Lagu/Tarian/Alat Musik
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Total Views: 127990
Page 1.5 of 6 |  1 2 3 4 5 6 > 

e-New - 07/10/2009 04:09 PM
#11
[Tarian-Artikel] Dero/Modero
Dero/Modero


Kaskus ID: e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Tarian-Artikel
Sumber : fritz blog
Keterangan : Tarian persahabatan, kekerabatan, kedamaian dari [B]Poso [pamona] - Morowali [mori][/B]

Quote:


Pict:

Dengan baju adat


Tanpa baju adat

Spoiler for Dero/Modero

Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya.
Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, - dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya.
Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya.
Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.
e-New - 07/10/2009 04:39 PM
#12

LALOVE

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=573&uid=
Keterangan : Alat kesenian lalove, sebagai alat pengiring tari tradisional [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Lalove
Alat kesenian lalove berfungsi sebagai alat pengiring tari tradisional disamping alat lain seperti gendang. Tari tradisional ini dalam bahasa daerahnya di sebut balia, yang terdiri dari beberapa jenis. Pada mulanya lalove ini tidak sembarang ditiup, sebab bagi orang-orang yang biasa kerasukan roh mendengarnya maka dengan spontanitas orang tersebut akan kerasukan. Itulah sebabnya lalove tersebut tidak sembarang orang yang meniupnya, rebatas pada orang-orang tertentu dan di sebut bule. Lalove ini sangat penting kedudukannya dalam mengiringi tarian upacara penyembuhan, sebab apabila salah irama para penari yang udah kerasukan roh, akan marah dan mengamuk. Upacara penyembuhan dilaksanakan pada malam hari, lamanya upacara berdasarkan lamanya pasien yang kerasukan kadang-kadang sampai siang. Tetapi akhir-akhir ini alat tersebut telah banyak dipakai untuk mengikuti/ mengiringi tarian tradisional yang telah dikreasikan. Namun demikian anak-anak/ remaja masih belum mampu menggunakannya, sehingga hanya orang-orang yang telah berumur yang mampu meniupnya secara sempurna.

Bahan: Buluh dan Rotan.
Bentuk: Bulat Panjang, seperti suling. Warna: Kuning kecoklat-coklatan.

Cara pembuatannya:
1. Memilih bahan dengan cara mencari buluh yang sudah tua dan lurus. Buluh untuk lalove ini, dicari dan pilih buluh yang tumbuh digunung atau di bukit-bukit, dan rumpun yang terletak paling tinggi.
2. Sebelum menebang atau mengambil buluh tersebut, terlebih dahulu dibuatkan upacara untuk minta izin kepada penghuni/ penguasa di bukit tersebut. Upacara ini menguguhkan sesajen berupa ayam putih yang diambil darahnya sedikit lalu dilepas. Disamping itu adapula makanan, sambil membacakan mantera-mentera.
3. Selesai upacara, lalu memilih bulu yang paling tinggi, lurus dan sudah tua, dan ditebang sambil mengucapkan tebe (permisi), sebanyak 3 (tiga) batang.
4. Buluh-buluh tadi dibawa ke sungai, setelah dikeluarkan ranting-ranting, dan kemudian di sungai yang diikuti oleh pembuatnya.
5. Oleh pembuat memilih buluh yang terlebih dahulu hanytut dari buluh lainnya, dan buluh tersebut merupakan pilihan utama.
6. Buluh pilihan tersebut dipotong seruas-ruas, lalu dialirkan lagi kesungai untuk mendapatkan ruas yang utama sebagai pilihan untuk dibuat lalove.
7. Bulu yang dipotong tadi dianginkan sampai kering. Salah satu ruas buku tidak dikeluarkan. Pada bagian buku ini disayat sedikit, kemudian dililit dengan rotan yang telah diraut, sehingga antara sayatan dan lilitan rotan ada lubang untuk masuknya udara dari dalam mulut. Pada bagian yang bertolak belakang dengan bagian yang disayat tadi buat lubang sejumlah enam (6) dengan jarak yang sama tiap tiga lubang dan antara tiap tiga lubang ± 5 cm, sedangkan jarak tiap lubang ± 2 cm.
8. Untuk memperbesar suara lalove tadi pada ujungnya ditambah dengan buluh yang lebih besar, sehingga ujung lalove tadi dapat masuk dalam buluh tadi. Buluh untuk menambah besar suara lalove disebut solonga.
9. Keadaan pengrajin lalove akhir-akhir ini bila dibandingkan pada masa lalu kelihannya agak kurang, namun pada sisi lain nampaknya masih ada usaha untuk melestarikannya.

Usaha ini dikaitkan dengan dikembangkannya usaha melestarikan musik tradisional, tetapi tidak ada lagi upacara-upacara pemilihan buluh, tetapi cukup dengan memilih bulu yang berkualitas baik.

Cara memainkan
1. Dimainkan dalam posisi duduk, pada waktu malam.
2. Pada ujung yang dilit pada rotan diletakkan pada bibir dan ujung yang satunya dijepit oleh jari kaki.
3. Jari-jari tanga kiri (3 jari), telunjuk, jari tengah, dan jari manis menutup tiga lubang bagian atas, begitu pula pada 3 (tiga) lubang pada bagian bawah. Kadang-kadang ibu jari tangan kanan digunakan, apabila Lalove tersebut agak panjang sehingga posisi kaki agak terjulur ke depan.
4. Pada lubang sayatan yang dililit dengan rotan, napas dihembuskan, dan jari-jari tangan dapat bergerak tutup buka pada lubang-lubangnya.
5. Apabila suaranya kurang merdu, dapat diatur dengan cara mengatur rotan pelilit tadi.

Persebaran
Karena alat ini pada mulanya digunakan untuk mengiringi tari tradisional Balia, maka perebarannya terbatas pada orang atau kelompok yang mengadakan upacara balia sebagai upacara penyembuhan orang sakit. Namun demikian akhir-akhir ini dimana orang atau kelompok balia sudah mulai berkurang, tetapi dipihak lain ada usaha menggunakan lalove ini sebagai pengiring tari tradisional yang telah dikreasi. Nampaknya masih didominasi oleh pengikut balia, akan tetapi kaum remaja sudah mulai mencintainya, walau masih perlu belajar banyak.


SANTU

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=665&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Santu
Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang, atau pengisi waktu ambil bersenandung. Disamping itu alat ini juga sebagai alat komunikasi diantara para anggota kelompok sosial, sehingga ada kontak jiwa bagi para pemainnya, sehingga menambah eratnya hubungan dan perkenalan. Apabila seseorang berada ditempat lain dan ia ingin memainkan santu, maka ia dapat berhubungan dengan orang ditempat dan dipinjamkanlah alat itu kepadanya, karena ada rasa kebersamaan.
Pada masa sebelum masuknya alat-alat kesenian modern dipedesaan alat kesenian tradisional ini tersebar kepelosok-pelosok khususnya didaerah pertanian. Setelah masuknya alat kesenian yang mutakhir, maka alat ini dengan sendirinya terdesak, dan juga karena kurang digemari oleh remaja sekarang.

Cara memainkan
Alat kesenian santu ini dimainkan dalam posisi duduk bersila dengan cara dipetik atau dipukul. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya, atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Dengan demikian atau memukul-mukulkan kayu pada tali ( kulit bambu itu sendiri), dapat menimbulkan bunyi. Alat kesenian ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa, anak-anak, laki-laki dan perempuan. Dimainkan pada sore hari, malam hari, atau diwaktu senggang di rumah atau pondok-pondok disawah, dan dimainkan tidak dengan alat lain, kecuali bila kehendak untuk memainkannyadengan alat kesenian lain, seperti paree, tadilo, mbasi-mbasi dan lain-lain.

Cara pembuatannya.
Bahan: Bambu kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang (bentuk bambu). Warna: Sama dengan warna bambu yang kering.
Sebelum alat kesenian Santu ini dibuat terlebih dahulu memilih bambu yang berkualitas baik (Volo lau bahasa Kaili), dan batang yang tua lagi tebal. Bambu pilihan itu dipotong seruas-seruas dengan panjang ± 45 cm garis menengahnya ± 8 cm, dan buku-buku ruasnya pada kedua ujung tidak dikeluarkan sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang masih mentah, pada salah satu sisinya, bagian kulit luar dicungkil dengan parang atau pisau selebar ± 1/3 cm sampai 1/2 cm., sebanyak 4 (empat) yang merupakan tali. Kulit bambu yang dicungkil sebagai tali, pada kedua bagian ujungnya ditongkat/ dipotong dengan kayu setebal + 1 cm, sampai 1 1/2 cm. Sebelum ditongkat/ dipotong dengan kayu, terlebih dahulu pada kedua ujung bambu dililit dengan rotan (poale, Kaili) ± 5 cm, dari tiap ujung. Rotan pelilit (poale) ini dibuat agar kulit bambu yang berbentuk tali tidak terangkat ke ujung. Pada bagian tengah tepat dibawah tali dibuat 2 (dua) lubang yang bergari tengah ± 2 cm, dan diantara 2 (dua) lubang dipasang kayu penompang setinggi ± 2 cm - 3 cm agar talinya menjadi tegang.
e-New - 07/10/2009 04:40 PM
#13

TADILO

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=667&uid=
Keterangan : Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Tadilo
Alat kesenian tadilo ini berfungsi sebagai alat kesenian penghibur, dan untuk membunuh kesunyian, dimalam hari atau sore hari. Dapat pula alat berfungsi tidak secara langsung yakni saling merasakan perasaan masing-masing, sambil berbicara dengan teman untuk mencurahkan segala isi hati atau sambil bergurau. Dengan demikian ada rasa persahabatan yang erat antar teman lewat penggunaan alat kesenian tadilo ini.
Sampai sekarang alat kesenian ini sudah jarang dikenal karena persebarannya sudah sempit, karena digeser oleh alat kesenin modern. Hanya ada daerah yang masih mampu bertahan dan masih dikenal di desa-desa, ialah di Kecamatan Sindue. Kalau pada mulanya hampir semua desa di Tanah Kaili, mengenal persis akan alat ini, karena persebarannya hampir merata kepelosok desa. Tidak diketahui secara pasti, mengapa alat ini disebut tadilo, karena beberapa warga tidak mampu menjelaskan apa sebab alat itu disebut tadilo. Yang jelas mereka mampu membuatnya dan dapat memainkannya.

Cara memainkan.
Alat kesenian tadilo tesrebut dipegang dengan salah tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainnya dalam keadaan duduk bersila atau dengan cara lain, apakah dengan cara menjulurkan kedua kaki atau dengan cara melipat kaki sebelah. Yang penting alat tersebut dapat dimainkan. Bahkan dalam keadaan berdiripun dapat dimainkan.
Tangan yang satu memukul-mukul tali senar tadi dengan ukuran panjang ± 15 cm. Alat kesenian ini dapat mengiringi walau hanya sebagai senandung saja yang berupa pantun-pantun daerah. Semua umur dapat memainkannya, namun yang paling banyak menggunakan adalah kamu remaja lalaki dan perempuan, disamping para orang tua. Dimainkan pada malam hari atau sore hari dikala suasana hening dan aman dari gangguan bunyi-bunyi yang lain. Tempat bermain biasanya di pondok, dikebun, disawah, dan kadang-kadang pula di pelataran rumah.

Cara pembuatan.
Bahan: Bambu, kayu dan rotan.
Bentuk: Bulat panjang. Warna: Sama seperti bambu yang kering (kekuning-kuningan).
Sebelum membuat alat ini, terlebih dahulu memilih bahan bambu (volo lau), yang lurus tua, dan ruasnya agak panjang. Bambu dipotong satu ruas dengan panjang ± 50 cm, dan garis menengahnya ± 8 cm, dan pada kedua ujung ruas bukunya tidak dikeluarkan, sehingga tidak tembus pandang. Bambu yang dipotong dengan ukuran tersebut diatas siap untuk dibulatkan alat tadilo tersebut. Dalam keadaan mentah bambu itu dicungkil dengan ukuran lebar ± 1/2 cm sebagai tali senar sebanyak 2 (dua) tali. Jarak antara tali senar yang dicungkil ± 1/2 cm.
Cara mencungkil kulit bambu luar tadi yakni menggunakan ujung pisau atau parang dengan at-hati sekali. Sebelum kulit bambu yang dicungkil padi diganjal pada kedua ujungnya, terlebih dahulu di lilitkan rotan yang dianyam sehingga apabila kedua kulit bambu yang terlepas dua ujungnya. Pada bagian tengah bambu, yakni dibawah rentangan kedua tali, dibuatkan lubang dengan ukuran ± 1 x 2 cm yang berfungsi sebagai penggema suara. Selesai pembuatan lubang, kedua tali tadi diangkat sedikit untuk dikencangkan, dan dipasang kayu persegi panjang kedua ujungnya sebagai pengganjal untuk lebih mengencangkan talinya. Tidak ada upacara untuk mengambil bahan bambu tersebut, oleh karena itu orang bebas membuat alat tersebut dengan alat tersebut dengan syarat bambu yang lurus dan sudah tua. Kalau bambu yang dimaksud tumbuh secara liar, maka orang yang mengambilnya harus mengucapkan tabe (permisi) sebelum memotongnya. Keadaan pengrajin akhir-akhir ini sudah langa, dan sudah jarang orang menggunakan atau memakainya.


buset.. gak bisa nulis panjang-panjang
e-New - 07/10/2009 04:41 PM
#14

PUREE

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=657&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Puree
Alat kesenian ini berfungsi hanyalah untuk hiburan saja. Pada mulanya, walaupun alat ini untuk hiburan tetapi juga sebagai komunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar manusia, tetutama bagi remaja tempo dulu. Sebab dengan alat ini mereka saling kenal lewat syair lagu yang menyentuh perasaan. Dengan demikian mempererat hubungan dan persatuan dalam masyarakat dan kehidupanseni sehari-hari. Persebaran alat ini pada waktu dulu ditemukan hampir ada ditiap desa, tetapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi alat kesenian ini terdesak karena kebanyakan orang lebih suka dengan alat kesenian yang baru.

Cara memainkan
Memainkan alat kesenian ini cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu jari menutup lubang, kemudian alat dipukul-pukulkan pada tapak tangan yang lain, sebagian kaki (paha atau lutut) dan bahkan ada yang memukul-mukulkan pada bagian kepala. Sambil memukul-mukulkan, diiringi pula dengan senandung yang berisikan syair-syair yang dapat mengubah perasaan pendengarnya. Pukulan-pukulan tersebut berganti-ganti, ke telapak tangan, ke bagian kaki atau kepala mengikuti irama lagu dan perasaan pemegangnya. Pukulan-pukulan itu tidak terlalu keras tetapi disesuaikan perasaan antara keras dan lembut. Untuk dapat mengubah-ubah bunyi, dapat diatu dengan cara membuka ibu jari dan menutupnya pada lubang. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua remaja perempuan dan laki-laki dan dimainkan pada sore hari utamanya pada malam hari, disaat-saat yang hening dan sunyi. Dimainkan dalam posisi duduk bersila dapat pula pada waktu duduk diatas kayu atau batu, juga dapat dimainkan pada waktu berjalan/ berdiri. Alat ini dimainkan tanpa alat lainnya.

Cara pembuatan.
Bahan: Bulu tuli dan rotan
Bentuk: Berbentuk jepitan atau garpu tala sama seperti Paree.
Warna: Coklat kekuning-kuningan (sama dengan warna bulu yang sudah tua).
Untuk membuat alat kesenian ini diperlukan buluh Tui yang tua lurus dan kualitet yang baik. Satu buah alat kesenian hanya diperlukan satu ruas saja. Bahan lain untuk pembuatan alat ini seutas rotan yang telah diraut. Sebelum dibuat, buluh terlebih dahulu dikeringkan dan disamping itu masih ada alat yang digunakan untuk membuat sayatan, yakni parang atau pisau yang tajam. Membuat alat kesenian ini sama seperti membuat paree. Buluh Tui yang digunakan adalah buluh tui yang salah satu ruasnya tidak dilubangi, sehingga tidak tembus pandang. Pada dua sisi yang bertolak belakang disayat kira-kira 2/3 bagian atau 3/5 dari arah bukunya langsung ke ujung buluh yang tak ada ruasnya, sehingga alat ini berbentuk seperti jepitan. Sejajar dengan bagian buluh yang tidak disayat dibuat satu lubang besarnya dapat ditutup dengan ibu jari. Pada pangkal buluh dekat bukunya dililitkan dengan rotan yang berfungsi sebagai cincin, sebagai penangkal agar buluhnya tidak mudah pecah atau terbelah. Keadaan pengrajin alat kesenian ini hampir-hampir tidak dapat ditemukan lagi, dan kalau ada yang membuatnya semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau berupa pesanan dari penggemar alat kesenian tradisional sebagai koleksi. Ungkapnya para pengrajin alat kesenian ini disebabkan kurangnya peminat, memerlukan waktu dan tenaga untuk memadukan dengan alat kesenian tradisional lainnya, dan karena didesak oleh alat kesenian mutakhir yang masuk menyusup sampai ke desa-desa.


YORI

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Alat Musik - Artikel
Sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=675&uid=
Keterangan : Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras [dari sulawesi tengah - Suku Kaili]

Spoiler for Yori
Alat kesenian ini berfungsi sebagai alat hiburan pribadi, karena suaranya tidak terlalu keras. Sebagai penglipur lara, untuk menghalau rasa sunyi, atau sebagai pengisi waktu saja. Suaranya dapat didengar sekitar 3 - 10 meter, dimainkan dengan tidak alat lain. Alat kesenian pada mulanya sebagai alat komunikasi antara remaja, untuk menyampaikan perasaannya. Sebab dari bunyi dapat diartikan oleh orang lain lalu dibalas sesuai dengan maksudnya. Begitulah mereka sering berbalas bunyi seakan bercerita langsung. Mungkin karena pembuatannya yang memerlukan ketekunan, kehati-hatian, dan alat kesenian yang mutahir semakin banyak, maka persebaran alat ini sudah punah, disamping pengrajinnya pun sudah langkah. Pada mulanya alat ini banyak tersebar ke desa-desa dimana banyak pohon enau atau sagu yang tumbuh.

Cara memainkannya.
Ibu jari tangan kanan dimasukan ketali yang berbentuk cincin (gelang) dan jari-jari tangan kiri memegang bambu/ bulu tui yang talinya agak panjang. Yori diangkat dan dimasukan kedalam mulut, ibu jari tangan kanan berfungsi sebagai penahan Yori agar tidak bergerak atau tidak bergoyang. Yori ditiup dalam mulut seperti halnya bermain harmonika. Pada waktu pemain meniup jari tangan kiri yang memegang bulu tui, menyentak-sentak tali untuk menggetarkan selaput penggetar yang berbentuk garpu tala dan ibu jari tangan kanan menahan yori, agar tidak tergeser dari mulut. Lidah diusahakan agar tidak menyentuh yori, dengan maksud supaya selaputnya tetap bergetar. Dalam permainan yori berfungsi nafas sangat menentukan sekali untuk mengatur nada, disamping fungsi tangan kiri juga menentukan getarannya. Alat ini dapat dimainkan oleh orang tua, dewasa anak-anak, laki-laki dan perempuan, pada waktu malam hari atau sore hari yang tenag. Dapat dimainkan pada posisi duduk, berdiri, berjalan atau berbarin.

Cara pembuatan.
Bahan: Kulit pelepah enau. Tali yang dibuat dari kulit kayu.
Bentuk: Pipih dan ada lubang yang berbentuk garpu tala ditengahnya. Ukurannya, panjang ± 15 cm, lebar ± 2 cm. Warna : Coklat seperti warna pelepah enau yang kering.
Memilih bahannya, yakni pelepah enau yang bagus, dan tumbuhan sebangsa nenas (teruntu bahasa Kaili) untuk baha pembuat talinya. Pelepah enau yang telah dipilih tadi, dikeluarkan bagian dalamnya (gadingnya) dengan hati-hati agar tidak pecah (terbelah). Bagian dalamnya yang dikelurkan, disayat dengan pisau tajam. Pada bagian tengahnya disayat/ diiris dengan pisau tajam dan dibentuk seperti garpu tala. Kedua ujungnya dilubangi, dan diikatkan tali. Ujung kanan talinya berbentuk cicin (gelang) untuk tempat ibu jari, dan pada ujung kirinya diikatka pula tali sambil diikat sambung dengan sepotong bambu tui, untuk tempat memegang. Keadaan pengrajinnya sekarang ini sangat langkah dan hampir-hampir tidak ditemukan lagi.



argh.. capek mindahinnya dari sini..
http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=1331588

mod/admin ada fasilitas move post kan? yukk pindahin dong dari trit aslinya..
capek eijke..
ichaelmago - 07/10/2009 06:38 PM
#15
Lagu
BUBUY BULAN

Kaskus ID : ichaelmago
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lagu - Artikel
Sumber : http://organisasi.org/bubuy_bulan_sunda_provinsi_jawa_barat_lirik_lagu_daerah_musik_nasional_tradisio nal_indonesia
Keterangan : Bubuy Bulan adalah lagu tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Lagu ini diciptakan oleh Benny Korda.

Spoiler for Lirik Lagu
Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate

Unggal bulan, unggal bulan
Unggal bulan abdi teang

Unggal poe,unggal poe
Unggal poe oge hade

Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina

Duh eta saha nu ngalangkung
unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana
Elison.ID - 07/10/2009 07:14 PM
#16
Piso Surit
Kaskus ID : Elison.ID
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lirik Lagu PISO SURIT
Sumber : http://www.geocities.com/merga_silima/lirik/pisosurit.htm
Keterangan : Ini lirik lagu dari Sumatera utara (BATAK KARO), Cipt : Djaga Depari

Spoiler for lirik
Piso surit... Piso surit...
Terdilo dilo... terpingko pingko...
Lalap la jumpa ras atena ngena | 2x

Ija kel kena tengahna gundari
Siangna menda turang atena wari
Entabeh nari nge mata kena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh

Engo engo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana

Tengah kesain keri lengetna
Remang mekapal turang seh kel bergehna
Tekuak manuk ibabo geligar
Enggo me selpat turang kite-kite ku lepar

Piso surit... Piso surit...
Terdilo dilo... terpingko pingko...
Lalap la jumpa ras atena ngena

Engo engo me dagena
Mulih me gelah kena
Bage me nindu rupa agi kakana | 2x
lucky girl - 07/10/2009 08:25 PM
#17

Kaskus ID : lucky girl
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : lirik lagu Yamko Rambe Yamko
Sumber : http://organisasi.org/yamko_rambe_yamko_provinsi_papua_irian_jaya_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasiona l_indonesia
Keterangan : ini lirik lagu Yamko Rambe Yamko dari Papua/Irian Jaya

Spoiler for lirik
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe

Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade

Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro

alphabet - 07/10/2009 10:15 PM
#18

kaskus ID : alphabet

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lagu Soleram

sumber : http://organisasi.org/soleram_provinsi_riau_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasional_indonesia

keterangan :Soleram - Provinsi Riau ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Spoiler for lirik lagu
Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya

Satu dua
Tiga dan empat
Lima enam
Tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang
Kawan lama ditinggalkan jangan

---

Note :
Indonesian old traditional song
Free public song & non commercial copyrighted song lyric
alphabet - 07/10/2009 10:16 PM
#19

kaskus ID : alphabet

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lagu Injit-Injit Semut

sumber : http://organisasi.org/injit_injit_semut_lirik_lagu_daerah_dan_musik_nasional_indonesia

keterangan : Injit Injit Semut ::: Lirik Lagu Daerah dan Musik Nasional Indonesia

Spoiler for lirik lagu
Jalan jalan ke Tanah Deli
Sungguh indah tempat tamasya
Kawan jangan bersedih
Mari nyanyi bersama sama

Kalau pergi ke Surabaya
Naik prahu dayung sendiri
Kalau hatimu sedih
Ya rugi diri sendiri

Naik prahu ke Pulau Sribu
Sungguh malang nasibku
Punya teman diambil orang
Ramai sungguh Bandar Jakarta
Tempat orang mengikat janji
Walau teman tak punya hati
Senang dapat bernyanyi

Reff :
Injit injit semut
Siapa sakit naik diatas
Injit injit semut walau sakit
Jangan dilepas

---

Note :
Indonesian old traditional song
Free public song & non commercial copyrighted song lyric
damncountry - 07/10/2009 10:17 PM
#20

Kaskus ID : damncountry
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : lirik lagu waktu hujan sore-sore
Sumber :http://laguambon.blogspot.com/2008/12/waktu-hujan-sore-sore.html
Keterangan : ini lirik lagu waktu hujan sore-sore, lagunya enakk:

[PHP]Waktu hujan sore-sore
kilat sambar pohon kenari
E jujaro deng mongare
mari dansa dan manari

Pukul Tifa toto buang
kata balimbing dikareta
sio nyong hati tuang
jangan geser tinggal beta

e . . . manari sambil goyang badan e
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .

e . . . manari sambil goyang badange
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .
Rasa rame, jangan pulang dolo e

Waktu hujan sore-sore
kilat sambar pohon kenari
E jujaro deng mongare
mari dansa dan manari

Pukul Tifa toto buang
kata balimbing dikareta
sio nyong hati tuang
jangan geser tinggal beta

e . . . manari sambil goyang badange
manari lombo, pegang lenso manisse
la rasa rame, jangan pulang dolo e . .
Rasa rame, jangan pulang dolo e
[/PHP]
alphabet - 07/10/2009 10:30 PM
#21

kaskus ID : alphabet

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lagu Tak Tontong

sumber : http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/tak-tontong/

keterangan :Soleram - Provinsi Sumbar::: Lirik Lagu Daerah Tak Tontong

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=zz6furbOzcQ[/youtube]
link youtube : http://www.youtube.com/watch?v=zz6furbOzcQ

Spoiler for lirik lagu
Soleram
Soleram
Soleram
Anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merah lah pipinya

Satu dua
Tiga dan empat
Lima enam
Tujuh delapan
Kalau tuan dapat kawan baru sayang
Kawan lama ditinggalkan jangan

---

Note :
Indonesian old traditional song
Free public song & non commercial copyrighted song lyric
cybersapien - 08/10/2009 03:09 AM
#22

Kaskus ID : cybersapien
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : Artikel tentang Jaipongan
Sumber : wiki, http://www.swaberita.com/2008/05/23/nusantara/tarian-jaipong-seni-tari-asal-jawa-barat.html
Keterangan : Jaipongan, tari kontemporer Jawa Barat
Spoiler for "Artikel"

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.



Sejarah
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Penari jaipongan terdiri dari Tunggal, rampak / kolosal
a. rampak sejenis
b. Rampak berpasangan
c. Tunggal laki-laki dan tunggal perempuan
d. Berpasangan laki- laki / perempuan

Karawitan jaipongan terdiri dari karawitan sederhana yang biasa digunakan pertunjukan ketuk tilu yaitu
1. kendang
2. ketuk
3. rebab
4. goong
5. kecrek
6. sinden

Untuk karawitan lengkap memakai gamelan yang biasa dipakai pada karawitan wayang golek seperti
1. kendang
2. sarin I, II
3. bonang
4. rincik
5. demung
6. rebab
7. kecrek
8. sinden
9. goong
10. juru alok

Tata busana tari jaipongan untuk kreasi baru biasanya berbeda dengan busana ketuk tilu untuk yang kreasi biasanya lebih glamor dengan tetap memakai pola tradisional seperti sinjang / celana panjang , kebaya / apok yang busananya lebih banyak ornamen sehingga terlihat megah tetapi lebih bebas bergerak



Berkembang
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut. Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni
cybersapien - 08/10/2009 03:44 AM
#23

Kaskus ID : cybersapien
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : Tulisan tentang Degung
Sumber : http://www.bandung.go.id/?fa=wisata.list&catid=3&wjid=35,wiki
Keterangan : Seni Degungan

Spoiler for "Artikel"

Seni Degung adalah suatu seni karawitan Sunda yang menggunakan perangkat gamelan berlaras degung (lebih umum berlaras pelog). Pada umumnya gamelan ini terdiri atas saron, panerus, bonang, jengglong, gong, kendang, goong, serta suling. Seni kacapian adalah seni kawih Sunda yang menggunakan alat musik kacapi siter, suling, kendang, dan goong. Kadang-kadang menggunakan waditra rebab jika diperlukan. Bahkan, seni ini sangat potensial ketika harus diiringi hanya dengan sebuah alat kecapi siter saja.



Sejarah
Degung merupakan salah satu gamelan khas dan asli hasil kreativitas masyarakat Sunda. Gamelan yang kini jumlahnya telah berkembang dengan pesat, diperkirakan awal perkembangannya sekitar akhir abad ke-18/awal abad ke-19. Jaap Kunst yang mendata gamelan di seluruh Pulau Jawa dalam bukunya Toonkunst van Java (1934) mencatat bahwa degung terdapat di Bandung (5 perangkat), Sumedang (3 perangkat), Cianjur (1 perangkat), Ciamis (1 perangkat), Kasepuhan (1 perangkat), Kanoman (1 perangkat), Darmaraja (1 perangkat), Banjar (1 perangkat), dan Singaparna (1 perangkat).

Masyarakat Sunda dengan latar belakang kerajaan yang terletak di hulu sungai, kerajaan Galuh misalnya, memiliki pengaruh tersendiri terhadap kesenian degung, terutama lagu-lagunya yang yang banyak diwarnai kondisi sungai, di antaranya lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk, dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda selalu diringi dengan gamelan renteng dan berkembang ke gamelan degung.

Dugaan-dugaan masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa degung merupakan musik kerajaan atau kadaleman dihubungkan pula dengan kirata basa, yaitu bahwa kata “degung” berasal dari kata "ngadeg" (berdiri) dan “agung” (megah) atau “pangagung” (menak; bangsawan), yang mengandung pengertian bahwa kesenian ini digunakan bagi kemegahan (keagungan) martabat bangsawan. E. Sutisna, salah seorang nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” dikarenakan gamelan ini dulu hanya dimiliki oleh para pangagung (bupati). Dalam literatur istilah “degung” pertama kali muncul tahun 1879, yaitu dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata "De gong" (gamelan, bahasa Belanda) dalam kamus ini mengandung pengertian “penclon-penclon yang digantung”.

Gamelan yang usianya cukup tua selain yang ada di keraton Kasepuhan (gamelan Dengung) adalah gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Gamelan ini merupakan peninggalan Pangeran Kusumadinata (Pangeran Kornel), bupati Sumedang (1791—1828).

Perkembangan diluar negeri
Di luar Indonesia pengembangan degung dilakukan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi, misalnya Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California (Santa Cruz, USA), musisi Lou Harrison (US), dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London (Inggris), Paraguna (Jepang), serta Evergreen, John Sidal (Kanada). Di Melbourne, Australia, ada sebuah set gamelan degung milik University of Melbourne yang seringkali digunakan oleh sebuah komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan di festival-festival.
echote - 08/10/2009 09:33 PM
#24
badong bag. I
Kaskus ID : echote
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : artikel tentang tari/lagu badong
Sumber : http://gadiskayu.wordpress.com
Keterangan : tari/lagu ini berasal dari TANA TORAJA

Spoiler for "Artikel badong"

Pengertian Badong

Badong adalah sebuah tarian dan nyanyian kedukaan berisi syair dukacita yang diadakan di upacara (pesta) kematian di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tarian Badong dilakukan secara berkelompok oleh pria dan wanita setengah baya atau tua dengan cara membentuk lingkaran besar dan bergerak.

Ma’ berarti ‘melakukan’ dan pa’ berarti pelaku, sehingga ma’badong berarti melakukan tarian dan nyanyian badong, dan pa’badong berarti penari badong.



Deskripsi Badong

Badong dilakukan di setiap upacara kematian di Tana Toraja, dan dilakukan di tanah lapang atau pelataran yang cukup luas, yaitu di tengah-tengah lantang (rumah adat yang hanya dibuat untuk sekali pakai pada saat acara pesta kematian.

Pa’badong memakai baju seragam, biasanya hitam-hitam dan memakai sarung hitam atau memakai pakaian adat toraja. Jumlah penari dapat mencapai puluhan hingga ratusan orang, sehingga pria memakai seragam yang berbeda dengan para penari wanita. Terkadang para pria dan wanita juga mengenakan pakaian adat Toraja. Tetapi, karena badong juga terbuka untuk orang yang ingin ikut menari, jadi tamu upacara kematian yang ingin ikut ma’badong diperbolehkan berpakaian bebas.

Pada saat ma’badong, semua anggota tubuh pada pa’badong juga bergerak, seperti menggerakkan kepala ke depan dan ke belakang, bahu maju-mundur dan ke kiri-ke kanan, kedua lengan diayunkan serentak ke depan dan belakang, tangan saling bergandengan lalu hanya dengan jari kelingking, kaki disepakkan ke depan dan belakang secara bergantian.

Lingkaran besar yang diciptakan pada saat ma’badong dalam beberapa saat dipersempit dengan cara para pa’badong maju, lalu mundur kembali dan pemperluas lingkaran dan saling berputar dan berganti posisi, tetapi tidak bertukar pa’badong lain yang di sisi kanan atau kirinya.

Suara yang mengiringi tarian badong adalah nyanyian para pa’badong, tanpa iringan suara musik. Nyanyian yang dinyanyikan adalah lagu dalam bahasa Toraja, yang berupa syair (Kadong Badong) cerita riwayat hidup dan perjalanan kehidupan orang yang meninggal dunia, mulai dari lahir hingga meninggal. Selain syair tentang riwayat hidup, badong pada saat upacara kematian juga berisi doa, agar arwah orang yang meninggal bisa diterima di alam baka.

Pada umumnya, ma’badong berlangsung selama tiga hari tiga malam, karena pada umumya upacara kematian di Toraja berlangsung selama itu, tetapi tidak dilakukan sepanjang hari. Pada upacara kematian yang berlangsung selama lima hari dan tujuh hari, ma’badong dilangsungkan dengan waktu yang berbeda pula, sesuai dengan keinginan pa’badong dan persetujuan keluarga.

Pelaksaan upacara kematian di Tana Toraja hanya dilakukan oleh keturunan raja dan bangsawan, serta keluarga dengan status sosial yang tinggi, yaitu mereka yang memiliki banyak harta kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan badong hanya dilakukan oleh golongan masyarakat yang kaya, walaupun dalam kenyataannya mereka sebagai penyelenggara, penari badong sendiri adalah keluarga dan masyarakat umum yang dengan sukarela ingin mendoakan orang yang meninggal pada saat itu.

Penari badong biasanya adalah masyarakat asli Tana Toraja yang sudah lama bermukim di Toraja dan sudah mengenal kuat kebudayaan Tana Toraja, hingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam menyanyikan syair ini. Selain itu, karena upacara kematian masih sering diadakan, masyarakat Tana Toraja tidak canggung dan dapat ma’badong dengan baik dan lancar.

Selain ma’badong, biasanya di upacara kematian Tana Toraja juga ada tari ma’gellu (tarian tradisional Tana Toraja), pengenalan keluarga yang berduka cita, pengenalan kerbau bonga (belang) dan kerbau biasa yang disembelih, mapasilaga tedong (beradu kerbau, yang nantinya akan disembelih sebagai pengantar arwah orang yang meninggal menuju surga), pengarakan peti menuju tempat yang disediakan, penaburan uang logam untuk diperebutkan oleh tamu upacara, dan pembakaran kerbau dan babi sembelihan yang nantinya akan dibagi kepada keluarga, tamu, dan masyarakat umum, dan ritual-ritual lainnya.

Tata Cara Pelaksanaan Badong

Sebelum upacara diadakan, yaitu pada saat persiapan upacara, para anggota keluarga yang berduka cita memilih siapa saja yang akan menjadi pa’badong untuk upacara kematian, yaitu keluarga, sanak saudara, rekan, tetangga, dan orang lain.

Hingga pada saat upacara kematian berlangsung, orang-orang yang telah ditentukan sebelumnya menuju tempat yang telah ditentukan, pada saat yang sudah ditentukan pula.

Para pa’badong berdiri dan saling menunggu teman yang lain berada di posisi masing-masing, lalu pemimpin badong (pemberi aba-aba yang dipilih dari pa’badong-pa’badong) memberikan aba-aba untuk memulai tarian mereka.

Pada awal ma’badong, para pa’badong menyanyikan empat badong secara berturut-turut sesuai dengan fungsinya, yaitu badong nasihat, badong ratapan, badong berarak, dan badong selamat (berkat). Setelah itu, dilanjutkan oleh para pa’badong yang sudah menyiapkan doa dan nyanyian riwayat hidup yang sudah dipersiapkan. Jika tiba waktu yang telah ditentukan, namun syair badong, doa, dan nyanyian riwayat hidup belum selesai, para pa’badong akan berhenti secara bersamaan dan mereka kembali ke lantang (rumah papan dan kayu yang digunakan hanya untuk upacara) untuk beristirahat, hingga pada waktu yang mereka rencanakan bersama, mereka akan ma’badong lagi.

Cara ini berlangsung hingga tarian dan nyanyian pa’badong selesai dan upacara kematian juga selesai.



bersambung........
echote - 08/10/2009 09:34 PM
#25
badong bag. II
Kaskus ID : echote
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : artikel tentang tari/lagu badong
Sumber : http://gadiskayu.wordpress.com
Keterangan : tari/lagu ini berasal dari TANA TORAJA

Spoiler for "Artikel badong"


para pria dewasa ma’badong dengan pakaian seragam


Pa’badong sedang melakukan upacara ma’badong, dan ada seorang pemimpin yang mengenakan pakaian berbeda.

Formula Badong

Banyak hal yang telah menjadi keharusan sebagai tata baku dalam upacara badong. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Untuk membentuk lingkaran sebagai nyanyian doa, penari badong paling sedikit harus berjumlah lima orang.

Syair lagu badong adalah syair yang sudah terstruktur sesuai dengan keempat fungsi ditambahkan dengan riwayat hidup orang yang meninggal dunia.

Badong dilaksanakan di upacara pemakaman di lapangan terbuka yang dikelilingi lantang (rumah adat).

Badong dilaksanakan oleh pria dan wanita dewasa.

Badong hanya dilakukan di upacara kematian dan bersifat sakral, bukan untuk permainan sehingga tidak akan dilakukan di upacara yang lain.

Rangkaian gerakan badong berupa gerakan kepala, pundak, tangan, dan kaki, serta perputarannya tidak mengalami perubahan dan variasi, tetapi berupa tata cara yang masih sama dengan yang diwariskan turun-temurun.



Fungsi Badong

Fungsi Badong adalah dibagi dalam empat bagian, yaitu badong pa’ pakilala (badong nasihat), badong umbating (badong ratapan), badong ma’ palao (badong berarak), dan badong pasakke (badong selamat atau berkat).

contoh syair...

Badong umbating

Tonna masaki ulunna,

Tiku ramman beluakna ;

Nenne’ samandu-mandunna,

Kerangan umbongi-bongi.

Samari tampak sarrona,

Te upu’ pekaindo’na ;

Ka’tu angin dipudukna,

Ronta’ tondon to batanga.

Sokan sokannamo ia,

Te dao nene’ mendeatanta ;

Sola to dolo kapuanganta,

Unnamboran tinaranna.

Namboran salarika,

Nasio’ tang tongan dika ;

Dengka tau tang nabasa,

Tang nalulun baratai ?

La ditulakraka langi’,

La dimnangairika ? ;

Sokan2 ia Nene’,

Tang ma’ga’ta’ to dolota.

Ke napapatui lenki’,

Ke nasanda simisa’ki’ ;

Sanda’2 dilempangan,

Pangkun dipentilendungan.

Tallang turanannaki’ Puang,

Awo’ bela’-belaranna ;

Aur tebas-tebasannya ;

Ke disaile sulei,

La dibandika menasan.

Inde dao to tungara,

Rintin to mennulu sau’ ;

Umpolo bintanna Sali,

Sirundu’ karasan tanga.

Malemi situru’ gaun,

Sikaloli’ rambu ruaja ;

Naempa-empa salebu’,

Sau’ tondok Pong Lalondong.

Unnola tossoan Adang,

Panta’daran Tau bunga’ ;

Dadi deatami lolo’,

Kombongmi to palullungan.

La umbengki’ tua’ sanda,

Paraja sanda’ mairi’ ;

Anta masakke mairi’,

Madarinding sola nasang.
chronomaster - 09/10/2009 06:06 AM
#26

Kaskus ID : chronomaster
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : lagu daerah Banjarmasin,kalimantan selatan
Sumber : http://esais.blogspot.com/2007/11/sakilaran-tentang-madihin.html
Keterangan :kebudayaan asli kalimantan selatan

I. Pendahuluan


Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu.


Kehidupan Madihin seperti juga balamut, kesenian tradisional yang hampir tipis, bahkan mengalami kerisis kemusnahannya. Madihin jarang ditampilkan dalam acara – acara hiburan hari – hari besar atau acara perayaan daerah misalnya pada hari jadi kota, kabupaten atau pun pada hari jadi provinsi. Setelah di tahun 1970 – an tak pernah ada lagi perlombaan atau pertandingan Madihin.


Jarang atau dapat dihitung dengan jari orang yang berminat menjadi Pamadihinan. Agar menjadi Pamadihinan yang mengarah kepada pemain profisional, ia harus memiliki keterampilan dalam bamadihin. Keterampilan itu antara lain : Menguasai lagu khas madihin, terampil memukul tarbang dengan irama sebagai pukulan pembuka atau membunga, pukulan memecah bunga, pukulan menyampaikan isi pesan, dan pukulan penutup. Seorang Pamadihinan juga harus mempunyai suara atau vokal yang lantang dan merdu. Disamping hapal naskah syair, ia juga terampil berimpropisasi yaitu secara spontan menciptakan syair tanpa dipersiapkan terlebih dahulu. Memang seorang pamadihinan perlu latihan yang terus – menerus agar dapat menjadi Pamadihinan yang profisional.


II. Asal – Mula Madihin

Banyak pendapat mengenai asal mula madihin. Ada yang mengatakan berasal dari Kecamatan Angkinan yaitu di kampung Tawia, Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan. Pendapat ini berpijak pada bahwa Pamadihinan banyak tersebar di pelosok Kalimantan Selatan berasal dari kampung Tawia bernama Dulah Nyangnyang.

Ada juga yang berpendapat madihin berasal dari Kecamatan Paringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan, sebab dahulu Dulah Nyanyang lama bermukim di ingin dan mengembangkan madihin di sana.


Tetapi ada juga yang berpendapat madihin berasal dari utara Kalimantan yang berbatasan dengan negara Malaysia ( Malaka ), sebab madihin banyak dipengaruhi oleh syair melayu dan gendang tradisional semenanjung Malaka. Tarbang ( gendang ) yang dipakai bamadihin ada persamaan dengan gendang yang dipakai oleh orang – orang Malaka dalam mengiringi syair atau pantun melayu.


Apa pun pendapat ini. Namun yang jelas bahwa madihin menggunakan bahasa Banjar, Pamadihinannya etnik Banjar. Madihin adalah kesenian tradisional Banjar yang khas Banjar yang tidak ada pada etnik lain di Nusantara.


Madihin sudah ada diperkirakan tahun 1800 yaitu setelah Islam masuk dan berkembang di Kalimantan. Lahirnya madihin banyak dipengaruhi oleh kesenian Islam yaitu kasidah dan syair – syair bercerita yang dibaca oleh masyarakat Banjar.


III. Pergelaran, Fungsi dan Struktur Madihin


A. Pagelaran


Madihin pada umumnya dipergelarkan pada malam hari, tetapi sekarang pada siang hari. Durasi pagelaran sekitar 1 sampai 2 jam sesuai permintaan penyelenggara. Pagelaran madihin umumnya di lapangan terbuka yang dapat menampung penonton yang banyak. Panggung yang diperlukan ukuran 4 x3 meter. Ada juga di halaman rumah, di muka kantor atau balai. Sekarang sering pula dipergelarkan di dalam gedung.


Membawakan madihin ada yang hanya satu Pamadihinan yakni pemain tunggal.Pemain tunggal ini membawakan syair dan pantunnya harus pandai membawa timber atau warna suara yang agak berbeda seperti orator. Ia harus pandai menarik perhatian penonton dengan humor segar tetapi sesuai dengan batas etika. Ia harus benar – benar sanggup dengan memukau dengan irama dinamis pukulan terbangnya. Tetapi umumnya dibawakan 2 Pamadihinan, malah sampai 4 Pamadihinan. Jika 2 Pamadihinan berduet maka pemain ini biasanya beradu atau saling bertanyajawab, saling sindir, saling kalah mengalahkan melalui syair yang dibawakan. Aturannya adalah Pamadihinan yang satu membuka hadiyan, kemudian disambut oleh Pamadihinan yang kedua, dan seterusnya saling bersahuta. Andaikan ada 4 Pamadihinan maka terbagi dua kelompok, masing – masing 2 Pamadihinan., penampilannya seperti halnya yang dua Pamadihinan, tapi kelompok yang satu bisa membantu anggota kelompoknya melawan kelompok yang dihadapinya. Biasanya kelompok ini berpasangan pria dan wanita yaitu duel meet. Duel meet ini merupakan beradu kaharatan ( kehebatan ). Dalam duel ini, kelompok 1 memberi umpan dengan syair tertentu. Kelompok 2 harus dapat mengulangi atau menjawab, selanjutnya harus memberi umpan balik, yang harus diulang oleh kelompok I. Mereka saling bertanya jawab, saling menyindir, saling kalah mengalahkan. Demikian seterusnya.


Ada pun kelompok yang kalah apabila tidak bisa atau tidak dapat mengulang atau menjawab kelompok lawannya. Kelompok yang kalah akan mengangkat bendera putih.


Pamadihinan duduk di kursi dengan memakai baju Banjar yaitu taluk balanga dan memakai kopiah serta sarung. Tetapi sekarang sudah berpakaian bebas dan sopan, kecuali pada acara – acara penting, misalnya menghibur tamu pejabat atau menghibur acara pisah sambur pejabat, dan lain – lain.



B. Fungsi


Madihin umumnya berfungsi :


1. Dahulunya menghibur raja atau pejabat istana. Syair yang dibawakan bersifat pujian.

2. Sebagai hiburan masyarakat acara tertentu, misalnya hiburan habis panen,

memeriahkan pengantin, peringatan hari besar nasional dan daerah.

3. Sebagai nadar atau hajat misalnya bagi orang tua yang anaknya baru sembuh dari sakit,

upacara meayun anak yaitu upacara daur hidup etnik Banjar dan juga pada acara

sunatan ( kitanan ).

4. Sebagai media informasi, penyampaian pesan pembangunan yang dilakukan oleh

pemerintah misalnya keluarga berencana, Pertanian, pendidikan, kesehatan,

pemeliharaan nilai dan moral, wahana memperkokoh persatuan kesatuan , dan lai –

lain.


C. Struktur Madihin

Struktur pergelaran sudah baku, yaitu terdiri atas :


1. Pembukaan

Yaitu melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali dengan pukulan tarbang yang disebur pukulan pembuka. Pembuka ini merupakan informasi tema yang akan dibawakan.


Contoh :


Ilahi …..

lah riang … lah riangt riut

punduk …. Di hutan

riang riut punduk di hutan …

kaguguran ….

kaguguran buah timbatu ….


2. Batabi


Yaitu syairnya atau pantun yang isinya penghormatan pada penonton, pengantar, ucapan terima kasih, dan permohonan maaf dan ampun jika ada terdapat kesasahan atau kekeliruan dalam pergelaran.


Contoh :


maaf ampun hadirin barataan

baik nang di kiri atawa di kanan

baik di balakang atawa di hadapan

baik lai – laki atawa parampuan

baik urang tuha atawa kakanakan

baik nang badiri atawa nang dudukab

ulun madihin sahibar bacucubaan

tarima kasih ulun sampaiakan

kapada panitia mambari kasampatan

kalu tasalah harap dimaafakan

tapi kalu rami baampik barataan


3. Mamacah bunga


Yaitu menyampaikan syair atau pantun sesuai dengan isi tema yang dibawakan.


Contoh :


baampik …. barataan

babulik kaawal papantunan

handak dipacahy makna sasampiran

supaya panuntun nyaman mandangarakan


riang riut punduk di hutan

kaguguran kanapa buah timbatu

irang irut muntung kuitan

mamadahi kaina anak minantu


minantu mayah ini lain banar bahari

guring malandau lacit katangah hari

kada bamasak sabigi nasi

dipadahi mintuha kada maasi


kalu malam tulak pamainan

padahal pamainan dilarang tuhan

urang macamitu bungul babanaran

bisa – bisa mati karabahan jambatan



4. Penutup


Yaitu kesimpulan dari apa yang baru disampaikan, sambil menghormati penonton, dan mohon famit, serta ditutup dengan berupa pantun – pantun.


Contoh :


tarima kasih ulun sampaiakan

kadapa hadirin sabarataan

mudahan sampian kalu ingat kaganangan

kapada diri ulun pamadihinan


ulun madihin sahibar mamadahakan

handak manurut tasarah pian barataan

sampai di sini dahulu sakian

mohon pamit ulun handak batahan



rama – rama batali banang

kutaliakan ka puhun kupang

sama – sama kita mangganang

mudahan kita batamuan pulang


ilahi ….

sadang bataha, sadang barhanti …
verditch - 11/10/2009 11:38 AM
#27

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Artikel tentang alat musik Gamelan

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan

keterangan : ini adalah artikel mengenai alat musik gamelan

Spoiler for gamelan
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

Jenis-jenis Gamelan

[spoiler=1. Gamelan Jawa]
Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:
Kendang,Bonang,Bonang Penerus,Demung,Saron,Peking (Gamelan),Kenong & Kethuk,Slenthem,Gender,Gong,Gambang,Rebab,Siter,Suling


Spoiler for 2. Gamelan Bali
Musiknya juga sering mengalami perubahan temp dan dinamik. Bedanya lagi, gamelan Bali memiliki lebih banyak instrumen berbilah daripada berpencu. Logamnya pun lebih tebal sehingga dapat bersuara lebih nyaring. Ciri lain gamelan Bali adalah digunakannya sejenis simbal yang disebut ceng-ceng. Ceng-ceng inilah yang berbunyi nyaring dan cepat sehingga membuat musik Bali berbeda dari musik Jawa.


Spoiler for 3. Gamelan Sunda
Gamelan Degung
Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. Gamelan salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan dan lain-lain. Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro, hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hal ini menandakan cukup terwakilinya seperangkat gamelan dengan keberadaan gamelan salendro, sementara gamelan degung dirasakan cukup mewakili kekhasan masyarakat Jawa Barat. Gamelan lainnya adalah gamelan Ajeng berlaras salendro yang masih terdapat di kabupaten Bogor, dan gamelan Renteng yang ada di beberapa tempat, salah satunya di Batu Karut, Cikalong kabupaten Bandung. Melihat bentuk dan interval gamelan renteng, ada pendapat bahwa kemungkinan besar gamelan degung yang sekarang berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.


Spoiler for 4. Gamelan Banyuwangi
Gamelan Banyuwangi, adalah sebuah bentuk seni gamelan yang berasal dari daerah Blambangan atau Banyuwangi Jawa Timur.
Bentuk gamelan ini sungguh khas karena meskipun sebenarnya masih merupakan bagian dari budaya Jawa, namun banyak sekali memperlihatkan pengaruh Bali, yang terletak hanya beberapa kilometer di seberang laut.

Berbeda dengan gaya gamelan Madura atau gaya Jawa, gamelan Banyuwangi iramanya cepat dan suaranya keras. Sekilas layaknya memang mirip sekali dengan gamelan Bali.


Spoiler for 5. Gamelan Banjar

Gamelan Banjar adalah seni karawitan dengan peralatan musik gamelan yang berkembang di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Gamelan Banjar yang ada di Kalsel ada 2 versi yaitu :
1. Gamelan Banjar versi keraton
2. Gamelan Banjar versi rakyatan


6. Gamelan Kutai (lom ada artikel)

7. Gamelan Sasak (lom ada artikel)

Spoiler for 8. Gambang Kromong
Sebutan Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong. Bilahan Gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon).

Orkes Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur pribumi. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya.

Disamping lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi, Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa, Macuntay, Gutaypan dan sebagainy


9. Gambang Semarang (lom ada artikel)

Spoiler for 10. Gamelan Amerika

American gamelan could refer to both instruments and music; the term has been used to refer to gamelan-style instruments built by Americans, as well as to music written by American composers to be played on gamelan instruments. American gamelan music usually has some relationship to the gamelan traditions of Indonesia, as found primarily on the islands of Java and Bali in a variety of styles. Many American compositions can be played on Indonesian or American made instruments. Indonesian gamelan can be made of a variety of materials, including bronze, iron, or bamboo. American gamelan builders used all sorts of materials including aluminum, tin cans, car hubcaps, steel, antique milk-strainers, etc. American gamelan may also describe the original music of American ensembles working with traditional instruments.

Dennis Murphy is often credited as being the first American to build instruments modeled on those of the Javanese gamelan, circa 1960. This work led to his doctoral thesis at Wesleyan University, entitled "The Autochthonous American Gamelan." Murphy started a gamelan group with his instruments at Goddard College in Vermont in 1967; that group later became the community-based Plainfield Village Gamelan.

There have been other American builders of gamelan as well, on both the East and West coasts. Following Murphy's model was Barbara Benary, who built the instruments still used today for Gamelan Son of Lion On the West coast, the airline industry made aluminum affordable, and this became the material of choice for several gamelan builders. Daniel Schmidt, a composer-builder, built an ensemble called "The Berkeley Gamelan" (independent of the University of California, Berkeley) as well as the set of instruments that would developed into Gamelan Pacifica in Seattle. Paul Dresher also used aluminum.

Lou Harrison and William Colvig built a set of tuned percussion instruments that they call "an American gamelan" in order to differentiate it from Indonesian ensembles. These are now referred to as "Old Granddad," and Harrison wrote some pieces that can only be played on this set, such as La Koro Sutro. Lou Harrison spent some time with a Javanese gamelan in 1976 (when Kyai Udan Mas, now at the University of California, Berkeley, was in residence at San Jose State University). This inspired him and his partner William Colvig to build a gamelan modelled specifically on Udan Mas (in instrumentation, although not in tuning). For this he used aluminum primarily, although the "great gong" was eventually fashioned out of iron.

Colvig and Harrison built two large "double" gamelan (meaning that there were instruments in both the pelog and slendro tunings). The first was Si Betty, named for the financial benefactor Betty Freeman. Si Betty was bequeathed to Jody Diamond, and is now in residence at Harvard University. The second was named "Si Darius/Si Madeleine" after Darius Milhaud and his wife, because it was while holding the Milhaud chair at Mills College (where the gamelan still resides) that Harrison and Colvig had the support for its construction; a group there (as of 2008) is directed by Daniel Schmidt. Lou Harrison was well known for his compositions for gamelan; he was particularly adept at combining western instruments with his Javanese-style gamelan ensemble. (The scores for all of his gamelan works are published by the American Gamelan Institute).


[/spoiler]
verditch - 11/10/2009 12:02 PM
#28

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Artikel tentang tari Tanggai dari Sumatra Selatan

sumber : http://www.sumselprov.go.id/index.php?module=content&id=5

keterangan :Ini Adalah Artikel Tentang Tari Tanggai yg Berasal dari Sumatra Selatan


Spoiler for Tari Tanggai


Tari tanggai merupakan tarian untuk menyambut tamu-tamu resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai busana khas daerah para penari kelihatan anggun dengan busana khas daerah. Tarian menggambarkan masyarakat palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamau yang berkunjung ke daerahnya

Dahulu tarian ini pulalah yang selalu disajikan kepada tamu-tamu raja kerajaan Sriwijaya. Tidak hanya pada acara perkimpoian saja, disetiap acara pun tarian ini sering dilakukan.

Tarian ini memiliki persamaan dengan tari Gending Sriwijaya. Perbedaannya pada jumlah penari dan busananya.
Tari tanggai dibawakan oleh 5 penari, sedang Gending Sriwijaya 9 penari. Busana penari tanggai ini tidak selengkap busana dan asesori penari

[spoiler=gambar tari tanggai]


[/spoiler]
verditch - 11/10/2009 12:15 PM
#29

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Artikel Tentang Tari Gending Sriwijaya dari Sumatra Selatan

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gending_Sriwijaya

keterangan : ini adalah artikel mengenai tari gending sriwijaya yg berasal dari sumatra selatan

Spoiler for Gending Sriwijaya


Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara.

Lirik Lagu Gending Sriwijaya

Di kala ku merindukan keluhuran dulu kala
Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya
Dalam seni kunikmati lagi zaman bahagia
Kuciptakan kembali dari kandungan Maha Kala
Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru
Tutur sabda Dharmapala pada Khirti Sakyakhirti
Berkumandang dari puncaknya Seguntang Maha Meru
Menaburkan tuntunan suci Gautama Buddha sakti.

Tari Gending Sriwijaya

Tarian ini digelar untuk menyambut para tamu istimewa yang bekunjung ke daerah tersebut, seperti kepala negara Republik Indonesia, menteri kabinet, kepala negara / pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang dianggap setara dengan itu.

Untuk menyambut para tamu agung itu digelar suatu tarian tradisional yang salah satunya adalah Gending Sriwijaya, tarian ini berasal dari masa kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di Kota Palembang yang mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu.

Tarian Gending Sriwijaya digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai. Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan. Pembawa pridon biasanya adalah sahabat akrab atau inang pengasuh sang putri. Demikianlah pula penari-penari lainnya.


[spoiler=gambar tari gending sriwijaya]


[/spoiler]
verditch - 13/10/2009 10:42 AM
#30

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Artikel Tentang Tari Saman

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Saman

keterangan : ini adalah artikel mengenai tari saman dari Aceh

Spoiler for Tari Saman
Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama tarian "Saman" diperoleh dari salah satu ulama besar NAD, Syech Saman.

Makna dan Fungsi

Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (Dakwah). Tarian ini mencerminkan Pendidikan, Keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.

Sebelum saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan kontinu, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara group tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian ditititk beratkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

Paduan Suara

Tari Saman biasanya ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, akan tetapi menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna. Tarian ini khususnya ditarikan oleh para pria.

Pada zaman dahulu,tarian ini pertunjukkan dalam acara adat tertentu,diantaranya dalam upacara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu, khususnya dalam konteks masa kini, tarian ini dipertunjukkan pula pada acara-acara yang bersifat resmi,seperti kunjungan tamu-tamu Antar Kabupaten dan Negara,atau dalam pembukaan sebuah festival dan acara lainnya.

Nyanyian

Nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian saman. Cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam 5 macam :

1. Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
2. Dering, yaitu regnum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Gerakan

Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada.Diduga,ketika menyebarkan agama islam,syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno,kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudakan dakwahnya.Dalam konteks kekinian,tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Tarian saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik,kerena hanya menampilkan gerak tepuk tangan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang,kirep,lingang,surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo)

Penari

Pada umumnya,Tarian saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki,Tetapi jumlahnya harus ganjil.Namun, dalam perkembangan selanjutnya,tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan.Pendapat Lain mengatakan Tarian ini ditarikan kurang lebih dari 10 orang,dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.Namun, dalam perkembangan di era modern yang menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut syeikh. Selain mengatur gerakan para penari,Syeikh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman.

[spoiler=gambar penari saman laki-laki]


Spoiler for gambar penari saman perempuan


[/spoiler]
Page 1.5 of 6 |  1 2 3 4 5 6 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel