Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 10 of 13 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

verditch - 27/05/2010 11:03 AM
#181

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Legenda Pangeran Sarif

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita rakyat

Spoiler for
Quote:
Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.

Kondisi kekuatan Kompeni Belanda dengan bentengnya yang baru harus diperhitungkan masak-masak. Oleh karena itu, diperlukan waktu cukup lama untuk mempersiapkan penyerangan. Hal yang lebih mendesak dan harus ditanggulangi adalah keamanan sehari-hari. Hampir setiap hari terjadi perampasan dan perampokan. Rakyat kecil ketakutan. Mereka tidak berani berjalan sendiri di jalan-jalan yang sepi, lebih-lebin di malam hari. Para perampok memilih rumah yang dianggap menyimpan banyak harta. Mereka menaklukkan pemiliknya. Syukur tidak dibunuh. Akan tetapi, sudah pasti barang-barang mereka dijarah habis. Setelah itu keadaan sepi kembali, membuat bulu kuduk meremang.

Para perampok bukan saja membawa golok-golok tajam untuk mendongkel daun nipah penutup rumah, tetapi yang lebih mengerikan adalah saat mereka menggunakan kesunyian malam untuk membuat galian panjang dari luar rumah. Pemilik rumah akan kaget keesokan harinya karena seluruh harta yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah, lenyap begitu saja dibawa kabur perampok-perampok itu.

Rakyat kecil tetap rakyat kecil. Mereka hidup dari hasil pertanian. Ada juga bekas nelayan atau pemilik tambak ikan. Di tempat baru mereka membuat rumah sederhana dengan sisa-sisa hartanya.

Pada suatu malam mereka mendengar teriakan dan luar rumah. Teriakan para perampok kasar yang menantang agar keluar. Tentu saja tantangan itu mereka hindari sebab tidak mungkin menang. Lebih balk menurut saja apa kata perampok-perampok itu. Mereka tidak mau tubuh mereka diseret dan disiksa seperti korban yang lain. Biarlah sisa-sisa harta itu dibawa pergi, yang penting nyawa masih ada. Begitu juga anak istri selamat dan tidak dianiaya. Rumah para tetangga jauh letaknya dan mereka tidak mungkin memberikan pertolongan.

Keadaan tidak aman itu diketahul benar oleh Pangeran Sarif. Suatu saat memang terpikir olehnya untuk bertindak tegas menumpas perampok-perampok itu. Untung, dia masih berpiklr panjang. Kepada istri dan pembantunya dia menekankan untuk bersikap lebih tenang.

“Sekaii-kali tidak perlu takut,” katanya, “tenanglah. Harta kita ini juga harta Tuhan. Jadi, tidak perlu dirisaukan.”

Pekerjaan Pangeran Sarif adalah mengajar. Murid-muridnya diajar menulis huruf Arab dan dilatih membaca serta mempelajari Al-Qur’an. Pangeran Sarif menjelaskan arti dan tafsirnya. Sangat lugs pandangannya. Dalam tempo singkat makin banyak muridnya. Itu pula yang menyebabkan orang-orang dewasa, bahkan lanjut usia ikut juga dalam pengajian Pangeran Sarif. Karena makin populer, Pangeran Sarif sering dijemput untuk mendatangi desa-desa terpencil. Di hadapan orang banyak, Pangeran Sarif memberikan penjelasan secara langsung. Bahasanya sederhana dan ada humornya. Orang makin senang. Mereka tertawa-tawa. Pangeran Sarif juga memasukkan ajaran-ajaran yang baik, mulai dari mengasuh anak sampai meningkatkan amal dalam kehidupan.

Istri Pangeran Sarif sudah biasa ditinggal sendiri di rumah. Banyak yang dikerjakannya selama suaminya berdakwah dari pagi hingga sore hari. Malam cepat berlalu dan pagi kembali. Siangnya Pangeran Sarif pulang, tetapi tidak lama pergi lagi memenuhi jemputan.

Pada suatu hari istri Pangeran Sarif merasa takut sekali tinggal sendiri di rumah sebab saat itu dia sedang hamil muda. Ketika malam tiba, suasana menjadi agak lain. Entah karena apa pembantunya sudah tidur dengan pulas di balai-balai depan. Sementara itu, di luar segerombolan penjahat sudah lama mengawasi rumah Pangeran Sarif. Mereka tahu kalau yang ada di rumah hanya istri dan pembantunya. Mereka lalu sating memberi isyarat. Anggota penjahat yang tersebar menangkap isyarat itu dan mereka bergerak ke rumah Pangeran Sarif.

Di samping rumah Pangeran Sarif jelas terlihat dua ekor sapi gemuk di dalam kandang. Di leher istri Pangeran Sarif juga terlihat kalung emas yang mahal. Anehnya, pada penglihatan para penjahat, sapi-sapi gemuk itu seperti berada di seberang lautan sehingga mereka harus berenang dengan susah payah untuk mencapainya. Kaki dan tangan mereka bergerak, tetapi tidak sampai juga. Mereka terengah-engah. Akhirnya, malam pun berlalu dengan cepat. Siangnya Pangeran Sarif datang.

“Mengapa kalian merangkak-rangkak di rumput pekarangan rumahku?” tanya Pangeran Sarif. Mendengar pertanyaan itu, para penjahat seperti radar dari pingsannya. Mereka gelagapan, malu. Akhirnya, mereka berterus terang.
“Ampunilah kami, Wan Haji. Kami memang telah berniat jahat. Kami amat menyesal. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” kata kepala penjahat.
“Jangan minta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif, “mintalah ampun kepada Allah. Allah-lah tempat kalian memohon segalanya, termasuk ampun kalian. Itu pun kalau kalian bersungguh-sungguh.”
“Kami bersungguh-sungguh, Wan Haji. Kami bertobat.”

Karena para penjahat itu bertobat, Pangeran Sarif memberikan bimbingan, “Ikutilah ucapanku!” Pangeran Sarif segera membacakan kalimat syahadat perlahan-lahan dan kepala penjahat beserta gerombolannya menirukan. Sejak itu mereka benarbenar bertobat dan menjadi pengikut Pangeran Sarif yang setia.

Pada suatu hari Pangeran Syarif menjelajah desa Bendungan, dekat Pasar Minggu. Hujan turun rintik-rintik. Dia meneruskan perjalanannya sampai ke tepi Sungai Ciliwung. Untuk melindungi kepalanya dari guyuran hujan, dia berkerudung kain. Tidak disangka-sangka dari arah berlawanan dia melihat rakit. Setelah ditanya, pemilik rakit mengatakan akan menuju ke kota Betawi yang makin kuat dikuasai serdadu Kompeni.

Setelah itu, dengan cepat Pangeran Sarif menyelinap ke jalan setapak di sebelah semak-semak dan membiarkan rakit itu berlalu. Dia berbuat begitu agar tetap tidak dikenal orang, terlebih bagi mereka yang akan pergi ke kota Betawi. Siapa tahu mereka lapor kepada musuh. Kalau sudah begitu biasanya serdadu-serdadu Kompeni segera datang karena para ulama waktu itu dianggap pengikut setia Pangeran Jayakarta. Siapa saja yang berjubah putih dianggap prajurit Pangeran Jayakarta.

Tukang rakit itu tahu betul kalau Pangeran Sarif menyelinap ke semak-semak di tikungan sungai. Pada penglihatannya Pangeran Sarif membelok melewati terowongan di pinggir Sungai Ciliwung. Rakit itu mengikuti Pangeran Sarif memasuki terowongan sempit dan gelap. Tidak lama kemudian Pangeran Sarif sudah muncul di pinggir Sungai Sunter dekat Pondok Gede. Tukang rakit masih mengikuti terus. Setelah sadar dia heran sekali, ketika dia bermaksud balik memasuki terowongan sempit, terowongan itu sudah tidak ada lagi.

“Ampunilah saya, Wan Haji,” tukang rakit itu menyembah-nyembah, “saya hanya tertarik kepada Wan Haji. Saya tidak bermaksud jelek. Saya tidak bermaksud melapor kepada serdadu-serdadu Kompeni. Percayalah!”

Seperti kepada kepala perampok tempo hari yang bermaksud jahat, kepada tukang rakit itu Pangeran Sarif juga menjawab penuh wibawa, “Jangan minta ampun kepadaku. Allah-lah tempat kamu memohon ampun. Allah-lah tempat kamu minta segalanya. Kamu hares memohon ampun kepada-Nya”

Tukang rakit itu lalu meniru apa yang diucapkan Pangeran Sarif. Dia menjadi pengikut Pangeran Sarif yang setia Pula. Terowongan yang bisa tembus ke Sungai Ciliwung itu kemudian dikenal dengan nama Lubang Buaya. Di daerah ini Pangeran Sarif bergerilya terus melawan serdadu-serdadu Kompeni. Para pengikutnya menyebar ke seluruh wilayah Betawi.
verditch - 28/05/2010 12:12 PM
#182

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Nyai Anteh

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita rakyat dari jawa barat

Spoiler for Part-1
Quote:
Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni.

“Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku,” kata putri. “Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!”

“Baik Gust…..eh kakak!” jawab Nyai Anteh.

“Anteh, sebenarnya aku iri padamu,” kata putri.

“Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri,” kata Anteh heran.

“Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu,” ujar putri sambil tersenyum.

“Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak?” jawab Anteh dengan semangat.

“Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?” tanya putri.

“Eeee…itu…itu…saya yang jahit sendiri kak.” jawab Anteh.

“Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm…mungkin baju pengantinku?” seru putri.

“Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat,” kata Anteh ketakutan.

“Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa… jadi baju pengantin pun pasti bisa,” kata putri tegas.

Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya. “Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan,” kata ratu.

“Ya ibu,” jawab putri.

“Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan,” ujar ratu. “Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.”

“Maksud ibu, Endah harus segera menikah?” tanya putri.

“ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya,” kata ratu. “Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.”

“Baik gusti ratu,” jawab Anteh.

Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya. “Aku takut sekali Anteh,” kata putri dengan sedih. “Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?”

“Kakak jangan berpikiran buruk dulu,” hibur Anteh. “Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar.”

Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, “alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?” batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya.

“Siapa tuan?” tanya Anteh.

“Aku Anantakusuma. Apakah kau…..” Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. “Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!” kata seorang dayang.

“Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi,” kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma.

“Dia ternyata bukan Endahwarni,” pikir Anantakusuma. “Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku.”

Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.

Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan.

“Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini,” kata Anteh dengan hormat.

“Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi,” kata Raja kepada para tamunya.
Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.

Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri.

“Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?” kata Anteh. Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta.

“Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu,” kata putri Endahwarni.

“A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?” tanya Anteh kaget.

“Pokoknya aku sebal melihat mukamu!” bentak putri. “Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi…Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!”

“Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?” tangis Anteh.

“Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!” kata putri.

“Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu.”

Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.

Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya.

“Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?” tanyanya.

“Iya paman, saya baru datang!” kata Anteh ketakutan.

“Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,”

“Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?” tanya Anteh.

“Ya….! Apakah….kau anaknya Dadap?” tanya paman itu.

“Betul paman!” jawab Anteh.

“Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu,” kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca.

“Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!” kata Anteh dengan gembira.

“Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?” tanya paman Waru.

“Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana,” pinta Anteh.

“Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!” kata paman Waru....

Bersambung ke part-2
verditch - 28/05/2010 12:14 PM
#183

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Nyai Anteh

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita rakyat dari jawa barat

Spoiler for Part-2
Quote:
Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.

Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.

“Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku…” tangis putri.

“Gusti…jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar,” kata Anteh.

“Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!” pinta putri.

“Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan,” jawab Anteh.

“Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana,” kata putri sambil tertawa. “Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!”

Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.

Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh.

“Anteh!” tegurnya. Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya.

“Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?” tanya Anteh ketakutan.

“Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu,” kata pangeran.

“Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku,” kata Anteh sambil memeluk Candramawat.

“Aku tidak bisa… Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!” kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.

Anteh mundur dengan ketakutan. “Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri.”
Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.

Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya. “Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!” doa Anteh, “Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!”

Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.

Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat. Begitulah kisah Nyai Anteh sang penunggu bulan.
verditch - 28/05/2010 12:21 PM
#184

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda Bunga Kemuning

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita hikayat

Spoiler for
Quote:
Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka.

Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning, Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. “Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja.

“Aku ingin perhiasan yang mahal,” kata Puteri Jambon.

“Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau,” kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya.

“Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat,” katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya.

“Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu,” kata sang raja. Tak lama
kemudian, raja pun pergi.

Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,” kata seorang diantaranya.

“Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.

“Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan marah.

“Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puterinya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih.

Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya.

“Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning,” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut.

“Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah,” ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya.

Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. “Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri.

“Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu,” sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka.

“Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal.

“Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi. Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. “Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya.

Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. “Aku ini ayah yang buruk,” katanya.” Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.

Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!” kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.
verditch - 30/05/2010 12:36 PM
#185

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Asal Usul Kota Metro

sumber : Buku Cerita Rakyat Lampung

keterangan : cerita rakyat dari lampung

Spoiler for
Quote:
Bangsa Indonesia sudah lama dijajah oleh Belanda.Banyak hasil bumi Indonesia dibawa ke negeri kincir Belanda dan digunakan untuk membangun negeri kincir angin itu. Tidak mengherankan ketika pemuda-pemudi Indonesia mulai mendirikan perkumpulan untuk Indonesia merdeka, orang Belanda tidak suka.

Akan Tetapi,bagaimanapum kejamnya kaum penjajah itu, ternyata mereka juga meninggalkan banyak kenangan.Misalnya,perpindahan penduduk dari daerah padat dan miskin di Pulau Jawa,yang sekarang dikenal dengan nama transmigrasi.Program itu pada jaman penjajahan Hindia Belanda di Indonesia dinamakan program kolonisasi.Tujuannya, di samping pemerataan penduduk,orang2 yg dipindahkan itu akan dipekerjakan pada perkebunan2 milik pemerintahan Hindia Belanda yg berada di luar Pulau jawa.Sebagian lagi ditempatkan di daerah2 baru utk membuka lahan pertanian dan perkebunan baru.

Program Kolonisasi itu dimulai tahun 1905.Pada awalnya hanya dilakukan di dalam pulau Jawa,kemudian berkembanf ke luar Jawa,yaitu ke pulau Sumatra,tepatnya di daerah Lampung.

Menjelang tahun 1932 sudah banyak keluarga Jawa yg dikirim ke lampung dan ditempatkan di daerah Gedongtataan,Kota Agung,Wonosobo,dan sekitarnya.baru pada tahun 1932 pemerintahan Hindia Belanda mulai mengirimkan para kolonis(penduduk)itu ke daerah utara.Mereka ditempatkan di daerah Trimujo,tepatnya di desa Adipuro yg dikenal dgn sebutan bedeng 1 atau BD1.Salah seorang yg ikut program kolonisasi itu adalah Mbah Sumohadi (skrg usianya sekitar 80 tahun),yg tinggal di BD41 Desa Batangharjo, kecamatan Batanghari, kabupaten Lampung Tengah. menurut Mbah Sum,Panggilan Akrabnya,waktu itu merekan ditempatkan dirumah2 yg dinamakan "Bedeng",Setiap orang mendapatkan alat2 pertanian.
Lalu,kenang Mbah Sum,lahan yg disuruh kerjakan itu diberi patok2 sebagai batas.Rumah atau Bedeng itu dibuat pakai tiang karena daerah itu msh berupa hutan lebat dan msh bnyk binatang buas.Untuk setiap beberapa bedeng ditempatkan pengawas.Ada pula mantri kesehatan yg memberikan obat bila ada org yg sakit.Penyakit yg diderita umumnya malaria.

Setiap calon desa waktu itu terdiri atas beberapa rumah bedeng.Makin lama daerah yg ditempati makin ramai karena sudah bnyk hutan yg sdh dibuka,sedangkan penduduk ditempatkan didaerah yg dikenal dgn nama Metro.Untuk dapat ke lokasi BD15 mereka harus menempuh perjalanan panjang melalui Kotagajah ,Gedongdalem,kemudia terus ke Metro.Antara tahun 1932 sampai tahun 1935 belum ada jalan yg bisa dilewati kendaraan dari Trimujo ke Metro,walaupun jaraknya sekitar 10 km.

Akan tetapi,menurut beberapa cerita ,jalan dari Trimuro ke Metro dirintis oleh Kolonis atas perintah dari penjajah Belanda.Karena makin bnyk tanah rawanya,di atas jalan itu diletakkan kayu2 bulat agar dapat dilalui gerobak dan kendaraan milik orang Belanda.

Akhirnya daerah sekitar kota Metro dapat dijangkau dalam waktu singkat.Setelah jalan tembus dibuka,kemajuan kolonis di BD15 begitu cepat.Kolonis di daerah Sukadana pun mengalami perkembangan pesat bahkan melebihi perkembangan daerah kolonis pertama di Gedongtataan,Lampung Selatan.Dea Induk yg dibuat Belanda tanggal 5 juni 1937 dipindahkan secara resmi ke Metro sebagai desa induk pengganti.Itu dilakukan melihat perkembangan Metro yg sgt pesat.

Tentang asal nama metro itu sendiri ada dua cerita.Pertama,diambil dari bahasa Belanda,Yaitu centrum yg berarti pusat .Kedua,kata metro diberikan oleh para kolonis Jawa.Pada waktu itu,org2 jawa yg ditempatkan di BD15 merasa senasib sepenanggungan,memiliki bahasa yg sama.jadi,semua kolonis menanggung susah dan senang bersama2.

Dari Perasaan itulah mereka semua menyebutkan tempat itu sebagai Mitro,Berarti rekan.Lama kelamaan pengucapannya berubah menjadi Metro.Sampai sekarang daerah itu dinamakan Metro.menurut buku "Dari Kolonisasi ke Transmigrasi" pada tahun 1039 di Metro terdapat seorang dokter pemerintah.Metro sebagai ibukota kolonisasi Sukadana bahkan telah memiliki pasar besar,kantor pos,pesanggrahan,masjid,dan penerangan listrik.

Sampai tahun 1941 di Metro sudah ada 2 org dokter,13 orang mantri dan juru rawat, seorg bidan. Di samping itu ada berbagai sekolah khususnya sekolah yg dikelola missi Katolik. Sejak tahun 1941 saluran irigasi dari Trimujo terus diperpanjang dan tahun 1942 saluran yg dikenal oleh masyarakat Lampung tengah dengan sebutan "Ledeng" sudah mencapai Batanghari.Dengan perkembangan yg begitu pesat,dengan sendirinya daerah sekitar Metro juga ikut berkembang dan tetap menggunakan nama bedeng.

Tidak mengherankan kalu disekitar Metro dibuka lagi bedeng2 baru sampai bedeng 67 yg kini berada di kecamatan Sekampung.Di kota Metro Sendiri bedeng2 itu dipecah lagi seperti bedeng 15 polos,bedeng 15.A,bedeng 15 15.B Barat, bedeng 15.B Timur, bedeng 15 Kauman,bedeng 21 polos,bedeng 21.B,bedeng 21.C,bedeng 21.D,bedeng 22,bedeng 16,bedeng 16.A dan sampai bedeng 16.C.

Biasanya di belakang nomor bedeng ditulis nama desanya,misalnya bedeng 16.C Mulyojati.Demikian pula penamaan bedeng lainnya yg sampai skrg terbatas pada bedeng 67.Namun,satu bedeng tidak semua menjadi satu desa. Ada juga satu bedeng dibagi menjadi dua desa,ada juga satu bedeng dibagi menjadi dua desa,tergantung luas desa dan jumlah penduduknya.

Demikianlah asal usul kota Metro yg sampai saat ini sudah berusia 59 tahun.Metro saat ini merupakan ibukota kabupaten Lampung Tengah,dan merupakan kota administratif kedua di Lampung setelah kotamadya Bandarlampung.Kota Metro terdiri atas dua kecamatan,yaitu kecamatan Metro Raya dan kecamatan Bantul.

Kesimpulan
Dari asal usul kota metro yg sekarang berpenduduk sekitar 125 ribu jiwa itu,sangat terasa bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat gotong royong,saling menolong,serta sangat menghargai jasa-jasa dan karya cipta orang2 yg lebih dahulu berbuat untuk bnyk orang
verditch - 02/06/2010 10:35 AM
#186

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Asal Nama Kota Bandung

sumber : dongeng.org

keterangan : artikel singkat

Spoiler for
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
gedung sate
Quote:
Mengenai asal-usul nama “Bandung”, dikemukakan berbagai pendapat. Sebagian mengatakan bahwa, kata ‘Bandung” dalam bahasa Sunda, identik dengan kata “banding” dalam bahasa Indonesia, berarti berdampingan. Ngabandeng (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996), bahwa kata “Bandung” berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata “bandung” mengandung arti besar atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda, ngabandeng adalah sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi menjadi “Bandung”. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata “Bandung” berasal dari kata “bendung”. Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata “Bandung” itu, rupanya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen (± 6000 tahun yang lalu). Akibatnya, daerah antara Padalarang hingga Cicalengka (± 30 kilometer) dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang (± 50 kilometer) terendam air menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal dengan sebutan “Danau Bandung” atau “Danau Bandung Purba”. Berdasarkan basil penelitian geologi, air “Danau Bandung” diperkirakan mulai surut pada masa neolitikum (± 8000 – 7000 s.M.). Proses surutnya air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Secara historis, kata atau nama “Bandung” mulai dikenal sejak di daerah bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten Bandung (sekitar dekade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan “Danau Bandung” terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten Bandung.
verditch - 02/06/2010 10:42 AM
#187

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Kisah Anak Kerang

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel

Quote:
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. “Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.”

Si ibu terdiam, sejenak, “Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
verditch - 02/06/2010 10:47 AM
#188

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Berjudul Wortel, Telur, Dan Kopi

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita motivasi

Spoiler for
Quote:
Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: “Sayangku, apa yang kaulihat?” “Wortel, telur, dan kopi,” jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya “Apa artinya, bapa?” Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

“Yang mana engkau, anakku?” sang ayah bertanya.

“Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?”

Bagaimana dengan ANDA, sobat?

Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?

Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?

Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?
verditch - 02/06/2010 10:53 AM
#189

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Ayam dan Sapi

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita motivasi

Spoiler for
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel

Quote:
“Kenapa sih”, kata seorang kaya pada pelayannya, “Orang-orang mengataiku pelit. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti, aku akan memberikan semua yang aku punya pada yayasan sosial dan panti asuhan?” “Akan saya ceritakan fabel tentang ayam dan sapi,” jawab pelayannya. “Sapi begitu populer, sedangkan sang ayam tidak sama sekali. Hal ini sangat mengherankan sang ayam. ‘Orang-orang berkata begitu manis tentang kelemahlembutan dan matamu yang begitu memancarkan penderitaan’, kata ayam pada sapi. ‘Mereka mengira kamu begitu murah hati, karena tiap hari kamu memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku memberikan daging ayam. Aku memberikan bulu-buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu. Tidak ada yang seperti itu. Kenapa sih kok bisa begitu ?’”

“Apakah anda tahu apa jawaban sang sapi?”, kata pelayan.

Sang sapi berkata, “Mungkin karena aku memberikannya sewaktu aku masih hidup.”
verditch - 02/06/2010 11:01 AM
#190

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Dongeng Kisah Pohon Apel

sumber : dongeng.org

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel

Quote:
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.
Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.
“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.
Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu.
“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
verditch - 03/06/2010 01:12 PM
#191

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Ketara Raja Niti

sumber : Buku "Cerita Rakyat dari Lampung 2" oleh naim Emel Prahana

keterangan : cerita rakyat dari lampung

Spoiler for
Quote:
Dahulu, Tanah Lampung dibagi ke dalam empat daerah kekuasaan, yg disebut keratuan.Keempat keratuan itu selalu hidup rukun,berdampingan satu dengan lainnya.Saat itu ,telah ada peraturan hukum untuk rakyat yg harus dijalankan seperti perintah raja besar.Tidak semua rakyat menyetujui peraturan itu,apalagi diketahui hukum itu diterapkan karena perintah Sultan Banten.

Di zaman Ratu darah putih berkuasa,peraturan hukum Sultan Banten itu seringkali dipersoalkan.Akan tetapi,belum ada jalan keluarnya.Sudah bnyk rakyat yg menjadi korban peraturan itu.Misalnya,anak2 tetap dihukum bila bersalah,telunjuk yg salah,telunjuk yg dipotong,hutang nyawa dibayar nyawa.Peraturan itu demikian keras sehingga rakyat sgt takut berbuat salah.

Saat itu terkenal seorg keturunan darah putih di Pakuwen Ratu yg bernama Dalem Kesumo Ratu.Sebenarnya Dalem Kesumo Ratu sudah lama mendengar keluhan rakyatnya tentang pelaksanaan peraturan hukum yg disebut Ketara Raja Niti itu.Akan tetapi,beliau belum memutuskan sesuatu agar rakyatnya lebih tenang melakukan kegiatan mereka.

Ketika beliau sedang berjalan2 disuatu tempat yg msh merupakan daerah kekuasaannya,beliau menjumpai bnyk rakyatnya dlm keadaan sangat tertekan.Timbulah dlm pikiran beliau niat utk memusyawarahkan peraturan Ketara Raja Niti itu.

Sesampainya beliau dan pengawalnya di rumah,di perintahkannya pengawal untuk untuk mengundang para tokoh masyarakat berkumpul dirumah keratuan Darah Putih.Setelah semua berkumpul malam harinya Dalem Kesumo Ratu mulai bicara,"Kalau semuanya sudah hadir,mari kita mulai musyawarah malam ini tentang peraturan Ketara Raja Niti."

Dalam musyawarah itu,akhirnya mereka bersepakat untuk meminta kepada Sultan Banten agar peraturan itu diubah .Selanjutnya mereka mulai membicarakan tentang siapa yg akan diutus ke Banten.Semua sepakat kalau utusan yg akan berangkat adalah pengawo Ngaibehi.Pertimbangannya,Ngaibehi adalah orang yg pandai berunding,menghormati orang lain,dan tutur katanya penuh keramahtamahan.Malam itu juga mereka meminta kesediaan Ngaibehi,dan Ngaibehi pun menyetujuinya.

Setelah pamit,penggawo Ngaibehi pun ke arah selatan sesuai petunjuk Dalem Kesumo Ratu .Dia keluar masuk dusun,keluar masuk hutan.Dia sering tidur dihutan yg msh bnyk binatang buasnya.Akan tetapi,dia tidak pernah takut karena sedang menjalankan tugas dari ratunya.

Pada hari kelima belas,dia sampai ke pantai.Dia harus membuat perahu untuk menyeberangi lautan.Dengan kepandaiannya,dia dapat membuat perahu dai kayu besar beserta pendayungnya dalam waktu seminggu.

Penggawo Ngaibehi terombang-ambing di tengah lautan luas cukup lama sebelum sampai ke pelabuhan Banten.Dia menghitung waktunya di laut.Ternyata pada hari ke tiga belas dia berhasil mendarat.Selanjutnya dia pergi menuju istana Sultan Banten yg megah dan terletak di tengah kota,sangat berbeda dengan tempatnya.Setelah melalui penjagaan yg ketat,Ngaibehi berhasil bertemu dengan Sultan.
"Apa maksud saudara menghadap saya?" tanya Sultan padanya.
"Ampun, Tuanku Sultan, hamba membawa surat dari Lampung," jawab Ngaibehi.Dia kemudian memberikan surat itu kepada Sultan.Setelah dibacakan oleh pengawalnya,Sultan menyilakan Ngaibehi istirahat dulu.Besok Sultan akan memberi jawaban.

Keesokan harinya Sultan memanggil Ngaibehi untuk menghadap lagi."Penggawo, permintaan ratumu sudah saya pikirkan masak2," kata beliau.Kemudian beliau melajutkan,"pulanglah ke Lampung besok."
"Bagaimana putusannya, Tuanku?"
"Pulanglah,Ketara Niti tidak boleh diubah,"sabda Sultan.
Dengan perasaan berat,Ngaibehi pulang ke Tanah Lampung.Sesampainya di Lampung,semua yg dia alami diceritakannya kepada Dalem Kesumo Ratu.Mendengar berita itu beliau sangat terkejut.Pikirannya tidak tenang,membayangkan kesulitan yg dialamai rakyatnya.

Akhirnya,Dalem Kesumo Ratu berkata,"Ketara Raja Niti boleh tetap dijalankan,tetapi tdak boleh membebani rakyat".Suatu hari beliau berkata lagi,"Memukul ular dibawah bunga melur,bunga melur jgn sampai mati,pemukul jgn patah,tetapi ular mati." Ucapan Dalem Kesumo Ratu itu sgt terkenal.

Dari ucapan itulah kemudian lahir Hukum Bangun,artinya Ketara Raja Niti tetap berlaku seperti semula,tetapi pelaksanaan hukumannya digantikan dengan denda.

Dengan putusan itu hati Raja Pulau Perca atau Sultan Banten tetap senang.Dalem Kesumo Ratu terlepas dari marabahaya,dan rakyatnya lepas dari hukuman yg terlalu berat bila melakukan pelanggaran.


Kesimpulan:
Janganlah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.Kita harus melihat bagaimana akibatnya kepada orng lain.Keputusan yg baik adalah keputusan yg menguntungkan semua orang,dan tidak berpihak pada golongan tertentu,apalagi menguntungkan diri sendiri
verditch - 04/06/2010 11:42 AM
#192

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Dongeng Kancil dan Harimau (Sabuk Dewa)

sumber : dongeng-cerita-anak.blogspot.com

keterangan : cerita dongeng

Spoiler for
Quote:
Pada suatu hari Kancil sedang berjalan-jalan di hutan, ketika sedang asik berjalan-jalan sambil makan rumput tiba-tiba Kancil dikagetkan dengan sura auman di depannya, ternyata itu adalah seekor Harimau yang tampaknya sedang kelaparan.

Auuummm!!! Hari ini nasibku baik sekali, perutku lagi kroncongan ehh ketemu Kancil sebagai makan siangku. Hei Kancil siap-siap ku makan nih, Aummmmmmmmm!!!.

Eittt! Tunggu Dulu Harimau, kalau kamu makan aku, kamu akan kehilangan cerita rahasia sabuk sang dewa, siapa yang memakainya akan bisa terbang dan kuat seperti dewa. Mau ngak bisa terbang dan kuat seperti dewa pasti kamu jadi raja hutan seperti selama ini yang kamu idam-idam kan, mau ngak ???? “ kata Kancil”.

Benar nih Cill, kamu ngak akan ku makan asal kamu beri tahu dimana letak sabuk dewa itu. “kata harimau”.

Benar dong, ayo ikut aku ke batu besar dipinggir sungai dekat rumpun bambu di selatan hutan. “kata Kancil”.

Merekapun segera berjalan menuju pinggir sungai di selatan hutan, ketika sampai ditujuan tampak sebuah benda berwarna cokelat hitam melingkar di sebuah batu besar menyerupai sebuah sabuk.

Harimaupun mengaum panjang, Aummmmmmm!!! Bergerak hendak menerjang benda tersebut.

Eitt ! Tunggu dulu Harimau, kalau kamu mau memakai sabuk dewa tersebut kamu harus berjalan mundur kearah sabuk tersebut dan jangan sekali-kali menengok ke belakang, agar dewa pemilik sabuk itu tidak mengetahui kehadiran mu kan mereka sedang asik mandi di sungai. “kata kancil”

Benar juga katamu Cil, habis sabuknya besar sekali sih jadi aku ngak sabar untuk memakainya. “Kata Harimau”

Oke deh! Harimau, sekarang kamu boleh berjalan mundur kearah sabuk itu. Tapi sebelum itu aku hitung dulu yach aku mau sembunyi takut nanti dimarahi dewa kalau melihatku. “kata Kancil “.

Cepat hitung Cil, aku sudah ngak sabar mau jadi raja hutan nih.!!!

Ok ku hitung yach, “kata Kancil”!!!! 1.2.3. udah kah belum (kata Harimau), belum (Kata kancil sambil berlari meninggalkan harimau) 4.5.6.7 (udahkan belum), (Belum) 8.9.10 (sudahkah belum) (sudah teriak kancil yang sudah jauh meninggalkan Harimau)…………

Tanpa berpikir panjang Harimau pun segera berjalan mundur menuju kearah benda yang menyerupai sabuk tersebut. Dan ketika tubuhnya memasuki kedalam lingkaran tersebut tiba-tiba benda tersebut bergerak melilit tubuh Harimau. Harimau tampak senang karena dalam pikirannya sabuk tersebut sedang bereaksi memberi kekuatan ke tubuhnya, tapi tiba-tiba lilitan itu semakin lama semakin kuat dan membuat harimau kesakitan. Dan alangkah kagetnya Harimau ketika dihadapannya muncul kepala ular piton raksasa di depannya. Harimaupun berteriak minta tolong dan menggeram “Awas kamu cill, kamu telah membohongi ku. Ternyata benda ini bukan sabuk dewa tapi ular piton raksasa”” tapi teriakan minta tolong itu tampaknya sia-sia belaka. Karena ular piton itu terlampau besar dan akhirnya matilah Harimau tesebut dengan tulang-tulang yang remuk.

Adapun Kancil yang nyawanya terselamatkan karena kecerdikannya memulai petualangan barunya di belantara hutan.
Nama.Depan - 06/06/2010 03:27 PM
#193

kaskus ID : nama.depan

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita rakyat berjudul asal usul telaga warna

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/asal-usul-telaga-warna.html


Spoiler for


Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Raja dan ratu sangant bijaksana sehingga kerjaan yang dipimpin makmur dan tenteram.

Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.

Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.

Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri yang diberinama Gilang Rukmini . Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.

Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.

Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.

Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.

Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.

Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.

Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.

Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba meledaklah tangis Ratu Purbamanah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya.Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.

Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.

verditch - 08/06/2010 10:36 AM
#194

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat Berjudul Gunung Balak

sumber : Buku "Cerita Rakyat dari Lampung 2" oleh Naim Emel Prahana

keterangan : cerita rakyat dari daerah lampung

Spoiler for
Quote:
Menurut cerita orang2 tua di Lampung,pada zaman penjajahan dahulu bnyk orang menuntut ilmu sakti di berbagai tempat yg diyakini mempunyai penunggu.Salah satu tempat yg diyakini itu adalah daerah yg keadaan alamnya berbukit2.Daerah itu terkenal keangkerannya.Hanya orang yg berani dan bermental kuat yg dapat pergi ke situ.

Salah satu cerita yg msh ada di tengah2 masyarakat Lampung,terutama di kalangan orang2 tua,mengatakan bahwa di masa perjuangan dahulu Gunung Balak tidak hanya digunakan sebagai tempat menuntut ilmu.Daerah itu juga digunakan sebagai tempat pelarian oleh para penjahat,bahkan beberapa kelompok menjadikannya sarang. Mereka yakin tidak ada orang yg berani masuk ke daerah Gunung Balak itu.

Demikian pula orang2 yg menuntut ilmu kesaktian,mereka merasa aman bertapa atau bersemedi di Gunung Balak karena jauh dari keramaian.Secara tidak tertulis,orang2 yg masuk ke Gunung Balak memiliki satu ikatan.Mereka tidak boleh saling mengganggu.Para penjahat boleh melakukan kejahatannya,demikia pula yg mau menuntut ilmu,silakan terus dengan kegiatannya.

Orang yg masuk ke dalam Gunung Balak ibarat sudah hilang dari permukaan bumi.Tidak sedikit orang yg menuntut ilmu disana mati begitu saja.Mungkin mayatnya dimakan binatang buas yg pada saat itu msh bnyk berkeliaran.Orang2 yg menuntut ilmu disana menggunakan cara2 yg aneh.Contohnya,bila ingin menguasai ilmu menahan napas,seseorg menyiksa dirinya dengan cara menggantungkan tubuhnya di sahan pohon yg tinggi dalam posisi terbalik.kedua kakinya diikat dgn tali sementara kepalanya menggantung di bawah. Itu dilakukannya berhari2 bahkan berminggu2 sampai ilmu yg diharapkan datang.Ilmu itu datang dgn berbagai cara pula,seperti melalui mimpi,kedatangan godaan makhluk halus,dan diberi benda berupa keris,baju,atau benda lainnya.

Tentu saja,pekerjaan sepeti itu tidak mudah dilakukan.Mereka harus menahan lapar dan haus dalam waktu yg lama.Di saat2 tertentu,mereka harus siap menahan godaan makhluk halus yg sering menjelma menjadi manusia atau binatang, serta mengeluarkan suara2 aneh.Kadang2 disertai dengan pukulan tanpa diketahui siapa pelakunya.

Bila seseorang dapat bertahan dari semua yg ditemuinya di Gunung Balak,menurut cerita orang Lampung,orang itu pasti berhasil mendapatkan ilmu. Ilmu yg didapatinya sesuai dgn wangsit(petunjuk) yg didapat selama bertapa.

Lama kelamaan Gunung Balak menjadi nama yg menakutkan.Sampai ketika penduduk Lampung ditambah dengan kaum kolonis dari Jawa semakin banyak,Gunung Balak dijadikan tempat berusaha.Usaha itu meliputi bidang pertanian,perkebunan,dan pertambangan galian C yg sangat menguntungkan petani.Akhirnya,daerah itu berkembang menjadi wilayah pemukiman,yg dikenal sebagai wilayah kecamatan Gunung Balak.Sejak saat itu,keangkeran Gunung Balak seakan2 tidak ada lagi.Yang ada disana adalah keindahan alam dan perkampungan.Pembangunan di berbagai bidang maju pesat.

Kemudian mulai tahun 1982 sampai tahun 1983 dilakukan pemindahan penduduk dari sembilan buah desa yg ada dikecamatan Gunung Balak.Program pemindahan penduduk itu terus dilanjutkan sampai tahun 1988 dengan memindahkan sebanyak 367 kepala keluarga dari desa terakhir yaitu Desa Srimulyo yg berpenduduk 1.581 jiwa.Pemindahan penduduk dari seluruh desa di kecamatan Gunung Balak adalah untuk perluasan hutan lindung.

Selanjutnya,daerah Gunung Balak yg seluas 24.248,30 hektare itu dijadikan kawasan hutan lindung.Untuk mengosongkan kawasan itu pemerintah menggunakan petugas keamanan.Orang yg masuk ke daerah itu akan dianggap sebagai pencuri kayu.Sejak saat itu Gunung Balak kembali menjadi hutan.Keadaan itu membangkitkan cerita lama tentang keangkeran Gunung Balak.Banyak yg mengatakan bahwa di daerah itu sering terdengar suara hiruk pikuk,suara gergaji mesin,kemudian ada pula orang2 bertopeng yg berkeliaran.Banyak pula saksi mata yg mengatakan bahwa Gunung Balak kembali dijadikan sebagai sarang penjahat.

Itulah Gunung Balak,selalu saja angker dari dahulu sampai sekarang .Konon di tahun 1987,ditemukan berbagai macam benda yg terbuat dari emas.Ada yg berupa periuk,berupa kuali,dan berupa alat dapur lainnya.Untuk mendapatkan benda itu,kita harus membawa orang “pintar”. Kalau tidak,korban akan jatuh sesuai permintaan penunggu gunung.

Penulis juga pernah didatangi beberapa orang yg mengajak pergi ke Gunung Balak karena di anggap punya kepandaian soal kebatinan.Permintaan ditahun 1987 itu ditolak penulis karena penulis memang tidak mempunyai ilmu seperti itu.

Ternyata,Gunung Balak tetap angker walaupun sekarang sudah zaman teknologi canggih. Banyak orang yg sudah tidak percaya pada hal2 berbau takhayul,tetapi kenyataannya,orang tetap saja mempercayai cerita tentang Gunung Balak.

Kesimpulan:
Dari cerita di atas kita bisa melihat bahwa pada saat ini masih banyak masyarakat kita yg percaya terhadap hal2 yg berbau takhayul.
Cerita Gunung Balak merupakan cerita nenekk moyang kita yg pada zaman dahulu sangat gigih mempertahankan tanah airnya dari keserakahan penjajah.Nenek moyang kita tidak mudah putus asa walaupun ditindas dengan berbagai cara.Hal itu perlu diteruskan oleh kita generasi muda agar menjadi generasi yg kooh,teguh,dan bermatabat.
Nama.Depan - 09/06/2010 03:45 PM
#195

kaskus ID : Nama.Depan

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Asal Usul nama Sumatera

sumber : unik77.blogspot.com


Spoiler for


NAMA asli Pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau.

Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (”pulau emas”) atau Suwarnabhumi (”tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.

Nama.Depan - 09/06/2010 03:48 PM
#196

kaskus ID : Nama.Depan

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : asal usul kota banjarmasin

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/asal-usul-kota-banjarmasin.html

Spoiler for


Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Kaburangan. Konon, Sekar Sungsang seorang penganut Syiwa. la mendirikan candi dan lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakan berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, Pangeran Mangkubumi-lah yang naik takhta.

Kerajaan tidak hentinya mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan. Konon, siapa pun menduduki takhta akan merasa tidak aman dari rongrongan. Pangeran Mangkubumi akhirnya terbunuh dalam suatu usaha perebutan kekuasaan. Sejak itu, Pangeran Tumenggung menjadi penguasa kerajaan.

Pewaris kerajaan yang sah, Pangeran Samudera, pasti tidak aman jika tetap tinggal dalam Lingkungan kerajaan. Atas bantuan patih Kerajaan Nagara Daha, Pangeran Samudera melarikan diri. Ia menyamar dan hidup di daerah sepi di sekitar muara Sungai Barito. Dari Muara Bahan, bandar utama Nagara Daha, mengikuti aliran sungai hingga ke muara Sungai Barito, terdapat kampung-kampung yang berbanjar-banjar atau berderet-deret melintasi tepi-tepi sungai. Kampung-kampung itu adalah Balandean, Sarapat, Muhur, Tamban, Kuin, Balitung, dan Banjar.

Di antara kampung-kampung itu, Banjar-lah yang paling bagus letaknya. Kampung Banjar dibentuk oleh lima aliran sungai yang muaranya bertemu di Sungai Kuin.

Karena letaknya yang bagus, kampung Banjar kemudian berkembang menjadi bandar, kota perdagangan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Bandar itu di bawah kekuasaan seorang patih yang biasa disebut Patih Masih. Bandar itu juga dikenal dengan nama Bandar Masih.

Patih Masih mengetahui bahwa Pangeran Samudera, pemegang hak atas Nagara Daha yang sah, ada di wilayahnya. Kemudian, ia mengajak Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, dan Patih Kuin untuk berunding. Mereka bersepakat mencari Pangeran Samudera di tempat persembunyiannya untuk dinobatkan menjadi raja, memenuhi wasiat Maharaja Sukarama.

Dengan diangkatnya Pangeran Samudera menjadi raja dan Bandar Masih sebagai pusat kerajaan sekaligus bandar perdagangan, semakin terdesaklah kedudukan Pangeran Tumenggung. Apalagi para patih tidak mengakuinya lagi sebagai raja yang sah. Mereka pun tidak rela menyerahkan upeti kepada Pangeran Tumenggung di Nagara Daha.

Pangeran Tumenggung tidak tinggal diam menghadapi keadaan itu. Tentara dan armada diturunkannya ke Sungai Barito sehingga terjadilah pertempuran besar-besaran. Peperangan berlanjut terus, belum ada kepastian pihak mana yang menang. Patih menyarankan kepada Pangeran Samudera agar minta bantuan ke Demak. Konon menurut Patih Masih, saat itu Demak menjadi penakluk kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa dan menjadi kerajaan terkuat setelah Majapahit.

Pangeran Samudera pun mengirim Patih Balit ke Demak. Demak setuju nnemberikan bantuan, asalkan Pangeran Samudera setuju dengan syarat yang mereka ajukan, yaitu mau memeluk agama Islam. Pangeran Samudera bersedia menerima syarat itu. Kemudian, sebuah armada besar pun pergi menyerang pusat Kerajaan Nagara Daha. Armada besar itu terdiri atas tentara Demak dan sekutunya dari seluruh Kalimantan, yang membantu Pangeran Samudera dan para patih pendukungnya. Kontak senjata pertama terjadi di Sangiang Gantung. Pangeran Tumenggung berhasil dipukul mundur dan bertahan di muara Sungai Amandit dan Alai. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Panji-panji Pangeran Samudera, Tatunggul Wulung Wanara Putih, semakin banyak berkibar di tempat-tempat taklukannya.

Hati Arya Terenggana, Patih Nagara Dipa, sedih melihat demikian banyak korban rakyat jelata dari kedua belah pihak. Ia mengusulkan kepada Pangeran Tumenggung suatu cara untuk mempercepat selesainya peperangan, yakni melalui perang tanding atau duel antara kedua raja yang bertikai. Cara itu diusulkan untuk menghindari semakin banyaknya korban di kedua belah pihak. Pihak yang kalah harus mengakui kedaulatan pihak yang menang. Usul Arya Terenggana ini diterima kedua belah pihak.

Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera naik sebuah perahu yang disebut talangkasan. Perahu-perahu itu dikemudikan oleh panglima kedua, belah pihak. Kedua pangeran itu memakai pakaian perang serta membawa parang, sumpitan, keris, dan perisai atau telabang.

Pangeran Samudera Asal Mula Nama Kota BanjarmasinMereka saling berhadapan di Sungai Parit Basar. Pangeran Tumenggung dengan nafsu angkaranya ingin membunuh Pangeran Samudera. Sebaliknya, Pangeran Samudera tidak tega berkelahi melawan pamannya. Pangeran Samudera mempersilakan pamannya untuk membunuhnya. Ia rela mati di tangan orang tua yang pada dasarnya tetap diakui sebagai pamannya.

Akhirnya, luluh juga hati Pangeran Tumenggung. Kesadarannya muncul. la mampu menatap Pangeran Samudera bukan sebagai musuh, tetapi sebagai keponakannya yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya sendiri. Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya. Kemudian, Pangeran Samudera dipeluk. Mereka bertangis-tangisan.

Dengan hati tulus, Pangeran Tumenggung menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudera. Artinya, Nagara Daha ada di tangan Pangeran Samudera. Akan tetapi, Pangeran Samudera bertekad menjadikan Bandar Masih atau Banjar Masih sebagai pusat pemerintahan sebab bandar itu lebih dekat dengan muara Sungai Barito yang telah berkembang menjadi kota perdagangan. Tidak hanya itu, rakyat Nagara Daha pun dibawa ke Bandar Masih atau Banjar Masih. Pangeran Tumenggung diberi daerah kekuasaan di Batang Alai dengan seribu orang penduduk sebagai rakyatnya. Nagara Daha pun menjadi daerah kosong.

Sebagai seorang raja yang beragama Islam, Pangeran Samudera mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah. Hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, 24 September 1526, dijadikan hari jadi kota Banjar Masih atau Bandar Masih.

Karena setiap kemarau landang (panjang) air menjadi masin (asin), lama-kelamaan nama Bandar Masih atau Banjar Masih menjadi Banjarmasin.

Akhirnya, Sultan Suriansyah pun meninggal. Makamnya sampai sekarang terpelihara dengan baik dan ramai dikunjungi orang. Letaknya di Kuin Utara, di pinggir Sungai Kuin, Kecamatan Banjar Utara, Kota Madya Daerah Tingkat II Banjarmasin.

Setiap tanggal 24 September Wali Kota Madya Banjarmasin dan para pejabat berziarah ke makam itu untuk memperingati kemenangan Sultan Suriansyah atas Pangeran Tumenggung. Sultan Suriansyah adalah sultan atau raja Banjar pertama yang beragama Islam.

verditch - 08/07/2010 07:35 PM
#197

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda dan Cerita Rakyat Danau Kaco Lempur

sumber : www.indoforum.org

keterangan : cerita rakyat dari jambi

Spoiler for
Puti suluh makan adalah seorang wanita cantik dizamannya. Puti suluh makan berasal dari Tanjung Gagak, berdekatan dengan Muara air Dikit atau Ujung Buki Pematang Suo. Dusun Tanjung Gagak dikuasai raja gagak. Nama gagak diambil dari nama sejenis burung yaitu burung gagak

Quote:
Puti suluh makan menurut konon dilahirkan di dusun Tanjung Gagak dan dibesarkan disana. Menurut riwayat sebelumnya "Puti suluh makan" bernama putri letak melintang kenapa diberi nama demikian? Sebab diberi nama melintang karena ada keanehan pada (Maaf) kemaluan atau vagina-nya, adapun yang terdapat pada kemaluan adalah melintang. Dengan keanehan letak vagina itulah maka diberi nama letak melintang.

Wajah cantik, dimiliki oleh gadis letak melintang ini membuat para pemuda dan anak-anak remaja yang ada di desa Tanjung Banuang Dusun Tinggi dan Tanjung Kasri Kegirangan. Dalam wilayah pemuncak nan tigo kaum, punya keinginan atau jatuh cinta kepada puti letak melintang, sehingga namanya begitu populer seantero negeri itu. Karena kecantikan dan kemolekannya banyak anak-anak raja dan pemuda waktu itu berkeinginan melamarnya. Namun Puti Letak Melintang setiap lamaran diterima oleh Bapaknya sulit sekali raja gagak menolak lamaran. Sehingga lamaran sudah bertumpuk membuat raja gagak bingung siapa diantara mereka diterima lamarannya.

Titipan tanda ikatan janji seperti emas dan intan diberikan anak raja dan pemuda seantaro kawasan negeri itu kepada Puti letak Melintang telah memenuhi kendi kecil yang terbuat dari tanah. Keinginan anak raja dan pemuda terhadap puti ini membuat ayah Puti Letak Melintang juga jatuh cinta pada anaknya, hingga membuat niat durjana dan gilanya bangkit, bahkan ingin menikah dengan anaknya untuk dijadikan isteri.

Makin hari keinginan menikahi anaknya makin kuat, maka akhirnya niat jahat untuk mesum dengan anak sendiri diketahui oleh isterinya, rupanya terjadilah pertengkaran antara raja gagak dengan isteri, serta timbul niat jahat membunuh isterinya. Setelah isterinya meninggal raja gagak membawa anaknya Puti untuk pindah ke Gunung Kunyit bagian barat, dipinggiran Sungai Manjuto. Kemudian menetap disana dan mendirikan desa (sekarang masih ada bekas atau peninggalan didesa itu diberi nama Dusun Batong Limok Purot).

Kawasan yang dihuni oleh Raja gagak dan anaknya puti beserta rakyatnya tidak aman untuk di tempati sebagai sebuah pemukiman, karena sangat liar dan penuh dengan binatang buas, terutama ular. setiap hari mereka diganggu oleh ular yang banyak sekali, baik dalam maupun luar rumah. Merasa tidak aman tinggal di negeri itu, maka raja gagak membawa anaknya lari dari rakyatnya dengan membawa emas dan intan yang dipersembahkan sebagai tanda ikatan janji dari anak raja dan pemuda setempat yang tersimpan di kendi tanah.

Sewaktu dibawa lari, tidak beberapa lama kemudian, konon menurut kabar waktu itu anaknya hamil oleh bapak sendiri. Kemudian raja gagak punya rencana ingin pergi ke Tanjung Kasri. Setelah sampai di Muara Lambing Sungai Manjuto, raja gagak membatalkan niatnya. Kepergian raja gagak hendak menyembunyikan emas dan intan yang ada di dalam kendi ke dalam lubuk Muara Labing, namun sang raja gagal untuk menyembunyikannya. Karena membiaskan cahaya kemilau pada alam sekitarnya. Ia takut bila kelak di temukan dan diambil oleh orang yang akan lewat dekas sana "kalau saya simpan, karena kemilau pada alam sekitar, nanti diambil orang. Lebih baik saya simpan di tempat yang lebih aman", Kata Raja Gagak membathin.

Kemudian Raja Gagak mengambil kembali kendi Guci tadi dan berjalan mengikuti Arus Sungai Manjuto-Lempur, tidak beberapa jauh dari Sungai Manjuto Raja Gagak menyembunyikan emas dan intan didasar Danau Kaco. "Baiknya saya simpan didasar Danau Kaco saja. Inikan jauh dari pantauan orang", Kata Raja Gagak sambil membenamkan kendi berisi emas sembahan tersebut ke Dasar Danau Kaco.

(Menurut riwayat Kendi Emas dan Intan yang berkilau didasar Danau Kaco diyakini masyarakat setempat masih tersimpan didasar Danau Kaco Itu. Percobaan pengambilan emas ini telah membuat Lisyuar Yusuf warga Koto Payang meninggal dunia). Setelah Raja Gagak menyembunyikan atau menyimpan emas dan intan di dasar Danau Kaco, maka ia pun melanjutkan perjalanan menuju Bukit lintang. Bersama dengan anaknya "Puti Letak Melintang". Setelah sampai di puncak bukit lintang. Raja gagak berpikir panjang dan panik. Karena anaknya sudah hamil karena perbuatannya sendiri. Disisi lain memikirkan emas dan intan yang sudah diambinya sebagai tanda ikatan cinta dari anak-anak raja di wilayah kerinci lainnya.

Karena sudah hamil dan sangat malu, maka raja berpantun "Bukit Lintang, kena cahaya matahari pagi. Puti Letak Melintang bila membawa membikin intang (masalah), bila ditinggal membawa sedih hati". Aku malu pada diriku dan pinangan orang kutolak. Lebih baik aku membunuh Puti Letak Melintang", Katanya membathin dalam hati. Setelah Raja Gagak Berpantun, kemudian ia memotong dan membunuh anaknya dengan keris.

Puti Letak melintang dimakamkan di Puncak Bukit Lintang, tepatnya dipuncak Bukit Lintang kanan jalan Ipuh-Lempur. Sementara terdapat Buyang tapan yang selalu dibawanya dan berupa sebentuk jangki. Barang tersebut terbuat dari bambu kepunyaan bukit melintang bergulir dan jatuh kearah bukit giwo. Konon, Buyang ini menjelma menjadi ular sawo, ular besar.

Versi lain yang berkembang, Puli suluh Makan bila makan dalam gelap telunjuk jarinya bercahaya, bagaikan lampu (suluh). Cerita lain, buyang tapan yang menjelma jadi ular bisa diketemukan bila anda menempuh perjalanan ipuh lempur. (cerita ini diangkat dari cerita rakyat lempur - sumber terpilih )
verditch - 17/07/2010 07:18 PM
#198

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Jayaprana dan Layonsari

sumber : baliohbali.blogspot.com

keterangan : Cerita Rakyat Bali

Spoiler for

Quote:
Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalan seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan dirimengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya.

Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.

Beberapa tahun kemudian

Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.

Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.

I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikimpoikan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkimpoiannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.

Menjelang hari perkimpoiannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkimpoian I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.
Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.

Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.

Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:

“ Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.

Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.
verditch - 17/07/2010 07:26 PM
#199

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Kura-kura dan Angsa

sumber : baliohbali.blogspot.com

keterangan : Cerita Rakyat Bali

Spoiler for
Quote:
Ada sepasang Kura-Kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sana. Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa. Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasang binatang itu sudah lama bersahabat.

Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya karena angsa tidak bisa hidup tanpa air, maka kami akan meninggalkan telaga Kumdawati ini menuju telaga Manasasaro di pegnungan Himalaya. Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu.

Akhirnya kura-kura memutuskan untuk ikut bersama dengan angsa. Angsa kemudian mau mengajak kura-kura pergi bersama dengan dirinya yaitu dengan cara kura-kura menggigit tengah-tengah kayu dan angsa yang akan memegang ujung-jungnya. Tetapi dengan persyaratan jangan lengah, janganlah sekali-kali berbicara dan jangan melihat di bawah atau jika ada orang yang bertanya jangan sekali menjawab. Kura-kura lalu berpegangan di tengah-tengah kayu dengan mulutnya, sedangkan kedua ujung-ujungnya dipegang oleh angsa.

Setelah tepat berada di tanah lapang Wila Jenggala ada sepasang anjing srigala yang berlindung di bawah pohon mangga yang jantan bernama Si Nohan dan yang betina Si Bayan. Srigala betina melihat ke atas dilihatnya angsa terbang membawa sepasang kura-kura lalu Srigala berkata pada suaminya, ayah cobalah lihat ke atas betapa aneh angsa terbang membawa sepasang kura-kura. Srigala jantan menjawab itu bukan kura-kura namun itu adalah kotoran sapi. Demikian omongan tersebut didengar oleh kura-kura, mendengar kura-kura dibilang kotoran sapi oleh Srigala, kura-kura lalu marah dan melepaskan gigitannya pada kayu dan akhirnya kura-kura itu jatuh dan dimakan oleh srigala. Angsa tinggal dengan perasaan kecewa dan menyayangkan kenapa kura-kura tidak mau mendengarkan nasehatnya.
TuaGila - 26/07/2010 02:17 AM
#200

kaskus ID : TuaGila

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Asal Desa Sapundu Hantu

sumber : catatan pribadi

keterangan : Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Spoiler for
Kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah terkenal dengan falsafah rumah betangnya, setiap pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga dilakukan secara handep haruyung atau bergotong-royong. Demikianlah pula halnya dengan perilaku penduduk di hulu sungai Seruyan, di sebuah dusun pedalaman pada zaman dahulu kala, di saat musim menanam padi di ladang.
Tradisi bergantian menanam itu dilakukan oleh sebuah keluarga, yang kini giliran lahannya untuk ditanami, karena pada hari-hari sebelumnya ia sudah membantu di lahan keluarga lain. Warga dusun pun berangkat dengan perahu menyeberang sungai menuju ke ladang, tidak terkecuali anak-anak kecil juga dibawa serta dari pada ditinggalkan di rumah, sebab tidak ada yang menjaganya.
Di ladang itu ada sebuah gubug, maka ditinggalkanlah kedua anak laki-laki dari keluarga yang ditanami ladangnya itu oleh orang tuanya. Keduanya masih tanggung untuk dibawa bekerja, karena baru berusia empat dan tiga tahun. Mereka berdua dipesani agar jangan jauh bermain serta tetap berada di gubug. Orang-orang itu, tua dan muda, lalu sibuk bekerja sambil bersenda-gurau, kadang diselingi dengan gelak tawa untuk menghilangi rasa lelahnya.
Sementara itu kedua anak pemilik ladang tadi asyik bermain. Tiba-tiba mereka melihat seekor belalang besar hinggap di dekat mereka. Kedua anak itu heran melihat bentuk belalang itu yang agak lain dari biasanya, keanehannya adalah warna sayapnya yang berwarna-warni dan kepalanya seperti raut muka manusia. Berhentilah kedua anak itu bermain dan sepakat untuk menangkap belalang tersebut.
Keduanya mencoba menangkapinya namun gagal, sebab belalang itu melompat dan hinggap di daun pada semak-semak dekat gubug. Mereka turun dari gubug, penasaran mengejar untuk menangkapnya dan senantiasa gagal. Saking asyiknya mengejar, sementara belalang itu selalu dapat meloloskan diri. Tanpa keduanya menyadari mereka sudah berada di tepi sungai.
Sang kakak lalu berkata : “Sulit untuk kita menangkapnya, baiknya kita pukul saja dengan ranting kayu”. Kebetulan di tempat itu ranting kayu mudah diperoleh, bekas tebangan pohon kecil, jalan untuk ke ladang. Dalam satu kali pukulan saja kenalah belalang itu lalu jatuh ke tanah, belalang itu mati.
Kemudian bangkai belalang itu dipungut sang adik seraya membentangkan sayapnya, sementara sang kakak memperhatikan bangkai belalang itu sambil menusuk mukanya dengan ranting.
Kemudian keduanya turun ke tepi sungai, membenamkan bangkai belalang itu beberapa kali ke dalam air sungai. Karena asyiknya mempermainkan belalang itu, tanpa mereka sadari belalang tersebut berubah wujud, sayapnya perlahan-lahan berubah menjadi seperti tangan manusia.
Sang kakak ternyata melihat hal itu dan berkata : “Dik, cepat lepaskan. Mari kita pulang ke gubug !” Belalang itu ternyata adalah seorang jin penghuni hutan di sekitar ladang itu.
Badannya yang besar dan berwarna kemerah-merahan dengan mukanya yang remuk karena tusukan anak yang tertua tadi, masih dapat berucap dan mengutuk semoga semua mereka yang berada di ladang itu mati disambar petir.
Maka datanglah angin ribut disertai guntur dan petir, suasana menjadi gelap. Kedua anak tersebut telah sampai di gubug sambil berteriak memanggil orang tuanya serta semua mereka yang bekerja itu : “Ayah ! Ibu ! Tolong pulanglah semuanya !”
Melihat cuaca yang berubah itu mereka yang sedang bekerja di ladang serentak berhenti dan berlarian pulang menuju ke arah gubug. Hampir tiba, hanya beberapa langkah lagi ke gubug, bersamaan dengan itu pula sebuah petir yang besar menyambar mereka dan gubug itu. Sesaat langit menjadi gelap pekat dan ….. gubug itu dengan dua orang anak berada di dalamnya serta gerombolan orang banyak yakni orang tuanya dan warga dusun yang bergotong-royong tadi tertutup bongkahan batu besar, semuanya terkurung namun masih hidup. Angin bertiup kencang diiringi hujan lebat.
Tidak berapa lama kemudian langit menjadi terang, hujan badai dan angin ribut tiba-tiba menghilang. Mereka yang ada di dalam gundukan batu berteriak saling memanggil dan meminta tolong.
Orang-orang di dusun tidak kalah kagetnya menghadapi perubahan cuaca itu. Mereka lalu keluar dari rumahnya dan teringat pada keluarga mereka yang handep haruyung di ladang. Dengan serempak mereka menyeberang.
Setibanya di seberang mereka mendengar jeritan serta teriakan meminta tolong, bergegas mereka menuju ke ladang. Suara itu semakin jelas. Alangkah terperanjatnya mereka karena terlihat di sana ada dua buah batu besar dan suara jeritan serta teriakan tersebut berasal dari dalamnya.
Sebagian lalu berusaha memecahkan kedua gundukan batu itu dengan palu, namun tidak berhasil karena sangat besarnya. Sedang yang lainnya memahat membuat lubang untuk mengeluarkan orang-orang itu.
Batu tersebut sudah berlubang seukuran badan manusia, mereka melihat tubuh orang-orang yang berada di dalam batu berwarna agak hitam dan kemerah-merahan karena bekas disambar petir itu.
Kemudian mereka berusaha untuk mengeluarkannya, namun hanya mampu sebatas kepala dan bahu yang keluar, karena lubang tersebut perlahan-lahan menyempit kembali, sehingga terpaksa didorong ke dalam lagi agar tidak terjepit.
Semua warga bergantian kembali memahat kedua gundukan batu itu, tetapi sesudah lubang sebesar tubuh manusia, kembali menyempit dan hanya tersisa sebesar kepalan tangan. Mereka pun jadi putus asa. Sementara itu sebagian warga balik ke dusun mengambil makanan dan mengabarkan kejadian itu kepada warga yang lain.
Seorang warga bertanya lewat lubang pada mereka yang berada dalam gundukan batu yang terbesar : “Hei pahari (saudara) apa gerangan sebabnya hingga terjadi seperti ini ?”
“Entahlah, aku pun tidak tahu. Hanya kudengar suara kedua anakku yang berteriak meminta kami semua untuk pulang ke gubug. Aku tak sempat menanyainya, ketika hampir sampai ke gubug kami disambar petir dan terkurung dalam batu seperti ini. Coba kalian tanya saja pada anakku”, kebetulan yang menjawab adalah ayah kedua anak itu sendiri.
Sambil menangis dan berteriak-teriak kedua anak yang terkurung di gubug yang kini telah berubah menjadi batu menceriterakan asal mula kejadiannya. Maka tahulah mereka bahwa keluarga tersebut saluh (tubuh atau tempat di sekitar seseorang berubah menjadi batu) kena kutukan jin penunggu hutan sekitar tempat itu.
Warga berdatangan membawakan makanan, namun hanya bisa diletakkan di depan lubang, dan mereka yang berada di dalam kedua gundukan batu itu hanya dapat mengambilnya dengan mengulurkan tangannya.
Sanak saudara dari keluarga kedua anak itu dan warga dusun silih berganti menunggu di depan lubang batu, sambil mengadakan rangkaian upacara ritual serta membuat kotak atau rumah kecil dengan satu tiang di depan lubang pada kedua batu tersebut, sebagai tempat meletakkan makanan. Hari berganti hari dan setelah beberapa minggu kemudian, tidak terdengar lagi suara tangisan dari dalam kedua gundukan batu itu.
Keluarga mereka dan segenap warga dusun menganggap bahwa mereka yang ada di dalamnya sudah meninggal semua. Seluruh warga dusun dan terlebih-lebih keluarga dua anak tadi berkabung sangat sedihnya, dan kabar ini pun tersebar hingga ke desa-desa tetangga.
Di depan kedua lubang batu tersebut dibuat keramat tempat menaruh sesajen, sementara di kampung pada setiap rumah warga dusun yang anggota keluarganya ikut saluh saat handep haruyung itu, dibuatkan sapundu (patung kayu) sesuai jumlah orang yang terkurung dalam bongkah batu tersebut.
Bukit di seberang dusun dimana terletak kedua bongkahan batu itu dinamakan bukit Sakajang, dan sampai sekarang keluarga keturunan yang saluh dalam batu itu tetap memberikan sesajen di dalam keramat sebagai bentuk rasa duka dan belasungkawa yang tiada habisnya.
Warga dusun itu yang lama kelamaan berkembang menjadi sebuah desa menamakan tempat mereka itu Sapundu Hantu (dalam bahasa Dayak Ngaju hantu berarti mayat) sampai sekarang. Desa Sapundu Hantu kini termasuk dalam wilayah kecamatan Seruyan Hulu kabupaten Seruyan. ***


Isen Mulang Petehku
Page 10 of 13 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel