Karesidenan Madiun
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Madiun > ۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞
Total Views: 7471
Page 5 of 5 |  < 1 2 3 4 5

ceperistouring - 19/03/2012 04:57 PM
#81

nek universitas kereta api wes jadi
madiun iso tambah rame mahasiswa
zipayy - 18/05/2012 02:18 AM
#82
PACITAN AJI BUDAYA


Quote:
mudah2an gak






Quote:

Spoiler for pacitan


1. AJINING DIRI GUMANTUNG ING LATHI
Penghargaan pada seseorang tergantung pada ucapan/ lisannya. Menjaga lisan, memengang ucapan, halus budi bahasa dalam rangka “Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)” serta memanfaatkan kata-kata sebaik mungkin. Untuk itu sebagai orang Jawa tidak baik jika menghilangkan tata krama dalam berucap, asal bicara, omong kosong dan sebagainya, serta benar-benar dijaga dari hal-hal yang tidak baik/ merugikan.

Dalam perkembangannya seni kata sampai pada puncaknya yang dikenal dengan istilah sastra dan pelakunya disebut pujangga. Adapun kemampuan pujangga meliputi:

paramasastra (ahli dalam sastra dan tata bahasa)

parama kawi (mahir dalam menggunakan bahasa kawi)

mardi basa (ahli memainkan kata-kata)

mardawa lagu (mahir dalam seni suara dan tembang)

awicara (pandai berbicara, bercerita, dan mengarang)

mandraguna (memiliki pengetahuan mengenai hal yang 'kasar' dan 'halus')

nawung kridha (memiliki pengetahuan lahir batin, arif bijaksana, dan waskitha)

sambegana (memiliki daya ingatan yang kuat dan tajam).

Seperti halnya sastra, keris tidak hanya merupakan puncak dari seni tempa logam, mengekspresikan sebuah ungkapan, syarat dengan filosofinya. Bahkan fungsi utama dari senjata tajam pusaka dulu adalah alat untuk membela diri dari serangan musuh, dan binatang atau untuk membunuh musuh. Namun kemudian fungsi dari senjata tajam seperti keris pusaka atau tombak pusaka itu berubah. Di masa damai, kadang orang menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran saat temu pengantin. Maka keris pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris. Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagai kebanggaan pemakainya. Lalu, tak urung keris itu menjadi komoditi bisnis yang tinggi nilainya.



Quote:


2. AJINING RAGA GUMANTUNG ING BUSANA

Spoiler for kirab pusaka

Ada pepatah yang menyatakan : "Penghargaan pada seseorang tergantung karena busananya." Mungkin pepatah itu lahir dari pandangan psikolog yang mendasarkan pada kerapian, kebersihan busana yang dipakai seseorang itu menunjukkan watak atau karakter yang ada dalam diri orang itu.



Keris sebagai accesoris pelengkap kaum pria yang mengenakan busana adat di berbagai daerah. Mengapa harus keris? Karena keris itu oleh kalangan masyarakat di Jawa, Melayu, Bugis, Bali dan daerah Nusantara lainnya dilambangkan sebagai simbol "kejantanan." Bahkan sampai-sampai ada adat terkadang apabila karena suatu sebab pengantin prianya berhalangan hadir dalam upacara temu pengantin, maka ia diwakili sebilah keris. Keris merupakan lambang pusaka.


Quote:
3. AJINING BANGSA GUMANTUNG ING BUDAYA Tosan Aji atau senjata pusaka itu bukan hanya keris dan tombak khas Jawa saja, melainkan hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki senjata tajam pusaka andalan, seperti rencong di Aceh, badik di Makasar, pedang, tombak berujung tig (trisula), keris bali, dan lain-lain.



Pandangan ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat Nusantara dulu secara turun temurun, bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu dari menyatunya unsur lelaki dengan unsur perempuan (kesuburan/Lingga Yoni). Di dunia ini Tuhan YME-Allah Swt, menciptakan makhluk dalam dua jenis yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan dan unsur benda lainnya. Kepercayaan filsafat agraris di masyarakat Jawa terwujud dalam bentuk upacara kirab pusaka pada menjelang satu Sura dalam kalender Jawa dengan mengkirabkan pusaka unggulan Karaton yang terdiri dari senjata tajam: tombak pusaka, pisau besar (bendho). Arak-arakan pengirab senjata pusaka unggulan Karaton berjalan mengelilingi komplek Karaton sambil memusatkan pikiran, perasaan, memuji dan memohon kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, untuk beroleh perlindungan, kebahagiaan, kesejahteraan lahir dan batin.



Kirab Pusaka Pacitan- Rangkaian puncak peringatan hari jadi Kabupaten Pacitan tiap tahun pada tanggal 16 Februari, pusaka kadipaten dikirab keluar pendopo kabupaten.Pelaksanaan kirab berlangsung meriah dengan balutan budaya khas Jawa, senantiasa dilaksanakan secara kolosal oleh berbagai elemen dan disambut antusiasme masyarakat.
Pendopo kabupaten yang sehari-hari digunakan untuk acara resmi di ubah menjadi nuansa keraton dengan dekorasi ukir menakjubkan.
Sebelum kirab, prosesi hari jadi berlangsung di pendopo kabupaten. Diiringi lantunan gending-gending jawa, suasana pagi menjelang upacara kirab benar-benar seperti kembali ke masa lalu.Seluruh tamu undangan yang hadir dalam prosesi menggunakan busana beskap lengkap khas Jawa lengkap dengan senjata keris terselip di pinggang belakang.

Spoiler for beskap



Ing dhampar denta... paseban agung Patih Njero, Bekel Wiku ngadhep njeng Bupati, Busana Kejawen lengkap dengan Keris terselip di pinggang belakang saat Prosesi Hari Jadi Pacitan ke 267 (19 Februari 2012)

Usai rangkaian panjang prosesi pusaka selanjutnya dikirab keluar pendopo kabupaten. Rangkaian panjang kereta yang membawa pusaka dengan kawalan ratusan prajurit berjalan mengelilingi alon-alon Pacitan sebelum akhirnya kembali masuk kabupaten.Tampilan gagah para peserta kirab dalam balutan seni budaya kolosal membuat masyarakat dan pelajar yang menyaksikan kirab benar-benar terpesona.

Diawali dengan pasukan berkuda berjejer berurutan kereta pusaka, kereta bupati dan wakil bupati, dokar para mantan bupati, Ketua DPRD, sekda dan muspida. selanjutnya mengikuti pasukan Pataka, pasukan umbul-umbul, pasukan tombak dan pedang serta panji-panji visualisasi keberhasilan Pacitan. Urutan belakang iring-iringan kirab pusaka ditutup dengan regu penabuh gamelan pengiring.


[CENTER]umbul-umbul panji


pasukan tombak pedang


pataka


pangiring bendhe prajurit


nirap tirta kadhipaten


wujud manunggaling kawulo gusti
[/CENTER]


bersambung....
zipayy - 18/05/2012 02:22 AM
#83
...sambungan
Quote:
4. AJINING JIWA GUMANTUNG ING RAHSA
Keris pusaka atau tombak pusaka yang merupakan pusaka unggulan itu keampuhannya bukan saja karena dibuat dari unsur besi baja, besi, nikel, bahkan dicampur dengan unsur batu lainnya ada juga materi meteorit yang jatuh dari angkasa sehingga kokoh kuat, tetapi cara pembuatannya disertai dengan iringan doa kepada Sang Maha Pencipta Alam (Allah SWT) dengan suatu upaya spiritual oleh Sang Empu. Sehingga kekuatan spiritual Sang Maha Pencipta Alam itu pun dipercayai orang sebagai kekuatan magis atau mengandung tuah sehingga dapat mempengaruhi pihak lawan menjadi ketakutan kepada pemakai senjata pusaka itu.



Tosan aji atau senjata pusaka seperti tombak, keris dan lain-lain itu bisa menimbulkan rasa keberanian yang kepada pemilik atau pembawanya. Orang menyebut itu sebagai piyandel, penambah kepercayaan diri, bahkan keris pusaka atau tombak pusaka yang diberikan oleh Sang Raja terhadap bangsawan Karaton itu mengandung kepercayaan Sang Raja terhadap bangsawan unggulan itu. Namun manakala kepercayaan sang raja itu dirusak oleh perilaku buruk sang adipati yang diberi keris tersebut, maka keris pusaka pemberian itu akan ditarik/diminta kembali oleh sang raja.



Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara filosofi sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula – Gusti", bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tentram, bahagia, sehat sejahtera. Selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing juga harus tahu diri untuk berkarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar. Namun demikian, makna yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai aspek dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, kini terancam perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati ketimbang aspek legenda dan magisnya.


Quote:
5. SISA-SISA PERADABAN DI TANAH PACITAN

Pacitan semenjak keruntuhan Majapahit atau sekitar tahun 1470-an dikenal sebagai daerah empu, daerah pembuat keris yang terkenal selain wilayah Bagelen Banyumas dan wilayah Madiun. Keris Pacitan terkenal kuat dan tahan lama, pamornya dari besi sejati.



Sultan Agung Hanyokrokusumo (memerintah 1613-1646), raja terbesar dari Mataram, menggantikan ayahandanya, Panembahan Seda (ing) Krapyak, setelah ayahandanya ini wafat pada tahun 1613. Dalam kenyataannya dia tidak memakai gelar sultan sampai tahun 1641; mula-mula dia bergelar pangeran atau panembahan dan sesudah tahun 1624 dia bergelar susuhunan (yang sering disingkat sunan, gelar yang juga diberikan kepada kesembilan wali). Namun demikian, disebut Sultan Agung sepanjang masa pemerintahannya dalam kronik-kronik Jawa, dan gelar ini biasanya dapat diterima oleh para sejarawan.



Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Pacitan dikenal sebagai wilayah pandean, disinilah pasokan senjata borongan prajurit seperti tumbak, keris, pedang, perisai baja diproduksi. Saat penyerangan Batavia, Tuban, Surabaya, Madura, Wirasaba, Malang sampai Banyuwangi, Begenen Pacitan memproduksi lebih dari 500 juta suku cadang senjata.

Peran Tosan Aji dan Begenen Pacitan sangat vital di masa lampau, mengiringi kejayaan Sultan Agung di medan tempur dalam usaha mempersatukan Jawa dibawah Panji Mataram.



Beberapa gelar perang beliau yang terkenal antara lain Garudha Nglayang, Supit Urang, Wukir Jaladri, atau gelar Dirada Meta, prajurit yang mendampingi menggunakan senjata tombak yang wajahnya diukir gambar kalacakra dan tak lepas dengan beberapa keris yang terselip di kanan kiri dan bagian belakang pinggangnya. (Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto, Februari 2012)



Pada masa perang Diponegoro, Pacitan adalah tempat utama pemasok senjata pasukan laskar Pangeran Diponegoro. Kebetulan ibunda Pangeran Diponegoro adalah anak kyai dari Pacitan. Pasokan senjata dari Pacitan ini kemudian dihancurkan oleh pasukan Belanda pada tahun 1828, pada peristiwa serbuan November di musim penghujan. Gudang-gudang senjata dihancurkan, rumah bupati Pacitan dibakar, keluarga bupati Pacitan ditangkap dan dibunuh, yang selamat dibawa ke Semarang untuk dibuang ke Ambon.

Pacitan menyimpan tragedi amat kelam atas sejarah tanah Jawa. Di tanah Pacitan ini masih tersimpan sisa-sisa peradaban masa lalu, peradaban para empu, yang menciptakan besi dari meteor, menciptakan batang keris dari remah-remah abu luar angkasa, hamparan serbuk pasir besi pantai, bongkahan badar besi dan kristal yang terjepit disela-sela bebatuan cadas...



Kini pandean Pacitan hanya menciptakan sedikit kenangan masa lalu, seorang pande besi dengan serbuan api 1.200 derajat celcius menahan percikan baja. Mereka adalah orang-orang kuat yang mampu menembus daya tahan sebagai manusia biasa.



Di Pacitan, kita bisa melihat sejenak masa lalu.........



Quote:


MPU GUNUNG LIMO


Gunung Limo adalah gunung yang berjajar lima, antara lain Gunung Gembuk, Gunung Pakis Cakar, Gunung Lanang, Gunung Kukusan, dan Gunung Lima Mantren. Disanalah terkisah seorang Empu bernama Wonogati yang tinggal di lereng Gunung Lima.
mpu Wonogati berasal dari jaman Pajang, setelah kerajaan mengalami banyak huru hara. Beliau datang bersama panjaknya dan beberapa Pajurit SORENG menginjakkan kaki di Pacitan. Inilah cikal bakal Empu pra Mataram yang meracik senjata berpamor Pandean Pacitan yang kemudian dikenal sebagai pijeran “Besi Sejati”.

Secara umum sebelumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kelokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram sesudahnya.



Selain Empu Wonogati, Pajang juga dikenal Empu Umyang (putra Empu Supo Sepuh, Majapahit), Empu Cublak, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuat keris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor. Setelah melihat hamparan Pasir Besi yang melimpah di tepian pantai Empu Wonogati memiliki keleluasaan untuk memperbaiki kualitas karyanya. Menurut pendapat Mbah Mangil (sesepuh Gunung Limo) Empu Wonogati memilih gunung ini sebagai tempat yang ideal untuk menunggal karsa manungal karya. Meyakini bahwa ketenangan alam pegunungan mampu memfokuskan batin (manekung/khusyuk) dalam ritual pembuatan Pusaka.



Petilasan Kyai Wonogati ada di Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Pacitan. Sedangkan Pimpinan Soreng Pati (Suro Ing Pati/Kopasus) Pajang ada di Desa Gayam Kecamatan Kebonagung. Dikabarkan menjadi cikal bakal Desa Wonogondo yang berjasa membabat hutan. Wonogondo adalah desa di Kecamatan Kebonagung, dari asal kata Wono (hutan) dan Gondo (harum). Konon dalam sebuah tutur dikabarkan hutan tersebut awalnya beraroma wangi, karena dipenuhi tumbuhan Pudhak (Pandan).

Pada saat Adheging Bhumi Mataram sebagaimana tertulis dalam Babad Momana, Pacitan sudah dikenal semenjak Mataram dipimpin Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Pacitan dikenal sebagai wilayah pandean, disinilah pasokan senjata borongan prajurit seperti tumbak, keris, pedang, perisai baja diproduksi. Dengan adanya “Besi Sejati” dari masa ke masa telah sesuai dengan perannya mengiring para ksatria dalam menjalankan tugassura ing pati.
Spoiler for begening saking pacitan

(Salah satu warisan besi kempit /lipat/tapih yang masih lestari. Foto: Mbah Parnen seorang ahli begenen dari Desa Sanggrahan Kebonagung Pacitan)


semoga berkenan..

~Diulas oleh: Slamet Margiyono, Nur Kompleh & Johan Perwiranto~

sumber;catatan nur ichwan pacitan
SpeeDee - 18/05/2012 03:45 AM
#84

Mantabs.,.,., jadi lebih tau ane,.,., hwhehaehawheha

:matabelo :matabelo :matabelo
sacrosact - 18/05/2012 07:26 AM
#85

Quote:
Quote:
Original Posted By zipayy










[COLOR="Blue"]bersambung....


Quote:
Original Posted By zipayy
semoga berkenan..

[FONT="Comic Sans MS"]~Diulas oleh: Slamet Margiyono, Nur Kompleh & Johan Perwiranto~

mantab mas pengulasannya tentang regional pacitan
-
kalo ada lagi boleh di share mas
-
tentang wisata atow yang lain gitu

ane masukin index depan yak :thumbup
Quote:
Original Posted By SpeeDee
Mantabs.,.,., jadi lebih tau ane,.,., hwhehaehawheha

:matabelo :matabelo :matabelo


kalo ente punya sesuatu yang bisa di bagi, monggo di share gan
-
biar nambah wawasan kita juga[/COLOR][/FONT]
zipayy - 18/05/2012 10:25 AM
#86

Quote:
Original Posted By sacrosact

mantab mas pengulasannya tentang regional pacitan
-
kalo ada lagi boleh di share mas
-
tentang wisata atow yang lain gitu

ane masukin index depan yak :thumbup


kalo ente punya sesuatu yang bisa di bagi, monggo di share gan
-
biar nambah wawasan kita juga


makasih banget masgan kalo di tampilin d pejwan

insyAllah ane kan share..pelan2 tapi ya masgan!!
sebelumnya makasih juga atas siramannya

yowesslah - 18/05/2012 11:09 AM
#87

Quote:
Original Posted By Tithit Kejepit





Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951; umur 57 tahun), adalah CEO surat kabar Jawa Pos [COLOR="Black"]dan Jawa Pos News Network[/COLOR], yang bermarkas di Surabaya.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.

Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

ternyata dahlan iskan kie asli magetan toh pakcik :matabelo




SR meneh
zipayy - 18/05/2012 12:25 PM
#88
Upacara Adat Ceprotan
Upacara adat Ceprotan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo selalu dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Longkang), hari Senin Kliwon. Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama bagi kebanyakan penduduknya. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, kota Pacitan yang jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota.
Spoiler for ceprotan


Quote:
1. Kronologis

Upacara adat ini dimulai dengan pengarakan kelapa muda yang digunakan sebagai alat “ceprotan” menuju tempat dilaksanakannya upacara yang biasanya berupa tanah lapang. Kelapa-kelapa ini ditempatkan pada keranjang bambu dengan anyaman yang jarang-jarang dan dibawa oleh pemuda setempat.



Sebelum acara dimulai, tetua adat membacakan doa-doa. Upacara dilanjutkan dengan ditampilkannya sendratari yang menceritakan pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Kemudian pemuda-pemuda ini dibagi menjadi dua kubu yang ditempatkan secara berseberangan. Keranjang berisi kelapa muda yang telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari agar tempurungnya melunak, diletakkan di depan masing-masing anggota kubu yang telah berjajar dengan posisi menghadap ke arah kubu lawan. Antar kedua kubu ini diberi jarak beberapa meter sehingga mereka tidak berhadapan secara langsung dan diantara mereka diletakkan sebuah ingkung atau ayam utuh yang dipanggang.

Setelah semua siap, anggota dari kedua kubu mulai saling melempar kelapa muda yang berada di depan mereka. Setiap orang yang terkena lemparan hingga kelapa yang dilempar pada mereka pecah dan airnya membasahi tubuhnya dianggap sebagai orang yang kelak akan mendapatkan rezeki yang melimpah.

Ayam panggang yang diletakkan di tengah-tengah arena tidak diperebutkan melainkan disimpan untuk dimakan bersama-sama pada akhir acara. Setelah semua kelapa habis, kegiatan saling melempar kelapa yang dinamakan ceprotan ini diakhiri dengan pembacaan doa kembali. Pada penutupan acara ceprotan ini juga dilakukan tarian-tarian singkat yang mengiringi kepergian pemuda-pemuda yang telah melakukan ceprotan.
Spoiler for langen beksan



Quote:
2. Peralatan dan Makna Simbolik

Sendratari yang ditampilkan pada awla acara menceritakan tentang pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Menurut kepercayaan masyarakat Donorojo, Ki Godeg merupakan orang pertama yang membuka atau istilahnya “membabad” wilayah itu yang semula berupa hutan belantara. Ki Godeg merupakan nama lain dari Panji Asmorobangun, seseorang yang sakti mandraguna dari daerah Kediri. Karena keuletan dan keahlian dari Ki Godeg tersebut, wilayah yang semula berupa hutan belantara berhasil diubah menjadi lahan pertanian.

Suatu ketika, beliau bertemu dengan dua orang wanita yang sedang menempuh perjalanan. Kedua wanita tersebut sebenarnya adalah titisan dewi yaitu Dewi Sukonadi dan Dewi Sekartaji. Mereka beristirahat di wilayah yang telah dibabad Ki Godeg. Salah satu dari dewi tersebut yaitu Dewi Sekartaji merasa kehausan. Karena merasa kasihan, Ki Godeg menawarkan diri untuk mencarikan minuman bagi dewi tersebut. Dewi Sekartaji kemudian meminta air kelapa muda untuk mengobati dahaganya. Sayangnya, diwilayah tersebut tidak terdapat pohon kelapa sama sekali. Namun demi memenuhi permintaan dari Dewi Sekartaji, Ki Godeg melakukan matekaji atau menggunakan ilmunya untuk masuk ke dalam tanah guna mencari kelapa muda di tempat yang cukup jauh. Tempat dimana Ki Godeg masuk ke dalam tanah berubah menjadi sumber mata air, kemudian tempat beliau keluar dari tanah juga menjadi mata air yaitu di daerah Wirati, Desa Kalak. Mata air tersebut dinamakan Kedung Timo. Setelah beliau menemukan pohon kelapa, Ki Godeg memanjat dan mengambil kelapa mudanya, lalu kembali lagi ke tempat semula dimana Dewi Sekartaji menunggu beliau. Tempat beliau kelaur dari tanah saat kembali juga menjadi mata air. Dewi Sekartaji yang kehausan segera meminum air kelapa muda yang dibawakan oleh Ki Godeg.

Sisa dari air kelapa muda yang tidak habis diminum oleh Dewi Sekartaji ditumpahkannya di tempat dewi tersebut berdiri. Air kelapa yang menyentuh tanah seketika menjadi sumber air yang hingga sekarang dikenal sebagai Sumber Sekar. Dewi Sekartaji kemudian berpesan pada Ki Godeg, jika kelak tempat tersebut menjadi pemukiman agar dinamai Desa Sekar. Untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan disuruhnya menggunakan cengkir yang dalam Bahasa Indonesia adalah kelapa muda. Hari terjadinya peristiwa tersebut adalah Senin Kliwonpada bulan Longkang atau Dzulqaidah.

Kelapa muda yang digunakan sebagai alat utama dalam upacara ini merupakan cengkir yang dimaksud oleh Dewi Sekartaji. Makna simbolik dari cengkir ini terletak pada kepanjangan dari cengkir menurut orang Jawa yaitu ceng-cenge pikir. Jadi, merujuk dari pesan Dewi Sekartaji bahwa untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan, disuruh menggunakan cengkir atau ceng-cenge pikir yang artinya mengandalkan daya pikir atau otaknya.

Kemudian mengenai acara saling melempar kelapa muda, mengandung makna saling membantu dalam mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Ingkung” atau ayam panggang utuh yang berada di tengah arena upacara melambangkan rezeki yang harus di usahakan atau dicari oleh para pemuda.



bersambung...

zipayy - 18/05/2012 12:30 PM
#89
....sambungan
Quote:
3. Nilai-nilai yang Trekandung dalam Upacara Adat Ceprotan

Selain nilai kebudayaan dan sejarah, upacara adat Ceprotan sekaligus legenda yang melatarbelakangi sarat dengan nilai-nilai lain yang harus dicermati dan dapat diamplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama mengenai kegigihan Panji Asmorobangun atau yang dikenal sebagai Ki Godeg dalam usaha-usahanya membuka dan membangun suatu wilayah di Pacitan yang kini dikenal dengan nama desa Sekar, kecamatan Donorojo menjadi daerah pertanian. Daerah ini sebenarnya merupakan daerah yang tandus mengingat kandungan kapur dalam tanahnya yang cukup tinggi. Namun kini wilayah tersebut menjadi salah satu penghsail padi dan kelapa yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Pacitan.

Kedua mengenai kebaikan hati beliau menolong orang yang kesusahan yaitu dalam legenda ini Dewi Sekartaji, serta pengorbanan yang dilakukannya.

Ketiga mengenai pesan yang disampaikan oleh Dewi Sekartaji pada generasi muda yaitu untuk mengandalkan pikirannya dalam mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup.

Nilai lain yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah mengenai ingkung yang disediakan di tengah arena. Ingkung ini memang seolah menjadi sntral dari Upacara Ceprotan karena melambangkan rezeki yang dicari. Namun ingkung tersebut tidak diperebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda harus berusaha optimal dalam meraih apa yang diinginkan, tetapi jangan sampai melanggar hak dan kepentingan orang lain.

Doa pada awal dan penutup upacara juga memiliki nilai tersendiri, bahwa generasi muda harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang dilakukan dengan doa. Dengan doa yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan terhadap Sang Pencipta. Kita harus meyakini jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, Tuhan akan membalasnya dengan hasil yang memuaskan.


Quote:
4. Prospek Nilai dalam Kehidupan Nasional

Nilai-nilai dalam Upacara Adat Ceprotan tersebut tentu memiliki prospek dalam kehidupan Nasional. Pertama adalah masalah keyakinan kita terhadap Tuhan. Kegiatan doa pada awal dan penutupan upacara yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan kita terhadap Sang pencipta, mengingat bahwa kita harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang kita lakukan dengan doa.

Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia yang terkena imbas globalisasi dan meningkatnya tekanan hidup terutama di bidang ekonomi, kebanyakan menjadi semakin populer. Mereka bersusah payah mengejar tujuannya namun lupa berdoa untuk meminta bantuan, rakhmat, serta restu dari Sang Penguasa Alam. Saat mereka mendapat apa yang dicita-citakan, mereka lupa bersyukur pada Kekuatan Tak Terlihat yang menuntun dan memudahkan jalan mereka dalam proses pencapaian tersebut. Sedangkan jika mereka gagal, orang-orang tersebut akan menggerutu pada Tuhan. Mereka mengalihkan kekecewaannya dan mencoba menutupi kegagalan yang sebenarnya bersumber dari diri mereka sendiri dengan menyalahkan Penciptanya.

Selanjutnya mengenai sikap gemar menolong yang rupanya saat ini ikut menghilang. Manusia yang menjadi komponen bangsa ini tampaknya lebih senang saling menuding atas kerusakan-kerusakan serta kesulitan di berbagai sektor yang dialami oleh negara. Jika sikap saling menolong ini saja sudah langka, apalagi pengorbanan yang dibutuhkan untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik hanya sebuah impian belaka.

Intisari dari upacara tersebut yaitu mengenai cengkir atau ceng-cenge pikir. Bangsa ini membutuhkan otak-otak yang siap diperas untuk memikirkan banyak hal demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Generasi muda yang menjadi fokus utama, harus giat menuntun ilmu pengetahuan, bukan hanya untuk formalitas, gelar, ataupun merencanakan masa depannya sebagai karyawan melainkan lebih dari itu, yaitu untuk mewujudkan lapangan-lapangan kerja, inovasi-inovasi, dan kreatifitas tingkat tinggi yang diperlukan untuk mengangkat kesejahteraan, harkat, serta maertabat bangsa.

Mengenai ingkung, kita diingatkan agar dalam usaha mencapai tujuan, tidak boleh saling sikut. Fenomena negatif ini telah mewarnai berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Secara utuh, upacara ini mengajak generasi penerus untuk menengok ke belakang, melihat dan meneladani apa yang dilakukan oleh para pendahulu kita dan menerapkannya dalam kehidupan masa kini. Dimulai dari perilaku pribadi hingga sikap berbangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari penjelasan di atas, Upacara adat Ceprotan merupakan tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo yang dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Longkang), hari Senin Kliwon. Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian. Upacara adat ceprotan ini juga menuntun kita untuk berusaha dalam mencapai tujuan hidup. Saling tolong menolong sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Doa yang merupakan pengharapan pada Sang Pencipta sangat berberan penting dalam pencapaian apa yang dicita-citakan. Ingkung yang melambangkan hasil dari usaha yang dicapai mencontohkan pada kita bahwa setiap usaha pasti ada hasilnya. Jika usaha yang kita lakukan sudah maksimal, pasti hasilnya akan memuaskan pula.


nur ichwan
avanadityaWA - 01/07/2012 06:00 PM
#90

bangga jadi orang madiun... :2thumbup
Aviv.. - 05/07/2012 09:17 AM
#91

Jadi Kangen masa lalu di Pondok Modern Gontor.
Walau cuman 4 tahun aja bertahan di sana tapi banyak kenangan, gak sengaja bisa ketemu kata Gontor di KasKus ini.
Wah, moga tambah maju thread-nyab

:selamat:2thumbup

Aviv.. - 05/07/2012 09:20 AM
#92

Tak bantu Sundul mas, biar rame ini thread-nya

Tuing tuing tuing:babyboy

bigpandu - 06/07/2012 04:19 PM
#93

Quote:
Original Posted By iam not junker







Ia kembali ke Yogyakarta tanggal 11 Agustus 1948 dengan nama samaran: Soeparto, dan menjadi sekretaris pribadi Suripno yang dikirim ke Eropa Timur merundingkan hubungan konsuler Republik Indonesia dengan Uni Soviet. Pada suatu pertemuan Partai Komunis Indonesia (PKI), Suripno mengungkapkan Soeparto sesungguhnya Muso, anggota Politbiro PKI awal 1920-an, tokoh terkemuka dalam pemberontakan PKI 1926 melawan Belanda, pendiri "PKI ilegal" 1935, dan sudah 12 tahun absen dari Indonesia. Muso disambut antusias dan dengan aklamasi diangkat sebagai sekretaris partai.

Tanggal 29 Agustus 1948 mantan PM Amir Syarifuddin mengumumkan dia anggota Partai Komunis sejak tahun 1935. Mantan wakil PM Setiajit memberikan pengakuan serupa. PKI dengan cepat mengambil alih Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang menggantikan Sayap Kiri sebagai koalisi yang beroposisi terhadap Kabinet Hatta. FDR diubah dari koalisi yang longgar organisasinya menjadi front komunis klasik. PKI meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Soekarno-Hatta dan tanggal 18 September 1948 PKI merebut kota Madiun. Sumarsono, pemimpin pemuda pada pertempuran Surabaya November 1945, mengangkat dirinya sebagai Gubernur Militer dan menyerukan kepada rakyat Indonesia supaya bergabung dengan pemerintah komunis.

Malam tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno bicara di depan RRI Yogya dan meminta rakyat memilih antara Muso-PKI dengan Soekarno-Hatta. Dalam waktu dua jam Muso tampil di depan radio Madiun dan mengatakan "rakyat seharusnya menjawab kembali bahwa Soekarno-Hatta adalah budak-budak Jepang, dan Amerika dan kaum pengkhianat harus mati."

Pemerintah RI kemudian mengerahkan pasukan Divisi Siliwangi untuk menindas pemberontakan PKI. Pada akhir November 1948, TNI - tanpa bantuan dari luar - menghancurkan pemberontakan komunis. Muso tewas dalam suatu pertempuran. Amir Syarifuddin dan Suripno ditangkap dan kemudian dieksekusi oleh tentara. Soemarsono melarikan diri dan menyamar sebagai guru yang bertahun-tahun lamanya bekerja di Sumatera Utara. Sesudah G-30-S/PKI, Soemarsono kembali ke Jawa dan kini berdiam di Australia. Ia sudah warga negara Australia yang mampir ke Jakarta sebagai wisatawan. Itulah sekelumit cerita tentang Peristiwa Madiun 18 September 1948.

Pemberontakan PKI Madiun 1948, awalnya sekedar konflik sesama golongan kiri yang anti imperialis. Sesudah pekan olah raga nasional (PON) 1948 di Solo, kota Solo mengalami peristiwa yang kemudian ternyata suatu permulaan keributan besar “Pemberontakan PKI”. Dipimpin Muso dikota Madiun. Di zaman Revolusi memang kota Solo terkenal sebagai kota “ruwet”, walaupun tampaknya keluar saban malam pertunjukan Sriwedari dimana masyarakat penuh bergembira ria. Tapi dibelakang tabir poltik berjalan pertentangan pertentangan antara partai golongan “Murba” (antara lain anggotanya GRR dan barisan Banteng) dengan partai-partai dari golongan FDR (Front Demokrasi Rakyat terdiri dari PKI, partai buruh, Pesindo dan lain-lain). Keduanya menamakan diri sebagai partai kiri anti imperialis. Pertentangannya antara lain soal pro dan anti Linggarjati. Selain itu juga pertentangan antara pimpinannya. Pertentangan ini nampak, misalnya dengan adanya perang pamflet GRR dan Banteng yang berbunyi : “Awas waspada kawan, Hijroh tidak memusuhi rakyat kawan, Hijroh membasmi penghianat, penjual negara (Amir Setiadjid dan CS nya). Tertanda Barisan Banteng. Pamflet lain berisi, Siapakah pentjulik2nya Dr Muwardi ?. (Hijroh adalah istilah untuk pasukan Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah pada tahun 1948. FDR adalah kelanjutan kekuatan sayap kiri penguasa pemerintah 1946-1947 dibawah kabinet Sjahrir dan Amir. Mereka merupakan kekuatan politik yang menyelenggarakan perundingan Indonesia-Belanda antara lain dalam perundingan Linggarjati dan Renville. Dr Muwardi adalah pimpinan barisan Banteng yang diculik dan tidak diketahui rimbanya sampai sekarang). Maka terjadilah kegiatan culik menculik dan pembunuhan. Konflik menjadi melebar ketika kesatuan tentara simpatisan masing-masing kelompok melakukan tembak menembak. Isu-isu yang muncul misalnya : Tentara hijrah Siliwangi kena provokasi ? FDR ?, GRR ?, Provokasi anasir-anasir kanan reaksioner. Baru ketika Madiun meletus (September 1948), pemerintah dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas dan tegas. PKI Muso mengadakan pemberontakan yang kejam dan berbahaya. Para pemimpin mereka merupakan tokoh sayap kiri yang kemudian membentuk FDR, yaitu Wikana, Maruto Darusman, Alimin, Muso, Amir Sjarifudin, Abdul Madjid, Setiadjid. Sebenarnya pemberontakan kaum PKI (pimpinan Muso dan Amir) dari Madiun bisa dipandang sebagai suatu konsekwensi yang meletus karena oposisi yang runcing antara Amir cs, sejak ia jatuh dari kabinet pemerintahan dan diganti oleh Hatta dengan bantuan Masyumi dan PNI. Oposisi Amir cs, makin hari makin tajam. Dimana-mana terjadi demonstrasi dan pemogokan. Agitasi poitik sangat mempertajam pertentangan politik dalam negeri. Ketika Muso datang dari luar negeri dan bergabung dengan Amir cs, maka politik PKI-FDR makin dipertajam, maka meletuslah peristiwa Madiun tersebut. Mr Amir Sjarifudin adalah seorang pemimpin rakyat yang “brilliant”. Rupanya bersama dengan golongannya, tak dapat sabar menahan kekalah politiknya didalam pemerintahan. Ia jatuh dan menilik gelagatnya, ta’kan