Pisau
Home > LOEKELOE > ACTIVITY & HOBBY > Pisau > pisau tradisional indonesia
Total Views: 199069
Page 30 of 83 | ‹ First  < 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 >  Last ›

charliealex - 26/11/2009 06:51 AM
#581

Quote:
Original Posted By setanis
temen seperjuangan ya bud? keliatannya akrab bener


ato temen seranjang kali yah, Set?

Kabur...........
Mommo - 26/11/2009 08:45 AM
#582

kalo denger namanya.. itu emang almamater bugsey di bandung... wkwkwkwkwk..
setanis - 26/11/2009 09:03 AM
#583

Quote:
Original Posted By charliealex
ato temen seranjang kali yah, Set?

Kabur...........


firasat gw bilang kalau mereka sering tuker2an celana dalem deh. . . .

wekekekekekekekek

ikut kabur ah cepet2 . . bis ngejernya pake moge sih
Must_Seagate - 26/11/2009 02:03 PM
#584

Quote:
Original Posted By setanis
firasat gw bilang kalau mereka sering tuker2an celana dalem deh. . . .

wekekekekekekekek

ikut kabur ah cepet2 . . bis ngejernya pake moge sih


maksudnya barter gitu ?........................:.......
bugsey - 26/11/2009 03:29 PM
#585

Quote:
Original Posted By setanis
firasat gw bilang kalau mereka sering tuker2an celana dalem deh. . . .

wekekekekekekekek

ikut kabur ah cepet2 . . bis ngejernya pake moge sih


sialaan... hehehehe..
gw kejer lu set pake metro mini! (lebih serem daripada dikejer moge tuh.. hehehe)
naturalist - 28/11/2009 02:10 PM
#586
Curhat serius
Quote:
Original Posted By uwaklah
Kalau boleh ikut nimbrung bro.
Sebenarnya karambit sebagai edge weapon tidaklah sepopuler yang kita kira. Kalau di benua Eropa nggak usah dibahas lah karena lihat pisau lipat kecil aja mereka ngompol di celana kok. Beberapa tahun lalu TK Bandung mengikuti pameran pisau di Belanda, dan beberapa produk mereka yang dianggap senjata tajam dilarang dipamerkan oleh pemerintah Belanda.
Di Amerika sendiri kerambit hanya populer di kalangan tertentu, yaitu mereka yang bergelut dalam seni bela diri atau mereka yang secara khusus suka dengan senjata tajam dari timur. Ide benda tajam sebagai alat bela diri di Amerika jauh lebih rumit daripada yang kita kira juga. Salah2 penjahatnya yang menang di pengadilan daripada orang baiknya yang menggunakan pisau.


Postingan Bro Ucok adalah trigger yg kedua dari curhatan saya ini.
Trigger yg pertama males nyarinya. Tetapi inti dari trigger yg pertama adalah mengenai kebanggaan dan juga everlastingnya pisau tradisional Indonesia dan pemikiran bahwa pisau produk barat yg akan mudah hilang oleh waktu (semoga saya tidak salah tangkap).
Pertama, saya tidak ada niatan menyerang individu atau merendahkan produk dan tradisi Indonesia. Jadi saya cuma mengajak diskusi aja dan mengeluarkan apa yg ada dipikiran saya.
Saya juga bingung apakah postingan di thread ini sudah sesuai atau tidak, memang sedikit menyinggung tentang pisau tradisional Indonesia tapi apa yg ada dalam pikiran saya ini saya rasa tidak hanya menyinggung masalah pisau tradisional Indonesia.

Saya setuju dengan Bro Ucok, bahwa apa yg "Indonesia" miliki dalam konteks perpisauan yg menyangkut pisau tradisional mungkin tidak sehebat seperti yg kita sangka.

Menurut saya ada dua hal yg berbeda ketika bicara pisau tradisional, yaitu bicara mengenai artefak peninggalan nenek moyang (bilah2 antik/kuno) dan yang kedua adalah tradisi pembuatan yg diturunkan.
Bicara mengenai pisau kuno (buatan lama), kolektor dari manca negara banyak yg mengkoleksi bilah kuno Indonesia sampai ratusan bilah. Ini bagi saya adalah konsep konservasi produk budaya dan bisa dikatakan sebagai salah satu cara investasi yg berkaitan dengan hoby. Untuk hal ini, saya percaya bahwa produk ini akan survive dan umurnya akan panjang tergantung perawatan.

Tetapi ketika bicara seni tradisi pembuatan pisau secara tradisional dan dibandingkan dengan produk barat, perkenankan saya menggarisbawahi beberapa hal. Pertama jika kita memang memakai pakem lama dan produknya lebih pada membuat "replika" bilah2 tradisional bikinan empu masalalu pasar dan nilai produk serta keawetannya juga bisa dipastikan nggak berbeda dengan bilah2 kuno. Kata replika tidak berarti saya menafikan bahwa empu jaman baru atau pembuat pisau tradisional tidak "berpikir" dan tidak memiliki inovasi. Kata replika hanya mengacu pada produk saja bukan prosesnya, jadi no offense (tidak bermaksud merendahkan). Produk semcam ini sudah diakui, hasil dari empu di Jawa Tengah dan Yogya serta empu2 dari Bali sudah membuktikannya, harga ratusan juta pun tetap ada yg beli, pisaunya busse ama swamprat nggak akan pernah bisa mengungguli keindahan dan melampui harga dari produk para empu Indonesia. Tetapi hasil produk ini adalah untuk "klangenan"/dielus2 dan menempati ruang budaya/spiritual/tradisi atau menempati wilayah prestise. Produk ini bukan produk fungsional. Berbeda misalnya dengan pisau-nya Busse, swamprat, scrapyard, walau ada yg dielus2 saja tetapi produk ini dibuat untuk difungsikan di lapangan, digunakan dalam kegiatan yg menuntut penggunaan langsung. Memang pisau2 bule banyak pula yg hanya untuk dipajang karena prestise-nya serta harga yg gila2an.
Perbandingannya adalah, kita nggak mungkin ke hutan bawa keris (walaupun keris produksi jaman baru) tetapi kita bisa dan pasti akan berguna kalo bawa pisau Busse etc. Benar kita memproduksi golok etc, perkenankan hal ini akan saya singgung nanti dibawah.

Hasil bilah Indonesia yg dibuat secara tradisional untuk digunakan sehari2 dibandingkan dengan produk dari luar seperti apakah potensinya?. Dari review2 di forum pisaunya bule, yg banyak disinggung adalah golok. Beberapa megakui keindahan dari produk-nya T Kardin. Kita memiliki Tasikmalaya yg menjadi tempat dari ratusan (benar Bro Mommo? ratusan ya) pengrajin golok dan pisau yg dibuat dengan gaya/cara yg diwarisi dari para pendahulunya. Tantangannya di sini apakah kemudian Tasikmalaya bisa menjadi seperti Seki di Jepang, Solingen di Jerman? Hal ini menyangkut beberapa hal. Dari yg saya tangkap, para bule yg memiliki pisau dengan harga di atas US$500 ampe belasan bahkan puluhan bilah pun kebanyakan memilih tramontina jika harus ke lapangan dan membutuhkan machete, tramontina sendiri dengan harga US$6 (kurang lebih 60rebu) sudah bisa didapatkan. Sementara kita, untuk mendapatkan golok yg berkualitas harus membayar lebih dari 100rebu (CMIIW). Belum lagi jika kita mau menantang dunia dengan menjadi penghasil golok dengan kualitas bagus dan harga terjangkau (bersaing dengan tramontina). Hal ini akan menjadi sangat susah. Saya percaya dan berharap bahwa kesejahteraan dari pengrajin golok Indonesia harus ditingkatkan, dan produknya pun saat ini layak untuk dihargai dengan nilai seperti yg sekarang ini didapat dan ditawarkan oleh salah satunya Bro Mommo dengan Walagrinya. Artinya kemudian pada relung mana kita akan bermain? Jelas akan susah bermain pada "produk pasaran sekelas tramontina". Golok kita yg seharga tramontina dan disuruh bersaing dengan ama tramontina pasti nggak akan bisa.
Hal ini dijelaskan dengan baik pada threads "produk factory adalah sampah".
Ada komponen teknologi dan manajemen yg membedakan kita dengan "tramontina".

Apakah kemudian produk pisau barat semacam buck, gerber, fallkniven, victorinox, busse, rat cutlery akan hilang ditelan waktu? Saya rasa nggak juga. Kalo kita cermati, para pendemen pisau ini biasanya juga turunan atau dipicu oleh warisan pisau lipet, pisau berburu dari yg orangtuanya atau Om atau kakeknya. Misalnya saja pisau lipet Buck lockback yg masih bikinan asli USA, menjadi barang koleksi, incaran banyak orang padahal kalo kita bandingkan dengan keris, dengan goloknya Walagri atau pisaunya T Kardin misalnya ya nggak ada apa2nya, atau bahkan jika kita bandingkan dengan pisau lipet produk baru dengan material yg memiliki kualitas lebih baik. Tetapi ada faktor pride-nya orang Amerika terhadap produk asli Amerika. Dan celah dari pisau Buck itu berbeda dengan golok Indonesia atau pisau Indonesia. (Bro Mommo dan Bro Tokopisau pencatutan nama Walagri dan T Kardin tidak bermaksud untuk merendahkan sama sekali). Dari segi keindahan, pisau lipet buck dibandingkan dengan golok pamugelan balik mipih serta pisau2-nya T Kardin nggak ada apa2nya tetapi tetap masih banyak orang yg melihat memiliki pisau buck tersebut punya keuntungan ekonomi, harganya tambah naik (walaupun nilainya belum tentu hehehe jika kita memperhitungkan nilai inflasi). Apakah kita bisa dan berani berinvestasi dengan membeli pisau produk dalam negeri?

Belum lagi jika kita bicara teknologi perbajaan yg semakin maju, dimana baja2 produk baru banyak yg lebih baik bahkan jika dibandingkan dengan material dari Katana Jepang yg sudah melegenda. Nah bule2 dan orang jepang banyak menggunakan baja "high end" yg kualitasnya sangat baik (Bro Ucok udah njelasin hal ini dengan sangat baik). Kalo kita bandingkan dengan kita, kita masih menggunakan "limbah" semacam per dll (saya bukan bermaksud merendahkan limbah, justru saya sendiri suka dengan asas pemanfaatan ini, sebab ini sangat mendukung konservasi, makanya saya suka ama Tim Lively) dan limbah pun seperti yg disunggung Bro Ucok pada awal postingan di beberapa thread kualitasnya cukup bagus, dengan perlakuan yg sesuai akan mendapatkan produk yg berkualitas, bahkan kukri bikinan kurki house-pun masih menggunakan limbah ini dan kuliatasnya juga OK. Menyinggung soal Tim Lively, dengan cara dia bikin pisau dari limbah, pisaunya juga bagus, nggak patah walau dilengkungkan sekitar 30 derajat, terus besi beton juga dihajar dengan pisaunya sampai terpotong tanpa merusak bilah.
Baja yg dibuat secara tradisional di Indonesia sudah susah lagi dicari, saya nanya ke orang2 apakah masih bisa saya mendapatkan besi dari batu di Kalimantan (sebutan untuk besi bikinan sendiri dengan mengolah bijih besi) sampai hari ini nggak dapat2 juga. Nilai dari baja bikinan sendiri mungkin saat ini lebih pada keotentikan dari produk bilah tradisional, sebab secara kualitas belum tentu sebaik baja2 baru semacam INFI, VG10 dll.

Kesimpulan untuk saat ini (dari curhatan sekarang ini), tantangannya banyak Bro untuk sampai pada tahap bahwa bilah dari Indonesia "diakui" luar sana. Terlebih jika kemudian kita berharap bahwa produk Indonesia menjadi tak lekang oleh waktu, yg diturun termurunkan oleh konsumennya ke anak keturunannya. Saya nggak bermaksud menafikan pencapaian dari para knifemaker Indonesia saat ini.

Mohon maaf jika ada yg menyinggung Bro, yg jelas maksud saya hanya untuk berdiskusi dan menginstropeksi pencapaian kita sebagai bangsa dalam konteks bilah tajam

Piss Bro
uwaklah - 28/11/2009 03:11 PM
#587

naturalist… Gua jarang muji orang, tapi tulisan elu sangat impresif. Gua harus baca dua kali untuk bisa menelannya dengan baik.

Gua seneng banget bahwa tulisan seperti itu nggak dateng dari jari2 gua. Karena gua rasa tema yang elu tulis sangat sensitif tapi juga sangat mengena. Dan gua pikir memang sudah waktunya tulisan seperti itu ada di sini. Sangat tidak kaskus.

Dalam beberapa hari belakangan ini gua juga makin sadar bahwa cara kerja tradisional adalah hal yang luar biasa dan malah perlu dilestarikan. Tapi cara berpikir tradisional justru harus dimusnahkan. Cara berpikir yang tradisional justru jadi semacam kerangkeng untuk kita bisa maju.

Kalau kita alergi sama Barat (walaupun sekarang udah gak relevan lagi) maka satu negeri yang harusnya kita jadikan bahan untuk pembelajaran adalah Jepang. Gua berani bilang bahwa penghasil pisau2 terbaik dunia setelah Amerika adalah Jepang. Di sana sektor tradisional dan modern sama berkembangnya dengan pesat. Sektor tradisonalnya sangat kreatid dalam merambah dunia pisau. Mereka berani mengekplorasi desain2 pisau yang kadang non-tradisional bagi Jepang. Mereka berani keluar dari box pemikiran kebesaran nenek moyang mereka dan masuk ke kawasan2 yang baru yang tetap kental dengan sentuhan tradisional Jepang sendiri.

Jangan lupa banyak merek2 besar kelas dunia mengerjakan produk mereka kepada industri pisau modern di Jepang. Sebut saja Spyderco, Fallkniven, Al Mar, dll.

Sementara segini aja dulu.
Mommo - 28/11/2009 03:44 PM
#588

nggak tersinggung kok bro, (bahkan sangat sopan sekali kalo menurut saya..)
secara segmentasi memang sangat benar adanya.. justru ini yg selalu ada di ingatan saya.. dimana produsen lokal harus ditantang man 2 man dengan pabrikan bahkan mass production ya udah pasti K.O
sebenernya saya pernah membahasnya dengan TS thread ini.. waktu itu bro bugsey pernah bilang.. gak mungkin ada seorang pengrajin oven alumium patrian.. yg diajarkan membuat sebuah oven modern misalnya.. meskipun secara fungsi mungkin tetap saja oven untuk memanggang..
bahkan tidak menutup kemungkinan.. seorang pengrajin oven tsb juga pasti di hati kecilnya ingin bisa membuat oven yg hebat.. yg sekali pencet tombol bisa langsung matang tanpa angus kalo bisa mah..
hanya saja pasti begitu kompleks masalah yg dihadapi.. baik itu teknik.. knowledge, manajemen atau bahkan modal..

nah sekarang kembali ke masalah pisau tradisonal.. yg lebih dominan di thread, entah TS lebih memikirkan jenis pisau atau pembuat pisau nya sebenernya.. hanya saja tanggung ngelewat..
kalo untuk pembuatnya.. tolong jangan hanya liat kami, atau bahkan om TK, silahkan lihat dari tingkat yg paling dasar.. saudara2 saya seprofesi seantero indonesia.. kalo dari sudut pandang saya.. yg kurang dari mereka, dan paling kentara setiap kali saya berbicara hanya 1 hal..
banyak diantaranya pengrajin yg hanya bisa membuat.. tidak dilengkapi dengan ilmu menjual.. dan ini yg membuat mereka begitu ringkih hidupnya..
maaf, bukan saya sok pintar, tapi memang saya yg terjun sendiri.. pisau ini bukan barang konsumsi publik pada umumnya sebenernya.. sangat berbeda dengan kita berbisnis pakaian atau pun mungkin makanan.. kesulitan disini jauh lebih tinggi.. dan hal ini lah yg selalu ingin saya bagi dengan kawan2 pengrajin setiap kali saya berdiskusi dengan mereka..

nah kalo kita ngomongin "pisau tradisionalnya" kembali saya ibaratkan dengan makanan.. anggaplah seporsi lotek, gado2 atau ketoprak.. sekarang thn 2009.. dan segala jenis makanan kebarat2an masuk ke negara ini.. tapi masih ada juga orang yg enjoy sarapan pagi dengan ketoprak, bukan sandwich atau sekedar ngemil kerak telor, bukan nachos.. dalam hal ini.. maaf sekali saya jauh lebih sungguh2.. karena saya gak akan biarin.. generasi masa depan hanya bisa liat kujang dan golok di museum2.. atau bahkan hanya sekedar gambar literatur berbahasa asing.. selama saya masih ada... saya jamin.. tungku walagri gak akan pernah dingin dan berhenti membuat semua model2 tradisional yg kami mampu..

@uwaklah : kali ini kita nemu pandangan yg sama bos..
"cara berpikir tradisional justru harus dimusnahkan. Cara berpikir yang tradisional justru jadi semacam kerangkeng untuk kita bisa maju."
memang sepenggal kalimat ini lah yg jadi musuh paling besar buat gw dan termasuk pengrajin lokal sabang-merauke.. dan yg selalu gw cari solusinya.. dengan apa yg gw bisa bagi.. dan cara gw tentunya... dari pertama nyemplung jadi tukang golok.. dan insyaallah till my last breath..
thx..
SURYAMAN_TNT - 28/11/2009 05:21 PM
#589

Ikutan nimbrung.

Memang demikian sepertinya keadaan yg berlaku.
Di negara barat memang mungkin peso tradisional tidak setenar kalo kita bicara disini. Tetapi gw suka dengan bentuk dan keunikan peso tradisional sendiri. Dan dari segi kualitas dapat dikatakan cukup baik.

Tapi saya sangat menghargai dan bangga dengan peso tradisional kita sendiri.
Mungkin yg laku di jual di luar adalah yg harganya mahal dan berkualitas, jadi seperti benda seni yg memiliki ciri khas sendiri. Karena untuk peso harian mereka sudah banyak. Tapi untuk membuat karya seni itu pasti tidaklah mudah, baik dari segi biaya, bahan, maupun pengerjaan.

Sekedar opini, lebih baik pekerja tradisional tidak meninggalkan cara kerja mereka. Malah kalau perlu menggali ke belakang lagi. Selain di satu pihak juga terbuka untuk pembaharuan dari segi ilmu barat (logika) untuk membuat peso yg lebih baik. Jadi dalam artian menggunakan pengetahuan dan teknologi baru untuk menghasilkan lebih baik, tetapi kalau disuruh membuat yg ala tradisional tetap gak lupa.

Untuk peso dan golok tradisional gw doyan. Karena baik fungsi dan kekuatan sudah mumpuni. Apalagi dari segi bentuk, karena punya ciri khas yg unik.
Kalo peso dan golok tradisional hilang, oe mau beli golok di mana lagi?
Kalo sudah ada Pamugelan berkualitas Busse jualnya keluar aja bro Mommo.
Oe gak kuat beli pastinya .
Mommo - 28/11/2009 05:33 PM
#590

Quote:
Original Posted By SURYAMAN_TNT
Ikutan nimbrung.

