Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > ::: Indonesian Godfather a.k.a "Big Boss" :::
Total Views: 201124
Page 38 of 41 | ‹ First  < 33 34 35 36 37 38 39 40 41 > 

koncowingking - 22/02/2012 10:16 AM
#741

Quote:
Original Posted By TentaraRakyat
Btw SATPOL PP (pamong praja) kemana gan???
Mereka kan preman resmi yg suka ngerusak dagangan org" kecil..

Pernah bentrok gak ya SATPOL PP sm ormas" preman itu???
Anggota Satpol PP sendiri ada brp ratus ribu org ya??? :armys

pernah kayaknya gan..

16 Februari 2005
Bentrokan antara petugas Tramtib DKI dan kelompok Hercules yang menjaga lahan kosong di Jalan H.R. Rasuna Said Blok 10-I Kaveling 5-7, Jakarta Selatan. Adik Hercules, Albert Nego Kaseh alias John Albert, mati tertembak senjata Kasi Operasi Satpol Pamong Praja DKI Jakarta, Chrisman Siregar.
paruhbaja - 22/02/2012 10:27 AM
#742

Quote:
Original Posted By rezco
Kalau "preman" lokal betawi ada Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing, penguasa Pasar Tanah Abang yang tahun 1996 nyingkirin Hercules dari sana. Bang Ucu Kambing sekarang sudah tua, usianya 65 tahun. Pasar Tanah Abang diwarisin ke 'preman' Betawi lainnya, Abraham Lunggana alias Haji Lulung. Lulung eks preman Tanah Abang yang sekarang jadi Wakil Ketua DPRD DKI dari PPP.


Si Ucu Kambing sekarang di Bogor gan, ngurus tanah...
Kalo si Haji Lulung dulu di cap pengkhianat sama warga betawi sendiri gara-gara berkolaborasi sama si Hercules Pas Bentrok gan...
Baca: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html
Slendra - 22/02/2012 11:07 AM
#743

klompok jhon kei spartan'a Indonesia
dmdm - 22/02/2012 11:50 AM
#744

wah..ceritanya bagus..di update terus ya gan
J.Distro - 22/02/2012 02:55 PM
#745

jadiin pilem mantabh niihh
fadhlierlanda - 22/02/2012 05:20 PM
#746

John Kei, Dari Kolong Jembatan Jadi "Penguasa" Jakarta


Tito Refra menunjukan lokasi penangkapan abangnya, John Refra Kei di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, Rabu (22/2/2012)

Rabu, 22 Februari 2012 | 14:56 WIB
AKARTA, KOMPAS.com — Nama John Refra Kei (42) sudah tidak asing lagi dalam catatan hitam aparat kepolisian. John Kei, demikian pria ini akrab disapa, kerap dikait-kaitkan dengan beberapa kasus pembunuhan hingga penganiayaan yang terjadi antar loyalisnya dengan kelompok lainnya.

John Kei juga pernah divonis delapan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada tanggal 11 Agustus 2008. Saat itu, John Kei bersama adiknya, Tito Refra, terlibat dalam penganiayaan dua pemuda di Maluku.

Sebelumnya, John pun sempat dikaitkan dengan pembunuhan Basri Sengaji, tokoh Maluku lainnya, di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan, pada tanggal 12 Oktober 2004. Kendati demikian, perjalanan hidup John Kei terbilang pelik.

Meski tumbuh di keluarga yang berlatar kepolisian, John lebih memilih pergi dari rumah dan hidup mandiri dengan merantau. Dia bahkan pernah hidup di bawah kolong jembatan dan nyaris kelaparan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Kabur dengan kapal barang, John Refra Kei adalah anak kelima dari enam bersaudara. Saudara John lainnya terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. John lahir di Tutrean, Pulau Kei, Maluku Tenggara, pada 10 September 1969. John lahir di sebuah pulau dengan kebudayaan masyarakat pesisir yang jumlahnya mencapai 200.000 jiwa.

Di pulau itulah, John tumbuh dan mengenyam pendidikan bersama kakak dan adiknya. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat disiplin. Ayahnya adalah seorang anggota Brimob sementara kakaknya sempat menjadi kapolsek di salah satu wilayah di Maluku.

Ketika beranjak dewasa, John yang dikenal adiknya, Tito, sebagai sosok yang sangat keras dan penyayang itu memang kerap terlibat pertikaian. "Tetapi, kalau di keluarga dia sangat penyayang dan humoris. Asal jangan diganggu, dia bisa jadi orang paling jahat," ungkap Tito dalam perbincangan dengan Kompas.com, Selasa (21/2/2012), di Rumah Sakit Polri Soekanto, Jakarta.

Tito menceritakan, ketika menginjak bangku sekolah menengah atas (SMA), tiba-tiba saja kakaknya itu memutuskan pergi dari rumah pada tahun 1986. "Itu pilihan hidup dia untuk merantau. Kami sekeluarga nggak keberatan karena dia laki-laki. Di adat kami, kalau laki-laki merantau sejauh-jauhnya tidak masalah. Dia bisa jaga diri," kata Tito.

Saat itu, dengan pakaian seadanya, John yang baru berusia belasan tahun nekat pergi keluar Maluku menuju Surabaya dengan menumpang kapal barang. Begitu tiba di sana, John sempat tinggal di rumah pamannya. "Namanya numpang kan disuruh macam-macam. Disuruh cuci, ngepel, ha-ha-ha. Dulu dia ngepel juga loh. Tapi akhirnya kakak saya nggak betah dan kabur lagi," ujar Tito.

John memilih hidup di jalanan tanpa tahu wilayah Surabaya. Kolong jembatan menjadi tempat favoritnya melepas lelah. "Tidur hanya beralaskan tanah saja di bawah jembatan itu," katanya.

Bertemu orang tua asuh

Ketika bergulat dengan dunia kelam di jalanan, John akhirnya bertemu dengan seorang pria bernama Benny yang akhirnya menganggap John layaknya anak. Menurut Tito, Om Benny, demikian ia kerap dipanggil, menjadi orang yang paling berjasa dalam hidup John Kei. Om Benny adalah pria asal Maluku yang sudah lama tinggal di Surabaya. Dengan Om Benny-lah, John akhirnya meninggalkan jalanan dan tinggal di rumah pria tersebut.

"Dia selalu bantu kakak saya. Sampai sekarang pun dia masih mau datang melihat kakak saya," ucap Tito.

Setelah itu, John pindah ke Jakarta dan menumpang di rumah saudara Om Benny. Tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat. John akhirnya mengubah namanya menjadi John Kei. "Nama asli kakak saya itu John Refra. Refra nama marga. Kei itu kampung halaman kami. Beliau memperkenalkan diri menjadi John Kei saat di Jakarta, mungkin supaya lebih mudah diingat saja," papar Tito.

Di Berlan, John Kei muda yang pintar bergaul mulai menancapkan pengaruhnya kepada pemuda-pemuda di sana. "Tanya sama orang Berlan, ada nggak yang nggak kenal John Kei? Pasti tidak ada," katanya.

Menurut Tito, kepintaran kakaknya yang paling menonjol adalah dalam menjaga hubungan. Hubungan pertemanan yang dibangun John Kei tidak pernah terputus dan selalu dibina. "Dari situlah dia bisa jadi seperti sekarang. Karena pintar jaga relasi," ucapnya.

Selain itu, hal lain yang dikagumi Tito dari sosok John Kei adalah sifatnya yang tidak serakah. "Kalau ada rezeki dia selalu bagi ke saudara-saudara. Kalau ada yang minta tolong pasti dibantu tanpa perhitungan. Dia tidak serakah. Kalau mau serakah, seluruh Jakarta sudah bisa dikuasai," katanya.

John Kei memiliki banyak loyalis yang jumlahnya mencapai belasan ribu anggota yang tergabung dalam Angkatan Muda Kei (Amkei) di Jakartaa. John juga adalah pendiri sekaligus ketua Amkei. John disebut-sebut memiliki kekayaan dari usahanya di bidang jasa pengamanan dan penagihan utang.

Namun, hal itu dibantah Tito yang menyebut kakaknya tidak memiliki perusahaan itu lagi. Perjalanan hidup John Kei saat ini kian dekat dengan kasus pidana lain. Pasalnya, John harus berurusan lagi dengan aparat kepolisian. Ia ditangkap dan ditahan aparat kepolisian pada Jumat (17/2/2012) malam di Hotel C'one, Pulomas, Jakarta Timur. Ia diduga sebagai otak pembunuhan bos PT Sanex Steel Indonesia (SSI), Tan Harry Tantono alias Ayung (45), pada 26 Januari 2011, di Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/22/14564984/Dari.Kolong.Jembatan.Jadi.Penguasa.Jakarta

sejak remaja, John Kei ternyat udah terbiasa dengan kerasnya hidup dan udah berani ngambil keputusan plus mempunyai kemampuan membina relasi.
andre.geim - 22/02/2012 05:29 PM
#747

Quote:
Original Posted By fadhlierlanda
John Kei, Dari Kolong Jembatan Jadi "Penguasa" Jakarta


cocok banget difilmkan ini....

tapi takutnya difilmkan malah jadi inspirasi anak muda yang ga bener

jadi baiknya gimana ya ?
mahasiswapetra - 22/02/2012 06:24 PM
#748

Quote:
Original Posted By andre.geim
cocok banget difilmkan ini....

tapi takutnya difilmkan malah jadi inspirasi anak muda yang ga bener

jadi baiknya gimana ya ?


masalahnya kalo d film in..bisa d teror tuh jajaran pemain,produser sutradara sampe tukang lampunya mungkin..
dulu waktu the godfather di buat,kan para kepala mafia pada ga setuju dan pada nolak,..meskipun sampai akhirnya banyak pemain yang bisa d cast dan masuk karena koneksi mafianya..
fadhlierlanda - 22/02/2012 08:24 PM
#749

Quote:
Original Posted By mahasiswapetra
masalahnya kalo d film in..bisa d teror tuh jajaran pemain,produser sutradara sampe tukang lampunya mungkin..
dulu waktu the godfather di buat,kan para kepala mafia pada ga setuju dan pada nolak,..meskipun sampai akhirnya banyak pemain yang bisa d cast dan masuk karena koneksi mafianya..


sebelum dibuatin filmnya, mungkin lebih baik dibikinin dulu biografinya, mungkin klo ada biografinya, lebih gampang untuk ngurusin ijin pembuatan filmnya
andre.geim - 22/02/2012 08:36 PM
#750

Quote:
Original Posted By mahasiswapetra
masalahnya kalo d film in..bisa d teror tuh jajaran pemain,produser sutradara sampe tukang lampunya mungkin..
dulu waktu the godfather di buat,kan para kepala mafia pada ga setuju dan pada nolak,..meskipun sampai akhirnya banyak pemain yang bisa d cast dan masuk karena koneksi mafianya..


seluruh syuting, cast, sampe director dan tukang pijet stuntmen nya orang Thailand dan syuting di Thailand....
Done
mahasiswapetra - 22/02/2012 09:04 PM
#751

Quote:
Original Posted By fadhlierlanda
sebelum dibuatin filmnya, mungkin lebih baik dibikinin dulu biografinya, mungkin klo ada biografinya, lebih gampang untuk ngurusin ijin pembuatan filmnya


d buat biografi nya???kalo bole gw buat statistiknya mengapa orang membeli biografi (tapi ingat ini bukan berdasar survey lapangan yang valid ya) :
50% Pengagum tokoh yang di tulis dalam biografi,contoh kek orang beli buku steve jobs karena mengagumi kisah sukses steve jobs dari pemuda ga berjuntrung menjadi seorang inovator paling sukses di abad 21
40% orang orang yang bisa menemukan motivasi,ya motiv nya mirip mirip..cuma kalo pengagum cuma mengagumi aja kalo orang yang menemukan motivasi lebih ke bagaimana mereka bisa memacu diri berdasar role modelnya
10% yaa dll nya lah..orang iseng nganggur..

naah..kalo orang orang pada termotivasi?katakanlah jadi mafioso?cosa nostra gimana??bahaya atuh..


Quote:
Original Posted By andre.geim
seluruh syuting, cast, sampe director dan tukang pijet stuntmen nya orang Thailand dan syuting di Thailand....
Done


jadinya pelm thailand dong..ntar malah usahanya bukan perjudian dan prostitusi tapi jasa operasi kelamin illegal
rezco - 22/02/2012 10:12 PM
#752

Quote:
Original Posted By paruhbaja
Si Ucu Kambing sekarang di Bogor gan, ngurus tanah...
Kalo si Haji Lulung dulu di cap pengkhianat sama warga betawi sendiri gara-gara berkolaborasi sama si Hercules Pas Bentrok gan...
Baca: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/15/INT/mbm.20101115.INT135105.id.html


Betul gan, Lulung ini utang budi sama Bang Ucu...
Hansip..Malam - 23/02/2012 12:34 AM
#753

kalo hercules di adu sama john kei gua megang hercules..secara dia kan anak zeus
VanELperbie - 23/02/2012 05:09 AM
#754

nice share gan..
jadi ngeri bacanya..
socceripoy - 23/02/2012 06:59 AM
#755

[quote=kompas.com]

KOMPAS.com - Pahit dan manis kehidupan tampaknya sudah dialami John Kei (42). Sejak usia belia, John memutuskan keluar dari tanah kelahirannya di Tutrean, Pulau Kei, Maluku menuju ke Surabaya pada tahun 1986. Setahun kemudian, John datang ke Ibu Kota dan mulai memperkenalkan diri sebagai John Kei kendati nama aslinya adalah John Refra.

John yang sifatnya cuek ini tak malu harus hidup di bawah kolong jembatan saat di Surabaya. Di saat itu, John mulai harus berjuang sendiri untuk hidup. Kehidupan keras anak jalanan ditempuhnya. Dengan watak yang juga keras, John pun mampu bertahan.

Pindah ke Jakarta, keahlian John dalam bergaul dan memberikan pengaruh juga akhirnya berdampak dengan lingkungan barunya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat. John kemudian tumbuh sebagai seorang "yang dituakan". Ia pula dipercaya sebagai Ketua Angkatan Muda Kei sejak tahun 1998 dan belum pernah digantikan hingga kini.

Sisi hitam

Berawal dari perjuangan seorang diri, John Kei kini justru memiliki belasan ribu pengikut setianya. Ia juga disebut-sebut memiliki bisnis jasa pengamanan, jasa penagihan, jasa konsultan hukum, dan pemilik sasana tinju Putra Kei yang memberikan kemakmuran tersendiri bagi John dan keluarganya. Tetapi, kehidupan John tidak lepas dari catatan kriminalnya yang cukup panjang.

Bahkan, John Kei sempat disandingkan mafia-mafia di Italia berikan gelar "Godfather Jakarta" karena berbisnis layaknya mafia namun jarang tersentuh aparat kepolisian. Dari rangkaian kasus yang dikaitkan dengan dirinya, John baru sekali divonis penjara.

Perseteruan pertama terjadi pada tanggal 2 Maret 2004. Saat itu, massa Basri Sangaji dan John Kei bentrok di diskotek Stadium, Taman Sari, Jakarta Barat. Sebelum peristiwa itu terjadi, John juga sempat diserang oleh massa Basri di diskotik Zona sehingga membuat tiga jari tangannya kaku dan tak bisa digerakkan hingga kini.

Pada tanggal 12 Oktober 2004, nama John Kei kembali dikaitkan dengan Basri Sangaji. Basri tewas ditembak di bagian dada saat berada di dalam kamar 301 Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. Di dalam kasus ini, John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat.

Namun, pada tanggal 11 Agutus 2008, John bersama adiknya, Tito Refra benar-benar harus hidup di balik bui. Keduanya divonis delapan bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya karena menganiaya dua pemuda yakni Charles Refra dan Remi Refra di Maluku. Jari kedua pemuda itu putus akibat penganiayaan tersebut.

John dan Tito akhirnya ditangkap oleh Densus 88 di Desa Ohoijang, Kota Tual, Maluku Tenggara. Saat itu, rencana persidangan akan digelar di Maluku, tetapi karena ada ancaman dari para pendukung John akhirnya sidang digelar di PN Surabaya. Loyalis-loyalis John Kei juga kembali membuat ulah.

Pada 4 April 2010, massa Kei bentrok di klub Blowfish dengan massa Thalib Makarim dari Ende, Flores. Dua buah anak buah John tewas. Perseteruan Flores Ende dengan loyalis John juga kembali terjadi saat persidangan kasus Blowfish digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 29 September 2010. Pada bentrok yang disertai dengan suara tembakan dan dikenal dengan peristiwa "Ampera Berdarah" itu, dua anggota kelompok John Kei tewas dan seorang sopir Kopaja juga turut menjadi korban. Saat itu, adiknya Tito mendapatkan luka tembak di dada nyaris masuk ke jantung. Namun, beruntung Tito berhasil selamat.

Terakhir, John Kei kembali harus berurusan dengan aparat dalam kasus pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung (45) di Swiss-belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat pada tanggal 26 Januari 2011 lalu. Ayung tewas bersimbah darah dengan 32 luka tusukan di pinggang, leher, dan perut. John pun diduga menjadi dalang dalam pembunuhan Ayung yang merupakan klien pengguna jasa penagihannya.

Saat ini, kepolisian sedang membuka lagi kasus-kasus lama di mana John Kei lolos dari jerat hukum. (Link berita: "Kasus Blowfish, Ampera, Basri Sangja Dibuka Kembali") (Sub judul) Sisi Putih (subjudul) Adik kandung John Kei, Tito Kei, membantah bahwa kasus-kasus yang disebutkan tadi terkait semua dengan John Kei.

"Terkadang ada adik-adik kita yang buat onar dan bilangnya anak buah John Kei. Padahal sama sekali tidak disuruh, karena kadang mereka kesal kakak saya diapain terus mereka tidak terima dan bertindak sendiri," ungkap Tito, Selasa (21/2/2012), dalam perbincangan dengan Kompas.com di Rumah Sakit Polri Soekanto, Jakarta.

Ia mengatakan meski secara fisik kakaknya terlihat seram dan galak, sebenarnya dia adalah sosok penyayang. "Coba saja yang kenal dekat dia. Pasti akan bilang dia orang paling baik karena dia sangat peduli dengan adik-adik atau orang-orang susah. Orangnya dermawan," tutur Tito.

Contoh kedermawanan John, imbuh Tito, ada dengan pembangunan sebuah gereja dan rumah pastor di kampung halaman mereka di Pulau Kei. John di sana menjadi penasihat pembangunan gereja, sementara Tito ketua pelaksananya.

"Kami mulai dari nol. Tukang dan bahan semua kami bawa dari Jawa. Rencananya April 2013 akan pemberkatan gereja," imbuhnya. Gereja itu dibangun selama empat tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Dana pembangunan didapat dari pemerintah daerah sebesar Rp 100 juta. "Tapi gereja itu biayanya miliaran akhirnya kakak saya yang bantu semua," paparnya.

Selain membangun gereja, John juga memutuskan membantu 20 rumah warga di Pulau Kei yang masih beratapkan jerami. Dia juga sempat membantu Umar Kei, keponakan John Kei, dengan memberikan lampu-lampu taman di halaman masjid. "Kalau ada yang bilang John Kei dan Umar Kei itu berseteru itu tidak benar. Perseteruan itu hal yang biasa, tapi kami bisa rujuk lagi," imbuhnya.

Dengan sifat John Kei yang peduli itu, Tito menjadikan sosok John sebagai idola di dalam keluarga. "Saya tidak mungkin ada di Jakarta ini kalau tanpa bantuan dia," katanya. Tito mengetahui bahwa banyak orang yang mencap kakaknya layaknya seorang gangster. "Itu terserah orang menilai kami bagaimana. Kami tidak bisa halangi," tandasnya.



[/quote]
ekspresi - 23/02/2012 08:23 AM
#756

Quote:
Original Posted By mahasiswapetra
d buat biografi nya???kalo bole gw buat statistiknya mengapa orang membeli biografi (tapi ingat ini bukan berdasar survey lapangan yang valid ya) :
50% Pengagum tokoh yang di tulis dalam biografi,contoh kek orang beli buku steve jobs karena mengagumi kisah sukses steve jobs dari pemuda ga berjuntrung menjadi seorang inovator paling sukses di abad 21
40% orang orang yang bisa menemukan motivasi,ya motiv nya mirip mirip..cuma kalo pengagum cuma mengagumi aja kalo orang yang menemukan motivasi lebih ke bagaimana mereka bisa memacu diri berdasar role modelnya
10% yaa dll nya lah..orang iseng nganggur..

naah..kalo orang orang pada termotivasi?katakanlah jadi mafioso?cosa nostra gimana??bahaya atuh..




jadinya pelm thailand dong..ntar malah usahanya bukan perjudian dan prostitusi tapi jasa operasi kelamin illegal


skrg buku2 para motivator emang lagi laris manis
emang ngeri si pet kalo para pembacanya malah nanti termotivasi jadi mafioso dsb...tapi apa gak lebih ngeri yg baca biografi para diktator dan termotivasi jadi diktator
r4fh - 23/02/2012 02:12 PM
#757

gwa kira 9 naga cuma cerita fiktif di felm gan
tak taunya beneran ada

Tommy Winata tuh yang sangar soalnya dia dekat dengan para perwira tentara dan kepolisian
mahasiswapetra - 23/02/2012 04:42 PM
#758

Quote:
Original Posted By ekspresi
skrg buku2 para motivator emang lagi laris manis
emang ngeri si pet kalo para pembacanya malah nanti termotivasi jadi mafioso dsb...tapi apa gak lebih ngeri yg baca biografi para diktator dan termotivasi jadi diktator


naah itu masalahnya..kalo termotivasi jadi mafioso?terus bermunculan raja kecil?bisa bisa indo kek amerika tahun 30-40 an..haha

kalo diktator mungkin itu dari 10000 orang cuma bisa 1 aja deh..nah kalo cosa nostra?mafia?semua orang bisa menggapai itu kan?lebih bahaya itu dong.wkakak


Quote:
Original Posted By r4fh
gwa kira 9 naga cuma cerita fiktif di felm gan
tak taunya beneran ada

Tommy Winata tuh yang sangar soalnya dia dekat dengan para perwira tentara dan kepolisian


ga usah tommy winata yang selain memiliki basis pendukung kuat dan keuangan kuat..banyaak banget mafia mafia,yang meskipun ga terlalu kuat tapi punya bekingan..
orang pengusaha pengusaha aja banyak yang punya bekingan kok..kalo g susah di indonesia..
GPTokai - 24/02/2012 11:03 AM
#759

Olo
semenjak beliau wafat, orang2 Medan baru berani manggil orang lain dengan sebutan ketua dan ekor dari Nomor polisi "KP" udah banyak betebaran, klo dulu mah kagak ada yg berani
klo gak salah KP singkatan dari Keluarga Panggabean
daniyeah - 24/02/2012 02:36 PM
#760

[CENTER][CENTER][CENTER][B]Japto Soerjosoemarno
Page 38 of 41 | ‹ First  < 33 34 35 36 37 38 39 40 41 > 
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > ::: Indonesian Godfather a.k.a "Big Boss" :::