Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > sejarah beberapa kesenian dan budaya jawa
Total Views: 84450
Page 23 of 27 | ‹ First  < 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 > 

prabuanom - 23/05/2010 07:09 PM
#441

Quote:
Original Posted By rora vee
kamsud nyaaaa..... ???

eikeh bukan prempuan dooong.....









kan rapi to hasil kerjanya mbak?
prabuanom - 23/05/2010 07:26 PM
#442
kesenian tiban trenggalek
Quote:






Tiban juga merupakan kesenian tradisional Trenggalek yang sampai kini masih tumbuh subur di pelosok pedesaan. Pada mulanya Tiban adalah tradisi anak-anak gembala yang berebut air untuk ternaknya saat kemarau panjang. Secara berkelompok, mereka beradu kekuatan dengan menggunakan senjata cambuk. Di tengah-tengah perkelahian mereka, hujan turun dengan derasnya. Oleh karena itu, tradisi tiban ini hingga sekarang dilakukan pada setiap musim kemarau sambil memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa akan turunnya hujan. Kesenian tradisional ini menggunakan cambuk yang terbuat dari lidi enau/aren yang dipintal. Permainan ini dipimpin oleh seorang "Landang" yang biasanya berkarakter bijak, menguasai peraturan permainan, dan paling senior. Iringan irama gamelan pelog dan gendang yang dinamis menggugah pemain untuk semakin bersemangat dan energik untuk saling mencambuk.


http://trenggalekyess.blogspot.com/2008/12/tiban.html
prabuanom - 23/05/2010 07:30 PM
#443
tiban
Quote:




Mendengar kata "Tiban", muncul dibenak kita bahwa nama tersebut memiliki makna yang sangat luas. Artinya bahwa tiban bukan hanya sekedar upacara ritual, namun juga memiliki arti pada bidang lainnya yang muncul di berbagai wilayah tertentu, yang dibalik kata tersebut memiliki maksud dan tujuan tertentu.Pada penulisan ini kami mencoba untuk menyampaikan sebagian dari informasi yang telah didapatkan selama proses belajar penulisan karya ilmiah di ISI Surakarta, salah satunya adalah kesenian Tiban . Sebenarnya kesenian ini telah berkembang di beberapa wilayah Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung Trenggalek dan beberapa daerah lain yang memiliki potensi budaya terhadap kesenian Tiban. Akan tetapi pada kesempatan kali ini akan diuraikan sedikit mengenai kesenian Tiban yang berada di wilayah Trenggalek ditinjau dari segi ritual dan segi pertunjukannya.
Pada dasarnya Tiban merupakan suatu bentuk upacara ritual yang digunakan untuk meminta hujan. Sampai saat ini kesenian tiban masih tetap eksis di beberapa wilayah Trenggalek, tertutama di wilayah pedesaan. Awal kemunculan tiban ini menandakan adanya suatu interaksi antara manusia dengan alam pikiran mistis. Maksudnya bahwa dibalik pelaksanaan kesenian ini mengandung makna filosofis tertentu terhadap kekuatan gaib sehingga memunculkan adanya kekuatan supranatural yang berasal dari luar diri manusia. Kekuatan tersebut muncul karena pengaruh dari beberapa sarana dan prasarana ritual yang dilantunkan melalui do'a atau mantra tertentu. Kesenian ini disebut sebagai ritual karena memiliki beberapa ciri seperti yang diungkapkan oleh R.M Soedarsono, secara garis besar ada enam ciri yaitu pemainnya dipilih orang yang dianggap suci atau membersihkan diri secara spiritual, pertunjuknya dipilih tempat yang dianggap sakral, waktu pertunjukan dipilih waktu yang dianggap sakral, menggunakan sesaji sebagai perlengkapan dan tujuan ritual lebih diutamakan dari pada sebagai tontonan. Adapun perlengkapan sesaji yang digunakan adalah sebagai berikut : nasi tumpeng beserta lauknya berupa ayam ingkung, mentimun,kuluban, mie goreng tahu, tempe goreng, telur rebus, beserta jajan pasar dan pisang, terdapat juga kemenyan yang dibakar sebagai sarana perantara antara manusia dan dunia gaib lainnya. Hal tersebut dilakukan masyarakat Trenggalek karena kehadiran nasi tupeng beserta isinya memiliki makna bahwa umat manusia di dunia ini akan selalu kembali kepada Yang Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Menurut masyarakat setempat pertunjukan tiban ini mayoritas diperankan oleh anak laki-laki yang umurnya tidak kurang dari 15 tahun. Ini dilakukan supaya dalam proses pelaksanaan persiapan ritual (tirakatan) tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terdapat pula semacam larangan atau aturan tertentu ketika pertunjukan ini berlangsung, diantaranya adalah :

1. permainan harus dilakukan satu lawan satu dengan umur yang sejajar, dantidak boleh lebih tua atau lebih muda.
2. daerah yang boleh dicambuk hanya bagian leher sampai batas tali pusar.
3. pembuatan properti yaitu cambuk (terbuat 10-15 dari lidi aren yang masih segar) hanya boleh dilakukan ketika pertunjukan akan berlangsung dan tempatnya sesuai dengan tempat ritual yang ditentukan serta menggunakan mantra-mantra tertentu juga.
4. pelaksanaan ritual dibatasi antara pukul 12.00-17.00 WIB

Dari segi pertunjukan kesenian ini memiliki unsur yang selayaknya sebuah pertunjukan/tontonan, salah satunya adalah gerak. Sebagai media ungkap seni pertunjukan, gerak berdampingan dengan suara merupakan cara yang digunakan untuk mengutarakan berbagai perasaan dan pikiran yang paling awal dikenali oleh manusia. Terkait dengan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya gerak yang muncul dalam pertunjukan tiban ini merupakan suatu bentuk ekspresif manusia melalui alam pikiran mistis sesuai dengan kepercayaan dan latar belakang budaya masyarakat setempat. Artinya bahwa setiap gerak-gerik yang muncul pada saat itu memiliki suatu keterkaitan yang sangat erat hubungannya akan suatu maksud dan tujuan tertentu.
Adapun unsur lain yang mendukung pertunjukan tiban ini adalah iringan (musik tari) baik itu eksternal atau pun internal, dan rias busana. Sesuai konsep dasar pertunjukan ritual yang telah diutarakan, iringan yang digunakan pun sangatlah sederhana yaitu sebagai media utamanya adalah kentongan dan kendang. Ini menunjukkan bahwa identitas budaya dari masyarakat tersebut masih kental dengan budaya tradisi setempat yang berangkat dari sitem kebudayaan agraris.
Masih banyak hal lain yang belum disampaikan dalam penulisan ini, oleh karena itu kami mengharapkan saran, kritik, ataupun komentar dari rekan-rekan sebagai evaluasi yang akan datang dalam penulisan. Maturnuwun.


http://narwita.blogspot.com/2010/04/tiban.html
http://www.trenggalek.com/index.php?option=com_content&view=article&id=117&Itemid=54&showall=1
prabuanom - 24/05/2010 12:02 PM
#444
larung sembonyo trenggalek
Quote:


Mitos masyarakat teluk Prigi tentang pembuatan kawasan teluk Prigi merupakan asal usul adanya upacara Larung sembonyo.

Masyarakat Prigi hampir seluruhnya beragama Islam, namun mereka merasa kurang tentram hidupnya bila meninggalkan tradisi dan upacara Sembonyo yang diyakini untuk menjaga keseimbangan dengan alam sekitarnya serta alam semesta. Upacara Sembonyo dilakukan setiap bulan Selo, hari senin Kliwon setiap tahun.

Pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani berkaitan dengan mata pencaharian sebagai nelayan, petani serta merupakan sarana unutuk menghormati leluhurnya yang berjasa dalam membuka kawasan teluk Prigi. Mereka tidak ingin melupakan jasa Tumenggung Yudo Negoro sebagai pahlawan sekaligus sebagai pendiri desa Tawang, Tasikmadu. Jika mereka melalaikan takut ada gangguan, sulit dalam penanngkapan ikan, panen pertanian gagal, timbul wabah, bencana alam dan sebagainya.

Upacara Larung sembionyo pada tahun 1985 dilaksanakan secara besar-besaran setelah sebelumnya terhenti akibat situasi politik. Peringatan saat itu dibantu Pemda kab. Trenggalek dalam rangka promosi wisata.Upacara Sembonyo dilaksanakan penuh syarat syarat, dan beraneka ragam larangan. Hal ini mempengaruhi watak masyarakat Prigi, khususnya masyarakat nelayan yang membutuhkan ketekunan, ketabahan dan keberanian menantang maut, yang mengintai setiap saat. Laut ladangnya, laut tempat rejekinya.

Dimana dilakukan upacara sembonyo?

Larung sembonyo dilaksanakan di Teluk Prigi, Desa Tasik madu atau Karanggongso Kec. Watulimo. Upacara adat atau upacara tradisional lainnya yang tempat pelaksananaannya didesa Tasik madu, Prigi, Margomulyo, Karanggandu, dan Karanggongsoitu disebut dengan berbagai istilah: sedekah laut; larung sembonyo; upacara adat sembonyo; mbucal sembonyo; bersih laut.

Alat alat perlengkapan.


Sembonyo sebenarnya nama mempelai tiruan berupa boneka kecil dari tepung beras ketan, dibentuk seperti layaknya sepasang mempelai yang sedang bersanding. Duduk diatas perahu lengkap dengan peralatan satang, yaitu alat unutuk menhjalankan dan mengemudikan perahu. Penggambaran mempelai tiruan yang bersanding diatas perahu ini dilengkapi pula dengan sepasang mempelai tiruan terbuat dari ares atau galih batang pisang, diberi hiasan bunga kenangadan melati, lecari. Karena sembonyo mengambarkan mempelai, maka perlengkapan upacara adat sembonyo juga dilengkapi dengan asahan atau sesaji serta perlengkapan lain seperti halnya upacara perkawinan tradisional jawa.
Tiruan mempelai yang disebut Sembonyo itu berkaitan dengan mitos setempat mengenai terjadinya tradisi larung sembonyo. Tradisi ini bermula dari suatu peristiwa yang dianggap pernah terjadi , yaitu perkawinan antar Raden Nganten Gambar Inten, dengan Raden Tumenggung Kadipaten Andong Biru. Raden Nganten Gambar Inten juga terkenal dengan nama raden Nganten Tengahan.


Perkawinan itu dilaksanakan sebagai syarat keberhasilan Raden Tumenggung Andong Biru Atau Raden Tumenggung Yudo negoro membuka hutan wilayah teluk Prigi dan sekitarnya untuk dijadikan daerah pedesaan, yang sebelumnya dikenal sebagai hutan yang sangat angker dan tidak dapat dihuni manusia.

Pelaksanaan upacara adat larung sembonyo menggambarkan kesibukan keluarga yang punya hajat mengawinkan dan mengadakan pesta untuk memeriahkan perkawinan itu.

Pelarungan sembonyo dan berbagai asahan dan sesaji didorong oleh niat, harapan dan permohonan untuk mendapatkan keselamatan dan memperoleh hasil dari laut dan daratan yang melimpah.
Perkawinan itu dilaksanakan pada hari senin kliwon , bulan selo, dimeriahkan dedngan kesenian Tayub selama 40 hari 40 malam. Bertolak dari dongeng itulah upacara adat Larung Sembonyo dilaksanakan dari tahun ke tahun oleh masyarakat teluk Prigi sampai sekarang.

Secara garis besar tahap tahap upacara adat Larung Sembonyo dibagi menjadi dua tahap persiapan yang meliputi: malam widodaren membuat sembonyo, kembar mayang, menyiapkan encek /sesaji serta menyiapkan kesenian jaranan untuk penggiring dan tahap pelaksanaan.


Sedangkan tahap pelaksanaan upacara Larung sembonyo: arak-arakan diberangkatkan dari kantor kecamatan watulimo menuju tempat pelelangan ikan yang telah dihiasi layaknya pesta perkawinan. Sembonyo diusung yang diriingi para petugas upacara dalam formasi tertentu.


Setelah dilakukan suguh, maka sembonyo ditaruh diatas gethek kemudian dilarung kelaut lepas.


http://www.trenggalek.com/index.php?option=com_content&view=article&id=117&Itemid=54&showall=1
prabuanom - 24/05/2010 12:06 PM
#445
larung sembonyo
Quote:

KETIKA sebuah rezeki tertumpah, maka saat itu pula rasa syukur seharusnya dipanjatkan. Keyakinan akan hal itulah yang membuat para nelayan di Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (Jatim), melestarikan upacara tradisional Larung Sembonyo.

Mitos masyarakat teluk Prigi tentang pembuatan kawasan teluk Prigi merupakan asal usul adanya upacara Larung sembonyo.


Pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani berkaitan dengan mata pencaharian sebagai nelayan, petani serta merupakan sarana untuk menghormati leluhurnya yang berjasa dalam membuka kawasan teluk Prigi. Mereka tidak ingin melupakan jasa Tumenggung Yudo Negoro sebagai pahlawan sekaligus sebagai pendiri desa Tawang, Tasikmadu. Jika mereka melalaikan takut ada gangguan, sulit dalam penanngkapan ikan, panen pertanian gagal, timbul wabah, bencana alam dan sebagainya.

Upacara Larung sembionyo pada tahun 1985 dilaksanakan secara besar-besaran setelah sebelumnya terhenti akibat situasi politik. Peringatan saat itu dibantu Pemda kab. Trenggalek dalam rangka promosi wisata.Upacara Sembonyo dilaksanakan penuh syarat syarat, dan beraneka ragam larangan. Hal ini mempengaruhi watak masyarakat Prigi, khususnya masyarakat nelayan yang membutuhkan ketekunan, ketabahan dan keberanian menantang maut, yang mengintai setiap saat. Laut ladangnya, laut tempat rejekinya.

Sembonyo sebenarnya nama mempelai tiruan berupa boneka kecil dari tepung beras ketan, dibentuk seperti layaknya sepasang mempelai yang sedang bersanding. Duduk diatas perahu lengkap dengan peralatan satang, yaitu alat unutuk menhjalankan dan mengemudikan perahu. Penggambaran mempelai tiruan yang bersanding diatas perahu ini dilengkapi pula dengan sepasang mempelai tiruan terbuat dari ares atau galih batang pisang, diberi hiasan bunga kenangadan melati, lecari. Karena sembonyo mengambarkan mempelai, maka perlengkapan upacara adat sembonyo juga dilengkapi dengan asahan atau sesaji serta perlengkapan lain seperti halnya upacara perkimpoian tradisional jawa.

Tiruan mempelai yang disebut Sembonyo itu berkaitan dengan mitos setempat mengenai terjadinya tradisi larung sembonyo. Tradisi ini bermula dari suatu peristiwa yang dianggap pernah terjadi , yaitu perkimpoian antar Raden Nganten Gambar Inten, dengan Raden Tumenggung Kadipaten Andong Biru. Raden Nganten Gambar Inten juga terkenal dengan nama raden Nganten Tengahan.
Larung Sembonyo ini mendapat inspirasi dari legenda rakyat pantai Prigi tentang Tumenggung Yudhonegoro. Masyarakat Prigi meyakini, dia memiliki nama asli Raden Kromodipo, seorang kepala prajurit dari Kerajaan Mataram.

Alkisah, kata legenda itu, Yudhonegoro mendapat perintah dari Adipati Andong Biru. Andong Biru adalah ningrat Kerajaan Mataram yang mendapat mandat raja sebagai penguasa wilayah hutan di pesisir Jawa, mulai dari Pacitan hingga Banyuwangi.

Mataram yang saat itu berambisi memperluas wilayah, gencar membuka kawasan-kawasan baru. Lalu Andong Biru memerintah Yudhonegoro agar membuka kawasan Prigi yang kala itu masih berupa hutan belantara, menjadi daerah berpenduduk.

Andong Biru mengiming-imingi Yudhonegoro, kelak jika berhasil membuka kawasan Prigi, dia berhak mempersunting putri kesayangannya, Gambar Inten.

Yudhonegoro tak mengecewakan. Prigi disulapnya menjadi kawasan berpenghuni. Kekuasaan Mataram melebar. Andong Biru pun memenuhi kaulnya terhadap Yudhonegoro.

Sebagai ungkapan kegembiraan, Andong Biru menggelar pesta besar-besaran pernikahan Yudhonegoro-Gambar Inten. Pesta berlangsung Senin Kliwon, bulan Selo pada penanggalan Jawa. Di tengah kebahagiaannya memperistri putri cantik Gambar Inten, Yudhonegoro tak lupa diri.

Ia bersyukur. Berkat sokongan sang penguasa laut, Prigi bukan lagi hutan belantara, Gambar Inten juga jadi miliknya. Karena itulah, Yudhonegoro melakukan sedekah laut dengan cara melarung sembonyo ke laut pantai Prigi.

Tradisi inilah yang dipertahankan secara turun oleh masyarakat Prigi. Hanya, dalam perkembangannya, Larung Sembonyo tidak lagi jatuh pada Senin Kliwon, tetapi Ahad (Minggu) Kliwon.

Masyarakat Prigi mempertahankan Kliwon (hari pasaran sesuai dengan penanggalan Jawa). Sebuah alasan praktis karena Minggu hari libur sehingga pelancong memiliki waktu luang untuk mengikuti Larung Sembonyo.

Upacara berlangsung setiap tahun yang jatuh pada Ahad Kliwon (Minggu Kliwon) bulan Selo (Dzulqa'dah) sesuai dengan penanggalan Jawa.

http://forum.detik.com/showthread.php?t=8223
prabuanom - 24/05/2010 12:07 PM
#446
larung sembonyo pantai popoh tulungagung
Quote:
arungkan Kepala Kambing Tanda Pengorbanan untuk Keselamatan
Memasuki bulan Suro atau Muharam (bulan islam) tradisi unik dilakukan nelayan pantai Popoh, kecamatan Besuki, Tulungagung. mereka melarung sesaji berupa dua kepala kambing untuk dipersembahkan ’penguasa’ laut selatan. Larung tersebut berharap hasil tangkapan ikan melimpah. berikut laporannya

Destyan Sujarwoko, Ratu.
—–

Kesibukan menyambut suroan di Pantai Popoh sudah terlihat sejak dua hari lalu. Ratusan nelayan dibantu kaum wanita menyiapkan berbagai keperluan untuk menggelar upacara larung sesaji. Mereka menyebut Larung Sembonyo.

Ada yang menyiapkan bahan makanan untuk sesaji, tumpeng maupun rakit untuk melarung ke laut. Sebagian lain menghias kapalnya untuk dijadikan pengiring saat melarung ke lepas pantai selatan. Persiapan selama sehari semalam itu kelar dilakukan pada pagi kemarin atau sekitar 5 jam sebelum upacara adat resmi dimulai.Sebelum larung dilakukan, digelar dulu ritual doa. Sesepuh nelayan memimpin doa.

Upacara larung kali ini diikuti banyak pengunjung. Mereka tidak hanya datang dari Popoh dan Tulungagung saja. Tapi juga dari Trenggalek, Blitar dan Kediri yang kebetulan kemarin liburan ke pantai. Sebagian pengunjung itu tidak hanya duduk di tepi pantai, tetapi ikut ke tengah pantai. Dengan menumpang kapal mengiringi sesaji dilarung ke laut. “Ritual Sembonyo selalu kami lakukan tiap bulan Suro untuk nylameti pantai Popoh dan sekitarnya. Selain agar dihindarkan dari bencana, tujuan upacara adat ini supaya masyarakat nelayan tetap diberi limpahan rezeki (tangkapan) ikan yang melimpah,” ujar Salim Jogo, 76, juru kunci pantai Popoh menjelaskan.

Karena itulah dalam sajen yang dilarung ke laut itu, selain berupa kepala kambing yang menyimbulkan pengorbanan untuk keselamatan, juga diisi oleh aneka makanan lain. Seperti tumpeng, palawija, beras, jajanan dan buah-buahan. Semua ditaruh dalam rakit buatan berukuran 2×3 meter yang telah dihias dengan kertas samak dan aneka daun-daunan. Hampir dua bulan ini nelayan pantai Popoh, Sidem dan Nggebro kesulitan mencari ikan. Salah satu penyebabnya memang karena musim penghujan. Tapi dengan larung sembonyo ini kami semua para nelayan berharap paceklik segera berakhir, imbuh kakek 24 cucu dan 4 cicit ini sambil mengawasi 3 biji kemenyan yang dibakarnya di pedupaan.

Sementara warga dan pengunjung terus menyaksikan prosesi larung, mbah Salim Jogo lalu melanjutkan ritual persiapan larung hingga upacara resmi dimulai oleh panitia. Tidak banyak pejabat yang datang dalam upacara larung Sembonyo kali ini. Selain diisi tokoh masyarakat setempat, hanya perwakilan Muspika dan dinas pariwisata yang tampak di tengah peserta upacara. “tidak masalah. Yang penting hajat kami terkabul,” ujar mbah Salim acuh.

Upacara adat larung sembonyo tersebyut menurut keterangan mbah salim telah dilakukan masyarakat pantai Popoh, Sidem dan Gebro sejak ratusan tahun silam. Ya sejak mbahnya mbah saya sudah ada, ungkapnya.

Dia mengaku banyak tahu karena posisi sebagai juru kunci dia peroleh secara turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kesejahteraan dan keselamatan masyarakat pantai Popoh dan sekitarnya sangat bergantung pada sikap ramah mahkluk halus yang menjadi penunggu di laut selatan Popoh. Penguasa alam gaib itu diyakini adalah Ratu Mas. Mungkin identik dengan Nyi Roro Kidul dalam adat kepercayaan masyarakat pantai Selatan Parangtritis, Jogjakarta.

Tuhan menciptakan alam ini menjadi dua. yakni alam nyata dan alam gaib. Upacara larung ini hanya sebagai media untuk mencoba berkomunikasi dengan masyarakat alam gaib agar tidak mengganggu kami, ujar Nyangin, panitia yang juga nelayan Popoh.
Terlepas dari adat yang telah diyakini secara turun-temurun, peristiwa larung selalu mendapat dukungan dari dinas pariwisata dan kebudayaan Tulungagung khususnya pengelola wisata pantai Popoh untuk menarik jumlah pengunjung

Diposkan oleh siratjudin ahmad,S.Pd di 03:41

http://tumbronx.blogspot.com/2009/05/tradisi-larung-sembonyo-di-pantai-popoh.html
prabuanom - 24/05/2010 12:09 PM
#447

Quote:
LABUH SEMBONYO

Tradisi labuh laut larung sembonyo di Pantai Popoh di Desa Besole, Kecamatan Besuki, digelar kemarin. Meski sederhana namun para nelayan bersemangat saat melarung sesajen ke laut bebas di selatan Pulau Jawa tersebut.

Labuh laut dimulai sekitar pukul 09.00. Sebelum melarung sesaji ke laut bebas, terlebih dulu dilakukan genduri. Yaitu memohon berkah dari Yang Maha Kuasa. Pembacaan doa dengan bahasa Jawa atau biasa disebut ujub, dipimpin sesepuh Desa Besole Wagiyo

Usai berdoa, warga sekitar yang mayoritas nelayan itu lalu berebut sesaji yang diperuntukkan untuk makan bersama. Karena kurang cepat, tak sedikit warga yang tidak kebagian nasi berikut lauk pauknya.

Tradisi rebutan dalam larung sembonyo tidak hanya di darat. Tapi juga di laut. Bahkan hingga dua kali rebutan yang dilakukan para nelayan saat di laut. Pertama, saat sesaji berupa kepala kambing, kulit dan kaki dibuang ke laut. Kedua, saat sepuluh itik yang dilempar hidup-hidup oleh para nelayan.

“Semua sesaji yang dilarung ke laut itu persembahan dari para nelayan dari ketiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Besuki, Campurdarat dan Bandung,” jelas Wagiyo.

Larung sembonyo yang diikuti puluhan perahu nelayan berakhir sekitar pukul 11.30. Selanjutnya, warga menggelar pagelaran kesenian jaranan. Pada malam harinya dilanjutkan tayuban. Kedua kesenian tradisional itu digelar di tempat pelelangan ikan (TPI).

” Saat melakukan serangkaian ritual labuh laut, para nelayan tidak diperkenankan untuk melaut selama 24 jam. Ini diawali dari malam labuh laut hingga siang harinya,”


http://budparpora.wordpress.com/2009/09/28/sejarah-labuh-sembonyo/
CintaRabbani - 24/05/2010 12:51 PM
#448

Quote:
Original Posted By prabuanom
LABUH SEMBONYO

Tradisi labuh laut larung sembonyo di Pantai Popoh di Desa Besole, Kecamatan Besuki, digelar kemarin. Meski sederhana namun para nelayan bersemangat saat melarung sesajen ke laut bebas di selatan Pulau Jawa tersebut.

Labuh laut dimulai sekitar pukul 09.00. Sebelum melarung sesaji ke laut bebas, terlebih dulu dilakukan genduri. Yaitu memohon berkah dari Yang Maha Kuasa. Pembacaan doa dengan bahasa Jawa atau biasa disebut ujub, dipimpin sesepuh Desa Besole Wagiyo

Usai berdoa, warga sekitar yang mayoritas nelayan itu lalu berebut sesaji yang diperuntukkan untuk makan bersama. Karena kurang cepat, tak sedikit warga yang tidak kebagian nasi berikut lauk pauknya.

Tradisi rebutan dalam larung sembonyo tidak hanya di darat. Tapi juga di laut. Bahkan hingga dua kali rebutan yang dilakukan para nelayan saat di laut. Pertama, saat sesaji berupa kepala kambing, kulit dan kaki dibuang ke laut. Kedua, saat sepuluh itik yang dilempar hidup-hidup oleh para nelayan.

“Semua sesaji yang dilarung ke laut itu persembahan dari para nelayan dari ketiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Besuki, Campurdarat dan Bandung,” jelas Wagiyo.

Larung sembonyo yang diikuti puluhan perahu nelayan berakhir sekitar pukul 11.30. Selanjutnya, warga menggelar pagelaran kesenian jaranan. Pada malam harinya dilanjutkan tayuban. Kedua kesenian tradisional itu digelar di tempat pelelangan ikan (TPI).

” Saat melakukan serangkaian ritual labuh laut, para nelayan tidak diperkenankan untuk melaut selama 24 jam. Ini diawali dari malam labuh laut hingga siang harinya,”

http://budparpora.wordpress.com/2009/09/28/sejarah-labuh-sembonyo/


memang benar-benar pemerhati budaya yang ulung...
dan pelestari ajaran para leluhur...


prabuanom - 24/05/2010 03:00 PM
#449

Quote:
Original Posted By CintaRabbani
memang benar-benar pemerhati budaya yang ulung...
dan pelestari ajaran para leluhur...




tinggal googling aja om
ButoGalak - 24/05/2010 03:31 PM
#450

Quote:
Original Posted By prabuanom
tinggal googling aja om


mbah kyai gugel dari tanah amerika memang top merkotop dan sakti mandraguna
prabuanom - 24/05/2010 10:26 PM
#451

Quote:
Original Posted By ButoGalak
mbah kyai gugel dari tanah amerika memang top merkotop dan sakti mandraguna


benar gan :thumbup

padahal yg ngisi juga orang indonesia sendiri, kalo ga diisi mana negrti mbah guuglenya ahhaahah
ButoGalak - 24/05/2010 10:42 PM
#452

Quote:
Original Posted By prabuanom
benar gan :thumbup

padahal yg ngisi juga orang indonesia sendiri, kalo ga diisi mana negrti mbah guuglenya ahhaahah


pengalaman ane pernah nulis artikel di blog ane sendiri pake boso londo inggris dan sambutannya lumayan, mereka banyak yg tertarik, tapi ya itu energinya jadi dobel
prabuanom - 24/05/2010 10:45 PM
#453

Quote:
Original Posted By ButoGalak
pengalaman ane pernah nulis artikel di blog ane sendiri pake boso londo inggris dan sambutannya lumayan, mereka banyak yg tertarik, tapi ya itu energinya jadi dobel


hehehehehehe kalo menghasilkan kenapa gak nyewa penerjemah aja mas?
kan bisa ditutupi pake adsense?
ButoGalak - 24/05/2010 10:53 PM
#454

Quote:
Original Posted By prabuanom
hehehehehehe kalo menghasilkan kenapa gak nyewa penerjemah aja mas?
kan bisa ditutupi pake adsense?


haiyah sekarang lagi males mas......sepi pengunjung sekarang lagipula tema blognya ndak jelas, kadang diisi budaya, pilem kartun ama sedikit BB17 kalo sepi visitor ya yg ngeklik adsense siapa? hihi
prabuanom - 24/05/2010 11:04 PM
#455

Quote:
Original Posted By ButoGalak
haiyah sekarang lagi males mas......sepi pengunjung sekarang lagipula tema blognya ndak jelas, kadang diisi budaya, pilem kartun ama sedikit BB17 kalo sepi visitor ya yg ngeklik adsense siapa? hihi


hehehehhee ya dirubah jd bb17 aja mbah
pasti rame pada ngeklik
ButoGalak - 24/05/2010 11:26 PM
#456

Quote:
Original Posted By prabuanom
hehehehhee ya dirubah jd bb17 aja mbah
pasti rame pada ngeklik


pinginnya si gitu mbah tapi ntar jadi kurang barokah blognya....halah
prabuanom - 24/05/2010 11:44 PM
#457

Quote:
Original Posted By ButoGalak
pinginnya si gitu mbah tapi ntar jadi kurang barokah blognya....halah


hahahahahaa
ada barokah masuk blog
prabuanom - 25/05/2010 11:35 AM
#458
baru klinting rawa pening
Quote:



Bagi sebagian masyarakat Jawa Tengah keberadaan legenda Baru Klinting dengan Telaga Rawa Pening, tentunya sudah tak asing lagi. Legenda tersebut konon merupakan perwujudan ular besar dengan genta yang menggantung di lehernya. Kabarnya, ia muncul memberi keberuntungan saat nelayan tak mendapat ikan.

Walau tak tak ada yang tahu pasti, sejak kapan legenda itu muncul dan mengapa kawasan tersebut di sebut Rawa pening, tetap saja masyarakat setempat mengaitkan telaga seluas 2.670 Ha itu dengan kemunculan sesosok ular besar yang dianggap keramat. Masih menurut mereka, di saat-saat tertentu ular tersebut bergerak mengitari telaga untuk memberi berkah bagi orang-orang yang membutuhkan. Sampai-sampai untuk menghormati legenda tersebut, sebuah ornamen dari beton berbentuk ular besar pun di pasang di pintu masuk telaga ini.

Rawa Pening, demikian nama objek wisata itu. Rawa Pening merupakan lokasi wisata populer di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa, berjarak 45 Km dari Semarang. Luasnya mencakup 4 wilayah kecamatan; Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Telaga ini sendiri berada di lereng Gn. Merbabu, Gn. Telomoyo dan Gn. Ungaran dengan ketinggian 461 mdpl.



Saat itu, di sebuah kesempatan kami memulainya dari Salatiga, hanya memakan waktu 10 menit berkendara. Rupanya, jarak Salatiga – Rawa Pening cuma 5 Km. Untuk sampai kesana kita akan melalui jalan yang sedikit menanjak dan berkelok-kelok. Beberapa rumah dan kebun tampak menghiasi sisi kanan dan kiri jalan. Selain itu, tak ketinggalan hawa dingin yang langsung menyergap, pertanda kita sedang berada di ketinggian.

Hari tampak mendung, saat kami tiba di objek wisata ini, pukul 8.30 pagi. Keinginan menjelajahi telaga yang luasnya mencakup 4 kecamatan ini pun sempat urung dilaksanakan. Pasalnya, tak lama berselang hujan deras turun. Jika sudah begini, jarak pandang akan terbatas akibat kabut dan penyewaan perahu tampak sepi.

Rencananya, kunjungan singkat ini untuk menikmati pesona telaga yang dianggap sakral oleh penduduk setempat, sembari melihat dari dekat penghuni kawasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut ‘ikan wader’. Konon telur ikan ini berkhasiat sebagai obat perekat bagi tulang yang patah.

Sebuah Legenda

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumber air telaga berasal dari luberan air bekas cabutan lidi Baru Klinting.

Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar.

Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular.

Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita tua yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula.
Akhirnya, tak dinyana tak di duga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin di tempat itu. Kalaupun ada, pasti akan di usir atau dibuat tidak nyaman dengan berbagai cara.

Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyellinap masuk. Namun apa ayal, ia pun harus rela di usir paksa karena ketahuan.

Saat tengah di seret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Sama seperti mereka. Di perlakukan begitu ia tak begitu ambil pusing. Namun amarah mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. “dasar anak setan, anak buruk rupa”, begitu maki mereka.

Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya.

Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lagi-lagi, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si bocah. “Jangan-jangan akan ada apa-apa?” pikir mereka.

Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetuan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga.

Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang.

Namun penyihir jahat, tetap tak terima, hingga di suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya.

Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul 00.00 WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya di kenal sebagai Baru Klinting.

Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling di tunggu-tunggu.





http://jackoagun.multiply.com/journal/item/11/Mengintip_Legenda_Baru_Klinting_di_Rawa_Pening
prabuanom - 25/05/2010 11:38 AM
#459
ki ageng mangir dan baru klinting
Quote:
Tidak aneh kalau setiap dusun di Jawa terdapat makam tua yang sering dianggap kuburan nenek moyang (cikal bakal) warga setempat. Kadang makam tersebut malah cuma sekadar tempat menyimpan pusaka atau barang peninggalan cikal bakal dusun bersangkutan. Sampai saat ini di Dusun Mangir terdapat berbagai peninggalan dari zaman kejayaan Keraton Mangir. Peninggalan Ki Ageng Mangir tersebut sampai sekarang masih terpelihara baik.

PENINGGALAN yang masih tampak terpelihara di Dusun Mangir ini antara lain berupa batu persegi dengan ukuran 1x1 meter yang dipercaya sebagai dhampar/singgasana Ki Ageng Mangir, arca lembu (kendaraan Dewa Siwa), beberapa fragmen arca, serta lingga dan yoni yang sudah tidak in situ lagi. Selain peninggalan tersebut, ada beberapa peninggalan lain yang cukup tersebar di Dusun Mangir, yakni berupa onggokan batu bata dalam ukuran lebih besar dari rata-rata ukuran batu bata di zaman sekarang, onggokan batu bata yang hampir tersebar di seluruh Dusun Mangir ini diperkirakan merupakan sisa-sisa bangunan keraton Ki Ageng Mangir di masa lalu.

Dusun Mangir sekarang terbagi atas tiga wilayah, yakni Dusun Mangir Lor, Mangir Tengah dan Mangir Kidul. Lokasi ini terletak kira-kira 20-an kilometer dari Jogyakarta. Secara administratif dusun ini masuk dalam wilayah Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY. Dalam buku-buku sejarah tidak pernah disebutkan dengan jelas siapakah tokoh Ki Ageng Mangir. Buku sejarah versi De Graaf yang sebagian besar mendasarkan sumbernya pada Babad Tanah Jawi dan berita-berita Kumpeni-VOC pun tidak pernah membicarakan tentang Mangir. Nama Mangir justru terkenal di dalam cerita tutur dan buku Babat Mangir yang pernah diterjemahkan oleh Balai Bahasa.

Disebut dalam Babad Mangir bahwa paling tidak ada tiga tokoh yang menggunakan nama Mangir. Trah Mangir ini dalam babad diceritakan berasal dari Brawijaya terakhir (V) yang berputra Radyan Alembumisani. Alembumisani ini melarikan diri dari Majapahit ke arah barat bersama istrinya. Kemudian dia mempunyai seorang putra yang diberi nama Radyan Wanabaya. Radyan Alembumisani meninggal di daerah Gunungkidul. Radyan Wanabaya inilah yang kemudian tinggal di Mangir sehingga ia terkenal dengan nama Ki Ageng Mangir Wanabaya (Mangir I).

Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Konon dari rahim Rara Jalegong ini lahir seorang anak yang berupa ular/naga (demikian disebut-sebut dalam babad dan cerita tutur). Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.

Jadi, Ki Bagus Baruklinting adalah saudara tiri dari Mangir II dan paman dari Mangir III. Mangir III ini pula yang kelak hidupnya tidak pernah berpisah dengan tombak Kiai Baruklinting. Demikian, Babad Mangir menceritakan. Nama baru sendiri dalam dunia tosan aji (senjata logam) menjadi nama salah satu dhapur.

Dalam cerita rakyat dipercaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah naga yang berubah wujud menjadi tombak pusaka (Kiai Baruklinting). Akan tetapi apabila dinalar tentulah hal ini menjadi muskil. Perkawinan Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tentu saja melahirkan seorang bayi manusia pula (bukan ular naga). Memang, cerita dalam babad/cerita tutur sering berisi hal-hal yang tidak wantah (terus terang), banyak dibumbui cerita-cerita yang berbau mitos, sandi, sanepa ‘perumpamaan/teka-teki’, dan legenda sehingga cukup sulit diterima nalar begitu saja.

Misteri Ki Bagus Baruklinting sampai sekarang ini masih kontroversial. Sebagian orang meyakini bahwa dia adalah benar-benar naga. Akan tetapi sebagian orang percaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah benar-benar manusia biasa. Hanya saja karena ia lahir dari rahim seorang wanita yang sebenarnya tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular/naga dan seolah-olah tidak diakui sebagai anak oleh Mangir I. Barangkali hal ini ditempuh penulis babad untuk tidak terlalu memberi efek negatif bagi dinasti Ki Ageng Mangir maupun Rara Jalegong sendiri. Kesaktian tombak Ki Baruklinting yang diceritakan demikian luar biasa ini barangkali sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kisah hidup Ki Bagus Baruklinting sendiri. Dalam babad diceritakan bahwa tombak Kiai Baruklinting senantiasa disanding oleh Ki Ageng Mangir. Bahkan setiap Ki Ageng Mangir berdekatan dengan Pembayun tombak ini bersuara (berkokok). Apa yang disuarakan tombak ini sebenarnya dapat dipandang sebagai simbol bahwa Ki Baruklinting memperingatkan agar Ki Ageng Mangir selalu berhati-hati terhadap Pembayun.

Tidak aneh kalau kemudian pada gilirannya bahwa tombak Kiai Baruklinting ini dibungkam/dilumpuhkan oleh Pembayun dengan kembennya. Pelumpuhan itu dilakukan dengan membungkam bilah tombak tersebut dengan kemben milik Pembayun.

Sumber : metro balikpapan


http://www.indospiritual.com/artikel_misteri-ki-ageng-mangir-dan-baruklinting.html
prabuanom - 25/05/2010 11:44 AM
#460
baru klinting dan pusaka kyai upas tulungagung
Quote:

SIRAMAN TOMBAK KYAI UPAS DIPADATI PENGUNJUNG.

Kabupaten Tulungagung memiliki pusaka andalan yang cukup terkenal Tombak Kyai Upas. Pusaka Tombak Kyai Upas sejak ada dan hingga kini masih saja dilestarikan keberadaannya dan setiap tahun tepatnya 1 Muharam dimandikan atau dijamasi di rumah Kanjengan Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung. Pada Tahun 2008 ini jamasan dilaksanakan 25 Januari 2008, yang disaksikan Bupati Tulungagung, Wakil Bupati Tulungagung, Muspida, Anggota DPR serta para Kepala Dinas/Badan/Kantor/Bagian lingkup Pemkab. Tulungagung dan tokoh masyarakat

Sebelum acara jamasan Pusaka Kyai Upas berlangsung, terlebih dahulu diadakan acara Kirab Srono Mulyo, yakni sesaji atau segala keperluan untuk memandikan pusaka lebih dahulu di kirab keliling kota Tulungagung. Acara kirab Srono Mulyo, yang dimulai dari Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Tulungagung, sekitar pukul 07.30 WIB. dilepas oleh Bupati Ir. Heru Tjahjono MM

Kirab Srono Mulyo menempuh jarak sekitar 3 km dan berlangsung cukup meriah karena selain peserta kirab membawa sesaji untuk jamasan Pusaka, ada juga peserta dari Perangkat Desa/Kelurahan se Tulungagung yang mengenakan pakaian adat jawa, serta iring-iringan wanita cantik.yang berpakaian adat jawa.

Bukan hanya itu saja tidak ketinggalan dimeriahkan dengan kesenian Reog Gendhang Tulungagung yang berjumlah 13 paguyuban dan kesenian tradisional Jaranan berjumlah 3 paguyuban dan 2 grup drumband yang berasal dari SMP Negeri 1 Tulungagung dan SMP Katolik Santa Maria Tulungagung.
Setelah sampai di Pendopo Kanjengan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung menjelaskan asal-usul Pusaka Tombak Kyai Upas, menurut keluarga Pringgo Koesoemo. dikisahkan salah seorang keluarga raja bernama Wonoboyo melarikan diri ke Jawa Tengah yang babat hutan di sekitar wilayah Mataram dekat Rawa Pening Ambarawa. Dia memiliki anak bernama Mangir. Setelah Wonoboyo dapat membabat hutan, maka ia bergelar Ki Wonoboyo dan dukuh tersebut dinamakan dukuh Mangir sesuai dengan nama puteranya.
Kemudian pada suatu hari Ki Wonosobo mengadakan selamatan bersih desa, banyak pemuda-pemudi yang membantu di dapur, diantara orang yang ada di dapur terdapat seorang pemudi yang lupa membawa pisau dan terpaksa dipinjaminya pisau oleh Ki Wonosobo yang berupa pusaka dengan pantangan jangan sekali-kali ditaruhkan di pangkuan, tapi sang pemudi lupa, pada waktu itu beristirahat, pisau itu dipangkunya dan seketika musnahlah pusaka tadi. Dengan hilangnya pisau tersebut pemudi menjadi hamil padahal ia belum menikah. Ketika telah datang saatnya melahirkan maka bukannya melahirkan bayi, tetapi berupa ular naga yang diberi nama Baru Klinting. Setelah besar Baru Klinting menananyakan siapa ayahnya dan oleh Ibunya dijawab ayahnya KiWonosobo yang pada waktu itu sedang bertapa di puncak gunung merapi, selanjutnya Baru klinting menyusul ayahnya di Gunung merapi, Ki Wonosobo mau mengakui anaknya kalau bisa melingkari puncak gunung merapi, tetapi waktu Baru Klinting melingkari gunung kurang sedikit ia menjulurkan lidah untuk menyambung antara kepala dan ekor. Kiwonoboyo mengetahui ini langsung saja memotong lidah baru klinting. Lidah berubah menjadi ujung tombak, kemudian baru klinting melarikan diri ke selatan mengetahui Wonoboyo megejarnya, ia menceburkan diri ke laut berubah menjadi kayu dan oleh Ki Wonosobo diambil dipergunakan sebagai landean dan tombak tersebut diberi nama Kyai Upas. Ketika Ki wonoboyo meninggal tombak itu diberikan kepada puteranya Ki Ageng Mangir dan setelah memiliki pusaka tersebut Ki Ageng Mangir kebal karena pusakanya, selanjutnya diberikan secara turun-temurun yang pada saat ini milik keluarga Pringgo Koesoema yang bertempat di Kanjengan.

Bupati Tulungagung menjelaskan, bahwa semoga keluarga kanjengan tetap sehat dan sejahtera. Siraman tombak Kyai Upas merupakan adat kebesaran Kabupaten Tulungagung. Ini merupakan tradisi budaya yang harus dilestrarikan. “Dirasa pusaka ini mampu memperkokoh Kabupaten Tulungagung”jelas Bupati.

Sementara itu RM Endronoto, selaku keluarga besar Pringgo Koesoemo, mengucapkan terima kasih utamanya kepada Bupati yang telah banyak membantu rumah Kanjengan maupun membantu jalannya Siraman Tombak. Juga ucapan terima kasih terhadap berbagai pihak yang ikut membantu demi lancarnya upacara ini.

Dirumah Kanjengan, semua ubo rampe diterima oleh Bupati Tulungagung dan selanjutnya Bupati dan Wakil Bupati, Muspida dan Anggota DPR menuju bilik atau gandhok belakang tempat Tombak Kyai Upas disemayamkan. Tombak Kyai Upas oleh Bupati dan Wakil Bupati serta keturunan Pringgo Koesoemo Pusaka itu diusung keluar menuju belakang.

Selanjutnya Tutup Pusaka Kyai Upas dilepas oleh ki Emban Sunarto dan diberikan berurutan kepada Bupati Tulungagung, Wakil Bupati Tulungagung, Ketua DPR dan Muspida. Dengan telatennya penjamas Sunarto, dengan diiringi asap kemenyan yang menyebar baunya melaksanakan tugasnya. Sedangkan sesaji untuk menjamasi diantaranya terdiri, air panguripan (air dari Goa Tritis di gunung Budeg), air bilik tengah, air bilik buntut, air gothekan, air kelapa, air sumur, air deresan randu dan pisang. Sesaji lainnya berupa 7 ayam jantan antara lain, ayam emas kemambang, ayam rajekwesi, ayam cemani, ayam putih mulus, ayam walik, ayam tulak dan ayam biasa.
Ketika acara jamasan Kyai Upas berlangsung dipadati pengunjung yang ingin melihat langsung dan pengamanan pelaksanaan itu dari Polres serta Kodim 0807 Tulungagung (PDE).
Page 23 of 27 | ‹ First  < 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > sejarah beberapa kesenian dan budaya jawa