Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Total Views: 77161
Page 2 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

e-New - 12/10/2009 01:52 PM
#21
Meloa
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Upacara sesudah penguburan

Spoiler for Meloa
Upacara sesudah penguburan disebut Meloa (membesuk, berkunjung ke tempat penyimpanan tulang). Maksud dan Tujuan Upacara: Upacara meloa diadakan dengan maksud untuk memberi doa kepada orang mati, agar selama dalam perjalanannya menuju ke dunia mati, dapat selamat dan rohnya diterima oleh Pueng Lamoa, di samping sebagai tanda pernyataan cinta kasih dari sanak keluarga/isteri/suami yang telah ditinggalkan.

Tujuan daripada upacara ini, adalah agar keluarga yang masih hidup dapat sadar atas keberadaannya bahwa setiap orang yang masih hidup itu akan mengalami kematian, ini berarti bahwa suatu peringatan bagi orang-orang yang masih hidup, agar mereka dapat melakukan lial-hal yang baik saja dan menghindari hal-hal yang bertentangan menurut adat dan kepercayaan yang telah dianut.

Penyelenggara Teknis Upacara. Adapun pelaksana teknis dalam upacara ini adalah keluarga Kabose yang tertua sebagai hasil penunjukan dari keluarga yang hendak mengikuti upacara ini. Pemimpin upacara ini disebut Mokole.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara. Karena upacara ini merupakan rangkaian upacara-upacara sebelumnya dan juga sebagai upacara terakhir bagi orang-orang mati yang dilakukan oleh pihak keluarga, maka seluruh keluarga, sanak keluarga, baik dari pihak keluarga isteri maupun pihak keluarga suami turut terlibat dalam upacara ini, sebagai tanda cinta kasih yang harus diberikan kepada si mati, di mana dalam pelaksanaan upacara ini masing-masing berperanan untuk terlaksananya upacara ini dengan baik.

Waktu Pelaksanaan Upacara. Upacara Meloa dilakukan pada sore hari sampai menjelang malam hari, karena menurut kepercayaan mereka waktu-waktu itulah yang paling baik, dan doa yang diberikan kepada orang mati dapat dikabulkan oleh Pueng Lamoa, sedang waktu untuk berkunjung ke kuburan dimulai sehari sesudah penguburannya sampai pada hari ke tiga.

Tempat Penlyelenggaraan Upacara. Upacara ini pada umumnya dilakukan di pekuburan yang telah ditentukan di mana orang mati dikuburkan. Sedang menurut kebiasaan yang dilakukan oleh suku bangsa Pamona seperti apa yang diuraikan pada bagian terdahulu bahwa mereka dikuburkan di dalam gua-gua atau pada tempat khusus yang ada di luar desa yang disebut Baruga.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara. Persiapan dan perlengkapan-perlengkapan upacara antara lain:

* Mempersiapkan semua perlengkapan-perlengkapan yang akan ikut dalam upacara ini yaitu berupa makanan lengkap dengan lauk pauknya serta minuman secukupnya, bahkan adakalanya diikut-sertakan binatang-binatang seperti: babi, ayam, domba dan kambing. Binatang ini adakalanya dipotong di tempat itu dan adakalanya binatang ini dipotong setelah tiba di rumah.
* Mempersiapkan alat-alat makanan dan minuman untuk digunakan setelah kembali dari pekuburan, dan beberapa perlengkapan lainnya.

Jalannya Upacara. Setelah persiapan dan perlengkapan sudah siap untuk dibawa, maka keluarga yang ikut serta dalam upacara ini juga telah mulai berdatangan dan setelah hadir semuanya, Ialu mereka berangkat menuju ke kuburan di mana mayat itu dimakamkan. Apabila mereka telah tiba di tempat itu, maka sebelum upacara ini dimulai, pemimpin upacara terlebih dahulu memberikan kata-kata penghormatan dalam bahasa suku mereka yang artinya demikian : "Kami datang bersama dengan seluruh keluarga, dan membawakan makanan dan minuman untukmu, agar kamu senantiasa selamat dalam perjalanan menuju suatu alam kehidupan baru .............."

Kemudian makanan dan minuman yang dibawa disimpan di atas kuburan, adakalanya binatang itu dipotong dan adakalanya disimpan di tempat itu saja, dengan maksud makanan dan minuman itu dapat dimakan dan diminum budak-budak yang turut menjaga kuburan itu sampai pada hari yang ke 40. Ini berarti sebagai tanda cinta kasih dan rasa belasungkawa kepada si mati.

Sesudah itu "Mokole" memimpin upacara yaitu menyanyi yang diikuti oleh seluruh keluarga yang hadir. Nyanyian ini dilagukan sambil menangis sebagai tanda terharu dan berduka cita atas kematian yang ada di dalam kuburan (di dalam gua). Menjelang senja (malam hari), seluruh keluarga dan peserta upacara kembali ke rumah, hal ini dilakukan sampai pada hari yang ke tiga. Pada hari ke tigal setelah tiba di rumah, maka dilakukanlah acara, "Gulung tikar," ini berarti upacara kunjungan telah selesai yang kemudian dilanjutkan pada hari ke empat dan ke lima acara makan bersama-sama bagi keluarga terutama keluarga yang bertempat tinggal di luar desa, di samping sebagai tanda perpisahan. Hari ke enam sampai hari ke tujuh dilanjutkan acara yang disebut "Membewe" yaitu acara pengeringan mayat, agar mayat yang telah disimpan tidak menjadi busuk, di samping untuk disimpan dan dipersiapkan pada upacara tahunan (Mogave).

Pantangan-pantangan yang haru dihindari selama berlangsungnya upacara ini antara lain:

* Tidak diperkenankan bagi keluarga (isteri/suami) memakai pakaian yang berwarna lain, kecuali warna hitam, sedang bagi keluarga tidak terikat
* Tidak diperkenankan bersuka ria atau bergembira seperti, melakukan tarian, menyanyi dan sebagainya, kecuali nyanyian yang telah ditentukan untuk dinyanyikan pada waktu terlaksananya upacara
* Tidak diperkenankan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh atau kurang pantas, yang menurut adat ialah suatu pelanggaran
* Tidak diperkenankan kawin bagi isteri atau suami yang ditinggalkan, kecuali setelah upacara tahunan selesai. Ini berarti si isteri / suami masih tetap dalam suasana berkabung atau berduka cita
* Tidak diperkenankan bagi anggota keluarga termasuk anak-anaknya yang ditinggalkan untuk berselisih atau bertengkar karena masalah pembagian harta warisan, karena dapat mengakibatkan tidak tenteram roh atau jiwa orang mati selama dalam perjalanannya. Ini berarti bahwa seluruh keluarga harus hidup tenteram dan bahagia serta berdaya usaha untuk menghindari segala perselisihan. Yang terpenting bagi seluruh keluarga harus mempertahankan nilai-nilai sakraInya upacara selama masa waktu berkabung/berduka cita.

Dengan demikian pelaksanaan Upacara Kematian Tradisional suku bangsa Pamona telah diuraikan menurut tahap-tahapnya, dan seluruh pelaksanaan upacara kematian ini telah selesai.
e-New - 12/10/2009 01:54 PM
#22
Mogave
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Rangkaian upacara pemindahan tulang-tulang jenazah

Spoiler for Mogave
Upacara Mogave adalah salah satu rangkaian upacara pemindahan tulang-tulang jenazah itu dipindahkan pada satu tempat yang tertentu, seperti pada gua-gua, lubang-lubang batu, untuk selama-lamanya. Untuk itulah sebagai kelanjutan upacara ini adalah upacara pesta besar buat orang mati (mogave). Upacara ini disebut pesta buat orang mati, karena masing-masing jenazah yang telah dikuburkan kemudian dikumpulkan tulang-tulangnya untuk diadakan upacara tersendiri.

Maksud dan Tujuan Upacara. Adapun yang dimaksud tentang adanya upacara ini ialah untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tulang-tulang yang telah dikuburkan yang diambil dari para keluarga Kabose yang berasal dari desa-desa lainnya, yang memiliki bahasa dan kebudayaan yang sama.

Tujuannya : bahwa dengan terselenggaranya pesta ini kiranya dapat mempertemukan seluruh keluarga yang telah ditinggalkan agar dapat menjalin hubungan kerjasama dan hubungan kekerabatan, di samping tujuan lainnya adalah tempat pertemuan bagi para muda mudi.

Penyelenggara Teknis Upacara. Sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa yang paling berperan dalm pelaksanaan upacara ini ialah imam-imam perempuan (Vurake).

Pibak-pihak yang Terlibat dalam Upacara. Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini, hampir semua warga/anggota masyarakat melibatkan dirinya baik sebagai pendamping maupun sebagai pembantu pelaksana teknis operasional. Sedang pendamping dalam upacara ini mutlak hadir seperti, Ketua-Ketua Adat, tokoh-tokoh masyarakat, keluarga dan kerabat, yang masing-masing tentunya mempunyai peranan tersendiri, sehingga persiapan dan perlengkapan upacara terlaksana dengan baik.

Waktu Pelaksanaan Upacara. Masalah waktu pada umumnya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku sebelumnya, sedang tenggang waktu pelaksanaan upacara ini berlangsung selama 1 - 2 tahun, tergantung kesepakatan keluarga Kabose.

Adapun penentuan waktu pelaksanaan upacara, tergantung dari hasil mufakat para keluarga Kabose atau keluarga orang mati, khususnya para keluarga bangsawan. Upacara ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, di mana jenazah yang telah dikuburkan telah menjadi tengkorak atau tulang-tulang, sehingga memudahkan untuk dikumpulkan kembali. Upacara ini dilakukan selama tujuh hari tujuh malam, di mana tenggang waktu itu para keluarga Kabose dapat berkumpul yang berasal dari desa-desa di sekitar tempat dilaksanakan upacara.

Tempat Penyelenggaman Upacara. Upacara ini sering dilakukan pada tempat yang cukup luas yang di perkirakan dapat menampung seluruh peserta upacara terutama keluarga orang mati itu sendiri. Di lokasi di mana dilaksanakan upacara didirikan beberapa barak-barak yang berfungsi menampung para keluarga si mati di samping sebagai tempat istirahat, sedang peti-peti jenazah. Rumah tempat menyimpan tulang atau peti jenazah disebut Tambea (barak).

Persiapan dan Perlengkapan Upacara. Sebelum upacara ini dilaksanakan, maka terlebih dahulu harus dipersiapkan perlengkapan-perlengkcapan yang menunjang terlaksananya upacara itu sebagaimana yang akan diuraikan di bawah ini.

Persiapan Upacara ini antara lain:

*

*

Memberitahukan kepada seluruh keluarga si mati, terutama para keluarga Kabose, demikian pula para Ketua-Ketua Adat, tokoh-tokoh masyarakat, dan seluruh warga desa baik yang ada di dalam desa maupun yang berada di luar desa
*

Mempersiapkan peti-peti jenazah yang modelnya agak lebih kecil dibandingkan peti jenazah ketika mula pertama dikuburkan. Peti ini berisi tulang-tulang atau tengkorak-tengkorak yang sudah kering yang dikumpulkan dari tempat penguburan yang pertama
*

Mempersiapkan barak-barak tempat menginap dan rumah tempat di mana peti jenazah itu dikumpulkan

Perlengkapan Upacara dalam upacara ini antara lain:

*

*

Pakaian adat tradisional, parang dan tombak, gunanya dipakai dalam tari-tarian perang, sedang dulang dan piring adat dipakai untuk menghidangkan makanan dan minuman
*

Kerbau, domba, ayam dan babi berguna sebagai ternak potong, di mana binatang-binatang tersebut dipotong selama berlangsungnya upacara untuk dimakan bersama-sama
*

Minuman (saguer) dan makanan-makanan lainnya. Karena upacara ini memerlukan pemotongan binatang dan makanan yang cukup banyak, maka setiap warga atau keluarga si mati yang menghadiri upacara ini membawa beberapa ekor binatang seperti: kerbau, domba, ayam dan lain-lain, juga minuman dan makanan lainnya.

Jalannya Upacara:

*

*

Setelah tulang-tulang itu dikumpulkan oleh masing-masing keluarga, lalu dimasukkan ke dalam peti yang kemudian dibawa ke tempat pelaksanaan upacara, yang diantar oleh keluarga yang diikuti oleh para warganya.
*

Selanjutnya peti jenazah itu disimpan di dalam rumah, yang telah ditentukan, dan para keluarga mengambil tempat yang telah disiapkan.
*

Mengawali upacara ini diadakanlah pemotongan kepala kerbau berarti upacara "Mogave" secara resmi dimulai. Pada saat itu pula para pemuda-pemuda mulai menari yang diselang-selingi nyanyian-nyanyian. Nyanyian yang harus dilagukan dalam upacara ini ialah "Motengke" dan "Kayori," kedua nyanyian ini berisi syair-syair tentang pujian para pahlawan yang telah gugur di medan perang atau yang memuji para pahlawan mereka yang telah mendapat kemenangan dalam peperangan melawan musuh-musuhnya.
*

Pada saat nyanyian dilagukan secara bergantian antara pemuda dan pemudi yang diambil setiap warga Kabose yang hadir dalam upacara ini, sehingga upacara ini merupakan pertemuan jodoh bagi pemuda-pemudinya
*
Setelah tujuh hari tujuh malam berlangsung upacara ini, maka tibalah saatnya upacara penguburan kepada tulang-tulang atau tengkorak, di mana upacara ini dipimpin oleh Imam-imam perempuan (Vurake) sekaligus memberikan doa agar jenazah itu tetap selamat dalam perjalanannya.

Pantangan-pantangan yang Dihindari. Sebagaimana uraian yang terdahulu bahwa suku bangsa Pamona masih memiliki pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar, karena menurut kepercayaan mereka bahwa pelanggaran yang dilakukan dapat mengakibatkan yang jelek atau malapetaka bukan saja orang yang berbuat, tetapi dikenakan seluruh warga desa:

* Selama berlangsungnya upacara tidak diperkenankan melakukan tarian-tarian selain yang telah disebutkan di atas seperti tarian Dero, Rego dan lain-lain. Larangan ini diperlukan seluruh peserta upacara, dengan maksud agar acara ini berlangsung dengan hikmat dan nilai skralnya tetap ada.

* Tidak boleh melanggar ketentuan yang berlaku di tempat upacara seperti: pada malam hari, kalau ada di antara keluarga atau peserta yang memegang pelita pada malam hari, berarti mereka itu sudah berkeluarga baik perempuan maupun laki-laki, maka pantang untuk diganggu atau didekati, karena dapat mengakibatkan yang jelek dan berbahaya yang sewaktu-waktu dapat merugi kan seluruh keluarga yang hadir dalam upacara itu, atau bagi orang yang melanggar ketentuan ini, akan diberikan hukuman atau sanksi sesuai hukum adat yang berlaku pada masa itu.

Demikianlah upacara ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam sampai tiba masa penguburannya yaitu di mana peti jenazah itu disimpan di dalam rumah atau tempat penyimpanan jenazah yang berada di luar dewa, dan lain sebagainya, untuk selanjutnya akan diuraikan pula tentang upacara sesudah penguburan (Meloa).
e-New - 12/10/2009 01:57 PM
#23
Mompemate
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Upacara Penyimpanan Mayat

Spoiler for mompemate
Upacara Mompemate (Penguburan), atau sering disebut juga "Upacara Penyimpanan Mayat" (Ndatabe). Upacara Ndatabe adalah penyimpanan jenazah pada tambea (tempat penyimpanan jenazah) sampai menjadi tulang belulang yang bersih yang letaknya agak jauh terpisah dari penduduk. Bila jenazah tersebut tinggal tulang belulang diadakan upacara Mompemate (memindahkan tulang belutang tersebut ke gua-gua).

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud daripada penyelenggaraan upacara ini adalah untuk memberikan kesempatan jenazah itu dalam waktu yang tidak terbatas menjadi tengkorak atau tulang belulang.

Tujuannya agar mayat itu tidak menjadi busuk, Ialu mayat itu disimpan di tambea dalam suatu rumah kecil yang berdiri di atas tiang, di mana mayat itu disimpan sampai menjadi tengkorak atau tulang belulang.

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Adapun pelaksanaan teknis dalam upacara ini, adalah "Vurake" yaitu seorang imam perempuan (kira-kira umur 55 tahun ke atas), yang didampingi oleh Ketua-Ketua Adat dan keluarga yang terdekat yang masing-masing mempunyai tugas tersendiri. Untuk terlaksananya acara ini dengan baik, maka Vurake sebagai imam bertugas memimpin upacara dari seluruh rangkaian upacara, mulai dari jenazah itu diberangkatkan ke kuburan.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Adapun orang-orang yang terlibat dalam upacara ini, seperti yang disebutkan pada Upacara Mongkariang dan Penghiburan. Dengan demikian hampir seluruh warga/anggota masyarakat di desa itu terlibat dalam upacara ini sebagai penghormatan terakhir kepada Kabosenya, sehingga kelihatan bahwa desa itu dalam keadaan berkabung.

Waktu Pelaksanaan Upacara

Setelah persiapan dan perlengkapan upacara telah siap, maka penentuan waktu ditentukan oleh Vurake. Hal ini karena mayat yang hendak dikuburkan harus melalui beberapa tahapan. Pada umumnya dilakukan pada siang hari, karena diharapkan orang-orang yang diundang terutama para Ketua Adat, Kepala Suku, dan tokoh-tokoh masyarakat, dan seluruh keluarga baik yang ada di desa itu maupun yang ada di luar desa dapat hadir.

