Tata Cara Adat/Upacara/Ritual
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
Total Views: 77161
Page 3 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 

TuaGila - 05/01/2010 01:53 AM
#41

kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah
sumber : -
keterangan : Adat dari suku Dayak


Spoiler for Prolog
Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Indonesia (MBAHKI) Periode Pertama, memberi penjelasan mengenai Tiwah sebagai berikut:

·”Tiwah adalah Upacara Terakhir dari rentetan upacarakematian bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan” (Lewis 1995:1).

·”Upacara Tiwah digelar dan dilaksanakan oleh keluarga (Dayak) yang masih hidup (apakah dia pemeluk Agama Kaharingan, Kristen maupun Islam), untuk anggota keluarganya yang telah meninggal dunia yang merupakan tuntunan kewajiban suci, dan bagi pemeluk agama Kaharingan, di samping kewajiban suci, kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan keimanan berdasarkan ajaran agama” (Lewis dan Simpei 1996: 1).

·”Tiwah adalah suatu upacara suci, kewajiban luhur dan mutlak dilaksanakan dan merupakan utang, yang terungkap akibat kematian keluarga. Mengapa demikian? Karena kematian keluarga menimbulkan “Pali” yang di dalam ajaran Agama Kaharingan, bahwa pali-pali akibat kematian anggota keluarga tersebut hanya dapat dihapus/dihilangkan dengan upacara “malapas pali” yang disebut Tiwah (Nantiwah Pali Belum). Mengapa Upacara Malapas Pali (Tiwah) tersebut dilakukan, karena pali dapat menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan diri pribadi, keluarga, masyarakat bahkan lingkungan, juga bagi almargumah/almarhum. Dan bagi mereka yang telah meninggal dunia, untuk melapangkan jalan menuju “Lewu Tatau Je dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Isen Kamalesu Uhate” (Tempat yang Maha Mulia yang disediakan Tuhan). Akibat buruk tersebut dapat dihindari hanya melalui atau dengan melaksanakan upacara Tiwah” (Lewis danSimpei 1996: 1).

Dalam pandangan para penganut agama Kaharingan jelas sekali bahwa Tiwah dilaksanakan dalam rangka kematian salah seorang anggota keluarga dan bukan dalam rangka “pembantaian orang Madura”seperti yang dituding oleh Buchari. Kemudian, Tiwah adalah kelanjutan dari dua acara keagamaan sebelumnya yaitu: Mangubur dan Manenga Lewu atau Balian Tantulak Matei.

Mengenai ritual kematian orang Dayak Ngaju, Anne Schiller, kini Profesor Anthropologi Budaya di North Carolina State University-USA dan telah melakukan penelitian serius terhadap perubahan yang dialami oleh Dayak Ngaju, walaupun bukan insider, memaparkan dengan baik proses ritual kematian Dayak Ngaju sbb.:

“Adherents of Hindu Kaharingan claim that the completion of three distinct ritual phases is necessary to process the dead and to ensure souls’ arrival in the Upperworld. The cycle commences withprimary treatment (mangubur), which includes the wake and primary disposal, usually by interment. The second phase, known as balian tantulak matei, mampisik liau, primarily consists of chants performed by ritual specialists to “separate” the souls of thedead-that is, to dispatch them to appropriate cosmological locations where they will await further processing-as well as to purge the deceased’shome of some of the pollution associated with death. It culminates with a riverine ablution of the bereaved kin who were present at the death, as well as those who were physically involved in primary treatment. The final phase, tiwah, completes the processing of the souls and the physical remains. It is followed by rituals to honor and benefit sponsors and their descendants (Schiller 1997: 35).

Acara Tiwah berkaitan erat dengan konsep roh atau jiwa yang dipercayai oleh orang Dayak Ngaju yaitu apabila mereka mati maka roh mereka akan terbagi tiga yaitu menjadi

1. Salumpuk teras liau atau panyalumpuk liau, roh utama yang menghidupkan ini pada saat meninggal dunia langsung kembali ke Ranying Mahatala Langit Sang Pencipta.

2.Liau balawang panjang ganan bereng, roh dalam tubuh yang dalam upacara Balian Tantulak Ambun Rutas Matei di hantar ke tempat yang bernama Lewu Balo Indu Rangkang Penyang.

3.Liau karahang tulang, silu, tuntang balau. Ini adalah roh yang mendiami tulang, kuku dan rambut. Pada saat mati roh ini tinggal di dalam peti mati.

Pada seorang Dayak Ngaju mati, ritual pertama yang dilakukan adalah Mangubur, yaitu menghantar mayat ke tempat pekuburan yang dalam bahasa Dayak Ngaju dibahasakan sebagai Bukit Pasahan Raung (Bukit Tempat Meletakan Peti Mati). Kemudian Tantulak Ambun Rutas Matei yang bertujuan untuk menghantar Liau balawang panjang ganan bereng ke tempat yang bernama Lewu Balo Indu Rangkang Penyang. Ini adalah tempat penantian sementara yang konon terletak di pada tahapan ketiga dari Sorga. Upacara yang terakhir adalah Tiwah yaitu menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkannya ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau.****


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 01:59 AM
#42

kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak


Spoiler for Upacara Tiwah
Upacara Tiwah atau Tiwah Lale atau Magah Salumpuk liau Uluh Matei ialah upacara sakral terbesar untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju yaitu Lewu Tatau Dia Rumpang Tulang, Rundung Raja Dia Kamalesu Uhate, Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang atau Lewu Liau yang letaknya di langit ke tujuh.

Perantara dalam upacara ini ialah : Rawing Tempun Telun, Raja Dohong Bulau atau Mantir Mama Luhing Bungai Raja Malawung Bulau, yang bertempat tinggal di langit ketiga. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya Rawing Tempun Telun dibantu oleh Telun dan Hamparung, dengan melalui bermacam-macam rintangan. Kendaraan yang digunakan oleh Rawing Tempun Telun mengantarkan liau ke Lewu Liau ialah Banama Balai Rabia, Bulau Pulau Tanduh Nyahu Sali Rabia, Manuk Ambun. Perjalanan jauh menuju Lewu Liau meli\ewati empat puluh lapisan embun , melalui sungai-sungai, gunung-gunung, tasik, laut, telaga, jembatan-jembatan yang mungkin saja apabila pelaksanaan tidak sempurna, Salumpuk liau yang diantar menuju alam baka tersesat. Pelaksana di pantai danum kalunen dilakukan oleh Basir dan Balian. Untuk lebih memahami uraian selanjutnya, beberapa istilah perlu diketahui :

Pengertian yang Perlu Dipahami

1. Jiwa atau Roh.
a. Jiwa/roh manusia yang masih hidup di dunia disebut Hambaruan atau Semenget.
b. Jiwa/roh orang yang telah meninggal dunia disebut Salumpuk Liau. Selumpuk Liau harus dikembalikan kepada Hatalla. Prinsip keyakinan Kaharingan menyatakan bahwa tanpa diantar ke lewu liau dengan sarana upacara Tiwah, tak akan mungkin arwah mencapai lewu liau. Bila dana belum mencukupi, ada kematian, pelaksanaan upacara Tiwah boleh ditunda menunggu terkumpulnya dana dan bertambahnya jumlah keluarga yang akan bergabung untuk bersama melaksanakan upacara sakral tersebut. Upacara besar yang berlangsung antara tujuh sampai empat puluh hari tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, namun karena adanya sifat gotong royong yang telah mendarah daging, maka segala kesulitan dapat diatasi. Tumbuh suburnya prinsip saling mendukung dalam kebersamaan menumbuhkan sifat kepedulian yang sangat mendalam sehingga kewajiban melaksanakan upacara Tiwah bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan didukung dan dilaksanakan bersama oleh mereka yang merasa senasib dan sepenanggungan.
c. Salumpuk Bereng yaitu raga manusia yang telah terpisah dari jiwa karena terjadinya proses kematian. Setelah mengalami kematian, salumpuk bereng diletakkan dalam peti mati, sambil menunggu pelaksanaan upacara Tiwah, salumpuk bereng dikuburkan terlebih dahulu.
d. Pengertian dosa

Tiga hukuman dosa yang harus ditanggung oleh Salumpuk liau akibat perbuatan semasa hidupnya :
1). Merampas, mengambil isteri orang, mencuri dan merampok. Hukuman yang harus dijalani oleh Salumpuk liau untuk perbuatan ini ialah menanggung siksaan di Tasik Layang Jalajan. Untuk selamanya mereka akan menjadi penghuni tempat tersebut. Di tempat itu pula Salumpuk liau harus mengangkat barang-barang yang telah dicuri atau dirampok ketika hidup di dunia. Barang-barang curian tersebut akan selalu dijunjung sampai pemilik barang yang barangnya dicuri meninggal dunia.
2). Ketidakadilan dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwewenang memutuskannya, yaitu para kepala kampung, kepala suku dan kepala adat. Mereka juga akan dihukum di Tasik Layang Jalajan untuk selamanya dalam rupa setengah kijang dan setengah manusia.
3). Tindakan tidak adil atau menerima suap atau uang “Sorok“ bagi mereka yang bertugas mengadili perkara di Pantai Danum Kalunen (dunia). Mereka akan dimasukkan ke dalam goa-goa kecil yang terkunci untuk selamanya.

2. Jenis dan Nama Peti Mati :
a. Runi yaitu jenis peti mati yang terbuat dari batang kayu bulat, bagian tengahnya dibuat berongga/diberi lubang dan ukuran lubang tengah disesuaikan dengan ukuran salumpuk bereng yang akan diletakkan di situ.
b. Raung yaitu peti mati terbuat dari kayu bulat, seperti peti mati pada umumnya, ada tutup peti pada bagian atas.
c. Kakurung, yaitu jenis peti mati pada umumnya terbuat dari papan persegi empat panjang, dengan tutup dibagian atas.
d. Kakiring, peti mati berbentuk dulang tempat makanan babi, kakinya berbentuk tiang panjang ukuran satu depa.
e. Sandung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan empat tiang.
f. Sandung Raung, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan enam tiang.
g. Sandung Tulang, berbentuk rumah kecil berukuran tinggi, dengan satu tiang.
h. Sandung Rahung, umumnya digunakan oleh mereka yang mati terbunuh. Sandung Rahung juga disebut Balai Telun karena Rawing Tempun Telun akan memberikan balasan kepada si pembunuh.
i. Tambak, di kubur di dalam tanah bentuknya persegi empat.
j. Pambak, juga dikubur dalam tanah, namun bentuknya sedikit berbeda dengan Tambak.
k. Jiwab, bentuknya menyerupai sandung namun tanpa tiang.
l. Sandung Dulang, tempat menyimpan abu jenazah.
m. Sandung Naung, tempat menyimpan tulang belulang.
n. Ambatan, patung-patung yang terbuat dari kayu dan diletakan disekitar sandung.
o. Sapundu, patung terbuat dari kayu berukuran besar dan diletakan di depan rumah.
p. Sandaran Sangkalan Tabalien yaitu patung besar jalan ke langit.
q. Pantar Tabalien yaitu Pantar kayu jalan ke lewu liau.
r. Sandung Balanga, yaitu belanga tempat menyimpan abu jenazah.

Upacara Tiwah adalah upacara sakral terbesar yang beresiko tinggi, maka pelaksanaan dan persiapan segala sesuatunya harus dilakukan dengan benar-benar cermat, karena kalau terjadi kekeliruan atau pelaksanaan tidak sempurna, para ahli waris yang ditinggalkan akan menanggung beban berat, diantaranya :

1). Pali akan pambelum itah harian .
2). Tau pamparesen itah limbah gawie toh .
3). Indu kakicas, pambelum itah harian andau .

Banyak persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya harus tersedia hewan korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, bahkan di masa yang telah lalu persyaratan yang tersedia masih dilengkapi lagi dengan kepala manusia. Makna persembahan kepala manusia ialah ungkapan rasa hormat dan bakti para ahli waris kepada salumpuk liau yang siap diantar ke Lewu Liau. Mereka yakin bahwa kelak di kemudian hari apabila salumpuk liau telah mencapai tempat yang dituju yaitu Lewu Liau, maka sejumlah kepala yang dipersembahkan, sejumlah itu pula pelayan yang dimilikinya kelak. Mereka yang terpilih dan kepala mereka yang telah dipersembahkan dalam upacara sakral tersebut, secara otomatis Salumpuk liau-nya akan masuk Lewu Liau tanpa harus di-tiwah-kan walau keberadaan mereka di Lewu Liau hanya sebagai pelayan. Namun di masa kini hal tersebut telah tidak berlaku lagi. Kepala manusia digantikan oleh kepala kerbau atau kepala sapi.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 02:03 AM
#43
Upacara Tiwah 2
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah 2
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak

Spoiler for Upacara Tiwah
Pelaksana upacara sakral

1. Balian

Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan komunikator antara manusia dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh kasat mata jasmani manusia. Balian menyampaikan permohonan-permohonan manusia kepada Ranying Hatalla dengan perantaraan roh baik yang telah menerima tugas khusus dari Ranying Hatalla untuk mengayomi manusia.
Tidak setiap orang sekalipun berusaha keras, mampu melakukan tugas dan kewajiban sebagai Balian. Biasanya hanya orang-orang terpilih saja. Adapun tanda-tanda yang mungkin dapat dijadikan pedoman kemungkinannya seorang anak kelak dikemudian hari bila telah dewasa menjadi seorang Balian, antara lain apabila seorang anak perempuan lahir bungkus yaitu pada saat dilahirkan plasenta anak tidak pecah karena proses kelahiran, namun lahir utuh terbungkus plasentanya, juga sikap dan tingkah laku anak sejak kecil berbeda dengan anak-anak pada umumnya, ia pun banyak mengalami peristiwa-peristiwa tidak masuk akal bagi lingkungannya.

2. Basir.
Basir seperti halnya Balian adalah mediator dan komunikator manusia dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh mata jasmani. Di masa silam, Basir selalu seorang laki-laki yang bersifat dan bertingkah laku seperti perempuan, namun untuk masa sekarang hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dalam dunia spiritual Basir memiliki kemampuan lebih, dalam hal pengobatan, khususnya penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mistik.

3. Telun atau Pisur
Telun atau Pisur adalah pangkat atau jabatan dalam agama Kaharingan. Telun bertugas hanya akan hal-hal yang berkaitan dengan upacara-upacara adat keagamaan. Telun tidak termasuk dalam jabatan atau anggota Kerapatan Adat. Dengan demikian Telun tidak punya suara dalam Putusan Kerapatan Adat.

4. Mahanteran
Mahanteran atau Manjangen adalah mediator dan komunikator manusia dengan Rawing Tempun Telun. Biasanya seorang Mahanteran atau Manjangen, selalu duduk di atas gong, sambil memegang duhung dan batanggui sampule dare .

Proses Pelaksanaan Upacara Tiwah

Diawali dengan musyawarah para Bakas Lewu , yang hasilnya diumumkan bahwa dalam waktu dekat akan diadakan Upacara Tiwah , sehingga siapapun yang berniat meniwahkan keluarganya mengetahui dan dapat turut serta. Setelah diumumkan, siapapun yang ingin bergabung terlebih dahulu harus menyatakan niatnya dengan menyebutkan jumlah salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah. Setelah pendataan jumlah salumpuk liau yang akan bergabung untuk diantarkan ke Lewu Liau, barulah ditentukan dengan pemilihan siapa dari para Bakas Lewu yang pantas menjadi “Bakas Tiwah” .

Setelah pemilihan Bakas Tiwah, barulah pembicaraan lebih detail dilaksanakan. Detail pembicaraan antara lain menyangkut jumlah kesanggupan yang akan diberikan oleh pihak-pihak keluarga yang telah menyatakan diri akan bergabung. Kesanggupan itu menyangkut masalah konsumsi, hewan-hewan yang akan dipersembahkan sebagai korban juga bersama memutuskan siapa pelaksana Upacara Tiwah itu nantinya, apakah Mahanteran atau Balian.

Disamping ditawarkan kebutuhan-kebutuhan upacara Tiwah sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga salumpuk liau, masih ada beberapa persyaratan yang wajib harus disediakan oleh pihak keluarga. Salah satunya, minimal wajib menyediakan seekor ayam untuk setiap Salumpuk liau. Upacara diadakan di rumah Bakas Tiwah, dengan waktu pelaksanaan ditentukan musyawarah. Pada hari yang ditentukan, semua keluarga berkumpul di rumah Bakas Tiwah.

Hari pertama :
Upacara diawali dengan mendirikan sebuah bangunan berbentuk rumah yang dinamakan Balai Pangun Jandau yang artinya mendirikan balai hanya dalam satu hari. Persyaratan yang harus dipenuhi ialah seekor babi yang harus dibunuh sendiri oleh Bakas Tiwah. Setelah Balai Pangun Jandau selesai dibangun, Bakas Tiwah melakukan Pasar Sababulu yaitu memberikan tanda buat barang-barang yang akan digunakan untuk upacara Tiwah nantinya dan menyediakan Dawen Silar yang nantinya akan digunakan untuk Palas Bukit.

Hari kedua :
Hari kedua mendirikan Sangkaraya Sandung Rahung yang diletakkan di depan rumah Bakas Tiwah, gunanya untuk menyimpan tulang belulang masing-masing salumpuk liau. Setelah itu seekor babi dibunuh diambil darahnya untuk memalas Sangkaraya Sandung Rahung. Di sekitar Sangkaraya Sandung Rahung dipasang bambu kuning dan lamiang atau Tamiang Palingkau, juga kain-kain warna kuning dan bendera Panjang Ngambang Kabanteran Bulan Rarusir Ambu Ngekah Lampung Matanandau .

Di hari kedua ini alat-alat musik bunyi-bunyian seperti gandang, garantung, kangkanung, toroi, katambung dan tarai mulai dibunyikan. Namun terlebih dahulu semua peralatan musik, juga semua perkakas yang akan digunakan dalam upacara Tiwah dipalas atau disaki dengan darah binatang yang telah ditentukan.
Pada hari itu pula seorang Penawur mulai melaksanakan tugasnya menawur untuk menghubungi salumpuk liau yang akan diikutsertakan dalam upacara Tiwah tersebut agar mengetahui dan memohon izin kepada para Sangiang, Jata, Naga Galang Petak, Nyaring, Pampahilep. Juga pemberitahuan diberikan kepada Sangumang, Sangkanak, Jin, Kambe Hai, Bintang, Bulan, Patendu, Jakarang Matanandau.

Mereka yang hadir dalam acara tersebut berbusana Penyang Gawing Haramaung, Baju Kalambi Barun Rakawan Salingkat Sangkurat, Benang Ranggam Malahui, Ewah Bumbun dengan memakai ikat kepala atau Lawung Sansulai Dare Nucung Dandang Tingang, serta di pinggang diikat dohong Sanaman Mantikei. Pada leher dikalungkan Lamiang Saling Santagi Raja. Ketika bendera dinaikkan di atas sangkaraya, mereka yang hadir baik laki-laki atau perempuan, tua, muda, berdiri mengelilingi sangkaraya, dilanjutkan Menganjan untuk menyambut dan menghormati para Sangiang yang telah hadir bersama mereka untuk mengantarkan Salumpuk liau menuju Lewu Liau.

Hari ketiga:
Pada hari ketiga, babi, sapi atau kerbau diikat di tiang Sangkaraya. Kemudian tarian Manganjan diawali oleh tiga orang yang berputar mengelilingi Sangkaraya. Semua bunyi-bunyian saat itu ditabuh, pekik sorak kegembiraan terdengar disana-sini, suasana meriah riang gembira. Pada hari itu beras merah dan beras kuning ditaburkan ke arah atas. Setelah Menganjan selesai, mulailah acara membunuh binatang korban. Darah binatang yang dibunuh dikumpulkan pada sebuah sangku dan akan digunakan untuk membasuh segala kotoran. Diyakini bahwa darah binatang yang dikorbankan tersebut adalah darah Rawing Tempun Telun yang telah disucikan oleh Hatalla.

Kemudian darah tersebut digunakan untuk menyaki dan memalas semua orang yang berada dalam kampung tersebut, juga memalas batu-batuan, pangantuhu, minyak sangkalemu, minyak tatamba, ramu, rakas, mandau, penyang, karuhei, tatau serta semua peralatan yang digunakan dalam upacara Tiwah itu. Di samping untuk memalas, darah binatang korban tadi juga dicampur beras, kemudian dilemparkan ke atas, serta segala penjuru, juga ke arah mereka yang hadir dalam upacara. Dengan melempar beras yang telah dicampur darah Rawing Tempun Telun tersebut diharapkan semua jadi baik, jauh dari segala penyakit dan gangguan, panjang umur dan banyak rezeki.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 02:04 AM
#44
Upacara Tiwah 3
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah 3
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak

Spoiler for Upacara Tiwah
Hari ke empat
Pada hari empat ini diyakini bahwa Salumpuk liau pun turut hadir serta aktif berperan serta dalam perayaan Tiwah tersebut namun kehadirannya tidak terlihat oleh mata jasmani. Salumpuk liau jadi semakin bahagia dan gembira ketika para keluarga, baik ayah, ibu, anak, paman, bibi, kakek neneknya hadir berkumpul di situ, dan menemui mereka yang hadir dalam perayaan tersebut, mereka menggosokkan air kunyit ke telapak tangan dan kaki mereka yang hadir, menuangkan minyak kelapa di kepala para tamu, sambil menuangkan baram dan anding serta menawarkan ketan, nasi, kaki ayam, serta lemak babi yang diakhiri dengan menyuguhkan rokok dan sipa .

Setelah itu di dekat Sangkaraya didirikan tiang panjang bernama Tihang Mandera yang maknanya pemberitahuan kepada siapapun yang datang ke kampung tersebut bahwa dalam kampung tersebut sedang berlangsung pesta Tiwah, berarti kampung tersebut tertutup bagi lalu lintas umum. Mereka yang belum memenuhi persyaratan yang harus dilakukan dalam pesta Tiwah, antara lain belum disaki atau dipalas dilarang menginjakkan kaki di kampung itu. Tidak mentaati aturan, resiko tanggung sendiri. kemungkinan ditangkap, pada hari itu pula dibunuh lalu ditaruh di Sangkaraya, dipotong kepalanya sebagai pelengkap upacara Tiwah.

Kemudian seorang penawur duduk di atas gong, sambil manangking Dohong Nucung Dandang Tingang. Pertama-tama penawur berkomunikasi dengan semua orang yang telah meninggal dunia untuk memberitahukan bahwa mereka yang nama-namanya disebut akan diantarkan ke Lewu Liau. Kemudian berkomunikasi dengan para Sangiang, Jata, untuk memohon perlindungan bagi semua sanak keluarga salumpuk liau yang ditiwahkan serta para hadirin yang hadir dalam upacara tersebut agar dijauhkan dari sakit penyakit serta jauh dari kesusahan selama terlaksananya upacara Tiwah tersebut.

Komunikasi selanjutnya ditujukan kepada setan-setan, kambe dan jin-jin agar tidak mengganggu jalannya upacara, jangan sampai terjadi kematian mendadak, orang terluka, sakit, jangan terjadi tulah malai dan jangan sampai terjadi perkelahian. Setelah itu Antang penghuni Tumbang Lawang Langit dipanggil untuk mengamati, serta menjaga kemungkinan datangnya musuh yang berniat mengganggu proses pelaksanaan upacara sakral tersebut. Setelah itu burung elang datang dan terbang melayang-layang di diatas tempat upacara Tiwah berlangsung untuk mengawasi suasana serta menjaga keamanan kampung itu.

Kemudian pada bangunan Balai Pangun Jandau diletakkan sebuah gong yang berisi beras kuning, rokok, sirih, maksudnya sebagai parapah bagi tamu-tamu dan para ahli waris Salumpuk liau yang sedang di-tiwah-kan juga diikat Sulau Garanuhing.

Selanjutnya penawur berkomunikasi kepada Gunjuh Apang Pangcono yaitu “Raja Pali“ Sang Penguasa segala bentuk larangan yang harus ditaati penduduk bumi. Pemberitahuan dan permohonan izin pelaksanaan Tiwah yang dilaksanakan selama tujuh atau empat puluh hari dimaksud untuk menghindari kesalahpahaman Raja Pali akan peristiwa sakral tersebut.

Proses selanjutnya didirikan Hampatung Halu, yang diikat sebutir manik hitam dengan tengang beliat yang ditanam pada tanah perbatasan kampung dimana upacara Tiwah sedang dilangsungkan dengan perkampungan lain yang tidak sedang mengadakan upacara Tiwah. Sejak hari itu hukum pali mulai dilaksanakan oleh para ahli waris Salumpuk liau. Batas waktu pelaksanaan hukum pali telah ditentukan yang artinya bukan selamanya.
Adapun larangan-larangan itu adalah sebagai berikut :
1. Pali makan rusa – dilarang makan rusa.
2. Pali makan kijang.
3. Pali makan kancil/pelanduk
4. Pali makan kelep dan kura-kura.
5. Pali makan kera.
6. Pali makan Beruk
7. Pali makan Buhis
8. Pali makan Kalawet
9. Pali makan Burung Tingang /Burung Enggang.
10. Pali makan Burung Tanjaku.
11. Pali makan Ahom .
12. Pali makan Mahar .
13. Pali makan Ular.
14. Pali makan Tahatung.
15. Pali makan Angkes.
16. Pali makan buah rimbang.
17. Pali makan daun keladi.
18. Pali makan ujau.
19. Pali makan dawen bajai- daun bajai.

Selain larangan menyantap beberapa jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, juga ada pali berkelahi. Bila terjadi perkelahian maka mereka yang berkelahi wajib membayar denda kepada Bakas Tiwah Jipen ije dan kewajiban potong babi, darah babi digunakan untuk menyaki mereka yang berkelahi.

Hari keempat :
Kanjan diawali oleh empat orang.

Hari kelima :
Hari ini Pantar Tabalien didirikan. Pantar Tabalien yaitu jalan yang akan dilalui salumpuk liau menuju Lewu Liau, berbentuk tiang yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi yang menjulang tinggi ke atas, dengan tinggi mencapai 50 sampai 60 meter dari tanah.


Pada hari ini pula hewan-hewan yang dikorbankan yaitu kerbau atau sapi diikat di sapundu dan mereka yang hadir mengelilingi sapundu tersebut, menganjan tanpa henti baik siang maupun malam. Saat itu pula Sandung dan Pambak tempat menyimpan salumpuk bereng mulai dibuat, yang setelah siap terlebih dulu dipalas dengan darah kerbau, sapi atau babi. Kemudian selama tujuh hari Sandung tersebut dipali yaitu selama tujuh hari mereka yang lalu lalang di kampung tersebut terkena pali dan wajib menyerahkan sesuatu miliknya berupa benda apa saja untuk menetralisir pali yang menimpanya. Kemudian Talin Pali diputuskan.


Sebuah Tajau atau belanga dengan ukuran besar dan mahal harganya diletakkan disamping patung besar yang terbuat dari kayu, namanya Sandaran Sangkalan Tabalien, Ingarungkung dengan Lalang Pehuk Barahan. Keyakinan suku Dayak belanga berasal dari langit ketujuh oleh karena itu siapapun yang ingin diantar ke Lewu Liau yang terletak di langit ketujuh wajib memenuhi persyaratan sebuah belanga, dan tentu saja juga menyediakan binatang-binatang korban karena sejak hari ke lima dan seterusnya akan banyak masyarakat berdatangan, berkumpul, bergabung menganjan mengelilingi hewan-hewan yang akan dikorbankan, baik siang maupun malam untuk menghormati Salumpuk liau yang segera akan dihantar ke tujuan. Keperluan masak memasak lebih dilengkapi lagi, bambu dan daun itik mulai dikumpulkan karena makanan akan dimasak di dalam bambu, kemudian dibungkus dengan daun itik.

Puncak Upacara

Terlebih dahulu oleh Bakas Tiwah, Basir dikenakan pakaian khusus yang memang telah dipersiapkan untuk upacara. Penawur dan masyarakat yang hadir untuk menyaksikan upacara telah berkumpul di Balai. Basir dan Balian didudukkan diatas Katil Garing dan siap memegang sambang/ ketambung . Posisi duduk Basir di tengah dan diapit oleh dua orang, serta empat orang duduk di belakangnya. Penawur mengawali Tatulak Balian yang artinya buang sial, maksudnya membuang segala bencana yang mungkin terjadi selama prosesi sakral berlangsung.

Salah satu persyaratan yang diminta oleh Hatalla dengan perantaraan Rawing Tempun Telun kepada mereka yang melaksanakan upacara Tiwah ialah sifat ksatria, memiliki keberanian luar biasa, gagah perkasa pantang menyerah. Sikap ini diekspresikan dengan datangnya sebuah Lanting Rakit dari sebelah hulu. Kedatangan rombongan tamu saat upacara Tiwah dengan membawa binatang-binatang korban seperti kerbau, sapi, babi, ayam, tidak begitu saja diterima. Mereka yang datang, terlebih dahulu di uji keberaniannya.

Begitu rombongan tamu turun dari lanting rakit yang ditumpangi, mereka disambut dengan laluhan, taharang dan manetek pantan. Batang kayu bulat yang panjangnya dua meter, diikat melintang pada tiang setinggi pinggang dan diletakkan di depan rumah Bakas Tiwah. Kepada tamu yang datang, Bakas Tiwah bertanya asal usul rombongan yang baru saja datang, tujuan kedatangan juga nama dan jenis binatang yang dibawa.

Kemudian rombongan tamu akan menjawab pertanyaan tersebut bahkan tidak lupa menceritakan tindak kepahlawanan yang pernah mereka lakukan. Untuk membuktikan kebenaran perkataan mereka, Bakas Tiwah meminta kepada para tamunya untuk memotong kayu penghalang yang ada di depan mata mereka. Bila mampu memotong hingga patah berarti benar mereka adalah para ksatria yang memiliki keberanian luar biasa, gagah perkasa pantang menyerah, baru kemudian mereka dipersilahkan bergabung.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 02:11 AM
#45
Upacara Tiwah 4
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah 4
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak

Spoiler for Upacara Tiwah
Hari ketujuh yang disebut hari manggetu rutas pakasindus yaitu hari melepaskan segala kesialan kawe rutas matei, pada hari ketujuh inilah salumpuk liau mengawali perjalanan menuju Lewu Liau diawali dengan penikaman dengan menggunakan tombak atau lunju pada binatang korban yang telah dipersiapkan, dan diikat di sapundu tempat dimana masyarakat yang hadir telah menganjan siang malam tanpa henti.
Tidak setiap orang diperkenankan menikam binatang korban, semua ada aturannya.

Cara pertama :
1). Bakas Tiwah menikam lambung kanan, dinamakan kempas bunuhan. Ia berhak mendapatkan paha kanan dari binatang yang ditombaknya.
2). Seorang perempuan ahli waris salumpuk liau, bekas tikamannya disebut pekas bunuhan. Ia berhak mendapatkan paha kiri dari binatang yang telah ditombaknya
3). Salah seorang wakil masyarakat yang hadir dalam upacara. Bekas tikamannya disebut timbalan bunuhan. Ia berhak mendapatkan dada dan jantung binatang korban yang telah ditombaknya.

Cara kedua :
1). Tikaman pertama dilaksanakan oleh Bakas Tiwah, kemudian ia berhak menerima paha kanan binatang yang telah ditombaknya.
2). Tikaman kedua oleh kepala rombongan yang datang dengan lanting rakit dan telah berhasil memotong pantan, ia berhak mendapat paha kiri binatang yang ditombaknya.
3). Tikaman ketiga oleh Bakas Lewu, kemudian ia berhak mendapatkan dada dan jantung binatang yang ditombaknya.

Disusul dengan Kanjan Hatue yaitu tarian kanjan yang hanya dilakukan oleh laki-laki. Selesai kanjan hatue dilanjutkan acara masak memasak mempersiapkan makanan untuk Sangiang, Nyaring, Pampahilep, Sangkanak, kambe, burung bahotok, burung papau, burung Antang.

Ada ketentuan cara memberi makan kepada mereka yang tidak terlihat mata jasmani yaitu dilempar ke arah bawah ditujukan kepada salumpuk liau yang sedang diantar ke Lewu Liau, lemparan ke arah kanan ditujukan kepada Raja Untung dan para Sangiang. Lemparan ke arah belakang ditujukan kepada Raja Sial. Kemudian diulangi lagi, ke arah belakang ditujukan kepada Sangumang dan Sangkanak, ke arah atas ditujukan kepada Bulan, Bintang, Matahari, Patendu, Kilat dan Nyahu. Selesai acara pemberian makan kembali masyarakat yang hadir berkumpul.

Tibalah saatnya salumpuk bereng digali/diambil dari tempat penyimpanan sementara. Tulang belulang yang ditemukan dikumpulkan, dan pada hari itu pula dimasukkan dalam tambak atau pambak atau sandung . Kemudian pantar didirikan dan dilanjutkan hajamuk atau hapuar. Upacara dianggap selesai apabila seluruh prosesi upacara telah dilaksanakan lengkap, dengan demikian keluarga yang ditinggalkan merasa lega karena telah berhasil melaksanakan tugas dan kewajibanya kepada orang-orang yang dicintai. Salumpuk liau telah sampai ke tempat yang dituju yaitu Lewu Liau.

Setelah hari ketujuh, Basir dan Balian diberi kesempatan beristirahat namun hanya sehari saja karena setelah itu acara akan dilanjutkan lagi selama tiga hari berturut-turut. Maksud acara lanjutan yang juga dilengkapi dengan potong babi, minum tuak/baram adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih oleh ahli waris salumpuk liau kepada para tamu yang telah hadir bersama mereka. Terima Kasih dan selamat jalan, itulah ungkapan yang ingin mereka sampaikan. Kepada Rawing Tempun Telun tidak lupa mereka selalu mohon perlindungan. Pada hari yang sama diadakan juga acara Balian Balaku Untung yaitu dengan perantaraan Rawing Tempun Telun mohon rezeki kepada Hatalla.

Sebagai ungkapan terima kasih kepada Basir, Balian, Mahanteran dan Penawur yang telah terlibat aktif sebagi perantara dalam semua prosesi upacara demi mengantarkan salumpuk liau ke lewu liau, tanda mata diberikan kepada mereka, bahkan ketika mereka yang melaksanakan upacara akan pulang ke kampung dan rumah mereka masing-masing, masyarakat yang telah turut hadir dalam upacara Tiwah berbondong-bondong mengantarkan mereka sampai ketempat yang dituju.

Balian Balaku Untung

Merupakan salah satu upacara adat yang bertujuan meminta umur panjang, banyak rezeki serta mendapat berkat dari Ranying Hatalla. Permohonan kepada Hatalla tersebut mereka lakukan dengan perantaraan Rawing Tempun Telun yang dalam upacara Balian Balaku Untung disebut Mantir Mama Luhing Bungai.

Dalam upacara ini persyaratan yang lazim disediakan ialah bawui buku baputi atau babi kerdil yang berwarna putih. Namun boleh juga kerbau atau sapi. Setelah segala macam persyaratan dan sesajen disiapkan, upacara segera dimulai. Diawali dengan seorang penawur, yang dengan sarana beras, menabur-naburkan beras ke segala arah. Dengan perantaraan seorang penawur, mereka memohon kepada roh beras yang ditawurkannya untuk menyampaikan kepada Mantir Mama Luhing Bungai agar bersedia turun ke bumi untuk menyampaikan persembahan mereka kepada Penguasa Alam.

Tidak lupa dengan perantaraan penawur pula mereka memohon izin kepada salumpuk liau atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia bahwa di bumi sedang diadakan upacara Balian Balaku Untung. Juga disebutkan alasan upacara tersebut mereka adakan. Adapun alasannya karena sebagai manusia yang masih harus melanjutkan hidupnya di Pantai Danum Kalunen, mereka masih membutuhkan rezeki dan umur panjang.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 02:18 AM
#46
Upacara Tiwah 5
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah 5
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak

Spoiler for Upacara Tiwah
Setelah roh beras yang ditawurkan naik menuju ke tempat Mantir Mama Luhing Bungai di Batang Danum Jalayan di langit ketiga yaitu di negeri Batu Nindan Tarung, pesan dan tujuan dilaksanakannya upacara adat tersebut disampaikan. Setelah dipahami maksud dan tujuannya, kemudian beberapa Sangiang mengambil alih tugas tersebut. Sangiang-sangiang itulah yang nantinya menjadi perantara manusia menuju Tahta Ranying Hatalla.
Para Sangiang yang sering kali terlibat dalam melaksanakan tugas tersebut, antara lain:
1. Mantir Mama Luhing Bungai.
2. Raja Tabela Basandar Ranjan Kanarohan Rinyit Kangantil Garantung.
3. Tarung Lingu, Kanyumping Linga, Asun Tandang Panangkuluk Enteng.
4. Bulan Pangajin Sambang Batu Bangkalan Banama.
5. Balu Indu Iring Penyang.
6. Haramaung Lewu Danum Jalayan.
7. Pambujang Linga.
8. Pambujang Hewang.

Sangiang-Sangiang yang bersedia menjadi perantara tersebut akan langsung turun ke bumi dan memasuki rumah tempat upacara dilaksanakan. Mereka tidak lama berada di rumah tersebut karena harus segera mengantarkan korban persembahan serta permohonan manusia ke hadirat Penguasa Alam. Mereka naik ke atas menuju langit ketujuh dengan melalui empat puluh lapisan embun.

Setelah melewati empat puluh lapisan embun, barulah mereka mencapai langit pertama, lalu langit kedua dan seterusnya. Setiap langit ada penjaga pintu gerbang, dan setiap penjaga gerbang berhak pula menerima sesajen yang khusus telah disiapkan bagi mereka. Apabila sesajen diterima dengan baik, lalu mereka menukar sesajen tersebut dengan Bulau Untung Panjang . Lalu mengutus salah seorang dari penjaga pintu gerbang setiap lapisan langit bergabung dalam rombongan untuk turut serta mengantarkan Bulau Untung Panjang menuju Tahta Ranying Hatalla.

Dengan demikian setiap melewati lapisan langit, jumlah rombongan menjadi semakin besar karena dari setiap langit yang dilalui, seorang sangiang akan turut serta. Dengan demikian setelah mencapai langit keenam, jumlah rombongan sangiang yang dipimpin oleh Rawing Tempun Telon atau Mantir Mama Luhing Bungai telah bertambah enam orang. Menjelang pintu ke tujuh, Raja Anging Langit telah menunggu di depan pintu gerbang langit ke tujuh untuk mengucapkan salam. Bersama Raja Anging Langit, turut serta Indu Sangumang yang nantinya akan bertugas mengetuk Pintu Tahta Kerajaan Ranying Hatalla.

Setelah memasuki pintu langit ketujuh, lalu ke Tasik Malambung Bulau, Tumbang Batang Danum Kamandih Sambang, Gohong Rintuh Kamanjang Lohing tempat tinggal Tamanang Handut Nyahu dan Kereng Tatambat Kilat Baru Tumbang Danum Nyarangkukui Nyahu Gohong Nyarabendu Kilat, tempat Raja Sapaitung Andau. Baru kemudian menuju Bukit Bulau Nalambang Kintan Tumbang Danum Banyahu.

Setelah itu menuju Bukit Tunjung Nyahu Harende Kereng Sariangkat Kilat. Disinilah Banama Tingang , kendaraan berbentuk perahu yang mereka tumpangi berhenti. Hanya tiga dari rombongan Sangiang tersebut yang melanjutkan perjalanannya menuju Tahta Ranying Hatalla.
Mereka adalah :
1. Mantir Mama Luhing.
2. Raja Tunggal sangumang.
3. Indu Sangumang.

Anggota rombongan lainnya hanya sampai di tempat tersebut dan harus bersabar menantikan ketiga temannya melanjutkan perjalanan menuju Tahta Ranying Hatalla. Sambil membawa Bulau Gantung Panjang atau Batun Bulau Untung yang telah diserahkan oleh para penjaga lapisan langit, ketiganya menuju ke tempat Raja Sagagaling Langit di Bukit Bagantung Langit, untuk membersihkan Bulau Batu Untung yang mereka bawa tersebut.

Dari tempat itu mereka pergi lagi menuju Bukit Garinda Hintan tempat Angui Bungai Tempulengai Tingang, lauk Angin Manjala Buking Tapang untuk mangarinda Bulau Batu Untung. Setelah itu dengan menumpang Lasang Nyahu, yaitu sejenis perahu yang melaju cepat, mereka menuju Bukit Hintan Bagantung Langit tempat kediaman Raja Mintir Langit. Di sana mereka membuka gedung tujuh tempat Putir Sinta Kameluh( . . . tidak terbaca, ns).

Lalu Indu Sangumang mengetuk pintu, kemudian masuk dan menghadap Singgasana Ranying Hatalla. Indu Sangumang memohon berkat bagi Bulau Batu Untung (. . . tidak terbaca, ns.) setelah berkat diberikan mereka kembali menuju arah Bukit Tunjung Nyahu, dan di tempat tersebut telah menunggu 40 Mantir Untung yang langsung meletakkan Bulau Batu Untung pada kendarah cinta kasih yang tak dapat direnggangkan oleh kekuatan apapun jua. Dengan demikian proses tugas para Sangiang telah selesai dan mereka kembali ke dunia dengan melalui tujuh lapisan langit, empat puluh lapisan embun, langsung menuju rumah di mana upacara sedang berlangsung.

Setelah menjelaskan segala sesuatunya kepada perantara dalam hal ini balian, maka para Sangiang pamit untuk kembali ke tempat mereka masing-masing, namun terlebih dahulu mereka menyantap sesajen yang telah disediakan khusus bagi mereka pada sebuah kamar.

Untuk pengecekan apakah permohonan tersebut dikabulkan atau ditolak dengan cara sebagai berikut:
Sebelum upacara dimulai, disediakan rotan yang panjangnya tujuh depa dan beras tujuh sukat. Panjang rotan benar-benar telah diukur oleh tukang tawur atau balian, panjangnya tujuh depa dengan disaksikan oleh banyak orang. Begitu pula beras sebanyak tujuh sukat. Setelah upacara selesai, diadakan pengecekan ulang. Apabila ukuran rotan menjadi lebih panjang yaitu lebih dari tujuh depa seperti hasil pengukuran semula, begitu juga jumlah beras lebih dari tujuh sukat, berarti permohonan mereka diterima dengan baik. Permohonan telah dikabulkan. Akan tetapi apabila setelah diukur kembali panjang rotan kurang dari tujuh depa, begitu pula jumlah beras kurang dari tujuh sukat, berarti permohonan mereka ditolak.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 02:21 AM
#47
Upacara Tiwah 6
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Tiwah 6
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak

Spoiler for Upacara Tiwah
Manawur Tamparan Munduk Balian Hapan Tiwah
(Bahasa Dayak Ngaju)

Bara solak tamparan munduk balian, palus mimbing behaas ietuh : Ehem behas, harenjet ganan, hai ganan, belum nantuguh labatang entang bulau, datuh labate habaring jari hampit riwut manyan Raja. Nyimak saturi malayu, Hapan juyang bangkang halelan tingang, runting tajahan burung nampasut, kilau nampasut tingang ije kadadang, nampuras tingkah nampuras bungai ije kapating, malugaku bitim kilau banama nyandang liara nampilaku balitam, netek ajung hatalumbang jadri hampalua uluh pantai danum kalunen bara balanai bintan penyang, nampahanjung luwuk kampungan bunu, bara busi renteng bapampang pulu, ie babalai sansiri koenjat antang, basali mangkuk sarangiring laut.

Kuntep kamaras, ban penu kaningagang sara dia jaka teburan garing tabela belum, dia jaka penankekei, bara usuk lisum pananjuri bara wain tapan, Terai nduan tambekan etuh ijamku enteng nasihku hanyim, nyahungku indum luang reawei, panati danum kalunen, akan jamban payaruhan tisue luwuk kampungan bunu, nyahuangku bitim, antang manamuei manajah riak renteng tingang, raja tabela basandar ranjang.

Nyangkabila balitan kenyui mangaja, mantilung kanaruhan ringgit, kangatil garantung, Katabelan oleh balai mihing nyapundu runjan anak Sali nyalung marusuk hintan, nyahuan ie tingang hadurat lunuk, akan pantai danum kalunen, nyangkabilae tambun nyalentur labehu, akan luwuk kampungan bunu, ije puna hampang jawah hempeng, palumpang langit busun kenyui juhai hanyi, panasiran Hawun. Ije mapan batu jadi randung banama namburak karangan jari talin pambuhui riwut hanya mananteng hanyin, burung lingu kanyumping linga, ason tandang panangkului enteng uluh lewu danum jalajan, uluh rindang labehu pali tuntang kare bulau pangajin sambang batu bangkalan banama. Balu indu iring pinang, uluh lewu danum jalayan, hayak manenteng hanyin katabelan uluh balai ltuyang katabelan uluh balai suling bulau, katabelan uluh balai entas,katabelan uluh balai nyaho, telu puluh ruang tuntang katabelan uluh balai Palangka nambulang tambun, anak salibayung antang, mahutu Penyang, uras nyahuan usang, hadurut lunuk hayak mandurut papan talawang mahapan tantang burung dahiang, malentui gentui daren lintung, hapaharis rayung baya tandak, lapik banama antng manamuei tapeting ayung, kenyui mangja.

Ie jari bitim behas, jadi barakandung peteh, pantai danum kalunen, entan bulau, batiang janjin, luwuk kampungan bunu, jadi peteh manyiret. Kilau lanting darai janji manalan. Mampahulang naharantung nyalung, te kareh tandakm panjang, halawu bumbung dawen purun, karungutm ambu harenda pandung, bulau tambun , jadi sukup tuntur, kilau bulan bele manyinai nenteng sukup palakue tingkah pahawang nangkunyahe tatau. Kilat baputi dia kanatah hintan, hijir bahenda dia nanggalung bulan, tawurku belum baun pingan rungan etan bulau bahanjung mangkuk saramurung laut, bahing jarambang, nipas marung garing gantungan, pusuk rawung bambau ukei, hayak enum bandadang, te palus manjakah behas tuh auch :

Ije, due, telu, epat, lime, jahawen, uju ije kalabien ketun sintung uju due kalambungan ketun lambung hanya, te palus manekap katambung, nampara nampulilang liau.
Toh ie auch :

Liiiiii liala – liaang liau matei randang are mananjung ambun. Saran kuwu bajumbang nihau nambahui rahu nawan bulan, palus teneng tendur gandang nyaring menteng randah are babalai bungking lunuk, rintuh rinau, tuwung siakung tatau, basali tanduh babulung bulau, mikeh are bunu baletuk ngandang andau panurean dare, talawang, batesei manturana pakaluyang bulau, are timpung jari tampahar harus laut, unduk ampah tanjung ambun buang, bulau balemu mantap kasalananggalung petak sintel manajung halentur liau, mahapan pahulanger bulan, tiling petak jajulana kahem pahulanger bulan nyaluluk. Te palus teneng gandang tambun jete, hapamuntung luang kalang labehu handalem rintuh rinau tuwung ihing . . . Hatalla baparung rangkang huang danum, sama manetep tuwung tambun rayung tatau, manipas ulek lawin lanting raja. Mangat sama ela balisang panjang ije gawang tingang rata ela balakas ambu, dinun due kasambutin antang awang matei hila ngaju, nasat kabangkang nayu-nayu, hasapau dawen birun bukit, hatingkap pusuk rahing tarung, awang matei junjun helu, nihau tutuk panambalun tambun, jadi nyahuangku buli batang danum katimbungan nyahu, gohong santik malelak bulau, tanjung rahu ngalingkang bulan halaliangku buli sandung garing, kamalesan karatu lumpung matanandau, bahalap nyapau pisih rarindap langit kamalipir burung piak liau, hakalusang patung.

Nyamping bulan lembut nyarahan andau pandang, pandang kaninding saramin sina rarajak saruk suling ringun tingang, kalalambang tambun, mateiu lunjang lenjut. Kanalantai lamiang kanungket bajihi tambun, bajihi bulau tarahan tawe-tawe manyamei halampat nyahu nangkuang burung piak liau hatarusan pantung baya tau mansanam kaban lumpat lawang langit ie gagahan Telun mama Tambun bunu kandayu lanting jahawen, kanyaki liau Randin tandang, meto rama batanduk garing, bahalap bajela rohong bakadandang uru jejerupan perun tambun.

Awang matei ,nambit mambahete halaiyangku buli bukit pasahang braung, kamalesang kereng rohanjang tulang, buli pampang raung, kamelasang kereng buli hatelangkup rabia, kanarah hanjaliwan matei lunjang lenjut, kanahintip talampe, tapalumpang limpet.

Bahalap nyaluang, uei ringka, pakur layang antang, nambaji garing handue uju hansasulang, kabantikan asai menteng ije tawae, jalan liau matei nabasan dohong, nakaje andau bunu nalanjat pandange , sama netep garing kapandukae munduk jiret sihung kabahena, kabahena bajanda, ela naharantung bahing pantung sambang, ela nyampilek bambi hengan lohing belum tumbang kapanjungan panjung, haring saluhan antang nahuei, bakulas aku muta tingang, parakanan renteng bantus manela bungai hajanjala tundu-tundu balaku badandang lantaran tanjung Ambun, jalangku manjurung tawur namuei langit balalu batehan laberuh luwuk enon, sandung danun dua kapamarau langit, tanduhangku mangkat entan bulan mangaja lambang bulau bara gantung totok timung tandak, liau matei sambile mangantau sambung santin karunya bapilu nihau ulang bajambilei, hindai aku mungkang tandakm, tawur ije halawu bumbung daren purun hindai menjung karungut etan bulau harende pandung, balau tambun –te palus malik tinai tekap sambang, te toh iye auch :

Manturan behas te iyoh-iyoh bitim tawur ela tarewen matei halawu bumbung daren purun, ela sabanen ajung hatilalian hariran etan bulan, harende pandunge balau tambun, basa tawangku panamparan belum, bara hemben horan.

Patiana pamalempang bara zaman totok panambalon tambun puna bitim behaas pantis kambang kabanteran bulau balitam etam bulau tahutun lelak lumpung matanandau, pantis kambang garing manyangen, ie hajamban teras kayu engang tingang hatatean lohing kayu anduh nyahu ie halalawu bukit kagantung gandang harenda kereng nunyang, malangka langit. Palus nangkalume putir Selung Tamanang ewen ndue Raja Nangking langit, mijen timpung uju hatantilap pahangan hanya hatalamping, ie palus hajanjuri hanjak, nyahu mangaruntung langit, panatekei humba kilat malambai ambun kapamalem malentur balitam, totok tambalun tambun hayak enon haganggupa ie palus kaput biti alem, pain bukit tunjung nyahu lilap, hanggupa tanda puruk kereng sariangkat kilat halawu. Petak sintel hambalambang tambun, harenda riang dedet habangkalan garantung. Belum tandah hakaluwah nyakelang uru jajarupen purun tambun, haring lamabat hambalaun nyampali, kanarah lintung talawang, ie duam kauju andau, belum nahabulun urung, naring tingkah singan behau belum runja-runjat ampin bilis manyang mananjak, pangarawang baun tiwing panjang hari tapu-tapu tingkah sahempun pasang bara tumbang danum, ie palus mandawen handadue manumbung dinun hatantelu, palus karimahan soho manggandang bara jalayan bulu, danum nyamuk pasang bara tumbang danum. Kueh maku leteng kambang nyahun tarung, puna bitim hai kuasam belum, tampan jata bara huang danum, enon suka nilap batu kilat tinting balitam datuh jema hamaring, puna selung Hatalla bara lawang labehu langit, ie umbet kanumpuh bujang, sedang handiwung kesampelau belum, te palus hatarung pulu ngalingkang pulau, luntur bahandang batinting lima balas.

Akan batang danum ngabuhi bulau burung tumpah bua nyembang hatuen burung kajajirak laut, palus mandung bitim marantep kilau hendan bulau, nangkuyang bilatamu nahajib tingkah lanting rabia, te bukum jadi handiwung pakandung pusue, sawang bapangku anak, pandung malelak bulau, ie umbet bula katugalam belum sadang bintang patendum hamaring.

Ie rawei banama baongkar puat, ajung jawu dagange handiwung banbaukei pusu pundung malelak bulau, bauhat rentai nyangkabilan bawak nambuku tisim, galigir bintang, nambatang suling, ringun tingang, mandawen simbel bulau bakatantan jari bulau jandau. Ie mangambang bulau, taparuyang rayuh, malelak hintan tapang rundang rundai babehat babatu pating, bateras nyalung Kaharingan belum. Baluhing gohong, paninting aseng, ie rawei awang hatue kamampan bunu nantaulah anju tanjuren teken.

Hababiyan karayan tantanjuk rangkan , bapa manambang bitim kilau manambang banana manungkah laut, manangkep balitam, ruwan manangkep ajung hatatean hareran.

Ie palus rawei masak manalajan pating ripu mangantien tundu palus nangkung nangkuluk gentu nanpung penyang. Nundun balitam tingkah nundum paturung, ie lentu-lentu oleh tingang tempun hemben horan naji-najing antang sangiang totok tambalun tambun palus nagaggre gangguranan arae, nasuwa sebutan bitim, ie parei, tangkenya mampan baun tiowong panjang parei karumis mampan jalan, parei tanjujik helang uhat


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 03:52 AM
#48

kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Warisan dan Angkat Anak
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju

Spoiler for
Pembagian Warisan Suku Dayak Ngaju

Tiga hal yang berkaitan dengan masalah warisan :
1). Ahli Waris, ialah orang yang berhak menerima harta /warisan.
2). Pewaris ialah orang yang memiliki harta benda tersebut
3). Warisan ialah harta benda yang ditinggalkan.

Urutan penerima waris menurut tradisi Dayak Ngaju ialah isteri, anak, cucu, anak angkat, saudara kandung, baru kemudian saudara ibu atau saudara bapak. Jenis kelamin tidak dibedakan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam pembagian warisan. Apabila yang meninggal tidak mempunyai anak, maka warisannya diserahkan kepada jandanya dan bagian lain diserahkan kepada orang tua dan saudara kandungnya. Akhir-akhir ini ada semacam perjanjian dalam perkawinan yang menegaskan bahwa apabila tidak punya anak, maka harta warisan diserahkan kepada janda atau dudanya . Apabila ada anak angkat, maka harta warisan itu jatuh kepada anak angkatnya.

Angkat Anak

Cara mengangkat anak angkat menurut tradisi Dayak adalah sebagai berikut: anak telah dipelihara dan dirawat dengan baik semenjak masih kecil, dengan disaksikan oleh Demang atau Kepala Adat, sekurang-kurangnya disaksikan oleh seorang Pembakal atau Kepala Kampung, dengan disertai upacara adat memotong hewan korban, boleh ayam atau babi, kemudian anak dipalas dengan darah binatang korban, lalu makan bersama dengan para pemuka kampung. Sejak itu anak dianggap telah sah diangkat sebagai anak angkat dalam keluarga barunya.


