Lagu/Tarian/Alat Musik
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Total Views: 127990
Page 4 of 6 |  < 1 2 3 4 5 6 > 

verditch - 11/01/2010 09:34 AM
#61

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Tokecang

sumber : organisasi.org

keterangan : Lagu Daerah Jawa Barat

Spoiler for
Tokecang tokecang bala gendir tosblong
Angeun kacang sapependil kosong

Aya listrik di masigit meuni caang katingalna
Aya istri jangkung alit karangan dina pipina

Tokecang tokecang bala gendir tosblong
Angeun kacang angeun kacang sapependil kosong
verditch - 11/01/2010 09:38 AM
#62

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Anak Kambing Saya

sumber : organisasi.org

keterangan : Lagu Daerah Nusa Tenggara

Spoiler for
mana dimana anak kambing saya
anak kambing tuan ada di pohon waru
mana dimana jantung hati saya
jantung hati tuan ada di kampung baru

caca marica he hei
caca marica he hei
caca marica ada di kampung baru

caca marica he hey
caca marica he hey
caca marica ada di kampung baru
putralingga - 12/01/2010 08:57 AM
#63
Mangun Dusun
Kaskus ID : PutraLingga
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Lagu daerah Lubuklinggau
Sumber : http://www.kabarlinggau.com/2009/11/lagu-daerah-mangun-dusun.html
Keterangan :
Lagu Daerah Lubuklinggau ""

"MANGUN DUSUN"
Oe kawan-kawan bepekerlah kite
Adat busek-busek..busek lah bae
Nak nurut Dunie la gile
Laju makan sumpah uwong tue

Mondar mandir kilo kulu
Ugek ulat ujan kena panas
Budi base haram kalu tau
Asal ati mude terase la puas

Oe kawan-kawan berpekerlah kite
Ambek lah sikap sebelum terlambat
Dari pade kite élan dak keruan
Baeklah kite hame-hame mangon doson



Arti Dalam Bahasa Indonesia

"Membangun desa/kota/tanah tempat tinggal/ tanah kelahiran"

Hai kawan-kawan berpikirlah kita
Kebiasaan bermain-main..dan selalu bermain
kalau menuruti dunia yang sudah gila
Bisa termakan sumpah orang tua

Mondar mandir hilir mudik
Seperti ulat hujan kena panas
Budi bahasa sedikitpun tidak tahu
Asal hati senang terasa sudah puas

Hai kawan-kawan berpikirlah kita
Ambillah sikap sebelum terlambat
Dari pada kita berbuat yang sia-sia
Sebaiknya kita sama-sama membangun tanah tempat tinggal kita
________________________________________

Pesan Moral

Lagu ini adalah merupakan sebuah nasehat untuk para pemuda/masyarakat lubuklinggau…agar mereka berfikir untuk tidak menyia-nyiakan waktu mereka..dengan hal-hal yang tidak bemanfaat,
Dan juga agar mereka tidak mengisi kehidupan hanya dengan hura-hura dan kesenangan belaka,..
Dari pada berbuat hal yang sia-sia…lebih baik sama-sama mengisi kemerdekaan ini dengan membangun/memajukan tanah tempat tinggal kita.
verditch - 12/01/2010 09:43 AM
#64

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Kampuang Nan Jauh Di Mato

sumber : organisasi.org

keterangan : Lagu Daerah Padang,Sumatra Barat

Spoiler for
Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
Takana Jo Kawan, Kawan Nan Lamo
Sangkek Basu Liang Suliang

Panduduknya nan elok nan
Suko Bagotong Royong
Kok susah samo samo diraso
Den Takana Jo Kampuang

Takana Jo Kampuang
Induk Ayah Adik Sadonyo
Raso Mangimbau Ngimbau Den Pulang
Den Takana Jo Kampuang
verditch - 14/01/2010 10:51 AM
#65

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Angin Mamiri

sumber : organisasi.org

keterangan : Lagu Daerah Provinsi Makassar / Ujung Pandang / Sulawesi Selatan

Spoiler for
Angin mamari ku pasang
Pitujui tongtongana
Tusarua takkan lupa
Eaule na mangu rangi
Tutenaya, tutenaya parisina

Batumi angin mamiri
Angin ngerang dingin-dingin
Nama lonta sari kuku
Eaule na mangu rangi
Matolorang, matolorang jenemato
verditch - 14/01/2010 10:56 AM
#66

kaskus ID : verditch

kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

bentuk karya : Lirik Lagu Apuse

sumber : organisasi.org

keterangan : Lagu Daerah Papua

Spoiler for
Apuse kokon dao
Yarabe soren doreri
Wuf lenso bani nema baki pase
Apuse kokon dao
Yarabe soren doreri
Wuf lenso bani nema baki pase
Arafabye aswarakwar
Arafabye aswarakwar
sejuta bintang - 15/01/2010 08:41 PM
#67

Kaskus ID : verditch
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tarian Jawa
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/article.php?story=20090310005808996
Keterangan : Artikel mengenai Tarian Jawa

Spoiler for Tari Tradisional Jawa

SERATUS tahun silam, negara kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk. Yang ada kelompok- kelompok etnis seperti Jawa, Bali, Minang, dan Melayu yang hidup terpisah-pisah di bawah kekuasaan penjajah Belanda. Sebelum penjajah hadir, penguasa pribumi-raja-raja, terutama Jawa dan Bali- melegitimasikan kekuasaan dan pengaruhnya dengan patronase dan penyelenggara berbagai pertunjukan sebagai bagian dari upacara negara, agama, atau kegiatan rekreasi dan hiburan semata.

Melalui upacara spektakuler seperti garebeg, sekaten, eka dasa rudra, dan galungan para raja menunjukkan kebesarannya. Melalui wacana konsep dewa-raja, ratu gung binathara, gelar kebesaran sayidin panata gama kalifatullah tanah Jawa, rakyat diyakinkan akan kekuasaan dan kebesaran penguasa. Masyarakat Jawa masa lalu terbagi dua kelompok para priyagung dan rakyat biasa (kawula alit). Posisi tak menguntungkan rakyat kecil ini secara tradisi harus diterima dengan patuh tanpa bertanya.

Masuknya penjajah Belanda memperburuk situasi hidup. Raja-raja, penguasa lokal yang didewakan rakyat, tak lagi berkuasa penuh tetapi harus tunduk dan melayani kepentingan penjajah Belanda. Awalnya, para penguasa pribumi secara sporadis melawan Belanda. Mereka berjuang sendiri-sendiri dengan kekuatan ekonomi, militer, teknologi, dan strategi yang tak memadai, karenanya banyak yang tergilas.

Tiga ratus tahun berjuang tanpa hasil, raja-raja Jawa dan Bali kemudian banyak yang pasrah dan memusatkan perhatiannya pada kegiatan gamelan, tari dan wayang, atau mistik. Wacana budaya pada saat ini adalah bertahan hidup. Kebesaran raja-raja Jawa sebenarnya tinggal nama, karena secara politik dan ekonomi mereka sangat bergantung kepada Pemerintah Hindia Belanda. Ada kalanya para raja justru membantu penjajah Belanda mengeksploitasi rakyatnya.

Patronase pertunjukan tari, wayang dan gamelan tetap, walau jumlahnya berkurang. Upacara-upacara besar yang diselenggarakan raja berubah fungsi dari sebuah ritual yang mengandung martabat menjadi hiburan atau klangenan yang lebih mementingkan gebyar wujud daripada esensi isi. Upacara garebeg misalnya, tak lagi diselenggarakan semata-mata untuk keselamatan dan kemakmuran Raja Jawa dan rakyatnya, tetapi juga (dan terutama) untuk Kanjeng Ratu Wilhelmina.

Memasuki abad ke-20, seiring dengan pergerakan nasional, terjadi demokratisasi dan komersialisasi. Seni pertunjukan yang semula dihayati sebagai ekpresi budaya perlahan-lahan berubah menjadi produk atau komoditas. Tontonan keraton yang semula merupakan klangenan kaum ningrat, diproduksi secara populer untuk rakyat biasa. Di Surakarta, Sunan Paku Buwono X membuka Taman Hiburan Sri Wedari dengan pertunjukan wayang orang yang main setiap malam. Masyarakat Surakarta dan sekitarnya (yang masih kuat berorientasi ke budaya istana), menyambut dengan gembira. Melalui pertunjukan wayang orang, mereka bisa mengidentifikasikan dirinya dengan kaum priyayi dan bisa mengagumi kebesaran masa silam. Raja dan rakyat memiliki perasaan yang sama dalam menghadapi penjajah Belanda.

Di Yogyakarta, dengan restu Sultan, perkumpulan tari Krida Beksa Wirama didirikan tahun 1918 dan sejak itu tarian keraton boleh diajarkan kepada rakyat banyak. Upaya meneguhkan legitimasi kekuasaan raja tetap dilakukan dengan patronase pertunjukan gamelan, tari, dan wayang. Selama memerintah (1921-39), Sultan Hamengku Buwono VIII mementaskan 11 lakon wayang orang. Beberapa di antaranya didukung oleh 300-400 seniman dan mengambil waktu 3-4 hari, dari jam 06:00 sampai 23:00.

Di Bali, hadirnya Belanda mendorong seniman tari dan gamelan untuk menciptakan karya-karya sekuler yang setiap saat dapat dimainkan untuk hiburan wisatawan. Gamelan kebyar yang spektakuler dan cemerlang muncul pada awal abad ke-20 dan dengan cepat menyebar dari Bali Utara ke seluruh wilayah Bali. Merespon gamelan kebyar yang tengah digemari, seniman tari desa dari Tabanan, I Mario, menciptakan karya-karya unggul yang sekarang dikenal sebagai tari Kebyar Terompong dan Jago Tarung. Sementara interaksi seniman tari Bali dengan pelukis Jerman Walter Spier, membuahkan tarian Kecak sekular yang kemudian dikenal dengan Monkey Dance.

Hadirnya Pemerintah Hindia Belanda di satu pihak menyengsarakan rakyat, di lain pihak memungkinkan seniman Jawa dan Bali memperkenalkan keseniannya kepada bangsa lain. Rombongan kesenian (gamelan) Jawa pertama ke luar negeri diberangkatkan tahun 1893, ketika pemerintah Hindia Belanda memromosikan hasil perkebunan (teh dan kopi) Jawa ke ekspo kolonial di Chicago, Amerika Serikat. Tak aneh, jika sampai sekarang masyarakat Amerika dan Eropa menyebut kopi dengan istilah "Java".

Dari Bali, rombongan ke luar negeri bersejarah dikirim ke Exposisi Paris pada tahun 1926, di antaranya menampilkan tari Barong-Rangda yang disaksikan oleh tokoh pembaharu teater Perancis kenamaan Antonin Artaud. Terpukau menyaksikan pertarungan Barong-Rangda, Artaud menulis kesan-kesan dan visinya tentang teater baru dalam buku Theatre and Its Double yang berpengaruh luas dalam perkembangan teater dunia.

Orieantalisme
Pertemuan dengan kelompok tari modern pertama dari Amerika Serikat terjadi tahun 1925 ketika rombongan Ruth St Denis (dengan Martha Graham sebagai salah seorang penari) mengadakan pertunjukan di Jakarta. Bisa dimengerti jika pada pertemuan pertama ini interaksi terjadi berat sebelah, seniman-seniman tradisi kita lebih banyak memasok. Sementara Ruth St Denis mendapat ilham menciptakan beberapa karya Orientalis seperti Batik Vendor, Javanese Dancer, dan Balinese Dancer.

Orientalisme (Edward Said, 1989) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh masyarakat terpelajar Eropa-Amerika sebagai alat untuk menginterpretasikan wilayah dan budaya non-Barat (Oriental) seperti Mesir, Timur Tengah, Asia Selatan/India, Cina, Jepang, Korea, Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam konsep Orientalisme, masyarakat dan budaya Timur dianggap tidak mampu bersuara mewakili dirinya sendiri. Bahasa budaya, adat kebiasaan, dan sejarahnya dianggap misterius dan tidak terorganisir, dan oleh karena itu terserah bagi Barat untuk melengkapi konteks guna menginterpretasi dan mengkodifikasikannya. Selama beratus tahun masa kolonialisme, hermeneutika, cara memandang dan menilai orang dan budaya Timur yang salah tersebut diterapkan.

Sekalipun demikian dari perempat pertama abad ke-20, pantas dicatat nama seorang seniman Jawa-Yogyakarta yang kemudian menetap di negeri Belanda, RM Jodjana, yang menciptakan karya-karya tari modern yang cukup dipuji di forum dunia. "(Jodjana) dapat membuat wajahnya seperti topeng, menyiratkan ketenangan jiwa yang menunjukkan kemampuannya dalam mengontrol segala bentuk emosi" (The Saturday Review). Dari komentar di atas, tampak sekali kualitas gerak dan ekspresi tari Jawa masih kuat mewarnai pertunjukkan RM Jodjana.

Di Jawa dan Bali pertunjukan tari erat terkait dengan gamelan dan wayang. Empat tahun sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1941, di Keraton Yogyakarta lahir tari baru, yaitu beksan golek Menak yang menurut tradisi diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lebih tepatnya, barangkali, oleh seniman-seniman keraton Yogya di bawah petunjuk dan patronase Sri Sultan. Tampak bahwa orientasi nilai masyarakat Jawa tradisional kepada kelompok sangat kuat. Orientasi ini menuntut kepatuhan dan penghargaan kepada yang lebih tua dan berkuasa. Di dalam penciptaan seni, orientasi kolektif-daerah dan tuntutan perfeksi-teknik lebih menonjol dari pada kreativitas. Yang juga harus diingat bahwa penciptaan genre baru di dalam konteks tradisi, sering dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen seni pertunjukkan yang sudah ada, seperti tampak dalam wayang golek menak karya Sultan HB IX yang bertolak dari wayang (golek Menak), gamelan, dan tari klasik Jawa gaya Yogyakarta.

Menjelang kemerdekaan, semasa angkatan Pujangga Baru, intelektual dan seniman Indonesia menghadapi dilema, apakah akan mengembangkan budaya Indonesia mengikuti model Barat yang menekankan pentingnya individualisme dan kreativitas, atau model Timur yang memfokus wacana kepada kesadaran kelompok dan perfeksi teknik. Berbeda dengan modernisasi seni sastra, musik dan seni rupa yang mengacu pada model Barat, modernisasi tari dilakukan bertolak dari tradisi lokal. Balet, misalnya, di Indonesia tidak pernah diterima sebagai dasar pengembangan tari secara nasional.

Setelah Indonesia Merdeka
Wacana budaya pada awal kemerdekaan Indonesia adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Kepribadian nasional menjadi isu penting untuk mempersatukan rakyat Indonesia yang berlatar budaya berbeda-beda. Kebudayaan dan kesenian nasional penting tetap konservasi warisan budaya dan identitas daerah juga perlu. Dilema ini selalu menyertai perkembangan tari Indonesia.

Lima tahun setelah proklamasi Kemerdekaan (1950), pemerintah mendirikan Konservatori Karawitan (Kokar yang kemudian menjadi SMKI) yang pertama di Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah menengah kesenian serupa menyusul didirikan di Denpasar, Bandung, Padangpanjang, Makassar, dan Surabaya. Sekolah-sekolah ini mengajarkan berbagai bentuk seni tari, musik, pedalangan, dan teater daerah dari wilayah di mana sekolah-sekolah tersebut didirikan. Dari nama yang dipilih, "konservatori", menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terfokus pada konservasi seni tradisi.




sejuta bintang - 15/01/2010 08:42 PM
#68

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tarian Jawa
Sumber : http://heritageofjava.com/portal/art...90310005808996
Keterangan : Artikel mengenai Tarian Jawa

Spoiler for lanjutan sejarah tarian jawa

Tahun 1955, rombongan tari modern dari Amerika Serikat (Martha Graham) mengadakan pertunjukan di Jakarta. Dua tahun setelah kunjungan Martha Graham, tiga seniman tari muda Indonesia-Bagong Kussudiardja, Wisnu Wardhana, dan Setiarti Kailola-berangkat ke AS untuk mengikuti festival tari musim panas di Connecticut College dan belajar tari modern dari Martha Graham di New York. Setiarti dari Jakarta, berlatar belakang ballet, tetapi Bagong dan Wisnu keduanya penari klasik Jawa-Yogyakarta yang andal. Dari ketiganya yang bertahan dan terus berkarya adalah Bagong Kussudiardja. Salah satu sebabnya, Bagong piawai memadukan bahan-bahan tradisi dari Jawa, Sunda, Bali, tiga di antara banyak puncak-puncak kesenian daerah. Karya-karya epik Bagong (Diponegoro, Jayakarta, Gadjah Mada) yang memadu elemen-elemen budaya daerah dan bersemangat nasionalis serasi dengan wacana budaya pemerintah yang mencari kesenian nasional yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Karya-karya Bagong saat ini dikenal masyarakat luas sebagai tari Indonesia "kreasi baru".

Tahun 1961, Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata (PDPTP) mengambil prakarsa mengadakan pertunjukan kolosal Sendratari Ramayana Prambanan (SRP). Yang menarik, Bagong sempat belajar dengan Martha Graham dan juga seorang pelukis modern, maka karya Bagong lebih memiliki orientasi individual dan kreativitas. Sementara RT Kusumokesowo, mantan abdidalem keraton Surakarta dan pengajar tari klasik Jawa di Kokar Surakarta, dalam berkarya menekankan orientasi kelompok dan lebih menuntut perfeksi teknik sesuai kaidah tradisi.

Berusaha memadukan gaya tari Surakarta, Yogyakarta, dan tari daerah lainnya, format kerja RT Kusumokesowo memang lebih luas. Tetapi cara kerja kreatif dalam Ramayana Prambanan lebih dekat dengan cara kerja tradisi keraton. Sebagai penata tari, RT Kusumokesowo dibantu oleh KRT Wasitodipuro (dari Paku Alaman) dan RL Martopangrawit dari Surakarta di bidang karawitan. Untuk menangani drama atau pengadeganan didampingi oleh RM Ng Bambang Soemodarmoko. Perlu dicatat, pemrakarsa Sendratari Ramayana Prambanan adalah Letjen Djatikusumo yang juga Menteri PDPTP dan salah seorang putra Sunan PB X. Penari, pemain gamelan, penyanyi koor adalah siswa-siswa Kokar (Solo), KONRI (Yogya), serta murid-murid privat para empu tersebut. Penari massal dilatih dari anak-anak muda sekitar Prambanan. Dipentaskan rutin setiap malam purnama selama lima bulan setahun dan enam kali/lakon setiap bulannya, SRP menjadi tempat belajar yang menarik bagi penari-penari muda yang kemudian menjadi tokoh penari, penata tari, dan pemikir tari Indonesia seperti Sardono W Kusumo, Retno Maruti, Sal Murgiyanto, dan Sulistyo S Tirtokusumo.

Genre baru "sendratari" diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi sajian seni wisata yang populer. Dalam tempo dekat sendratari tersebar ke Jawa Timur (Wilwatikta di Pandaan) dan Denpasar, Bali. Bagong Kussudiardja juga menggarap beberapa karyanya dalam bentuk sendratari atau dramatari tanpa dialog. Orientasi cerita masih sangat kuat, saya kira karena pengaruh wayang orang dan wayang kulit. Demikian pula di Bali, genre sendratari menambah perbendaharaan dramatari daerah yang sudah ada. Seperti di Jawa, sendratari di Bali diciptakan bersama oleh sebuah tim yang terdiri dari pengajar, asisten, dan siswa-siswa Kokar Bali di bawah arahan seniman I Wayan Beratha. Pola koreografinya mirip dengan SRP. Kecuali cerita wayang Ramayana yang sangat populer sebagai sajian wisata ditampilkan pula kisah sejarah dan cerita rakyat. Sendratari Bali diiringi gending dan gamelan Bali, dengan gerak, rias, dan kostum yang dikembangkan dari perbendaharaan tradisi yang ada. Bentuk sendratari begitu populer sehingga menjadi acara utama dalam Pekan Kesenian Bali yang berlangsung setiap tahun.

Penciptaannya ditangani secara khusus oleh tim artistik gabungan dari Kokar (SMKI) dan ASTI (STSI) Bali. Hasilnya dipentaskan di panggung Werdhi Budaya, Taman Budaya, Denpasar, Bali.

Tahun 1963, pemerintah membuka perguruan tinggi seni tari yang pertama yaitu Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) di Yogyakarta yang kemudian disusul dengan sekolah tinggi serupa di Denpasar, Bandung, Surakarta, Padangpanjang, dan Surabaya. Pada waktu yang bersamaan beberapa pengajar dari sekolah-sekolah tinggi tersebut dikirim belajar (dan mengajar) ke luar negeri sebagian besar ke Amerika Serikat untuk memperluas wawasan dan pendidikan. Akibatnya, kecuali melestarikan berbagai bentuk seni pertunjukan tradisi, di perguruan tinggi seni penulisan, penelitian, dan penciptaan karya baru juga dipacu. Bahan-bahan seni tradisi yang ada ditafsirkan kembali secara kreatif.

Revitalisasi tari
Di Surakarta pada paruh kedua dekade 1960-an pemerintah Orde Baru mendirikan Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) yang bertugas menggali dan merevitalisasi berbagai bentuk seni tradisi: repertoar tari klasik, gending-gending ageng, naskah-naskah lakon, pengetahuan dan praktik pedalangan, dsb. Untuk kurun waktu yang cukup lama (1968-1983), STSI dan PKJT dipimpin oleh Drs Sedyono (Gendon) Humardhani, yang memiliki pengalaman dan wawasan kesenian yang luas. Maka yang terjadi kemudian bukan saja penggalian dan pelestarian berbagai bentuk seni pertunjukan lama, tetapi juga revitalisasi seni tradisi dan penciptaan karya-karya baru dengan bahan tradisi tetapi berorientasi masa kini. Namun hasil karya lulusan STSI baru minimal 10 tahun kemudian tampak.

Setelah Bagong, dua tokoh tari yang muncul pada awal pemerintahan Orde Baru adalah Sardono W Kusumo dan Retno Maruti, keduanya murid RT Kusumokesowo dan penari Ramayana Prambanan. Bersama Bagong, tahun 1964 keduanya terpilih sebagai penari dalam misi kesenian pemerintah ke New York World Fair. Selama di New York, Sardono sempat belajar dengan penata tari Jean Erdmand. Kembali dari New York setahun kemudian, Sardono dan Maruti menetap di Jakarta dan aktif berkarya di Pusat Kesenian Jakarta "Taman Ismail Marzuki" (TIM) yang dibuka Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tahun 1968. Sebuah tonggak penting bagi perkembangan seni tari, wayang, dan gamelan terjadi di Jakarta.

Di TIM Sardono mengadakan sebuah workshop yang diikuti oleh penari-penari andal dari berbagai daerah yang tinggal di Jakarta: Retno Maruti, S. Kardjono, Sentot Sudiharto (Jawa), I Wayan Diya (Bali), Huriah Adam (Minangkabau), Yulianti Parani, dan Farida Oetoyo (ballet). Dalam workshop ini, Sardono tidak mengajarkan teknik gerak melainkan membiarkan setiap penari memakai teknik gerak tari yang dikuasainya. Sardono melatih sensitivitas dan mengeksplorasi gerak secara kreatif melalui improvisasi. Sardono ingin memodernisasikan tari tradisi dengan menginterpretasikannya kembali secara kreatif. Metoda kreatif inilah yang kemudian dilanjutkan Sardono dalam proses penciptaannya bersama penari-penari Jawa yang menghasilkan Samgita I-XII, dan kemudian dilaksanakan di Bali (Cak Rina dan Dongeng dari Dirah), dan pedalaman Kalimantan Timur (Hutan Plastik, Hutan yang Merintih) dan karya-karya kontemporer lainnya.

Kecuali itu, atas prakarsa ketua DKJ, D Djajakusuma, anggota wayang orang Panca Murti (Jakarta) yang bubar, ditampung di TIM dalam wayang orang Jaya Budaya yang dimotori antara lain oleh Sardono W Kusumo, S Kardjono, dan Retno Maruti. Dan ketika para pemain penari Panca Murti bergabung dalam WO Bharata, Retno Maruti mendirikan kelompok tarinya Padneswara. Sementara Maruti setia kepada bentuk dan nilai keindahan tradisi Jawa, Sardono menjelajah berbagai budaya daerah dan menciptakannya kembali dengan interpretasi pribadi. Selesai mengikuti workshop, para peserta workshop kembali menekuni dan merevitalisasi tradisinya masing-masing, tetapi dengan sikap dan semangat baru.

Tahun 1978-87 Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan Festival Penata Tari Muda yang bukan saja diikuti penata tari dari Jawa (Ben Suharto) dan Bali (I Wayan Dibia) tetapi juga dari Sumatera, Sulawesi dan daerah lain seperti Gusmiati Suid, Tom Ibnu, Deddy Luthan, Wiwiek Sipala, Nurdin Daud, dan Marzuki Hasan. Sebuah tonggak penting yang lain.

Dua forum tari penting dalam dekade terakhir abad ke-20 adalah Indonesian Dance Festival (IDF) yang diselenggarakan bersama oleh Institut Kesenian Jakarta, Yayasan Kesenian Jakarta, dan Dewan Kesenian Jakarta, IDF telah memunculkan penata-penata tari muda seperti Boi G. Sakti, Sukarji Sriman, Mugiyono, Ketut Rina, M Miroto, dan Eko Supriyanto. Kedua, forum Art Summit Indonesia (1995 dan 1998) yang bukan hanya menampilkan karya-karya tari kontemporer Indonesia (Sardono W Kusumo, Gusmiati Suid, Bagong Kussudiardja) tetapi juga karya musik mutakhir yang bertolak dari gamelan (R Supanggah, Suka Hardjana) yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

sejuta bintang - 06/02/2010 12:05 PM
#69

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel
Sumber : http://www.acehforum.or.id/perjalanan-musik-aceh-t44703.html
Keterangan : Artikel tentang Musik Aceh

Spoiler for musik

Perjalanan Musik Aceh

UNTUK membicarakan musik Aceh lebih spesifik, memang cukup rumit lantaran untuk memulainya sangat sulit menentukan periode masa yang diingini. Musik di Aceh belum memiliki rumusan yang dapat dijadikan tolak ukur dalam perkembangan musik dunia, gara-gara Aceh tidak pernah mengkaji musiknya hingga tuntas. Yang ada adalah argumentasi yang terkadang tidak tepat untuk musik Aceh itu sendiri.

Dalam catatan kecil, saya mengambarkan bahwa Aceh adalah daerah yang paling miskin dengan musik. Padahal, Aceh memiliki keragaman budaya yang kuat dan terbagi-bagi. Yang berpayung pada Aceh saja ada beberapa suku seperti ureueng Aceh (suku yang berdiam disebagaian besar kabupaten), Ureueng Gayo (berdiam di Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur), Ureueng Alaih (orang Alas yang berdiam di Aceh Tenggara), Ureueng Teumieng (Orang Tamiang yang tinggal di Aceh timur berbatasan dengan Sumatera Utara), Ureueng Singke (Singkil Hulu yang berdiam di Hulu sungai Singkel –Aceh Selatan), Ureueng Kluet (berdiam di daerah hulu kecamatan Kluet Kiabupaten Aceh Selatan), Ureueng Pulo (Orang Pulau yang berdiam dipulau Simeulue dan di Pulau Banyak) dan Aneuk Jamee yang berdian disebagian besar Aceh Selatan dan sebagian lagi di Aceh Barat.

Kekuatan seninya beragam. Suku Gayo misalnya, memiliki kesenian syaer yang luar biasa. Didaerah ini banyak didiami oleh seniman tradisi yang punya ciri khas, sehingga tidak heran apabila lagu-lagu yang lahir di daerah ini lebih banyak dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Belahan barat dan Selatan Aceh tersembunyi banyak seni Zikir, dan semua itu berpayung kepada satu daerah bernama ‘Aceh”. Dari masing-masing keseniannya berbeda-beda, baik pada bit maupun muatan syair, tergantung pada kondisi alam daerah tersebut.

Seni seperti Rapa-i, Tari Seudati, Zikir dan hikayat adalah kesenian yang paling populer di pesisir Aceh, yang juga meliputi daerah kepulauan seperti Sabang. Sementara daerah seperti kepulauan Siemeulue lebih kepada Pantun dan Nandong, yaitu sebuah kesenian syair dan musik berupa biola. Untuk daerah Alas, Aceh Tenggara juga sama lebih kepada tari dan syair. Sedangkan Gayo, daerah pegunungan yang terkenal dengan seni Vocal bernama Didong.

Pada tari seudati yang menonjol adalah syair dan bebuyian dari tubuh seperti pukulan pada dada, ketrip jari, dan hentakan kaki. Sedangkan Didong Gayo merupakan kesenian tradisi yang cuma menggunakan vocal dan tepukan tangan dan bantal. Tetapi biasanya, baik Seudati, hikayat dan Didong kekuatannya terletak pada syair.

Jadi bisa disimpulkan bahwa alat musik Aceh yang ideal adalah Vocal (Voice), Percusi (Rebana, Gegedem, Rapa’i, Genderang Aceh), Alat Tiup (Seruling dan Serune Kale), Bantal, dan Musik tubuh (Ketrip Jari dan Pukulan Perut), sedangkan musik yang pernah berkembang di Aceh tahun 40-an seperti Gambus, Orkes, dan Qasidah merupakan pengaruh Islam yang luas, dan Aceh gagal menjadikan musik-musik itu berciri khas khusus, sehingga dia tergolong musik yang umum.

Sementara alat petik seperti gitar tidak ditemukan sebagai bagian alat musik yang lazim untuk dimainkan, apalagi piano dan Keyboard yang punya relevansi gereja. Sedangkan Biola, Hareubab, dan Gambus termasuk yang paling sering dimainkan pada masa orde lama. Biola dikenal dengan biola Aceh yang biasa digunakan untuk mengiringi pantun dan lawak yang ditokohkan oleh Nyak Maneh di daerah Pidie, namun biola Aceh lainnya dimainkan di Aceh Timur, namun di Aceh Timur lebih sebagai alat pengiring musik dengan Cord yang berjalan menyerupai irama syair persis dengan Nazam. Hareubab (Arbab Aceh) instrumen gesek Aceh ini ditemukan di daerah Pidie, Aceh Barat, dan Aceh Besar. Arbab Aceh dibuat dari tempurung besar, dipasang tangkai kayu sepanjang hampir 50 cm, dan dilengkapi dengan dawai logam. Biasa digunakan untuk mengiringi pantun jenaka. Penyanyinya seorang pria berpakaian wanita yang disebut Fatimah Abi. Sementara gambus merupakan alat musik yang berasal dari Arab. Alat ini sudah umum digunakan di Indonesia dan lebih dikenal sebagai alat musik padang pasir.

Dalam musik-musik rakyat yang biasa menjadi mainan masayarakat Aceh seperti alat tiup yang terbuat dari batang padi kering atau jerami (wa), peluit yang terbuat dari pelepah daun pinang yang menyerupai suara burung (peuleupeuek), alat tiup yang terbuat tanah merah (pib-pib)), alat musik yang terbuat dari selembar besi kecil dan tipis (genggong), alat tiup (buloh) menyerupai suling dengan nada tinggi (bansi), dan seruling yang lebih halus dari bansi. Semua alat musik itu kini nyaris hilang dan tidak populer lagi, sehingga juga tidak dimainkan untuk menjadi bagian dari alat musik Aceh. Akibatnya jenis-jenis itu juga ikut hilang ditelan zaman.

Lagu Aceh yang dimusikan baru dikenal pada masa orde baru, dimana diawali dengan lahirnya lagu-lagu pop seperti Bungong Jeumpa, Bungong Seulanga, dan Dibabah Pinto. Sebelumnya, lagu-lagu Aceh namun dalam format seudati yang disebut lagu. Sedangkan untuk mengiring tari tetap dalam format tradisi seperti Ranup Lampuan yang cuma diiringi musik percusi Rapai, Genderang, dan Seurune Kale. Begitu juga dengan pencipta lagu baru terlahir pada tahun 70-an, dimana Ibnu Arhas termasuk tokoh yang mencipta lagu, kendati dengan syair yang lari dari kebiasaan menulis syair Aceh.



sejuta bintang - 06/02/2010 12:06 PM
#70

^^ sambungan dari atas

Spoiler for sambungan aceh

Industri Musik
Belakangan ini sudah banyak kita temui kaset-kaset Aceh yang direkam dengan berbagai jenis musik, namun sangat sedikit yang menyentuh khas Aceh. Tentu saja inilah yang disebut musik industri. Kalau musik sudah menyentuh industri, banyak hal bisa terjadi disana, seperti pertimbangan untuk memasukan lebih banyak unsur tradisi karena memerlukan biaya relatif mahal, sehingga garis yang ditempuh adalah efektifitas, yaitu murah dan laku.

Akibatnya, stamina pencarian untuk musik Aceh menjadi kecil lantaran arah yang dipilih ekonomis, seperti pemanfaatan keyboard yang dapat dengan mudah melahirkan aneka musik walau tidak menghasilkan musik maksimal. Keyboard merupakan alat musik yang dimainkan oleh satu orang saja. Sound-sound yang dilahirkan dari Keyboard terdengar kaku dan tidak sedikitpun menyentuh alat aslinya.

Industri rekaman sejenis ini diawali dengan lahirnya album Jen jen Jok pada era 80-an, dimana Penyanyi A Bakar menjadi penyanyi pertama yang berhasil mempopulerkan industri dalam musik Aceh. Setelah album itu beredar dan diterima di pasar Aceh, selanjutnya lahirlah musik-musik sejenis yang di industrikan.

Gara-gara musik Keyboard itu pula lantas di Aceh menjadi unik. Irama musik yang sempat bertahan hingga sekarang adalah remix yang di padu dengan bermacam-macam irama lainnya seperti Remix Dangdut, Disco Dut, Cha-cha Dut dan lain-lain. Hasilnya, musik Aceh tidak bergerak dan cuma berkutat di seputar yang itu-itu saja, gampang menyerap dan meniru.

Semasa Jen Jen Jok, masih ada toleransi lebih dalam muatannya seperti syair-syair Aceh yang terarah. Belum berbentuk syair-syair umum layaknya lagu-lagu Indonesia. Perdebatan soal syair Aceh muncul tatkala Nyawoung, sebuah kaset Aceh kotemporer, berhasil memuat syair-syair Aceh lama yang sesuai dengan rumusan penulisan lirik Aceh. Sejak saat itu, syair menjadi penting dalam lagu-lagu Aceh. Kaset yang terkenal di Aceh Hasan Husen merupakan bukti kalau syair menjadi penting. Lagu-lagu yang dinyanyikan Rafly itu, justru bukan lantaran musiknya, melainkan lirik yang digunakan jauh lebih akrab, dengan rumusan penulisan yang sesuai.

Masalah lirik ini memang menjadi kajian tersendiri setiap kali membicarakan musik Aceh, lantaran syair punya sejarah sendiri dalam perkembangan seni di Aceh, seperti halnya kekuatannya dalam menyalurkan pesan-pesan kepada masyarakat luas. Orang Aceh sejak dulu memang lebih dalam hal menghayati lirik, terbukti dengan berkembangnya seni sya’er yang begitu besar.

Pengkajian lirik bisa dimulai dari perpuisian Aceh yang berkembang pada abad ke-19, dimana lirik itu penting dalam perang panjang melawan kompeni. Dalam perang Aceh itu, hidup seorang penyair dan penyanyi Aceh yang terkenal bernama Dolkarim. Dia membawakan puisi-puisi lagu ditengah pejuang untuk membakar semangat rakyat melawan kolonialisme.

Dengan memberikan contoh lirik yang ada hubungannya dengan semangat perjuangan, memang tak selamanya mulus dalam arti artistik, karena terbuka peluang untuk melihat lirik-lirik seperti itu dengan lebih nalar, dan darinya diperoleh semacam pegangan, bahwa puisi-puisi yang dinyanyikan untuk tujuan politis, atau berkaitan dengan pandangan politis seringkali tidak bebas sebagai seni, dan lebih banyak tertawan dalam ungkapan-ungkapan bahasa klise. Walau begitu peranan Dokarim dalam menyanyikan puisi-puisi perjuangan itu, sekurangnya memberikan jaminan akan berlakunya nilai kawirasa yang baik. Hal itu harus dilihat sebagai dorongan estetis sastra, karena adanya tradisi sastra yang bersinambung dengannya. Tradisi itu dalam sastra Aceh berlangsung sebagai ekstansi dari tradisi lirik-lirik Arab Zaman Islam.

Tradisi lirik itu kemudian dilanjutkan oleh penyair terpandang pada era 80-an abad ke-19, yaitu Teungku Cik Pante Kulu. Apa sebab dia berhasil mengembangkan tradisi lirik dikalangan masyarakat Aceh, sebab tema yang digarapnya berhubungan erat dengan agama Islam, yaitu hidup sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah –atau dalam kata-kata yang lazim disebut ‘fi sabilillah’.

Dari kajian tradisi Lirik diatas, barangkali itulah yang bisa dijadiakan acuan apabila masyarakat Aceh hanya loyal pada lirik-lirik yang menyentuh kehidupan sosial masyarakat dan agama. Hasan Husen menjadi perlu dilihat sebagai contoh tradisi lirik yang hidup di zaman sekarang, terbukti direspon oleh banyak kalangan, baik oleh agamawan maupun cendikiawan. Dalam tradisi liriknya, album Hasan Husen bukan cuma berkisah masalah agama, tetapi lebih jauh bercerita pada kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung di Aceh.

Gambaran itupula kemudian yang menjadikan kita semakin yakin, bahwa pendekatan kemasyarakat adalah mutlak dalam melahirkan tradisi seni sebuah wilayah, tidak terkecuali Aceh. Jadi, kalau dicermati dengan teliti, tidak ada kebanggaan kita yang berlebihan pada musik Aceh yang ada—bahkan hingga perkembangannya sampai sekarang ini. Kalupun serius mau berkutat pada penggalian musik Aceh, yang mutlak dan harus dilakukan adalah pendekatan lagu dan irama Aceh, seperti vocal Aceh yang khas. Disamping tradisi lirik menjadi penting agar vocal menjadi kuat dan berirama. Kalau itu sudah dijangkau, maka berbicara musik Aceh bukan lagi biasa, tetapi sudah menjadi acuan penting dalam perkembangan tradisi musik dunia, mengekor pada India, Arab, dan Cina yang merupakan negara paling banyak memberi konstribusi kepada musik dunia, dan Aceh perlu mencobanya.!!!!

Oleh Jauhari Samalanga

Pemerhati sosial budaya dan Pekerja Musik Aceh, inisiator Lembaga Budaya Saman (nyawoung@yahoo.com)

sejuta bintang - 06/02/2010 12:10 PM
#71

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tarian
Bentuk Karya : Artikel
Sumber : http://www.acehforum.or.id/tari-guel-gayo-t27830.html
Keterangan : Artikel tentang Tari Guel - Gayo, Provinsi NAD (Aceh Darussalam)

Spoiler for artikel tarian

Tari Guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di Nad. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.

Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat.
Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek peneilitian sejumlah survesor dalam dan luar negeri.

Pemda Daerah Istimewa Aceh ketika itu juga menerjunkan sejumlah tim dibawah koodinasi Depdikbud (dinas pendidikan dan kebudayaan), dan tersebutlah nama Drs Asli Kesuma, Mursalan Ardy, Drs Abdrrahman Moese, dan Ibrahim Kadir yang terjun melakukan survey yang kemudian dirasa sangat berguna bagi generasi muda, seniman, budayawan untuk menemukan suatu deskripsi yang hampir sempurna tentang tari guel. Sebagian hasil penelitian ini yang saya coba kemukakan, apalagi memang dokumen/literatur tarian ini sedikit bisa didapatkan.

Mimpi Sengeda
Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari Guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.

Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh). Memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta. Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan.

Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia lukiskanlah seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.

Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari Guel berasal: Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan; diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah.


Setelah itu, sang Gajah yang bertubuh putih nampak keluar dari persembunyiaannya. Ketika berpapasan dengan rombongan Sengeda, sang Gajah tidak mau beranjak dari tempatnya. Bermacam cara ditempuh, sang Gajah masih juga tidak beranjak. Sengeda yang menjadi pawang pada waktu itu menjadi kehilangan ide untuk menggiring sang Gajah.

Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah: indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan.
Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari Guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.

Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari Guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah: dalam Tari Guel. Reinngkarnasi kisah tersebut, dalam tari Guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.

Penari
Di tanah Gayo, dahulunya dikenal begitu banyak penari Guel. Seperti Syeh Ishak di Kampung Kutelintang-Pengasing, Aman Rabu di kampung Jurumudi-Bebesan, Ceh Regom di Toweran. Penari lain yang kurun waktun 1992 sampai 1993 yang waktu itu masih hidup adalah Aman Jaya-Kampung Kutelintang, Umer-Bebesan, Syeh Midin-Silih Nara Angkup, Safie-Gelu Gele Lungi-Pengasing, Item Majid-Bebesan. Mereka waktu itu rata-rata sudah berusia 60-an. Saat ini sudah meninggal sehingga alih generasi penari menjadi hambatan serius.

Walaupun ada penari yang lahir karena bakat sendiri, bukan langsung diajarkan secara teori dan praktik oleh para penari pakar seperti disebutkan, keterampilan menari mereka tak sepiawai para pendahulunya. Begitu juga pengiring penggiring musik tetabuhan seperti Rebana semakin langka, apalagi ingin menyamakan dengan seorang dedengkot almarhum Syeh Kilang di Kemili Bebesan.


TAri Guel dibagi dalam empat babakan baku. Terdiri dari babak Mu natap, Babak II Dep, Babak III Ketibung, Babak IV Cincang Nangka. Ragam Gerak atau gerak dasar adalah Salam Semah (Munatap ), Kepur Nunguk, Sining Lintah, Semer Kaleng (Sengker Kalang), Dah-Papan.
Sementara jumlah para penari dalam perkembangannya terdiri dari kelompok pria dan wanita berkisar antara 8-10 ( Wanita ), 2-4 ( Pria ). Penari Pria dalam setiap penampilan selalu tampil sebagai simbol dan primadona, melambangkan aman manyak atau lintoe Baroe dan Guru Didong. Jumlah penabuh biasanya minimal 4 orang yang menabuh Canang, Gong, Rebana, dan Memong.
Tari Guel memang unik, pengalaman penulis merasakan mengandung unsur dan karakter perpaduan unsur keras lembut dan bersahaja. Bila para pemain benar-benar mengusai tarian ini, terutama peran Sengeda dan Gajah Putih maka bagi penonton akan merasakan ketakjuban luar biasa.
Seolah-olah terjadinya pertarungaan dan upaya mempengaruhi antara Sengeda dan Gajah Putih. Upaya untuk menundukkan jelas terlihat, hingga kipasan kain kerawang Gayo di Punggung Penari seakan mengandung kekuatan yang luar biasa sepanjang taarian. Guel dari babakan ke babakan lainnya hingga usai selalu menawarkan uluran tangan seperti tarian sepasang kekasih ditengah kegundahan orang tuanya.
idak ada yang menang dan kalah dalam tari ini, karena persembahan dan pertautan gerak dan tatapan mata adalah perlambang Cinta. Tapi sayang, kini tari Guel itu seperti kehilangan Induknya, karena pemerintah sangat perhatian apalagi gempuran musik hingar modern seperti Keyboar pada setiap pesta perkawinan di daerah itu. (sumber)

sejuta bintang - 06/02/2010 12:36 PM
#72

Kaskus ID : sejuta bintang
Kategori : Tarian ???? Kesenian Bela Diri
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Debus
Sumber :
http://navigasi.net/goart.php?a=budbsbtn
http://id.wikipedia.org/wiki/Debus
http://www.kpsnusantara.com/reflect/malay/Debus.htm

Keterangan : Artikel mengenai Tarian Jawa

Spoiler for artikel 1

Debus
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.

Sejarah

Agama Islam diperkenalkan oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon pada 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuatan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajahan pedagang Belanda yang tergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).



Spoiler for artikel 2

Debus
Assalamu'alaikum wr wb,
Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain. Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke 18. Namun, pernahkah orang bertanya-tanya darimana sebenarnya asal debus tersebut?

Menurut catatan sejarah, Debus itu sendiri sebenarnya ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah. Tarikat ini dibawa oleh Nurrudin Ar-raniry ke Aceh pada abad 16. Tarikat ini ketika melakukan ketika sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena "bertatap muka" dengan Tuhan), mereka kerap menghantamkam berbagai benda tajam ke tubuh mereka. Filosofi sederhana yang saya tangkap adalah "lau haula walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi kalau Allah tidak mengijinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai mereka, maka mereka tak akan terluka.

Pada kelanjutannya, tarikat ini sampai ke daerah Minang dan di Minang pun dikenal istilah Dabuih.

Entah bagaimana selanjutnya, yang jelas saat ini debus yang pernah saya pelajari sedikit tampaknya hanya merupakan penggalan dari ajaran tarikat Rifaiah secara keseluruhan.

Demikianlah, sejarah singkat debus yang saya dapat dari berbagai sumber. Mengenai kebenarannya ya wallahualam. Saya kan belum lahir waktu orang mulai berdebus...hehehehee
Wassalam,
Edwin



Spoiler for artikel 3

Setelah mengucapkan mantra “haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu“. Maka pada saat itu juga ia menusukkan golok tersebut ke paha, lengan, perut dan bagian tubuh lainnya. Pada saat atraksi tersebut iapun menyambar leher anak kecil sambil menghunuskan goloknya ke anak tersebut. Anehnya bekas sambaran golok tersebut tidak ada meninggalkan luka yang sangat berbahaya bagi anak tersebut.

Atraksi yang sangat berbahaya tersebut biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon kesenian bela diri debus berasal dari daerah al Madad. Semakin lama seni bela diri ini makin berkembang dan tumbuh besar disemua kalangan masyarakat banten sebagai seni hiburan untuk masyarakat. Inti pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata. Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.

Budaya - Debus Banten

Kesenian ini tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalna kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa. Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus, dan mereka melakukan perlawanan secara gerilya.

Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali kali oleh orang lain. Atraksi atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.

Budaya - Debus Banten

Dalam melakukan atraksi ini setiap pemain mempunyai syarat syarat yang berat, sebelum pentas mereka melakukan ritual ritual yang diberikan oleh guru mereka. Biasanya dilakukan 1-2 minggu sebelum ritual dilakukan. Selain itu mereka juga dituntut mempunyai iman yang kuat dan harus yakin dengan ajaran islam. Pantangan bagi pemain debus adalah tidak boleh minum minuman keras, main judi, bermain wanita, atau mencuri. Dan pemain juga harus yakin dan tidak ragu ragu dalam melaksanakan tindakan tersebut, pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain bisa sangat membahayakan jiwa pemain tersebut.

Menurut beberapa sumber sejarah, debus mempunyai hubungan dengan tarekat didalam ajaran islam. Yang intinya sangat kental dengan filosofi keagamaan, mereka dalam kondisi yang sangat gembira karena bertatap muka dengan tuhannya. Mereka menghantamkan benda tajam ketubuh mereka, tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Kalau Allah tidak mengijinkan golok, parang maupun peluru melukai mereka. Dan mereka tidak akan terluka.

Pada saat ini banyak pendekar debus bermukim di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang. Yang sangat disayangkan keberadaan debus makin lama kian berkurang, dikarenakan para pemuda lebih suka mencari mata pencaharian yang lain. Dan karena memang atraksi ini juga cukup berbahaya untuk dilakukan, karena tidak jarang banyak pemain debus yang celaka karena kurang latihan maupun ada yang “jahil” dengan pertunjukan yang mereka lakukan. Sehingga semakin lama warisan budaya ini semakin punah. Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event – event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya, yang makin lama makin tergerus oleh perubahan jaman.

catatan redaksi: lokasi kordinat GPS pada artikel ini adalah lokasi dimana desa Walantaka berada, bukan lokasi dimana digelarnya acara pertunjukan debus ini

funnie.mooo - 16/02/2010 10:14 AM
#73

ID : funnie.mooo
Kategori : Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel
Judul : Gamelan Jawa
Sumber :
[*] t=15400 >target="_blank"Sejarah Gamelan Jawa
[*]Instrumen Gamelan Jawa

Artikel :
Spoiler for Sejarah Gamelan Jawa
Gamelan adalah produk budaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesenian. Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang bersifat universal. Ini berarti bahwa setiap bangsa dipastikan memiliki kesenian, namun wujudnya berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Apabila antar bangsa terjadi kontak budaya maka keseniannya pun juga ikut berkontak sehingga dapat terjadi satu bangsa akan menyerap atau mengarn bila unsur seni dari bangsa lain disesuaikan dengan kondisi seternpat. Oleh karena itu sejak keberadaan gamelan sampai sekarang telah terjadi perubahan dan perkembangan, khususnya dalam kelengkapan ansambelnya.

Istilah “karawitan” yang digunakan untuk merujuk pada kesenian gamelan banyak dipakai oleh kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan penggunaan maupun pemaknaannya. Banyak orang memaknai "karawitan" berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti kecil, halus atau rumit. Konon, di lingkungan kraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian seperti: tatah sungging, ukir, tari, hingga pedhalangan (Supanggah, 2002:5¬6).

Dalam pengertian yang sempit istilah karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut (Supanggah, 2002:12):
(1) menggunakan alat musik gamelan - sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog - sebagian atau semuanya.
(2) menggunakan laras (tangga nada slendro) dan / atau pelog baik instrumental gamelan atau non-gamelan maupun vocal atau carnpuran dari keduanya.

Gamelan Jawa sekarang ini bukan hanya dikenal di Indonesia saja, bahkan telah berkembang di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Canada. Karawitan telah 'mendunia'. Oleh karna itu cukup ironis apabila bangsa Jawa sebagai pewaris langsung malahan tidak mau peduli terhadap seni gamelan atau seni karawitan pada khususnya atau kebudayaan Jawa pada umumnya. Bangsa lain begitu tekunnya mempelajari gamelan Jawa, bahkan di beberapa negara memiliki seperangkat gamelan Jawa. Sudah selayaknya masyarakat Jawa menghargai karya agung nenek moyang sendiri.

Sumber data tentang gamelan
Kebudayaan Jawa setelah masa prasejarah memasuki era baru yaitu suatu masa ketika kebudayaan dari luar -dalam hal ini kebudayaan India- mulai berpengaruh. Kebudayaan Jawa mulai memasuki jaman sejarah yang ditandai dengan adanya sistem tulisan dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari perspektif historis selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi kebudayaan Jawa, mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Tampaknya unsur-unsur budaya India juga dapat dilihat pada kesenian seperti gamelan dan seni tari. Transformasi budaya musik ke Jawa melalui jalur agama Hindu-Budha.

Data-data tentang keberadaan gamelan ditemukan di dalam sumber verbal yakni sumber - sumber tertulis yang berupa prasasti dan kitab-kitab kesusastraan yang berasal dari masa Hindu-Budha dan sumber piktorial berupa relief yang dipahatkan pada bangunan candi baik pada candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 sampai abad ke-10) dan candi-candi yang berasal dari masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai abad ke¬15) (Haryono, 1985). Dalam sumber-sumber tertulis masa Jawa Timur kelompok ansambel gamelan dikatakan sebagai “tabeh - tabehan” (bahasa Jawa baru 'tabuh-tabuhan' atau 'tetabuhan' yang berarti segala sesuatu yang ditabuh atau dibunyikan dengan dipukul). Zoetmulder menjelaskan kata “gamèl” dengan alat musik perkusi yakni alat musik yang dipukul (1982). Dalam bahasa Jawa ada kata “gèmbèl” yang berarti 'alat pemukul'. Dalam bahasa Bali ada istilah 'gambèlan' yang kemudian mungkin menjadi istilah 'gamelan'. Istilah 'gamelan' telah disebut dalam kaitannya dengan musik. Namur dalam masa Kadiri (sekitar abad ke¬13 Masehi), seorang ahli musik Judith Becker malahan mengatakan bahwa kata 'gamelan' berasal dari nama seorang pendeta Burma dan seorang ahli besi bernama Gumlao. Kalau pendapat Becker ini benar adanya, tentunya istilah 'gamelan' dijumpai juga di Burma atau di beberapa daerah di Asia Tenggara daratan, namun ternyata tidak.

Gambaran instrument gamelan pada relief candi
Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur dapat 17 dilihat jenis-jenis instrumen gamelan yaitu: kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal, suling, saron, gambang. Pada candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.

Gambar relief instrumen gamelan di candi-candi masa Jawa Timur dapat dijumpai pada candi Jago (abad ke -13 M) berupa alat musik petik: kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada candi Ngrimbi (abad ke - 13 M) ada relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong besar dijumpai di candi Kedaton (abad ke-14 M), dan kendang silindris di candi Tegawangi (abad ke-14 M). Pada candi induk Panataran (abad ke-14 M) ada relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada pada candi Sukuh (abad ke-15 M).

Berdasarkan data-data pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk bahwa paling tidak ada pengaruh India terhadap keberadaan beberapa jenis gamelan Jawa. Keberadaan musik di India sangat erat dengan aktivitas keagamaan. Musik merupakan salah satu unsur penting dalam upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1985:42-45). Di dalam beberapa kitab-kitab kesastraan India seperti kitab Natya Sastra seni musik dan seni tari berfungsi untuk aktivitas upacara. keagamaan (Vatsyayan, 1968). Secara keseluruhan kelompok musik di India disebut 'vaditra' yang dikelompokkan menjadi 5 kelas, yakni: tata (instrumen musik gesek), begat (instrumen musik petik), sushira (instrumen musik tiup), dhola (kendang), ghana (instrumen musik pukul). Pengelompokan yang lain adalah:
(1) Avanaddha vadya, bunyi yang dihasilkan oleh getaran selaput kulit karena dipukul.
(2) Ghana vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran alat musik itu sendiri.
(3) Sushira vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran udara dengan ditiup.
(4) Tata vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran dawai yang dipetik atau digesek.

Klasifikasi tersebut dapat disamakan dengan membranofon (Avanaddha vadya), ideofon (Ghana vadya), aerofon (sushira vadya), kordofon (tata vadya). Irama musik di India disebut “laya” dibakukan dengan menggunakan pola 'tala' yang dilakukan dengan kendang. Irama tersebut dikelompokkan menjadi: druta (cepat), madhya (sedang), dan vilambita (lamban).

Spoiler for Jenis Instrumen Gamelan Jawa
Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut :

[*]Kendang
[*]Bonang
[*]Bonang Penerus
[*]Demung
[*]Saron
[*]Peking (Gamelan)
[*]Kenong & Kethuk
[*]Slenthem
[*]Gender
[*]Gong
[*]Gambang
[*]Rebab
[*]Siter
[*]Suling
e-New - 19/02/2010 04:40 PM
#74

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Talempong
Sumber : Wikipedia
Keterangan : Alat musik pukul khas suku bangsa Minangkabau


Spoiler for Talempong
Talempong adalah sebuah alat musik pukul khas suku bangsa Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

Talempong biasanya digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring yang khas, Tari Pasambahan, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan untuk melantunkan musik menyambut tamu istimewa. Talempong ini memainkanya butuh kejelian dimulai dengan tangga pranada DO dan diakhiri dengan SI. Talempong diiringi oleh akord yang cara memainkanya serupa dengan memainkan piano.
e-New - 19/02/2010 04:42 PM
#75

Kaskus ID : e-New
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Serunai
Sumber : Wikipedia
Keterangan : Alat musik tradisional di masyarakat Minang


Spoiler for Serunai
Serunai, atau juga disebut puput serunai, adalah nama alat musik aerofonik (tiup) yang dikenal di Indonesia sebagai alat musik tradisional di masyarakat Minang. Bagian unik dari serunai adalah ujungnya yang mengembang, berfungsi untuk memperbesar volume suara.
GRIDAYS - 21/02/2010 06:19 PM
#76
tari angguk
Kaskus ID : gridays
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk karya : Campursari
Sumber :Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Keterangan :
Asal-usul

Kesenian Angguk merupakan satu dari sekian banyak jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian angguk berbentuk tarian disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi pelbagai aspek kehidupan manusia, seperti: pergaulan dalam hidup bermasyarakat, budi pekerti, nasihat-nasihat dan pendidikan. Dalam kesenian ini juga dibacakan atau dinyanyikan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab Tlodo, yang walaupun bertuliskan huruf Arab, namun dilagukan dengan cengkok tembang Jawa. Nyanyian tersebut dinyanyikan secara bergantian antara penari dan pengiring tetabuhan. Selain itu, terdapat satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu adanya pemain yang “ndadi” atau mengalami trance pada saat puncak pementasannya. Sebagian masyarakat Yogyakarta percaya bahwa penari angguk yang dapat “ndadi” ini memiliki “jimat” yang diperoleh dari juru-kunci pesarean Begelen, Purworejo.

Tarian angguk diperkirakan muncul sejak zaman Belanda1, sebagai ungkapan rasa syukur kapada Tuhan setelah panen padi. Untuk merayakannya, para muda-mudi bersukaria dengan bernyanyi, menari sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dari sinilah kemudian melahirkan satu kesenian yang disebut sebagai “angguk”. Tari angguk biasa digelar di pendopo atau di halaman rumah pada malam hari. Para penontonnya tidak dipungut biaya karena pertunjukan kesenian angguk umumnya dibiayai oleh orang yang sedang mempunyai hajat (perkawinan, perayaan 17 Agustus-an dan lain-lain).

Jenis-jenis Angguk dan Pemain
Tarian yang disajikan dalam kesenian angguk terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) tari ambyakan, adalah tari angguk yang dimainkan oleh banyak penari. Tarian ambyakan terdiri dari tiga macam yaitu: tari bakti, tari srokal dan tari penutup; dan (2) tari pasangan, adalah tari angguk yang dimainkan secara berpasangan. Tari pasangan ini terdiri dari delapan macam, yaitu: tari mandaroka, tari kamudaan, tari cikalo ado, tari layung-layung, tari intik-intik, tari saya-cari, tari jalan-jalan, dan tari robisari.

Pada mulanya angguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Namun, dalam perkembangan selanjutnya tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Para pemain angguk ini mengenakan busana yang terdiri dari dua macam, yaitu busana yang dikenakan oleh kelompok penari dan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring. Busana yang dikenakan oleh kelompok penari mirip dengan busana prajurit Kompeni Belanda, yaitu: (1) baju berwarna hitam berlengan panjang yang dibagian dada dan punggunya diberi hiasan lipatan-lipatan kain kecil yang memanjang serta berkelok-kelok; (2) celana sepanjang lutut yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya; (3) topi berwarna hitam dengan pinggir topi diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas. Bagian depan topi ini memakai “jambul” yang terbuat dari rambut ekor kuda atau bulu-bulu; (3) selendang yang digunakan sebagai penyekat antara baju dan celana; (4) kacamata hitam; (5) kaos kaki selutut berwarna merah atau kuning; dan (6) rompi berwarna-warni. Sedangkan busana yang dikenakan oleh kelompok pengiring adalah: (1) baju biasa; (2) jas; (3) sarung; dan (4) kopiah.

Peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Angguk diantaranya adalah: (1) kendang; (2) bedug; (3) tambur; (4) kencreng; (5) rebana 2 buah; (6) terbang besar dan (6) jedor.

Nilai Budaya
Seni apa pun pada dasarnya mengandung nilai estetika, termasuk seni tari angguk.yang ada di kalangan masyarakat Yogyakarta. Namun demikian, jika dicermati secara seksama kesenian ini hanya bernilai estetis dan berfungsi sebagai hiburan semata. Akan tetapi, justuru yang menjadi rohnya adalah nilai kesyukuran. Dalam konteks ini adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kemurahannya (memberi hasil panen yang melimpah). (gufron)
DN5000YM - 24/02/2010 09:55 AM
#77
Nyanyian Rakyat Sulawesi tengah
Kaskus ID : DN5000YM
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah
Sumber : http://www.facebook.com/notes/museum-sulawesi-tengah/nyanyian-rakyat/233303212445
Keterangan : Artikel mengenai Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah

Spoiler for Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah

1. ALUDE
Alude adalah vokal daerah yang dibawakan secara bersama-sama oleh tiga atau empat orang bahkan lebih dalam satu suara dan tanpa iringan alat musik. Alude selalu dibawakan oleh seorang pimpinan kelompok vokal kemudian disambut oleh anggota-anggota lainnya secara bergantian antar kalimat yang terdapat dalam lirik. Vokal ini tidak dibawakan per bait. Nyanyian rakyat ini terdiri dari laki-laki dan perempuan. Alude ini biasanya dibawakan untuk upacara adat yang ditandai dengan syair-syairnya. Namun kadang, Alude juga dijadikan hiburan.
Alude merupakan vokal rakyat yang panjang, para penyanyinya bisa membawakan Alude selama kurang lebih 300 menit dengan nada dasar pentatonis. Fungsi dari Alude ini, yaitu :
- Sebagai nyanyian untuk doa pengusir bala atau penyakit
- Sebagai nyanyian untuk memohon kesejahteraan hidup masyarakat
Nyanyian rakyat ini terdapat di desa Masingi dan desa Maranata, dibawakan didalam rumah bukan di arena terbuka (lapangan). Sejarah nyanyian ini hampir sama dengan nyanyian Tombilo yaitu datang dari orang halus (orang bunian) yang berumur kira-kira 100 tahun. Para anggota penyanyi Alude ini menggunakan pakaian yang tidak terikat dengan pakaian adat dan bahasa yang digunakan pun masih dalam bahasa Kaili kuno.

2. BALIORE
Baliore adalah jenis sede yang dibawakan secara kuartet atau lebih dalam satu suara tanpa alat pengiring dengan teknik penyajian seperti Alude, yaitu saling berbalas-balasan. Dalam reportoirenya, Baliore dibawakan hanya disatu tempat yaitu di arena terbuka atau halaman rumah.
Baliore dibawakan selama kurang lebih 40 menit dengan tangga nada pentatonis. Fungsi Baliore ini untuk upacara adat sebagai permohonan agar anak yang diadatkan hidupnya dalam keadaan sehat. Baliore ini masih banyak ditemuka di Enu, Saloya, Taripa, di wilayah Kecamatan sindue serta etnis Kori Rai yang masih mendiami kawasan pedalaman. Baliore masih bersifat tradisi menurut kepercayaan atau prinsip masyarakat setempat.
Baliore ini tumbuh dan dikembangkan oleh masyarakat etnis Kori yang telah lama mendiami Kecamatan Sindue selama kurang lebih 2000 tahun.

3. BOLA – BOLA
Lagu Bola-bola ini dibawakan secara bersama-sama dalam suatu suara tanpa alat pengiring. Nyanyian ini dibawakan juga sambut-sambutan secara bergantian dibagi dalam dua kelompok yang terpisah di kamar sebelah luar dan dalam.
Bola-bola merupakan nyanyian rakyat untuk pergaulan yang dibawakan olehlaki-laki dan perempuan. Bola-bola ini terdiri atas dua jenis dan dinyanyiakan atas nada dasar pentatonis. Fungsinya sebagai hiburan di pesta atau acara khusus. Nyanyian rakyat ini masih banyak terdapat di Kecamatan Sindue tepatnya di Desa aripa, Sumari dan Saloya. Tempat penyelenggaraannya berlangsung di dalam rumah. Nyanyian ini telah tumbuh dan berkembang sejak kurang lebih 600 tahun yang lalu masyarakat adat etnis Kori Rai.

4. DADENDATE
Dadendate adalah salah satu nyanyian rakyat yang panjang. Nyanyian ini dibawakan oleh 2 – 6 orang dalam satu suara denga musik pengiring, berupa kacapi, yori dan mbasi-mbasi. Cara menyanyikannya juga secara bersahut-sahutan atau berbalas-balasan antara pria dan wanita. Cara membawakannya sangat berbeda dengan nyanyian rakyat lainnya karena nyanyian ini memiliki kalimat yang panjang disertai urutan dan maksud/makna bersambung sampai pada batas para pemain untuk menyanyikannya.
Berikut urutan atau pembagian nyanyian dadendate :
a. Nyanyiannya bermacam-macam, antara lain :
- Lagu Malaeka
- Lagu Babase
- Lagu Andia nona
- Lagu Jawadi
b. Obyek nyanyiannya, antara lain :
- Untuk membangun rumah
- Untuk keramaian biasa
- Untuk kedukaan
- Untuk percintaan
- Untuk perkimpoian
Nyanyian ini biasanya dibawakan semalam suntuk, tiap lagu hanya memakan waktu sekitar 25 menit kemudian diteruskan lagi dengan lagu yang lain. Lagu-lagunya dibawakan dengan nada dasar pentatonis sesuai dasar alat pengiringnya.
Dadendate merupakan nyanyian rakyat tertua yang berkembang di Kecamatan Sindue, dibawa oleh masyarakat Etnis Kori Rai yang awalnya dikenal dengan nama Dade. Dade ini dahulu masih dibawakan dalam bentuk pantun (puisi berbalasan) dalam bahasa Kori. Namun, sejak 100 tahun lalu masyarakat etnis Kori Rai melalui melagukannya secara bersama dengan waktu yang cukup panjang hingga dinamakan Dadendate (nyanyian panjang).

5. DIAMANA
Diamana adalah nyanyian rakyat yang lagu dan keadaannya serupa dengan Idanu dan Tolo-tolo. Dibawakan secara bersama-sama 2 – 4 orang dalam satu suara tanpa iringan alat musik. Diamana berfungsi sebagai nyanyian kematian karena lagu-lagunya memiliki syair yang sedih dalam bahasa Kori. Diamana ini masih banyak terdapat di Desa Sumari. Nyanyian ini hampir punah karena kurangnya perkembangan regenerasi sejak 500 tahun yang lalu.

6. DINDO
Dindo merupakan nyanyian rakyat yang dibawakan secara solo atau tunggal. Bagi etnis Ledo, nyanyian ini disebut Sambaa. Nyanyian ini dilagukan tanpa iringan instrumen dengan susunan 2 – 4 bait yang dibawakan secara berulang dengan durasi 5 – 8 menit.
Nyanyian ini hanya boleh dibawakan oleh kaum pria saja dan dimainkan untuk satu peristiwa. Dindo bagi masyarakat etnis Kori Rai terdiri atas 3, yaitu :
a. Dindo dari tau nisasa (orang yang disiksa)
b. Dindo dari orang yang dirundung malang
c. Dindo dari orang yang jatuh miskin
Kesemua lagu ini dibawakan dengan nada pentatonis. Fungsi dari dindo ini untuk menggugah perasaan seseorang agar dapat mengasihi si penyanyi dindo tersebut dan ia pun terhindar dari siksaan, kesengsaraan dan penderitaan.
Dindo ini bersifat ratapan ditemukan di Desa Sumari pada tahun 1979. Pada masa lampau, dindo ini dinyanyikan sebagai ucapan terakhir sebelum si penyanyi mengakhiri nyawanya (bunuh diri atau dihukum gantung). Pada masa raja-raja Kaili, kurang lebih 300 tahun lalu, nyanyian ini dinyanyikan bagi orang yang menjalankan hukumannya karena bersalah (nisasa).

7. DODIA
Dodia adalah bentuk nyanyian rakyat, termasuk dalam jenis robu yang dinyanyikan secara solo atau tunggal. Dodia dibawakan dengan iringan instrumen sejenis alat perkusi yang disebut turumpe yang selama 10 – 30 menit dalam tangga nada pentatonis.
Fungsi musik vokal ini merupakan pantun percintaan muda-mudi yang bersifat hiburan untuk mengenang kekasih yang terpisah jauh dari si pelaku dodia. Nyanyian masih dapat dijumpai di Desa Rantewulu dan Siwongi.

8. DONDI
Lagu dondi ini biasanya dibawakan secara duet atau kuartet dalam satu suara tanpa alat musik pengiring. Dondi ini dibawakan dalam satu lagu oleh pria-pria berumur dengan durasi waktu kurang lebih 20 menit yang kemudian diteruskan dngan kaiyori. Fungsinya sebagai doa pengharapan agar segala sesuatu yang dibawakan dengan dondi ini senantiasa terkabul.
Lagu ini merupakan pinti kaiyori karena tiap-tiap pelaksanaan kaiyori baik untuk adat atau selamatan panen selalu didahului dengan dondi. Dondi ini masih tetap terpelihara bagi masyarakat di Desa Sumari, Taripa, Toaya, Lero, Masaingi, Marana, Enu, Saloya dan Alindau. Dondi lahir bersama kaiyori sekitar 2000 tahun lalu oleh masyarakat etnis Torai Ava dan Tajio.

9. DULUA
Dulua merupakan nyanyian rakyat yang dibawakan 3 - 4 orang dalam satu suara tanpa alat musik pengirng. Nyanyian ini dibawakan secara bersamaan baik pria maupun wanita dan dinyanyikan langsung menghadap objeknya.
Fungsinya untuk mendoakan seseorang yang sedang sakit. Lagu ini masih banyak ditemui di Dalaka, Lero, Toaya, Sumari, Masaingi, Marana dan Enu yang dibawa oleh masyarakat etnis Rai sekitar 800 tahun lalu.

10. DUMADORA
Lagu dumadora ini dibawakan dalam satu suara dengan jumlah penyanyi yang banyak sekitar 30 – 40 tahun tanpa alat pengiring. Lagu ini dipimpin seorang yang disebut pancari.
Dumadora dibawakan pada waktu-waktu tertentu khususnya tengah malam hingga menjelang subuh. Fungsinya sebagai ucapan atau doa syukur. Awal mula ditemukan 1000 tahun lalu di Lero oleh masyarakat etnis Torai Ava yang kemudian menyebar ke Toaya, Sumari, Taripa, Masaingi, marana, Enu, Saloya dan Alindau.

... [bersambung]...
DN5000YM - 24/02/2010 09:56 AM
#78
Nyanyian Rakyat Sulawesi tengah [lanjutan]
Kaskus ID : DN5000YM
Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel
Bentuk Karya : Artikel Mengenai Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah
Sumber : http://www.facebook.com/notes/museum...t/233303212445
Keterangan : Artikel mengenai Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah

Spoiler for Nyanyian Rakyat Sulawesi Tengah

11. IDANU
Idanu dibawakan dalam satu suara oleh 3 – 4 orang secara bersama-sama tanpa iringan alat musik selama kurang lebih 30 menit. Fungsinya seperti Bola-bola yakni sebagai ala penghibur. Sifat lagunya sangat dinamis biasanya dinyanyikan dalam rumah. Nyanyian rakyat ini dikembangkan oleh masyarakat etnis Kori Rai kira-kira 200 tahun yang lalu tepatnya di Desa Taripa dan Sumari.

12. IO
Io merupakan nyanyian rakyat milik masyarakat Dalaka dan Enu yang dinyanyikan secara bersama-sama dalam satu suara tanpa alat musik pengiring, dibawakan oleh pria dan wanita yang terpisah menurut kelompok jenis kelaminnya dengan durasi waktu kurang lebih 40 menit. Lagu ini berfungsi sebagai ungkapan doa harapan serta doa pujaan dalam bahasa unde gia dan rai.

13. KAIYORI
Kaiyori adalah nyanyian rakyat yang telah berkembang di Desa Taripa kurang lebih 1000 tahun lalu. Kala itu masyarakat adat Korirai membawakan vokal kaiyori pada saat mengolah pertanian. Nyanyian rakyat ini dibawakan beberapa orang (jumlah tidak ditentukan) dalam satu suara secara sahut-sahutan tanpa diringi alat musik. Kaiyori ini dibawakan sambil membentuk dua lingkaran. Lingkaran dalam adalah perempuan dan lingkuran luar adalah laki-laki.
Kaiyori dibagi dalam tujuh jenis, yaitu :
a. Untuk selamatan panen yang dilaksanakan setahun sekali saat panen raya
b. Untuk adat bagi turunan sekelompok masyarakat yang adatnya telah melembaga
c. Untuk unsur Balia pada saat melaksanakan upacara Nompaura (upacara mengusir bala atau penyakit)
d. Untuk peminangan yang biasanya dibawakan oleh orang-orang tua yang dipercayai menjadi utusan menyampaikan kata-kata pinangan (dalam hal ini, kaiyori tidak dilagukan)
e. Untuk kematian, pelaksanaannya saat jenazah masih dirumah dan beberapa malam sesudah upacara penguburan
f. Untuk pacaran, dibawakan oleh muda-mudi sebagai ungkapan sastra atau alat komunikasi menyampaikan isi hati (kaiyori ini juga tidak dilagukan)
g. Untuk mengangkat perang atau mendamaikan persengketaan dengan cara mengirim satu ungkapan sastra oleh pimpinan perang atau raja.
Kaiyori dapat dinyanyikan oleh semua golongan umur dari usia 12 hingga 50 tahun. Nyanyian kaiyori ini sendiri dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu : kaiyori yang dinyanyikan dan kaiyori yang tidak dinyanyikan (hanya berupa ungkapan sastra). Khusus untuk kaiyori yang dilagukan terbagi atas tujuh macam lagu didalamnya, yaitu :
a. Dondi, merupakan lagu pembuka (pintu kaiyori)
b. Lentomasae Vongi, untuk selamatan panen disertai gerakan tari
c. Vayontasi Malino, dibawakan menjelang subuh (jam 3 pagi)
d. Rundutamo Rapea, dibawakan sesudah jam 12 malam
e. Dumadora, dibawakan sesudah jam 12 malam
f. Neneida, dibawakan sesudah jam 12 malam
g. Lamanteo, dibawakan pada saat matahari mulai nampak atau vanta toimareme.
Kaiyori ini biasanya berlangsung selama 600 menit mulai dari pukul 09.00 malam sampai 06.00 pagi, karena macam-macam lagunya dibawakan secara keseluruhan dalam tiga bahasa, yaitu :
a. Bahasa Kori (etnis Korirai)
b. Bahasa Torai Ava (etnis Rai)
c. Bahasa Baree (etnis Tajio)
Sejak 300 tahun lalu, Kaiyori ini mulai berkembang ke beberapa daerah yaitu Desa Sumari, Lero, Toaya, Masaingi, Maranata, Enu, Saloya dan Alindau. Nyanyian ini dapat dibawakan dirumah ataupun area luas. Bila dinyanyikan di arena terbuka biasanya disertai gerak atau tarian, misalnya untuk Molili Vunja (Pelaksanaan adat tanah/upacara panen).

14. KANARA
Kanara adalah nyanyian rakyat yang dinyanyikan secara tunggal atau trio tanpa iringan alat musik. Nyanyian ini dibawakan dengan berkelompok yang dimulai oleh seseorang yang dianggap mahir mengungkap syair-syairnya yang dalam bahasa Kaili disebut notuki yang artinya mengubah syair-syair kanara kemudian dibawakan secara bersama pada urutan nyanyiannya.
Kanara terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Kanara yang dibawakan sebagai pelengkap upacara unsur Balia dimana syair-syairnya disesuaikan dengan maksud upacara tersebut.
2. Kanara yang dibawakan untuk menghibur kepada orang-orang yang mengingnkannya baik dipesta, tempat kedukaan atau orang yang sengaja mengundang.
Nyanyian ini dibawakan ole pria dan wanita yang berlangsung sejak tengah hingga menjelang pagi. Kanara berfungsi untuk memberi ketenangan jiwa saat mereka sedang dirundung masalah atau perasaan tidak tenang. Kanara ini berkembang di Kecamatan Sindue, khususnya di Lero yang telah muncul sejak 480 tahun lalu dan telah diwariskan secara turun-temurun lebih dari 8 generasi.

15. LAMANTEO
Nyanyian ini dibawakan oleh 30 orang yang terdiri dari pria dan wanita berumur 20 tahun keatas tanpa iringan alat musik. Hampir serupa dengan nyanyian rakyat lainnya, Lamanteo ini pun dinyanyikan secara berbalas-balasan selama kurang lebih 30 menit.
Fungsinya sebagai ucapan syukur serta doa pengharapan dimana lagu ini sifatnya tradisional yang sangat melembaga bagi masyarakatnya. Lagu ini dibawakan pada siang hari. Saat ini Lamanteo berkembang di Desa Toaya, Enu dan Marana.

16. LEA – NULEA
Nyanyian ini dibawakan dalam waktu yang sama lamanya dengan Alude dan Tombilo yang memiliki fungsi dan tujuan untuk mengusir bala dan penyakit serta digunakan sebagai alat hiburan. Nyanyian ini mempunyai unsur Balia. Nyanyian ini pertama kali ditemukan di Desa Masingi sekitar 100 tahun.

17. MALEDE
Nyanyian ini dibawakan secara bersama oleh 4 orang atau lebih dengan satu suara tanpa iringan alat musik. Malede ini terdiri atas dua jenis, yakni :
a. Lagu Malede yang cepat
b. Lagu Malede lambat atau dikenal Malede Umbu
Fungsinya untuk doa keselamatan dan doa pujaan. Nyanyian ini merupakan lagu wajib masyarakatnya yang menjadi warisan turun-temurun di Enu dan Dalaka, khususnya bagi masyarakat etnis Unde Gia.

18. NDOLU SALONDE
Ndolu Salonde adalah nyanyian rakyat masyarakat Kaili yang lahir bersama upacara Balia, ditemukan pertama kali di Desa Toaya kurang lebih 1000 tahun lalu. Nyanyian ini dibawakan secara trio, kuartet ataupun 10 - 20 orang. Hampir sama dengan nyanyian rakyat lainya dilagukan secara bersahutan atau saling berbalasan antara wanita dan pria dengan iringan Lalove.
Ndolu Salonde ini dibagi menjadi 3 bagia :
a. Ndolu untuk upacara adat
b. Ndolu untuk upacara Balia Ntomanuru
c. Ndolu untuk upacara Balia Tampilangi
Ketiga ndolu ini dibawakan oleh pria dan wanita dengan pembagian sebagai berikut :
a. Ndolu untuk upacara adat dibawakan oleh pria
b. Ndolu untuk upacara Balia Ntomanuru dibawakan oleh wanita
c. Ndolu untuk upacara Balia Tampilangi dibawakan oleh pria dan wanita
Nyanyian ndolu ini juga terdiri atas bermacam-macam lagu antara lain :
a. Ndolu upacara adat, lagunya ntomalanggai
b. Ndolu upacara Balia Ntomanuru, lagunya ndolu
c. Ndolu upacara Balia Tampilangi, lagunya vadi
Nyanyian ini dibawakan untuk upacara dengan fungsi sebagai pemujaan, penyembuhan serta pengharapan. Saat ini ndolu masih tetap dipertahankan dan dilestarikan seiring perkembangannya. Ndolu ini tersebar di Lero, Sumari, Masaingi, Marana dan Enu.
Dalam membawakan Ndolu Salonde, para penyanyinya memakai baju berdasarkan pembagian ndolu tersebut, yaitu :
a. Pada Ndolu Tomalanggai menggunakan pakaian Tadulako
b. Pada Ndolu Salonde menggunakan pakaian Balia Salonde
c. Pada Ndolu Vadi menggunakan pakaian Balia Tampilangi
the-ray-man - 27/02/2010 06:13 PM
#79

Kaskus ID : the-ray-man

Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tari Mung Dhe

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Mung_Dhe

Keterangan : Artikel mengenai Tari Mung Dhe

Spoiler for ,


Tari Mung Dhe


Tari Mung Dhe adalah tari tradisional yang berasal dari Desa Garu, kecamatan Baron, Nganjuk. Dalam tari ini bertemakan kepahlawanan dan cinta tanah air, heroik, patriotisme. Selain itu tari ini berkaitan erat dengan kalahnya prajurit Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirdjo).

Dalam tari ini menggambarkan beberapa prajurit yang sedang berlatih perang yang lengkap dengan orang yang membantu dan memberi semangat kepada kedua belah pihak yang sedang latihan. Pihak yang membantu dan memberi semangat, di sebut botoh. Botohnya ada dua yaitu penthul untuk pihak yang menang dan tembem untuk pihak yang kalah. Sikap dan tingkah laku kedua botoh ini gecul atau lucu, sehingga membuat orang lain yang menyaksikan tari Mung Dhe, terkesan tegang dan kadang merasa geli, karena yang berlatih perang memakai pedang, sedangkan botohnya lucu .

Secara keseluruhan, tari Mung Dhe melibatkan 14 pemain dengan masing-masing peran pada awalnya, yaitu :

* 2 orang berperan sebagi penari /prajurit.
* 2 orang berperan sebagi pembawa bendera.
* 2 orang berperan sebagai botoh
* 8 orang berperan sebagai penabuh /pengiring.

Pada perkembanganya sekarang hanya melibatkan 12 orang, yaitu 6 alat untuk 6 orang pemain. Di dalam pengaturan organisasi tari Mung Dhe untuk penarinya adalah laki-laki serta perempuan dan dalam tingkatan usia dewasa [baik yang menikah atau yang belum]. Pada perkembangan sekarang ini, tari Mung Dhe sering ditampilkan pada acara-acara yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Nganjuk, seperti Pemilihan Duta Wisata, maupun Grebeg Suro, maupun Jamasan Pusaka, serta saat Upacara Wisuda (gembyangan-red) Waranggono. [1]
the-ray-man - 27/02/2010 06:16 PM
#80

Kaskus ID : the-ray-man

Kategori : Lagu/Tarian/Alat Musik

Bentuk Karya : Artikel Mengenai Tari Pinggan

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Pinggan

Keterangan : Artikel mengenai Tari Pinggan

Spoiler for ,



Tari Pinggan


Tari Pinggan adalah sebuah tarian tunggal tradisional Dayak yang di sajikan untuk menghibur masyarakat dalam setiap acara tradisional. Misalnya: Gawai Dayak ( pesta Panen padi ), Gawai Belaki Bini ( pesta pernikahan ) dll.

Tari Pinggan Terbagi menjadi dua, yakni : Tari Pinggan Laki dan Tari Pinggan Indu' yang masing -masing ada kesamaan dan pebedaan. Tari ini lebih menekankan pada gerakan – gerakan atraktif yang diadopsi dari gerakan silat tradisional. Dalam melakukan gerakan tari, penari membawa dua buah Pinggan ( di zaman dahulu menggunakan piring batu, kini di ganti piring beling berwarna putih ), dan sepasang cincin yang terbuat dari timah ataupun tembaga seukuran Cincin jari tengah penari.

Kedua pinggan tersebut diangkat dan di tarikan sesuai dengan tebah atau iringan musik tradisional yang di sebut tebah Undup Biasa. Sedangkan kedua cincin timah yang di gunakan penari, di hentakan ke buntut Pinggan untuk saling mengisi dengan iringan tarinya.

Masa kini tari Pinggan masih terpelihara secara alamiah, baik di turunkan secara turun-temurun maupun di pelajari secara individu dari kerabat maupun teman yang mempunyai keahlian tersebut. Tari Pinggan diajarkan kepada kaum pemuda dan pemudi daerah Mualang .

Penyebaran Tari Pinggan, meliputi daerah Belitang Hulu, Belitang Tengah maupun Belitang Hilir bahkan kini mulai merambah ke suku – suku Dayak sekitarnya yakni Ketungau, Bugau maupun Iban.
Page 4 of 6 |  < 1 2 3 4 5 6 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Lagu/Tarian/Alat Musik > Lagu/Tarian/Alat Musik - Artikel