Minangkabau
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau
Total Views: 36405
Page 2.5 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

andreandhika - 04/11/2009 02:05 PM
#31

Adat Perka-winan V

Spoiler for Isi

8. Malam Bainai

Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita. Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku.

Lazimnya dan seharusnya acara ini dilangsungkan malam hari sebelum besok paginya calon anak daro melangsungkan akad nikah. Apa sebab demikian ?

Pekerjaan mengawinkan seorang anak gadis untuk pertama kalinya di Minangkabau bukan saja dianggap sebagai suatu yang sangat sakral tetapi juga kesempatan bagi semua keluarga dan tetangga untuk saling menunjukkan partisipasi dan kasih sayangnya kepada keluarga yang akan berhelat. Karena itu jauh-jauh hari dan terutama malam hari sebelum akad nikah dilangsungkan semua keluarga dan tetangga terdekat tentu akan berkumpul di rumah yang punya hajat. Sesuai dengan keakraban masyarakat agraris mereka akan ikut membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, baik dalam persiapan di dapur maupun dalam menghias ruangan-ruangan dalam rumah. Pada kesempatan inilah acara malam bainai itu diselenggarakan, dimana seluruh keluarga dan tetangga terdekat mendapat kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang dan memberikan doa restunya melepas dara yang besok pagi akan dinikahkan.

Selain dari tujuan, menurut kepercayaan orang-orang tua dulu pekerjaan memerahkan kuku-kuku jari calon pengantin wanita ini juga mengandung arti magis. Menurut mereka ujung-ujung jari yang dimerahkan dengan daun inai dan dibalut daun sirih, mempunyai kekuatan yang bisa melindungi si calon pengantin dari hal-hal buruk yang mungkin didatangkan manusia yang dengki kepadanya. Maka selama kuku-kukunya masih merah yang berarti juga selama ia berada dalam kesibukan menghadapi berbagai macam perhelatan perkimpoiannya itu ia akan tetap terlindung dari segala mara bahaya. Setelah selesai melakukan pesta-pesta pun warna merah pada kuku-kukunya menjadi tanda kepada orang-orang lain bahwa ia sudah berumah tangga sehingga bebas dari gunjingan kalau ia pergi berdua dengan suaminya kemana saja.

Kepercayaan kuno yang tak sesuai dengan tauhid Islam ini, sekarang cuma merupakan bagian dari perawatan dan usaha untuk meningkatkan kecantikan mempelai perempuan saja. Tidak lebih dari itu. Memerahkan kuku jari tidak punya kekuatan menolak mara bahaya apa pun, karena semua kekuatan adalah milik Allah semata-mata.

Dibeberapa nagari di Sum Bar acara malam bainai ini sering juga diawali lebih dahulu dengan acara mandi-mandi yang dilaksanakan khusus oleh wanita-wanita disiang hari atau sore harinya. Maksudnya kira-kira sama dengan acara siraman dalam tradisi Jawa. Calon anak daro dibawa dalam arak-arakan menuju ke tepian atau ke pincuran tempat mandi umum yang tersedia dikampungnya. Kemudian perempuan-perempuan tua yang mengiringkan termasuk ibu dan neneknya, setelah membacakan doa, secara bergantian memandikan anak gadis yang besok akan dinobatkan jadi pegantin itu.

Jika kita simpulkan maka hakikat dari kedua acara ini untuk zaman kini mempunyai tujuan dan makna sbb:
1. Untuk mengungkapkan kasih sayang keluarga kepada sang dara yang akan meninggalkan masa remajanya,
2. Untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin yang segera akan membina kehidupan baru berumahtangga,
3. Untuk menyucikan diri calon pengantin lahir dan batin sebelum ia melaksanakan acara yang sakral, yaitu akad nikah,
4. Untuk membuat anak gadis kelihatan lebih cantik, segar dan cemerlang selama ia berdandan sebagai anak daro dalam perhelatan-perhelatannya.

Bagi orang-orang Minang yang mengawinkan anak gadisnya di Jakarta, acara-acara ini juga sudah lazim dilaksanakan. Tetapi untuk efisiensi waktu dan pertimbangan-pertimbangan lain seringkali kedua acara tersebut pelaksanaannya digabung menjadi satu. Acara mandi-mandipun dibuat praktis tanpa harus benar-benar mengguyur si calon pengantin, tapi cukup dengan memercikkan saja air yang berisi haruman tujuh kembang itu di beberapa tempat ditubuhnya.


Tata busana

Untuk melaksanakan acara ini calon pengantin wanita didandani dengan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah. Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan nampak terbuka.

Untuk serasi dengan suasana, maka orang-orang yang hadir biasanya juga mengenakan baju-baju khusus. Teluk belanga bagi pria dan baju kurung ringan bagi wanita, begitu juga ayah bunda dari calon anak daro.

Disamping itu biasanya juga disiapkan beberapa orang teman-teman sebaya anak daro yang sengaja diberi berpakaian adat Minang untuk lebih menyemarakkan suasana.


Tata cara

Jika acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolis maka di salah satu ruangan di atas rumah ditempatkan sebuah kursi dengan payung kuning terkembang melindunginya. Sesudah sembahyang Magrib kalau tamu-tamu sudah cukup hadir, maka calon anak daro yang telah didandani dibawa keluar dari kamarnya, diapit oleh gadis-gadis kawan sebayanya yang berpakaian adat.

Untuk memberikan warna Islami, keluarnya calon anak daro dari kamarnya ini disambut oleh kelompok kesenian yang mendendangkan salawat Nabi yang mengiringkannya sampai duduk di kursi yang telah disediakan. Seorang dari saudaranya yang laki-laki, apakah kakaknya atau adiknya, berdiri dibelakangnya memegang payung kuning. Ini maknanya ialah bahwa saudara laki-laki yang kelak akan menjadi mamak bagi anak-anak yang akan dilahirkan oleh calon pengantin merupakan tungganai rumah yang bertanggung jawab untuk melindungi dan menjaga kehormatan saudara-saudaranya dan kemenakan-kemenakannya yang wanita.

Setelah itu dua wanita saudara-saudara ibunya berdiri mengapit dikiri kanan sambil memegang kain simpai. Ini maknanya : menurut sistem kekerabatan matrilinial, saudara-saudara ibu yang wanita adalah pewaris pusako yang berkedudukan sama dengan ibu anak daro.

Karena itu dia juga berkewajiban untuk melindungi anak daro dari segala aib yang bisa menimbulkan gunjingan yang dapat merusak integritas kaum seperinduan.

Walaupun acara mandi-mandi dilaksanakan secara simbolik, kecuali ayah kandungnya maka orang-orang yang diminta untuk memandikan dengan cara memercikkan air haruman tujuh macam bunga kepada calon pengantin wanita ini hanya ditentukan untuk perempuan-perempuan tua dari keluarga terdekat anak daro dan dari pihak bakonya. Jumlahnya harus ganjil. Umpamanya lima, tujuh atau sembilan orang. Dan yang terakhir melakukannya adalah ayah ibunya.

Jumlah ganjilnya ini ditetapkan sesuai dengan kepercayaan nenek moyang dahulu yang mungkin mengambil pedoman dari kekuasaan Tuhan dan peristiwa alam, atau karena angka-angka ganjil selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa sakral. Seperti sembahyang lima waktu, langit berlapis tujuh, sorga yang paling diidamkan oleh seorang Muslim juga sorga ketujuh. Tawaf keliling Ka'bah dan Sa'i pulang balik antara Safa dan Marwa dilaksanakan juga tujuh kali.

Pada beberapa kenagarian calon anak daro yang akan dimandikan itu selain disiram dengan air yang berisi racikan tujuh kembang, maka tubuhnya juga dibaluti dengan tujuh lapis kain basahan yang berbeda-beda warnanya. Setiap kali satu orang tua selesai menyiramkan air ketubuhnya, maka satu balutan kain dibuka, dst.'

Jika acara mandi-mandi ini dilaksanakan secara simbolik, maka air haruman tujuh bunga itu dipercikkan ketubuh calon anak daro dengan mempergunakan daun sitawa sidingin. Tumbukan daun ini dikampung-kampung sering dipakai diluar maupun diminum, ia berkhasiat untuk menurunkan panas badan. Karena itu disebut daun sitawa sidingin.

Acara memandikan calon anak daro ini diakhiri oleh ibu bapaknya. Setelah itu kedua orang tuanya itu akan langsung membimbing puterinya melangkah menuju ke pelaminan ditempat mana acara bainai akan dilangsungkan.

Perjalanan ini akan ditempuh melewati kain jajakan kuning yang terbentang dari kursi tempat mandi-mandi ke tempat pelaminan.

Langkah diatur sangat pelan-pelan sekali karena kedua orang tua harus menghayati betul acara itu yang mengandung nilai-nilai simbolik yang sangat berarti. Setelah sekian tahun ia membesarkan dan membimbing puterinya dengan penuh kehormatan dan kasih sayang, maka malam itu adalah kesempatan terakhir ia dapat melakukan tugasnya sebagai ibu bapa, karena besok setelah akad nikah maka yang membimbingnya lagi adalah suaminya.

Kain jajakan kuning ini setelah diinjak dan ditempuh oleh calon anak daro, segera digulung oleh saudara kali-lakinya yang tadi waktu acara mandi-mandi memegang payung kuning. Tindak penggulungan kain kuning itu mengandung harapan-harapan, bahwa si calon anak daro benar-benar melakukan perkimpoian itu cukuplah satu kali itu saja seumur hidupnya. Kalaupun akan berulang, maka itu karena maut yang memisahkan mereka.
andreandhika - 04/11/2009 02:07 PM
#32

Adat Perka-winan VI

Spoiler for Isi

Bainai

Jika acara memandikan calon anak daro hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, maka acara melekatkan tumbuhan inai ke kuku-kuku jari calon pengantin wanita Minang ini dapat dilakukan oleh siapa saja. Dapat pula dimintakan untuk dilaksanakan oleh tamu-tamu yang dihormati malam itu, bisa oleh keluarga calon besan.

Ada beberapa kenagarian di SumBar, acara bainai ini juga dapat dilakukan bersamaan dengan mengikutsertakan calon pengantin pria. Tapi duduk mereka tidak disandingkan, dan kalaupun ada yang langsung mempersandingkan maka tempat calon pengantin pria tidak di sebelah kanan, tetapi di sebelah kiri calon pengantin wanita.

Kuku jari yang diinai sama juga dengan acara mandi-mandi, harus ganjil jumlahnya. Paling banyak sembilan.

Menurut tradisi di kampung dulu, kesempatan pada acara bainai ini setiap orang tua yang diminta untuk melekatkan inai ke jari calon anak daro setelah selesai biasanya mereka berbisik ke telinga anak daro. Bisikan-bisikan itu bisa berlangsung lama, bisa sangat singkat.

Maksudnya mungkin untuk memberikan nasehat-nasehat yang sangat rahasia mengenai kehidupan berumahtangga, atau bisa juga hanya sekedar seloroh untuk membuat si calon anak daro tidak cemberut saja dihadapan orang ramai.

Pelaksanaan kedua acara ini biasanya dipimpin oleh perempuan-perempuan yang memang telah ahli mengenai pekerjaan ini yang dibeberapa daerah di Sum Bar disebut uci-uci.

Seringkali juga pada malam bainai ini acara dimeriahkan dengan menampilkan kesenian-kesenian tradisional Minang. Di daerah pantai Sum Bar, hiburan yang ditampilkan lazimnya ialah musik gamat dengan irama yang hampir sama dengan lagu-lagu senandung dan joget Melayu Deli, sehingga mampu untuk mengundang orang secara spontan tegak menari menyambut selendang-selendang yang diulurkan oleh para penyanyi dan penari-penari wanita.


(Sumber : Tata Cara Perka-winan Adat Minangkabau)
andreandhika - 04/11/2009 02:10 PM
#33

Adat Perka-winan VII

Spoiler for Isi

9. Penyambutan Di Rumah Anak Daro
Bila akad nikah dilangsungkan dirumah calon mempelai wanita, bukan di mesjid, maka acara penyambutan kedatangan calon mempelai pria dengan rombongannya di halaman rumah calon pengantin wanita akan menjadi sebuah acara besar.

Acara ini sering juga disebut sebagai acara baralek gadang dengan menegakkan marawa-marawa Minang sepanjang jalan sekitar rumah. Menyiapkan pemain-pemain musik tradisional (talempong dan gandang tabuik) untuk memeriahkan suasana. Menyiapkan payung kuning kehormatan serta pemegangnya untuk memayungi calon pengantin pria. Kemudian juga dipersiapkan barisan galombang adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda berpakaian silat untuk membuka jalan, dan dara-dara berpakaian adat yang akan menyuguhkan sirih secara bersilang dari pihak tuan rumah kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang datang, dan dari fihak tamu yang datang kepada ninik mamak yang ada dalam rombongan yang menanti.


Tata cara

Secara garis besar ada empat tata cara menurut adat istiadat Minang yang dapat dilakukan oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dalam menyambut kedatangan calon mempelai pria yang dilangsungkan pada empat titik tempat yang berbeda pula di halaman rumahnya.

Pertama, memayungi segera calon mempelai pria dengan payung kuning tepat pada waktu kedatangannya pada titik yang telah ditentukan di jalan raya di depan rumah. Atau kalau rombongan datang dengan mobil, pada titik tempat calon mempelai pria ditentukan untuk turun dari mobilnya dan akan melanjutkan perjalanan menuju rumah dalam arak-arakan berjalan kaki.

Kedua, penyambutan dengan tari gelombang Adat timbal balik oleh pemuda-pemuda yang disebut parik paga dalam nagari dengan memberikan penghormatan pertama dan menjaga kiri kanan jalan yang akan dilewati oleh rombongan.

Pada satu titik dipertengahan jalan kedua barisan gelombang ini akan bersobok dan pimpinannya masing-masing akan melakukan sedikit persilatan. Ini mengambil contoh pada perkimpoian di kampung-kampung dahulu di ranah minang, ketika seorang pemuda harus dikawal oleh kawan-kawannya sepersilatan di dalam perjalanan menuju ke rumah calon isterinya yang berada dikampung lain. Kampung isterinya ini juga dikawal oleh pemuda-pemuda yang selalu siap siaga menjaga keamanan. Sehingga tidak jarang antara kedua kelompok pemuda ini sering terjadi salah paham sehingga mereka saling menunjukkan kelihaian mereka dalam bersilat. Karena itulah dalam pertemuan dua barisan gelombang itu sampai sekarang tetap ada acara persilatan sejenak yang berhenti setelah seorang ninik mamak maju ketengah melerai mereka dengan carano adat.

Kemudian acara selanjutnya dengan barisan dara-dara limpapeh rumah dan gadang yang menyonsong mempersembahkan sirih lengkap dalam carano adat bertutup dalamak secara timbal balik dalam gerakan menyilang antara yang datang dan yang menanti.
Ketiga, sambah-manyambah antar juru bicara pihak tuan rumah dengan juru bicara rombongan calon mempelai pria yang dilangsungkan tepat di depan pintu gerbang sebelum masuk ke pekarangan rumah calon mempelai wanita. Menurut adatnya sambah-manyambah di luar rumah ini diawali oleh juru bicara pihak calon pengantin wanita sebagai sapaan kehormatan atas datangnya tamu-tamu ke rumah mereka.

Keempat, penyambutan oleh perempuan-perempuan tua pada titik sebelum calon mempelai pria memasuki pintu utama rumah. Perempuan-perempuan inilah yang menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning sambil berpantun dan kemudian setelah mempersiapkan naik manapiak bandua maningkek janjang, mencuci kaki calon menantunya dengan menuangkan sedikit air ke ujung sepatu calon mempelai pria. Di Jakarta sekarang juga lazim dilakukan setelah pencucian kaki secara simbolik ini, maka calon pengantin pria akan menapak masuk ke dalam rumah melewati kain jajakan putih yang terbentang antara pintu sampai ke tempat di mana acara akad nikah akan dilangsungkan.

Pencucian kaki dan berjalan diatas kain putih ini merupakan perlambang dari harapan-harapan tentang kebersihan dan kesucian hari dari calon menantu dalam melaksanakan niatnya untuk mengawini calon isterinya. Sering juga disebut acara ini bermakna, bahwa calon pengantin pria hanya akan membawa segala yang suci dan bersih ke atas rumah, dan meninggalkan segala yang buruk dan kotor di halaman.

Beberapa besar jumlah pemuda-pemuda yang terlibat mendukung penyambutan dengan tari gelombang serta pemudi-pemudi yang mendukung acara persembahan sirih adat, menunjukkan pula besar kecilnya pesta yang diadakan. Namun yang lazim jumlah tidak kurang dari tujuh orang untuk tiap kelompok. Tujuh orang penari gelombang dari pihak yang menanti, yaitu tujuh lagi dari pihak yang datang dan tujuh orang pula dara-dara yang membawa sirih pihak yang menanti dan tujuh orang pula dari pihak yang datang.

Namun untuk penghematan tenaga, adakalanya dan sah juga adanya juka penyambutan hanya dilakukan secara sepihak oleh keluarga yang menanti. Artinya barisan gelombang dan dara-dara limpapeh pembawa sirih hanya disiapkan dipihak keluarga calon pengantin wanita saja.


Tata busana

Dua orang yang jadi juru bicara untuk sambah manyambah boleh brepakaian yang sama dengan keluarga. Yaitu pakai sarung dan berkemeja dilapisi jas diluarnya. Yang penting kepalanya harus tertutup dengan kopiah hitam.

Boleh juga dikanakan busana model engku damang atau yang sekarang juga sering disebut sebagai jas dubes. Atau kalau dia hanya memakai kemeja dan pantalon biasa, maka dilehernya harus dikalungkan kain palekat yang kedua ujungnya terjuntai ke dada. Sedangkan kepala harus memakai kopiah.

Untuk pemuda-pemuda penari gelombang, busananya adalah baju silat biasa dengan celana galembong tapak itiak berkain samping dipinggang dan destar dikepala.

Sedangkan untuk dara-dara limpapeh rumah nan gadang yang membawa sirih, mengenakan baju kurung dalam berbagai variasi menurut daerah masing-masing. Hiasan kepala dpat berupa tikuluak tanduak atau hiasan kepala yang ringan seperti sunting rendah atau sunting ringan lainnya yang beraneka ragam terdapat diberbagai daerah di Sumatera Barat. Mengingat gadis-gadis ini dalam acara penyerahan sirih juga akan menari, maka seyogyanya pakaian yang dikenakan jangan terlalu berat sehingga menyusahkan untuk dibawa melenggang atau membuat sipenari tampak garebeh-tebeh.


(Sumber : Tata Cara Perka-winan Adat Minangkabau)
andreandhika - 04/11/2009 02:10 PM
#34

Alam Minangkabau (I)

Spoiler for Isi

I. Pulau Andalas
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau, adapun orang yang pertama datang mendiami pulau andalas adalah ninik kita Sri Maharaja Diraja namanya. Beliau datang datang kemari dari tanah besar Voor Indie, tanah Rum kata orang tua tua, dan beliau kesini bersama dengan ke enambelas orang laki laki perempuan dari kasta Cateri. Selain itu dibawanya juga Kucing Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Muk Alam.
Dikatakan Kucing Hitam, Harimau Campo dan lain lainnya itu, sekali kali bukanlah bangsa binatang, tetapi manusia biasa juga. Mereka dijuluki dengan nama nama seperti itu sesuai dengan tingkah laku dan perangai mereka. Semuanya perempuan dan dipelihara oleh ninik Maharaja diraja seperti memelihara anaknya sendiri.

Ninik Sri Maharaja Diraja berlayar dari tanah besar itu dengan sebuah perahu kayu jati. Mula mula mereka berlayar melalui pulau Jawa yang saat itu belum terlihat tanah pulau Jawa itu. Yang tampak hanya puncak gunung Serang dan dipulau itu perahu beliau tertumpuk batu karang sehingga mengalami kerusakan dan tidak bisamelanjutkan perjalanan. Pada saat itu menitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada mereka yang berada diatas kapal itu "Barangsiapa yang dapat memperbaiki kapal ini seperti sediakala, akan hamba ambil sebagai menantu"
Mendengar titah itu beb erapa cerdik pandai segera berunding, mencari akal agar dapat memperbaiki perahu itu. Maka dengan karunia Allah, maka lima orang tukang segera bekerja dan kapal itu dapat diperbaiki kembali. Sri Maharaja merasa senang dan suka hati serta memuji kepandaian para tukang tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan sampai pada suatu kektika mereka melihat sebuah gosong tersembunyi di dalam laut. Tergilang gilang kelihatan dari jauh kira kira sebesar telur ayam, hilang timbuldilamun ombak.
Setelah sampai disitu kiranya ada tanah lebar dengan datarannya, berlabuhlah ninik Sri Maharaja Diraja diatas gosong itu. Gosong itu adalah puncak gunung merapi yang sekarang ini. Disanalah berdiam ninik Sri Maharaja Diraja bersama dengan para pengikutnya. Itulah ninik kita yang mula mula mendiami pulau Andalas ini, hingga menjadi juga oleh yang tua tua dengan memakai pantun ibarat :

Dimana mulanya terbti pelita
Dibalik tanglun nan berapi
Dimana mulanya ninik kita
Ialah di puncak gunung Merapi

Kata orang yang menceritakan, takkala ninik Sri Maharaja Diraja berada di puncak gunung Merapi itu beliau berdo'a supaya disusutkan air laut.
Dengan karunia Tuhan air laut semakin hari semakin susut juga dan bertambah lebar tanah daratan sehingga nyatalah tempat tempat itu adanya diatas gunung yang sangat besar.

Kata sahibulhikayat, takkala beliau masih berdiam dipuncak gunung itu, dengan takdir Tuhan orang orang yang bernama Kucing hitam, Harimau campo, Kambing hutan dan Anjing Muk Alam masing masing melahirkan seorang anak perempuan. Begitu pula istri Ninik Sri Maharaja Diraja melahirkan seorang anak perempuan pula. Sekalian semua anak itu dipelihara oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan kasih sayang yang tiada dibedakan. Kemudian kelak setelah anak anak itu besar, mereka dinikahkan dengan 5 tukang yang memperbaiki kapal tadi.

II. Galundi Nan Bersela dan Guguk Ampang
Setelah beberapa lama mereka berdiam dipuncak gunung itu, air laut sudah berangsur susut juga dan bertambah besar juga tanah daratan, maka sekalian orang itu berpindah kesebuah lekung dipinggang gunung Merapi itu.
Oleh Sri Maharaja Diraja tempat itu diberi nama Labuhan Sitembaga. Disitulah pada masa dahulu ada Sirengkak nan Berdengkang. Disitu pulauntuk pertama kalinya orang menggali sumur untuk tempat mandi dan tempat mengambil air minum, karena disekitar tidak ada air tawar, yang ada hanya air laut.

Selanjutnya mereka membuat sepiring sawah bernama sawah setampang benih. Disebut setampang benih karena dengan padi yang setampang itu sudah mencukupiuntuk makan orang disaat itu, karena mereka belumbanyak. Padi itu pula menjadi asal padi yang ada sekarang. Sepanjang cerita orang tua tua.

Lama kelamaan tumbuh pula Galundi nan Bersela, air laut bertambah susut juga dan daratan bertambah luas, maka Cateri Bilang Pandai mencari tanah yang lebih baik untuk mereka huni.

Ditemukan sebuah guguk disebelah kanan dari Galundi nan Bersela tadi, dan sekalian orang yang berada di Galundi berpindah ke ketempat baru itu. Tempat itu diberi nama oleh ninik Sri Maharaja Diraja serta Cateri Bilang Pandai dengan nama Guguk Ampang.

III. Nagari Pariangan dan Padang Panjang
Tidak berapa lama antaranya, orang orang yang menetap di Guguk Ampang berpindah pula dengan membuat setumpak tanah yang datar di baruh Guguk Ampang itu.

Tanah disini lebih baik daripada tanah di Ampang Gadang. Mereka pun berbondong bondong membuat tempat tinggal ditempat yang baru ini dan oleh ninik Sri Maharaja Diraja beserta Cateri Bilang Pandai tempat ini diberi nama Perhurungan. Guguk Ampang tadi pada saat ini bernama kampung Guguk Atas. Lama kelamaan orangpun bertambah kembang juga, dan kampung Perhurungan bertambah maju. Orang semakin hari semakin riang pula.

Atas prakasa ninik Sri Maharaja Diraja beserta cerdik pandai masa itu, dibuat semacam permainan anak negeri seperti Pencak Silat, Tari Payung dan bermacam peralatan untuk gung dan talempong, gendang, serunai rabab, kecapi dan lain lain sehingga menjadikan orang bertambah riang juga disetiap waktu.

Suasana masyarakat yang selalu dalam keadaan riang itu, menimbulkan keinginan dari ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai untuk menganti nama kampung menjadi Pariangan.

Kemudian karena bertambah kembang juga, seorang hulubalang ninik Sri Maharaja Diraja pergi membuat tempat tinggal dekat sebuah batu besar disuatu tanah disebelah kanan pariangan. Karena tempat itu baik pula, berdatangan orang pariangan membuat tempat tinggal disitu.

Lama kelamaan tempat itu menjadi sebuah kampung yang ramai pula. Oleh Cateri Bilang Pandai kampung itu diberi nama Padang Panjang. Sebab yang pertama sekali menemukan daerah itu adalah hulubalang yang menyandang gelar Pedang nan Panjang. Kampung Pariangan dan Padang Panjang semakin hari semakin ramai, dan kedua kampung ini dibawah hukum ninik Sri Maharaja Diraja.

Pada suatu hari bermusyawarahlah segala isi kampung Pariangan dan Padang Panjang untuk mendirikan sebuah Balairung tempat raja duduk menghukum (memerintah) beserta orang besar lainnya Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai yang bernama Indra Jati. Balairung itu didirikan didalam kampung Pariangan, dihiasi dengan lapik lalang.

Ruangan hanya sebuah saja sehingga sampai saat ini disebut orang Balai Saruang. Disitulah tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan orang orang besarnya menghukumwaktu itu.


Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:11 PM
#35

Alam Minangkabau (II)

Spoiler for Isi

IV. Penghulu Pertama
Lama pula antaranya orangpun bertambah ramai pula. Pada suatu hari bermusyawarah pula ninik Sri Maharaja Diraja dengan Datuk Suri Diraja dan Cateri Bilang Pandai, serta segala orang banyak dari kampung Pariangan dan Padang Panjang di Balai Saruang tadi.

Musyawarah itu adalah untuk memilih orang yang akan menjadi yang memerintah dan menghukum dibawah raja.

Adapun orang yang akan ditanam jadi ketua adalah orang yang akan menjadi penghulu orang banyak itu, dengan fungsi antara lain :

Kusuk yang akan menyelesaikan
Keruh yang akan menjernihkan
Sesat yang akan menghimbau
Terluncur yang akan menghelakan

Itulah orang yang akan memimpin orang banyak, dibawah ninik Sri Maharaja Diraja.

Didalam permusyawaratan itu dicapai kata sepakat yakni akan menanam dua orang ketua, seorang di Pariangan dan seorang di Padang Panjang. Hasil kesepakatan itu dikembalikanke kepada ninik Sri Maharaja diraja dan beliau menyetujui.

Pada kesempatan itu Datuk Suri Diraja bertitah "Berbahagialah kamu sekalian, telah sama sama sepakat untuk menanam dua orang ketua yang akan menjadi penghulu oleh kamu sekalian. Apa nama pangilan dan apa nama pangkatnya bagi keduanya ?"

Mendengar titah Datuk Suri Diraja itu, tidak ada yang dapat menjawab sebab belum ada kata mupakat tentang itu. Sekalian orang banyak itu memohon kepada ninik Sri Maharaja Diraja untuk kembali bermusyawarah untuk menetapkan apa nama panggilan dan pangkat bagi keduanya tadi.

Tetapi setelah beberapa saat lamanya mereka duduk timbang menimbang, hasilnya nihil sama sekali. Akhirnya sekalian orang banyak itu memulangkan kata kepada ninik Sri Maharaja Diraja.

"Telah puas kami bersama sama mencari nama pangkat dan nama pangilan bagi ketua kami, namun tidak dapat oleh kami, melainkan sebuah kata ketua saja. Oleh sebab itu kami serahkan saja kepada Tuanku semua, apa yang baik bagi Tuanku, kami akan menurut saja."

Setelah itu bertitahlah ninik Sri Maharaja Diraja kepada sekalian orang banyak itu : "Adapun orang akan kita jadikan ketua itu tentulah akan dipilih dari kita yang hadir disini, yaitu orang yang lebih pandai dan baik tingkah lakunya. Sebab orang itu, pergi tempat kita bertanya, pulang tempat kita beberita. Orang itulah yang akan memelihara buruk baiknya kita sekalian, tempat kita mengadukan segala hal yang baik dan buruk.

Orang itu yang akan menimbang mudharat danmanfaat diatas kita sekalian serta menghukum barang sesuatunya buruk dan baik.

Oleh sebab itu sepanjang pendapat hamba, patutlah kita muliakan benar orang itu dengan semulia mulianya daripada kita yang banyak ini. Kita tuakan orang itu dengan kata mupakat bersama dan tuanya kita samakan dengan orangtua ninik mamak kita yaitu 'datuk' namanya. Dengan demikian kepadanya kita panggil Datuk meskipun umurnya lebih muda daripada kita.
Kita wajib menghormatinya, apa titahnya kita junjung, apa perintahnya kita turut, agar sentosa kita dari marabahaya selama hidup didunia ini. Jikalau kita tidak bertindak dan tiada turut menurut, niscaya tiadalah kita mendapat keselamatan"

Mendengar penitahan ninik Sri Maharaja Diraja itu, senanglah hati sekalian orang banyak itu. Panggilan Datuk sampai sekarang tidak berubah. Itulah asal mulanya maka segala penghulu itu dipanggil Datuk dan disebut orang juga ninik mamak, ninik daripada mamaknya orang banyak. Setelah putus kata mupakat, diadakan helat jamu di kampung Pariangan dan Padang Panjang.

Pada masa itu ditetapkan kedua penghulu tadi seorang di Pariangan bergelar Datuk Bandaharo Kayo dan seorang lagi di Padang Panjang bergelar Datuk Maharaja Besar. Itulah penghulu pertama yang ada dipulau andalas ini, yang disebut juga pulau Perca.

Adapun Datuk Suri Diraja bukanlah penghulu yang diangkat orang, beliau diberi nama seperti itu hanya karena beliau berkarib dengan raja. Beliau dipanggil datuk karena tuanya saja, dan lagi beliau adalah orang cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, tempat orang berguru dan bertanya pada waktu itu di Pariangan Padang Panjang, serta menjadi guru oleh ninik Sri Maharaja Diraja.

Dengan bertambah ramainya orang di Pariangan dan Padang Panjang, oleh ninik Sri Maharaja Diraja dengan mupakat segala isi kampung diberi nama Nagari Parangan Padang Panjang. Sampai saat ini nama itu tidak pernah dirubah orang dan itulah nagari tertua di pulau Andalas ini.

Dari pernikahan ninik Sri Maharaja Diraja dengan adik datuk Suri Diraja yang bernama Tuan Putri Indah Jalia, lahirlah seorang yang bernama Sutan Paduka Besar.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:12 PM
#36

Alam Minangkabau (III)

Spoiler for Isi

V. Sungai Tarab Nagari Tua
Seiring dengan perkembangan waktu, masyarakat di Nagari Pariangan bertambah ramai juga, sedang nagari itu tidak begitu luas sehingga sudah penuh sesak oleh orang banyak. Maka bermusyawarahlah ninik Sri Maharaja Diraja dengan segala orang besarnya untuk memindahkan sebagian orang kedaerah baru.

