Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > sejarah beberapa kesenian dan budaya jawa
Total Views: 84450
Page 5 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›

prabuanom - 05/04/2010 01:10 PM
#81

tarian tarian, budaya, sangat adiluhung. karena semuanya mempergunakan sesuatu yang simbolik sekali. bisa kita lihat dari beberapa penjabaran seni jawa yang sudah di suguhkan beberapa artikelnya. disini kita bisa bener bener melihat bahwa tak sekedar tarian atau pertunjukan seni. tapi menyuguhkan pengajaran bhatiniyah yang luar biasa. itulah ciri khas ke jawa an. yaitu bahasa nya adalah bahasa simbol yg tak bisa dilepaskan dari batin, atau hati
pijar merah - 05/04/2010 02:14 PM
#82

Quote:
Original Posted By prabuanom
keren bang kesenian betawinya


Thanks gan............

kalo bisa kesenian yang ampir punah juga diangkat dong gan........
prabuanom - 05/04/2010 09:27 PM
#83

Quote:
Original Posted By pijar merah
Thanks gan............

kalo bisa kesenian yang ampir punah juga diangkat dong gan........


contohnya apa gan?saya juga sedikit neh pengetahuanya tentang kesenian
titoperwito - 06/04/2010 01:49 AM
#84

Quote:
Original Posted By prabuanom
contohnya apa gan?saya juga sedikit neh pengetahuanya tentang kesenian


nuwun sewu kangmas prabu.....
saya mau memberikan topik pembicaraan dulu boleh gan???
gini...mari kita angkat topik tentang perbedaan tarian klasik Jawa Tengah antara Jogja dan Solo....
mari yg mengetahui ikut urun rembug, kebetulan saya sedikit tahu
matur nuwun
pijar merah - 06/04/2010 10:43 AM
#85

Quote:
Original Posted By prabuanom
contohnya apa gan?saya juga sedikit neh pengetahuanya tentang kesenian


banyak gan.... seperti yang ane sebutin di atas itu hampir semuanya dalam masa yang mengkhawatirkan.... terus kesenian wayang potehi dari pinggiran jakarta, ane juga pernah liat ada tarian di upacaranya masyarakat samin... terus pernah denger juga tentang wayang beber gan...??


Quote:
Original Posted By titoperwito
nuwun sewu kangmas prabu.....
saya mau memberikan topik pembicaraan dulu boleh gan???
gini...mari kita angkat topik tentang perbedaan tarian klasik Jawa Tengah antara Jogja dan Solo....
mari yg mengetahui ikut urun rembug, kebetulan saya sedikit tahu
matur nuwun


sepakat gan..... meskipun satu akar dari mataram tapi ada beberapa perbedaan yang membuat masing2 daerah punya ciri khas...
pijar merah - 06/04/2010 11:16 AM
#86

Sebelum pembicaraan tentang perbedaan antara Jogja - Sala dalam hal berkesenian, saya mau menambahkan kesenian yang langka dan hampir punah dari daerah pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa timur..


Wayang Beber







WAYANG beber merupakan seni pertunjukan tradisional yang dapat dikategorikan kurang populer dan publiknya sangat terbatas. Secara umum, wayang beber termasuk jenis seni pertunjukan tradisional yang fenomenal. Pertama, jenis wayang tersebut termasuk peninggalan budaya yang telah berusia tua, karena pusaka budaya ini merupakan peninggalan zaman Majapahit. Kedua, jenis wayang ini hanya ditemukan di daerah pegunungan Jawa bagian tengah dan selatan, khususnya di Gunungkidul (DIY) dan Pacitan (Jawa Timur).

Di Karangmojo Gunungkidul dan di Pacitan Jawa Timur, keberadaan wayang beber masih dianggap benda keramat. Bila hendak dipentaskan, serangkaian upacara harus diadakan, dengan segenap sesaji dan ubarampe. Demi menjaga kelestariannya, setiap saat jenis wayang tadi harus ‘dibersihkan’ dan dirawat dengan disertai upacara tradisi. Saat ini juga sangat jarang orang yang nanggap wayang beber. Padahal jenis wayang ini termasuk pusaka budaya yang ‘dikeramatkan’.

Berbeda dengan wayang kulit purwa yang ceritanya bersumber dari epos Mahabharata dan Ramayana, dengan segenap cerita carangan-nya, wayang beber hanya membeber cerita Panji. Oleh karena itu kadang-kadang jenis wayang ini juga dinamakan wayang beber gedhog. Yakni jenis wayang yang ceritanya bersumber dari cerita Panji, bisa berupa wayang golek, wayang dari kulit maupun wayang dari kayu.

Dalam khazanah sastra Jawa, cerita Panji termasuk jenis cerita yang lahir dan berkembang di era sastra Jawa Pertengahan, yakni karya sastra Jawa yang diciptakan pada zaman Majapahit. Jenis cerita ini tidak hanya tersebar di Jawa, Madura, Bali dan Lombok, melainkan juga sampai di wilayah Melayu (Palembang, Jambi dan Riau), bahkan sampai ke Semenanjung Melayu (Malaysia).

SEJARAH kelahiran wayang beber memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Majapahit. Wayang jenis ini dikenal pertama kali pada masa Majapahit, tepatnya saat kerajaan di Bumi Trowulan itu dipimpin Raden Jaka Susuruh. Raja ini bergelar Prabu Bratana. Hal itu ditunjukkan dengan candrasengkala pembuatan wayang beber pada masa itu, yakni gunaning bhujangga sembahing dewa, yang menunjukkan tahun Saka 1283 (1361 M).

Saat itu wayang beber masih mengambil cerita wayang purwa. Bentuk wayang beber purwa sudah seperti yang ditemukan sekarang, yakni dilukis di atas kertas. Ketika dipergelarkan, kertas berlukiskan wayang tersebut digelar (Jawa: dibeber), dan bila sudah selesai digulung kembali untuk disimpan.

Pada zaman Majapahit, pergelaran wayang beber purwa di lingkungan istana sudah menggunakan iringan gamelan. Sementara pertunjukan wayang beber di luar istana, tepatnya di lingkungan masyarakat biasa, hanya diiringi rebab (alat musik gesek khas Jawa). Di lingkungan kraton, pertunjukan wayang beber diadakan dalam rangka acara-acara khusus, seperti ulang tahun raja, perkawinan putra-putri raja dan sebagainya. Sementara di tengah-tengah rakyat kebanyakan, pergelaran wayang beber di masa itu diadakan untuk kepentingan ritual, seperti ruwatan.

Saat Majapahit diperintah Prabu Brawijaya, tepatnya tahun 1378, bentuk wayang beber mengalami penyempurnaan. Brawijaya termasuk raja yang memiliki perhatian besar terhadap wayang beber. Ia memerintahkan kepada salah satu anaknya yang memiliki kepandaian melukis, yakni Raden Sungging Prabangkara, untuk menyempurnakan penampilan wayang beber. Lukisan wayang yang semula hanya hitam putih, oleh Sungging Prabangkara dibuat menjadi berwarna, sehingga penampilan wayang beber menjadi lebih hidup dan menarik. Proses penyempurnaan wayang beber ini terjadi tahun 1378 Masehi.

Wayang beber yang mengambil cerita Panji diperkirakan baru muncul pada zaman Mataram (Islam), tepatnya pada masa pemerintahan Kasunanan Kartasura. Kala itu raja yang memerintah adalah Amangkurat II (1677-1703). Hal itu juga disebutkan dalam salah satu tembang Kinanthi yang ada di Serat Centhini (lihat ilustrasi).

Wayang beber di zaman Mataram Kartasura dibuat dari kertas lokal, yakni kertas Jawa dari Ponorogo. Cerita yang ditampilkan antara lain Jaka Kembang Kuning, salah satu episode cerita Panji. Kemudian pada masa pemerintahan Amangkurat III atau Sunan Mas, dilakukan penyempurnaan lagi terhadap lukisan wayang beber. Wajah dan pakaian yang dikenakan tokoh-tokoh utama, seperti Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana, disesuaikan dengan penampilan Arjuna dan tokoh perempuan yang cantik sebagaimana tokoh-tokoh wayang purwa.

Selanjutnya para era pemerintahan Sunan Paku Buwono II lukisan wayang beber diubah lagi, terutama pada ilustrasi yang melatarbelakangi penampilan tokoh. Ilustrasi yang ada dikurangi dan disederhanakan, sehingga penampilan wayang beber menjadi lebih klasik dan tidak rumit. Sosok tokoh menjadi kelihatan menonjol. Kisah cinta Panji Asmarabangun, oleh Paku Buwono II dibuat menjadi lakon Remeng Mangunjaya.
prabuanom - 06/04/2010 03:52 PM
#87

Quote:
Original Posted By titoperwito
nuwun sewu kangmas prabu.....
saya mau memberikan topik pembicaraan dulu boleh gan???
gini...mari kita angkat topik tentang perbedaan tarian klasik Jawa Tengah antara Jogja dan Solo....
mari yg mengetahui ikut urun rembug, kebetulan saya sedikit tahu
matur nuwun


silakan om
saya sih ga begitu tahu mas
karena saya sendiri dari daerah jawa timur
monggo kalo mau dibahas
prabuanom - 06/04/2010 04:07 PM
#88

Quote:
Original Posted By pijar merah
Sebelum pembicaraan tentang perbedaan antara Jogja - Sala dalam hal berkesenian, saya mau menambahkan kesenian yang langka dan hampir punah dari daerah pegunungan di Jawa Tengah dan Jawa timur..


Wayang Beber







WAYANG beber merupakan seni pertunjukan tradisional yang dapat dikategorikan kurang populer dan publiknya sangat terbatas. Secara umum, wayang beber termasuk jenis seni pertunjukan tradisional yang fenomenal. Pertama, jenis wayang tersebut termasuk peninggalan budaya yang telah berusia tua, karena pusaka budaya ini merupakan peninggalan zaman Majapahit. Kedua, jenis wayang ini hanya ditemukan di daerah pegunungan Jawa bagian tengah dan selatan, khususnya di Gunungkidul (DIY) dan Pacitan (Jawa Timur).

Di Karangmojo Gunungkidul dan di Pacitan Jawa Timur, keberadaan wayang beber masih dianggap benda keramat. Bila hendak dipentaskan, serangkaian upacara harus diadakan, dengan segenap sesaji dan ubarampe. Demi menjaga kelestariannya, setiap saat jenis wayang tadi harus ‘dibersihkan’ dan dirawat dengan disertai upacara tradisi. Saat ini juga sangat jarang orang yang nanggap wayang beber. Padahal jenis wayang ini termasuk pusaka budaya yang ‘dikeramatkan’.

Berbeda dengan wayang kulit purwa yang ceritanya bersumber dari epos Mahabharata dan Ramayana, dengan segenap cerita carangan-nya, wayang beber hanya membeber cerita Panji. Oleh karena itu kadang-kadang jenis wayang ini juga dinamakan wayang beber gedhog. Yakni jenis wayang yang ceritanya bersumber dari cerita Panji, bisa berupa wayang golek, wayang dari kulit maupun wayang dari kayu.

Dalam khazanah sastra Jawa, cerita Panji termasuk jenis cerita yang lahir dan berkembang di era sastra Jawa Pertengahan, yakni karya sastra Jawa yang diciptakan pada zaman Majapahit. Jenis cerita ini tidak hanya tersebar di Jawa, Madura, Bali dan Lombok, melainkan juga sampai di wilayah Melayu (Palembang, Jambi dan Riau), bahkan sampai ke Semenanjung Melayu (Malaysia).

SEJARAH kelahiran wayang beber memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kerajaan Majapahit. Wayang jenis ini dikenal pertama kali pada masa Majapahit, tepatnya saat kerajaan di Bumi Trowulan itu dipimpin Raden Jaka Susuruh. Raja ini bergelar Prabu Bratana. Hal itu ditunjukkan dengan candrasengkala pembuatan wayang beber pada masa itu, yakni gunaning bhujangga sembahing dewa, yang menunjukkan tahun Saka 1283 (1361 M).

Saat itu wayang beber masih mengambil cerita wayang purwa. Bentuk wayang beber purwa sudah seperti yang ditemukan sekarang, yakni dilukis di atas kertas. Ketika dipergelarkan, kertas berlukiskan wayang tersebut digelar (Jawa: dibeber), dan bila sudah selesai digulung kembali untuk disimpan.

Pada zaman Majapahit, pergelaran wayang beber purwa di lingkungan istana sudah menggunakan iringan gamelan. Sementara pertunjukan wayang beber di luar istana, tepatnya di lingkungan masyarakat biasa, hanya diiringi rebab (alat musik gesek khas Jawa). Di lingkungan kraton, pertunjukan wayang beber diadakan dalam rangka acara-acara khusus, seperti ulang tahun raja, perkimpoian putra-putri raja dan sebagainya. Sementara di tengah-tengah rakyat kebanyakan, pergelaran wayang beber di masa itu diadakan untuk kepentingan ritual, seperti ruwatan.

Saat Majapahit diperintah Prabu Brawijaya, tepatnya tahun 1378, bentuk wayang beber mengalami penyempurnaan. Brawijaya termasuk raja yang memiliki perhatian besar terhadap wayang beber. Ia memerintahkan kepada salah satu anaknya yang memiliki kepandaian melukis, yakni Raden Sungging Prabangkara, untuk menyempurnakan penampilan wayang beber. Lukisan wayang yang semula hanya hitam putih, oleh Sungging Prabangkara dibuat menjadi berwarna, sehingga penampilan wayang beber menjadi lebih hidup dan menarik. Proses penyempurnaan wayang beber ini terjadi tahun 1378 Masehi.

Wayang beber yang mengambil cerita Panji diperkirakan baru muncul pada zaman Mataram (Islam), tepatnya pada masa pemerintahan Kasunanan Kartasura. Kala itu raja yang memerintah adalah Amangkurat II (1677-1703). Hal itu juga disebutkan dalam salah satu tembang Kinanthi yang ada di Serat Centhini (lihat ilustrasi).

Wayang beber di zaman Mataram Kartasura dibuat dari kertas lokal, yakni kertas Jawa dari Ponorogo. Cerita yang ditampilkan antara lain Jaka Kembang Kuning, salah satu episode cerita Panji. Kemudian pada masa pemerintahan Amangkurat III atau Sunan Mas, dilakukan penyempurnaan lagi terhadap lukisan wayang beber. Wajah dan pakaian yang dikenakan tokoh-tokoh utama, seperti Panji Asmarabangun dan Dewi Candrakirana, disesuaikan dengan penampilan Arjuna dan tokoh perempuan yang cantik sebagaimana tokoh-tokoh wayang purwa.

Selanjutnya para era pemerintahan Sunan Paku Buwono II lukisan wayang beber diubah lagi, terutama pada ilustrasi yang melatarbelakangi penampilan tokoh. Ilustrasi yang ada dikurangi dan disederhanakan, sehingga penampilan wayang beber menjadi lebih klasik dan tidak rumit. Sosok tokoh menjadi kelihatan menonjol. Kisah cinta Panji Asmarabangun, oleh Paku Buwono II dibuat menjadi lakon Remeng Mangunjaya.


hem apakah cerita panji adalah cerita yang selalu dipentaskan oleh wayang beber yanga sli?dan apakah wayang beber ini tidak mengenal kisah dari mahabharata atau ramayana?. jika benar demikian maka ini tentu fakta yang sangat menarik, bahwa dijaman majapahit cerita panji lebih dikenal daripada cerita mahabharata dan ramayana. terimakasih
prabuanom - 06/04/2010 04:10 PM
#89

Quote:
Original Posted By pijar merah
banyak gan.... seperti yang ane sebutin di atas itu hampir semuanya dalam masa yang mengkhawatirkan.... terus kesenian wayang potehi dari pinggiran jakarta, ane juga pernah liat ada tarian di upacaranya masyarakat samin... terus pernah denger juga tentang wayang beber gan...??




sepakat gan..... meskipun satu akar dari mataram tapi ada beberapa perbedaan yang membuat masing2 daerah punya ciri khas...


wayang potehi yang mana neh gan?wayang potehi yang asli cin dan dipentaskan di klentengkah?kalo itu dikampung saya di jawa juga banyak gan
pentasnya tapi diklenteng
prabuanom - 06/04/2010 05:28 PM
#90
rinding gumbeng
Quote:
BERITA - seni-budaya.infogue.com - Kesederhanaan yang dipancarkan lewat kesenian rinding gumbeng pada Kamis (24/4) malam tampak kontras dengan panggung modern yang dilengkapi lampu sorot warna-warni serta kabut buatan warna putih. Hanya dengan menggunakan alat musik terbuat dari bambu, grup seni tradisi dari warga sekitar Hutan Wonosadi ini tampil penuh nuansa.

Meskipun sederhana dalam peralatan serta kostum senimannya, rinding gumbeng adalah cerminan kehidupan keseharian warga Gunung Kidul yang ulet, sederhana, serta dekat dengan alam. Mayoritas masyarakat Gunung Kidul mengandalkan hidup dari mengolah alam, dari alam pulalah seni tradisi rinding gumbeng ini terlahir.

Kali ini rinding gumbeng menjadi sajian pembuka pada gelar potensi anak negeri bertajuk "Bangkit Nus Spektakuler" sebagai wahana merajut potensi kekayaan negeri. Mereka tampil dengan enam penabuh gumbeng, enam peniup rinding, serta tiga perempuan penyanyi yang dikenal dengan sebutan penyekar.

Di bawah temaram sinar rembulan serta sorot lampu panggung, masyarakat memadati alun-alun untuk menikmati penampilan seni tradisi rinding gumbeng. Duduk lesehan di atas lapangan rumput, warga seperti tak menghiraukan serbuan semut-semut. Beberapa di mereka menyempatkan membawa tikar demi kenyamanan menonton.

Rinding gumbeng sebagai kesenian asli Gunung Kidul ternyata tidak cukup dikenal oleh masyarakatnya sendiri. Warga Duwet, Wonosari, Setyo (51), misalnya, mengaku baru pertama kali mendengarkan alunan musik dari bambu yang digunakan sebagai gendang serta alat musik tiup tersebut. "Bagus sekali, tapi tidak tahu ke mana harus mendengarkan kalau tidak ada acara festival seperti kali ini," tuturnya.

Hal serupa diungkapkan Dwi (27) yang mengaku cukup terhibur dengan penampilan para seniman desa tersebut. Peniup rinding dan penabuh gumbeng mengenakan baju dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik. Sementara para penyekar tak banyak berhias serta hanya mengenakan baju kebaya khas petani desa dengan kain luriknya.

Pemimpin grup rinding gumbeng, Sudiyo, menceritakan, kesenian tersebut merupakan warisan nenek moyang dari sejak zaman dulu kala. Ketika para leluhur masih memuja Dewi Sri sebagai dewi padi, mereka menciptakan alat musik rinding dan gumbeng dari bambu yang banyak tumbuh di sekitar permukiman penduduk.

Ketika memuja Dewi Sri, warga biasanya membawa padi pertama hasil panenan sebagai persembahan. Padi tersebut diarak dari sawah menuju rumah warga dengan diiringi suara meriah dari rinding gumbeng. Kemeriahan rinding gumbeng pun dipercaya menyenangkan hati sang Dewi sehingga mendatangkan berkah panenan melimpah.

Kebersamaan

Rinding memang bagian dari sistem bertani dalam masyarakat agraris. Seni musik yang menjadi bagian dari sebuah ritual panen. Kesenian yang dipandang sebagai punya kekuatan magis untuk mendatangkan sosok imajiner Dewi Sri. Seni yang lahir dari kreativitas naluriah, dari paduan rasa yang dijiwai semangat holobis kuntul baris-kebersamaan.

Kesenian tersebut dipercaya lahir jauh sebelum warga Gunung Kidul mulai mengenal logam. Jika hingga kini masih dikukuhi, itu karena pewarisan dari generasi ke generasi terus berjalan. Rinding gumbeng saat ini hanya bisa ditemui di Duren, Beji, Ngawen. Butuh bakat tersendiri untuk memainkan alat musik rinding gumbeng.

Selain ditampilkan di pemanggungan festival, rinding gumbeng tetap menyemarakkan ritual tradisi warga, terutama ketika upacara adat nyadranan di Hutan Wonosadi. Berkali-kali rinding gumbeng juga pentas di tingkat provinsi maupun nasional. Sering kali mereka juga mengisi acara hajatan pernikahan di desa-desa. "Kami berupaya terus mengembangkan supaya tidak punah," tutur Sudiyo.

Saat ini anggota kesenian rinding gumbeng ada 25 orang terdiri atas anak-anak, remaja, hingga dewasa. Salah seorang penyekar, Tukini, mengaku tidak sulit untuk menyanyikan aneka jenis musik dengan diiringi rinding gumbeng. Rinding gumbeng justru sanggup mengikuti tinggi rendah nada dari sang penyanyi.

Tak hanya lagu tradisional, rinding gumbeng bisa mengiringi lagu dolanan, langgam keroncong, dangdut, dan campursari. Siswa kelas enam sekolah dasar, Yoga Pangestu, menyatakan hanya butuh dua minggu untuk bisa memainkan rinding gumbeng.

Perjalanan peradaban suatu daerah mampu tercermin dari seni tradisi asli yang dimiliki. Dari rinding gumbeng terbukti, sejak zaman purbakala, warga Gunung Kidul telah punya kemampuan berkesenian yang tinggi. Jangan sampai warisan tinggalan nenek moyang tersebut pudar tergerus zaman.


http://seni-budaya.infogue.com/rinding_wajah_agraris_gunung_kidul
prabuanom - 06/04/2010 05:29 PM
#91

Spoiler for rinding gumbeng




prabuanom - 06/04/2010 05:33 PM
#92

Quote:
Sumber: Kompas.

Sambil menggembalakan kambing, Sudiyo semasa remaja sering kali menghabiskan waktu bermain rinding. Sejenis alat musik tiup tradisional yang terbuat dari sebilah bambu tipis yang dilengkapi dengan tali atau benang ini bisa menghasilkan suara ritmis tatkala ditiup dengan kekuatan dan gaya tertentu.

Beranjak pada usianya yang ke-71, sekarang pun Sudiyo masih kerap menyuruk ke dalam hutan. Atau mendaki bukit dekat rumahnya. Di sana, sambil duduk di atas sebuah batu besar, ia meniup rindingnya, berupa bambu pipih berukuran panjang 20 sentimeter, sambil talinya dientak-entakkan.

Udara di antara tali sepanjang lima sentimeter yang menegang di ujung bambu pun bergetar, menimbulkan suara beung… beung…. Getaran itu muncul dari embusan napas dari bibirnya yang menjepit (mengakep—Jawa) bagian atas dan bawah rinding. Suara beung..beung..terdengar menggema.

Selama puluhan tahun alat musik tradisional ini ia mainkan. Dan setiap kali memainkan rindingnya, Sudiyo mengaku jiwanya selalu ikut tergetar. “Seakan seluruh penghuni alam bisa ikut merinding,” ujar Sudiyo. Karena itu, ia percaya mengapa nenek-moyangnya menyebut alat musik ini rinding. Di Bali, alat musik sejenis ini disebut ginggong.

Saat panen raya pekan lalu, Sudiyo memimpin ritual Boyong Dewi Sri. Ritual ini diiringi musik rinding yang dimainkan bersama alat musik gumbeng. Instrumen gumbeng ini menyerupai gitar perkusi yang terbuat dari bahan bambu dengan tali senar yang ditabuh.

Dalam ritual ini, masyarakat Desa Wonosadi, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DIY, membawa sesaji nasi ingkung (ayam), lauk- pauk, dan buah-buahan. Mereka berdoa, lalu berjalan beriringan, diiringi musik rinding gumbeng yang dimainkan sekitar 10 orang yang berjajar di tepi persawahan.

Pada saat ritual Boyong Dewi Sri ini, yang merupakan tradisi masyarakat agraris sebagai ungkapan syukur petani kepada dewi pelindungnya saat musim panen padi, suasana terasa hikmat. Para pemain rinding dan gumbeng memainkan musiknya dengan sepenuh hati. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu dolanan di Jawa yang tak lagi populer, seperti Emplek-emplek Ketepu, Ilir-ilir, atau Paman Domblang.

“Pada saat itulah kami meyakini Dewi Sri turun ke sawah, memberkati hasil panen kami dan masyarakat di sini,” tutur Sudiyo.

Penguasa alam

Sesuai penuturan Sudiyo, musik rinding secara turun-temurun dipercaya semata dipersembahkan dan untuk menyenangkan Sang Penguasa Alam. Musik ini diyakini sebagai musik pertama yang diciptakan manusia, jauh sebelum manusia mengenal logam. Karena itu, rangkaian alat yang digunakan hanyalah bahan dari bambu.

Instrumen paling utama adalah rinding itu sendiri. Sedangkan gumbeng dibuat dari bambu yang dibentuk berbagai macam menjadi jenis alat musik perkusi (tabuh). Rinding dan gumbeng, jika dimainkan bersama-sama akan menghasilkan harmoni. Dari alat-alat yang begitu sederhana, terciptalah orkestra musik yang mampu membuai sukma bagi penghayatnya.

Menurut Sudiyo, antara 1960 hingga 1980-an, musik rinding yang indah ini redup. Selama 20 tahun terakhir praktis tak terdengar alunan rinding dari tengah hutan, dari kawasan perbukitan Gunung Kidul, Yogyakarta, atau dari rumah-rumah penduduk yang sederhana. Diakui Sudiyo, memang tradisi rinding sempat mengalami keterputusan.

Pada tahun 1982, semangat Sudiyo bangkit untuk menggemakan kembali rinding gumbeng. Ia pun mencoba merekonstruksi instrumen musik dari bambu itu sejauh ingatannya. “Saya masih ingat cara membuatnya, karena dulu sudah diajari bapak,” tuturnya.

Ia lalu mengajak istrinya, Suwarti (64) dan para orang tua lain di desanya untuk kembali memainkan rinding gumbeng. Semangat mereka pun terpacu. Desa itu kembali hidup dengan musik khas yang dimilikinya.

Sudiyo dan kelompok musiknya kerap mengisi berbagai acara kesenian lokal hingga nasional. Tahun 2001, ayah dari empat anak ini menjadi Duta Seni Yogyakarta pada acara Temu Budaya Tingkat Nasional di Ujung Pandang. Kemudian ia kembali terpilih sebagai duta seni di Jakarta, tahun 1984.

Banyak pasangan suami istri di desa itu menjadi “mesra” berkat rinding. “Di malam hari, para pemuda berkumpul di halaman rumah, memainkan rinding. Terdengar indah dan romantis. Karena itu, banyak pemuda pemudi saling mendapat jodohnya berkat rinding,” tutur Sudiyo.

Berduet dengan istrinya, Sudiyo bermain rinding hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Sayang, tiga tahun lalu Suwarti mengalami serangan stroke. Ia kini hanya dapat menikmati alunan rinding Sudiyo di atas kursi roda. “Saya kini tinggal ngrinding dengan para tetangga,” ujar pria kelahiran 6 Februari 1936 ini.

Tahun 2005, Sudiyo mulai berpikir akan pentingnya regenerasi. Ia lalu membentuk kelompok musik rinding gumbeng di kalangan pemuda. Ada sekitar 30-an orang mengikuti latihan di rumah Sudiyo setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu malam.

Berbeda dengan para orang tua yang mengiringi rinding gumbeng dengan lagu jawa yang tak populer, anak-anak muda lebih suka musik ini untuk mengiringi campursari atau dangdut. Namun, ia menganggap setidaknya minat anak muda menggeluti rinding gumbeng sebagai langkah maju atas upaya melestarikan musik tradisional ini. []


http://sosok.wordpress.com/2006/12/18/rinding-sudiyo-bikin-merinding/
pijar merah - 07/04/2010 10:19 AM
#93

Quote:
Original Posted By prabuanom
wayang potehi yang mana neh gan?wayang potehi yang asli cin dan dipentaskan di klentengkah?kalo itu dikampung saya di jawa juga banyak gan
pentasnya tapi diklenteng


wayang potehi memang betul berasal dar Tiongkok, tapi setelah mengalami sentuhan dengan masyarakat lokal akhirnya menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri. dulu wayang potehi masih banyak terdapat di wilayah Tangerang namun sekarang bisa dipastikan tinggal sedikit karena kebanyakan masyarakat tionghoa yang akrab disebut "Cina Benteng" lebih memilih organ tunggal atau cokek....
prabuanom - 07/04/2010 11:31 AM
#94

Quote:
Original Posted By pijar merah
wayang potehi memang betul berasal dar Tiongkok, tapi setelah mengalami sentuhan dengan masyarakat lokal akhirnya menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat itu sendiri. dulu wayang potehi masih banyak terdapat di wilayah Tangerang namun sekarang bisa dipastikan tinggal sedikit karena kebanyakan masyarakat tionghoa yang akrab disebut "Cina Benteng" lebih memilih organ tunggal atau cokek....


hem saya rasa cokek sendiri sudah mulai jarang, mungkin yang makin berkembang emang jamanya organ tunggal. bahas soal cokek dong om
prabuanom - 07/04/2010 11:33 AM
#95

kita bahas macam macam tari topeng
ternyata ada banyak sekali tari topeng di jawa

prabuanom - 07/04/2010 11:34 AM
#96
tari topeng malang
kita mulai dari kawasan jawa timur

Quote:
Tari Topeng

Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.

Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan sebagainya. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji.

Sampai saat ini Tari Topeng masih bertahan dan masih memiliki sesepuh yaitu Mbah Karimun yang tidak hanya memiliki keterampilan memainkan tari ini namun juga menciptakan model2 topeng dan menceritakan kembali hikayat yang sudah berumur ratusan tahun. Sayang sekali Mbah Karimun tidak memiliki penerus yang dapat menggantikan dirinya melestarikan kesenian khas daerah Malang ini. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti event2 penting kesenian tradisional tingkat nasional.

Dengan keahliannya membuat topeng juga telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi puluhan perajin topeng. Dipasarkan sebagai souvenir di tempat2 wisata dan galeri2 seni dengan harga yang cukup terjangkau. Perhatian dan dukungan yang lebih kongkret perlu diberikan oleh Pemda dan instansi2 terkait untuk mempopulerkan kembali kesenian khas Malang ini di masyarakat.


http://thor.prohosting.com/~arema/malang/topeng.htm
prabuanom - 07/04/2010 11:39 AM
#97
1
Quote:

Topeng Malangan: Simbol Pertarungan Berbagai Identitas

Posted on 14. May, 2008 by ave in Riset

Oleh; Paring Waluyo Utomo

Setiap Bulan Selo ,dalam perhitungan kalender Jawa di Dusun Pijiombo, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang selalu dirayakan upacara ritual bersih desa dan kirap topeng. Acara ritual itu merupakan tradisi turun temurun diwilayah itu. Pijiombo termasuk satu kawasan dengan tempat makam Embah Junggo, dipuncak Gunung Kawi. Makam Eyang Junggo selama ini memang dikenal luas oleh masyarakat sebagai tempat yang dianggap keramat dan memiliki nuansa magis. Bahkan beberapa kalangan memanfaatkan Makam Eyang Junggo sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Ditempat itu kerapkali dijumpai warga pendatang yang tidak sekedar berwisata, tetapi mereka sering menjalankan ritual-ritual tertentu sesuai dengan keyakinannya. Pada Bulan Selo atau Bulan Januari 2004 ini, warga Pijiombo untuk pertama kalinya menambah acara bersih desa itu dengan kirap Topeng. Menurut Suko (46 tahun) warga Pijiombo sekaligus koordinator acara ritual kirap topeng legenda, “Acara ini merupakan wujud ucapan terima kasih warga Pijiombo terhadap Gusti Allah. Disamping juga sebagai usaha masyarakat untuk membersihkan desanya dari segala macam bala. Sebab beberapa waktu yang lalu topeng topeng (legenda) yang telah hilang tiba tiba kembali berada di desa ini.Nah untuk mengantisipasi kemungkinan buruk didusun ini, maka dibuatlah acara kirap topeng legenda ini”, ujarnya.

Tatkala saya, tiba di Dusun Pijiombo, hari telah merambat naik menuju malam. Sementara dirumah kepala dusun, telah siap panggung pagelaran wayang topeng. Tepat pada pukul 08.00 WIB, acara pagelaran wayang topeng segera dimulai. Malam itu yang tampil dan mengatraksikan kesenian adalah wayang topeng anak anak. Malam itu sengaja menampilkan wayang topeng yang diperagakan oleh anak anak untuk mengukur keberhasilan kaderisasi penari penari topeng. Ngatiman (40 tahun), penari topeng sekaligus pelatih tari topeng dari Pijiombo menyatakan, “Acara kirap ritual topeng kali ini agar melibatkan seluruh unsur dan umur dari warga Dusun Pijiombo, sehingga sengaja malam itu menampilkan wayang topeng yang dilakukan oleh anak anak. Disamping itu juga sebagai usaha untuk menggali bibit potensial bagi kelangsungan penari penari topeng Pijiombo dimasa mendatang. Acara malam ini hanya awal acara sebelum masuk ke acara inti, yaitu kirap topeng yang menyertakan sebagian warga desa esok hari yang dimulai dari mulut desa hingga ke punden desa”.

Malam terus merambat, hampir seluruh warga dusun sangat menikmati acara wayang topeng yang disuguhkan oleh anak anak itu. Tua muda, laki dan perempuan semuanya berkumpul dipelataran rumah kepala dusun yang telah diseting menjadi panggung pertunjukkan. Berbagai macam makanan tradisional dan suguhan makam malam telah dipersiapkan oleh panitia untuk menyambut tamu tamu dari luar, termasuk saya yang malam itu disambut hangat oleh kepala dusun. Dengan sangat antusias warga dusun malam itu menikmati tontonan yang hanya berlangsung setahun sekali itu. Menurut Harsoyo (60 tahun), tokoh topeng Pijiombo “ Kirap topeng legenda biasanya dilakukan oleh warga Dusun Pijiombo setiap Bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Bulan Selo berarti bulan jeda, artinya pada bulan ini warga memiliki kesempatan untuk membersihkan diri dan lingkungannya. Selo itu kan berarti selo selo (waktu senggang). Biasanya waktu selo warga dusun itu tidak disibukkan oleh aktivitas aktivitas bertani. Waktu selo itu lantas dimanfaatkan oleh warga untuk mengisi aktivitas bersama yaitu bersih desa ini. Nah, kalau ada waktu senggang tidak kita manfaatkan takutnya lingkungan didusun ini menjadi tak terawat, baik lingkungan fisik maupun lingkungan spiritual.” Ujarnya.

Jarum jam telah menunjukkan angka duabelas malam, berbarengan dengan usainya wayang topeng yang diperagakan oleh anak anak Pijiombo. Walau begitu acara jagongan oleh warga tetap dilakukan. Sambil menenggak kopi dan mengisap rokok beberapa warga tampak terlihat berbincang santai dan guyub. Namun dipinggiran dusun, tepatnya dimakam Eyang Ngarijan (punden desa) tampak beberapa lelaki tua yang bersemedi ditempat itu. Dalam gelapnya malam yang tampak hanya nyala merah dupa ratus, sementara gemercik air yang keluar dari sumber disamping Punden Eyang Ngarijan dan derai angin malam yang menggesek dahan dahan bambu yang lebat seolah memberi irama untuk mengantarkan kekhusukkan orang orang yang sedang bersemedi tersebut hingga menjelang fajar.

Pagi itu aktivitas warga dusun kian bertambah, para peserta kirab topeng legenda yang akan dipusatkan di Punden Eyang Ngarijan tampak bersiap siap merias diri. Bahkan beberapa gadis yang akan membawa topeng legenda tampak menjalani ritual ritual tertentu, seperti mandi bunga setaman. Sementara kesibukkan di dapur kepala dusun juga kian bertambah, beberapa wanita mempersiapkan sesaji berupa tumpeng besar dan kecil sebanyak 40 buah. Matahari telah bertengger diufuk timur, riuh rendah pemuda pemuda desa yang bergotong royong menata berbagai macam peralatan seperti meja dan kursi, gentong air, janur sebagai hiasan dan sound system disekeliling Punden Eyang Ngarijan tampak mewarnai kesibukan dipagi itu. Setelah berbagai persiapan teknis usai, beberapa panitia tampak mengkoordinir peserta kirap untuk dikumpulkan disalah satu rumah penduduk yang paling besar dan berhalaman luas.

Walau berada dikawasan puncak gunung, terik matahari di Pijiombo siang itu terasa membakar kulit. Kini seluruh peserta kirap telah berkumpul disalah satu rumah penduduk. Suko sebagai pengarah acara saat itu menata barisan kirap berdasarkan urut urutan ritual kirap. Tampak dibarisan paling muka adalah empat orang gadis desa yang membawa 3 buah topeng legenda dan penabuh gong, yang diapit dua orang jejaka dikanan kirinya sambil membawa payung berhias. Barisan dibelakangnya adalah para sesepuh atau tokoh masyarakat desa dan pamong desa. Disusul kemudian delapan gadis yang dianggap sebagai pagar ayu sambil membawa cawan yang berisi air, lantas dibelakangnya beberapa penari topeng yang kebanyakan anak anak. Urutan berikutnya adalah beberapa gadis dan ibu ibu yang membawa sesaji sebanyak 37 tumpeng kecil, serta pembawa bunga bunga setaman dan beberapa laki laki yang memikul tumpeng besar. Bahkan kalangan tua didesa itu juga tak mau ketinggalan, dibelakang pembawa sesaji, tampak barisan sesepuh desa yang juga ikut berdandan ala prajurit kerajaan. Sedang diurutan yang paling akhir adalah para pejabat pemerintah kabupaten dan ditutup dengan iring iringan kelompok kesenian seperti jaranan kepang.


bersambung
prabuanom - 07/04/2010 11:43 AM
#98
2
Quote:
Besarnya peserta kirap topeng malangan siang itu membuat iring iringan panjang yang merentang disebagian besar jalan desa. Perlahan tapi pasti barisan itu berjalan bergerak menuju mulut desa, tempat dimana pembukaan acara kirap topeng legenda itu dimulai. Sementara dimulut desa telah dipersiapkan panggung pembukaan acara itu. Begitu arak arakan itu tiba, Suko sang koordinator acara yang dibantu oleh Mochamad Sholeh, mengatur barisan itu agar tetap dalam posisi yang ditentukan sejak awal. Acara pembukaanpun segera dimulai dengan mempersembahkan tari beskalan, sebuah tarian khas malangan yang diperuntukkan untuk menyambut tamu dari luar. Dengan lemah gemulai Karen Elisabet (isteri Mochamad Sholeh, dari Padepokan Seni Mangun Dharmo, Tumpang) menarikan tari beskalan sambil mendendangkan tembang tembang Jawa kuno. Alunan gending yang mengalun menuntun Karen dalam irama gerak tari yang rancak nan gemulai.

Sesaat setelah berbagai acara ceremoni seperti sambutan berbagai kalangan, terutama dari pejabat kabupetan usai, pemandu acara menggerakkan iring irirngan peserta kirap bak naga merayap menuju Punden Eyang Ngarijan. Setibanya di punden, para peserta kirab dan warga pada umumnya mulai ramai mengerumuni sekeliling punden. Tampak empat orang sesepuh desa menyambut kedatangan empat orang gadis pembawa topeng dan pemukul gong. Sesaat kemudian topeng diterima oleh sesepuh desa lantas dibuka dan diletakkan diatas meja beralaskan kain kafan tepat didepan punden. Dengan penuh khitmad dan khusu’ empat orang sesepuh laki laki itu termenung dalam doa mengahadap topeng didepannya, asap kemenyan tampak mengepul menebar aroma wangi. Setelah berdo’a, empat sesepuh desa itu lantas menerima cawan yang berisi air dan bunga setaman dari peserta kirab yang rata rata perempuan. Air yang berada didalam cawan lantas ditaburkan perlahan lahan oleh empat orang pawang desa itu diatas topeng. Berbarengan dengan itu, para pembawa sesaji sebanyak 40 tumpeng besar dan kecil, bumbu bumbu dapur, bunga setaman, dan bubur merah secara simbolis menyerahkan kepada empat orang perempuan sesepuh desa dan diletakkan dibelakang topeng legenda.

Empat orang pawang masih dalam pengembaraan spiritualitasnya, pantengeng pamujo disisi topeng legenda. Saat itu pula empat orang perempuan tua tampak menebarkan garam dan bunga setaman disekeliling punden. Sementara topeng yang telah terselimut oleh kain kaffan putih diberikan percikan air yang berasal dari cawan dengan dibumbui berbagai mantra mantra magis. Upacara pemandian topeng sebagai simbol pembersihan lingkungan telah dilakukan. Sesaat kemudian empat orang sesepuh desa yang menjadi paweang dalam ritual itu bersemedi lagi, suasana khusu’ dan keheningan membalut prosesi itu. Semua orang tanpa dipandu larut dalam olah batinnya masing masing.

Tatkala persemedian usai, seorang penari topeng mendatangi empat orang pawang, tampak salah saru dari pawang itu memberikan topeng yang telah diruwat itu kepada sang penari. Topeng segera dikenakan, dan inilah saat pertunjukkan tarian topeng ritual segera dimulai. Saat menempelnya topeng pada raut muka sang penari adalah tanda jati diri yang berada raga sang penari representasi dari tokoh yang sedang ditarikan. Secara spiritual, penari topeng bukan lagi Ngatiman penduduk Dusun Pijiombo, melainkan tokoh Panji Asmoro Bangun yang sedang beratraksi menari nari. Sosok Panji Asmorobangun telah menjadi medan magnet yang mampu meraup perhatian peserta ritual siang itu. Setiap hentakan kaki sang Panji, dan lemparan selendangnya seolah manifestasi kewibawaan raja raja Jawa tempo dulu yang dapat dipotret pada masa kini. Irama gerak tari yang dibawakan oleh Panji lambat laun mengajak para audien dalam pengembaraan dan imajinasi suasana dan lingkungan semasa kehidupan fisik Panji Asmorobangun. Semua orang telah memasuki dimensi masa lalu, mengulang kembali ingatan ingatan masa lalu dalam memori spiritualitas. Lantas semua seolah tidak mementingkan lagi ruang dimensi, sekarang atau masa lalu. Yang pasti dalam benak mereka semua adalah bagaimana memperlakukan lingkungan itu sendiri secara layak. Begitu atrakasi tari tarian yang diatrakasikan oleh Sang Panji usai, sosok Ngatiman lantas muncul kembali secara fisik maupun spiritualitas. “Dalam pandangan orang awan akan sangat kesulitan untuk mendeteksi bahwa tatkala topeng itu dikenakan sosok siapakah yang muncul? Dirinya sendiri ataukah tokoh topeng yang sedang ia kenakan, namun bagi orang orang yang waskito, memeliki keheningan batin, dan jiwa yang bersih akan betul betul merasakan sosok baru dalam pertunjukkan topeng”, demikian ungkap Ngatiman.

Setelah pertunjukkan topeng yang pertama usai, tampak penari kedua bersiap diri menghampiri pawang untuk menjalani prosesi mengenakan topeng. Dalam atraksi yang kedua ini menampilkan sosok Raden Gunungsari. Gunungsari adalah sederet tokoh tokoh kesatria Jawa yang oleh masyarakat Jawa dianggap sebagai identitas yang patut menjadi panutan. Tari topeng yang kedua ini secara simbolik merepresentasikan kejadian kejadian seperti atrakasi topeng yang pertama. Begitu usai menari, pawang lantas membungkus topeng kembali dengan kain kaffan dan memasukkanya kedalam dalam peti kayu.

Acara selanjutnya adalah pembacaan do’a penutup yang dipimpin oleh seorang modin (immamudinn) didaerah tersebut. Do’a- do’a Islam bercampur dengan Jawa itu segera mengalir, membahana dalam suara sound, membelah kesunyian hutan bambu. Seusai pemanjatan do’a do’a keselamatan, kesejahteraan, dan ketentraman desa, maka semua peserta upacara kirap dengan sangat guyub menikmati puluhan tumpeng yang telah disediakan oleh panitia. Tumpeng tumpeng itu pula yang diiring sejak pagi tadi. Acara makan siang itu berlangsung dengan suasana yang penuh dengan egaliter, tak ada lagi pembedaan status sosial. Lurah, bayan, kamituo, modin, warga biasa, laki, perempuan, tua-muda, semuanya bersimpuh disekeliling Punden Eyang Ngarijan untuk bersantap siang bersama.

Begitu makan siang usai, pemandu acara segera mengumpulkan kembali barisan kirap sesuai dengan urut urutan yang telah dibentuk sejak awal. Rombongan segera bergerak kembali, kali ini tujuan peserta kirap adalah rumah Kepala Dusun. Dirumah itulah telah siap berbagai atraksi komplit pertunjukkan Topeng Malangan.

Panggung pertunjukkan yang tadinya senyap lantas terisi para nayogo topeng, Ki Soleh, Dalang dari Padepokan Mangun Dharmo, Tumpang segera membuka lakon lakon topeng. Siang itu, pagelaran wayang topeng dimulai. Sang dalang, Ki Soleh dengan suaranya yang menggelegar memandu alur cerita dari pertunjukkan. Sebagai pemula pertunjukkan, mengalunlah gending giro, suara gamalen mengalun datar yang sesekali disela dengan suara gong terus mengalir. Sebagai sambungan dari gending giro adalah tarian pembuka yang biasanya menampilkan tari beskalan. Cuaca yang tadinya menyengat berubah menjadi mendung dan tampak air bintik bintik kecil mulai jatuh. Kini pertunjukkan memasuki babak Jejer Kerajaan Kediri (Jejer Jawa) hingga grebeg prajurit kediri, yaitu kisah kisah tentang sejarah dan kemashyuran tanah Jawa. Berbagai tokoh kesatria Jawa seperti Lembu Amilihur, Panji Asmorobangun dan lainnya. Ratusan penonton dengan sangat hikmat menikmati irama gerakan yang dibawakan oleh tokoh tokoh kesatria itu, sambil dipandu oleh suara sang sutradara (baca; dalang) yang menjadi kuasa sentral dalam pertunjukkan itu.

Wayang topeng, dalam cerita panji memang sangat kental tentang perlawanan orang orang Jawa terhadap kekuatan asing yang hendak mencaplok tanah Jawa. Maka tak ayal lagi, Ki Dalang lantas memasukkan juga Jejer Sabrang setelah adegan Jejer dan Gregeg Jawa usai. Untuk menaikkan alur pertunjukkan menuju klimak dari pertunjukkan wayang topeng adalah perang grebeg, yaitu sebuah adu tanding antara kesatria kesatria Jawa dengan Klono Sabrang (baca: orang orang asing). Namun perang grebeg bukanlah titik klimak dari pertunjukkan wayang topeng. Dalam babak perang grebeg memang tidak ada penyelesaian. Fase inilah yang membuat penonton begitu “geram”, bahkan tak sabar ingin mengetahui penyelesaian dari perang grebeg. Karena belum ada akhir, maka perang grebeg surut hingga mencapai titik reda. Dalam masa jeda peperangan, lantas Ki Dalang dengan sangat lihai menurunkan tingkat emosi penonton yang telah larut dalam alur cerita. Emosi penonton yang dibentuk oleh Ki Dalang melalui perlawanan tokoh tokoh protagonis (Kesatria Jawa) dengan tokoh tokoh antagonis (Klana Sabrang) mulai diturunkan dengan menyuguhkan Jejer Gunungsari dan Patrajaya. Adegan lucu dan menggelikan yang mewarnai Jejer Gunungsari dan Patrajaya yang dikemas oleh sang dalang telah dengan sekejap merubah suasana pertunjukkan dengan gelak tawa penonton.

Alur pertunjukkan yang sedemikian fluktuatif yang dikemas oleh Ki Dalang telah menguras emosi penonton, sebab pada babak berikutnya seusainya Jejer Patrajaya adalah perang puputan. Perang Puputan adalah pertandingan menang kalah antara orang orang Jawa yang digambarkan dengan sosok tampan, berbudi dan berperadaban tinggi melawan dengan orang orang seberang tanah Jawa (Klana Sabrang) yang dipersonifikasi sebagai tokoh yang berangasan, bentuk fisik yang menakutkan, dan berperadapan rendah. Dalam perang puputan, dalang Ki Sholeh mengakhirinya dengan kemenangan kesatria kesatria Jawa. Pertunjukkapun berakhir dengan happy ending, semua penonton yang mayoritas warga Desa Wonosari tampak berseri seri raut mukanya, walau saat itu menjelang magrib dan hujan tak henti hentinya.


tamat

http://www.averroes.or.id/research/topeng-malangan-simbol-pertarungan-berbagai-identitas.html
prabuanom - 07/04/2010 11:50 AM
#99

Spoiler for tari topeng malang


prabuanom - 07/04/2010 12:03 PM
#100
tari topeng cirebon-indramayu
Quote:
Tari Topeng Cirebon, adalah salah satu tari/cerita tradisional yang masih hidup di kota Cirebon dan sekitarnya.

Secara garis besar tari Topeng Cirebon ini terdiri atas :
1. Tari yang bersifat raksasa ( Danawa )
2. Tari yang bersifat krodan ( gagah ) misalnya : Rahwana, Kangsa
3. Tari Tumenggungan
4. Tari Panji

Dari keempat tari topeng ini dapat dikembangkan secara tradisi, yang memiliki khas sendiri seperti :
1. Tari Panji
2. Tari Samba
3. Tari Tumenggung
4. Tari Rumyang
5. Tari Kelana / Rahwana
6. Tari Jingga Anom
7. Tari Pentul
8. Tari Tembem

Akan tetapi yang sampai saat ini dikenal adalah Tari Panji, Tari Samba, Tari Tumenggung, Tari Rumyang dan Tari Kelana / Rahwana.

Tari Topeng ini sesungguhnya secara filsafat menggambarkan perwatakan kehidupan manusia.

1. Tari Panji : menggambarkan manusia yang suci layaknya seorang prabu, pemimpin yang arif, adil dan bijaksana dan selalu mengerjakan perbuatan yang baik.
2. Tari Samba : menggambarkan gemerlapnya keduniawian, harta benda, wanita, bermewah - mewah, glamour. Oleh karena itu tarian ini kelihatan lincah dan kaya akan gerak dan irama.
3. Tari Tumenggung : adalah gambaran dari sikap kehidupan prajurit dan kepahlawanan yang gagah berani. penuh dedikasi, loyalitas dan tanggung jawab yang tinggi.
4. Tari Kelana / Rahwana : menggambarkan angkara murka, watak manusia yang serakah dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan ambisi pribadinya. Namun dia juga adalah pemimpin yang kaya raya, memiliki keduniawian yang tangguh.

Melihat tradisi seni tari topeng, pengamatan kita tidak bisa lepas dengan perlengkapan yang dipakai seperti tersebut di bawah ini :

1. Kedok / Topeng yang terbuat dari kayu dan cara memakainya dengan menggigit bantalan karet pada bagian dalam nya.
2. Sobra sebagai penutup kepala yang dilengkapi dengan jamangan dan dua buah sumping.
3. Baju yang berlengan.
4. Dasi yang di lengkapi dengan peniti ukon (mata uang jaman dulu )
5. Mongkron yang terbuat dari batik lokoan.
6. Ikat pinggang stagen yang dilengkapi badong.
7. Celana sebatas bawah lutut.
8. Sampur / selendang
9. Gelang tangan
10. Keris
11. Kaos kaki putih sampai lutut
12. Kain batik
13. Kadang - kadang dilengkapi dengan boro (epek)

Selain kelengkapan busana tersebut di atas kadang - kadang untuk Tari Topeng Tumenggung menggunakan tambahan berupa tutup kepala kain ikat dan di lengkapi dengan peci dan kaca mata.

Iringan gamelan biasanya berlaras slendro atau prawa yang terdiri dari :

1. Satu pangkon bonang
2. Satu pangkon saron
3. Satu pangkon titil
4. Satu pangkon kenong
5. Satu pangkon jengglong
6. Satu pangkon ketuk
7. Satu pangkon klenang
8. Dua buah kemanak
9. Tiga buah gong (kiwul, sabet dan telon)
10. Seperangkat kecrek
11. Seperangkat kendang yang terdiri dari : kempyang, gendung, ketiping. Semuanya dimainkan dengan alat pemukul, kecuali untuk Tari Topeng Tumenngung kendang dimainkan secara biasa yaitu di tepak/dipukul dengan tangan.

Lagu - lagu yang mengiringi adalah :

* Kembangsungsang untuk Topeng Panji
* Kembangkapas untuk Topeng Pemindo
* Rumyang untuk Topeng Rumyang
* Tumenggung untuk Topeng Tumenggung
* Barlen untuk Topeng Jinggaanom
* Gonjing untuk Topeng Kelana

Juga dilengkapi dengan lagu tratagan dan lagu wayang perang pada saat perang antara Tumenggung dan Jinggaanom.

Ada baiknya untuk menambah pengetahuan kita bersama untuk mengetahui macam - macam bentuk sobra :

* Sobra sulu selembar
* Sobra jeruk sejajar
* Sobra Gedang searip
* Sobra Merang segedeng

Dengan mengetahui perjalanan seni tari tradisional di Cirebon khususnya jelaslah kita dituntut untuk berupaya agar seni ini tidak habis dimakan jaman dan ditinggalkan oleh generasi yang akan datang.

Sumber :
- Hasil Lokakarya "Menyingkap Tari Cirebon" - Keraton Kasepuhan, 19 Desember 1996
- Penulis : E. Yufuf Dendrabrata (Alm)




http://carubannagari.blogspot.com/2007/07/tari-topeng-cirebon.html
Page 5 of 27 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > sejarah beberapa kesenian dan budaya jawa