Domestik
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > +++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)
Total Views: 34426
Page 1.5 of 13 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

kadalxburik - 13/01/2010 06:47 PM
#11

Satu Tempat, Seluruh Dunia Kuliner Solo

Gladag Langen Bogan (galabo) adalah sebuah pusat kuliner di Kota Solo. Diresmikan tanggal 13 April 2008 oleh Marie Elka Pangestu, suatu usaha pemkot Solo untuk mengoptimalkan asset daerah berupa keragaman kuliner untuk menyerap tenaga kerja dan meningkatkan perekonomian daerah. Saya pikir itu suatu pemanfaatan peluang yang cukup bagus, meski terkesan sedikit terlambat.

Keragaman kuliner Solo bukanlah trend sesaat dan instant, tetapi sudah ada sejak dulu kala, warisan simbah, buyut, canggah, udheg-udheg siwur. Mustinya harta ini sudah menjadi perhatian pemkot sejak lama. Tak apalah terlambat, daripada tidak pernah mengetahui dan mengalami sama sekali.

Spoiler for gladag
[/IMG]


Malam baru saja datang, tapi saya sungguh takjub melihat lambung jalan sekitar Gladak sudah penuh dengan lautan motor, jelas lebih dari 500 motor berjajar rapih bagaikan gigi tak beraturan yang telah selesai diberi begel. Saya tengok di sebelah timur, tempat parkir mobil, berjejal juga. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 1900, dan bukan weekend pula. Ah… itu kan memang saat-saat prime time makan malam ya? Ya wajar lah kalau ramai. Tapi saya tak pernah menyangka kalau galabo bisa seramai ini, saya sangat antusias melihat animo masyarakat merespon program baru pemkot ini.

Orang Solo memang sangat suka makan, suka jajan. Tak ada penelitian yang sahih untuk mendukung hipotesis ini, tapi sudah menjadi semacam informasi yang melekat pada top of mind masyarakat Solo. Salahkah fenomena suka jajan ini? Wah…. tidak bisa digeneralisasikan jawabannya ya…. Kalau dilihat dari budaya hidup hemat atau hemat yang berlebihan (jika tak mau disebut pelit); budaya jajan akan dipandang sebagai hal yang sangat merugikan dan mengancam mereduksi ketebalan dompet kita. Kalau dipandang dari higienitas atau yang terlalu hygiene (jika tak mau disebut freak) maka jajan adalah momok besar yang mengancam mereduksi umur kita. Untungnya setelah dua bulan berjalan, galabo dari hari ke hari malah semakin ramai saja, semakin menunjukkan kalau masyarakat Solo suka jajan (saya lebih suka memakai kata ‘suka jajan’ daripada “konsumtif’).

Spoiler for gladag
[/IMG]


Menginjakkan kaki ke area galabo, saya memilih untuk melihat-lihat para pedagang dulu, menyisiri dari awal sampai ke gerobak yang paling pojok. Saya ingin membuktikan berita di koran bahwa pedagang yang berjualan di sini adalah 60% pedagang yang sudah terkenal namanya di Solo, 20% adalah pedagang hasil seleksi pemkot, dan 20% lagi untuk pengelola. Saya hitung ada sekitar 70 pedagang dengan gerobak yang sama, dengan komposisi pedagang memang hampir sama seperti pemberitaan di koran. Lebih dari separuh pedagang adalah pedagang yang sudah punya nama di bidang usaha kuliner di kota Solo.

Beberapa pedagang yang sudah terkenal itu seingat saya antara lain: Nasi Liwet Keprabon, Gudeg Ceker Margoyudan yang biasanya kalau di Margoyudan sana buka pukul 0130 dini hari, Sate Kere Yu Rebi, Tengkleng Klewer Bu Edi, Bebek Pak Slamet (hobinya Pak Bondan nih…), Nasi Tumpang Bu Mun, Harjo Bestik, Susu Segar Shi Jack, Bakso Alex, Tahu Kupat Bu Sri, Gempol Plered Bu Yami, dan waaaaa…… masih banyak lagi, saya tak tega menyiksa KoKiers yang ada di luar negeri dengan keji. Hi…hi…hi....

Setelah lelah berjalan, saya memutuskan untuk makan nasi gudeg ceker Margoyudan. Cukup Rp.8.500,- sudah komplit pakai nasi, gudeg, sambal goreng krecek, dan cakar ayam yang sangat lunak dan bagaikan lumer meresap ke lidah kita dan memenuhi lubang-lubang gigi kita. Kalau makan di samping gerobak, maka nasi gudeg akan disajikan dengan piring kaca, tetapi saya memilih pakai box aja karena saya akan cari tempat duduk yang bagus view-nya (baca: yang banyak brondong manis-nya, halah!).

Spoiler for gladag
[/IMG]


Sambil berjalan untuk mencari yang manis-manis itu, ternyata malah dapat segelas es dawet selasih yang memang manis, yang membuat lupa pada brondong manis. Tempat duduk di meja bundar di bawah tenda merah putih ternyata semuanya penuh terisi. Tidak masalah, saya duduk saja di tikar yang digelar di sepanjang trotoar jalan Mayor Sunaryo. Di belakang saya duduk adalah kompleks pertokoan Pusat Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC), penuh terang dengan lampu warna-warni menambah berpendar suasana malam itu.

Suasana memang sangat hangat dan rileks, sesekali terdengar canda tawa dari grup ini, kelompok itu, yang memang terlihat asyik menikmati makanan sambil mengobrol seru.

Tak banyak yang saya lihat lontang-lantung seorang diri seperti saya. Kebanyakan malah satu keluarga penuh, atau kumpulan ABG bersama teman-teman gank-nya, kelompok ibu-ibu, kelompok para karyawan pulang kantor, dan ada pula yang berpasang-pasangan. Semuanya seperti melebur dalam keramahan malam, keramahan makanan, dan keramahan kota Solo.

Spoiler for gladag
[/IMG]


Tak heran kalau di hari Sabtu dan Minggu malam, pengunjung galabo bisa mencapai 3000 orang. Wow…!!! Padahal, tempat ini mulai beroperasi hanya dari pukul 1800-2300 saja. Tetapi jangan berharap menemukannya pada siang hari ya, karena tempat yang dipakai untuk galabo ini adalah jalan raya yang sangat padat di siang hari. Malam hari ditutup total untuk pusat wisata.

Saatnya pulang, karena Smallville sudah memanggil untuk ditonton, halah! Sekarang saya sudah tak perlu bingung-bingung lagi ketika ada teman dari luar kota yang minta diantar makan. Satu tempat, seluruh dunia kuliner Solo. Silakan mampir ke Solo, rasakan keramahan kami…. monggo….

Spoiler for gladag
[/IMG]


kadalxburik - 13/01/2010 06:53 PM
#12

Bubur Bali Berteman Urap Sayuran

Bali memiliki sejumlah menu masakan yang dijamin menggoyang lidah, tetapi bubur bali tidak termasuk dalam jenis makanan yang populer untuk orang dari Pulau Dewata itu. Salah satu tempat untuk menyantap bubur bali adalah di Warung Tresni di Jalan Drupadi, Denpasar. Warung milik Made Suwarka ini buka dari pukul 08.00 sampai sore. Namun, bila ingin mencicipi buburnya, jangan datang setelah pukul 10.00 pada hari hujan atau datanglah sebelum pukul 12.00 pada hari terang supaya masih kebagian.

Cara memasak bubur yang dijual dengan harga Rp 7.000 sepiring itu sama seperti membuat bubur di mana-mana: beras dimasak dengan banyak air ditambah daun salam untuk membuat wangi bubur.

Keistimewaan bubur bali adalah pada menu penyerta bubur itu, yaitu urap sayuran dan gecok yang terdiri dari suwiran daging ayam dengan kuah betutu yang rasanya pedas menggigit.

Spoiler for bubur dan urap bali
[/IMG]


Suwarka menyediakan buburnya dengan urap sayuran yang ditaburi kacang goreng, usus goreng, serta popcorn. Tidak lupa tentu saja sambal matah khas Bali.

Tentang popcorn, jagung letus buatan Suwarka itu cara pembuatannya sedikit berbeda dibandingkan dengan popcorn yang biasanya dibuat dengan dibubuhi garam atau margarin. Suwarka mengolahnya dengan memberi bawang putih lalu digoreng dengan minyak.

”Kalau ingin hasilnya lebih baik, jagung dijemur terlebih dahulu,” tutur Suwarka.

Gara-gara inovasi Suwarka dengan jagung letus itu, bubur Suwarka menjadi salah satu bubur bali yang populer di Denpasar.

Urap bali

Bubur dari Bali berbeda dengan bubur daerah lain di Indonesia karena teman menyantapnya adalah urap sayuran dan gecok. Sayuran urap terdiri dari daun singkong dan rajangan kasar kacang panjang. Sayuran rebus itu lalu dicampur dengan bumbu-bumbu, kelapa parut dari kelapa yang telah dibakar, bawang goreng, dan cabai yang dirajang kasar.

Teman makan bubur yang lain adalah gecok. Menu ini terdiri dari adukan daging ayam suwir, kaldu ceker ayam, santan matang, serta bumbu kalas. Bumbu kalas terdiri dari, antara lain, kencur, ketumbar, bawang merah, dan bawang putih lalu dicampur dengan parutan kasar kelapa yang dibakar terlebih dulu.

Spoiler for bubur dan urap bali
[/IMG]


Untuk lebih menarik, cara penyajian bubur pun dibuat sedekat mungkin dengan cara yang aslinya memakai daun pisang. Hanya saja, Suwarka meletakkan daun pisang di atas piring.

”Daun pisang tidak bisa ditinggalkan karena itu menjadi pemanis sajian sekaligus sedap di buburnya sendiri. Kalau saya tak lagi menggunakan, wah langganan bisa protes,” ujar Suwarka.

Bermacam racikan

Seperti lazimnya tawaran makanan di mana-mana, bubur bali pun memiliki racikan berbeda-beda sesuai dengan resep setiap pedagang yang dipengaruhi daerah asalnya.

Menurut Suwarka, buburnya memakai racikan Denpasar. Adapun daerah lain bisa saja memakai sayuran yang berbeda atau kuah betutu berbeda pula.

Sebenarnya di pasar-pasar tradisional juga bisa dijumpai bubur bali, hanya saja soal rasa tentu tidak bisa sama. Begitu juga rasa kuah dan jenis sayuran yang disajikan pun berbeda-beda. Dari beberapa orang yang ditemui, mereka menyatakan paling enak adalah bubur Tresni karena ada popcorn-nya.

Menikmati bubur Warung Tresni ini nikmatnya berpasangan dengan kerupuk dan teh manis panas. Teh manis panas di warung ini pun pasti dihiasi dengan irisan jeruk nipis.

Ia sendiri telah berkecimpung lebih dari 10 tahun berawal dari bisnis coba-coba ala kaki lima di pinggiran lapangan Puputan Renon. Belum lama berjualan di lapangan, penikmat bubur buatannya pun semakin bertambah setiap hari. Berbekal porsi sekitar 100 piring bubur seharga Rp 5.000 pun ludes setiap hari.

Karena terkena gusuran petugas ketertiban, Suwarka pun menyewa tempat di Jalan Drupadi. ”Saya pun mulai dari nol lagi. Saya berkeyakinan pembeli setia saya pasti akan mencari. Jadi, yakin saja, kalau enak, pasti dicari terus,” ujar dia mantap.

Selain menawarkan bubur bali, Warung Tresni juga menyediakan nasi campur dan jajan khas Bali. Enak seken ne (enak sekali)!

Spoiler for bubur dan urap bali
[/IMG]


Ketupat untuk Mengganti Bubur

Warung Tresni ini pernah disinggahi beberapa selebriti, antara lain Iwan Fals, Ahmad Albar, dan grup Jamrud. Warung ini juga menjadi tempat nongkrong para perupa dan pekerja seni Bali. Aktris mancanegara juga ada yang pernah mampir di sana, yaitu Steven Seagal.

Penampilan Warung Tresni milik Made Suwarka di Jalan Drupadi, Denpasar, tidak mewah, bahkan cenderung sederhana. Meski demikian, sejumlah pelanggan mengaku justru kesederhanaan itulah yang membuat mereka betah dan kembali datang ke warung itu.

Bangunan dan mebel kebanyakan memanfaatkan unsur kayu. Meski berada di jalan alternatif dekat jalan utama, warung yang berada di pojokan ini tidak bising dan berdebu. Bahkan pepohonan sekitar ruang makan yang mendekati pendopo itu mendukung keasrian tempat tersebut. Halaman parkirnya pun luas.

Apabila Anda mampir di warung milik Suwarka dan tidak ingin menyantap buburnya, bubur tersebut dapat diganti dengan tipat alias ketupat. Tentu saja menu untuk teman menyantap tipat itu bisa sama seperti menu teman makan bubur, yaitu urap sayuran dan suwiran daging ayam berkuah betutu.

Sayangnya, jika bubur atau tipat sudah tercampur dengan kuah serta sayuran, harus segera dimakan. Bisa jadi basi jika terbungkus daun atau plastik lama-lama.

Apabila bubur atau tipat buatan Suwarka ingin disantap di rumah, pembeli bisa meminta agar kuah betutu dan sayuran dibungkus terpisah. Itu pun tidak bisa menjamin masakan akan bertahan lebih dari dua jam. Namun, mengapa harus lama-lama menunggu untuk menyantap bubur bali ala Warung Tresni?

Spoiler for bubur dan urap bali
[/IMG]


ketapel_kucing - 13/01/2010 07:09 PM
#13
sketsawajah.kaskus.ws
SGPC Bu Wiryo recommended tuh..

sering jadi langganan Pak Mahfud MD

I Love
kadalxburik - 14/01/2010 12:35 AM
#14

Tepo Tahu Sajian Ngangeni

Hidangan berbahan dasar tahu berbumbu kacang banyak ragamnya. Kombinasinya bisa dengan lontong atau ketupat, telur, dan sayuran sehingga namanya tidak sama.Beberapa di antaranya, tahu gimbal, kupat tahu, dan tahu telur. Nah, Magetan punya sajian mirip, namanya tepo tahu.

Tepo masih berkerabat dengan lontong. Bedanya, bungkusan tepo berbentuk limas atau piramida. Jadi, penampilan luarnya berbeda jauh dari lontong meski sama-sama beras berbungkus daun pisang yang direbus berjam-jam hingga matang.

Melihat penampilan tepo tahu, tidak jauh berbeda dari tahu gimbal atau kupat tahu. Irisan tepo diletakkan di atas piring yang sudah ada bumbu kacang. Kemudian, gorengan irisan tahu plus telur dan tempe yang dipotong dadu mendarat di atas tepo lantas dikucuri kecap manis. Sebagai pelengkap, ada tambahan taoge rebus, cincangan daun seledri, taburan bawang merah goreng, dan kacang tanah goreng.

Spoiler for tepo
[/IMG]


Tepo tahu paling terkenal di Magetan, Jawa Timur, adalah yang berlokasi di Jalan Pahlawan, persis berhadapan dengan Gedung Pegadaian Magetan. Tidak ada penanda nama pada warung di salah satu jalan utama Kota Magetan itu.

Warung berukuran sekitar 4 meter x 3,5 meter itu merupakan bagian dari deretan warung bercat hijau kekuningan di tepi Jalan Pahlawan. Bahkan, untuk masuk warung, Anda harus menuruni tiga anak tangga karena letak warung lebih rendah ketimbang badan jalan dan trotoar. Hanya ada tulisan kecil dari cat hitam di bagian depan warung, Tepo Tahu.

Warung milik Mbak Ima (27) itu merupakan warisan dari neneknya, Mbah Mami (82), yang baru pensiun mengolah tepo tahu 10 bulan silam. Mbah Mami mewarisi warung kecil tersebut dari almarhum suaminya, Mbah Sudir. Mbah Sudir biasa berkeliling kampung memikul angkringnya sekitar tahun 1940-an. Mereka baru menetap di Jalan Pahlawan tahun 1980-an, lama sebelum Ima lahir.

Meski begitu, masih ada yang tak berubah di warung tersebut: angkring peninggalan Mbah Sudir yang terbuat dari kayu jati berikut sangkutan pikulan terbuat dari rotan. Di tengah angkring tersebut Mbak Ima duduk di atas bangku kayu melayani pelanggan. Para pelanggan duduk di bangku kayu panjang di depan atau samping angkring.

Spoiler for tepo
[/IMG]


Satu per satu

Gaya Mbak Ima menyiapkan sajian tepo tahu mirip dengan gaya sang nenek ketika saya datang ke sana tahun 2003. Keduanya santai menyiapkan pesanan pelanggan. Kesannya seperti main masak-masakan.

Sajian disiapkan satu per satu, tidak pernah sekaligus. Siapa pun harus sabar dan rela menunggu. Hidangan tersaji sesuai urutan datang, tanpa memandang pangkat atau kedudukan.

Mereka yang tiba duluan, otomatis akan menerima teponya paling dulu. Jadi, jika Anda datang berlima dengan empat rekan Anda, ketika orang pertama sudah menghabiskan hidangan, orang kelima baru menerima tepo. Mbak Ima mengikuti jejak Mbah Mami, tidak pernah terburu-buru dan akan menyiapkan pesanan satu per satu. Selalu.

”Saya juga tidak tahu mengapa harus satu per satu. Pelanggan juga tidak protes,” kata Mbak Ima.

Sebelum mengelola penuh warung tepo tersebut, Mbak Ima belajar dari neneknya selama dua tahun. Mbah Mami sendiri memiliki dua putra dan keduanya tidak turun langsung menyajikan memasak

Spoiler for tepo
[/IMG]


Pelanggan setia

Warung itu buka setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Pelanggannya bukan hanya dari Kabupaten Magetan, banyak juga yang datang dari kota lain. Para pelanggan lama biasanya mewariskan pula kebiasaan makan tepo tahu di warung tersebut kepada anak dan cucunya.

Seperti pengakuan Darmo (40), warga Desa Gorang-gareng yang rumahnya berlokasi 7 kilometer dari Magetan. Dia mengenal tepo tahu tersebut dari ayahnya.

”Dulu, bapak saya selalu makan tepo di warung ini. Saking fanatiknya, ketika beliau sakit, tiap kali ingin makan tepo dia pasti menyuruh anak-anaknya membeli dari warung ini. Sekalipun hujan, saya harus pergi membeli tepo yang dibungkus untuk dibawa pulang buat bapak,” kata Darmo yang Sabtu siang itu datang bersama istri dan anaknya.

Menurut dia, di Magetan banyak penjual tepo, tetapi yang membuatnya kangen hanya warung tepo tahu milik Mbak Ima. Akan tetapi, dia tidak sanggup menjabarkan apa yang membuatnya selalu kangen dengan tepo tahu olahan warung tersebut.

”Wah, sulit menerangkannya. Tidak tahu apa namanya, yang jelas buat saya di sinilah tepo yang paling enak dan pas buat saya,” ungkap dia.

Sunyoto, ayah 8 anak plus 10 cucu, sudah berpuluh tahun menetap di Jakarta, tetapi tiap kali mudik ke Magetan selalu menyempatkan diri menyambangi warung tepo tahu Jalan Pahlawan.

Begitulah, tepo tahu Jalan Pahlawan membuat mereka yang pernah merasakan santapan itu akan kembali ke sana, di mana pun mereka kini....

Spoiler for tepo
[/IMG]



kadalxburik - 14/01/2010 12:39 AM
#15

Warung Makan Rosya Kebumen

Minggu terakhir survey, tugas saya untuk mengunjungi tiga kota di Jawa Tengah, yaitu Purwokerto (Kab Banyumas), Cilacap dan Kebumen. Tapi coretan saya kali ini tidak membahas makanan dari dua kota pertama. Saya akan langsung cerita tentang pengalaman kuliner saya di tempat yang terakhir yaitu Warung Makan Rosya, Kebumen. Warung makan ini saya kunjungi pada waktu makan siang, sekaligus menunggu waktu bertemu Ibu Bupati Kebumen yang pada saat itu masih mengikuti acara Dengar Pendapat Fraksi di DPRD.


Berdasarkan rekomendasi dari pengantar saya, makanan yang paling spesial di WM Rosya ini adalah Sop Buntut. Hmmmm... yummiii. Tidak berapa lama menunggu sepiring nasi hangat dan semangkuk sop buntut yang masih mengepul telah tersaji dihadapan saya.

Spoiler for warung makan rosya
[/IMG]


Rasanya sangat "rumahan" sekali, tidak terlalu neko-neko tapi benar-benar menggugah selera, mengingatkan saya akan masakan Ibu di rumah. Dalam waktu sekejap, piring di depan saya sudah bersih, dan saya segera mengambil tissue karena segera saja bulir-bulir keringat mengucur karena udara di Kebumen ini yang sangat panas ditambah dengan sop panas yang ludes dengan cepat.

Ternyata tidak hanya itu hidangan yang merangsang air liur saya di WM Rosya ini. Di depan saya juga tersaji tempe goreng tepung, atau orang juga menyebutnya dengan tempe mendoan. Ditambah dengan sedikit sambal dan kecap, tidak terasa tiga lembar tempe mendoan ini sudah masuk ke jalur pencernaan di perut saya. Nikmat sekali.

WM Rosya ini juga menyediakan makanan-makanan lainnya yang dapat dipilih dalam bentuk prasmanan. Ada opor ayam kering, sate, tempe goreng kering, cumi, mie goreng dan masih banyak lagi. Pengen rasanya mencicipi semuanya, apadaya perut buncit ini ternyata sudah tidak memiliki ruang kosong.

Spoiler for warung makan rosya
[/IMG]


Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, saya berkesampatan juga bertemu dengan Bupati Kebumen, Ibu Dra. Hj. Rustiningsih, MSc, yang dengan bersahaja menerima kami dan mendiskusikan tentang e-Government di Kabupaten Kebumen.

Walau beliau seharian menghadiri rapat di DPRD tetapi tidak tampak kelelahan di wajah ibu bupati yang tengah menjalani periode keduanya sebagai bupati Kebumen ini. Terima kasih ibu sudah berkesempatan menerima kami, terima kasih juga untuk Bapak Sugiyanto yang sudah mengantar-ngantar kami keliling Kebumen. Kapan ya bisa nyicipin menu lain di WM Rosya?

Spoiler for warung makan rosya
[/IMG]




kadalxburik - 14/01/2010 05:23 PM
#16

Ke Wamena, Menikmati Udang Selingkuh

Sudah waktunya makan siang ketika kami tiba di Wamena, Papua, pada pertengahan Desember tahun lalu. Sejenak melepas lelah, setelah berjam-jam terbang dari Jakarta menuju Sentani dilanjutkan dari Bandar Udara Sentani ke Wamena, dengan pesawat ATR 72-200 dari maskapai Triguna.
Rumah makan Blambangan, yang menurut kami paling bagus di daerah itu, menjadi sasaran kami untuk mengisi perut dan melepas dahaga. Rumah makan ini dilayani oleh gadis-gadis muda berpakaian modis. Karena masih flu, saya tak tertarik dengan sajian jus terong Belanda dan jus pokat. Saya memesan jeruk panas. Tanpa es, rasanya nikmat.

Saya mencoba mentimun dari kelompok lalapan. Rasanya manis. Juga wortelnya. Di sini tidak ada yang menggunakan pestisida.

"Oh, jadi tanaman organik, ya?" tanya saya.

"Ya, tanaman organik," ucap pemilik rumah makan itu. Esoknya, di pasar, kami melihat kubis alias kol sedikit berlubang-lubang alias dimakan ulat. Itu pertanda kol tidak disemprot dengan pestisida.

Makanan lain adalah ikan mujair goreng. Tapi yang paling nikmat adalah lauk utama: "udang selingkuh". Kenapa disebut udang selingkuh? Alasannya sederhana. Badannya memang udang, tapi sepit utamanya seperti sepit kepiting. Jadi perpaduan udang dengan kepiting, yang hidup di air tawar, terutama di Sungai Baliem yang mengalir di pinggir Wamena.

Jenis udang ini terdapat di Papua dan Australia. Ada yang besar, sebesar udang galah. Banyak yang kecil-kecil, yang kini banyak dibudidayakan di Pulau Jawa, yang dikenal sebagai lobster air tawar. Yang jelas rasanya amat manis, terutama yang sebesar jari orang dewasa. Saya coba yang besar, rasa manisnya agak kurang. Tapi secara keseluruhan nikmat. Apalagi cara penggorengannya memang cocok. Saya lihat minyaknya berwarna merah. Udangnya memang merah.

Sesampainya di Hotel Baliem Pilamo, kami hanya beristirahat sebentar.

"Sore biasanya hujan, Pak. Mumpung lagi cerah, kita langsung melihat mumi dan gua!" ucap Martin, yang menemani kami.

Dengan mobil Triton, yang cocok untuk daerah pegunungan, kami keluar dari kota sekitar 2 kilometer. Mobil memasuki jalan tanah yang mengeras. Setelah memarkir mobil di pelataran yang dikelilingi pohon-pohon besar, kami memasuki kompleks perumahan berpagar kayu, dengan pintu gerbangnya antik.

Sekelompok orang sedang membakar batu untuk memasak talas dan ubi jalar. Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus membakar batu dulu baru memasak talas? Api untuk memanaskan batu saja sudah mampu mematangkan talas. Tapi, ya, itulah adat mereka.

Mari kita beralih ke mumi, yang dipegangi seseorang sambil duduk dan bersembunyi di balik mumi. Dua orang dewasa mengenakan koteka memayunginya. Alex, seorang kepala suku, menjelaskan bahwa usia mumi itu sudah 370 tahun. Itu terlihat dari jumlah kalungnya yang dipasang setiap lima tahun.

Gerimis mulai turun. Kami memasuki "honai", rumah orang Wamena yang terbuka, tempat berkumpul kaum lelaki. Honai tempat menyimpan mumi itu khusus untuk kaum lelaki dewasa. Di sebelah kanannya, honai untuk perempuan berdekatan dengan honai untuk anak-anak.

Di honai untuk dapur dan gudang makanan, sekelompok ibu tua meminta rokok kepada saya. Untunglah teman saya membawa banyak rokok untuk disuguhkan kepada Alex dan kawan-kawan. Perbincangan pun berlangsung akrab diselingi tawa.

"Kalau mau 'begituan' gimana?" tanya saya kepada Alex tentang hubungan seks.
"Oh, tinggal kasih kode, pergi ke hutan!" jawabnya.
"Ini masih bisa?" tanya saya kepada orang tua di samping saya.
"Saya tidak bisa lagi!" jawabnya sambil tertawa.
"Kalau berfoto sama yang bergelantungan bagaimana?"

"Bisa Ibu, tapi yang tadi dibayar dulu," jawab Alex. Teman saya merogoh kocek Rp 250 ribu untuk melihat dan berfoto-foto dengan mumi. Untuk berfoto dengan ibu-ibu diperlukan Rp 100 ribu lagi.

Kembali ke penginapan, hujan turun.

Malam di Wamena ternyata alamiah sekali. Dinginnya bukan main. Wamena berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Sangat terasa dingin ketika malam tiba.

Keesokan harinya, seusai sarapan, saya sempatkan berjalan-jalan di sekitar hotel. Lalu dengan mobil Triton, yang di Wamena seharga Rp 400 juta padahal di Jakarta Rp 280 juta, kami keluar dari kota. Dalam perjalanan ini barulah terlihat betapa pentingnya penggunaan mobil tersebut. Dua kilometer jalanan masih bagus. Begitu berbelok ke kanan, melewati Sungai Baliem, jalanan sedikit menanjak dan menanjak lagi, melalui jalanan yang terbuat dari batu-batu. Jalanan mendaki terus, sampai ke puncak, tempat The Baliem Valley Resort, yang merupakan kerja sama Jerman-Indonesia.

Bangunan utama resor ini berupa bangunan kayu yang sedang direnovasi, agaknya yang menjadi kantor, pelayanan tamu, tempat makan, serta lobi yang memuat beragam patung dan ukiran, baik Asmat maupun dari Lembah Baliem. Di bangunan itu pula terdapat pelataran untuk memandang ke lembah, dan nun di kejauhan terlihat Kota Wamena. Di lobi ini pula dipajang kerangka kepala buaya besar, burung kasuari, serta sebuah lemari yang diisi beberapa puluh buku.

Berkunjung ke Wamena, tak afdal jika tak belanja untuk oleh-oleh pulang ke Jakarta. Karena itu, saya sempatkan pula mengunjungi pasar tradisional Wamena dengan naik becak. Dari hotel, ongkos normal Rp 8.000. Teman saya membayar Rp 50 ribu untuk dua becak.

Pasar masih sepi Minggu itu karena waktunya orang pergi ke gereja. Udang selingkuh yang ditawarkan seorang penjual tak menarik minat saya. Saya lebih tertarik hasil rajutan berwarna-warni yang ditawarkan seorang wanita muda. Saya beli satu walau harganya relatif mahal, Rp 200 ribu.

Suvenir? Tentu saya tak lupa. Di New Guinea Art Shop, toko suvenir dekat hotel, saya membeli tas kulit kayu, hiasan dinding, kalung dan gelang, serta sebuah patung seorang ibu yang menggendong bayinya. Harga patung ini lumayan: Rp 350. Semua itu kami bawa pulang, dengan pesawat jenis ATR 72-200. Berakhirlah perjalanan saya ke Wamena.

Spoiler for udang selingkuh
[/IMG]


Spoiler for wamena
[/IMG]



kadalxburik - 14/01/2010 05:27 PM
#17

Restoran Ria Rio

Manado, kota yang terkenal dengan wisata baharinya, menjadi tujuan saya berikutnya. Tanggal 24 Juli, saya mendarat di bandara Sam Ratulangi untuk mengikuti dua kegiatan sekaligus di kota ini. Tanggal 25 saya menjadi pembicara pada Workshop Pemanfaatan Database Wartel Warnet yg diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Telematika - Ditjen Aptel, dan untuk tgl 26-27 saya menjadi fasilitator untuk pelatihan internet dalam kegiatan Fasilitasi Literasi Kominfo untuk Kaum Perempuan Sulawesi Utara.

Malam pertama dan kedua saya diajak menikmati hidangan ikan di restoran yang tampaknya menjadi rujukan banyak orang Menado untuk menikmati kuliner khas manado,yaitu Restoran Ria-Rio. Disana tersedia berbagai jenis ikan, bahkan sebagian namanya baru saya dengar kali ini.

Beberapa jenis iklan yang tersedia contohnya ikan bobara, bobara laut, goropa, kerapu, kerapu mulut tikus, mujaer, kakap merah dan lain-lain. Selain itu terdapat juga makanan laut lainnya seperti udang, udang golah (udang laut), dan cumi-cumi. Kita dapat memilih berbagai jenis olahan seperti goreng, bakar, bakar rica, goreng mentega, asam manis dan lain-lain.

Untuk sayur, kita bisa memilih beberapa jenis masakan yang tersedia seperti cah kangkung, cah pakis (nah ini percis pakis yg saya makan di singkawang tahun lalu), sapo tahu, capcay dan lain-lain.

Untuk minuman, yang menjadi pilihan utama di restoran ini adalah Es Kelapa Muda, kita bisa memilih kelapa muda ini menggunakan Gula Jawa atau Sirup Kelapa. Kalau saya jelas memilih menggunakan gula jawa. Jadi ingat tahun 2000 saya suka menikmati es kelapa muda di jalan Kelapa Dua,Akses UI Depok, disana kita bisa memilih gula sendiri yang disiapkan di meja.

Untuk dessert, ada jg beberapa yg khas manado. Pernah makan pisang goreng dikasih sambal? Nah, snack yang unik ini bisa ditemui di Manado, selain itu ada juga singkong rebus yang dikasih bumbu santan asin.

Gimana? Penasaran? Memang ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ini menyajikan sensasi kuliner yang dihadirkan untuk para penikmat makanan. Oh iya, hari terakhir kita dijamu oleh ibu Ivonne dr Depkominfo, yang menyediakan satu meja lengkap makanan yang sebagian besar merupakan kuliner khas manado,sebut saja bubur manado,ikan bakar rica, ikan goreng, dan juga lengkap dengan penganan kecil khas manado seperti klapertart dan lemang.

Jadi, silakan kunjungi manado, nikmati keramahan masyarakat dan kulinernya. Torang Samua Barsodara to...


Spoiler for riario
[/IMG]


Spoiler for riario
[/IMG]


Spoiler for riario
[/IMG]


Spoiler for riario
[/IMG]



kadalxburik - 14/01/2010 05:31 PM
#18

Djendelo Djinjer, Warung dengan Harga Terserah


Tak salah rasanya menyebut Yogya sebagai pusatnya kuliner. Berbagai warung naknan (enak tenan) hingga warung nyentrik bertebaran di kota ini. Sebut saja sate klathak di Imogiri, Ayam goreng Cak Koting di depan Bioskop Mataram atau Warung Makan Roh Halus yang terkenal menjual sajen dan bunga di Wirobrajan.
Tak hanya itu saja di Yogya juga gudangnya warung-warung yang menggaet anak muda sebagai pangsa pasarnya. Dari suasana, pelayanan, hingga aneka nama menunya pun dibuat akrab untuk telinga anak muda.

Jika mempunyai kesempatan datang ke Kota Yogya cobalah mampir ke Djendelo Djinjer di Jalan Gejayan. Dari namanya, untuk anak muda Yogya yang doyan gaul tidaklah susah menebak jika warung minuman ini memiliki kaitan dengan Djendelo Cafe yang berada di Lantai 2 Toko Buku Toga Mas, Gejayan.

Namun Djendelo Djinjer mengusung konsep yang lebih merakyat dengan nuansa lesehan ala angkringan agar pembelinya betah berlama-lama bercengkerama. Warung yang mengangkat minuman sebagai menu utamanya ini bisa dibilang unik, aneh, dan inovatif.

Bagaimana tidak? Di warung ini pelanggan dibebaskan untuk menentukan sendiri harga minuman yang mereka beli. Menurut Derry Sarumpue, salah satu pemilik Djendelo Djinjer, konsep yang memberikan kebebasan pelanggannya menentukan sendiri harga minuman yang mereka beli adalah salah satu inovasi marketing yang ia terapkan.

"Harga terserah pembeli sebenarnya konsep marketing kita bro. Kalo menurut mereka enak mereka akan menghargai lebih. Biar mereka yang menentukan harga yang cocok untuk minuman yang kita sajikan. Yang jelas berapapun yang mereka bayar kita terima," ungkap lajang kelahiran Banjarmasin ini.

Konsep harga terserah pelanggan ini ternyata menjadi pengalaman tersendiri bagi Dee dan Dila yang mengaku baru pertama kali datang ke Djendelo Djinjer. "Wah kaget juga pas kita disuruh menentukan sendiri harganya karena baru pertama kali ada warung yang kaya gini. Tapi asik kok," ujar Dee.

Di warung ini tersedia enam buah menu minuman spesial. Anda bisa memesan Ronde Gendis dengan campuran gula merah, selasih, agar-agar, kolang-kaling, mutiara dan gabin (roti rangsum anggota TNI).

Atau Ronde Palui dengan komposisi seperti Ronde Gendis hanya saja mengganti komposisi gula merah dengan sirup. Untuk yang doyan selera pedas bisa memesan menu Soesoe Gepoek atau Kopi Gepoek yang menambahkan tumbukan jahe dalam komposisi minumannya. Selain itu, masih ada menu Soesoe Telur Madoe Djahe dan Kopi Kareba yang menggunakan telur ayam kampung sebagai campurannya.

Warung lesehan yang berukuran sekitar 7 X 5 meter ini melayani pelanggan mulai dari pukul 18.00 hingga 02.00 wib. Alunan musik swing jazz juga menjadi teman bercengkerama di warung ini.

Spoiler for djendelo
[/IMG]


Spoiler for djendelo
[/IMG]


Spoiler for djendelo
[/IMG]


Spoiler for djendelo
[/IMG]



kadalxburik - 14/01/2010 05:36 PM
#19

Rumah Makan Keluarga, Solok

Kota Solok menjadi tujuan perjalananku selanjutnya. Sampai Bandara International Minangkabau (BIM) saya masih harus melanjutkan perjalanan darat kurang lebih selama 2 jam untuk tiba di kota ini. Hotel di kota ini masih terbatas, salah satu hotel yang agak “representatif” adalah hotel Taufina. Ratenya….. hanya Rp. 170.000,- per malam, sudah termasuk pajak. Murah kan…

Makan siang pertama di kota ini saya langsung salah satu rumah makan yang agak jauh dari pusat kota tetapi cukup ramai dikunjungi pengunjung, namanya RM Keluarga, berlokasi di Jl. Tembok Raya 127. Serupa dengan RM lainnya di propinsi Sumatera Barat ini, RM Keluarga ini juga menyajikan sajian khas tanah minang, atau kalo kita dipulau Jawa menamakan RM seperti ini dengan sebutan RM Padang. Tapi ada menu yang cukup unik dari piring-piring yang tersaji di meja kami, salah satunya ada Burung Goreng.

Burung berukuran mini ini katanya ternyata adalah Burung Puyuh. Walaupun tidak memberikan sajian daging yang melimpah, tapi kerenyahan daging burung ini memang bisa diacungi jempol, karena dimasak dengan digoreng kering sehingga bumbunya meresap sampai ke tulang-tulangnya.

Selain Burung Goreng, ada satu lagi menu yang menarik perhatian karena tidak pernah saya temui di RM Padang manapun yang pernah saya kunjungi, yaitu Gulai Telur Ikan. Yaaa, telur ikan yang mirip pasir bergumpal tersebut ternyata bisa juga digulai dan terpisahkan dengan induknya. Rasanya menurut saya biasa saja sih, mungkin karena bumbunya pun tidak terlalu istimewa, tapi setidaknya ini menjadi pengalaman kuliner yang cukup menarik untuk dikenang.

Untuk minumnya, seperti biasa di tempat makan di tanah Sumatera ini, saya senang memesan Juice Timun. Timun, yang konon salah satu buah yang mampu menekan angka kolestrol, memang sangat segar jika dibuat juice. Perbedaannya di RM Keluarga ini, timun yang di juice tidak diblender tetapi seperti diparut baru kemudian diberi gula, sehigga jika kita meminumnya selain mendapat kesegaran, kita juga menemukan sensasi parutan buah timun yang nyakres. Kres… Kres…..

RM. Keluarga Solok
Jl. Tembok Raya No. 127
No. Telp. : 0755 20138

Spoiler for RM. keluarga
[/IMG]


Spoiler for RM. keluarga
[/IMG]


Spoiler for RM. keluarga
[/IMG]



kadalxburik - 15/01/2010 08:38 PM
#20

Mak Uneh, Rasa Bandung Tempo Doeloe

Pesona Bandung menyedot warga di kota sekitarnya untuk datang ke sana. Daya tariknya tak lain adalah belanja, entah belanja pakaian untuk memanjakan penampilan atau belanja makanan demi memanjakan lidah.
Seperti Jakarta, warisan kuliner di Kota Kembang itu juga berderet. Ada yang masih bertahan, ada yang makin berkembang, tapi ada pula yang sudah tutup warung. Bicara soal kuliner, tentu makanan yang langsung teringat dan seringkali ngangeni karena tidak membosankan - malah membangkitkan selera - tak lain adalah menu khas Sunda.

Apalagi kalau bukan berbagai macam pepes, gurame dan ikan mas goreng, jambal, leunca, berbagai rupa sambal, sayur asem, dan masih sederet jenis makanan lainnya. Salah satu warung yang sudah puluhan tahun menjual makanan khas Sunda adalah Warung Mak Uneh.

Almarhumah Mak Uneh memulai usahanya di sebuah gang sempit di seputaran Jalan Pajajaran. Kini sudah generasi ketiga dan keempat yang mengelola usaha tersebut. Generasi ketiga mengelola warung asli di Gang Terasana. Gang ini persis berada di samping rumah sakit bersalin. Patokannya, setelah Stadion Pajajaran ambillah lajur paling kiri. Persis sebelum rumah sakit bersalin ada gang, dan di dalam gang itulah warung Mak Uneh berada.

Mobil pengunjung warung biasanya diparkir di sepanjang gang ini, juga di pinggir Jalan Pajajaran. Dari sana calon pembeli harus berjalan kaki masuk ke gang yang lebih kecil lagi. Warung ada di sisi kiri gang yang makin menyempit. Begitu masuk warung ini kesannya memang seperti warung biasa. Namun jumlah kursi yang disediakan tak seperti warung. Meja kursi tersedia hingga ke dalam.

"Ini memang warung dari dulu, hanya diperbaiki dan diperluas," kata salah satu karyawan warung. Menurut salah satu karyawati di sini, menu yang banyak diburu pelanggan adalah aneka jeroan, seperti babat, paru, usus, dan limpa.

Namun variasi pepes pun tetap dikejar. Menu khas warung ini adalah haremis, yaitu kerang air tawar yang ukurannya sangat kecil. Kerang ini dimasak bumbu kuning. Rasanya gurih dan tidak amis.

Anda harus menukar selembar uang Rp 10.000 untuk semangkuk kecil haremis. Pepes nasi ikan asin pantas dicoba. Dengan Rp 10.000 kita bisa menelusuri cita rasa pepes nasi berisi sepotong kecil jambal roti, petai, dan telur ayam kampung rebus ini. Telur ayam kampung dibelah jadi dua. Tak ada rasa amis.

Nasinya saja sudah terasa gurih akibat dicampur semua lauk tadi. Buat yang suka ayam, di sini juga dijual ayam kampung goreng. Tentu saja cita rasa ayam kampungnya tak perlu diragukan lagi.

Gurame goreng di sini cukup untuk makan bertiga. Gurame itu sudah dipotong di bagian kepala dan ekor hingga tersisi bagian tengah atau daging saja. Selain gurih dan renyah, sepotong gurame yang dipatok Rp 50.000 itu berdaging sangat tebal. Secuil daging gurame dicocol sambal mangga atau sambal dadak baru masukkan ke dalam mulut, biarkan saraf-saraf di dalam mulut yang menilai.

Jika tak tahan melihat udang goreng berukuran cukup besar, coba saja! Tak ada ruginya. Meski seporsi berisi tiga udang goreng dibanderol Rp 60.000, tapi soal rasa jangan ditanya. Plus sambal mangga sebagai temannya, rasanya sepadan. Ulukuteuk leunca, sate bandeng juga siap dinikmati.

Ulukuteuk leunca adalah leunca yang dimasak dengan cabai dan oncom. Leunca bulat kecil yang terasa pahit bergabung dengan oncom yang berasa pedas menyajikan rasa khas Sunda yang sebenar-benarnya. Warung Mak Uneh di Jalan Pajajaran ini buka Sabtu sampai Kamis, dan tutup pada hari Jumat. Sejak pukul 07.00 warung ini sudah menyediakan sarapan warga Bandung, dan akan berakhir pukul 16.00.

Sementara itu restoran Mak Uneh di Jalan Setiabudi (seberang NHI) buka setiap hari mulai pukul 11.00- sampai sekitar pukul 19.00. Resto ini dikelola generasi keempat Mak Uneh.

Spoiler for mak uneh
[/IMG]


Spoiler for mak uneh
[/IMG]


Spoiler for mak uneh
[/IMG]



kadalxburik - 15/01/2010 08:41 PM
#21

Mie Baso Akung

"Belum berwisata kuliner di Bandung kalo belum ke Akung", itu yang pernah dikatakan teman saya mengomentari salah satu ikon kuliner di kota Bandung ini. Saya sendiri pertama kali mengenal Mie Baso Akung ketika masih SMA, masih berlokasi di daerah GOR Saparua dan menempati bangunan semi permanen.
Zaman saya kuliah, tiba-tiba saya kehilangan Akung yang ternyata pindah ke Jl. Lodaya 123 dan menempati rumah yang tentunya lebih baik dari lokasi sebelumnya. Kalau datang pada jam makan siang atau hari libur, mungkin anda harus bersabar untuk menunggu mendapatkan meja, saking penuhnya tempat ini. Sebenarnya apa saja sih yang bisa kita nikmati di tempat ini?

Mie Yamin Baso Ceker, mie yamin ini diracik khusus sehingga bumbunya benar-benar merata ke seluruh mie sebelum sampai ke meja kita. Bisa memesan Yamin Manis, Sedang atau Asin, sesuai selera. Dan bagi yang tidak mempunyai usus yang panjang atau lambung yang cukup besar, saya sarankan untuk memesan 1/2 porsi saja, sudah sangat cukup koq.

Karena jika kita satu porsi mie ini membutuhkan ruangan yang cukup besar di perut kita. Sebagai pendamping, tersedia pilihan variasi BPTSC (Baso - Pangsit - Tahu - Siomay - Ceker) yang disajikan dalam kuah dengan aroma yang "mengundang". Harganya bervariasi, yang paling mahal Rp. 19.500 (satu porsi mie + BPTSC), sedangkan untuk yang saya pesan sesuai gambar di atas harus ditebus senilai Rp. 12.500 (1.2 porsi mie + BC/Baso Ceker)

Pangsit Tahu Siomay, buat yang tidak terlalu gemar mie bisa "nambul" pendampingnya saja, mulai dari yang paling lengkap BPTSC. Kulit pangsitnya sangat lembut ditambah dengan isinya yang mantap patut anda coba, ditambah dengan tahu putih yang diisi dengan adonan baso dan siomay yang nendang, benar-benar bisa menghangatkan udara kota Bandung. Apalagi ditambah dengan sentuhan sambal & kecap... Hmmm... Harga: Rp 14.500,-

Es Teler Durian, sebenernya favorit dessert dari tempat makan ini adalah Es Durian, tapi karena saya bukan maniak durian, maka saya pesan es teler durian aja. Kelapa muda, agar-agar, kolang-kaling dan tentu saja buah durian merupakan campuran dari minuman segar ini. Duriannya sendiri berbentuk gelondongan utuh, tidak dilumerkan seperti di Es Durian Ganti Nan Lamo di Padang. Tapi kalau anda datang di atas jam 2 siang, jangan terlalu berharap dapat menikmati es durian ini, biasanya sudah habis. Harga: Rp. 11.000,-

Jadi, lengkapilah wisata kuliner di kota Bandung anda dengan mencicipi Mie Baso Akung. Tapi jangan datang ke tempat ini hari Jumat karena tutup.

Mie Baso AKUNG
Jl. Lodaya No.123 Bandung
Telp. (022) 7314746

Spoiler for akung
[/IMG]


Spoiler for akung
[/IMG]


Spoiler for akung
[/IMG]


Spoiler for akung
[/IMG]



kadalxburik - 15/01/2010 08:49 PM
#22

Pecel Mbok Sadur

Pecel Mbok Sadur adalah salah satu kuliner asli Semarang yang sudah eksis sekitar 4 dasawarsa lebih. Mungkin malah sekitar 50 tahun. Jualan pecel Mbok Sadur dimulai di gang kecil yang bernama Gandekan di Jl. Mataram. Jalan kecil ini menyebabkan pemakan setia pecel sedep ini harus rela jalan kaki sekitar 200m, dari Jl. Mataram masuk ke gang kecil ini, terutama jika jam makan siang. Mobil kecil dan menengah masih bisa masuk ke dalam gang kecil ini dan parkir di dekat tempat jualan pecel, tapi hanya terbatas maksimal 5 mobil sudah penuh sekali jalan kecil itu.

Mbok Sadur memulai jualan pecelnya agak ke tengah lebih dekat ke Jl. Mataram jika dibandingkan tempat permanen yang ada sekarang. Berjualan di bawah pohon, dengan tampilan yang persis seperti dalam foto. Saya masih 'menangi' si Mbok Sadur yang jualan. Diperkenalkan pertama kali oleh Papa waktu saya masih kecil, makan siang di sini, dan seterusnya jadi ketagihan sampai sekarang. Jika sedang ke Semarang kurang lengkap rasanya tanpa mampir dan makan di sini.

Jaman itu yang paling mengesankan saya adalah setiap tamu yang makan di bawah pohon itu disuguhkan minuman air dingin dalam cangkir stainless steel kuno. Ini kesan yang paling mendalam sampai sekarang. Walaupun memang disediakan juga minuman standard pendamping pecel mak nyus ini.

Sekarang pecel ini sudah diteruskan oleh cucu-cucu Mbok Sadur dan berkembang menjadi 3 cabang, yaitu di tempat asal di Gandekan, kemudian di Jl. Gajah Mada dan kalau tidak salah di Simpang Lima.

Hidangan lengkap pecel yang saya makan siang itu didampingi dengan sate usus yang dilepas dari sunduknya, ditambah bantal 2 buah, sedikit mie goreng 'kampung', kerupuk karak/gendar dan disiram dengan sambel pecel. Apa itu bantal? Bantal sebenarnya adalah gorengan yang mirip martabak, atau saya bilang memang martabak dalam ukuran kecil. Rajangan sayur dibungkus tepung dan dibentuk kotak digoreng renyah menjadi pendamping wajib sajian pecel Mbok Sadur ini.

Berbagai pendamping lainnya digelar dengan royal dan menggoda sekali. Sate usus, sate kulit, telor pindang, perkedel kentang, tempe goreng, telor ceplok, rempeyek kacang, rempeyek teri, mentho, dan sajian lain yang sungguh generous digelar di depan mata.

Sajian pecel Mbok Sadur ini memang sangat nikmat menjadi menu makan siang di Semarang yang panas, dan ditutup dengan segelas es teh tawar. Sungguh ngangeni dan membuat saya kembali dan kembali lagi setiap kali ke Semarang......

Dari nenek sampai dengan cucu, tetap setia dari Semarang 'meceli' lidah orang Semarang dan sekitarnya, membuat kangen kawula di mancanegara.....

Terima kasih Mamak Presiden, AsMods, KoKiers – KoKoers.....

bon appetite.....mecel yuuuukkk......

Spoiler for pecel
[/IMG]


Spoiler for pecel
[/IMG]


Spoiler for pecel
[/IMG]



kadalxburik - 18/01/2010 12:22 PM
#23

Berburu Semanggi Suroboyo

Berbicara makanan khas di Surabaya memang tidak ada habisnya. Begitu banyak penjaja makanan yang bertebaran disudut-sudut tempat dan salah satu makanan khas yang keberadaannya makin langka dikota Pahlawan ini adalah Semanggi Suroboyo. Seperti apakah jajanan ini?
'Semanggi Suroboyo, Lontong Balap Wonokromo.....'

penggalan syair lagu yang mempertegas salah satu ikon makanan khas di Kota Surabaya adalah Semanggi. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makanan yang berbahan baku daun semanggi ini mulai sulit ditemui. Jika pun masih ada, itu berkat segelintir orang yang masih peduli memperdagangkan. Walaupun ini adalah makanan khas Surabaya yang populer, tapi bisa dibilang cukup sulit untuk mendapatkannya karena sudah jarang.

Di Surabaya, Semanggi kebanyakan diproduksi oleh masyarakat sekitar daerah Benowo. Semanggi adalah sekelompok tanaman paku air (Hydropterides) dari marga (Marsilea) yang di Indonesia mudah ditemukan di sekitar pematang sawah atau tepian saluran irigasi. Secara morfologi bentuk tumbuhan ini sangat khas, karena bentuk daunnya yang menyerupai payung yang tersusun dari empat kelopak anak daun yang berhadapan.

Bagi yang tidak tahu makanan Semanggi tentunya akan heran ketika pertama kali menyantapnya dan mungkin akan terkesan kotor. Sekilas model penyajiannya tak jauh beda dengan Pecel dan sambal kental diatasnya.

Makanan khas Surabaya yang disajikan pada piring yang terbuat dari daun pisang atau disebut 'pincuk' ini terdiri dari beberapa sayur seperti daun semanggi, kecambah dan disiram dengan bumbu ketela rambat beserta sambal cabe rawit yang pedas. Untuk menikmatinya, akan semakin mantap jika dimakan dengan krupuk puli yaitu krupuk yang dibuat dari beras.

Keberadaan makanan Semanggi yang makin hari makin tenggelam dan langka, tak menyurutkan niat LeZAT untuk berburu Semanggi di beberapa tempat. Berikut beberapa tempat penjual semanggi yang sempat LeZAT temui:

Penjual Semanggi gendongan

Para penjual Semanggi kebanyakan adalah wanita paruh baya keatas. Mereka menjajakan Semanggi ke seluruh pelosok kota Surabaya dengan menggendong di punggung dan berjalan kaki. Pada pagi hari, para penjual Semanggi berkumpul di perempatan Sendangbulu, dekat perumahan Bukit Palma. Mereka menunggu jemputan dari angkutan yang setia mengantarkan mereka ke pelosok kota Surabaya.

Jadi jika Anda lagi puter-puter kota Surabaya dan melihat ibu dengan bakul yang digendong di belakang dengan tumpukan krupuk puli maka dialah sang penjual semanggi Suroboyo.

Seperti yang dijumpai LeZAT di sekitar kawasan Diponegoro dekat pemberhentian bis. Sebuah angkutan umum berhenti, tampak beberapa wanita paruh baya itu dengan berpakaian kebaya dan berjarit beranjak turun. Di depannya terdapat bakul tempat dagangannya dan tak lupa krupuk puli dalam kantung plastik yang cukup besar.

Sunarti atau mak Ati, demikian dia dipanggil hanyalah seorang pedagang Semanggi pada umumnya. Sudah hampir 20 tahun ia berjualan Semanggi secara keliling dengan rute sekitar kawasan Diponegoro, Genteng dan sekitarnya. Memang tiap hari Mak Ati menjajakan Semanggi tidak menetap tempatnya. "Biasanya saya paling sering berhenti sebentar di kantor-kantor atau sekolahan, ya...lumayan dapatnya", tuturnya.

Dengan gendongan Semanggi yang berada di punggung, dalam sehari Mak Ati bisa menjual Semanggi sebanyak antara 50 sampai 80 pincuk dengan harga perporsi 3.500 rupiah. "Ya... tergantung rame sepinya pembeli, kalau rame ya rejeki saya dan bisa pulang cepat. Tapi kalau jualan saya sepi, ya musti keliling-keliling, kadang sampai larut malam", ujar Mak Ati yang tinggalnya di daerah Kandangan.

Hampir semua pedagang Semanggi gendongan ini menawarkan harga Semanggi yang relatif terjangkau, dengan rasa yang cukup nikmat. Untuk penyajiannya seperti pada umumnya, namun seporsi sayur Semanggi ditambah sayuran kangkung atau daun lembayung (daun ubi), lalu sambal dan krupuk puli lebar.

Gerai Semanggi Top Suroboyo (STS)

Ingin menikmati Semanggi, namun sulit menemukan penjual Semanggi gendongan, ini tak jadi soal. Kita bisa menikmati Semanggi Top Surabaya (STS) di sebuah gerai tempat makan. STS memang belum membuka kedai sendiri. Hampir selama 13 tahun ini, STS berjualan di Rumah Makan Antariksa di Jl Diponegoro.

Sumarni, 27 th, penjual Semanggi STS yang sempat dijumpai LeZAT saat mengikuti even Festival Jajanan Surabaya menceritakan awal berjualan Semanggi ini karena suka makan Semanggi. "Saya suka Semanggi. Selain khas Surabaya, makanan ini bergizi dan berserat. Selain itu dari nenek hngga ibu saya juga berjualan Semanggi, jadi saya ikutan saja. Kebanyakan pembeli memuji sambal Semanggi di sini cukup sedap rasanya dan resepnya saya peroleh dari nenek saya", tuturnya.

Untuk mendapatkan Semanggi segar, setiap dua atau tiga hari sekali, warga kawasan Jelidro, Sambikerep ini pergi ke Kandangan, Benowo. "Satu kali kulakan, saya ambil lima timba. Untuk harga satu timbanya cukup murah kok. Dan begitu matang semanggi-semanggi ini saya jual seharga 8.500 rupiah per porsinya. Itu sudah lengkap dengan sambal dan krupuk", lanjut Suwarni yang tak mau menyebutkan harga semanggi segar.

Menikmati Semanggi di hotel berbintang

Makanan khas ini selain dapat ditemui dari pedagang keliling, pujasera ternyata ada juga lho di hotel berbintang tepatnya di Hotel Surabaya Plaza. Dengan membidik kalangan menengah, sajian Semanggi di hotel ini laris juga dipesan tamu. Tidak hanya para tamu yang menginap di hotel saja yang bisa menikmati, tapi dibuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menikmati Semanggi.

'Sudah hampir 2 tahun ini, kami menyajikan Semanggi makanan khas Surabaya yang keberadaannya hampir punah. Banyak orang bilang untuk menikmati Semanggi itu susah mencari tempatnya. Nah, Hotel Surabaya Plaza selain ingin melestarikan ragam makanan tradisional tersebut juga untuk memanjakan mereka yang ingin menikmati Semanggi", jelas Feby Kumalasari selaku Public Relation hotel tersebut.

Untuk menikmati Semanggi ditawarkan seharga 10.000 rupiah per porsi. Anda bisa bertandang dari jam 12 siang hingga jam 6 sore setiap hari. 'Semanggi ini memang paling cocok dinikmati saat siang hari. Yang membuat Semanggi ini sedap dinikmati itu tergantung dari campuran bumbu yang digunakan, seperti bawang putih ataupun petis udangnya", jelas Chef Ana sambil meracik Semanggi.

Spoiler for semanggi
[/IMG]


Spoiler for semanggi
[/IMG]


Spoiler for semanggi
[/IMG]


Spoiler for semanggi
[/IMG]



kadalxburik - 18/01/2010 12:32 PM
#24

Warso Farm

Berkunjung kelokasi perkebunan durian ini, kecuali anda datang dalam rombongan khusus, tidaklah di pungut biaya. Anda bebas keluar-masuk ke areal perkebunan seluas kurang lebih 15 hektar ini bersama keluarga, untuk melihat berbagai jenis durian yang ditanam disana. Kurang lebih ada 800 batang pohon tersebar di berbagai tempat dengan durian jenis monthong mendominasi perkebunan ini.
Jika anda berniat untuk berkunjung sambil menikmati durian secara langsung dari kebun ini, panen raya adalah saat yang tepat. Bulan Desember hingga Mei merupakan masa panen durian dengan puncak panen berada di bulan Januari hingga Maret. Kunjungan saya di bulan Agustus lalu, cenderung hanya bisa melihat pucuk-pucuk bunga durian yang banyak tersebar di batang pohonnya.

Beberapa pohon memang masih menyisakan satu-dua buah durian, namun tentunya pemandangan akan jauh berbeda bila saat panen raya anda berkunjung ke lokasi ini. Dari jumlah putik bunga yang tersebar di tiap batang pohon durian saja sudah mampu memberikan gambaran bagaimana "heboh"-nya nanti, bila saat panen raya tiba. Ibarat, kemana mata memandang disitulah pengunjung akan melihat buah durian yang bergelantung menggoda selera. Tidak usah kuatir anda akan kejatuhan buah durian saat berada lokasi, dikarenakan buah durian yang sekiranya berbahaya bagi pengunjung telah diikat dengan tali.

Untuk menikmati durian yang ada di perkebunan ini, telah disediakan saung khusus yang berada didalam perkebunan maupun yang dibagian luar. Pengunjung bisa menikmati buah durian yang dipetiknya disaung ini, tentunya perlu ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan harganya. Harga yang dipatok untuk tiap kilogram durian adalah sebesar 30.000/kg.

Sebuah harga yang cukup mahal, mengingat harga perkilo untuk durian monthong diluaran berkisar dibawah 20.000-an. Namun hal tersebut tidak menyurutkan para penggemar durian untuk datang dan menyantap durian yang ada diperkebunan ini. Mungkin, menikmati durian hasil pilihan sendiri bersama sesama penggemar fanatik buah durian, memberi suasana yang berbeda dan lebih utama dibandingkan harga yang ditawarkan.

Berbagai varietas durian ditanam di perkebunan ini. Sebutlah petruk, lai, simas, kaniau, hepe, tunan, sukun, citokong, cane dan bakul, ikut meramaikan pepohonan yang ada, dengan durian tipe monthong (thailand) yang merupakan variatas utama dan terbanyak. Kabarnya durian varietas simas merupakan jenis durian yang disukai oleh Bung Karno. Perkebunan ini sendiri mulai disiapkan sejak tahun 1980 dan baru mulai tahun 1990 ditanami dengan berbagai varietas buah durian.

Tak tanggung-tanggung, agar bisa lebih serius dalam mengelola kebun durian ini, Soewarso pemiliknya, memilih untuk tinggal didalam perkebunan. Kini, apa yang dirintisnya telah menjadi rujukan bagi banyak orang lain, baik didalam negeri maupun macanegara, dalam hal pengembangan tanaman durian.

Untuk mencapai lokasi perkebunan ini terdapat dua pilihan jalan. Anda bisa melalui Kota Bogor untuk kemudian naik angkutan kota jalur 03 jurusan Ramayana-Cihideung. Dari lokasi akhir angkutan umum ini, dengan sedikit berjalan kaki, anda akan sampai ke Warso Farm yang ditandai dengan patung durian berukuran sangat besar. Atau, anda bisa menempuh jalur keluar pintu tol Ciawi kearah Sukabumi. Dipertigaan Caringin anda tinggal belok kiri dan menyusuri satu-satunya jalan beraspal yang ada hingga kelokasi tujuan.

Apapun pilihan anda, kedua jalur tersebut bisa dilalui oleh berbagai tipe jenis kendaraan. Jalan beraspal yang mulus memungkinkan kendaraan bergardan rendah (sedan) bisa melalui-nya dengan mudah. Jadi jika anda adalah penggemar fanatik buah durian, Warso Farm adalah suatu tempat yang harus anda kunjungi

Spoiler for warso farm
[/IMG]


Spoiler for warso farm
[/IMG]


Spoiler for warso farm
[/IMG]


Spoiler for warso farm
[/IMG]


Spoiler for warso farm
[/IMG]



kadalxburik - 18/01/2010 12:38 PM
#25

Sensasi Pinggir Kali Krasak

Jika Anda mengarungi jalan negara antara kota Yogyakarta dan Magelang, sesampai di perbatasan Provinsi DI Yogyakarta-Jawa Tengah atau tepatnya menjelang Kali Krasak, Anda perlu mengurangi kecepatan. Arahkan mobil ke jalan kabupaten yang terletak bersebelahan dengan jalan negara tadi. Setelah 300-an meter bergerak, beloklah ke kanan. Setelah persis berada di bawah Jembatan Krasak, majulah sedikit dan parkir mobil Anda di situ. Tengok ke sebelah kiri, cari deretan warung bercat hijau. Masuk ke dalam, ambil tempat yang kosong, dan pesan makanan spesial: brongkos!

Karena bercat hijau itulah, pemilik warung (suami-istri Padmosudarmo) menamai warungnya Warung Ijo. Padmosudarmo sendiri sudah lama meninggal. Istrinya, Sumarti Padmosudarmo, yang meneruskan usaha rumahan ini, meninggal pada 22 Mei 2008 dalam usia 84 tahun karena tua.

Semula Warung Ijo berada di sisi jalan (lama) Yogyakarta-Magelang. Namun, pada tahun 1970-an, sebagian jalan di atas Jembatan Krasak tertimbun lahar dingin Gunung Merapi. Pemerintah kemudian membangun jembatan baru sekaligus meninggikan jalan lama sekitar enam meter.

Akibat pembangunan ini, Warung Ijo pun ”tenggelam” di bawah talut Jembatan Krasak. Namun, menurut kesaksian warga sekitar, justru karena ”tenggelam” itulah nama Warung Ijo malah berkibar-kibar karena banyak pekerja pembangunan jembatan yang makan di Warung Ijo sekaligus mengabarkan secara getok tular enaknya masakan setempat.

Generasi kedua

Warung Ijo yang dirintis Padmosudarmo mulai tahun 1950 atau 58 tahun silam baru saja mengalami regenerasi. Kini pengelolaan ditangani Ny Enny Nugroho (43), perempuan asal pesisir utara Jawa Tengah, yang juga istri anak angkat Padmosudarmo, Nugroho.

Sehari-hari Nugroho berprofesi sebagai Kepala Dusun Kromodangsan, Desa Lumbungrejo, Kecamatan Tempel, Sleman, Yogyakarta. Dusun Kromodangsan bersebelahan dengan Dusun Ngepos tempat Warung Ijo berlokasi.

Meski beralih komando, cita rasa Warung Ijo tetap sama. Ini membuat Nursalim, warga Temanggung, Jawa Tengah, masih setia menyambangi warung itu nyaris setiap hari Minggu. Jarak Temanggung-Sleman lebih dari 40 kilometer. Toh demikian, karyawan kantor pemerintah tersebut tak segan menempuh perjalanan itu menggunakan sepeda motor butut.

”Saya selalu makan siang di sini...,” tutur Nursalim. Selain menyantap di tempat menu favorit nasi brongkos, ia masih membawa pulang dua bungkus untuk istri dan anak.

Sekadar menyebut nama, penggemar nasi brongkos produk Warung Ijo lainnya adalah Gatot Marsono, pensiunan karyawan Pemda DI Yogyakarta. Meski di sekitar rumahnya di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, juga banyak ditemukan warung dengan menu brongkos, tetapi, kata dia, ”tak seenak brongkos Warung Ijo”.

Di mana enaknya? ”Tak bisa dirinci lewat kata-kata. Harus datang sendiri dan nikmati...,” kata bapak satu anak yang kini sering mengisi siaran berbahasa Jawa di radio dan televisi lokal.

Warung Ijo tak pernah sepi pembeli, padahal letaknya nyempil. Di sana hanya ditemukan tempat duduk dan meja kayu sederhana dengan posisi melingkar. Saat jam makan siang, peminat antre sebelum bisa duduk di bangku dan memesan makanan.

Dari usaha rumahan itu, sekurangnya 10 orang memperoleh penghidupan, tujuh orang membantu di dapur dan tiga orang menyajikan masakan ke pelanggan. Keseluruhan dari mereka masih memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum Padmosudarmo.

Menu lain

Warung Ijo juga menyediakan menu lain, seperti terik, sop, pecel, dan nasi rames. Namun, menurut Enny Nugroho, brongkos tetap favorit dan andalan. ”Setelah lima orang memesan nasi brongkos, baru orang keenam memesan nasi pecel atau nasi rames,” tutur Enny.

Untuk keperluan brongkos saja, sehari dibutuhkan 25 kilogram daging sapi, sedangkan beras mencapai 30-an kilogram. Padahal, warung hanya buka selama delapan jam sejak pukul 06.30 pagi.

”Pintu warung belum dibuka kadang sudah ada penggemar menunggu. Ya, saya bilang, kalau bersedia sabar, silakan...,” ujar Enny sambil meladeni pesanan nasi brongkos ditambah telur ceplok, bihun goreng, dan krecek.

Untuk nasi plus berbagai jenis lauk tersebut, ibu tiga anak itu memasang harga Rp 14.000 per porsi. Apabila hanya brongkos, cukup menyediakan Rp 10.000. Harga itu sudah naik Rp 500 per porsi seiring perubahan harga bahan bakar minyak sejak beberapa waktu lalu.

Santan

Bumbu brongkos mirip rawon, hanya saja diberi santan. ”Yang terlibat di dalamnya”, antara lain, adalah (bumbu halus) bawang merah, bawah putih, ketumbar, kemiri, kunyit, cabai, dan keluak. Bahan yang perlu disiapkan terdiri atas kacang merah, tahu, santan, serai, lengkuas, daun jeruk, gula merah, irisan daging, dan minyak untuk menumis.

Bumbu halus ditumis sampai harum bersama serai, lengkuas, daun jeruk, dan jahe. Tuangkan santan dan air. Masak sampai mendidih sambil diaduk. Masukkan kacang merah, kentang, tahu, garam, dan gula merah. Masak sampai kuah mengental.

Brongkos Warung Ijo hanya diberi irisan daging. Ini tak seperti brongkos Bu Pujo di Tembarak, Temanggung, yang diberi irisan kikil. Karena itu, pilihan daging atau kikil berpulang kepada konsumen.

Cita Rasa Keluak

Rasa enak brongkos terletak pada salah satu bagian bumbu yang disebut keluak. Kecuali brongkos, jenis makanan Jawa yang juga ”dicampuri” keluak adalah rawon, makanan paling populer di Jawa Timur.

Karena menggunakan keluak itulah, baik brongkos maupun rawon sama-sama berwarna agak kehitaman. Malah, karena hitamnya itu, rawon sering disebut sebagai black soup atau sop hitam.

Keluak yang menimbulkan warna hitam pada brongkos (dan juga rawon) ditimbulkan oleh daging buah keluak. Keluak berasal dari biji buah pohon kepayang.

Dari dua jenis masakan yang menggunakan keluak, yaitu brongkos dan rawon, yang lebih dikenal masyarakat luas, utamanya di Jatim dan Jateng, adalah rawon.

Namun, karena ketenarannya yang sedikit di bawah rawon itulah, warung makan yang masih menyediakan brongkos justru dicari banyak orang. Contohnya adalah Warung Ijo di bawah Jembatan Krasak, Sleman, tersebut.

Meski demikian, menurut Ny Sri Lestari (66), adik Ny Padmosudarmo yang sehari-hari membantu memasak di Warung Ijo, jika penggunaan keluak tidak pas, bisa membuat brongkos terasa pahit.

”Di sini sulitnya memasak brongkos. Apalagi, kalau memperoleh keluak yang sudah kering, rasanya menjadi tidak karu-karuan,” tutur Sri Lestari, pemilik jam terbang tertinggi di Warung Ijo.

Keluak disetor pedagang asal pedalaman Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, setengah bulan sekali. Agar memberi cita rasa pas, keluak terlebih dulu disortir. Yang dinilai kering dan berjamur dibuang. Adapun yang bisa memberi rasa brongkos nglundi disimpan.

Kunci mengapa brongkos di Warung Ijo dirasa pas di lidah adalah juga berkat bahan bakar pengolah yang tidak menggunakan minyak tanah atau gas, melainkan kayu bakar dan arang kayu. Sejak Warung Ijo dibuka lebih dari setengah abad yang lalu, hanya dua jenis bahan bakar itulah yang dikenal.

Spoiler for warung ijo
[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[/IMG]


Spoiler for warung ijo
[/IMG]


kadalxburik - 18/01/2010 12:42 PM
#26

Front Pemangsa Sate (Klathak)

Jika Anda penggemar sate kambing, marilah bersekutu dengan panji baru: Front Pemangsa Sate. Dan segeralah ”rame-rame” menyerbu Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Jalan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Di situ Anda akan menemui aliansi kelezatan dan gurihnya bakaran daging wedhus gembel alias domba gimbal yang cuma berbumbu garam—populer dengan sebutan sate klathak. Jadi, meskipun pakai label ”front”, ini tak ada urusan dengan kekerasan. Paling banter cuma berurusan dengan remasan. ”Biar empuk setelah dipotong-potong, dagingnya lalu saya remas-remas pakai tangan biar garamnya merata. Setelah itu baru ditusuki pakai ini,” tutur Kang Bari yang bernama lengkap Sobari, 31 tahun, sambil menunjuk bekas jeruji sepeda yang biasanya ditusuki enam atau tujuh keratan daging.

Ada yang bilang, kelezatannya tak kalah dengan lamb chop olahan hotel bintang lima yang pakai daging domba impor. Atau dalam istilah Ayu Utami, sastrawan kondang yang saban ke Yogya tak pernah absen menyantap sate klathak, ”Rasanya lumer di mulut. Segalanya tepat dan sempurna. Dagingnya segar, bumbunya minimal, panasnya baru dari api, dan kedainya tanpa kosmetik. Unik dan uuuenak banget.”

Berbeda dengan sate pada umumnya, sate klathak memang sangat minimalis. Jika umumnya sajian sate kambing dilengkapi bumbu kacang atau kecap, irisan tomat, rajangan brambang, cabai, dan kubis, sate klathak tampil lugu. Sepertinya, sudah sangat yakin akan kelezatannya. Seporsi cuma berisi dua tusuk. Disajikan begitu saja, masih lengkap dengan tusukan jeruji sepanjang 30 cm. Tanpa hiasan, tanpa manipulasi. Bisa disantap sebagai nyamikan melengkapi wedang teh nasgithel (panas, legi, kental). Atau sebagai makanan utama yang biasanya dengan nasi yang disiram kuah gulai.

Selain penulis Ayu Utami dan Danarto, banyak pesohor lain yang mendoyani sate Kang Bari. Dia menyebut beberapa nama: Didi Petet, Dedy Mizwar, Wulan Guritno, Mira Lesmana, Riri Riza, Tora Sudiro, Komeng, Trie Utami, Rieke Dyah Pitaloka, Nano, dan Ratna Riantiarno.

Populernya sate klathak, seperti jamaknya terjadi di negeri ini, selalu melahirkan epigon-epigon yang menguntit sebuah kreasi. Kebanyakan penjual sate kambing (juga tongseng dan gulai) di sepanjang Jalan Imogiri Timur yang jumlahnya hampir seratus warung selalu menyediakan menu ini. Ada yang menyerupai olahan Kang Bari, tetapi tidak sedikit yang sudah dikembangkan, misalnya ditambah merica sehingga jadi rada pedas seperti yang dilakukan Pak Untung, pemilik kedai di daerah utara pasar.

”Di sini pun, kalau ada yang minta pedas, ya saya tambahi merica. Kalau mau manis, pas meremas dagingnya saya tambahi kecap,” ujar bapak satu anak ini seraya menerangkan, gagasan membuat sate klathak diinspirasi masa kecilnya yang doyan makan emprit bakar.

Dia berkisah, dulu sering berburu burung emprit. Jika buruan didapat, biasanya sang emprit dikuliti, dibuang jeroannya, lalu hanya ditaburi garam, langsung dibakar. ”Biasanya emprit ditusuk pakai jeruji payung. Cuma dibakar begitu saja, kok rasanya enak,” kenangnya. Rasanya gurih banget. Selain itu, orang di desanya juga punya kegemaran makan klathak-melinjo, yaitu buah melinjo yang dibakar. Rasanya juga gurih. Dari yang serba gurih lantaran proses pembakaran dengan logam itulah, Kang Bari menamai kreasinya dengan nama camilan yang sudah beken sebelumnya: Klathak!

Kambing gemuk

Saban hari setidaknya Kang Bari menghabiskan 20 kilogram daging kambing. Itu didapatnya dari dua wedhus gembel yang disembelihnya sendiri. ”Kalau bukan jenis gembel, baunya prengus,” terang Kang Bari yang sekali belanja langsung beli 10 ekor di Desa Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Jadi, bisalah dibayangkan, sudah berapa ribu kambing yang disembelihnya jika Kang Bari memulai bikin sate klathak sejak 1995. Apalagi jika dihitung sejak zaman leluhurnya. Kang Bari adalah generasi ketiga.

”Dulu, sebelum tahun 1945, kakek saya, Mbah Ambyah, juga jualan di sekitar pasar sini. Di bawah pohon waru, hanya dengan satu meja dan dua lincak. Yang dijual tongseng singkong dan tongseng tahu. Daging kambingnya cuma sedikit. He-he-he.., waktu itu kan tidak semua orang bisa makan daging,” kenang anak keempat dari sepuluh bersaudara ini sambil meneruskan, ”Lalu dilanjutkan ayah saya dan saya membantu bikin minuman.”

Begitulah, setelah Pak Wakidi, ayahnya, lengser keprabon, warisan takhta sate-tongseng gantian diduduki Kang Bari, sementara Jono, 27 tahun, adiknya yang nomor enam, jadi pembuat minuman. ”Sekarang Jono buka warung sendiri. Juga jualan sate klathak dengan resep yang sama. Tempatnya di sana tuh,” ujar Kang Bari sambil menunjuk sisi selatan pasar.

”Getih kami ini kan getih sate,” ujarnya bercanda. Maksudnya, dari puluhan penjual sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran umumnya masih punya hubungan famili dengan dirinya. Dia menyebut sejumlah nama yang berprofesi serupa dirinya: Pak Lik Yabini, Ibu Choiriyah, Pak Pong, Bu Jazim, Pak Lik Sijam, Kang Keru, Kang Salam, dan Kang Ci’un.

Yang pantas dibanggakan, meski medan bisnisnya sama, mereka tetap rukun sentosa. Persaingan tidak menyebabkan lahirnya intrik dan saling menjatuhkan. Apalagi memuntahkan kekerasan.

Karena itu, jika FPS, Front Pemangsa Sate (Klathak), ingin meningkatkan kadar kolesterol dan menyempurnakan kecerdasan lidahnya, jangan gentar menyerbu front sate-tongseng di kawasan Pasar Jejeran. Inilah penyerbuan yang dibenarkan. Karena setiap serbuan pasti akan disambut kelezatan kuliner kelas kampung, dan itu berarti rezeki bagi mereka yang menggantungkan hidup pada sate klathak.

Selamat menyerbu! Ini front memang berbeda.***

Legitnya Tongseng Kicik

Kalau di jagat politik ada dwitunggal Soekarno-Hatta atau SBY-JK, di jagat kuliner ada tritunggal: sate-tongseng-gulai. Ketiga menu ini selalu tampil bareng. Jika sebuah kedai berani memproklamasikan jualan sate kambing, bisa dipastikan sekaligus jualan tongseng dan gulai. Soalnya trio menu ini memang saling melengkapi. Untuk memasak tongseng dibutuhkan kuah gulai.

”Lha kalau menyembelih kambing hanya untuk dibikin sate thok, ya rugi. Nanti jeroan, iga, kaskus, buntut dan kepalanya ndak bisa dimanfatkan. Makanya dibuat gulai,” kata Kang Bari yang menyerahkan tugas pembuatan gulai kepada Bu Alfiah, 55 tahun, ibu kandungnya.

Kang Bari mengungkap rahasia dapur, ”Gulai itu bumbunya paling banyak. Kurang lebih ada 29 macam, antara lain santan kelapa, gula jawa, cengkeh, jinten, kapulaga, garam, brambang, bawang, salam, laos, kemiri, tumbar, kayu manis, cabe merah, dan lain-lain.”

Bisa dibilang, kualitas gulai inilah yang membedakan rasa tongseng dari setiap warung sate. Ada yang memanjakan santan sehingga kuahnya kental, sehingga jika dibikin tongseng terasa lebih legit. Ada yang cenderung pedas dan asin. Ada yang encer. Nah, gulai olahan The Bari Family ini tergolong rada kental. Selain cocok menjadi kuah tongseng, juga bisa dibuat menu lain, kicik namanya. Cara bikinnya, daging kambing ditumis sama seperti tongseng. Tapi kuahnya dibiarkan menguap sampai agak kering. Yang tersisa tinggal daging dengan kuah sangat kental seperti gulali. Rasanya lebih manis dan asin. ”Harga seporsi kicik sama dengan sate klathak, hanya sepuluh ribu,” kata Kang Bari.

Jadi, jika kelak tongseng kicik juga jadi sasaran serbuan Front Pemangsa Sate (Klathak), naga-naganya tritunggal ”sate-tongseng-gulai” akan segera menjelma jadi ”catur-tunggal”: sate-tongseng-gulai plus kicik. Sebuah kombinasi anyar yang bakal mewarnai warung sate di Yogyakarta.

Spoiler for sate
[/IMG]


Spoiler for sate
[/IMG]


Spoiler for sate
[/IMG]


Spoiler for sate
[/IMG]



kadalxburik - 18/01/2010 12:45 PM
#27

Ikan Kuah Pala Banda yang Membisukan

Kekayaan kuliner di Pulau Banda, Maluku, seperti sup ikan kuah pala, ikan bakar, ulang-ulang, dan bekasang, menambah daya tarik pariwisata selain keindahan alam bawah air. Kata-kata sebenarnya tak cukup untuk menggambarkan kenikmatan sop ikan kuah pala, kuliner asli masyarakat Kepulauan Banda di Maluku.
Saat menyeruput kuah yang gurih, sedikit pedas bercampur asam pala, kata-kata menguap meninggalkan lidah mengecap sensasi kelezatan. Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, yang terkenal karena keindahan taman lautnya juga memiliki koleksi warisan kuliner yang lezat. Kami mencoba masakan ulang-ulang, sambal bekasang, dan sop ikan kuah pala. Buah pala rempah-rempah itulah yang menarik bangsa Eropa datang ke Banda pada awal abad ke-17.

Di meja makan disajikan pula urap daun pepaya dan ikan bakar. Minuman bisa variatif tergantung selera. Santapan khas Banda itu bisa dipesan di rumah makan Namasawar milik Fauziah Baadila di dekat Pelabuhan Naira. Masakan khas itu tidak disajikan setiap hari dan harus dipesan terlebih dahulu, misal untuk makan malam harus dipesan sejak siang hari.

Santap malam kami buka dengan ulang-ulang yang menyegarkan. Ini adalah campuran sayuran segar kangkung, kacang panjang, terong, tauge, wortel, dan mentimun. Sayuran tersebut dicampur dengan bumbu terasi, cabai ulek, kenari tumbuk, serta sedikit cuka dan garam. Bumbu dicampur dengan sayur saat akan disajikan supaya kesegaran sayuran lebih terasa.

Ulang-ulang menggugah selera makan karena segar bercampur gurih kenari tumbuk dan sedikit rasa asam. Kesegaran sayur-sayuran mengobati lelah setelah seharian snorkeling di Laut Banda.

Ulang-ulang juga cocok disantap dengan nasi, daun pepaya, dan ikan bakar yang dicelup sambal bekasang yang dibuat dari daging ikan cakalang tumbuk. Kombinasi menu itu menghadirkan sensasi khas Banda: kesegaran sayur, gurih ikan laut dan rasa asam pedas rempah-rempah.

Sambal ”bekasang”

Sambal bekasang melengkapi sensasi pedas menggigit lidah. Lidah juga digelitik rasa asam jeruk limau dalam sambal bekasang. Asam limau selain untuk menghilangkan aroma amis ikan juga merangsang air liur agar santap tambah nikmat. Daging lembut ikan kerapu bakar dicelup dalam sambal bekasang cukup untuk menghabiskan satu bakul nasi.

Sambal bekasang istimewa karena pembuatannya membutuhkan waktu satu minggu. Untuk membuat bekasang dibutuhkan ikan cakalang yang digiling halus. Daging giling dicampur dengan garam dan diungkep selama satu minggu dan jadilah bekasang. Untuk membaut sambal bagi dua orang, cukup satu sendok adonan bekasang diulek bersama cabai sesuai selera dan perasan jeruk limau. Sambal biasanya ditambahi irisan bawang merah, tomat, dan sedikit minyak goreng supaya sedap dan gurih.

Jika lidah mulai bosan dengan sensasi bekasang, satu sendok ulang-ulang cukup mengembalikan selera makan.

Sup ikan

Sup ikan bisa disantap sebagai pembuka, tetapi kami menyantapnya sebagai penutup. Kuah pala yang menjadi kuah sop terasa sangat segar. Ada sedikit rasa asam bercampur pedas. Rasa pedasnya beda dari cabai karena ini pedas pala yang halus dan hangatnya menjalar hingga ke lambung. Sensasi rasa itu berasal dari irisan daging pembungkus biji pala dalam kuah sup.

Perut yang semula mulai kenyang menjadi nyaman oleh kehangatan pala dan rasa lapar pun kembali menjalar. Sensasi ini di luar dugaan hingga satu ekor ikan kakap merah yang berdaging lembut tersisa tulangnya saja.

”Wow... ini enak sekali sampai kita terdiam. Aku akan merekomendasikan masakan ini ke teman-temanku yang akan ke Banda,” ujar Paul Symon, kawan dari Inggris, memecah kebisuan diiringi tawa kami berdua.

Kenikmatan sup ikan kuah pala ini, menurut Fauziah, sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Bahkan saking lezatnya, sup ikan kuah pala selalu disajikan untuk para petinggi tentara Belanda yang datang ke Banda. Tradisi santap itu berlangsung hingga bangsa Eropa angkat kaki dari Banda.

”Kami sebenarnya punya banyak masakan khas, tetapi yang paling terkenal sup kuah pala,” ujar Fauziah.

Aneka menu kuliner Banda masih dipertahankan oleh masyarakatnya, tetapi jarang ditemui di rumah makan. Masakan khas Banda masih disajikan di rumah-rumah untuk konsumsi pribadi. Rumah makan di Naira juga tidak semuanya menyajikan masakan ini. Di buku menu makanan pun tidak terdaftar.

Kami bisa menikmati makanan khas Banda itu karena terlebih dahulu bertanya tentang makanan khas Banda ke pemilik rumah makan Namasawar.

Kuliner di Banda perlu lebih dikenalkan untuk melengkapi daya tarik pariwisata. Masakan khas Banda dengan kekuatan pada kesegaran ikan, sayuran, dan rempah-rempah bisa memikat para penikmat wisata kuliner.

Sensasi kelezatanya tidak akan terlupakan karena hanya bisa ditemui di pulau kecil di tengah Laut Banda yang berpalung dalam. Jika tertarik merasakan sensasi kuah pala, berkunjunglah ke Banda.

Resep Sup Ikan Kuah Pala

Sup ikan kuah pala pengolahannya sebenarnya mudah dan bumbunya sederhana. Kendala utama mungkin buah pala yang jarang dijumpai di pasar di luar Maluku.

Langkah pertama adalah memilih ikan segar yang akan dibuat sup. Paling mantap ikan laut seperti kerapu dan kakap merah yang dagingnya lembut dan menyerap bumbu. Setelah ikan dibersihkan dan siap diolah, siapkan bumbu, yaitu bawang merah, laos, cabai merah, dan terasi. Bumbu- bumbu diulek hingga halus.

Langkah selanjutnya merebus air, setelah mendidih masukkan bumbu-bumbu. Kemudian ikan dimasukkan bersama irisan tipis-tipis daging pembungkus biji pala. Tambahkan sedikit garam dan serai tumbuk untuk rasa dan aroma segar. Angkat setelah ikan dan buah pala matang.

Untuk variasi hidangan bisa disajikan daun pepaya yang dihilangkan rasa pahitnya. Caranya, daun pepaya direbus menggunakan air tanah liat. Setelah direbus, daun pepaya dibersihkan dan diiris-iris halus. Siapkan bumbu bawang putih, bawang merah, cabai, dan terasi kemudian digiling halus.

Daun pepaya dan bumbu ditumis di atas api kecil, tambahkan garam, kenari giling, dan setengah gelas air. Daun pepaya dibolak-balik hingga matang dan sajikan bersama sup ikan kuah pala, sambal bekasang, ulang-ulang, dan ikan bakar.

Spoiler for banda
[/IMG]


Spoiler for banda
[/IMG]


Spoiler for banda
[/IMG]



kadalxburik - 19/01/2010 03:29 PM
#28

Ikan, Kelapa, dan Ubi Kayu

Ikan terbang harus hati-hati jika lewat perairan Mandar. Jika tidak bisa lolos dari jaring nelayan di perairan Sulawesi Barat ini, bisa-bisa mereka ditangkap dan kemudian dijual sebagai ikan asap di Somba, Kecamatan Sendana. Orang Mandar terbiasa menyebut ikan terbang sebagai tui-tuing, sementara orang Bugis-Makassar ada yang menyebutnya tuing-tuing.
Dalam penelusuran lewat internet, penelitian Dr Ir Syamsu Alam Ali MS dan Ir Andi Parenrengi MSc dari Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin pada tahun 2006 antara lain menyatakan, ikan terbang (Hirundichthys oxycephalus) merupakan sumber daya laut ekonomis penting di Selat Makassar (sekitar perairan Parepare dan Polewali-Mamasa) dan Laut Flores (sekitar perairan Takalar dan Bulukumba).

Kelompok ikan terbang Takalar dan Bulukumba di Laut Flores serta kelompok ikan terbang Parepare dan Polewali Mamasa di Selat Makassar masing-masing merupakan subpopulasi yang berbeda.

Seorang kawan yang pernah tinggal di Makassar menyebutkan, ikan terbang termasuk ikan yang dilindungi. Wallahualam kebenarannya. Apa pun, jajaran warung makan di kawasan Somba masih siap melayani pengunjung yang mencari ikan terbang.

Diawali satu warung makan pada awal tahun 2000-an, kini sekitar 40 pedagang membuka warung makan ikan asap. Somba termasuk wilayah Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene. Letaknya persis di pinggiran jalan trans-Sulawesi, sekitar 19 kilometer dari pusat kota Majene ke utara menuju Mamuju, sekitar 60 kilometer atau dari pusat kota Polewali Mandar.

Gampang saja menemukan Somba sekalipun tidak ada petunjuk khusus. Jika deretan warung makan penuh dengan kepulan asap, bisa jadi itulah Somba. Warung makan di Somba sangat sederhana, semipermanen saja. Kebanyakan hanya separuh terbuat dari tembok dan selebihnya ditutup papan atau anyaman bambu. Warung makan di sisi tepi pantai lebih sederhana lagi karena dibangun menyerupai rumah panggung dengan ”sebelah kaki” tertanam di pasir pantai.

Pengasapan

Sesuai nama, cara memasaknya dengan pengasapan. Ikan terbang yang telah dicuci kemudian ditata di atas pelepah daun kelapa di atas tungku berbahan bakar kayu kering yang biasa dipungut dari pinggir pantai.

Namanya ikan asap, cara memasaknya betul-betul dengan pengasapan. Jika muncul bunga, segera air dicipratkan untuk memadamkan bunga api. Menurut Darmiati (40-an), pengasapan itu membuat daging ikan terbang lebih gurih dan sedap.

Ikan asap sebaiknya dihidangkan saat hangat. Begitu kulit ikan terbang yang kecoklatan dilolos, kita segera menemukan daging yang empuk. Hampir seperti ikan bolu (bandeng), hanya saja duri ikan terbang lebih sedikit. Pokoknya mantap.

Wajar saja jika Arkamullah, warga Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, selalu menikmati ikan asap jika lewat di Somba. ”Kalau asal ikan asap, di pasar juga banyak,” kata Arkamullah.

Pengunjung kebanyakan memang pelintas jalur barat Sulawesi. Letak Somba relatif strategis, tepat di tengah keletihan saat berkendara di tepian pantai yang panas.

Seiring dengan pembentukan Sulawesi Barat, jalur lintas barat semakin ramai sehingga pengunjung diharapkan lebih banyak dari Majene dan Polewali Mandar ke Mamuju atau sebaliknya. Bahkan jika ada hajatan besar pemerintahan di Mamuju, hampir bisa dipastikan pengunjung warung ikan asap akan lebih banyak ketimbang biasanya.

Lengkap

Makan ikan terbang asap tak akan lengkap tanpa mencocol sambal mentah. Bahan utamanya cukup cabai, tomat, dan bawang. Ditambah sedikit minyak, maka jadilah.

Jika ikan saja tak mengenyangkan, ada penganan karbohidrat tinggi tersedia di meja. Jepa adalah makanan khas Mandar. Bentuknya lempengan bundar dari parutan ubi kayu dan kelapa yang dimasak di atas kuali tanah. Cara pembuatannya nyaris sama seperti pembuatan serabi. Namun, untuk membuat jepa ada tutup yang ditekan untuk memadatkan adonan.

Hanya saja, hati-hati untuk yang baru pertama kali menyantap jepa karena bisa langsung terasa memadat di perut begitu digelontor air minum.

Alternatif lain yang tidak kalah mengenyangkan adalah sokkol lameayu dari parutan ubi kayu, kelapa, dan kacang hijau, dibungkus daun pisang, disusun menyerupai piramida tambun, kemudian dikukus. Ada juga buras, semacam lontong-beras, dan gogos, terbuat dari ketan dan dipanggang.

Di Somba ikan terbang asap dihargai Rp 5.000 per piring, terdiri atas tujuh ekor. Menurut Darmiati, saat ini harga ikan terbang mentah dalam kisaran Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per 100 ekor.

Sementara harga penganan ”pelengkap” dalam setahun terakhir tak banyak berubah. Jepa dihargai Rp 1.500 per 3 lempeng, buras dan sokkol lameayu Rp 1.000 per biji, dan gogos yang termahal pun Rp 2.000 per biji.

Sekadar pengingat: biasanya warung baru buka di atas pukul 10.00. Sayangnya keberadaan warung makan di Somba memang sedemikian ”bersahaja”. Para pedagangnya terkesan pasrah dengan kondisi sekitar. Jika tidak rajin-rajin mengipas, bisa-bisa ikan asap di meja dirubung lalat duluan.

Waduh….

Ikan, Kelapa, dan Ubi Kayu

Hasil alam yang menentukan apa yang akan dimakan masyarakat setempat. Oleh karena itu, di daerah pesisir Sulawesi makanan andalan selalu menggunakan ikan sebagai bahan utama. Seolah-olah tidak lengkap rasanya bersantap tanpa kehadiran beragam olahan ikan di meja makan.

Wilayah Sulawesi, terutama di daerah pantai, juga kaya dengan kelapa. Tidak aneh pula jika makanan yang disajikan pun biasanya menggunakan kelapa, bisa kelapa parut atau santannya yang dipergunakan.

Selain ikan dan kelapa, ubi kayu yang gampang tumbuh di mana saja juga menjadi bahan utama makanan orang Mandar. Jepa dan sokkol lameayu adalah salah satu contoh (baca juga ”Ikan Terbang Mendarat di Somba”). Di luar itu orang Majene juga punya penganan khas lain. Pupu’ namanya. Bentuknya berupa lempengan segitiga, berbau harum, dan gurih rasanya.

Menurut Rahaniah, warga Majene, kota yang terbiasa menerima pesanan pembuatan pupu’, bahan utama adalah ikan cakalang dan kelapa. Cara membuatnya, ikan cakalang diasap dan kemudian dagingnya dilolosi. Setelah bersih dari kulit dan duri, daging cakalang ditumbuk halus. Setelah itu daging ikan cakalang ditambah dengan parutan kelapa. Sebaskom besar daging ikan cakalang biasanya butuh parutan 30 butir kelapa.

Untuk penyedap, tambahkan bumbu seperti garam, bawang, merica, cabai, dan lengkuas. Bahan itu kemudian dibentuk menjadi lempeng segitiga bersisi sekitar 5 cm. Langkah terakhir adalah menggorengnya dalam minyak kelapa. Rahaniah biasa menjual pupu’ dengan harga rata-rata Rp 700 per potong.

Pupu’ biasanya disantap sebagai lauk teman makan nasi. Pupu’ menjadi makanan wajib di hajatan besar di daerah Majene dan sekitarnya. Pupu’ bisa tahan sampai empat hari, jadi cukuplah jika hendak dijadikan oleh-oleh.

Spoiler for ikan terbang
[/IMG]


Spoiler for ikan terbang
[/IMG]


Spoiler for ikan terbang
[/IMG]



kadalxburik - 19/01/2010 03:33 PM
#29

Dendeng Batokok dari Muara Kalaban

Irisan daging tipis kering berlumur minyak kelapa menyebarkan bau harum yang merangsang nafsu makan. Dengan teman nasi, aneka sayur, dan sambal, lidah ini diajak menari mengikuti kelezatan dendeng batokok dari Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Memang ada sejumlah rumah makan di Sumatera Barat yang menyajikan menu dendeng batokok, tetapi Rumah Makan Dendeng Batokok milik Ny Ermis (66) di daerah Muara Kalaban, Kecamatan Silungkang, sekitar 5 kilometer sebelum pusat Kota Sawahlunto, ini merupakan salah satu yang tertua dan mempertahankan kekhasan rasa dendeng.

Seperti di rumah makan masakan Minang pada umumnya, dendeng batokok dihidangkan bersama aneka pilihan lauk, seperti gulai ikan, ayam goreng, dan telur.

Pengunjung yang memburu dendeng biasanya langsung meraih sepiring kecil daging yang sudah ditokok dan berlumur minyak kelapa dari Talawi, salah satu daerah di Sawahlunto yang terkenal sebagai penghasil kelapa.

”Aih, rasa dendeng di sini khas dan beda dibandingkan dengan dendeng batokok lain. Aroma dari minyak serta daging panggang yang kering itu bikin rasa enak,” kata Ingka, warga Kota Padang, yang menjadi salah satu pelanggan Rumah Makan Dendeng Batokok.

Kerenyahan dendeng semakin terasa karena daging yang sudah kering kembali dibakar di atas bara kayu atau tempurung kelapa. Saat disajikan, daging dalam keadaan hangat dan tetap renyah ketika digigit.

Warisan kakek

Kenikmatan menyantap dendeng hari ini berasal dari resep dan cara pengolahan yang diwariskan turun-temurun. Sejak kecil, Ermis kerap melihat kakeknya, Sailun, memasak dendeng batokok. Almarhum Sailun sempat mempunyai kedai nasi yang menjajakan dendeng batokok di depan Stasiun Muara Kalaban, sekitar tahun 1945.

”Saya baru berumur 3 tahun waktu Kakek jualan dendeng batokok. Jadi, resep dan cara memasak dari Kakek juga belum saya ingat. Baru ketika hendak menjajakan dendeng batokok, saya berguru cara memasak dendeng ke kakek dan mamak (paman) saya,” kenang Ermis, yang berhasil menghidupi empat anaknya dari dendeng.

Rumah Makan Dendeng Batokok yang ada saat ini merupakan pengembangan dari kedai yang berdiri sejak tahun 1965. Dari satu kedai ketika itu, sudah berkembang menjadi dua pada hari ini.

Menu dendeng batokok lahir dari kebutuhan menghidupi keluarga. Persaingan usaha kedai nasi membuat Ermis harus memikirkan menu khas yang belum dimiliki kedai lain.

”Ketika itu, tahun 1965, PRRI sedang meletus. Niat saya melanjutkan sekolah ke Padang tidak bisa karena hari sedang perang. Jadilah warung dendeng batokok ini yang saya tekuni,” papar Ermis.

Berawal dari kegagalan berangkat ke Padang itulah Ermis memilih menikah dengan Ridwan tahun 1959. Ridwan sebenarnya sudah membuka kedai nasi sebelum menikah dengan Ermis, tetapi belum menyediakan menu dendeng batokok. Ide menyajikan menu dendeng batokok berasal dari Ermis.

Ermis dan Ridwan lalu merintis kedai nasi dendeng batokok. Waktu itu, menu yang ditawarkan belum seberagam saat ini, tetapi dendeng batokok sudah menjadi idola dan dicari orang.

”Sampai sekarang ada saja orang yang datang dan langsung bertanya, ’Ada dendeng, Bu?’ Pelanggan mencari dendeng batokok karena memang itu menu yang khas,” papar Ermis yang mempekerjakan 10 karyawan.

Dipertahankan

Kendati zaman telah berganti, resep dendeng batokok masih tetap dipertahankan. Salah satunya, tetap mempertahankan daging tanpa lemak. Kenaikan harga juga tidak menjadikan Ermis mengurangi bumbu.

Permintaan yang tinggi membuat Ermis menghabiskan sedikitnya 20 kilogram daging sapi untuk dua hari. Saat liburan panjang, kebutuhan daging bisa mencapai 100 kilogram per minggu.

”Daripada bertaruh menghasilkan dendeng yang kurang lamak (enak), lebih baik saya tetap memakai bumbu seperti yang diwariskan kakek saya. Itu sudah pasti lamak,” ucap Ermis sambil mengacungkan jempol tangan.

Karena kualitas dipertahankan, Ermis sering mendapat pesanan dari pelanggan di luar kota. Sebuah rumah makan di Jakarta bahkan menjadi langganan dendeng batokok Ny Ermis, sekitar 600 potong sebulan. Ny Mufidah Jusuf Kalla juga pernah membawa 200 potong setelah mencicipi rasa dendeng batokok di rumah Wali Kota Sawahlunto Amran Nur.

Kawan-kawan yang hendak berangkat beribadah haji juga kerap menjadikan dendeng batokok sebagai lauk cadangan. Dengan pengeringan yang sempurna, Ermis menjamin dendengnya jauh dari cendawan sehingga bisa bertahan lama.

Bebas menikmati

Tiap orang punya cara menikmati dendeng batokok. Ada yang senang menyantap dendeng batokok saja, ada pula yang senang meramu dendeng dengan aneka sayur.

”Saya lebih suka menyantap dendeng dan nasi saja. Yang tidak boleh ketinggalan adalah minyak di dendeng itu yang membuat rasa lebih nikmat,” kata Nof.

Sedangkan Tata, warga Jakarta, menyukai daging yang disantap dengan sayur terung atau gulai nangka. ”Minyak kelapanya tidak boleh ketinggalan,” kata Tata, yang selalu menyempatkan diri mampir ke kedai Dendeng Batokok di Muara Kalaban itu.

Mereka yang senang rasa pedas bisa menambahkan sambal, bisa sambal dari cabai merah yang dihaluskan betul, atau sambal cabai hijau yang rasanya khas.

Sepotong dendeng batokok dijual relatif murah dibandingkan dengan rasanya, yakni Rp 7.000, dan kedai siap menerima pelanggan sejak pukul 07.00 hingga 22.00.

Aroma Asap dan Minyak Kelapa

Dendeng batokok terbuat dari daging sapi pilihan, biasanya bagian yang digunakan adalah bagian panggul sapi yang tidak berlemak. Lemak pada daging sapi memang dihindari untuk mendapatkan dendeng berkualitas baik.

Daging sapi yang sudah dibersihkan kemudian diiris tipis memanjang sesuai ukuran daging. Begitu tipisnya irisan daging, Ermis mengaku sempat merasa takut tangan akan ikut teriris ketika pertama kali belajar membuat dendeng. Usai dipotong tipis, daging direndam dalam campuran bumbu selama lima jam agar bumbu benar-benar merasuk.

Daging berbumbu itu kemudian diasapi. Beralaskan anyaman bambu yang renggang, potongan daging yang masih panjang-panjang itu disusun. Anyaman bambu kemudian digantung sekitar satu meter di atas tungku yang digunakan memasak aneka makanan di kedai, seperti nasi, sayur, sambal, atau air.

Asap dari proses memasak inilah yang kemudian mengasapi daging hingga daging kering benar. Waktu untuk sangai atau mengasapi ini juga tidak singkat, yakni sampai 10 jam.

”Kalau dikeringkan di bawah sinar matahari, hasilnya tidak begitu baik karena tingkat kekeringan daging belum maksimal. Beda dengan sangai. Karena itu, saya tetap memakai proses sangai kendati agak lama,” papar Ermis yang masih ikut turun ke dapur untuk memasak.

Daging yang sudah kering kemudian diangkat. Setelah itu, dimulailah proses menokok atau memipihkan daging. Daging yang sudah ditokok mempunyai bentuk sangat pipih, tetapi padat.

Setelah itu, daging diiris-iris sesuai ukuran untuk dijual. Daging yang sudah ditokok dibakar kembali. Kali ini, daging dimasukkan ke api dengan memakai alat pemanggang dari kawat. Proses pemanggangan terakhir ini tidak terlalu lama karena fungsinya lebih untuk menghangatkan daging kembali sebelum disantap.

Sebelum dihidangkan, dendeng batokok ini disiram dengan minyak kelapa yang dibuat juga oleh masyarakat Sawahlunto. Campuran minyak kelapa dan dendeng batokok menjadi kemewahan rasa yang terjangkau kantong. Lamaknyo....

Spoiler for dendeng batokok
[/IMG]


Spoiler for dendeng batokok
[/IMG]


Spoiler for dendeng batokok
[/IMG]


kadalxburik - 20/01/2010 07:05 PM
#30

Makannya Sate Ambal, Minumnya Legen

Setelah puas berkeliling menyambangi pantai-pantai di Gombong Selatan, pastilah perut ini menuntut hak untuk diisi. Dari sekian banyak makanan khas di sana mungkin sate ambal adalah salah satu alternatif yang bisa dicoba. Sate ambal ini mempunyai bumbu khas dan cita rasa tersendiri. Lezatnya hingga tusuk terakhir dan sulit untuk dilupakan.
Sebenarnya harga sate ini biasa saja. Daging kambing yang dipotong kecil-kecil kemudian dibakar seperti layaknya sate madura. Tapi kenikmatannya mungkin bisa di katakan agak aneh. Bumbunya terasa agak lain, seperti khas citarasa Jawa Tengah yang agak manis-manis sedikit. Dan terasa lebih enak bila memakannya dengan ketupat, yang dijual juga oleh penjual sate.

Apalagi bila kita sempat membeli emping melinjo yang merupakan salah satu jajanan khas daerah Gombong. Emping ini terbuat dari bahan buah pohon melinjo. Buah yang biasanya digunakan sebagai salah satu bahan sayur asem ini, dihancurkan sampai membentuk lingkaran. Kemudian emping tersebut dikeringkan dan digoreng untuk setelahnya dijual.

Menyantap emping sebagai makanan tambahan saat menikmati sate ambal menimbulkan sensasi tersendiri juga. Rasa manis yang timbul dari bumbu sate, teradu dengan rasa agak pahit yang keluar dari emping. Nah, bisa Anda bayangkan sendiri jadinya.

Haus pasti timbul setelah makan. Yang paling pas untuk situasi seperti itu adalah minuman dingin dan manis, mungkin sebuah tawaran menarik yang tak bisa ditolak. Bila Anda sekalian ingin tercebur dalam aroma Jawa Tengah, pilih saja minuman legen sebagai teman minum Anda.

Legen, yang berasal dari kata legi (bahasa Jawa Tengah, yang berarti manis) memang bukan isapan jempol rasa gulanya. Manis segar yang timbul dari dalamnya, mungkin karena minuman ini diambil dari sari pohon kelapa. Ternyata banyak penduduk daerah Gombong yang mencari nafkah dengan menderes kelapa.

Tiap pagi mereka panjati pohon kelapa, ditaruhnya penampung yang terbuat dari bambu, didiamkan selama satu hari. Sore hari mereka memanennya. Banyak juga penjual minuman ini disepanjang jalan menuju gua Jatijajar dan gua Petruk. Hawa panas yang timbul karena daerah panas perbukitan kapur terasa langsung terobati bila meminum legen ini dingin-dingin.

Keramik dan Tikar Pandan

Selain pantai, gua, makanan dan minuman nikmatnya. Ternyata daerah Kabupaten Kebumen ini juga menyimpan keindahan ukiran keramik dan anyaman daun pandan yang patut dijadikan souvenir.

Seperti desa Grenggeng, yang ada 3 km dari kota Karang Anyar. Desa itu menawarkan keindahan anyaman pandan seperti dompet, tas, kipas, topi, tempat tembakau, tatakan gelas, tikar dan lainya yang rasanya sayang bila dilewatkan. Aksesori yang ada rasanya patut bila dijadikan bahan oleh-oleh.

Atau kita lebih memilih membeli keramik terukir sebagai buah tangan. Para pecinta keramik bisa mencari tambahan koleksi barunya di pusat keramik di desa Jatisari. Desa tersebut terletak di 6 km timur kota Kebumen.

Spoiler for sate ambal
[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[/IMG]


Spoiler for sate ambal
[/IMG]



Page 1.5 of 13 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > TRAVELLERS > Domestik > +++ Kumpulan Tempat Wisata Kuliner Di Indonesia +++ (Update Trus)