Penyelenggaraan Upacara

Pada umumnya upacara penguburan jenazah dilakukan di rumah orang yang mati. Jika ada jenazah yang terlebih dahulu disimpan dalam rumah yang tertentu atau tempat penyimpanan mayat selama 40 hari 40 malam, biasanya disimpan di belakang rumah, sehingga menjadikan tahapan-tahapan upacara yang memerlukan waktu yang lama.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara yang harus dilakukan adalah:

*

*

Mengundang atau memberi tahu kepada seluruh keluarga yang berada di luar desa atau tempatnya jauh dari tempat terlaksananya upacara. Masing-masing membawa, seperti kerbau, babi, ayam, beras, makanan dan minuman lainnya. Bawaan yang diberikan itu merupakan sumbangan dan sebagai pengabdian terakhir kepada Kabosenya.
*

Bagi keluarga, yang tinggal di desa itu, dan seluruh warga / anggota masyarakat mempersiapkan segala sesuatunya yang akan digunakan dalam upacara itu seperti pakaian yang akan dikenakan orang mati, peti jenazah, tandu dan orang-orang yang akan mengangkatnya.
*

Orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing, seperti orang yang akan mengkafaninya (membungkus orang mati) dengan kain yang telah ditentukan, orang yang akan mengangkat jenazah, sampai kepada orang yang mengatur jalannya upacara menurut tahap-tahapnya.
*

Selain kelengkapan-kelengkapan upacara, yang dibutuhkan dalam pelaksanaan upacara ini yang sama dengan kelengkapan upacara pada waktu upacara persiapan penguburan. Hanya tambahan yang diperlukan dalam perlengkapan upacara ini yaitu beras yang dihamburkan oleh Vurake atau Tadung toumate (pemimpin orang mati), beras melambangkan kesuburan. Ayam jantan yang melambangkan keberanian dan payung yang berfungsi menaungi jenazah di atas tandu, dan beberapa kelengkapan lainnya.

Jalannya Upacara adalah sebagai berikut:

Menurut kebiasaan yang berlaku pada masyarakat suku bangsa Pamona bahwa apabila seseorang meninggal dunia, maka jenazah itu tidak dimandikan. Adapun cara yang dilakukan bagi keluarga Kabose. membersihkan badan jenazah dengan melap seturuh anggota badan dengan memakai kain/handuk yang basah. Kemudian jenazah itu ditempatkan di atas lantai bambu, beralaskan puya. Setelah seluruh keluarga memberikan doa atau tanda kedudukan di hadapan seluruh keluarga yang hadir dalam upacara itu, kemudian jenazah itu dibungkus dengan kain plakat, ditutup dengan boru, dan terakhir ditutup dengan bana. Lalu jenazah dilkat atau dililit dengan puya yang telah diiris-iris, bagi laki-laki sebanyak delapan kali, sedang bagi perempuan sebanyak sembilan kali. Setelah selesai mayat itu dimasukkan ke dalam peti.


Mayat yang dimasukkan ke dalam peti adakalanya diikutsertakan berupa : potongan bambu yang dibagi dua yang berarti cerai mati, perlengkapan alat-alat makan dan minum, dan alat-alat perang atau benda-benda tajam. Semuanya dimaksudkan sebagai pengantar atau perlengkapan yang dipakai selama dalam perjalanannya menuju suatu dunia mati yang sebelumnya belum dikenaInya.
*

Sesudah jenazah itu dimasukkan ke dalam peti, Ialu peti jenazah itu diangkat sebanyak 8 orang untuk dikeluarkan melalui jendela rumah, dan di bawah jendela telah menunggu beberapa orang untuk menadahnya atau menerimanya, dan setelah peti jenazah itu tiba di tanah, maka Tentirare (panggilan Pemimpin Upacara) selaku pemimpin upacara pada waktu itu Ialu mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali dengan membawa tombak di sebelah kanan dan daun soi di sebelah kiri. Setelah selesai Ialu Tenrirare menghamburkan beras kepada peti jenazah itu, dan kemudian peti jenazah itu ditempatkan di atas tandu yang terbuat dari bambu yang sudah diselang-selang, dan di atas usungan duduk/berdiri dua anak yang melambangkan bahwa mereka membawa pengawal, dan di bagian muka dan belakang dipasang payung yang terbuat dari daun pandan (boru).
*

Setelah persiapan dalam upacara rampung secara keseluruhan, Ialu usungan ini diangkat oleh beberapa orang yang jumlahnya mencapai 16 - 20 orang.
*

Pada saat usungan ini mulai berjalan, maka terjadilah suatu tontonan yang sangat menarik di mana pembawa usungan saling tarik menarik dari segala penjuru atau bagian-bagian usungan tersebut. Hal ini dilakukan sampai tiba di tempat penguburan, agar tarik menarik ini berlangsung terus menerus maka salah seorang keluarga si mati memukul orang-orang yang membawa usungan itu dengan daun soi. Maksud dari kejadian ini sebagai perlambang bahwa sebagian di antara keluarga/anggota masyarakat yang tidak menginginkan jenazah itu dibawa ke kuburan dan sebagian pula yang menginginkannya sebagai tanda kesetiaan dan rasa duka kepada Kabosenya yang telah meninggal dunia.
*

Selama dalam perjalanan di bagian depan berjalanlah seorang tua yang berpakaian adat tradisional lengkap dengan klewang yang disebut Tadulako Toumate, demikian pula seluruh keluarga yang ikut dalam arak-arakan ini menangis dalam keadaan meratap. Oleh karena itu mereka tidak diperlukan memakai pakaian-pakaian adat, sebab ada yang sampai membanting diri di tanah. Kejadian ini membuktikan rasa duka yang sebesar-besamya atas kematian orang yang dicintainya. Hal ini dilakukan sampai jenazah itu tiba di kuburan.
*

Apabila jenazah itu telah tiba di tempat, maka jenazah tersebut disimpan di tambea. Pada umumnya mereka menempatkan dalam suatu rumah. yang kecil yang berdiri di atas tiang-tiang tinggi di luar desa tanpa atap. Di dalam rumah inilah mayat disimpan sampai menjadi busuk dan sisa tulang-tulangnya yang tinggal. Bersamaan itu pula ayam jantan yang dibawa dari rumah dilepaskan, yang tinggal hanyalah budak-budak yang belum dimerdekakan menjaga mayat itu sampai batas waktu yang telah ditentukan, bahkan sampai 40 hari 40 malam lamanya, atau sampai air dari si mati telah menjadi kering.
*

Salah satu peristiwa yang penting dicatat dalam upacara Kabose atau pengangkatan seorang raja. Peristiwa ini dilakukan setelah upacara penyimpanan mayat di tambea selesai. Lalu ketua adat mengumumkan pada saat itu orang yang ditunjuk atau orang, yang berhak diangkat menjadi raja berdasarkan hasil mufakat para Ketua Adat bersama aparatnya yang ada dalam desa itu. Setelah selesai masing-masing hadirin pulang ke rumah sambil menunggu upacara penguburan yang sesungguhnya.
*

Dengan demikian upacara penyimpanan mayat/lpenguburan telah selesai, sedang upacara selanjutnya adalah Upacara Mogave.

Pantangan-pantangan yang Dihindari dalam upacara ini adalah sebagai berikut :

*

*

Mayat yang hendak dikeluarkan dari rumah, tidak diperkenankan untuk melalui pintu, yang dibolehkan adalah mayat itu dikeluarkan melalui jendela. Larangan ini bermakna bahwa manusia itu berasal dari tanah, sedang yang menghubungkan tanah dengan rumah adalah tangga atau pintu, di samping itu pintu merupakan tempat masuknya roh-roh jahat yang berasal dari tanah, dengan pengertian agar jenazah itu tidak kembali lagi ke rumah untuk mengganggu orang-orang yang ditinggalkan.

Tidak diperkenankan untuk bergembira hari itu atau melakukan kegiatan/tarian/nyanyian, selain daripada memberikan rasa duka kepada si mati. Untuk itulah semua yang menghadiri acara ini menangis meratap bahkan berguling-guling di tanah.

Tidak diperkenankan binatang-binatang liar untuk melangkahi mayat itu seperti anjing, karena binatang itu dianggap pembawa malapetaka.

Tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pada hari itu, karena dapat mengakibatkan timbulnya musibah yang melanda seluruh warga masyarakat Ialu mereka dicela atau diasingkan dari kelompoknya.
e-New - 12/10/2009 01:58 PM
#24
Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Upacara menyelamatkan orang sakit menjelang saat kematiannya

Spoiler for Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa
Upacara tradisional yang dilakukan pada saat seseorang menjelang masa kematiannya disebut Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa (menyelamatkan orang sakit menjelang saat kematiannya). Upacara ini merupakan awal pelaksanaan upacara kematian bagi seseorang yang menghadapi sakaratul maut di mana orang tersebut didoakan atau diobati agar roh atau jiwa si sakit yang dalam sekarat dapat dikembalikan ke dalam tubuhnya, atau kembali ke alam baka dengan tenang.

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud utama daripada penyelenggaraan upacara Mompolomoasi Tau Malua Mokoasa adalah agar orang yang dalam keadaan sakaratul maut atau saat menghadapi ajal, didoakan atau diobati menurut tata cara atau kepercayaan masyarakat yang berlaku dalam masyarakat.

Tujuan daripada penyelenggaraan upacara ini adalah tertuju kepada keselamatan si sakit dengan berbagai cara yang dilakukan termasuk menyembuhkan penyakit yang bersumber dari orang lain (= black magic). Untuk mengusir penyakit yang ada dalam tubuh si sakit terutama adalah mengusir roh-roh jahat yang ada dalam tubuh, maka si sakit diobati melalui doa-doa atau jampi-jampi atau mantra-mantra atau pengobatan secara tradisional yang diambil dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, dengan harapan dapat melepaskan rohnya dengan tenang ke alam baka.

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Untuk melaksanakan upacara ini, maka dibutuhkan seseorang yang ahli di bidang pengobatan yang sering disebut sando (= dukun). Bagi suku bangsa Pamona gelar yang diberikan bagi orang yang ahli di bidang pengobatan disebut Vurake, yaitu orang yang memimpin upacara pengobatan yang sering dilakukan oleh seorang perempuan yang sudah ahli di bidang pengobatan yang mampu berhubungan dengan dunia roh-roh halus yang berada di ruang angkasa antara bumi dan langit. Roh-roh Vurake mempunyai kehidupan yang serupa dengan kehidupan manusia di bumi (J. Kruyt 41 : 1977).

Tugas Vurake dalam upacara ini adalah meminta atau memohon kepada "llah" (= Pueng Lamoa), agar orang yang sakit itu dapat diperpanjang umumya, dan kalau memang ajal tiba, rohnya dapat ke luar dari tubuhnya dengan tenang, dan selamat dari segala gangguan mahluk halus dan penderitaan di waktu sakit.

Piliak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Adaptin orang-orang yang terlibat dalam upacara ini selain. daripada "Vurake," yaitu tokoh-tokoh adat, sanak keluarga terdekat, baik karena keturunan maupun famfli yang mempunyai hubungan terdekat, baik yang bertempat tinggal dekat matiptin jauh, dan juga orang tua-tua adat. Kalau yang sakit adalah Kabose (bangsawan), maka Ketua Adat bersama aparatnya atau pembantunya mutlak hartis hadir, demikian pula bangsawan lainnya yang berasal dari suku-siiku tetangganya. Masing-masing yang terlibat dalam upacara ini mempunyai tugas dan peranan tersendiri, dalam hal ini disesuaikan dengan fungsi mereka masing-masing menurut tata cara atau kepercayaan yang berlaku dalam masyarakat.

Seperti, suami / isteri / tokoh adat menjadi pendamping tetap dari Vurake dalam miengobatl si sakit dan mereka turut terlibat memberikan bantuan kalau ada hal-hal yang diperlukan dalam pengobatan di samping yang lainnya turut berdoa, agar pengobatan yang dilakukan oleh Vurake dapat diterima mengusir penyakit yang ada dalam tubuh si sakit.

Waktu Pelaksanaan Upacara

Bagi suku bangsa Pamona di dalam perjalanan hidupnya memang masih mengenal waktu-waktu yang baik dan waktu yang tidak baik, tetapi dalam upacaraMompolomoasi Tau Malua Nokoasa seolah-olah perhitungan waktu yang baik dan buruk tidak mungkin dilaksanakan, karena hal ini tergantung dari penyakit si sakit itu sendiri, sehingga Vurake menggunakan hampir semua waktu itu dalam melakukan usahanya untuk menyembuhkan atau menyelamatkan si sakit dari sakaratul maut, kecuali waktu malam digunakan oleh Vurake mengusir roh-roh jahat, karena waktu itulah yang dianggap terbaik dalam melakukan pengobatan, terutama untuk mengusir roh-roh jahat. Pada umumnya Vurake dalam melakukan pengobatan untuk mengatakan roh Vurake sebagai pembantu, yaitu pada waktu malam hari (semalam suntuk), dimulai pada saat matahari tenggelam atau menjelang magrib, dan diakhiri pada saat matahari terbit di ufuk timur.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Adapun tempat penyelenggaraan upacara Mompolomoasi Tau Malua Nokoasa adalah di rumah orang sakit itu sendiri, kecuali bagi golongan Kabose adakalanya upacara ini dilaksanakan di rumah adat, dengan kata lain bahwa upacara ini menunjukkan kebangsawanannya, sehingga semua yang hadir dalam upacara itu turut berpartisipasi untuk memberikan bantuan terutama ketika dilangsungkan pengobatan.

Di samping itu suku bangsa Pamona mengenal pantangan-pantangan atau larangan yang tidak boleh dilanggar, karena dapat berakibat yang lebih jelek seperti, bagi seseorang yang dalam keadaan sakaratul maut, maka pantang mereka dikeluarkan dari rumah untuk diobati, karena menurut kepercayaan mereka bahwa angin adalah sumber datangnya penyakit terutama angin jahat yang berupa ilmu hitam.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Persiapan dan perlengkapan upacara yang harus disediakan sebelum upacara dimulai berupa alatalat upacara seperti benda-benda yang dianggap keramat atau yang mengandung nilai magis, dan alat perlengkapan rumah tangga yang sering dipakai sehari-hari, antara lain piring adat (tabo), penai (pedang), tombak (tawala), renko (pakaian adat), palangka (tempat ludah), bingka (bakul) yang terbuat dari bahan bambu, boru (tikar yang terbuat dari daun pandan), dan pombajumamango (tempat menumbuk sirih), dan lain-lain.

Masing-masing perlengkapan tersebut mempunyai maksud dan tujuan sebagai berikut :

* Piring adat berfungsi sebagai tempat penyimpanan obat-obatan dari bahan tumbuh-tumbuhan, di samping sebagai tempat penyimpanan seperangkat sirih pinang (tembakau, sirih, kapur dan gambir).
* Pedang berfungsi sebagai alat untuk mengusir syetan, dengan maksud agar si sakit dapat terhindar dari pengaruh atau gangguan roh-roh jahat.
* Tombak berfungsi sebagai alat untuk mengusir iblis, dengan maksud agar Vurake dalam mengobati si sakit dapat berkonsentrasi untuk bisa berkomunikasi dengan roh-roh atau kepada "Pueng Lamoa."
* Pakaian adat berfungsi sebagai lambang kebangsawanan, dengan maksud bahwa yang sakit itu adalah Kabosenya.

Persiapan dan perlengkapan upacara lainnya yaitu, diambil dari jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, yang pada umumnya digunakan ketika upacara pengobatan berlangsung seperti, daun sirih (laumbe), buah pinang (mamongo). Sirih pinang bagi stiku bangsa Pamona merupakan lambang kesucian, dan mempererat silaturrahmi. Karena itu setiap upacara tradisional terutama upacara kematian jenis tumbuh-tumbuhan ini selalu dipersiapkan karena berfungsi majemuk, dan di samping kegunaannya berfungsi sebagai bahan obat-obatan. Adapun dari jenis-jenis hewan me-rupakan perlengkapan yang selalu dipersiapkan dalam upacara-upacara sebagai tebusan kepada dewa-dewa.

Selain daripada perlengkapan-perlengkapan tersebut di atas, maka perlengkapan-perlengkapan lainnya yang harus dipersiapkan dalam upacara ini antara lain: tikar (ali), puya (kain yang terbuat dari bahan kayu), kain tabir, dan dekorasi lainnya. Masing-masing perlengkapan ini berfungsi sebagai;

* Tikar, yang terbuat dari daun nyiru dipakai sebagai tempat membaringkan si sakit, ketika diobati oleh Vurake
* Puya, yang terbuat dari bahan kayu dipakai sebagai alas dan kelambu
* Kain (tabir), dipakai sebagai tempat bilik atau kamar sebagai pemisah dengan ruangan lainnya yang ada di dalam rumah
* Dan buah pinang dipakai sebagai bahan dekorasi yang digantungkan dalam bilik atau kamar.

Adapun perlengkapan tainnya terutama perlengkapan yang dipakai di luar rumah yaitu tangga-tangga yang terbuat dari bahan bambu bersilang empat, dan di tengah-tengahnya digantung hiasan-hiasan berupa daun kelapa, buah pinang, piring dan makanan lainnya, berfungsi sebagai pengusir syetan-syetan dengan maksud agar syetan-syetan itu jangan sampai naik ke atas rumah, karena menurut kepercayaan mereka bahwa syetan-syetan atau roh-roh jahat naik ke atas rumah melalui rumah, oleh karena itu tangga-tangga ini diletakkan persis di depan pintu rumah. Di samping itu masih ada perlengkapan lainnya yang harus dipersiapan lainnya yang harus dipersiapkan seperti, peti jenazah, dan rumah adat tempat penyimpanan mayat.
e-New - 12/10/2009 02:01 PM
#25
Mongkariang
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Upacara penghormatan terhadap orang yang telah meninggal.

Spoiler for Mongkariang
Adapun maksud dari pelaksanaan upacara mongkariang adalah untuk menghormati seseorang yang telah meninggal dunia, maka diperlukan adanya suatu penjagaan secara bergantian yang dilakukan oleh seluruh pihak keluarga yang terlibat dalam upacara ini, sampai batas waktu yang telah ditentukan. untuk dikuburkan. Dengan tujuan agar pihak keluarga yang berduka cita diharapkan, hadir pada saat upacara penguburan dilaksanakan, demikian pula orang-orang tua adat, tokoh-tokoh dan peinuka masyarakat, serta seluruh keluarga baik yang tinggal di desa maupun yang berada di luar desa.

Penyelenggara Teknis Upacara

Untuk pelaksanaan penyelenggaraan upacara ini berjalan sesuai dengan tradisi yang berlaku di kalangan suku bangsa Pamona, terutama di kalangan keluarga Kabose, maka sebagai pelaksana teknis upacara ini dipimpin oleh seorang imam perempuan yang sering disebut Vurake, dan didampingi oleh orang tua-tua adat, sanak keluarga dan seluruh keluarga yang hadir dalam upacara ini. Masing-masing orang yang terlibat dalam upacara ini bertugas mengadakan penjagaan mayat secara bergantian jangan sampai ada binatang buas atau binatang peliharaan lainnya seperti anjing, babi dan lain-lain yang dapat merusak atau memakan mayat itu, terutama menghindari jangan sampai roh-roh, terutama roh-roh jahat atau syetan-syetan yang dapat mengganggu Tanoana atau jiwa orang mati yang mengakibatkan roh atau jiwa orang mati di dalam kubur tidak tenteram. Menurut J. Kruyt mengatakan bahwa dengan matinya manusia itu berlangsunglah suatu perubahan yang sangat besar dan manusia itu harus mengalaini perpisahan dari semua orang yang dicintainya dan dari segala sesuatu yang kepadanya hatinya melekat. (44 : 1977).

Waktu Pelaksanaan Upacara

Karena upacara ini meliputi dua hal yaitu upacara mongkariang dan upacara penghiburan yang sekaligus berangkaian membuat peti jenazah (montambe). Khusus upacara mongkariang yang penghiburan dilakukan pada malam hari, biasanya tiga atau tujuh malam bahkan ada sampai 40 hari 40 malam, hal ini tergantung dari hasil mufakat dari pihak keluarga dan dianggap bahwa seluruh keluarga telah hadir semuanya, barulah ditentukan untuk diadakan waktu penguburannya.

Setelah orang yang meninggal itu telah diketahui, maka dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk menyelenggarakan upacara sebagai persiapan pelaksanaan penguburan yang akan datang, terutama pada malam hari dipersiapkan upacara penghiburan dengan nyanyian mondoboi dan monjojoava, nyanyian ini dipimpin oleh seorang imam perempuan yang isinya nasihat dan peringatan bagi pihak keluarga yang masib hidup. Sedang pada siang harinya dipersiapkanlah peti jenazah dan segala yang berkaitan dengan pemakaman.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Baik upacara mongkariang, penghiburan maupun montambe, dilakukan atau dilaksanakan penyelenggaraannya di rumah tempat tinggal dari orang yang mati itu, karena menurut kepercayaan mereka bahwa orang yang mati itu tetap terikat dalam satu persekutuan besar bersama-sama dengan orang yang masih hidup, masing-masing bergantung yang satu dengan yang lain.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

1. Persiapan Upacara

1.

Setelah diketahui bahwa orang yang sakit itu atau yang menjelang sekarat telah dinyatakan meninggal, maka pihak keluarga menyampaikan kepada seluruh keluarga baik yang berada di desa maupun yang di luar desa, penyampaian ini dilakukan secara lisan. Kalau yang meninggal dunia itu adalah Kabosenya, maka seluruh rakyat datang berbondong-bondong untuk memberikan bantuan, baik bantuan berupa binatang ternak maupun makanan dan minuman. Untuk pihak keluarga Kabose mereka datang dengan membawa oleh-oleh yang pada umumnya bantuan itu berupa ternak potong, seperti kerbau, babi dan lain-lain, demikian pula makanan dan minuman. Adapun keluarga yang tinggal di desa di mana upacara ini akan dilaksanakan telah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk keperluan yang dibutuhkan dalam upacara itu, demikian pula ruangan-ruangan atau tempat upacara, dan bahan kayu yang akan digunakan sebagai peti atau tempat mayat (orang mati).
2.
Perlengkapan Upacara

Adapun perlengkapan upacara yang akan dipersiapkan dan digunakan dalam upacara ini antara lain berupa:
* Seperangkat alat-alat makanan dan minuman seperti: mangkok (tabopangkoni), piring adat (tabo), gelas (tabopangi-nung), dan lain-lain.
* Seperangkat benda-benda tajam atau alat-alat yang dipakai dalam perang seperti pedang (penai), tombak (tawala), dan lain-lain.
* Seperangkat sirih pinang seperti : Sirih, pinang, tembakau, kapur, gambir, dan tempat sirih pinang.
* Seperangkat pakaian adat (pakaian Kabose).
* Beberapa puluh ekor binatang ternak bahkan sampai berjumlah ratusan, hal ini tergantung kesanggupan keluarga dan bantuan yang dibberikan para keluarga dan anggota masyarakat seperti: kerbau (baula), ayam (manu), babi, dan lain-lain.
* Seperangkat alat-alat yang dipakai atau dikenakan oleh si mati seperti: bingka, boru, puya, tikar dan kain.
* Seperangkat bahan kayu yang akan digunakan untuk tempat menyimpan mayat atau sebagai peti jenazah.
* Dan beberapa perangkat lainnya yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Adapun fungsi masing-masing perlengkapan sebagaimana yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

*

*

Alat-alat makanan dan minuman dilambangkan sebagai alat perlengkapan rumah tangga yang dipakai setiap hari, dan alat ini adakalanya diikutsertakan kepada orang mati di dalam petinya untuk digunakan selama dalam perjalanannya menuju suatu keadaan baru yang paling mengerikan yang tidak dikenalnya, perjalanan ini dilakukan seorang diri tanpa diiringkan seorang teman kepercayaannya. Kecuali perlengkapan-perlengkapan yang disebutkan di atas.
*

Perlengkapan lain yang harus menemani perjalanannya yaitu alat-alat yang berupa benda tajam yang berfungsi sebagai alat yang dapat mengusir roh-roh jahat atau syetan-syetan yang dapat mengganggu dalam perjalanannya.
*

Demikian pula perlengkapan lainnya yang berupa binatang ternak potong yang harus dimbil darah daripada binatang itu yang kemudian diberi tanda di bagian dahi orang yang mati sebagai simbol bahwa orang mati tersebut telah dibapuskan segala dosa-dosanya yang disebut "moando sala" (menghanyutkan dosa). Pemotongan temak untuk maksud tersebut di atas, bukan saja bagi orang mati, tetapi juga bagi orang-orang yang melakukan pelanggaran adat seperti: berzina, membunuh dan perbuatan kejahatan lainnya.
*

Pakaian adat yang dikenakan bagi golongan Kabose sebagai simbol atau lambang kebangsawanan.
*
Dan perlengkapan terakhir yang harus disiapkan sebelum orang mati itu dimasukkan ke dalam peti yaitu peti jenazah yang bermodel atau berbentuk perahu yang terbuat dari kayu dan adakalanya kayu itu diberi ukir-ukiran bermakna estetis, dengan maksud bahwa model itu melambangkan sebagai alat kendaraan yang dipakai dalam berlayar seolah-olah orang mati itu dalam proses perjalanan menuju suatu alam yang tidak dikenaInya.
e-New - 12/10/2009 02:02 PM
#26

Sambungan dari atas
Quote:
Original Posted By e-New
Kaskus ID: e-New
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Bentuk karya: Tata upacara adat Suku Pamona Kab. Poso, Sulawesi tengah
Sumber: Disini
Keterangan: Upacara penghormatan terhadap orang yang telah meninggal.

Spoiler for Mongkariang
Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya

Apabila segala sesuatunya sudah rampung, maka upacara persiapan penguburan segera dimulai yang rangkaiannya meliputi Upacara Mongkariang, Upacara Penghiburan dan kegiatan membuat peti jenazah sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan oleh Vurake (Imam Perempuan) berdasarkan hasil mufakat para keluarga, tokoh-tokoh adat desa setempat.

*

*

Upacara pertama yang dilakukan adalah menempakcan jenazah orang yang mati itu di dalam bilik atau di kamar di mana ruangan itu memungkinkan pihak keluarga dapat mengadakan penjagaan secara bergantian. Kemudian dipersiapkan segala sesuatunya yang merupakan pelengkap atau alat-alat upacara lainnya seperti: pakaian Kabose, alat-alat makan dan minuman, serta beberapa benda tajam lainnya. Perangkat ini adakalanya disimpan atau ditempatkan di sekitar jenazah atau di dalam bilik. Vurake selaku pemimpin upacara mulai mengatur penjagaan pada malam hari dari semua unsur yang hadir terutama keluarga yang terdekat dengan si mati.
*

Jenazah yang ditempatkan di dalam bilik, lalu diletakkan di atas tikar yang beralaskan dengan bambu, dan ditutup dengan puya, serta di kiri dan kanan daripada jenazah, duduklah para keluarga mengitari jenazah. Bagian kepala biasanya duduk suami/isteri, dan pada bagian-bagian lainnya duduk anak-anaknya dan keluarga-keluarganya, dan malam-malam berikutnya diatur sedemikian rupa agar semua yang hadir mendapat giliran. Penjagaan jenazah ini biasanya bagi keluarga Kabose biasanya berlangsung selama tiga hari tiga malam, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam, sampai tiba waktunya jenazah itu dikuburkan.
*

Bersaman acara Mongkariang berlangsung setiap malam, maka pada saat itu pula berlangsung acara malam penghiburan yang dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari. Acara ini juga dipimpin oleh Vurake dan dikelilingi oleh orang tua dan muda, laki perempuan dan biasanya dalam bentuk lingkaran, dan dilakukan pada ruangan yang lebih luas yang dapat menampung orang yang akan mengikuti acara ini. Setelah siap semuanya Ialu Vurake memimpin acara ini dengan menyanyikan lagu-lagu Mopedoboi dan Monjojova. Kedua lagu ini sebenarnya berisi nasibat dan peringatan bagi pihak keluarga yang ditinggalkan dengan kata lain berisi pantun nasihat. Karena lagu ini berisi pantun, maka peserta yang hadir saling balas membalas dengan mengeluarkan pantun-pantunnya. Di samping Vurake menceriterakan otobiografi (riwayat hidup) si mati sewaktu masih hidup seperti: si mati pergi ke hutan mengambil kayu, pergi merantau ke negeri orang, membantu keluarga di rumah, dan hal-hal yang menyangkut kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan baik sewaktu menjadi pemimpin perang maupun pengabdiannya terhadap keluarga dan masyarakat.
*

Untuk siang harinya pihak keluarga mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat peti jenazah, tandu jenazah (alat untuk mengangkat peti), perluasan rumah dan tempat penyimpanan peti jenazah. Pekerjaan ini dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidang itu, bagi keluarga Kabose adakalanya jenazah ini memakan waktu sampai berpuluh-puluh hari lamanya, hal ini tergantung kesepakatan keluarga dalam menentukan hari penguburannya. Demikian pula pada waktu siang hari dilakukan pemotongan ternak binatang, dan pada hari pertama dari binatang yang telah dipotong dilekatkan di bagian dahi atau muka jenazah sebagai tanda pelepasan dosa, dan pada hari-hari berikutnya pemotongan ternak seperti kerbau, babi dan ayam, untuk dimakan bersama-sama dan adakalanya sebagian dagingnya dibagi-bagikan kepada warga/anggota masyarakat. Sikap saling bantu membantu dan adanya pembagian pekerjaan masing-masing yang hadir dalam acara ini, membuktikan babwa suku bangsa Pamona sistem nilai kegotong-royongan telah terwujud dalam masyarakatnya.

Pantangan-pantangan yang harus dihindari

Bagi suku bangsa Pamona masih melekat adanya kepercayaan-kepercayaan yang dapat membawa malapetaka apabila dilanggar baik kepada keluarga yang ditinggalkan maupun warga/anggota masyarakat dalam desa itu, oleh karena itu dalam upacara persiapan penguburan ini, ada beberapa pantangan-pantangan yang harus dihindari antara lain sebagai berikut:

*

*

Pada saat diadakannya upacara Mongkariang, maka pihak keluarga dan seluruh yang hadir dalam upacara itu, tidak diperkenankan tidur selama semalam suntuk dengan maksud mencegah jangan sampai ada binatang-binatang liar seperti anjing yang melangkahi mayat itu, kalau hal itu terjadi maka anjing itu harus ditangkap lalu dipotong/dibunuh, yang terpenting adalah mencegah jangan sampai jenazah itu dimasuki roh-roh jahat yang menyebabkan jiwa orang mati tidak tenteram selama dalam perjalanannya.
*

Pada waktu berlangsungnya acara penghiburan, dan ketika nyanyian Mondoboi dan Monjojava dilagukan selama semalam suntuk, maka yang hadir dalam acara tersebut tidak diperkenankan tidur seolah-olah yang hadir itu merupakan penyerahan jiwa kepada orang yang mati dengan diantar suatu kerinduan, karena kedua lagu tersebut berisi pantun nasihat sehingga kata-kata yang diungkapkan dapat melahirkan perasaan yang terharu kepada orang mati. Di samping itu tidak diperkenankan mengadakan lagu-lagu atau nyanyian-nyanyian selain daripada kedua nyanyian tersebut di atas, sebab bisa menghilangkan nilai sakralnya, sedang nyanyian itu hanya dapat dilagukan pada upacara kematian, tidak diperkenankan dinyanyikan dalam upacara kegembiraan.
*

Pada siang harinya seluruh kegiatan atau usaha-usaha yang merupakan sumber ekonomi masyarakat di desa itu tidak diperkenankan seorangpun untuk melaksanakannya. Waktu itu dipergunakan untuk memberikan bantuan dan partisipasinya dalam mempersiapkan segala sesuatunya dari seluruh rangkaian persiapan upacara seperti membuat peti jenazah, memperluas rumah, membuat tangga, mendirikan rumah penyimpanan mayat dan lain sebagainya. Bantuan yang diberikan itu sebagai tanda penghormatan dan kesetiaan kepada Kabosenya.

Adapun isi nyanyian Modoboi dan Monjojava dapat dilukiskan dengan kata-kata sebagai berikut:

* Vurake = "Saya sekarang sudah berangkat, dan saya ucapkan selamat tinggal anak-anakku dan seluruh keluargaku, dan kalau ada kebun yang saya tinggalkan jagalah baik-baik......................................."
* Jawaban Orang yang hadir = "Baik-baiklah kamu selama dalam perjalanan, dan mudah-mudahan kami yang masih hidup ini, senantiasa sehat walafiat serta dijauhkan dari segala bahaya dan penyakit................"
niaks - 23/10/2009 04:59 PM
#27
[mantab] Khas Kebudayaan asal Tegal
kaskus ID :niaks

kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual

bentuk karya : ritual adat Mantu Poci

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tegal

keterangan : ini artikel mengenai ritual Mantu Poci di Tegal


Spoiler for pengin tau lebih lanjooot, cek disini gan!!!
Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah), dengan acara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa.

Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. Seperti layaknya pesta perkawinan, mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. Lengkap dengan dekorasi, sajian makanan, dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. Tak lupa pula, di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah.

Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan, mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka, kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara, dan relasi.

Dewasa ini Mantu Poci sudah jarang digelar di Tegal. Salah satu repertoar yang diusung oleh Dewan Kesenian Kota Tegal di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 2003 adalah mementaskan drama berjudul Kang Daroji Mantu Poci, dikemas secara komedi.
toutaratara - 20/11/2009 10:59 AM
#28

Kaskus ID: toutaratara
Kategori: Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya: Ritual Mapalus di Minahasa
Sumber: id.wikipedia.org
Keterangan:
Mapalus adalah satu bentuk solidaritas masyarakat agraris Minahasa yang berkembang sebagai pola perilaku tradisi yang diwariskan secara turun temurun.

Spoiler for Mapalus
Mapalus adalah suatu sistem atau teknik kerjasama untuk kepentingan bersama dalam budaya Suku Minahasa. Secara fundamental, Mapalus adalah suatu bentuk gotong-royong tradisional yang memiliki perbedaan dengan bentuk-bentuk gotong royong modern, mis: perkumpulan atau asosiasi usaha.