Memang demikian sepertinya keadaan yg berlaku.
Di negara barat memang mungkin peso tradisional tidak setenar kalo kita bicara disini. Tetapi gw suka dengan bentuk dan keunikan peso tradisional sendiri. Dan dari segi kualitas dapat dikatakan cukup baik.

Tapi saya sangat menghargai dan bangga dengan peso tradisional kita sendiri.
Mungkin yg laku di jual di luar adalah yg harganya mahal dan berkualitas, jadi seperti benda seni yg memiliki ciri khas sendiri. Karena untuk peso harian mereka sudah banyak. Tapi untuk membuat karya seni itu pasti tidaklah mudah, baik dari segi biaya, bahan, maupun pengerjaan.

Sekedar opini, lebih baik pekerja tradisional tidak meninggalkan cara kerja mereka. Malah kalau perlu menggali ke belakang lagi. Selain di satu pihak juga terbuka untuk pembaharuan dari segi ilmu barat (logika) untuk membuat peso yg lebih baik. Jadi dalam artian menggunakan pengetahuan dan teknologi baru untuk menghasilkan lebih baik, tetapi kalau disuruh membuat yg ala tradisional tetap gak lupa.

Untuk peso dan golok tradisional gw doyan. Karena baik fungsi dan kekuatan sudah mumpuni. Apalagi dari segi bentuk, karena punya ciri khas yg unik.
Kalo peso dan golok tradisional hilang, oe mau beli golok di mana lagi?
Kalo sudah ada Pamugelan berkualitas Busse jualnya keluar aja bro Mommo.
Oe gak kuat beli pastinya .


sebetulnya kalo teknik.. agak sulit kita ngambil ke arah belakang..
diatas aja.. bro naturalist yg udah jelas2 bilang.. kalo batu mengandung baja/ besi di kalimantan aja udah susah bt.. bener yah mas ??
mungkin teknik sebenernya hanya pakem dan patern yg bisa kita teruskan.. dengan sedikit wawasan teknologi.. terutama untuk beberapa teknik yg bisa dikatakan terlalu sulit dikejar di jaman sekarang..
naturalist - 28/11/2009 06:38 PM
#591

Quote:
Original Posted By Mommo

diatas aja.. bro naturalist yg udah jelas2 bilang.. kalo batu mengandung baja/ besi di kalimantan aja udah susah bt.. bener yah mas ??

Bahan baku masih banyak Bro, di Jawa, Bali dan Sumatera juga melimpah. Yang menjadi masalah adalah yg membuatnya Bro.
Saya belum sempat pergi ke daerah Dayak Punan. Denger2 masih ada yg membuat, tetapi khusus utk kebutuhan mereka. Lebih mudah pake limbah dr perusahaan seperti ball bearing, bar chainsaw dll. Masyarakat Indonesia cenderung menyukai sesuatu yg instant.
Jepang, knifemakernya masih ada yg membikin sendiri bajanya. Ada satu jenis baja tradisional dari Jepang yg bernama Aogami dikenal sebagai salah satu baja yg berkualitas.
Di Jepang, besi yg bikin dengan cara tradisional dikenal dengan nama tamahagane. Orang jepang percaya besi tradisional mereka berkualitas tinggi karena ada pengaruh dari gunung berapi yg banyak terdapat di sana.
Indonesia pun banyak memiliki gunung api, katanya pasir besi yg mengandung unsur2 dari erupsi gunung berapi memiliki karakter yg bagus untuk menjadi bahan pisau. Kalimantan pun pernah memiliki gunung berapi walau nggak sebanyak di pulau lain, salah satunya di dekat gunung Kinabalu (gunung Kinabalu katanya juga dulunya gunung berapi, CMIIW). Parang dan mandau Dayak yg dibuat dengan baja tradisional juga memiliki kualitas yg bagus.
Siapa sih yg mau bersusah payah bikin besi sendiri kalo bisa pake limbah dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagai bahan bilah mereka untuk keperluan sehari2.
Mommo - 29/11/2009 09:24 AM
#592

Quote:
Original Posted By naturalist
Bahan baku masih banyak Bro, di Jawa, Bali dan Sumatera juga melimpah. Yang menjadi masalah adalah yg membuatnya Bro.
Saya belum sempat pergi ke daerah Dayak Punan. Denger2 masih ada yg membuat, tetapi khusus utk kebutuhan mereka. Lebih mudah pake limbah dr perusahaan seperti ball bearing, bar chainsaw dll. Masyarakat Indonesia cenderung menyukai sesuatu yg instant.
Jepang, knifemakernya masih ada yg membikin sendiri bajanya. Ada satu jenis baja tradisional dari Jepang yg bernama Aogami dikenal sebagai salah satu baja yg berkualitas.
Di Jepang, besi yg bikin dengan cara tradisional dikenal dengan nama tamahagane. Orang jepang percaya besi tradisional mereka berkualitas tinggi karena ada pengaruh dari gunung berapi yg banyak terdapat di sana.
Indonesia pun banyak memiliki gunung api, katanya pasir besi yg mengandung unsur2 dari erupsi gunung berapi memiliki karakter yg bagus untuk menjadi bahan pisau. Kalimantan pun pernah memiliki gunung berapi walau nggak sebanyak di pulau lain, salah satunya di dekat gunung Kinabalu (gunung Kinabalu katanya juga dulunya gunung berapi, CMIIW). Parang dan mandau Dayak yg dibuat dengan baja tradisional juga memiliki kualitas yg bagus.
Siapa sih yg mau bersusah payah bikin besi sendiri kalo bisa pake limbah dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sebagai bahan bilah mereka untuk keperluan sehari2.


sebenernya.. kalo di sisi saya.. mungkin alangkah lebih bernilai kalo pake besi alam itu kali yah mas..
tapi.. bagaimana dengan HPP.. pernah gak kebayang.. jadi berapa jatuh nya satuan..
secara.. kadang bikin cara gini aja disebut orang gila.. jual golok ratusan ribu... hihihihhii....
untung emang sedikit gila.. jadi tetep aja bertahan dengan ini... hihihihhi...
imfaros - 29/11/2009 12:32 PM
#593

Quote:
Original Posted By Mommo
sebenernya.. kalo di sisi saya.. mungkin alangkah lebih bernilai kalo pake besi alam itu kali yah mas..
tapi.. bagaimana dengan HPP.. pernah gak kebayang.. jadi berapa jatuh nya satuan..
secara.. kadang bikin cara gini aja disebut orang gila.. jual golok ratusan ribu... hihihihhii....
untung emang sedikit gila.. jadi tetep aja bertahan dengan ini... hihihihhi...


emang siapa aja yg bilang orang gila boss? namanya jg forum, komennya macem, oranangya macem2, motifnya macem2...

Mommo - 29/11/2009 12:43 PM
#594

Quote:
Original Posted By imfaros
emang siapa aja yg bilang orang gila boss? namanya jg forum, komennya macem, oranangya macem2, motifnya macem2...



di forum ini alhamdulilah seingat saya belom ada mas..
tapi idup kan bukan cuma di kaskus.. hehehe... sumpah banyaaaak...
huahahahahahahhaaa....
imfaros - 29/11/2009 01:27 PM
#595

Quote:
Original Posted By Mommo
di forum ini alhamdulilah seingat saya belom ada mas..
tapi idup kan bukan cuma di kaskus.. hehehe... sumpah banyaaaak...
huahahahahahahhaaa....


Oo.. curhat toh.. kirain
jadi klo mau memajukan perpisauan di tanah air bisa dibilang siap2 diteriakin orang gila ya..?
uwaklah - 29/11/2009 11:08 PM
#596

Untuk tahap belajar memang sudah terbukti bahwa per bekas bisa menghasilkan pisau yang baik. Tapi untuk tujuan produksi yang serius, maka libah per juga punya kelemahan fatal yang namanya "Ketidakpastian" material.

Kita bisa tahu kalau limbah per yang kita dapat sama sekali nggak ada patokan kualitasnya. Sedangkan produsen2 mobil ternama seringkali mengganti material parts mereka tanpa pemberitahuan. Belum lagi kita ketahui bahwa per mobil atau kendaraan sering juga dibuat lokal dari hasil cor-coran berbagai material yang tak terpantau kualitasnya. Hari ini kita dapet per original dari mobil mercedes, tapi besok bisa aja kita dapat limbah per dari mobil yang pernya buatan lokal.

Ketidakpastian ini yang menurut gua rada kurang ideal buat perajin tradisional.
SURYAMAN_TNT - 30/11/2009 03:20 AM
#597

Seperti yg dibilang bro naturalis juga uda pernah denger. Bahwa knifemaker Jepang masih ada yg tetap getol ambil bahan dari daerah mereka sendiri.

Cuman yg selama ini jadi pertanyaan saya, adakah besi di satu tempat akan berbeda dengan besi di tempat lain?
Karena secara struktur tanah pun di setiap belahan dunia ini tentu akan berbeda kandungannya. Apalagi Jepang terkenal dengan gunung berapinya.
Jadi adakah sebenarnya bahan di Jepang itu dapat lebih baik dari bahan di belahan dunia lain ?
Kalo di endo apa di Irian dapat lebih baik dari daerah Jawa misalnya.
Karena gunung dan tambang banyak sekali di sana.

Thanks.
uwaklah - 30/11/2009 09:31 AM
#598

Quote:
Original Posted By SURYAMAN_TNT
Seperti yg dibilang bro naturalis juga uda pernah denger. Bahwa knifemaker Jepang masih ada yg tetap getol ambil bahan dari daerah mereka sendiri.

Cuman yg selama ini jadi pertanyaan saya, adakah besi di satu tempat akan berbeda dengan besi di tempat lain?
Karena secara struktur tanah pun di setiap belahan dunia ini tentu akan berbeda kandungannya. Apalagi Jepang terkenal dengan gunung berapinya.
Jadi adakah sebenarnya bahan di Jepang itu dapat lebih baik dari bahan di belahan dunia lain ?
Kalo di endo apa di Irian dapat lebih baik dari daerah Jawa misalnya.
Karena gunung dan tambang banyak sekali di sana.

Thanks.


Bisa jadi juga bro, bahwa baja yang dihasilkan dari beji besi mengalami perbedaan2 di setiap daerah atau setiap negeri karena alasan2 geologinya. Tapi yang pasti baja yang dihasilkan secara tradisional tidak akan menghasilkan baja yang terbaik. Ingat aja kenapa pembuatan katana atau pisau tradisional harus melakukan pelipatan berkali-kali yang bukan hanya untuk alasan kekuatan tapi lebih kepada upaya untuk membuang “impurities” pada baja tersebut supaya layak dijadikan pisau.

Baja2 modern yang melibatkan teknologi terkini akan menghasilkan baja2 yang terbaik, seperti kutipan terjemahan dari Steel FAQ yang ditulis Joe Talmadge ini:

Baja yang lebih bersih dan lebih murni, akan lebih baik ketimbang baja yang kotor dan tidak murni. Baja yang lebih bersih biasanya akan lebih kuat dan ulet, karena sangat sedikitnya pencemaran. Proses berkualitas tinggi yang digunakan untuk menghasilkan baja yang berperforma tinggi biasanya melibatkan proses Argon/Oxygen/Dekarburisasi (AOD), dan untuk menghasilkan baja yang lebih murni lagi, dilakukan proses Pencairan Induksi Vakum/Pencairan ulang Vakum Arc (VIM/VAR), kadang juga disebut sebagai “double vacuum melting” atau “vacuum re-melting”.
bugsey - 30/11/2009 11:24 AM
#599

udah pernah rasain belom cara bikin pisau tradisional terbaik di satu daerah? udah pernah nyobain pake sebuah pisau tradisional/ produksi lokal sesuai keperluannya ga?

IMHO
gw beruntung udh liat beberpa knifemaker lokal/pengrajin tradisional membuat pisau dari baik dari besi pabrikan dan besi limbah, memang ga banyak di indonesia pengrajin pisau yg mendedikasikan hidupnya cuma untuk pisau, kebanyakan dari mereka terbentur oleh semakin modern nya cara hidup dan cara berbisnis.

zaman dahulu mungkin seorang empu dalam 1 bulan cuma bisa bikin 1 buah pisau tp bisa hidup bahkan diakui dalam tatanan sosial nya. sekarang di jepang pun seorang empu yg bikin katana secara tradisional semakin sedikit karena ga ada penerusnya dikarenakan diabad modern ini pisau memang kurang diminati. seorang laki2 100 tahun yang lalu mungkin harus punya lebih dari satu pisau, sekarang semakin banyak negara di dunia yg melarang kepemilikan dan membawa pisau di umum, baik dari segi legal/peraturan pemerintah maupun dari segi sosial dari penolakan masyarakat secara besar2an makanya sekarang kebanyakan orang modern ga memilih pisau sebagai alat/tools utama yg wajib dimiliki, sekarang orang2 lebih baik punya handphone mahal daripada pisau mahal?

pada dasarnya era pisau sebagai alat yg fungsional baik sebagai alat potong atau pun senjata tajam sudah hampir lewat. dari sisi bisnis jangan berharap seorang pengrajin pisau dapat bersaing secara ekonomi harga satuan pisaunya dengan pisau pabrikan amerika, itu seperti tukang limun ngejer mau nyaingin cocacola, kl pun bisa nyamain kualitas dan rasa cocacola ga mungkin bisa secara bisnis ngejar, selain murah harganya juga apa konsumen bakal beli?

gw udh bbrpa kali posting untuk para pengrajin tradisional atau untuk yg berminat menekuni profesi pembuat pisau, carilah ceruk pasar/niche market dari kelebihan pisau produksinya. goloknya walagri/momo sudah jelas ga bisa dibandingkan dengan tramontina yg murahan, yg memang buat orang kebanyakan yg pingin golok utility.
golok seperti buatan walagri hanya buat orang2 hobby, orang2 yg mengerti sebuah proses pembuatan golok dan menghargainya. ngebandingin golok walagri dengan tramontina, mungkin seperti ngebandingin KEINGINAN MEMILIKI motor bebek 2009 ama motor BSA klasik tahun 40an.. sama2 bisa dinaiki, mungkin lebih cepet bebek, lebih nyaman, trouble free, garansi aman, bisa dicicil lagi, tp buat sebagian kecil orang (ini yg gw sebut konsumen niche market) motor BSA nya mau dituker 20 bebek 2010 juga ga bakal mau.