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 05/01/2010 03:57 AM
#49

kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Kematian
sumber : Maneser Panatau Tatu Hiang
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju

Spoiler for
Kematian

Apabila terjadi kematian dalam suatu keluarga Suku Dayak, baik karena sakit, mendadak atau karena mengalami kecelakaan, maka dengan seketika mereka, baik keluarga maupun keluarga terdekat akan berdaya upaya menyebarkan berita kematian itu kepada seluruh masyarakatnya secara luas.

Ada suatu tradisi dalam masyarakat, mengiringi kematian dengan suara garantung atau gong. Ketika ajal menjelang, jiwa terpisah dari raga, kepergian atau terlepasnya jiwa menuju alam lain diiringi dengan suara bamba atau titih, yaitu garantung atau gong dipalu tiga kali, dilanjutknan suara tiga buah gong yang dipalu bersaut-sautan diiringi karuau atau jerit tangis kaum ibu. Suara yang terdengar mampu menciptakan suasana mencekam, hati tersayat nyeri bak tertusuk sembilu. Suara gong ditalu kuat atau keras, namun dengan irama pelan, gong . . .gong . . .gong . . . selama kurang lebih setengah jam.

Apabila berita duka telah tersebar, yang disebarkan dengan cara berantai dari mulut ke mulut ataupun karena mendengar suara bamba atau titih gong yang bertalu-talu, dengan spontan penduduk kampung bereaksi menunjukan perhatian dan kepeduliannya kepada warganya yang sedang menerima cobaan. Sekalipun sedang bekerja di ladang, di rumah, di perahu, di hutan atau di manapun mereka berada, apabila suara titih atau berita kematian mereka dengar, segala kegiatan yang sedang dilakukan ditinggalkan begitu saja, berduyun-duyun mendatangi rumah duka, untuk memberikan dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kedatangan mereka ke rumah duka dengan membawa sumbangan duka berupa hasil bumi hasil usaha sendiri. Di rumah duka, setelah datang mendekati dan melihat wajah jenazah untuk terakhir kali, mereka mencoba menemui keluarga yang ditinggalkan untuk menyatakan dukacitanya, biasanya mereka bekerja bahu membahu, dengan cara gotong royong melakukan sesuatu untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Ada penduduk yang tanpa komando, langsung mengumpulkan kayu bakar, menyediakan tungku tempat masak memasak, menggelar tikar, dan banyak kegiatan yang dengan iklas mereka lakukan. Di rumah duka mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan suasana duka, tidak membuat kegaduhan, bicara pelahan, tanpa menunjukkan kegembiraan.

Jenazah diletakkan di tengah-tengah rumah, dan dikelilingi oleh kaum kerabat dan keluarga. Peti jenazah dibuat saat itu juga, bisa dalam bentuk raung, kakurung, runi, atau lainnya , yang disesuaikan dengan kemampuan atau persyaratan adat. Pembuatan peti mati dilaksanakan dengan cara gotong royong, pada saat itu juga. Peti mati yang umum dipakai ialah raung, yaitu peti mati yang dibuat dari batang pohon yang dibelah dua dan di bagian tengah dikerok untuk tempat meletakkan jenazah.

Pada sore hari, ibu-ibu akan datang dan berkumpul lagi di rumah duka untuk mandaring atau tidak tidur semalam, untuk menemani keluarga yang sedang berduka. Aturan tidak tertulis namun telah disepakati, bahwa apabila seorang telah ikut mandaring pada hari pertama, maka ia harus juga hadir mandaring di rumah duka tersebut selama tiga malam terus menerus. Apabila hal ini tidak ditaati, maka didenda karena telah dianggap melanggar adat.

Pada malam hari, dilaksanakan acara puar atau hapuar yaitu daun kelapa kering yang masih berlidi atau bambu kering yang dibuat menyerupai batang lidi, dibakar ujungnya, kemudian ujung yang berapi disentuhkan ke kulit tubuh pelayat yang malam itu berkumpul di rumah duka, boleh saling balas membalas atau menghindari sentuhan. Kegiatan ini menjadikan para pelayat yang mandaring di rumah duka menjadi tidak mengantuk, karena saling usik dan tidak boleh ada kemarahan. Pada saat penguburan, semua pelayat yang hadir dalam upacara akan turut berduka dan menundukkan kepala.

Tiga Tahapan Pelaksanaan Upacara Kematian suku Dayak

a. Penguburan, menyerahkan arwah yang meninggal kepada Raja Entai Nyahu yang tugasnya sebagai penjaga kuburan.
b. Tantulak Matei, untuk menjauhkan keluarga dari arwah yang meninggal dari segala bentuk kesialan dan kematian. Pemberitahuan kepada Duhung Mama Tandang bahwa seorang manusia telah meninggal, agar Duhung Mama Tandang turun ke bumi untuk memandikan arwah dengan Nyalung Kaharingan Belum dan mengantarkannya ke Lewu Bukit Nalian Lanting sampai kelak upacara Tiwah dilaksanakan.
c. Upacara Tiwah atau Ijambe atau Wara atau Nyorat . Arwah diantar ke Lewu Liau atau Surga dipandu oleh Rawing Tempun Telun.

Cara Merawat Jenazah Menjelang Penguburan

Arah meletakkan jenazah untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Jenazah seorang laki-laki, kepala diletakkan arah selatan, untuk perempuan, kepala diletakkan arah utara.
Setelah dimandikan oleh petugas yang telah ditentukan, lalu dikenakan pakaian. Setelah itu dibungkus dengan tujuh lapis kain, pada tangan kiri diletakan telur atau daun sawang, dan tangan kanan pinang muda atau pinang tua. Pada bagian mata, ditutupi tujuh lembar potongan kain, dan di atas potongan kain pada lapis teratas, diletakan batu atau uang putih. Pada lubang telinga dan lubang hidung, diberi penutup, lalu pada bagian ulu hati diletakan sasari atau mangkuk kecil. Kemudian dengan lawai atau benang lembut, jenazah diikat dari kepala hingga kaki. Ujung benang pengikat kaki, pada satu kaki diikatkan sepotong perak atau besi, dan kaki satunya lagi diikatkan sirih pinang dan rokok. Disamping kepala dan kaki diletakan mangkuk dan piring kecil.

Setelah semuanya siap, seorang perempuan yang telah ditentukan akan duduk di samping jenazah dan tangannya memegang daun sawang. Maksudnya menjaga jangan sampai jenazah dihinggapi lalat. Larangan yang harus ditaati oleh perempuan yang bertugas duduk disebelah jenazah, adalah pantang makan nasi. Ia hanya boleh makan sayur mayur selama menunggui jenazah.

Jenis peti mati ditentukan oleh ahli waris dan dibuat bersama-sama, gotong royong warga kampung. Setelah peti mati selesai dibuat, diletakan di sebelah jenazah menunggu sampai saatnya jenazah dimasukan ke dalam peti mati. Barang-barang yang dimilikinya selama hidup, diletakan di kiri kanannya. Barang-barang yang diletakan di sebelah kiri, yang antara lain pakaian, mandau, tombak, besei atau pengayuh, diletakan disebelah kiri, karena nantinya akan dibawa ke liang kubur untuk kemudian dibawa lagi ke Lewu Liau atau surga apabila upacara Tiwah telah dilaksanakan. Barang-barang yang diletakan di sebelah kanan, tidak dibawa ke liang kubur karena akan ditinggalkan sebagai warisan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sebelum jenazah dimasukan ke dalam peti jenazah, terlebih dahulu ahli waris menyediakan :
1). Beras satu mangkuk.
2). Garam satu mangkuk
3). patung dua buah. Yang sebuah terbuat dari batang pisang dan yang sebuah lagi terbuat dari bambu telang.

Apabila jenazah telah diletakkan di dalam peti mati dan ditaburi beras dan garam yang telah disediakan, kemudian seorang pisur atau petugas pelaksana upacara adat, melaksanakan tugasnya memanggil hambaruan atau semangat yang dimiliki oleh siapapun yang hadir dalam rumah duka. Lalu semua yang hadir meludahi kedua patung yang telah disediakan agar segala sial dan niat jahat siapapun yang hadir tidak terbawa oleh si mati, demikian pula segala sial dan malapetaka dari si mati jangan mengganggu yang masih hidup. Segala sial dan malapetaka, hanya akan dibawa dan ditanggung oleh kedua patung tersebut. Setelah upacara meludahi patung selesai, barulah barang-barang yang akan dibawa ke liang kubur, dimasukan ke dalam peti mati, baru kemudian peti mati dipasak atau dipaku.

Ketika jenazah telah dikebumikan, pada hari itu juga, di rumah duka disediakan dua buah ancak atau palangka atau tempat sesajen yang telah dilengkapi dengan sajen berupa makanan- makanan tertentu, lalu ancak tersebut digantungkan. Kedua sajen tersebut ditujukan kepada :
1). Roh baik yang telah mengusahakan segala sesuatunya hingga berjalan lancar tanpa halangan, maksudnya sebagai ungkapan terima kasih.
2). Ditujukan kepada Roh jahat agar tidak mengacaukan suasana dan jangan mengganggu ahli waris dan keluarga yang sedang dalam keadaan berduka.

Beberapa Cara Penguburan

1). Dibakar, abunya dimasukkan ke sebuah guci lalu disimpan di depan rumah.
2). Ada yang dalam tiga hari di kubur nguluhpalus, dan dalam waktu satu sampai tujuh (tidak terbaca, ns) harus diadakan upacara Tiwah
3). Bilit atau belit Orang yang telah meninggal dimasukkan ke dalam peti mati yang disebut runi, kemudian digantung di dalam hutan hingga (tidak terbaca, ns). Setahun kemudian, tulang diambil untuk ditiwahkan lalu tulang-tulang tersebut disimpan dalam Sandung Naung.
4). Dihanyutkan dalam air dengan upacara.
5). Niwah Palus. Maksudnya (tidak terbaca, ns) hari setelah meninggal diadakan upacara Tiwah.


Isen Mulang Petehku
localdisk - 09/01/2010 01:52 PM
#50

kaskus ID : Localdisk
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Kematian
sumber : www.google.com
keterangan : papua



Spoiler for ritual potong jari
Quote:
Apakah ungkapan kesedihan yang dipertunjukkan oleh seseorang yang kehilangan anggota keluarganya. Menangis, barang kali itu yang paling sering kita jumpai. Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah dan khususnya masyarakat Wamena ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja.

Biasanya mereka akan melumuri dirinya dengan lumpur untuk jangka waktu tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeda dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasi garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jari mereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.

Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.

pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau pun perempuan. Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah 'terulang kembali' malapetaka yang telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yang berduka.

Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita bahwa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika ia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh sang ibu karena beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, sang ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada sang bayi. Hal ini terdengar sangat eksrim, namun kenyataannya memang demikian, wanita asal Moni ini telah memberikan banyak cucu dan cicit kepada sang ibu.

Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.

Namun kini budaya 'potong jari' sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Yang masih dapat kita jumpai saat ini adalah mereka yang pernah melakukannya tempo dulu. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.


Spoiler for gambar
e-New - 10/01/2010 01:03 PM
#51

kaskus ID : e-New
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Adat suku Kaili Sulteng
sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=639&uid=
keterangan : Nolama Tai - Adat dari suku Kaili Palu


Spoiler for Nolama Tai
Upacara masa kehamilan pada suku bangsa Kaili dikenal 2 macam, yaitu upacara Nolama Tai (upacara selamatan kandungan pada masa hamil pertama) dan upacara Novero (upacara pengobatan apabila sang ibu yang hamil kurang sehat). Kedua upacara ini diuraikan secara terpisah walaupun kedua upacara tersebut sering dilaksanakan sekaligus.

Upacara ini adalah upacara selamatan kandungan pada kehamilan anak yang pertama apabila kandungan berusia 7 bulan. Upacara ini sering dinamakan No jemparaka manu (memisah-misahkan bagian daripada daging ayam) atau biasa disebut mantale (membuat sesajian). Nama-nama itu ditonjolkan sesuai dengan penonjolan dari bagian upacara ini yaitu memenggal bagian daging ayam untuk upacara sebagai sesajian utama dalam upacara Nolama Tai. Upacara ini bagi masyarakat Kaili berbeda kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan kedudukan sosial seseorang atau Vati seseorang dalam masyarakat.

Maksud Penyelengaraan Upacara

Tujuan upacara ini adalah dimaksudkan agar kelahiran sang bayi dapat berlangsung dengan selamat tanpa cacat jasmani dan rohani, serta keselamatan ibu yang akan melahirkan, dan juga agar ibu terhindar dari gangguan-gangguan rate. Dari mantera-mantera sando (dukun) diketahui bahwa tujuan upacara ini adalah agar anak yang lahir kelak tidak tuli, kudisan, bodoh, nakal, penyakitan, dan sebagainya. Menurut kepercayaan masyarakat Kaili bahwa leluhur mereka yang disebut rate selalu mengganggu dan menjadi sebab berbagai penyakit tersebut di atas, dan bagi bayi dalam kandungan apabila upacara diabaikan.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Upacara ini dilakukan pada siang hari sebelum matahari condong ke barat. Hal ini sebagai suatu simbol bahwa bayi yang akan lahir kelak memiliki sumber kekuatan dan tenaga serta murah rezeki. Usia kandungan yang diupacarakan berkisar antara 7 sampai 9 bulan dan pantang untuk bulan ke 8 karena dianggap bulan yang kurang baik. Penetapan waktu ditetapkan dengan seksama melalu ilmu Kotika dengan cara menghitung hari bulan di langit yang dianggap sebagai hari baik dan disepakati oleh dua belah pihak orang tua suami istri dan sando.

Tempat Penyelenggaraan Upacara

Upacara diselenggarakan di rumah dan tempat-tempat tertentu yang dianggap berkaitan dengan kekuatan magis religius, atau tempat yang dianggap dikuasai oleh kekuatan roh halus dan dihuni oleh rate di dalam dan di luar rumah. Di dalam rumah upacara ini dilaksanakan di beranda depan, yaitu di depan pintu rumah (tambale), sedangkan kalau di luar rumah disiapkan tempat tertentu sebagai tempat sesajian sesuai kondisi lingkungan desa bersangkutan.

Penyelenggaran Teknis Upacara

Upacara ini dipimpin oleh seorang dukun wanita (sando) yang dapat berkomunikasi dengan mahluk halus dan telah berusia lanjut. Tidak kurang peranannya ialah orang tua kedua belah pihak yang menyediakan korban upacara seperti kambing atau domba bagi keluarga bangsawan dan ayam bagi keluarga biasa.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini ialah para keluarga dari kedua belah pihak, terutama ibu-ibu yang sudah berusia lanjut. Selain itu juga yang berturut hadir mengikuti jalannya upacara tersebut ialah sanak keluarga dan tetangga yang bekerja mensukseskan pesta adat tersebut, khususnya di kalangan keluarga bangsawan. Sebab di ini ada pesta makan dengan menyembelih 2 ekor kambing sebagai sumbangan dari kedua orang tua suami istri. Bagi pihak suami wajib menyumbang kambing/domba jantan, sedangkan keluarga istri wajib menyumbang kambing/domba betina.

Persiapan dan Perlengkapan Upacara

Nolama bagi keluarga bangsawan umumnya mengadakan undangan pesta makan dari keluarga kedua belah pihak dan para tetangga. Bagi keluarga biasa, upacaranya sangat sederhana, masing-masing seekor ayam jantan sumbangan pihak laki-laki dan ayam betina sebagai sumbangan pihak istri. Di samping persiapan-persiapan hewan tersebut juga dipersiapkan perlengkapan upacara puncak, yaitu mantale njaka (upacara sesajian) dari sejumlah bahan makanan dan bahan-bahan perlengkapan adat lainnya.

Materi-materi yang dipersiapkan di sini ialah punti jaka (pisang rebus), koluku nikou (kelapa parut), marisa nete (lombok kecil), hati kerbau yang sudah dibakar (sate), nasi masak, dan darah kambing/ayam yang disembelih.

Benda-benda adat lainnya ialah sabala mesa (1 lembar sarung tenunan zaman dulu), samata doke (satu mata tombak), somata tinggora (satu mata tombak yang berakit), tatalu suraya ada (tiga piring adat), tatalu tubu (tiga buah mangkok), sang dula (satu dulang tempat penyimpanan barang-barang tersebut di atas).

Jalannya Upacara

Dalam upacara nolama bagi keluarga bangsawan, pertama ialah mengadakan undangan (pegaga), yaitu suatu undangan dengan jalan mengundang langsung dari rumah ke rumah jauh sebelum upacara diadakan. Bila telah tiba hari yang ditentukan, undangan-undangan dijemput kembali (neala) dari rumah ke rumah. Kegiatan ini disebut peonggotaka (suatu penghormatan dari keluarga yang berpesta) kepada orang tua adat.

Pada hari upacara diadakan penyembelihan kambing/domba yang disembelih tersebut dibakar/dipanggang di atas api (nilambu), sehingga seluruh bulu-bulunya habis terbakar. Maksudnya agar kulitnya dapat diproses menjadi bahan makanan. Sebelum dagingnya dipotong-potong hatinya diambil lebih dahulu yang biasa disebut nompesule (mengambil hati) dan langsung ditusuk dan dibakar sebagai bahan sesajian atau nilanjamaka (dijadikan sesajian). Selesai dipotong-potong, paha kanan dari domba/kambing tersebut digantung di depan pintu untuk bagian dukun. Di samping memproses daging-daging untuk dimasak, diadakanlah upacara nantalenjaka (upacara sesajian) di depan pintu rumah sebelum para undangan hadir.

Seluruh perlengkapan sesajian yang disebutkan di atas telah siap tersaji, dikeliling oleh ibu hamil dan ibu-ibu yang telah lanjut usia, sebagai peserta upacara inti tersebut. Dukun mulai nogane (mengucapkan mantera/sastra suci) dan duduk berhadapan dengan ibu hamil yang diupacarakan. Isi manteri antara lain meminta keselamatan/perlindungan kepada rate; arwah nenek moyang yang sudah meninggal disebut rate njae dan yang baru meninggal disebut rate vou. Maksudnya agar ibu tidak mengalami kesukaran pada waktu melahirkan.

Disamping membaca mantera tersebut dukun mengipas-ngipaskan daun kelapa (pucuk kelapa muda) kepada ibu hamil dengan isyarat melemparkan keluar jendela atau pintu. Maksudnya agar penyakit yang mennggagu dari sebab pengaruh rate tersebut dapat hilang atau keluar. Ada pula adat yang menggunakan banja mpagana (mayang pinang) yang disapukan di atas kepala ibu (tidak menggunakan pucuk kelapa muda).

Ada pula vati yang mengadakan upacara nolenggai tai, yang dianggap masyarakat Kaili sebagai adat Orang Bugis (vati ntobugi), yang pada umumnya dilaksanakan dikalangan keluarga bangsawan. Nolenga Tai (menggoyang-goyangkan) perut ini dilaksanakan oleh seorang dukun yang ahli. Cara pelaksanaannya ialah ibu hamil tadi tidur terlentang di atas 7 lapis sarung/kain, lalu dukun mengangkat kain tersebut satu persatu pada bagian belakangnya, sehingga perut perangkat dan digoyangkan selama tujuh kali. Maksudnya ialah agar posisi anak dalam kandungan menjadi baik, dan ibu tidak merasakan sakit pada bagian belakangnya. Di kalangan keluarga biasa hal ini kurang dilaksanakan.

Selesai acara tersebut dukun dan peserta upacara tersebut makan sebagian dari makanan sesajian tersebut, dan sebagian lagi dari makanan tersebut dibawa keluar rumah untuk sesajian di tempat tertentu baik yang sengaja dibuat dan atau di alam bebas seperti di pohon-pohon kayu besar, di tepi sungai, dan sebagainya yang diantar sendiri oleh dukun upacara ini yang disebut nompaura.

Sebagai acara penutup, dukun membuat/mempersiapkan tuvu mbuli. Tuvu mbuli berarti hidup berkembang biak dalam satu rumpun. Suatu simbol kehidupan yang ideal, yaitu dalam suasana dingin dan berketurunan banyak (Tuvu = hidup, Mbuli = standar).

Tuvu Mbuli tersebut tidak lain sebuali gelas/mangkok yang diisi air dan dedaunan yang melambangkan 2 hal tersebut, yaitu daun siranindi (setawar dingin) sebagai lambang ketenangan dan ketahanan hidup dari tantangan hidup, serta tava kodombuku, semacam pohon yang tahan hidup di musim kemarau, mudah berkembang biak dan akarnya lama usianya.

Selesai upacara tersebut dan setelah undangan hadir seluruhnya, maka diadakanlah pesta makan. Dengan demikian selesai upacara Nolama tersebut.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
e-New - 10/01/2010 01:05 PM
#52

kaskus ID : e-New
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Pemotongan tali pusat
sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=640&uid=
keterangan : Nompudu Valaa Mpuse - Adat dari suku Kaili - Sulteng

Spoiler for Nompudu Valaa Mpuse


Upacara ini dilaksanakan pada saat bayi lahir, yang dilakukan oleh sando mpoana (dukun bersalin). Upacara ini memotong tali pusat yang menghubungkannya dengan tembuni (tavuni).

Maksud dan Tujuan Upacara

Maksud dan tujuan upacara ini ialah memotong tali pusat yang masih bersatu dengan tembuni yang dipercayai sebagai dua mahluk yang harus dipisahkan. Karena itu upacara ini dilakukan dengan hidmat oleh dukun bersalin, agar roh tembuni tidak mengganggu bayi setelah keduanya terpisah.

Waktu Penyelenggaraan Upacara

Waktu penyelenggaraannya dilakukan pada saat sang bayi itu lahir, sesudah diurut-urut dan dimantera seperlunya tanpa menunggu lebih lama.

Penyelenggaraan Teknis Upacara

Upacara pemotongan tali pusat oleh dukun beranak (sando mpoana) yang dianggap ahli dan berpengalaman untuk itu. Dukun itu melayani masyarakat desa tanpa mengenal stratifikasi sosial. Pihak-pihak lain yang terlibat ialah keluarga dalam rumah atau yang datang berkunjung pada saat kelahiran. Mereka mempersiapkan segala sesuatu perlengkapan yang diperlukan oleh dukun setelah bayi lahir.

Persiapan yang diperlukan ialah uang logam yang bernilai 50 perak (dari suku-suku) dan uang perak bernilai 100 perak (dari rupiah). Alat pemotong tali pusat itu adalah sembilu dari bambu (benji), dan alat pengikat ujung tali pusat bana (benang) atau titinggi nggaluku (tali serat sabut kelapa merah yang masih muda), dan sering pula dengan serat kulit kayu balinjau (lui kuli nusuka). Perlengkapan lainnya ialah air panas yang hangat kuku untuk memandikan sang bayi setelah selesai pemotongan tali pusat tersebut.

Jalannya Upacara Pemotongan Tali Pusat

Setelah sang bayi lahir, dukun menutup kedua belah telinganya dengan uang logam (doi suku-suku) dan memotong/mengiris tali pusat di atas uang logam 100 perak (doi rupiah) tersebut dengan sembilu. Di saat tali pusat dipotong, di kolong rumah dibunyikan petasan (baracu). Selesai pemotongan ujung tali pusat yang berhubungan dengan anak tersebut diikat dengan tali seperti yang disebutkan di atas. Kemudian bayi tersebut dimandikan oleh dukun dengan air yang agak panas (uwe longo).

Bayi kemudian nibado (diberi pakaian) dengan cara melilit kain/sarung dengan agak ketat mulai dari kaki dan seluruh badan kecuali bagian muka, sehingga anak tidak dapat menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Ibu sang bayi dibersihkan dan diberi obat-obatan tradisional, agar kekuatannya pulih kembali, dan pada hari pertama dukun mengambil peran utama dibantu dengan keluarga/tetangga-tetangga yang datang.

Merawat Tembuni

Tembuni yang merupakan bagian dari pada bayi, itu dianggap sebagai kakak dari bayi, dipelihara dan disimpan selama satu minggu dalam belanga tanah yang baru setelah diberi garam dan asam yang dibungkus dengan kain kuning. Di atas belanga tersebut dihiasi dengan empat tusuk bawang dan kunyit sebagai kembang hiasan. Maksudnya agar tembuni merasa mendapat pelayanan dan hiburan sehingga tidak mengganggu saudaranya. Dengan demikian sang bayi tidak selalu menangis atau senyum dalam keadaan tidur karena digelitik oleh saudaranya (tembuni).

Upacara penanaman tembuni dilaksanakan bersama dengan upacara turun tanah dan naik ayunan. Dalam upacara penanaman tembuni tersebut seorang anak perempuan yang masih hidup kedua orang tuanya diberi tugas membawa tembuni tersebut dengan berselubung kain putih dari rumah ke tempat penanaman, dan seorang lainnya membawa makanan tembuni tersebut. Kedua anak tersebut dilarang berbicara atau dilarang untuk ditanya sepanjang jalan sampai dengan selesainya tembuni tersebut ditanam.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara

Pihak yang terlibat dalam upacara tersebut ialah dukun, orang tua bayi, anak-anak perempuan yang masih hidup kedua orang tuanya, dan keluarganya lainnya sebagai pendukung upacara tersebut.

Dalam upacara penanaman tersebut disediakan dua lubang masing-masing untuk penanaman tembuni dan bibit kelapa. Pohon kelapa tersebut merupakan simbol dari usia anak, dan atau bukti bahwa tembuni tersebut cukup mendapat perhatian dan menggembirakan anak kelak sesudah besar.

Pantangan selama masa kelahiran sampai dengan sebelum selesai nya upacara penanaman tembuni ialah bayi dilarang dibawa ke luar kamar atau ke luar rumah apalagi turun tanah.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

e-New - 10/01/2010 01:07 PM
#53

kaskus ID : e-New
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : Upacara Adat suku Kaili Sulteng
sumber : http://www.infokom-sulteng.go.id/budaya.php?id=642&uid=
keterangan : Nosaviraka Ritora - Adat dari suku Kaili Palu


Spoiler for Nosaviraka Ritora
Maksud dan Tujuan Upacara : Upacara ini bertujuan agar sang bayi sudah mempunyai tempat yang aman dari gangguan mahluk halus dan terhindar dari ganguan kakak-kakaknya yang masih nakal.

Tempat Pelaksaan Upacara : Upacara ini berlangsung dalam rumah, dan diperlengkapi dengan bahan-bahan upacara antara lain 4 macam makanan dari beras ketan, masing-masing disimpan di bawah ayunan, tengah rumah, satu baki untuk bagian dukun dan satu baki lagi untuk pangolo nu ngana kodi (bagian untuk bayi).

Dua baki tersebut diisi dengan aneka ragam makanan dan buah yang manis. Dimaksudkan agar sang bayi hidup dalam keadaan manis artinya bebas dari kesusahan dan penderitaan. Bayi tersebut oleh dukun dinaikkan dalam ayunan setelah melalui 7 orang ibu menerima dan mengoperkan bayi tersebut selama tiga kali bergilir. Dan akhirnya kembali ke tangan dukun dan meletakkan sang bayi di atas ayunan. Ayunan tersebut diberi kelambu, bantal, dan sarung bayi dari kain berwarna kuning.

Ada pula vati dalam keluarga pada masyarakat Kaili yang mengadakan upacara Nompesuvuki ngana (mengunjungi anak) yaitu suatu upacara di mana dari pihak nenek perempuan dari ayah sang bayi mengadakan kunjungan kepada bayi dengan satu upacara tertentu pula. Upacara ini bertujuan agar anak tidak berpenyakit mata (nageri), suka menangis (marenge), dan berwatak jorok (matontoru).

Nenek perempuan dari ayah sang bayi mempersiapkan bahan-bahan dari neneknya diantar kepada cucunya sejumlah bahan makanan dan keperluan dapur, seperti makanan dan sayur masing-masing satu belanga, kayu api, sagu, beras, pisang satu sisir, dan daun pisang 7 lembar. Alat-alat dapur antara lain tavolo (alat peniup api yang dibuat dari bambu), supi (penjepit arang api), sendok nasi, dan sayur masing-masing satu buah.

Makanan tersebut disajikan kepada ibu sang bayi (anak mantu), dan makanan tersebut harus diambil dengan dua belah tangan. Maksudnya agar susu ibu sang bayi tidak besar sebelah. Selesai makan, mertua mengikat botiga (sebutir emas) di lengan sang bayi, agar tenang tidur dan tidak gelisah. Acara ini dilangsungkan kapan saja sebelum hari ke 40 kelahiran anak.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
TuaGila - 11/01/2010 12:14 AM
#54
Tindak Tutur Tawur Hasapa
Kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU
sumber : nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju

Spoiler for
TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU: OTORITAS BAHASA DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLINGUISTIK (1) [/B]

Artikel ini merupakan kajian awal tentang penelitian antropolinguistik terhadap relevansi antara bahasa dan kebudayaan Dayak di Kalimantan Tengah. Dimuat pada Jurnal Suar Betang Vol.II Edisi Desember 2008.

1. Pengantar
Dalam beberapa tahun terakhir, derap perkembangan penelitian linguistik telah merambah ke luar dari patronnya, dari konteks mikrolinguistik menjadi penelitian linguistik interdisiplin yang terkait dengan ilmu-ilmu lain atau makrolinguistik. Salah satunya adalah cabang linguistik yang berhubungan dengan kebudayaan manusia yang dikenal dengan linguistik antropologi atau anthropolinguistik, atau sebagian lain menyebutkannya sebagai etnolinguistik. Masyarakat Indonesia yang beranekabudaya merupakan lahan yang luas untuk didalami dengan berbagai kajian dan penelitian dalam perspektif etnolinguistik, sehingga sebuah entitas budaya dapat hidup dan berkembang bersama-sama di tengah kebudayaan lainnya. Dalam hubungannya untuk tumbuh dan berkembang secara bersama-sama, pemahaman lintas budaya menjadi amat penting dalam rangka pemahaman keindonesiaan secara holistik. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menjadi kokoh manakala pemahaman lintas budaya dapat menjadi mozaik dari semua perbedaan bahasa, suku dan ras. Berdasarkan pengamatan Lauder (1995) dan Wahab (1999) bahwa dalam kurun waktu sekitar seperempat abad, minat linguis di Indonesia masih terpusat pada tataran sintaksis dan dengan pendekatan struktural. Kajiannya masih terfokus pada penganalisisan produk bahasa. Lagipula, para linguis kurang memakai data bahasa-bahasa Indonesia bagian Timur, bahasa yang diteliti cenderung bahasa-bahasa yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera. Berkaitan dengan hal tersebut, berdasarkan wilayah penelitiannya, wilayah Kalimantan hanya menempati 11,26% dari total wilayah penelitian di Indonesia, yang didominasi oleh penelitian pada wilayah Sumatera 31,87%, diikuti Jawa-Madura 24,76%, Bali-Nusa Tenggara 8,76%, Sulawesi 18%, seterusnya Maluku 4,74% dan terendah Irian Jaya 0,61%. Selanjutnya, berdasarkan jenis penelitian, penelitian tentang Struktur Bahasa menempati posisi terbanyak yaitu 67,65%, diikuti Sastra 16,46%, kemudian Dialektologi 9,12%, Sosiolinguistik 3,67%, dan terendah Pengajaran 3,10% (Lauder, 1999:1). Berpijak dari realitas tersebut, penelitian interdisiplin sudah sepantasnya semakin digalakkan terutama, kebijakan penelitian kebahasaan di daerah-daerah. Penelitian-penelitian tentang linguistik antropologi atau antropolinguistik menjadi sangat perlu untuk digesakan. Dengan demikian, di samping aspek kepentingannya bagi sumbangsih kepada ilmu pengetahuan, penelitian antropolinguistik juga bermanfaat bagi penggalian kembali kearifan lokal sebagai kekayaan kebudayaan nasional. Dalam konteks tersebut, ada kecenderungan bahwa bahasa sebagai sebuah produk budaya manusia tidak hanya terbatas pada fungsi komunikasi semata. Namun, bahasa juga mempunyai otoritas dalam hubungannya dengan kebudayaan dan pemaknaan oleh manusia itu sendiri. Lauder (2005:81) menyatakan bahwa antropologi linguistik merupakan salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan antara bahasa dan budaya terutama untuk mengamati bagai mana bahasa itu digunakan sehari-hari sebagai alat dalam tindakan bermasyarakat. Antropologi linguistik adakalanya disebut sebagai etnolinguistik (yang) menelaah bahasa bukan hanya dari struktur semata,tapi lebih pada fungsi dan pemakaiannya dalam konteks situasi sosial budaya. Kajian antropologi linguistik antara lain menelaah struktur dan hubungan kekeluargaan melalui istilah kekerabatan atau menelaah bagai mana anggota masyarakat saling berkomunikasi pada situasi tertentu seperti pada upacara adat lalu menghubungkan dengan konsep budayanya. Sebagai contoh, tindak tutur pendeta: “......dengan ini, kalian saya kukuhkan sebagai suami isteri....” adalah sebuah tindakan melalui bahasa yang mempunyai otoritas dalam masyarakat untuk mengukuhkan sepasang pengantin menjadi sepasang suami isteri yang sah secara hukum dan terterima oleh masyarakat,demikian juga misalnya tindak tutur seorang hakim ketika menjatuhkan vonis juga dapat dianggap sebagai tindakan melalui bahasa yang mempunyai otoritas untuk menghukum seseorang....



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:17 AM
#55
Tindak Tutur Tawur Hasapa 2
Kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU
sumber : nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju

Spoiler for
2. Tawur Hasapa dan Kekuatan Otoritas Bahasa dipandang dari Persepsi Sosial
Tawur adalah sebuah aktivitas sakral yang dilakukan oleh pemimpin adat Suku Dayak (Ngaju) di Kalimantan Tengah. Tawur merupakan sebuah tindak tutur ritual untuk menyampaikan semacam permohonan; doa kepada Sang Pencipta dalam bahasa Dayak Kuno (bahasa Sangen) yang diyakini mempunyai kekuatan tertentu untuk melakukan apa yang di luar nalar manusia. Sebagai sebuah permohonan atau doa kepada Sang Pencipta, ragam bahasanya harus baku dan tidak berubah-ubah sehingga pemaknaannya pun diharapkan tidak berbeda oleh Sang Pencipta. Eksistensi tawur yang secara etimologis berarti tabur atau proses menabur sesuatu (utamanya dengan media beras kuning) dan sarana penyampaiannya adalah sebuah bahasa. Hampir semua aktivitas ritual Kaharingan menggunakan tawur dalam penyampaian maksud manusia, antara lain permohonan (doa) untuk kesembuhan, ucapan syukur, dan lain-lain. Namun, dalam hal ini hanya dibatasi pada eksistensi tawur sebagai pengukuhan sumpah yang dikenal sebagai “Tawur Hasapa”. Tawur Hasapa merupakan sumpah yang dilakukan di hadapan manusia dan Tuhan dalam hal kebenaran atas apa yang diingkari seseorang terhadap lainnya dan Sang Pencipta. Sebagai sebuah bahasa ritual, ia menjadi tetap, uuh dan tidak berubah-ubah, baik secara formasi maupun semantik. Apabila terjadi perubahan dari aspek keutuhan bahasa maka akan memengaruhi makna dan pemaknaannya yang berdampak kepada pengabulannya, sehingga ia tidak mempunyai kekuatan otoritas untuk menghakimi sesorang atau ‘memutuskan’ dan ‘mengirimkan’ sebuah vonis sosial maupun moral bagi yang melaksanakannya. Tindak tutur yang diucapkan seorang pemimpin adat dalam hal ini menjadi sebuah otoritas bahasa yang mengukuhkan bahwa kedua belah pihak yang sedang berperkara akan mendapatkan keadilan Ilahi yang dimanifestasikan dalam berbagai aspek kehidupan secara jasmani dan rohani serta sosial-ekonominya. Demikian juga implikasi yang ditimbulkannya melalui pemaknaan budaya oleh masyarakat dan lingkungan sosialnya sebagai vonis sosial. Tindak tutur tersebut terwujud sebagai sebuah instrumen yang melembaga dalam hukum adat Suku Dayak Ngaju. Sebagai sebuah bahasa ritual, kekuatan bahasa yang mempunyai otoritas untuk melaksanakan tawur hasapa adalah bahasa Sangen atau bahasa Dayak Kuno. Ada sebagian pendapat menyebut bahasa Sangen sebagai bahasa Sangiang, terutama para peneliti Barat, seperti diungkapkan Baier dkk. dalam Worterbuch derPriestersprache der Ngaju Dayak, sebuah kamus bahasa Sangiang-Dayak Ngaju –Indonesia-Jerman (1987). Hal ini menyiratkan bahwa keduanya tidak terdapat perbedaan yang signifikan, jadi hanya masalah penyebutan saja karena bahasanya adalah sama. Bahasa Sangen—seperti halnya bahasa-bahasa kuno pada guyup budaya di Indonesia—memiliki kekayaan linguistika yang berupa—apa yang disebut Baier—sebagai semantic parallelism di dalam penyampaiannya. Hal ini juga berlaku pada bahasa ritual Suku Roti seperti yang dinyatakan Fox (dalam Baier et.al, 1987: xvi)...



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:18 AM
#56
Tindak Tutur Tawur Hasapa 3
Kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU
sumber : nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat dari suku Dayak Ngaju

Spoiler for
Semantic parallelism merupakan rangkaian penamaan referen sebuah bentuk bahasa yang dilambangkan dengan dua kata atau lebih yang mempunyai satu makna yang sama atau sebanding. Di dalam bahasa Sangen, banyak terdapat contoh hal tersebut, misalnya kata air diungkapkan sebagai nyalung kaharingan belum (zat alam yang memberikan kehidupan), hidup sebagai batang danum jalayan rengan tingang (sungai yang harus disusuri—umur; kehidupan), dan surga sebagai lewu tatau habaras bulau habusung hintan hakarangan lamiang (sebuah tempat yang kaya raya berpasirkan emas bergundukan intan dan berkerikilkan permata) dan lewu tatau dia rumpang tulang rundung raja dia kamalesu uhat hong batang danum tiawu bulau (sebuah tempat yang kaya raya, tempat di mana tidak ditemui keletihan dan kecapaian,di dunia yang lain yang penuh kegelimangan), Tuhan dilambangkan sebagai Raja Tuntung Matanandau, Kanarohan Tambing Kabanteran Bulan (Raja yang Menguasai (atau berkuasa atas) Matahari, Raja yang Menguasai (atau Melebihi) kebesaran Bulan. Seperti telah disinggung sebelumnya, bahasa Sangen mengandung unsur-unsur metaforis yang mempunyai aneka referen untuk melambangkan satu bentuk kata dengan tidak melepaskan satu kesatuan makna. Semantic parallelism yang melekat pada setiap tindak tutur Tawur Hasapa mencerminkan seperangkat kecerdasan linguistik yang hanya diwariskan secara lisan kepada para basir (pemimpin upacara adat). Untuk itu, diperlukan daya ingat yang tinggi serta ketepatan rima dan intonasi dalam melafalkannya. Hal tersebut dapat dilihat pada teks Tawur Hasapa yang ditulis ulang ini merupakan esensi yang sama dengan digunakan pada orang-orang yang berperkara dan tidak menemui penyelesaian melewati lembaga-lembaga yang dibuat manusia pada masa lalu. Tawur Hasapa ini pernah dilaksanakan oleh Tjilik Riwut mewakili 142 Suku Dayak Pedalaman Kalimantan di hadapan Presiden Soekarno di Jogjakarta dalam bersumpah-setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (1993:349). Data ini diambil dari buku tersebut tanpa ubahan apapun. Berikut prosesi dari acara Tawur Hasapa dan salinan teks tersebut. (Seorang basir/pemimpin upacara adat duduk sambil menimang beras kuning dan kemenyan, kunir, rotan, abu, garam, dan minyak kelapa. Lalu kedua pihak yang berperkara saling memegang seutas rotan di atas sebuah kayu sebagai alasnya dan setelah mengukuhkan sumpah berikut ia sambil memotong rotan diiringi kalimat-kalimat penyebutan nama-nama yang berperkara dan penaburan beras sedikit demi sedikit sampai habis dan diikuti dengan menabur abu dan garam) (Berdehem).....
”Ehem behas/mamparinjetku ganam/salumpuk kilau riak hendan bulau/namparuguhku labatam/pananterusan ruwan lantin rabia/lampang kamaitan gulung manarusan langit/timbuk kajayam/basikap mametas hawun/manuntung riwut raweiku/ manambing salatan tisuiku/mangat manyembang Raja Tuntung Matanandau/Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan/mangat Ie mahining/bulau tampak bengkele/manyantuh rantunan tanduke/manahingan rawei/hayak manantuneng/batantar sumpah tingang. Amun......(menyebut nama si yang berperkara) toh hangga auh tanjaru dia toto/ tatarawang kilau kawu/lenyoh kilau uyah/bageto kilau uei. Amun ie hanggap auh toto/te taloh jari bulau/untung panjang/rabia nyame ambu jari sapaungut belum/sapaling tahaseng/jari penyang/panundung tarung/patarung sariangkat tinting.



Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:21 AM
#57
Tindak Tutur Tawur Hasapa 4
kaskus id : TuaGila
kategori : Tata cara adat/upacara/ritual - artikel
bentuk karya : Tindak tutur tawur hasapa dalam budaya suku dayak ngaju
sumber : Nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat dari suku dayak ngaju

Spoiler for
secara etimologis dan terjemahan bebas artinya kurang lebih sebagai berikut. “ehem, beras kubangunkan rohmu/rohmu seperti riak cahaya emas/kugoncangkan rohmu/arwah bercahaya seperti kuning emas/timbul kemanjuran bergulung menerusan langit/menimbun kejayaanmu/bergerak berjalan menyingkap langit/meminta (kepada) angin panggilanku/supaya sampai (meminta kepada) raja tuntung matahari/raja tambing kebulatan bulan/supaya ia mendengar/(cahaya) keemasan telinganya/(manyantuh rantunan) puncaknya/mendengarkan perkataan/sekaligus mencermati/batantar sumpah orang (manusia)/. Kalau si................sampai (bersaksi) tentang kebohongan, tidak benar/(maka dia akan) beterbangan seperti abu/hancur seperti garam (menjadi air)/putus seperti rotan (yang dipotong)/kalau ia anggap benar perkataannya/(semuanya) akan menjadi emas (berkat)/rejeki tak putus-putus/menggenggam emas sepanjang hidupnya selamanya/panjang napas(nya) (panjang umur(nya))/menjadi berkat/menjadi jimat dalam mengangkat (harum namanya—raterangkat harkat martabatnya). Dalam bahasa ritual, kata atau kata-kata (frasa-frasa) seolah-olah memiliki daya atau kekuatan yang dapat melebihi muatan maknawinya. Kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki tersebut menunjukkan bahwa ada kecenderungan sebuah bahasa memiliki otoritas untuk membuat sesuatu tindakan terkukuhkan dan sah sebagai suatu keputusan yang mengikat. Tindak tutur seorang pemimpin adat seperti “.......amun......(menyebut nama si yang bersengketa) toh hangga auh tanjaru dia toto/ tatarawang kilau kawu/lenyoh kilau uyah/bageto kilau uei. Amun ie hanggap auh toto/te taloh jari bulau/untung panjang/rabia nyame ambu jari sapaungut belum/sapaling tahaseng/jari penyang/panundung tarung/patarung sariangkat tinting......” dianggap sah secara hukum adat sebagai suatu keputusan yang mengikat disaksikan oleh para saksi yang hadir dan tuhan, dengan segala konsekwensi yang diakibatkan oleh sumpah tersebut. Biasanya, setelah dilakukan prosesi tawur hasapa, persoalan yang disengketakan tetap pada penguasaan para pihak yang disengketakan, artinya jika berupa sengketa tanah/kebun maka pemilik sah dianggap menyerahkan kepada pemilik baru yang mengklaimnya, walaupun secara kebenaran bukan miliknya. Terdapat dua konsekwensi atas implementasi tawur hasapa tersebut: 1. Kepada pihak yang memutarbalikkan kebenaran dan fakta akan mendapatkan: “....bila ia berbohong/tidak (berkata) benar/beterbangan (rezeki dan kehidupannya) seperti abu/hancur (hidupnya) seperti garam/putus (nyawanya) seperti rotan (yang dipotong pada saat prosesi); dan hal ini juga merupakan sanksi sosial dan moral; 2. Kepada pihak yang tetap berpijak kepada kebenaran dan keadilan akan mendapatkan “.....bila ia (yang benar) berkata kebenaran/semuanya menjadi emas (kejayaan/berkat)/rezeki melimpah (tiada putus-putusnya)/menggenggam emas sepanjang hidupnya/(ber)umur panjang/menjadi jimat (berkat) dan harum namanya (serta harkat dan martabatnya terangkat. Lebih lanjut dapat dilihat bahwa terdapat banyak kata untuk merujuk kepada satu bentuk makna yang sama. Paralelisme semantisnya dapat dilihat pada kata rabia paralel dengan bulau dan labata yang sama-sama merujuk kepada satu makna emas, demikian pula pada kata ganan yang paralel dengan salumpuk yang berarti roh, rawei berparalel dengan tisui yang berarti perkataan; ujar, raja dan kanarohan yang berarti raja, dan ruwan dan kilau yang berarti seperti; dan mamparinjetku paralel dengan namparuguhku yang berarti kurang lebih sama yaitu membangunkan (roh) atau mengguncangkan/menggoyangkan (agar rohnya bangun). Hampir tidak ditemukan sebuah kata (kata-kata) yang sama dan diulang-ulang untuk merujuk kepada pengertian yang sama. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah bahasa atau bentuk ujaran seolah menjadi sarat makna; atau sedemikian adanya sehingga kesatuannya tidak dapat dibolak-balik, dipertukarkan atau dipakai berulang-ulang di dalam frasa yang berbeda-beda. Simbol-simbol metaforis yang terkandung di dalam teks tersebut merupakan segugusan medan makna yang menyiratkan betapa manusia dayak dan religi kaharingan memerlukan julukan sebagai nama lain dari nama tuhan. Hal ini seperti julukan tuhan sebagai raja tuntung matanandau, kanarohan tambing kabanteran bulan. Demikian pula halnya dengan kata (kata-kata) atau frasa-frasa yang kesemuanya menyiratkan tentang puja-puji dan kejayaan seperti simbol emas. Secara tekstual, komposisi tawur hasapa memuat tiga hal penting: 1) prolog berupa puja-puji kepada tuhan agar maksud dan permohonan dikabulkan. Hal ini dilihat dari pemakaian kata (kata-kata) dan frasa-frasa yang mempunyai kandungan semantic parallelism; 2) bagian isi yaitu kata atau frasa dari kesatuan kalimat yang penghakiman, keputusan, dan vonis; dan 3) bagian penutup yang merupakan kausalitas atas keputusan yang telah diambil dan implikasi yang ditimbulkannya berupa pengharapan-pengharapan, cita-cita, atau harapan-harapan lain masing-masing pihak di kemudian hari. Berkaitan dengan tindak tutur pemimpin adat di dalam ‘angkat sumpah’ seperti tawur hasapa demikian, para pihak yang ‘angkat sumpah’disaksikan oleh beberapa orang merupakan suatu aktivitas sosial yang berdampak pada hubungan antarkedua orang yang berperkara, antarkeduanya dengan masyarakat dan lingkungannya, dan antarkeduanya dengan sang pencipta.




Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:26 AM
#58
Tindak Tutur Tawur Hasapa 5
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU
sumber : nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat Dari Suku Dayak Ngaju

Spoiler for
3. Pemaknaan Tawur Hasapa dalam Konteks Kebudayaan Suku Dayak Ngaju
Kebudayaan Suku Dayak Ngaju dan religi Kaharingan merupakan dua kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Bahasa Sangen sebagai produk kebudayaan Suku Dayak Ngaju menjadi bahasa kuno yang hanya terdokumentasikan pada kitab-kitab ajaran Kaharingan. Implikasinya bagi kajian bahasa yang berkaitan dengan kebudayaan menjadi sangat jarang dilakukan. Hal ini terkait erat dengan dua aspek yang sulit untuk dipertemukan; satu sisi kajian bahasa yang dilakukan berdasarkan fakta-logis-empiris sebagai satuan dari kata dan frasa-frasa atau kalimat yang mengandung medan makna secara semantik dan leksikal (lihat Pateda, 2001), di sisi lain bahasa atau berupa kata (kata-kata) atau frasa-frasa dan bersifat oral tersebut memuat kandungan perspektif teologis yang profan, sakral dan dapat menimbulkan persepsi yang berbeda. Di dalam kehidupan sosialnya, masyarakat Suku Dayak Ngaju juga mengenal berbagai perangkat etika normatif yang tidak tertulis dan mengikat seluruh individu. Individu sebagai bagian dari sebuah masyarakat diatur di dalam tatanan kehidupan yang memberikan toleransi dan rasa keadilan bagi individu lainnya. Namun, sebagai manusia kadang-kadang terjadi pula rasa kurang puas, ketidakadilan dan berbagai bentuk ketidakpuasan lainnya yang memunculkan adanya rasa untuk mengembalikan semua persoalan manusia tersebut kepada Tuhan sebagai Pihak yang Mahatahu. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hubungan sosial antarsesama individu, misalnya perebutan kepemilikan tanah/kebun, pertanggungjawaban seseorang terhadap aib, dan pembohongan publik atas sebuah kasus pembunuhan, biasanya diselesaikan melalui mekanisme hukum adat. Namun, sebagian lain yang bersifat kasuistik juga tidak menaati hukum yang berlaku.Dalam representasi itulah, peran Tawur Hasapa menjadi sebuah jalan terakhir. Dalam persepsi kebudayaan, Suku Dayak memandang bahwa eksistensi Tawur Hasapa menjadi sebuah titah terakhir Tuhan kepada individu yang dapat menyingkap makna hakiki tentang kebenaran. Kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh kekuasaan yang tidak tampak; kekuasaan Tuhan dengan segala aspek di luar rasio dan nalar manusia. Dengan demikian, keadilan akan berpihak kepada kebenaran yang tidak dapat dimanipulasi dalam bentuk dan dalih apapun. Implikasi yang ditimbulkannya pun (awalnya dipandang sebagai mitos) memberikan sanksi sosial yang bermacam-macam, di antaranya kematian yang tidak wajar bagi pihak yang berbuat curang atau melakukan kebohongan, menderita penyakit yang sukar disembuhkan, atau kelainan kejiwaan/gila. Sedangkan di pihak yang tetap pada jalur kebenaran akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan kehidupannya beserta keturunannya. Karena kesakralannya, tindak tutur Tawur Hasapa menjadi peristiwa yang langka di masa kini karena hampir semua kebutuhan untuk mendapatkan keadilan duniawi telah terlembaga melalui mekanisme perangkat hukum positif. Di samping itu, majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk dikenalnya agama dan kebudayaan baru menjadikan tindak tutur tersebut sebagai bagian dari sejarah kebudayaan dan kearifan lokal Suku Dayak Ngaju yang seolah terlupakan. Dalam perspektif budaya, adat yang ada dan dikenal secara turun-temurun merupakan tuntunan bagi segenap kehidupan manusia, dan manusia harus diarahkan olehnya (dan dapat mengarahkan dirinya), supaya ia jangan sesat di jalan yang benar (Scharer dalam Ugang, 1983:51).


Isen Mulang Petehku
TuaGila - 11/01/2010 12:28 AM
#59
Tindak Tutur Tawur Hasapa 6
kaskus ID : TuaGila
kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel
bentuk karya : TINDAK TUTUR TAWUR HASAPA DALAM BUDAYA SUKU DAYAK NGAJU
sumber : nyahudayak.blogspot.com
keterangan : Adat Dari Suku Dayak Ngaju

Spoiler for
4. Penutup
Otoritas sebuah bahasa terutama bahasa ritual menjadi sarat makna, tetap dan tidak berubah-ubah, menjadikan Bahasa Sangen (Dayak Kuno) digunakan pada hampir semua aktivitas untuk berkomunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Melalui media Tawur Hasapa, esensi pencarian kebenaran yang hakiki oleh manusia merupakan jalan terakhir untuk mendapatkan pengadilan yang juga hakiki. Masyarakat Suku Dayak Ngaju memandang eksistensi Tawur Hasapa sebagai sarana penghukuman sosial, moral, dan budaya bagi individu yang tidak menemui solusi pada institusi hukum adat yang ada. Sanksi moral, sosial dan budaya tersebut telah menjadi momok yang membuat efek jera atau isolasi sosial bagi individu yang bersengketa. Di dalam fungsionalitasnya sebagai media komunikasi (terutama bersifat verbal), peran bahasa memiliki otoritas yang melebihi muatan semantisnya, misalnya dalam sebuah tindak tutur. Ia juga dimanifestasikan sebagai sarana untuk menghukum, menghakimi, bahkan mematikan karakter sosial individu yang sengaja untuk mempermainkan nilai-nilai hakiki tentang kebenaran.
Sumber Rujukan
Baier, Martin, August Hardeland and Hans Scharer. 1987. Worterbuch der Priestersprache der Ngaju-Dayak. Kamus Bahasa Sangiang—Dayak Ngaju—Indonesia—Jerman. Dordrecht-Holland/Providence-USA: Foris Publication Hardeland, August. 1859. Worterbuch Dajacksch—Deutsches. Kamus Bahasa Dayak—Jerman. Amsterdam: Druck Von C.A Spin and Sohn Lauder, Multamia RMT. 1999. “Derap Perkembangan Linguistik”, dalam Telaah Bahasa dan Sastra yang disunting oleh Hasan Alwi dan Dendy Sugono. Jakarta: Pusat Bahasa. Halaman 183—199. ______________. 2005. Berbagai Kajian Linguistik. Artikel yang diterbitkan sebagai bagian dari Bahasa Sahabat Manusia: Langkah Awal Memahami Linguistik. Depok: FPIB-UI Pateda, Mansur. 2001. Semantik Leksikal. Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta Riwut, Tjilik. 1993. Kalimantan Membangun: Alam dan Kebudayaan. Disunting oleh Nila Riwut dan Agus Fahri Husein. Yogyakarta: Tiara Wacana Ugang, Hermogenes. 1983. Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran. Studi tentang Kehadiran Kristen di Dunia Kaharingan di Kalimantan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.++++


Isen Mulang Petehku
putralingga - 12/01/2010 09:31 AM
#60

kaskus ID :PutraLingga

kategori : Tata Cara Adat/Upacara/Ritual

bentuk karya : Upacara adat "mandi kasai"

sumber : http://www.kabarlinggau.com/2010/01/traditional-ceremony-mandi-kasai.html

keterangan : Upacara adat "mandi kasai" dari kota Lubuklinggau Sumsel

UPACARA ADAT MANDI KASAI

Upacara adat mandi kasai merupakan salah satu tradisi yang telah berkembang sejak dulu di kalangan masyarakat Kota Lubuklinggau. Tradisi ini di laksanakan pada saat pernikahan antara Bujang dan Dere. Upacara adat ini sebagai gambaran betapa tingginya penghargaan yang di berikan masyarakat terhadap suatu pernikahan. pernikahan dalam pandangan tua-tua adat, tokoh masyarakat dan masyarakat pada umumnya sebagai suatu yang sangat sakral

Page 3 of 7 |  < 1 2 3 4 5 6 7 > 
Home > KASKUS CORNER > CINTA INDONESIAKU > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual > Tata Cara Adat/Upacara/Ritual - Artikel