putra Pangeran Sedang Gayam). Dari Putri Mataram ini, Panembahan Girilaya berputra 3 orang.

adi6510 - 30/11/2009 07:19 PM
#92
Hubungan Sunan Amangkurat I, Keraton Mataram dan Keraton Cirebon (bagian 2)
Quote:
Original Posted By adi6510
Hubungannya sebagai berikut :

Ratu Wanawati Raras bersuami Pangeran Sawarga, dan berputra 4 orang :
1. Ratu Ayu Sakluh (lahir 1545),
2. Pangeran Emas (lahir 1547) kelak bergelar Panembahan Ratu,
3. Pangeran Manis (1548), dan
4. Pangeran Wirasuta (lahir 1550).

Ratu Ayu Sakluh menikah dengan Sultan Agung, berputra Sunan Amangkurat I.

Pangeran Emas atau Panembahan Ratu pada tahun 1568 menggantikan buyutnya (Susuhunan Jati) sebagai Panembahan Carbon....

Sementara putri dari Amangkurat I bersuamikan Pangeran Putra, yang bergelar Panembahan Girilaya (putra Pangeran Sedang Gayam). Dari Putri Mataram ini, Panembahan Girilaya berputra 3 orang.



Panembahan Girilaya berputra 3 orang :
1. Pangeran Mertawijaya alias Pangeran Samsudin, yang menjadi Sultan
Kasepuhan pertama
2. Pangeran Kertawijaya alias Pangeran Badridin, yang menjadi Sultan
Kanoman Pertama
3. Pangeran Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cirebon Pertama

Karena Ratu Ayu Sakluh itu kakak perempuan Panembahan Ratu, maka Raja
Cirebon dan Raja Mataram masih berkerabat.

CMIIW, please


puguhlijk - 01/12/2009 09:41 AM
#93

WOW!!! Thread keren...nyimak dulu Ahh
cocema - 31/12/2009 02:48 PM
#94

mantabs... memang sejarah itu agak susah dicerna situasi politik yang benar pada masa itu ditentukan oleh pemenang pertikaian politik tsb, dan tentunya yang kalah terus di sudutkan, yang jelas yang menanglah yang berhak menulis sejarah apapun yang akan diikuti dan disimak oleh anak cucu beratus ratus tahun kemudian.
mandavikia - 31/12/2009 03:06 PM
#95

beneran gak nih ceritanya..kalau bener seru juga ya..kalau dijadikan film layar lebar..
not_adriano - 03/01/2010 05:14 AM
#96

Quote:
Original Posted By adi6510
Panembahan Girilaya berputra 3 orang :
1. Pangeran Mertawijaya alias Pangeran Samsudin, yang menjadi Sultan
Kasepuhan pertama
2. Pangeran Kertawijaya alias Pangeran Badridin, yang menjadi Sultan
Kanoman Pertama
3. Pangeran Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cirebon Pertama

Karena Ratu Ayu Sakluh itu kakak perempuan Panembahan Ratu, maka Raja
Cirebon dan Raja Mataram masih berkerabat.

CMIIW, please






hehe,kalau melihat silsilah dari id.rodovid.org memang saling berkaitan antar kerajaan satu dengan yang lain mas..

hanya masalahnya,,,apakah silislah yang ada di rodovid.org itu bisa dipercaya 100%

tapi paling tidak memberikan gambaran umum bagaimana keterkaitan antara kerjaan satu dengan kerajaan yang lain


salam
adi6510 - 03/01/2010 10:41 PM
#97

Quote:
Original Posted By not_adriano
hehe,kalau melihat silsilah dari id.rodovid.org memang saling berkaitan antar kerajaan satu dengan yang lain mas..

hanya masalahnya,,,apakah silislah yang ada di rodovid.org itu bisa dipercaya 100%

tapi paling tidak memberikan gambaran umum bagaimana keterkaitan antara kerjaan satu dengan kerajaan yang lain


salam


Kalo tentang Raja Mataram berkerabat dengan Raja Cirebon saya siy dapat informasi sumbernya langsung dari petugas sekaligus keturunan kerabat raja di Kraton Kasepuhan Cirebon....

k98 - 03/01/2010 11:09 PM
#98

maaf agan2..sy cm pernah dengar cerita sejarah tentang Amangkurat 1 ini dari orang2 tua dulu..
katanya perang Amangkurat dan Trunojoyo ini berawal dari berontaknya Brang Wetan mulai dari wilayah Ngawi sampai Surabaya terhadap Mataram yg mendukung Belanda.

kemudian pasukan Mataram melakukan pemadaman pemberontakan sampai di Surabaya sendiri yg wkt itu penduduknya masih ribuan ditumpas sampai hanya tersisa ratusan orang..

kemudian Mataram terus menyeberang ke Madura dan menaklukkan pemberontak disana..sampai kemudian Trunojoyo dibantu pasukan dari Bugis mengalahkan balik pasukan Mataram hingga meninggalnya Amangkurat 1 di pelarian..
dan akhirnya Trunojoyo juga kalah setelah Belanda membantu pasukan Mataram menumpas pemberontakan..

itu sebabnya..pada waktu pendirian RI dulu Jawa Tengah dipisah dengan Jawa Timur..krn warga Jawa Timur ingin memiliki indentitas tersendiri utk membedakan antara bekas wilayah Mataram dan Brang Wetan......CMIIW

adi6510 - 31/05/2010 08:59 PM
#99

Quote:
Original Posted By k98
maaf agan2..sy cm pernah dengar cerita sejarah tentang Amangkurat 1 ini dari orang2 tua dulu..
katanya perang Amangkurat dan Trunojoyo ini berawal dari berontaknya Brang Wetan mulai dari wilayah Ngawi sampai Surabaya terhadap Mataram yg mendukung Belanda.

kemudian pasukan Mataram melakukan pemadaman pemberontakan sampai di Surabaya sendiri yg wkt itu penduduknya masih ribuan ditumpas sampai hanya tersisa ratusan orang..

kemudian Mataram terus menyeberang ke Madura dan menaklukkan pemberontak disana..sampai kemudian Trunojoyo dibantu pasukan dari Bugis mengalahkan balik pasukan Mataram hingga meninggalnya Amangkurat 1 di pelarian..
dan akhirnya Trunojoyo juga kalah setelah Belanda membantu pasukan Mataram menumpas pemberontakan..

itu sebabnya..pada waktu pendirian RI dulu Jawa Tengah dipisah dengan Jawa Timur..krn warga Jawa Timur ingin memiliki indentitas tersendiri utk membedakan antara bekas wilayah Mataram dan Brang Wetan......CMIIW



Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, mas...

Semua tokoh di masa lalu hanya menjalankan "peran"-nya sesuai garis takdir-Nya......Dan ada hikmah buat yang mempelajari kisah-kisah masa lalu tersebut...

Nuwun ....

FlyFun - 02/06/2010 01:32 PM
#100

numpang nyimak gan???????
:2thumbup
Page 5 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > [ASK]Sejarah Amangkurat I