Kalimantan Tengah
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Tengah > Cerita Rakyat Kalimantan Tengah
Total Views: 26121
Page 4.5 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

TuaGila - 07/07/2010 11:16 PM
#71

Quote:
Original Posted By jazzchy
cerita rakyat itu aset budaya loh gan...
usul ane sih gimana kalo dibukukan saja, jadi dapat didokumentasikan. selama ini hanya cerita dari mulut kemulut oleh orang-orang tua kita sajakan. nah kalau dibukukan, selain dapat dibaca oleh generasi selanjutnya juga sekaligus memperkenalkan budaya itu keluar. karena sekarang jarang ada yang bisa menghargai budayannya sendiri, karena di anggap sudah tidak up date lagi, kasarnyanya sih udah kuno alias ketinggalan zaman. udik jer, lewu-lewu...hehee.

jadi jangan heran, anak-anak kita nanti saat ditanya sejarah asalnya tahunya sejarah budaya orang luar. jujur saja, ane sendiri agak kurang tahu tuh sejarah atau cerita dayak. karena ane tidak punya referensi bahan...artinya harus ada bahan dan oknum yang mau meneruskan, mengembangkan dan tidak kalah penting mengcintai budaya itu sendiri.
contoh saja orang jawa, sunda, batak...mereka bangga dengan kejawaannya, kesundaannya, apalagi kebatakannya, bukan sara. tapi itu bukti mereka mencintai budayanya. keren malahkan?!!

salam


kalau begitu ai minta kolom dong

Isen Mulang Petehku
lamuntea - 14/07/2010 05:30 PM
#72

Dulu, saya pernah dengar cerita tentang basir Balian yang bisa menghidupkan orang mati...tapi sayang sudah lupa...kalo bisa rekuest, minta tuliskan TS lah...thenkiu are are sebelumnya....
999999999999999 - 16/07/2010 01:03 AM
#73

Quote:
Original Posted By jazzchy
cerita rakyat itu aset budaya loh gan...
usul ane sih gimana kalo dibukukan saja, jadi dapat didokumentasikan. selama ini hanya cerita dari mulut kemulut oleh orang-orang tua kita sajakan. nah kalau dibukukan, selain dapat dibaca oleh generasi selanjutnya juga sekaligus memperkenalkan budaya itu keluar. karena sekarang jarang ada yang bisa menghargai budayannya sendiri, karena di anggap sudah tidak up date lagi, kasarnyanya sih udah kuno alias ketinggalan zaman. udik jer, lewu-lewu...hehee.

jadi jangan heran, anak-anak kita nanti saat ditanya sejarah asalnya tahunya sejarah budaya orang luar. jujur saja, ane sendiri agak kurang tahu tuh sejarah atau cerita dayak. karena ane tidak punya referensi bahan...artinya harus ada bahan dan oknum yang mau meneruskan, mengembangkan dan tidak kalah penting mengcintai budaya itu sendiri.
contoh saja orang jawa, sunda, batak...mereka bangga dengan kejawaannya, kesundaannya, apalagi kebatakannya, bukan sara. tapi itu bukti mereka mencintai budayanya. keren malahkan?!!

salam


ada wartawan
TuaGila - 26/07/2010 03:13 AM
#74
Cerita Masyarakat Seruyan
Asal Desa Sapundu Hantu

Kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah terkenal dengan falsafah rumah betangnya, setiap pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dilakukan secara handep haruyung atau bergotong-royong. Demikianlah pula halnya dengan perilaku penduduk di hulu sungai Seruyan, di sebuah dusun pedalaman pada zaman dahulu kala, di saat musim menanam padi di ladang.
Tradisi bergantian menanam itu dilakukan oleh sebuah keluarga, yang kini giliran lahannya untuk ditanami, karena pada hari-hari sebelumnya ia sudah membantu di lahan keluarga lain. Warga dusun pun berangkat dengan perahu menyeberang sungai menuju ke ladang, tidak terkecuali anak-anak kecil juga dibawa serta dari pada ditinggalkan di rumah, sebab tidak ada yang menjaganya.
Di ladang itu ada sebuah gubug, maka ditinggalkanlah kedua anak laki-laki dari keluarga yang ditanami ladangnya itu oleh orang tuanya. Keduanya masih tanggung untuk dibawa bekerja, karena baru berusia empat dan tiga tahun. Mereka berdua dipesani agar jangan jauh bermain serta tetap berada di gubug. Orang-orang itu, tua dan muda, lalu sibuk bekerja sambil bersenda-gurau, kadang diselingi dengan gelak tawa untuk menghilangi rasa lelahnya.
Sementara itu kedua anak pemilik ladang tadi asyik bermain. Tiba-tiba mereka melihat seekor belalang besar hinggap di dekat mereka. Kedua anak itu heran melihat bentuk belalang itu yang agak lain dari biasanya, keanehannya adalah warna sayapnya yang berwarna-warni dan kepalanya seperti raut muka manusia. Berhentilah kedua anak itu bermain dan sepakat untuk menangkap belalang tersebut.
Keduanya mencoba menangkapinya namun gagal, sebab belalang itu melompat dan hinggap di daun pada semak-semak dekat gubug. Mereka turun dari gubug, penasaran mengejar untuk menangkapnya dan senantiasa gagal. Saking asyiknya mengejar, sementara belalang itu selalu dapat meloloskan diri. Tanpa keduanya menyadari mereka sudah berada di tepi sungai.
Sang kakak lalu berkata : “Sulit untuk kita menangkapnya, baiknya kita pukul saja dengan ranting kayu”. Kebetulan di tempat itu ranting kayu mudah diperoleh, bekas tebangan pohon kecil, jalan untuk ke ladang. Dalam satu kali pukulan saja kenalah belalang itu lalu jatuh ke tanah, belalang itu mati.
Kemudian bangkai belalang itu dipungut sang adik seraya membentangkan sayapnya, sementara sang kakak memperhatikan bangkai belalang itu sambil menusuk mukanya dengan ranting.
Kemudian keduanya turun ke tepi sungai, membenamkan bangkai belalang itu beberapa kali ke dalam air sungai. Karena asyiknya mempermainkan belalang itu, tanpa mereka sadari belalang tersebut berubah wujud, sayapnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti tangan manusia.
Sang kakak ternyata melihat hal itu dan berkata : “Dik, cepat lepaskan. Mari kita pulang ke gubug !” Belalang itu ternyata adalah seorang jin penghuni hutan di sekitar ladang itu.
Badannya yang besar dan berwarna kemerah-merahan dengan mukanya yang remuk karena tusukan anak yang tertua tadi, masih dapat berucap dan mengutuk semoga semua mereka yang berada di ladang itu mati disambar petir.
Maka datanglah angin ribut disertai guntur dan petir, suasana menjadi gelap. Kedua anak tersebut telah sampai di gubug sambil berteriak memanggil orang tuanya serta semua mereka yang bekerja itu : “Ayah ! Ibu ! Tolong pulanglah semuanya !”
Melihat cuaca yang berubah itu mereka yang sedang bekerja di ladang serentak berhenti dan berlarian pulang menuju ke arah gubug. Hampir tiba, hanya beberapa langkah lagi ke gubug, bersamaan dengan itu pula sebuah petir yang besar menyambar mereka dan gubug itu. Sesaat langit menjadi gelap pekat dan ….. gubug itu dengan dua orang anak berada di dalamnya serta gerombolan orang banyak yakni orang tuanya dan warga dusun yang bergotong-royong tadi tertutup bongkahan batu besar, semuanya terkurung namun masih hidup. Angin bertiup kencang diiringi hujan lebat.
Tidak berapa lama kemudian langit menjadi terang, hujan badai dan angin ribut tiba-tiba menghilang. Mereka yang ada di dalam gundukan batu berteriak saling memanggil dan meminta tolong.
Orang-orang di dusun tidak kalah kagetnya menghadapi perubahan cuaca itu. Mereka lalu keluar dari rumahnya dan teringat pada keluarga mereka yang handep haruyung di ladang. Dengan serempak mereka menyeberang.
Setibanya di seberang mereka mendengar jeritan serta teriakan meminta tolong, bergegas mereka menuju ke ladang. Suara itu semakin jelas. Alangkah terperanjatnya mereka karena terlihat di sana ada dua buah batu besar dan suara jeritan serta teriakan tersebut berasal dari dalamnya.
Sebagian lalu berusaha memecahkan kedua gundukan batu itu dengan palu, namun tidak berhasil karena sangat besarnya. Sedang yang lainnya memahat membuat lubang untuk mengeluarkan orang-orang itu.
Batu tersebut sudah berlubang seukuran badan manusia, mereka melihat tubuh orang-orang yang berada di dalam batu berwarna agak hitam dan kemerah-merahan karena bekas disambar petir itu.
Kemudian mereka berusaha untuk mengeluarkannya, namun hanya mampu sebatas kepala dan bahu yang keluar, karena lubang tersebut perlahan-lahan menyempit kembali, sehingga terpaksa didorong ke dalam lagi agar tidak terjepit.
Semua warga bergantian kembali memahat kedua gundukan batu itu, tetapi sesudah lubang sebesar tubuh manusia, kembali menyempit dan hanya tersisa sebesar kepalan tangan. Mereka pun jadi putus asa. Sementara itu sebagian warga balik ke dusun mengambil makanan dan mengabarkan kejadian itu kepada warga yang lain.
Seorang warga bertanya lewat lubang pada mereka yang berada dalam gundukan batu yang terbesar : “Hei pahari (saudara) apa gerangan sebabnya hingga terjadi seperti ini ?”
“Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya kudengar suara kedua anakku yang berteriak meminta kami semua untuk pulang ke gubug. Aku tak sempat menanyainya, ketika hampir sampai ke gubug kami disambar petir dan terkurung dalam batu seperti ini. Coba kalian tanya saja pada anakku”, kebetulan yang menjawab adalah ayah kedua anak itu sendiri.
Sambil menangis dan berteriak-teriak kedua anak yang terkurung di gubug yang kini telah berubah menjadi batu menceriterakan asal mula kejadiannya. Maka tahulah mereka bahwa keluarga tersebut saluh (tubuh atau tempat di sekitar seseorang berubah menjadi batu) kena kutukan jin penunggu hutan sekitar tempat itu.
Warga berdatangan membawakan makanan, namun hanya bisa diletakkan di depan lubang, dan mereka yang berada di dalam kedua gundukan batu itu hanya dapat mengambilnya dengan mengulurkan tangannya.
Sanak saudara dari keluarga kedua anak itu dan warga dusun silih berganti menunggu di depan lubang batu, sambil mengadakan rangkaian upacara ritual serta membuat kotak atau rumah kecil dengan satu tiang di depan lubang pada kedua batu tersebut, sebagai tempat meletakkan makanan. Hari berganti hari dan setelah beberapa minggu kemudian, tidak terdengar lagi suara tangisan dari dalam kedua gundukan batu itu.
Keluarga mereka dan segenap warga dusun menganggap bahwa mereka yang ada di dalamnya sudah meninggal semua. Seluruh warga dusun dan terlebih-lebih keluarga dua anak tadi berkabung sangat sedihnya, dan kabar ini pun tersebar hingga ke desa-desa tetangga.
Di depan kedua lubang batu tersebut dibuat keramat tempat menaruh sesajen, sementara di kampung pada setiap rumah warga dusun yang anggota keluarganya ikut saluh saat handep haruyung itu, dibuatkan sapundu (patung kayu) sesuai jumlah orang yang terkurung dalam bongkah batu tersebut.
Bukit di seberang dusun dimana terletak kedua bongkahan batu itu dinamakan bukit Sakajang, dan sampai sekarang keluarga keturunan yang saluh dalam batu itu tetap memberikan sesajen di dalam keramat sebagai bentuk rasa duka dan belasungkawa yang tiada habisnya.
Warga dusun itu yang lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa menamakan tempat mereka itu Sapundu Hantu (dalam bahasa Dayak Ngaju hantu berarti mayat) sampai sekarang. Desa Sapundu Hantu kini termasuk dalam wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan. ***

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 28/07/2010 11:23 PM
#75
Asal Desa Tumbang Laku 1
Asal Desa Tumbang Laku

Sejak dahulu kala kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah bergantung pada alam dengan memungut hasil hutan. Di sebuah desa hiduplah satu keluarga dengan enam orang anaknya yang kesemuanya laki-laki. Sejak kecil keenam bersaudara ini selalu bersama-sama bermain dan sebagainya. Adalah si bungsu yang agak pendiam serta sering ditinggalkan kelima orang kakaknya di rumah untuk membantu orang tua mereka menyelesaikan pekerjaan di rumah. Ia juga selalu diremehkan kakak-kakaknya dan menjadi bahan ejekan mereka.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, seiring dengan waktu, keenam bersaudara ini tumbuh dewasa namun belum ada seorang pun yang menikah. Suatu ketika desa itu ramai didatangi para pedagang untuk membeli hasil hutan berupa damar, karena hutan belantara di sekitar desa mereka itu banyak damarnya dan kualitasnya cukup bagus.
Orang tua mereka sudah berumur dan tidak mampu lagi untuk keluar masuk hutan mencari damar. Melihat kondisi tersebut dan anak-anak itu merasa sudah besar serta kuat, sudah saatnya merekalah yang mengambil alih pekerjaan tersebut, terlebih harganya cukup menjanji-kan. Rencana tersebut mereka utarakan kepada kedua orang tuanya, bahwa mereka akan bersama pergi mencari damar sekaligus meminta izin membawa serta si bungsu. Orang tua mereka tidak bisa menghalangi rencana mereka itu, namun meminta agar si bungsu tidak diajak karena ia membantu bekerja di ladang dan pekerjaan di rumah sehari-hari.
Karena memaksa dengan berbagai alasan, maka disetujuilah si bungsu ikut. Ayah mereka berkata : “Jagalah adikmu baik-baik. Apabila sudah menemukan cukup banyak damar, segeralah pulang. Selama di hutan jangan berucap atau berbuat hal yang aneh-aneh karena banyak penunggunya”. Mereka pun berjanji mematuhi petuah ayahnya.
Tibalah hari keberangkatan mereka, pagi-pagi dengan membawa bekal secukupnya serta diantar oleh kedua orang tua mereka, menuju ke tepi sungai dan berangkat mengayuh perahu ke arah hulu. Cukup lama dan jauh mereka berkayuh sambil melihat ciri-ciri alam yang menun-jukkan bahwa di tempat tersebut banyak damar.
Ketika menemukannya maka berhentilah di situ dan ditambatkan-lah perahu serta mereka naik ke darat. Kemudian mereka membuat pondok yang cukup besar tidak jauh dari tepi sungai.
Malam harinya mereka bersenda-gurau sambil mengatur rencana kerja esok hari, sementara adik mereka si bungsu sibuk mempersiapkan makan malam dan peralatan untuk besok.
Malam pun larut, setelah puas bercanda tertidur lelaplah mereka itu semuanya. Menjelang pagi si bungsu bangun terlebih dahulu menyediakan makan pagi seadanya. Setelah semua selesai sarapan berangkatlah mereka masuk hutan belantara yang belum pernah dijamah manusia untuk mengumpulkan damar.
Ketika hari menjelang senja, si bungsu mereka suruh pulang duluan ke pondok untuk mempersiapkan makanan. Kelima kakaknya menyusul pulang dengan membawa damar. Sesampainya di pondok sebagian ada yang mandi dan sebagian lagi beristirahat.
Sesudah makan, sambil bercanda kelima kakaknya membual. Seorang diantaranya berkata : “Seandainya ada wanita yang menemani kita sekaligus menyiapkan makanan dan menemani tidur di malam hari, maka tidak terasa lelah yang kita rasakan seharian bekerja. Tapi sayang jika ada wanitanya hanya lima orang. Jadi kau bungsu tidak kebagian”.
Ucapan ini disambut dengan gelak tawa dari yang lainnya. Sementara adiknya si bungsu hanya berdiam diri, meskipun jadi bahan tertawaan kakak-kakaknya. Namun ia tidak marah kepada mereka itu.
Singkat cerita keenam bersaudara ini telah memasuki hari ketiga berada di hutan itu. Mengingat sudah banyak damar yang terkumpul, mereka berencana akan pulang pada hari berikutnya. Seperti biasanya mereka berangkat pagi-pagi, namun sebelumnya si bungsu sudah bangun terlebih dahulu menyiapkan makan pagi dan bekal mereka.
Berangkatlah keenam bersaudara tersebut masuk hutan, semakin ke dalam mereka masuk semakin banyak damar yang ditemukan, hingga tidak terasa hari telah menjelang senja. Dipanggil si sulunglah adik-adiknya seraya katanya : “Kupikir kita cepat pulang saja hari ini. Selain telah banyak yang kita peroleh, ditambah yang sudah terkumpul di pondok, maka kurasa cukup sudah usaha kita untuk kali ini. Baik kita beristirahat karena besok kita pulang”.
Bergegas mereka pulang dengan menyuruh si bungsu terlebih dahulu untuk mempersiapkan makanan. Matahari mulai tenggelam, si bungsu telah mendekati pondok, tetapi ia terperanjat karena mencium bau harum masakan dan ketika semakin dekat mendengar suara hiruk pikuk gaduh memasak diseling canda tawa. Si bungsu memperjelas pendengarannya seraya mengendap-endap mengintip ke dalam pondok. Sungguh terkejut ia melihat, ternyata ada enam orang wanita cantik sedang sibuk memasak di dapur sambil tertawa cekikikan.
Si bungsu segera berlari kembali mendapatkan kakak-kakaknya dan berkata : “Kak, jangan masuk ke pondok dulu. Kulihat ada beberapa orang wanita di dalamnya”. Saudara-saudaranya penasaran atas laporan si bungsu. Dari jauh mereka telah mencium bau harum masakan.
Segera mereka mendekat dan meletakkan karung damar di luar pondok, seraya membuka pintu. Terlihat nyating (lampu dari damar) telah menyala dan di lantai beralaskan tikar sudah tersaji makanan, dengan wanita cantik yang ramah mempersilahkan mereka makan. Sementara itu si bungsu tetap berada di luar dan pura-pura sibuk menyusun damar yang mereka bawa.
Tanpa pikir panjang langsung kelima saudaranya menyerbu makanan karena sudah lapar. Salah seorang berkata : “Seperti inilah maksudku, jika kita pulang telah tersedia makanan. Pakaian telah bersih dicucikan dan terlipat rapi”.
“Meskipun selamanya tinggal di tempat ini aku bersedia, karena ada wanita-wanita cantik yang melayani”, timpal yang lainnya.
Canda tersebut disambut dengan gelak tawa semua yang ada dalam pondok, kemudian kakak-kakaknya memanggil si bungsu agar segera masuk. Tetapi dijawab si bungsu tunggu sebentar karena ia ingin menimba perahu dahulu yang hampir karam penuh air.
Mereka pun makan dengan lahap, sementara para wanita cantik itu mulai berbaring di kasur, sambil menggoda mereka agar segera setelah makan ikut berbaring. Bertambah semangatlah mereka makan, sesudah merasa kenyang satu persatu segera mendatangi wanita-wanita cantik itu. Terdengar oleh si bungsu dari tepi sungai, suara tawa canda dan rayuan serta tertawa genit yang melengking. Segera setelah selesai menimba, naiklah si bungsu kembali ke atas diam-diam dan masuk ke bawah pondok.
Menjelang tengah malam suara saudara-saudaranya dalam pondok berkurang namun pondok bergoyang dan berderit, diselingi desah napas dan tawa genit mereka. Kemudian lama-kelamaan suara di dalam pondok berubah menjadi suara rintihan kesakitan dan teriakan panjang saudara-saudaranya. Tatkala si bungsu menengok ke atas lewat lubang lantai, bersamaan dengan itu tepat di wajahnya mengucur sesuatu yang basah. Si bungsu meraba cairan tersebut dan mengenalinya, itulah darah dan berbau anyir.
Si bungsu tahu ada yang tidak beres dan para wanita tersebut adalah nyaring (hantu rimba, sejenis kuntilanak). Ia lalu berlari ke arah perahu yang ada di tepi sungai, sementara dari dalam pondok masih terdengar suara erangan kesakitan dan lengkingan tawa para nyaring itu.
Karena nyaring yang bungsu tidak ada pasangan dan terlalu lama menunggu si bungsu, walau dipanggil kakak-kakaknya tidak menyahut, melesatlah nyaring itu terbang mengejar ke arah sungai. Si bungsu sudah memotong tali tambatan perahu dan mengayuh sekuat-kuatnya ke hilir menjauhi tempat itu. Tidak begitu jauh, di tengah sungai si bungsu mendengar suara lengkingan dan cekikikan nyaring yang mengejarnya, si bungsu mengayuh perahu sekuat tenaga.
Begitu nyaring sudah dekat dan tepat berada di atasnya serta bersiap hendak menerkam, maka dengan gerak cepat pula si bungsu menceburkan dirinya ke air. Kemudian ia membalikkan perahunya hingga bagian bawah perahu menjadi ke atas dan si bungsu berada di dalam perahu yang tertelungkup itu jadinya, dengan sedikit ruang untuk menempatkan kepalanya serta bernapas.
Dari dalam air si bungsu mendengar suara perahunya seperti dicakar-cakar dari atas, rupanya nyaring itu penasaran karena belum dapat memangsanya. Lama si bungsu berada di dalam air, sementara itu suara cakaran tetap kuat meskipun kayu bahan perahu itu cukup tebal dan dari kayu ulin. Sejenak si bungsu mendengar suara ayam berkokok, ia berharap agar hari cepat siang.

=bersambung=

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 28/07/2010 11:26 PM
#76
Asal Desa Tumbang Laku 2
Asal Desa Tumbang Laku

Sesaat kemudian dasar perahu di atas kepalanya berlubang sedikit, lalu tembuslah lima jari nyaring itu dengan kukunya yang runcing dan tajam hampir mengenai muka si bungsu. Tanpa pikir panjang dipatahkannya kuku itu satu persatu dan terdengar jeritan nyaring itu kesakitan. Tak lama kemudian tembus lagi lima jari sebelah tangan nyaring itu yang lainnya juga dengan kukunya yang panjang. Tanpa membuang waktu pula kembali dengan cepat si bungsu mematahkan kelima kuku yang lengket tersebut disertai jeritan kesakitan si nyaring.
Sesudah itu tidak ada lagi suara cakaran pada kayu perahu, si bungsu mendengar suara ayam bersahut-sahutan tanda dekat kampung dan dari lubang terlihat langit mulai terang. Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang pilu dari luar.
Lalu terdengar suara perempuan memanggil si bungsu dari atas diselingi isak tangis dengan suara memelas dan menghiba: “Wahai bungsu keluarlah, jangan takut, karena aku sudah berubah menjadi manusia”.
Si bungsu tidak mudah percaya begitu saja, terlebih mengingat peristiwa yang telah terjadi tadi malam terhadap saudara-saudaranya. Beberapa saat sesudah itu masuklah sinar matahari ke dalam perahu dan suara kokok ayam sangat jelas pertanda kampung sangat dekat.
Si bungsu pun berani mengambil resiko membalikkan kembali perahunya seperti keadaan semula, dengan pertimbangan apabila nyaring itu berbohong, ia akan mengadakan perlawanan sambil berteriak karena orang-orang pasti sudah ada yang turun ke sungai untuk mandi atau membawa serta nyaring tersebut ke dalam air.
Karena si bungsu berpikir, apabila nyaring itu bisa masuk air tentu tadi malam ia sudah dimangsanya. Sementara di atas pun masih terdengar suara tangisan kecil. Kemudian si bungsu mengumpulkan tenaganya dan pada hitungan ketiga dibalikkannya perahu itu seperti keadaan semula, lalu naik ke atasnya.
Di tengah perahu seorang wanita menghadapinya sambil menunduk menimba air dalam perahu yang bocor. Si bungsu menatapnya dengan hati-hati dan selalu waspada apabila terjadi sesuatu.
Sesaat kemudian dengan perlahan wanita di depannya meng-angkat kepalanya hingga terlihat jelas raut wajahnya.
Si bungsu memperhatikan dengan seksama dan ia terkesima, ternyata wanita di depannya yang tadi malam adalah nyaring memiliki paras yang sangat cantik, kulitnya putih dan kemerah-merahan terkena sinar matahari. Ketika kedua bola mata mereka bertatapan, wanita tadi tersenyum seraya menyapu sisa air matanya yang membasahi pipinya. Wanita itu pun terlebih dahulu membuka percakapan bahwa si bungsu tidak perlu takut karena sekarang ia sudah menjadi manusia.
Kemudian si bungsu merapatkan perahunya ke tepi dan mengikatkannya di lanting, orang-orang yang ada di lanting keheranan melihat si bungsu pulang tanpa bersama-sama saudaranya dan justru membawa seorang wanita muda yang cantik. Si bungsu tidak menghiraukan kebingungan dan pertanyaan orang-orang tersebut. Dengan sedikit canggung si bungsu mempersilahkan wanita tersebut turun dan membawanya naik ke rumah.
Lebih terkejut lagi kedua orang tua si bungsu yang sudah tua melihat kedatangannya bersama wanita tersebut, sementara kelima kakaknya tidak bersamanya. Setelah menceriterakan panjang lebar kejadian yang menimpa mereka dan keberadaan wanita yang ikut bersamanya, tanpa terasa meneteslah air mata kedua orang tuanya.
Para tetuha desa dan kerabat mereka turut bersedih bercampur haru mendengar cerita si bungsu sambil sekali-sekali menatap wajah wanita jelmaan dari nyaring yang menjadi manusia itu. Dalam hati mereka dan sebagian berbisik, pantas saja si bungsu membawanya pulang sebab nyaring itu sangat cantik dan rupawan.
Gemparlah seluruh penghuni desa, tanpa banyak komentar orang tua si bungsu sepakat mengambil jenazah anak-anaknya dengan ditemani beberapa tetuha dan para pemuda desa. Beberapa perahu beramai-ramai berangkat mengambil jenazah yang ada di dalam hutan sebelah hulu sungai. Sementara yang lainnya berangkat, sebagian kerabat si bungsu beserta para penduduk desa bersiap-siap menyambut kedatangan mereka.
Di rumah si bungsu masih berkumpul para tokoh adat dan agama untuk melaksanakan acara mamalas (membersihkan diri) si bungsu dan terutama wanita itu agar dapat diterima di dunia dan menjadi warga desa itu.
Sore harinya datanglah rombongan para tetuha dan pemuda yang membawa mayat kelima bersaudara tersebut. Ramailah desa itu karena orang-orang berdatangan dari beberapa desa terdekat. Malam harinya lebih ramai lagi karena berbagai acara adat, banyak yang tidak tidur serta sebagian para pemuda dan pemudi berkumpul mengelompok bercerita. Ada yang ngeri, terharu serta sebagian lagi salut kepada si bungsu, terlebih ketika melihat wajah wanita jelmaan nyaring itu yang berubah menjadi manusia biasa yang sangat cantik dengan kulit yang halus mulus.
Walau rumahnya sangat ramai terlihat si bungsu duduk sendiri di pojok, sambil menatap sedih kelima jenazah kakaknya. Dari jauh wanita jelmaan nyaring itu melihat si bungsu yang menyendiri, maka pamitlah ia dengan para ibu-ibu dan pemudi di dekatnya untuk kemudian mendekati si bungsu.
Dihiburnya si bungsu sambil meminta maaf atas peristiwa yang telah terjadi dan wanita itu membisikkan ke telinga si bungsu, apabila berkenan dan mau menerimanya maka ia bersedia dipersunting menjadi isteri si bungsu.
Mendengar kata-kata nyaring itu si bungsu tidak bergeming, hanya diraihnya tangan wanita disampingnya itu lalu menggenggam- nya erat-erat dengan perasaan antara sedih, haru dan bahagia. Entah berapa lama keduanya terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing dan lalu tertidur di situ karena kelelahan.
Tak terasa pagi pun tiba, si bungsu dan wanita itu terbangun dari tidur di dekat jenazah kelima saudaranya, sementara kerabat dan sanak saudara yang tidak tidur semalaman, sedang sibuk mempersiapkan acara pemakaman kelima saudaranya. Sebagian lagi membuat lima buah sapundu (patung kayu) dan menancapkan di depan rumah.
Setelah siang hari seluruh keluarga dan warga desa memakamkan jenazah tersebut di seberang desa. Setelah tiba di rumah pihak keluarga dan kerabat yang masih ada kembali bermufakat untuk melanjutkan rangkaian acara kematian, kemudian membicarakan rencana pernikahan si bungsu dengan wanita yang dibawanya pulang itu. Hari dan waktunya pun ditentukan yaitu lima hari sesudah acara mamalas dari keluarga yang ditinggalkan.
Tibalah hari pernikahan si bungsu, seluruh warga desa bersukacita karena telah habis masa berkabung. Undangan yang datang sangat banyak karena berdatangan dari beberapa desa tetangga, sebagian hanya ingin melihat acara tersebut. Di pelaminan duduklah kedua mempelai di atas dua buah garantung (gong) dan setelah upacara adat selesai baru mereka berdua menerima dan menyalami para tamu.
Terlihat keduanya sangat serasi, si bungsu sebagai pengantin pria duduk dengan gagah serta tampannya, sedang sang mempelai wanita sangat anggun, cantik dan mempesona, membuat yang melihat berdecak kagum serta iri. Tidak sedikit pula ada beberapa gadis desa yang berbisik syirik, ah meskipun begitu tetap saja bekas nyaring. Namun kerumunan para pemuda desa dan teman sebaya si bungsu menggodanya, mengatakan si bungsu beruntung mendapatkan bidadari.
Pasangan muda ini hidup normal seperti lainnya, lalu hamillah isteri si bungsu dan memiliki banyak anak. Sampai sekarang keturunan mereka (cucu bahkan cicitnya) masih ada yang menetap di desa itu dan sebagian lagi di daerah lain, bersekolah tinggi dan menjadi pegawai di pemerintahan. Adapun cici-ciri fisiknya berkulit putih bersih, terutama para wanitanya cantik dan menawan.
Ketika melihat kehidupan manusia yang penuh dengan kasih sayang serta terbersit perasaan untuk menebus kesalahan saudara-saudaranya karena telah membunuh kakak-kakak si bungsu, muncul keinginan nyaring yang juga kebetulan bungsu ini menjadi manusia.
Ia pun balaku (bahasa Dayak Ngaju artinya meminta) kepada Yang Maha Kuasa agar dapat menjadi manusia seutuhnya dalam arti hilang semua karakteristiknya sebagai iblis. Dan ia juga balaku pada si bungsu agar diambil sebagai isteri. Dusun itu terletak dekat sebuah sungai kecil yang lalu dinamakan sungai Balaku. Sekarang dusun itu telah menjadi sebuah desa yang lalu dinamai Tumbang Laku (lebih mudah dan praktis penyebutannya daripada Balaku), termasuk wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan. ***

Isen Mulang Petehku
QueenBeeAcie - 29/07/2010 05:51 PM
#77

Quote:
Original Posted By TuaGila
Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang
Legenda Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang, merupakan legenda di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange di hulu Kahayan yang menceritakan berdirinya Kuta atau Benteng diatas Batu Suli Puruk Tamanggung.
Diceritakan, pada suatu hari, disaat semua orang di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange sedang berada di ladang karena pada saat itu memang sedang musim panen, tanpa disangka datanglah segerombolan Kayau dari suku Ot menyerang desa tersebut.
Disaat serangan terjadi, yang ada hanyalah beberapa orang kaum perempuan yang sedang mencuci pakaian dipinggir sungai Kahayan. Salah satunya adalah Nyai Inai Rawang istri dari Toendan yang bergelar Tamanggung Amai Rawang.
Akibat serangan tersebut, banyak yang mati, terluka maupun melarikan diri. Disaat Tamanggung Amai Rawang beserta adiknya Tewek yang bergelar Singa Puai pulang dari ladang, terkejutlah mereka melihat keadaan yang telah terjadi.
Maka disuruhnyalah Singa Puai untuk memanggil kembali kakak mereka yang tertua yang bernama Ucek beserta semua orang yang sedang bekerja diladang untuk mengadakan pembalasan.
Namun malang, ternyata gerombolan Kayau tersebut setelah menyerang kaum perempuan yang ada di Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, mereka juga datang menyerang orang-orang yang sedang bekerja diladang, sehingga banyak mati dan terluka parah.
Dan sebelum gerombolan Kayau tersebut pulang, mereka sempat berpesan bahwa dalam tempo tujuh hari lagi mereka datang kembali.
Bila warga desa Upun Batu atau Tumbang Manange ingin selamat, mereka harus menyerahkan harta kekayaan mereka dan rela dijadikan budak.Namun bila mereka tidak mau menyerahkan harta benda, maka mereka akan dibunuh semuanya. Sebagai tanda ancaman tersebut, tertancaplah sebuah Sampalak, yaitu tanda bahwa daerah tersebut akan diserang atau di Kayau.
Kini tinggallah Tamanggung Amai Rawang beserta saudara-saudaranya dan segelintir warga desa yang tersisa, duduk termenung memikirkan bencana yang baru saja menimpa mereka. Ingin mengadakan pembalasan, apa daya kekuatan sudah tidak ada lagi.
Sehingga akhirnya muncullah ide untuk Manajah Antang, yaitu upacara memanggil burung Elang yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari para Antang Patahu, yaitu roh-roh leluhur yang bertugas sebagai dayang penunggu wilayah untuk meminta petunjuk dan pertolongan.
Tidak beberapa lama, upacara Manajah Antang pun dilakukan. Berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh para Antang Patahu, bahwa Tamanggung Amai Rawang haruslah mendirikan kuta ataupun benteng diatas bukit batu yang terletak di tengah sungai, berseberangan dengan desa Upun Batu atau Tumbang Manange.
Apabila musuh datang dari arah matahari terbenam, maka mereka harus lari, sebab menandakan mereka akan kalah. Namun bila musuh datang dari arah matahari terbit, itu berarti mereka akan menang.
Dan Tamanggung Amai Rawang tidak boleh mencabut senjata mandaunya untuk menghalau musuh. Ia cukup duduk diatas gong sambil menonton apa yang terjadi, sebab para Antang Patahulah yang akan berperang baginya.
Ternyata, pada hari yang telah ditentukan, datanglah gerombolan Kayau untuk menyerang kembali Desa Upun Batu atau Tumbang Manange. Mereka datang dari arah matahari terbit dengan tampang yang ganas.
Namun sebelum mereka dapat menyentuh Tamanggung Amai Rawang, mereka sudah berjatuhan karena diserang oleh para Antang Patahu. Gerombolan Kayau tersebut takluk dan bersedia menjadi pengikut dari Tamanggung Amai Rawang.
Desa Upun Batu atau Tumbang Manange, akhirnya menjadi aman tentram kembali seperti dahulu kala berkat pertolongan para Antang Patahu yang adalah pengejawantahan dari pertolongan Tuhan Yang Maha Esa sebagai wujud jawaban dari upacara Tamanggung Amai Rawang Manajah Antang.***

Isen Mulang Petehku


TuaGila - 30/07/2010 12:56 AM
#78

Quote:
Original Posted By QueenBeeAcie


duh bu jangan pakai icon doang dong coment nya tambahilah sepatah dua patah kata

Isen Mulang Petehku
QueenBeeAcie - 31/07/2010 06:24 PM
#79

Quote:
Original Posted By TuaGila
duh bu jangan pakai icon doang dong coment nya tambahilah sepatah dua patah kata

Isen Mulang Petehku


hehehehe

jangan pernah berhenti menelusuri cerita" rakyat, cerpen, puisi,cerbung atau karya seni lainnya sebagai warisan budaya lokal yang harus di kembangkan serta disosialisasikan dimasyarakat,,,khususnya dkota palangka,,,, keep ur spirit,,,
salam sastra
TuaGila - 01/08/2010 01:33 AM
#80

Quote:
Original Posted By QueenBeeAcie
hehehehe

jangan pernah berhenti menelusuri cerita" rakyat, cerpen, puisi,cerbung atau karya seni lainnya sebagai warisan budaya lokal yang harus di kembangkan serta disosialisasikan dimasyarakat,,,khususnya dkota palangka,,,, keep ur spirit,,,
salam sastra


yup karena kepedulianlah saya mencoba terus mencari cerita2 rakyat kalteng karena BAHASA DAYAK pun sepertinya bakalan hilang karena kebanyakan orang Palangka Raya yang orang Dayakpun ada yang ndak bisa berbahasa Dayak ops salah jadi ndak nyambung yah heheheh.....

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 12/09/2010 06:47 PM
#81
Batu Papar Takalak
Batu Papar Takalak

Di tengah rimba belantara Kalimantan Tengah, hidup berbagai macam satwa dengan ukuran yang sangat besar. Banyak keajaiban dan peninggalan alam yang mempunyai kenangan dan ceritanya sangat dihayati oleh masyarakat sekitarnya.
Di perairan sungai Seruyan konon terdapat batu bersusun seperti bukit kecil di tengah sungai dan agak ke hilirnya ada batu yang seperti sengaja disisihkan ke pinggir sungai dengan rapi atau dipapar sehingga hanya cukup untuk lewat kapal kecil atau klotok dan juga di ujungnya ada batu seperti bubu (tampirai, alat penangkap ikan) yang disebut takalak karena saking besarnya.
Menurut legenda masyarakat memang benar dahulu jenis satwa memiliki ukuran sangat besar dan masing-masing binatang itu ingin mempunyai daerah wilayah kekuasaan tertentu, tempat jenisnya hidup dan berkembang biak. Adalah orang hutan yang menguasai rimba belantara dan buaya yang menguasai perairan dan sungai.
Pada suatu hari orang hutan yang mempunyai anak, ingin turun ke air untuk minum karena kehausan, sebab sudah beberapa waktu tidak ada hujan turun hingga di hutan airnya kering. Setiba di sungai minumlah mereka bertiga, induk orang hutan, orang hutan jantan ayahnya dan anaknya sepuas hati.
Karena tempat mereka bertiga minum cukup dalam dan banyak ikan berkumpul, sehingga timbullah keinginan mereka mengambil ikan meskipun mereka tahu di situ adalah wilayah kekuasaan buaya. Maka turunlah kedua orang hutan tersebut ke air menangkap ikan. Mengingat anaknya yang kecil belum bisa berenang dan membantu, maka didudukkannyalah anaknya di atas batu di tepi sungai.
Karena asyiknya menangkap ikan dan sambil memakannya, setelah merasa kenyang dan tangkapan banyak barulah naik ke atas. Ketika melihat di atas batu anaknya yang menunggu sambil bermain tidak ada, sementara untuk naik sendiri ke atas tebing tidak mungkin, tahulah mereka bahwa anaknya pasti diambil dan ditelan oleh buaya.
Mereka berdua pun segera mencari buaya dengan menyelam ke dalam air namun tetap tidak bertemu, lalu mereka berdua mengangkat batu-batu di dasar sungai dan menumpuknya. Karena mereka berpikir buaya bersembunyi di balik batu, tetapi nyatanya tidak ketemu juga meski batuan sudah habis terangkat bertumpuk tinggi di permukaan air.
Mereka berdua hampir putus asa karena tidak menemukan buaya, namun sang orang hutan jantan segera mendapat akal agar dapat menemukan sang buaya.
Maka disuruhnyalah orang hutan betina ke hulu menutup sungai tetapi dibuka sedikit dan dipasangi takalak, sementara sang orang hutan jantan berlari cepat ke hilir selanjutnya dari hilir sang orang hutan jantan mengangkat menyisihkan batu ke pinggir sungai sambil terus maju ke arah hulu.
Betul seperti apa yang direncanakan sang orang hutan jantan, rupanya sang buaya berada di tengahnya bersembunyi, karena sang orang hutan jantan terus maju ke hulu, sementara tempat bersembunyi tidak ada karena batu-batu habis diangkat ke tepi.
Sang buaya pun terus mundur ke hulu dengan cepat karena berharap bisa lolos dan meski di hulu ada orang hutan betina yang menjaga sang buaya yakin mampu mengatasi dan mengalahkannya.
Perhitungan sang buaya salah, ternyata di hulu telah dibendung dan telah dipasang takalak agar bila sang buaya menerobos maka akan terperangkap masuk.
Sementara jarak semakin dekat dengan sang orang hutan jantan tapi bila terus ke hulu melewati takalak akan terperangkap. Sang buaya memilih jalan satu-satunya yaitu menghadapi sang orang hutan jantan sembari mengharap keberuntungan bisa mengalahkannya.
Akhirnya sang buaya menampakkan diri dengan mengangakan mulut memperlihatkan giginya yang tajam dan runcing langsung menyerang sang orang hutan jantan. Dengan tubuh yang kekar dan tegap begitu sang buaya menerkamnya, penuh percaya diri sang orang hutan jantan menangkap kedua moncong buaya dan terjadilah pergumulan beberapa saat di air.
Sang buaya kewalahan karena punggungnya diduduki sang orang hutan jantan sementara ekornya dijepit menggunakan kaki, maka dengan sekuat tenaga sang orang hutan jantan membuka lebar-lebar mulut buaya hingga robek sampai ke perutnya, terlihatlah anaknya pingsan dengan ada luka kena taring buaya, lalu sang orang hutan betina mengambil anaknya.
Sejurus kemudian sang orang hutan jantan sambil menumpahkan amarahnya, menarik lidah buaya sembari mengutuknya tidak akan ada lagi buaya punya lidah dan sebagai peringatan bahwa buaya tidak boleh memangsa orang hutan. Lidah buaya itu kemudian dibuangnya ke atas tebing sungai (daratan), itulah asal muasal tanaman lidah buaya yang tumbuh hingga sekarang ini.
Sampai sekarang Batu Papar Takalak masih ada, setiap orang yang mudik ke hulu sungai Seruyan melewati air akan melihat batu tersusun di pinggir kanan sungai dan sedikit ke hulunya ada tumpukan batu agak membukit di tengah sungai.
Apabila musim kemarau maka setiap perahu atau klotok yang mudik akan kesulitan melewati Batu Papar Takalak bahkan kadang perahunya yang diangkat. Tempatnya di riam Gading, hilir desa Panyumpa, termasuk wilayah kecamatan Seruyan Tengah kabupaten Seruyan. ***

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 26/09/2010 11:45 PM
#82
Kutukan di dusun dahian undang
KUTUKAN DI DUSUN DAHIAN UNDANG
Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu di tepi sungai Katingan terletaklah dusun Dahian Undang. Suatu ketika kemarau panjang melanda sungai Katingan ini, sungai-sungai kecil dan bendar-bendar yang terletak di antara pepohonan sudah mengering. Di beberapa tempat di perairan sungai Katingan gosong bermunculan dan sungai dapat diseberangi hanya dengan berjalan kaki, sebab airnya hanya tenggelam setengah betis saja.
Di suatu senja hari penduduk Dahian Undang seluruhnya meluruk menonton suatu keadaan di seberang sungai atau tempat kediaman mereka itu. Sekitar lebih dari tiga puluh ekor orang hutan berada di tepi sungai, nampaknya mereka ingin minum. Hal seperti ini biasa selalu terjadi di mana kawanan satwa berbondong-bondong ke tepi sungai mencari air, apalagi dalam musim kering seperti ini.
Tetapi kali ini setelah minum sepuas-puasnya, orang hutan-orang hutan itu tidak segera kembali ke dalam rimba. Mereka bermain perang-perangan dengan saling melontarkan tombak dari batang tumbuhan bamban (sejenis tumbuhan rawa yang berba-tang lurus, kulitnya luarnya licin; biasa kulit luar yang licin ini diambil, dikeringkan dan dianyam menjadi bakul untuk mencuci beras), layaknya seperti yang dilakukan manusia dalam upacara laluhan (perahu yang mengantarkan bantuan bahan makanan dan sebagainya dari suatu desa untuk upacara tiwah di sebuah desa; desa yang dibantu menyambut kedatangan bantuan dengan acara menombaki perahu itu dan saling berbalasan). Perbuatan mereka itu sangat lucu karena gerakannya sangat menggelikan, hingga anak-anak senang melihatnya.
Memang di seberang dusun itu banyak tumbuh batang bamban. Biasanya warga memotongnya dahulu kemudian menjemurnya di atas pasir gosong sungai, lalu beberapa hari kemudian mengambilnya setelah agak kering.
Bamban yang sudah terpotong inilah yang digunakan orang hutan itu sebagai tombak. Esok harinya kembali orang hutan-orang hutan itu datang ke tepi sungai untuk minum dan bermain-main. Orang banyak sedusun, di tepi sungai seberang sini, tua muda besar kecil lelaki maupun perempuan, berkerumun untuk menyaksikan perbuatan orang hutan-orang hutan tersebut. Setelah semuanya minum, nampaknya mereka mau bermain-main lagi seperti kemarin. Tombak batang bamban mulai meluncur saling berbalas.
Namun mendadak terjadi perubahan. Jerit kegembiraan mereka berubah menjadi kegusaran, yang dilanjutkan dengan saling gigit dan terkam di antara mereka. Terjadilah perkelahian antara dua kelompok yang berlangsung semakin seru.
Sebagian mulai berjatuhan tewas akibat gigitan dan rangkulan yang meremukkan tulang. Akhirnya tinggal dua ekor yang terbesar saling berhadapan, yang kesudahannya sama-sama rebah terkapar berlumuran darah. Mayat mereka bergelimpangan di atas gosong tepi sungai. Penduduk Dahian Undang yang menonton, sempat ternganga melihat kejadian itu. Selanjutnya mereka lalu beramai-ramai menyeberang untuk mengetahui apa penyebabnya.
Ternyata semua yang tewas itu berkelamin jantan, tidak terdapat betina dan anak-anak. Dan ketika diteliti ternyata di antara tombak-tombak batang bamban itu terdapat beberapa batang yang benar-benar tombak, dengan ujungnya dari besi yang tajam dan mematikan. Seorang di antara para pemuda penduduk dusun Dahian Undang itu mengaku bahwa dia telah meletakkan beberapa batang tombak yang benar di antara rumpun-rumpun bamban tersebut sebelumnya.
“Sengaja kuletakkan beberapa batang tombak milik kami di tempat mereka mengambil batang bamban. Maksudku hanyalah agar pertempuran pura-pura itu menjadi lebih seru. Lagi pula mata tombak kami ujungnya dapat tercuci dengan darah sebab mulai karatan”, ujar Parek mengaku. Orang banyak tertegun mendengar penjelasannya.
Malam harinya pemuda usil itu bermimpi. Ia dijumpai seorang lelaki tua gundul, yang mendekatinya lalu berkata : “Kami tidak pernah mengganggu kehidupan kalian di dusun seberang. Perbuatan kami hanya untuk bersenang-senang melupakan kesulitan hidup menghadapi kemarau panjang ini. Sampai hatimu menyelipkan tombak yang benar di antara batang bamban itu, hingga kami terluka dan berkelahi sesama kami. Seluruh orang hutan dewasa di kelompok kami telah mati ulah perbuatanmu. Kalian kelak akan mengalami hal yang sama seperti yang kami alami siang tadi !”
Sehabis ucapan orang tua itu Parek terbangun karena suara guntur yang menggemuruh disertai tiupan angin kencang. Parek duduk termenung memikirkan mimpinya itu hingga malam menjelang siang.
Pagi harinya Parek menceriterakan mimpinya itu pada teman-temannya. Beberapa orang tua yang kebetulan hadir tertarik mendengarnya dan ingin merundingkannya lebih lanjut guna membahas cara menghadapi kutukan itu.
Tetapi ayah Parek, pemuda usilan itu, malah menghardik anaknya dan nampak tak mau bertanggung jawab. Ia lalu berkata : “Engkau keterlaluan, sudah kau kacaukan permainan orang hutan menjadi ajang kematian mereka. Sekarang kau ingin mengajak orang sedusun untuk berpesta menolak bala. Hai sekalian warga jangan pedulikan ocehannya !”
Musim kemarau telah berlalu, peristiwa itu terlupakan dengan tidak terlihatnya tanda-tanda adanya kesulitan. Panen menjadi (berhasil) dilanjutkan dengan musim durian yang lebat. Warga dusun Dahian Undang itu bersatu kata bulat mufakat untuk melaksanakan hajat mengadakan pesta syukur kepada Sangiang – Jata (nama penguasa alam atas dan alam bawah) yang telah memberkahi mereka dengan hasil panen yang melimpah. Upacara balian sahur dilaksanakan selama tiga hari tiga malam, tujuh tetuha memukul gendang sambil melantunkan nyanyian hikmat mengenai perjalanan para dewa.
Selesai upacara dilanjutkan dengan minum-minum baram (sejenis tuak) tanpa pandang bulu dan jenis kelamin. Sulang menyulang antara lelaki dan wanita dengan kapasitas paling tidak seorang menghabiskan isi sepasang tanduk kerbau.
Sedangkan bocah-bocah berusia di bawah belasan tahun lain pula ulahnya. Ada yang bermain gasing, balogo (kepingan tempurung kelapa) dan mengadu jangkerik.
Mendadak di kelompok anak-anak yang mengadu jangkerik gempar. Seorang bocah keluar dari kerumunan seraya menangis tersedu-sedu dengan jari telunjuknya berdarah.
“Jari telunjuk Tengang digigit jangkeriknya Buhis”, kata seorang anak menjelaskan kepada kelompok yang berdatangan ingin tahu.
Namun ada lagi yang menambahkan dengan tujuan agar lebih ramai saja yakni : “Buhis menggigit jari telunjuk Tengang hingga hampir putus”.
Tengang masih saja menangis dan malah semakin keras. Di antara anak-anak itu ada yang usil mendengarnya, sebab itu ia lalu berteriak berkali-kali dengan kata-kata yang berlebihan : “Buhis menggigit telunjuk Tengang sampai putus !”
Saat itu kebetulan ayah Tengang keluar dari betang hendak buang air kecil. Terdengar olehnya, yang dalam keadaan mabuk itu, suara teriakan-teriakan itu. Dikiranya hal ini benar-benar terjadi. Setelah melaksanakan hajatnya segera ia mendekati kelompok anak-anak itu. Di waktu yang bersamaan ia berpapasan dengan Buhis yang keluar dari kelompok itu ingin menjauh.
Tanpa ba bu lagi Buhis lalu ditamparnya dan ditendangnya berkali-kali tanpa kasihan. Buhis menjerit kesakitan dan akhirnya jatuh pingsan.
Ayah Buhis yang juga mabuk, keluar dan sempat melihat kejadian itu. Ia mendekati ayah Tengang seraya berkata : “Apa sebabnya kau menyakiti anakku ?”
“Anakmu sudah menggigit putus jari anakku !” jawab ayah Tengang ketus.
“Keterlaluan kau pahari (saudara), beraninya hanya dengan anak kecil. Kalau sampai anakku mencederai anakmu, masih ada penyelesaiannya dengan baik”, kata ayah Buhis lagi.
Seorang adik ayah Buhis dengan garang berkata : “Jangan banyak bicara lagi. Labrak saja ! Anakmu sudah pingsan dibuatnya”.
Akhirnya keluarga masing-masing kedua ayah anak itu saling berhadapan dan berkelahi dengan serunya. Keadaan menjadi semakin ramai karena teman-teman setiap keluarga turut membantu dan jadilah perkelahian ini menjadi perkelahian antara dua kelompok. Beberapa orang yang datang dengan niat untuk melerai perkelahian itu, menjadi terlibat dalam perkelahian, karena disangka datang untuk membantu salah satu pihak.
Perkelahian tangan kosong akhirnya meningkat menjadi perkelahian bersenjata. Badik, mandau, duhung, tombak sampai serapang penusuk ikan sungai dan alu penumbuk padi dimainkan kedua belah pihak. Jeritan anak-anak dan kaum wanita bercampur dengan pekik kemarahan dan kesakitan dari mereka-mereka yang sedang mengamuk. Mereka berkelahi bagaikan kesetanan, saling kejar dan jika terjatuh pasti dicencang lumat.
Beberapa jam kemudian perkelahian berhenti dengan sendirinya, tidak ada lagi yang sanggup meneruskannya. Semua lelaki sudah bergelimpangan di sana sini dalam keadaan tidak bernyawa, sedang sekarat atau terluka parah.
Tangisan kehilangan bergema di udara senja dari wanita kematian suami, ibu kematian anak dan gadis kematian kekasihnya. Suara gandang (gendang) dan garantung (gong) beberapa hari sebelumnya, yang mengiringi suasana kegembiraan, berubah menjadi irama yang mengiringi penjemputan oleh sakaratul maut dan kepergian roh-roh.
Penduduk desa yang berdekatan lalu berdatangan untuk menyatakan bela sungkawa dan membantu merawat yang terluka parah serta menguburkan yang tiada bernyawa. Awan duka menyelimuti dusun itu.
Sejak itu dusun Dahian Undang ditinggalkan penghuninya yang masih hidup, terutama wanita dan anak-anak, menyebar ke desa-desa sekitarnya serta kampung-kampung lain yang terikat hubungan keluarga. Diperkirakan dusun ini dahulu tidak jauh letaknya dari desa Dahian Tunggal sekarang, termasuk dalam wilayah kecamatan Pulau Malan.
Nama Dahian Undang sendiri berasal dari kata Dahian yang artinya durian (buah duren), sedangkan Undang adalah nama jenis buah durian yang sangat enak, tebal daging buahnya serta manis. ***

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 29/10/2010 02:10 PM
#83
Asal Usul Desa Palantaran
Asal Usul Desa Palantaran

Sejak resmi berdirinya Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Tengah tanggal 23 Mei 1957 dengan ibukota-nya Palangka Raya, wilayahnya secara administratif terdiri atas satu kotamadya dan lima kabupaten. Saat itu kondisi geografis wilayah Kalimantan Tengah sebagian besar masih hutan belantara. Jalur transportasi yang menghubungkan antar daerah hanya melalui sungai, karena belum terba-ngunnya infrastruktur.
Bagi para pejabat Pemerintah satu-satunya jalan untuk ke daerah kabupaten Kotawaringin Barat hanya melalui udara, karena di kota Pangkalan Bun sudah ada lapangan terbang yang dulu namanya Sabah Uyah sekarang Iskandar (diambil dari nama seorang penerjun payung pertama Republik Indonesia yang gugur di Sambi masa revolusi fisik).
Tahun 1975 jalan darat dari kota Palangka Raya menuju daerah kabupaten Kotawaringin Timur hanya sampai di desa Kasongan (sekarang ibukota kabupaten pemekaran Katingan). Selanjutnya dari Kasongan hanya badan jalan hingga ke desa Pundu (sekarang ibukota kecamatan Cempaga Hulu), kemudian terputus.
Sedangkan dari kota Sampit (ibukota kabupaten Kotawaringin Timur) hanya sampai di desa Kota Besi (sekarang ibukota kecamatan Kota Besi). Dulu antara desa Kota Besi dan desa Bajarum di seberangnya masih menggunakan jasa ferry penyeberangan, belum ada jembatan seperti yang ada sekarang.
Pada pertengahan antara desa Kota Besi dan desa Pundu adalah hutan belaka. Hanya ada jalan rintisan buatan masyarakat yang berusaha mencari kayu, getah pantung, kulit gemor dan hasil hutan lainnya. Pemukiman-pemukiman terpencil yang berada di antara kedua desa tersebut di atas yakni desa-desa Parit, Keruing, Jemaras, Luwuk Bunter dan Cempaka Mulia, didiami oleh penduduk asli dengan nama suku serta bahasa yang sama yakni Dayak Tamuan.
Masyarakat desa-desa tadi terutama warga desa Parit dan desa Keruing yang hidup dari memungut hasil hutan, sepakat untuk membuka hutan tersebut menjadi pemukiman atau perkampungan.
Pada tahun 1984 mulailah warga dalam kelompok-kelompok, bekerja dengan bergotong-royong membuka hutan menjadi pemukiman, tercatat nama-nama pionir itu antara lain adalah Lukius Lodoh, Eong Singa Rangkang, Ujon Jangking, Isal A. dan Jerman Baras.
Setelah selama beberapa tahun membuka hutan dan telah selesai, maka atas musyawarah dan mufakat bersama, kelima orang tersebut membagi secara adil dan merata lahan yang digarapnya sesuai kontribusi masing-masing, yang dilaksanakan oleh Kepala Desa Mantero Akub.
Dengan dibaginya lahan maka para pembuka lahan asal (pionir), mengelola lokasinya masing-masing. Sejak tahun 1984 sedikit demi sedikit masing-masing pemilik lahan, mengajak keluarga masing-masing dari sekitar desa Keruing, desa Rubung Buyung dan desa Parit untuk eksodus (pindah).
Selanjutnya tahun 1984 dibuatlah jalan tembus menghubungkan antara Pundu dengan Patul dan sejak itu pemukiman ini dinamakan Palantaran, artinya tempat manyalantar (membaringkan diri untuk sementara beristirahat). Desa Palantaran pada pertengahannya meru-pakan sebuah perempatan. Namun jalannya belum dapat dilalui kendaraan roda empat, barulah kemudian jalan tanah itu pada tahun 1988 dilakukan perkerasan.
Seluruh warga yang bermukim di desa Palantaran menggan-tungkan hidupnya dari mengumpulkan hasil hutan, bercocok tanam perkebunan, sebagian lagi berdagang dan usaha lainnya.
Bapak Lukius Lodoh tetap konsisten hidup dari bercocok tanam dan memungut hasil hutan berupa kayu, pada lokasi lahannya sendiri. Untuk memperlancar kegiatan usaha, tahun 1987 ia membuat jalan/gang sendiri sepanjang 3 Km untuk bisa dilewati truk menuju ke lokasi kayu. Ada pun nama-nama yang ikut membuat jalan (diantaranya satu orang diberi upah) itu adalah Adae Lodoh, Bangking dan Delius Lodoh (sekaligus penebang kayu).
Saat itu kepala desa/pembakal Palantaran dijabat oleh saudara Mantero Akub dari tahun 1987 sampai tahun 1999. Pada tahun 2000 Lukius Lodoh berhenti mengerjakan kayu, tetapi beberapa orang lain yakni H. Ijai dari desa Rubung Buyung, Kani dari desa Patai, Ojek dari desa Lubuk Ranggan, Emal dari desa Bunut dan Saini dari desa Luwuk Kama, bekerja di lokasi beliau, namun sebelumnya mereka telah meminta izin dan Lukius Lodoh menerima pungutan berdasarkan persentase dari total kubikasi kayu yang diambil.
Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 2004 masuk-lah perusahaan perkebunan besar sawit di desa Palantaran dan sekitarnya, yakni PT Windu, menggarap dan membuka hutan di belakang lokasi tanah perwatasan Lukius Lodoh dengan alat-alat berat menebang habis semua jenis kayu asli dan langka tanpa tersisa.
Maka warga yang biasa memungut hasil hutan berupa kulit gemor, kayu, gaharu, getah pantung; sudah tidak bisa lagi memperolehnya karena habis musnah. Namun Lukius Lodoh tetap mempertahankan perwatasannya dengan tidak menjualnya apalagi menyerahkannya pada perusahaan perkebunan.
Sekarang desa Palantaran sudah maju dan berkem-bang pesat. Ada potensi lain dari desa ini yang cukup signifikan yaitu berupa peninggalan nenek moyang seperti Batu Kapal, Batu Balai, dan Batu Hadangan (Kerbau), yang akan kami ketengahkan. Cerita berikut deskripsinya nanti semoga dapat kami tulis guna diketahui instansi terkait (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) serta diusulkan untuk menjadi cagar budaya/situs purbakala dan obyek wisata yang dapat menjadi usaha masyarakat serta pemasukan keuangan daerah (Nara sumber : Lukius Lodoh)

Isen Mulang Petehku
apriita - 20/11/2010 07:41 PM
#84

Quote:
Original Posted By TuaGila
Bukit Batu

Berada di atas Bukit Batu yang terletak di tengah hutan Kalimantan (Tengah), seperti berada di tempat yang mustahil. Berada di atas Bukit Batu dengan segera orang akan membayangkan dari mana batu-batu besar itu berasal, karena tidak mungkin batu-batu itu berasal dari Sungai Katingan yang jaraknya cukup jauh, yaitu sekitar 15 Km2. Kalau batu-batu itu bekas dari puing-puing kerajaan, di Kalimantan Tengah tidak ada kerajaan yang berdiri karena merupakan daerah baru yang di buka dari hutan belantara. Berada di Bukit Batu seperti berada di satu tempat yang muskil terjadi. Karena Bukit Batu sulit dijelaskan melalui fenomena alam dan realitas historis, setidaknya seperti Borobudur misalnya, sehingga Bukit Batu menghadirkan sistem keyakinan tersendiri bagi masyarakat setempat dan mempunyai legenda untuk meneguhkan keberadaan Bukit Batu, yang sekaligus, legenda itu, berfungsi sebagai legitimasi.

Nama Bukit Batu bukanlah nama asing bagi orang Kalimantan, setidaknya untuk Kalimantan Tengah. Memang, Bukit Batu terletak di desa Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Kisah yang bergulir pada masa silam, seorang yang bernama Burut Ules tinggal di desa Tumbang Linting. Burut Ules dikenal sebagai seorang yang mempunyai kemampuan spritual tingkat tinggi, yang dalam bahasa setempat disebut sebagai bakaji. Seperti halnya di Jawa ada kisah Djaka Tarub yang mengambil selendang salah satu bidadari yang sedang mandi di telaga kemudian mengawini bidadari tersebut. Kisah Burut Ules menyerupai hal itu. Dia, Burut Ules, mengambil besaluka yang di Jawa dikenal dengan nama jarik. Bukan hanya sekali dia melihat tujuh dara yang turun dari langit dan mandi di telaga yang berada di tengah hutan belantara yang sedang ia persiapkan sebagai tempat tinggal. Ketika dengan sengaja Burut Ules menunggu sambil sembunyi disemak-semak, tujuh dara yang dia tunggu turun dari langit menuju telaga setelah melepaskan seluruh pakaian semuanya mandi di telaga. Burut Ules tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, yang mungkin tidak akan datang lagi, pada saat para dara itu menginjak tanah untuk mengenakan pakaian, Burut Ules muncul dari semak-semak langsung memeluk buah hatinya, yang tak lain bungsu dari para bidadari.

Singkat kisah, Burut Ules lalu mengawini dara bungsu itu dan untuk menjaga agar tidak kembali ke tempatnya, Burut Ules menyembunyikan pakaian dara yang dipersunting itu. Sampai pada klimaksnya, setelah keduanya bahagia mempunyai seorang anak, Burut Ules tidak bisa menerima kehadiran seorang anak muda, mamut menteng, yang dikenalkan istrinya sebagai saudaranya, lantaran terlalu sering pergi berduaan mandi di telaga dengan meninggalkan anaknya yang masih bayi, akhirnya Burut Ules membunuh pemuda itu. Mengerti akan hal itu, istri Burut Ules marah dan pergi meninggalkan suaminya dengan membawa serta anak laki-lakinya. Sebelum pergi istrinya sempat menyampaikan pesan, bahwa kelak kalau dewasa anak laki-lakinya akan kembali ke alam ayahnya karena dia tidak bisa tinggal di alam ibunya.

Putri ketiga Tjilik Riwut, Theresia Nila Ambun Triwati Suseno dalam bukunya yang berjudul "Manaser Panatau Tatu Hiang, Menyelami Kekayaan Leluhur" menutup kisah Burut Ules dengan menulis:

"Suatu hari di Teluk Derep, Tumbang Kasongan, terdengar suara gemuruh halilintar memekakkan telinga. Petir kilat sambar menyambar. Saat itu sebuah batu besar diturnkan dari langit. Diyakini bahwa anak Burut Ules yang telah gaib bersama istri pertamanya, saat itu telah dewasa. Sesuai janji, apabila telah dewasa ia akan kembali ke alam bapaknya bertempat tinggal, maka janji itu telah ditepati. Batu yang diturunkan dari langit kemudian terkenal dengan nama Bukit Batu dan diyakini sebagai tempat kediamannya, walau tak terlihat dengan mata jasmani, namun ia ada di sana sebagai Raja dan penguasa daerah tersebut…"

Sebagaimana legenda yang tidak menunjuk waktu peristiwa. Legenda Burut Ules dan Bukit Batu juga tidak bisa dilacak waktu kejadiannya, tetapi diyakini sebagai sungguh terjadi. Kisah cerita itu mengidentifikasi "Bukit Batu" sebagai makhluk yang mempunyai jenis kelamin laki-laki.

Dari Bukit Batu inilah kisah Tjilik Riwut mengawali jejak. Riwut Dahiang, ayah Tjilik Riwut, menginginkan mempunyai seorang anak laki-laki sebab setiap anaknya lahir laki-laki selalu meninggal. Di Bukit Batu Riwut Dahiang bertapa, dalam bahasa setempat disebut sebagai balampah untuk memohon kepada Hatalla (Tuhan) supaya mendapatkan anak laki-laki. Wangsit yang diperoleh dalam pertapaan itu ialah, bahwa anak laki-laki Riwut Dahiang yang akan dilahirkan kelak akan mengemban tugas khusus untuk masyarakat sukunya.

Tjilik Riwut dalam masa pertumbuhannya hampir tidak pernah melupakan Bukit Batu. Dalam usia yang masih belia, Tjilik Riwut biasa pergi meninggalkan teman bermainnya untuk menuju Bukit Batu, yang jaraknya dari tempat tinggalnya sekitar 15 Km. Tjilik Riwut berjalan menuju Bukit Batu untuk melakukan apa yang dulu pernah dilakukan oleh ayahnya, Riwut Dahiang.

Di Bukit Batu, seperti apa yang pernah dilakukan ayahnya, Tjilik Riwut melakukan apa yang disebut sebagai balampah (semedi, bertapa). Di tempat yang dianggap keramat itu Tjilik Riwut bersemedi untuk merenungkan kehidupannya. Dalam bertapa itu, lagi-lagi mendapat wangsit seperti yang pernah dialami oleh ayahnya. Wangsit yang pertama diperoleh ialah, supaya Tjilik Riwut menyeberang laut untuk menuju Pulau Jawa. Hampir sulit wangsit itu dilaksanakan, karena pada jaman itu, transportasi di Kalimantan masih sangat lemah untuk menuju Jawa, sehingga bisa dikatakan mustahil, apalagi harus ditempuh dari desa Kasongan di mana Tjilik Riwut lahir dan tinggal. Untuk pergi ke Banjarmasin yang terletak di pulau yang sama dengan Kalimantan, pada waktu itu bukan main susahnya.

Bukit Batu sekarang dikenal dengan nama “Tempat Pertapaan Tjilik Riwut”. Letak Bukit Batu dari kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah sekitar 40 Km. Namun dari Kabupaten Katingan hanya sekitar 10 Km. Untuk menunu ke Bukit Batu dari Palangka Raya bisa menggunakan transportasi umum atau mobil pribadi. Hanya karena transportasi umum tidak terlalu sering, sehingga terasa lama dalam menunggu. Sebagai salah satu obyek wisata Kalimantan Tengah umumnya, dan di Kabupaten Katingan khususnya, belum dikelola secara memadai. Terlepas sebagai obyek wisata, Bukit Batu memilik “jejak sejarah” terhadap terbentuknya Kalimantan Tengah.

Isen Mulang Petehku


baru tadi dari kasongan, baru tau sejarah bukit batu dari sini..
mantap gan.. :matabelo :matabelo
GianluigiBuffon - 20/11/2010 07:47 PM
#85

bukit batu sekarang malah jd tempat orang pacaran kalo sore..
Pas lagi praktek di hampangen
wc/na sering ane pake buat mandi..
Kalo sore main bola di bukit batu
apriita - 21/11/2010 05:08 PM
#86

Quote:
Original Posted By TuaGila
wow salam buat apriita, sering-sering mampir thread saya yah

Isen Mulang Petehku



iya kaka ketua :O :O
tambah lagi ka cerita daerahnya
GianluigiBuffon - 21/11/2010 05:11 PM
#87

Quote:
Original Posted By apriita

iya kaka ketua :O :O
tambah lagi ka cerita daerahnya


suka kah baca2 cerita daerah..
mantab jua imak ni berati..
@pakbos..
ihing pa sore2 disana banyak yang kencan
di taman na ja pank
tp auk balum suah masuk melihat wadah betapa na tu
kada suah kesampaian tarus..selalu ja ada halanggan
jangan2 ada apa2nya ini
TuaGila - 21/01/2011 01:46 AM
#88
Asal mula sumpitan
ASAL MULA SUMPITAN

“Apa kataku dahulu ? Bila ular dia akan melebihi ular-ular lainnya, bolehlah disebut naga. Apalagi burung ini, selama ini belum pernah kita melihatnya. Mungkin inilah yang disebut tetuha-tetuha kita dahulu dengan garuda”, ucap Rerayu dengan bangga.
Wanita paruh baya yang cukup disegani di kampung perbukitan Saing Pete (sekarang termasuk wilayah kabupaten Barito Utara) itu memelihara seekor burung yang sangat disayanginya, burung itu dibelainya setiap hari. Baru sebulan umurnya sudah sebesar burung elang, sebulan sesudahnya setinggi orang duduk. Dan dalam umur setengah tahun, panjang kakinya saja menyamai setinggi orang berdiri. Bulunya merah berkilat silau mata memandangnya, ekornya panjang menyapu lantai dan balung (pial, gelambir di bawah paruh) nya indah bagai mahkota berwarna keemasan.
“Burungku ini berbalung indah, tepat kiranya jika nama yang kuberikan Balung Bulau”, demikianlah Rerayu selalu memperlihatkan burungnya kepada orang-orang baru yang kebetulan saja singgah di kampungnya.
Balung Bulau, si burung yang luar biasa besarnya itu sudah menjadi milik orang sekampung, anak-anak bermain-main dengannya tanpa rasa takut. Mereka membelai ekor dan bulunya yang semakin merah membara. Akan tetapi apa yang tidak pernah diperkirakan orang, ternyata berubah.
Burung yang selama ini biasanya jinak dan patuh itu tiba-tiba memperlihatkan wataknya yang buas. Seekor anak anjing yang sedang bermanja-manja di kakinya ditangkapnya. Korbannya itu dibawanya terbang ke atas dahan sebatang pohon kayu besar di belakang kampung. Tanpa mengacuhkan teriakan orang-orang di bawahnya, burung itu merobek-robek dan melahap tubuh anak anjing tadi dengan paruhnya yang tajam.
“Turun Balung Bulauku, turunlah sayang !” Rerayu berseru berulang kali dengan suara membujuk. Panggilan itu seakan tidak didengar oleh unggas raksasa itu, ia tetap menyelesaikan makannya. Rerayu melihat burung kesayangannya itu telah membangkang tidak seperti biasanya dan nampaknya usaha untuk menjinakkannya kembali mungkin sia-sia.
Pada malam harinya burung itu tidak kembali lagi ke tempatnya biasa tidur bertengger di pelataran rumah dekat tangga masuk. Sia-sia saja Rerayu dan orang banyak menunggu kedatangannya pada malam itu. Esok harinya burung itu terlihat memasuki hutan lebat. Dari petang hingga hari berikutnya Balung Bulau tidak pernah menampakkan dirinya lagi di kampung. Akhirnya Rerayu sendiri tidak mengharapkan lagi kedatangannya di rumah.
Di luar dugaan dan tidak pernah terpikirkan oleh orang banyak sebelumnya, pada suatu pagi ketika orang banyak sekampung mulai menyiapkan diri menghadapi kesibukkannya masing-masing, terdengar jeritan yang mengagetkan. Seorang wanita menangis menjerit-jerit di jalanan kampung. Orang banyak jadi gempar, Balung Bulau telah menyambar seorang anak kecil dari tuntunan ibunya ketika mereka dua beranak berjalan. Rerayu terkejut, bagaikan orang gila ia hilir mudik berteriak-teriak pada orang banyak sekampung.
“Mana lelaki kampung kita ini ! Mana jagoan dataran tinggi Saing Pete ini ! Bunuh untukku Balung Bulau, ia sudah tidak kusayangi lagi”, serunya tiada henti-henti.
Beberapa orang lelaki mengejar ke arah mana burung itu terbang membawa mangsanya. Burung itu hinggap di dahan sebatang pohon besar di pinggir hutan, ia mulai melahap mangsanya tanpa mengacuhkan orang banyak di bawahnya. Puluhan batang tombak beterbangan menuju ke arah burung yang buas itu, namun karena tinggi letaknya sebatang pun tidak ada yang sampai ke sasaran. Balung Bulau tidak peduli terhadap serangan itu. Orang banyak menghentikan serangannya, mereka berpikir mencari cara lain untuk melumpuhkan burung itu.
Mereka lalu mengumpulkan ranting-ranting kering di bawah pohon dan membakarnya. Api mulai menjulang dan Balung Bulau terbang berpindah ke pohon lain tanpa melepaskan tubuh mangsanya yang sudah tercabik-cabik serta tidak bernyawa lagi. Namun orang banyak telah bertekad untuk memburunya, mereka tidak melepaskannya.
Beberapa orang memanjat pohon tempat unggas itu bertengger dan berangsur mendekatinya. Dalam kegaduhan itu tiba-tiba Balung Bulau menukik ke bawah ke arah kelompok orang yang sedang berteriak-teriak memberi semangat kepada mereka yang naik memanjat pohon itu. Kedatangannya disambut dengan tusukan puluhan ujung tombak. Namun burung itu nampaknya pandai mengelak, malah batang-batang tombak terpelanting kena gempuran sayapnya.
Seseorang mendekat seraya mengayunkan beliung (alat penebang pohon suku Dayak, seperti kapak) nya, tetapi beliung itu pun terpental dari genggamannya. Malah ia lalu menjadi sasaran cakar dan paruh yang tajam dari burung itu. Orang banyak segera datang membantu, tetapi Balung Bulau segera terbang ke atas meninggalkan lawannya yang sudah terluka parah.
Burung itu tidak terbang menjauhi tempat itu, ia datang kembali menyerang orang-orang yang sedang sibuk merawat teman mereka yang terluka tadi. Batang-batang tombak beterbangan lagi namun selalu luput dari sasarannya. Kepakan sayap burung itu dapat mematahkan lengan dan membuat senjata terpental.
Nampaknya orang banyak itu tidak berdaya menghadapi burung buas yang besar itu. Beberapa orang yang terkenal pandai berkelahi sudah terluka atau pingsan terkapar, sedangkan yang lainnya mulai bertemperasan lari pergi. Tidak lama kemudian tempat itu menjadi lengang. Orang banyak berlindung masuk ke dalam betang (rumah panjang tradisional suku Dayak, dihuni ratusan orang dari satu keluarga).
Kini orang sekampung tidak berani lagi untuk menampakkan diri di tempat terbuka. Orang banyak mengambil kata mufakat dan pada malam harinya betang di kampung perbukitan Saing Sele itu pun sudah ditinggalkan oleh seluruh penghuninya. Mereka semua merasa sudah tidak mampu lagi untuk menghadapi Balung Bulau si “burung garuda” itu.

Isen Mulang Petehku
TuaGila - 21/01/2011 01:47 AM
#89
Asal mula sumpitan 2
Demikianlah Balung Bulau sudah menjadi burung yang ganas tidak terlawan. Daerah perbukitan Saing Sele dinyatakan berbahaya, daeraah yang tidak sembarang dapat dilewati. Selain itu tidak kurang dari mana-mana orang berdatangan ke tempat itu untuk membunuh burung tersebut. Telah beberapa kali terjadi pertarungan antara manusia melawan burung raksasa itu. Dan selalu berkesudahan dengan kekalahan jagoan-jagoan tersebut, luka parah atau cacat bahkan ada yang namanya saja pulang.
Orang banyak mulai mengharapkan turun tangannya para tokoh jagoan-jagoan yang sudah terkenal masa itu antara lain haja Maen di Liang Dambung dan haja Kilip di Sio Ori. Karena merasa sudah berusia lanjut haja Maen menyerahkan masalah tersebut kepada kemenakannya tatau Nalau di Neteh Pali. Nalau pun lalu menyambangi (mendatangi) saudara sepupunya haja Kilip. Ternyata haja Kilip sedang bertarak (bertapa) di puruk (gunung berbatu) Renayas, ia mencari petunjuk bagaimana cara menghadapi burung garuda Balung Bulau itu.
Ditemani tatau Nalau yang mendampinginya, gandang (gendang) dipukul mereka selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut. Pada hari yang kedelapan mereka menuruni puruk dengan masing-masing menyandang sebatang tombak berlubang. Senjata itu menjadi pusat perhatian orang banyak, bagaimana mungkin dengan hanya sebilah lidi yang akan dihembuskan keluar dari tombak berlubang itu, akan mampu melumpuhkan seekor burung raksasa yang dapat menerbangkan manusia. Orang banyak kelihatan tidak yakin, sekalipun mereka mengetahui tentang kehebatan haja Kilip yang melebihi manusia biasa itu. Haja Kilip menolak bantuan orang-orang yang sukarela menemaninya.
“Cukup kami berdua yang akan menyudahi semua petaka ini”, kata haja Kilip dengan tegas.
Walaupun demikian orang banyak tidak sampai hati membiarkan mereka berdua. Beberapa orang pemuda pemberani mengiringkan keduanya dari jauh. Bagaimana pun juga sekali ini adalah perjuangan mereka semua dalam menghadapi momok yang sulit dibunuh. Kedua kabariat (jagoan) ini tahu bahwa mereka berdua diikuti diam-diam, tapi keduanya berpikiran yang sama, berhasil atau tidak biarlah pemuda-pemuda itu sebagai saksi bahwa keduanya sudah berusaha. Usaha untuk membunuh burung buas itu adalah upaya yang terakhir, bilamana haja dan tatau berdua itu tidak berhasil kali ini, maka pupuslah harapan semua mereka itu.
Ternyata Balung Bulau tidak berada di sekitar bekas perkampungan perbukitan Saing Sele, ia sudah pindah ke hutan belantara di kaki bukit-bukit yang selalu berkabut sekitar gunung Lumut sekarang. Haja Kilip dan tatau Nalau segera menuju ke tempat itu yang terletak setengah hari perjalanan dari dataran tinggi Saing Sele.
Sesampainya di tepi belantara yang dimaksud, haja Kilip dan tatau Nalau melihat buruannya. Burung raksasa itu sedang bertengger di atas dahan sebatang pohon yang tinggi di tengah sebuah dataran luas. Haja Kilip lalu memperingatkan para pemuda yang mengikutinya dari belakang itu agar berlindung di bawah semak-semak dan kayuan yang lebat. Selanjutnya haja Kilip lalu mengatur penyerangan dan memberi petunjuk kepada tatau Nalau.
“Kamu mendekatinya dari arah kiri sedangkan aku dari arah depan. Jangan menyumpit sebelum benar-benar dekat agar tepat mengenainya”, demikian siasat haja Kilip.
Mereka berdua berpencar dan menyusup masuk ke dalam belantara yang ditumbuhi rumput ilalang dan gelagah. Sedangkan para pemuda yang tadinya mengiringi, mengintai dari tempat persembunyian masing-masing menunggu kesudahan perjuangan kedua kabariat itu dengan penuh ketegangan.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi kepakan sayap diiringi suara kokok seperti ayam jago dari suatu tempat : “Plak, plak ! Ko ko ko koo !”
“Plak, plak ! Ko ko ko koo !” terdengar sahutan kepak dan suara kokok dari arah lain.
Burung raksasa ganas yang bertengger dengan santai di dahan pohon besar itu lalu mengangkat lehernya tinggi-tinggi. Suara berkokok terdengar kembali dari suatu arah di balik ilalang yang lebat dan disahuti pula dari arah lain di balik gelagah. Burung ganas itu tidak menanti lagi, ia lalu terbang ke arah ilalang yang terletak di depannya. Hampir mendekati tempat itu, burung garuda itu agak melambatkan terbangnya sebab terdengar suara kokok berulang-ulang dari arah lain.
Tap ! Tap ! Bunyi hembusan terdengar hampir beriringan. Dua bilah lidi pendek melayang dari dua arah menuju ke burung raksasa yang sedang terbang rendah itu. Sementara waktu tusukan lidi-lidi kecil itu hampir tidak berarti bagi burung sebesar Balung Bulau itu. Tetapi belum habis hitungan kesepuluh, sebelum burung itu sempat mencapai sasarannya, tiba-tiba saja ia terbang oleng dan jatuh menggelepar tidak berdaya. Racun ipuh yang dioleskan pada damek (lidi kecil anak sumpitan) dengan cepat bekerja dan melumpuhkan burung buas tersebut. Haja Kilip dan tatau Nalau muncul dari balik lebatnya ilalang dan gelagah.
“Ini bagianmu, Nalau !” teriak haja Kilip. Tatau Nalau segera mengayunkan beliungnya yang luar biasa tajamnya. Sekali tetak saja, putus leher Balung Bulau yang buas itu..
“Lulu lulu luluu …….. hui !” sorak gembira atas kematian pembuat bencana itu menggema.
Para pemuda yang bersembunyi di bawah belukar dan rimba semua menghambur keluar mendekati dua orang kabariat itu. Tatau Nalau sibuk membagikan bulu burung yang indah itu kepada para pemuda itu. Sedangkan haja Kilip asyik membakar hati burung ganas itu yang besarnya sebesar jantung pisang. Hati bakar burung garuda itu kemudian ditusukkannya pada ujung mata tombak sumpitannya.
“Ini bagian untuk nayu (roh leluhur) yang telah memberikan petunjuk kepadaku tentang ipuh beracun yang luar biasa ini”, jelas haja Kilip kepada orang banyak. Demikianlah burung raksasa yang sangat meresahkan itu sudah berhasil dibunuh dengan senjata yang besarnya hanya sebesar lidi.
Sejak saat itulah sumpitan dengan damek beracunnya mulai dikenal dan digunakan sebagai sebuah senjata orang Dayak yang paling handal di wilayah dataran yang terletak di hamparan sembilan buah sungai besar itu. ****

Isen Mulang Petehku
arizariz - 21/01/2011 12:32 PM
#90

baca2 dlu nah
panjang bnar kisahnya
Page 4.5 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Tengah > Cerita Rakyat Kalimantan Tengah