Poetry
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5
Total Views: 7141
Page 2 of 110 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

Rentamama - 14/10/2012 07:00 PM
#21

Lelah tak mau lagi terus begini
menjalani hari tanpa arti
sebagian sepi mengringi
menjadikan aku musuh abadi
setelah kau pergi
dan kau janjikan tak kembali lagi
Kufur - 15/10/2012 09:14 AM
#22

agan ane mau berbagi puisi karya orang lain ya, soalnya ane ga bisa nulis puisi


Sang Surya Menutup Hari

Mentari senja menyirat sesaat
lalu pupus tinggalkan jejak temaram
bagai mewahyukan kegelapan malam
yang tiba setelah perginya.


by Yafeth

Kifarin - 15/10/2012 09:17 AM
#23

Antara Hitam dan Putih

Hitam dan putih adalah bagian dari hidupku
Yang menjadikannya bunga di tiap kembara jiwaku
Adanya hitamku

Adalah sebab
Dimana aku pernah melukai sebuah hati
Dan itu adalah silapku
Yang tanpa kusadari semua itu menyakitimu
Entah
Apakah hitamku kan kembali menjadi putih di hatimu?
Ataukah tetap menjadi hitam di hadapanmu
Sedang putihku adalah duri
Yang semakin menikam tajam di kehidupanmu
Putih yang hanya sebagai lembaran
Dimana aku akan ternoda jika kau guratkan tinta kemunafikan dan dustamu
Aku tak bisa apa apa
Jika hitam dan putihku melebur menjadi satu
Hitam akan tetap menjadi hitam
Dan putih pasti kan menjadi hitam
Jika kau hitamkan putihku
Mampukah hitamku kembali putih dihadapanmu
Ataukan dia tetap kan menghitam
Atau aku berada diantara keduanya

Jawab tanyaku dengan keikhlasanmu kekasihku

¤ArS¤


BY: BIDARA ALAM HENING
Kufur - 15/10/2012 09:29 AM
#24

JALANAN HENING DI KENINGNYA YANG BERPASIR

Sampai lagi helai-helai rambut perakku di bibir laut ini. Kilau peraknya sedikit mewarnai hitamnya sekitar yang gulita. Tak satu pun bintang ada di telapak tanganku, hanya ada garis-garis putus. Garis-garis terhenti yang terdiam mendapati persimpangan dalam hening yang membingungkan.

Kujalin satu persatu burai rambutku yang berlarian menjauhiku, jangan mencari sejarah tentang kemarin tanpa memintaku mengangguk, jangan! Tunggu saja butiran-butiran pasir itu jatuh dari keningnya yang berundak-undak. Tunggu kaki-kakiku yang kelelahan menapaki maunya satu-satu.

"Aku sudah ringkih," Terlalu pongah untuk mengartikan persimpangan-persimpangan yang terus memenuhi pelupuk mataku dari pagi hingga pagi lagi.

Mungkin waktuku sudah tak lagi sebanyak butiran-butiran yang jatuh satu-satu dari leher sempit botol berpinggang ramping ini. Mungkin.

"Tiap butirannya membuatku menunggu," Menghitung kematian dengan telapak tangan yang terus menengadah. Aku jera.

Kemarin garis-garis di telapak tanganmu tak pernah terasing membaca persimpangan-persimpangan tempat cerita kita kupermainkan seperti permainan petak umpet ; aku menyembunyikan hatiku, kau mencarinya...ya, meski kau tak pernah menyembunyikan pagi di bola matamu yang berpasir.

"Ayolah..., nikmati lagi permainanku," Biarkan aku mencatatmu pada keningku yang kian masa kian berundak, bertumpuk memenuhi senyumku.

Diam saja disitu, aku akan menghampirimu untuk menghapus peluh yang luruh dari keningku, tunggulah.

Tidak! Aku sudah harus menghancurkan jam pasir ini dan memasukkan butiran-butiran pasirnya ke dalam mataku yang makin temaram. Aku akan melarungmu disini, di keningmu yang biru, berombak dan terus menjauh. Aku akan berhenti menjalin helai-helai rambut perakku dengan senandung tentang kejenuhan yang nantinya membawakan jawaban hening pada tipis telingaku sebelum tuli kian mendera. Aku tak sabar untuk itu.


by yayagyp
Kifarin - 15/10/2012 09:21 AM
#25

CERMIN ITU KOTOR SEKALI!

Malam ini bunyi-bunyian itu datang bersama gumpalan awan hitam dari atas sana. Suaranya tidak terlalu berisik seperti kedatangannya waktu itu. Aku menunggunya. Kusilangkan kedua telapak tanganku diatas pangkuan yang sedari tadi kupenuhi dengan pucuk-pucuk baru rerumputan hijau. Mataku menatapnya dalam jenuh berkepanjangan yang terlanjur lama menunggunya datang kembali. Tak ada kata yang terlepas dari bibirnya yang terkatup. Aku pun juga terdiam. Hening. Akar-akar rerumputan itu tumbuh perlahan-lahan dalam suara yang kukenali sejak rumput-rumput baru itu tumbuh di pangkuanku. Srekk...sreekk...,

"Sudah terlalu lama waktumu kubuang...," tiba-tiba saja rumput-rumput itu berhenti tumbuh. Pucuk-pucuknya yang masih sebaris cerita pendek menatapmu. Aku masih ingin diam. Awan itu menghuni kepalamu yang mulai ditinggalkan jalan-jalan hitam yang dulu berjajar rapi dan selalu menurut menghias kemasyuranmu. Masih ada hitam disana, hanya beberapa ruas, selebihnya hanya lahan-lahan kosong, tak ditumbuhi apa pun.

"Kemana biasanya kau habiskan waktu untuk menungguku?"

Hari itu tak akan pernah terlepas dari ingatanku yang tinggal beberapa saja di dalam ruangan ini. Gerimis masih bersamaku untuk mengikat ingatan itu, aku mengingatnya dengan sangat baik. Disini semuanya bermula, menidurkan raut wajah yang waktu itu terlalu sering mencari namanya. Berlarian aku mengikutinya, kelelahan yang belum ingin kunamai kekalahan. Sama, mungkin waktu itu pun kau juga melakukan hal yang sama. Meski aku tak pernah ingin melihat perkampungan padat penduduk yang memenuhi belakang punggungmu.

"Apakah kau kelelahan?" begitu waktu itu tanyamu padaku.

Tak perlu jawaban dari mulutku karena ujung matamu melirik pasti pada garis-garis halus pada kening dan ujung mataku yang sayu.

Lalu kita mulai tersenyum bersama dengan pensil warna merah yang melukiskan bentuk-bentuk rupa pada cermin di depan kita. Hanya warna merah.

Lalu setelah sekian lama musim datang dan pergi, hanya cermin penuh guratan warna merah itu yang terus kupandangi dari tempatku duduk sekarang. Sampai akhirnya kau juga memandangi cermin itu denganku, disini, sekarang. Aku menunggu kalimat berikutnya dari bibirmu yang selalu kuingat setelah kantuk mengajakku melupakanmu kemarin, setiap kemarin yang berlalu begitu saja.

"Siapa yang mengotori cermin itu?" Kalimat itu saja yang kutunggu terlepas dari bibirmu saat ini. Satu kalimat tanya.

Dan terlepaslah semuanya ke udara,

Bola mataku melompat jauh meninggalkan kelopak mataku, mungkin dia terlalu lelah membeliak. Mulutku tak kuasa melepaskan tawa ke segala arah, menyesakkan sekali rasanya sekian lama harus tersumpal dalam katup yang tak kutahu kapan akan terlepas. Cuping tipis telingaku berlari meninggalkan kepalaku yang tiap waktu terus menyimpan bunyi-bunyian di dalamnya, berisik. Aaahh...begini rasanya menikmati alam raya dengan segala kejenuhan yang terlalu lama harus kupelihara. Nikmatnya tak terkira.


by yayagyp
Kufur - 15/10/2012 09:23 AM
#26

Nenek Moyangku adalah Dewi Cinta


Nenek moyangku adalah Dewi Cinta

Sebagaimana kau bisa membayangkan kesempurnaan yang dimiliki seorang Dewi

Senoktah pun tak pernah ada cacat dalam hidupnya

Pernikahannya pun menjadi hal yang paling didamba oleh setiap yang bernyawa

Bersandingnya perempuan cantik dengan lelaki gagah nan tampan



by vio_iasha
Kifarin - 15/10/2012 09:25 AM
#27

Apa yang Kuinginkan



Mereka datang kepadaku,

Maukah kau mendengarkan curhatku?

Aku jawab, aku akan mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan.


Lalu mereka datang lagi kepadaku,

Apakah kau bisa memberikan sedikit tenaga dalam otot-ototmu?

Aku jawab, akan kuberikan semua tenaga dalam ototku hingga mereka tak berdaya lagi.


Kemudian mereka datang kepadaku,

Bisakah kau memberikan sebagian hartamu kepada kami?

Aku jawab, akan kuberikan semua hingga aku tak sanggup lagi memberikannya kepada kalian.


Akhirnya mereka datang kepadaku,

Kenapa kau mau mendengarkan keluhan kami,

Padahal kami yakin kamu pasti mempunyai banyak masalah.

Kenapa kau mau membantu kami,

Padahal kau sudah tidak mampu lagi berjalan.

Kenapa kau mau meberikan apa yang kami minta,

Padahal kau sudah tidak memiliki harta lagi.


Aku jawab, aku tidak menginginkan apapun kecuali ridloNYA.



by Dwinursetiadi
Kufur - 15/10/2012 09:27 AM
#28

Dengan cinta

Dengan cinta yang pahit menjadi manis.
Dengan cinta orang normal menjadi cacat, orang cacat menjadi normal.
Dengan cinta racun pun dirasa madu.
Dengan cinta seorang jenius bisa menjadi autis.
Dengan cinta teman menjadi lawan.
Dengan cinta kata2 bisa membentuk nada.
Dengan cinta yang tua merasa muda.
Dengan cinta anak muda merasa dewasa.
Dengan cinta jarak dan waktu tiada.
Dengan cinta kita berurai air mata.
Dengan cinta gembira ria.
Dengan cinta mengharu biru.
Dengan cinta kita bisa tercipta.
Dengan cinta dunia seperti berhenti sementara.
Dengan cinta raja menjadi budak.
Dengan cinta Sang putri rela melepas takhta.
Dengan cinta siswa SMA males belajar.
Dengan cinta bapak2 telat pergi kerja.
Dengan cinta dunia ini tercipta.
Dengan cinta mampu mengubah segalanya.

Tapi dengan cinta, aku tidak bisa berbuat apa2.


by mutkaranza
Kifarin - 15/10/2012 09:28 AM
#29

Kau dimana-mana


hanya kau yang masih setia membacakan puisi yang sama

padahal sesungguhnya tak pernah kuijinkan suaramu menggeser sejengkal saja atas keyakinan cinta

: tapi kau dimana-mana

pada kesahajaan rumput

pada dingin lelumut

pada tunas-tunas hati kalut


pada musim-musim bertabur bunga

cintamu kurasakan kian menggelora

mengoles damar pada bebatuan masa

dan asyik menggulirkan batu penuh bara.......

tepat ke jantungku


kau dimana-mana

tapi kenapa kadang-kadang

hening yang tajam menelan bayang?

sementara gigil burung hantu seperti mengapungkan puisi yang merdu kau baca

gentayangan sepanjang malam memilih sudut hati tuk berperam

lantas menetaskan keharuman tentang cerita yang tercuri silam


demi malam yang menyulam tetes air mata menjadi riam

demi gelombang senyap yang kian merayap.........

sesungguhnya engkau lebih mengerti bahwa keterkulaian tidak akan terpatahkan

bahkan oleh lintasan ingat yang begitu cepat mengurungku dalam kamar pekat


(setiap kali aku ingin menangis, kau pasti datang membawakan secawan kisah dengan tawa teriris)


Semarang, 3 Nopember 2011



by Bampi73
Kufur - 15/10/2012 09:28 AM
#30

Puisi Apa Ini?

Ku coba membuatnya.
Puisi. Sebuah puisi
Dari mulai memikirkan tema.

Jari telunjuk ke kepala.
Mulut maju ke depan.
Berpikir.
Tak satu tema yang ku dapat.

Ku coba menulis 1 bait
2 bait
Dan 3 bait

ini lah puisiku:
"1 bait,
2 bait,
dan 3 bait"

Puisi apa ini???


by arjun bukan arjuna
Kifarin - 15/10/2012 09:29 AM
#31

Segala dan Tiada



kan ada segala...

jika ada tiada...

kan ada akhir...

jika ada mula...

kan ada mati...

jika ada hidup...


keindahan dunia yang terlukis dalam kedua bola mata

itulah melihat dunia

mendendangkan kicauan burung dan dedaunan dalam telinga

itulah mendengar dunia

mengungkapkan apa yang kau lihat dan dengar

itulah menceritakan dunia


apakah segala sudah kudapat

kukira kudapatkan dunia

ataukah sebuah ketiadaan

yang hanya kutanamkan dalam benakku


apakah akhir telah sampai

tapi kapankah mula

kukira saat ku mulai melihat

mendengar, dan menceritakan dunia


dan mati...

walau mati dan menjadi tiada

kukira akan selalu hidup

dunia dalam benakku



by no_one
Kufur - 15/10/2012 09:30 AM
#32

Bapak Ibu, Cepat pulang


Haruskah aku bingar?

Haruskah aku mekar?


Aku sepi

Aku sendiri

Bapak Ibu tak disini


Mereka tertawa

Mereka bercengkrama

Bapak Ibu bersama


Senyum adalah palsuku dalam dunia

Penat adalah diriku dalam sunyi, kali ini.

Lantas sedang apa mereka?

Aku sedang merindu dalam diri


Cepat pulang bapak ibu, sebab aku rindu

Sampaikan salam maafku pada pemilik segala sesuatu

Aku ingin cepat kalian datang memasak qurban

Walau kutahu kalian sedang berkunjung kerumah Tuhan



by rizkypico
Kifarin - 15/10/2012 09:32 AM
#33

Kita Elang Penantang Badai


Masih di pesanggrahan kita

Senja cerah meremang gelap


Entah apa kabar masa

Apa pula dibuat masa

Kita menggantang aura abstrak

Menari kubangan kilas

Menggantih rasa

Merenda irama


Lawanglawang membuka

Kesal tawa membuncah


Masihlah kita benrcengkrama mencibir mereka

Masihlah kita bersenggama petakan mereka

Tanpa ragu

Tanpa hirau


Kelelawar hanya penggenap malam

Kawanan kanobi biarlah melolong garau

: kita elang penantang badai



by Sampah Kota
Kufur - 15/10/2012 09:32 AM
#34

Senandung Sunyi

Dirgantara hening
Langit jiwa merenung
Terbuang lelah meranah,
Terbasuh wajah dengan tirta munajat,

Sebutir kristal
Kemilau di rona pipi
Seindah belai tirta al-kautsar,
Hasrat dan mimpi segenap jiwa.

Sendu sujud di batas asa,
Desis zikir meniti jeruji waktu,
Tahmid menampar amurka congkak,
Takbir hantar segenap insan bernyawa,
Ke peraduan mardhatilah,
Sembari terduduk disudut waktu,

Munajab jiwa sunyi. .....!
Menghampar uswah Ibrahim As,
Ber-uswah pada tegarnya Siti hajar,
Istiqamahnya buat para pecinta
Menempuh mardatilah Fi-Illah


by Syair_putih_ahbian
Kifarin - 15/10/2012 09:33 AM
#35

Jauh II

Curahan senyummu
Membuat hati bergetar
Menembus jiwaku
Menyentuh hatiku

Matamu bening bagai mata air
Wajahmu teduh bak dibawah beringin
Suaramu lembut melebihi sutra
Kepribadianmu indah melebihi pegunungan

Kau, kekasih hatiku
Kau, cinta pertamaku
Namamu kan selalu terukir di hatiku
Dirimu kan selalu tersimpan di jiwaku

Kau tak mungkin mencintaiku
Kau tak mungkin menyayangiku
Padaku banyak kekurangan
Kau akan tersakiti olehku

Bahagiamu belum tentu bahagiaku
Tangismu belum tentu tangisku
Tak mudah pahami dirimu
Tak mudah menyentuh jiwamu

Kita tak seperti langit dan bumi
Karena mereka saling mengisi
Kita seperti dua dunia yang berbeda
Karena bila bertemu akan terjadi kekacauan
Kau jauh dariku


by pandekaapi
Kufur - 15/10/2012 09:34 AM
#36

Siapa Lagi?

Siapa lagi yang menemaniku bercerita cinta di malam hari?
Siapa lagi yang rela menghabiskan waktunya mendengar keluh kesah cerita gundah ku?
Siapa lagi yang bisa menjadi motivator pribadi ketika aku serasa putus harapan?
Siapa lagi yang jadi teman baik, kekasih tercinta, juga merangkap sebagai dewasa yang bijak bagiku?
Siapa lagi yang setiap hari aku berharap bisa bertemu dengannya?
Siapa lagi yang bisa punya ikatan batin seperti dua kembar tak terpisahkan dengan ku?
Siapa lagi yang akan selalu ada di sebelah kiriku?
Siapa lagi yang akan menjadi ekor mata kiriku?
Siapa lagi yang matanya sangat ingin aku lihat?
Siapa lagi yang senyumnya sangat ingin aku balas?
Siapa lagi yang punggungnya sangat ingin aku tatap ketika pergi meninggalkanku?
Siapa lagi yang kehidupannya ingin aku masuki walau hanya sekedar mimpi?
Siapa lagi yang akan aku rindukan ketika kau tiba2 menghilang?
Siapa lagi yang bisa membuat rasa "nyesek" karena rindu yang tertahan dengan sejuta aktivitas masing2?
Siapa lagi yang menjadi teman dalam setiap mimpiku?
Siapa lagi yang selalu aku khawatirkan ketika kau tidak memberi kabar?
Siapa lagi yang akan bisa memeluk ku dengan kata2 indah nan mesra?
Siapa lagi yang menjadi penyemangat ketika aku merasa layu lesu?
Siapa lagi yang akan aku lukis di langit2 kamarku?
Siapa lagi yang akan membuatku tertawa bahkan ketika aku tidak ingin tersenyum?
Siapa lagi yang akan berlalu lalang di kepala lalu hinggap tak mau lepas di otakku?
Siapa lagi yang akan membuatku tetap bisa bernafas dengan sempurna?
Siapa lagi??????????


by mutkaranza
Kifarin - 15/10/2012 09:34 AM
#37

orang yang seperti itu

Orang yang seperti itu dulu jadi pelitaku
orang yang seperti itu adalah pelindungku
orang yang seperti itu melaraskan setiap jalanku
entah..bagaimana..kenapa..
kini orang yang seperti itu hilang dalam pandangan mataku,dalam hatiku,dan dalam imajinasiku.lenyap!
Tak ada harapan.tak ada nyawa..
hanya pergi tanpa keluh dan kesah..hanya lenyap tanpa kepedulian..
hanya beranjak tanpa mau melihat kearahku..
Karna orang yang seperti itu hatiku sakit tak tertahan..
haruskah aku memaafkan orang yang seperti itu??


by agil
Kufur - 15/10/2012 09:36 AM
#38

Dag-dig-dug mu Adalah Dug-dig-dag ku


Dag-dig-dug dug-dig-dag

Bertalu mengalun bergema takbir pada-Mu

Dug sekali berulang bertambah dig-dag

Malam ini dug-dig-dag milikku


Dag berdegup dig-dug

Baginya tetap dag-dig-dug

Degup dag-dig-dug semakin dag-dig-dug

meski dug-dig-dag berubah dug-dug-dug


Senja berganti, dug-dig-dag berhenti

Hingga timur bermentari


Sesaat dug-dig-dag kembali iringi dag-dig-dug yang semakin menjadi

Sujudku pada-Mu mengantarnya mati

Dag-dig-dug kelak menjadi dug-dig-dag

Dug-dig-dag pengiring dag-dig-dug nya


ah, selamat jalan domba dan sapi, kurbanku membuatmu mati.

Nasibmu di ujung belati.


6112011



by hers
Kifarin - 15/10/2012 09:37 AM
#39

selingan tiga baris



saat masuk sekolah, aku senang sekali

saat naik kelas , aku senang sekali

saat lulus, aku senang sekali


ribuan cita, ribuan mimpi, ribuan harapan

hampir meletus jiwaku di pinggir jalan

menuai semua, tanpa merasa enggan


saat masuk kuliah, aku senang sekali

saat naik semester, aku senang sekali

saat mendapat ilmu baru aku senang sekali


waktu demi waktu, berharap semua lebih baik

lepas semua batasan demi harapan yang seolah terbalik

mungkin waktu bisa memperbaiki, hanya membuat terusik


aku mau bebas, melepas semua harapan dan asa dalam diri

tanpa mengungkapkan, aku senang sekali

tanpa alasan, aku senang sekali


kini bak ilusi

tak sadar aku mengetik hal yang basi

tiga baris, hal yang tanpa isi

puisi



by sasayaku
Kufur - 15/10/2012 09:37 AM
#40

Cintaku padamu

cintaku padamu seperti pungguk yang tidak bisa menggapai bulan.
cintaku padamu seperti matahari yang tidak akan pernah bisa berdampingan dengan bulan.
cintaku padamu seperti jingga yang ingin setia pada langitnya, tetapi malam merenggutnya.
cintaku padamu seperti malam kelam yang tak ingin berganti siang.
cintaku padamu seperti cinderela yang ingin terus menari di pesta, tetapi dentang jam menghentikannya.
cintaku padamu seperti bebasnya debu yang bertebaran di udara, tetapi hujan mengusirnya.
cintaku padamu seperti dalang yang ingin terus menarikan wayang,tetapi pagi berlabuh, renyuh.
cintaku padamu seperti anak berlari di tanah lapang, tetapi mendung lalu hujan mematahkan larinya, luruh.
cintaku padamu seperti ilalang yang ingin selalu bergoyang, tetapi angin menghembus topan, tumbang.
cintaku padamu seperti pengais rezeki tertati, tetapi matahari meringas, ganas.
cintaku padamu seperti potongan warna ingin menyempuranakan lukisan, abstrak.
cintaku padamu seperti arang garang lalu turun hujan, layu lesu.
cintaku padamu seperti lembah hijau terbentang pasrah pada alam, redam.
cintaku padamu seperti kunang2 yang cemerlang pada malam, terbatas oleh siang.
cintaku padamu seperti pemain watak tampak kerlingnya, tetapi tidak nyata.
cintaku padamu seperti pendrama yang dikendalikan teks drama, terbatas kata.

*aku menginginkanmu, tapi keterbatasan melarangku.


by mutkaranza
Page 2 of 110 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > CASCISCUS > HEART TO HEART > Poetry > Berbagi Puisi Ngumpul Disini - Part 5