Seiring dengan berkembangnya fungsi-fungsi organisasi sosial yang menerapkan kegiatan-kegiatan dengan asas Mapalus, saat ini, Mapalus juga sering digunakan sebagai asas dari suatu organisasi kemasyarakatan di Minahasa.

Mapalus berasaskan kekeluargaan, keagamaan, dan persatuan dan kesatuan. Bentuk Mapalus, antara lain:

[*]Mapalus tani
[*]Mapalus nelayan
[*]Mapalus uang
[*]Mapalus bantuan duka dan perkimpoian; dan,
[*]Mapalus kelompok masyarakat.



Dalam penerapannya, Mapalus berfungsi sebagai daya tangkal bagi resesi ekonomi dunia, sarana untuk memotivasi dan memobilisasi manusia bagi pemantapan pembangunan, dan merupakan sarana pembinaan semangat kerja produktif untuk keberhasilan operasi mandiri, mis: program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Prinsip solidaritas yang tercermin dalam Mapalus terefleksi dalam perekonomian masyarakat di Minahasa, yaitu dikenalkannya prinsip ekonomi Tamber.

Prinsip ekonomi Tamber merujuk pada suatu kegiatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, atau warga sewanua (sekampung) secara sukarela dan cuma-cuma, tanpa menghitung-hitung atau mengharapkan balas jasa.

Prinsip ekonomi Tamber berasaskan kekeluargaan. Dari segi motivasi adat, prinsip ini mengandung suatu makna perekat kultural (cagar budaya) yang mengungkapkan juga kepedulian sosial, bahkan indikator keakraban sosial.

Faktor kultural prinsip ekonomi Tamber berdasarkan keadaan alam Minahasa yang subur dan berlimpah, dan tipikal orang Minahasa yang cenderung rajin dan murah hati.

Cited by:



I YAYAT U SANTI!
boejanglapoek - 08/12/2009 03:33 PM
#29

kaskus ID : boejanglapoek

kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual

bentuk karya : adat istiadat orang semende

sumber : www.imrodili.ulayat.com

keterangan : adat semende mengenai warisan

TUNGGU TUBANG ADAT JEME SEMENDE
Spoiler for Tunggu Tubang
Perihal harta waris dalam agama Islam mendapat tempat yang layak. Bahkan, pengajaran soal ini merupakan salah satu bagian yang wajib dipelajari kaum muslimin
Perihal waris yang merupakan salah satu hal yang rumit ini memang semestinya dipahami dengan baik. Sebab terkadang kita mendengar bahwa ada keluarga yang sampai ribut karena bertengkar soal harta warisan. Soal aturan dalam Islam bahwa laki-laki mendapatkan setengah dari harta, juga sering menjadi titik picu rumah tangga bertengkar. Apalagi jika anak dari ahli waris sudah berkeluarga. Hasutan dari pihak istri dan tuntutan anak-anak akan makin menambah runyam permasalahan.Dalam konteks ini, dalam ada istiadat orang Semende, ada yang namanya tunggu tubang. Tunggu tubang ini merupakan sistem kekeluargaan di mana hal untuk menjadi pewaris jatuh kepada pihak perempuan tertua.
Ini disebabkan adat Semendo menganut garis keturunan dari pihak ibu atau yang disebut matrilineal.

Misalnya, seorang ayah memiliki tiga anak. Anak pertama atau si sulung berjenis kelamin laki-laki. Anak kedua perempuan serta anak ketiga
laki-laki. Nah, hak rumah dan tanah jatuh kepada anak perempuan yang urutannya kedua tadi. Akan tetapi, jika tidak ada anak perempuan bagaimana? Kalau ini yang terjadi, pewarisnya bisa diberikan kepada laki-laki tertua atau istri dari anak laki-laki tertua. Kalaupun masih ada yang perempuan, tetapi dia tidak mau, pilihan-pilihan tadi bisa jadi alternatif. Yang penting, jika syarat tidak ada perempuan dalam struktur anak dalam keluarga, semua harus dipecahkan dengan musyawarah, dengan mufakat, dengan pemusyawaratan. Jadinya demokratis. Pada titik inilah, letak demokratis adat dalam suku Semendo ini.

Umumnya orang Semendo mewariskan harta berupa tanah, sawah, dan rumah. Tanah di sini dalam artian yang bisa diusahakan secara produktif. Maka itu, terkenal bahwa orang Semendo itu punya banyak ladang, sawah, atau kebun. Bahkan, secara berseloroh, orang Semendo disebut “James Bond” atau jeme Semende besak di kebon. Maksudnya, orang Semendo besar di kebun.
Tanah yang ada ini harus diusahakan berproduksi, tidak boleh berhenti. Sebab, dari sinilah semua kebutuhan keluarga besar dipenuhi. Kenapa demikian? Karena, mereka yang mendapatkan tunggu tubang tidak boleh menjual harta dan rumah. Rumah itu akan menjadi rumah tua di mana anak beranak akan berkumpul jika ada acara besar keluarga. Rumah itu akan menjadi simbol bahwa bangunan itu menjadi benteng pertahanan terakhir dari semua garis keturunan. Tidak hanya itu juga, tanah yang ada dan terus berproduksi itu juga berguna kalau ada keluarga yang membutuhkan. Artinya, beban mereka yang menjadi tunggu tubang ini berat. Tanah dan rumah tidak boleh dijual, sementara mereka menghidupi keluarga sambil menjadi kepala keluarga jika ada yang membutuhkan uang. Bisa dikatakan wajib hukumnya bagi tunggu tubang untuk memenuhi semua kebutuhan sanak keluarganya. Contohnya begini. Keponakan tunggu tubang butuh biaya untuk sekolah sedangkan orang tua kandung sedang tidak punya uang. Dalam kondisi demikian, perempuan yang menjadi tunggu tubang itu wajib memberikan uang untuk kebutuhan keponakannya tersebut. Demikian pula jika ada yang membutuhkan.
Kalaupun ada persoalan keluarga yang mendesak dan demikian penting, perempuan yang menjadi tunggu tubang juga harus ikut memfasilitasi agar persoalan itu segera diselesaikan.
Secara umum demikianlah sekelumit yang dimaksud dengan tunggu tubang. Kini, sesuai dengan judul pada tulisan yang dibuat ini, apakah dengan mekanisme adat yang demikian, masih relevan dengan kehidupan di masa sekarang. Penulis akan memberikan beberapa di antaranya.
Pertama, kita harus tetap memandang bahwa yang namanya aturan agama adalah mutlak. Adat harus bersendikan syariat. Benarlah kata mereka yang bersuku bangsa Minangkabau, yang mengatakan bahwa adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Adat itu sendinya syariat, sedangkan syariat itu adanya di kitab Allah atau Alquran.

Maka, kalau ada orang Semendo yang dengan kuat memegang tradisi agama Islam dengan tidak menganut paham tunggu tubang, kita juga harus bisa memandangnya secara bijak, itu pilihan, dan kita harus menghormati. Akan tetapi, buat mereka yang berkukuh bahwa ini adat dan harus diikuti, juga tidak menjadi masalah. Apalagi, meskipun sudah modern, tetap saja kebanyakan orang Semendo tetap menganut adat ini. Kalaupun tidak secara saklek, tetap saja orang tua sudah berpesan bahwa tanah dan rumah yang mengelola si anu sambil menunjuk anak perempuan tertuanya.

Kedua, manfaat dari adanya rumah besar. Dengan ketiadaan hak dari tunggu tubang untuk menjual rumah dan tanah, berakibat pada terpeliharanya warisan yang bersejarah. Dengan adanya rumah tua, semua anak dan cucu masih dapat berkumpul. Rumah tua itulah yang menjadi perlambang bahwa meskipun sudah merantau jauh ke negara atau daerah lain, tetap ada satu rumah untuk berkumpul bersama. Inilah nikmatnya berkumpul bersama. Coba saja bandingkan dengan beberapa keluarga yang lain, yang begitu bapaknya meninggal, rumah dan tanah langsung dijual untuk dibagi-bagi. Akhirnya tidak ada lagi tempat untuk keluarga besar berkumpul. Lambang sejarah dalam keluarga juga hilang. Kenangan akan masa lalu tidak mampu lagi dihadirkan lantaran rumah sebagai simbolnya sudah hilang. Demikian pula dengan segenap peninggalan keluarga, mungkin foto, benda peninggalan, serta silsilah keluarga tidak ada lagi. Dari pengalaman penulis saja, kekerabatan orang Semendo ini cukup kuat. Ada bahkan seorang kerabat penulis yang membuat tembe. Tembe itu garis silsilah keluarga. Dari moyang hingga cicit. Sehingga, sampai ke masa yang akan datang, sampai ke beberapa garis keturunan, masih bisa dilacak siapa saja kerabat yang ada. Sebuah keuntungan yang luar biasa bukan, jika dilihat dari sisi aset keluarga. Dari sini, penulis beranggapan untuk masalah ini, ada baiknya adat ini dikembangkan. Semata-mata agar semua keluarga punya tempat untuk berkumpul.
Ketiga, pemecahan masalah juga mudah dilakukan. Adanya tanggung jawab yang besar dari tunggu tubang membuat permasalahan yang ada pada keluarga besar akan terpecahkan. Tentu saja harus melibatkan tetua dari keluarga, misalnya uwak atau paman. Sering juga kita mendengar bahwa ada keluarga yang sulit sekali untuk memecahkan persoalan lantaran tidak ada yang dituakan atau dimintakan saran. Dengan adanya tunggu tubang, terbuka peluang untuk memecahkan semua persoalan dalam rumah tangga.

Keempat, secara ekonomi, ada topangan. Dengan kewajiban untuk meneruskan kebun dan ladang yang ada, membawa pengaruh pada perekonomian keluarga besar. Memang bukan berarti keluarga yang menjadi tunggu tubang tidak bisa menikmati, dia tetap bisa menikmati, tetapi harus juga memikirkan masa depan pewarisnya.

Umumnya, dengan kebun kopi atau cengkih, bahkan kini cokelat, atau pula padi, secara ekonomi, keluarga tunggu tubang juga tidak kekurangan. Dengan berusaha, tentu dia akan berpikir untuk meneruskan harta dan tanah ini kepada anak perempuan berikutnya. Dari sini kita mendapat pelajaran bahwa adat ini juga “memaksa” orang tua untuk meninggalkan harta yang cukup. Tentu bukan dalam artian berpikir pragmatis soal harta, melainkan lebih kepada tanggung jawab bahwa begitu dia mati, rumah dan tanah tetap hars ada demi kelanjutan ekonomi keluarga. Model ini juga membawa pengaruh yang positif bahwa harta yang ada benar-benar pas peruntukkannya. Tidak dipakai untuk sesuatu yang mubazir. Atau, dijual untuk keperluan pribadi. Adanya aset ini penulis kira merupakan langkah maju dari berpikirnya orang-orang Semendo. Bahwa dia harus memikirkan betapa esok hari atau di tahun yang akan datang kehidupan akan sulit. Jika tidak ditinggalkan harta dan tanah–tentunya juga termaktub pemahaman agama dan moralitas yang baik–anak-cucu akan kesulitan dalam mengarungi kehidupan. Sebuah proses berpikir yang visioner dan sebaiknya memang harus terus dilakukan. Paling tidak dengan budaya tunggu tubang ini ada usaha agar ada yang ditinggalkan sepeninggal diri orang itu. Oleh sebab itu, dari sini saja, hemat penulis, tunggu tubang masih relevan untuk diteruskan.

Sulmin Dulsari, warga Bandar Lampung bersuku Semende
Kutipan Dari Surat Kabar Lampung
addrzx - 23/12/2009 02:46 PM
#30
Upacara Adat Pitra Yadnya ( Ngaben/Pembakaran Mayat Di Bali)
Kaskus ID : addrzx
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara Adat Pitra Yadnya ( Ngabe/Pembakaran Mayat Di Bali)
Sumber : Here
Keterangan : Pembakaran Mayat Di Bali Untuk Mencapai Kesempurnaan Hidup Dunia Dan Akhirat

Spoiler for Part 1 Upacara Adat Pitra Yadnya (Ngaben)

Pengertian Ngaben

Ngaben secara umum didefinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal, kata beya ini dalam kalimat aktif (melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Kata meyanin sudah menjadi bahasa baku untuk menyebutkan upacara sawa wadhana. Boleh juga disebut Ngabeyain. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.

Ngaben atau meyanin dalam istilah baku lainnya yang disebut-sebut dalam lontar adalah atiwa-atiwa. Kata atiwa inipun belum dapat dicari asal usulnya kemungkinan berasal dari bahasa asli Nusantara (Austronesia), mengingat upacara sejenis ini juga kita jumpai pada suku dayak, di kalimantan yang disebut tiwah. Demikian juga di Batak kita dengar dengan sebutan tibal untuk menyebutkan upacara setelah kematian itu.

Upacara ngaben atau meyanin, atau juga atiwa-atiwa, untuk umat Hindu di pegunungan Tengger dikenal dengan nama entas-entas. Kata entas mengingatkan kita pada upacara pokok ngaben di Bali. Yakni Tirta pangentas yang berfungsi untuk memutuskan hubungan kecintaan sang atma (roh) dengan badan jasmaninya dan mengantarkan atma ke alam pitara.

Dalam bahasa lain di Bali, yang berkonotasi halus, ngaben itu disebut Palebon yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Dengan demikian Palebon berarti menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanamkan kedalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.

Tempat untuk memproses menjadi tanah disebut pemasmian dan arealnya disebut tunon. Tunon berasal dari kata tunu yang berarti membakar. Sedangkan pemasmian berasal dari kata basmi yang berarti hancur. Tunon lain katanya adalah setra atau sema. Setra artinya tegal sedangkan sema berasal dari kata smasana yang berarti Durga. Dewi Durga yang bersthana di Tunon ini.

Diantara pendapat diatas, ada satu pendapat lagi yang terkait dengan pertanyaan itu. Bahwa kata Ngaben itu berasal dari kata “api”. Kata api mendapat presfiks “ng” menjadi “ngapi” dan mendapat sufiks “an” menjadi “ngapian” yang setelah mengalami proses sandi menjadi “ngapen”. Dan karena terjadi perubahan fonem “p” menjadi “b” menurut hukum perubahan bunyi “b-p-m-w” lalu menjadi “ngaben”. Dengan demikian kata Ngaben berarti “menuju api”.

Adapun yang dimaksud api di sini adalah Brahma (Pencipta). Itu berarti atma sang mati melalui upacara ritual Ngaben akan menuju Brahma-loka yaitu linggih Dewa Brahma sebagai manifestasi Hyang Widhi dalam Mencipta (utpeti).

Sesungguhnya ada dua jenis api yang dipergunakan dalam upacara Ngaben yaitu Api Sekala (kongkret) yaitu api yang dipergunakan untuk membakar jasad atau pengawak sang mati dan Api Niskala (abstrak) yang berasal dari Weda Sang Sulinggih selaku sang pemuput karya yang membakar kekotoran yang melekati sang roh. Proses ini disebut “mralina”.

Di antara dua jenis api dalam upacara Ngaben itu, ternyata yang lebih tinggi nilainya dan mutlak penting adalah api niskala atau api praline yang muncul dari sang Sulinggih. Sang Sulinggih (sang muput) akan memohon kepada Dewa Siwa agar turun memasuki badannya (Siwiarcana) untuk melakukan “pralina”. Mungkin karena api praline dipandang lebih mutlak/penting, dibeberapa daerah pegunungan di Bali ada pelaksanaan upacara Ngaben yang tanpa harus membakar mayat dengan api, melainkan cukup dengan menguburkannya. Upacara Ngaben jenis ini disebut “bila tanem atau mratiwi”. Jadi ternyata ada juga upacara Ngaben tanpa mengunakan api (sekala). Tetapi api niskala/api praline tetap digunakan dengan Weda Sulinggih dan sarana tirtha praline serta tirtha pangentas.

Lepas dari persoalan api mana yang lebih penting. Khusus tentang kehadiran api sekala adalah berfungsi sebagai sarana yang akan mempercepat proses peleburan sthula sarira (badan kasar) yang berasal dari Panca Mahabutha untuk menyatu kembali ke Panca Mahabhuta Agung yaitu alam semesta ini. Proses percepatan pengembalian unsure-unsur Panca Mahabhuta ini tentunya akan mempercepat pula proses penyucian sang atma untuk bisa sampai di alam Swahloka (Dewa Pitara) sehingga layak dilinggihkan di sanggah/merajan untuk disembah. Tentunya setelah melalui upacara “mamukur” yang merupakan kelanjutan dari “Ngaben”.

addrzx - 23/12/2009 03:35 PM
#31
Ngaben Part 2
Kaskus ID : addrzx
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara Adat Pitra Yadnya ( Ngabe/Pembakaran Mayat Di Bali)
Sumber : Here
Keterangan : Pembakaran Mayat Di Bali Untuk Mencapai Kesempurnaan Hidup Dunia Dan Akhirat
Quote:
Spoiler for Part 2

Jenis – jenis Ngaben Sederhana

1. Mendhem Sawa

Mendhem sawa berarti penguburan mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali masih diberikan kesempatan untuk ditunda sementara, dengan alasan berbagai hal seperti yang telah diuraikan. Namun diluar itu masih ada alasan yang bersifat filosofis lagi, yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja alasan ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan atau latar belakang filosofis adanya kehidupan ini. Alasannya adalah agar ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara dapat merunduk pada prthiwi dulu. Yang secara ethis dilukiskan agar mereka dapat mencium bunda prthiwi. Namun perlu diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati harus segera di aben. Bagi mereka yang masih memerlukan waktu menunggu sementara maka sawa (jenasah) itu harus di pendhem (dikubur) dulu. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).

2. Ngaben Mitra Yajna

Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk menyebutkan jenis ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa, karena tidak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ucap lontar Yama Purwana Tattwa merupakan Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tidak disebutkan nama jenis ngaben ini. Untuk membedakan dengan jenis ngaben sedehana lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna.

Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, terutama mengenai upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tidak memilih dewasa (hari baik).

3. Pranawa

Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama jenis ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara Ngeplugin atau Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. Ketika hari pengabenan jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlaku ketentuan seperti amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti sampai ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, seperti yang telah diuraikan.

4. Pranawa Bhuanakosa.

Pranawa Bhuanakosa merupakan ajaran Dewa Brahma kepada Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal walaupun pernah ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.

5. Swasta

Swasta artinya lenyap atau hilang. Adalah nama jenis ngaben yang sawanya (mayatnya) tidak ada (tan kneng hinulatan), tidak dapat dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra, dan lain-lainnya, semuanya dapat dilakukan dengan ngaben jenis swasta. Walaupun orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot, air sebagai daging, balung cendana 18 potong. Pranawa sebagai suara, ambengan (jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga hidup. Tiga hari sebelum pengabenan diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tidak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, dapat dilakukan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tidak dapat diketahui bekasnya pengulapan dapat dilakukan di Jaba Pura Dalem.

F. Ngaben Sarat

Ngaben Sarat adalah Ngaben yang diselenggarakan dengan semarak, yang penuh sarat dengan perlengkapan upacara upakaranya. Upacara ngaben sarat ini memerlukan dukungan dana dan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ngaben sarat dilakukan baik terhadap sawa yang baru meninggal maupun terhadap sawa yang telah dipendem. Ngaben sarat terhadap sawa yang baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sedangkan ngaben sarat terhadap sawa yang pernah dipendem disebut Sawa Wedhana. Baik sawa prateka maupun sawa wedhana memerlukan perlengkapan upacara bebanten dan sarana penunjang lainnya yang sangat besar atau banyak. Semua itu dipersiapkan dalam kurun waktu yang panjang serta memerlukan tenaga penggarap yang besar. Karena itulah terhadap kedua jenis ngaben ini disebut Ngaben Sarat.
Kondisi Umat Hindu dimasa lalu

Pada masa lalu, lebih-lebih sebelum masa kemerdekaan, umat Hindu kondisinya sangat lemah. Sebagai masyarakat Agraris mereka berpenghasilan sangat rendah. Pemahaman terhadap Agama Hindu sangat rendah. Lebih-lebih ketika itu, ajaran Agama masih tabu untuk dipelajari secara umum. Motto away wera yang disalahtafsirkan menghantui pikiran umat. Akibatnya pemahaman Agama Hindu sangat rendah. Pengertian Ngaben disalah artikan dimana Ngaben adalah identik dengan Ngabehin. Kalau tidak mempunyai dana yang besar umat tidak akan berani ngaben. Umat tidak mengenal ada bentuk ngaben sederhana. Lalu mereka jarang sekali ngaben. Kalau toh ada ngaben mereka pasti golongan mekel, golongan menak, keluarga Puri, atau Geria.

Sewaktu-waktu umat kebanyakan juga ikut ngaben. Namun secara kolektif, baik dengan cara ngiring (ikut / numpang) pada puri atau pun geria; kadang kala dari masyarakat yang berpikiran agak maju, melaksanakan ngaben kolektif yang disebut Ngagalung. Biasanya disponsori oleh banjar. Akibat dari semua itu, sawa leluhur lama terpendam. Bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip ngaben.
Kondisi umat Hindu masa sekarang.

Masyarakat sekarang telah measuki era Industrialisasi. Khususnya Bali adalah Industri Pariwisata. Masyarakat Industri adalah masyarakat yang penuh dengan kesibukan. Pendapatan masyarakat semakin meningkat. Pemahaman terhadap ajaran agama juga semakin meningkat, pelaksanaan upacara menjadi semakin semarak. Dengan pendapatan yang tinggi maka semakin bergairah dalam melaksanakan ibadah agamanya. Bagi Agama Hindu melaksanakan upacara agama termasuk ngaben kelihatan makin semarak saja. Setiap orang mati kebanyakan diaben. Ada yang mengambil ngaben sederhana dan ada juga yang mengambil jenis pengabenan sarat. Disisi lain akibat dari dampak pengaruh industri pariwisata, adalah penyempitan waktu. Hidup gotong royong seperti masa lalu mulai terancam. Kalau ada tetangga yang ngaben, tanpa diundang dia datang untuk membantu bekerja. Tapi sekarang tanpa di undang ia tidak akan datang. Kalau toh diminta paling-paling bisa membantu 1 s/d 2 kali saja. Syukurlah masyarakat Hindu di Bali masih mempunyai Banjar. Banjar adalah suatu lembaga adat yang andal untuk mempertahankan kebersamaan dan gotong-royong. Melalui banjar umat Hindu yang ngaben dapat mengharapkan bantuan warganya. Hanya beberapa kali mereka dapat meminta gotong-royong banjar. Ternyata lembaga banjar ini masih sangat efektif untuk membantu pelaksanaan ngaben.

v Jenis-jenis Ngaben Sarat :

Jenis-jenis Ngaben Sarat tergantung jenis sawa (jenasah) yang diupakarakan yaitu Sawa Prateka dan Sawa Wedhana.
Bilamana sawa yang diupakarakan itu baru meninggal disebut Sawa Prateka. Sawa Prateka adalah jenis ngaben untuk sawa (mayat) yang baru meninggal belum sempat diberikan upacara penguburan. Bila disimpulkan yaitu begitu atma atau urip meninggalkan badan, sawanya lalu diupacarakan di rumah seperti dimandikan, diperciki tirta pemanah, dihidangkan saji tarpana, dengan lebih dulu atma itu disuruh kembali sementara pada badannya terdahulu. Jadi di rumah betul sawanya yang diupakarakan. Inilah yang disebut Sawa Prateka.
Sedangkan terhadap sawa yang telah pernah dikubur (di pendhem) lalu di aben disebut Sawa Wedhana. Sawa Wedhana adalah jenis ngaben yang dilakukan untuk mayat yang telah mendapatkan upacara penguburan (ngurug). Adapun sawa yang telah ditanam di Setra namanya makingsan, dititipkan pada tanah. Atma itu dipegang oleh Bhatari Durga. Pimpinan setra. Demikian prihalnya sawa yang ditanam. Pada Waktu pengupacarakan sawa itu namanya sawa Wedhana. Tiga hari menjelang pengabenan ada upakarannya yang disebut ngulapin. Sawa yang telah pernah dipendhem disebut tawulan. Tawulan ini tidak ikut diupacarakan lagi tawulan ini diganti dengan pengawak, yang terbuat dari kayu cendana atau kayu mejegau yang panjangnya satu lengkat satu hasta. Dan lebarnya empat jari. Cendana ini digambari orang-orangan sebagai pengganti sawa. Pengawak ini disebut sawa karsian. Upacara ngaben jenis ini juga disebut Sawa Rsi.
addrzx - 23/12/2009 03:56 PM
#32
Ngaben Part 3
Kaskus ID : addrzx
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara Adat Pitra Yadnya ( Ngabe/Pembakaran Mayat Di Bali)
Sumber : Here
Keterangan : Pembakaran Mayat Di Bali Untuk Mencapai Kesempurnaan Hidup Dunia Dan Akhirat

Quote:
Spoiler for part 3

G. Pembagian Ngaben Menurut Caranya

Selain pembagian ngaben menurut jenis ngaben diatas baik ngaben sederhana maupun ngaben sarat, adapula pembagian ngaben dilihat dari cara pelaksanaannya yaitu :

Filosofis Ngaben

Manusia terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia ituterdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira, Suksma Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Cinta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh).

Ragha sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu prthiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Prthiwi adalah unsur tanah, yakni bagian-bagian badan yang padat, apah adalah Zat Cair, yakni bagian-bagian badan yang cair ; seperti darah, kelenjar, keringat, air susu dll. Teja adalah api yakni panas badan (suhu), emosi. Bayu adalah angin, yaitu nafas. Dan yang Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.

Proses terjadinya Ragha Sarira atau badan kasar adalah sebagai berikut : sari-sari Panca Maha Bhuta yang terdapat pada berbagai jenis makanan terdiri dari enam rasa yang disebut sad rasa yaitu Madhura (manis), Amla (asam), Tikta (pahit), Kothuka (pedas) , kyasa (sepet) dan lawana (asin). Sad rasa tersebut dimakan dan diminum oleh manusia, dimana didalam tubuh diproses disamping menjadi tenaga, ia menjadi kama. Kama bang (Ovum / sel telur) dan kama putih (sperma). Dalam pesanggamaan kedua kama ini bertemu dan bercampur melalui pengentalan menjadilah ia janin, badan bayi. Sisanya menjadi air nyom, darah lamas (kakere) dan ari-ari.

Percampuran kedua kama ini dapat menjadi janin, bilamana atma masuk atau turun kedalamnya. Konon atma ini masuk kedalam unsur kama yang bercampur ini, ketika ibu dan bapak dalam keadaan lupa, dalam asyiknya menikmati rasa. Disamping Panca Maha Bhuta yang kemudian berubah menjadi janin ikut juga Panca Tan Matra, yakni benih halus dari Panca Maha Bhuta itu. Panca Tan Matra ini dalam janin bayi juga memproses dirinya menjadi Suksma Sarira, yakni Citta, Manah, Indriya dan Ahamkara. Citta terdiri dari tiga unsur yaitu disebut Tri Guna, yaitu Sattwam, Rajas, Tama. Ketiga unsur ini membentuk akhlak manusia. Manah adalah alam pikiran dan perasaan, indriya alam keinginan dan ahamkara adalah alam keakuan. Unsur-unsur tersebut disebut Suksma Sarira. Alam transparan ini dapat merekam dan menampung hasil-hasil yang dikerjakan oleh badan atas pengendali Citta tadi. Bekas-bekas ini nantinya merupakan muatan bagi si Atma (roh) yang akan pergi ke alam pitra.

Ketika manusia itu meninggal Suksma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Suksma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagiannya sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma (roh).

Untuk tidak terlalu lama atma terhalang perginya , perlu badan kasarnya di upacarakan untuk mempercepat proses kembalinya kepada sumbernya dialam yakni Panca Maha Bhuta. Demikian juga bagi sang atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi ke alam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben.

Kalau upacara ngaben tidak dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama, badan kasarnya akan menjadi bibit penyakit, yang disebut Bhuta Cuwil, dan Atmanya akan mendaptkan Neraka, seperti dijelaskan :

“Yan wwang mati mapendhem ring prathiwi salawasnya tan kinenan widhi-widhana, byakta matemahan rogha ning bhuana, haro haro gering mrana ring rat, etemahan gadgad”

Artinya

“kalau orang mati ditanam pada tanah, selamnya tidak diupacarakan diaben, sungguhnya akan menjadi penyakit bumi, kacau sakit mrana di dunia, menjadi gadgad (tubuhnya)….”(lontar Tatwa Loka Kertti, lampiran 5a).

Landasan pokok ngaben adalah lima kerangka agama Hindu yang disebut Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah :

Ketuhanan / Brahman : Brahman merupakan asal terciptanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia. Beliau juga merupakan tujuan akhir kembalinya semua ciptaan itu. Dalam Kekimpoi Arjuna Wiwaha dirumuskan secara singkat dengan kalimat Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya beliau sebagai asal dan kembalinya alam semesta beserta semua isinya. Berdasarkan atas keyakinan inilah, upacara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan semua unsur yang menjadikan manusia ke asalnya. Sebagaimana juga tujuan dari Agama Hindu yaitu Moksartham Jagad Hita Ya Ca Iti Dharma yang berarti bahwa tujuan tertinggi agama Hindu adalah mencapai Moksa. Dimana Moksa dapat diartikan sebagai proses menyatunya Atma dengan Brahman atau dengan istilah Atman Brahman Aikyam, konsep Agama Hindu adalah untuk kembali menyatu dengan sang pencipta (Brahman / Tuhan), dimana Tuhan merupakan asal semua kehidupan.
Atman (roh) : Keyakinan akan adanya Atma pada masing-masing badan manusia. Ia yang menghidupkan semua mahkluk termasuk manusia. Atma merupakan setetes kecil (atum) dari Brahman. Suatu sat setelah tiba waktunya, ia pun akan kembali kepada asalnya yang suci, atma perlu disucikan. Hal inilah yang memerlukan upacara.
Karma : Manusia hidup tidak bisa lepas dari kerja. Kerja itu ada atas dorongan suksma sarira (Budi, Manah, Indria, dan Aharalagawa) setiap kerja akan berpahala. Kerja yang baik (Subha karma) berpahala baik pula. Kerja yang buruk (Asubha karma) akan berakibat keburukan pula. Pahala karma ini akan menjadi beban atma akan kembali keasalnya. Lebih-lebih buah karma yang buruk. Ia merupakan beban atma yang akan menghempaskan ke alam bawah (Neraka). Oleh karena itu manusia perlu berusaha untuk membebaskannya. Bagi para Yogi ia mampu membebaskan dosa-dosanya tanpa bantuan sarana dan prasarana orang lain. Tapi bagi manusia biasa, ia memerlukan pertolongan. Hal-hal inilah yang menyebabkan perlunya upacara Ngaben itu, yang salah satu aspeknya akan menebus dan menyucikan dosa-dosa itu.
Samsara : artinya penderitaan. Atma lahir berulang-ulang ke dunia ini. Syukur kalau lahirnya menjadi manusia utama, atau setidak-tidaknya menjadi manusia. Adalah sangat menderita kalau lahir menjadi binatang. Oleh karena itu perlu dilaksanakan upacara ngaben, yang salah satu tujuannya adalah untuk melepaskan atma untuk dapat kembali ke asalnya. Hal ini disimbolkan dengan tirtha pangentas dan aksara-aksara kelepasan lainnya seperti rurub kajang, recedana, dan lain-lain.
Moksa : artinya kebahagiaan abadi. Inilah yang menjadikan tumpuan harapan semua manusia. Dan inilah menjadi tujuan Agama Hindu. Demi tercapainya moksa itu, atma harus disucikan. Dosa-dosanya harus dibebaskan. Keterikatannya dengan duniawi harus diputus, kemudian terakhir Ia harus dipersatukan dengan sumbernya. Inilah menjadi konsep dasar upacara ngaben, memukur dan terakhir Ngalinggihang Dewa Hyang pada sanggah Kamulan atau Ibu Dengen. Hal ini mengandung arti Atma bersatu dengan sumbernya (Kamulan Kawitan) atau kata lain mencapai Moksa (kendatipun ini hanyalah usaha dan khayalan pretisantana).

Unsur Metafisika dalam Ngaben

Setelah mengetahui maksud dan tujuan serta landasan filosofis. Penulis akan mencoba mengungkapkan unsur metafisika yang terdapat dalam upacara ngaben. Berangkat dari ontologi (metafisika umum) yang berusaha menjawab persoalan dan menggelar gambaran umum tentang struktur yang ada atau realitas berlaku mutlak untuk segala jenis realitas (yang ada). Realitas yang mendasar yang diyakini sebagai sumber dan makna itu oleh Sontag (1970:4) disebut sebagai “prinsip utama” ( the first principle ). Setiap filsuf atau aliran dalam memahami prinsip pertama menggunakan cara-cara yang berbeda, oleh karena itu dalam pemikiran filsafat kita menemukan beberapa model pendekatan, dari yang tradisional sampai yang paling kontemporer. Pendekatan itu berkembang dari model pemikiran kosmosentris, theosentris, antroposentris, logosentris, dan ke gramatologisentris. Masing-masing memiliki watak, titik pijak, perspektif, dan orientasi yang berbeda.

Telah ditetapkan bahwa dalam upacara ngaben dianggap sebagai “simbolis pengantar atma (jiwa) ke alam pitra (baka)”. Proses pengantaran atma ke alam pitra merupakan prinsip utama yang lalu dituangkan melalui symbol berupa upacara yang disebut Ngaben. Oleh karena itu “proses pengantaran atma (jiwa) ke alam pitra (baka)” tersebut merupakan prinsip pertama dalam ontologi upacara ngaben.


Dasar Hukum

Ngaben merupakan salah satu upacara adat Umat Hindu yang masuk ke dalam ruang lingkup upacara Pitra Yajna. Dimana yang dimaksud dengan Pitra Yajna adalah persembahan suci kepada leluhur. Pitra Yajna berasal dari kata Pitr yang artinya leluhur, yajna yang berasal urat kata yaj yang berarti berkorban. Leluhur dimaksud adalah Ibu Bapak, kakek, buyut, dan lain-lain yang merupakan garis lurus ke atas, yang menurunkan kita. Kita ada karena ibu dan Bapak. Ibu dan Bapak ada karena Kakek dan Nenek, begitu seterusnya. Jadi kita ada atas jasa mereka. Kita telah berhutang kepada mereka. Hutang kepada leluhur disebut Pitra Rna. Hutang ini harus dibayar, membayar utang kepada leluhur dengan melaksanakan pitra yajna. Jadi pitra yajna merupakan suatu pembayaran hutang kepada leluhur. Hal inilah yang menjadi dasar hukum dari pada Pitra Yajna itu.
addrzx - 23/12/2009 04:00 PM
#33
Ngaben Part 4
Kaskus ID : addrzx
Kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Bentuk Karya : Upacara Adat Pitra Yadnya ( Ngabe/Pembakaran Mayat Di Bali)
Sumber : Here
Keterangan : Pembakaran Mayat Di Bali Untuk Mencapai Kesempurnaan Hidup Dunia Dan Akhirat

Quote:
Spoiler for Part 4

Upacara menghormati leluhur dalam Agama Hindu di kenal dengan istilah Sradha. Hal ini dijelaskan dalam Menawa Dharma Sastra sebagai berikut : “Upacara Pitra Yajna yang harus kamu lakukan Hendaknya setiap harinya melakukan sraddha dengan mempersembahkan nasi atau dengan air dan susu, dengan umbi-umbian . Dan dengan demikian Ia menyenangkan para leluhur.” (M.D.S.I.82).
1. Ngaben Langsung

Ngaben Langsung Artinya, Upacara ini langsung dilakukan setelah orang itu meninggal. Ini biasanya dilakukan bagi mereka yang boleh dikatakan mampu untuk urusan ekonominya. Pada umumnya upacara ngaben dari persiapannya membutuhkan waktu yang agak lama, minimal kira-kira 10 hari, itupun jika “hari baik” berdasarkan hitungan kalerder Bali sudah dapat ditentukan / dipilih. Sementara itu biasanya mayat dari orang yang meninggal akan diawetkan terlebih dahulu, baik dengan cara pembekuan (es), atau dengan zat kimia lainnya.

2. Ngaben Massal (ngerit)

Seperti namanya ngaben masal dilakukan secara bersama-sama dengan banyak orang. Di masing-masing desa di Bali biasanya mempunyai aturan tersendiri untuk acara ini. Ada yang melakukan setiap 3 tahun sekali, ada juga setiap 5 tahun dan mungkin ada yang lainnya. Bagi masyarakat yang kurang mampu, ini adalah pilihan yang sangat bijaksana, karena urusan biaya, sangat bisa diminimalkan. Biasanya mereka yang mempunyai keluarga meninggal dunia, akan di kubur terlebih dulu. Pada saat acara ngaben masal inilah, kuburan itu digali lagi untuk mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari mayat tersebut. Sisa tulang atau yang lain, akan dikumpulkan dan selanjutnya dibakar.

Prosesi upacara ngaben selanjutnya, setelah pembakaran mayat, abunya kemudian dibuang ke laut. Dilanjutkan dengan upacara penjemputan arwah di laut tersebut, sebelum akhirnya ditempatkan di pura keluarga masing-masing. Disinilah biasanya seperti dijelaskan dihalaman lain tentang pura keluarga masyarakat hindu di Bali, disamping fungsinya untuk memuja tuhan juga untuk memuja para leluhurnya.

H. Hari Baik atau Dewasa Ngaben

Pada hakekatnya saat yang baik (dewasa) adalah merupakan repleksi dari adanya pengaruh alam besar (Buana Agung) terhadap kehidupan alam kecil dengan alam besar (Makrokosmos) itu. Adanya pengaruh alam besar terhadap kehidupan manusia serta akibat dari pengaruh saling berhubungan itu betul-betul diperhatikan oleh setiap umat Hindu dalam melakukan usaha terutama dalam melakukan upacara yajna, dalam hal ini ngaben.

Bergeraknya matahari ke utara atau keselatan dari bulatan bumi yang sesuai dengan penglihatan manusia, seperti dapat dilihat sepanjang tahun membawa pengaruh yang besar terhadap kehidupan di Bumi, lahir bathin. Bergeraknya matahari inilah yang menjadi patokan pesasihan dalam ilmu wariga itu. Dan pesasihan merupakan dasar pokok dari dewasa, khususnya dewasa ngaben sarat.

Bila kita perhatikan keadaan sasih yang disebabkan pergeseran matahari ke utara ke selatan (secara pandangan manusia) maka akan terlihatlah bagian-bagian sasih-sasih itu serta kegunaannya untuk upacara apa tepatnya, sesuai dengan petunjuk dalam lontar-lontar di Bali.

I. Upacara Adat Ngaben di Desa Trunyan Bali.[/B]

Terletak di pinggir Danau Batur dan dikelilingi tebing bukit, Desa Trunyan memiliki banyak keunikan sebagai sebuah desa kuna dan Bali Aga (Bali asli). Konon ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering Jagat untuk mendatangi sumber bau. Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon-pohon hutan cemara Landung. Di sanalah kemudian mereka kimpoi dan secara kebetulan disaksikan oleh penduduk desa hutan Landung yang sedang berburu. Taru Menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu Pancering Jagat. Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak orang-orang desa Cemara Landung untuk mendirikan sebuah desa bernama Taru Menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini berada di Kecamatan Kintamani, Daerah Tingkat II Bangli. Ternyata tidak semua umat Hindu di Bali melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah. Di Trunyan, jenasah tidak dibakar, melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan. Trunyan adalah desa kuna yang dianggap sebagai desa Bali Aga (Bali asli). Trunya memiliki banyak keunikan dan yang daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah warganya. Trunyan memiliki tiga jenis kuburan yang menurut tradisi desa Trunyan, ketiga jenis kuburan itu di- klasifikasikan berdasarkan umur orang yang meninggal, keutuhan jenasah dan cara penguburan yaitu :

1. Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik yang disebut Setra Wayah.

Jenazah yang dikuburkan pada kuburan suci ini hanyalah jenazah yang jasadnya utuh, tidak cacat, dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar (bukan bunuh diri atau kecelakaan).

2. Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.

3. Kuburan yang ketiga disebut Sentra Bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun ulah pati (meninggal secara tidak wajar misalnya kecelakaan, bunuh diri).

Dari ketiga jenis kuburan tersebut yang paling unik dan menarik adalah kuburan utama atau kuburan suci (Setra Wayah). Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tebing bukit. Untuk membawa jenasah ke kuburan harus menggunakan sampan kecil khusus jenasah yang disebut Pedau. Meski disebut dikubur, namun cara penguburannya unik yaitu dikenal dengan istilah mepasah. Jenasah yang telah diupacarai menurut tradisi setempat diletakkan begitu saja di atas lubang sedalam 20 cm. Sebagian badannya dari bagian dada ke atas, dibiarkan terbuka, tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bambu membentuk semacam kerucut, digunakan untuk memagari jenasah. Di Setra Wayah ini terdapat 7 liang lahat terbagi menjadi 2 kelompok. Dua liang untuk penghulu desa yang jenasahnya tanpa cacat terletak di bagian hulu dan masih ada 5 liang berjejer setelah kedua liang tadi yaitu untuk masyarakat biasa.

Jika semua liang sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubur, jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah barulah yang menempati lubang tersebut. Jenasah lama, ditaruh begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan tengorak-tengkorak manusia yang tidak boleh ditanam maupun dibuang. Meski tidak dilakukan dengan upacara Ngaben, upacara kematian tradisi desa Trunyan pada prinsipnya sama saja dengan makna dan tujuan upacara kematian yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali lainnya. Upacara dilangsungkan untuk membayar hutang jasa anak terhadap orang tuanya. Hutang itu dibayarkan melalui dua tahap, tahap pertama dibayarkan dengan perilaku yang baik ketika orang tua masih hidup dan tahap kedua pada waktu orang tua meninggal serangkaian dengan prilaku ritual dalam bentuk upacara kematian
Rersiger - 03/01/2010 07:38 PM
#34

kaskus ID : Rersiger
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Pandangan Orang Dayak Ngaju Terhadap Tamu Asing dan Pendatang Baru



Spoiler for Adat Dayak Ngaju
Pada dasarnya masyarakat Dayak Ngaju sangat hormat kepada tamu dari luar daerah termasuk pula kepada pendatang baru.
Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju dalam menerima tamu, maka sebagai tuan rumah akan menerima dan memberikan pelayanan sesuai kemampuannya, misalnya seperti contoh sebagai berikut :

1. Bilamana kedatangan seseorang atau lebih tamu dari desa lain atau dari tempat jauh pada pagi atau siang hari, maka tuan rumah dengan senang hati menjamu tamu tersebut setidak-tidaknya minum teh, kopi atau bila ada ditambah sajian sederhana lainnya.

2. Bilamana kedatangan seseorang atau lebih tamu dari luar desa atau tern-pat yang jauh pada sore atau malam hari dan bermaksud meminta tumpangan tempat menginap maka setelah di yakini tamu tersebut adalah orang baik-baik, maka tuan rumah dengan senang hati memberi tumpangan. Andaikata diketahui bahwa tamunya tersebut belum makan malam, is dan keluarga dengan senang hati menyediakan makanan dan minuman sesuai dengan kemampuannya. Bahkan andaikata beras yang tersisa hanya untuk sekali menanak nasi sekalipun, is rela untuk menjamu tamunya. Tuan rumah juga dengan rela menyiapkan tempat tidur diruang depan, bahkan merelakan kasur dan bantal yang mereka pakai untuk disiapkan sebagai tempat tidur tamunya.

3 Demikian pula terhadap pendatang baru yang bermaksud bermukim sementara waktu sehubungan dengan tugas pekerjaannya diterima dengan sikap sambutan yang ramah dan lembut.
Bahkan sejak awal abad ke-XX sampai sekitar tahun 1970-an, didesadesa yang sering disinggahi oleh orang yang melakukan perjalanan dibangun "pesanggrahan" dengan ukuran lebih kurang 4x6 meter sebagai tempat menginap gratis.

Penyambutan Tamu Terhormat
Yang dimaksud Tamu Terhormat adalah Pejabat Negara / Pemerintah (misainya Presiden/Wakil Presiden/Menteri/Dirjen/Direktur/Pimpinan DPP-RI/ Gubernur/Wakil Gubernur/Bupati/Walikota dan lain-lain) atau Tokoh Politik/ Tokoh Masyarakat yang mumpuni.

Dalam peristiwa tersebut tamu terhormat yang bersangkutan diterima secara Adat yang disebut "Acara Tetek Pantan". Dalam Bahasa Dayak Ngaju kata Tetek artinya potong dan Pantan berarti penghalang. Meskipun tidak semua Acara Tetek Pantan tersebut adalah memotong penghalang, namun istilah Tetek Pantan merupakan istilah populer untuk acara tersebut.

Menyambut tamu terhormat dengan pantan adalah dengan membangun suatu pintu gerbang yang dihiasi dengan janur dan berbagai macam bungs. Pada pintu gerbang tersebut ditempatkan "pantan". Setelah "pantan" dipotong atau dibuka barulah tamu terhormat tersebut dipersilahkan memasuki tempat acara.

Dalam Adat Dayak Ngaju terdapat 7 (tujuh) macam "pantan" sebagai berikut :
1. Pantan Kayu
Untuk bahan pantan kayu dipilih jenis kayu lemah dengan ukuran diameter ± 10-15 cm dan panjang ± 3 meter.
Kayu tersebut ditempatkan menghalang jalan masuk tamu pada pintu gerbang. Biasanya sebelum dipotong oleh tamu, kayu pantan tersebut ditutupi terlebih dahulu dengan kain batik panjang (bahalai).
Acara Tetek Pantan tersebut dipimpin oleh Damang Kepala Adat. Apabila Damang Kepala Adat berhalangan dapat diganti oleh Tokoh Adat lainnya. Setelah "bahalai" diangkat dari atas kayu pantan, Damang Kepala Adat menyerakan sebuah "mandau" (golok tradisional Dayak) sebagai alat pemotong pantan. Menggunakan mandau tersebut, tamu terhormat dipersilahkan memotong kayu pantan sampai putus.
Sebelum acara "Tetek Pantan" dimulai dan sembari pemotongan pantan oleh tamu, terjadi dialog antara Damang Kepala Adat dengan Tamu Terhormat tersebut berkisar tentang maksud dan tujuan kedatangan sang tamu.
Setelah pantan terpotong barulah tamu dan rombongan dipersilahkan berjalan masuk kearena Acara Penyambutan dipintu masuk tamu terse-but di "tampung tawar" oleh Damang Kepala Adat.

2. Pantan Tewu
Bahasa Dayak Ngaju kata "Tewu" berarti tebu. Acara pantan tewu ini dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Ngaju di wilayah Sungain Katingan. Rangkaian acara sama seperti pelaksanaan pantan kayu.

3. Pantan Garantung
Garantung berarti gong. Jadi dalam Pantan Garantung, benda yang menjadi penghalang dipintu gerbang adalah beberapa buah gong ; jumlahnya antara 3 (tiga) buah, 5 (lima) buah atau 7 (tujuh) buah garantung. Garantung di jejerkan dipintu gerbang acara dan ditutup dengan kain batik panjang (bahalai).
Pertama-tama sang tamu mengangkat kain batik panjang (bahalai) terse-but, kemudian memindahkan semua gong tersebut kepinggir jalan. Setelah itu tamu dan rombongannya dipersilahkan masuk ketempat acara penyambutan.

4. Pantan Balanga
Balanga adalah guci yang mahal buatan Cina berasal dari Dinasti Ming atau Dinasti Ching. Jumlah balanga yang dipergunakan sebagai alat pantan antara 3 (tiga) balanga, 5 (lima) balanga atau 7 (tujuh) balanga.
Diatas permukaan balanga ditutup dengan kain batik panjang (bahalai). Sang tamu berkewajiban mengangkat kain bahalai tersebut dari permukaan balanga, kemudian memindahkan seluruh balanga tersebut kesamping. Setelah itu para tamu dipersilahkan memasuki tempat acara penyambutan tamu.

5. Pantan Garantung dan Balanga
Barang untuk pantan berupa beberapa buah garantung (gong) dan beberapa buah balanga (guci).
Tamu Terhormat tersebut pertama-tama memindahkan kain batik panjang (bahalai) dari permukaan garantung dan balanga, kemudian memindahkan semua garantung dan balanga tersebut kesamping, setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongan memasuki arena penyambutan tamu.

6. Pantan Timpung
Bahan pantan timpung adalah kain yang dipasang seperti gorden pintu. Pada kedua sisi bagian tengah kain tersebut disatukan dengan benang. Sang Tamu harus memotong benang tersebut dengan menggunakan gunting atau alai pemotong lainnya sehingga kain pantan dapat terbuka. Setelah itu Damang Kepala Adat mempersilahkan tamu dan rombongannya memasuki arena penyambutan.

7. Pantan Bulan
Dewasa ini pantan bulan lebih merupakan legenda saja oleh karena tidak pernah lagi dilaksanakan.
Dalam pantan bulan, yang menjadi penghalang tamu masuk pada pintu gerbang adalah sejumlah gadis-gadis yang berdiri berjejer. Jumlah gadis-gadis tersebut antara 3 (tiga) orang gadis, 5 (lima) orang gadis atau 7 (tujuh) orang gadis.

Dibawah pimpinan Damang Kepala Adat, tamu terhormat yang bersangkutan menarik dan memisahkan gadis-gadis tersebut sampai pintu gerbang terbuka. Pada zaman dulu, sang tamu dapat memilih salah satu dari gadis tersebut untuk diajak mendampinginya masuk kearena penyambutan tamu.

Bagaimana penyambutan dan sikap ramah yang ditunjukan oleh warga masyarakat Dayak Ngaju, bagaimana mereka memandang orang asing atau pendatang baru serta bagaimana adat mereka menyambut tamu terhormat yang berkunjung adalah menjadi bukti bahwa warga masyarakat Dayak Ngaju sangat peduli dan hormat kepada tamu dan orang lain yang datang ketempat mereka.

Namun demikian sikap ramah dan hormat tersebut akan berubah drastis apabila kemudian ternyata tamu, orang asing atau pendatang baru tersebut menunjukan perilaku yang bertentangan atau melanggar Adat Istiadat maupun Hukum Adat yang mereka hormati dan dipertahankan sebagai salah satu entitas Suku Dayak.
TuaGila - 05/01/2010 01:16 AM
#35

kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju cara-cara perkimpoian terbagi atas :
1. Perkimpoian sesuai dengan ketentuan Adat yang lazim.
2. Perkimpoian melalui cara yang tidak lazim.
3. Perkimpoian Tulah.

1. Perkimpoian sesuai dengan ketentuan Adat yang lazim adalah melalui tahapan - tahapan sebagai berikut :

a. Hakumbang Auh
Yang dimaksud dengan "Hakumbang Auh" dapat diterjemahkan sebagai langkah penjajakan dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan untuk mempertanyakan apakah anak gadis yang bernama "A" masih bebas dalam arti belum terikat pembicaraan atau perjanjian dengan pihak laki-laki lain.

Biasanya orang tua laki-laki meminta bantuan salah seorang kerabat dekat untuk menyampaikan pesan tersebut yang dibuktikan dengan "Manjakah Duit" (Manjakah duit = melempar uang).

Adat tidak mengatur berapa besar jumlah uang yang disampaikan dalam rangka "Hakumbang Auh" tersebut. Uang yang disampaikan tersebut biasanya 1 (satu) lembar saja, misalnya Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah), Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah), Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) atau Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).

Besar kecil nilai lembaran uang tersebut mempunyai banyak makna antara lain yaitu :
1). Sebagai bukti kesungguhan pihak laki-laki dan
2). Untuk menunjukan martabat pihak laki-laki.

Menurut Adat-Istiadat Masyarakat Dayak Ngaju, keluarga pihak anak gadis dapat saja langsung pada saat itu menolak dan mengembalikan "duit hakumbang auh" tersebut apabila memang anak gadis mereka telah mempunyai ikatan yang cukup kuat dengan pihak lain. Atau sebaliknya untuk sementara menerima "duit hakumbang auh" untuk dibahas terlebih dulu di lingkungan sanak keluarga. Biasanya rata-rata dalam jangka waktu 2 (dua) minggu atau paling lama 1 (satu) bulan, pihak keluarga perempuan akan memberikan jawaban apakah menerima atau menolak.

Apabila setelah dipertimbangkan dan dengan adanya alasan-alasan khusus sehingga keinginan dari pihak laki-laki terpaksa ditolak, maka keluarga pihak perempuan segera mengutus salah seorang kerabat dekatnya mengembalikan "duit hakumbang auh" kepada keluarga pihak laki-laki melalui kurir yang pernah diutus disertai dengan penje¬lasan alasan-alasannya secara halus.

Dalam hal niat dari pihak laki-laki diterima, mungkin saja dari pihak perempuan menyampaikan pemberitahuan persetujuan lebih dini dari waktu yang dijanjikan. Namun apabila terjadi jawaban setuju atau tidak setuju dari pihak keluarga perempuan belum juga diketahui meskipun telah melampaui batas waktu yang diperjanjikan, maka kurir dari pihak laki-laki segera mempertanyakannya.

Penolakan oleh keluarga pihak perempuan apabila tidak disampaikan secara arif dapat mengakibatkan keluarga pihak laki-laki merasa dipermalukan karena dianggap ditampik. Pada zaman dulu peno¬lakan sedemikian bahkan dapat mengakibatkan perselisihan diantara kedua keluarga.

Pada masa sekarang pelaksanaan "Hakumbang Auh" tersebut lebih merupakan formalitas saja oleh karena pada umumnya hubungan pergaulan kedua muda-mudi tersebut telah memperoleh kesesuaian dan keluarga masing-masing pihak sebenarnya sudah merestui hubungan dekat antara keduanya. Setelah keluarga pihak laki-laki memperoleh jawaban bahwa "duit hakumbang auh" tersebut diteri¬ma, maka mulailah kedua belah pihak melakukan perundingan inten¬sif tentang rencana "Acara Misek".

b. Misek
Secara harfiah kata "misek" berarti "bertanya", namun dalam konteks Adat Istiadat tentang proses perkimpoian menurut Adat Suku Dayak Ngaju "Acara Misek" berarti "Acara Pertunangan".

Pada hari yang telah ditentukan bersama, keluarga dan kerabat pihak laki-laki beserta calon mempelai laki-laki datang kerumah keluarga pihak perempuan, sebaliknya keluarga pihak perempuan telah siap menerima kedatangan rombongan keluarga pihak laki-laki.

Biasanya diadakan pesta sederhana dengan memotong ayam 3-5 ekor dan babi 1 ekor. Biaya untuk pesta misek ini sepenuhnya ditanggung oleh keluarga pihak perempuan.

Kedatangan rombongan keluarga dan calon mempelai laki-laki dirumah keluarga calon mempelai perempuan melalui suatu rangkaian upacara sederhana sebagai berikut :

Setelah seluruh rombongan calon mempelai laki-laki masuk kedalam rumah, dipersilahkan duduk bersila dan berjejer diatas tikar lampit atau karpet.

Dihadapan mereka dibentangkan tikar rotan anyaman halus. Pada bagian depan biasanya duduk beberapa orang yang mewakili keluarga pihak laki-laki (3-5 orang) beserta seorang ibu (biasanya bibi atau nenek calon mempelai laki-laki) yang menggendong "Sangku" yang berisi beras dan semua syarat-syarat untuk "misek".....


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:20 AM
#36
Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 2
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 2
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
Barang-barang yang merupakan syarat dalam "acara misek" biasanya berupa :
a.Seperangkat barang /alat untuk mandi dan merias diri (misalnya sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, sisir rambut, cermin kecil, lipstick, minyak wangi/parfum, bedak, sham¬poo, deodorant, sapu tangan, kain panjang batik, bahan tekstil untuk membuat gaun /kebaya atau pakaian jadi 1 stel lengkap, sandal dan sepatu masing-masing sepasang).
b.2 (dua) buah cincin pertunangan.

Disisi lain dari tikar rotan anyaman halus duduk pula beberapa orang yang mewakili keluarga perempuan (3-5 orang) serta seorang ibu (biasanya bibi atau nenek calon mempelai perempuan).

Acara dimulai dengan pertanyaan dari wakil keluarga pihak perempuan tentang maksud kunjungan rombongan keluarga pihak laki-laki tersebut. Terjadilah dialog antara delegasi kedua pihak yang bahkan kadang-kadang diungkapkan dengan bahasa yang kocak sehingga membuat ramainya suasana.

Hal yang menarik bahwa masing-masing pihak telah menyiapkan sejumlah minuman keras. Barang siapa dalam dialog melakukan kesalahan bicara, maka yang bersangkutan dikenakan "denda" yaitu minum 1 seloki minuman keras tersebut sehingga acara berlangsung hangat dan gembira.

Acara dialog telah selesai, kemudian dilakukan penyerahan barang - barang syarat "misek".
Untuk menerima barang-barang syarat "misek" tersebut, keluarga pihak perempuan menyiapkan 1 (satu) buah "sangku" yang diisi pula dengan beras lebih kurang sepertiga (1/3) atau paling banyak separo (1/2) muatan sangku. Hal ini dimaksudkan supaya didalam sangku masih tersedia tempat menaruh barang¬barang syarat "misek".

Sebelum penyerahan barang-barang syarat "misek" biasanya yang mewakili keluarga pihak laki-laki meminta agar gadis calon tunangan diajak keluar dan duduk diantara para wali keluarga kedua belah pihak.

Menurut Adat, kedua ibu yang menyerahkan dan menerima barang-barang syarat "misek" saling memberi sebagian beras dari sangku masing-masing, hal itu dilakukan untuk menyatakan bahwa kedua keluarga telah merestui pertunangan kedua anak mereka. Selanjutnya satu persatu barang-barang syarat "misek" diserah-terimakan.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembahasan isi "Surat Janji Hisek" atau Surat Perjanjian Pertunangan.
Surat Perjanjian Pertunangan memuat hal-hal sebagai berikut :
Syarat-Syarat kimpoi Adat meliputi :
a. Palaku
b. Saput Pakaian
c. Sinjang - Entang
d. Tutup Uwan
e. Lapik Luang
f. Garantung Kuluk Pelek
g. Bulau Singah Pelek
h. Lapik Ruji
i. Rapin Tuak
j. Timbuk Tangga
k. Bulau Ngandung/Panginan Jandau
l. Jangkut Amak
m. Batu Kaja

Dalam hal anak gadis yang akan di pertunangkan tersebut masih mempunyai kakak perempuan yang belum menikah, maka jikalau pada saat perkimpoiannya nanti kakaknya tersebut ternyata masih juga belum menikah, maka terhadap pihak laki-laki akan ditambahkan persyaratan adat yang disebut "Danda Panangkalau" artinya denda atas kimpoi terlebih dahulu dari kakaknya yang harus dibayar oleh pihak laki-laki. Hal itu akan dituangkan dalam Perjanjian kimpoi Adat.

Kemudian Penetapan Hari - Bulan - Tahun Perkimpoian, menyepakati
Besarnya Kontrak Danda Adat apabila terjadi pembatalan perkimpoian, Setelah hal-hal tersebut disepakati maka dituangkanlah kedalam "Surat Janji Hisek" atau Surat Perjanjian Pertunangan.

Acara dilanjutkan dengan penanda-tanganan Surat Janji Hisek (Surat Perjanjian Pertunangan) oleh kedua orang tua (ayah) serta sedikitnya 2 (dua) orang saksi dari masing-masing pihak, Damang Kepala Adat serta Kepala Desa setempat. Penanda-tanganan Surat Janji Hisek tersebut dilakukan dihadapan kedua pihak yang bertunangan.

Kemudian dilaksanakan Acara "Meteng Manas" atau "Tukar Cincin".
Pelaksanaan Acara ini bervariasi sesuai dengan Agama yang dianut , antara lain :

Menurut Agama Kaharingan pada dasarnya tidak dikenal adanya Acara Tukar Cincin Pertunangan, melainkan "Acara Meteng Manas". Damang Kepala Adat memasang gelang manik kepada pasangan yang bertunangan. Tali manik biasanya sari serat tumbuhan yang disebut "Tengang".

Setelah itu Damang Kepala Adat melakukan "Tampung Tawar" kepada pasangan tersebut diiikuti oleh orang tuakedua belah pihak, kerabat dekat atau tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Pada keluarga yang beragama Kristen, setelah acara penyerahan barang-barang syarat misek juga dilakukan acara Tampung Tawar, baru setelah itu dilanjutkan Acara Kebaktian yang dipimpin oleh Pendeta. Didalam Acara Kebaktian itu Pendeta memimpin Acara Tukar Cincin Pertunangan....


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:22 AM
#37
Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 3
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 3
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
C. Pelaksanaan kimpoi Adat
Rata-rata sebulan sebelum waktu yang diperjanjikan pihak keluarga calon mempelai laki-laki bertanya kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan mengenai hari H pelaksanaan perkimpoian, apakah tetap sesuai dengan kesepakatan semula atau ada perubahan/pergeseran waktu.

Bilamana kedua calon mempelai berdomisili di Kampung atau Kota yang sama, pelaksanaan perkimpoian relatif mudah. Namun apabila mereka berdomisili di Kampung atau Kota yang berbeda, kadang-kadang rombongan mempelai laki-laki harus menempuh perjalanan yang melelahkan.

Lama waktu pelaksanaan kimpoi Adat tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak. Di Desa/Kampung biasanya berlangsung selama 2 (dua) hari, namun untuk keluarga yang berada/mampu dapat juga berlangsung lebih lama, misalnya 3-4 hari. Di Kota biasanya lebih singkat sehingga acara perkimpoian seluruhnya dilaksanakan selama 1 (satu) hari saja.

Panganten Mandai
Yang dimaksud dengan Acara "Panganten Mandai" adalah acara dimana mempelai laki-laki beserta rombongan pengantin datang kerumah mempelai perempuan.
Acara Panganten Mandai adalah acara pertama dalam prosesi kimpoi Adat. Di Kampung/Desa Acara Panganten Mandai biasanya dilaksanakan pada pagi hari dan di Kota biasanya pada sore hari.

Menurut Adat Istiadat Dayak Ngaju, rahgkaian kegiatan pada hari Panganten Mandai berturut-turut sebagai berikut :
Mempelai laki-laki dan rombongan berjalan menuju rumah mempelai perempuan diiringi dengan bunyi-bunyian gendang dan gong dengan nama khusus (disebut : gandang manca).

Setiba dihalaman depan rumah mempelai perempuan berhenti sebentar oleh karena dihalangi oleh "lawang sakepeng" yaitu pintu gerbang berhias benang susun tiga yang dibentangkan menghalangi jalan masuk.

Mempelai laki-laki dan rombongan baru di izinkan masuk setelah benang penghalang tersebut putus dalam permainan silat oleh pesilat yang mewakili keluarga mempelai laki-laki maupun pihak mempelai perempuan.

Permainan silat tersebut dilakukan hanya i untuk maksud memutuskan benang penghalang itu saja sebagai syarat dipersilahkannya mempelai laki-laki dan rombongan masuk kerumah mampelai perempuan.

Sebelum dipersilahkan masuk kedalam rumah, didepan pintu masuk telah disiapkan 1 (satu) buah batu asah. Mempelai laki-laki diminta untuk memijak sebuah telor ayam kampung menggunakan kaki kanan sampai pecah. Kemudian oleh salah seorang tokoh adat, orang tua dan wali mempelai perempuan mempelai laki-laki di "tampung tawar" dengan air kembang yang diberi minyak wangi.

Hal tersebut dilakukan dengan maksud agar mempelai laki-laki memperoleh berkat dan rasa damai baik selama prosesi perkimpoian maupun dalam kehidupan rumah tangga mereka kelak. Setelah itu barulah mempelai laki-laki dan rombongan dipersilahkan masuk kedalam rumah sembari ditaburi bunga dan racikan daun pandan yang harum.

Penyerahan Syarat-Syarat kimpoi Adat
Rangkaian acara penyerahan Syarat-Syarat kimpoi Adat meliputi :

1. Sebelum syarat-syarat kimpoi adat diserahkan, dilakukan semacam "dialog" antara wakil keluarga mempelai laki-laki dan wakil keluarga mempelai perempuan yang hampir sama modusnya dengan acara "dialog" pada waktu "acara misek".
Acara tersebut berlangsung sekitar 30 (tiga puluh) menit dan setelah itu diikuti dengan acara penyerahan syarat-syarat kimpoi adat.

2. Syarat-syarat kimpoi Adat di serah terimakan.
Sampailah saat keluarga mempelai perempuan menagih janji syarat-syarat kimpoi Adat sebagaimana telah disepakati dalam "Surat Perjanjian Misek" (Surat Perjanjian Pertunangan).

Sebelumnya dilakukan persiapan-persiapan antara lain ibu kandung mempelai perempuan beserta seorang kerabat dekat menyiapkan 1 (satu) buah "sangku" yang diisi dengan beras sekitar separo dan diberi alas dengan lipatan kain batik panjang. Selanjutnya ibu kandung mempelai laki-laki dan mempelai perempuan saling memberi sedikit beras dari "sangku" masing-masing sebagai perlambang niat mengikat kesatuan dan persat¬uan kedua keluarga.

Sebelum penyerahan Syarat-Syarat kimpoi Adat, pihak keluarga mempelai laki-laki meminta agar mempelai perempuan dihadirkan ditengah-tengah keluarga kedua belah pihak dan para undangan yang hadir.

Selanjutnya pembawa acara membacakan saru persatu Syarat-Syarat kimpoi Adat. Kemudian ibu kandung dan/atau bibi mempelai laki-laki satu persatu menyerahkan Syarat kimpoi Adat dimaksud kepada ibu kandung / bibi mempelai perempuan. Setelah diperiksa lalu ditaruh didalam "sangku".

Setelah semua syarat-syarat kimpoi Adat diserah terimakan dan apabila tidak ada lagi masalah yang mengganjal kemudian dibuatlah "Surat Perjanjian kimpoi Adat". Perihal ketentuan Perjanjian Denda kimpoi Adat menurut ketentuan adat-istiadat jumlahnya ditetapkan 2 (dua) kali lipat daripada ketentuan denda yang tersebut dalam Perjanjian Misek. Misalnya kalau denda dalam Surat Perjanjian Misek besarnya Rp. 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) maka dalam Surat Perjanjian kimpoi Adat otomatis ditetapkan sebesar Rp. 5.000.000.- (lima juta rupiah). Kemudian syarat-syarat kimpoi adat yang telah diberali terimakan tersebut dibawa masuk kedalam kamar pengantin.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:30 AM
#38
Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 4
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 4
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
Syarat -Syarat kimpoi Adat terdiri atas :
1). Palaku
Secara harfiah arti kata palaku adalah permintaan.
Dalam konteks Perkimpoian Adat yang dimaksud dengan palaku adalah mas kimpoi atau jujuran. Dalam Surat Perjanjian kimpoi Adat, palaku dinyatakan dalam jumlah berat gong ; dalam bahasa Dayak Ngaju dinyatakan mis¬alnya : 100 (seratus) kati garantung ( 1 Kati = ± 0,5 gram).

Pada zaman dulu, palaku memang benar-benar diser¬ahkan dalam bentuk gong. Namun dalam perkemban¬gannya akibatnya sulit mencari gong (garantung) maka diganti dengan barang lain misalnya barang perhiasan emas, guci atau sejumlah uang tunai ; dewasa ini umumnya diganti dengan sebidang tanah kebun (karet/rotan) atau tanah perwatasan.

Waktu penyerahan syarat Adat "Palaku" pihak keluarga mempelai laki-laki harus menyatakan barang pengganti tersebut : barang perhiasan emas/ guci/uang tunai/surat resmi tanah kebun atau tanah perwatasan.

Menurut ketentuan Adat, apabila kelak terjadi perceraian saat sama- sama masih hidup (bukan cerai mati) maka palaku tersebut akan menjadi milik orang tua mempelai perempuan ; namun biasanya diserahkan kedalam penguasaan mempelai perempuan.

2). Saput
Secara harfiah kata saput berarti melindungi atau menutupi.
Dalam Perkimpoian Adat, Saput diberikan dalam bentuk 1 (satu) kain batik panjang (bahalai). Saput diperuntukan bagi saudara mempelai perempuan.

Bagi keluarga mempelai laki-laki yang mampu, Saput dapat diberikan sejumlah semua saudara kandung mempelai perempuan masing-masing 1 (satu) lembar kain batik panjang. Namun dengan hanya memberikan 1 (satu) lembar saja sudah dianggap cukup.

3). Pakaian
Syarat Adat "Pakaian" diperuntukkan bagi orang tua mempelai perempuan. Dewasa ini dalam prakteknya syarat adat "pakaian" hanya diberikan 1 (satu) lembar kain batik panjang (bahalai). Sesungguhnya apabila mempelai laki-laki dari keluarga mampu, untuk syarat adat ini dapat pula ditambah dengan masing-masing pakaian 1 (satu) stet lengkap untuk ayah dan ibu mempelai perempuan.

4). Sinjang Entang
Sinjang artinya pakaian perempuan berupa sarung batik. Entang artinya gengong atau menggendong (dimaksudkan : menggendong bayi). Oleh karena itu barang syarat adat sinjang dalam bentuk 1 (satu) lembar kain sarung batik. Entang dalam bentuk 1 (satu) lembar kain panjang batik.

5). Tutup Uwan
Tutup artinya tutup dan Uwan artinya uban.
Syarat adat ini berupa 2 yard/2 meter kain hitam untuk diberikan kepada nenek mempelai perempuan.

6). Lapik Luang
Lapik artinya alas ; Luang artinya suatu tempat menyimpan barang, biasanya berupa "sangku".
Oleh karena itu syarat adat lapik luang diberikan 1 (satu) lembar kain batik panjang.

7). Garantung Kuluk Pelek
Garantung adalah gong ; Kuluk adalah kepala dan pelek adalah patah.
Namun dalam syarat adat garantung kuluk pelek merupakan suatu kata majemuk, yang diberikan dalam bentuk 1 (satu) buah garantung (gong). Biasanya ukuran sedang atau relatif kecil.

8). Bulau Singah Pelek
Bulau adalah emas, Singah adalah alat penerangan dan Pelek artinya patah.
Dalam syarat kimpoi adat, Bulau Singah Pelek ini diberikan dalam bentuk emas. Dalam Adat Istiadat asli masyarakat Dayak sesungguhnya tidak dikenal adanya Cincin kimpoi, tradisi tersebut diadopsi dari kebudayaan lain. Oleh karena pada keluarga yang beragama Kaharingan, syarat Adat "Bulau Singah Pelek" diberikan dalam bentuk emas murni baik dalam bentuk barang perhiasan atau emas hatangan.

Dalam tradisi masyarakat Dayak Ngaju yang beragama Kristen syarat adat "Bulau Singah Pelek" tersebut adalah sepasang cincin kimpoi.

9). Lilis Turus Pelek
Lilis Turus Pelek diberikan dalam bentuk sebuah "lilis" atau manik panjang.


10).Lapik Ruji
Lapik adalah alas dan Ruji artinya pundi-pundi. Lapik Ruji diberikan dalam bentuk 1 (satu) buah uang ringgit perak yang dipergunakan sebagai mata uang pada zaman Belanda. Syarat Adat "Lapik Ruji" merupakan dorongan agar kedua mempelai kelak rajin bekerja dan rajin menabung.

11). Rapin Tuak
Rapin Tuak dibeikan dalam bentuk beberapa botol minu¬man keras yang diadakan masing-masing kedua belah pihak.
Jumlahnya tidak ditentukan dan minuman tersebut dibagikan terutama kepada para wakil kedua belah pihak yang bertugas dalam acara "dialog" dan Acara Haluang-Hapelek serta para tamu.

12). Timbuk Tangga
Timbuk artinya timbunan Tangga adalah tangga. Sehingga yang dimaksud syarat adat "Timbuk Tangga" biasanya diiberikan berupa sejumlah uang dengan tujuan untuk memperbaiki kembali halaman dan tangga rumah yang rusak selama berlangsungnya pesta perkimpoian. Besarnya variatif, tergantung toleransi dari keluarga pihak mempelai laki-laki. Biasanya diberikan sejumlah uang misalnya Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah) atau Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).

13). Bulau Ngandung
Bulau artinya emas dan Ngandung artinya berisi.
Namun yang dimaksud dengan bulau ngandung dalam syarat kimpoi adat adalah biaya pesta kimpoi.

lstilah tersebut kadang-kadang disebut Panginan Jandau yang artinya biaya pesta. Besarnya Bulau Ngandung/Panginan Jandau tergantung pada kesepa¬katan kedua belah pihak.
Menurut kebiasaan, Bulau Ngandung/ Panginan Jandau dilaksanakan secara bersama-sama atau patungan antara kedua belah pihak.

14). Jangkut Amak
Yang dimaksud dengan Jangkut Amak adalah peralatan tidur mempelai.
Jangkut adalah kelambu dan Amak adalah Tikar. Biasanya biaya syarat adat "jangkut amak" disediakan oleh keluarga mempelai laki-laki dan penyiapannya/ pengadaannya oleh keluarga mempelai perempuan. Kelengkapan barang-barang "jangkut amak" terdiri atas ranjang pengantin, kasur, bantal-guling, sprei dan kelambu. Namun dalam prakteknya sering pengadaan barang¬barang tersebut secara patungan.

15. Batu Kaja
Kaja artinya bertamu.
Syarat adat batu Kaja biasanya berupa sebuah gong (garantung) ukuran sedang yang diberikan oleh orang tua mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan pada saat acara menerima menantu (Pakaja Manantu).
Biasanya diadakan suatu pesta kecil dengan mengundang kerabat dekat.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:32 AM
#39
Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 5
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 5
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
Setelah semua Syarat Adat diterima maka sebelum disimpan dikamar pengantin, Damang Kepala Adat atau Tokoh Adat yang mewakili damang melakukan upacara singkat dengan mengangkat "sangku" yang berisi syarat-syarat kimpoi adat dengan mengucapkan doa selamat dalam Bahasa Dayak Ngaju sebagai berikut :

Inggatangku ikau toh sangku uka rahian andau hagatang kea sewut saritan ewen toh, mangat mambelom arep ewen, tatau, sanang, pintar-harati tun-tang baurnur panjang.
(kuangkat engkau sangku agar kelak terangkat pula nama dan kemasyhuran mereka, hidup senang, kaya, pandai dan bijaksana serta memperoleh umur panjang).

Inganjungku ikau toh sangku akan hila pambelep, uka belep kea kare dahiang baya, nupi kampa ije papa, belep kea kare kapaut kabantah, palus lembut kapakat kabulat atei uka belum untung batuah.
(kuarahkan engkau sangku kearah barat agar ikut terbenam pula firasat dan mimpi buruk, terbenam pula segala bentuk perselisihan dan silang sengketa sehingga terbitlah rasa kebersamaan agar rezeki melimpah-ruah).

lnganjungku ikau toh sangku akan hila parnbelum, maka kilau to belom aseng nyaman ewen. belom kea tiruk itung, pikir-akal dan belom kea isi daha.
(kuarahkan engkau sangku kearah timur agar dengan demikian selalu sehat segar-bugar serta hidup pula cara berpikir mereka menuju kebahagiaan).

Inggatangkuh ikau toh sangku akan ngambu. Uka panju-panjung kea sewut saritan ewen, belom bauntung dan tuah bahambit.
(kuangkat engkau sangku keatas agar dengan demikian masyhur pula nama dan perbuatan baik mereka, penuh keberuntungan dan hidup bertuah serta berezeki)

Setelah itu sangku dan semua Syarat kimpoi Adat dibawa masuk dan disimpan didalam kamar pengantin.

Penanda Tanganan Surat Perjanjian kimpoi Adat.
Surat Perjanjian kimpoi Adat ditanda-tangani oleh kedua mempelai, diikuti oleh orang tua dan para saksi dad kedua belah pihak (biasanya 2 orang), Kepala Kampung/ Desa dan Damang Kepala Adat.

Upacara Ritual
Pada Agama Kaharingan Damang Kepala Adat melaksanakan : Mameteng Manas dan Lilis serta "Manyaki Panganten" dengan darah hewan yang dipotong untuk pasta pernikahan tersebut serta "manampung tawar" dan "mambuwur behas" diatas kepala kedua mempelai sembari mengucapkan doa secara Kaharingan.

Pada saat itu kedua mempelai duduk bersanding diatas sebuah gong besar sambil bersama-sama memegang tombak yang ditancapkan pada buah kelapa yang ditaruh dalam sebuah "sangku" yang berisi beras.

Selesai upacara Ritual tersebut, setelah makan malam bersama, pada Agama Kaharingan biasanya dilanjutkan dengan acara "Haluang Hapelek".

Salah satu bagian dari Acara Ritual Adat Dayak yang dilak¬sanakan oleh masyarakat Dayak adalah Tampung Tawar. "TampungTawar" dan "Mambuwur Behas" merupakan suatu acara dalam Adat-Istiadat masyarakat Dayak Ngaju yang maksudnya sebagai permintaan doa dan permintaan berkat kepa¬da Yang Maha Kuasa. Dalam upacara "Tampung Tawar" yang lengkap, doa yang disampaikan hampir sama dengan "Acara Manyaki".

Tokoh Adat yang melaksanakan Tampung Tawar atau Manyaki sambil mengucapkan doa dan harapan sebagai berikut :

Kilau kasadingen danum-tawar toh aku manyadingen paim. Maka sadingen kea aseng nyamam.

Inyadingengku likut tatap paim uka manalikut kare peres panyakit baratus arae, sampai kare baribu bitie. manalikut dahiang baya, nupi papa, sial-kawe, Pali-endus barutas matei.

lnyadingengku lawin tunjukm kilau panyurung tanjung maka mayurung kea kare pikir akal, tiruk itung tuntang isi daham.

Inyadingengku buntis tuntang tambang takepm uka manambang tuah rajaki, bulau pungkal raja, rabia tisik tambun.

lnyadingengku ututm, kilau utut tantungan tulang maka hatuntut kea kare tuah rajaki. untung ukur tuntang tahaseng panjang.

Inyadingengku lukapm hapa menekap panatau panuhan tuntang uang-duit ; sadingen kea mahaga anak jarian, esu-buyut, uka hagatang sewut sarita.

Inyadingengku sikum uka manyiku hagagian kare dahiang -baya. nupi papa, sial-kawe tuntang ganan taluh papa.

Inyadingengku hunjun baham hapa manyambaha kare panatau panuhan, belom batuah barajaki tuntang umur panjang.

lnyadingengku tulang salangkam, hapan manyalangka hagagian sial kawe, pali endus, barutas matei.

lnyadingengku balengkung tuntang bongkok tingangm uka batengkung kambang nyahun tarung nyangkelang kulam Baring ije beken.

Inyadingengku ijangm uka pander saritam babehat, bahari kilau sarip nyahu hakumbang langit.

Inyadingengku tutuk urungm uka mananturung tuah-rajaki, umur panjang belom panju-panjung.

lnyadingengku balaum uka mahalau kea kare peteh liau matei, janjin pangambu nihau, batu junjun karapurum mahunjun kambang nyahun tarung.

lnyadingengku kulukm uka ikau manakuluk panatau panuhan, barajaki belom baumur panjang.

Toh behas-danum maka kilau behas toh tau mangkar-manyiwuh, kalute kea panatau panuhan, manak manjaria pintar-harati, panju-panjung kilau batang garing belum gantu-gantung batuyang tambarirang, sihung garing tuya-tuyang, baumban suli langiran sampu unar jala.

Toh undus kajarian bangkang haselan tingang, minyak uring katilambang nyahu, kilau balau bakahut tau bakarak kalute kea pambelom heton panju-panjung baumur panjang.

Natisangku nyalung kaharingan belom mangat bitim belom sanang - mangat kilau asang suhun danum. haring manggigi tingkah ampah lawai baun andau.


Pencatatan Perkimpoian (Catatan Sipil)
Pada Agama Kristen pelaksanaan Pencatatan Perkimpoian oleh petugas Kantor Catatan Sipil, biasanya dilakukan di Gereja segera setelah selesai Acara Kebaktian Pemberkatan Nikah. Pada Agama Kaharingan, Pencatatan Perkimpoian oleh petugas Kantor Catatan Sipil pada esok harinya dirumah mempelai perempuan tempat pelaksanaan seluruh upacara perkimpoian.

Acara Resepsi
Resepsi Pesta Perkimpoian dilaksanakan pada hari kedua. Apabila pesta perkimpoian dilaksanakan di Kampung/Desa, tern-pat resepsi pesta perkimpoian langsung dirumah keluarga mem¬pelai perempuan. Di Kota umumnya selain dirumah keluarga mempelai perempuan juga dapat dilaksanakan disuatu gedung yang disewa khusus untuk maksud itu.

Cara menyampaikan undangan berbeda, di Kota dengan surat undangan secara tertulis dengan model kartu undangan yang dibuat khusus, sebaliknya di kampung/desa undangan cukup dilakukan secara lisan yang disebut "parawei".

Oleh karena itu, bilamana di Kota yang menghadiri undangan umumnya orang dewasa dan/atau pemuda-pemudi, sebaliknya di kampung/desa para kerabat dan rumah tangga umumnya juga membawa serta anak-anak kecil.

Rangkaian Akhir Pesta Perkimpoian
Untuk keluarga yang beragama Kaharingan acara terakhir berlangsung pada hari ketiga yang disebut "museh kuluk" yaitu pesta kecil untuk kalangan sendiri khusus memasak kepala hewan yang disembelih sehari sebelumnya.
Rangkaian akhir pesta perkimpoian dilingkungan keluarga Kristen dilaksanakan dalam bentuk Acara Kebaktian yang diselenggarakan pada hari kedua malam harinya.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:34 AM
#40
Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 6
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju 6
sumber : Adat Istiadat Dayak Ngaju diterbitkan LSM Pusat Budaya Betang Kalimantan Tengah [LSM PBBKT] 2003
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju [Kalimantan Tengah]


Spoiler for Perkawainan Menurut Adat Dayak Ngaju
2. Perkimpoian dengan Cara yang Tidak Lazim.
Ada beberapa cara perkimpoian yang tidak lazim namun sewaktu-waktu dapat terjadi, yaitu :
a. kimpoi Pahinje Arep
Kalau diterjemahkan "kimpoi pahinje arep" adalah hidup bersama atas kemauan sendiri.

Biasanya hal ini dapat terjadi akibat beberapa sebab misalnya :
- Akibat ketidak mampuan secara ekonomi balk untuk memenuhi syarat-syarat adat maupun biaya pesta perkimpoian.

- Akibat salah satu atau kedua pihak keluarga tidak merestui kehendak pasangan tersebut menikah ; dengan cara demikian dengan sendirinya memaksa pihak orang tua untuk merestui dan meresmikan perkimpoian mereka.

b. kimpoi Hatamput
kimpoi Hatamput artinya kimpoi lari. Terjadi atas kehendak bersama pasangan yang bersangkutan tanpa sepengetahuan orang tua. Biasanya dalam hal ini terjadi akibat hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua anak gadis tersebut. Pada bagian ini termasuk pula membawa anak gadis orang meskipun dengan cara paksa.

c.kimpoi Tungkun
Seorang laki-laki membawa lari isteri orang dan kemudian mereka minta dikimpoikan secara resmi oleh Damang Kepala Adat/ Mantir Adat.

d.kimpoi Nyakei/Manyakei
Kata Nyakei berarti naik. Biasanya lebih sering dilakukan oleh pihak perempuan (gadis atau janda) yang nekat membawa buntalan / tas pakaiannya kerumah/kekamar tidur seorang laki-laki, minta diperistri. Perempuan yang bersangkutan nekat tidak akan pulang kembali kerumah orang tuanya sampai mereka dinikahkan secara resmi.

Meskipun jarang terjadi, kimpoi Nyakei dapat juga dilakukan oleh pihak laki-laki. Yang bersangkutan nekat membawa buntalan/ tas pakaiannya kerumah seorang gadis dan tidak akan beranjak sebelum keinginannya dipenuhi dan mereka dikimpoikan menurut adat.

3. kimpoi Tulah.
Yang dimaksud dengan kimpoi tulah adalah suatu perkimpoian yang terpaksa dilakukan oleh karena pasangan tersebut meskipun dari segi usia mereka segenerasi, tetapi dari nisi silsilah secara total tidak sederajad.

Misalnya antara paman dan keponakan, antara kakek dan cucu atau sebaliknya antara keponakan dan bibi, antara cucu dan nenek.

Biasanya pasangan tersebut telah dipergoki melakukan perbuatan dosa hubungan seks yang menurut adat dilarang. Oleh karena mereka tidak menghiraukan teguran dari berbagai pihak maka masyarakat menuntut kepada Kepala Desa dan Damang Kepala Adat serta para Mantir Adat agar segera menuntaskan masalah tersebut untuk menghindarkan aib dan malapetaka bagi warga masyarakat dan desa.

Menurut Adat Dayak Ngaju, pasangan tersebut hanya dapat dikimpoikan melalui suatu upacara kimpoi yang sangat memalukan yang disebut kimpoi Tulah.

Prosesi upacara kimpoi Tulah sangat berbeda dengan upacara perkimpoian yang lainnya. Dalam upacara kimpoi Tulah, martabat kemanusiaan mereka direndahkan menjadi setingkat dengan binatang oleh karena perbuatan yang telah mereka lakukan tidak ubahnya perilaku binatang/babi.

Terhadap penyimpangan perilaku yang menyebabkan terjadinya perkimpoian melalui cara yang tidak lazim ataupun kimpoi tulah, dikenakan sanksi adat berupa denda adat yang disebut singer.


Isen Mulang Petehku
Page 2 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel