Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > (discuss)tokoh wayang, sipakah mereka? - Bebukaning Cerito 1
Total Views: 328947
Page 2 of 500 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

minghay27 - 01/03/2009 11:11 PM
#21

Quote:
Original Posted By Suzaku Musha
iya mas

tapi batara guru sendiri sebagai pimpinan dewa malah banyak yg ga ngajeni hehehe


Padahal sanepan niku mas ,jan2ne batara guru ya saktine en kebijakannya kl diturut lewat cerita versi indi ya ga keukur
baretta98 - 01/03/2009 11:13 PM
#22

ijin duduk menyimak dulu mas Prabu
prabuanom - 02/03/2009 12:14 PM
#23

wah rame yah
dilanjut yuk bahasanya
prabuanom - 02/03/2009 12:20 PM
#24

Mitos penciptaan

Pada awal mulanya di dunia hanya ada Antaboga, yaitu seekor ular yang hidup. Antaboga bermeditasi dan menciptakan Bedwang, yaitu seekor penyu atau kura-kura. Dua ekor ular bertahta di atas penyu itu bersama dengan batu hitam, yang kemudian menjadi atap dunia bawah tanah. Dunia bawah tanah ini diperintah oleh dewi Setesuyara dan dewa Batara Kala, yang menciptakan cahaya dan bumi. Di atas bumi itu terbentang air. Dan di atas bentangan air itu terbentang langit. Semara, yang adalah dewa cinta hidup di langit. Di atas langit itu terbentang langit yang biru pekat (angkasa), ini adalah tempat kediaman matahari dan bulan. Di atas semua itu terbentang kahyangan, yang penuh dengan bunga-bunga dan di sini hidup Tjak (seekor burung berwajah manusia). Di sini juga hidup seekor ular bernama Taksaka dan sekelompok ular yang dikenal sebagai Awan. Mereka terkadang terlihat sebagai bintang jatuh. Para leluhur tinggal di surga yang dipenuhi api di atas kahyangan. Di atas itu semua adalah tempat tinggal dewa-dewi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Mitologi_Bali

menarik sekali ternyata nama antaboga sendiri ada dalam mitologi bali
pertanyaanya apakah antaboga ini sendiri adalah budaya asli bali atau merupakan budaya asli hindu?bagaimana ada yang bisa menjelaskan?
prabuanom - 02/03/2009 12:23 PM
#25

para naga dalam pewayangan dan dalam kisah kisah asli dr india

Dalam mitologi Hindu, Taksaka (Sanskerta: तक्षक; Takṣaka) adalah salah satu naga, putera dari Dewi Kadru dan Kashyapa. Ia tinggal di Nagaloka bersama saudara-saudaranya yang lain, yaitu Wasuki, Ananta Bhoga, dan lain-lain. Dalam Mahabharata, Naga Taksaka adalah naga yang membunuh Raja Parikesit.

Naga Taksaka juga muncul dalam mitologi Bali, selayaknya pengaruh mitologi Hindu dari India. dalam mitologi Bali, Taksaka adalah ular yang tinggal di kahyangan. Tidak semua ular ini mempunyai perilaku yang jahat.

Kelahiran

Dikisahkan bahwa Dewi Kadru yang tidak memiliki anak meminta Bagawan Kashyapa agar menganugerahinya dengan seribu orang anak. Lalu Bagawan Kashyapa memberikan seribu butir telur agar dirawat Dewi Kadru. Kelak dari telur-telur tersebut lahirlah putera-putera Dewi Kadru. Setelah lima ratus tahun berlalu, telur-telur tersebut menetas. Dari dalamnya keluarlah para naga. Naga yang terkenal adalah Wasuki, Ananta, dan Taksaka.

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksaka

nah disini dijelaskan mengenai latar belakang mahluk berwujud naga . konon naga naga terkenal seperti wasuki, ananta dan taksaka lahir dari teur yang diasuh dewi kadru . dan ada sebuah tempat untuk mereka bernama "nagaloka".
Suzaku Musha - 02/03/2009 12:27 PM
#26

apa mungkin naga itu salah satu makhluk tertua juga ya di bumi ini?
prabuanom - 02/03/2009 12:35 PM
#27

mari menyimak lagi,

anantaboga dalam versi hindi, ternyata didapati nama antaboga dalam versi hindu india. mari kita simak siapa sebenernya tokoh ini menurut mitologi hindi, walopun disini cuma singkat saja dijelaskan bahwa mereka adalah anak anak dewi kadru

Mitologi

Dalam mitologi Hindu diceritakan bahwa Bagawan Kashyapa memiliki empat belas istri. Dari keempat belas istrinya, dua di antaranya belum melahirkan keturunan, yaitu Dewi Winata dan Dewi Kadru. Atas permohonan keduanya, Bagawan Kashyapa memberi seribu butir telur kepada Dewi Kadru, sedangkan dua butir telur diberikan kepada Dewi Winata. Kedua dewi tersebut merawat telur pemberian Bagawan Kashyapa dengan hati-hati.

Ketika tiba waktunya, seribu telur yang diberikan kepada Dewi Kadru menetas dan lahirlah seribu naga. Yang terkenal di antaranya adalah Naga Taksaka, Ananta Bhoga, dan Basuki. Semua naga tersebut dipelihara sebagai anak oleh Dewi Kadru. Sementara itu, telur yang dirawat Dewi Winata belum menetas. Karena malu dengan Dewi Kadru, Dewi Winata memecahkan sebutir telurnya. Akhirnya makhluk yang keluar dari dalam telur yang dipecahkan Dewi Winata berbadan tidak sempurna, yaitu tidak memiliki anggota tubuh dari pinggang ke bawah. Karena dipecahkan sebelum waktunya, anak yang lahir tersebut mengerang kesakitan, dan mengutuk Dewi Winata, bahwa kelak saingannya (Dewi Kadru) akan memperbudak dirinya. Namun anak tersebut juga berkata bahwa kelak saudaranya yang belum lahir (Garuda) akan membebaskan ibunya dari perbudakan.

Anak tersebut diberi nama Sang Aruna, karena tidak memiliki kaki dan paha (anuruh). Ia diangkat menjadi kusir Dewa Surya. Ialah yang bersinar merah di ufuk timur pada pagi hari, mengiringi terbitnya Sang Surya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Aruna
prabuanom - 02/03/2009 12:37 PM
#28

Quote:
Original Posted By Suzaku Musha
apa mungkin naga itu salah satu makhluk tertua juga ya di bumi ini?


mari kita lacak bersama mas
hehehehee
seperti ada berapa mahluk sih dalam cerita mahabharata dan pewayangan?
kita bahas aja dahulu yang pertama, yaitu anantaboga, dan bangsa naga
prabuanom - 02/03/2009 12:42 PM
#29

nah ini ada lagi tambahan :

sama hampir seluruhnya, ada tambahanya yaitu sesa. sesa ini konon tunggangan dewa wisnu?. terus ualrnya dewa siwa itu siapa namanya ya?. ternyata oh ternyata semua adalah anak turunya dewi kadru

Versi India

Istilah naga merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuna yang bermakna "ular". Dalam naskah Mahabharata dikisahkan bahwa para Naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, Taksaka, Basuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra.

Bangsa Naga yang berjumlah ribuan memiliki dua orang sepupu berwujud burung dan disebut sebagai bangsa Kaga. Keduanya bernama Aruna dan Garuda, yang merupakan putra dari Dewi Winata yang juga dinikahi Resi Kasyapa. Dengan demikian, hubungan antara Naga dengan Kaga selain sebagai sepupu juga sebagai saudara tiri. Meskipun demikian hubungan mereka kurang baik dan sering terlibat perselisihan.

Di antara para Naga ada pula yang menjadi dewa, yaitu Sesa, yang tertua di antara putra Kadru. Ia memisahkan diri dari adik-adiknya dan hidup bertapa menyucikan diri. Ia akhirnya diangkat sebagai dewa para ular, bergelar Ananta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Naga

untuk tahu lebih banyak tentang naga dalam berbagai mitologi bisa dibuka dalam link wikepedia diatas . sangat menarik sekali
prabuanom - 02/03/2009 12:44 PM
#30

kisah pemutaran mandara giri
rebutan tirta amerta?air suci . nah nah nah disini yang disebutkan adalah naga wasuki .

Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan. Seekor kura-kura (Kurma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.

Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.

Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa tirta amerta ke surga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Adiparwa
prabuanom - 02/03/2009 12:48 PM
#31

kisah para naga dan garuda
kisah ini yang konon mengilhami pemilihan garuda pancasila bukan?garudeya kalo ga salah salah satu namanya



Kisah Sang Garuda dan para Naga
Lukisan Garuda karya I Made Tlaga, seniman Bali, abad ke-19. Sekarang lukisan ini disimpan di Universitas Leiden.

Dikisahkan, pada suatu hari Sang Winata dan Sang Kadru, istri Bagawan Kasyapa, mendengar kabar tentang keberadaan seekor kuda bernama Uccaihsrawa, hasil pemutaran Gunung Mandara atau Mandaragiri. Sang Winata mengatakan bahwa warna kuda tersebut putih semua, sedangkan Sang Kadru mengatakan bahwa tubuh kuda tersebut berwarna putih sedangkan ekornya saja yang hitam. Karena berbeda pendapat, mereka berdua bertaruh, siapa yang tebakannya salah akan menjadi budak. Mereka berencana untuk menyaksikan warna kuda itu besok sekaligus menentukan siapa yang salah.

Sang Kadru menceritakan masalah taruhan tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mengatakan bahwa ibunya sudah tentu akan kalah, karena warna kuda tersebut putih belaka. Sang Kadru pun cemas karena merasa kalah taruhan, maka dari itu ia mengutus anak-anaknya untuk memercikkan bisa ke ekor kuda tersebut supaya warnanya menjadi hitam. Anak-anaknya menolak untuk melaksanakannya karena merasa perbuatan tersebut tidak pantas. Sang Kadru yang marah mengutuk anak-anaknya supaya mati ditelan api pada saat upacara pengorbanan ular yang diselenggarakan Raja Janamejaya. Mau tak mau, akhirnya anak-anaknya melaksanakan perintah ibunya. Mereka pun memercikkan bisa ular ke ekor kuda Uccaihsrawa sehingga warnanya yang putih kemudian menjadi hitam. Akhirnya Sang Kadru memenangkan taruhan sehingga Sang Winata harus menjadi budaknya.

Sementara itu, telur yang diasuh Sang Winata menetas lalu munculah burung gagah perkasa yang kemudian diberi nama Garuda. Sang Garuda mencari-cari kemana ibunya. Pada akhirnya ia mendapati ibunya diperbudak Sang Kadru untuk mengasuh para naga. Sang Garuda membantu ibunya mengasuh para naga, namun para naga sangat lincah berlari kesana-kemari. Sang Garuda kepayahan, lalu menanyakan para naga, apa yang bisa dilakukan untuk menebus perbudakan ibunya. Para naga menjawab, kalau Sang Garuda mampu membawa tirta amerta ke hadapan para naga, maka ibunya akan dibebaskan. Sang Garuda menyanggupi permohonan tersebut.

Singkat cerita, Sang Garuda berhasil menghadapi berbagai rintangan dan sampai di tempat tirta amerta. Pada saat Sang Garuda ingin mengambil tirta tersebut, Dewa Wisnu datang dan bersabda, “Sang Garuda, jika engkau ingin mendapatkan tirta tersebut, mintalah kepadaku, nanti pasti aku berikan”. Sang Garuda menjawab, “Tidak selayaknya jika saya meminta kepada anda sebab anda lebih sakti daripada saya. Karena tirta amerta anda tidak mengenal tua dan mati, sedangkan saya tidak. Untuk itu, berikanlah kepada saya anugerah yang lain”. Dewa Wisnu berkata, “Jika demikian, aku memintamu untuk menjadi kendaraanku, sekaligus menjadi lambang panji-panjiku”. Sang Garuda setuju dengan permohonan tersebut sehingga akhirnya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. Kemudian Sang Garuda terbang membawa tirta, namun Dewa Indra tidak setuju kalau tirta tersebut diberikan kepada para naga. Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut akan diberikan kalau para naga sudah selesai mandi.

Sampailah Sang Garuda ke tempat tinggal para naga. Para naga girang ingin segera meminum amerta, namun Sang Garuda mengatakan bahwa tirta tersebut boleh diminum jika para naga mandi terlebih dahulu. Para naga pun mandi sesuai dengan syarat yang diberikan, tetapi setelah selesai mandi, tirta amerta sudah tidak ada lagi karena dibawa kabur oleh Dewa Indra. Para naga kecewa dan hanya mendapati beberapa percikan tirta amerta tertinggal pada daun ilalang. Para naga pun menjilati daun tersebut sehingga lidahnya tersayat dan terbelah. Daun ilalang pun menjadi suci karena mendapat tirta amerta. Sementara itu Sang Garuda terbang ke surga karena merasa sudah menebus perbudakan ibunya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Adiparwa
prabuanom - 02/03/2009 01:06 PM
#32

mari lanjut ke tokoh selanjutnya

yaitu naga gini putri anataboga yang dikawinkan dengan bima dalam versi jawa



Dewi Nagagini iku putrine Bathara Antaboga. Dheweke urip ing kahyangan Saptapratala utawa Saptabumi.

Sawijining wektu Pandhawa arep dibakar dening Korawa. Crita iki ing lakon Balesigalagala. Untung wae Pandhawa ditulung dening Bathara Antaboga kang salin rupa. Merga kedadeyan iki, Bima banjur dadi bojone Dewi Nagagini. Nagagini duwe putra Antareja.

http://jv.wikipedia.org/wiki/Dewi_Nagagini

bima menikah dengan naga gini
ceritanya sangat romantis lho ehehhehee

Pada waktu itu di Sapatapratala atau bumi lapis yang ketujuh Hyang Antaboga sedang duduk dihadap oleh putrinya yang bernama Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini melapor kepada ayahandanya bahwa tadi malam ia bermimpi bertemu dengan satria besar tinggi berwajah tampan dan berkulit kuning bernama Raden Bratasena. Ia minta dicarikan satria tersebut sampai dapat. Hyang antaboga menyanggupi dan Iapun segera berangkat.

Pada waktu itu Pandawa masih mengikuti binatang garangan putih yang menjadi penunjuk jalan Pandawa. Akan tetapi Binatang garangan itu berlari kencang dan tiba-tiba hilang.
Pandawa kebingungan dan berhenti berjalan untuk sementara sambil memikirkan jalan keluar.
Tiba-tiba tampak didepan mereka Dewa Hyang Antaboga.

Setelah mereka berkenalan mereka dipersilahkan turun ke Saptapratala.

Pandawa dijamu oleh Hyang Antaboga dan diperkenalkan kepada putri Hyang Antaboga yaitu Dewi Nagagini.

Hyang Antaboga berterus terang ingin menjodohkan anaknya Dewi Nagagini dengan Bratasena.
Raden Bratasena menyatakan bersedia, maka dinikahkanlah Bratasena dengan Dewi Nagagini.
Kedua Pengantin ini hidup rukun. Kelak mereka akan dianugerahi seorang putera bernama Raden Antareja.

Pada saat Malam pengantin, pada saat Raden Bratasena dan Dewi Nagagini berada di kamar pengantin yang disebut "Pasamiran" cara Bratasena merayu istrinya lain daripada yang lain. Istrinya yang bertubuh kecil sangat cantik itu diontang-antingkan seperti barang akan dilempar.
Inang pengasuh Dewi Nagagini yang melihat kejadian ini segera melapor kepada Hyang Antaboga.

Hyang Antaboga terkejut, tidak mengira kalau Raden Bratasena berperangai kasar kepada istrinya dan segera merubah dirinya menjadi ular naga dan memasuki kamar "Pasamiran", Namun disana dia mendapatkan anaknya Dewi Nagagini sedang dipangku dengan mesranya oleh Suaminya.

Dewi Nagagini yang tahu bahwa ular naga itu adalah ayahnya bertanya mengapa ayahnya memasuki pasamiran. Ular naga itu menjelaskan tentang laporan yang diterimanya dari inang pengasuh Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini dengan tersipu-sipu menjelaskan bahwa ia merasa nikmat sekali diayun-ayun oleh suaminya dengan cara diontang-antingkan itu.

Dewa Hyang Antaboga yang sangat menyayangi anaknya itupun akhirnya mundur dan merubah rupa kembali menjadi manusia. Ia mengelus dada dan tersenyum memikirkan ulah anak-anak muda jaman sekarang.

Setelah beberapa waktu tinggal di Saptapratala, Dewi Kunti dan putra-putranya meminta diri. Hyang Antaboga mengijinkan.

Rombongan Pandawa dan Punakawan Semar Gareng Petruk dan Bagong itu segera kembali ke permukaan bumi melalui sumur Jalatunda.

http://bharatayudha.multiply.com/journal/item/397
prabuanom - 02/03/2009 01:12 PM
#33
naga gini versi india
naga gini versi india?hehehehe mari kita baca sebuah kisah dibawah ini :

Ceritera Astika; mulai dari kisah sang Jaratkāru mengawini sang Nāgini (naga perempuan) dan beranakkan sang Astika, kisah lahirnya naga dan garuda, dikutuknya para naga oleh ibunya agar dimakan api pada kurban ular, permusuhan naga dengan garuda, hingga upaya para naga menghindarkan diri dari kurban ular.
http://id.wikipedia.org/wiki/Adiparwa
prabuanom - 02/03/2009 01:15 PM
#34

who is jaratkaru?

[I]Ada seorang brahmana yang bernama Jaratkaru, sebabnya oleh raja disebut Jaratkaru, Jarâtiksayam ity âhuh, (karena) jarat berarti suka mengalah (har. kemunduran), kârunikasya tad bhayam, suka berbelas kasih, tempat berlindung bagi yang sedang dalam ketakutan, oleh karena itu (dia) benar-benar luar biasa, seyogyanyalah (dia) disegani, karena sifatnya yang suka mengalah.

Teringatlah dia akan penjelmaan badan, kârur iti smrtah, karena itu namanya Jaratkaru, (yang mana) takut kepada kesengsaraan penjelmaan. Ya ta warakulotpannah, dia adalah putera seorang Bikhu (= pendeta) yang mempunyai tapa yang luar biasa, seorang Bikhu yang gembira memungut padi yang tersebar dan telah terbuang di jalan, yang dicari (dan) dibersihkannya. Akhirnya menjadi banyaklah (padi yang dikumpulkannya itu), kemudian ditanaknya (padi-padi itu), (yang mana) ketika itu disajikannya kepada Bhatara (= dewa-dewa) serta memberikannya kepada para tamu. Begitulah tapa orang tuanya, tahan akan penderitaan, tidak bergaul dengan perempuan, hanya tapa yang dibesarkannya, diajarinya, menderita membuat tapa. Ketika itu Maharaja Parikesit berburu, lalu dikutuk oleh Bhagawan Sranggi dimakan oleh ular Taksaka[1]. Oleh karena itulah Jaratkaru membuat tapa. Setelah dia manjur mantranya, dia (dapat) pergi ke segala alam, (dapat) mengunjungi ke segala tempat asing hendak dia datangi dan (dapat) berjalan di atas air. Makin lama makin jauh perjalanannya, sampai dia terbawa ke Ayatanasthana, yaitu suatu tempat yang mengantarai surga dan neraka, tempatnya arwah menunggu (untuk) mendapatkan surga-neraka. Tempat itu terkunjungi oleh Jaratkaru, dia berada di Ayatanasthana.

Ada satu arwah yang digantung di sebatang bambu, yang digantung sungsang dan diikat kakinya. Di bawahnya adalah jurang yang dalam yang menuju ke alam neraka. Jika bambu itu patah, maka yang digantung itu akan menuju ke tempat itu (/alam neraka). Ada seekor tikus tinggal di lobang bambu yang dipinggir jurang itu. Setiap hari dia menggigit bambu itu. Hal itu terlihat oleh Jaratkaru, sehingga mengalirlah air matanya, maka dari itu berbelas kasihlah dia, hancur luluh hatinya kepada arwah yang digantung terbalik di ujung bambu itu serta diikat kakinya. Jaratkaru terpengaruh hatinya oleh arwah yang menyerupai seorang Bikhu yang berambut terjalin serta berpakaian dari kulit pohon. Tidak sepantasnyalah dia menghadapi kesengsaraan yang dideritanya. Dia menderita tidak makan seperti daun yang tergantung, yang kekeringan karena kemarau, yang berayun-ayun oleh karena angin deras, dia tidak makan selalu. Demikianlah keadaan arwah itu.

"Ke bhawanto ’walambante wîranastambam âçritâh?"

Kata Jaratkaru: "Siapakah tuanku yang digantung di sebatang bambu yang hampir patah oleh gigitan tikus, (yang hampir jatuh ke dalam) jurang yang tidak diketahui dalamnya. Keadaan yang demikian itu membuat sangat sedih hati hamba, sehingga hamba menaruh belas kasih hendak menolong engkau. Hamba membuat tapa sejak masih kanak-kanak serta menimbun beratnya tapa hamba, lalu sampai ke sini (dan melihat tuanku yang menderita), sehingga berbelas kasihlah hamba melihat kesengsaraanmu. Seberapa besar pahala dari tapa hamba yang harus hamba berikan, supaya engkau dapat pulang ke surga sehingga dapat berhenti menghadapi sengsara? Seperempatkah atau setengahkah yang (dapat) aku berikan sesuai dengan jalanmu untuk mendapatkan surga".

Perkataan Jaratkaru tersebut terdengar oleh arwah itu. Menjawablah dia dengan sangat dingin seperti disiram oleh air hidup hatinya:

"Tapawrata karma wayam. Hamba ditanya oleh tuanku, dan akan kuberitahukan semua keadaanku, umarambham krtam karma santânam preksayetrato, (Itu semua terjadi) karena (akan) putus keturunanku. Karena itulah aku terputus dari Pitraloka (= alam arwah para leluhur) dan bergantung-gantung pada sebatang bambu yang seolah-olah (hampir) jatuh ke alam neraka. (Sebenarnya) aku mempunyai satu keturunan. Namanya Jaratkaru. Tetapi dia moksa juga, hendak meluputkan segala sesuatu yang membelenggu manusia, tidak beristri, menjadi murid brahmana yang suci. ...[2] Jika seandainya keturunanku terputus, maka akibatnya adalah binasa. Semula aku senang terutama oleh pekerjaan tapa yang istimewa. (Tetapi) hal yang demikianlah yang terjadi sekarang ini, yaitu dengan tidak adanya keturunanku, narah duskrtino yathâ, tidak ada perbedaan antara aku dengan (orang) yang melakukan perbuatan dosa, yang (sama-sama) menghadapi kesengsaraan. Hal inilah yang dapat engkau lakukan jika engkau berbelas kasih "Bikhu itu bernama Jaratkaru, mita belas kasihlah kepadanya. Suruh supaya dia beranak, agar supaya aku dapat pulang ke Pitraloka. Beritahukanlah kepadanya bahwa aku menghadapi sengsara, agar supaya hatinya dapat berbelas kasih".

Dengan arwah itu berbicara, maka semakin mengalir air mata Jaratkaru. Seperti diiris hatinya melihat bapaknya menghadapi keadaan susah: "Hamba ini bernama Jaratkaru, keturunanmu yang tamak akan tapa, yang mengingini kedudukan sebagai murid brahmana. Aku kira sekarang ini engkau belum selesai, padahal telah sempurna tapa yang telah dibuat. Adapun sekarang, mengenai jalanmu pulang ke surga, janganlah tuanku khawatirkan. Biarlah hamba berhenti sebagai murid brahmana, dengan mencari istri sehingga hamba dapat mendapatkan anak. Adapun yang hamba kehendaki sebagai istri adalah yang senama dengan nama hamba, agar tidak ada halangan bagi perkimpoian hamba. Jikalau hamba telah mempunyai anak, biarlah hamba dapat menjadi murid brahmana lagi. Tenangkanlah hati tuanku."

Demikianlah kata Jaratkaru. Berjalanlah dia mencari istri yang senama dengan dirinya. Ketika dia mengembara mencari istri, ketika itu maharaja Janamejaya[3] baru beristrikan Bhamustiman. Pada waktu itulah Jaratkaru mengembara. Telah sepuluh daerah (= desa) yang dijelajahinya, tetapi dia tidak mendapatkan istri yang senama dengannya. Dia tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya untuk memikirkan upaya agar bapaknya keluar dari sengsara. Kemudian menyusuplah dia ke hutan yang sunyi, menangis dan memanggil segala dewa, segala butha (= makhluk raksasa), katanya:

"Yâni bhûtâni santîha, janggamâni sthîrâni ca, hai semua butha, para makhluk hidup yang menjadi penjelmaanmu, hamba bernama Jaratkaru, seorang brahmana yang hendak beristri. Berilah hamba istri yang senama dengan hamba, yaitu yang bernama Jaratkaru, supaya hamba mendapat anak, sehingga orang tuaku dapat memperoleh surga.

Demikianlah tangis Jaratkaru. Ketika keributan itu terjadi (tangis Jaratkaru) itu terdengar oleh semua naga (= ular) yang disuruh oleh Basuki untuk mencari seorang brahmana yang bernama Jaratkaru supaya brahmana itu mempunyai anak dari adiknya yang akan diberikan kepadanya, yang merupakan ular betina yang bernama Jaratkaru, supaya anak yang dilahirkan itu akan membebaskan mereka (= ular-ular tadi) dari korban ular. Itulah maksud Basuki (menyuruh ular-ular itu pergi mencari seorang brahmana bernama Jaratkaru). Dan ketika terdengar oleh mereka tangis Jaratkaru, gembiralah mereka dan memberitahukan kepada Basuki supaya mengundang Jaratkaru dan diberikan kepada adiknya. Tertariklah hatinya kepada Jaratkaru. Dibawa pulanglah dia (= Jaratkaru) oleh Basuki, dan dikimpoikannyalah dia serta dinikahkanlah dia dengan upacara yang telah semestinya. Selama dia (= Jaratkaru) duduk di tempat duduk, berkatalah Jaratkaru kepada istrinya:

"Saya berjanji dengan engkau, jika engkau mengucapkan apa yang tidak menyenangkan kepadaku, apalagi melakukan perbuatan yang tidak pantas, jika seandainya hal itu dilakukan olehmu, maka aku akan meninggalkan engkau".

Demikianlah kata Jaratkaru kepada istrinya. Hidup bersamalah mereka. Setelah beberapa lama mereka hidup bersama, mengandunglah si naga perempuan Jaratkaru. Terlihatlah tanda kehamilan itu oleh si suami. Maka dia meminta supaya ditunggui ketika tidur, ketika dia bermaksud mau meninggalkan istrinya[4]. Memohonlah dia untuk dipangku kepalanya oleh istrinya, katanya:

Pangkulah olehmu kepalaku waktu tidur". Dengan hati-hati si istri memangku kepada si suami. Sangat lama dia tidur, hingga waktu senja, waktu sembahyang. Teringatlah si naga perempuan Jaratkaru, katanya:

"Sekarang adalah waktu sorenya para dewa. Waktu ini tuan brahmana harus membuat doa. Sebaiknya dia dibangunkan. Jikalau menunggu sampai dia terbangun, pastilah dia akan marah, karena dia sangat takut kalau terlambat sembahyang karena itu bagi dia merupakan tugas agama kepada para dewa." Lalu dibangunnyalah si suami:

"Hai tuanku Maha Brahmana, bangunlah tuanku! Sekarang waktu telah senja tuanku, waktu untuk mengerjakan tugas agama. Bunga telah tersedia serta bau-bauan dan padi."

Demikianlah katanya sambil mengusap wajah si suami. Kemudian bangunlah Jaratkaru. Cahaya kemarahan memancar pada matanya dan memerah mukanya karena marah besarnya. Katanya:

"Cih! Engkau naga perempuan yang sangat jahat, engkau sebagai istri menghinaku. Ayukto maryâdah strînâm, engkau sampai hati menggagu tidurku. Tidak layak lagi tingkah lakumu sebagai istri. Oleh karena itu akan kutinggalkan engkau sekarang ini."
prabuanom - 02/03/2009 01:17 PM
#35

Demikianlah sudah dia kemudian meninggalkan si istri. Ikutlah si naga perempuan, dan lari memeluk si suami:

"Hai tuanku, maafkan hamba tuanku! Bukan maksud hati menghina, jika hamba membangunkan tuanku. Hamba hanya mengingatkan sembahyangmu tiap senja. Salahkah itu, sehingga aku menyembah tuanku. Seyogyanyalah engkau kembali ... tuan yang terhormat. Jika hamba telah beranak, di mana anak itu akan menghapuskan korban ular bagi saudara-saudaraku, maka tuanku dapat membuat tapa lagi."

Demikianlah kata si naga perempuan meminta belas kasih. Jaratkaru menjawab: "Alangkah pantas sikap si naga perempuan. Engkau mengingatkan hamba untuk memuja dewa ketika senja tiba. Tetapi hal itu tidak dapat mengubah kataku untuk meninggalkan engkau. Aku tidak akan tersesat. Itu kehendakku. Janganlah engkau kuatir. Asti, itulah (nama) anak itu. Anak itu akan menolong engkau kelak dari korban ular. Tenangkanlah hatimu".

Kemudian pergilah Jaratkaru. Dia tidak dapat ditahan. Si naga perempuan memberitahukan kepada Basuki akan kepergian si suami. Dia memberitahukan semua ucapan Jaratkaru dan memberitahukan bahwa perutnya ada isinya. Bersuka citalah Basuki mendengar itu semua. Setelah beberapa lama, lahirlah anak laki-laki dengan tubuh sempurna. Dinamailah anak itu Astika, karena si bapak mengucapkan "asti".

Dipeliharalah dia oleh Basuki, dididik serta diasuh menurut segala apa yang diharuskan bagi brahmana, dirawat dan diberi kalung brahmana. Dengan lahirnya Astika, maka arwah yang menggantung di ujung bambu itu melesat pulang pe Pitraloka, menikmati pahala tapanya, yaitu tapa yang luar biasa. Patuhlah Astika, sehingga dapat membaca Weda. Diijinkannyalah dia untuk mempelajari segala sastra, mengikuti ajaran Bhrgu. Demikianlah cerita tentang Astika. Dia adalah orang yang membuat naga Taksaka terhindar dari korban ular maharaja Janamejaya.

Catatan kaki

1. ↑ Maharaja Parikesit ketika itu berjalan-jalan untuk berburu. Di tengah-tengah hutan yang lebat itu, dia menjumpai seorang pertama yang sedang menjalani tapa diam. Disapanya pertapa itu, tetapi tidak menanggapinya. Oleh karena itu dia sangat marah dan mengalungkan ular mati ke leher pertapa itu. Hal itu diketahui oleh Bhagawan Sranggi, sehingga dia dikutuk akan dimakan oleh ular Taksaka. Ketika dia sudah mati dimakan ular Taksaka, maka anaknya yang bernama Janamejaya yang kemudian diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang mati akan membunuh semua ular, terutama Taksaka. Usaha Janamejaya tersebut dikenal dengan nama 'korban ular'.


http://id.wikisource.org/wiki/Jaratkaru

nah inilah kisah nagagini versi india

prabuanom - 02/03/2009 01:23 PM
#36

kesimpulan sementara inia dalah:


[*]anataboga, nama ini ada dalam cerita india. tapi anehnya tak diceritakan lebih lanjut. hal ini berbeda dengan saudara saudaranya seperti wasuki, ananta sesha, atau taksaka yang semua mendapat jalur cerita sendiri sendiri.

[*]anataboga lahir dr dewi kadru dalam versi india yang ikut berperang melawan garuda.

[*]anataboga versi jawa dan bali menguasai bumi, bertahta dalam bumi. sementara dalam versi hindi penguasa bumi adalah pertiwi. dalam veri jawa pertiwi justru dikatakan sebagai anak dari sang hyang anantaboga.

[*]naga gini disebut sebagai anak anantaboga dalam versi jawa. sementara dalam versi india dia bernama jaratkaru yang merupakan adik naga wasuki yang menikah dengan begawan jaratkaru yang melahirkan astika yang menolong taksaka dan para naga dari upacara korban raja jayamejaya.

yudie278 - 02/03/2009 01:33 PM
#37


hmmmmmm....
sptnya TRIT mengenai wayang2, ANTABOGA dan keberadaan dunia udah dibahas di TRIT nya Mas Untung Suropati dulu... beliau penggemar berat Mbah Antaboga....

but its oke, buat penyegaran kembali.

kalo saya paling suka tokoh Hanoman, yang selalu setia, berpegang teguh pada prinsip, dan sakti
juga Tokoh Bisma dan Kumbakarna, setia, memegang amanah, sabar, membela negara dari serangan musuh, kedua tokoh inilah yang mati2an menentang pimpinannya ketika dia salah, walaupun akhirnya mereka turun tangan juga untuk membela, itu semata2 membela negaranya bukan rajanya yg bathil...dan mereka rela mati untuk itu....
rasyid11 - 02/03/2009 02:27 PM
#38

Quote:
Original Posted By yudie278

hmmmmmm....
sptnya TRIT mengenai wayang2, ANTABOGA dan keberadaan dunia udah dibahas di TRIT nya Mas Untung Suropati dulu... beliau penggemar berat Mbah Antaboga....

but its oke, buat penyegaran kembali.

kalo saya paling suka tokoh Hanoman, yang selalu setia, berpegang teguh pada prinsip, dan sakti
juga Tokoh Bisma dan Kumbakarna, setia, memegang amanah, sabar, membela negara dari serangan musuh, kedua tokoh inilah yang mati2an menentang pimpinannya ketika dia salah, walaupun akhirnya mereka turun tangan juga untuk membela, itu semata2 membela negaranya bukan rajanya yg bathil...dan mereka rela mati untuk itu....


lho memangnya mas prabuanom ama untungsuropati bedanya apa ya??

Suzaku Musha - 02/03/2009 02:57 PM
#39

Quote:
Original Posted By prabuanom


Bangsa Naga yang berjumlah ribuan memiliki dua orang sepupu berwujud burung dan disebut sebagai bangsa Kaga. Keduanya bernama Aruna dan Garuda, yang merupakan putra dari Dewi Winata yang juga dinikahi Resi Kasyapa. Dengan demikian, hubungan antara Naga dengan Kaga selain sebagai sepupu juga sebagai saudara tiri. Meskipun demikian hubungan mereka kurang baik dan sering terlibat perselisihan.


huehehe hampir mirip dengan mitologi cina dan jepang, yaitu naga dan phoenix



Quote:
Original Posted By prabuanom
kesimpulan sementara inia dalah:


[*]anataboga, nama ini ada dalam cerita india. tapi anehnya tak diceritakan lebih lanjut. hal ini berbeda dengan saudara saudaranya seperti wasuki, ananta sesha, atau taksaka yang semua mendapat jalur cerita sendiri sendiri.

[*]anataboga lahir dr dewi kadru dalam versi india yang ikut berperang melawan garuda.

[*]anataboga versi jawa dan bali menguasai bumi, bertahta dalam bumi. sementara dalam versi hindi penguasa bumi adalah pertiwi. dalam veri jawa pertiwi justru dikatakan sebagai anak dari sang hyang anantaboga.

[*]naga gini disebut sebagai anak anantaboga dalam versi jawa. sementara dalam versi india dia bernama jaratkaru yang merupakan adik naga wasuki yang menikah dengan begawan jaratkaru yang melahirkan astika yang menolong taksaka dan para naga dari upacara korban raja jayamejaya.




[*] ra nyandak mas wong india, soale terlalu tua utk dibahas dengan pengetahuan mereka yg muda

[*] dulur dewe padu, apa utk keseimbangan?

[*] versi india si anak, versi Jawa si orang tua, wis ceto perbandingan tuo ne


prabuanom - 03/03/2009 10:28 AM
#40

Quote:
Original Posted By yudie278

hmmmmmm....
sptnya TRIT mengenai wayang2, ANTABOGA dan keberadaan dunia udah dibahas di TRIT nya Mas Untung Suropati dulu... beliau penggemar berat Mbah Antaboga....

but its oke, buat penyegaran kembali.

kalo saya paling suka tokoh Hanoman, yang selalu setia, berpegang teguh pada prinsip, dan sakti
juga Tokoh Bisma dan Kumbakarna, setia, memegang amanah, sabar, membela negara dari serangan musuh, kedua tokoh inilah yang mati2an menentang pimpinannya ketika dia salah, walaupun akhirnya mereka turun tangan juga untuk membela, itu semata2 membela negaranya bukan rajanya yg bathil...dan mereka rela mati untuk itu....


hehehe dulu belum saya bahas panjang lebar mas, thread tentang ular saya dulu belum menemukan link antara kisah india dan kisah jawa. karena itu saya coba mengulanginya lagi dalam thread ini dengan pembahasan yang lebih jauh . karena saya merasa sekarang wikepedia jauh lebih lengkap drpada jaman saya dahulu membuat thread ular


bhisma dan hanoman adalah tokoh tokoh yang luar biasa mas

sugeng rawuh ya mas yudi
Page 2 of 500 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > (discuss)tokoh wayang, sipakah mereka? - Bebukaning Cerito 1