Entrepreneur Corner
Home > CASCISCUS > BUSINESS BOARD > Entrepreneur Corner > Singkong Solusi Bangsa ?!
Total Views: 54809
Page 2.5 of 41 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

JavaCassava - 19/01/2010 03:19 PM
#31

Quote:
Original Posted By diablo889
utk pedagang2 singkon dan produk turunannya yg udh punya market di luar negri tp lg kekurangan modal dlm kisaran puluhan juta, boleh PM gue kl berkenan..thanks..

diablo's


Thanks gan for da' real support !

Satu lagi nih tawaran menarik....ayo....siapa lagi mau bisnis singkong ?!



Anyway, as ussualy Singkong or derivatifnya :
International trade minimum habit 20.000 Ton (bulk) 500.000 ton/month long term contract.
Nasional trade minimun habit 7 ton, 18 ton, 30 ton atau lebih berdasarkan kapasitas angkut, biasanya truk gan !

Inquiry/permintaa derivatif singkong bisa di liat DISINI
masuking kata tapioca atau cassava lalu search, cekidotlah..

Semoga lebih interest lagi gan, thanks
JavaCassava - 19/01/2010 03:30 PM
#32
thanks dah mampir gan...
Quote:
Original Posted By nasgorholic
kok agak aneh y gan??
pdhl Indonesia ini lahannya teramat sgt bgs untuk tanaman yg pny byk turunannya ini
ane lbh tertarik ke turunannya yg berupa makanan gan...
ada rencana mau bkin toko yg khusus jual makanan dr singkong aja.Krn klo ane itung makanan dr singkong buanyak buanget gan.Tp blm observasi lbh lnjt lgi krn wkt kosong blm byk


Untuk itu kami selalu bekerja keras dalam mempromosikan budidaya singkong, Indonesia sebenarnya diwariskan potensi agro dan kelautan yang luar biasa kayanya, namun sekarang sepertinya tidak maksimal pengelolaannya, ingat ga pelajaran waktu SD dulu kenapa Belanda, Portugis, dan suku bangsa lannya datang ke bumi nusantara ? lantaran mereka ingin menguasai hasil bumi dan rempah-rempah kita, sekarang...di Ponorogo, Ngawi dan daerah lainnya di Indonesia rempah-rempah (mpon-mpon) itu menggunung hasilnya dan tanpa ada sama sekali grand design untuk memaksimalkan added valuenya, padahala coba agan liat DISINI
dan bandingkan harga 1 kg jahe, kunyit, temulawak, minyak cengkeh (dibuat dari batang dan daun cengkeh = sampah perkebunan cengkeh), bandingkan harganya !
Sekarang ini gan, sangat jarang orang tua yg ingin anaknya menjadi PETANI, semuanya pengen cari AMAN, sebagian besar mau jadi pegawai negeri atau pekerjaan/profesi lainnya yg notabene adalah kuli, yang "remote hidupnya" digadaikan ama atasan masing-masing sehebat apapun jabatan atau pangkatnya ! peace !!!
JavaCassava - 19/01/2010 03:38 PM
#33
Thank dah mampir yah...
Quote:
Original Posted By bufoyoyo
wah setelah sempat vakum, dilanjutin lagi nih trit ma TS, kerennn Oom..
sangat2 informatif, btw ni om TS yang punya Javacassava Inc. ya? mangstabb


yup bener gan...ini salah satu upaya mengenalkan "KEHEBATAN singkong ke khalayak ramai !

Pengen ikutan ga' jadi petani singkong ?!
untuk info lebih detai bisa diliat DISINI
JavaCassava - 19/01/2010 11:58 PM
#34
Modified Cassava Flour = Subtitusi Tepung Terigu !
TEPUNG MOCAF (Modified Cassava Flour) adalah sebuah ANUGRAH bagi Rakyat Indonesia, tapi hingga saat ini sama sekali tidak ada kepedulian dari pemerintah untuk menjadikannya sebagai produk unggulan yang mampu menSUBTITUSI tepung terigu yang bahan dasarnya 100 % IMPORT ! untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel dibawah ini :
Spoiler for [B
Modified Cassava Flour[/B]]KETIKA MENJADI EKSEKUTIF DI PERUSAHAAN PRODUSEN KERTAS DAN KELAPASAWIT, IA DATANG KE KANTOR PUKUL 09.00. SETELAH KINI PENSIUN, PRIA 61 TAHUN ITU JUSTRU TIBA DI TEMPAT KERJA LEBIH PAGI, PUKUL 06.00. IA MEMPUNYAI KESIBUKAN BARU: MEMFERMENTASI SINGKONG DENGAN BAKTERI ASAM LAKTAT SELAMA 10 JAM. SETELAH SINGKONG KERING, NICO MENGOLAH MENJADI TEPUNG MOCAF (MODIFIED CASSAVA FLOUR). DENGAN PRODUKSI 10-15 TON TEPUNG, OMZET NICO RP41-JUTA-RP61-JUTA PER BULAN.

Produsen mocaf di Godean, Yogyakarta, itu memperoleh sekilo tepung singkong modifikasi dari 3 kg singkong segar. Nico Suparno menjual tepung singkong modifikasi kepada industri roti, mi, dan rempeyek di Yogyakarta. Harga jual saat ini Rp4.400 per kg untuk pembelian maksimal 1 ton dan Rp4.100 bila pembelian lebih besar daripada itu. Sayang, ia enggan menyebut biaya produksi. 'Kalau saya sebutkan biaya produksi, banyak orang tertawa (tak percaya, red),' kata pria kelahiran 16 Desember 1947 itu.

Karena menggunakan bakteri bikinan sendiri, boleh jadi Nico mengeluarkan biaya produksi lebih rendah daripada produsen lain yang mencapai Rp3.000 per kg. Perubahan irama kehidupan dari eksekutif menjadi produsen mocaf itu terjadi setelah Nico bertemu produsen mocaf dari Trenggalek, Jawa Timur.
Bukan tapioka

Sang produsen itu meminta Nico mendistribusikan mocaf di Yogyakarta. Sebulan dua bulan, praktis tak ada masalah. Namun, pada bulan ke-6, pelanggan komplain lantaran warna tepung agak buram. Itu mendorong Nico memproduksi tepung mocaf sendiri. Maka pada 2007 ia mulai mengolah singkong Manihot esculenta menjadi tepung mocaf.

Tepung mocaf bikinan Nico Suparno itu ditemukan dan dipopulerkan oleh Dr Achmad Subagio, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember. Pria kelahiran Kediri 40 tahun silam itu menemukan teknologi produksi mocaf, setelah meriset selama setahun. (baca: 'Anak Singkong' Penemu Tepung Singkong halaman 18-19). Itulah untuk pertama kali di dunia, lahir tepung singkong modifikasi tanpa aroma dan citarasa ubikayu.

Subagio mengatakan semua jenis singkong dapat diolah menjadi tepung mocaf. Yang terbaik singkong berasam sianida rendah, maksimal 1%. Sianida-penyebab rasa pahit dan aroma langu- mudah terbuang saat fermentasi sehingga citarasa pahit pada tepung pun hilang. Tepung mocaf temuan Dr Achmad Subagio berbeda dengan tapioka-olahan dari pati singkong.

Tapioka hasil ekstraksi pati dari umbi singkong. Untuk menghasilkan 1 kg tapioka perlu 6 kg singkong. Namun, mocaf terbuat dari seluruh bagian umbi minus kulit sehingga berendemen lebih tinggi, 1 kg mocaf dari 3 kg bahan. Dalam pembuatannya, mocaf melalui proses fermentasi dengan melibatkan bakteri asam laktat.

Ciri khas mocaf berupa tepung yang citarasa singkong telah hilang. Yang istimewa mocaf tanpa glutein sehingga aman bagi penderita autisme.

Temuan itu sangat spektakuler. Sebab, tepung singkong modifikasi mampu menggantikan terigu. Franciscus Welirang, direktur PT Bogasari Flour Mills mengatakan mocaf memberikan alternatif untuk dikembangkan seperti terigu, karena daya simpan lebih panjang. 'Kalau ada kekurangan dari sisi gizi, kita dapat memfortifikasi. Itu membuka ruang untuk mengembangkan alternatif pangan,' kata Welirang.


Komposit

Mocaf memang disebut-sebut sebagai substitusi terigu yang selama ini kita impor. Volume impor terigu Indonesia cenderung meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat volume impor pada 2006 baru 536.961.661 kg senilai US$143.072.741. Volume impor melonjak menjadi 580.887.319 kg (US$180.268.480) pada 2007. Menurut Welirang salah satu cara untuk mengurangi impor terigu dengan memproduksi tepung komposit atau perpaduan antara terigu dengan tepung umbi-umbian seperti mocaf.

Misalnya perpaduan 70% terigu dan 30% mocaf. Pencampuran 2 jenis tepung itu sudah ditempuh Joko Mogoginta, presiden direktur PTiga Pilar Sejahtera Food sejak setahun terakhir. Perusahaan itu memproduksi mi-ada 3 merek yang beredar di pasaran-berbahan baku campuran terigu dan mocaf.

Persentase mocaf bervariasi, 25-35%, tergantung merek. Alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada itu mengatakan perubahan bahan baku tak menyebabkan permintaan konsumen turun. Artinya citarasa mi tetap enak sehingga konsumen bisa menerima. Itulah sebabnya, Joko Mogoginta berpendapat, 'Peluang mocaf luar biasa besar. Apalagi jika pemerintah menetapkan kebijakan 10% saja terigu kita substitusi.'

Bukan hanya perusahaan besar yang memanfaatkan mocaf. Banyak pula produsen penganan skala rumahan yang menggunakan mocaf sebagai pengganti terigu. Rini Tridanarsih, misalnya, sejak 2008 beralih sepenuhnya menggunakan tepung singkong modifikasi sebagai bahan baku kue. 'Selain citarasa yang tak jauh berbeda dengan terigu, harga juga lebih murah,' ujar produsen kue di Desa Tanjungsari, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu.
JavaCassava - 20/01/2010 12:01 AM
#35
sambungan MOCAF !
Spoiler for MOCAF

Tinggi
Sejak diperkenalkan 2 tahun lampau, industri mocaf tumbuh di berbagai daerah seperti Pati dan Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Ciamis (Jawa Barat), dan Trenggalek (Jawa Timur). Mereka umumnya industri skala rumahan yang membangun sarana produksi di lahan 60 m2. Hingga sekarang mereka belum sanggup memenuhi tingginya permintaan. Itu indikasi peluang pasar mocaf sangat besar. Namun, hambatan untuk memproduksi tepung singkong modifikasi juga tak kalah besar.

Salah satu yang belum mampu memenuhi tingginya permintaan adalah Epi Saefuddin. Produsen di Sukabumi, Jawa Barat, itu kewalahan melayani permintaan rutin 20 ton sehari. Padahal, produksinya 'cuma' 2-3 ton sehari. Selama sepekan ia hanya libur pada Jumat, 6 hari lain tetap berproduksi. Biaya produksi Rp2.400 per kg dan dijual Rp5.000 per kg. Ia memasarkan mocaf ke pasar-pasar tradisional di Sukabumi dan Cianjur, keduanya di Jawa Barat.

Daryono setali tiga uang. Produsen tepung singkong modifikasi di Pati, Jawa Tengah, itu hanya sanggup memproduksi 160-200 ton sebulan. Permintaan? Sebuah produsen mi meminta pasokan rutin 1.000 ton sebulan. Begitu juga Soelaiman Budi Sunarto, produsen di Karanganyar, Jawa Tengah, sejak Oktober 2008. Volume produksi rata-rata 6 ton sebulan, sedangkan permintaan 3 produsen roti dan sebuah produsen martabak yang mengelola waralaba Grow Buck masing-masing mencapai 1 ton sepekan alias 16 ton sebulan.

Mengetahui prospek tepung mocaf, Bupati Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, Soeharto, menggandeng kerja sama dengan Perhutani untuk memperluas penanaman singkong. 'Penanaman singkong terus dikembangkan bersama program PHBM (Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat),' kata Soeharto. Soeharto tertarik mengembangkan mocaf karena meningkatkan nilai tambah singkong, menyerap banyak tenaga kerja, dan pasar sangat terbuka.

Di sentra singkong itu, PT Bangkit Cassava Mandiri (BCM) menjalin kerja sama dengan produsen chip-irisan singkong yang dikeringkan berkadar air 12%. Setiap produsen chip mendapat suntikan dana Rp15-juta untuk membangun bak fermentasi dan pengadaan mesin pengiris singkong. Menurut Cahyo Handriadi dari BCM, seluruh produksi berupa chip kering ditampung perusahaan inti dengan harga Rp2.350 per kg.

