BERITA DAN POLITIK
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Film '40 Years of Silence', Sisi Lain Tragedi PKI
Total Views: 11322
Page 1 of 8 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

zeroyonline - 14/06/2012 01:35 PM
#1
Film '40 Years of Silence', Sisi Lain Tragedi PKI
Puluhan orang memadati bioskop West End Cinema di Washington DC Senin malam, menyimak pemutaran film dokumenter “40 Years of Silence : An Indonesian Tragedy”.

Berbeda dengan film dokumenter resmi “Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia” atau disingkat “Pengkhianatan G-30S-PKI” yang semasa Presiden Soeharto berkuasa selalu diputar setiap tanggal 30 September oleh seluruh stasiun televisi nasional, film “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” mengangkat tragedi pembantaian itu dari empat sudut berbeda.

Keempatnya berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, yaitu keluarga pengusaha Tionghoa, keluarga petani beragama Katholik dan Islam, anak pemimpin partai pro PKI di Bali dan seorang anak yang lahir pada era tahun 1990an tapi ikut menjadi korban.

Robert Lemelson – antropolog lulusan Universitas California menggarap film “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” ini sejak tahun 2002. Ia telah mewawancarai ribuan orang yang terkena stigmatisasi, intimidasi dan perlakuan sewenang-wenang karena dinilai terlibat gerakan komunisme atau pro-kiri. Banyak di antara korban ini bahkan anak-anak berusia 15-20 tahun yang sama sekali belum dilahirkan ketika tragedi itu terjadi, tetapi harus memikul dampaknya.

Empat puluh tujuh tahun setelah tragedi itu terjadi, berbagai pelanggaran HAM terhadap keluarga dan kerabat dari mereka-mereka yang dianggap terlibat gerakan komunisme atau pro-gerakan kiri masih terus terjadi. Seperti keterbatasan untuk bersekolah dan bekerja karena stigmatisasi yang dilekatkan pada mereka, pemberian tanda tertentu pada kartu tanda penduduk atau keharusan mengisi formulir tertentu untuk memastikan mereka “bersih lingkungan” – satu istilah yang digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya hubungan dengan komunisme atau Partai Komunis Indonesia.

Karena itu menurut Dr. Gadis Arivia – aktivis dan pendiri Yayasan Jurnal Perempuan – yang ikut menghadiri pemutaran film dan diskusi mengatakan di sinilah letak pentingnya film-film seperti ini. Tidak saja mengingatkan masyarakat Indonesia akan masa kelam dalam sejarah pergolakan politik negara, tetapi juga versi lain suatu peristiwa.

“Saya kira penting agar orang tidak lupa akan apa yang terjadi pada masa itu. Apalagi selama ini kita melihat film dari versi pemerintah, atau kalau pun ada versi lain – tidak selengkap film ini, yang mengangkat kisah empat keluarga dengan latar belakang yang sama sekali berbeda: Tionghoa, Kristen-Islam, Hindu-Bali dan anak muda yang tidak tahu menahu tapi tetap jadi korban karena ayahnya eks-tahanan politik. Saya menghargai Robert Lemelson yang melakukan riset dan mendokumentasikan semua kesaksian-kesaksian itu,” papar Gadis Arivia.

Ditemui seusai pemutaran film tersebut, Robert Lemelson menyatakan bahwa ia hanya ingin mengajak penonton melihat sisi lain tragedi 1965 itu. Terlebih karena saat ini muncul desakan dari masyarakat Indonesia agar KOMNAS HAM menyelidiki berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada tahun 1965 yang menewaskan antara 500 ribu hingga satu juta orang, maupun stigmatisasi pada seseorang atau sekelompok orang karena afiliasi, kepentingan politik atau pengaruh kelompok yang berbau SARA hingga saat ini.

KOMNAS HAM pada tanggal 4-5 Juni 2012 menyelenggarakan rapat paripurna untuk membahas hasil penyelidikan tersebut, namun menurut rencana baru akan dikeluarkan pada bulan Juli 2012.
VOAINDONESIA
Rambang.Mato - 14/06/2012 01:48 PM
#2

Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.

Tambahan:
Kita lihat sejarah ketika John F. Kennedy ditembak mati. Siapapun yang mengusut atau membicarakannya pasti ditemui dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Masih banyak lagi sejarah kelam si PAMAN SAM kalau mereka mau jujur.

Berapa negara yg sudah porak-poranda karena ulah PAMAN SAM? Hanya dengan memoles pembicaraan yang membolak-balikkan fakta.
Namun, ketika bertemu dengan negara yg lebih besar, seperti China, sedikitpun tidak keluar suaranya..
sutan.mulia - 14/06/2012 01:49 PM
#3

kapan di puternya di indo yahh
ane.666.gan - 14/06/2012 01:51 PM
#4

Sejarah ditulis oleh pihak yang menang
Seandainya dolo PKI berhasil menguasai Indonesia apa yang bakal terjadi yah?
n@ruto - 14/06/2012 01:51 PM
#5

boleh nih jadi tontonan.
lumayan buat nambah pengerahuan
Menza - 14/06/2012 01:52 PM
#6

Quote:
Original Posted By Rambang.Mato
Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.


Udah 46 tahun dibodohin masih bilang gak mudah dibodohin?

TS mana komentarnya? Ntar ditutup mod lho.
KimaxKaw - 14/06/2012 01:54 PM
#7

Ada Kata2 "Darah Itu Merah Jenderal" gak ?...
danielxien - 14/06/2012 01:56 PM
#8

kejadian itu adalah genosida, pembataianan atau apalah namanya yang sama sekali tidak pernah digubris oleh barat
AIM-1N - 14/06/2012 01:56 PM
#9

Cara paling mudah untuk memecah Indonesia emang melalui isu dan konflik. Dan era 1960-an merupakan era paling kelam dalam sejarah Indonesia. Pra G-30S/PKI, Adek Eyang ane dikejar-kejar ama Ponakannya yang simpatisan PKI, tuduhannya setan desa karena adek eyang ane ditugasi sebagai amil zakat. Sampe akhirnya cacat, dan kehilangan lengan kanan. Dan beliau pernah cerita pernah suatu saat pondok pesantrennya diserang simpatisan PKI saat ada pengajian (dan saat itu didukung oleh rezim yg berkuasa kala itu). Pada masa itu, banyak orang yg memanfaatkan kondisi tersebut. Punya utang g bisa bayar, langsung tunjuk si pemberi hutang sebagai lintah darat yang merupakan salah satu dari 7 setan desa. Si pemberi hutang dibantai simpatisan PKI, si penghutang melenggang....

Situasi berbalik pasca G-30S/PKI. Ganti ponakan eyang yang simpatisan PKI (termasuk teman-temannya) dikejar-kejar massa karena dendam (dan ini didukung rezim saat itu). Ponakan eyang mati di kuburan massal yg g tau tempatnya di mana dengan kepala terpenggal. Lokasi kuburan tubuh dan kepala terpisah. Dan lagi-lagi, banyak orang yg memanfaatkan situasi tersebut. Punya masalah dengan orang lain, lgs tunjuk lawannya sebagai simpatisan PKI, dan bisa ditebak orang tersebut pasti akan menjadi korban.

Era tersebut merupakan era terkelam dalam sejarah Indonesia. Ane pribadi tidak bisa menentukan siapa yang biadab dan siapa yang lebih beradab. Toh, dua-duanya juga merasakan menjadi korban situasi dan sejarah........



Berharap, semoga situasi tersebut tidak terulang kembali kapan pun di Indonesia.
Theist - 14/06/2012 01:56 PM
#10

Quote:
Original Posted By Rambang.Mato
Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.


Idealnya sih demikian, namun bila tidak ingin bodoh terus-menerus ... hendaknya kita terbuka dan berpikiran jernih dalam menyikapi setiap masukan maupun kritikan sebagai bahan renungan bersama.
Es Be Ye - 14/06/2012 01:59 PM
#11

Quote:
Original Posted By Rambang.Mato
Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.


Ngomong itu gampang bro, membuktikan omongan itu yang sulit
Auxitcapital - 14/06/2012 02:03 PM
#12

yang lalu biarlah berlalu...............
zeroyonline - 14/06/2012 02:03 PM
#13

Quote:
Original Posted By Rambang.Mato
Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.




Loh, bukankah bangsa Indonesia ini memang sudah dibodoh-bodohi dari dulu gan, baik dari pihak asing maupun orang kita sendiri :toast
zeroyonline - 14/06/2012 02:05 PM
#14

Quote:
Original Posted By Auxitcapital
yang lalu biarlah berlalu...............



Bila sejarah yang lalu dibuata-buat seenak udelnya oleh pemimpin negeri ini, maka tugas kita adalah meluruskannya Gan.
antidistribusi2 - 14/06/2012 02:07 PM
#15

dalam negri : banyak dimunculkan percikan2 kecil yang berpotensi besar di masa mendatang

luar negri : luncurkan film berisi peristiwa kelam di sini saat pergantian rezim n awal mula kejadianya bisa dikatakan hampir serupa ama sekarang...n sekarang juga deket dengan pergantian rezim lagi

pintarlah indonesiaku
s1anakmalam - 14/06/2012 02:08 PM
#16

Lebih baik nonton dulu filmnya, baru komentar. Kapan dan dimana bisa menonton film itu tanpa harus keluar negeri? Mau dong....!!!
loveJIL - 14/06/2012 02:11 PM
#17

Semoga FPI tidak bernasib sama dengan PKI.

==LoveJIL==
SiCemong - 14/06/2012 02:12 PM
#18

Quote:
Original Posted By Rambang.Mato
Kembali negara ini akan dibuat heboh oleh pihak luar. Namun orang indonesia bukanlah manusia-manusia yang mudah dibodohi.

bukan mudah gan... tp sangat gampang... :army
Rambang.Mato - 14/06/2012 02:14 PM
#19

Quote:
Original Posted By Theist
Idealnya sih demikian, namun bila tidak ingin bodoh terus-menerus ... hendaknya kita terbuka dan berpikiran jernih dalam menyikapi setiap masukan maupun kritikan sebagai bahan renungan bersama.


Betul, namun tetap konsekwen.

Quote:
Original Posted By Es Be Ye
Ngomong itu gampang bro, membuktikan omongan itu yang sulit


Hmm...

Quote:
Original Posted By zeroyonline
Loh, bukankah bangsa Indonesia ini memang sudah dibodoh-bodohi dari dulu gan, baik dari pihak asing maupun orang kita sendiri :toast


Quote:
Original Posted By SiCemong
bukan mudah gan... tp sangat gampang... :army


Kita tidak dibodohi gan, hanya saja kita berada dalam kondisi "tertentu". Kalau salah omong akan membahayakan diri sendiri di waktu itu. Makanya, lebih baik diam & sabar. Ada positif & negatifnya..
Jihadil003 - 14/06/2012 02:15 PM
#20

kira-kira kapan ya diputer di Indonesia?
ane pengen nonton versi luar
Page 1 of 8 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BERITA DAN POLITIK > Film '40 Years of Silence', Sisi Lain Tragedi PKI