gw pribadi sangat ingin para produsen pisau di indonesia bisa tau dan mau mengaplikasikan teknologi maju untuk produksi pisaunya, tp apakah itu akan bisa menaikan nilai ekonomis secara signifikan dari produksinya? gw ga begitu yakin. karena kelebihan yg saat ini hanya dimiliki indonesia dibanding negara lain BUKAN dari sisi teknologi, menurut gw untuk saat ini (30 november 2009) daripada ngejer cara bikin bilah secara modern lebih baik menggali seperti pattern balik mipih/damascus khas indonesia, menggali kelebihan dan menstabilisasi kayu dan bahan lainnya untuk handle dan sarungnya, dan yg terpenting lebih merapikan hasil produksinya. gw yakin bakal secara signifikan akan menaikan harga dari pisau produksinya.

jangan takut membuat produksi pisau hanya untuk kalangan tertentu karena saat ini pisau merupakan produk yg mempunyai segmentasi pasar yg memang kecil dan terfokus, misalnya kl bisa bikin golok atau karambit untuk kalangan praktisi beladiri, itu udah pasar yg stabil, selama kita bisa ngikuti perkembangan kebutuhan praktisi beladiri pasti produksi kita akan terus terjual. begitu juga kl kalangan masyarakat tertentu yg memang memerlukan pisau untuk kegiatannya seperti, pencinta alam dan pemburu, banyak temen2 gw lebih bangga membawa pisau lokal seperti TK atau karibou ketika naik gunung (pembahasannya ada di thread bagaimana membuat pisau yg baik)

gw ga alergi teknologi maju untuk pembuatan sebuah pisau, gw sangat pengen tau dan pengen bikin pisau secara modern secara hobby, tp kalau untuk bisa serius memproduksi dan menjualnya dan bisa BERSAING bisnis secara teknologi dengan produsen amerika... berarti gw harus menyetarakan teknologi pembuatan pisau modern, R&D yg bisa tau keinginan pasar dunia modern, ilmu advertising dan pemasaran, modal yg besar dan pastinya image building yang jago. kl gw bisa sukses hmmm.... mungkin 10 tahun lagi gw bisa jadi direktur IPTN biar bisa semaju BOEING atau paling engga EMBARAER lah..

untuk produsen pisau tradisional adalah sebuah cara yg keterlaluan memaksakan teknologi modern dengan bahan baja bersih/baru dalam sebuah produksi pisau tradisional yg menggunakan limbah dalam prosesnya, untuk mencari bahan baku baja yg baru aja sulitnya bukan main, kalau pun ada bahannya import dan pasti mahal. secara ekonomis adalah ga mungkin mana bisa bersaing secara harga dengan produsen pisau yg dinegaranya terdapat industri baja yg mendukung? apa produsen pisau tadisional harus jg sampe bikin baja sendiri atau musti demo ramai2 dulu ke pemerintah buat maksa krakatau steel untuk bikin baja khusus pisau? selain itu membuat baja sendiri nilai pisaunya sendiri akan lah sangat mahal, emang ada yg mau beli?

gw minta maaf dulu kalau terlalu panjang dan kalau ada yg tersinggung secara personal (siapa tau ada yg lg dapet)
uwaklah - 30/11/2009 11:48 AM
#600

Quote:
Original Posted By bugsey

pada dasarnya era pisau sebagai alat yg fungsional baik sebagai alat potong atau pun senjata tajam sudah hampir lewat. dari sisi bisnis jangan berharap seorang pengrajin pisau dapat bersaing secara ekonomi harga satuan pisaunya dengan pisau pabrikan amerika, itu seperti tukang limun ngejer mau nyaingin cocacola, kl pun bisa nyamain kualitas dan rasa cocacola ga mungkin bisa secara bisnis ngejar, selain murah harganya juga apa konsumen bakal beli?


1. Gua gak yakin era pisau sebagai alat yang fusional atau alat potong akan segera lewat sampai 500 tahun ke depan. Kecuali ibu kita di dapur tertarik motong sayur pakai laser.

2. Pisau custom handmade HARUS lebih mahal dari pisau pabrikan. Karena dibuat dengan perhatian khusus, perlakuan khusus dan material khusus, serta biasanya one of the kind.

3. Pisau custom hand made HARUS lebih baik dari pisau pabrikan semodern apapun pabriknya. Kalau nggak sanggup bikin pisau custom made yang baik mending kita semua beli pisau pabrikan yang murah meriah aja.

4. Gua gak tahu kita belajar dunia pisau dari mana, kalau kita berpikiran bahwa pisau pabrikan modern lebih bagus, lebih hebat dan lebih tangguh dari pisau custom hand made.

Gua tambahin satu lagi.

5. Kalau gua punya uang banyak, mulai hari ini gua akan berhenti beli pisau pabrikan buatan manapun dan mulai kumpulin pisau custom hand made.

Link yang dikasih bro njet soal artikelnya Jay Fisher sebaiknya dibaca semua pemerhati pisau. Baca 2 kali kalau perlu.
Page 30 of 83 | ‹ First  < 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 >  Last ›
Home > LOEKELOE > ACTIVITY & HOBBY > Pisau > pisau tradisional indonesia