Salah satu produsen chip adalah Santosa di Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Trenggalek. Sejak 2 tahun lalu ia rutin mengolah 5 ton singkong menjadi chip. Ia mengupas, mengiris dengan mesin, dan memfermentasi irisan singkong dalam larutan bakteri asam laktat selama 8 jam. Hasil fermentasi ia jemur seharian dan siap jual. Dari 5 ton singkong ia memperoleh 1,5 ton chip kering. Santosa mengutip laba bersih hanya Rp500 per kg.

Luas cukup

Lahirnya teknologi produksi tepung singkong modifikasi membuka peluang bisnis besar. Bila 10% dari total terigu impor disubstitusi dengan mocaf, artinya perlu 30.738 ton mocaf per tahun. Bila 1 kg mocaf dari 3 kg singkong, kebutuhan itu setara 92.214 ton singkong segar. Saat ini produktivitas singkong di Indonesia rata-rata 16 ton per ha sehingga perlu dukungan lahan 5.763 ha.

Data Badan Pusat Statistik menyebutkan luas lahan singkong di Indonesia 1.227.459 ha pada 2006, 1.201.481 ha (2007), dan 1.204.933 ha (2008). Sayang, pekebun singkong tak serta-merta dapat terjun langsung di fase pengolahan. Sebab, kepemilikan lahan pekebun tanaman pangan di Indonesia rata-rata hanya 0,2-0,3 ha.

Singkong siap panen berumur minimal 10-11 bulan. Artinya dalam setahun, pekebun hanya dapat sekali panen dari lahan sama. Jika dipaksakan mengolah singkong dari lahan sendiri, produksi 5 ton itu hanya cukup untuk 3 hari bila kapasitas penepungan 500 kg per hari. Itulah sebabnya, pengepul dan pedagang jauh lebih berpeluang mengolah singkong segar menjadi mocaf.

Olahan singkong yang prospektif bukan hanya mocaf, tetapi juga dekstrin dan glukosa cair. Dekstrin adalah hasil modifikasi pati, berbentuk zat amorf, dan berwarna putih hingga kekuningan. Menurut Dr Ani Suryani DEA, ahli rekayasa proses dari Institut Pertanian Bogor, dekstrin dibuat dari komoditas yang mengandung karbohidrat seperti singkong. Fungsinya beragam seperti pengisi tablet dalam industri farmasi, pengental susu, dan pelicin kertas.

'Melihat banyaknya industri yang memerlukan, dekstrin sangat prospektif,' kata alumnus Ecole Nationale Superieur du Genie Chimique, Toulouse, Perancis, itu. Jika selama ini industri itu tak berkembang di dalam negeri, Ani menduga lantaran bangsa kita ingin instan dengan mengimpor. Volume impor dekstrin Indonesia pada 2007 mencapai 39.309.703 kg senilai US$ 26.209.257. Itu meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 36.747.033 kg (US$21.791.938).

Glukosa

Peluang besar itulah yang diendus Ade Iskandar. Pada 2008 ia mulai memproduksi dekstrin dari singkong segar. Namun, lantaran kerap kali sulit memperoleh bahan baku, alumnus Institut Pertanian Bogor itu memanfaatkan tapioka alias pati singkong sebagai bahan baku. Saat ini Ade hanya sanggup memproduksi 10,5 ton dekstrin kualitas B per pekan dan 5 kg kualitas A sehari. Semua terserap pasar domestik.

Dekstrin mutu A banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman. Fungsinya antara lain membentuk lapisan, misalnya pada produk kacang dan meningkatkan kerenyahan. Sedangkan pengguna dekstrin B antara lain industri kertas dan tekstil. Dekstrin mutu A mempunyai nilai dextrose equivalen (DE) 16-20; nilai DE kualitas B, 8-10. Harga jual dekstrin B Rp8.000 dan biaya produksi Rp4.256 per kg.

Harga dekstrin A lebih fantastik: Rp20.000 per kg. Saat ini Ade belum mampu memenuhi permintaan rutin 30 ton dekstrin per pekan. Belum lagi permintaan siklodekstrin-dekstrin yang amat halus dibutuhkan industri farmasi-yang juga belum terpenuhi. Ade Iskandar segelintir produsen dekstrin skala rumahan, produsen lain berskala besar.

Lihat saja PT Sorini Agro Asia yang memproduksi beragam produk turunan singkong. Perusahaan itu mengelola 7.000 ha lahan singkong di Ponorogo dan Lampung. Beberapa produsen besar lainnya adalah PT Tainesia Jaya, PT Sumber Manis, dan PT Raya Sugarindo Inti. Sayang, mereka menolak wawancara yang diajukan Trubus. Sedangkan PT Indo Fructose Abadi di Malang, Jawa Timur, hanya mengizinkan Trubus masuk ke pabrik minus memotret.

Indo Fructose Abadi memproduksi glukosa cair dari singkong. Industri makanan, minuman, dan kembang gula memerlukan komoditas yang masih diimpor itu. Volume impor Indonesia pada 2007 mencapai 9.255.786 ton senilai US$10.444.137. Harga glukosa cair tergantung kadar kemanisan. Dengan kadar 82o briks, harga glukosa cair Rp5.200; 80o briks, Rp5.000 per kg. Sedangkan biaya produksi Rp2.750 per kg. 'Masih ekonomis jika produksinya di atas 60 ton per hari,' kata Haryanto dari PT Sorini Agro Asia. Tepung singkong modifikasi, dekstrin, dan glukosa cair beberapa olahan potensial dari singkong. Selama ini tanaman yang datang di Jawa pada 1835 itu dicitrakan sebagai komoditas bagi orang miskin. Munculnya teknologi produksi ke-3 olahan itu bakal mengangkat pamor tanaman anggota famili Euphorbiaceae.


SUMBER ARTIKEL
dwipa789 - 20/01/2010 09:38 AM
#36

wah, keknya daripada lahan ditanami kelapa sawit, sebenarnya mending ditanam singkong kali ya... CMIIW
taekmanis - 20/01/2010 02:18 PM
#37

javacassava muncul lagi di kaskus nongkrong sambil belajar singkong ah..
bufoyoyo - 20/01/2010 02:23 PM
#38

Quote:
Original Posted By JavaCassava
yup bener gan...ini salah satu upaya mengenalkan "KEHEBATAN singkong ke khalayak ramai !

Pengen ikutan ga' jadi petani singkong ?!
untuk info lebih detai bisa diliat DISINI


gimana caranya om? koq di link yang dikasih saya ngga nemu detilnya? apa harus punya lahan/kemitraan ato cukup patungan modal ato gmn? jelasin di sini donk om, klo nggak pm

thx..
nasgorholic - 20/01/2010 03:36 PM
#39

Quote:
Original Posted By bufoyoyo
gimana caranya om? koq di link yang dikasih saya ngga nemu detilnya? apa harus punya lahan/kemitraan ato cukup patungan modal ato gmn? jelasin di sini donk om, klo nggak pm

thx..


ikut nimbrung donk gan..
klo ada pnjelasannya,mnt dPM atw djelasin jg dsni jg gpp..

pokoknya ikutin trus...............
be_coolsp - 20/01/2010 04:32 PM
#40

Quote:
Original Posted By nasgorholic
ikut nimbrung donk gan..
klo ada pnjelasannya,mnt dPM atw djelasin jg dsni jg gpp..

pokoknya ikutin trus...............


sekalian nimbrung gan.
gw jg bingung posisi TS sebenernya apaan
JavaCassava - 20/01/2010 04:59 PM
#41
Wah, banyak peminat singkong nih.....
Quote:
Original Posted By be_coolsp
sekalian nimbrung gan.
gw jg bingung posisi TS sebenernya apaan


Link udah diperbaharui silahkan dilihat-lihat, disini TS hanya mempromosikan bahwa perkebunan singkong itu memiliki feasibility tinggi, mudah, relatif murah, resiko sangat kecil, potensi margin besar, dan kontinuitas tinggi, tapi TS juga melayani anda sekalian yg berminat menekuni dunia perSINGKONGan, baik untuk konsultasi teknis, manajerial, informasi pasar, dll, silahkan aja PM pasti dibalas kok, trims
indovers - 20/01/2010 06:36 PM
#42

Wah, sarannya cuma satu nie buat TS.....selalu diupdate yah berita beritanya. Kebetulan tertarik untuk mempelajarinya nie
nasgorholic - 20/01/2010 10:21 PM
#43

Quote:
Original Posted By JavaCassava
Link udah diperbaharui silahkan dilihat-lihat, disini TS hanya mempromosikan bahwa perkebunan singkong itu memiliki feasibility tinggi, mudah, relatif murah, resiko sangat kecil, potensi margin besar, dan kontinuitas tinggi, tapi TS juga melayani anda sekalian yg berminat menekuni dunia perSINGKONGan, baik untuk konsultasi teknis, manajerial, informasi pasar, dll, silahkan aja PM pasti dibalas kok, trims


cba dplajari dlu y gan..
ane da asave kok CPnya..
jgn bsen2 y klo dtny2,mklm nubi dperSINGKONGan

pantau trus nih...........
JavaCassava - 20/01/2010 10:59 PM
#44

Quote:
Original Posted By nasgorholic
cba dplajari dlu y gan..
ane da asave kok CPnya..
jgn bsen2 y klo dtny2,mklm nubi dperSINGKONGan

pantau trus nih...........


For Singkong will never down ! go a head man !
lakester - 21/01/2010 07:29 PM
#45

ah, agan , masak singkong bisa ada kaitannya m bangsa .
moronesium - 21/01/2010 08:07 PM
#46

halo om TS, sungguh menarik tulisannya
saya pengen juga tanam singkong cara serius kayak om ts ini. dah lama pengen tanem di daerah bogor tapi belum ada tanahnya (he..he... kalo ada yang mau menyewakan tanahnya buat tanem singkong?)

trus kalo mau jual singkong di daerah bogor itu gimana caranya? saya gak tau apa apa soal jual singkong di bogor .. soalnya selama ini tanem singkong di daerah lampung jualnya lewat perantara.

up...
JavaCassava - 21/01/2010 08:31 PM
#47
hmmmm...
Quote:
Original Posted By lakester
ah, agan , masak singkong bisa ada kaitannya m bangsa .


Yoi gan, singkong bisa kok ngatasi persoalan bangsa, yaitu antara lain :
Solusi subtitusi sumber energi
Dengan energi alternative yg mampu dihasilkan dari proses bahan dasar singkong, yaitu bio ethanol, selain ramah lingkungan, juga potensinya besar di Indonesia KALAU dikerjakan, sebab singkong hanya memerlukan lahan-lahan sekunder dengan teknis kultivasi yg sederhana dan siapapun bisa melakukannya, kan Koes Plus udah ngasih sign dengan lagunya "tongkat kayu dan batu jadi tanaman".
Solusi mengurangi pengangguran
Salah satu "supplier" pengangguran terbesar di kota-kota Indonesia adalah pemuda-pemuda desa yg minim kualifikasi pendidikanya, mereka kemudian ber-urbanisasi-ria ke kota yang kemudian sebagian besar mengisi sektor informal, maksimal bekerja dipabrik-pabrik dan mereka semua akan terfilter secara alami dan ke"reduksi" secara alami yg pada akhirnya menjadi potensi munculnya kriminalitas dan gangguan sosial lainnya, sebab persaingan kehidupan dikota kian hari kian berat, keunggulan urabnisasi dari desa sebagian besar hanyalah "otot" atau low skill dan non akademik, dan kalau nganggur si "otot"lah yg akan berkreasi demi clasicall reason : kelangsungan hidup !
Solusi mengurangi penghamburan cadangan devisa
Indonesia adalah importir net gandum terutama dari new zealand yg kemudian diproses menjadi tepung terigu di Indonesia, dan yang hidup dari produk turunan terigu di Indonesia luar biasa banyaknya, lihatlah disekelilling anda, dengan mudah ditemukan penjual mie ayam, roti, mulai dari yg kelas pinggiran sampai roti kelas atas, semua berbahan dasar tepung terigu, dan terigu identik dengan import dan import identik dengan pengeluaran devisa, dan cadangan devisa adalah something "sensitive" bagi ekonomi Indonesia ! Keepon looking surround you and aware man !
Solusi Persaingan ACFTA (Asean, China Free Trade Agreement)
Indonesia adalah satu negara dengan periodik musim tanam bisa sampai 3 kali, listen up, 3 KALI, sedangkan eropa, amerika hanya memiliki musim tanam 1 kali dalam 1 tahun. Singkong adalah tanaman yg memerlukan supply cahaya matahari inimal 8 jam per hari untuk proses photosintesa dalam rangka memproduksi pati yg kemudian disimpan digudang tanaman singkong yg akrab disebut UMBI, sehingga ketika supply matahari kurang potensi hasil singkong akan sangat minim bahkan nol.
Sejarah singkong di Indonesia lebih dari umur republik ini, dan hampir semua masyarakat Indonesia akrab dengan singkong, artinya singkong sudah menjadi salah satu "budaya", sehingga "cost" untuk mengkampanyekan budidaya singkong tidak sulit.
Indonesia kaya akan lahan nganggur, halaman depan-belakang rumah, sekolah, pinggiran toll, lahan-lahan bekas jarahan kapitalis dan perampok besar seperti adelin lis dkk, ada banyak-banyak-banyak lahan nganggur bro ! dan sebagai pembangkit semangat, coba kalau main kepasar tanya harga singkong berapa ? dan "bocoran" dari ane Biaya Pokok Produksi Singkong hanya sekitar Rp.93,- s/d Rp.150,- per 1 Kg.
Singkong sudah sejak lama terstigma marginal, rendahan, minjem bahasa tukul singkong itu "katrok", tapi sadarkah kita bahwa dalam 24 jam yg paling banyak kita konsumsi adalah singkong ?!
dimulai dari ketika anda mengambil secuil odol = singkong, ngopi nescape pemanisnya=singkong, ngerokok, lem dan bahan kertasnya=singkong, kekantor (kedepan) bahan bakarnya ethanol=singkong, dikantor anda ngetik atau nulis surat dikertas=singkong, sumpek haus minum coca-cola, sprite pemanisnya=singkong, pusing dengan pekerjaan kantor minum obat=singkong, and belanja baju/tekstil, perekat warnanya=singkong, singkong dan singkong.
Renungkan...
Tujuan utama bernegara adalah kemakmuran rakyat, hukum dibangun, ekonomi dibangun, infrastruktur dibangun, dan semua dibangun untuk memperlacar jalan menuju ke kemakmuran rakyat !
As a reference:
di Thailand sudah sejak lama berdiri Universitas Kasetsart yang majoring focus ke singkong,identimk dengan bibit singkong kasetsartnya, sehingga singkong menjadi penyumbang devisa terbesar Thailand. ayo agan-agan mari berkebun singkong, mudah, murah, dan hasilnya ok !
nasgorholic - 21/01/2010 09:12 PM
#48
mantaf

LIFE 4 SINGKONG
SINGKONG 4 LIFE
JavaCassava - 21/01/2010 10:23 PM
#49
Singkong Enak !
Quote:
Original Posted By moronesium
halo om TS, sungguh menarik tulisannya
saya pengen juga tanam singkong cara serius kayak om ts ini. dah lama pengen tanem di daerah bogor tapi belum ada tanahnya (he..he... kalo ada yang mau menyewakan tanahnya buat tanem singkong?)

trus kalo mau jual singkong di daerah bogor itu gimana caranya? saya gak tau apa apa soal jual singkong di bogor .. soalnya selama ini tanem singkong di daerah lampung jualnya lewat perantara.

up...


Masalah tanah/lahan ke Perhutani aja bro, daftar jadi pesanggem di program LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), bisa dapat gratis malah, he he he !
Salah satu cara efektif mencari pembeli singkong adalah dengan nanya ke om google dengan keyword "beli singkong", atau ke Indonetwork, search keyword yg sama, di kaskus juga kadang ada klik aja FJB Makanan dan Minuman.
Di titik tengah perbatasan Bogor-Sukabumi ada tu pembeli singkong besar, sebuah perusahaan besar Tapioca Chip punya orang Korea, ekspornya 2000 ton s/d 10.000 ton sebulan,, Singkong ke Tapioca Chip perbandingannya 3,5 : 1 (3,5 Kg Singkong menjadi 1 Kg tapioca Chip) itung aja kebutuhan Singkongnya, belum lagi Industri Bio Ethanol di Sukabumi-Bogor, bisa minta refensi info pasar di IPB, Dinas Pertanian, dan Dinas Perdaganagn dan Idustri setempat.
Bisa juga anda cari Home Idustri berbahan dasar singkong seperti kripik singkong balado, umumnya industri kecil harga belinya lebih tinggi dari industri besar (Formal) sebab mereka ga' nanggung pajak-retribusi-biaya siluman ! kebutuhannya juga lumayan, bisa 1 s/d 2 ton per hari seperti di Maospati Madiun !

Silahkan di nikmati Keripik Singkong Pedes !
Spoiler for Hmmmm !

Spoiler for Hmmmm !
bufoyoyo - 22/01/2010 10:20 AM
#50

sundul dulu untuk trit bagus
Page 2.5 of 41 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > CASCISCUS > BUSINESS BOARD > Entrepreneur Corner > Singkong Solusi Bangsa ?!