Setelah bulat mupakat, mendakilah ninik Sri Maharaja Diraja ke puncak gunung merapi hendak melihat dimana tanah yang baik dan subur akan tempat memindahkan orang orang itu. Setibanya beliau dipuncak gunung merapi, memandanglah beliau kesegala arah. Pandang jauh dilayangkan pandangan dekat di tukikkan.

Kelihatan oleh beliau setumpuk tanah tanah gosong yang ditumbuhi rimba di baruh gunung kearah selatan yang kelihatannya tanahnya berpasir. Gosong gosong itu adalah puncak puncak bukit yang tersembur dari permukaan laut waktu itu.

Setelah itu beliau kembali turun, dan bersama sama dengan Cateri Bilang Pandai beliau pergi melihat tanah itudengan berlayar. Pelayaran beliau itu hanya menepi gunung merapi saja dan akhirnya beliau sampai ditepi pantai, lalu berlabuh dan langsung memeriksa tanah tadi.

Didapati oleh beliau tanah itu lebih luas dari Pariangan Padang Panjang dan nampaknya lebih baik dan lebuh subur.
Disebelah mudik tanah itu ada pula sebidang padang pasi yang amat luas yang sangat baik untuk tempat orang bermain dan bergembira.
Setelah ada keyakinan bagi ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai, lalu keduanya kembali ke Pariangan Padang Panjang untuk menjeput orang orang yang akan mendiami tempat tersebut.

Beliau membawa tujuh karib bai'id beliau laki laki dan perempuan, begitupun Cateri bilang pandai membawa pula enam belas orang, yaitu delapan pasang suami istri.

Setelah mereka tiba ditanah tadi, mereka mulai membuka ladang, berladang mencencang melateh, membuat teratak ditempat itu. Lama kelamaan teratak menjadi sebuah dusun bernama dusun Gantang Tolan dan dusun Binuang Sati.

Kemudian dusun itu bertambah lama bertambah ramai pula. Maka dibuat orang pula dipinggir dusun itu sebuah koto tempat berkampung, berumah tangga. Dari koto itulah orang orang berulang ulang keladangnya yang didusun tadi.

Semakin lama didalam koto tadi orang semakin bertambah ramai juga, lalu koto itupun dijadikan nagari, diberi nama nagari Bunga Setangkai. Kenapa bunga setangkai, sebab sewaktu ninik Sri Maharaja Diraja sampai disitu beliau mendapatkan setangkai bunga yang sangat harum baunya, dan dibawah bunga itu ada pula sebuah batu luas dan datar. Panjangnya tujuh tapak ninik Sri Maharaja Diraja, batu itu diberi nama oleh beliau "Batu Tujuh Tapak" Sampai sekarang batu itu masih ada didalam nagari Bunga Setangkai.

Adapun padang pasir yang di mudik nagari Bunga Setangkai, lama-kelamaan ditumbuhi oleh kayu-kayuan, sehingga kemudian menjadi rimba yang berkampung kampung. Pada akhirnya daerah itu menjadi koto, lalu menjadi nangari yang diberi nama Pasia Laweh, takluk kepada nagari Bunga Setangkai.

Didalam nagari Bunga Setangkai dibuat orang sebuah balairung tempat ninik Sri Maharaja Diraja dan Cateri Bilang Pandai menghukum. Dekat balairung itulah ninik Sri Maharaja Diraja membuat istana tempatdiam.
Kemudian keluarlah sebuah mata air dibawah sebuah pohon yang bernama tarab dihalaman istana ninik Sri Maharaja Diraja. Air yang keluar sangat jernih dansejuk serta besar sehingga menjadi suatu anak sungai, oleh sebab itu Cateri Bilang Pandai memberi nama Sungai Tarab.

Karena Sungai itu sangat termasyhur nama Bunga Setangkai dilupakan orang sehingga nagari itu berubah nama jadi nagari Sungai Tarab.
Didalam nagari Sungai Tarab ditanam orang delapan orang penghulu yang diambil dari dalam kaum orang yang delapan pasang, yang mula mula mencencang melateh nagari tersebut. Penghulu yang delapan itu memerintah orang dalam nagari Sungai Tarab dan menguasai masing masing kaumnya. Penhulu itu bernama "Datuk nan Delapan Batur" Yakni delapan batu kedudukan dahulu.

Kemudian setiap penghulu itu membuat pula sebuah balairung sehingga disebut orang pula delapan balai kedudukan Datuk Nan Delapan Batu.
Delapan balai kemudian menajdi delapan suku yang terbagi atas 2 kampung. Satu kampung di mudik (Sungai Tarab) dengan lima balai dan satu lagi di hilir dengan 3 balai sehingga kampung ini disebut TigaBatur.

Setelah berkoto, bernagari dan berpenghulu yang akan memelihara orang didalam Sungai Tarab, ninik Sri Maharaja diraja merasa senang sekali dan beliau beserta Cateri Bilang Pandai kembali lagi ke Pariangan Padang Panjang.

Meninggalnya Ninik Sri Maharaja Diraja
Ninik Sri Maharaja Diraja meninggal di Pariangan Padang Panjang, yaitu beberapa lalu kemudian setelah beliau kembali dari Sungai Tarab. Sepeninggal beliau jabatan raja di pariangan Padang Panjang tidak ada karena beliau tidak mempunyai waris. Posisi beliau dijabat oleh karib beliau yang ada di Sungai Tarab. Adapun yang memerintah di Pariangan Padang Panjang sepeninggal ninik Sri Maharaja Diraja adalah Datuk Bandaharo Kayo, Datuk Maharaja Besar, Datuk Suri Diraja, Cateri Bilang Pandai dan Cateri Rino Sudah. Sedangkan yang memerintah di Sungai Tarab dipegang oleh Datuk Delapan Batur, dibantu oleh Cateri Bilang Pandai mewakili karib ninik Sri Maharaja yang belom dewasa.

Tuan Putri Jamilan
Setelah beberapa lama ninik Sri Maharaja Diraja meninggal dunia, Tuan Putri Indah Jalia janda beliau kimpoi dengan Indra Jati yang bergelar Cateri Bilang Pandai.

Dari perkimpoian itu beliau berputra enam orang, dua orang laki laki, pertama bernama Sutan Balun dan yang kedua bernama Sikalab Dunia dan empat orang perempuan bernama: Putri Reno Sudi, Putri Reno Mandi, Putri Reno Judah dan si bungsu Puteri Jamilan. Tuan Putri Jamilan ini kimpoi dengan karib ninik Sri Maharaja Diraja yang menjadi raja di Sungai Tarab itu.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:13 PM
#37

Alam Minangkabau (IV)

Spoiler for Isi

VI. Datuk Katumanggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, dan Datuk Sri Maharaja Nan Banaga Naga.
Menurut bunyi Tambo Alam Minangkabau dan curaian orang tua tua, setelah dewasa anak ninik Sri Maharaja Diraja yang bernama Sutan Paduka Besar dan anak anak Cateri Bilang Pandai bernama Sutan Balun dan Sikalab Dunia, atas kesepakatan anak nagari Pariangan Padang Panjang dan anak nagari Sungai Tarab, diangkat menjadi penghulu.

Sutan Paduka Besar bergelar datuak Katumanggungan, Sutan Balun bergelar Datuak Parapatiah Nan Sabatang, dan Sikalab Dunia bergelar Datuak Sri Maharaja nan Banaga naga.

Beliau beliau itulah penghulu ninik kita, yang sangat cerdik pandai, lubuk akal lautan budi, lagi keramat ketiganya. Meliau bertiga menata adat lembaga untuk kita orang Alam Minangkabau.

Kata ahli adat, setelah Sutan Balun diangkat jadi penghulu, beliau pergi berlayar keluar Pariangan Padang Panjang, hendak pergi tamasya ke pulau Langgapuri(Serindip Cylon).

Dalam perjalanan kembali pulang, ditengah lautan beliau mendapat sebatang kayu yang berisi lengkap didalamnya segala perkakas untuk pertukangan seperti kapak, lading, pahat dan perpatih. Oleh sebab itu dia digelari Datuk Perpatih Nan sabatang Kayu, kemudian ditetapkan dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang saja.

Adapun kayu yang berisi alat perkakas ditemukannya itu berasal dari peninggalan nabi Nuh. Perkakas itu diletakkan orang dalam lobang sebuah pohon kayu dan hanyut ke laut.

Dengan karunia Allah kayu itulah yang didapatkan oleh Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Benar atau tidaknya cerita ini wallahu 'alam.
Diceritakan kembali, sesudah ninik yang bertigaitu diangkat orang jadi penghulu, semenjak itulah beliau berusaha mencari ikhtiar memperbaiki nagari dan memperluas jajahan di tanah Alam Minangkabau serta berusaha membuat bermacam macam aturan adat lembaga yang akan dipakai orang didalam Nagari yang telah beliau dirikan itu, untuk penjaga kesentosaan dan keselamatan orang yang berada didalam nangari.

Adat lembaga yang beliau tinggalkan menjadi pegangan bagi masyarakat Minangkabau sampai sekarang, adat lembaga itu amat baik dan sempurna aturannya, tidak dapat disanggah oleh jauhari pun, mempunyai akal budi yang sempurna. Bila ada orang yang merubah atau merusak warisan beliau itu, tak dapat tidak pastilah mendatangkan kesusahan dan kerugian besar bagi dirinya serta bagi segala orang di dalam nagari sampai kepada anak cucunya.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:15 PM
#38

Alam Minangkabau (V)

Spoiler for Isi

VII. Nagari Limo Kaum
Kata ahli adat, pada suatu ketika ninik Parapatiah nan Sabatang bersama lima pasang suami istri berlayar keluar dari nagari Pariangan Padang Panjang menuju tanah lapang yang ditumbuhi rimba berkampung kampung. Di situ kelima pasang tadi mencencang melateh membuat ladang dan dusun tua. Disitu ninik Parapatiah Nan Sabatang membuat rumah dibawah kayu bodi nago taram, kemudian dibuatnya pula sebuah balai di dusun tua itu yang berparit dan berpagar batu.

Sebab itu balai tadi dinamakan balai batu, lalu dibuat pula sebuah kubu dibaruh dusun tua tadi, yang dinamai kubu raja.

Lama kelamaan berkembang pula orang yang lima pasang tadi. Karena orang sudah ramai dibuat pula lima buah kampung seedaran dusun tadi, yang bernama kampung Balai Batu, Kampung Kubu Rajo, Kampung Belah Labuh, Kampung Dusun Tua(Kota Gadis) dan Kampung Kampai (Piliang). Kelima kampung ini akhirnya dinamakan Kampung Lima Kaum.

Kemudian menyusul pula dua belas pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang dipimpin oleh seorang Penghulu yang bergelar Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Penghulung badanya besar dan panjang kira kira sepuluh hasta panjangnya.

Sampai sekarang masih ada kubur beliau di kampung Pariangan, yang dikenal juga dengan kubur Datuk Tan Tejo Gurahana.

Mereka sampai di nagari yang bernama Jambu sekarang ini dan tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke nagari Limo Kaum karena tidak ada jalan kesana. Lalu berkata Datuk Tan Tejo kepada orang yang dibawanya itu, katanya : "Kaniaklah (Kemarilah) kita berbalik" lalu surutlah mereka kembali sampai kesebuah dusun yang mereka beri nama Keniak.
Rupanya yang dimaksud dengan "ka niak" oleh datuk Tan Tejo tadi adalah kampung tabek sekarang ini. Disitu mereka berladang dan membuat taratak. Datuk Tan Tejo membuat sebuat tebat besar, lalu dibuat orang pula setumpak sawah dekat tebatnya itu dan di mudik sawah itu dibuat pula sebuah taratak, lama kelamaan taratak menjadi dusun dan dusun menjadi kampung pula, yang bernama kampung sawah tanah. Akhirnya kedua belas pasang itu terbagi dua. Sebagian tinggal bersama beliau dikampung Tebat dan sebagian lagi menetao dikampung Sawah Tangah.

Lama kelamaan berkembang pula orang dikampung Tabek dan kampungSawah Tangah itu. Datuk Tan Tejo mendirikan sebuah balai dikampung Tabek yang tonggaknya dari teras jilatang dan parannya dari akar lundang, sedang tabudnya dibuat dari batang pulut pulut, yang digetang dengan jangat tuma dan gendangnya dari padang seliguri.

Itulah keganjilan yang dibuat oleh Datuk Tan Tejo Maharaja Nan Gadang. Sampai kini tonggak jilatang dan gendang saliguri masih ada dikampung Tabek dan kampung Sawah Tangah. Selanjutnya karena telah berkembang kampung Tabek dan kampung Sawah Tangah dijadikan orang menjadi sebuah nagari yang bernama Nagari Tabek Sawah Tangah.

Oleh karena Nagari Tabek Sawah Tangah itu menjadi ramai dan sesak pula, mamak pecahan orang orang yang dua belas tadi pergi berladang merambah rimba kecil di kepala dusun tua tempat ninik Parapatiah Nan Sabatang tadi, tempat itu dinamai orang Parambahan.

Dari parambahan itu dibuat sebuah labuh arah ke kubu raja, tetapi mereka tidak berhasil karena karena terlalu susah, jalan mendaki dan menurun serta berbelok belok. Dan labuh itu diberi nama Taratak labuh.

Karena telah menjadi ramai pulang orang di taratak labuh, Parambahan dan Tabek Sawah Tangah merekapun semakin berkembang dantelah menbuat 12 koto disekitar nagari limo kaum. Kedua belas koto itu menurut penitahan ninik Parapatiah Nan Sabatang, yaitu :
1. Labuah
2. Parambahan
3. Silebuk
4. Ampalu
5. cubadak
6. Sianyang
7. Rambatan
8. Padang Magek
9. Ngungun
10. Panti
11. Pabaluran
12. Sawah jauh

Lama kelamaan koto nan duabelas ini ramai pula. Oleh ninik Parapatiah nan Sabatang ke dua belas koto ini sampai ke Tabek Tangah sawah dijadikan satu dengan orang yang berada di Limo Kaum dengan nama Limo Kaum dua Belas Koto. Kemudian dipecah lagi menjadi Limo Kaum Dua Belas Koto dan Sembilam Koto Didalam.

Adapun koto yang sembilan itu ialah dua-dua satu bilang : Tabek Bata dan Sela Goanda; Beringin dan Koto baranjak; Lantai Batu dan Bukit Gombak; Sungai Tanjung dan Barulak serta Raja Dani.

Oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang masyarakat nagari Lima Kaum yang Dua Belas Koto itu sampai ke Tabek Sawah Tangah diberi pula satu pucuk pimpinan yaitu Penghulu dengan gelar Datuk Bendahara Kuning, berkedudukan di kubu raja Lima Kaum.

Setelah teratur nagari Limo Kaum Dua Belas Koto itu, maka senanglah Hati Ninik Parapatiah nan Sabatang dan beliau kembali ke Pariangan Padang Panjang.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:17 PM
#39

Alam Minangkabau (VI)

Spoiler for Isi

VIII. NAGARI SUNGAYANG
Kata orang yang menceritakan, tidak berapa lama kemudian ninik Parapatiah nan Sabatang berlayar pula membawa tujuh pasang suami istri. Mereka sampai pada suatu tanah menanjung kedalam sungai. Karena tanah itu baik dan subur, mereka menetap disana dan berladang membuat taratak. Tempat itu beliau beri nama Pangkal Bumi.

Kemudian menyusul pula duapuluh tiga pasang suami istri dari Pariangan Padang Panjang yang ingin mencari penghidupan disana karena di Pariangan sudah penuh sesak.

Mereka menetap di daerah antara Pangkalan Bumi dan Sungai Tarap. Mereka bersama sama dengan yang tujuh pasang suami istri berladang dan membuat taratak.

Tempat mereka menambatkan perahu atau (jung) nya, dinamakan "Tembatan Ajung", lalu disingkat menjadi tabek Ajung. Sedangkan Pangkal bumi berubah nama jadi Ujung Tanah.

Lama kelamanaan berkembang pula orang orang yang di Taratak dan di lading padi tadi, taratak itu menjadi dusun yang ramai, lalu dibuat orang dua buah koto dipinggir taratak itu, yang bernama Tanjung dan Sungai Mangiang, sebab mata air yang mengalir disana kerapkali jadi mangiang (pelangi) dan dari kedua koto itulah orang pulang pergi ke taratak dan ladangnya masing masing. Hingga kini disitu masih adatempat yang bernama taratak dan lading.

Kemudian sesuai dengan perkembangan manusia, koto itu dijadikan orang nagari, oleh ninik Parapatiah Nan Sabatang nagari itu diberi namaTanjung Sungayang Nan Batujuah., karena yang menetap di Nagari itu adalah orang yang dua puluh tiga pasang ditambah tujuh pasang tadi.

Keturunan mereka sampai kini masih ada di nagari itu. Itulah orang yang berhutan tinggi dan berhutan rendah dan mereka ada berpangkat sepanjang adat di dalam Nagari itu.

Kata ahli adat, sesudah sumur digali nagari nagaridicecak dalam nagari Sungai Tarab, Lima Kaum dan Tanjung Sungayang, dan di setiap nagari itu orang sudah begitu ramai, maka bermupakatlah Datuk Katumanggugan, Datuk Parapatiah Nan Sabatang, Datuk Ssri Maharaja nan banaga naga hendak mencari tanah yang baik untuk memindahkan orang nagari tersebut. Setelah putus mupakat, beliau bertiga berlayar bertiga menjalani teluk dan rantau.

Setelah tampak tanah tanah yang dianggap baik ketiganya kembali lagi. Lalu dengan tiga buah perahu, setiap perahu memuat lima puluh orang laki laki dan perempuan, mereka menuju ketempat tempat yang sudah dilihat tadi. Disetiap tempat itu beliau tempatkan sepasang, lima pasang, ada yang enam dan delapan pasang tergantung dengan besar kecilnya tanah yang akan didiami itu.

Lama kelamaan orang orang itupun berkembang pula dan tempat orang orang itu dari taratak menjadi dusun, dusun menjadi koto, dan kemudian menjadi nagari. Demikianlah caranya ninik moyang kita dalam memperluas daerahnya di pulau perca ini.

Oleh karena asal orang orang itu dari nagari Sungai Tarab, Lima Kaum, Tanjung Sungayang dalam Tambo Alam Minangkabau nagari yang tiga ini disebut nagari tertua di alam Minangkabau ini.
Setelah selesai menempatkan orang orang didaerah yang baru itu, maka kembalilah ketiga ninik tadi ke Pariangan Padang Panjang. Mereka mulai bekerja membuat ketetapan hukum yang akan dipakai disetiap nagari yang baru tadi.

Setelah itu mereka memohon kepada bapak beliau yang bernama Indra Jati bergelar Cateri Bilang Pandai untuk pergi memeriksa keadaan orang orang di nagari yang baru itu dan sekaligus menetapkan penghulunya masing masing.

Permintaan anak anaknya dipenuhi oleh Cateri Bilang Pandai. Berangkatlah beliau ke nagari nagari yang baru itu dan disetiap nagari diangkat seorang penghulu untuk setiap kaumnya.

Penghulu inilah "kusut yang akan menyelesaikan, keruh yang akan menjernihkan" serta memelihara orang orang itu dari hal hal yang buruk dan baik dengan mendirikan pusaka Alam Minangkabau.

Barangsiapa yang diangkat menjadi penghulu diwajibkan terlebih dahulu mengisi adat menuai lembaga kepada segala orang yang ada didalam nagari itulah yang mengendangkan jadi penghulu.

Begitu juga barang siapa yang akan menjadi raja, wajib pula mengisi adat menuang lembaga kepada isi alam takluk jajahannya, memberi makan-minuman orang orang yang datang diwaktu raja dinobatkan serta memotong kerbau dan sapi seberapa cukupnya. Selain itu raja itu wajib mengeluarkan emas nan sesukat seulang aling, nan sekundi kundi, sepating setali bajak namanya sebagai pengisi adat kepada penghulu dan orang orang yang patut. Sebab orang orang itulah yang merajakannya.

Karena banyaknya penghulu yang diangkat, banyak pula gelar penghulu ditiap tiap suku atau nagari, namun gelar itu tidak boleh sama. Kalau ada yang sama itu namanya sudah dibelah (dipecah)

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:18 PM
#40

Alam Minangkabau (VII)

Spoiler for Isi

IX. Luhak nan Tigo, Laras Nan Duo
Pada suatu ketika ninik yang bertiga ini naik pula ke puncak gunung merapi. Disana beliau menemukan tiga buah akar yang berjurai jurai. Sejurai menghadap kearah timur, Sejurai jatuh kebarat dan sejurai lagi jatuh ke utara. Maka memandanglah beliau kearah timur nampak rimba berkampung kampung.

Ditepi rimba itu sudah diisi oleh orang, begitu juga ketika beliau memandang kearah barat dan utara, banyak pula tanah yang sudah dihuni orang. Sedangkan disebelah selatan kelihatan puncak puncak gunung yang tersembur dari dalam laut.

Maka mupakatlah ketiga ninik itu untuk turun melihat tanah dan keadaan orang yang sudah didiami itu. Ninik Katumangguangan berjalan ke arah barat, Ninik Parapatiah Nan Sabatang berjalan kearah timur, dan Ninik Sri Maharaja berjalan kearah utara.

Sekembalinya dari nagari nagari itu beliau kembali lagi dan bertemu di Pariangan Padang Panjang lalu ninik bertiga menceritakan pengamatan yang sudah dilakukan di daerah itu.

Diceritakan oleh Ninik Parapatiah Nan Sabatang tanah berbukit bukit dan berlurah lurah, airnya jernih ikannya jinak dan buminya dingin.
Diceritakan pula oleh ninik Katumanggungan tanah yang disebelah barat gunung merapi airnya keruh ikannya liar, buminya hangat dan orangnya keras hati, suka bermusuh musuhan dan selalu berkelahi pada masing masing kaum.

Oleh ninik Sri Maharaja Nan Banaga Naga diceritakan bahwa bahwa tanah sebelah utara gunung airnya manis ikannya jinak, buminya tawar dan dulu orang yang ditempatkan sebanyak lima puluh orang telah berkurang lima pasang, hilang dipadang ribu ribu tampa tahu kemana perginyaorang itu.

Kemudian bermupakatlah ninik yang bertiga menceritakan itu kepada mamaknya datuk Suri diraja. Oleh datuk Suri diraja diberi nama :
-Luhak Tanah Datar untuk tanah yang sebelah timur gunung merapi yaitu tanah yang dijalani ninik Parapatiah nan Sabatang.
-Luhak Agam untuk daerah yang dijalani oleh ninik Katamanggungan.
-Luhak Limapuluh untuk daerah yang dijalani oleh ninik Sri Maharaja nan Banaga Naga.

Itulah asalnya maka alam Minangkabau ini terbagi atas tiga luhak. Masing masing luhak ini diperintah oleh ninik yang bertiga tadi. Selanjutnya oleh datuk Datuk Katamanggungan dan Datuk Parapatiah Nan Sabatang ketiga luhak dibagi jadi dua kelarasan, yaitu:
-Laras Koto Piliang, Pemerintahan Datuk Katumanggungan
-Laras Bodi Caniago, Pemerintahan Datuk Parapatiah nan Sabatang.

Nagari nagari yang masuk kedalam laras koto Piliang adalah : Tanjung Gadang Mudik sampai Laut nan Sedidih, gunung merapi hilir, keliling gunung semuanya, sedangkan yang masuk bodi caniago adalah daerah Mudik hingga Padang Tarab Hilir.

Meskipun sudah dibagi, disetiap nagari itu selalu menyela orang yang dua kelarasan itu tetapi yang paling banyak adalah kelarasan koto piliang.
Perbedaan jumlah pengikut ini mengakibatkan terjadinya perselisihan antara datu Katumanggungan dan datuk Parapatiah nan Sabatang. Perselisihan kedua orang besar itu tidak dapat didamaikan oleh isi Alam Minangkabau karena keduanya sama sama keras.

Selanjutnya terjadilah peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh laras koto piliang karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan pengikut kelarasan bodi caniago.

Pada masa itu berdirilah pusaka perang, siapa yang kalah harus mengisi penampun abu, bila tidak ada yang menang atau seri hanya berjabat tangan.
Dengan kalahnya laras Bodi Chaniago, maka ia mengisi penampun abu kepada laras Koto Piliang dibayar dengan enam ekor kuda oleh datuk datuk lima kaum dua belas koto dan tiga ekor kuda putih dari datuk nagari nan tiga, yaitu oleh datuk Nagari Tanjung Sungayang dan Tanjung Gadang, semua kuda diberi bertali cindai, dibawa kedelapan batur yakni nagari Sungai Tarab.

Menurut cerita orang tua, kekalahan laras Bodi Chaniago membuat datuk Parapatiah Nan Sabatang merasa sakit hati. Beliau berniat hendak membunuh datuk Katumangguangan.

Pada suatu malam beliau menjarah ke dalam nagari Sungai Tarab mencari Datuk Katumangguangan namum tidak bertemu. Dengan perasaan marah dan kecewa itu maka ditikamnya lah satu batu besar dikampung Kurimbang Batu Halang dengan kerisnya yang bernama Ganja Erak sehingga batu itu tembus.

Lalu dihentakkan lagi dengan tongkat besinya sehingga tembus pula. Batu yang ditikam itu sampai kini masih terdapat di tepi sawah di Ulak Kampung Budi yang tidak seberapa jauh dari Kampung Kurimbang Batu Halang. Begitu juga dengan batu yang ditikam di Lima Kaum sampai sekarang masih ada dikampung Balai Batu. Kedua batu dinamakan orang Batu Batikam.

Nagari Pariangan Padang Panjang tidak termasuk kepada nagari yang dibagi menjadi dua kelarasan. Sebab nagari itu adalah nagari tertua dalam Alam Minangkabau. Sehingga masyarakat disana mempunyai satu kelarasan yang diberi nama oleh ninik yang berdua Laras Nan Panjang.

Nagari yang termasuk kedalam laras Nan Panjang adalah sehiliran batang Bengkawas sampai ke Guguk sikaladi Hilir, terus ke bukit tembesi bertupang mudik. Oleh orang orang tua laras Nan Panjang itu disebutkan :
Pisang sikelat-kelat hutan
Pisang tembatu bergetah
Koto piliang dia bukan
Bodi Chaniago dia entah

Setelah Datuk Katumangguangan memenangkan peperangan itu, beliau memberi nama nagari Lima Kaum dua belas koto itu dengan nama Gadjah Gadang Patah Gadingnya, dan nagari Tanjuang Sungayang beliau namakan Tanjung Sungayang nan bertujuh.

Nagari tempat beliau menetap diberi nama Sungai Tarab Darussalam. Pemberian nama nama baru itu sangat menyakitkan hati Datuk Parapatiah Nan Sabatang. Begitulah yang dicceritakan oleh orang orang tua, benar tidaknya wallahu'alam.

Permupakatan antara Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga tentang menetapkan hukum setta cupak gantang yang akan dipakai dalam luhak nan tiga laras nan dua adalah sebagai berikut :
Cupak yang dipakai gantang yang dipicahan kepada setiap luhak di dalam laras nan dua adalah cupak yang dua belas tail isisnya, dan gantang yang kurang dua puluh lima tail genap isinya, serta emas yang enam belas emas berat timbangannya, yang se emas empat kupang, sekupang enam kundi merah, hitam bagian tampuknya. Setali tiga uang, yang seuang satu kundi, yang seteang setenganh kundi, itulah yang dipalut kata mupakat ninik yang bertiga tadi.

Meskipun sudah ada kesepakatan selalu ada perbedaan pendapat diantara ninik yang bertiga itu. Misalanya menurut pendapat datuak Katumangguangan setias orang yang terpidana wajib bersumpah baginya.
Namum oleh datuk Parapatiah nan sabatang sumpah itu tidaklah perlu, karena semua itu adalah anak cucu kita juga. Oleh datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga perbedaan itu tidak satupun disetujui maka pada waktu itu tidak tercapai kata sepakat.

Dengan takdir Allah, maka keluarlah seekor ular dari laut. Ular itu menangkap salah seorang anak datuk Katumangguangan dan dibawanya ke banir kayu jati. Maka gemparlah orang pada masa itu, ninik yang bertiga kehilangan akal karena anak telah di lilit ular.

Bertanya Datuk Katumangguangan kepada ninik yang berdua "apa akal kita untuk mengambil anak itu ?"
Menyahut Datuk Parapatiah Nan Sabatang"Habis budi hamba melihat anak kita itu, jika dibunuh ular itu maka niscaya matilah anak kita. Berkatalah datu Sri Maharaja nan Banaga Naga: "Menurut pendapat hamba, kita ambil ranting jawi-jawi, kita lontarkan kepada banir kayu itu, supaya ular itu lari."
Maka dibuat orang lah sebagaimana yang dikatakan Datuk Sri Maharaja nan Banaga naga itu, lalu ranting jawi jawi itu dilontarkan orang sekuat kuatnya kepada banir kayu tempat ular tadi. Ular itu terkejut lalu lari meninggalkan anak Datuk Katumangguangan dengan tiada kurang satu apapun.

Dengan kejadian itu Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang bertambah segan kepada datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga karena ketajaman akalnya.
Ular yang dipalut tidak mati
Pamalu tiada patah
Tanah yang dipalu tiada lembang.

Datuk yang berdua menyadari akibat yang timbul apabila mereka terus berbantah bantahan, karena selalu berbeda pendapat dalam menetapkan suatu hukum yang akan dipakai dalam masyarakat.

Mereka sepakat bahwa hukum itu harus di uji dan dibanding, setiap tandingannya dipakai pada tempatnya masing masing.
Adapun hukum yang akan dipakai di luhak nan tiga, laras nan dua terus ke Batang Rantau, ada tiga perkara :
1. Hukum kitabullah
2. Hukum ijtihat
3. hukum serta saksi

Setelah putus mupakat itu, maka menghadaplah ninik yang bertiga itu kepada Daulat yang dipertuan Agung ninik Sri Maharaja diraja untuk menyatakan hukum itu. Sebelum hukum itu diberlakukan ketiga ninik diminta untuk bersumpah bahwa hukum itu akan dipakai terus turun temurun dan tidak boleh diubah ubah selamanya.

Setelah itu berjalanlah Daulat yang dipertuan Agung keluhak dan laras, kesetiap nagari untuk memasyarakatkan hukum yang sudah ditetapkan itu. Ditanam kayu nan sabatang disetiap nagari untuk tempat mempertaruhkan hukum yang adil, syarak yang dilazimkan dan adat yang kawi.
Yang dimaksud kayu nan sabatang itu adalah orang orang sebagai penghulu atau kadhi atau orang orang besar yang akan menghukum didalam tiap tiap nagari, sebagai wakil raja bila raja berhalangan, atau sebagai raja apabila dinagari itu tidak ada raja.

Dengan demikian penghulu yang dijadikan pucuk atau kepala suku, kepala payung dan kadhi didalam suatu nangari, bukan saja sebagai kepala kaumnya masing masing, tetapi berfungsi juga sebagai raja yang akan memegang kata, memegang hukum yang sudah ditetapkan oleh kerapatan penghulu penghulu.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 02:20 PM
#41

Alam Minangkabau (VIII)

Spoiler for Isi

X. Pulau Perca disebut Alam Minangkabau.
Kata ahli adat setelah Datuk Katumangguangan dan datuak Parapatiah nan Sabatang mendirikan luhak nan tiga dan membagi laras nan dua yaitu koto Piliang dan Bodi Chaniago.

Kira kira 5 tahun kemudian, datanglah seorang nakhoda dari laut membawa seekor kerbau panjang tanduk serta runcing. Ia menetap di bukit Gombak dan memandikan kerbaunya disungai emas. Perahu nakhoda itu ditambatkan di kaki bukit Patah.

Sewaktu bertemu dengan kedua ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang, ia menantang beliau untuk bertaruh mengadu kerbau, jikalau kalah kerbau kami, miliki oleh datuk segala isi perahu kami.

Tantangan nakhoda itu diterima oleh ninik yang berdua orang besar besar: "Baiklah, tetapi beri janji kami selama tujuh hari."
Dalam tujuh hari bemupakatlah isi luhak nan tiga laras nan dua, lalu dicari se ekor anak kerbau yang sedang kuat menyusu. Dibuat orang topang besi bercabang sembilan dan runcing ujungnya. Besi serampang itu bernama minang.

Setelah sampai tujuh hari, maka semalam-malam hari yang ketujuh anak kerbau tidak dicampur dengan induknya. Setelah hari pagi, tupang besi tadi dipasang di mulut anak kerbau tadi, lalu dibawa ketengah medan yang sudah dihiasi sebagai tempat pertarungan kedua kedua kerbau itu yakni di balai Sidusun. Semua orang laki perempuan tumpah ruah ke medan itu, begitu juga segala isi perahu dan nakhoda tadi keluar membawa kerbau besarnya itu.

Setelah tiba ditengah medan itu, kedua kerbau itu dilepas orang. Sebentar itu juga anak kerbau yang sudah kelaparan berlari kekerbau besaryang dikiranya sebagai induknya untuk menyusu.
Sekali saja anak kerbau itu menyusu, maka larilah kerbau besar itu, keluar perutnya berjurai jurai, lalu matilah kerbau itu.
Melihat kerbaunya sudah mati, nakhoda tadi pergi ke laut dan pulang ke negerinya. Mungkin karena sangat malunya, sangkar ayam tertinggal ditepi sungai, dekat medan mengadu kerbau tadi. Ditempat itu sekarang ada sebuah kampung bernama kampung "Sangkayan", yang asalnya dari sangkar ayam nakhoda itu.

Sesudah mengadu kerbau itu bermupakatlah segala orang luhak nan tiga laras nan dua memberi nama pulau perca ini dengan nama alam Minangkabau, sampai sekarang tidak berubah rubah.



Cateri Reno sudah, menerka kayu tataran naga pihak.
Menurut bunyi Tambo alam minangkabau, tidak berapa lama setelah mengadu kerbau tadi nakhoda itu kembali lagi dengan membawa kayu tataran naga pihak, dimana ujung dan pangkalnya sama besar, sulit ditebak mana ujung mana pangkalnya.

Dia pun menetapkan bukit gombak, lalu ia masuk kedalam nagari Lima Kaum dan bertemu dengan datu Suri Diraja.
Ia mengajak datuk Suri di Raja berteka teki dengan taruhan limapuluh kati emas. Oleh datuk Suri diraja teka teki itu diterima dengan syarat harus dilaksanakan ditengah medan.

Lalu datuk Suri Diraja menghimpun segala orang yang patut patut, ia pun berkata " Timbang olehmu akan kayu itu ditengahnya. Mana yang berat itulah pangkalnya dan yang ringan itulah ujungnya".
Setelah sampai waktunya, maka berdatanganlah segala orang besar besar dan patut patut ke medan yang baik itu, yaitu Dusun Tua namanya. Begitu juga segala isi nagari laki laki perempuan datang bersama sama ke medan itu.
Setelah cukup semuanya, bertanya Cateri Reno kepada nakhoda itu :
"Apa maksud tuan datang kemari ?"
Sahut nakhoda itu :
"Kami sengaja datang kemari karena kami dengar disini banyak orang cerdik pandai. Segala orang itulah yang hendak kami jelang. Jika Datuk suka, cobalah datuk terka akan kayu kami ini, mana ujung dan mana pangkalnya." Sambil mengeluarkan kayu yangia bawa.
"Apabila terterka oleh kami, apa yang akan menjadi hukumnya?" tanya Cateri Reno.

Dijawab oleh nakhoda "Miliki oleh Datuk segala isi perahu kami."
Setelah taruhan ditampin, maka kayu tataran naga pihak itu diambil oleh Cateri Reno sudah. Tepat ditengah tengah kayu itu di ikatnya dengan tali yang halus dan kuat. Setelah itu ujung tali pengikat itu diangkatnya keatas, kelihatan oleh orang banyak kayu itu berat sebelah. Lalu diterkalah oleh Cateri Reno menunjukkan kepada nakhoda itu, katanya "yang berat itu adalah pangkalnya dan yang ringan adalh ujung kayu itu."

Nakhoda itu sangat malu atas kekalahannya ini ditinggalkan segala taruhan tadi dan iapun kembali kelaut pulang ke negerinya. Sungai Mas tempat ia menambatkan perahunya diberi nama Kepala Padang Ganting.
Sepeninggal nakhoda tadi, taruhan tadi dibagi oleh orang luhak nan tiga laras nan dua, sebagian kepariangan Padang Panjang, dan sebagian lagi dibagi tiga, sebagian tinggal di lima kaum, sebagian di Sungai Tarab dan sebagian lagi untuk Tanjung Sungayang.




Cateri Reno Sudah Menerka Dua Ekor Burung Yang Serupa
Tidak puas dengan kekalahannya itu, nakhoda kapal balik lagi ke pulau perca dengan membawa dua ekor burung, satu jantan dan lainnya betina. Kedua ekor itu sama rupa bulunya, sama besarnya dan bunyinya pun serupa.

Nakhoda menetap di nagari Tanjung Sungayang dan perahunya ditanbatkannya di Pangkal Bumi disitu pula bertemu kembali dengan Cateri Reno Sudah. Pada kesempatan itu ia kembali mengajak berteka teki.
Cateri Reno Sudah menanyakan apa lagi yang akan diterkanya, dan dijawab oleh nakhoda itu yaitu menerka kedua ekor burung yang dibawanya.

Ada dua ekor burung yang sama rupa dan bangunnya. Terkalah oleh Datuk mana yang jantan dan mana yang betina."
Menyahut Cateri Reno Sudah : "Kalau begitu kata tuan , teka teki ini kami terima, tetapi harus dilakukan ditengah medan agar dapat disaksikan oleh orang banyak.
Syarat itu diterima oleh nakhoda tadi dan merekapun menetapkan perjanjian kapan teka teki itu dilaksanakan. Sementara itu pergilah orang besar besar dan patut patut menghadap kepada Datuk Suri Diraja dan menceritakan hal itu. Datuk Suri Diraja berkata :
" Beri makan kedua burung itu pada satu tempat, mana yang cepat makannya dan kuat, tandanya burung jantan, sedangkan yang lemah adalah burung betina."

Setelah tiba waktunya, maka berhinpunlah segala orang di medan yang sudah dihiasi yaitu balai gadang namanya terletak diantara Tanjung dan Sungayang. Setelah itu bertanya lagi Cateri Reno Sudah kepada Nakhoda tadi: Apakah kehendak tuan datang ke negeri kami ini?"
Sahut nakhoda itu: Saya membawa dua ekor burung, cobalah terka oleh datuk mana yang burung jantan mana yang betina"
Setelah itu Cateri Reno Sudah mengambil kedua burung itu, lalu diberinya makan pada suatu tempat yang sempit.

Kedua burung itupun berebut makan sampai berdesak desakan, edar mengedar dan tendang menendang. Tidak lama setelah itu terlihat salah satu keletihan, dan oleh Cateri Reno Sudah ditunjuknya sebagai burung betina dan yang masih kuat ditunjuk sebagai burung Jantan.
Maka kalahlah nakhoda itu sehingga tiada termakan nasi olehnya, setelah itudiambilnya kedua burung tadi, lalu dikurungnya dan dibawanya kembali ke dalam perahunya. Dari sana ia bertolak dan perahu itu ditinggalkan ditepi bukit, dan dia dengan segala anak buahnya pergi menuju ke kampung Minangkabau yaitu kekaki bukit batu patah.

Disana mereka bersumpah untuk tidak kembali lagi ke pulau perca ini, karena orang disini banyak yang pintar cerdik pandai. Setelah itu ia pulang kenegerinya dan tidak pernah muncul lagi ke alam Minangkabau.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:23 PM
#42

Alam Minangkabau (IX)

Spoiler for Isi

XI. Adityawarman Datang ke Pulau Perca
Menurut kata ahli adat, pada masa itu datang orang berlayar dari laut menepat ke nagari Pariangan Padang Panjang, lalu ke galundi nan bersela sela dan bertemu dengan datuk yang bertiga yakni Datuk Katumangguangan, datuak Parapatiah nan Sabatang dan Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga. Orang yang datang itu dimuliakan oleh datuk yang bertiga itu dengan patutnya.

Mereka datang beramai ramai dalam satu kapal lengkap dengan hamba sahayanya (bangsa sekawak), yang menjadi orangsuruhan oleh kepala kapal itu, bernama Adityawarman bergelar Sri Paduka Berhala.

Disaat itu timbul perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak Katumangguangan mengatakan bahwa dia adalah Raja, sedangkan menurut Datuk Parapatiah nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan manti saja, dan menurut Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga orang itu hanya seorang utusan raja.

Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang dikatakan Datuk Katumangguangan karena beliau berniat akan mengambil orang itu sebagai semendanya, akan suami dari adiknya yang bernama Tuan Putri Reno Mandi.

Rencana Datuk Katumangguangan itu diterima oleh Adityawarman, hingga bulatlah perundingan masa itu dikimpoikanlah Adityawarman dengan Tuan Putri Reno Mandi menurut sepanjang adat yang patut.

Semenjak itu Adityawarman yang bergelar Sri PadukaBerhala itu dianggap oleh orang Pariangan Padang Panjang seperti rajanya. Sungguhpun ia datang dari tanah jawa, tetapi asal usulnya ia datang dari hindustan, keturunan raja juga. Dia dan teman temannya itu berdiam di Pariangan Padang Panjang menurut adat lembaga orang dalam nagari itu, menetap selamanya sebagai bumi putera disana.

Kelak anak cucu Adityawarman yang menjawat waris Datuk Katumangguangan, Datuk Parapatiah nan Sabatang, Datuk Sri Maharaja nan Banaga Naga dan Datuk Suri Diraja.

Menurut Tambo adat alam Minangkabau, asal orang Minangkabau yang telah berkembang biak diseluruh pulau andalas (tanah Alam Minangkabau) itu ialah :
Pertama sekali yang datang adalah Ninik Sri Maharaja Diraja, dengan menbawa orang Kasta Cateri menepat diatas puncak gunung merapi, semasa alun baralun bumi akan bersentak turun. Langit akan bersentak naik. Pada masa baru laut semata mata tanah pulau andalas ini, yang ada baru puncak gunung merapi yang ada tanah daratannya. Keturunan bangsa Cateri ini yang terbilang cerdik pandai. Mereka suka berkelompok sesama kasta Cateri.

Selanjutnya datang bangsa Hindustan yang datang bersama Adityawarman. Kesukaannya berkumpul sehindu hindu atau sesama bangsa hindustan saja. Termasuk juga bangsa sekawak yang ikut dengan rombongan Adityawarman, yang menjadi orang hamba sahaya. Bangsa sekawak ini semenjak datang jadi hamba sahaya orang turun temurun yang disebut juga budak, atau istilah adatnya kemenakan bawah lutut dari tuannya.
Mereka dapat diperjual belikan, dijadikan hadiah dan persembahan kepada orang besar besar, untuk pembayar hutang.

Dikatakan bangsa kasta Cateri tadi adalah asal raja raja dan orang cerdik pandai, dan orang orang bangsa hindustan itu bangsa penghulu besar batuah di dalam tiap tiap nagari. Pada saat itu kedua keturunan itu tidak dapat lagi dibedakan karena sudah lama bercampur baur menjadi satu.
Kedua keturunan ini sudah tarik menarik, semenda menyemenda dan sama sama berpenghulu kedua belah pihak, yang adatnya tiada berkurang sedikit juga.
Kedua bangsa itulah yang dikatakan orang baik turun temurun diseluruh minagkabau ini, yang teratur adat lembaganya oleh ninik yang bertiga.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:32 PM
#43

Alam Minangkabau (X)

Spoiler for Isi

XII. Amanat Ninik Yang Bertiga

Amanat Datuk Suri Diraja
Berkata Datuk Suri Diraja kepada segenap pwnghulu dan orang orang patut di Pariangan Padang Panjang

Dengarlah ibarat kata hamba oleh segala penghulu dan orang yang mempunyai bicara:
Sutan Kayo di Koto alam
Kayu mati diperumahannya
Jika engkau kaya didalam alam
Akan mati juga kesudahannya

Berbuak kayu di Koto Alam
Buahnya tindih bertindih
Jika engkau bertuah didalam alam
Hanya tuah itu silih berganti

Kayu Pantai di Koto Alam
Pantainya sandi basandi
Jika engkau pandai didalam alam
Patah tumbuh hilang berganti.

Pikirkanlah sungguh sungguh oleh segala yang mempunyai bicara akan ibarat kata hamba itu.

Selanjutnya disaat Datuk Suri Diraja akan meninggal beliau berkata kepada segala raja raja dan segala penghulu dari laras koto piliang dan laras bodi chaniago :
"Adapun kita segala yang disungkup langit, yang ditanahi bumi lalu ke mekah dan medinah sekalian, sedikitpun tiada yang lebih dan kurangnya. Jika dikatakan lebih ada kekurangannya, dikatakan kurang ada kelebihannya, dikatakan tinggi ada rendahnya dikatakan rendah ada tingginya.

Jika dikatakan raja lebih tinggi dan orang besar besar itu ada kelebihannya, terlalu rendah pada bathinnya karena barang siapa yang hendak menjadi raja atau orang besar besar itu, hanya mengisi adat menuang lembaga kepada alam, kepada setiap luhak atau laras atau nagari, itulah rendahnya. Oleh sebab itu janganlah engkau berdengki dengkian, karena malu belum dibagi oleh ninik Datuk Katumangguangan dan Datuk Parapatiah nan Sabatang.

Meskipunsawah ladang, emas perak, segala ternak dan pakaian juga dibagi, demikian pula didalam laras Koto Piliang dan Bodi chaniago, jika tanah sudah berkabung, padi sudah bergantang, jarum sudah terbentuk seorang, hanya malu yang belum dibagi.

Oleh sebab itu janganlah engkau bercerai berai sepeninggal kami. Payung yang mempunyai kerajaan adalah Datuk Katumangguangan. Jika berang laras Bodi Caniago kepada larasnya, mengadunya ke laras Koto Piliang, begitu pula sebaliknya, itulah sumpah ninik moyang berdua, yang tiada lapuk oleh hujan tiada lekang oleh panas, digali dalam digantung tinggi, itulah mulanya jadi persemandanan laras Koto Piliang dan laras Bodi chaniago.

Bagi laras Bodi Chaniago, penghulunya oleh yang sekata, tuahnya karena mupakat, celakanya oleh bersilang, apabiladapat kerja semupakat, jadilah barang kerjanya, barang ke mana mana, maksudnyapun sampai.

Adapun laras Koto Piliang orang beraja: apabila hendak menyusun larasnya berkirim surat kepada Datuk Pamuncak Alam di Sungai Tarab, Datuk Indomo di Saruaso dan tuan Khadi di Padang Ganting diatas daulat yang dipertuan.
Maka barang apa apa kerjanya pun jadi berkat pekerjaannya.

Pamuncak alam di Sungai Tarab
Payung panji di Saruaso
Suluah bendang di Padang Ganting
Cermin cina di Singkarak Saningbakar
Harimau Campo di Batipuah
Tangkai alam di Pariangan Padang Panjang
Pasak kungkung di Sungai Jambu
Raja besar di Bukit Batu Patah

Jika berkata dengan orang yang tahu, lebih bak santan dengan tanguli, dan berkata dengan orang yang tidak tahu, lebih bak antan pencungkil duri. Oleh sebab itu baik baiklah engkau mencari salak silik, baik baiklah engkau mencari kata pusaka, supaya selamat kamu dialam ini.

Amanat datuak Katumangguangan
Disampaikan saat beliau akan meninggal dunia didepan segala penghulu dan orang orang besar dalam laras Koto Piliang:
1. Sekali kali hindarkan perceraian dengan orang laras bodi Chaniago, karena merekalah yang mengisi cukai adat lembaga kepada kita. Merekalah yang mendirikan kerajaan kita, dan kalau dihiasinya akan tempat kita duduk. Payung ubur ubur itu milik orang laras Bodi chaniago, maka dari itu janganlah kamu bercerai sepeninggal kami berdua.
2. baik baiklah engkau memelihara isi alam, isi nagari, segala anak kemenakan, pikir benar sungguh sungguh supaya kalian jangan kena sumpah ninik moyang.
3. berbuatlah seperti lauttiada penuh oleh air, seperti bumi tiada penuh oleh tumbuh tumbuhan. Apabila kalian jadi penghulu dalam laras Koto Piliang janganlah memakan menghabiskan, jangan menebang merebahkan, jangan mencencang memutuskan, karena bicara tiada sekali dapat.
4. Jadikan nabi Allah jadi suri teladan. Kasih kalian kepada isi alam sebagai kasih nabi kepada umatnya. Hati adalah palinggam Allah, teraju palinggam mata, sebab itu peliharalah lidahmu dengan baik, begitu pula kaki dan mulutmu. Jika tertarung panyambahan badan tanggungannya, mulut emas padahannya, tertarung kaki inai padahannya.
5. Memutih padi orangdi Kamang, melekang panas sehari, berbelok belok alang samat, ranting berbelok kepangkalnya.
6. berdentung gegar dilaut, merentang rupanya kilat, kalang kambut rupanya langit, berputar rupanya angin timur.
7. pikir jualah sungguh sungguh, lemak liuk kayu akar kelimpang, itulah patut bicara."

Datuk Katumangguangan meninggal di koto Ranah yakni di Kampung Minangkabau sampai sekarang kuburan beliau masih ada disana dikenal dengan kubur yang dipertuan yang bersusu empat.

Amanat Datuak Parapatiah Nan Sabatang
Pesan ini disampaikan kepada penghulu yang berempat dan yang berlima sekota, serta orang orang cerdik pandai dan orang orang bertuah dalam laras Bodi Caniago, beliau berkata:
"Rasanya umurnya hamba tidak akan lama lagi, hamba hendak pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak, oleh sebab itu hendaklah pegang pitaruh hamba oleh segala penghulu dan orang cerdik pandai :
Pertama hendaklah kalian kasih kepada nagari, kepada isi nagari, kepada orang orang kaya, kepada orang orang bertuan, kepada tukang, kepadan segala penghulu, kepada orang yang mempunyai bicara meskipun ia kanak kanak sekalipun.

Apabila dia mempunyai bicara, ikuti olehmu karena ia itulah tangkai nagari dan tangkai alam janganlah kalian ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa apa yang kalian kerjakan.

Malu orang kepada kalian yang mempunyai bicara ada enam perkara :
1. Kuat melawan kepada yang benar.
2. Kuat membelanjakan kepada segala yang baik.
3. Memperbaiki parit pagar keliling nagari
4. Kuat mengusahakan pekerjaan
5. Tahu kepada yang benar
6. Kuat menyelesaikan yang kusut dalam nagari dantahu dengan basa basi.

Apabila terpakai niscaya jadilah kalian panglimabesar dalam nagari, menjadi ikutan segala isi alam dan luhak, dan kalian lah penghulu pilihan dalam alam ini.

Kata empat yang dipakai :
1. Janganlah berdengki dengkian
2. Jangan hina menghinakan
3. Jangan bertolong tolongan kepada maksiat
4. Jangan menghasut orang dalam nagari untuk berkelahi.

Jagalah dua belas perkara yang akan dipakai :
1. Kuat memberi makan isi nagari
2. Benci kepada segala kejahatan
3. Banyak harta
4. Banyak ilmu pengetahuan yang baik
5. Berhati baik kepada orang banyak
6. Giat berusaha
7. menerima umpat puji dengan lapang dada
8. Kasih sayang kepada orang teraniaya
9. Pandai berbicara
10. Pasihat lidah
11. Tahu kepada yang benar
12. Ingat ingat pada kata kias

Setelah beramanat itu Datruak Parapatiah Nan Sabatang berjalan ke negeri Malaka, berdiam dinegeri Sembilan dan beliau meninggal di Negeri Sembilan itu. Sepanjang cerita orang kuburan beliau masih ada disana yang oleh orang Negeri Sembilan dinamakan Kuburan Patih.
Masyarakat di negeri sembilan itu beradat seperti kita orang alam Minangkabau juga, berpusaka kepada kemenangan menurut aturan Ninik Parapatiah nan Sabatang.

Sumber : Buku Curaian Adat Minangkabau
Penerbit : Kristal Multimedia Bukittinggi
andreandhika - 04/11/2009 03:33 PM
#44

Tanah Adat di Minangkabau

Spoiler for Isi

Tanah adat di Minangkabau seperti diketahui mempunyai kedudukan tersendiri. Tanah adat yang dimiliki oleh suatu kaum, misal kaum a, kaum A ini sebagian kecil dari suatu suku misal lagi suku caniago (kebetulan awak sukunyo caniago). Suku adalah kelompok yang mempunyai hubungan darah sangat dekat menurut garis keturunan keibuan, matrilinial . Susunan organisasi kekeluargaan ini dipimpin oleh seorang laki laki atau beberapa orang laki laki yang disebut dengan mamak. yaitu saudara laki laki dari ibu. Saudara dari laki laki dari nenek disebut angku atau datuk. Kumpulan dari mamak dan datuk inilah yang disebut ninik mamak. Jangan salah sebut nenek mamak, tapi ninik mamak. Jadi ninik disini adalah datuk, artinya laki laki, saudara laki laki dari nenek. Sedangkan nenek adalah perempuan, sebutannya disana adalah anduang. Demikianlah sedikit gambaran mengenai sistem keluarga itu.

Siapa Yang Berkuasa atas Tanah ?

Katanya, yang memiliki tanah itu adalah kaum atau keluarga tadi. Yang berkuasa atas tanah adalah mamak yang tertua. Tetapi dalam kenyataan sehari-hari tanah itu dibawah kekuasaan atau kelihatannya seperti dalam kepemilikan ibu, atau nenek dalam keluarga itu. Jadi pihak perempuanlah sebenarnya yang memiliki tanah atau sawah itu. Tidak ada orang menyebut sawah angku datuak Bandaro, misalnya. Yang ada disebut orang adalah sawah ibu reni.

Jadi inilah yang terlihat dalam masyarakat. Yang dianggap masyarakat pemiliknya adalah si ibu atau si nenek tadi, yang menguasainya mamak atau ninik itu. Tetapi dibaliak itu, yang mengasainya keluar kalau ada urusan apa apa terhadap tanah itu misal urusan dengan kantor kantor pemerintahan, maka ninik atau mamak yang terkemuka dalam kaum tadilah yang berhadapan, dialah yang bertugas menghadapi hal itu. Demikian gambaran struktur organisasi pemilikan dan penguasaan atas tanah pusaka tinggi dalam satu keluarga.

Berdasarkan diatas struktur kepemilikan dan penguasaan atas tanah, menurut hukum adat Minangkabau sebagai berikut:

Tanah ulayat nagari
Adalah hutan ataupun tanah yang berada dalam pengelolaan Nagari. Biasanya tanah ulayat nagari dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat umum; seperti untuk Masjid dan sebagainya.

Tanah ulayat suku;
Adalah tanah tanah yang dikelola dan hanya anggota suku inilah yang dapat memperoleh dan menggunakan tanah tersebut.

Tanah pusaka tinggi:
Tanah yang dimiliki oleh kaum, yang merupakan milik bersama dari seluruh anggota kaum dan diperoleh secara turun temurun, yang pengawasannya berada di tangan mamak Kepala Waris Kaum.

Tanah pusaka rendah:
Adalah harta yang diperoleh seseorang atau suatu/sebuah paruik berdasarkan pemberian atau hibah maupun pencariannya, pembelian, "Taruko" dan sebagainya

Paralu juo disampaikan bahwa pada saat kini tanah ulayat Nagari maupun tanah tanah suku di beberapa Nagari sudah tidak ditemui lagi, hal ini disebabkab karena "pudar" dilanda perkembangan penduduk dan perkembangan Sosial Ekonomi

"Kato dahulu, batapeki,
Kato kamudian, kato baurai
Ikrar ba muliakan,
Janji batapeki
Kurang labiah minta maaf.

Sumber: www.cimbuak.net
Penulis: Sajuti Thalib, S.H
andreandhika - 04/11/2009 04:58 PM
#45

Ninik Mamak Di Persimpangan Jalan

Spoiler for Isi

Menurut adat, Pangulu atau Ninik Mamak itu sama, tidak bertinggi berendah, duduk sahamparan/duduak samo randah, kok tagak samo tinggi.

Untuk pengetahuan kita, dibawah ini diutarakan serba sedikit mengenai hal diatas, bak kato nan tuo-tuo :
Kok kurang tukuak manukuak dan kok singkek uleh mauleh, mudah-mudahan bermamfaat bagi sanak sudaro sarato anak kamanakan nan alun tahu.

1. Sebelum Kemerdekaan
Setiap pribadi dari Datuk atau Pangulu, sedapat-dapatnya harus bertempat tinggal/berdomisili di kampung.

Gunanya ialah supaya beliau selalu melihat-lihat dan atau mengawasi anak kemenakan yang berada dibawah naungannya. Disamping itu dimaksudkan pula agar beliau menyempatkan diri melakukan sholat Jum'at di kampung

Ketentuan ini juga berlaku bagi para Datuk/Pangulu yang tidak kimpoi/belum pernah berumah tangga di kampung.

Pada kesempatan bertemu muka dengan orang kampung/jemaah masjid yang lazimnya dibacakan pengumuman-pengumuman atau keputusan-keputusan yang telah diambil oleh Kerapatan Adat/Musyawarah Datuk/Pangulu di Balairung, misalnya menyangkut pajak nagari, aturan kerja bakti/gotong royong memperbaiki banda/selokan, irigasi, jalan desa, hukuman/teguran kepada pembangkang-pembangkang adat dstnya.

Biasanya sekembali dari sholat jum'at di masjid beliau mampir di kediaman kemenakannya, dan ini diatur secara bergilir, kalau minggu ini di rumah si a, maka minggu yang akan datang ke rumah si B, dan begitulah seterusnya. Ketentuan ini merupakan keharusan bagi setiap Datuk/Pangulu Minangkabau yang bersuku Ibu/Matriarchaat (Matrilinial).

Kunjungan ke rumah kemenakan ini dimaksudkan antara lain untuk menyampaikan kepada mereka maklumat/pengumuman yang barusan saja di lewakan (disiarkan) di masjid.

Disamping itu untuk lebih memperat hubungan antara sang mamak dan kemenakan. Pada kesempatan seperti itu ditanyakan kondisi si kemenakan seperti kesehatan mereka, keadaan ekonominya dan lain-lain. Adalah kewajiban mamak untuk waktu siang maliek-liek dan kok malam manadanga-dangakan, sebab bak bunyi pepatah petitih adat :

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka alua jo patuik
Kamanakan manyambah lahia
Mamak manyambah bathin

Tidak jarang terjadi justru pada siang Jum'at itu pula kesempatan bagi kaum Ibu menemui Angku Kadhi guna melaporkan segala sesuatu yang menyangkut rumah tangga, sesuai dengan isi Taqlik Nikah. Karena mamak yang bersangkutan hadir, maka Tuan Kadhi lansung berembuk dan memecahkan persoalan tesebut, Tuan kadhi tak akan berani memutuskan segala sesuatau yang secara sepihak tanpa melalui perundingan dengan Ninik Mamak, satu dan lain, karena berpegang teguh kepada Undang-undang tak tertulis : “Rumah ba mamak/tungganai dan Kampuang ba urang Tuo, kok hati samo dicacah, hati gajah samo di lapah.

Selanjutnya, supayo nak duo pantun sairiang :
Kok elok samo dipakai, tapi kok buruak tasuo dibuang jo etongan. Landasan untuk semuanya itu adalah Tali Bapilin Tigo, yakni Adat, Agamo dan Pemerintahan.

2. Setelah Kemerdekaan
Begitu revolusi pecah, maka teori adat seperti di uraikan diatas berubah pula, Para Datuk/Pangulu pada ke empat nagari banyak pergi merantau, sementara Datuk/Pangulu yang baru diangkatpun tidak jarang ikut-ikutan meninggalkan kampung halaman. Menurut pengamatan di lapangan tidak lebih 40% dari jumlah Datuk/Pangulu yang tetap bertahan di kampung, sementara yang 60% berada diluar kampung asalnya. (Masalahnya tentu lebih banyak disebabkan oleh ekonomi).

Merisaukan memang, namun demikianlah kenyataan kini, “Kuek (Kuat) sapik karano jari dan kuek kampo karano minyak".

Mamanda Datuk/Pangulu merasa kurang tanggung jawabnya lagi untuk menyilau-nyilau kamanakan. Lalu menanyakan beberapa orang anak sekarang, tanah perumahan nan disinan/situ baa kini, kemudian menyisiasati kamanakan nan di anu dan mereka yang telah cukup umur untuk dijodohkan dan sebagainya.

Diperparah lagi mengenai hak jual tanah serta menggadai yang sudah tidak perlu melalui musyawarah mufakat. Peranan Pangulu/Ninik Mamak yang dulu demikian besar, kini sudah tidak kedengaran lagi. Padahal ketentuan itu dimaksudkan untuk membendung kesewenang-wenangan sehingga anak kemenakan terpelihara dari watak “basihabih/basitandeh" alias main jual serta main sikat.

Seperti diketahui, seorang baru/boleh dibenarkan menggadai dan menjual apabila dijumpai tiga perkara yang dapat mendatangkan ‘aib keluarga, yaitu :
a. Rumah Gadang katirisan
b. Gadih gadang (dewasa) tak berlaki (bersuami)
c. Mayat tabujua (terbujur) ditengah rumah.

Kalau pada suatu kaum kedapatan salah satu dari yang tiga tersebut , barulah dapat dilakukan Rumah Gadang Tahan rajok dan kabau Gadang Tahan Tariak. Artinya kalau sudah sangat terpaksa dan tidak bisa saling tenggang lagi.

Lalu bagaimana kini ? Angku-angku datuak/Pangulu yang tergolong Pangulu Tiga Zaman sudah sangat langka, boleh dihitung dengan jari banyaknya.

Barangkali bukanlah manyaruangkan baju sampik sembari bernostalgia sekali-sekali kita menoleh ke belakang ke saat, dimana adat itu memang tak lekang di panas dan tak lapuak dek hujan untuk mengingat-ingat jasa para pendahulu kita (Ninik Mamak) yang demikian beribawa, tidak hanya terhadap anak kemenakan (didalam) akan tetapi juga keluar (terhadap pemerintah, sekalipun pemerintah asing). Ada undang adat mengatakan : “Nak barundiang dalam barih".

Akankah masa-masa bahagia dimana anak kemenakan merasa terlindungi itu dapat kembali lagi dialam merdeka ini ?

Kendatipun Ninik Mamak/Pangulu ada jauh berdomisili jauh di rantau, namun mentalitas terhadap kemenakan di kampung tidak berubah, artinya senantiasa memperhatikan kemenakan tersebut. Dan hal ini dilakukan melalui alat komunikasi mutakhir, telepon, surat dan pesawat terbang, yang menyebabkan hubungan dan komunikasi lebih cepat.

Sebaliknya kalau Ninik Mamak/Pangulu itu bertempat tinggal di kampung halaman, akan tetapi mentalitas dan perhatiannya terhadap kemenakan tidak ada, maka ia “basibanam saja di rumah istrinya", artinya perhatian tidak ada sama sekali.

Yang menjadi pokok utama adalah mentalitas Ninik Mamak/Pangulu terhadap kemenakan, jauh dan dekat tidak menjadi soal di zaman sekarang dengan alat serba mutakhir kemana saja dekat dan cepat.

Sumber: www.cimbuak.net
andreandhika - 04/11/2009 05:06 PM
#46

Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.1

Spoiler for Isi

Saat ini masyarakat baik yang dikampung apalagi yang dirantau memahami adat sebagai sesuatu yang memberatkan. Bila ditanya apa itu adat, memang sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Dalam pikirannya, seolah olah apa yang terjadi dan dilihat dalam setiap acara beradat itulah yang disebut adat. Sehingga dengan latar belakang berbeda-beda, masing masing mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda pula.

Hal ini mengakibatkan akan terjadinya bias, terlihat membingungkan dan tidak logis. Kita tidak bisa menyesalkan terjadinya kondisi tersebut. Mereka tidak salah karena pengertian adat itu bisa sempit dan bisa luas.

Kok dibalun sabalun kuku
Kok dikambang saleba alam
Dalam kulik manganduang isi,
Dalam isi ado bapanguba,
Dalam panguba batareh pulo

Dalam Bahasa Indonesia :
Kalo dikecilkan sekecil kuku
Kalo bibesarkan selebar alam
Dalam kulit mengandung isi
Dalam isi ada plasma
Dalam plasma ada nucleus/intisari.

Jadi jawaban apa adat itu tergantung pengertian dan pengetahuannya pada lapisan mana. Sehingga diperlukan sekali bertanya kepada yang tahu, berguru kepada yang pandai.

Latar belakang munculnya adat tidak terlepas dari munculnya nagari, ada empat fase munculnya adat/nagari yaitu :
1. Taratak
2. Dusun
3. Koto
4. Nagari

1. Fase Taratak
Pada saat nenek moyang kita dahulu mulai berpikir untuk menetap pada suatu daerah, saat itulah mulai dicari wilayah yang sesuai dan menjanjikan untuk didiami, semak belukar dibabat, kayu ditebangi, lurah ditimbun, bukit diratakan, air dialirkan kesawah ladang.

Lalu ditanamlah ke dalam tanah tiang-tiang pembatas tanah yang disebut dengan batu lantak dengan syarat dan upacara tertentu. Batu-batu lantak itulah menandakan hak bamiliak harato bapunyo (hak milik harta yang berpunya) yang tidak boleh diganggu gugat. Pekerjaan membersihkan lahan itulah yang disebut dengan malaco.

Sedang kegiatan menetapkan batas-batas pendirian pondok/rumah sekarang masih dipertahankan dengan menyebut maantak tanah. Dengan memanggil dan disaksikan oleh seluruh karib kerabat, pihak yang berbatasan tanah dan yang dituakan di kampung diadakan acara syukuran.

Semakin hari anak kemenakan berkembang biak, daerah wilayah makin diperluas, lalu dibuatlah umpuak/pembagian yang jelas terutama untuk kemenakan perempuan yang disebut dengan ganggam dan baumpuak. Agar tidak terjadi pergeseran sesama mereka, silang jo salisiah, bantah jo kalah, dandam jo kesumat, maka dibuatlah aturan secukupmya.

Yang akan mengatur hak dan kewajiban masing masing, hubungan sesama mereka dengan alam dan Sang Pencipta sehingga tercipta keharmonisan.

Barek samo dipikua ringan samo dijinjiang
tatungkuik samo makan tanah tatilantang samo dapek angin
nan hiduik samo dipaliharo nan mati samo disalamaikkan.

Dalam bahasa Indonesia
Berat sama dipikul ringan sama dijinjing
Tertelungkup sama makan tanah terlentang sama dapat angin
Yang hidup dipelihara yang mati sama diselamatkan.

Proses hingga terlahirnya masyarakat aman dan damai itulah yang disebut dengan taratak, sehingga wilayahnya disebut dengan taratak. Taratak taratua, tertata dengan rapi.

2. Fase Dusun
Sudah menjadi kebiasaan nenek moyang kita untuk berpindah-pindah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semakin produktif dan prospektif wilayah yang dihuni semakin lama mereka menetap. Tentu saja semakin lama anggota keluarga semakin bertambah.

Dalam perkembangannya, kadang-kadang terjadi perjumpaan dan kesesuaian untuk juga bisa melaco didekat atau diluar wilayah yang telah menjadi taratak. Dengan semakin bertambahnya warga atau kaum wilayah tersebut, maka disusunlah aturan atau norma yang menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing kaum yang menghuni wilayah tersebut.

batanggang samo lapa
Takuruang samo mati
Batenggang bakeh nan sampik
Duduak surang basampik sampik
Duduak basamo balapang lapang
Kok lai samo dimakan
Kok indak samo dicari
Lamak diawak katuju diurang
Awak dapek urang buliah
Sairiang samo sajalan saayun salangkah
Sakik samo diubek
Sanang samo dirasokan.

Dalam bahasa Indonesia
Begadang sama lapar
Terkurung sama mati
Bertenggang kepada yang sempit
Duduk sendiri bersempit sempit
Duduk bersama berlapang lapang
Jika ada sama dimakan
Jika tidak ada sama dicari
Enak sama kita enak juga bagi orang lain
Kita dapat orangpun dapat.
Seiring sama sejalan seayun selangkah
Sakit sama diobati
Senang sama dirasakan.

Proses penyunsunan kesatuan wilayah, masyarakat/beberapa kaum dengan segala aturan dan norma yang disepakati itulah yang disebut dengan dusun.
andreandhika - 04/11/2009 05:07 PM
#47

Latar Belakang Munculnya Adat Dan Nagari Bag.2

Spoiler for Isi

3. Fase Koto
Karena anak kemenakan berkembang, wilayah semakin lebar maka aturan dan norma hidup semakin diperluas skopnya, membutuhkan adanya pemimpin diwilayah tersebut. Pemimpin yang akan :

Manantukan lantak pasupadan,
Manantukan inggo jo biteh,
Kok kusuik ka manyalasaikan
Karuah nan kamanjaniahkan
Nan mamacik naraco keadilan

Dalam bahasa Indonesia
Menentukan tanda pembatas
Menentukan wilayah dan batas
Jika ada masalah yang akan menyelesaikan
Jika keruh yang akan menjernihkan
Yang memegang neraca keadilan

Maka dipilihlah seorang pangkatuo/pangatuo/tuo kampung dan didirikanlah rumah gadang secara bergotong royong sebagai pelambang kebesaran pemimpin.

Diharapkan dengan adanya pemimpin dengan segala hak dan kewajiban dan atributnya akan tercipta masyarakat harmonis, elok susunnya bak siriah rancak liriknyo bak ma atua (bagai sirih yang bagus susunnya setelah dijalin)

Daerah/dusun tersebut menjadi makmur, aman dan damai yang dalam bahasa sangsekerta disebut kerto, sebagai akibat adaptasi berdasarkan struktur morfologis, kerto berobah jadi koto.

Karena begitu subur dan makmurnya makin banyak pendatang (dagang lalu) yang menetap disana. Bagi pendatang baru didusun tersebut harus mengikuti aturan :

dima bumi dipijak disitu langit dijunjuang.
bajalan mairiang,
Bakato baiyo
Baiyua maisi

Dalam bahasa Indonesia
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung
Berjalan mengiringi
Berkata sepakat
Ikut beriur.

Ada juga yang mengatakan koto berasal kata kuta, artinya suatu wilayah yang dipagar untuk menahan serangan dari luar yang akan merugikan penghuninya, itulah yang disebut rumah berpagar adat, kampung bapaga buek, nagari bapaga undang, Tagak suku pado suku, tagak kampuang pado kampuang, taga banagari pada nagari.

4. Fase Nagari
Dalam fase ini ada beberapa kelompok yang memisah dari inti, coba merantau ke daerah yang relatif dekat, kemudian didaerah baru tersebut mengalami fase yang sama dengan daerah asal. Dari taratak manjadi dusun, dari dusun manjadi koto, tetapi mereka tetap menjalin hubungan yang erat dan memakai aturan dan norma yang sama dengan daerah asal,

Dibubuik indak layua
Diasak indak mati
Anak ciek kamanakan satu,

Dalam bahasa Indonesia
Dicabut tidak layu
Dipindah tidak mati
Anak satu kemenakan Satu

Agar hubungan kekerabatan tidak putus karena telah berdiri beberapa koto, maka berdasarkan kesepakatan beberapa Tuo kampung yang memiliki kaitan norma dan kekeluargaan maka didirikanlah nagari. Dan daerah asal/jolong disebut dengan jorong.
Dari sini muncullah,

Tuah kato samufakat
Nan bana kato baiyo
Bulek aia ka pambuluah
Bulek kato ka mufakat

Dalam bahasa Indonesia
Tuah kata karena mufakat
Yang benar kata bersama
Bulat air ke pembuluh
Bulat kata ke mufakat

Baragiah-ragiah
Babagi indak bacarai
Sarumpun bak sarai
Sakalupak bak tabu
Basimpang babalahan
Bakarek bapanggabuangan
Basasok bajarami
Nagari bapaga undang
Kampuang bapaga jo pusako

Dalam bahasa Indonesia
Saling memberi
Berbagi tapi tidak bercerai
Serumpun seperti serai
Sekelupak seperti tebu
Bersimpang berbelahan
Berpotong bersambungan
Bersosok berjerami
Nagari berpagar undang
Kampung berpagar pusaka.

Seluruh aspek kehidupan baik secara individual maupun kolektif, saparuik, sapasukuan, sakoto sanagari, hak dan kewajiban serta seluruh aturan dan norma yang telah disepakati sifat gotong royong tenggang rasa dan lain-lain, semua saling menjalin satu sama lain, dan sebagai pengikut jalinan itu yang disebut adat. Tali pengikat inilah yang disebut adat:

Indak lapuak dek hujan
Indak lakang dek paneh
Dirandam indak basah
Dibaka indak anguih

Dalam bahasa Indonesia
Tidak lapuk karena hujan
Tidak lekang karena panas
Direndam tidak basah
Dibakar tidak hangus

Dapat disimpulkan adat adalah merupakan pandangan hidup yang menata keharmonisan kehidupan antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta yang berpedoman kepada keserasian alam sekelilingnya. Itulah sebabnya adat memposisikan alam terkembang jadi guru.

Panakiak pisau sirauik
Ambiak galah batang lintabuang
Salodong jadikan niru
Satitiak jadikan lauik
Sakapa jadikan gunuang
Alam takambang jadikan guru.

Sumber : Surek kaba Anak Nagari Sungai Pua " Apa Basi" edisi I Desember 2002
andreandhika - 04/11/2009 05:12 PM
#48

Penghulu

Spoiler for Isi

Tiap tiap Penghulu dalam nagari wajib melakukan dan memakai akal yang baik, begitu juga membawa kaum kerabatnya dan orang banyak kepada kebajikan, dan mencari ikhtiar akan menolak jalan kejahatan.
Jikalau penghulu itu menggunakan akal budinya, wajiblah dengan sidik midiknya dalam segala pekerjaan sekedar kuasa dirinya masing masing. Ditambah lagi suatu akal, penghulu wajib tahu dengan hereang dan gendeang, basa basi serta makna kata-kata kias, yakni kata kata yang mengandung arti didalamnya.

Timbang Penghulu
Penghulu itu wajib baginya menimbang baik buruk dengan baik, mudarat dan mamfaat, tinggi rendah, jauh dekat dalam segala pekerjaan yang akan dikerjakan, oleh anak buahnya.

Dan selalu juga menimbang rugi dan laba, mengkaji sebab akibat perbuatannya, baik terhadap dirinya maupun terhadap anak kemenakannya, seperti kata ahli adat "Awal di perbuat akhir dikenal" Jika penghulu itu tiada menimbang lebih dahulu barang sesuatu apa pekerjaan yang akan dikerjakan atau yang akan dikerjakan anak buahnya, apalagi pekerjaan itu dikerjakan dengan terburu nafsu, hal itu sering sekali menyebabkan kerugian terhadap dirinya atau atas diri anak buahnya, atau atas diri orang lain, dan kerap kali pula hal itu merusak akan perjalanan adat asli dalam nagari yaitu adat-adat yang memberikan kebajikan banyak dalam nagari.

Ilmu Penghulu
Setiap penghulu wajib berilmu, wajib menambahkan ilmu, artinya mengetahui lebih banyak suatu persoalan suatu pekerjaan yang akan dikerjakan dan yang akan dikerjakan oleh anak buahnya baik pada massa yang lalu (hal yang telah terjadi) maupun pada massa yang akan datang, rugi atau laba, yang akan timbul sebab dari perbuatannya atau anak buahnya.

Penghulu kerja tanpa ilmu hampa, ilmu yang ada tidak diamalkan oleh penghulu celaka. Dengan kata lain penghulu tidak berilmu pada pekerjaan yang akan dikerjakannya atau yang disuruh kerjakan pada anak buahnya, maka pekerjaan itu tanpa guna dan maksud pekerjaan itu semakin tidak jelas. Tentu pekerjaan itu termasuk pekerjaan yang sia-sia dan mubazir.

Hakikat Penghulu.
Setiap Penghulu itu wajib pula baginya akan berhakikat yang baik selama- lamanya. Sekali kali janganlah penghulu itu kelihatan oleh orang banyak berakikat jahat kepada barangsiapapun juga meskipun terhadap musuhnya, penghulu itu hendaknya berakikat baik terlebih dahulu sekalipun pada lawannya, hakikatnya harus mampu mencari jalan perdamaian yang dapat dilihat orang banyak dan berguna untuk keselamatan dirinya dan kaumnya.

Jikalau penghulu itu kelihatan oleh orang lain, atau oleh kaumnya ada menaruh hakikat tidak baik terhadap barang sesuatunya, niscaya orang akan sak wasangka kepadanya, Jika kelihatan oleh orang bahwa penghulu itu menyimpan hakikat tidak baik kepada sesuatu yang tidak berpatutan, jikalau kelihatan pula oleh kaumnya bahwa penghulu itu berhakikat jahat terhadap orang lain, niscaya kaumnya itu akan turut pula berhakikat jahat. Kalaupun penghulu itu mempertahankan penghulunya itu dengan cara yang tidak baik, pada suatu ketika akan ditimpa malu dan akhirnya hakikat tidak baik itu akan jadi musuh di kemudian hari.

Niat dan Hati Penghulu.
Tiap-tiap penghulu wajib pula berniat dalam hatinya, bumi senang padi menjadi, anak buah berkembang biak nagari aman sentosa. Jalan raya titian bau, anak randa berjalan seorang, pantang terhambat terbelintang, hukum adil adat bernagari.

Begitulah niat sehari-hari hendaknya. Yang dimaksud dengan kata anak berjalan seorang ialah terlihat dan terasa Nagari aman sentosa, karena tak ada sumbang salah, sesuai dengan kata syarak "setiap amal itu harus dimulai dengan niat, dan niat itu dimulai dari hati"

Sumber : Surek kaba anak Nagari Sungai Pua "APA BASI".
Edisi I Desember 2002
andreandhika - 04/11/2009 05:16 PM
#49

Martabat Seorang Penghulu

Spoiler for Isi

Seorang yang telah diangkat menjadi Penghulu oleh kaum anak kemenakannya, akan berwibawa dan disegani kalau dia sebagai seorang pemimpin lebih bisa memimpin dirinya sendiri yang dapat dicontoh dan ditauladan oleh masyarakat anak kemanakan yang dipimpinnya dalam segala tingkah laku dan perbuatannya.

Penghulu atau pemimpin yang demikian akan merupakan pemimpin yang dicintai oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Maka dalam ajaran adat Minangkabau perlu pemimpin itu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengangkat martabat dan prestise penghulu tersebut, yaitu :

1. Ingek dan Jago pado Adat

Ingek di adat nan ka rusak
Jago limbago jan nyo sumbiang
urang inget pantang Takicuah
Urang jago pantang ka malingan

Seorang Penghulu hendaklah selalu hati-hati dalam setiap tingkah laku dan perbuatannya yang akan merusak nama baik seorang penghulu atau pemimpin.

Hendaklah mencerminkan dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu itu, sifat-sifat yang baik dan sempurna, umpama perkataannya, duduk, minum, makan, berjalan, berpakaian yang selalu dapat dicontoh oleh anak kemenakan dan masyarakatnya. Dia selalu ingat dan hati-hati bahwa dia adalah seorang pemimpin yang senantiasa diperhatikan dan dilihat oleh masyarakat. Baik budi, tutur dan kata yang lemah lembut, berani tanggung jawab dalam segala tindakan, jangan seperti kata gurindam :

Tinggi lonjak gadang galapua
Nan lago dibawah sajo
Baka ibarat ayam jantan
Bakukuak di nan tinggi
Gilo namuah kamanangan
Muluik kasa timbangan kurang
Gadang tungkuih tak barisi
Elok baso tak manantu.
Nan baiak umpamo buluah bambu
Nan batareh nampak kalua
Tapi di dalam kosong sajo

Mamakai cabuah sio-sio
Kecek gadang timbangan kurang
Kacak batih lah babatih
Kacak langan lah bak langan
Ereng jo gendeng tak bapakai
Baso basi jauah sakali
Malu sopan pun tak ado
Bicaro banyak suok-kida
Indak manunjuak ma-ajari

Penghulu yang demikian akan kehilangan harga diri dalam masyarakat dan tidak akan dihormati dan tidak akan berhasil dalam impiannya.

Patitih pamenan adat
Gurindam pamenan kato
Jadi pemimpin kok tak pandai
Rusak kampuang binaso kato.

2. Berilmu, Berfaham, Bermakrifat, Yakin dan Tawakal kepada Allah

Berilmu

Berilmu pengetahuan tentang rakyak yang dipimpinnya, tentang soko dan pusako, tentang korong kampuang dan halaman serta nagarinya. Berpengetahuan tentang hukum adat dan syarak, yang sagggup mengamalkannya dalam penyelesaian sengketa yang terjadi dalam lingkungan kaum dan nagarinya.

Berfaham
Merahasiakan apa yang patut dirahasiakan,

Indak ta-ruah bak katidiang
Indak ba-serak bak anjalai
Kok rundiang ba nan batin
Patuik ba-duo jan ba-tigo
Nan jan lahia di-danga urang

Bermakrifat
Mengamalkan rukun Islam yang lima, dengan tulus dan ikhlas dan selalu ingat kepada Allah swt dan meninggalkan segala larangan agama Islam, begitupun larangan Adat dan Undang-Undang.

Ilmu bak bintang bataburan
Faham haluih bak lauik dalam
Budi nan tidak kelihatan
Faham nan tidak namuah ta-gadai
Luruih bana dipegang sungguah.

3. Kayo dan Miskin pado Hati dan Kebenaran
Seorang penghulu hendaklah mempunyai kesanggupan mengarahkan anak kemenakannya kepada kebenaran. Dia akan berusaha membawanya kepada jalan yang baik dan benar, diminta atau tidak diminta oleh anak kemenakannya. Ia rendah hati dan pemurah dalam segala bentuk yang mengarah kepada kebenaran dan perbuatan-perbuatan yang baik, selalu memberi ajaran-ajaran yang baik dan berfaedah.

Sewaktu-waktu seorang penghulu perlu mempunyai sifat tegas dan bijaksana. Dia tidak akan mengambil suatu langkah dan tindakan sebelum diminta dan diperlukan. Dia tidak akan menyelesaikan suatu sengketa yang seharusnya tidak menjadi kewajibannya atau tidak pada tempatnya.

Elok nagari dek panghulu
Rancak tapian dek nan mudo
Kalau akan memegang hulu
Pandai mamaliharo puntiang jo mato.

4. Murah dan Mahal pado Laku dan Perangai yang Berpatutan
Seorang penghulu pandai bertindak pada saat dan waktunya, melihat kepada tempat dan keadaan, pandai menyesuaikan diri pada setiap tingkatan masyarakat, tidak merasa rendah diri pada pergaulan, hormat kepada orang tua, kasih pada anak-anak. Ia bisa berkelakar sewaktu-waktu dengan anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai sifat terbuka dalam segala tindakan kepemimpinannya.

Ia selalu mentaati setiap keputusan yang telah diambil, sangat hati-hati dalam membikin dan mengucapkan janji pada seorang, rajin mengontrol anak kemenakan dalam segala bidang kehidupannya, mempunyai sifat yang tegas dan bijaksana dalam segala hal.

Malabiahi ancak-ancak
Mangurangi sio-sio
Bayang-bayang sapanjang badan
Man-jangkau sapanjang tangan

bajalan surang tak dahulu
Bajalan ba-duo tak ditangah
Hermat cermat dio selalu
Martabat nan anam tidaklah lengah.

5. Hermat dan Cermat Mangana Awa dan Akia
Selalu mengenal sebab dan akibat, dan mempertimbangkan mudharat dan manfaat dalam pekerjaan dan putusan yang akan dibuat. Mempunyai ketelitian yang sunguh-sunguh dalam perbuatan dan tindakan. Memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam masyarakat.

Indak mengelokan galah di kaki
Indak malabiahi lantai bake bapijak
Dek sio-sio nagari alah
Dek cilako hutang tumbuah

Mangana awa dengan akia
Mangana manfaat jo mudharat
Dalam awa akia membayang
Dalam kulik mambayang isi

cawek nan dari mandiangin
Dibao nak urang ka biaro
Takilek rupo dalam camin
inyo dibaliak itu pulo

6. Sabar dan Ridha Mamakai Sidik jo Tabalieh
Seorang penghulu selalu bersifat sabar dan lapang hati, tidak pemarah dan angkuh, pemaaf dalam segala ketelanjuran anak kemenakan dan masyarakat, mempunyai ketenangan dalam menghadapi segala hal.
Ia selalu memegang kebenaran, dan juga tetap mempertahankan kebenaran dan keadilan, bisa meyakinkan orang lain dan masyarakatnya dengan sesuatu yang dianggapnya benar dan baik. Dan dia pun sanggup melaksanakan apa yang dikatakannya baik dan benar itu.

Ia sabar dalam menghadapi segala sesuatu dalam masyarakat, baik kesulitan maupun bahaya yang menimpanya dan anak-kemenakannya. Dan ia senantiasa memusyawarahkan segala sesuatu yang akan diambil tindakan dan apa yang akan dilaksanakan dengan anak-kemenakannya.

Indak bataratak bakato asiang
Bukan mahariak mahantam tanah
Pandai batenggang di nan rumik
Dapek bakisa di nan sampik

Alah bakarih samparono
Bingkisan rajo Majopahik
Tuah basabab ba karano
Pandai batenggang di nan rumik.

Kalau martabat yang enam macam ini telah dapat dihayati oleh seorang penghulu dengan sebaik-baiknya, maka penghulu tersebut akan bisa menjadi penghulu yang benar-benar "gadang basa nan batuah" yang dikehendaki oleh adat Minangkabau dan yang diharapkan oleh anak-kemenakan dan masyarakat yang membesarkannya, dan akan bertemulah kehendak pepatah adat :

Kamanakan manyambah lahia
Mamak manyambah batin

Dengan mengamalkan secara sunguh-sunguh martabat seorang penghulu yang enam macam itu, terjauhilah seorang penghulu dari sifat-sifat yang sangat dibenci oleh ajaran adat, begitupun oleh pencipta adat Minangkabau, yakni ninik Dt. Parpatiah nan Sabatang dan Dt. Katumangguangan.

Nak cincin galang lah buliah
Nak ulam pucuak manjulai
Nak aia pincuran tabik
Sumua dikali aia datang
Dek licin kilek lah tibo
Dek kilek cayo lah datang
Ka jadi sasi bungo jo daun
Adat bajalan sandirinyo

Bumi sangang padi manjadi
Padi kuniang jaguang maupiah
Taranak bakambang biak
Anak buah sanang santoso

Sumber : Buletin Sungai Puar 16 Agustus 1986
andreandhika - 04/11/2009 05:22 PM
#50

Tugas Penghulu Bag.1

Spoiler for Isi

Seorang penghulu yang telah dipilih oleh anak kemenakannya adalah pemimpin dari anak kemenakan tersebut, yang diibaratkan :

Hari paneh tampek balinduang
Hari hujan bakeh bataduah
Kusuik nan ka manyalasaikan
Kok karuah nan ka mampajaniah
Hilang nan ka mancari
Tabanam nan ka manyalami
Tarapuang nan ka mangaik
Hanyuik nan ka mamintehi
Panjang nan ka mangarek
Singkek nan ka mauleh
Senteng nan ka mambilai

dalam segala hal.


Maka perlu sesorang penghulu melaksanakan tugas kepenghuluannya (kepemimpinannya) dengan penuh kesadaran, dan kejujuran dan penuh tanggung jawab.

Tugas seorang penghulu mencakup segala bidang, seperti ekonomi anak kemenakan, pendidikannya, kesehatannya, perumahannya, keamanannya, agamanya serta menyelesaikan dengan sebaik-baiknya kapan terjadi perselisihan dalam lingkungan anak kemenakan dan masyarakat nagari.

Tugas-tugas tersebut diatas adalah suatu karya penghulu dalam memberikan bantuan dan partisipasi terhadap lancarnya jalan pembangunan dan lancarnya roda pemerintahan di nagari. Kalau tugas dalam lingkungan anak kemenakannya ini telah dilaksanakan sebagaimana mestinya menurut hukum adat Minangkabau, adalah merupakan bantuan yang tidak kecil artinya terhadap pembangunan dan pemerintahan di daerah kita, yang pokoknya merupakan tugas pula bagi ninik mamak penghulu di nagari-nagari. Maka di dalam adat Minagkabau ada empat macam tugas pokok bagi seorang penghulu :

I. Manuruk alua nan Luruih
Artinya seseorang penghulu harus melaksanakan segala tugas kepenghuluannya menurut ketentuan-ketentuan Adat lamo pusako usang, yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, yang dilandaskan kepada 4 macam ketentuan :
a. Melaksanakan (menurut) kato pusako
b. Melaksanakan kato mufakat
c. Kato dahulu batapati
d. Kato kamudian kato bacari.

Empat macam ketentuan adat adalah alur pusako yang dijadikan titik tempat bertolak dalam segala persoalan di dalam Adat Minangkabau. Umpamanya :

Mahukum adia
Bakato bana
Naiak dari janjang
Turun dari tanggo

Kato pusako ini mempunyai pengertian yang dalam dan mempunyai ruang lingkup yang luas sekali dalam hidup dan kehidupan manusia di Minangkabau. Apakah pemimpin anak , kemenakan, korong kampuang, nagari, menyelesaikan persengketaan, melaksanakan suatu pekerjaan dan lain-lain, yang berhubungan dengan orang banyak, hendaklah menurut ketentuan adat itu sendiri. Kalau tidak, akan membawa akibat dan hasil yang tidak memuaskan, setidak-tidaknya mendatangkan rintangan dan halangan dan melambatkan proses suatu pekerjaan yang seharusnya kita capai dengan segera, seperti kata adat tentang kato pusako :

Mamahek manuju barih
Tantang bana lubang katambuak
Malantiang manuju tangkai
Tantang bana buah karareh
Manabang manuju pangka
Tantang bana rueh ka rabah
Tantang sakik lakeh ubek
Tantang ukua mako di Karek
Tantang barih makanan pahek

Artinya berusahalah sejauh mungkin meletakkan sesuatu pada tempatnya, berbuat dan bertindak tepat lurus dan benar menurut semestinya, atau dalam perkataan lain :

Naik dari janjang
Turun dari tanggo

II. Manampuah Jalan nan Pasa
Yang disebut di dalam adat :

Jalan pasa nan ka tampuah
Labuah goloang nan ka turuik
Jangan manyimpang kiri jo kanan
Condoang jangan kamari rabah
Luruih manatang dari adat

Yakni kebenaran. Seharusnya seorang yang telah jadi penghulu melaksanakan ketentuan yang telah berlaku baik cara berumah tangga, berkorong berkampuang, bernagari, jangan diubah dan dilanggar.
Jalan menurut adat ialah dua macam pula :

a. jalan dunia, yakni :
baadat,
balimbago,
bacupak,
bagantang

b. jalan akhirat, yakni :
beriman kepada Allah
beragama islam
bertauhid
beramal

Baadat :
Dalam hal ini adalah melaksanakan dengan sesungguhnya dengan penuh kesadaran yang mencerminkan jiwa dan tujuan adat itu dalam setiap gerak dan perilaku seorang penghulu (pemimpin). Seorang yang beradat di Minangkabau harus sanggup merasakan ke dalam dirinya apa yang dirasakan oleh orang lain, sehingga menjadilah seorang yang beradat, apakah dia pemimpin atau rakyat, orang yang berbudi luhur dan mulia. Karena hal ini syarat mutlak dalam mencapai kebahagiaan lahir bathin, duniawi dan ukhrawi.

Balimbago :
Arti lembaga adalah suatu gambaran yang dimakan akal yang merupakan himpunan dari segala unsur penting dalam masyarakat (organisasi).
Rumah tangga adalah suatu lembaga, pemerintahan adalah suatu lembaga, maka seorang penghulu tidak dapat melepaskan diri dari lembaga-lembaga tersebut.

Penghulu adalah sebagai kepala adat dalam kaumnya, sebagai pemimpin dan sebagai anggota kaum. Juga dia sebagai bapak dari anak, anggota dari kerapatan adat-nagari, mamak dari kemenakan. Kalau seorang penghulu telah melalaikan tugasnya sebagai seorang penghulu, maka disebut penghulu yang tidak belimbago.

Bacupak :
Cupak adalah suatu ukuran di Minangkabau yang tidak lebih di kurangi, dan tidak boleh diubah. Kalau dalam adat, cupak yang paling utama diketahui dan dipakai oleh seorang penghulu ialah cupak usali, yakni bagaimana prosedurnya seorang penghulu menyelesaikan suatu sengketa anak kemenakan, sehingga dapat mencapai hasil penyelesaian yang sebaik-baiknya dan seadil-adilnya menurut kemampuan manusia yang diukur dengan cupak tersebut. Maka seorang penghulu harus mempunyai dan keakhlian dalam menyelesaikan suatu sengketa anak kemenakan, dengan cara tidak boleh dilebihi dan dikurangi atau berat sebelah (tidak adil).

Bagantang :
Disebut dalam adat gantang nan kurang duo limo puluah (empat puluh delapan). Sebenarnya maksud dari ketentuan adat ini ialah seorang pemimpin harus melaksanakan ukuran yang diturunkan oleh Allah swt melalui Rasul-Nya, mengetahui tentang sifat-sifat Tuhan itu sendiri, yakni Aqaid yang lima puluh, yaitu 20 sifat yang wajib pada Allah, 20 sifat yang mustahil pada Allah, dan 4 sifat yang wajib pada Rasul, dan 4 sifat yang mustahil pada Rasul, jumlah seluruhnya 48. Yang dua macam lagi tidak disebutkan dalam adat, karena dua macam teruntuk bagi kehendak Allah dan Rasul yakni, satu yang harus pada Allah dan satu yang harus pada Rasul.

Jalan akhirat :
Yakni iman, Islam, tauhid dan makrifat.
Seorang Penghulu perlu menjadi seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, yang benar-benar melaksanakan syari'at Islam yang telah diwajibkan dan sekaligus mengesakan Tuhan, dan beramal saleh. Karena penghulu adalah partner dari alim ulama yang melaksanakan maksud pepatah :

Syarak mangato
Adat mamakai

kepada anak kemanakan dipimpinnya.
Page 2.5 of 29 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > SUMATERA > Minangkabau > Adaik, Budayo, Seni, & Sejarah Minangkabau