Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797
Page 7 of 13 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›

verditch - 06/02/2010 10:07 AM
#121

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Melayu

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa melayu

Spoiler for Part 1

Quote:
Bahasa Melayu adalah sejumlah bahasa yang saling bermiripan yang dituturkan di wilayah Nusantara dan beberapa tempat lain. Sebagai bahasa yang luas pemakaiannya, bahasa ini menjadi bahasa resmi di Brunei, Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), dan Malaysia (juga dikenal sebagai bahasa Malaysia); salah satu bahasa yang diakui di Singapura; dan menjadi bahasa kerja di Timor Leste (sebagai bahasa Indonesia). Bahasa Melayu pernah menjadi lingua franca bagi perdagangan dan hubungan politik di Nusantara. Migrasi kemudian juga memperluas pemakaiannya. Selain di negara yang disebut sebelumnya, bahasa Melayu dituturkan pula di Afrika Selatan, Sri Lanka, Thailand selatan, Filipina selatan, Myanmar selatan, sebagian kecil Kamboja, hingga Papua Nugini. Bahasa ini juga dituturkan oleh penduduk Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang menjadi bagian Australia.
Tidak ada catatan mengenai tanah asal bahasa Melayu. Tulisan-tulisan pertama dalam bahasa Melayu ditemukan di pesisir tenggara Pulau Sumatera, mengindikasikan bahwa bahasa ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat penggunaannya oleh Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan. Istilah Melayu atau Malaya sendiri berasal dari Kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa Melayu yang digunakan di Jambi menggunakan dialek "o".
Pada awal tahun 2004, Dewan Bahasa dan Pustaka (Malaysia) dan Majelis Bahasa Brunei Darussalam - Indonesia - Malaysia (MABBIM) berencana menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam organisasi ASEAN, dengan memandang lebih separuh jumlah penduduk ASEAN mampu bertutur dalam bahasa Melayu. Rencana ini belum pernah terealisasikan, tetapi ASEAN sekarang selalu membuat dokumen asli dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa resmi masing-masing negara anggotanya.

Sejarah
Bahasa Melayu termasuk dalam bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Menurut statistik penggunaan bahasa di dunia, penutur bahasa Melayu diperkirakan mencapai lebih kurang 250 juta jiwa yang merupakan bahasa keempat dalam urutan jumlah penutur terpenting bagi bahasa-bahasa di dunia.

Catatan tertulis pertama dalam bahasa Melayu Kuna berasal dari abad ke-7 Masehi, dan tercantum pada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di bagian selatan Sumatera dan wangsa Syailendra di beberapa tempat di Jawa Tengah. Tulisan ini menggunakan aksara Pallawa.Selanjutnya, bukti-bukti tertulis bermunculan di berbagai tempat, meskipun dokumen terbanyak kebanyakan mulai berasal dari abad ke-18.

Sejarah penggunaan yang panjang ini tentu saja mengakibatkan perbedaan versi bahasa yang digunakan. Ahli bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu
* Bahasa Melayu Kuna (abad ke-7 hingga abad ke-13)
* Bahasa Melayu Klasik, mulai ditulis dengan huruf Jawi (sejak abad ke-15)
* Bahasa Melayu Modern (sejak abad ke-20)
Walaupun demikian, tidak ada bukti bahwa ketiga bentuk bahasa Melayu tersebut saling bersinambung. Selain itu, penggunaan yang meluas di berbagai tempat memunculkan berbagai dialek bahasa Melayu, baik karena penyebaran penduduk dan isolasi, maupun melalui kreolisasi.

Selepas masa Sriwijaya, catatan tertulis tentang dan dalam bahasa Melayu baru muncul semenjak masa Kesultanan Malaka (abad ke-15). Laporan Portugis dari abad ke-16 menyebut-nyebut mengenai perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk bertransaksi perdagangan. Seiring dengan runtuhnya kekuasaan Portugis di Malaka, dan bermunculannya berbagai kesultanan di pesisir Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, serta selatan Filipina, dokumen-dokumen tertulis di kertas dalam bahasa Melayu mulai ditemukan. Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga diketahui telah menggunakan bahasa Melayu. Karena bukan penutur asli bahasa Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang "disederhanakan" dan mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab (kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat, seperti hanacaraka

Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dimulai ketika Raja Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama) pada pertengahan abad ke-19. Perkembangan berikutnya terjadi ketika sarjana-sarjana Eropa (khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis karena menganggap penting menggunakannya dalam urusan administrasi. Hal ini terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan penggunaan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat populer bahasa ini.

Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya, bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini menjulukinya "bahasa Melayu Balai Pustaka" atau "bahasa Melayu van Ophuijsen". Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia-Belanda. Ia juga menjadi penyunting berbagai buku sastra terbitan Balai Pustaka. Dalam masa 20 tahun berikutnya, "bahasa Melayu van Ophuijsen" ini kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa kebangsaan.

Introduksi varian kebangsaan ini mendesak bentuk-bentuk bahasa Melayu lain, termasuk bahasa Melayu Tionghoa, sebagai bentuk cabang dari bahasa Melayu Pasar, yang telah populer dipakai sebagai bahasa surat kabar dan berbagai karya fiksi di dekade-dekade akhir abad ke-19. Bentuk-bentuk bahasa Melayu selain varian kebangsaan dianggap bentuk yang "kurang mulia" dan penggunaannya berangsur-angsur melemah.

Pemeliharaan bahasa Melayu standar (bahasa Indonesia) terjaga akibat meluasnya penggunaan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Sikap orang Belanda yang pada waktu itu tidak suka apabila orang pribumi menggunakan bahasa Belanda juga menyebabkan bahasa Indonesia menjadi semakin populer.

Varian-varian bahasa Melayu
Bahasa Melayu sangat bervariasi. Penyebab yang utama adalah tidak adanya institusi yang memiliki kekuatan untuk mengatur pembakuannya. Kerajaan-kerajaan Melayu hanya memiliki kekuatan regulasi sebatas wilayah kekuasaannya, padahal bahasa Melayu dipakai oleh orang-orang jauh di luar batas kekuasaan mereka. Akibatnya muncul berbagai dialek (geografis) maupun sosiolek (dialek sosial). Pemakaian bahasa ini oleh masyarakat berlatar belakang etnik lain juga memunculkan berbagai varian kreol di mana-mana, yang masih dipakai hingga sekarang. Bahasa Betawi, suatu bentuk kreol, bahkan sekarang mulai mempengaruhi secara kuat bahasa Indonesia akibat penggunaannya oleh kalangan muda Jakarta dan dipakai secara meluas di program-program hiburan televisi nasional.

Ada kesulitan dalam mengelompokkan bahasa-bahasa Melayu. Sebagaimana beberapa bahasa di Nusantara, tidak ada batas tegas antara satu varian dengan varian lain yang penuturnya bersebelahan secara geografis. Perubahan dialek seringkali bersifat bertahap. Untuk kemudahan, biasanya dilakukan pengelompokan varian sebagai berikut:
1. Bahasa-bahasa Melayu Tempatan (Lokal)
2. Bahasa-bahasa Melayu Kerabat (Paramelayu, Paramalay = Melayu "tidak penuh")
3. Bahasa-bahasa kreol (bukan suku/penduduk melayu) yaitu bahasa yang muncul berdasarkan bahasa Melayu


...bersambung ke part-2
verditch - 06/02/2010 10:11 AM
#122

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Melayu

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa melayu

Spoiler for Part 2

Quote:
Dialek-dialek di Indonesia
Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan dari segi jumlah sebetulnya melampaui jumlah penutur Bahasa Melayu di Malaysia, maupun di Brunei Darussalam. Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Kalimantan dan kota Negara, Bali.
Bahasa Melayu di Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut :
* Dialek Melayu, dan
* Kreol
Dialek Melayu di Indonesia antara lain :
* Dialek Tamiang : dituturkan di kabupaten Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam
* Dialek Langkat : dituturkan di kawasan Langkat, Sumatera Utara
* Dialek Deli : dituturkan di Medan, Deli Serdang dan Serdang Bedagai
* Dialek Asahan : dituturkan di sepanjang wilayah pesisir kabupaten Asahan
* Dialek Melayu Riau : dituturkan di kawasan Kepulauan Riau
* Dialek Melayu Riau Daratan : terbagi atas beberapa dialek lainnya tergantung wilayah (Siak, Rokan, Inderagiri, Kuantan)
* Dialek Anak Dalam : kemungkinan termasuk kelompok Kubu, Talang Mamak di kawasan Riau dan Jambi
* Dialek Melayu Jambi : dituturkan di provinsi Jambi
* Dialek Melayu Bengkulu : dituturkan di kota Bengkulu
* Dialek Melayu Palembang : dituturkan di kota Palembang dan Kota Muara Enim dan sekitarnya
* Dialek Bangka-Belitung : dituturkan di provinsi Bangka-Belitung
* Dialek Pontianak : dituturkan di kabupaten Pontianak dan kota Pontianak, Kalimantan Barat
* Dialek Landak : kabupaten Landak dan sekitarnya, Kalimantan Barat
* Dialek Sambas : dituturkan di kabupaten Sambas dan sekitarnya,Kalimantan Barat
* Dialek Ketapang : dituturkan di kabupaten Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.
* Dialek Berau : dituturkan di kabupaten Berau dan sekitarnya, Kalimantan Timur
* Dialek Kutai : dipakai di kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur
* Dialek Loloan : dituturkan di kota Negara, Jembrana, Bali.
Dialek Riau Kepulauan dan beberapa kawasan di Riau Daratan dituturkan sama seperti Dialek Johor.

Melayu Kreol
Bahasa Melayu sudah lama dikenal sebagai bahasa antarsuku bangsa khususnya di Indonesia. Dalam perkembangannya terutama kawasan-kawasan berpenduduk bukan Melayu dan mempunyai bahasa masing-masing, bahasa Melayu mengalami proses pidginisasi dengan berbaurnya berbagai unsur bahasa setempat ke dalam bahasa Melayu dan karena dituturkan oleh anak-anaknya, bahasa Melayu mengalami proses Kreolisasi.Bahasa Melayu, khususnya di Indonesia Timur diperkenalkan pula oleh para misionaris asal Belanda untuk kepentingan penyebaran agama Kristen.

Di pulau Jawa, terutama di Jakarta, bahasa Melayu mengalami proses kreolisasi yang unsur dasar bahasa Melayu Pasar tercampur dengan berbagai bahasa di sekelilingnya, khususnya bahasa Tionghoa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Bugis, bahkan unsur bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Melayu dalam bentuk kreol ini banyak dijumpai di Kawasan Indonesia Timur yang terbentang dari Manado hingga Papua.
Bentuk Melayu Kreol tersebut antara lain :
* Dialek Melayu Jakara bahasa Betawi : dituturkan di Jakarta dan sekitarnya
* Dialek Melayu Peranakan: banyak dituturkan oleh kalangan orang Tionghoa di pesisir Jawa Timur dan Jawa Tengah.
* Dialek Melayu Manado (bahasa Manado): dipakai sebagai lingua franca di Sulawesi Utara
* Dialek Melayu Maluku Utara (max): dipakai di hampir seluruh Maluku Utara
* Dialek Melayu Bacan (btj): dipakai di kawasan pulau Bacan, Maluku Utara
* Dialek Melayu Ambon : dipakai sebagai bahasa ibu bagi warga kota Ambon, dan bahasa kedua bagi warga sekitarnya
* Dialek Melayu Banda : berbeda dengan Melayu Ambon, dan digunakan di kawasan Kepulauan Banda, Maluku
* Dialek Melayu Larantuka : dipakai di kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
* Dialek Melayu Kupang : menjadi lingua franca di wilayah Kupang dan sebagian Pulau Timor
* Dialek Melayu Papua : Papua, Papua Barat
* Dialek Melayu Makassar (mfp) : Sulawesi Selatan

Dialek luar Indonesia
Dialek-dialek bahasa Melayu di Malaysia adalah seperti berikut:

* Dialek Utara (Kedah, Perlis, Penang & Perak Utara) : dituturkan di negara bagian Kedah, Pulau Pinang, Perlis dan bagian utara negara bagian Perak. Terbahagi kepada beberapa sub-dialek seperti Perlis, Pulau Pinang, Kedah Utara dan Kedah Hilir. Dialek yang dituturkan oleh penduduk di Kedah Timur menampakkan banyak persamaan dengan dialek Kelantan dan Pattani, dialek ini dikenali sebagai dialek Kedah Hulu.

* Dialek Kelantan : dituturkan di negera bagian Kelantan dan daerah Besut, Terengganu. Penduduk di beberapa buah daerah di Kedah seperti Baling, Sik dan Kuala Nerang bertutur di dalam dialek yang menampakkan banyak persamaan dengan Dialek Kelantan. Dialek Kelantan merupakan sub-dialek Dialek Pattani ataupun Yawi.

* Dialek Terengganu: dituturkan di Terengganu kecuali daerah Besut dan sebahagian negeri Pahang.
* Dialek Perak - Dialek ini terbahagi kepada tiga pecahan kecil:
o Dialek Perak Tengah : dituturkan di bagian tengah negara bagian Perak.
o Dialek Perak Selatan : dituturkan di bagian selatan negara bagian Perak.
o Dialek Perak Timur: dituturkan di bahagian timur negara bahagian Perak iaitu Lenggong, Grik dan Kroh yang bersempadan dengan Thailand, Kedah dan Kelantan. Dialek yang dituturkan mempunyai campuran Dialek Utara,Dialek Perak dan Dialek Kelantan/Petani.

* Dialek Selangor - KL : dituturkan di negara bagian Selangor, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Putrajaya serta kota-kota besar di Semenanjung Malaysia.

* Dialek Negeri : dituturkan di negara bagian Negeri Sembilan dan kawasan Taboh Naning, Melaka.

* Dialek Malaka : dituturkan di negara bagian Melaka kecuali kawasan Taboh Naning.

* Dialek Johor - Riau : dituturkan di negara bagian Johor dan selatan Pahang.

* Dialek Pahang - Negara bagian Pahang kaya dengan pelbagai jenis dialek daerah yang dituturkan di daerah-daerah di mana Sungai Pahang mengalir:-
o Hulu Sungai Pahang : Dialek Jerantut, Lipis, Bentong dan Raub (dituturkan dengan cepat dari segi kelajuan percakapan).
o Pertengahan Sungai Pahang : Dialek Temerloh (dituturkan secara sederhana dari segi kelajuan percakapan).
o Hilir Sungai Pahang : Dialek Chenor dan Pekan (dituturkan dengan perlahan dari segi kelajuan percakapan).

* Dialek Sarawak

* Dialek Labuan - dituturkan di Persekutuan Labuan (sejenis dialek campuran antara bahasa Kedayan dan bahasa Melayu Brunei).

* Dialek Sabah - Negara bagian Sabah mempunyai beberapa jenis dialek Melayu yaitu:-
o Dialek Melayu Sabah - dituturkan di seluruh negara bagian Sabah dan merupakan dialek utama di negera bagian tersebut.
o Dialek Kokos / Cocos - dituturkan oleh orang Melayu keturunan Kokos / Cocos di di Tawau, Lahad Datu, Kunak, Sandakan dan Kepulauan Cocos (Keeling), wilayah Australia.
* Dialek Baba - Sejenis dialek campuran antara bahasa Melayu dan dialek Hokkien. Dialek ini terbahagi kepada tiga pecahan kecil iaitu:-
o Dialek Baba Melaka - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara bagian Melaka. Ia merupakan dialek asal bagi dialek Melayu Baba.
o Dialek Baba Pulau Pinang - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di negara bagian Pulau Pinang.
o Dialek Baba Singapura - dituturkan oleh kaum Baba dan Nyonya di Republik Singapura.

Dialek Johor - Riau juga dituturkan di Republik Singapura dan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, Indonesia.

Dialek-dialek bahasa Melayu di Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand adalah seperti berikut:

* Dialek Singapura : dituturkan di Republik Singapura. Dialek ini merupakan pecahan dari dialek Johor-Riau.
* Dialek Brunei : dituturkan di Kerajaan Brunei Darussalam serta bagian pedalaman, negara bagian Sabah dan Wilayah Persekutuan Labuan, Malaysia.
* Dialek Patani : dituturkan di provinsi Pattani, Narathiwat, Yala, Songkhla dan Satun di Kerajaan Thailand.

Kini, kebanyakan angkatan baru sudah kehilangan upaya untuk bercakap dalam dialek ibu dan bapak mereka karena adanya penerapan bahasa Melayu ketetapan dalam pendidikan negara. Karena ada perbedaan dialek yang amat nyata, kadang kala penutur bahasa Melayu dari dialek tertentu tidak dapat mamahami penutur dialek yang lain terutama sekali dialek Kelantan, Sarawak dan Sabah.

Di luar wilayah tersebut, terdapat pula dialek Srilangka yang perlahan-lahan mulai punah, serta dialek Afrika Selatan, yang dipakai oleh pengikut Syekh Yusuf yang dibuang ke Cape Town.


...bersambung ke part-3
verditch - 06/02/2010 10:18 AM
#123

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Melayu

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa melayu

Spoiler for Part 3

Quote:
Bahasa kerabat
"Bahasa kerabat" adalah bahasa-bahasa lain yang serupa dengan Bahasa Melayu, namun masih ada perbedaan pendapat mengenai soal itu. Mereka adalah

1. Bahasa Minangkabau (min) di Sumatera Barat
2. Bahasa Banjar (bjn) di Kalimantan Selatan
3. Bahasa Kedayan (kxd) (Suku Kedayan) di Brunei, Sarawak
4. Dialek Melayu Kedah (meo) (Melayu Satun)
5. Dialek Melayu Jambi (jax)
6. Dialek Melayu Pulau Kokos (coa)
7. Dialek Melayu Pattani (mfa)
8. Dialek Melayu Sabah (msi)
9. Dialek Melayu Bukit(Bahasa Bukit) (bvu) (Suku Dayak Bukit) di Kalimantan Selatan
10. Bahasa Serawai (srj) di Bengkulu
11. Bahasa Rejang (rej) di Rejang Lebong, Bengkulu
12. Bahasa Lebong di Lebong, Bengkulu
13. Bahasa Rawas (rws) di Musi Rawas, Sumatera Selatan
14. Bahasa Penesak (pen) di Prabumulih, Sumatera Selatan
15. Bahasa Komering di Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
16. Bahasa Enim (eni)
17. Bahasa Musi (mui)
18. Bahasa Kaur (vkk)
19. Bahasa Kerinci/(Kerinci-Sakai-Talang Mamak)(vkr)
20. Bahasa Kubu (kvb)
21. Bahasa Lematang (lmt)
22. Bahasa Lembak (liw)
23. Bahasa Lintang (lnt)
24. Bahasa Lubu (lcf)
25. Bahasa Loncong/Orang Laut (lce)
26. Bahasa Sindang Kelingi (sdi)
27. Bahasa Semendo (sdd)
28. Bahasa Rawas (rws)
29. Bahasa Ogan (ogn)di Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
30. Bahasa Pasemah ( pse) di Sumatera Selatan
31. Bahasa Suku Batin [sbv] di Jambi
32. Bahasa Kutai di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
1. Dialek Tenggarong - Melayu Kutai (vkt)
2. Dialek Kota Bangun - Melayu Kutai (mqg)

Para-Malay
1. Bahasa Duano' [dup] (Malaysia Barat)
2. Bahasa Minangkabau [min] (Indonesia, Sumatera Barat)
3. Bahasa Pekal [pel] (Indonesia, Sumatera Selatan)
4. Bahasa Urak Lawoi' [urk] (Thailand)
5. Bahasa Muko-Muko [vmo] (Indonesia, Sumatera, Bengkulu : Kabupaten Mukomuko)
6. Dialek Melayu Negeri Sembilan [zmi] (Malaysia Barat, Negeri Sembilan)

Melayu-Aborigin
1. Bahasa Jakun [jak] (Suku Jakun, Malaysia Barat)
2. Bahasa Orang Kanaq [orn] (Orang Kanaq, Malaysia Barat)
3. Bahasa Orang Seletar [ors] (Orang Seletar, Malaysia Barat)
4. Bahasa Temuan [tmw] (Suku Temuan, Malaysia Barat)

Dayak-Malayik
1. Malayan
1. Malayic-Dayak (10)
1. Ibanic (6)
1. Bahasa Balau [BUG] (Sarawak)
2. Bahasa Iban [IBA] (Sarawak, Brunei, Kalimantan Barat)
3. Bahasa Milikin [MIN] (Sarawak))
4. Bahasa Mualang [MTD] (Suku Dayak Mualang, Sekadau, Kalimantan Barat)
5. Bahasa Seberuang [SBX] (Suku Dayak Seberuang, Sintang, Kalimantan Barat)
6. Bahasa Sebuyau[SNB] (Sarawak))
2. Bahasa Keninjal [KNL] ( Melawi, Kalimantan Barat)
3. Bahasa Kendayan [KNX] (Sanggau Ledo, Bengkayang, Kalimantan Barat)
4. Bahasa Selako [SKL] (Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat)
5. Bahasa-bahasa Malayic Dayak [XDY] (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah)
1. Bahasa Balai Riam : Kabupaten Sukamara
2. Bahasa Bulik : Kabupaten Lamandau
3. Bahasa Waringin : Kabupaten Kotawaringin Barat
4. Bahasa Pembuang : Kabupaten Seruyan
5. Kota Singkawang
6. Kabupaten Bengkayang
7. Kabupaten Sintang
8. Kabupaten Kapuas Hulu
9. Bahasa Kayong : Kayong Utara, Ketapang
verditch - 08/02/2010 10:14 AM
#124

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Jawa

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa jawa

Spoiler for
Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten terutama kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia.

Penyebaran Bahasa Jawa

Penduduk Jawa yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung (61,9%), Sumatra Utara (32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera Selatan (27%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak zaman penjajahan Belanda.

Selain di kawasan Nusantara ataupun Malaysia. Masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela.

Dialek-Dialek Bahasa Jawa

Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek, yakni :

* Dialek daerah, dan
* Dialek sosial

Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat :

1. Dialek Banten
2. Dialek Cirebon
3. Dialek Tegal
4. Dialek Banyumasan
5. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas)

Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah :

1. Dialek Pekalongan
2. Dialek Kedu
3. Dialek Bagelen
4. Dialek Semarang
5. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Pati)
6. Dialek Blora
7. Dialek Surakarta
8. Dialek Yogyakarta
9. Dialek Madiun

Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar, khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.

Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur :

1. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro)
2. Dialek Surabaya
3. Dialek Malang
4. Dialek Jombang
5. Dialek Tengger
6. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing)

Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran.

Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut :

1. Ngoko lugu
2. Ngoko andhap
3. Madhya
4. Madhyantara
5. Krama
6. Krama Inggil
7. Bagongan
8. Kedhaton

Kedua dialek terakhir digunakan di kalangan keluarga Keraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan.

Bilangan dalam bahasa Jawa

Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia, bahasa Jawa memiliki sistem bilangan yang agak rumit.

Bahasa - 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 8 - 9 - 10
Kuna - sa - rwa - telu - pat - lima - enem - pitu - walu - sanga - sapuluh
Kawi - eka - dwi - tri - catur - panca - sad - sapta - asta - nawa - dasa
Krama - setunggal - kalih - tiga - sekawan - gangsal - enem - pitu - wolu - sanga - sedasa
Ngoko - siji - loro - telu - papat - lima - enem - pitu - wolu - sanga - sepuluh

Angka - Ngoko - Krama
11 - sewelas - setunggal welas (sewelas)
12 - rolas - kalih welas
13 - telulas - tiga welas
14 - patbelas - sekawan welas
15 - limalas - gangsal welas
16 - nembelas - enem welas
17 - pitulas - pitulas
18 - wolulas - wolulas
19 - sangalas - sangalas
20 - rong puluh - kalih dasa
21 - selikur - selikur/kalih dasa setunggal
22 - rolikur - kalih likur
23 - telulikur - tigang likur
24 - patlikur - sekawan likur
25 - selawé - selangkung
26 - nemlikur - nemlikur
30 - telung puluh - tigang dasa
31 - telung puluh siji - tigang dasa setunggal
32 - telung puluh loro - tigang dasa kalih
40 - patang puluh - sekawan dasa
41 - patang puluh siji - sekawan dasa setunggal
42 - patang puluh loro - sekawan dasa kalih
50 - sèket - sèket
51 - sèket siji - sèket setunggal
52 - sèket loro - sèket kalih
60 - swidak - swidak
61 - swidak siji - swidak setunggal
62 - swidak loro - swidak kalih
70 - pitung puluh - pitu dasa
80 - wolung puluh - wolu dasa
90 - sangang puluh - sanga dasa
100 - satus - setunggal atus
101 - satus siji - setunggal atus setunggal
102 - satus loro - setunggal atus kalih
120 - satus rong puluh - setunggal atus kalih dasa
121 - satus selikur - setunggal atus kalih dasa setunggal
200 - rong atus - kalih atus
500 - limang atus - gangsal atus
1.000 - sèwu - setunggal èwu
1.001 - sèwu siji - setunggal èwu setunggal
1.002 - sèwu loro - setunggal èwu kalih
1.500 - sèwu limang atus - setunggal èwu gangsal atus
1.520 - sèwu limang atus rong puluh - setunggal èwu gangsal atus kalih dasa
1.550 - sèwu limang atus sèket - setunggal èwu gangsal atus sèket
1.551 - sèwu limang atus sèket siji - setunggal èwu gangsal atus sèket setunggal
2.000 - rong èwu - kalih èwu
5.000 - limang èwu - gangsal èwu
10.000 - sepuluh èwu - sedasa èwu
100.000 - satus èwu - setunggal atus èwu
500.000 - limang atus èwu - gangsal atus èwu
1.000.000 - sayuta - setunggal yuta
1.562.155 - sayuta limang atus swidak loro èwu satus sèket lima - setunggal yuta gangsal atus swidak kalih èwu setunggal atus sèket gangsal

Fraksi

* 1/2 setengah, separo, sepalih (Krama)
* 1/4 saprapat, seprasekawan (Krama)
* 3/4 telung prapat, tigang prasekawan (Krama)
* 1,5 karo tengah, kalih tengah (Krama)

Perbedaan gaya dalam bahasa Jawa

Bahasa Jawa adalah bahasa yang membedakan gaya bahasa secara sosial menjadi tiga tingkatan, yaitu: ngoko, madya dan krama. Selain itu dikenal pula apa yang disebut kata-kata honorifik untuk merendahkan diri dan meninggikan lawan bicara. Kata-kata ini disebut kata-kata krama andhap dan krama inggil. Bahasa-bahasa lain yang juga membedakan gaya-gaya bahasa adalah bahasa Sunda, bahasa Madura dan bahasa Bali. Di bawah ini disajikan contoh sebuah kalimat dalam beberapa gaya bahasa yang berbeda-beda ini.

* Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah kak Budi itu, di mana?”

1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?”
4. Madya: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
5. Madya alus: “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?”
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
7. Krama: “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama inggil: “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”

*nèng adalah bentuk percakapan sehari-hari dan merupakan kependekan dari bentuk baku ana ing yang disingkat menjadi (a)nêng.

Dengan memakai kata-kata yang berbeda, dalam sebuah kalimat yang secara tatabahasa berarti sama, seseorang bisa mengungkapkan status sosialnya terhadap lawan bicaranya dan juga terhadap yang dibicarakan.

Namun harus diakui bahwa tidak semua penutur bahasa Jawa mengenal semuanya. Biasanya mereka hanya mengenal ngoko dan sejenis madya.
verditch - 09/02/2010 10:22 AM
#125

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Berau

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa berau

Spoiler for
Bahasa Berau atau Dialek Melayu Berau (bve) adalah suatu bahasa Austronesia yang dituturkan suku Berau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bahasa Berau merupakan salah satu dialek Melayu Lokal sehingga dapat pula disebut Bahasa Melayu Berau.

Kamus Bahasa Berau

* anu; yang
* aliapa; ada apa/mengapa
* agai; panggilan untuk laki-laki
* annik; sedikit
* allan; malu
* angkup; hantam
* alaw; ambil
* barakkat; bungkusan/oleh-oleh
* amma; bapak
* babbal; tidak mudah diatur
* bala; nakal
* babiran; mengomel
* bayi; babi
* bassai; dayung
* bangsa; seperti
* butur; judi
* carian; kangen
* currik; tidak mendengar
* culu; korek api
* gaman; pegang
* dampa; mau
* dangkita; kalian
* darup; cuci muka
* gayyu; sibuk
* gaddang; buah pepaya
* inda; ibu
* indangnya; begitulah
* jajjal; tidak mau mendengar ucapan
* jampayi; besok
* jinnya; katanya
* kail; pancing
* karamian; sore/petang
* kappak; tuli
* kurru; tidur
* karra; monyet
* karrat; raut
* karitan; hiu
* kedayaw; biawak/sejenis kadal
* kalamayi; kemarin
* karajja; kerjaan
* kinsum; senyum
* kamayi; kesini
* lallai; malas
* limpa : berhamburan
* tumpis : banyak omong
* lalai; piring
* lungku; bengong
* laga; ajak
* miris; mau
* marrang; senang
* muta; muntah
* mulang; pulang
* nda warna : Beraneka ragam
* ntayi; tadi
* nta; kita
* panningal; tidak mendengar
* paluntai; pemalas
* pandak; pendek
* pattang; gelap
* ruku; rokok
* sulipi; bantal
* siyyin; uang
* sambat; pagi
* sannai; santai/diam
* sarubit; sedikit
* sallu; jengkel
* suru; pasang ( biasa digunakan untuk air )
* rabba limpa : tumpah berhamburan
* rabba : Rubuh tambing; samping
* tattak tukul; diam di tempat
* tittik; pukul
* taggari; pegang
* tabbak; lempar
* tutung; terbakar
* tuku; dekat
* uluk : olok
* ulai; perempuan
* walla; gila
* mallur, melati
* ijai, dagu
* kalitak, Ketiak
* inda, mama
* amma, bapak
* balimpang, berbaring
* sulipi, bantal

Bahasa Melayu Lokal Kalimantan

Melayu - Berau - Banjar - Kutai - Brunei - Sambas
rakit batang pohon - lanting - lanting - lanting - lanting
pasir - * - pasir - karasik/kersik - karasik
perahu - * - jukung - gubang - gubang
ekor (jumlah) - * - ikung - * - ikung
buih - * - buih - * - buyah
air kencing - * - kamih - * - kamih
anjing - * - kuyuk - * - kuyuk
cempedak - * - tiwadak - * - tibadak
bekantan - * - bakantan - * - bangkatan
kempunan - * - kapuhunan - * - kapunan
bunga - busak - kambang - * - *
kering - karring - karing - kereng - *
getah - gatta - gatah - getah - *
antar - atar - atar - * - *
lama - lawas - lawas - lawas - *
keluarga - kula - kula - * - *
sudah - talla - talah - * - *
adik - ading - ading - * - *
nenek - inni - nini - * - nini
nanti - kandia - kaina - kendia - *
ikan - jukkut - iwak- jukut - *
besar - bassar - basar/ganal - besar - basar - bassar
lidah - ilat - ilat - elat - *
ular - taddung - tadung - tadung - *
celana - saluar - salawar - seluar - seluar
teman - dang'ngan/kawal - kawal - kawal - dangan
karat besi - taggar - tagar - tagar - tagar
kaki - battis - batis - betis - batis
potong - tattak - tatak - tetak - tatak
kakek - kayi - kayi - * - nini (datuk)
dangau - lapau - lampau - * - *
tepi - siring - siring - * - siring
dahulu kala - bahari - bahari - behari - bahari
siang - karamian - kamarian - kemerian - *
pagi - sambat - ba'isukan - hambat - *
sebuah - * - sabuting - * - sabuting

verditch - 10/02/2010 10:25 AM
#126

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Sunda

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa sunda

Spoiler for
Bahasa Sunda dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi dimana penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah.

Dialek bahasa Sunda

Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:

* Dialek Barat
* Dialek Utara
* Dialek Selatan
* Dialek Tengah Timur
* Dialek Timur Laut
* Dialek Tenggara

Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.

Sejarah dan penyebaran

Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang "disundakan", sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai "Clacap".

Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama "Dieng" yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

Fonologi

Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f >- p, v >- p, sy >- s, sh >- s, z >- j, and kh >- h.

Undak-usuk

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda - terutama di wilayah Parahyangan - mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.

Tempat
Bahasa Indonesia - Bahasa Sunda(normal) - Bahasa Sunda(sopan/lemes)
di atas .. - di luhur .. - di luhur ..
di belakang .. - di tukang .. - di pengker ..
di bawah .. - di handap .. - di handap ..
di dalam .. - di jero .. - di lebet ..
di luar .. - di luar .. - di luar ..
di samping .. - di samping .. - di gigir ..
di antara ..,dan .. - di antara .. ,jeung .. - di antawis ..,sareng ..

Waktu
Bahasa Indonesia - Bahasa Sunda(normal) - Bahasa Sunda(sopan/lemes)
sebelum - saacan - sateuacan
sesudah - sanggeus - saparantos
ketika - basa - nalika
Besok - Isukan - Enjing

Lain Lain
Bahasa Indonesia - Bahasa Sunda(normal) - Bahasa Sunda(sopan/lemes)
Dari - Tina - Tina
Ada - Aya - Nyondong
Tidak - Embung - Alim
Saya - Urang - Abdi

Tradisi tulisan

Bahasa Sunda memiliki catatan tulisan sejak milenium kedua, dan merupakan bahasa Austronesia ketiga yang memiliki catatan tulisan tertua, setelah bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Tulisan pada masa awal menggunakan aksara Pallawa. Pada periode Pajajaran, aksara yang digunakan adalah aksara Sunda Kaganga. Setelah masuknya pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-16, aksara hanacaraka (cacarakan) diperkenalkan dan terus dipakai dan diajarkan di sekolah-sekolah sampai abad ke-20. Tulisan dengan huruf latin diperkenalkan pada awal abad ke-20 dan sekarang mendominasi sastra tulisan berbahasa Sunda.

Bilangan dalam bahasa Sunda

Bilangan - Lemes
1 - hiji
2 - dua
3 - tilu
4 - opat
5 - lima
6 - genep
7 - tujuh
8 - dalapan
9 - salapan
10 - sapuluh
verditch - 11/02/2010 09:44 AM
#127

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Sumbawa

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa sumbawa

Spoiler for
Bahasa Sumbawa (Basa Samawa) adalah bahasa yang dituturkan di bekas wilayah Kesultanan Sumbawa yaitu wilayah Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Dalam Bahasa Sumbawa (Basa Samawa), dikenal beberapa dialek regional atau variasi bahasa berdasarkan daerah penyebarannya, di antaranya dialek Samawa, Baturotok atau Batulante, dan dialek-dialek lain yang dipakai di daerah pegunungan Ropang seperti Labangkar, Lawen, serta penduduk di sebelah selatan Lunyuk, selain juga terdapat dialek Taliwang, Jereweh, dan dialek Tongo. Dalam dialek-dialek regional tersebut masih terdapat sejumlah variasi dialek regional yang dipakai oleh komunitas tertentu yang menandai bahwa betapa Suku Sumbawa ini terdiri atas berbagai macam leluhur etnik, misalnya dialek Taliwang yang diucapkan oleh penutur di Labuhan Lalar keturunan etnik Bajau sangat berbeda dengan dialek Taliwang yang diucapkan oleh komunitas masyarakat di Kampung Sampir yang merupakan keturunan etnik Mandar, Bugis, dan Makassar.

Interaksi sosial yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat Sumbawa menuntut hadirnya bahasa yang mampu menjembatani segala kepentingan mereka, konsekuensinya kelompok masyarakat yang relatif lebih maju akan cenderung mempengaruhi kelompok masyarakat yang berada pada strata di bawahnya, maka bahasapun mengalir dan menyebar selaras dengan perkembangan budaya mereka. Dialek Samawa atau dialek Sumbawa Besar yang cikal bakalnya berasal dari dialek Seran, semenjak kekuasaan raja-raja Islam di Kesultanan Sumbawa hingga sekarang dipelajari oleh semua kelompok masyarakat Sumbawa sebagai jembatan komunikasi mereka, sehingga dialek Samawa secara otomatis menempati posisi sebagai dialek standar dalam Bahasa Sumbawa, artinya variasi sosial atau regional suatu bahasa yang telah diterima sebagai standar bahasa dan mewakili dialek-dialek regional lain yang berada dalam Bahasa Sumbawa.

Sebagai bahasa yang dominan dipakai oleh kelompok-kelompok sosial di Sumbawa, maka Basa Samawa tidak hanya diterima sebagai bahasa pemersatu antaretnik penghuni bekas Kesultanan Sumbawa saja, melainkan juga berguna sebagai media yang memperlancar kebudayaan daerah yang didukung oleh sebagian besar pemakainya, dan dipakai sebagai bahasa percakapan sehari-hari dalam kalangan elit politik, sosial, dan ekonomi, akibatnya basa Samawa berkembang dengan mendapat kata-kata serapan dari bahasa asal etnik para penuturnya, yakni etnik Jawa, Madura, Bali, Sasak, Bima, Sulawesi (Bugis, Makassar, Mandar), Sumatera (Padang dan Palembang), Kalimantan (Banjarmasin), Cina (Tolkin dan Tartar) serta Arab, bahkan pada masa penjajahan basa Samawa juga menyerap kosa kata asing yang berasal dari Portugis, Belanda, dan Jepang sehingga basa Samawa kini telah diterima sebagai bahasa yang menunjukkan tingkat kemapanan yang relatif tinggi dalam pembahasan bahasa-bahasa daerah.
verditch - 11/02/2010 10:14 AM
#128

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Bali

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa bali

Spoiler for
Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih spesifik dari anak cabang Bali-Sasak. Bahasa ini terutama dipertuturkan di pulau Bali, pulau Lombok bagian barat, dan sedikit di ujung timur pulau Jawa. Di Bali sendiri Bahasa Bali memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya dan Bali Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya, sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah misalnya kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya, Di Lombok bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, sebuah dialek Jawa khas Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 4 juta jiwa.

Kekerabatan dan kosakata

Bahasa Bali dalam keluarga bahasa Austronesia sering ditengarai paling dekat berkerabat dengan bahasa Jawa. Namun hal ini tidaklah demikian. Bahasa Bali paling dekat dengan bahasa Sasak dan beberapa bahasa di pulau Sumbawa bagian barat. Kemiripannya dengan bahasa Jawa hanya karena pengaruh kosakata atas bahasa Jawa karena aktivitas kolonisasi Jawa pada masa lampau, terutama pada abad ke-14 Masehi. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Bahkan dalam keluarga Austronesia, secara fonologis bahasa Bali lebih mirip bahasa Melayu daripada bahasa Jawa. Namun fonem /r/ pada posisi akhir dalam bahasa Melayu, seringkali menjadi /h/ pada bahasa Bali. Hal ini bisa terbukti dengan senarai perbandingan kosakata dasar bahasa Melayu, Bali, Jawa Kuna dan Jawa Baru:

Melayu - Bali - Jawa Kuna - Jawa Baru
dua - dua - rwa - ro, loro
jalan - jalan - dalan - dalan
dengar - dingěh - rĕngö - rungu
jarum - jaum - dom - dom
jauh - joh - doh - doh
ada - ada - hana - ana
beli - běli - wĕli, tuku - tuku
jari, jeriji - jriji - (?) - driji
betis, kaki - batis, bais - jöng, suku - sikil
hidup - idup - hurip - urip
air, ayer - yèh - wway - we, banyu
buah - buah, woh - wwah - woh
di - di - ri, ring - i, ing
telur - taluh - antiga - tigan, ĕndhog
jemur - jěmuh - (?) - pepe
bunga - bunga - kambang/sĕkar - kĕmbang/sĕkar
nasi - nasi - sĕga/sĕkul - sĕga/sĕkul
hujan - ujan - hudan - udan

*Perbandingan Bahasa Bali dan Bahasa Banjar

Melayu - Bali - Banjar
telur - taluh- hintalu
kaki, betis - batis, bais - batis
perahu - jukung - jukung
bulus - bedwang - bidawang
hujan - ujan - ujan
jari - jriji - jariji
dengar - dingěh - dangar
jemur - jěmuh - jamur
jalan - jalan - jalan
hidup - idup - hidup
dua - dua - dua

Pengaruh bahasa Jawa

Bahasa Bali banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuna dan lewat bahasa Jawa ini, juga bahasa Sansekerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa:

Melayu - Bali - Jawa
sudah - sampun - sampun
meninggal - seda - seda
datang - rauh - rawuh
dari - saking - saking
arti - teges - tĕgĕs

Kosakata khas Bali

Di atas sudah diapaparkan kosakata yang mirip dengan bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Sekarang kosakata khas Bali dipaparkan:

Melayu - Bali - Jawa
kau (kasar) - cai - kowe , sungay(Jawa Kuna)
sungai - tukad - kali , lepen
yang - sane - ingkang, sing
dukun, tabib - balian - dhukun

Konsep geografis

Berbeda dengan banyak suku bangsa di dunia, namun masih mirip dengan suku bangsa penutur bahasa Austronesia lainnya, orang Bali dalam menentukan arah berorientasi bukan pada arah mata angin yang pasti namun pada letak kawasan geografis, pada kasus Bali ini pada letak gunung dan laut. Oleh karena itu arah mata angin bisa berubah-ubah sesuai tempatnya:

Bali – Melayu:

* kaja – utara namun di Buleleng berarti selatan
* kelod – selatan namun di Buleleng berarti utara
* kauh – barat
* kangin – timur

Jenis bahasa Bali

* Bahasa Bali Baku
* Bahasa Bali Aga
* Bahasa Bali Jawa
verditch - 12/02/2010 09:35 AM
#129

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Rejang

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa rejang

Spoiler for
Bahasa Rejang adalah bahasa yang digunakan di kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Lebong, dan kabupaten Kepahiang; semuanya termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu, Indonesia. Bahasa Rejang pernah memiliki aksara tersendiri yang dikenal sebagai aksara Kaganga. Aksara Kaganga menyerupai aksara yang ada pada aksara Batak dan aksara Lampung.

Bahasa Rejang terbagi dari tiga kelompok dialek, yakni dialek Rejang Curup, Rejang Kepahiang, dan Rejang Lebong. Dialek yang dituturkan di kabupaten Bengkulu Utara termasuk dialek Rejang Curup.

Macam-Macam Dialek Rejang

Bahasa Indonesia - Dialek Lebong - Dialek Curup - Dialek Kepahiang
kamu - ko - ko - ko
aku, saya - uku - uku - uku
mau - lok - lak - lak
makan - muk mei - muk mie - muk mea
lauk untuk penyerta nasi - lapen - lapen - gulea
menikah - betunok - betunak - betunak
siapa - api - api - api
nama - gen - gen - gen
jangan - jibeak - ji’beak - jikba
menabrak - numua - menumua - menumur
darat - da'et - da'et - dahet
air - bioa - bioa - bioa
sedikit - didik - didik - didik
banyak - dau - deu - deu
cucung - kpau - peu - kpeu
pergi - alau - aleu - aleu
makanan rebung khas rejang - lemea - lema - lema
dodol kelapa - pujuak - pojoak - glamai
dusun - sadei - sadie - sadea
marah - mengiak - mengiak - mengeah
babu - jongos - jongos - budak
tempoyak - puyok - asem - tepuyak
nanti - be - be - be
sekarang, kini - uyo - uyo - uyo
turun - tu'un - tu'un - tuhun
jejak - lat - plat - plat
anak - anok - anak- anak
cicit - piut - piut - piut
moyang - puyang - puyang - puyang
ada - ade - ade - ade
hadap, depan - adep - adep - adep
sendiri - su'ang - su'ang - suhang
sarung - so'ong - so'ong - sohong
besok - memen - memen - memen
malam - kelmen - kelmen - kelmen
pagi - kabuk - kabuk - kabuk
tadi - nano - nano - nano
tahi - tei - tak tei - tak tea
arti - tai - tei - tei
telur - tenoa - tenoa - tenoa
anjing - kuyuk - kuyuk - kuyuk
susah - saro - saro - saro
tahu - namen - namen - namen
tahun - taun - taun - taun
malas - segan - segan - segan
sabut kelapa - sobot - sobot - sobot
kelapa - nioa - nioa - nioa
kepala - ulau - uleu - uleu
badan - awok - awak - awak
kaki - kekea - kekea - kekea
tangan - tangen - tangen - tangen
jari - ji’ai - ji’ei - jihei
jempol - bei tangen - bie tangen - bea tangen
tunjuk/jari telujuk - tunyuk - tunyuk - tunyuk
jari tengah - ji’ai donok - ji’ei donok - jihei tengeah
jari manis - ji’ai manis - ji’ei manis - jihei manis
kelingking - anok inik/inik - anak inik/inik - kliking
induk jari kaki - bei kekea - bie kekea - bea kekea
pusat/pusar - posok - posok - posok
penis - butuak - botoak - botoah
penis - seak - seak - seah
mata - matai - matei - matei
hidung - yung - yung - yung
gigi - epen - epen - epen
telinga - ti'uk - ti'uk - tihuk
punggung - kedong - kedong - kedong
dada - dado - dado - dado
leher - ka’gen - ka’gen - kahgen
kuduk - tukuk - tukuk - tukuk
pantat - pinging - pinging - pinging
lutut - ulau ketot - uleu ketot - uleu ketot
kuku- selon - selon - slon
rambut - buk - buk - buk
lidah - dileak - dileak - dileah
testis - labau - labeu - labeu
kemaluan wanita - tatak/slit - tatak/selit - tatak/slit
payudara - susau - suseu - suseu
paha - balung - balung - balung
ketiak - bea' gelpeak - bea' gelpeak - beah gelpeah
siku tangan - sekoa - sekoa - sekoa
bahu - ba’au - ba’eu - baheu
bibir - bibia - bebea - bibih
selangkang - krapang - cakak - cakak
perut - tenai - tenei - tenea
kening - ning - ning - ning
datang - teko - teko - teko
naik - bekenek - bekenek - bekenek
pulang - belek - belek - belek

1. Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan ai; Rejang Curup membunyikan ei; Rejang Kepahiang membunyikan hei. Contoh: Lebong mengucapkan ji’ai – Curup mengucapkan ji’ei – Kepahiang mengucapkan jihei.
2. Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan eak; Rejang Curup membunyikan eak (sama dengan dialek Lebong); Rejang Kepahiang membunyikan eah. Contoh: Lebong mengucapkan seak – Curup mengucapkan seak – Kepahiang mengucapkan seah.
3. Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan au; Rejang Curup membunyikan eu; Rejang Kepahiang membunyikan eu (sama dengan dialek Curup). Contoh: Lebong mengucapkan dau – Curup mengucapkan deu – Kepahiang mengucapkan deu.
4. Bahasa Rejang dialek Lebong membunyikan ok; Rejang Curup membunyikan ak; Rejang Kepahiang membunyikan ak (sama dengan dialek Curup). Contoh: Lebong mengucapkan betunok – Curup mengucapkan betunak – Kepahiang mengucapkan betunak.

Dan berbedanya beberapa kosakata untuk istilah kata sehari-hari:

* Lebong: asem; Curup: asem; Kepahiang: tepuyak (beda)
* Lebong: lapen; Curup: lapen; Kepahiang: gulea (beda)
* Lebong: inik; Curup: inik; Kepahiang: kliking (beda)
* Lebong: lemea (beda); Curup: lema;Kepahiang: lema

Perbedaan dialek juga terdapat dalam intonasi dalam berbicara. Bahasa Rejang Kepahiang terkesan keras dan kasar, bahasa Rejang Curup terkesan halus dan lembut, dan bahasa Rejang dialek Lebong terkesan lebih halus dan lebih lembut dari Rejang Curup. Dari warna dialek ketiga bahasa Rejang tersebut, secara nyata juga menggambarkan tradisi dan temperamen dari ketiga macam orang Rejang tersebut.

verditch - 13/02/2010 10:27 AM
#130

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Nias

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa nias

Spoiler for
Bahasa Nias atau Li Niha dalam bahasa aslinya, adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis darimana asal bahasa ini.

Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar 1 juta orang. Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahas yang unik karena merupakan satu-satunya bahasa di dunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal.Suku Nias mengenal enam huruf vokal, bukan lima seperti di daerah di Indonesia lainnya. Suku Nias mengenal huruf vokal a,e,i,u,o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan "e" seperti dalam penyebutan "enam" ).

Kosa kata

Beberapa kosa kata bahasa Nias dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

* Ya'ahowu = Biarlah engkau dberkati
* Ya'o = Aku, Saya
* Ahono = Tenang, Diam
* Ya`ugö = Anda, Kamu
* Asu = Anjing
* Tola = Boleh
* Lö Nasa = Belum
* Ebua = Besar
* Fofo = Burung
* Li Niha = Bahasa Nias
* Lala = Cara, Jalan
* Tötö`a = Dada
* Tanö Niha = Pulau Nias
* Idanö = Air
* Tundraha = Sampan/Perahu
* Hadia Turia? = Apa Kabar?
* Hauga Bözi? = Jam Berapa?
verditch - 14/02/2010 10:18 AM
#131

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Makassar

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa makassar

Spoiler for
Bahasa Makasar, juga disebut sebagai bahasa Makassar atau Mangkasara' adalah bahasa yang dituturkan oleh suku Makassar, penduduk Sulawesi Selatan, Indonesia. Bahasa ini mempunyai abjadnya sendiri, yang disebut Lontara, namun sekarang banyak juga ditulis dengan menggunakan huruf Latin.

Huruf Lontara berasal dari huruf Brahmi kuno dari India. Seperti banyak turunan dari huruf ini, masing-masing konsonan mengandung huruf hidup "a" yang tidak ditandai. Huruf-huruf hidup lainnya diberikan tanda baca di atas, di bawah, atau di sebelah kiri atau kanan dari setiap konsonan.

Beberapa contoh kata atau ungkapan dalam bahasa Makassar dalam huruf Latin:

Versi Bahasa Makassar - Versi Latin - Arti
ᨅᨒ - Balla' - Rumah
ᨅᨘᨒᨘ - Bulu' - Bulu/Rambut
ᨅᨅ - Bambang - Hangat/Panas
ᨌᨗᨄᨘᨑᨘ - Cipuru' - Lapar
ᨉᨚᨙᨕ - Doe' - Uang
ᨕᨗᨐᨚ - Iyo' - Iya
ᨒᨚᨄᨚ - Lompo - Besar
ᨔᨒᨚ - Sallo - Lama(untuk waktu)
ᨈᨙᨅ - Tabe' - Permisi
ᨙᨈᨊ - Tena - Tidak Ada

* jappa-jappa = jalan-jalan;
* lompo = besar;
* sallo = pelan-pelan;
* tabe' = permisi;
* tena = tidak;
* karaeng = raja;
* apa kareba? = apa kabar?;
* lakéko mae? = mau ke mana?;
* battu kémae ko? = dari mana?
* motere` = Pulang
* ngandre = makan
* jarang = kuda
* botto' = berbau
* bembe' = kambing
verditch - 14/02/2010 10:33 AM
#132

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Lampung

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa lampung

Spoiler for
Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Provinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.

Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya.

Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, subdialek A (api) yang dipakai oleh ulun Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa, Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, dan Kayu Agung (yang beradat Lampung Peminggir/Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek o (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Menggala/Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).

Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.

A. Dialek Belalau (Dialek Api)

terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.
2. Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.
3. Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung dan Kecamatan Way Jepara.
4. Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.
5. Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton, Sukarame dan Tanjung Karang Barat.
6. Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.
7. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komring dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Provinsi Sumatera Selatan.

B. Dialek Abung (Dialek Nyow)

terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.
2. Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang dan Gedung Aji.
verditch - 15/02/2010 09:53 AM
#133

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Bahasa Aceh

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : artikel singkat mengenai bahasa aceh

Spoiler for
Bahasa Aceh adalah bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan di Aceh, dominan di sebagian besar wilayah pesisir ujung utara Sumatera. Bahasa Aceh memiliki hubungan erat dengan kelompok bahasa Cham di Kamboja dan Vietnam.

Literatur

Sampai saat ini manuskrip berbahasa Aceh tertua yang dapat ditemukan berasal dari tahun 1069 H (1658/1659 M) yaitu Hikayat Seuma'un.

Sebelum penjajahan Belanda (1873 - 1942), hampir semua literatur berbahasa Aceh berbentuk puisi yang dikenal dengan hikayat. Sedikit sekali yang berbentuk prosa dan salah satunya adalah Kitab Bakeu Meunan yang merupakan terjemahan kitab Qawaa'id al-Islaam.

Setelah kedatangan Belanda barulah muncul karya tulis berbahasa Aceh dalam bentuk prosa yaitu pada tahun 1930-an, seperti Lhee Saboh Nang yang ditulis oleh Aboe Bakar dan De Vries[3]. Setelah itu barulah bermunculan berbagai karya tulis berbentuk prosa namun demikian masih tetap didominasi oleh karya tulis berbentuk hikayat.

Ejaan

Bahasa Aceh telah mengalami berulang kali perubahan ejaan, mulai penggunaan huruf Arab, huruf Latin ejaan lama, dan sekarang adalah Ejaan Yang Disempurnakan. Berikut adalah pedoman ejaannya:

* Ee (IPA: ə) dibaca seperti huruf /e/ dalam kata "dekat"; contohnya: le (banyak).
* Èè (IPA: ɛ) dibaca seperti huruf /e/ dalam kata "besok"; contohnya: pèng (uang), pèh (pukul/tumbuk), dll.
* Éé (IPA: e) dibaca seperti huruf /e/ dalam kata "kue"; contohnya: lé (oleh).
* Ëë (IPA: ə) tidak ditemui padanannya dalam bahasa Indonesia.
* Öö (IPA: ʌ) dibaca seperti huruf vokal dasar /e/, tetapi diucapkan dengan rongga tenggorokan terbuka; contohnya mantöng (masih), böh (buang),
* Ôô (IPA: o) dibaca seperti huruf /o/ dalam kata "soto", "foto", "tato"; contohnya: bôh (taruh), sôh (tinju), tôh (mengeluarkan).
* Oo (IPA: ɔ) dibaca seperti huruf /o/ dalam kata "tolong", "kota"; contohnya: boh (buah), soh (kosong), toh (mana)[7][8]

Huruf vokal sengau:

* 'A 'a pengucapannya sengau seperti /a/ dalam kata “maaf”; contohnya: 'ap (suap), meu'ah (maaf)
* 'I 'i pengucapannya sengau seperti /i/ dalam kata “angin”; contohnya: ca’ië (laba-laba), kh’iëng (busuk), dll
* 'U 'u pengucapannya sengau; contohnya: meu'uë (bajak),
* 'È 'è pengucapannya sengau seperti /e/ dalam kata “pamer”; contohnya: pa‘è (tokek), meu‘èn (main)
* 'O 'o pengucapannya sengau; contohnya: ma’op (hantu/untuk menakuti anak-anak)

Contoh

* Peue haba? = Apa kabar?
* Haba gèt = Kabar baik.
* Lôn piké geutanyoë han meureumpök lé = Saya kira kita takkan bersua lagi.
* Lôn jép ië u muda = Saya minum air kelapa muda.
* Agam ngön inöng = pria dan wanita
* Lôn = saya
* Kah, droë = kamu, anda
* H'an = tidak
* Na = ada
* Pajôh = makan
* Jih, dijih, gobnyan = dia, beliau
* Ceudah that gobnyan = Tampan sekali dia.
* Lôn meu'en bhan bak blang thô = Saya bermain bola di sawah kering
funnie.mooo - 18/02/2010 08:47 AM
#134

ID : funnie.mooo
Kategori : Kesusasteraan
Bentuk Karya : Artikel - Kumpulan Puisi
Sumber : Kumpulan Puisi Chairil Anwar
Spoiler for 'AKU'

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Spoiler for 'KRAWANG BEKASI'

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
the-ray-man - 25/02/2010 04:48 PM
#135

Kaskus ID : the-ray-man
Kategori : Dongeng

Bentuk karya : Artikel

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Calon_arang

Keterangan :
Quote:
[B]
Calon Arang

Kisah

Diceritakan bahwa ia adalah seorang janda pengguna ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Calon Arang mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

Raja Airlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang prajurit bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir . Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh (yogi tiara pratama)yang menyerahkannya kepada Empu Baradah(tatang). Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.
[sunting] Perkembangan kisah

Cerita ini dapat dibagi dalam beberapa babak:
[sunting]


Prolog

Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha sangat tentram. Raja di Daha bernama Airlangga. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha.
[sunting]



Awal Permasalahan

Meskipun cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang tidak mau meminangnya. Ini disebabkan oleh ulah ibunya yang senang menenung. Hal ini menyebabkan kemarahan Calon Arang. Oleh sebab itulah dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul mala-petaka dahsyat melanda desa Girah, dan pada akhirnya melanda Daha. Tulah tersebut menyebabkan banyak penduduk daerah tersebut sakit dan mati. Oleh karena tulah tersebut melanda Daha, maka Raja Airlangga marah dan berusaha melawan. Namun kekuatan Raja tidak dapat menandingi kesaktian Calon Arang, sehingga Raja memerintahkan Empu Baradah untuk melawan Calon Arang.
[sunting]



Siasat Empu Baradah

Untuk mengalahkan Calon Arang, Empu Baradah mengambil siasat. Dia memerintahkan muridnya, Bahula, untuk meminang Ratna Manggali. Setelah menjadi menantu Calon Arang, maka Bahula mendapatkan kemudahan untuk mengambil buku mantra Calon Arang dan diberikan kepada Empu Baradah.
[sunting]


Epilog

Setelah bukunya didapatkan oleh Bahula, Calon Arang pun ditaklukkan oleh Empu Baradah.
[sunting]


Analisis

Seringkali di dalam dunia cerita ini hanya disoroti tentang kekejaman dan kejahatan Calon Arang. Dia digambarkan sebagai nenek sihir yang mempunyai wajah yang seram. Namun dewasa ini muncul analisis-analisis yang lebih berpihak kepada Calon Arang. Dia adalah korban masyarakat patriarkal pada zamannya. Cerita Calon Arang merupakan sebuah gambaran sekaligus kritik terhadap diskriminasi kaum wanita.
[/B]
capt_alfons - 03/03/2010 07:58 AM
#136

Kaskus ID : capt_alfons
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk Karya : Legenda Batu Gantung dan Asal Usul Nama Kota Parapat
Sumber : http://bersamatoba.com/tobasa/serba-serbi/batu-gantung-dan-asal-usul-nama-kota-parapat.html

Keterangan : Legenda tentang Batu Gantung di Danau Toba,SUMUT

Spoiler for Cerita ttg Batu Gantung




Alkisah, di sada huta terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni.
Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.

Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.

“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.

Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.

Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.

“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.

Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.

“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.

Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.

“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..

Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.

Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.

“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.

“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.

“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.

“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.

“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.

Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.

Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”

“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.

“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.

“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.

“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.

Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.

“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.

“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.

“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”

“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.

Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutastampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.

“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.

“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.

“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.

“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.

“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.

Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.

Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batucadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”

Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

MarissaNasution - 11/03/2010 05:04 PM
#137

Kaskus ID : MarissaNasution
Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk Karya : Bahasa Kaganga (Jambi)
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Kaganga

Spoiler for ...

Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Kerinci, Lampung, Rencong dan lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada ketiga aksara pertama dan mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.

Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatra Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi.

Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.
mikimos17 - 11/03/2010 10:51 PM
#138

Kaskus ID : mikimos17

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Masjidil Aqsha berada di Kota Kudus Jawa Tengah
Sumber : http://pioner2b.wordpress.com/2009/11/03/masjidil-aqsha-berada-di-kota-kudus/
Keterangan : Cerita dan sejarah kota kudus dan menara kudus

Spoiler for "for"

Majid Alaqsha di Al Quds

Kota Kudus dan Palestina

Jika kita mendengar kata Al Quds, Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha, dan Palestina maka masyarakat kota Kudus lah yang seharusnya hatinya bergetar pertama kali. Dan kita saksikan sekarang ini penjajahan terhadap tanah Palestina yang dilakukan oleh Yahudi laknatullah belum berhenti. Pembantaian keji yang dilakukan oleh tentara Yahudi laknatullah terus saja terjadi. Desingan peluru dan dentuman ledakan dari tank-tank Yahudi enggan untuk diam. Jet-jet dan helikopter-helikopter mereka terus saja mengintai setiap gerak-gerik rakyat muslim Palestina.

Sebenarnya jika kita membaca sejarah kota Kudus maka kita akan merasakan kedekatannya dengan bumi Palestina yang sekarang ini sedang dirundung duka. Mungkin saja masyarakat kota Kudus sendiri tidak menyadarinya. Fakta-fakta yang tidak bisa kita abaikan tentang hal tersebut adalah nama dari kota Kudus itu sendiri dan berdirinya Masjid al Aqsha (Masjidil Aqsha) di kota Kudus.

Menurut berbagai informasi sejarah, seperti yang kita ketahui, pendiri kota Kudus adalah Ja’far Shadiq yang bergelar Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu ulama penyebar agama Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Nama ‘Kudus’ sendiri adalah nama yang diberikan oleh Syaikh Ja’far Shadiq yang diambil dari kata Al Quds, Baitul Maqdis Palestina.

Sejarah kedekatan antara kota Kudus dengan Palestina adalah ketika itu Syaikh Ja’far Shadiq (Sunan Kudus) menunaikan Haji di Tanah Suci Makkah. Pada saat itu terjadi wabah penyakit kudis yang melanda Tanah Suci. Oleh Amir (pemimpin) Makkah, Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq diminta untuk turun tangan menghentikan wabah penyakit tersebut. Dan Alhamdulillah berhasil.

Sebagai tanda terima kasih, Amir Makkah memberikan hadiah kepada Syaikh Ja’far Shadiq. Akan tetapi, beliau menolak. Beliau hanya meminta jika nanti berada di Palestina agar diizinkan mengambil sebuah batu dari Baitul Maqdis dan Amir Makkah pun mengizinkannya. Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq membawa batu tersebut pulang ke tanah Jawa. Kemudian batu tersebut digunakan oleh Syaikh Syaikh Ja’far Shadiq untuk mendirikan masjid, dan masjid itu diberi nama Masjid Al Aqsha, nama yang sama dengan masjid yang berada di Yerusalem Palestina yang pernah di singgahi oleh Rasulullah saw ketika Isra’ Mi’raj.

Masjid Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus didirikan pada 956 H atau 1549 M. Hal itu dapat diketahui dari inskripsi di atas mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab. Sayangnya, tulisan pada inskripsi itu sudah sulit dibaca karena banyak huruf yang rusak. Konon, batu inskripsi itulah yang dibawa oleh Sunan Kudus dari Yerusalem. Lebarnya 30 sentimeter dan panjangnya 46 sentimeter. (Republika.co.id)

Itulah kedekatan hati dan emosional kita, masyarakat kota Kudus dan Baitul Maqdis Palestina. Semua ini bukanlah kebetulan, melainkan Allah SWT telah menskenariokannya.

Dan sekarang ini, kesucian Masjidil Aqsha yang di Palestina telah diinjak-injak oleh kaki-kaki najis Yahudi laknatullah. Mereka hendak merampas masjid yang merupakan kiblat pertama umat muslimin. Mereka hendak merampas masjid yang bersejarah bagi umat muslimin. Mereka hendak merampas masjid yang di sana selalu mengagungkan asma-asma Allah.

Rasulullah saw pernah bersabda,” Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha(Baitul Maqdis), dan masjidku ini (Masjid Nabawi, Madinah)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita bergerak. Ini adalah urusan umat muslimin yang berada di muka bumi ini. Rasulullah saw pernah bersabda, “Siapa saja yang bangun pagi, sementara ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka ia tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka.” (HR. Thabrani)

Kita juga pasti akan ingat sabda Rasulullah saw, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

Minimal yang kita lakukan adalah memanjatkan doa untuk saudara-saudara kita yang di Palestina dan mendukung setiap aksi yang dilakukan dalam upaya pembebasan bumi Palestina.

Dan yang paling penting adalah rasa syukur kita kepada Allah yang menjadikan negeri kita Indonesia ini penuh dengan limpahan kenikmatan dan rahmat sehingga kita bisa memaksimalkan ketaatan kita dan beribadah kepada Allah. Kita dapat menunaikan ibadah Sholat Fardhu di awal waktu tanpa harus diintai oleh helikopter-helikopter Yahudi. Kita dapat belajar dan bekerja dengan tenang tanpa harus di kejar-kejar dan diburu peluru oleh Yahudi.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Israa’ 1)

wallahu’alam
SQUARD - 19/03/2010 02:58 PM
#139

kaskus ID : SQUARD
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Artikel Kumpulan Bahasa-Bahasa Daerah di Indonesia
sumber : http://organisasi.org/daftar_bahasa_daerah_di_indonesia_diurutkan_berdasarkan_abjad
keterangan : Kumpulan Bahasa Daerah di Indonesia

Spoiler for Kumpulan Bahasa Daerah di Indonesia di urutkan berdasarkan abjad


-Bahasa Aceh Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Alas Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Alor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Ambelan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Angkola Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Aru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Bacan Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
-Bada' Besona Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
-Bahasa Bahau Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Bajau Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Balantak Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
-Bahasa Bali Digunakan di Wilayah Bali
-Bahasa Banda Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Banggai Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
-Bahasa Banjar Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Bantik Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Batak Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Belu Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Bobongko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
-Bahasa Bonerate Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Bugis Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Bulanga Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gorontalo
-Bahasa Bungkumori Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
-Bahasa Buol Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
-Bahasa Buru Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Butung Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Enggano Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Gayo Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Geloli Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Goram Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Gorontalo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
-Bahasa Helo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Iban Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Jawa Digunakan di Wilayah Jawa
-Bahasa Kadang Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Kai Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Kaidipan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Gate
-Bahasa Kail Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja [COLOR="Lime"] [ RALAT dari mod e-New : bahasa toraja tetap dinamakan "bahasa toraja" [di bagian bawah udah ada,
gak ada bahasa kail di sana.. mungkin maksudnya bahasa kaili.. kalau bahasa kaili itu di wilayah sulteng (palu dan sekitarnya) ]
-Bahasa Kaisar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Kalaotoa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Karo Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Karompa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Kayan Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Kenya Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Klemautan Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Kroe Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Kubu Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Lain Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Laki Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
-Bahasa Lampung Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Landawe Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
-Bahasa Layolo Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Leboni Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
-Bahasa Leti Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Loinan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Loinan
-Bahasa Lom Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Luwu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Madura Digunakan di Wilayah Jawa
-Bahasa Makassar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Mandailing Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Mandar Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Mapute Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Bungku Langku
-Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Melayu Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Mentawai Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Milano Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Minangkabau Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Mongondow Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Napu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
-Bahasa Nias Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Orang Laut Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Ot-Danum Digunakan di Wilayah Kalimantan
-Bahasa Pak-Pak Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Pantar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Pilpikoro Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
-Bahasa Pitu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Rejang Lebong Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Riau Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Roma Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Rote Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Sa'dan Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Salu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Sangir Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Bali
-Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
-Bahasa Sasak Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
-Bahasa Seko Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Sikule Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Simulur Digunakan di Wilayah Sumatera
-Bahasa Solor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Sula Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
-Bahasa Sumba Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Barat
-Bahasa Sumbawa Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
-Bahasa Sunda Digunakan di Wilayah Jawa
-Bahasa Talaud Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Taliabo Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Sula Bacan
-Bahasa Tambulu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Tanibar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Ternate Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
-Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
-Bahasa Tetun Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Tidore Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Utara
-Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Nusa Tenggara Timur
-Bahasa Timor Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Tombatu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Tomini Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Tomoni
-Bahasa Tompakewa Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Tondano Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Tontembun Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulut
-Bahasa Toraja Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
-Bahasa Uluna Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Sulsel
-Bahasa Walio Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Muna Butung
-Bahasa Wetar Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Ambon Timur
-Bahasa Windesi Digunakan di Wilayah Maluku Daerah Sekitar Halmahera Selatan
-Bahasa Wotu Digunakan di Wilayah Sulawesi Daerah Sekitar Toraja
[/COLOR]


itupun hanya bahasa yg pengucapnya cukup banyak..
sebenarnya ada 746 bahasa daerah/suku di INDONESIA tercinta
verditch - 25/03/2010 09:50 AM
#140

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Artikel Mengenai Sloko Adat Jambi

sumber : wahana-budaya-indonesia.com

keterangan : Adat Istiadat dan Budaya Jambi

Spoiler for
SLOKO ADAT JAMBI

Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan Indonesia:

Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
(Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)

Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
( janganlah lain di kata lain di hati)

Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
(jangan menghianati kawan sendiri)

Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut..
(hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)

Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung..
(hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)

Awak pipit nak nelan jagung
(impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)

Pegi macang babungo, balik macang bapelutik..
(istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)

Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
(Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)

Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
(Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)
Page 7 of 13 | ‹ First  < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 >  Last ›
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel