Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797
Page 1.5 of 13 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

sejuta bintang - 07/10/2009 12:43 PM
#11

Kaskus ID : sejuta bintang

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Serangan Hantu Topan Kalahkan Raja Sitambago

Sumber : Suara Silungkang – Edisi Kesembilan Maret 2008

Keterangan : Cerita rakyat dan legenda asal Sawahlunto, Silungkang dan Padang Sibusuk

Spoiler for cerita

Alkisah, lebih kurang tahun 1600 Masehi, ada sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang Raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana, rakyatnya hidup rukun dan damai.

Kerajaan kecil tersebut bernama Kerajaan Sitambago, sesuai dengan nama rajanya Sitambago. Daerah kekuasaannya di sebelah utara berbatas dengan nagari Kolok, di sebelah Timur berbatasan dengan Bukit Buar / Koto Tujuh, di sebelah selatan berbatas dengan nagari Pamuatan dan di sebelah barat berbatas dengan nagari Silungkang dan nagari Kubang.

Kerajaan Sitambago mempunyai pasukan tentara yang kuat dan terlatih. Pusat kerajaan Sitambago berada di sebuah lembah yang dilalui oleh sebuah sungai yang mengalir dari Lunto, pusat kerajaan Sitambago tersebut diperkirakan berada di tengah kota Sawahlunto sekarang. Sudah menjadi adat waktu itu, nagari-nagari dan kerajaan-kerajaan berambisi memperluas wilayahnya masing-masing, memperkuat pasukannya dan menyiapkan persenjataan yang cukup seperti tombak, galah, keris, parang, panah baipuh (panah beracun) dan lain-lain, senjata tersebut digunakan untuk menyerang wilayah lain atau untuk mempertahankan diri apabila diserang.

Di Silungkang / Padang Sibusuk, pasukan Gajah Tongga Koto Piliang disamping mempunyai senjata tombak, keris, galah, parang dan panah juga punya senjata yang tidak punyai oleh daerah lain, yaitu senjata api SETENGGA, senjata api standar Angkatan Perang Portugis. Orang Portugis yang ingin membeli emas murni ke Palangki harus melalui Buluah Kasok (Padang Sibusuk sekarang) dan berhadapan dengan Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang terlebih dahulu, entah dengan cara apa, senjata api SETENGGA lengkap dengan peluruhnya berpindah tangan ke Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang.

Guna memperluas wilayah, diadakanlah perundingan antara Pemuka Nagari Silungkang / Padang Sibusuk dengan pemuka Nagari Kubang untuk menyerang kerajaan Sitambago, maka didapatlah kesepakatan untuk menyerang kerajaan Sitambago tersebut, penyerangan dipimpin oleh Panglima Paligan Alam. Strategi penyerangan diatur dengan sistim atau pola pengepungan, dimana tentara Silungkang / Padang Sibusuk mengepung dari daerah Kubang Sirakuk dan tentara Kubang dari jurusan Batu Tajam dan dataran tinggi Lubuak Simalukuik, dengan sistim atau pola pengepungan tersebut akan membuat tentara Sitambago tidak dapat bergerak dengan leluasa.

Maka tibalah hari H pertempuran, kerajaan Sitambago telah dikepung, tentara dan penduduk kerajaan Sitambago jadi panik, ruang gerak semakin sempit. Melihat kepanikan tersebut, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan korban yang banyak, Panglima Paligan Alam menyerukan supaya Raja Sitambago beserta tentara dan rakyatnya menyerah, namun seruan niat baik Panglima Paligan Alam itu tidak digubris sedikitpun oleh Raja Sitambago, malahan Raja Sitambago siap untuk berperang, terbukti dihimpunnya balatentara dengan jumlah yang besar dan dikibarkannya bendera perang, pasukan langsung dipimpin oleh Raja Sitambago dengan gagah berani dan terjadilah pertempuran yang sengit.

Secara perdana, untuk jolong-jolong kalinya tentara Silungkang / Padang Sibusuk mempergunakan senjata api SETENGGA, suara letusan senjata SETENGGA menggelegar dan balatentara beserta penduduk kerajaan Sitambago baru kali ini mendengar letusan yang dahsyat serta membuat ciut hati mereka. Banyak tentara dan penduduk kerajaan Sitambago yang tewas akibat peluru SETENGGA, termasuk Raja Sitambago tersungkur bersimbah darah terkena tembakan senjata SETENGGA yang kemudian senjata tersebut dinamakan oleh mereka senjata HANTU TOPAN. Tentara dan penduduk kerajaan Sitambago mundur dan lari kocar-kacir meninggalkan wilayahnya, pusat kerajaan dan kemudian dikuasai oleh balatentara Panglima Paligan Alam.

Setelah perang usai, balatentara Silungkang / Padang Sibusuk dan Kubang yang dipimpin oleh Panglima Paligan Alam kembali ke nagari masing-masing, sedangkan wilayah pusat kerajaan Sitambago (kota Sawahlunto sekarang) terbiar begitu saja. lahan yang terbiar dan terlantar itu dimanfaatkan oleh anak nagari Lunto untuk bercocok tanam, dibuatlah persawahan, sehingga wilayah tersebut menjadi SAWAH yang digarap oleh orang Lunto. Sementara kepemilikan dan hak tanah tetap berada pada anak nagari Silungkang / Padang Sibusuk dan anak nagari Kubang yang telah memenangi peperangan dengan kerajaan Sitambago.

Disisi lain kaum keturunan Sitambago masih ada sampai sekarang disekitar daerah Pamuatan dan Santur.

Kisah ini disajikan oleh Djasril Abdullah untuk kedua kalinya yang sebelumnya dimuat pada Buletin Silungkang-Koba Anak Nagori edisi Desember 2002 / Januari 2003, halaman 54 yang disalin dan divariasi dari arsip Kantor Wali Nagari Silungkang dan kisah ini diriwayatkan oleh Datuak Podo Khatib kampuang Dalimo Kosiak-Penghulu Kepala Nagari Silungkang. Panggilan akrab beliau ONGKU PALO PENSIUN seiring dengan masa pensiun yang beliau jalani sejak tahun 1914 sebagai Penghulu Kepala. Beliau menyampaikan kisah ini secara lisan kepada dua orang tokoh Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia yang kini sudah almarhum yaitu SULAIMAN LOBAI dan M. SALEH BAGINDO RATU. Selanjutnya kisah ini ditulis untuk pertama kalinya oleh M. SALEH BAGINDO RATU.
sive - 07/10/2009 02:52 PM
#12

kaskus ID : sive

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : ASAL MUASAL NAMA BANYUWANGI

sumber : http://legendakita.wordpress.com/2008/09/03/asal-usul-kota-banyuwangi/

keterangan : asal Muasal nama BANYUWANGI

Spoiler for asal mula banyuwangi
Quote:
Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
eri_chan cute - 07/10/2009 04:45 PM
#13

]kaskus ID : eri_chan cute

kategori : [B]Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Si Penyumpit

sumber : http://www.ubb.ac.id/featurelengkap.php?judul=Cerita%20Rakyat%20Bangka%20-%20Si%20Penyumpit&&nomoruru t_berita=116

keterangan : Si penyumpit[/B]
Spoiler for Si Penyumpit

Quote:

Cerita Rakyat Bangka - Si Penyumpit

Kepulauan Bangka-Belitung (Babel) adalah salah satu provinsi di Pulau Sumatera, Indonesia. Disebut kepulauan, karena wilayah provinsi ini terdiri dari beberapa pulau. Salah satu di antaranya adalah Pulau Bangka, yang terletak di sebelah timur Pulau Sumatera. Secara topografis, wilayah Pulau Bangka terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, dan perbukitan. Di daerah perbukitan terdapat hutan lebat, sedangkan pada daerah rawa terdapat hutan bakau.

Menurut sebuah cerita yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Pulau Bangka, pada zaman dahulu di daerah perbukitan yang dihampari hutan lebat itu, pernah hidup seorang pemuda yatim-piatu yang miskin. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai pemburu babi hutan. Suatu ketika, pemuda itu mendapat hadiah berupa perhiasan emas, intan permata dan berlian dari seseorang sehingga ia menjadi kaya-raya. Apa sebenarnya yang telah dilakukan pemuda itu, sehingga ia mendapat hadiah yang sangat berharga itu? Ingin tahun jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Penyumpit berikut ini!

* * *

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Pulau Bangka, hiduplah seorang pemuda yang sangat mahir menyumpit binatang buruan. Sumpitannya selalu mengenai sasaran. Oleh karenanya, masyarakat memanggilnya si Penyumpit. Selain mahir menyumpit, ia juga pandai mengobati berbagai macam penyakit. Bakat menyumpit dan mengobati tersebut ia peroleh dari ayahnya.

Pada suatu hari, Pak Raje, Kepala Desa di kampung itu, meminta si Penyumpit untuk mengusir kawanan babi hutan yang telah merusak tanaman padinya yang sedang berbuah, dengan dalih bahwa orang tua si Penyumpit sewaktu masih hidup pernah berhutang kepadanya. Demi membayar hutang orang tuanya, si Penyumpit rela bekerja pada Pak Raje.

Keesokan harinya, berangkatlah si Penyumpit ke ladang Pak Raje untuk melaksanakan tugas. Sesampainya di ladang, ia membakar kemenyan untuk memohon kepada dewa-dewa dan mentemau (dewa babi), agar kawanan babi tersebut tidak merusak tanaman padi Pak Raje. Si Penyumpit kemudian melakukan ronda dengan memantau seluruh sudut ladang hingga larut malam. Sudah tiga malam si Penyumpit meronda, namun belum terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Meskipun situasi aman, si Penyumpit terus berjaga-jaga.

Ketika memasuki malam ketujuh, dari kejauhan tampak oleh si Penyumpit tujuh kawanan babi hutan sedang beriring-iringan hendak memasuki ladang. Satu per satu babi hutan itu melompati pagar batu yang telah dibuat Pak Raje. Mengetahui hal itu, si Penyumpit segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar dengan sumpit di tangan yang siap untuk digunakan. Ketika kawanan babi tersebut mulai mengobrak-abrik tanaman padi yang tak jauh dari pohon tempat ia bersembunyi, dengan hati-hati pemuda itu mengangkat sumpitnya, lalu disumpitkannya ke arah babi yang paling dekat dengannya. Sumpitannya tepat mengenahi sisi sebelah kiri perut babi itu. Sesaat kemudian, kawanan babi itu tiba-tiba menghilang bersama dengan anak sumpitnya. Melihat peristiwa aneh itu, si Penyumpit menjadi penasaran.

Keesokan harinya, si Penyumpit menyusuri ceceran darah hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah gua yang di sekelilingnya ditumbuhi semak-belukar. Dengan hati-hati, pemuda itu memasuki gua tersebut. Sesampainya di dalam, ia sangat terkejut, karena melihat seorang putri yang tergeletak di atas pembaringan yang dikelilingi oleh wanita-wanita cantik. Salah seorang dari wanita tersebut adalah ibu sang Putri.


“Hai, anak muda! Engkau siapa?” tanya ibu sang putri.

“Saya si Penyumpit,” jawab si pemuda dengan ramah.

“Ada perlu apa Engkau ke sini?” tanya ibu sang putri dengan nada menyelidik.

“Saya sedang mencari anak sumpit saya yang hilang bersama dengan seekor babi hutan,” jawabnya.

“Benda yang engkau cari itu ada pada putriku,” kata ibu sang putri.

“Bagaimana bisa anak sumpit saya ada pada putri Bibi?” tanya si Penyumpit heran.

“Ketahuilah, anak muda! Babi yang engkau sumpit itu adalah penjelmaan putriku,‘ jelas ibu sang putri.

Si Penyumpit sangat kaget mendengar penjelasan ibu sang putri.

“Jadi…, kalian adalah babi jadi-jadian?” tanya si Penyumpit dengan heran.

“Benar, anak muda,” jawab ibu sang putri.

“Kalau begitu, saya minta maaf, karena tidak mengetahui hal itu,” kata si Penyumpit dengan rasa menyesal.

“Sudahlah, anak muda. Lupakan saja semua kejadian itu. Yang penting sekarang adalah bagaimana melepaskan benda ini dari perut putriku,” kata ibu sang putri.

“Baiklah. Saya akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati luka putri bibi. Tolong saya dicarikan beberapa helai daun keremunting[1
dan tumbuklah hingga halus,” pinta si Penyumpit.


Untuk memenuhi permintaan itu, ibu sang putri segera memerintahkan beberapa dayangnya untuk mencari daun keremunting yang banyak terdapat di sekitar mereka. Tak berapa lama, dayang-dayang tersebut sudah kembali dengan membawa daun yang dimaksud. Setelah yang diperlukan disiapkan, si Penyumpit mendekati gadis cantik yang sedang terbaring lemas itu, lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tampaklah sebuah benda runcing yang menancap di perut sang putri, yang tidak lain adalah mata sumpit miliknya. Sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra, si Penyumpit mencabut mata sumpit itu dengan pelan-pelan. Setelah mata sumpit terlepas, bekas luka tersebut kemudian ditutupinya dengan daun keremunting yang sudah dihaluskan untuk menahan cucuran darah yang keluar.

Beberapa saat kemudian, luka sang putri sembuh dan tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun.


“Sekarang putri Bibi sudah sembuh. Izinkanlah saya mohon diri,” pamit pemuda itu dengan sopan.

“Baiklah, anak muda! Ini ada oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih kami, karena engkau telah menyembuhkan putriku. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh,[2] daun simpur,[3] dan buah jering.[4] Tapi, bungkusan ini jangan dibuka sebelum engkau sampai di rumah,” pesan ibu sang putri.

“Baik, Bi!” jawab pemuda itu, lalu pergi meninggalkan gua.


Setibanya di rumah, si Penyumpit segera membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya ia, karena isi bungkusan itu tidak seperti yang disebutkan ibu sang putri. Bungkusan itu ternyata berisi perhiasan berupa emas, berlian, dan intan permata.


“Waw…, berharga sekali benda ini!” tanya si Penyumpit dengan rasa kagum.

“Dengan benda ini, aku akan menjadi kaya-raya,” gumamnya dengan perasaan gembira.


Keesokan harinya, si Penyumpit pergi menjual seluruh benda berharga itu kepada seorang saudagar kaya di kampung itu. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli ladang yang luas, rumah mewah, dan melunasi seluruh hutang ayahnya kepada Pak Raje.

Sejak itu, tersiarlah kabar bahwa si Penyumpit telah menjadi kaya-raya. Berita itu juga didengar oleh Pak Raje. Ia pun berniat untuk mengikuti jejak si Penyumpit. Suatu hari, Pak Raje meminjam sumpit pemuda itu dan kemudian pergi berburu babi hutan di ladang miliknya. Dalam perburuannya, ia berhasil menyumpit seekor babi. Setelah itu ia mengikuti jejak dan menemukan babi hutan itu, yang ternyata penjelmaan sang putri. Pak Raje berusaha menyembuhkan luka yang diderita oleh sang Putri, namun tidak berhasil karena ia tidak memiliki keahlian mengobati penyakit. Akhirnya, ia diserang berpuluh-puluh babi hutan. Dengan tubuh yang penuh luka-luka, ia berjalan sempoyongan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Pak Raje langsung tergeletak tidak sadarkan diri, karena tidak tahan lagi menahan rasa sakit.

