Militer
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > ( Share ) KISAH Dibalik TNI yang Gugur di Medan Tugas
Total Views: 183020
Page 29 of 43 | ‹ First  < 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 >  Last ›

rudy79 - 15/12/2009 09:42 PM
#561

Dari majalah TEMPO

Bobol, Penjaga Gawang Fretilin

Edisi 39/22
Halaman 30
Rubrik Nasional

28 Nov 1992




DUA teman lama itu kembali bertemu pekan lalu: Abilio Jose Osorio Soares dan

Jose Xanana Gusmao. Keduanya, yang sama-sama kelahiran Manatuto 45 tahun lalu,

adalah teman SMP (Primeiro Ciclo do Ensino Secindario) di Dili. Di situ,

Xanana dikenal sebagai penjaga gawang dalam tim sepak bola Academica.

Dua-duanya pernah pula ikut wajib militer Portugal, Tropaz. Di masa

pergolakan, Abilio masuk Apodeti yang pro Indonesia dan Xanana memilih

Fretilin yang mau merdeka.



Nasib mereka berbeda. Kini, Abilio Soares adalah gubernur Timor Timur, dan

Xanana sebagai tahanan aparat keamanan. Ia dianggap memimpin gerakan melawan

Indonesia. Wartawan TEMPO di Dili melaporkan, keduanya sempat

berbincang-bincang di rumah Pangkolakops Brigjen. Theo Syafei di Pantai Varol,

Dili -- dengan suguhan makanan ringan dan minuman kaleng.

Toh itu bukan saat menyenangkan buat Xanana. Ia ditangkap Jumat pagi pekan

lalu, setelah diburu 16 tahun. Penangkapan Xanana diduga erat kaitannya dengan

pembubaran Fitun -- organisasi pelajar sayap Fretilin yang sering terlibat

demonstrasi, termasuk yang mengakibatkan insiden Santa Cruz, 15 November lalu.



Menurut sumber TEMPO, dari Fitunlah didapat info tempat Xanana bersembunyi

(meski menurut aparat keamanan itu berkat informasi masyarakat), yaitu di

rumah seorang polisi, Kopral Satu Agusto Pierera, di Desa Labane Barat, Dili

Barat. Rumah berukuran 80 meter persegi ini hanya 30 meter dari pos penjagaan

pasukan pemukul Batalyon 623. Di dalam rumah itu dibuat lubang persembunyian

bawah tanah berbentuk L, sekitar semeter dalamnya. Syahdan, Xanana sudah dua

bulan ngumpet di sana. Untuk penyamaran, ia mencukur klimis cambang dan
kumisnya yang lebat.



Jumat itu rupanya hari nahasnya. Pemimpin gerilyawan yang konon bisa

menghilang dan berubah rupa itu bangun tidur pukul 6 pagi. Xanana baru saja

selesai mandi, tatkala pasukan baret merah menggertak: "Buka pintu". Xanana

menguak pintu seraya mengacungkan pistol. Namun, belum sempat pistolnya

menyalak, beberapa laras M-16 disorongkan ke wajahnya. Xanana menyerah.

Dari

persembunyiannya, ditemukan handy talky dan tiga peti barang lainnya. Juga

sekarung dokumen. Ia langsung dibawa ke rumah Theo Syafei.

Nama Xanana mulai mencuat dalam daftar musuh aparat keamanan sejak 1978,

setelah menggantikan posisi orang pertama Fretilin, Nikolaus Lobato, yang

tertembak mati kala itu. Menurut Alexo Cotreal, tokoh masyarakat yang mengenal

dan pernah menjadi pengikutnya, Xanana sebenarnya biasa saja. "Kalau sekarang

dia jadi pemimpin karismatik, karena tak ada lagi tokoh seangkatannya di
Fretilin," ujar Alexo.




Dulu, Xanana adalah seorang wartawan koran Avez de Timor (Suara Timor) pada

masa Portugal. Ia memegang rubrik drama dan puisi. Semasa SMP Xanana memang

sering menjuarai lomba baca puisi. Tulisannya kerap menyerang penjajah. "Puisinya

sangat tajam menentang pemerintah Portugal," cerita Alexo. Pernah,
gara-gara
kritik Xanana pada Portugal, Avez de Timor dituntut ke pengadilan. Pemerintah

Portugal menang. Koran itu didenda 30.000 escudo, tapi tak dibredel.

Kemudian,

Xanana membuat koran sendiri, Nakroma (Terang).

Sebelum masuk hutan, Xanana sempat menjadi juru ketik di salah satu instansi

swasta di Dili. Tahun 1973, ia pergi ke Australia. Tak banyak berita tentang

kegiatannya di hutan. September 1990, Robert Domm, pengacara Australia,

mengaku menemui Xanana dan merekam perbincangannya dalam enam kaset.

Wawancaranya diterbitkan oleh Australian Council for Overseas Aid pada

Februari 1991.

Tempat persembunyian Xanana, menurut Domm, dijangkaunya setelah berkendaraan

setengah hari dari Dili dan jalan kaki sekitar 20 kilometer. Agar tak terlihat

tentara Indonesia, ada "upacara menghilangkan jejak" sebelum naik gunung.

Xanana digambarkan sebagai seorang yang cerdik, cerdas, dan tahu banyak berita

sekitar Tim-Tim. Diakui Xanana, pihaknya sangat terjepit oleh ABRI.

Penangkapan Xanana tentu membuat geger. Dari Portugal, Presiden Mario

Soares

mendesak PBB agar minta Indonesia membebaskan Xanana. Sabtu lalu, di depan

konsulat Indonesia di Melbourne, sekitar 150 simpatisan Fretilin berseru

serupa. Dalam demo di tengah hujan dan angin deras itu, ikut pula dua anak

Xanana, Nito (21 tahun) dan Zenilda Gusmao (18 tahun).

Emilia, 41 tahun, istri Xanana, sejak dua tahun lalu memang berada di

Melbourne bersama kedua anaknya. Ketika wartawan TEMPO Dewi Anggraeni

mengunjungi rumahnya, Emilia tampak sembab matanya dan hanya duduk

termenung

bersandar di kursi panjang.




Dia, yang hanya bisa berbahasa Portugis, pada

reporter televisi ABC berkata, "Saya mohon agar Australia membantu

pembebasan

suami saya, dan agar dia tak diperlakukan sebagai penjahat politik." Emilia

juga tengah menghadapi soal rebutan dana perjuangan US$ 75.000 di sebuah

bank

Portugal dengan pimpinan pucuk Fretilin Ramos Horta.

Xanana, kabarnya, sudah diterbangkan ke Jakarta. Namun, Kapuspen ABRI

Brigjen. Nurhadi Purwosaputro membantahnya. Xanana, katanya, masih di Dili.

Pangab Jenderal Try Sutrisno telah pula terbang ke Dili dan sempat melihat

lokasi penangkapan Xanana, Jumat siang lalu. Dari Dakar, Senegal, masuk

kawat

ucapan selamat Presiden Soeharto atas penangkapan ini.




Suasana Dili tampak tenang. Namun, rupanya ada mitos bahwa Xanana adalah

orang sakti. Hingga awal pekan ini, sebagian orang Tim-Tim masih belum

percaya

Xanana bisa tertangkap. Apa Brigjen. Theo mesti menayangkannya di televisi?

Toriq Hadad (Jakarta), Ruba'i Kadir (Dili)
rudy79 - 15/12/2009 09:47 PM
#562

Kontak Senjata di Baucau, Tiga Anggota GPK Tewas



Dili, Kompas

Tiga anggota GPK (gerakan pengacau keamanan) Timor Timur dan dua

angggota ABRI tewas dalam kontak senjata di Baucau, sekitar 180 km

dari Dili. Kepala Staf Kodam (Kasdam) Udayanya, Brigjen (TNI) Willem

de Costa, mengatakan hari Kamis (16/4) di Bandara Comoro Dili, kontak

senjata itu terjadi Rabu malam lalu ketika petugas keamanan menyergap

markas GPK di Kampung Manulai, Desa Wailili, Kecamatan Baucau.



"Sebelumnya, petugas mendapat laporan dari masyarakat tentang adanya

markas GPK di situ. Dalam penyergapan itu anggota ABRI mendapat

perlawanan ketat sehingga kontak senjata tidak terhindarkan," ujarnya.


Menurut Kasdam, dalam kontak senjata itu pihak GPK melepaskan tembakan

ke arah anggota ABRI, Serda Wayan Darma yang membawa sebuah granat.

Tembakan mengenai prajurit tersebut dan granat pun meledak. Serda

Wayan tewas bersama Serda Atek Ribiyanto yang berada di sampingnya.



Tiga anggota GPK yang tewas adalah Ny Maria Maia Marques (37), anaknya

Cribonto (12), dan Salustiano Freitas (35), pemilik rumah. Sekitar

delapan anggota GPK lolos dari penyergapan itu.



Kontak senjata berlangsung satu jam. Rumah yang menjadi markas GPK itu

dibangun tahun 1995 tapi hingga kini belum selesai. GPK juga membangun

terowongan mirip katakombe. Terowongan ini sekaligus menjadi

penyimpanan logistik mereka.



"Salustiano Freitas adalah mantan anggota tim kesatuan "Sera" Kodim

1828 Baucau. Dia lari ke hutan bergabung dengan GPK sejak tahun 1992,"

kata Willem.


Senjata ditemukan

Kasdam mengatakan, ketika dilakukan pembersihan esok harinya, petugas

menemukan 33 butir peluru M16, 12 butir proyektil, satu peti amunisi

campuran, tiga pucuk senjata api, senjata api genggam kuno, satu

senapan angin, empat magasin penuh peluru, satu magasin M16, dua handy

talky, dua rol kabel, 23 antena, bendera Fretelin, tiga teropong, 10

kaset video, satu dos obat-obatan dan bahan makanan, dokumen, bom

rakitan, ransel, tiga sepatu ABRI, tiga pasang baju TNI, 12 celana

loreng, tujuh peti kosong, beberapa foto pimpinan GPK seperti David

Alex, Matan Ruak dan Cesario Haksolok.



Tiga anggota GPK yang tewas di Manulai itu sempat dibawa kabur ke

hutan oleh anggota GPK lainnya yang berhasil lolos dalam penyergapan

malam itu.


Ia menambahkan, tiga pucuk stengun itu digunakan GPK ketika membunuh

Pratu Amandio Coreia, istri dan anaknya dua pekan lalu di markas

tersebut. Keberadaan markas GPK di tengah kampung merupakan petunjuk

bahwa GPK semakin cerdik melakukan aksi-aksi yang merugikan

masyarakat.


Kasdam mengharapkan, masyarakat agar segera melaporkan kepada pihak

berwajib jika mengetahui ada kegiatan GPK di daerah itu. Hal itu

penting agar petugas keamanan bisa segera mengambil langkah-langkah

pengamanan. (kor)




Kejadian ini berhasil saya konfirmasi dengan seorang pelaku penyergapan

ini.Pelaku sekarang bertugas di Koramil Tawangsari Sukoharjo berpangkat

Kopral Satu.Daerah kejadian ada di sektor Timur yang masih rawan adanya

GPK Fretilin.Sang kopral yang aslinya dari Jogja berhasil saya ajak ngobrol

ketika sedang istirahat ketika kami sedang latihan di Korem Solo.




Bunker tersebut ada sebuah rumah yang tiap hari dilalui oleh truk atau patroli

TNI saat itu.Jadi saat penyergapan pihak lawan berhasil mendahului

menembak sehingga timbul korban gugur di pihak TNI.

Bunker tersebut berhasil diendus pihak intel,memang jeli sekali.
rudy79 - 15/12/2009 09:52 PM
#563

Selasa, 30 Januari 1996

ENAM GPK FRETILIN DITEMBAK MATI

Dili, Kompas



Komandan Komando Resort Militer (Korem) 164/Wira Dharma (bukan

164/Wijaya Kusuma sebagaimana ditulis Kompas (26/1), Kolonel (Inf)

Mahidin Simbolon mengatakan, tim gabungan ABRI di Timor Timur (Timtim)

Kamis (25/1) dan Jumat (26/1) menembak mati enam anggota Gerombolan

Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin dan menangkap hidup seorang anggota

GPK dan seorang anggota klandestin (gerakan bawah tanah).



"Dari tangan mereka, berhasil dirampas dua pucuk senjata M-16 A1, satu

pucuk senjata jenis SP-1, satu pucuk senapan angin, dua magazen M-16

A1 dan satu magazen SP-1," kata Simbolon ketika ditemui wartawan di

sela-sela acara pisah kenal, Kepala Stasiun (Kepsta) RRI Regional I

Dili yang lama, Paul Jusuf Amalo dan Kepsta RRI Dili yang baru, Sudung

Parlindungan Tobing di Dili, Sabtu (27/1).




Danrem ketika itu didampingi Kapen Korem 164/Wira Dharma, Kapten CAJ

L. Djoko Purwadi mengatakan, peristiwa itu terjadi di dua wilayah,

yakni Atsabe, Kabupaten Ermera sekitar 80 km arah barat Dili. Selain

itu di Dilor, Kabupaten Viqueque, sekitar 200 km arah timur Dili. Dua

wilayah itu katanya, dikenal sebagai sarang GPK Fretilin.



Baku tembak

Menurut Simbolon, tim gabungan ABRI dalam operasi buru GPK di Atsabe,

Kamis (25/1) bergerak pada pukul 4.30 Wita, di bawah komando Serda

Mukadi. Tim yang beranggota 12 orang sempat baku tembak dengan GPK.

Akibatnya, kata Simbolon, seorang anggota GPK, Kristovao alias

Aracabia (30) tertembak mati. GPK Martino alias Aranluli (34) serta

seorang anggota klandestin tertangkap hidup.


Anggota klandestin itu, lanjut Simbolon, dikembalikan kepada

keluarganya setelah diberi pengarahan oleh aparat keamanan setempat.


Tim di Dilor, Viqueque beranggotakan 20 orang, dipimpin Kapten Inf.

Eko S. Mereka berhasil menembak mati lima anggota GPK, namun dua orang

lainnya sempat lolos.

Mereka yang tertembak mati, Serlau (30), Mau Sino (29), Bento Calma

(28) (asisten politik), Jose Pendek (30) dan Robido Onak (33).


Dalam baku tembak GPK Fretilin-pasukan ABRI di dua wilayah tersebut,

kata Simbolon, tidak seorang pun dari tim yang terluka.


Menurut Simbolon, sejak April 1995 hingga Januari 1996, tercatat 32

anggota GPK di Timtim berhasil dilumpuhkan. Ada yang tertembak mati,

menyerahkan diri dan ditangkap hidup. (m)

rudy79 - 15/12/2009 09:55 PM
#564

Sumber : MBM GATRA
Edisi : 27 Mei 1995.
Rubrik : Nasional

TIMOR TIMUR


Serangan Minggu Pagi
Seorang prajurit ABRI tewas ditembak gerombolan Fretilin .


SERENTETAN tembakan menyalak di sebuah bukit, di pingiran

Kampung Olabai, Kecamatan Kota Viqueque, Timor Timur, sekitar

pukul 6.40 Ahad pagi pekan lalu. Rupanya Pos Pengaman (Pospam)

II Kodim 1630 Viqueque diserbu segerombolan gerilyawan Fretilin.

Bunyi tembakan, kata Gomes Fernando, seorang penduduk Olabai,

berlangsung sekira empat menit. Sesudah itu, suasana kembali

sunyi. "Tapi warga sini takut keluar rumah," Gomes menambahkan.


Para gerilyawan ini cepat kabur setelah melakukan aksi,

meninggalkan Pratu (Prajurit Satu) Mathias Ormai da Silva dengan

sejumlah luka di tubuh. Pratu Mathias da Silva tewas. Menurut

sumber Gatra di Markas Kodam Udayana, Denpasar, da Silva

sendirian di pos ketika para penyerbu datang. Maka betapapun

telah mencoba bertahan habis-habisan, ia tak bisa berbuat banyak.


Sumber di Dili menduga serangan itu dilakukan oleh gerombolan

Asioux yang memang dikenal sering kelayapan di hutan Viqueque.

Kekuatan mereka diduga sekitar 15 orang. Namun ancaman kelompok

gerilyawan ini dianggap tak berarti. Hampir lima tahun lamanya

mereka tak berani mengusik pos-pos militer. "Paling mereka

mendatangi penduduk desa dan memin- ta bahan makanan,"

ujar sumber Gatra di Dili.


Pospam II di Kampung Olabai itu biasanya dijaga enam personel.

Mungkin karena keadaan dianggap aman maka komandan jaga Sersan

Satu Jacinto dan empat anak buahnya pulang ke rumah untuk bersama

keluarganya ke gereja menjalankan misa Minggu pagi. Mathius Ormai

da Silva, bekas Hansip yang direkrut menjadi anggota militer itu

menjaga pos seorang diri.


Maka gerombolan Asioux yang diperkirakan telah mengintai sejak

beberapa hari sebelumnya, kini mendapat kesempatan. Setelah da

Silva roboh, para gerilyawan menjarah pos militer itu. Dua pucuk

senapan jenis SP-2, dan 3 pucuk bedil model kuno G-3, serta 240

butir peluru mereka bawa kabur. Sejumlah seragam militer dan

obat-obatan ikut kena gondol.


Pihak militer tentu tak tinggal diam. Pengejaran segera

dilakukan. Lima peleton prajurit dari Yon 406 Diponegoro, yang

sedang bertugas di Timor Timur, segera dikerahkan. Tiga peleton

diperintahkan menyisir ke daerah perbukitan di timur laut

Viqueque dan dua yang lain ke arah barat laut. Tapi sampai akhir

pekan lalu, belum diketahui hasil pengejaran.


Saat ini, kata Komandan Korem Wiradharma Dili Kolonel Kiki

Syahnakri, kekuatan gerilyawan Fretilin tak lebih dari 176 orang

dengan sekitar 105 pucuk senjata. Mereka terbagi menjadi banyak

kelompok: ada gerombolan Cony Santana, Alut, David Alex, Lere,

Ernesto, Maukonis, dan Asioux. Mereka makin terdesak karena

sulit mendapat senjata, amunisi, dan anggota baru.


Operasi menangkal gerilyawan terus dilakukan. Pertengahan Mei

lalu, satuan keamanan Timor Timur berhasil menangkap Mario Jose

Guteris, gerilyawan Fretilin, di Desa Dare, Kecamatan

Hatuberlico, Ainaro. Dari Guteris bisa dirampas sebuah senjata

laras panjang dengan 150 butir peluru, dua granat, dan uang Rp

300 ribu. Beberapa hari sebelumnya, aparat Kodim Bobonaro

menembak mati Aeulari dan Julio dalam sebuah kontak senjata.

Dalam peristiwa itu, Apresio Miquel Soares, 20 tahun, tertangkap

hidup. "Kami selalu menyerukan agar mereka menyerah," kata

Kolonel Kiki Syahnakri. Ia berjanji gerilyawan yang menyerah tak

akan disakiti.


(PTH (Jakarta) dan RK (Dili)






Catatan Kejadian yang menimbulkan banyak korban di pihak TNI dalam operasi seroja.

1.Operasi Linud 7 Desember 1975. 16 Kopassandha dan 35 Kostrad gugur.

2.Peristiwa Kraras 8 agustus 1983. 14 TNI Gugur dan 17 pucuk senjata hilang.

3.Penghadangan truk pengamanan pemilu di baucau 1997 .19 gugur ( BRIMOB dan TNI).

4.Penghadangan truk Denzipur-8 tgl (18/9-1997) di Kairura 80 Km arah Timur Dili . 5 TNI gugur

5.Penghadangan truk Yonif 405 pada 15 April 1976 di Pegunungan Aitutu. 33 TNI gugur.
adilia - 15/12/2009 10:07 PM
#565

rasanya kayak ngeganjel banget baca kisah2 di timor-timur, banyak darah tumpah di sana tapi cuman gara2 ngikuting kemauan poliTIKUS akhirnya kayak sia2 aja

nice writing bro rudy
rudy79 - 15/12/2009 10:17 PM
#566

PENUMPASAN DI/TII

Berakhirnya Petualangan Kahar Muzakar


TEPIAN Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara, menjelang dini hari 2 Februari

1965. Dalam kegelapan, satu regu pasukan dari Batalyon 330 Kujang I, asal

Kodam Siliwangi, tersesat kehilangan arah. Beberapa jam sebelumnya,

kompas perlengkapan regu yang dipimpin Pembantu Letnan Satu Umar

Sumarna itu tiba-tiba rusak.


Para prajurit yang semua berasal dari Jawa Barat itu hanya tahu, mereka

tengah berada di ketinggian. Sementara Sungai Lasolo, yang menjadi

penanda arah, berada di lembah di bawah mereka. ''Kami benar-benar nyasar

dan harus melakukan upaya survival,'' kata Ili Sadeli, kini 64 tahun, seorang

anggota regu yang tersesat itu, kepada Sulhan Syafi'i dari Gatra.


Tiga puluh enam tahun telah berlalu. Tapi Sadeli, yang ditemui di rumahnya di

Desa Sukamandi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, masih mengingat

jelas pengalamannya. Menurut Sadeli, ketika terang tanah, tiba-tiba saja

pasukannya melihat di sungai ada beberapa orang tengah mencuci beras.

Yang lebih mengagetkan: muncul pula beberapa pria berpakaian hijau dan

memanggul senjata.


Tahulah mereka bahwa tujuan perjalanan jauh mereka --dari Jawa Barat

hingga Makassar-- telah makin dekat. Regu Umar Sumarna adalah bagian dari

bantuan pasukan asal Kodam Siliwangi pada Komandan Operasi Kilat

pemberantasan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)

Panglima Kodam Hasanuddin, Brigadir Jenderal Andi Muhammad Jusuf.


Karena yakin yang terlihat itu adalah kelompok DI/TII Kahar Muzakkar, Umar

memerintahkan 18 anggota pasukannya untuk menggelar strategi

penyerangan ke perkampungan tempat kediaman kelompok itu. Ili Sadeli,

yang ketika itu berpangkat kopral dua, bersama lima anak buahnya, ditugasi

berjaga di sepanjang jalan setapak menuju sungai.


Rupanya, Umar berjaga-jaga jika ada anggota kelompok Kahar yang melarikan

diri ke arah sungai. Ketika malam tiba, ke-13 prajurit regu Umar Sumarna

mulai merangsek ke perkampungan pasukan DI/TII. Dini hari 3 Februari,

terjadilah baku tembak antara regu Umar dan pasukan DI/TII. Ketika itulah,

lima anak buah Ili Sadeli meninggalkan posnya di jalan setapak, untuk ikut

menyerbu.


SADELI, yang sendirian dan masih bersembunyi di sebuah pohon besar

dihalangi semak-semak, tiba-tiba mendengar suara tapak kaki yang melintas.

Tapi, orang pertama ini lewat melenggang. ''Saya tegang, senjata pun

macet,'' kata Ili Sadeli. Tak berapa lama, terdengar satu lagi langkah kaki

mendekati tempat Ili Sadeli. Kali ini, muncul sosok bertubuh tegap.


Ketika makin mendekat, terlihat jelas orang itu berkepala sedikit botak,

berkacamata, dan raut mukanya bersih serta rambutnya ikal. ''Wah, wajahnya

persis seperti terlihat di foto Kahar Muzakkar,'' bisik Sadeli. Semula Sadeli

mau menyergapnya. Tapi, karena orang itu membawa granat, akhirnya Sadeli

memilih memuntahkan peluru dari jarak dua meter.


Tiga peluru pun terlontar menembus dada. Orang itu langsung tersungkur di

depan Ili Sadeli, tepat pukul 06.05 WIB. ''Kahar geus beunang... hoi, Kahar

geus beunang (Kahar sudah tertangkap),'' Sadeli berteriak. Mendengar

teriakan Sadeli yang berulang-ulang, regu Umar pun bergegas memeriksa

mayat itu.


Di ransel kecil korban ditemukan beberapa dokumen DI/TII, yang menunjukkan

bahwa jenazah itu adalah Kahar Muzakkar, yang selama ini dicari.



4 Juni 1962
Tertangkapnya SM. Kartosuwiryo Pimpinan DI/TII Jawa Barat

Laporan dari Kompi II Batalyon 327, bahwa di kampung Pangupon Pacet

Kabupaten Bandung telah terjadi penggarongan yang dilakukan oleh tujuh

orang anggota gerombolan Kartosuwiryo, Batalyon 328 Para Kujang/Siliwangi

di bawah pimpinan Letda Suhanda yang menerima laporan itu, minta izin

kepada komandan Batalyonnya untuk mengikuti jejak gerombolan itu. Pada

tanggal 3 Juni 1962, Kompi “C” 328 Kujang bergerak dari titik poros

pemberangkatan menuju Gunung Rokutok.


Pada tanggal 4 Juni 1962 bekas-bekas jejak gerombolan terdeteksi, Peleton II

melihat gubug-gubug pada jarak 50 meter, diperintahkan oleh Letda Suhanda

untuk segera melepaskan tembakan serbuan, dalam tempo singkat pasukan

sudah berada di kedudukan musuh, sehingga lawan tidak diberi kesempatan

sama sekali untuk mengadakan perlawanan, kemudian komandan kompi

memerintahkan untuk segera menyerah, tidak lama setelah itu seorang

anggota gerombolan menampakkan dirinya dengan mengangkat tangan, orang

tersebut adalah komandan pasukan pengawal SM. Kartosuwiryo yang

bernama A. Mujahid alias Aceng Kurnia. Aceng Kurnia meminta agar Batalyon

327 menghentikan tembakan dan yang lainnya menyerah, tidak lama setelah

itu 18 orang gerombolan menyerahkan diri. Kemudian Letda Suhanda

menggeledah gubug A didalamnya terdapat orang yang sedang sakit keras,

orang tersebut ternyata SM. Kartosuwiryo pemimpin tertinggi dari Angkatan

Perang Negara Islam Indonesia.

sumber : Gatra
rudy79 - 15/12/2009 10:26 PM
#567

Catatan Seorang Jurnalis yang Meliput Operasi di Aceh

Pertengahan mei 2003, kembali tugas mengantar saya ke Aceh. Darurat

militer masih panas. Dan seperti kebiasaan waktu itu, saya ke Aceh sendirian

aja (alias VJ). Siang itu saya sudah berada di suatu tempat di pidie, aceh.

Sehari sebelumnya, komandan kodim pidie ngasih tau, hari ini bakal ada

operasi besar-besaran. Dan memang benar, lebih dari 100 pasukan TNI dari

batalyon 315 siliwangi dan 642 kapuas, 3 tank angkut personel, dan beberapa

truk reo (truk lapis baja), berkumpul. Mereka rencananya mau nyerang

sebuah desa basis GAM di kecamatan muara tiga pidie, katanya lagi, ada

sekitar 50an GAM sembunyi didesa ini. Katanya sih mau nyerang dadakan,

tapi koq ngumpulnya rame-rame yah…(?).


Singkat cerita, tibalah saat operasi. Tengah malam menjelang dini hari,

pasukan dipecah menjadi 2. Batalyon 315 akan menyerang dari depan

(mereka pake truk militer), sementara batalyon 642 akan menyekat dari arah

belakang, dengan bantuan Tank.Sang komandan kompi Tank meminta saya

ikut dengan dia. Pikir saya (dan juga wartawan lain), naik tank pasti lebih

aman, khan dibikin dari baja. Tapi pastinya ga nyaman. Soale, satu tank

dijejali 20an tentara. Bayangin aja, 20an tentara, ditambah wartawan,

ditambah senjata mesin dan amunisi, semuanya tumplek plek jadi satu…


Tank tua itu ( punya marinir, jenis BTR50, buatan tahun 50an jaman perang

trikora!!), bergerak menembus kegelapan malam. Saking gelapnya, dan

maklum saja bukan Tank canggih yang pake GPS atau radar, beberapa kali

kita nyasar(??)… hihi aneh ya…


Entah berapa lama kami bergerak. Sempat juga seh istirahat, dengan

ditemani nyamuk-nyamuk segede gaban. Menjelang pagi pun kami masih

bergerak (koq ga nyampe-nyampe yah…), menembus hutan semak dalam

kegelapan total. Lampu bener2 dilarang, soale bisa jadi sasaran tembak…..


Tiba-tiba… gubrak!!… brak!!!.. langit pun gelap, bintang bulan dilangit

menghilang!!!... apa yang terjadi?? …. Alamak, tank yang saya tumpangi

terperosok jurang!! Ga terlalu dalem seh, Cuma 6 meteran… tapi, posisi saya

berada didepan, jadinya yah terpaksa deh ketindih tentara-tentara itu

beserta peralatan lenongnya. Alhamdulillah, saya selamat, dengan luka-luka

lecet aja. Tapi kameraku bernasib tragis. Lensa dan bodi terpisah..

hiks..hiks.. ga bisa liputan deh. Tapi untungnya, ada wartawan TV laen yang

mau minjemin handycamnya. Jadi bisa liputan sedikit kontak tembak yang

terjadi siang harinya. Dan sampai detik ini, saya satu-satunya kameramen

yang pernah matahin kamera (hehehe)…


hasil operasi ternyata cukup mengecewakan. pasukan TNI hanya berhasil

menangkap 2 orang anggota GAM. kemungkinan operasi telah bocor...

Sore hari, liputan kelar. Ketika akhirnya dapet sinyal, aku berniat laporan ke

Jakarta apa yang terjadi dan kamera tercinta. Dengan batere HP yang low

bat, aku hubungi produser berita sore waktu itu. “ mas (agak terbata-bata,

maklum cape, n’ belon makan semaleman ampe siangnya), semalem aku ikut

operasi TNI, tapi trus tank-nya masuk jurang…”, belum selesai aku ngomong,

bos langsung nimpalin “ wah!! Bagus tuh… kamu dapet Tank masuk jurang!!

(sebel ga seh??!!)..”, katanya penuh semangat. “, … tapi mas, aku khan

didalem tank itu… tut..tut…”, batere Hp ku bener2 abis…


Sebesar atau sekecil apapun kiprah jurnalis dalam medan perang adalah

kekayaan yang tak ternilai. Tidak heran kalau banyak jurnalis militer yang

"merengek" kepada bosnya untuk minta dikirim ke medan perang, walaupun

sebenarnya ia dengan tidak langsung "mempertaruhkan" nyawanya sendiri.


Bisa langsung berada di tengah-tengah prajurit, merupakan kenangan

tersendiri. Di situlah sebenarnya kita bisa dapat touch, merasakan beragam

keluh-kesah, suka-ria, dan sisi-sisi humanis dari seorang abdi negara yang

dipersenjatai. Demi negara mereka mempertaruhkan nyawa, meninggalkan

anak yang masih balita dan istri untuk mengurus rumah tangga sendirian.

Paling banter nitip dijagain sama tetangga atau kalo beruntung orang tua

atau mertua ikut nginap sementara. Setelah itu kembali sendiri menanti suami

pulang dari medan perang, Selama berbulan atau bahkan lewat setahun.

Paling memilukan kalau dapat kabar dari tetangga, suami tercinta gugur di

medan laga....


Bagi para jurnalis perang, bisa bercengkerama dengan tentara, kadang dapat

makan kadang enggak, tak jadi soal. Peliput perang bukan mereka yang tidur

nyenyak di hotel bintang lima, dibawa plesir dan makan-makan enak. Medan

utama meraka adalah kubangan lumpur dan kecintaan kepada militer. Paling

banter tidur di bangku truk, kalo mujur dapet mes sederhana dengan kopi

hangat dan ubi rebus. Nikmaaattt... saat-saat ngobrol sampai larut sesama

rekan pers, adalah moment yang juga sangat sulit terlupa. sampai kemudian

bertemu lagi di penugasan lain, dan kita cerita-cerita tentang misi yang

pernah dialami bersama.
rudy79 - 15/12/2009 10:34 PM
#568

Diambilkan dari :
MATINYA SANG HANTU
Kisah RPKAD Meringkus Gembong PKI Gaya Baru


SIAPA yang mengorganisir penyebaran pamfet dari Pontianak ke

Pemangkat dalam beberapa jam di malam tanggal 25 Mei tahun 1972

yang lalu? (TEMPO, 30 September 72 - Laporan Utama). Orang

itulah yang mula-mula dicari Brigjen Seno lartono ketika awal

tahun 1973 dia memimpin Kodam XII Tanjungpura. Tapi betulkah

orangnya masih ada atau setidak-tidaknya belum mati.


Informasi yang samar-samar ini rupanya tidak menghalangi perwira

tinggi RPKAD itu buat menetapkan kesimpulan bahwa "S.A. Sofyan

masih ada". Dan masih hidup di daerah Kalimantan Barat. Tapi di

mana pula tempat sembunyinya orang yang punya harga kepala Rp 3

juta itu. Inilah soal yang masih gelap. Sementara masyarakat

mempercakapkan bahwa Sofyan orang yang punya ilmu menghilang,

kebal terhadap peluru dan macam-macam lagi.


Daftar pesanan. Apapun kata orang tentang Syarif Ahmad Sofyan Al

Barak bah otaknya PKI Gaya Baru Kalimantan Barat ini, Seno

Hartono kemudian menandatangani PU 001/1973 yang menyerukan

kepada semua orang-orang di Kalimantan Bara untuk menangkap

hidup atau mati ketua CDB-PKl Kalbar. Seruan Panglima ini

bukanlah sekedar perintah lari Pangkopkamtibda saja, tetapi di

dalamnya mengandung pesan Jenderal Soemitro bahwa orang yang

menghantui Kalimantan Barat lebih 8 tahun ini dalam waktu 100

hari setelah Brigjen Seno Hartono menggantikan Mayjen Drs

Soemadi sebagai Pangdam XII/Tanjungpura sudah bisa menangkap

kepalanya.


Waktu yang 100 hari ini rupanya dijadikan modal bagi Seno untuk

mengadakan: 1. Penggalangan. 2. Menentukan kedudukan Sofyan dan

3. Penangkapam Batas waktu 100 hari itu kemudian dilunakkan oleh

Pangkowilhan I sampai akhir tahun 1973. Untuk menangkap orarg

buronan ini selambat-lambatnya sampai akhir tahun 1973 Brigjen

Seno Hartono terpaksa harus membongkar keterangan-keterangan

dari dasarnya. Maka kepada Mayor Sutarno Komandan Detasemen

"Kata Hitam" RPKAD sebelum memulai tugas khususnya menangkap

Sofyan, disuruh menemukan anggota-anggota terdekat dari S.A.

Sofyan. Sang mayor RPKAD ini kemudian berhasil membina salah

seorang kawan terdekat Sofyan yang bernama Dji Lou. Dari Dji Lou

inilah pasukan "Kala Hitam" menyelusuri jejak-jejak Sofyan.


Rupanya Dji Lou bukanlah sembarang orang. Selan dia eks-kader

Sofyan diapun akrab dengan pengawal-pengawal S.A. Sofyan yang

lainnya. Waktu Dji Lou dijadikan umpan oleh Mayor Sutarno buat

ditempatkan di daerah Telentang Kabupaten Pontianak, suatu malam

ia didatangi seorang tamu sobat lamanya. Tamu yang datang ke

gubuk Dji Lou di tengah hutan itu adalah Lo Hin alias Acin. Lo

Hin yang bias nembawa pistol dan golok itu termasuk pengawal

S.A. Sofyan di samping Ramang alias A Siong dan A Tet.

Kedatangan Lo ke tempat Dji Lou itu membawa daftar pembelian

makanan dan obat-obatan yang harganya Rp 7.000. Tapi dalam

daftar pesanan itu tertulis pula rokok "Kompas" dan Cocoa

(coklat). Hal itu langsung dilaporkan oleh Dji Lou kepada Mayor

Sutarno. Adanya pesanan rokok "Kompas" dan coklat itu yakinlah

Mayor Sutarno blwa pesanan makanan itu adalah pesanan S.A.

Sofyan, karena konon rokok "Kompas" dan coklat adalah kegemaran

S.A. Sofyan. Kemudian diturlah siasat untuk menangkap

hidup-hidup si Lo Hin itu. Dengan suatu gerakan yang cekatan

anggota-anggota RPKAD itu pada tanggal 6 Januari 1974 sekira jam

08.30 Lo Hin tertangkap tanpa mengadakan perlawanan sama sekali.


3 jam di kamar. Sesungguhnya sejak 4 Oktober 1973 yang lalu

tinggal 3 pengawal lagi yang megiringi Sofyan yang sudah kepepet

itu keluar masuk hutan. Tapi Lo Hin tidak percaya dan terus

tutup mulut dalam pemeriksaan di daerah Kecamatan Terentang.

Untuk meyakinkan orang ini dan sesuai dengan permintaannya,

pemimpin-pemimpin lainnya yang, sudah pada meringkuk di tahanan

di Pontianak keesokan harinya diangkutlah -- termasuk

tokoh-tokoh PKI Gaya Baru-nya S.A. Sofyan -- ke Terentang.

Setelah dipertemukan dengan isterinya, Lim Pin an isteri Sofyan

juga, barulah Lo Hin berkata: "Kalau begini sandiwara harus

bubar".


Sebelum menunjukkan tempat persembunyian Sofyan, malam itu

kira-kira selama 3 jam Lo Hin diberi kesempatan "bertemu" dengan

isterinya dalam kamar. Setelah keluar dari kamar dengan wajah

berseri-seri karena sekian tahun tak jumpa kekasih, Lo in mulai

menceritakan di mana tempat sembuyinya S.A. Sofyan.


Hutan di daerah Terentang belum dijamah pengusaha-pengusaha

kayu, masih sepi. Gelap dan dingin malam jam 22.00 tanggal 11

Januari membuat suasana angker dan tegang. Dengan perahu samran,

12 anggota Kala Hitam RPKAD berangkat dari Terentang menuju

Sungai Asam. Karena keadaan makin gelap dan sulit menentukan

arah jalur sungai, Lettu Sutiono pimpinan regu penyergap yang

berperawakan kecil itu memerintahkan kepada anak-buahnya

menginap dulu di pinggir Sungai Sapar. Karena gubuk

persembunyian S.A. Sofyan di tengah-tengah hutan, maka pasukan

penyergap harus tiba di tempat itu pada saat matahari masih

terang benderang betul. Sebab dalam hutan ini, jika pagi masih

gelap karena kabut dan sore hari juga gelap karena sinar

matahari sudah tak bisa menembus kelebatan hutan belukar itu.

Maka keesokan harinya 12 Januari 1974 Jam 09.00 pagi pasukan

"Kala Hitam" yang juga membawa Lo Hin sebagai petunjuk jalan

meneruskan perjalanan dengan jalan kaki menerobos hutan belukar

dan rawa-rawa yang sangat sulit ditembus.


Jangan si Ramang. Ada tiga tempat di daerah itu yang sering

diduduki Sofyan. Pertama pinggir Sungai Kelabau tempat Sofyan

biasa mancing-mancing ikan, kedua pos penjagaan pengawal Sofyan

dan terakhir di kampnya selidiri. Karena Sofyan tak biasa tidur

di pinggir sungai tempat dia mancing, maka Lettu Sutiono

mengatur rencana penyergapan dari Ramanng belakang. Setelah pos

penjagaan berhasil dilewati, 1 jam kemudian masuklah mereka ke

daerah pcrsembunyian Sofyan. Kira-kira 100 meter jaraknya

ransel-ransel ditinggalkan dengan ditunggui 4 orang pasukan.

Pasukan jalan pelan-pelan. Dalam jarak 30 meter berhenti lagi.

Di sini Lo Hin tak berani dekat lagi. Karena katanya dia tak

tega melihat pucuk pimpinannya itu ditangkap atau ditembak di

depan batang hidungnya. Karena hutan terlalu lebat dan gelap,

pasukan tak bisa melihat secara datar "Itu pohon kayu itu pak"

ujar Lo Hin sambil menuding tiga kayu besar tinggi di antara

pepohonan lainnya.


Pasukan yang berkekuatan 12 orang dibagi dalam 3 kelompok, yang

kemudian bergerak membentuk formasi huruf V. Kemudian pada jarak

15 meter sambil merayap mereka mendengar ada orang ngobrol di

depan. Lalu terdiam. Sejenak pasukan pun berhenti. Merayap lagi.

Lalu kedengaran piring seng terpukul sendok yang diperkirakan

mereka sedang makan siang. Pada jarak 10 meter anak buah yang

berada di samping kiri Sutiono melihat dengan jelas ada dua

orang berhadapan sedang makan di antara 3 pohon besar. Sofyan

dalam posisi membelakang dengan senjata AK terletak di samping

pahanya. Sedang Ramang alias A Siong mukanya menghadap pasukan.

Di samping badan A Siong juga ada senjata Getmi yang berisi 20

peluru. "Kalau terpaksa menembak, tembaklah Sofyan dulu. Jangan

si Ramang" bisik Sutiono pada anak buahnya. Saat tegang inipun

Lettu Sutiono masih ingat pesan komandannya Mayor Sutarno:

usahakan tembak kakinya. Karena Sofyn sedang makan "jadi kakinya

tidak bisa dilihat" kata Sutiono kepada Pangdam bersama Muspida

lahirnya di kediaman Pangdam XII/ Tanjungpura Minggu malam 13

Januari 1974 yang lalu, ketika mayat Sofyan sudah terbaring di

RS Kesdam XII/ Tanjungpura "Yang terlihat cuma badan ke atas"

sambungnya lagi.
rudy79 - 15/12/2009 10:35 PM
#569

Saksi-saksi. Tepat jam 13.05 waktu Indonesia bagian tengah

(wita) hari Sabtu 12 Januari 1974 di antara celah-celah daun

belukar dalam jarak 10 meter sebutir peluru AR dari samping

badan Lettu Sutiono meluncur dengan cepat, tepat mengenai

belakang kepala Sofyan tembus ke dahinya. Menyusul

tembakan-tembakan beruntun dari 3 poros ke arah persembunyian

Sofyan. Beruntunnya tembakan ini dimaksudkan jika tembakan

pertama tidak mengena, dan buronan sempat ambil senjata, tentu

bisa berakibat fatal bagi penyergap. Karena Sofyan bisa segera

berlindung di balik pohon, sedangkan pasukan tidak ada

pohon-pohon besar yang melindunginya. Buktinya Ramang ketika tak

ada peluru yang mengenai kepalanya, secepat kilat lari ke

belakang pohon dan menghilang. Beberapa saat kemudian hutan jadi

sunyi lagi. Pasukan melakukan konsolidasi. Ramang kabur dengan

celana kolor saja, dan mungkin juga membawa uang. Tapi senjata

Getminya tak sempat dia sambar. "Tapi dia sudah tak berdaya"

kata Lettu Sutiono.


Menggotong mayat Sofyan dari perut hutan ke perahu sampan di

tepi sungai bukan pekerjaan ringan. Setelah dibungkus dengan

plastik, mata terbelalak dan belakang kepalanya berlobang hesar,

mayat dibaringkan di sampan. Setelah laporan sampai di

Pontianak, segeralah Panglima menerbangkan heli untuk mengangkut

mayat itu dari Terentang.


Di ambang magrib 13 Januari heli mendarat di depan Skodam XII/

Tanjungpura langsung diusung ke kamar mayat Kesdam XII/

Tanjungpura yang berjarak 75 meter. Di divan, tutup kain putih

mayat orang yang berjanggut dan berkumis itu dilihat oleh

orang-orang yang pernah kenal dan lihat muka S.A. Sofyan 8 tahun

lampau. Para kenalan dimintai kesaksiannya apakan orang yang

dihadapannya itu betul-betul Sofyan. M. Ali AS. SH, Drs Soewardi

Poespoyo, M. Jusuf Suib, H. Abdussyukur. Abubakar Mansyur,

semuanya orang yang pernah mengenal Sofyan dengan baik

membenarkan bahwa yang mereka lihat itu adalah mayat Syarif

Ahmad Sofyan Al Barakbah.


Tan Bun Hiap. Tidak syak lagi, terbunuhnya S.A. Sofyan berarti

habisnya -- setidak-tidaknya untuk periode sekarang harapan bagi

gerakan komunis di bawah tanah untuk membangun basisnya di

Kalbar. Lebih-lebih karena terbunuhnya Sofyan, telah diikuti

pula dengan tertangkapnya Tan Bun Hiap Sekretaris Comite Wilayah

(CW) II PKI Gaya Baru Kalimantan Barat, pada tengah hari tanggal

30 Januari yang 1alu. Tan Bun Hiap merupakan orang keempat

sesudah Sofyan, The Bun Kiat Comite Daerah Kapuas (CDK) dan Lin

Pin Comite Daerah Pantai (CDP) dalam susunan pimpinan organisasi

PKI Gaya Baru Kalbar. Brigjen Seno Hartono yang minggu lalu

mengumumkan tertangkapnya Tan Bun Hiap ini menceritakan juga

bahwa sebelumnya yaitu tanggal 21 Januari lebih dahulu telah

tertangkap gembong komunis PGRS/Paraku bernama Lu Chou. Lu Chou

menurut Brigen Seno adalah tokoh komunis yang dikirim oleh

Peking ke Kalimantan. Mulanya ia hanya beroperasi di wilayah

Serawak, Malaysia Timur, tapi tahun 1968 masuk ke wilayah

Kalimantan Barat.



TEMPO Edisi 49/03 tanggal 9 Feb 1974
Halaman 14
chaplain - 16/12/2009 12:46 AM
#570

Quote:
Original Posted By adilia
rasanya kayak ngeganjel banget baca kisah2 di timor-timur, banyak darah tumpah di sana tapi cuman gara2 ngikuting kemauan poliTIKUS akhirnya kayak sia2 aja

nice writing bro rudy


gw ikut demo di Jogjakarta pra dan pasca lepasnya tim-tim
dan gak satu atau dua personel TNI/Polri yg mengamankan demo tersebut terlihat menitikkan air mata
saya sempat ngobrol dengan salah satu personel TNI (Marinir) dan ternyata ayahnya gugur di sana
ada juga yang bahkan veteran seroja
salah satu bahkan berucap, "nyesek mas, nuruti perintah opo ati (sesak (rasanya) mas, Menuruti perintah (atasan) atau kata hati."
bukan sekali dua kali ternyata saling kenal antara Aparat dan pendemo terjadi krn mereka memiliki latar belakang yang hampir sama
Ikatan Emosional dari wilayah gersang yang hampir tak ada nilai ekonomisnya itu
aanx - 16/12/2009 12:54 AM
#571

Quote:
Original Posted By chaplain
gw ikut demo di Jogjakarta pra dan pasca lepasnya tim-tim
dan gak satu atau dua personel TNI/Polri yg mengamankan demo tersebut terlihat menitikkan air mata
saya sempat ngobrol dengan salah satu personel TNI (Marinir) dan ternyata ayahnya gugur di sana
ada juga yang bahkan veteran seroja
salah satu bahkan berucap, "nyesek mas, nuruti perintah opo ati (sesak (rasanya) mas, Menuruti perintah (atasan) atau kata hati."
bukan sekali dua kali ternyata saling kenal antara Aparat dan pendemo terjadi krn mereka memiliki latar belakang yang hampir sama
Ikatan Emosional dari wilayah gersang yang hampir tak ada nilai ekonomisnya itu


gw juga wkt itu jengkel banget ama BJH..gak ada apa2 kok tiba2 bikin referendum di Timtim..

gara2 Timtim lepas..akhirnya Aceh ikut2an bergolak pada minta referendum...akhirnya perang lagi..

but sukur skrg ada hikmahnya...Aceh jadi damai en pemerintah Indonesia ga keluar biaya lagi utk membangun Timtim yg ga ada apa2nya..dan yg terpenting..ga ada lagi nyawa prajurit yg dikorbankan..

adilia - 16/12/2009 01:10 AM
#572

Quote:
Original Posted By chaplain
gw ikut demo di Jogjakarta pra dan pasca lepasnya tim-tim
dan gak satu atau dua personel TNI/Polri yg mengamankan demo tersebut terlihat menitikkan air mata
saya sempat ngobrol dengan salah satu personel TNI (Marinir) dan ternyata ayahnya gugur di sana
ada juga yang bahkan veteran seroja
salah satu bahkan berucap, "nyesek mas, nuruti perintah opo ati (sesak (rasanya) mas, Menuruti perintah (atasan) atau kata hati."
bukan sekali dua kali ternyata saling kenal antara Aparat dan pendemo terjadi krn mereka memiliki latar belakang yang hampir sama
Ikatan Emosional dari wilayah gersang yang hampir tak ada nilai ekonomisnya itu


Quote:
Original Posted By aanx
gw juga wkt itu jengkel banget ama BJH..gak ada apa2 kok tiba2 bikin referendum di Timtim..

gara2 Timtim lepas..akhirnya Aceh ikut2an bergolak pada minta referendum...akhirnya perang lagi..

but sukur skrg ada hikmahnya...Aceh jadi damai en pemerintah Indonesia ga keluar biaya lagi utk membangun Timtim yg ga ada apa2nya..dan yg terpenting..ga ada lagi nyawa prajurit yg dikorbankan..



jadi inget pasca reformasi, para "reformis" (dalam tanda kutip : "" ) pada nengokin xanana gusmao and maen peluk2an ala maho

mangap oot
chaplain - 16/12/2009 01:12 AM
#573

yg bikin gak adli....Guiteres yang "merah putih" malah ditangkap, diadili dan dipenjara
terlepas dari segala kontroversi yang ada
adilia - 16/12/2009 01:15 AM
#574

Quote:
Original Posted By chaplain
yg bikin gak adli....Guiteres yang "merah putih" malah ditangkap, diadili dan dipenjara
terlepas dari segala kontroversi yang ada


hanya untuk menyenangkan penjajah/kumpeni yang tak terlihat gan...

Quote:
malam itu

kira-kira selama 3 jam Lo Hin diberi kesempatan "bertemu" dengan

isterinya dalam kamar. Setelah keluar dari kamar dengan wajah

berseri-seri karena sekian tahun tak jumpa kekasih, Lo in mulai

menceritakan di mana tempat sembuyinya S.A. Sofyan.


cinta istri/kekasih = cinta tanah air

pemakanmayat - 16/12/2009 12:02 PM
#575

@Bang rudy

Penghadangan truk Yonif 405 pada 15 April 1976 di Pegunungan Aitutu. 33 orang gugur.Itu di Forum sebelah saya kutip dari buku sejarah kesatuan Brigif-4 Dewa Ratna terbitan tahun 1979.Versi lain dari koran lokal WAWASAN Semarang pernah memuat kejadian ini sekitar tahun 1999 tapi jumlah yang gugur berbeda yaitu 52 anggota.

Berikut dari koran WAWASAN..

Senin, 13 September 1999 Berita Utama

Demi Timor Timur


Batalyon 405 Persembahkan 52 Prajurit


[INLINE]
Ny Sulastri (kiri) dan Rasiman - SM/ag

PENGORBANAN bangsa Indonesia untuk Timtim sudah cukup besar. Tetapi
sekarang kita harus rela kehilangan bumi Loro Sae. Kenyataan telah
menunjukkan kelompok prokemerdekaan yang memenangi jajak pendapat yang
diselenggarakan PBB itu.

Salah satu pengorbanan besar bagi Timtim telah disumbangkan oleh
Batalyon 405 Suryakusuma, Cilacap. Yon 405 yang kini markasnya telah
pindah ke Wangon, Kabupaten Banyumas itu pantas dicatat dalam sejarah
sebagai batalyon yang mempunyai andil besar dalam proses integrasi
Timtim ke Republik Indonesia.

Lalu, apa andil besar batalyon itu untuk Timtim? Menurut penuturan
mantan anggota Yon 405, Serma (Purn) Rasiman (58), pada 15 April 1976
satu truk pasukan dari batalyonnya yang dikirim ke Timtim, gugur
setelah diberondong peluru Fretilin.

Peristiwa itu terjadi pada saat truk pasukan tersebut dalam perjalanan
menuju pegunungan Aitutu. Pasukan dari Yon 405 sengaja dikirim ke
Pegunungan Aitutu untuk membebaskan rakyat Timtim dari ancaman
kelompok Fretilin.

''Pada waktu itu, di pegunungan Aitutu ada penduduk yang hidup di
bawah ancaman Fretilin. Hidup mereka hanya sebagai sapi perahan.
Sebab, mereka setiap hari dipaksa untuk menyediakan makanan dan
minuman bagi pasukan Fretilin yang bersembunyi di pegunungan itu.
Sehingga, jiwa mereka terancam,'' katanya.

Rasiman yang saat itu masih berpangkat kopral satu ikut dikirim ke
Pegunungan Aitutu. Pada saat itu dia termasuk salah satu prajurit yang
berada di atas truk nahas tersebut.

Menurut ceritanya, pada saat truk yang ditumpangi akan memasuki daerah
Pegunungan Aitutu, tiba-tiba di depan terlihat ada kayu panjang yang
mencurigakan. Kayu itu tertancap di pinggir jalan. Truk yang
ditumpangi itu pun melanjutkan perjalanan.

Namun, begitu melewati kayu yang tertancap di pinggir jalan itu,
tiba-tiba dihujani tembakan dari atas tebing. ''Rupanya kayu itu
merupakan tanda bagi Fretilin untuk memulai serangan. Begitu ada
kendaraan yang melewati tanda tersebut, mereka langsung menembaki,''
tuturnya.

Mendapat berondongan tembakan, dia bersama prajurit yang lain langsung
membalas. Namun tembakan balasan itu tak mampu menekan serangan
Fretilin. Banyak prajurit Yon 405 yang meninggal terkena peluru
Fretilin pada berondongan pertama.

Dia berusaha membalas tembakan itu. Namun dia terpaksa menghentikan
tembakan setelah melihat rekannya yang ada di sebelah terkena tembakan
di bagian leher.

Rasiman kemudian memapah prajurit yang tertembak keluar dari lokasi
baku tembak. Di leher rekannya itu ternyata telah bersarang sejumlah
peluru.

''Saya sangat bersyukur karena tubuh saya tidak terkena tembakan.
Bahkan saya dapat menyelamatkan teman saya yang tertembak di bagian
lehernya. Setahu saya, teman saya itu sampai sekarang masih hidup.
Sedangkan teman saya dari Yon 405 yang meninggal pada saat terjadi
baku tembak itu, 52 orang,'' katanya.

Menurut Rasiman, situasi di Timtim pada 1976-an betul-betul sangat
gawat. Karena setiap ada pasukan ABRI masuk Timtim, langsung ditembaki
oleh Fretilin. Pada waktu itu pasukan Fretilin sudah bersembunyi di
sekitar pelabuhan.

Hal itu juga dialami prajurit Yon 405. Ketika kapal yang membawa
pasukan Yon 405 akan merapat, tiba-tiba diserang oleh Fretilin. Semula
kapal itu akan kembali ke tengah lautan, tetapi dibatalkan. Akhirnya,
kapal tetap merapat di dermaga.

''Begitu kapal merapat, seluruh prajurit langsung lari berpencar
sambil membalas serangan Fretilin. Terjadilah kontak senjata antara
pasukan RI dan Fretilin. Kami diperintah membalas serangan karena
pihak Fretilin sudah menyerang kami sejak kapal RI masih berada di
laut,'' ungkapnya.

Purnawirawan yang kini tinggal di Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap
Tengah, itu mengaku tak habis pikir dengan sikap PBB yang berkesan
memaksa Pemerintah Indonesia untuk mengadakan jajak pendapat di
Timtim. Apalagi hasil jajak pendapat tersebut memaksa Pemerintah RI
untuk melepaskan Timtim.

Meskipun integrasi Timtim ke Indonesia sudah sah dan ditetapkan MPR.

''Begitu hasil jajak pendapat diumumkan dan prokemerdekaan menang,
perasaan saya terasa hancur. Saya merasa seakan-akan kerja keras dan
perjuangan saya selama bertugas di Timtim hilang seketika,'' ujarnya.

Pemerintahan BJ Habibie, menurut dia, seharusnya tak menerima
permintaan PBB untuk mengadakan jajak pendapat.

Alasannya, karena PBB pasti mempunyai target sendiri setelah Timtim
lepas dari Indonesia. Sehingga, PBB (UNAMET) tak mungkin bersikap
netral dan akan memperjuangkan Timtim secara tulus.

Komentar yang sama juga diungkapkan Ny Sulastri (58), janda Koptu
Sutarso, anggota Yon 405 yang pernah bertugas di Timtim. Janda dengan
tujuh anak yang kini tinggal di Jl Cempaka, Kecamatan Cilacap Selatan,
itu juga mengaku kecewa karena Timtim harus berpisah dengan Indonesia.
Meskipun bumi Loro Sae itu belum dinyatakan lepas dari RI secara
resmi.

Ny Sulastri berkisah, suaminya, Koptu Sutarso, ditugaskan ke Timtim
tahun 1975. Keberangkatannya bersama prajurit Yon 405 yang lain, bagi
dia sudah merupakan perpisahan yang sangat memberatkan hidupnya.

Kenyataan, sejak saat itu dia tak hanya harus berpisah dengan
suaminya, tetapi juga harus membiayai sendiri kehidupan keluarganya.

Gaji seorang prajurit pada saat itu masih sangat minim. Dia harus
bekerja keras, membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan
anak-anaknya.

"Prajurit yang diberangkatkan bersama-sama suami saya, banyak yang
gugur. Saya tetap kecewa kalau Timtim lepas dari RI. Bagaimana tidak
kecewa, sudah lama bersatu kok tiba-tiba harus dipisahkan. Lalu di
mana penghargaan untuk pahlawan yang telah gugur di Timtim?'' kata Ny
Sulastri. (Agus Sukaryanto-33k)




Begitu tambahan dari saya.

Merdeka!
hell_angel - 16/12/2009 04:10 PM
#576

Mas Rudy, dkk yang bertugas di Aceh (maaf saya ambil dkk maklum g apal.) sejauh pengamatan saya via TV banyak sekali anggota GSA yang perempuan. lalu apa mereka juga terlibat dalam melakukan gangguan-gangguang thd keamanan di Aceh? atau punya tugas lain begitu?
yang paling miris lagi ternyata banyak di antara anggota "inong baloh" ini mengaku pernah di perkosa oleh (maaf kalau tidak berkenan) TNI. hal ini salah satu yang memotivasi mereka bergabung dengan GSA disamping ada sanak keluarga yang di bunuh (menurut mereka,lho).
apakah banyak diantara mereka ini yang juga tertangkap atau mampus di hadiahi "melinjo" TNI?
Trims...ini pertanyaan yang mengganjal selama saya mengikuti trit ini. mohon maaf kalau pertanyaan dan keingin tahuan saya tidak berkenan.

trims.



Kepada Prajurit yang gugur di medan laga Aceh ku tundukkan kepalaku dalam-dalam sebagai doa ku kepada yang kuasa! semoga kedamaian, "welas asih", dan berkah dari Yang Kuasa senantiasa melingkupi dan melimpahi nagari ini. Amin...Amin...Amin.
fitrio nugraha - 16/12/2009 05:53 PM
#577

Quote:
Original Posted By hell_angel
Mas Rudy, dkk yang bertugas di Aceh (maaf saya ambil dkk maklum g apal.) sejauh pengamatan saya via TV banyak sekali anggota GSA yang perempuan. lalu apa mereka juga terlibat dalam melakukan gangguan-gangguang thd keamanan di Aceh? atau punya tugas lain begitu?
yang paling miris lagi ternyata banyak di antara anggota "inong baloh" ini mengaku pernah di perkosa oleh (maaf kalau tidak berkenan) TNI. hal ini salah satu yang memotivasi mereka bergabung dengan GSA disamping ada sanak keluarga yang di bunuh (menurut mereka,lho).
apakah banyak diantara mereka ini yang juga tertangkap atau mampus di hadiahi "melinjo" TNI?
Trims...ini pertanyaan yang mengganjal selama saya mengikuti trit ini. mohon maaf kalau pertanyaan dan keingin tahuan saya tidak berkenan.

trims.



Kepada Prajurit yang gugur di medan laga Aceh ku tundukkan kepalaku dalam-dalam sebagai doa ku kepada yang kuasa! semoga kedamaian, "welas asih", dan berkah dari Yang Kuasa senantiasa melingkupi dan melimpahi nagari ini. Amin...Amin...Amin.


Gmana ya.. Pemerkosaan itu entah emang ada buktinya entah tidak, tapi yang pasti mereka harus ditumpas habis. Hanya saja yang saya sayangkan mengapa mereka yang tertangkap harus disekolahkan... Soalnya mereka bukan ancaman buat siapapun.. Lebih baik mereka diinterogasi, sandera keluarganya dan lepasin lagi ke sarang gam, begitu dia uda masuk ke posisi yang pas serang posisinya dan bunuh si informan ini, berikut dengan keluarganya... Suapaya g ada yang mikir buat balas dendam..
chaplain - 16/12/2009 08:38 PM
#578

Hope that simple, Gan
broheart - 16/12/2009 10:40 PM
#579

yang jelas SALUT buat TNI yang rela mengorbankan segalanya demi keutuhan NKRI
gunturep - 17/12/2009 01:12 PM
#580

Quote:
Original Posted By fitrio nugraha
Gmana ya.. Pemerkosaan itu entah emang ada buktinya entah tidak, tapi yang pasti mereka harus ditumpas habis. Hanya saja yang saya sayangkan mengapa mereka yang tertangkap harus disekolahkan... Soalnya mereka bukan ancaman buat siapapun.. Lebih baik mereka diinterogasi, sandera keluarganya dan lepasin lagi ke sarang gam, begitu dia uda masuk ke posisi yang pas serang posisinya dan bunuh si informan ini, berikut dengan keluarganya... Suapaya g ada yang mikir buat balas dendam..


Sadis amat gan
Page 29 of 43 | ‹ First  < 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 >  Last ›
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > ( Share ) KISAH Dibalik TNI yang Gugur di Medan Tugas