dapat segera tegak kembali dalam pimpinan pemerintahan dan pimpinan Revolusi. Ia berkeliling berpidato, dan partainya beragitasi. Tanah-tanah bengkok desa dibagikan. Sering rakyat dan tentara dihasut untuk melawan pemerintah Hatta. Pemerintah dituduhnya terus mengalah pada kaum kapitalis-reaksioner. Segala usaha dilakukan untuk menjatuhkan pemerintahan kabinet Hatta. Ketika pemberontakan meletus, pemerintah tidak tinggal diam. Presiden Soekarno berpidato pada tanggal 19 September 1948 untuk menghantam dan menghancurkan pengacau-penbacau negara. Kekuasaan negara kemudian dipusatkan ditangan Presiden dan segala alat negara digerakkan untuk menindas pemberontakan itu. Pemberontakan Madiun disebutkan Bung Karno : “Suatu tragedi nasional pada saat pemerintah RI dan rakyat dengan segala penderitaan, sedang menghadapi lawan Belanda, maka ditusuklah dari belakang perjuangan nasional yang maha hebat ini. Tenaga nasional, tenaga rakyat terpecah, terancam dikacau balaukan. Pemerintah daerah Madiun, tiba-tiba dijatuhkan dengan kekerasan dan pembunuhan2, Pemerintah “merah” didirikan dengan Gubernur Militernya bernama “pemuda Sumarsono” dan dari kota Madiun pemberontakan diperintahkan kemana-mana. Bendera merah dikibarkan sebagai bendera pemberontakannya. Oleh pemerintah pusat segera dilakukan tindakan-tindakan untuk memberantas pemberontakan dan kekacauan. Pasukan TNI digerakkan ke Madiun. Dilakukan penangkapan terhadap pengikut PKI-Muso. Ternyata banyak ditemui, rakyat yang tidak menyokong aksi PKI-Muso tersebut. Juga banyak ditemui pengikut FDR tidak menyetujui aksi melawan pemerintah yang secara kejam itu. Namun perusakan dan pembunuhan itu telah terjadi serta tidak dapat dicegah. TNI yang datang ke Madiun, menyaksikan itu semua dengan sedih dan ngeri . Maka Presiden melalui corong radio RRI berseru : “Tidak sukar bagi rakyat, “Pilih Sukarno Hatta atau Muso dengan PKI nya”. Tentara yang bergerak ke Madiun, mendapat bantuan rakyat sepenuhnya Dan Pemerintah mendapat pernyataan setia dari mana-mana. Dari Jawa dan Sumatera. Ahirnya pada tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat direbut kembali oleh TNI. Para pemberontak banyak yang tertangkap. Sejumlah pengacau langsung dapat diadili ditempat secara militer. Didaerah lain seperti didaerah Purwodadi, Pati, Bojonegoro, Kediri dan sebagainya, cabang-cabang pemberontak dapat ditindas. Berminggu-minggu pemimpin pemberontak serta pasukannya dikejar terus. Ahirnya mereka tertangkap juga. Muso sendiri terbunuh dalam tembak menembak ketika hendak ditangkap disebuah desa dekat Ponorogo. Setelah keadaan aman, pemerintah memperingati korban-korban yang telah jatuh karena pemberontakan Madiun. Dari TNI gugur sebanyak 159 orang anggauta-anggautanya selaku pembela negara. (diambil dari tulisan pada buku “LUKISAN REVOLUSI RAKYAT INDONESIA” 1945-1949. yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia pada bulan Desember 1949).


kayaknya ini kok gan...
org2 tua tau nya madiun itu sarang PKI,jaman dulu sih...
sacrosact - 10/10/2012 11:53 PM
#94

Quote:
Original Posted By bigpandu
kayaknya ini kok gan...
org2 tua tau nya madiun itu sarang PKI,jaman dulu sih...


iya kalo dulu sekarang jaman sudah berubah, walaupun sudah berubah kita tidak boleh melupakan sejarah
---------

@aLL kalo ada info tentang madiun silahkan di tambah i yak
gouto - 19/10/2012 02:19 PM
#95

ndisek aq pernah nok smrng 4 thnan kang,,dan rata2 semua klo orng madiun terkenale Masalah PKI dan satunya pasti masalah SH ( ntah SHT or SHW )
Tetap bagaimanapun " madiun my lovely city "
xBerisiKx. - 19/10/2012 02:24 PM
#96

Quote:
Original Posted By gouto
ndisek aq pernah nok smrng 4 thnan kang,,dan rata2 semua klo orng madiun terkenale Masalah PKI dan satunya pasti masalah SH ( ntah SHT or SHW )
Tetap bagaimanapun " madiun my lovely city "


aku malah puluhan tahun punjul rak tau ngono kak

mungkin hanya perasaanmu sahaja itu :travel
Page 5 of 5 |  < 1 2 3 4 5
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Madiun > ۞[Apa&Siapa] Yang Membuat Kars.Madiun Dikenal۞