Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel
Total Views: 36797
Page 12.5 of 13 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 > 

verditch - 19/12/2010 12:13 AM
#231

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Asal Mula Kolam Sampuraga

sumber : melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat dari sumatra utara

Spoiler for
Quote:
Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka.

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh.

“Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan peduduknya hidup makmur,” kata sang Majikan.

“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga penasaran.

“Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,” jelas sang Majikan.

Keterangan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.

“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.

“Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti” puji sang Majikan.

Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.

“Bu, Raga ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini,” kata Sampuraga kepada ibunya.

“Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?” tanya ibunya.

“Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahterta, karena tanahnya sangat subur,” jelas Sampuraga kepada ibunya.

“Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku” kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.

“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!“ Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.

“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!” seru sang ibu.

Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya. “Bu, Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.

“Ya, berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” harap sang ibu.

Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang Ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat, lalu berkata: “Sudahlah, Anakku! Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi,” kata sang Ibu.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.

“Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku?” tanya sang Majikan.

“Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu,” jawab Sampuraga.

Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan[1] dan Gordang Boru[2] yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya-raya.

“Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya.

“Sampuragaaa…!”

Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.

“Sampuraga…Anakku! Ini aku ibumu, Nak!” seru nenek tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga.

Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena nenek tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

“Hei, perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!”, hardik Sampuraga.

“Sampuragaaa…, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu.

“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa:

“Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri.”

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.
verditch - 19/12/2010 08:46 PM
#232

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Si Baroar

sumber : melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat dari sumatra utara

Spoiler for Part-1
Quote:
Alkisah, di Mandailing, Sumatra Utara, terdapat sebuah kerajaan kecil yang bernama Huta Bargot. Kerajaan tersebut terletak di seberang Sungai Batang Gadis. Rajanya yang bergelar Sutan Pulungan. Ia mempunyai seorang permaisuri dan putra yang masih bayi. Di sela-sela kesibukannya mengurus kerajaan, Sutan Pulungan sering meluangkan waktu pergi ke tengah hutan untuk berburu rusa.

Pada suatu hari, Sutan Pulungan bersama beberapa orang hulubalang dan prajuritnya berburu rusa di sebuah hutan lebat. Sutan Pulungan membawa anjing pemburu kesayangannya yang sangat pintar dan tangkas bernama Sipamutung. Ketika mereka sampai di tengah hutan, Sipamutung tiba-tiba berlari kencang menuju ke suatu tempat. Tak berapa lama kemudian, ia pun terdengar menyalak dengan serunya. Mendengar salakan anjing kesanyangannya tersebut, Sutan Pulungan segera memerintahkan prajuritnya pergi ke tempat Sipamutung menyalak.

“Prajurit! Cepatlah kalian susul si Pamutung! Aku yakin dia pasti menemukan rusa!” seru Sutan Pulungan kepada prajuritnya.

Mendengar perintah itu, beberapa orang prajurit segera berlari ke tempat Sipamutung menyalak. Setibanya di tempat itu, mereka melihat sebuah banyangan perempuan berkelebat lari dari bawah sebatang pohon beringin besar. Sementara Sipamutung masih terus menyalak. Ketika para prajurit tersebut mendekat dan memeriksa ke bawah pohon itu, tampaklah seorang bayi laki-laki tampan terbaring di atas sebuah batu besar. Tak berapa lama kemudian, Sutan Pulungan pun tiba di tempat itu.

“Hai, Prajurit! Mana rusa itu?” tanya Sutan Pulungan.

“Ampun, Baginda! Ternyata Sipamutang menyalak bukan karena menemukan rusa, tapi seorang bayi,” jawab seorang prajurit.

“Apa katamu? Seorang bayi?” tanya Sutan Pulungan terkejut seraya mendekati bayi tersebut.

“Siapa yang meletakkan bayi di atas batu ini?” Sutan Pulungan kembali bertanya.

“Ampun, Baginda! Hamba juga tidak tahu. Tapi, saat baru tiba, hamba dan prajurit lainnya melihat seorang perempuan berkelebat dengan sangat cepat meninggalkan tempat ini,” jawab seorang prajurit lainnya.

Mendengar penjelasan prajurit tersebut, Sutan Pulungan pun yakin bahwa bayi itu sengaja dibuang oleh orang tuanya. Akhirnya, ia bersama rombongannya memutuskan untuk berhenti berburu dan segera membawa pulang bayi malang itu. Setibanya di Negeri Huta Bargot, Sutan Pulungan menyerahkan bayi itu kepada seorang janda tua bernama si Saua, yang sejak lama mendambakan seorang anak.

“Terima kasih, Baginda! Hamba akan merawat bayi ini seperti anak kandung hamba sendiri,” ucap janda tua itu dengan senang hati.

Setiap kali pergi bekerja ke sawah, perempuan tua itu meletakkan bayi tersebut di dalam baroar, yakni kandang anjing. Oleh karena itu, orang-orang pun menamakan anak itu si Baroar.

Waktu terus berjalan. Si Baroar telah berusia lima tahun dengan wajah yang sangat tampan. Namun anehnya, wajah dan perawakan si Baroar sangat mirip dengan putra Sutan Pulungan, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak dapat lagi membedakan keduanya. Orang-orang sering keliru menyapa ketika bertemu dengan salah seorang dari kedua anak tersebut. Jika si Baroar berjalan-jalan sendirian, orang-orang yang bertemu dengannya selalu memberi hormat kepadanya dan menyapanya seperti menyapa putra Sutan Pulungan. Tetapi sebaliknya, jika bertemu dengan putra Sutan Pulungan, mereka memperlakukannya seperti anak orang kebanyakan.

Saat mengetahui putranya sering mendapat perlakuan demikian dari orang-orang di sekitarnya, Sutan Pulungan dan permaisurinya merasa sangat terhina. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membunuh si Baroar secara rahasia agar tidak diketahui oleh orang banyak.

Pada suatu hari, Sutan Pulungan mengumpulkan seluruh pembesar kerajaan untuk menyusun rencana pembunuhan rahasia tersebut. Dalam sidang tersebut, ia memerintahkan kepada pembesarnya agar segera menyelenggarakan upacara adat Sopo Godang, yakni upacara penggantian tiang besar balai sidang yang sudah lapuk. Sutan Pulungan akan menyelenggarakan upacara adat tersebut secara besar-besaran di istana Kerajaan Huta Bargot, karena ia ingin memanfaatkan keramaian itu untuk menutupi perbuatannya membunuh si Baroar.

“Bagaimana caranya kami membunuh si Baroar, Baginda?” tanya seorang hulubalang.

“Sebelum memasukkan tiang pengganti ke dalam lubang tempat menanamnya, terlebih dahulu kalian harus menjatuhkan si Baroar ke dalam lubang tersebut, dan menimpanya dengan tiang pengganti,” jelas Sutan Pulungan.

Sutan Pulungan juga memerintahkan kepada seorang hulubalang untuk memberi tanda silang pada kening si Baroar dengan kapur sirih.

“Ampun, Baginda! Kenapa si Baroar harus diberi tanda silang?” tanya hulubalang lainnya ingin tahu.

“Maksudnya adalah agar kalian bisa membedakan secara pasti yang mana si Baroar dan yang mana pula putraku, sehingga kalian tidak keliru membunuh si Boroar,” jelas Sutan Pulungan.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, para pembesar kerajaan segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam upacara Sopo Godang tersebut. Begitu pula hulubalang yang telah ditunjuk oleh sang Raja segera mencari si Baroar untuk memberi tanda silang pada keningnya.

Pada hari yang telah ditentukan, upacara adat itu segara akan dilaksanakan. Seluruh rakyat negeri yang akan mengikuti upacara adat tersebut telah berkumpul di halaman istana. Dalam upacara tersebut Sutan Pulungan juga menyelenggarakan berbagai atraksi dan pertunjukan seni. Hal ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian para warga yang hadir agar para hulubalang dapat melaksanakan tugas untuk membunuh si Baroar tanpa sepengetahuan mereka.

Ketika para warga sedang asyik bersuka ria, para hulubalang pun menyiapkan tiang untuk dimasukkan ke dalam lubang. Kebetulan saat itu, mereka melihat si Baroar yang sudah diberi tanda di keningnya sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Secara sembunyi-sembunyi, mereka segera menangkap dan menjatuhkan si Baroar ke dalam lubang, kemudian menimpanya dengan tiang besar. Tak seorang pun yang mengetahui perbuatan mereka, karena para warga sedang asyik bersuka ria. Para hulu balang pun merasa lega dan gembira, karena berhasil menjalankan tugas dengan lancar. Demikian pula yang dirasakan oleh Sutan Pulungan, karena si Baroar yang selalu membuatnya terhina telah mati.

Namun, sejak acara tersebut dilaksanakan, putra Sutan Pulungan tidak pernah lagi terlihat di istana. Seluruh keluarga istana menjadi panik dan segera mencari putra Sutan Pulungan. Mereka telah mencarinya di sekitar istana, namun mereka tetap tidak menemukannya. Sutan Pulung pun mulai cemas, jangan-jangan para hulubalangnya keliru dalam menjalankan tugas. Untuk itu, ia pun segera mengutus seorang hulubalang pergi ke rumah si Saua untuk melihat apakah si Baroar masih bersamanya. Ternyata benar. Sesampainya di sana, utusan melihat si Baroar sedang membelah kayu bakar bersama si Saua. Ia pun segera kembali ke istana untuk melaporkan hal itu kepada sang Raja.

“Ampun, Baginda! Ternyata si Baroar masih hidup. Ia masih bersama janda tua itu,” lapor utusan itu.

Mendengar laporan itu, Sutan Pulungan langsung naik pitam. Ia sangat marah kepada para hulubalangnya yang telah keliru menjalankan tugasnya.

“Hai, para Hulubalang! Kalian telah salah membunuh. Anak yang kalian masukkan ke dalam lubang itu adalah putraku, bukan si Baroar!” seru Sutan Pulungan dengan wajah memerah.

Rupanya kekeliruan itu bermula beberapa saat sebelum upacara adat tersebut dilaksanakan. Putra Sutan Pulungan melihat tanda silang pada kening si Baroar. Karena ingin seperti si Baroar, ia pun menyuruh seseorang untuk membuat tanda yang serupa di keningnya. Kemudian ia pergi ke tengah keramaian upacara, dan pada saat itulah para hulubalang menangkapnya secara sembunyi-sembunyi, lalu memasukkannya ke dalam lubang.

Sutan Pulungan yang telah kehilangan putranya segera memerintahkan tiga orang hulubalangnya untuk membunuh si Baroar. Ketiga hulubalang itu pun segera menuju ke rumah si Baroar dengan pedang terhunus. Saat tiba di sana, mereka tidak menemukan si Baroar dan si Saua.

Bersambung ke Part-2
verditch - 19/12/2010 08:47 PM
#233

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Si Baroar

sumber : melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat dari sumatra utara

Spoiler for Part-2
Quote:
...Rupanya, ada orang yang mengetahui rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh para hulubalang tersebut terhadap si Baroar. Orang itu pun memberitahu si Saua agar segera menyelamatkan si Baroar. Jadi, sebelum para hulubalang tersebut tiba di rumahnya, si Saua telah membawa lari si Baroar ke daerah persawahan yang sedang menguning padinya, tak jauh dari tepi Sungai Batang Gadis.

Ketika sampai di daerah persawahan, si Saua mengajak si Baroar untuk bersembunyi di sebuah gubuk yang atapnya hanya tinggal rangkanya yang berdiri di tengah sawah. Sebab, ia yakin bahwa para hulubalang tersebut pasti akan mengejar dan mendapati mereka sebelum tiba di tepi sungai.

“Anakku! Kita bersembunyi di sini saja! Kalau kita terus berlari, mereka pasti akan menangkap kita, karena mereka bisa berlari dengan cepat!” ujar si Saua seraya merangkul tubuh si Baroar.

Para hulubalang tersebut tiba-tiba kehilangan jejak. Saat melihat sebuah gubuk di tengah sawah, mereka pun mendekatinya. Ketika sampai di dekat gubuk itu, langkah mereka tiba-tiba terhenti. Si Saua dan si Baroar pun semakin ketakutan, karena mengira para hulubalang tersebut mengetahui keberadaan mereka. Namun ternyata, para hulubalang tersebut berhenti melangkah, karena melihat ada seekor burung balam sedang bertengger di puncak kerangka atap gubuk itu sambil terus berkicau.

“Ayo kawan-kawan kita cari mereka di tempat lain! Untuk apa kita cari di si janda tua dan si Baroar di gubuk itu. Kalau mereka bersembunyi di situ, tidak mungkin burung balam itu bertengger di atas sana!” seru hulubalang yang memimpin pengejaran itu.

Setelah para hulubalang tersebut cukup jauh dari gubuk itu, si Saua dan si Baroar keluar dari gubuk itu dan berlari menuju ke arah Sungai Batang Gadis. Namun sialnya, para hulubalang melihat mereka lagi.

“Hai, itu mereka! Ayo kita kejar!” seru pemimpin hulubalang.

Si Saua dan si Baroar pun berlari semakin cepat. Ketika mereka tiba di tepi sungai, ternyata Sungai Batang Gadis sedang banjir besar, sehingga mereka tidak dapat menyeberang. Sementara para hulubalang yang mengejarnya semakin dekat. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dalam keadaan nyawa terancam, si Saua segera bersujud ke tanah memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa.

“Ya Tuhan! Selamatkanlah nyawa kami!” ucap si Saua.

Ketika mengangkat kepalanya kembali, si Saua melihat sebatang kayu besar yang amat panjang hanyut melintang di tengah sungai. Anehnya, kayu besar itu berhenti tepat di hadapan mereka dalam keadaan melintang sampai ke seberang. Tanpa berpikir panjang dan merasa takut sedikit pun, janda tua itu dan si Baroar segera meniti kayu besar itu. Begitu tiba di seberang sungai, kayu besar itu kembali hanyut terbawa arus banjir. Para hulubalang yang baru tiba di tepi sungai tak dapat lagi mengejar mereka. Akhirnya, si Saua dan si Baroar selamat dari kematian.

Konon, beberapa tahun kemudian, di seberang Sungai Batang Gadis tersebut berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Panyabungan Tonga-Tonga yang dipimpin oleh si Baroar bersama permaisurinya. Keturunannya kemudian dikenal sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Nasution.

verditch - 21/12/2010 07:31 PM
#234

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Legenda Lau Kawar

sumber : melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat dari sumatra utara

Spoiler for
Quote:
Pada zaman dahulu kala, tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.

Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut.

Pelaksanaan upacara juga dimeriahkan dengan pagelaran Gendang Guro-Guro Aron, musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadi dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.

Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya.

“Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup,” ratap si nenek tua dalam hati.

Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu serta cucu-cucunya.

Ketika tiba saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Di sana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahab dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahabnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.

Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.

“Aduuuh… ! Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?” keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.

Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. Ia sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. Ibu tua itu menangisi nasibnya yang malang.

“Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!” kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.

Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya. “Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?” tanya sang suami kepada istrinya.

“Belum?” jawab istrinya.

“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!” perintah sang suami.

“Baiklah, suamiku!‘ jawab sang istri. Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, “Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!” perintah sang ibu.

“Baik, Bu!” jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara.

Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan. Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya.

“Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa makanan dan tulang-tulang,” gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.

Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang. Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. Ia kemudian berdoa kepada Tuhan agar mengutuk anak dan menantunya itu.

“Ya, Tuhan!” Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!” perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.

Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu.

Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat, kawah itu diberi nama Lau Kawar.

Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawar dari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara.
verditch - 23/12/2010 09:04 PM
#235

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Pohon Enau

sumber : melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat dari sumatra utara

Spoiler for
Quote:
Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang terletak di Tanah Karo, Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Yang pertama seorang laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan yang kedua seorang perempuan bernama Beru Sibou. Keluarga kecil itu tampak hidup rukun dan bahagia.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, karena sang suami sebagai kepala rumah tangga meninggal dunia, setelah menderita sakit beberapa lama. Sepeninggal suaminya, sang istri-lah yang harus bekerja keras, membanting tulang setiap hari untuk menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Oleh karena setiap hari bekerja keras, wanita itu pun jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Si Tare dan adik perempuannya yang masih kecil itu, kini menjadi anak yatim piatu. Untungnya, orang tua mereka masih memiliki sanak-saudara dekat. Maka sejak itu, si Tare dan adiknya diasuh oleh bibinya, adik dari ayah mereka.

Waktu terus berjalan. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang gagah, sedangkan adiknya, Beru Sibou, tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Sebagai seorang pemuda, tentunya Si Tare Iluh sudah mulai berpikiran dewasa. Oleh karena itu, ia memutuskan pergi merantau untuk mencari uang dari hasil keringatnya sendiri, karena ia tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi orang tua asuhnya.

“Adikku, Beru!” demikian si Tare Iluh memanggil adiknya.

“Ada apa, Bang!” jawab Beru.

“Kita sudah lama diasuh dan dihidupi oleh bibi. Kita sekarang sudah dewasa. Aku sebagai anak laki-laki merasa berkewajiban untuk membantu bibi mencari nafkah. Aku ingin pergi merantau untuk mengubah nasib kita. Bagaimana pendapat Adik?” tanya Tare Iluh kepada adiknya.

“Tapi, bagaimana dengan aku, Bang?” Beru balik bertanya.

“Adikku! Kamu di sini saja menemani bibi. Jika aku sudah berhasil mendapat uang yang banyak, aku akan segera kembali menemani adik di sini,” bujuk Tare kepada adiknya.

“Baiklah, Bang! Tapi, Abang jangan lupa segera kembali kalau sudah berhasil,” kata Beru mengizinkan abangnya, meksipun dengan berat hati.

“Tentu, Adikku!” kata Tare dengan penuh keyakinan.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada bibi dan adiknya, si Tare Iluh berangkat untuk merantau ke negeri orang.

Sepeninggal abangnya, Beru Sibou sangat sedih. Ia merasa telah kehilangan segala-segalanya. Abangnya, Tare Iluh, sebagai saudara satu-satunya yang sejak kecil tidak pernah berpisah pun meninggalkannya. Gadis itu hanya bisa berharap agar abangnya segera kembali dan membawa uang yang banyak.

Sudah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menunggu abangnya, tapi tak kunjung datang jua. Tidak ada kabar tentang keadaan abangnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukannya di perantauan.

Sementara itu, Tare Iluh di perantauan bukannya mencari pekerjaan yang layak, melainkan berjudi. Ia beranggapan bahwa dengan memenangkan perjudian, ia akan mendapat banyak uang tanpa harus bekerja keras. Tetapi sayangnya, si Tare Iluh hanya sekali menang dalam perjudian itu, yaitu ketika pertama kali main judi. Setelah itu, ia terus mengalami kekalahan, sehingga uang yang sudah sempat terkumpul pada akhirnya habis dijadikan sebagai taruhan. Oleh karena terus berharap bisa menang dalam perjudian, maka ia pun meminjam uang kepada penduduk setempat untuk uang taruhan. Tetapi, lagi-lagi ia mengalami kekalahan. Tak terasa, hutangnya pun semakin menumpuk dan ia tidak dapat melunasinya. Akibatnya, si Tare Iluh pun dipasung oleh penduduk setempat.

Suatu hari, kabar buruk itu sampai ke telinga si Beru Sibou. Ia sangat sedih dan prihatin mendengar keadaan abangnya yang sangat menderita di negeri orang. Dengan bekal secukupnya, ia pun pergi mencari abangnya, meskipun ia tidak tahu di mana negeri itu berada. Sudah berhari-hari si Beru Sibou berjalan kaki tanpa arah dan tujuan dengan menyusuri hutan belantara dan menyebrangi sungai, namun belum juga menemukan abangnya.

Suatu ketika, si Beru Sibou bertemu dengan seor ang kakek tua.

“Selamat sore, Kek!”

“Sore, Cucuku!” Ada yang bisa kakek bantu?”

“Iya, Kek! Apakah kakek pernah bertemu dengan abang saya?”

“Siapa nama abangmu?”

“Tare Iluh, Kek!”

“Tare Iluh…? Maaf, Cucuku! Kakek tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya Kakek pernah mendengar namanya. Kalau tidak salah, ia adalah pemuda yang gemar berjudi.”

“Benar, Kek! Saya juga pernah mendengar kabar itu, bahkan ia sekarang dipasung oleh penduduk tempat ia berada sekarang. Apakah kakek tahu di mana negeri itu?

“Maaf, Cucuku! Kakek juga tidak tahu di mana letak negeri itu. Tapi kalau boleh, Kakek ingin menyarankan sesuatu.”

“Apakah saran Kakek itu?”

“Panjatlah sebuah pohon yang tinggi. Setelah sampai di puncak, bernyanyilah sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia bisa mendengarnya.”

Setelah menyampaikan sarannya, sang Kakek pun segera pergi. Sementara si Beru Sibou, tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mencari pohon yang tinggi kemudian memanjatnya hingga ke puncak. Sesampainya di puncak, si Beru Sibou segera bernyanyi dan memanggil-manggil abangnya sambil menangis. Ia juga memohon kepada penduduk negeri yang memasung abangnya agar sudi melepaskannya.

Sudah berjam-jam si Beru Sibou bernyanyi dan berteriak di puncak pohon, namun tak seorang pun yang mendengarnya. Tapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia terus bernyanyi dan berteriak hingga kehabisan tenaga. Akhirnya, ia pun segera mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

“Ya, Tuhan! Tolonglah hambamu ini. Aku bersedia melunasi semua hutang abangku dan merelakan air mata, rambut dan seluruh anggota tubuhku dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk negeri yang memasung abangku.”

Baru saja kalimat permohonan itu lepas dari mulut si Beru Sibou, tiba-tiba angin bertiup kencang, langit menjadi mendung, hujan deras pun turun dengan lebatnya diikuti suara guntur yang menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh si Beru Sibou tiba-tiba menjelma menjadi pohon enau. Air matanya menjelma menjadi tuak atau nira yang berguna sebagai minuman. Rambutnya menjelma menjadi ijuk yang dapat dimanfaatkan untuk atap rumah. Tubuhnya menjelma menjadi pohon enau yang dapat menghasilkan buah kolangkaling untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman.

Demikianlah cerita “Kisah Pohon Enau” dari daerah Sumatera Utara. Hingga kini, masyarakat Tanah Karo meyakini bahwa pohon enau adalah penjelmaan si Beru Sibou. Untuk mengenang peristiwa tersebut, penduduk Tanah Karo pada jaman dahulu setiap ingin menyadap nira, mereka menyanyikan lagu enau.
verditch - 07/01/2011 06:19 PM
#236

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Bahasa Cia-Cia

sumber : id.wikipedia.org

keterangan : bahasa daerah yang unik sekali

Spoiler for
Hangeul, adalah abjad yang digunakan untuk menulis Bahasa Korea. Hangeul diciptakan oleh Raja Sejong yang Agung (1397-1450) pada tahun 1443 masa Dinasti Joseon. Meskipun tulisan Hangeul terlihat seperti tulisan ideografik (tulisan dalam bentuk 'simbol' seperti aksara Cina), Hangeul sebenarnya merupakan abjad fonetik. Abjad Hangeul terdiri dari 24 huruf (jamo)— 14 huruf mati (konsonan) dan 10 huruf hidup (vokal). Sebenarnya Hangeul sebenarnya masih mempunyai 3 konsonan dan 1 buah huruf vokal, namun dihilangkan. Selain untuk menuliskan bahasa Korea, Hangeul juga dipakai untuk bahasa suku Cia-Cia, di Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Bahasa Cia-Cia atau Bahasa Buton Selatan, ialah sejenis bahasa Austronesia yang ditutur di sekitar Kota Bau-Bau di selatan Pulau Buton di yang terletak di tenggara Pulau Sulawesi di Indonesia.
Pada tahun 2009, bahasa ini menarik perhatian dunia ketika Kota Bau-Bau menerima tulisan Hangul Korea untuk dijadikan sistem tulisan bahasa Cia-Cia. Pada tahun 2005 dianggarkan ada 80,000 orang penutur bahasa Cia-Cia, 95% diantaranya beragama Islam yang juga berbicara dalam bahasa Wolio. Bahasa Wolio semakin dilupakan sebagai bahasa penulisan kaum Cia-Cia, karena bahasa Indonesia kini diajar dengan abjad Latin di sekolah. Bahasa Cia-Cia ditutur di Sulawesi Tenggara, Pulau Buton Selatan, Pulau Binongko, dan Pulau Batu Atas.
Menurut kisah lama, penutur bahasa Cia-Cia di Binongko berketurunan bala tentara Buton yang dipimpin oleh Sultan Buton. Nama bahasa ini berasal dari perkataan cia yang berarti 'tidak'. Cia-Cia juga disebut bahasa Buton, Butung, atau Boetoneezen (dari bahasa Belanda) bersama dengan bahasa Wolio, dan bahasa Buton (atau Butung) Selatan.

Tulisan

Dalam proses menyesuaikan hangul dalam struktur bahasa Cia-Cia, huruf ㅸ yang tidak terpakai dalam bahasa Korea, digunakan lagi untuk mewakili konsonan /v/.

Contoh: 아디 세링 빨리 노논또 뗄레ᄫᅵ시. 아마노 노뽀옴바에 이아 나누몬또 뗄레ᄫᅵ시 꼴리에 노몰렝오.
Artinya: Adi sering pali nononto televisi. Amano nopo'ombae ia nanumonto televisi kolie nomolengo.


angka 1-10

formatnya : b. Indonesia (b. Cia-cia) Latin

satu (디세) dise
dua (루아) rua
tiga (똘루) tolu
empat (빠아) pa'a
lima (을리마) lima
enam (노오) no'o
tujuh (삐쭈) picu
delapan (활루) walu
sembilan (시우아) siwa
sepuluh (옴뿔루) ompulu

Kata2 lain

Kata kerja

부리 buri 'menulis'
뽀가우 pogau 'berbicara'
바짜안 baca'an 'membaca.

Kata benda

까아나 ka'ana 'rumah'
시골라 sigola 'sekolah'
사요르 sayor 'sayur'
보꾸 boku 'buku'.

Ucapan

따리마 까시 Tarima kasi 'Terima kasih'
인다우 미아노 찌아찌아 Indau miano Cia-Cia 'Saya orang Cia-Cia'
인다우 뻬엘루 이소오 Indau pe'elu iso'o 'Saya cinta kamu'
모아뿌 이사우 Moapu isau 'Maafkan saya'
움베 Umbe 'Ya'
찌아 Cia 'Tidak'
raicha - 09/02/2011 12:47 AM
#237
Djenar Maesa Ayu - cerpen MONEY-PULATOR
kaskus ID : raicha

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : cerita pendek berjudul "money-pulator"

sumber : djenar.com

keterangan : cerita pendek bertema feminisme (tergantung sudut pandang dan interpretasi masing-masing)

Quote:
Tidak ada seorang pun yang tak suka uang. Saya, apalagi. Tapi yang namanya uang, tidak suka orang. Karena itu mustahil mengharapkan uang mengetuk pintu rumah dan langsung lompat ke tangan. Uang tahu kalau ia begitu dibutuhkan. Maunya dicari, tak mau begitu saja datang.

Celakanya, walaupun saya suka uang, saya tidak suka mencari uang. Mendengar kata “bekerja” rasanya malas betul! Cuma apa mau dikata, saya tidak seberuntung orang-orang yang kekayaannya tidak habis dimakan tujuh turunan. Satu turunan saja hidup saya pas-pasan. Jadi mau tak mau saya harus bekerja, walaupun sekali lagi, rasanya malas betul!

Semakin hari, rasa malas saya semakin menjadi-jadi. Selain karena saya mendapati kenyataan bahwa mencari uang itu benar-benar menghabiskan waktu, tenaga, dan energi, saya juga kenyang dengan berbagai pengalaman yang sangat amat makan hati. Saya tidak saja mendapat pelajaran bahwa mencari uang sangat sulit, saya juga merasakan ternyata sebagai perempuan, mencari uang sangatlah lebih sulit.

Contohnya, ketika saya menawarkan produk kepada klien, ternyata yang dilirik bukan produknya, tapi sayalah yang bagi mereka adalah produk. Berkali-kali saya terlibat hubungan kerja dengan si pemegang-pemengang uang. Meeting berkali-kali, dan setiap kali pertemuan selalu saja dengan naifnya saya berpikir, saya sudah semakin dekat dengan kesepakatan yang begitu diharapkan bisa membuat saya mendapat uang. Buntutnya, boro-boro kesepakatan, apalagi uang. Yang ada hanyalah tawaran-tawaran yang membuat saya sebagai perempuan yang sudah berusaha berkerja secara profesional dan se-proporsional mungkin, merasa direndahkan. Bentuknya macam-macam: bisa dimulai dari sms-sms ringan yang sangat tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, atau undangan-undangan makan malam yang lagi-lagi tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, sampai dengan yang terang-terangan menyampaikan rasa tertariknya pada saya lalu mengajak kencan.

Kejadian-kejadian semacam ini menempatkan saya, seorang perempuan, berada pada posisi yang sangat lemah. Menolak atau tidak menolak, sama-sama berakibat tidak enak. Jika tidak menolak, proses menuju kesepakatan yang saya harapkan akan berjalan lancar dan saya mendapat uang, tapi saya selamanya akan kehilangan hak dan harga diri sebagai manusia yang tidak ternilai harganya dibanding uang. Sementara jika saya menolak, lantas bangga menepuk dada karena harga diri saya masih menempel di sana, saya tetap saja rugi secara materiil, rugi waktu, rugi energi, rugi tenaga, dan hati saya pun erosi. Merasa kalah. Merasa tertindas. Merasa skeptis, apalagi jika kejadian yang sama terjadi berulang-ulang

Jika saya mengemukakan masalah ini kepada perempuan, reaksi mereka kebanyakan miris, mengerti, juga merasakan perasaan saya sebagai pihak senasib seperjuangan. Tapi jika saya mengutarakannya kepada laki-laki, yang sopan biasanya cuma nyengir, kalau yang sinis cuma mencibir, kalau yang agresif balik menyerang, “Siapa suruh perempuan-perempuan mau diperlakukan seperti itu? Memang kenyataannya banyak perempuan yang sudah siap “jualan” luar dalam kok!”

Sejak lahir, laki-laki dibekali pengetahuan bahwa mereka harus pintar mencari uang. Sementara perempuan dibekali pengetahuan, bahwa mereka harus pintar mencari laki-laki yang punya uang. Dengan kata lain, peran uang yang di sini bisa diartikan sebagai bentuk kekuasaan, ada di tangan laki-laki. Dan perempuan secara langsung maupun tidak langsung “terbiasa” dengan keadaan di mana mereka harus tunduk pada laki-laki sebagai pemegang uang atau pemegang kekuasaan.

Kesalahan cara mendidik inilah yang harus segera diluruskan. Keluarga sebagai institusi terkecil dalam masyarakat luas, harus bisa menjalankan fungsinya yang satu di antaranya adalah fungsi edukatif. Jika kesalahan informasi semacam ini tetap diteruskan secara turun temurun, lagi-lagi perempuanlah yang harus menuai kerugian, baik moril maupun materiil. Konsep budaya yang menempatkan perempuan sebagai masyarakat kelas dua, membuat kasus pelecehan seksual “ringan” seperti yang saya alami di atas, sampai dengan kasus pelecehan seksual yang lebih “serius”, akan terus terjadi. Lemahnya kesadaran perempuan terhadap hak-nya sebagai manusia yang sama derajatnya dengan laki-laki, akan dengan mudahnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak atau mereka-mereka yang selama ini selalu merasa di atas angin!

Ngomong-ngomong tentang angin, itulah salah satu sebabnya kenapa saya suka dan butuh uang. Hampir setiap akhir pekan setelah lelah bekerja, saya selalu masuk angin. Karena itu saya perlu kerikan dan untuk itu saya butuh koin. Walau koin kecil wujudnya, tapi ia tetap uang juga, bukan? Jika dikumpulkan bergunung-gunung, akhirnya jumlahnya besar juga. Dan walaupun kegagalan saya pekan itu karena menolak kencan hanyalah kegagalan kecil, tapi ia tetap kegagalan juga. Jika kegagalan itu dikumpulkan bergunung-gunung, akhirnya jadi kegagalan besar juga. Jadi, kejahatan kecil ataupun besar tetaplah kejahatan. Kalau kita menutup mata atau mentolerir kejahatan-kejahatan yang dilakukan Money-pulator semacam mereka….saya tidak mampu membayangkan seberapa besar akibatnya.

Jakarta, 19 September 2005 11:10:06 PM
verditch - 09/02/2011 07:11 PM
#238

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Siamang Putih

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1
Quote:
Alkisah, di Kampung Alai di pesisir utara Pantai Tiku Sumatra Barat, tersebutlah seorang juragan kapal yang bernama Nahkoda Baginda. Ia adalah putra Tuanku Raja Kecik yang memerintah di Kerajaan Pagaruyung. Nahkoda Baginda mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Puti Juilan. Kecantikan parasnya terkenal hingga ke berbagai negeri. Belum seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena selain cantik bagaikan bidadari, ia juga keturunan bangsawan. Sementara, para pemuda atau perjaka yang tinggal di negeri itu dan negeri di sekitarnya kebanyakan menjadi nelayan atau anak buah ayahnya. Sebenarnya, banyak anak orang kaya atau pun keturunan bangsawan yang pantas untuk menjadi pendamping hidup Puti Juilan, namun semuanya telah berkeluarga dan beranak-pinak.

Keadaan tersebut membuat hati Puti Juilan cemas. Setiap hari ia selalu tampak murung dan mengurung diri dalam kamar. Mengetahui keadaan itu, Tuanku Raja Kecik pun cemas memikirkan nasib cucu kesayangannya itu. Ia pun segera memanggil putra dan menantunya (ayah dan ibu Puti Juilan) untuk mengadakan pertemuan keluarga. Dalam pertemuan tersebut, mereka bersepakat untuk mengadakan pesta gelanggang keramaian, yaitu tempat orang menghibur diri dan bercengkrama. Pesta yang akan berlangsung selama sebulan penuh tersebut bertujuan untuk mencarikan jodoh yang pantas untuk Puti Juilan.

Pada malam sebelum pesta itu dimulai, Puti Juilan bermimpi bertemu dengan seorang pemuda keturunan bangsawan bernama Sutan Rumandung. Ia pun menceritakan perihal mimpinya itu kepada kedua orang tua dan kakeknya. Mendengar cerita cucunya itu, Tuanku Raja Kecik menitahkan kepada pengawal istana untuk mencari pemuda itu pada saat pesta berlangsung. Pada pesta hari pertama, di antara undangan yang hadir tak seorang pun yang bernama Sutan Rumandang. Memasuki hari kedua dan ketiga, pemuda itu tidak juga ditemukan. Demikian pula pada hari-hari berikutnya hingga perhelatan besar tersebut berakhir.

Akhirnya, Tuanku Raja Kecik meminta bantuan kepada ahli nujum istana untuk menggerakkan hati Sutan Rumandang agar datang ke Kampung Alai. Dengan kesaktiannya, ahli nujum itu berhasil mendatangkan pemuda itu. Suatu hari, sebuah kapal layar berlabuh di dermaga. Perahu tersebut tampak rusak parah di mana seluruh tiangnya patah karena diterpa badai. Melihat kedatangan perahu itu, salah seorang prajurit yang bertugas di dermaga segera melapor kepada Tuanku Raja Kecik.

“Ampun, Baginda! Baru saja sebuah kapal asing berlabuh di dermaga. Kapal itu dinahkodai oleh seorang pemuda tampan,” lapor prajurit.

“Suruh pemuda itu menghadap kepadaku!” titah Tuanku Raja Kecik.

“Baik, Baginda! Titah segera hamba laksanakan!” jawab prajurit itu.

Tak berapa lama kemudian, prajurit itu pun kembali bersama pemuda itu. Tuanku Raja Kecik bersama keluarga istana, termasuk Puti Juilan, menyambutnya dengan baik. Saat melihat pemuda itu, Puti Juilan langsung tersentak kaget seakan-akan tidak percaya. Pemuda itulah yang hampir setiap malam hadir dalam mimpinya. Puti Juilan pun berbisik kepada ibunya.

“Bu, pemuda itulah yang selalu hadir dalam mimpi Puti,” bisik Puti Juilan.

“Apakah kamu yakin, Putriku?” tanya ibunya dengan suara pelan.

“Puti yakin sekali, Bu! Wajahnya sama persis dengan wajah pemuda di dalam mimpi Puti,” jawab Puti dengan penuh keyakinan.

“Baiklah kalau begitu, Putriku! Ibu akan menanyakan siapa sebenarnya pemuda itu,” kata ibunya.

“Maaf, Anak Muda! Engkau ini siapa dan berasal dari mana?” tanya ibu Puti Juilan kepada pemuda itu.

“Nama hamba Sutan Rumandang putra seorang juragan dari negeri seberang,” jawab pemuda itu.

Mendengar jawaban pemuda itu, semua keluarga istana yang hadir merasa sangat gembira dan bahagia, terutama Tuanku Raja Kecik.

“Pucuk ditiba ulam pun tiba. Pemuda yang selama ini kita tunggu akhirnya datang juga,” ucap Tuanku Raja Kecik dengan perasaan lega.

Dengan tidak sabar, Tuanku Raja Kecik ingin segera menikahkan cucu kesayangannya itu dengan Sutan Rumandang. Namun, Sutan Rumandang menolak, karena ia harus pergi mencari harta yang banyak untuk menikahi Puti Juilan.

“Maaf, Baginda! Untuk saat ini, hamba belum pantas menikahi Puti Juilan, karena usaha hamba sedang merugi,” ungkap Sutan Rumandang.

Seluruh keluarga istana pun mengerti maksud pemuda tampan itu. Namun, sebelum Sutan Rumandang berangkat berlayar, keluarga istana bersepakat untuk menunangkan mereka. Akhirnya, pertunangan itu dilangsungkan dengan sangat meriah.

Usai acara pertunangan, Sutan Rumandang memohon izin kepada Puti Juilan dan keluarga istana untuk pergi berlayar mencari harta yang banyak. Puti Juilan bersama kakek dan kedua orang tuanya turut mengantar Sutan Rumandang ke dermaga. Dalam perjalanan menuju ke dermaga, Puti Juilan terlihat sedih dan wajahnya murung. Sungguh berat hatinya ingin berpisah dengan Sutan Rumandang.

Tak berapa lama kemudian, mereka pun tiba di dermaga. Sebelum kapal layar yang akan ditumpangi Sutan Rumandang meninggalkan dermaga, Puti Juilan berpesan dan mengucapkan janji kepada tunangannya.

“Kanda Sutan Rumandang, berhati-hatilah di jalan dan cepatlah kembali setelah berhasil! Dinda bersumpah akan selalu setia menanti Kanda sampai kapan pun. Dinda tidak akan menikah selain dengan Kanda. Jika Dinda melanggar sumpah ini, biarlah Dinda menjadi siamang,” ucap Puti Juilan.

“Kanda pun bersumpah, jika Kanda tidak setia kepada Dinda, biarlah Kanda tenggelam bersama kapal Kanda di tengah laut,” balas Sutan Rumandang dengan ucapan sumpah.

Setelah berpamitan, Sutan Rumandang pun berlayar mengarungi samudara luas. Dari atas kapal, ia melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Puti Juilan pun membalasnya sambil meneteskan air mata. Semakin jauh kapal itu ke tengah laut, air mata Puti Juilan semakin deras mengalir. Ketika kapal itu hilang dari pandangan mata, Puti bersama keluarganya meninggalkan dermaga.

Bersambung ke part-2
verditch - 09/02/2011 07:12 PM
#239

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Siamang Putih

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
Sejak itu, Puti Juilan selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar melindungi tunangannya dan cepat kembali untuk menikahinya. Waktu berjalan begitu cepat. Sudah setahun lebih menunggu, Puti Juilan belum juga mendapat kabar dari tunangannya. Hingga akhir tahun kedua, tunangannya belum juga kembali dari pelayarannya. Ketika memasuki tahun ketiga, sebuah kapal dagang yang besar dan megah sedang berlabuh di dermaga. Mendengar kedatangan kapal itu, Puti Juilan bersama keluarganya segera menuju ke dermaga. Saat mereka tiba di dermaga, Puti Juilan tampak kecewa, karena kapal itu ternyata bukan milik tunangannya.

Namun, kekecewaan Puti Juilan langsung terobati saat ia melihat seorang pemuda tampan berpakaian mewah dan beberapa pengawalnya turun dari kapal.

“Melihat pakaian dan jumlah pengawalnya, pemuda itu pastilah bukan orang sembarangan,” kata Puti Juilan dalam hati.

Puti Juilan terus memerhatikan pemuda itu turun dari meniti anak tangga kapal satu persatu. Dengan penuh wibawa, pemuda itu berjalan menuju ke arah tempat ia dan keluarganya berdiri. Wajah tampan dan kewibawaan pemuda itu benar-benar memikat hati Puti Juilan. Pikirannya tentang Sutan Rumandang tiba-tiba lenyap begitu saja. Seluruh perhatian dan perasaannya tercurahkan kepada pemuda tampan itu.

“Bu, coba perhatikan pemuda itu! Dia sangat tampan dan gagah,” bisik Puti Juilan.

Ibunya pun mengerti maksud Puti Juilan kalau dia menyukai pemuda itu. Ia pun mengajak pemuda itu ke istana. Setelah ditanya tentang asal-usulnya, ternyata pemuda itu seorang keturunan bangsawan dari negeri tetangga. Akhirnya, ia pun dinikahkan dengan Puti Juilan dengan mengadakan pesta yang sangat meriah. Seluruh bangsawan dan orang-orang kaya di negeri itu dan di negeri tetangga turut diundang. Berbagai seni pertunjukan juga digelar. Ketika semua undangan telah hadir, pesta pun dimulai. Penghulu mulai menanyai kesediaan kedua mempelai.

“Apakah kamu bersedia menikah dengan Puti Juilan?” tanya penghulu kepada mempelai laki-laki.

Setelah mempelai laki-laki itu menyatakan kesediaannya, penghulu itu bertanya kepada Puti Juilan. Ketika hendak menjawab pertanyaan penghulu, tiba-tiba Puti Juilan memekik seperti orang tersengat lebah.

`Aduh, sakitnya!” pekik Puti Juilan sambil melompat berdiri.

Setelah itu, Puti Juilan kembali duduk. Saat akan menjawab pertanyaan kedua dari penghulu, ia kembali memekik sambil melompat dan bergayut di ambang pintu. Pada saat akan menjawab pertanya ketiga, ia memekik lagi dengan suara yang sangat keras seraya melompat tinggi ke bubungan rumah. Semua yang hadir menyaksikan peristiwa tersebut lari berhamburan ke luar rumah. Mereka melihat tubuh Puti Juilan di atas bubungan sedikit demi sedikit ditumbuhi oleh bulu berwarna putih. Lama-kelamaan, bulu itu semakin tebal dan memenuhi tubuhnya. Bentuk tubuh dan wajahnya pun perlahan-lahan berubah menyerupai seekor siamang.

Begitu seluruh tubuh Puti Juilan telah menjelma menjadi seekor siamang putih, barulah Tuanku Raja Kecik tersadar bahwa cucu kesayangannya itu telah melanggar sumpahnya. Namun, apa hendak diperbuat, nasi telah menjadi bubur. Seluruh keluarga istana hanya bisa pasrah menerima nasib malang yang telah menimpa Puti Juilan. Setiap hari, kala sang surya akan kembali ke peraduannya, siamang putih duduk di atas bubungan rumah sambil berbunyi dengan suara keras.

“Wuuut... wuut.... wuut!”

Siamang putih itu terus berbunyi sambil menatap jauh ke arah laut menanti kedatangan Sutan Rumandang. Namun, Sutan Rumandang tak kunjung tiba. Semakin hari, suara siamang terdengar semakin sendu, seperti tangis seorang gadis yang sedang putus asa. Beberapa hari kemudian, suara siamang tidak pernah terdengar lagi. Seorang warga telah menemukannya mati di atas pohon ketaping tempatnya bersarang. Mengetahui hal itu, keluarga istana segera mengambil dan membawanya pulang untuk dikuburkan layaknya manusia. Seluruh rakyat negeri turut berduka cita atas meninggalnya Puti Juilan dalam wujud seekor siamang.

Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar bahwa Sutan Rumandang tenggelam di tengah laut karena telah melanggar sumpahnya, yakni menikah dengan seorang putri di negeri rantau.

verditch - 09/02/2011 07:28 PM
#240

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Sabai nan Aluih

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1
Quote:
Alkisah, di Padang Tarok, Sumatra Barat, hiduplah sepasang suami istri, Rajo Babanding dan Sadun Saribai. Mereka tinggal bersama kedua orang anaknya di sebuah rumah bergojong (berujung) empat yang terletak di sekitar hilir Sungai Batang Agam. Anaknya yang sulung adalah seorang gadis cantik bernama Sabai nan Aluih, sedangkan anak bungsunya seorang pemuda tampan bernama Mangkutak Alam. Meskipun dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang sama, kedua kakak beradik tersebut memiliki sifat yang berbeda.

Mangkutak adalah seorang pemalas. Kerjanya setiap hari hanya bermain layang-layang, sehingga kulitnya menjadi hitam karena terbakar sinar matahari. Sedangkan Sabai nan Aluih adalah gadis cantik yang rajin membantu pekerjaan ibunya dan senantiasa mengisi waktu luangnya dengan menenun dan merenda. Sesuai dengan namanya Sabai nan Aluih (Sabai yang halus atau lembut), ia berbudi pekerti luhur, santun dalam berbicara, dan hormat kepada yang tua. Tak heran jika semua orang menyukainya.

Perangai dan kecantikan Sabai nan Alui terkenal hingga ke kampung lain. Pada suatu hari, berita tentang kencantikannya sampai ke telinga seorang teman baik ayah Sabai yang bernama Rajo nan Panjang. Ia adalah saudagar kaya yang sudah lama merantau ke Kampung Situjuh. Ia sangat disegani oleh masyarakat Kampung Situjuh, karena mempunyai tiga orang pengawal yang hebat, yaitu Rajo nan Konkong, Lompong Bertuah, dan Palimo Banda Dalam. Namun, Rajo nan Panjang termasuk saudagar kaya yang sangat keras dan suka memeras warga di sekitarnya dengan cara meminjamkan uangnya dengan bunga yang tinggi.

Ketika mengetahui sahabatnya mempunyai anak gadis yang cantik jelita, Rajo nan Panjang mengirim utusannya untuk meminang Sabai nan Aluih. Ia sangat yakin bahwa ayah Sabai pasti akan menerima pinangannya.

“Wahai, Pengawal! Aku mengutus kalian pergi menemui Rajo Babanding untuk menyampaikan pinanganku kepada anak gadisnya. Aku yakin Rajo Babanding sahabatku itu pasti senang mendapatkan menantu kaya seperti aku!” seru Rajo nan Panjang kepada para pengawalnya dengan penuh percaya diri.

Mendapat perintah tersebut, para pengawal itu pun berangkat ke Padang Tarok. Sesampainya di Padang Tarok, mereka pun menyampaikan pinangan tuannya kepada ayah Sabai nan Aluih.

“Kami adalah utusan Rajo nan Panjang dari Kampung Situjuh. Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan pinangan tuan kami kepada Sabai nan Aluih,” kata seorang utusan.

“Begini, Tuan-tuan! Saya tidak bermaksud mengecewakan hati sahabatku itu. Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepadanya bahwa saya malu bermenantukan orang kaya yang seumur dengan saya!” pesan Rajo Babanding.

Setelah mendapat jawaban penolakan dari Rajo Babanding, para utusan itu pun segera kembali ke Kampung Situjuh untuk menyampaikan berita tersebut kepada tuan mereka. Mendengar penolakan tersebut, Rajo nan Panjang merasa sangat terhina.

“Ah, sombong sekali Pak Tua itu! Masa tidak mau bermenantukan orang kaya,” ketus Rajo nan Panjang.

“Maaf, Tuan! Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya seorang pengawalnya.

“Apakah kita harus memaksanya, Tuan?” tambah seorang pengawal lainnya.

“Jangan dulu, Pengawal! Aku akan datang sendiri ke sana untuk melamar Sabai nan Aluih. Aku yakin Rajo Babanding tidak akan menolak lagi pinanganku. Pak Tua itu pasti tahu bahwa aku ini orang besar yang mempunyai anak buah yang hebat seperti kalian,” kata Raja nan Panjang.

Akhirnya, berangkatlah Rajo nan Panjang bersama ketiga orang pengawalnya. Rajo Babanding pun menerima mereka dengan baik. Namun, hatinya berkata bahwa sahabatnya itu telah melanggar sopan santun karena meminang anak gadisnya secara langsung kepadanya. Menurut adat di negeri itu, pinangan tidak boleh disampaikan langsung kepada ayah si Gadis, melainkan kepada mamak atau adik kandung ibu gadis itu.

Sebenarnya, Rajo Babanding ingin langsung menolak pinangan tersebut. Namun, ia khawatir jika pinangan itu langsung ditolak, Rajo nan Panjang akan marah dan mengamuk. Rajo Babanding akan sangat malu jika pertengkaran terjadi di rumahnya. Untuk itu, ia pun mengajak Rajo nan Panjang untuk berunding di luar rumah.

“Sahabatku! Sebaiknya kita berunding di luar rumah saja,” ajak Rajo Babanding.

Rajo nan Panjang pun mengetahui bahwa pinangannya ditolak secara halus oleh ayah Sabai nan Aluih. Ia sadar bahwa dirinya ditantang untuk berkelahi.

“Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan sahabatku. Tapi, di mana kita akan berunding?” tanya Rajo nan Panjang menerima tantangan Rajo Babanding.

“Kita berunding di Padang Panahunan,” jawab Rajo Babanding.

“Kapan?” tanya Rajo nan Panjang.

“Bagaimana kalau hari Minggu?” jawab Rajo Babanding.

“Baik, aku setuju!” kata Rajo nan Panjang seraya berpamitan.

Setelah Rajo nan Panjang bersama para pengawalnya pergi meninggalkan rumah Rajo Babanding, tiba-tiba Sabai nan Aluih keluar dari kamarnya, lalu segera menghampiri ayah dan ibunya yang masih duduk di ruang tamu.

“Maaf, Ayah! Sabai telah mendengar semua pembicaraan Ayah dengan Rajo nan Panjang. Jika Ayah berunding dengan sahabat Ayah itu di tempat sepi, Sabai yakin pasti akan terjadi perkelahian. Bukankah begitu, Ayah?” tanya Sabai nan Aluih.

“Benar, Anakku! Tapi, kamu jangan khawatir, Ayah pasti bisa jaga diri,” jawab Ayah Sabai.

Sejak itu, Hati Sabai nan Aluih selalu bimbang memikirkan keselamatan Ayahnya. Pada malam harinya, Sabai bermimpi buruk, lumbung padi menjadi arang, kerbau sekandang dicuri orang, dan ayam ternak disambar elang. Bagi Sabai, mimpinya itu merupakan pertanda bahwa Ayahnya akan celaka. Keesokan harinya, ia pun menceritakan mimpinya itu kepada ayahnya untuk mencegah ayahnya berunding dengan Rajo nan Panjang di Padang Panahunan.

“Ayah! Semalam Sabai mimpi buruk. Sebaiknya Ayah mengurungkan niat untuk bertemu dengan Rajo nan Panjang itu. Sabai khawatir terjadi sesuatu pada diri Ayah,” kata Sabai nan Aluih cemas.

“Anakku, Sabai! Mimpimu pertanda baik. Lumbung padi terbakar berarti padi akan dipanen. Kerbau hilang berarti ternak kita akan bertambah. Ayam disambar elang berarti adikmu Mangkutak akan dilamar orang,” bujuk Rajo Babanding menenangkan hati Sabai.

“Oh, Ayah! Kalau benar demikian, hati Sabai menjadi tenang. Akan tetapi, jika malapetaka yang menimpa, ke mana lagi kami akan bergantung,” kata Sabai dengan sedih.

“Tenanglah, Anakku! Ayah lakukan semua ini demi untuk mempertahankan harkat dan martabat keluarga kita. Ayah tidak ingin kehormatan keluaga kita dicoreng oleh Raja nan Panjang yang angkuh dan sombong itu,” kata Raja Babanding.

Pada hari yang telah ditentukan pun tiba. Berangkatlah Rajo Babanding ke Padang Panahunan. Padang Panahunan adalah tempat yang sepi dan sejak dulu digunakan untuk berkelahi. Rajo Babanding membawa seorang pembantunya yang bernama Palimo Parang Tagok. Ia mengajak pembantunya itu untuk berjaga-jaga jika Rajo nan Panjang berbuat curang. Seandainya pun ia terbunuh dalam pertarungan tersebut, setidaknya Palimo Parang Tagok dapat memberi kabar kepada keluarganya yang ada di rumah.

Saat mereka tiba di Padang Panahunan, tampak Rajo nan Panjang bersama seorang pengawal setianya Palimo Banda Dalam sudah menunggu. Rupanya Rajo nan Panjang sengaja datang lebih awal untuk mengatur siasat liciknya. Ia telah memerintahkan dua orang pengawal lainnya yakni Rajo nan Kongkong dan Lompong Bertuah untuk bersembunyi di balik semak-semak. Salah seorang di antaranya membawa senapan. Senapan itu akan digunakan pada saat diperlukan.

Bersambung ke part-2
verditch - 09/02/2011 07:34 PM
#241

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Sabai nan Aluih

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
Melihat kedatangan Rajo Babanding bersama seorang pembantunya dari kejauhan, Rajo nan Panjang berpesan kepada para pengawalnya.

“Pengawal, aku peringatkan kalian! Jangan memandang remeh Rajo Babanding! Kalian bukanlah lawannya yang sebanding. Berhati-hatilah!” seru Rajo nan Panjang.

“Baik, Tuan!” jawab para pengawalnya.

Rajo Babanding dan pembantunya semakin mendekat ke arah Raja nan Panjang. Ketika saling berhadapan, mereka pun saling menggertak.

“Hai, Rajo Babanding! Rupanya kamu berani juga mengantarkan nyawamu kemari!” seru Rajo nan Panjang.

“Kita lihat saja nanti, siapa di antara kita yang akan mati terlebih dahulu,” kata Rajo Babanding dengan tenang.

“Ha... ha... ha... !!! Tentu saja kamulah yang akan mati, Babanding,” kata Rajo nan Panjang sambil tertawa terbahak-bahak.

“Majulah kalau berani!” tantang Rajo Babanding.

Mendengar tantangan itu, Palimo Banda Dalam tiba-tiba menyerang Rajo Babanding dengan sebuah pukulan keras. Rajo Babanding pun segera berkelik menghindari pukulan itu dengan gesitnya. Berkali-kali Palimo Banda Dalam menyerang, namun tak satu pun pukulannya yang menyentuh tubuh Rajo Babanding. Melihat pengawalnya yang mulai kelelahan, Rajo nan Panjang segera membantu. Rajo Banbanding pun menjadi marah karena dikeroyok. Jika semula hanya bertahan, kini ia berbalik menyerang. Dengan sebuah pukulan keras, ia menghantam lambung kanan Palimo Banda Dalam dan seketika itu pula Palimo Banda Dalam jatuh tersungkur di tanah. Namun tanpa diduganya, tiba-tiba Lampong Bertuah menyerangnya dari belakang.

“Awas, Tuan! Musuh datang dari belakang!” teriak Palimo Parang Tagok yang melihat Lampong Bertuah muncul dari balik semak-semak.

Rajo Babanding pun segera menghindar. Selamatlah ia dari serangan itu.

“Hai, Rajo nan Panjang! Rupanya kamu telah berbuat curang!” seru Rajo Babanding.

“Ha... ha... ha... !!! Kini saatnya kamu akan mati Babanding,” kata Rajo nan Panjang

Melihat tuannya dicurangi, Palimo Parang Tagok segera membantu tuannya. Pertarungan itu pun semakin seru. Kini, satu lawan satu. Rajo Babanding menghadapi Rajo nan Panjang, sedangkan Palimo Parang Tagok menghadapi Lampong Bertuah. Namun, pertarungan antara kedua orang pengawal tersebut tidak berlangsung lama. Keduanya jatuh terkapar di tanah dengan keris menancap di tubuh mereka karena mereka saling menikam.

Sementara itu, pertarungan antara Rajo Babanding dengan Rajo nan Panjang masih berlangsung seru. Keduanya silih berganti menyerang. Mulanya, Rajo Babanding hanya bertahan dan menghidar dari serangan-serangan Rajo nan Panjang. Pada saat yang tepat, ia berbalik menyerang dengan menyabetkan kerisnya ke ke arah Rajo nan Panjang. Rajo nan Panjang pun terluka dan terjatuh. Dengan sekuat tenaga, ia berteriak memberikan aba-aba kepada Rajo nan Kongkong yang masih bersembuyi di balik semak-semak.

“Hai, Nan Konkong! Tunggu apa lagi!”

Rajo Babanding pun sadar jika Rajo nan Panjang masih mempunyai seorang pengawal lagi. Namun, baru saja ia bersiap-siap memasang kuda-kuda, tiba-tiba sebuah peluru bersarang di dadanya. Ia pun jatuh tersungkur di tanah tak sadarkan diri. Rajo nan Kongkong pun segera keluar dari balik semak-semak setelah melihat Rajo Babanding tidak berdaya lagi terkena tembakannya.

Pada saat itu, kebetulan ada seorang gembala yang menyaksikan peristiwa itu. Ia pun segera memberitahukan peristiwa itu kepada Sabai nan Aluih. Betapa terkejutnya Sabai mendengar berita itu. Pesan dalam mimpinya benar-benar menjadi kenyataan. Ia pun segera mengajak adiknya yang baru saja datang dari bermain layang-layang untuk melihat keadaan ayah mereka.

“Hai, Mangkutak! Ayo kita ke Padang Panahunan. Ayah telah meninggal terkena tembakan di dadanya!” seru Sabai nan Aluih.

“Tidak, Kak! Kakak saja yang ke sana. Aku belum mau mati. Bukankah aku akan bertunangan?” kata Mangkutak tidak menghiraukan ajakan Sabai.

“Dasar, laki-laki pengecut!” seru Sabai.

Dengan perasaan kesal, Sabai nan Aluih segera naik rumah dan langsung masuk ke dalam kamar ayahnya untuk mengambil senapan. Kemudian ia berlari menuju ke Padang Panahunan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Rajo nan Panjang bersama pengawalnya, Rajo nan Kongkong.

“Haaaiiii, mau ke mana kamu gadis cantik?”

“Hai, tua bangka yang tidak tahu malu! Apa yang telah kau lakukan terhadap ayahku?” tanya Sabai dengan muka memerah.

“Kau cantik sekali jika sedang marah,” goda Raja nan Panjang.

“Hai, tua bangka! Jawab pertanyaanku? Kau apakan ayahku?” Sabai kembali bertanya.

“Ha... ha... ha....!!! Tidak usah lagi kamu mencari ayahmu. Pak Tua itu telah pergi meninggalkanmu,” jawab Rajo nan Panjang.

“Apa maskudmu, tua bangka?” tanya Sabai.

“Ayahmu mati tertembak senapan itu,” jawab Rajo nan Panjang sambil menunjuk senapan yang dibawa Rajo nan Kongkong.

“Jadi, kau telah menembak ayahku. Bukankah ayahku tidak bersenjata? Dasar tua bangka curang!” hardik Sabai nan Aluih sambil mengarahkan senapannya ke dada saudagar kaya yang sombong itu.

Rajo nan Panjang dan pengawalnya itu kembali terbahak-bahak sambil mengejek Sabai nan Aluih.

“Ha... ha... ha... !!! Hai, gadis cantik! Senapan itu bukan mainan anak perempuan!”

Sabai nan Aluih yang tidak tahan lagi melihat perilaku Rajo nan Panjang itu langsung menarik pelatuk senapannya. Terdengarlah suara dentaman yang sangat keras. Seketika itu pula, Rajo nan Panjang terjatuh ke tanah, karena sebuah peluru menembus dadanya. Melihat tuannya tidak sadarkan diri, Rajo nan Kongkong pun langsung lari tunggang-langgang. Sementara Sabai nan Aluih segera menuju ke Padang Panahunan untuk melihat keadaan ayahnya. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati ayahnya sudah tidak bernyawa lagi. Hatinya sangat sedih karena sang Ayah yang merupakan tumpuan hidup keluarganya telah pergi untuk selamanya. Tak berapa lama kemudian, ibu Sabai bersama beberapa orang warga lainnya tiba di tempat itu. Mereka pun segera membawa pulang jenazah ayah Sabai untuk dikuburkan.
verditch - 09/02/2011 07:57 PM
#242

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1
Quote:
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.

Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.

Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.

Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.

“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.

“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.

“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,‘ sahut sang Ibu.

“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.

Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:

“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.

“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.

Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.

Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).

“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.

“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.

“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.

“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.

“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.

Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.

“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.

“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.

“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.

“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.

‘Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.

“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.

“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.

“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.

Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.

“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.

“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.

“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.

“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.

“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.

“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.

“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.

“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.

Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.

“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.

Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.

“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.

“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.

“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.

“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.

Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.

Bersambung ke Part-2
verditch - 09/02/2011 07:58 PM
#243

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.

Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.

“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.

Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
verditch - 12/02/2011 09:43 PM
#244

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Rambun Pamenan

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-1

Quote:
Alkisah, di daerah Sumatra Barat, hiduplah seorang janda bernama Lindung Bulan bersama dua orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Rendo Pinang, sedangkan yang bungsu bernama Rambun Pamenan. Lindung Bulan adalah seorang janda yang cantik nan rupawan. Kecantikannya terkenal hingga ke berbagai negeri. Sejak kematian suaminya, banyak pemuda maupun duda yang datang meminangnya, namun tak satu pun pinangan yang diterimanya. Ia lebih senang menjanda daripada kedua anaknya berayah tiri.

Suatu ketika, berita tentang kecantikan Lindung Bulan terdengar oleh Raja Angek Garang dari Negeri Terusan Cermin. Sesuai dengan namanya, Raja tersebut terkenal garang (kejam). Raja kejam itu ingin memperistri Lindung Bulan. Ia pun memerintahkan beberapa hulubalangnya yang dipimpin oleh Palimo Tadung untuk menjemput Lindung Bulan.

“Palimo Tadung! Jemput dan bawa Lindung Bulan kemari! Jika dia menolak dibawa dengan baik-baik, kamu culik saja dia!” perintah Raja Angek Garang.

“Daulat, Baginda! Perintah segera dilaksanakan!” jawab Palimo Tadung.

Usai berpamitan kepada Raja, berangkatlah Palimo Tadung bersama beberapa hulubalang untuk menjemput Lindung Bulan. Sesampainya di rumah Lindung Bulan, mereka menyampaikan pinangan Raja Angek Garang. Namun, Lindung Bulan tetap ingin hidup menjanda. Sesuai dengan titah Raja Angek, maka pada malam harinya, ketika Reno Pinang dan Rambun Pamenan sedang tertidur lelap, Palimo Tadung menculik Lindung Bulan dan membawanya ke istana Raja Angek Garang dengan menggunakan burak (semacam kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad ketika isra` mi`raj).

Sesampainya di istana, Raja Angek Garang memaksa Lindung Bulan agar mau menjadi permaisurinya. Lindung Bulan menolak, dan Raja Angek pun menjadi kesal dan marah.

“Dasar janda keras kepala!” bentak Raja Angek dengan wajah memerah.

“Pengawal! Bawa janda bodoh ini ke penjara bawa tanah!” titahnya.

Mendengar perintah itu, beberapa pengawal istana segera menyeret Lindung Bulan ke dalam penjara. Sebelum dimasukkan ke penjara, para pengawal tersebut mengikat kedua kaki Lindung Bulan dengan rantai besi.

Bertahun-tahun Lindung Bulan dikurung dalam penjara bawah tanah. Hidupnya sangat menderita dan merana. Ia jarang diberi makan dan minum, sehingga semakin hari badannya semakin kurus. Wajah cantiknya pun semakin hari semakin pudar.

Sementara itu, sejak ibu mereka diculik, Reno Pinang dan Rambun Pamenan diasuh dan dibesarkan oleh tetangganya. Rupanya, sang Tetangga menyaksikan peristiwa ketika Lindung Bulan diculik. Namun, ia tidak mengetahui akan dibawa ke mana Lindung Bulan oleh para penculik tersebut. Kini, Reno dan Rambun telah menjadi remaja. Sang Tetangga pun merasa bahwa tibalah saatnya ia harus menceritakan peristiwa yang telah menimpa ibu mereka. Reno dan Rambun sangat sedih mendengar cerita itu. Rambun berpikir bahwa ibunya masih hidup. Maka timbullah pikirannya ingin pergi mencari ibunya. Namun, ia bingung, karena tidak ada jejak atau pun petunjuk mengenai keberadaan ibunya.

Pada suatu hari, ketika sedang mencari balam (burung tekukur) di hutan, Rambun bertemu dengan seorang pemburu bernama Alang Bangkeh sedang beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. Setelah berkenalan, Rambun menceritakan peristiwa yang dialami ibunya hingga ia berniat untuk pergi mencarinya. Mendengar cerita Rambun, Alang Bangkeh tiba-tiba tersentak kaget.

“Benarkah Lindung Bulan itu ibumu, Rambun?” tanya Alang Bangkeh.

“Benar, Paman! Apakah Paman pernah bertemu dengannya? Tolong katakan di mana sekarang ibuku!” desak Rambun.

“Maaf, Rambun! Paman tidak pernah bertemu dengan ibumu. Paman hanya pernah mendengar kabar bahwa ibumu, Lindung Bulan, sudah bertahun-tahun ditawan oleh Raja Angek Garang di Negeri Terusan Cermin,” jelas Alang Bangkeh.

“Dari mana Paman dengar kabar itu?” tanya Rambun penasaran.

“Paman sering berkelana menjelajahi berbagai negeri. Hampir setiap negeri yang Paman singgahi, Paman sering mendengar pembicaraan penduduk tentang Lindung Bulan yang ditawan di Negeri Terusan Cermin karena menolak pinangan Raja Angek Garang,” ungkap Alang Bangkeh.

“Apakah Paman tahu letak Negeri Terusan Cermin?” tanya Rambun.

“Maaf, Rimbun! Kebetulan Paman belum pernah ke negeri itu. Tapi, semua orang tahu bahwa Negeri Terusan Cermin berada di seberang hutan belantara. Hanya saja tidak ada orang yang tahu persis di seberang hutan belantara yang mana negeri itu berada, karena di negeri ini banyak sekali hutan belantara,” kata Alang Bangkeh.

Meski demikian, Rambun tetap bertekad ingin pergi mencari dan membebaskan ibunya. Sejak itu, ia sangat tekun belajar bela diri dan menuntut ilmu pengetahuan kepada beberapa guru silat dan orang pintar. Melihat tindakan Rambun itu, Reno pun selalu bertanya-tanya dalam hati. Oleh karena penasaran, ia pun bertanya kepada adiknya.

“Hai, Adikku! Untuk apa kamu lakukan semua itu?” tanya Reno.

Rambun kemudian bercerita kepada kakaknya tentang cerita Alang Bangkeh bahwa ibu mereka masih hidup dan ia berniat untuk pergi mencarinya. Berkali-kali Reno Pinang berusaha untuk membujuk adiknya agar mengurungkan niatnya, namun sang Adik tetap bersikukuh hendak pergi mencari ibunya. Ibu asuhnya pernah berkata bahwa setiap cita-cita yang luhur, bagaimanapun sulitnya, akan dapat diraih dengan kerja keras dan sungguh-sungguh.

“Memang Adik masih muda, tapi Adik bisa menjaga diri. Adik telah belajar ilmu silat dan ilmu pengetahuan kepada banyak guru silat dan orang pintar. Jadi, Kakak tidak usah mencemaskan Adik,” ujar Rambun.

“Baiklah, kalau itu keinginanmu. Doa Kakak menyertai perjalananmu. Semoga kamu berhasil menemukan ibu,” ucap sang Kakak.

Setelah mempersiapkan segala keperluannya, berangkatlah Rambun untuk pergi mencari Negeri Terusan Cermin. Ia berjalan seorang diri keluar masuk hutan belantara, menaiki dan menuruni gunung. Semakin jauh ia berjalan, bekalnya pun semakin berkurang. Suatu hari, Rambun jatuh sakit di tengah hutan belantara, karena kelaparan dan kelelahan. Namun, berkat doa sang Kakak, ia pun sembuh. Rupanya, sang Kakak mengirimkan ramuan penangkal lapar berupa sebungkus nasi dan sebutir telur melalui mimpi Rambun. Peristiwa ajaib itu berlangsung beberapa kali sampai Rambun bertemu dengan seorang petani ladang di tepi hutan.

Rambun kemudian menumpang di rumah petani itu untuk memulihkan badannya yang sangat letih setelah melewati beberapa hutan belantara. Sebagai balas jasa, Rambun membantu petani itu bekerja di ladang. Ia bekerja sangat rajin dan tekun, sehingga petani itu sangat kagum kepadanya. Suatu malam, ketika mereka sedang duduk-duduk di dekat api unggun sambil membakar ubi, petani itu bertanya kepada Rambun.

“Apa gerangan yang membawamu sampai ke daerah ini, Rambun?” tanya si pemilik ladang.

Rambun pun menceritakan asal usul dan tujuannya berkelana. Mendengar cerita Rambun, pemilik ladang itu memberitahu bahwa Rambun telah menempuh hutan yang salah. Seharusnya ia melewati hutan sebelah barat. Akhirnya, Rambun pun memutuskan untuk tinggal beberapa lama untuk membantu si pemilik ladang. Setelah memanen tanaman ubi dan jagungnya, barulah ia berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum Rambun berangkat, pemilik ladang itu memberinya sebuah tongkat.

“Bawalah tongkat ini! Semoga dapat berguna dalam perjalananmu nanti. Tongkat ini namanya Manau Sungsang,” kata si pemilik ladang seraya menyerahkan tongkat itu kepada Rambun.

Setelah menerima tongkat itu, berangkatlah Rambun menelusuri hutan sebelah barat. Ketika menelusuri hutan itu, tiba-tiba ia melihat seorang perimba (pencari nafkah di hutan) sedang dililit seekor ular besar. Tanpa berpikir panjang, Rambun segera memukul kepala ular itu dengan tongkatnya sehingga lilitannya lepas dan ular itu pun mati seketika.

“Terima kasih, Anak Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau boleh aku tahu, engkau siapa dan dari mana asal usulmu?” tanya perimba itu.

Rambun pun menceritakan kisah perjalanannya dari awal hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita tersebut, perimba itu pun mengerti maksud dan tujuan Rambun berkelana.

“Karena engkau telah menolong Paman, maka Paman akan mengantarmu ke Negeri Terusan Cermin agar engkau cepat sampai di sana,” ujar perimba itu.

“Apa maksud, Paman? Bukankah negeri itu masih sangat jauh dari tempat sini?” tanya Rambun.

Sambil tersenyum, perimba itu menyuruh Rambun untuk memejamkan mata sejenak. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Rambun merasa tubuhnya melayang-layang di udara. Setelah membuka matanya, barulah ia menyadari bahwa perimba itu menerbangkan dirinya menuju ke Negeri Terusan Cermin. Perimba itu terbang melesat bagaikan burung garuda. Perjalanan yang cukup jauh tersebut mereka tempuh dalam waktu yang singkat. Sesampainya di Negeri Terusan Cermin, sang Perimba menurunkan Rambun di tepi sebuah dusun.

“Maaf, Rambun! Paman hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Carilah ibumu ke istana Raja Angek Garang!” seru perimba itu seraya kembali terbang menuju ke hutan belantara.

Bersambung ke Part-2
verditch - 12/02/2011 09:44 PM
#245

kaskus ID : verditch

kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

bentuk karya : Kisah Rambun Pamenan

sumber : www.melayuonline.com

keterangan : cerita rakyat daerah sumatra barat

Spoiler for part-2
Quote:
...Ketika tiba di dusun itu, Rambun tiba-tiba merasa sangat lapar. Ia pun mendatangi sebuah lepau (kedai nasi). Lepau itu terlihat sepi. Yang terlihat hanya seorang wanita, si pemilik lepau, sedang bernyanyi menunggu pembeli.

“Permisi, Bu! Saya sangat lapar, tetapi saya tidak mempunyai uang. Berilah saya pekerjaan apa saja untuk membayar nasi,” kata Rambun mengiba.

Oleh karena iba, pemilik lepau itu memberikan makanan kepada Rambun dengan cuma-cuma. Untuk membalas kebaikan wanita itu, Rambun pun bekerja di lepau itu. Ia menyediakan kayu bakar dan memperbaiki bagian-bagian lepau yang sudah rusak.

Suatu hari, Rambun bercerita kepada wanita itu tentang maksud dan tujuannya berkelana ke Negeri Terusan Cermin. Si pemilik lepau pun bercerita bahwa puluhan tahun yang lalu Raja Angek Garang menyekap ibu Rambun, Lindung Bulan, di penjara istana. Mendengar cerita wanita itu, Rambun semakin tidak sabar ingin membebaskan ibunya. Ia pun mulai mengatur siasat.

Suatu ketika, Rambun berjalan-jalan ke kota kerajaan Negeri Terusan Cermin untuk mempelajari seluk beluk dan keadaan istana. Keesokan harinya, ia pun berpamitan kepada si pemilik lepau. Sebelum Rambun berangkat ke istana, si pemilik lepau memberinya pakaian untuk menggantikan mengganti bajunya yang sudah usang dan robek.

Sesampainya di istana, Rambun melihat tujuh orang hulubalang sedang berjaga-jaga di depan gerbang istana. Ia pun menghampiri salah seorang hulubalang.

“Permisi, Tuan! Bolehkah saya masuk ke dalam istana?” kata Rambun.

“Hai, Anak Kecil! Siapa kamu dan untuk apa kemari?” tanya salah seorang hulubalang.

“Saya ingin membebaskan ibu saya yang ditawan Raja Angek Garang sejak puluhan tahun yang lalu,” jawab Rambun.

Hulubalang itu tertawa terbahak-bahak, lalu memanggil teman-temannya yang lain.

“Hai, teman-teman! Lihat, anak kecil ini mau membuat masalah!”

Keenam hulubalang yang lainnya itu segera menghampiri Rambun. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengangkat tubuh Rambun dan menimang-nimangnya.

“Ayo, teman-teman! Kita bermain lempar-tangkap. Tangkaplah anak ini!” seru hulubalang itu seraya melemparkan tubuh Rambun kepada temannya yang lain.

Setelah para hulubalang itu letih melemparkan tubuh Rambun ke sana kemari, salah seorang dari mereka kemudian melemparkan tubuh Rambun ke tanah lalu menendanginya secara bergantian. Rambun pun tidak sabar melihat perlakuan para hulubalang itu terhadap dirinya. Sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, Rambun memukulkan tongkat Manau Sungsangnya ke kepala salah seorang hulubalang. Hulubalang itu pun langsung tewas seketika. Melihat temanya terkapar tidak berdaya, keenam hulubalang yang lainnya lari tunggang langgang masuk ke dalam istana untuk melaporkan peristiwa itu kepada Palimo Tadung.

Tidak berapa lama, datanglah Palimo Tadung bersama beberapa hulubulang. Baru saja ia akan menghunus pedangnya, Rambun mendahului memukulkan tongkat saktinya ke kepalanya hingga tewas tak berdaya. Para hulubalang yang menyaksikan peristiwa itu segera melapor kepada Raja Angek Garang. Mendengar laporan itu, Raja Angek Garang langsung naik pitam.

“Dasar hulubalang tidak becus! Menghadapi anak kecil saja kalian tidak sanggup!” bentak sang Raja.

“Ampun, Baginda! Anak itu memiliki tongkat sakti,” sahut seorang hulubalang.

Tanpa berkata apa-apa, tiba-tiba saja Raja Angek Garang menghunus pedangnya lalu menusukkannya ke perut hulubalang itu hingga tewas. Dengan pedang terhunus, ia segera menemui Rambun yang sudah berdiri menunggu di depan istana. Raja Angek Garang pun langsung menyabetkan pedangnya berkali-kali ke arah Rambun. Namun, dengan gesit dan lincah, Rambun dapat menghindari serangan Raja Angek Garang. Pada saat yang tepat, Rambun memukulkan tongkatnya ke kepala Raja kejam itu. Tapi, pukulan Rambun masih dapat ditangkis oleh Raja Angek dengan pedangnya.

“Hai, bocah tengik! Kamu tidak akan sanggup mengalahkanku. Pedangku lebih sakti daripada tongkatmu. Ha... ha... ha...!” seru Raja Angek Garang sambil tertawa terbahak-bahak.

Rambun pun mengerti bahwa kesaktian Raja Angek terletak pada pedangnya. Maka, ketika Raja Angek mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dengan secepat kilat, Rambun melompat dan memukul pedang itu. Pedang itu pun terlepas dari genggaman Raja Angek. Pada saat itulah, Rambun segera memukul kepala Raja Angek Garang hingga jatuh dan tewas seketika. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu bersorak gembira, karena Raja kejam itu telah mati.

Setelah itu, Rambun pun memerintahkan para hulubalang untuk membebaskan semua tawanan. Ia pun masuk ke dalam penjara mengikuti para hulubalang untuk mencari ibunya. Ia pun meminta kepada salah seorang penjaga penjara untuk menunjukkan tempat ibunya disekap. Tak berapa lama, ia pun melihat ibunya dalam keadaan menyedihkan. Kaki ibunya terikat rantai besi. Badannya sangat kurus dan matanya cekung. Dengan perasaan haru, Rambun pun segera memeluk ibunya sambil menangis.

“Ibu...! Ini aku Rambun Pamenan, anak Ibu! Anak bungsu Ibu yang Ibu tinggalkan ketika masih kecil,” kata Rambun.

“Anakku! Maafkan Ibu, Nak!” ucap Lindung Bulan dengan suara serak.

Setelah itu, rakyat Negeri Terusan Cermin meminta kepada Rambun untuk menjadi raja menggantikan Raja Angek Garang yang kejam itu. Namun, Rambun tidak ingin menjadi raja di negeri asing. Ia pun mengajak ibunya untuk kembali ke kampung halamannya. Akhirnya, Rambun pun berkumpul kembali bersama ibu dan kakaknya, Reno Pinang.
punyaubay - 12/02/2011 11:23 PM
#246

Kaskus ID : punyaubay

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Jawa timur berjudul Legenda Suku Tengger

Sumber : http://infosenijatim.blogspot.com/p/info-seni-budaya-jawa-timur.html

Keterangan : Cerita Rakyat dari jawa timur

Spoiler for Suku Tengger

pada sekitar tahun 1115 Masehi atau 1037 Saka, hiduplah di sebuah negeri bernama Kediri seorang Resi Brahmana sakti bernama Murti Kundawa. Sang Resi selain sakti juga memiliki pusaka yang diberi nama Kyai Gliyeng. Karena kesaktiannyalah Resi Murti Kundawa diangkat menjadi Senopati kerajaan dan bergelar Resi Kandang Dewa.

Atas kanugrahan Yang Maha Kuasa Resi Kandang Dewa dikaruniahi empat orang putra-putri. Masing-masing adalah Jaka Lajang, Dewi Amisani, Jaka Seger, dan Dani Saka. Tetapi dari keempat putra-putri beliau hanya Jaka Seger yang mewarisi kesaktian Sang Maharesi.

Pada masa kejayaan Kediri itulah terdapat sebuah kadipaten bernama Wengker. Konon Wengker ini sekarang menjadi Ponorogo. Kadipaten Wengker dipimpin oleh seorang Adipati bernama Suragata. Adipati Suragata memiliki putri cantik jelita yang diberi nama Retno Wulan. Sayangnya putri adipati terserang penyakit yang seolah tidak bisa disembuhkan. Entah sudah berapa tabib, dukun, orang pintar dari seluruh penjuru negeri sudah didatangkan Sang Adipati untuk mengobati putrinya. Tetapi belum satupun menunjukkan tanda-tanda kesembuhan sang putri.

Hingga pada suatu hari di bulan Kartika Adipati Suragata mengadakan sayembara. Yang isinya barangsiapa sanggub menyembuhkan sang putri, maka kalau laki-laki akan disandingkan dengan Dewi Retno Wulan. Sebaliknya kalau perempuan akan diangkat anak dan menjadi saudara sang putri. Berita itu sengaja disebarkan ke mana-mana dari pelosok perdesaan hingga pegunungan, dari pasar-pasar hingga jalanan besar.

Hingga akhirnya berita itu sampai ke telinga Jaka Seger yang segera minta izin kepada ayahandanya untuk berangkat mengikuti sayembara. Resi Kandang Dewa membekali Jaka Seger dengan pusaka andalannya Kyai Gliyeng disertai doa restu agar Jaka Seger bisa melaksanakan tugas yang diembannya.

Singkat cerita setelah menghadap Adipati Suragata, Jaka Seger segera melaksanakan upacara permohonan dan segera menancapkan Kyai Gliyeng di tengah aloon-aloon Wengker. Dalam semedinya Jaka Seger merasa didatangi Pukulun Btara Brahma yang memerintahkan Jaka Seger agar memetik buah delima. Buah itulah yang akan menyembuhkan penyakit sang putri Dewi Retno Wulan.

Terjaga dari puja semedi Jaka Seger segera mencari buah delima dan memberikan kepada Dewi Retno Wulan. Ajaib putri adipati Suragata sembuh seketika. Sebagai wujud syukur sekaligus hadiah bagi pemenang akhirnya Sang Adipati menikahkan Dewi Retno Wulan yang sudah diubah namanya menjadi Dewi Lara Anteng dan Jaka Seger. Perubahan nama inipun atas petunjuk dewata yang diterima Jaka Seger dalam puja semedi. Kesembuhan Lara Anteng disambut sukacita seluruh rakyat kadipaten Wengker. Sebagai wujud syukur akhirnya Sang Adipati Suragata melaksanakan upacara selametan karo tepat pada tanggal 15 bulan Pusa. Berawal dari ucapan Adipati itulah akhirnya sedulur Tengger melakukan tradisi upacara Karo sampai sekarang.

Rombongan pengantin Lara Anteng dan Jaka Seger dari Kediri diiringi prajurit pilihan dan para penari Sodor putra-putri berjumlah duabelas orang yang masing-masing dibekali sebatang bambu berisi berbagai biji palawija, sedangkan ujung bambu ditutup dengan sabut kelapa/ sepet. Sementara itu di kadipaten Wengker membuat sesajen berupa takir janur (pucuk daun kelapa), gayung bathok, pengaron (alat masak dari tanah liat), dan sesajen lain.

Upacara pengantin di atas disebut tawang walagara atau tawang padang. Sedangkan tarian yang dilakukan oleh pihak pengantin pria disebut sodoran. Selanjutnya kewajiban kedua mempelai beserta keluarganya untuk saling mengunjungi atau dederek yang sampai sekarang diwujudkan dengan saling mengunjungi antar keluarga, kerabat, tetangga, teman dan disertai acara makan minum sebagai bentuk penghormatan kepada yang mengunjungi. Nama Lara Anteng dan Jaka Seger itulah yang akhirnya diabadikan menjadi nama suku yang diduga keturunan keduanya dan dikenal dengan sebutan suku Tengger.
punyaubay - 12/02/2011 11:29 PM
#247

Kaskus ID : punyaubay

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Jawa timur berjudul Legenda Gunung Semeru

Sumber : http://infosenijatim.blogspot.com/p/info-seni-budaya-jawa-timur.html

Keterangan : Cerita Rakyat dari jawa timur

Spoiler for Legenda Gunung Semeru

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman. Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara gaib. Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh Mahkluk halus yang mendiami daerah keliling gunungnya. Roh halus tersebut biasanya adalah Roh Leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat Mahkluk halus penunggu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan mistis dia akan melihat Mahkluk halus dan dapat bicara dengan Mahkluk Halus. Terserah orang percaya pada Mahkluk Halus atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh Mahkluk Halus.( Sumber: TamanNasional Bromo Tengger Semeru )
hanansuwardheni - 06/05/2011 01:31 PM
#248

Kaskus ID : hanansuwardheni

Kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng

Bentuk karya : Cerita rakyat Kalimantan Barat berjudul Kisah TanNunggal serta Bujang Nadi Dare Nandung

Sumber: http://sambas05.blogspot.com/2009_07_01_archive.html

Keterangan : cerita rakyat asal Kalimantan Barat


Spoiler for cerita bujangnadi darenandung
Quote:
Pada zaman dahulu ketika keturunan Sultan sedang pergi berburu ke hutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan buruan yang didapatkan, tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut” ujar keturunan Sultan tersebut. Keturunan Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu, prajurit langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan di kejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari balik rumpun bambu. Tanpa pikir panjang, di dampingi dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana untuk di temukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Suultan Sambas untuk menjadi anaknya dan di beri nama TanNunggal. Mengapa bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut diberi nama TanNunggal?????
Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh kalau di bandingkan dengan manusia biasa atau manusia normal.
Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di sebut dengan gigi tunggal, padahal kalau manusia biasa giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa buah gigi, sehingga bayi tersebut di beri nama TanNunggal.

TanNunggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, sehingga TanNunggal menjadi tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan menggantikan posisi bapaknya (sultan Sambas) memimpin kerajaan Sambas. Pada saat TanNunggal memerintah kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang perempuan diberi nama Nandong. Dalam kebiasaan masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil dengan sebutan Dare, maka jelaslah anak tersebut dipanggil dengan Bujang Nadi dan Dare Nandong. Pada saat TanNunggal berkuasa di Sambas, raja TanNunggal terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong dengan rakyat. Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat Sambas, banyak hal yang terjadi sehingga TanNunggal dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang sangat mengejutkan sampai-sampai TanNunggal dikatakan manusia setengah siluman. Pada saat ia memimpin TanNuanggal paling senang makan sambal asam, pada hari itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal asam terlambat membuat sambal asam, sedangkan jam makan siang TanNunggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk TanNunggal sedangkan dia sudah tahu bahwa TanNunggal tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan TanNunggal bisa marah, begitu takut dimarah TanNunggal si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi, karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat lagi membuat sambal asam yang baru. Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan TanNunggal, begitu memakan sambal tersebut TanNunggal sangat kenyamanan dia berpikir “Mengapa ya sambal asam pada hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya”. Lalu TanNunggal bertanya kepada si tukang masak. Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Semenjak kejadian itu TanNunggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam harus dicampur dengan darah manusia.

Kembali ke cerita Bujang Nadi dan Dare Nandong, pada masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja melainkan hanya berteman dengan ayam jago dan alat tenun milik Dare Nandong karena TanNunggal sangat membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa.
Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik barmain di taman istana tanpa sadar mereka di intip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik bercerita tentang perkawinan.
Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang. Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang juga berkehendak demikian, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik lembutnya.

Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkawinan sejarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu langsung melaporkan kejadian tersebut kepada TanNunggal. Raja TanNunggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan dapat memberikan aib bagi kerajaan, padahal apa yang iya dengar semuanya salah belaka. TanNunggal langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong beserta dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik Dare Nandong. Kemudaian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup di daerah Sebedang Kecamatan Tebas tentunya masih di Kabupaten Sambas. Konon katanya masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap malam jumat sering mendengar kokokan suara ayam jantan yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandong yang di kubur dalam satu makam, bahkan kadang-kadang terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare Nandong.

thinkerbelloon - 08/07/2011 01:13 PM
#249

Kaskus ID :: thinkerbelloon
Kategori :: Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
Bentuk Karya :: Narasi
Keterangan :: Bikinan sendiri

Spoiler for Rel dan Kereta

Rel dan Kereta

Aku pernah memimpikan untuk dapat hidup dalam tubuh orang lain. Memiliki apa yang mereka miliki, berpikir seperti apa yang mereka pikirkan, memandang dengan cara mereka memandang. Kadang aku marah pada Tuhan, aku membenci Tuhan, aku tidak ingin berbicara kepada nya. Kemarahanku membuat aku menjadi seorang pendengki.

Waktu, dia melaju seperti roda - roda kereta, berputar cepat menuju hari esok. Rel yang dia lalui berasal dari bongkah besi yang dipanaskan, dicetak dengan kuat, dan disusun dengan perhitungan.

Kerikil bukanlah masalah untuk kereta. Kerikil adalah tangan Tuhan yang membimbing kereta menjadi lebih tangguh. Tiap kerikil adalah panas bara yang membawa nya satu kali lebih cepat.

Bila rel yang ditopang nya telah lebih dulu menjadi arah bagi kereta lain, dia tetap dapat melaju pada arah yang berbeda untuk sampai di stasiun yang sama.

Kini, aku telah menemukan rel itu. Aku menemukan arah yang berbeda agar aku tetap dapat mencapai stasiun untuk keretaku.


__________________________________

© by: thinkerbelloon
pleke.nyut - 27/10/2011 10:36 AM
#250

kaskus ID : pleke.nyut
kategori : Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng
bentuk karya : Dongeng Sejarah Sunda
sumber : http://www.kasundaan.org/

Spoiler for cerita sejarah sunda

Kronologi Sejarah Sunda
by KAsep
Wednesday, 28 February 2007 13:59

Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.

Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.

Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'

Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang

Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):

Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).

0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362
1. Jayasingawarman, 358-382
2. Dharmayawarman, 382-395
3. Purnawarman, 395-434
4. Wisnuwarman, 434-455
5. Indrawarman, 455-515
6. Candrawarman, 515-535
7. Suryawarman, 535-561
8. Kertawarman, 561-628
9. Sudhawarman, 628-639
10. Hariwangsawarman, 639-640
11. Nagajayawarman, 640-666
12. Linggawarman, 666-669

Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang

1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15. Munding Ganawirya (964 - 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17. Brajawisésa (989 - 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)
41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)

Sumber:
- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.
- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000
- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.
- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.
- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.
Page 12.5 of 13 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng > Kesusasteraan/Bahasa/Dongeng - Artikel