Putri sulung Pak Raje segera menyampaikan nasib malang yang menimpa ayahnya itu kepada si Penyumpit. Mendengar kabar itu, si Penyumpit segera ke rumah Pak Raje untuk menolongnya. Si Penyumpit kemudian mengobati Pak Raje dengan 7 helai daun. Setelah itu ia membakar kemenyan, lalu menyebut satu per satu anggota tubuh Pak Raje, seperti tangan, kaki, kepala, dan lain-lain. Terakhir, ia menyebut nama Pak Raje. Ketika asap kemenyan itu mengepul, di Penyumpit kemudian membaca mantera. Tak lama kemudian, tampak jari tangan Pak Raje bergerak-gerak. Dengan pelan-pelan ia mengusap-usap matanya hingga tiga kali. Akhirnya, Pak Raje sadarkan diri dan sembuh dari penyakitnya.

Setelah itu Pak Raje insaf (sadar) dan mengakui semua kesalahannya kepada si Penyumpit.


“Terima kasih, Penyumpit! Kamu telah menyembuhkan penyakitku. Aku minta maaf karena telah memaksamu menjaga ladangku. Untuk menebus kesalahanku ini, aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku. Setelah itu, aku akan mengangkatmu menjadi Kepala Desa untuk menggantikanku. Bersediakah kamu menerima tawaranku ini, wahai Penyumpit?” tanya Pak Raje.

“Terima kasih, Pak Raje! Dengan senang hati, saya bersedia,” jawab si Penyumpit.

“Baiklah kalau begitu. Berita gembira ini akan segera aku sampaikan kepada seluruh warga kampung ini,” kata Pak Raje.


Satu minggu kemudian, pernikahan si Penyumpit dengan putri bungsu Pak Raje dilangsungkan dengan meriah. Berbagai macam seni pertunjukan ditampilkan dalam acara tersebut. Pak Raje bersama keluarganya beserta seluruh warga desa turut bergembira atas pernikahan itu. Di akhir acara, Pak Raje menyerahkan jabatannya sebagai Kepala Desa kepada menantunya yang baik hati itu. Sepasang insan yang baru menjadi suami-istri itu hidup berbahagia. Warganya pun hidup tentram dan damai di bawah perintah Kepala Desa yang baru, si Penyumpit.

lucky girl - 08/10/2009 06:23 PM
#14

Kaskus ID: lucky girl
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk Karya: Novel Siti Nurbaya
Sumber: http://mas-bambang.blogspot.com/2009/03/sinopsis-siti-nurbaya.html
Keterangan: sinopsis dari novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli

Spoiler for sinopsis
Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman, ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seorang pedagang yang terkemuka di kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgih.

Pada mulanya usaha perdagangan Baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat. Hal itu tidak dikehendaki oleh rentenir seperti Datuk Maringgih. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgih menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman. Maka dengan seluruh orang suruhanya, yaitu pendekar lima, pendekar empat serta pendekar tiga, serta yang lainnya Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman. Dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar hutang-hutangnya pada Datuk Maringgih. Dan inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Datuk Maringgih. Datuk Maringgih mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutangnya. Boleh hutang tersebut dapat dianggap lunas, asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya, puterinya, kepada Datuk Maringgih.

Menghadapi kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgih. Yaitu menyarahkan puterinya Siti Nurbaya kepada Datuk Maringgih untuk dijadikan istri.

Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda belia harus menikah dengan Datuk Maringgih yang tua bangka dan berkulit kasar seprti kulit katak. Lebih sedih lagi ketika ia teringat Samsulbahri, kekasihnya yang sedang sekolah di stovia, Jakarta. Sungguh berat memang, namun demi keselamatan dan kebahagiaan ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan Datuk Maringgih.

Samsulbahri yang berada di Jakata mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula, kasihnya yang begitu dalam pada Samsulbahri kandas sudah akibat petaka yang menimpa keluarganya.

Pada suatu hari ketika Samsulbahri sedang liburan kembali ke Padang, ia dapat bertemu empat mata dengan Siti Nurbaya yang telah resmi menjadi istri Datuk Maringgih. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgih sehingga terjadi keributan. Datuk Maringgih sangat marah melihat mereka berdua yang sedang duduk bersenda gurau itu, sehingga Datuk maringgih berusaha menganiaya Siti Nurbaya. Samsulbahri tidak mau membiarkan kekasihnya dianiaya, maka Datuk Maringgih dia pukul hingga terjerembab jatuh ketanah. Karena saking kaget dan takut, Siti Nurbaya berteriak-teriak keras hingga teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya yang tengah terbaring karena sakit keras karena derita beruntun yang menimpanya. Mendengar teriakan anak yang sangat dicinatianya itu baginda Sulaiman berusaha bangkit, tetapi akhirnya jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir.

Mendengar itu, ayah Samsulbahri yaitu Sultan Mahmud yang kebetulan menjadi penghulu kota Padang, malu atas perbuatan anaknya. Sehingga Samsulbahri diusir dan harus kembali ke Jakarta dan ia benrjanji untuk tidak kembali lagi kepada keluargannya di Padang. Datuk Maringgih juga tidak tinggal diam, oleh karena itu Siti Nurbaya diusirnya, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunyanya dan tinggal bersama bibinya. Sementara itu Samsulbahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya.

Siti Nurbaya yang mendengar bahwa kekasihnya diusir orang tuanya, timbul niatnya untuk pergi menyusul Samsulbahri ke Jakarta. naumun di tengah perjalanan dia hampir meninggal dunia, ia terjatuh kelaut karena ada seseorang yang mendorongnya. Tetapi Siti Nurbaya diselamatkan oleh seseorang yang telah memegang bajunya hingga dia tidak jadi jatuh ke laut.

Tetapi, walaupun dia selamat dari marabahaya tersebut, tetapi marabahaya berikutnya menunggunya di daratan. Setibanya di Jakarta,Karena dengan siasat dan fitnah dari Datuk Mariggih Siti Nurbaya ditangkap polisi, karena surat telegram Datuk Maringgih yang memfitnah Siti Nurbaya, bahwa dia ke Jakarta telah membawa lari emasnya atau hartanya. Sehingga memaksa Siti Nurbaya kembali dengan perantaraan polisi.

Tak lama kemudian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsulbahri sehingga ia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diri. Akan tetapi mujurlah karena ia tak meninggal. Sejak saat itu Samsulbahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer.

Sepuluh tahun kemudian, dikisahkan dikota Padang sering terjadi huru-hara dan tindak kejahatan akibat ulah Datuk Maringgih dan orang-orangnya. Samsulbahri yang telah berpangkat Letnan dikirim untuk melakukan pengamanan. Samsulbahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota Padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgih dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsulbahri menembaknya. Datuk Maringgih jatuh tersungkur, namun sebelum tewas ia sempat membacok kepala Samsulbahri dengan parangnya.

Samsulbahri alias Letnan Mas segera dilarikan ke rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit, sebelum dia meninggal dunia, dia minta agar dipertemukan dengan ayahnya untuk minta maaf atas segala kesalahannya. Ayah Samsulbahri juga sangat menyesal telah mengata-ngatai dia tempo dulu, yaitu ketika kejadian Samsulbahri memukul Datuk Maringgih dan mengacau keluarga orang, yang sangat melanggar adat istiadat dan memalukan itu. Setelah berhasil betemu dengan ayahnya, Samsulbahripun meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal dia minta kepada orangtuanya agar nanti di kuburkan di Gunung Padang dekat kekasihnya Siti Nurbaya. Perminataan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di Gunung Padang dekat dengan kuburan kekasihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.
1119777 - 08/10/2009 07:48 PM
#15

Kaskus ID : 1119777
Kategori : Bahasa
Bentuk karya : Logat Banyumasan
Sumber : http://hanacaraka.fateback.com/logat_bms.htm
Keterangan : artikel seputar logat Banyumasan

Spoiler for banyumasan




Logat Banyumasan ditengarai sebagai logat bahasa jawa yang tertua. Hal ini ditandai dengan beberapa kata dalam Bahasa kawi/sanksekerta yang merupakan nenek moyang dari bahasa jawa yang masih dipakai dalam logat Banyumasan seperti kata rika (jw = kowé, ind = kamu), juga kata inyong yang berasal dari ingong serta pengucapan vokal a yang utuh tidak seperti å (baca a tipis / miring) yang menjadi pengucapan dialek Banyumasan seperti halnya bahasa sanksekerta. Sebelum terkena pengaruh dari keraton/kerajaan, bahasa jawa hampir tidak ada perbedaan antara krama inggil dan ngoko. Setelah masa kerajaan-kerajaan jawa, maka bahasa jawa mengalami penghalusan, yaitu bahasa yang dipakai oleh rakyat biasa dan yang dipakai oleh keluarga kerajaan dibedakan pengucapannya walaupun maknanya sama.

Bahasa Banyumasan mempunyai ciri khas sendiri yaitu berupa pengucapan pada vokal a yang diucapkan utuh bukan å (baca a tipis) seperti yang kebanyakan logat bahasa jawa. Logat ini mempunyai penekanan huruf-huruf dengan lebih jelas atau lebih tebal, seperti huruf k diakhir kata dibaca mendekati bunyi g, huruf p mendekati b,akhiran ki menjadi ti dan huruf l yang pengucapannya tebal, juga ada beberapa partikel tambahan yang bisa dijadikan ciri logat banyumasan seperti lah, yuh, la, thok, baén, géh, gyéh, baé, tuli, teli, acan dll.

Bahasa logat Banyumasan lebih banyak dipakai pada penggunaan sehari-hari (bahasa pegaulan) oleh khalayak umum, teman akrab, sesama anak-anak, tetapi untuk bahasa pergaulan dengan orang tua atau bahasa krama inggil, tidak berbeda jauh dengan krama inggil pada umumnya.

Wilayah pemakai bahasa banyumasan meliputi sebagian besar eks karisidenan banyumas (Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Purwokerto) dan beberapa daerah yang berbatasan dengan wilayah Banyumas seperti Kebumen, Wonosobo, Pemalang, Bumiayu, Pangandaran. Pada beberapa wilayah logat banyumas juga mengalami beberapa dialek seperti dialek Tegal yang lebih ke gaya pesisir, dialek Cirebonan yang merupakan bahasa banyumasan yang bercampur/terpengaruh dengan bahasa sunda.

Beberapa contoh kata-kata logat banyumasan yang unik dan khas :





verditch - 09/10/2009 11:36 AM
#16

kaskus : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "asal mula pulau kemaro" dari sumatra selatan

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2351/legenda-pulo-kemaro

keterangan : Legenda Pulo Kemaro adalah sebuah legenda yang mengisahkan asal mula terjadinya Pulau Kemaro di daerah Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia. Menurut cerita, pulau tersebut merupakan penjelmaan Siti Fatimah putri Raja Sriwijaya yang menceburkan diri ke Sungai Musi hingga tewas. Peristiwa tewasnya putra Raja Sriwijaya tersebut disebabkan oleh tindakan ceroboh yang dilakukan oleh kekasihnya bernama Tan Bun Ann, putra Raja Negeri Cina. Kecerobohan apa yang telah dilakukan oleh Tan Bun Ann? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Pulo Kemaro berikut ini.

Spoiler for Legenda Pulo Kemaro




Quote:
Alkisah, di daerah Sumatra Selatan, tersebutlah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Sriwijaya. Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Selain cantik, ia juga berperangai baik. Sopan-santun dan tutur bahasanya yang lembut mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangainya mengundang decak kagum para pemuda di Negeri Palembang. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena kedua orang tuanya menginginkan ia menikah dengan putra raja yang kaya raya.

Pada suatu hari, datanglah seorang putra raja dari Negeri Cina bernama Tan Bun Ann untuk berniaga di Negeri Palembang. Putra Raja Cina itu berniat untuk tinggal beberapa lama di negeri itu, karena ia ingin mengembangkan usahanya. Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap kepada Raja Sriwijaya untuk memberitahukan maksud kedatangannya ke negeri itu.
“Ampun, Baginda! Nama hamba Tan Bun Ann, putra raja dari Negeri Cina. Jika diperkenankan, hamba bermaksud tinggal di negeri ini dalam waktu beberapa lama untuk berniaga,” kata Tan Bun Ann sambil memberi hormat.
“Baiklah, Anak Muda! Aku perkenankan kamu tinggal di negeri ini, tapi dengan syarat kamu harus menyerahkan sebagian untung yang kamu peroleh kepada kerajaan,” pinta Raja Sriwijaya.

Tan Bun Ann pun menyanggupi permintaan Raja Sriwijaya. Sejak itu, setiap minggu ia pergi ke istana untuk menyerahkan sebagian keuntungan dagangannya. Suatu ketika, ia bertemu dengan Siti Fatimah di istana. Sejak pertama kali melihat wajah Siti Fatimah, Tan Bun Ann langsung jatuh hati. Demikian sebaliknya, Siti Fatimah pun menaruh hati kepadanya. Akhirnya, mereka pun menjalin hubungan kasih. Karena merasa cocok dengan Siti Fatimah, Tan Bun Ann pun berniat untuk menikahinya.

Pada suatu hari, Tan Bun Ann pergi menghadap Raja Sriwijaya untuk melamar Siti Fatimah.
“Ampun, Baginda! Hamba datang menghadap kepada Baginda untuk meminta restu. Jika diperkenankan, hamba ingin menikahi putri Baginda, Siti Fatimah,” ungkap Tan Bun Ann.

Raja Sriwijaya terdiam sejenak. Ia berpikir bahwa Tan Bun Ann adalah seorang putra Raja Cina yang kaya raya.
“Baiklah, Tan Bun! Aku merestuimu menikah dengan putriku dengan satu syarat,” kata Raja Sriwijaya.
“Apakah syarat itu, Baginda?” tanya Tan Bun Ann penasaran.
“Kamu harus menyediakan sembilan guci berisi emas,” jawab Raja Sriwijaya.

Tanpa berpikir panjang, Tan Bun Ann pun bersedia memenuhi syarat itu.
“Baiklah, Baginda! Hamba akan memenuhi syarat itu,” kata Tan Bun Ann.

Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari kedua orang tuanya itu berisi restu atas pernikahan mereka dan sekaligus permintaan maaf, karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun, sebagai tanda kasih sayang kepadanya, kedua orang tuanya mengirim sembilan guci berisi emas. Demi keamanan dan keselamatan guci-guci yang berisi emas tersebut dari bajak laut, mereka melapisinya dengan sayur sawi tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann.

Saat mengetahui rombongan utusannya telah kembali, Tan Bun Ann dan Siti Fatimah bersama keluarganya serta seorang dayang setianya segera berangkat ke dermaga di Muara Sungai Musi untuk memeriksa isi kesembilan guci tersebut. Setibanya di dermaga, Tan Bun Ann segera memerintahkan kepada utusannya untuk menunjukkan guci-guci tersebut.
“Mana guci-guci yang berisi emas itu?” tanya Tan Bun Ann kepada salah seorang utusannya.
“Kami menyimpannya di dalam kamar kapal, Tuan!” jawab utusan itu seraya menuju ke kamar kapal tempat guci-guci tersebut disimpan.

Setelah utusan itu mengeluarkan kesembilan guci tersebut dari kamar kapal, Tan Bun Ann segera memeriksa isinya satu persatu. Betapa terkejutnya ia setelah melihat guci itu hanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk.
“Oh, betapa malunya aku pada calon mertuaku. Tentu mereka akan merasa diremehkan dengan barang busuk dan berbau ini,” kata Tan Bun Ann dalam hati dengan perasaan kecewa seraya membuang guci itu ke Sungai Musi.

Dengan penuh harapan, Tan Bun Ann segera membuka guci yang lainnya. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Setelah membuka guci-guci tersebut ternyata semuanya berisi sayur sawi yang sudah membusuk. Bertambah kecewalah hati putra Raja Cina itu. Dengan perasaan kesal, ia segera melemparkan guci-guci tersebut ke Sungai Musi satu persatu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Ketika ia hendak melemparkan guci yang terakhir ke sungai, tiba-tiba kakinya tersandung sehingga guci itu jatuh ke lantai kapal dan pecah. Betapa terkejutnya ia saat melihat emas-emas batangan terhambur keluar dari guci itu. Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk tersebut tersimpan emas batangan. Ia bersama seorang pengawal setianya segera mencebur ke Sungai Musi hendak mengambil guci-guci yang berisi emas tersebut.

Melihat hal itu, Siti Fatimah segera berlari ke pinggir kapal hendak melihat keadaan calon suaminya. Dengan perasaan cemas, ia menunggu calon suaminya itu muncul di permukaan air sungai. Karena orang yang sangat dicintainya itu tidak juga muncul, akhirnya Siti Fatimah bersama dayangnya yang setia ikut mencebur ke sungai untuk mencari pangeran dari Negeri Cina itu. Sebelum mencebur ke sungai, ia berpesan kepada orang yang ada di atas kapal itu.
“Jika ada tumpukan tanah di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya,” demikian pesan Siti Fatimah.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, muncullah tumpukan tanah di tepi Sungai Musi. Lama kelamaan tumpukan itu menjadi sebuah pulau. Masyarakat setempat menyebutnya Pulo Kemaro. Pulo Kemaro dalam bahasa Indonesia berarti Pulau Kemarau. Dinamakan demikian, karena pulau tersebut tidak pernah digenangi air walaupun volume air di Sungai Musi sedang meningkat.


Demikianlah Legenda Pulo Kemaro dari daerah Palembang, Sumatra Selatan. Pulau Kemaro yang terletak sekitar lima kilo meter di sebelah timur Kota Palembang ini memiliki luas kurang lebih 24 hektar. Kini, Pulau Kemaro menjadi salah satu obyek wisata menarik, khususnya wisata budaya dan religius, di Palembang. Setiap perayaan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek) ribuan masyarakat Cina (baik dari dalam maupun luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina) datang berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Di pulau itu terdapat sebuah kuil sebagai tempat peribadatan, dan di dalamnya terdapat gundukan tanah yang diyakini makam Siti Fatimah, dan dua gundukan tanah yang agak kecil yang diyakini makam pengawal Tan Bun Ann dan makam dayang Siti Fatimah.



Di Pulau Kemaro juga terdapat sebuah pohon langka yang disebut “Pohon Cinta”, yang dilambangkan sebagai ritus “cinta sejati” antara dua bangsa dan budaya berbeda pada zaman dahulu, yaitu antara Siti Fatimah dari Negeri Palembang dan Tan Bun Ann dari Negeri Cina. Konon, jika pasangan muda-mudi yang sedang menjalin hubungan kasih mengukir nama mereka di pohon itu, maka cinta mereka akan berlanjut sampai ke pelaminan. Itulah sebabnya, pulau ini disebut juga “Pulau Jodoh”.

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sikap ketergesa-gesaan dapat membuat seseorang kurang teliti dalam melakukan sesuatu, sehingga pekerjaan atau masalah yang dihadapinya tidak mampu diselesaikannya. Hal ini ditunjukkan oleh sikap Tan Bun Ann yang karena tidak ketidaksabarannya ingin menunjukkan emas tersebut kepada Raja Sriwijaya, sehingga membuatnya kurang teliti ketika memeriksa guci-guci tersebut. Akibatnya, guci-guci yang berisi emas batangan tersebut dibuangnya ke sungai, yang pada akhirnya menyebabkan ia tenggelam dan tewas.

verditch - 09/10/2009 12:44 PM
#17

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Si Kelingking" dari Bangka-Belitung

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2088/si-kelingking

keterangan : Belitung yang dulu dikenal dengan Billiton adalah nama sebuah pulau di Provinsi Bangka Belitung, Indonesia. Pulau yang terletak di bagian timur Sumatra ini terbagi menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Di pulau ini beredar sebuah cerita rakyat tentang sepasang suami-istri yang hendak membunuh anaknya. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk membunuh anaknya, namun tidak pernah berhasil. Mengapa sepasang suami-istri itu hendak membunuh anaknya? Kisahnya dapat Anda simak dalam cerita Si Kelingking berikut ini.

Spoiler for
Quote:
Alkisah, di sebuah desa di Pulau Belitung, hiduplah sepasang suami-istri yang miskin. Walaupun hidup miskin, mereka tetap rukun dan bahagia. Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap, karena mereka belum mempunyai anak. Untuk itu, setiap malam kedua orang suami-istri itu senantiasa berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak.
“Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun sebesar kelingking!”

Rupanya doa mereka dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak beberapa lama kemudian sang Istri hamil. Sepasang suami-istri itu sangat senang, karena tidak lama lagi akan mendapatkan seorang anak yang selama ini mereka dambakan.

Beberapa bulan kemudian, sang Istri pun melahirkan. Namun, mereka sangat terkejut ketika melihat bayi yang keluar dari rahim sang Istri hanya sebesar kelingking.
“Bang! Kenapa anak kita kecil sekali, Bang?” tanya sang Istri sedih.

Mendengar pertanyaan istrinya, sang Suami hanya diam. Ia seakan-akan tidak percaya apa yang sedang mereka alami. Akhirnya, sang Suami teringat dengan doa yang sering mereka ucapkan.
“Dik! Ingatkah doa kita selama ini? Bukankah kita selalu berdoa agar diberikan anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Suami mengingatkan istrinya.
“Ooo, iya. Rupanya Tuhan mengabulkan doa kita sesuai dengan permintaan kita,” kata sang Istri.

Bayi itu pun mereka pelihara dengan sebaik-baiknya. Waktu terus berjalan hingga anak itu berusia enam tahun. Namun, badan anak itu tetap sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Si Kelingking.

Mulanya, sepasang suami-istri itu sayang kepada Si Kelingking. Tetapi, ada suatu hal yang membuat mereka risau, yakni walaupun badannya kecil, Si Kelingking banyak sekali makannya. Sekali makan, ia dapat menghabiskan secanting[1] nasi, bahkan terkadang masih kurang. Setiap hari suami-istri itu selalu bingung, karena penghasilan yang mereka peroleh hanya cukup untuk dimakan oleh Si Kelingking sendiri. Oleh karena sudah tidak kuat lagi menghidupi Si Kelingking, kedua suami-istri itu bersepakat hendak menyingkirkannya dari kehidupan mereka.
“Bang! Bagaimana caranya kita menyingkirkan Si Kelingking?” tanya sang Istri bingung.
“Abang punya cara,” jawab sang Suami.
“Apa itu, Bang?” tanya sang Istri penasaran.
“Besok pagi, aku akan mengajaknya ke hutan,” jawab sang Suami.
“Ke hutan? Untuk apa, Bang?” tanya sang Istri tambah bingung.
“Aku akan membuangnya di tengah hutan,” jawab sang Suami.

Sang Istri pun setuju. Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke hutan untuk mencari kayu. Setibanya di tengah hutan, sang Ayah segera menebang pohon besar.
“Kelingking! Kamu berdiri di situ saja! Ayah akan menebang pohon ini!” seru sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking menuruti perintah ayahnya.

Namun, tanpa disadari oleh Si Kelingking, ayahnya menebang pohon itu diarahkan kepadanya. Sang Ayah sengaja melakukan hal itu, agar pohon itu menimpanya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah bukannya sedih, melainkan gembira.
“Matilah kau kerdil! Ha... ha... ha...!” seru sang Ayah sambil tertawa terbahak-bahak, lalu mendekati pohon besar itu.

Setelah memastikan dan yakin anaknya mati, sang Ayah segera kembali ke rumahnya untuk menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mendengar cerita suaminya, sang Istri pun menjadi senang.
“Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang Istri kepada suaminya.

Namun, menjelang siang hari, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah....! Diletakkan di mana kayu ini?”
“Bang! Sepertinya itu suara Kelingking. Bukankah anak itu sudah mati?” tanya sang Istri heran.
“Ayo, kita keluar melihatnya!” seru sang Suami penasaran.

Kedua suami-istri sangat terkejut saat melihat Si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.
“Ayah! Diletakkan di mana kayu ini?” tanya Si Kelingking.
“Letakkan di situ saja!” perintah ayahnya.

Setelah meletakkan kayu itu, Si Kelingking langsung masuk ke dalam rumah mencari makanan. Oleh karena merasa kelaparan usai memikul pohon besar, ia pun menghabiskan secanting nasi yang sudah dimasak ibunya. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk bengong melihat anaknya, dan tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Sejak Si Kelingking kembali ke rumah, kehidupan mereka semakin susah. Semakin hari Si Kelingking semakin banyak makannya. Tidak cukup jika hanya makan secanting nasi. Melihat keadaan itu, sepasang suami-istri itu kembali berunding untuk mencari cara menyingkirkan Si Kelingking dari kehidupan mereka.
“Bang! Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya sang Istri bingung.
“Besok Abang akan mengajaknya pergi ke gunung untuk mengambil batu,” jawab sang Suami sambil tersenyum.
“Tenang, Dik! Recanaku ini pasti akan berhasil,” tambah sang Suami dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, sang Ayah mengajak Si Kelingking ke gunung untuk mengambil batu. Sesampainya di kaki gunung, sang ayah berhenti.
“Kelingking! Ayah akan naik ke atas gunung hendak mendongkel batu-batu itu. Kamu tunggu di sini saja sambil menghadang dan mengumpulkan batu-batu itu,” perintah sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab Si Kelingking.

Setelah itu, sang Ayah mendaki gunung itu sambil membawa sebatang kayu untuk digunakan mendongkel batu. Pada awalnya, ia hanya mendongkel batu-batu kecil, lalu batu yang agak besar, dan kemudian batu yang lebih besar lagi. Pada saat mendongkel batu besar itu, ia sengaja mengarahkannya kepada Si Kelingking. Batu itu pun menindih Si Kelingking. Melihat hal itu, sang Ayah segera turun dari gunung dan menghampiri Si Kelingking yang tertindih batu.
“Kelingking! Kelingking! Kelingking!” seru sang Ayah memanggil anaknya.

Beberapa kali ia memanggil anaknya, namun tidak mendapat jawaban. Ia yakin bahwa Si Kelingking telah mati. Dengan perasaan gembira, ia pun segera kembali ke rumah dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Namun, sang Istri tidak langsung percaya dengan cerita itu.
“Apakah Abang yakin jika anak itu benar-benar sudah mati?” tanya sang Istri dengan perasaan ragu-ragu.
“Iya, Dik! Abang berhasil menindihnya dengan batu besar,” jawab sang Suami.
“Ya, syukurlah kalau begitu. Hidup kita akan benar-benar jadi tenang kembali,” kata sang Istri dengan perasaan lega.

Namun, ketika menjelang sore, tanpa mereka duga sebelumnya, tiba-tiba terdengar lagi suara dari luar rumah.
“Ayah...! Ayah...! Diletakkan di mana batu ini?” tanya suara itu.
“Letakkan di situ!” jawab Ayah Si Kelingking tanpa sadar.

Suami-istri itu tersentak kaget saat keluar dari rumah. Mereka melihat Si Kelingking sedang meletakkan sebuah batu besar. Setelah itu, seperti biasanya, Si Kelingking langsung masuk ke rumah untuk mencari makanan, karena kelaparan.

Akhirnya, kedua orang suami-istri itu merasa kasihan kepada anak mereka, Si Kelingking. Mereka pun menyadari bahwa walau bagaimana pun Si Kelingking lahir karena permintaan mereka sendiri. Sejak saat itu, mereka tidak pernah lagi berniat untuk membunuhnya. Mereka telah menerima kembali Si Kelingking sebagai anggota keluarga. Sementara Si Kelingking yang memiliki kekuatan lebih dari orang-orang biasa semakin rajin membantu ayahnya bekerja. Bahkan, semua pekerjaan yang berat-berat dia yang melakukannya, sehingga pekerjaan ayahnya menjadi lebih ringan dan kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi.
verditch - 09/10/2009 01:04 PM
#18

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau" dari jambi

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2226/raja-jambi-penakluk-hantu-pirau

keterangan :

Spoiler for Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau
Quote:
Alkisah, di Negeri Jambi, ada seorang raja yang terkenal sakti mandraguna. Ia adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari Negeri Keling. Selain sakti mandraguna, ia juga terkenal arif dan bijaksana. Ia senantiasa memikirkan nasib dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Keadaan ini membuat rakyat tenang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mencari nafkah. Itulah sebabnya, ia sangat disegani oleh seluruh rakyatnya.

Pada suatu ketika, suasana tenang tersebut tiba-tiba terusik oleh kedatangan Hantu Pirau. Ia selalu datang menakut-nakuti anak-anak kecil yang sedang bermain dan mengganggu bayi-bayi yang sedang tidur. Jika melihat bayi ataupun anak-anak kecil, Hantu Pirau suka tertawa terkekeh-kekeh kegirangan, sehingga anak-anak menjadi ketakutan dan bayi-bayi pun menangis. Namun, jika para orangtua menjaga anak-anak mereka, hantu itu tidak berani datang mengganggu. Oleh karenanya, para orangtua setiap saat harus selalu menjaga anak-anak mereka baik ketika sedang bermain maupun tidur di buaian. Keadaan tersebut membuat warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah untuk pergi mencari nafkah.

Melihat keadaan itu, para pemimpin masyarakat dari Tujuh Koto, Sembilan Koto, dan Batin Duo Belas atau yang lazim disebut Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas, mencoba mengusir hantu tersebut dengan membacakan segala macam mantra yang mereka kuasai. Namun, semuanya sia-sia. Bahkan, kelakuan hantu itu semakin menjadi-jadi. Hampir setiap saat, baik siang maupun malam, ia selalu datang mengganggu anak-anak hingga menangis dan menjerit-jerit ketakutan.
“Segala cara sudah kita lakukan, tapi Hantu Pirau itu tetap saja tidak mau enyah dari negeri ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dubalang Tujuh bingung.
“Bagaimana kalau kejadian ini kita sampaikan kepada raja?” usul Dubalang Sembilan.
“Aku setuju. Bukankah beliau seorang raja yang sakti mandraguna?” sahut Dubalang Duo Belas.
“Baiklah kalau begitu! Ayo kita bersama-sama pergi menghadap kepada raja,” kata Dubalang Tujuh.

Setelah mendapat kata mufakat, akhirnya ketiga dubalang tersebut segera menghadap Raja Negeri Jambi. Sesampainya di istana, mereka pun segera melaporkan semua peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka.
“Ampun, Baginda! Kami ingin melaporkan sesuatu kepada Baginda,” kata Dubalang Dua Belas.
“Katakanlah! Apakah gerangan yang terjadi di negeri ini, wahai Dubalang?” tanya Raja Jambi ingin tahu.
“Ampun Baginda! Beberapa hari ini, Hantu Pirau selalu datang mengganggu anak-anak kami. Mula-mula mereka merasa geli dan tertawa, tapi lama-kelamaan mereka menangis dan menjerit ketakutan,” jawab Dubalang Duo Belas.
“Ampun, Baginda! Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Hantu Pirau itu selalu saja datang mengganggu mereka,” tambah Dubalang Sembilan.
“Bagaimana bentuk dan rupa Hantu Pirau itu? Apakah kalian pernah melihatnya?” tanya Raja Jambi.
“Belum Baginda! Kami hanya sering mendengar suara gelak tawanya kegirangan ketika anak-anak itu menangis dan menjerit-jerit,” jawab Dubalang Duo Belas.

Mendengar laporan para dubalang tersebut, Raja Jambi tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat dan sudah mulai memutih. Ia kemudian beranjak dari singgasananya lalu berjalan mondar-mandir.
“Baiklah kalau begitu. Pulanglah ke negeri kalian dan sampaikan kepada seluruh warga yang pandai membuat lukah agar masing-masing orang membuat sebuah lukah!” titah Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Baginda! Untuk apa lukah itu? Bukankah sekarang belum musim berkarang (mencari ikan)?” tanya Duabalang Duo Belas dengan penuh keheranan.
“Sudahlah, laksanakan saja apa yang aku perintahkan tadi! Jangan lupa, setelah lukah-lukah tersebut selesai, segeralah memasangnya di atas bukit dengan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang kuat. Setelah itu, setiap pagi dan sore kalian bergiliran ke atas bukit untuk melihat lukah-lukah tersebut!” perintah sang Raja.

Mendengar penjelasan sang Raja, ketiga dubalang itu langsung mohon diri untuk melaksanakan perintah. Tak satu pun dari mereka yang berani kembali bertanya kepada raja. Dalam perjalanan pulang, mereka terus bertanya-tanya dalam hati tentang perintah sang Raja.

Sesampainya di negeri masing-masing, ketiga dulabang itu langsung menyampaikan perintah raja kepada seluruh warganya. Para warga hanya terheran-heran ketika menerima perintah itu. Ketika bertanya kepada ketiga dubalang, mereka tidak mendapat jawaban yang pasti. Sebab ketiga dubalang itu juga tidak mengetahui maksud sang Raja. Namun karena itu adalah perintah raja, para warga pun segera membuat lukah, meskipun dalam hati mereka selalu bertanya-tanya.Lukah-lukah tersebut kemudian mereka pasang di atas bukit yang tak jauh dari permukiman penduduk. Setiap pagi dan sore ketiga dubalang itu secara bergiliran naik ke atas bukit untuk melihat dan memeriksa lukah-lukah tersebut. Pada hari pertama, kedua, ketiga hingga hari keenam, belum menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan.

Pada hari ketujuh di pagi hari, Dubalang Duo Belas mendapat giliran naik ke atas bukit untuk memeriksa lukah-lukah tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia berada di atas bukit. Ia melihat sesuatu menggelepar-gelepar di dalam sebuah lukah. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kecil. Makhluk itu juga dapat berbicara seperti manusia. Ketika Dubalang Duo Belas mendekat, makhluk aneh itu mengeluarkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
“Hei, sepertinya aku sering mendengar suara itu. Bukankah itu suara Hantu Pirau yang sering mengganggu anak-anak kecil?” tanya Dubalang Duo Belas dalam hati.

Setelah memastikan bahwa suara itu benar-benar Hantu Pirau, maka yakinlah ia bahwa makhluk yang terperangkap dalam lukah itu pastilah Hantu Pirau. Ia pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Baginda! Hamba baru saja dari bukit itu. Hamba menemukan seekor makhluk yang terperangkap ke dalam lukah.Apakah dia itu Hantu Pirau?” tanya Dubalang Duo Belas.
“Benar, dubalang! Bawalah Hantu Pirau itu kemari!” titah sang Raja.
“Baik, Baginda! Hamba laksanakan!” ucap Dubalang Duo Belas seraya berpamitan.

Sebelum menuju ke atas bukit, ia mengajak Dubalang Sembilan dan Dubalang Tujuh untuk bersama-sama mengambil lukah tersebut. Setelah membuka tali pengikat lukah dari tonggak, ketiga dubalang tersebut membawa lukah yang berisi Hantu Pirau itu ke hadapan sang Raja.
“Sudah tahukah kalian, wahai dubalang! Makhluk inilah yang bernama Hantu Pirau yang sering menganggu anak-anak kecil,” ungkap sang Raja.
“Mengerti Baginda!” jawab ketiga dubalang itu serentak.
“Pengawal! Siapkan pedang yang tajam! Aku akan memotong-motong tubuh hantu ini,” perintah sang Raja kepada seorang pengawal.

Mendengar ancaman tersebut, Hantu Pirau itu pun langsung memohon ampun kepada Raja Negeri Jambi.
“Ampun, Tuan! Janganlah bunuh hamba! Jika Tuan sudi melepaskan hamba dari lukah ini, hamba akan memenuhi segala permintaan Tuan. Bukankah Tuan adalah Raja yang arif dan bijaksana?”
“Baiklah, kalau begitu! Aku hanya ada dua permitaan. Pertama, setelah keluar dari lukah ini, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali mengganggu wargaku lagi, terutama anak-anak kecil. Kedua, serahkan cincin pinto-pinto (pinta-pinta, yakni cincin sakti, apo yang kuminta harus ado) itu kepadaku!” kata sang Raja.

Hantu Pirau pun langsung menyanggupi permintaan Raja Jambi. Setelah dikeluarkan dari lukah, ia pun segera menyerahkan cincin pinto-pinto nya kepada sang Raja, lalu pergi meninggalkan Negeri Jambi. Sejak itu, Negeri Jambi tidak pernah lagi diganggu oleh Hantu Pirau. Keadaan negeri kembali aman, damai dan tenang. Seluruh penduduk kembali melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan perasaan aman dan tenang.

Beberapa tahun setelah peristiwa Hantu Pirau itu, Raja Negeri Jambi tiba-tiba berpikir ingin membuktikan kesaktian cincin pinto-pinto pemberian Hantu Pirau. Namun karena keinginannya tidak ingin diketahui oleh rakyat Negeri Jambi, maka ia pun menyampaikan kepada rakyatnya bahwa dia akan pulang ke negerinya di Keling (India) dalam waktu beberapa lama.

Sesampai di negerinya, Raja Jambi pun segera menguji kesaktian cincin pinto-pinto itu.
“Hei cincin pinto-pinto!Jadikanlah Kota Bambay ini sebagai kota yang bertahtakan mutiara, batu permata, dan intan berlian!” pinta Raja Jambi.

Dalam waktu sekejap, suasana Kota Bombay tiba-tiba berubah menjadi gemerlap. Seluruh sudut kota dipenuhi dengan mutiara, batu permata dan intan berlian. Alangkah senang hati sang Raja melihat pemandangan yang indah dan menggiurkan itu. Ia pun enggan untuk kembali ke Negeri Jambi. Namun sebagai raja yang arif dan bijaksana, beberapa tahun kemudian ia mengutus salah seorang putranya yang bernama Sultan Baring untuk menggantikannya sebagai Raja Jambi.

Mendapat perintah itu, Sultan Baring pun segera berangkat ke Negeri Jambi bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Sesampainya di Negeri Jambi, ia pun segera menyampaikan amanah ayahnya kepada seluruh rakyat Jambi bahwa sang Ayah tidak dapat lagi memerintah Negeri Jambi karena sudah tua. Setelah itu, ia membacakan surat pengangkatannya sebagai Raja Jambi Kedua setelah ayahnya. Rakyat Jambi pun menyambutnya dengan gembira, karena ia juga seorang Raja yang arif dan bijaksana seperti ayahnya. Konon, Sultan Baring inilah yang menurunkan raja-raja, sultan-sultan maupun raden-raden berikutnya, seperti Sultan Taha Saifuddin dan Raden Ino Kartopati.
verditch - 09/10/2009 01:15 PM
#19

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Buaya Perompak" dari Lampung

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2259/buaya-perompak

keterangan : Buaya Perompak adalah seekor buaya jadi-jadian yang dulu pernah menghuni Sungai Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Indonesia. Buaya jadi-jadian ini terkenal sangat ganas. Konon, sudah banyak manusia yang menjadi korban keganasan buaya itu. Pada suatu hari, seorang gadis rupawan yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang. Benarkah Buaya itu yang menculik Aminah? Lalu bagaimana dengan nasib Aminah selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Buaya Perompak berikut ini!

Spoiler for Buaya Perompak
Quote:
Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.

Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.
“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.

Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.
“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?” tanya Aminah dalam hati.

Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema.
“Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”

Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.
“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut.
“Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.
“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu.
“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu.
“Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya Aminah.
“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.

Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.
“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu.
“Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah.
“Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah
“Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu.
“Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran.
“Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.

Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung.
“Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak.

Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan.
“Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.

Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu.
“Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju.

Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.

Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.

Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati.

Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.

Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.
“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,” Aminah berucap syukur.

Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan.
“Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.
“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah.

Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.

Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang.
verditch - 09/10/2009 01:51 PM
#20

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Asal Mula Danau Tes" dari Bengkulu

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2242/asal-mula-danau-tes

keterangan : Danau Tes merupakan danau terbesar di Provinsi Bengkulu, yang terbentang di antara Dusun Kutei Donok dan Tes, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Danau yang memiliki panorama indah ini sangat melegenda di kalangan masyarakat Lebong, Bengkulu. Konon, Danau Tes ini dulunya merupakan aliran Sungai Air Ketahun. Namun, karena terjadi suatu peristiwa, aliran itu berubah menjadi danau. Peristiwa apakah sebenarnya yang terjadi hingga menyebabkan aliran Sungai Air Ketahun tersebut berubah menjadi danau? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Danau Tes berikut ini!

Spoiler for Asal Mula Danau Tes
Quote:
Alkisah, di Dusun Kutei Donok, Tanah Ranah Sekalawi (atau daerah Lebong sekarang ini), hidup seorang sakti bersama seorang anak laki-lakinya. Oleh masyarakat Kutei Donok, orang sakti itu dipanggil si Lidah Pahit. Ia dipanggil demikian, karena lidahnya memiliki kesaktian luar biasa. Apapun yang dikatakannya selalu menjadi kenyataan. Meski demikian, ia tidak asal mengucapkan sesuatu jika tidak ada alasan yang mendasarinya.

Pada suatu hari, si Lidah Pahit berniat untuk membuka lahan persawahan baru di daerah Baten Kawuk, yang terletak kurang lebih lima kilometer dari dusun tempat tinggalnya. Setelah menyampaikan niatnya kepada para tetangganya dan mendapat izin dari Tuai Adat Kutei Donok, ia pun segera menyiapkan segala peralatan yang akan dipergunakan untuk membuka lahan persawahan baru.
“Anakku, kamu di rumah saja! Ayah hendak pergi ke daerah Baten Kawuk untuk membuka lahan persawahan baru,” ujar si Lidah Pahit kepada anaknya.
“Baik, Ayah!” jawab anaknya.

Setelah berpamitan kepada anaknya, si Lidah Pahit pun berangkat dengan membawa kapak, parang, dan cangkul. Sesampainya di daerah Baten Kawuk, ia pun mulai menggarap sebuah lahan kosong yang terletak tidak jauh dari Sungai Air Ketahun. Si Lidah Pahit memulai pekerjaannya dengan menebangi pohon-pohon besar dengan kapak dan membabat semak belukar dengan parang. Setelah itu, ia pun segera mencangkul lahan kosong itu. Tanah-tanah cangkulannya ia buang ke Sungai Air Ketahun.

Setelah dua hari bekerja, si Lidah Pahit telah membuka lahan persawahan seluas kurang lebih setengah hektar. Bagi masyarakat Kutei Donok waktu itu, termasuk si Lidah Pahit, untuk membuka lahan persawahan seluas satu hektar dapat diselesaikan dalam waktu paling lama satu minggu, karena rata-rata mereka berbadan besar dan berotot. Alangkah senang hati si Lidah Pahit melihat hasil pekerjaannya itu.

Pada hari ketiga, si Lidah Pahit kembali ke Baten Kawuk untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia bekerja dengan penuh semangat. Ia tidak memikirkan hal-hal lain, kecuali menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan segera menanam padi di lahan persawahannya yang baru itu.

Namun, tanpa disadari oleh si Lidah Pahit, para ketua adat dan pemuka masyarakat di kampungnya sedang membicarakan dirinya. Mereka membicarakan tentang pekerjaannya yang selalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun, sehingga menyebabkan aliran air sungai itu tidak lancar. Kekhawatiran masyarakat Kutei Donok yang paling besar adalah jika si Lidah Pahit terus membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun akan menyumbat air sungai dan mengakibatkan air meluap, sehingga desa Kutei Donok akan tenggelam.

Melihat kondisi itu, ketua adat bersama tokoh-tokoh masyarakat Kutei Donok lainnya segera bermusyawarah untuk mencari alasan agar pekerjaan si Lidah Pahit dapat dihentikan. Setelah beberapa jam bermusyawarah, mereka pun menemukan sebuah alasan yang dapat menghentikan pekerjaan si Lidah Pahit. Maka diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan alasan itu kepada si Lidah Pahit. Sesampainya di tempat si Lidah Pahit bekerja, mereka pun segera menghampiri si Lidah Pahit yang sedang asyik mencangkul.
“Maaf, Lidah Pahit! Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan berita duka,” kata seorang utusan.
“Berita duka apa yang kalian bawa untukku?” tanya si Lidah Pahit.
“Pulanglah, Lidah Pahit! Anakmu meninggal dunia. Kepalanya pecah terbentur di batu saat ia terjatuh dari atas pohon,” jelas seorang utusan lainnya.
“Ah, saya tidak percaya. Tidak mungkin anakku mati,” jawab si Lidah Pahit dengan penuh keyakinan.

Beberapa kali para utusan tersebut berusaha untuk meyakinkannya, namun si Lidah Pahit tetap saja tidak percaya. Akhirnya, mereka pun kembali ke Dusun Kutei Donok tanpa membawa hasil.
“Maaf, Tuan! Kami tidak berhasil membujuk si Lidah Pahit untuk kembali ke kampung ini,” lapor seorang utusan kepada ketua adat.
"Iya, Tuan! Ia sama sekali tidak percaya dengan laporan kami,” tambah seorang utusan lainnya.

Mendengar keterangan itu, ketua adat segera menunjuk tokoh masyarakat lainnya untuk menyampaikan berita duka itu kepada si Lidah Pahit. Namun, lagi-lagi si Lidah Pahit tidak percaya jika anaknya telah mati. Ia terus saja mencangkul dan membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun.

Melihat keadaan itu, akhirnya ketua adat bersama beberapa pemuka adat lainnya memutuskan untuk menyampaikan langsung alasan itu kepada si Lidah Pahit. Maka berangkatlah mereka untuk menemui si Lidah Pahit di tempat kerjanya.
“Wahai si Lidah Pahit! Percayalah kepada kami! Anakmu benar-benar telah meninggal dunia,” kata ketua adat kepada si Lidah Pahit.

Oleh karena sangat menghormati ketua adat dan pemuka adat lainnya, si Lidah Pahit pun percaya kepada mereka.
“Baiklah! Karena Tuan-Tuan terhormat yang datang menyampaikan berita ini, maka saya sekarang percaya kalau anak saya telah meninggal dunia,” kata si Lidah Pahit dengan suara pelan.
“Kalau begitu, berhentilah bekerja dan kembalilah ke kampung melihat anakmu!” ujar ketua adat.
“Iya, Tuan! Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya yang tinggal beberapa cangkul ini,” jawab si Lidah Pahit.

Mendengar jawaban itu, ketua adat beserta rombongannya berpamitan untuk kembali ke Dusun Kutei Donok. Setelah rombongan itu pergi, si Lidah Pahit baru menyadari akan ucapannya tadi. Dalam hati, ia yakin betul bahwa anaknya yang sebenarnya tidak meninggal kemudian menjadi meninggal akibat ucapannya sendiri. Maka dengan ucapan saktinya itu, anaknya pun benar-benar telah meninggal dunia.

Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Ucapan si Lidah Pahit tersebut tidak dapat ditarik kembali. Dengan perasaan kesal, ia pun melampiaskan kemarahannya pada tanah garapannya. Berkali-kali ia menghentakkan cangkulnya ke tanah, lalu membuang tanah cangkulannya ke Sungai Air Ketahun. Setelah itu, ia pun bergegas kembali ke Dusun Kutei Donok hendak melihat anaknya yang telah meninggal dunia. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.

Konon, tanah-tanah yang dibuang si Lidah Pahit itu membendung aliran Sungai Air Ketahun dan akhirnya membentuk sebuah danau besar yang diberi nama Danau Tes.
verditch - 09/10/2009 02:09 PM
#21

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Mak Isun Kayo" dari Sumatra Barat

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2090/mak-isun-kayo

keterangan : Payakumbuh adalah nama sebuah kota madya di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Di wilayah ini terdapat sebuah negeri yang disebut dengan Batang Tabik. Konon, di negeri ini pernah ada seorang juragan bendi dan beruk yang bernama Mak Isun. Pada suatu hari, kawanan beruk miliknya mengepung rumahnya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Mak Isun, sehingga rumahnya dikepung oleh kawanan beruk itu? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita Mak Isun Kayo berikut ini.

Spoiler for Mak Isun Kayo
Quote:
Alkisah, di Negeri Batang Tabik, Payakumbuh, Sumatra Barat, hiduplah seorang lelaki paruh baya bernama Mak Isun. Ketika masih muda, ia bekerja sebagai kusir bendi pada orang kaya di negeri itu. Ia seorang kusir yang rajin dan tekun. Bendinya selalu bersih dan kudanya terpelihara dengan baik, sehingga ia disukai oleh juragannya dan orang-orang pun senang menumpang bendinya.

Selain rajin dan tekun, Mak Isun juga hemat dan rajin menabung. Sebagian upah dari hasil menarik bendi ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan selebihnya ditabung. Setelah berjalan beberapa tahun, uang tabungannya pun cukup banyak. Ketika juragannya meninggal dunia, ia gunakan tabungannya untuk membeli kuda dan bendi itu dari keluarga juragannya.

Semenjak menjadi pemilik bendi, uang sewa yang biasanya disetorkan kepada juragannya, ia masukkan ke dalam tabungannya. Dalam waktu dua tahun, uang tabungannya sudah cukup untuk membeli lagi satu bendi beserta kudanya. Kemudian bendi tersebut ia sewakan kepada orang lain.

Waktu terus berjalan, Mak Isun tetap giat menabung dan terus membeli kuda beserta bendinya hingga akhirnya ia memiliki delapan buah bendi berikut kudanya. Bendi yang pertama kali dibelinya, tetap dia yang mengemudikannya, sedangkan tujuh buah bendi lainnya ia sewakan kepada orang lain. Semakin hari penghasilan Mak Isun semakin banyak, sehingga ia pun terkenal sebagai juragan bendi yang kaya. Sejak itu, namanya dikenal sebagai Mak Isun Kayo.

Walaupun sudah menjadi kaya, cara hidup Mak Isun tetap tidak berubah. Ia tetap hemat dan rajin merawat kuda dan bendinya. Setiap ada kerusakan segera diperbaiki dan diperbaharui. Ia senantiasa mengajarkan hal itu kepada semua kusirnya. Ia berpendirian bahwa kuda yang kuat dan bendi yang bersih akan disukai oleh penumpang. Oleh karena itu, ia mewajibkan para kusirnya untuk memberi makan dan memandikan kudanya setiap hari. Demikian pula, mereka harus mencuci dan membersihkan bendi setiap selesai dipakai.

Pada suatu sore, Mak Isun sedang duduk-duduk di teras rumahnya sambil memerhatikan para kusir bendi sedang memandikan kuda dan membersihkan bendi. Saat itu, tiba-tiba sesuatu terlintas di dalam pikirannya.
”Aku harus mencari pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang untuk menambah kekayaanku. Tapi pekerjaan apa ya?” tanyanya dalam hati.

Sesaat kemudian, tiba-tiba seorang warga yang bernama Pak Sole dengan seekor beruknya melintas di depan rumahnya. Pak Sole adalah seorang ”tukang beruk”. Ia menerima upah dengan cara memerintahkan seekor beruk memetik kelapa di kebun kelapa penduduk sekitar.
”Pak Sole...!” teriak Mak Isun memanggil Pak Sole.
”Iya, Tuan!” jawab Pak Sole sambil menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Kemari sebentar!” seru Mak Isun.

Dengan hati bertanya-tanya, Pak Sole segera menghampiri Mak Isun.
”Ada apa, Tuan!” tanya Pak Sole penasaran.
”Silahkan duduk, Pak Sole!” kata Mak Isun.
”Terima kasih, Tuan!” jawab Pak Sole sambil memegangi beruknya.
” Pak Sole, berapa upahmu menjadi tukang beruk?” tanya Mak Isun.
”Tidak tentu, Tuan! Tergantung jarak kebun kelapa yang akan dipetik buah kelapanya. Jika dekat, saya mendapat upah tiga butir kelapa, dan jika jauh upahnya lima butir,” jelas Pak Sole.
”Berapa penghasilanmu sehari?” tanya Mak Isun.
”Jika dirata-rata, sehari saya memperoleh sekitar dua puluh lima butir kelapa,” jawab Pak Sole.
”Wah, lumayan juga penghasilanmu,” kata Mak Isun.
”Tapi, Tuan!”
”Kenapa, Pak Sole,” tanya Mak Isun penasaran.
”Saya tidak tahu masih dapat menjadi tukang beruk atau tidak, karena majikan saya hendak menjual semua beruknya untuk ongkos naik haji,” jelas Pak Sole.
”Siapa yang akan membelinya?” tanya Mak Isun.
”Belum tahu, Tuan!” jawab Pak Sole.
”Siapa nama majikanmu?” tanya Mak Isun.
”Pak Kari, Tuan!” jawab Pak Sole.
"Kalau begitu, sampaikan kepada Pak Kari bahwa aku yang akan membeli semua beruknya,” ungkap Mak Isun.
”Baik, Tuan! Nanti malam saya akan pergi menemuinya,” kata Pak Sole seraya berpamitan.

Pada malam harinya, Pak Sole ke rumah majikannya untuk menyampaikan niat Mak Isun. Pak Kari pun setuju. Akhirnya, Mak Isun membeli semua beruk Pak Kari dan kemudian menyewakannya kepada orang lain, termasuk Pak Sole. Selain mendapat keuntungan sewa beruk, Mak Isun juga mewajibkan kepada semua penyewa beruknya untuk menjual upah mereka kepadanya dengan harga murah, sehingga ia pun mendapat keuntungan yang banyak. Untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda, Mak Isun tidak menjual kelapa itu, melainkan menjualnya dalam wujud kopra (daging kelapa yang sudah dikeringkan). Lambat laun, ia tidak hanya terkenal sebagai juragan bendi dan beruk, tapi sebagai pedagang kopra.

Pada suatu waktu, harga kopra melonjak tinggi. Mengetahui hal itu, Mak Isun berubah pikiran hendak menaikkan upah sewa beruknya. Ia menyadari bahwa dialah satu-satunya pemilik beruk di negeri itu yang hampir semua penduduknya memiliki kebun kelapa. Oleh karena itu, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia pun segera mengumpulkan semua tukang beruknya di rumahnya.
”Mulai besok, upah sewa beruk kita naikkan dua kali lipat. Jika jarak kebunnya dekat, upahnya menjadi enam butir kelapa, dan jika jaraknya jauh upahnya menjadi sepuluh butir,” ujar Mak Isun kepada para tukang beruk.
”Maaf, Tuan! Apakah itu tidak memberatkan penduduk?” tanya Pak Sole.
”Benar, Tuan! Tidak mungkin mereka mau membayar upah sebesar itu. Upah sewa beruk yang kami berlakukan selama ini pun masih ada penduduk yang merasa keberatan” tambah seorang tukang beruk yang lain.
”Kalau mereka tidak mau, biarkan saja kelapa mereka tua di pohon,” jawab Mak Isun dengan ketus.
”Tapi, Tuan! Kalau tidak memetik kelapa, kami mau makan apa? Padahal hanya itu harapan hidup kami!” kata seorang tukang beruk beriba.
”Dasar kalian semua orang bodoh! Jika kita menaikkan upah sewa beruk, pasti semua penduduk akan terpaksa menerimanya. Kalian sudah tahu bahwa tidak seorang pun penduduk yang pandai memanjat pohon kelapa secepat beruk itu. Lagi pula, mereka tidak akan rugi karena kebun kelapa itu adalah warisan dari orang tua mereka,” jelas Mak Isun dengan nada kesal.

Para tukang beruknya tidak setuju dengan keputusan Mak Isun, karena mereka merasa kasihan kepada penduduk. Namun, Mak Isun tidak mau tahu mengenai masalah itu. Ia tetap teguh pada pendiriannya hendak menaikkan upah sewa beruk. Para tukang beruk itu pun menjadi kesal dengan sikap Mak Isun. Dengan perasaan kecewa, seluruh tukang beruk kembali ke rumah masing-masing. Pada malam harinya, mereka bermusyawarah untuk mencari cara agar Mak Isun mau membatalkan niatnya itu. Dalam pertemuan itu, mereka bersepakat untuk menakut-nakuti Mak Isun dengan cara menyuruh beruk-beruk itu mengepung rumahnya.

Keesokan paginya, saat membuka jendela rumahnya, Mak Isun dikejutkan dengan seekor beruk yang menyeringainya.[2] Dengan perasaan panik, ia pun segera membuka pintu depan. Namun, saat pintu terbuka, ia disambut dengan cibiran dan seringai beruk yang lain. Mak Isun berlari menuju pintu belakang, namun dua ekor beruk sudah menunggunya. Kemudian berlari menuju ke jendela yang lain, juga dihadang oleh beruk. Rumah Mak Isun benar-benar dikepung oleh belasan beruk, sehingga ia tidak bisa keluar.
”Tolong... !!! Tolong... !!! Singkirkan beruk-beruk itu dari rumahku!” teriak Mak Isun meminta tolong.

Mendengar suara teriakan itu, para penduduk berkumpul di halaman rumahnya hendak menyaksikan peristiwa itu. Namun, tidak seorang pun penduduk yang berani menolongnya, termasuk para kusir bendinya.

Sementara itu, Mak Isun yang berada di dalam rumah itu semakin panik.
“Jika sampai berhari-hari beruk-beruk itu mengepung rumah ini dan tidak diberi makan, apa jadinya kelak? Mereka pasti mengobrak-abrik rumahku, atau... jangan-jangan aku yang menjadi sasaran mangsa mereka, karena kelaparan,” pikir Mak Isun.

Akhirnya, Mak Isun menyadari bahwa ia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ia pun mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak menaikkan sewa beruk kepada penduduk.
verditch - 09/10/2009 02:23 PM
#22

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Pangeran Suta dan Raja Bayang" dari Riau

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1883/pangeran-suta-dan-raja-bayang

keterangan : Konon, pada masa itu, Sultan Hasan memiliki seorang putri yang sangat cantik, bernama Raja Halimah. Kecantikan Putri Raja Halimah masyhur sampai ke berbagai negeri. Pada suatu hari, datanglah seorang raja yang bernama Raja Bayang, berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh ingin melamar Raja Halimah. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Sultan Hasan, sehingga Raja Bayang memorak-porandakan Kerajaan Indragiri. Sultan Hasan beserta keluarga dan seluruh pasukannya terpaksa mengungsi ke Gaung. Dalam pengungsiannya, Sultan Hasan mendengar kabar bahwa ada seorang pangeran yang memiliki pengalaman berperang dari negeri Jambi, Pangeran Suta namanya. Ia pun segera mengundang Pangeran Suta untuk diajak berunding tentang bagaimana cara mengusir Raja Bayang dan pasukannya dari negeri Indragiri. Bagaimana perundingan antara Sultan Hasan dan Pengaren Suta? Bersediakah Pangeran Suta membantu Sultan Hasan untuk mengusir Raja Bayang dan pasukannya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Pangeran Suta dan Raja Bayang berikut ini.

Spoiler for Pangeran Suta dan Raja Bayang
Quote:
Alkisah, pada suatu masa Kerajaan Indragiri diperintah oleh Sultan Hasan Salehuddin Keramatsyah yang berkedudukan di Japura. Sultan Hasan adalah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Selama masa pemerintahannya, seluruh rakyat negeri hidup damai, aman dan sentosa. Selain adil dan bijaksana, ia juga memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Raja Halimah. Kecantikannya pun terkenal hingga ke berbagai negeri.

Pada suatu hari, datanglah seorang anak raja yang bernama Raja Bayang ke Kerajaan Indragiri. Ia didampingi oleh tiga orang saudara laki-lakinya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika, dan Raja Lahis. Keempat anak raja itu datang lengkap dengan pengiring dan balatentara yang gagah perkasa.

Kedatangan mereka membuat gempar rakyat negeri Indragiri. Perilaku mereka sungguh tercela dan tidak senonoh. Mereka memorak-porandakan kampung-kampung di negeri itu. Tanaman tebu dan pisang semua habis mereka tebas dengan golok. Binatang-binatang ternak penduduk seperti ayam, itik, kambing dan kerbau lari berhamburan keluar dari kandang. Anak-anak dara berkerubung kain sarung tidak berani keluar rumah. Mereka takut pada keberingasan Raja Bayang dan pasukannya yang bertindak semema-mena.

Sultan Hasan sangat sedih dan risau mendengar kekacauan yang ditimbulkan oleh Raja Bayang dan balatentaranya. Dipanggilnyalah seluruh menteri kerajaan untuk bermusyawarah menghadapi bahaya yang datang mengancam. “Wahai, para menteriku! Bagaimana kita menghadapi kekuatan Raja Bayang dan balatentaranya?” tanya Raja Hasan kepada para menterinya. “Ampun, Baginda Raja! Pasukan Raja Bayang terlalu kuat untuk kita lawan. Mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba,” jawab salah seorang menteri sambil menyembah. “Benar, Baginda! Sebaiknya kita tunggu apa yang dikehendaki oleh anak raja itu,” tambah menteri yang lainnya. “Baiklah, kalau begitu!” jawab sang Raja dengan tenang.

Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Raja Bayang di Japura. Meskipun Raja Hasan merasa jengkel kepada Raja Bayang yang telah membuat kekacauan itu, Raja Hasan tetap menyambutnya dengan sopan. “Hai, Raja Bayang! Apa maksud kedatanganmu ini?” tanya Raja Hasan. “Aku ke sini untuk meminang Putrimu,” jawab Raja Bayang dengan angkuhnya. Pinangan Raja Bayang ditolak mentah-mentah oleh Raja Hasan. “Wahai, Raja Bayang! Ketahuilah! Aku tidak ingin bermenantukan anak seorang raja sepertimu. Kamu datang ke wilayah kekuasaanku dengan cara sembrono. Aku tidak rela putriku yang lemah lembut itu bersanding dengan kamu yang kasar dan tak mengenal adab.”

Raja Bayang sangat marah mendengar jawaban itu. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah bak terbakar api. “Hai, Raja Bodoh! Kamu akan menyesal karena telah menolak pinanganku,” ancam Raja Bayang lalu pergi meninggalkan istana Japura.

Tak berapa lama, Raja Bayang kembali bersama balatentaranya dengan persenjataan lengkap. Kemudian mereka menyerang Kerajaan Indragiri. Tak ayal lagi, Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang singkat. Walaupun Raja Hasan telah mengerahkan seluruh pasukan Kerajaan Indragiri, mereka tidak mampu menandingi kekuatan pasukan Raja Bayang. Oleh karena itu, Raja Hasan dan pasukannya terpaksa meninggalkan Japura, menyingkir ke suatu tempat yang bernama Gaung.

Dalam pengungsian itu, Raja Hasan mengumpulkan para menterinya untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.
“Ampun, Baginda! Prajurit istana banyak yang tewas dalam pertempuran. Kekuatan kita semakin sedikit,” kata seorang menteri.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Raja Hasan.
“Ampun, Baginda Raja! Hamba pernah mendengar bahwa ada seorang pangeran dari negeri sebelah timur yang baik kelakuannya dan telah berjasa kepada negeri Jambi. Mengenai kemampuannya, sudah tidak diragukan lagi. Banyak sudah laut yang ia layari, pulau yang ia singgahi, daratan yang ia jelajahi, dan luka badan yang ia rasai dari medan pertempuran,” jelas seorang menteri yang lain.
“Siapa namanya?” tanya Raja Hasan penasaran.
“Ampun, Baginda! Hamba tidak tahu persis namanya. Tapi, orang-orang menyebutnya Pangeran Suta,” jawab menteri itu.

Setelah melakukan perundingan, akhirnya mereka sepakat untuk mengutus Datuk Tumenggung mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya, usai berpamitan pada Raja Hasan, berangkatlah Datuk Tumenggung dengan sebuah kapal kecil dan Gaung berlayar ke laut lepas. Setelah berhari-hari berlayar, sampailah ia di perairan Jambi. Di sana ia mendapat keterangan bahwa Pangeran Suta sedang berada di Selat Malaka mengusir gerombolan lanun atau bajak laut.

Beberapa kali Datu Tumenggung berlayar mengitari Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Akhirnya pada suatu hari, ia berhasil menemuinya. Ia pun menceritakan kesulitan yang tengah dihadapi rajanya. “Hai, Pangeran Suta! Kami sudah mendengar tentang kehebatan Pangeran. Raja kami mengharap kesediaan Pangeran untuk membantu raja kami,” kata Datuk Tumenggung. “Baiklah, saya bersedia untuk membalas malu yang telah ditanggung rajamu itu,” jawab Pangeran dengan ramah. Setelah Pangeran Suta menyatakan kesediaannya, berangkatlah Datuk Tumenggung dan Pangeran Suta besarta pasukannya ke Gaung.

Sesampainya di Gaung, Sultan Hasan menyambut Pangeran Suta dengan sangat gembira. Setelah menjamu sebaik-baiknya, Sultan Hasan dan menteri-menterinya melakukan perundingan dengan Pangeran Suta.

Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai mempersiapkan alat-alat perang. Ia juga melatih prajurit Indragiri, hingga mereka yang semula berkecil hati karena menderita kekalahan, kembali bersemangat. Pasukan Pangeran Suta yang sudah terlatih dalam perang baik di darat maupun di laut segera menduduki Sungai Indragiri. Selanjutnya pasukan tersebut mendarat dan bersama-sama dengan prajurit Indragiri berangkat menuju Japura.

Pertempuran sengit pun terjadi, karena dua kekuatan yang sama-sama tahan uji berlaga dengan sekuat tenaga. Pertempuran itu berlangsung selama beberapa hari. Pasukan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak di antara balatentaranya yang tewas dan luka-luka. Alat-alat perang mereka pun rusak berantakan. Raja Bayang dan ketiga saudaranya mundur ke pedalaman. Walaupun Raja Bayang dan balatentaranya sudah mundur ke hutan, Pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka.

Pasukan Raja Bayang kocar-kocir tak tentu arah. Mereka terus diburu oleh pasukan Pangeran Suta. Akhirnya mereka pun kehabisan bekal makanan, kehilangan senjata dan tenaga. Balatentara yang terluka pun semakin parah. Keberanian mereka telah surut tanpa bekas.

Keempat anak raja yang sombong itu kemudian pulang ke negerinya menempuh perjalanan jauh dengan menanggung rasa malu karena kekalahan yang sangat besar.

Pasukan Pangeran Suta segera kembali ke Japura. Utusan pun dikirim Gaung untuk menjemput Sultan Hasan kembali ke istana Japura. “Wahai, Pangeran Suta! Oleh karena engkau telah berjasa terhadap negeri ini, maka sebagai balasannya, aku nikahkan engkau dengan putriku, Raja Halimah,” kata Raja Hasan kepada Pangeran Suta. “Terima kasih, Baginda Raja!” jawab Pangeran Suta dengan senangnya.

Seminggu sebelum pesta pernikahan dimulai, seluruh rakyat negeri tampak sibuk. Mereka sibuk membersihkan, memperbaiki dan menghias istana dengan aneka umbul-umbul. Jalan-jalan mereka rapikan, taman-taman mereka hijaukan, dan lapangan pun dipersiapkan untuk aneka pertunjukan dalam acara penikahan Pangeran Suta dan Raja Halimah. Setelah itu Pangeran Suta dinobatkan sebagai Raja Japura. Maka lengkaplah kebahagian mereka. Rakyat negeri pun kembali aman, damai dan makmur.
verditch - 09/10/2009 02:41 PM
#23

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan" dari Kep.Riau

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1915/putri-pandan-berduri-asal-mula-persukuan-di-pulau-bintan

keterangan : Batin Lagoi mengasuh Putri Pandan Berduri seperti layaknya seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi mengajarinya budi pekerti luhur, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi bahasa lembut. Kecantikan dan keelokan budi Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda kampung di Bintan. Namun, tak seorang pun yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau megat.Akankah tercapai cita-cita Batin Lagoi tersebut? Lalu, anak raja atau anak megat dari manakah yang akan beruntung menjadi suami Putri Pandan Berduri? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Putri Pandan Berduri berikut ini.

Spoiler for Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan
Quote:
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Batin yang gagah perkasa. Batin Lagoi namanya. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama, didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. “Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?” Batin Lagoi bertanya dalam hati.

Setelah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia memelihara Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur.

Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.

Sementara itu, di Pulau Galang, tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati.

Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah.

Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, “Hei, Jenang bodoh!” Kelak aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.”

Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.

Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa. “Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi. “Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya,” jawab Jenang Perkasa dengan sopannya.

Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui tentang hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu.

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan menghibur para pengantin dan para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.

Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan.

Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. “Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang mengggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin,” kata salah seorang dari mereka. Namun, Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa.

Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.

Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.

pandan berduriSetelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.

Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.
verditch - 09/10/2009 02:56 PM
#24

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Kisah Putri Ular" dari Sumatra Utara

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1970/kisah-putri-ular

keterangan : Kotamadya Simalungun memiliki ragam warisan tradisi, salah satunya adalah cerita rakyat. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga sang putri cantik itu menjelma menjadi seekor ular? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!

Spoiler for Kisah Putri Ular
Quote:
Alkisah, di suatu negeri di kawasan Simalungun, Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang kecantikannya sungguh luar biasa. Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang Putri.

Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.
“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.

Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.

Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.

Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.

Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.

Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.

Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.

Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.

Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.

Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.

Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.

Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.

Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.

Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.

Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
verditch - 09/10/2009 03:16 PM
#25

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita rakyat "Si Kepar" dari Aceh

sumber : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1921/si-kepar

keterangan : Dalam masyarakat Alas terdapat banyak cerita rakyat, baik yang tersebar di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua. Salah satu cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan anak-anak dan remaja di daerah ini yaitu Si Kepar. Cerita ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak remaja yang bernama si Kepar dalam menyatukan kembali kedua orang tuanya telah lama bercerai. Munculnya keinginan si Kepar tersebut, karena ia sering diejek oleh teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Untuk menyatukan kedua orang tuanya yang telah lama bercarai itu, bukanlah hal yang mudah. Usaha apa yang dilakukan si Kepar untuk menyatukan kedua orang tuanya? Berhasilkah usahanya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Kepar berikut ini!

Spoiler for Si Kepar
Quote:
Alkisah, di sebuah daerah di Kapupaten Aceh Tenggara, hiduplah seorang janda bersama dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Si Kepar. Ayah dan ibu si Kepar bercerai sejak si Kepar masih berusia satu tahun, sehingga ia tidak mengenal sosok ayahnya. Sebagai anak yatim, Si Kepar sering diejek oleh teman-teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Oleh karena itu, Si Kepar ingin mengetahui siapa sebenarnya ayahnya.

Pada suatu hari, Si Kepar pun menanyakan hal itu kepada ibunya. Pada awalnya, ibunya enggan menceritakan siapa dan di mana ayah Si Kepar. Namun, akhirnya diceritakan juga setelah Si Kepar mengancam akan bunuh diri jika tidak diceritakan. Setelah jelas siapa dan di mana ayahnya, Si Kepar pun berniat untuk menemui ayahnya di atas sebuah gunung yang sangat jauh.

Setelah berpamitan pada ibunya, Si Kepar pun berangkat untuk menemui ayahnya dengan perbekalan secukupnya. Ia berjalan sendiri melawati hutan belantara, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Akhirnya, sampailah ia pada tempat yang dimaksud ibunya. Dari kejauhan, tampaklah seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyiangi rumput di tengah-tengah ladangnya. Si Kepar pun segera menghampiri dan menyapanya.
“Selamat siang, Pak!”.
“Siang juga, Nak!” jawab Bapak itu.
“Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya pula Bapak itu.
“Saya Si Kepar. Berasal dari Tanah Alas,” jawab Si Kepar.
“Tanah Alas?” ucap Bapak itu. Ia tersentak kaget mendengar jawaban Si Kepar.
“Kenapa Bapak kaget mendengar nama itu?” tanya Si Kepar.
“Oh tidak, Nak! Tidak ada apa-apa,” jawab Bapak itu.
“Apa yang membawa kamu ke sini, Par?” tanya balik bapak itu.

Si Kepar pun menceritakan maksud kedatanganya, namun ia tidak menceritakan kalau ibunya masih hidup. Setelah mendengar cerita si Kepar, tahulah Bapak itu bahwa Si Kepar adalah anaknya.

Sejak itu, Si Kepar mulai silih berganti tinggal bersama ayah atau ibunya. Dalam seminggu, terkadang Si Kepar tidur tiga malam di tempat ayahnya, baru kembali ke tempat ibunya. Si Kepar tidak pernah menceritakan kepada ibunya kalau ia tidur di tempat ayahnya. Bahkan, ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Semua hal ini dilakukan oleh Si Kepar, karena ia ingin kedua orang tuanya menyatu kembali agar tidak lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah.

Segala daya dan upaya dilakukannya agar keinginannya dapat tercapai, walaupun ia harus berbohong kepada kedua orang tuanya. Setelah berdoa sehari-semalam, Si Kepar mendapat petunjuk dari Yang Mahakuasa. Petunjuk itu adalah menyatakan kehendaknya kepada ibunya untuk memiliki ayah tiri. Harapan ini juga disampaikan kepada ayahnya untuk memiliki ibu tiri. Pada suatu malam, Si Kepar menyampaikan harapannya itu kepada ibunya.
“Bu, sebenarnya Kepar kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika ibu ingin menikah lagi, Kepar tidak keberatan memiliki ayah tiri.” Mendengar perkataan Kepar itu, ibunya termenung sejenak, lalu berkata, “Benarkah kamu tidak keberatan, Par?”
“Tidak, Bu! Kepar sangat senang jika memiliki ayah lagi, agar teman-teman Kepar tidak akan lagi mengejek Kepar sebagai jazah,” Kepar menjelaskan alasan sebenarnya ingin memiliki ayah lagi.
“Tapi..., siapa lagi yang mau menikah dengan ibu yang sudah tua ini,” kata ibu Kepar merendah.
“Ibu tidak perlu khawatir. Serahkan saja masalah itu kepada Kepar,” jawab Kepar dengan perasaan lega, karena jawaban ibunya menandakan bersedia menikah lagi.

Keesokan harinya, Kepar kemudian pergi ke gunung menemui ayahnya untuk menyampaikan harapan yang sama.
“Ayah! Bolehkah Kepar meminta sesuatu kepada, Ayah?” tanya Kepar kepada ayahnya.
“Apakah itu, Anakku!” jawab ayah Kepar penasaran.
“Sebenarnya Kepar merasa kasihan melihat ayah yang setiap hari harus bekerja di ladang dan memasak sendiri. Jika ayah tidak keberatan, Kepar akan mencarikan seorang perempuan yang pantas untuk mendampingi ayah,” kata Kepar kepada ayahnya.
“Siapa lagi yang mau dengan ayah yang sudah tua ini?” jawab ayah Kepar tersenyum.
“Tenang, Ayah! Masih banyak janda-janda yang sebaya dan pantas untuk ayah di Tanah Alas,” kata Kepar kepada ayahnya memberi harapan.
“Ah, yang benar saja, Par!” jawab ayah Kepar dengan santainya.

Mendengar jawaban itu, Kepar pun tahu kalau ayahnya bersedia menikah lagi. Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujui harapan Si Kepar. Namun, mereka belum mengetahui siapa jodohnya yang oleh mereka sama-sama telah menyerahkan masalah itu kepada Si Kepar.

Setelah itu, Kepar pun mulai mengatur taktik dan strategi untuk mempertemukan kedua orang tuanya yang semula beranggapan bahwa pasangan mereka sudah meninggal sebagaimana keterangan Si Kepar. Si Kepar mempertemukan mereka di sebuah dusun yang berada di lereng gunung, tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya. Pertemuan ini tidak dilakukan di Tanah Alas, agar ayahnya tidak teringat dengan tempat itu, dimana dulu ia pernah tinggal di sana selama puluhan tahun.

Akhirnya, berkat usaha Kepar, kedua orang tuanya bersatu kembali. Mereka berdua hidup harmonis seperti sedia kala. Melihat keadaan itu, kini saatnya Si Kepar menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa perempuan yang dinikahi ayahnya itu adalah istrinya sendiri yang dulu pernah ia nikahi. Demikian sebaliknya, laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah suaminya sendiri yang dulu pernah menikahinya. Setelah mendengar keterangan dari Si Kepar tersebut, tahulah keduanya (ayah dan ibu Kepar) keadaan yang sebenarnya. Meskipun keduanya telah dibohongi oleh anaknya, keduanya tidak marah. Keduanya saling memaafkan atas kesalahan masing-masing yang menyebabkan mereka bercerai. Mereka juga berterima kasih kepada Si Kepar, karena telah menyatukan mereka kembali. Si Kepar pun sangat senang menyambut kehadiran ayahnya di tengah-tengah keluarganya. Akhirnya, mereka bertiga hidup dalam sebuah keluarga yang rukun, damai dan penuh kebahagiaan. Sejak itu pula, Si Kepar tidak pernah lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah.
e-New - 11/10/2009 03:36 PM
#26
Manusia Menjadi Burung Pipit
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Manusia Menjadi Burung Pipit
sumber : Disini
keterangan : Cerita rakyat dari suku kaili - sulteng [Manusia Menjadi Burung Pipit]

Spoiler for Manusia Menjadi Burung Pipit
Ada seorang naluo kapuruna (besar pantatnya) yang yang dijual. Kemudian ada pula seorang anak raja perempuan bernama Gigimani. Ada tunangannya seorang anak raja dari Jawa bernama Datirijawa. Anak ini menangis, dia ingin dibeli (dijadikan budak), maka ibunya berkata: "Bagai mana kamu mau dibeli (dijadikan budak), sedang engkau anak raja mempunyai banyak pengasuh, bahkan ada yang khusus mengangkat kotoranmu?" Dibelinya orang yang besar pantatnya. Tujuh bulan kemudian terjadilah peristiwa yang ajaib di kampung itu. Semua orang di kampung itu menjadi burung pipit termasuk ibu Gigimani. Bertepatan dengan peristiwa ini datang tunangan Gigimani, yaitu Datirijawa untuk menjemput tunangannya. Maka disiapkanlah segala pakaian dan perhiasannya, semua barang-barang serta makanan yang akan menjadi bekal dalam perjalanan nanti. Setelah segala sesuatunya siap, maka berangkatlah ia, ditinggalkannya kampung itu sebab tidak ada gunanya lagi tinggal di sana oleh karena tidak ada lagi teman.

Orang yang besar pantatnya itu, ikut berangkat, bersama anak raja. Sudah hampir tiga bulan lamanya mereka berlayar, perahu tiba-tiba berhenti karena angin tidak bertiup. Maka duduklah anak raja tadi di haluan, menyanyi memanggil angin:

- Domi le domi, domi le domi.

- Lelenangura dati rijawa.

Sudah busuk tempat pinang, lebih busuk lagi angin bertiup, sebab ia orang yang dibeli, yang datang itu. Saya hanya orang yang dibeli. Raja yang ada di buritan. Kemudian menyanyi lagi anak raja yang dibaluan itu:

- Domi le domi, domi le domi

- Lelengura dati rijawa

Walaupun sudah wangi, lebih harum yang bertiup itu. Setelah tiga bulan lamanya berlayar menuju kampung laki-laki itu, maka sampailah ia. Orang pun datanglah berarnai-ramai menjemput anak raja Datirijawa itu dengan isterinya. Mereka datang menjemput dengan usungan emas. Orang yang (besar pantat) itu pun akan diusung, dan berkatalah ia, "Jangan saya diusung dengan usungan itu sebab saya sakit bisul, carilah oko untuk usungan saya", Sesampainya di rumah maka dipersilahkanlah ia naik.

Adapun anak raja perempuan yang dibeli tadi tidak dipersilahkan naik ke rumah. Kata raja, "Biarkanlah anak ini tinggal di bawah, tidak naik ke rumah karena raja kurang senang".

Sesudah itu raja memerintahkan kepada seluruh rakyatnya agar membuat sawah yang luas. Maka dibuatlah sawah seluas tiga ratus hektare yang akan dijaga oleh anak perempuan tadi dari serangan burung pipit, sedang tiga ratus hektare lainnya akan dijaga oleh seluruh rakyat bersama raja.

Setelah selesai semua maka disuruhlah anak itu pergi menjaga sawah. Kata raja, "Berikanlah sisa-sisa beras jagung untuk bekal kepada anak itu!" Maka berkatalah anak yang dibeli itu: "Kalau ada sisa-sisa beras jagung yang sudah membubuk berikanlah untuk bekal saya!" Maka diberikanlah jagung bersama tongkoInya untuk anak itu.

Setelah sampai di dangau, tempat menjaga padi di tengah sawah itu maka disisipkanlah jagungnya itu di atas dangau itu dan tidak pernah lagi disentuhmya. Ada pun tanaman padi ketika itu sementara mulai berbuah dan sebahagian sudah mulai berisi.

Tiba-tiba bertiuplah angin yang sangat kencang sehingga semua orang jatuh di parit. Maka menyanyilah anak tersebut:

- E ina-ina ja na ande = Ibu-ibu jangan dimakan

- Ja na ande ri sapoku = Jangan makan di rumah saya

- Ri sapoku tori dauluna= Di rumah saya akan orang dari uluna

Maka datanglah induk burung pipit. Di antara burung-burung pipit itu ada sepotong yang berwarna putih bulunya. Itulah yang menyanyi, menjawab nyanyian anak tadi:

- E ana yaku ande
- Yaku ande ri sapomu
- Ja tori daulana

Maksudnya: "Ya anak sayang, saya tidak akan makan padimu, saya datang hanya mengikuti angin yang bertiup". Setelah itu beterbanglah semua burung pipit itu. Ketika rombongan burung pipit itu datang, bermacam-macamlah ma kanan yang dibawanya. Semua bergantungan di bubungan, dan didinding sehingga mengakibatkan dangau hampir tidak kelihatan lagi. karena beraneka ragam makanan bergantungan di dangau tersebut.

Kemudian pergilah anak itu ke sungai untuk mandi. Setelab tiba di sungai, berdatanganlah burung-burung pipit itu membasahi badan orang yang mandi itu, sehingga sudah menjadi kebiasaan sampai sekarang burung membasahi badannya. Sesudah mandi dipasangnyalah pakaiannya. Ditanyakanlah apakah sudah sembuh? Dijawabnya, "Belum". Cukup tujuh kali ditanyakannya hari pun sudah malam. "Kami ingin kembali", Bawalah saya, apalagi saya ini orang miskin". "Kami adalah keluarga yang tidak kecukupan, di mana malam di situlah tempat tidur".

Ada suatu ketika raja bertanya kepada rakyatnya bagaimana tentang padi di sawah yang sekarang dijaga itu. Orang menjawab bahwa padi di sawah tidak berbuah, sebaliknya padi kepunyaan anak perempuan itu sangat menjadi buahnya. Dengan penuh keheranan, raja berkata kepada orang banyak, "betulkah apa yang kalian ceriterakan itu? Kenapa harus demikian bukankah anak perempuan itu hanya seorang diri?". Orang menjawab, "kalau raja tidak percaya, silahkan raja datang menyaksikan sendiri".

Maka berangkatlah raja ketempat penjagaan burung pipit di sawah kepunyaan orang banyak itu. Sementara baru kelihatan sawah tersebut, jatuhlah raja di dalam parit, sedangkan anak itu diam saja di pondok penjagaan burung pipit itu. "Perhatikanlah", kata orang banyak kepada raja. Menyanyi lagi anak di pondok itu. Sesudah menyanyi anak tersebut, barulah burung pipit lagi menyanyi. Kalau sudah menyanyi burung pipit di pondok, berdatanglah bermacam-macam makanan di pondoknya. Gogoso dan nasi jaha semuanya dibawa oleh burung pipit. Sementara angin laut sudah bertiup maka menyanyilah anak di pondok itu.

- E ina-ina ja mu ande.
- a jamu ande jar ri sapoku
- Ri sapoku tori baluna
- Tori baluna yaku li

Kemudian burung pipit lagi yang menyanyi:

- E ana aga ku ande
- Aga ku anderi sopomu
- Ri sapomu tori baluna
- Tori baluna kuace wei
e-New - 11/10/2009 03:38 PM
#27

Sambungan dari atas..
Quote:
Original Posted By e-New
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Manusia Menjadi Burung Pipit
sumber : Disini
keterangan : Cerita rakyat dari suku kaili - sulteng [Manusia Menjadi Burung Pipit]

Spoiler for Manusia Menjadi Burung Pipit
Ya anakku, saya datang hanya mengikuti kedatangan angin laut. Burung pipit datang lagi di pondok-pondok anak itu. Sementara raja merangkak di pematang sawah, kelihatan olehnya buah padi kepunyaan anak itu sangat banyak. Raja pun tidak berkata-kata, sementara ia duduk di pematang sawah. Sesudah habis makan, dibawanyalah ke sungai, sesudah kembali dari sungai dipasangnyalah pakaiannya, sambil berjalan. Sementara anak itu berkata, "Sudah sembuh?, belum! Sudah sembuh, belum? Sudah sembuh, belum?" Dikatakannya sudah sembuh itu. Karena dikejutkan tiba-tiba raja pingsan seketika itu. Maka semua orang sibuk, karena raja dalam keadaan pingsan. Melihat keadaan itu anak raja perempuan tadi lalu pergi mengambil air; dibasahinya ujung rambutnya lalu dipercikkan ke seluruh badan raja. Raja pun sadarlah. Ditindisnyalah paha anak itu. Dan berkatalah raja seketika, bahwa anak tersebut adalah isterinya. Maka berkatalah anak tersebut, "Saya bukan isterimu tuanku. Kalau tuanku memandang isteri tuanku tentu akan mengenal wajahnya. Sementara itu raja merencanakan memanggil isterinya. Maka pergilah orang untuk mengambilnya. Maksud raja untuk membunuh isterinya itu, katanya, "Beritahukan perempuan itu segera ke sana, sebab hanya dia yang dapat dijadikan pawang padi".

Setiba utusan raja, lalu berkatalah perempuan tersebut: "Saya akan mandi dahulu," "Tidak usah mandi sebab hari sudah malam. Waktu yang tinggal sedikit inilah yang sebaik-baiknya digunakan". KWenapa tergesa-gesa sekali? Saya masih berbedak," "Tidak usah", katanya, "Saya ganti pakaian." "Biar saja, tidak perlu, kita menuju pelabuhan perahu sekarang". Sementara berjalan, berkata lagi perempuan itu: "Saya ini akan mati. Saya mungkin akan dibunuh". Begitulah kata-katanya sepanjang jalan. Setelah nampak oleh raja, maka raja pun lalu mengejamya. "Saya ini akan mati, sungguh saya akan mati". Maka berkatalah Gigimani, "Tuan akan dibunuh walaupun tuanku seorang raja, sedang saya ini hanyalah budak".

Raja laki-laki (Datirijawa) tidak mengenakan pakaian biasa melainkan pakaian kerajaan, sedang anak perempuan itu mengenakan pakaian dan perhiasan emas. Kira-kira sudah tujuh bulan waktunya berIalu perkimpoian mereka, maka berkatalah raja, "Saya akan berangkat menemui orang tua dan melihat harta pusaka saya bersama isteri saya, anak perempuan ini. Sudah lama saya tidak pemah melihat lagi, baik logam anak dibawa, baik emas isteri yang dibawa". Sementara bersiap untuk berjalan bersama isterinya, tibalah saat yang sulit. Rupanya isterinya raja sudah mengidam, ia mulai sakit-sakit. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan hanyalah hati dari seekor rusa yang putih. Meskipun berat dikatakannya juga kepada raja, suaminya. Maka raja pun segera berangkat mencari rusa putih, meninggalkan isterinya seorang diri di perahu. Sudah hampir tiga bulan lamanya, raja belum juga kembali. Dalam keadaan demikian, sementara bersiap berangkat maka datanglah perempuan tadi untuk ikut bersama mereka berlayar. Maka disuruhlah ia pergi mengambil air dengan bobo. Ketika hendak mengambil air, maka isteri raja di perahu berbayang di permukaan air di sumur. Disangkanya mukanya sendiri yang kelihatan itu, yang sesungguhnya buruk, sehingga bobo yang dibawanya dipecahkannya, laIu pulang. Setelah sampai di perahu bertanya isteri raja, "Mana air dan bobo yang kamu bawa"? Jawabnya," sudah pecah, karena dikagetkan ikan yang berkelahi". Disuruh bawa lagi cerek untuk tempat air. Cerek itu di pecahkannya lagi. "Mana cerek air"? "Saya dikejutkan oleh biawak sehingga cerek tersebut jatuh dan rusak". Apa saja yang bisa masuk akal dijadikannya alasan untuk memberitahu kepada isteri raja di perahu. Kemudian di bawa lagi belanga, tetapi dipecahkannya dengan batu besar. Ketika ditanya, mana belanganya; dijawabnya bahwa ia terkejut sehingga belanga terlempar ke laut, Ia pun lalu berdiam diri.

Berkatalah raja perempuan, "Kalau begitu cobalah cari kutu saya ini". Sementara mencari kutu, berkatalah perempuan itu "Berikanlah saya sepasang pakaianmu supaya saya lebih rajin mencari kutumu". Raja perempuan pun menanggalkan pakaiannya dan diberikannya kepada orang yang mencari kutu tersebut.

Karena asyiknya dicarikan kutunya, maka isteri raja pun tertidur. Ketika itulah ia gunakan kesempatan mencungkil kedua mata isteri raja lalu dilempamya ke laut. Maka pada saat itu berhasillah ia menjadi isteri raja.

Sedang raja sudah datang membawa rusa putih. Berkatalah ia, "Mengapa raja terlalu lama tidak segera pulang, potonglah rusa itu". Sesudah dipotong diambilnya hatinya dan dikatakannya," baiklah kita berangkat saja. Ketika sampai di rumah berkatalah ibunda raja, "Seperti tidak menyerupai muka anak mantu saya yang berangkat dahulu. Muka lain yang datang".

Isteri raja yang dijatuhkan di laut tadi terkait dikemudi perahu. Kemudian setelah perahu tiba di pelabuhan, merangkaklah ia ke darat, menuju ke sebuah batang kayu yang berlubang dan tinggallah ia di sana sampai ia melahirkan anak. Anak itu dipeliharanya di lobang kayu sampai besar. Suatu ketika berkata anaknya kepada ibunya, "Saya ingin memancing ikan dilaut". Jawab ibunya," Bahan apa yang jadikan pancingnya? "Kayu pancingan dari batang padi sedangkan talinya dari rambut". Maka pergilah anak kecil itu memancing. Baru saja dilemparkannya di laut, ia sudah mendapatIcan ikan sebesar nyiru. Berkatalah anak itu, "Inilah ikan-ikan yang saya dapat pancing". "lkan apa yang didapati itu? Baiklah di jual saja; kalau sudah laku, uangnya belikan saya sirih". Anak itu pergilah menjala ikan tadi dengan memanggil-manggil "lkan raja, ikan raja". Ketika sampai di rumah raja, raja bertanya, "Dibayar dengan apa ikanmu ini nak? Jawab anak itu: "Sirih, berikan saya sirih yang sudah rusak di sudut sana". Maka sirih itu pun diberikan kepadanya. Sesampainya sirih itu diberikannya kepada ibunya, ia pun pergi menangkap ikan (memancing ikan) lagi. Ikan yang didapatnya lalu dijualnya pula. Anak itu memanggil-mangil menjual ikan itu: "lkan, ikan raja". "dibayar dengan apa"? kata raja." Ada yang dibungkus daun jagung didapur tempat masak". Rupanya itulah mata ibunya. Anak itu kemudian bertanya, "Adakah kelapa putih disini tiga buah"? "Ada". "Dapatkah saya bawa ke rumah"? Maka dibawa oleh anak ini kelapa tiga buah tadi. "Kupaslah dengan baik dan asahlah di batu, mata saya itu," kata ibunya. Berulang kali diasah dipasanglah. "Sudah kelihatan saya ini? "Masih kabur kelihatan". "Lakukan lagi satunya, asah di batu. Bukan main, sudah berapa bulan hanya dekat perapian terus saja. Asah lagi, lalu pasang," Bagaimana, sudah terang? "Sudah terang betul" "Kalau begitu saya akan berhenti, saya akan berhenti memancing ikan.

Bertepatan saat orang kampung melaksanakan upacara melepas perahu, seorang anak berdiri di muara sungai. Berkata anak itu kepada ibunya, "Oh, ibu orang melepas perahu rupanya tentulah ada ayam kecil disana, saya akan ambil, saya akan pergi menyabung ayam. Maka diambilnya ayam tadi yang putih bulunya lalu ia berangkat menuju tempat penyabungan ayam yaitu dirumah raja. Ketika raja melihat anak itu memegang ayam kecil, maka berkatalah raja; "Maukah engkau menyabung ayammu Nak? Bawalah ke mari! Berapa taruhannya? Anak itu menjawabnya, Diri sayalah taruhannya hai baginda raja".

Ketika ayam itu dilepas berkelahi, orang-orang yang menyaksikan turut memberikan support kepada ayam putih kecil itu sehingga hanya tiga kali dipukulnya ayam besar kepunyaan raja itu maka matilah ayam raja itu. Katanya, "Ini uang taruhannya", simpanlah disitu, saya akan pulang dahulu baginda raja", jawab anak itu.

Keesokan harinya ia pun berangkat ke rumah raja untuk menyabung ayamnya. Ketika nampak oleh raja, maka raja bertanya kepada anak itu, "Maukah engkau menyabung ayammu nak? Bawalah ke mari! Berapa taruhannya? "Seperti kemarin dan saya ini menjadi taruhannya lagi," jawab anak itu. Seketika itu ayam pun dilepas berkelahi. Tiada berapa lama ayam raja pun kalah pula. 'Ambillah uang kemenangannu ini", kata raja. "Biarlah di sini, saya akan pulang dulu baginda raja, sebab saya ini hanya orang miskin", jawab anak itu. Dengan takdir Tuhan pagi-pagi keesokan harinya harta raja tiba-tiba habis walaupun dahulunya adalah raja yang kaya dan berkuasa. Ketiga kali anak itu datang pula membawa ayamnya kepada raja untuk menyabung. Kali ini taruhannya ialah daerah kerajaan akan diserahkan bila raja masih kalah lagi. Ayam pun dilepas kemedan perkelahian, dengan Takdir Tuhan satu kali tendang, ayam kepunyaan raja pun kalah pula. Raja pun menyatakan diri kalah dan habislah seluruh harta dan daerah kekuasaannya.


e-New - 11/10/2009 03:38 PM
#28

Quote:
Original Posted By e-New
Sambungan dari atas..

Spoiler for sambungan lagi...
Ketika anak itu hendak pulang raja bertanya, "Dimana tempat tinggalmu nak?" Anak itu menjawab, "disana, baginda raja". Dua tiga kali raja bertanya, anak itu hanya menunjuk ke arah sana. Maka raja lalu menyuruh ikuti anak itu dari belakang untuk mengetahui dimana rumah tempat tinggaInya.

Ketika sampai disana anak itu menunjuk kayu besar yang sedang rebah itu, katanya: "Disanalah tempat tinggal saya". Tetapi anehnya ketika anak itu menginjak ujung kayu itu satu kali bergoyang batang kayu itu, tiba-tiba anak itu terus menghilang, anak itu tiada kelihatan lagi. Orang-orang yang mengikutinya pun heran lalu katanya,"barangkali anak dari setan kayu ini".

Peristiwa ini pun diumumkan oleh raja kepada masyarakat, maka beramai-ramailah orang keluar menuju tempat itu, hanya orang buta dan orang lumpuh sajalah yang tidak dapat turut bersama-sama bekerja. Ada yang membawa kapak, ada yang membawa parang dan sebagainya. Mereka mulai bekerja hendak memotong kayu besar itu. Tetapi ketika kayu besar itu dipotong, terasa bagaikan besi kerasnya. Semua kapak yang dipakai besar dan kecil semuanya jadi rusak. Mereka pun berhenti lalu bermaksud pulang semua. Tidak lama kemudian kelihatan lagi anak itu sedang mandi di laut memukul air. Anak tersebut ditangkap lalu dipegang tangannya. "Dimana rumahmu?" maka masuklah anak tersebut ke dalam rumahnya. Keluarlah ibunya "mengapa orang begini dibawa kemari? kalau diketahuinya anaknya, tentu ada tandanya. Bagaimana mukanya tentunya begitu juga muka anaknya. Coba panjat kelapa adakah buahnya jatuh ditempat lain. Mesti ditempat itu, lebih tebal batang kayu, lebih tebal hatinya, ia tidak punya perasaan.
e-New - 11/10/2009 03:43 PM
#29
Kejadian manusia dari daun tea
kaskus ID : e-New
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
bentuk karya : Cerita rakyat sulawesi tengah [suku kaili]
sumber : Disini
keterangan : Kejadian manusia dari daun tea

Spoiler for Kejadian manusia dari daun tea
Tersebutlah ada dua orang laki-laki, Lagea dan Vunjiaka namanya. Di antara keduanya tidak diketahui mana yang lebih tua atau yang lebih muda.

Konon mereka menemukan dua lembar daun tea di tengah hutan belantara. Daun tea itu temyata daun ajaib, begini ceriteranya:

Pada suatu hari Lagea dan Vunjiaka pergi menebas kayu di hutan untuk dijadikan kebun. Dibakarlah kayu-kayu yang sudah terpotong karena sudah hampir tiba waktunya untuk menanami kebun.

Di rumah mereka ada sebuah guci, bentuknya seperti tempayan tempat air. Guci itu diisi air sampai penuh, barulah mereka pergi lagi untuk menyelesaikan pekedaan di kebun. Tetapi ketika mereka kembali dari kebun, didapatinya guci itu sudah kosong. Siapa kiranya yang mengambil air di guci itu sampai habis?

Sesudah tujuh hari, tempayan itu diisi air lagi, lalu ditinggalkan lagi ke kebun. Tetapi baru tengah hari mereka pulang untuk melihat keadaan di rumah, ingin mengetahui siapa yang mengambil air di tempayan. Mereka mengintip dengan diam-diam. Maka kedengaranlah suara orang sedang menggayung air dari tempayan itu. Rupa-rupanya orang itu adalah penjelmaan daun tea yang diketemukan mereka. Mereka Ialu teringat peristiwa ketika mereka menemukan daun tea itu, yaitu ketika mereka berburu rusa melewati rawa-rawa.

Pada waktu berburu itu mereka membawa serta seekor anjing. Mereka masuk hutan keluar hutan. Dan tiba-tiba anjingnya mengonggong sambil mengejar seekor rusa. Tetapi setelah tiba di tepi rawa-rawa, yang diketemukan mereka di sana hanyalah dua lembar daun tea. Dan si anjing terus saja menyalaki daun itu. Lagea mengambilnya selembar, kemudian dibawa ke rumah dan disimpannya, disisipkan di atap rumah. Daun tea itu dipeliharanya dengan baik-baik, setiap kali di bersihkan dengan air.

Pada suatu hari Lagea mendapati seorang wanita sedang mandi di rumahnya. Ternyata wanita itu adalah penjelmaan daun tea yang ditemukan di hutan dahulu. Wanita itu segera ditangkapnya. Akhirnya keduanya kimpoi.

Tibalah saatnya isterinya mengidam, Ialu katanya kepada Lagea dan Vunjiaka. "Besok pagi pergilah kalian ke hutan. Mencari rusa."

"Di mana kami harus mencarinya?"

Di gunung Layar, jalan yang menuju Poboya. Apabila kalian sudah berhasil menangkap babi atau rusa, carilah bambu di gunung Layar itu. Potong dan ambillah bambu itu. Bawalah ke mari untuk di jadikan tempat memasak rusa atau babi itu.

Mereka berangkat, tak lama kemudian seekor rusa besar tertangkap oleh anjing mereka. Segera diikat kakinya. Tapi ketika akan pulang mereka teringat akan pesan istri Lagea.

Vunjiaka berkata "Bagaimana pesan istrimu Lagea?"

Lagea menjawab, "Katanya ada bambu yang harus dipotong untuk dijadikan tempat memasak. Kalau begitu baiklah kau naiki rusa itu dan aku yang akan memotong bambunya."

Lagea berangkat. Setelah bambu itu diketemukan Ialu dipotongnya. Semak-semak di sekitar bambu itu dibersihkan lebih dahulu agar mudah untuk memotong bambu pesanan istrinya itu.

Tetapi ketika Lagea hendak mulai memotong, tiba-tiba ada suara terdengar, "Jangan kakiku, di atasnya lagi". Lagea mulai hendak memotong bagian yang lebih tinggi. Tapi terdengar lagi suara. "Jangan betisku, lebih ke atas lagi saja"

Maka setiap kali Lagea hendak memotong, selalu ada suara yang mengganggunya, yang meminta agar yang dipotong hendaknya bagian yang lebih tinggi lagi. Akhirnya Lagea tidak jadi Memotong bambu itu.

Rupa-rupanya Vunjiaka ada di tempat itu juga. Tanpa berpikir panjang, Vunjiaka menggali rumpun bambu sampai ke akarnya, sehingga seluruh rumpun bambu itu terbongkar tanpa ada yang dipotong, Ialu dipikulnya. Sedangkan Lagea lalu memikul rusa.

Dalam perjalanan keduanya berhenti pada dua buah batu yang merupakan pasangan untuk melepaskan lelah, karena terIalu berat beban yang dipikulnya. Di tempat itu tiba-tiba bambu yang dipikul Vunjiaka meledak muncullah seorang perempuan yang cantik sekali. Wanita itu lalu dijadikan istri oleh Vunjiaka.

Sejak itu lahirlah berbagai macam adat dan upacara, tarian seni tenun-menenun, sede: yaitu upacara untuk laki-laki dan perempuan. Kemudian timbul nama-nama kayu seperti bodingi, saudu, lelio, silalondo, tomanangi, voleara. Semuanya itu melahirkan adat upacara khitanan bagi laki-laki dan perempuan.

Upacara adat yang dilakukan sampai sekarang mengambil dasar adat lama dari asal mula kejadian manusia dari daun tea tadi. Dalam upacara adat terdengar pula lagu yang berkenaan dengan asal mula terjadinya manusia dari daun tea, misaInya:

- Tidak durhaka dan tidak celaka Vunjiaka.
- Bawa saya, bawalah saya ke dunia luar.
- Vunjiaka segera bawa, bawalah saya ke tanah Sibedi.
- Kalau tidak dari daun tea, saya tidak mungkin dapat batang.
- Jangan dilupakan saya yang jauh.
- Lupalah saya yang jauh melalui pelangi di langit biru.
verditch - 13/10/2009 04:38 PM
#30

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Cerita Rakyat dari Jawa Tengah berjudul Asal Mula Candi Prambanan

sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/candi-prambanan.html

keterangan : ini adalah cerita rakyat berjudul asal mula candi prambanan

Spoiler for Candi Prambanan

Quote:
Pada jaman dahulu kala di Pulau Jawa terutama di daerah Prambanan berdiri 2 buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging adalah kerjaan yang subur dan makmur yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Damar Moyo dan mempunyai seorang putra laki-laki yang bernama Raden Bandung Bondowoso.

Kraton Boko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging yang diperintah oleh seorang raja yang kejam dan angkara murka yang tidak berwujud manusia biasa tetapi berwujud raksasa besar yang suka makan daging manusia, yang bernama Prabu Boko. Akan tetapi Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik dan jelita bak bidadari dari khayangan yang bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko juga memiliki patih yang berwujud raksasa bernama Patih Gupolo. Prabu Boko ingin memberontak dan ingin menguasai kerajaan Pengging, maka ia dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal dengan cara melatih para pemuda menjadi prajurit dan meminta harta benda rakyat untuk bekal.

Setelah persiapan dirasa cukup, maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit menuju kerajaan Pengging untuk memberontak. Maka terjadilah perang di Kerajaan Pengging antara para prajurit peng Pengging dan para prajurit Kraton Boko.

Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak dan rakyat Pengging menjadi menderita karena perang, banyak rakyat kelaparan dan kemiskinan.

Mengetahui rakyatnya menderita dan sudah banyak korban prajurit yang meninggal, maka Prabu Damar Moyo mengutus anaknya Raden Bandung Bondowoso maju perang melawan Prabu Boko dan terjadilan perang yang sangat sengit antara Raden Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Raden Bandung Bondowoso maka Prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas, maka Patih Gupolo melarikan diri. Raden Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupolo ke Kraton Boko.

Setelah sampai di Kraton Boko, Patih Gupolo melaporkan pada Puteri Loro Jonggrang bahwa ayahandanya telah tewas di medan perang, dibunuh oleh kesatria Pengging yang bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka menangislah Puteri Loro Jonggrang, sedih hatinya karena ayahnya telah tewas di medan perang.

Maka sampailah Raden Bandung Bondowoso di Kraton Boko dan terkejutlah Raden Bandung Bondowoso melihat Puteri Loro Jonggrang yang cantik jelita, maka ia ingin mempersunting Puteri Loro Jonggrang sebagai istrinya.

Akan tetapi Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak pinangan Raden Bandung Bondowoso, maka Puteri Loro Jonggrang mempunyai siasat. Puteri Loro Jonggrang manu dipersunting Raden Bandung Bondowoso asalkan ia sanggup mengabulkan dua permintaan Puteri Loro Jonggrang. Permintaan yang pertama, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan sumur Jalatunda sedangkan permintaan kedua, Puteri Loro Jonggrang minta dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam.

Raden Bandung Bondowoso menyanggupi kedua permintaan puteri tersebut. Segeralah Raden Bandung Bondowoso membuat sumur Jalatunda dan setelah jadi ia memanggil Puteri Loro Jonggrang untuk melihat sumur itu.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menyuruh Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur. Setelah Raden Bandung Bondowoso masuk ke dalam sumur, Puteri Loro Jonggrang memerintah Patih Gupolo menimbun sumur dan Raden Bandung Bondowoso pun tertimbun batu di dalam sumur. Puteri Loro Jonggrang dan Patih Gupolo menganggap bahwa Raden Bandung Bondowoso telah mati di sumur akan tetapi di dalam sumur ternyata Raden Bandung Bondowoso belum mati maka ia bersemedi untuk keluar dari sumur dan Raden Bandung Bondowoso keluar dari sumur dengan selamat.

Raden Bandung Bondowoso menemui Puteri Loro Jonggrang dengan marah sekali karena telah menimbun dirinya dalam sumur. Namun karena kecantikan Puteri Loro Jonggrang kemarahan Raden Bandung Bondowoso pun mereda.

Kemudian Puteri Loro Jonggrang menagih janji permintaan yang kedua kepada Raden Bandung Bondowoso untuk membuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Maka segeralah Raden Bandung Bondowoso memerintahkan para jin untuk membuat candi akan tetapi pihak Puteri Loro Jonggrang ingin menggagalkan usaha Raden Bandung Bondowoso membuat candi. Ia memerintahkan para gadis menumbuk dan membakar jerami supaya kelihatan terang untuk pertanda pagi sudah tiba dan ayam pun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang maka para jin berhenti membuat candi. Jin melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak dapat meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba. Akan tetapi firasat Raden Bandung Bondowoso pagi belum tiba. Maka dipanggillah Puteri Loro Jonggrang disuruh menghitung candi dan ternyata jumlahya 999 candi, tinggal 1 candi yang belum jadi.

Maka Puteri Loro Jonggrang tidak mau dipersunting Raden Bandung Bondowoso. Karena ditipu dan dipermainkan maka Raden Bandung Bondowoso murka sekali dan mengutuk Puteri Loro Jonggrang “Hai Loro Jonggrang candi kurang satu dan genapnya seribu engkaulah orangnya”. Maka aneh bin ajaib Puteri Loro Jonggrang berubah ujud menjadi arca patung batu.

Dan sampai sekarang arca patung Loro Jonggrang masih ada di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep (perawan tua) karena telah membantu Puteri Loro Jonggrang.

Dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa pacaran di candi Prambanan akan putus cintanya.

Page 1.5 of 13 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel