bukan lagi insurgency tp lebih ke kamtibmas/kriminalitas -> Po" />
 
Militer
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > NAMC Q-5 FANTAN sebagai Pengganti OV-10 Bronco TNI-AU
Total Views: 6407
Page 3 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

alamor - 03/04/2010 02:13 AM
#41

Quote:
Original Posted By masbagong
Pertanyaan sy lebih ke konsep "apakah pesawat berkemampuan COIN urgent diadakan" ?

1). Aceh >- bukan lagi insurgency tp lebih ke kamtibmas/kriminalitas >- Polisi cukup
2). Maluku >- bukan lagi insurgency tp lebih ke kamtibmas/kriminal >- Polisi cukup
3). Kalimantan >- ?? (siapa insurgence-nya ?).
4). Papua >- yes, insurgence. Kebanyakan bawa panah dan tombak. Layakkah dihadapi dgn pesawat COIN ?. Nyatanya persuasi dan beras serta bahan pokok lainnya (termasuk bir) lebih efektif.

Yg jadi perhatian sy adalah konsep hankam kita. Jika memang COIN perlu "for some reasons", ya Super Tucano merupakan kandidat utama. Tp apakah urgent ? My answer is NO. Pengganti Hawk lebih urgent. Kenapa ? Karena Advance Trainer maupun CAS bisa melakukan tugas COIN meskipun tidak seefektif/optimal pswt COIN. Tetapi teknologi sensor bisa menutupi kelemahan2 tsb. So mana yg akan lebih efektif jadi COIN: ST dgn peralatan sensor standard (camera pod) atau Hawk dgn camera pod, FLIR cam, LIDAR, NV cam ?


what ever it is........................we still need super tucano..............

lagipula overkill kalo yak-130 mengambil misi super tucano.............

toh misinya cuma :
1. membunuh pemberontak.

2. mencegah ilegal logging.

3. mencegah kapal pencuri ikan dan sejenisnya. [ sebenernya ini tugas AL tapi kalo misalnya super tucano nemu dan nggak ada KRI disana...............ya dikasih tembakan peringatan..............ditenggelamkan kalo perlu ]

4 .CAS [ close air support ]

lalu kenapa OV-10 yang didahulukan daripada hawk MK-53??????

karena OV-10 umurnya lebih tua jadi harus diganti lebih dulu daripada hawk mk.53.

lagian juga super tucano teknologinya canggih..............

nih gambar kokpit super tucano :


spek super tucano:

Cockpit
The all-glass cockpit is fully night vision goggle compatible. Brazilian AF ALX aircraft are equipped with avionics systems from Elbit Systems Ltd of Haifa, Israel, including a head-up display (HUD), advanced mission computer, navigation system and two 6in x 8in colour liquid crystal multi-function displays.
“The pilot is protected with Kevlar armour.”

The head-up display with 24° field of view and the advanced weapon delivery system are integrated through a MIL-STD-1553B data bus. The pilot is provided with a handson throttle and stick (HOTAS) control.

The pilot is protected with Kevlar armour and provided with a zero/zero ejection seat. The clamshell canopy, hinged at the front and rear and electrically activated, is fitted with a de-icing system and features a windshield capable of withstanding, at 300kt, the impact of a 4lb bird. A Northrop Grumman onboard oxygen generation system (OBOGS) is installed.

Weapons
The aircraft is fitted with two central mission computers. The integrated weapon system includes software for weapon aiming, weapon management, mission planning and mission rehearsal. Onboard recording is used for post mission analysis.

The aircraft has five hardpoints for carrying weapons, and is capable of carrying a maximum external load of 1,500kg. The aircraft is armed with two wing-mounted 12.7mm machine guns with a rate of fire of 1,100 rounds a minute and is capable of carrying general-purpose bombs and guided air-to-air and air-to-ground missiles. Brazilian AF aircraft will be armed with the MAA-1 Piranha short-range infrared guided air-to-air missile from Orbita.

The two seat AT-29 is fitted with a forward-looking infrared AN/AAQ-22 SAFIRE turret on the underside of the fuselage. The SAFIRE thermal imaging system supplied by FLIR Systems is for targeting, navigation and target tracking. The system allows the aircraft to carry out night surveillance and attack missions.

Navigation
The aircraft is equipped with an advanced laser inertial navigation and attack system, a global positioning system (GPS) and a traffic alerting and collision avoidance system (TCAS).
“The Super Tucano has five hardpoints for carrying weapons.”

Engine
The EMB-314 Super Tucano is powered by a PT6A-68A turboprop engine, developing 969kW. The power plant is fitted with automatic engine monitoring and control. The ALX aircraft has a more powerful engine than the EMB-314. The ALX’s Pratt and Whitney Canada PT6A-68/3 turboprop engine, rated at 1,600shp, drives a Hartzell five-bladed constant speed fully feathering reversible pitch propeller.

The fuel capacity is 695l, which gives a range of over 1,500km and endurance of 6hrs 30mins. The aircraft has a cruising speed up to 530km/h with a maximum speed of 560km/h.

sumber : http://adiewicaksono.wordpress.com/2010/03/02/apa-yang-salah-dengan-super-tucano/

apakah sudah jelas bahwa super tucano itu hebat...........

tenang saja gan..............hawak mk.53 nanti juga bakal diganti................semua ada waktunya...............

untuk sekarang kita konsentrasi dulu ke super tucano...................

oke????
whizzack - 03/04/2010 02:35 AM
#42

Quote:
Original Posted By masbagong
Pertanyaannya:

1). Apakah mempunyai pesawat COIN lebih urgent dibandingkan dgn CAS atau Advance Trainer ? Memang insurgency di tanah air akan semakin marak dimasa ?

2). Garis perbatasan kita sangat luas. Apakah kita akan mengandalkan Super Tucano utk melakukan pengawasan ? Misalnya: ST mendapat tugas melakukan border surveilance di perbatasan dgn Malingsia. Bagaimana jika terus Maling kirim F-18 mrk utk "bercanda" dgn ST. Bisa jatuh tuh moral pilot ST. Jadi daerah penugasan operasi ST di sekitar perbatasan kita juga harus mempertimbangkan negeri seberang punya apa.


1. Sejujurnya... I don't know... but what I do know adalah klo kita pengen pesawat COIN, maka Super Tucano is one of the best planes.. and the right choice.. Masalah apakah pesawat COIN itu sendiri masih relevan untuk digunakan oleh TNI-AU, itu tergantung dari doktrin yg diformulasikan oleh TNI-AU sendiri dan Dephan.. dan kenyataannya saat ini AU merasa kebutuhan akan pesawat COIN adalah urgent.. so let's help them choose the right bird..! the best for the job...!

2. I'm sure ST hanyalah satu komponen dari sistem pengawasan perbatasan kita yg terdiri dari banyak komponen lainnya... dan dengan tugas yg spesifik juga... Dinegara asalnya (Brazil) doi digunakan sbg pesawat patroli hutan Amazon, untuk mengawasi illegal logging, drug cartels, n penyelundupan2 lainnya.. masalah2 yg juga kita hadapi di Kalimantan n Papua.. so klo ada pilot ST kita sampe melihat ada F-18 nyelonong masuk wilayah RI, yah laporkan aja ke base-nya minta support dari Su-27 atau F-16 kita untuk intersep.. karena sudah jelas sebagai pesawat COIN, intercepting F-18 is not one of ST's job.. so tidak ada alasan juga untuk moral pilot jadi drop gara2 itu..
JadgpanzerIV - 03/04/2010 02:57 AM
#43

Quote:
Original Posted By masbagong
Pertanyaan sy lebih ke konsep "apakah pesawat berkemampuan COIN urgent diadakan" ?

1). Aceh >- bukan lagi insurgency tp lebih ke kamtibmas/kriminalitas >- Polisi cukup
2). Maluku >- bukan lagi insurgency tp lebih ke kamtibmas/kriminal >- Polisi cukup
3). Kalimantan >- ?? (siapa insurgence-nya ?).
4). Papua >- yes, insurgence. Kebanyakan bawa panah dan tombak. Layakkah dihadapi dgn pesawat COIN ?. Nyatanya persuasi dan beras serta bahan pokok lainnya (termasuk bir) lebih efektif.

Yg jadi perhatian sy adalah konsep hankam kita. Jika memang COIN perlu "for some reasons", ya Super Tucano merupakan kandidat utama. Tp apakah urgent ? My answer is NO. Pengganti Hawk lebih urgent. Kenapa ? Karena Advance Trainer maupun CAS bisa melakukan tugas COIN meskipun tidak seefektif/optimal pswt COIN. Tetapi teknologi sensor bisa menutupi kelemahan2 tsb. So mana yg akan lebih efektif jadi COIN: ST dgn peralatan sensor standard (camera pod) atau Hawk dgn camera pod, FLIR cam, LIDAR, NV cam ?


jawaban:
1&2. ok.. setuju..
3. Malingshit tuh?? ma pembalak liar dari sono.. ato TDM yang melanggar batas? who knows..
4. Papua.. Aushit yang dateng dari papua nuigini bisa tuh.. kasi OPM senjata dll..
5. tambah timor leste, yang jadi boneka aushit?.. ga masuk kah..

Patroli perbatasan apakah cuma pake radar?? wong radar aja masih kurang.. dan yang jelas.. BIAYA OPERASIONAL & PERAWATAN jauh lebih murah dibanding dengan Hawk ato sejenisnya.
Vintorez - 03/04/2010 02:58 AM
#44

Urgensi kita sebenarnya adalah KITA BUTUH PESAWAT TEMPUR !

So lupakan dulu masalah COIN, CAS, Advance Trainer etc etc...

Idealnya memang ini buat CAS, ini buat ground attack, ini buat COIN, ini buat trainer, etc.. tapi kondisi sekarang belum memungkinkan untuk kita memilah milah begitu, jadi untuk mengganti Bronco, kita "terpaksa" memilih yg "all-round performer". Bisa buat latihan, bisa buat COIN, bisa buat CAS, bisa buat light attack, bisa juga buat patroli.

So terserah ntar mau dipilih yg mana dari semua opsi yg ada.
masbagong - 03/04/2010 03:39 AM
#45

Quote:
Original Posted By JadgpanzerIV
jawaban:
1&2. ok.. setuju..
3. Malingshit tuh?? ma pembalak liar dari sono.. ato TDM yang melanggar batas? who knows..
4. Papua.. Aushit yang dateng dari papua nuigini bisa tuh.. kasi OPM senjata dll..
5. tambah timor leste, yang jadi boneka aushit?.. ga masuk kah..

Patroli perbatasan apakah cuma pake radar?? wong radar aja masih kurang.. dan yang jelas.. BIAYA OPERASIONAL & PERAWATAN jauh lebih murah dibanding dengan Hawk ato sejenisnya.


4. Insurgency disana agak kompleks. Ada yg ikut-ikutan dgn alasan tertentu (kebodohan, kelaparan, susah hidup). Ada yg karena merasa ada ketidakadilan dan terpinggirkan. Tapi ada yg cukup secretive (dibantu kekuatan militer "asing") yg biasanya gerakannya dlm kelompok kecil dan sangat mobile (gimana bisa diendus sama peswt COIN ??). Ingat kejadian penyanderaan Mapunduma ? Peswt COIN tidak efektif . Lha wong hutannya sangat lebat dan berbukit-bukit. UAV pinjaman dari Singapore aja hampir worthless kecuali ngandalin FLIR cam-nya. Malah yg cukup efektif adalah bbrp paranormal kita yg cukup akurat dlm menjejak keberadaan para sandera.

5. Maybe. Karena jarang hutan lebat bahkan sebagian besar tanahnya kering/tandus, fungsi air patrol bisa cukup efektif

Utk border patrol, infantery masih yg paling efektif. Pesawat seringkali digunakan utk patroli airspace. Biasanya patroli udara (utk pengawasan darat) akan menjadi efektif jika ada intel di darat yg akurat. Contohnya, gimana pesawat COIN bisa tahu kalo tongkang yg mengangkut kayu adalah illegal logging ? Memang pesawat bisa mengecek dokumen muatan kapal ? wekekekek. Kalau tugasnya hanya utk memonitor pergerakan obyek yg kemudian diteruskan ke kapal AL atau POLAIR, sebuah pesawat jet juga bisa melakukannya bahkan kerasnya suara mesin jet bisa mempunyai efek deterrent yg signifikan.

Utk patroli laut: apakah pesawat COIN bisa tahu bahwa suatu kapal ikan adalah kapal asing yg lg mencuri ikan ? Kita tahu lah akal para pencuri2 ikan itu. Bisa aja mereka pasang bendera merah putih di kapal mereka. Apakah pesawat COIN akan merapat dan memeriksa dokumen kapal ?

So COIN is COIN which is Counter Insurgency....dimana insurgency itu adalah suatu bentuk perlawanan bersenjata terhadap suatu negara yg diakui. Yg pasti kita tidak bisa berpendapat bahwa hanya pesawat COIN saja yg bisa melakukan patroli perbatasan.

Tetapi saya setuju dgn pendapat terakhir bahwa dari sisi maintenance dan operational cost, SUper Tucano lebih murah dibandingkan dgn Hawk atau pesawat sejenisnya meskipun dari sisi jarak tempuh Hawk maupun Yak dan sejenisnya mempunyai jark tempuh 2x dari Super Tucano.
masbagong - 03/04/2010 04:05 AM
#46

Quote:
Original Posted By Vintorez
Urgensi kita sebenarnya adalah KITA BUTUH PESAWAT TEMPUR !

So lupakan dulu masalah COIN, CAS, Advance Trainer etc etc...

Idealnya memang ini buat CAS, ini buat ground attack, ini buat COIN, ini buat trainer, etc.. tapi kondisi sekarang belum memungkinkan untuk kita memilah milah begitu, jadi untuk mengganti Bronco, kita "terpaksa" memilih yg "all-round performer". Bisa buat latihan, bisa buat COIN, bisa buat CAS, bisa buat light attack, bisa juga buat patroli.

So terserah ntar mau dipilih yg mana dari semua opsi yg ada.


Sebenernya DPR itu bisa dilobi kok asal ya kita transparan dan menjalin komunikasi dan pertemanan dgn mrk. Masak masalah yg krusial gitu anggaran jadi alasannya. Fight for it, dudes....Kenapa sy bilang fight for it krn pernah sy punya pengalaman nganterin temen yg ketemuan sm kenalannya bbrp orang anggota DPR. Udah makan-minum YARWE (bayar Dhewe-dhewe - bayar sendiri-sendiri), misi temen tercapai yakni proses fit-and-proper test lancar dan tidak ada imbalan apa-apa.

Nah justru kalo logikanya gini:

OK, kita cari yg bisa semuanya. Pilihan kita jatuh ke Super Tucano...taruh..12 buah. Pertanyaannya: apakah mereka (ke 12 ST) itu mampu melakukan tugasnya/misinya mengingat kecepatannya yg rendah tentunya bisa menjadi target empuk bagi banyak persenjataan modern ? Kalau uang itu memang cukup utk beli 2 buah F-16 bekas atau 3 buah YAK-130 atau sejenisnya, ya mending beliin Yak-130 atau sejenisnya. Efek deterrentnya jelas lebih besar dibandingkan Super Tucano yg max speednya ~ 500 km/jam dan jarak tempuhnya separoh dari Yak-130 atau sejenisnya. Kecuali doktrin hankam kita selalu menekankan insurgency sebagai gangguan utama hankam...daripada beli 12 ST mending uangnya utk memperkuat intelijen kita aja....dan Densus 88
Le CheF - 03/04/2010 04:19 AM
#47

^ .. kalo nggak ada kemauan pemerintah untuk ngucurin dana .. yaah rame 2x laah bikin itu pasukan 2x khusus (dan intelejen), jelas biayanya lebih murah ketimbang peremajaan alutsista jadul .. lebih nyaman secara politis buat pemerintah dan para tetangga; sekian ribu pasukan elit mo dideploy pake apa kalo armada angkutnya nggak ada ??

btw, info paranormal beraksi di mapenduma nya di share dong, belum pernah denger yang satu ini .. he he
senopati NKRI - 03/04/2010 04:19 AM
#48

Quote:
Original Posted By Vintorez
Urgensi kita sebenarnya adalah KITA BUTUH PESAWAT TEMPUR !

So lupakan dulu masalah COIN, CAS, Advance Trainer etc etc...

Idealnya memang ini buat CAS, ini buat ground attack, ini buat COIN, ini buat trainer, etc.. tapi kondisi sekarang belum memungkinkan untuk kita memilah milah begitu, jadi untuk mengganti Bronco, kita "terpaksa" memilih yg "all-round performer". Bisa buat latihan, bisa buat COIN, bisa buat CAS, bisa buat light attack, bisa juga buat patroli.

So terserah ntar mau dipilih yg mana dari semua opsi yg ada.


maksudnya pesawat multirole yg mumpuni?justru krn qt g da uang mknya kmampuan kita utk beli pswt kyk gene lemah.F 16,Hawk ma sukhoi single sit kan udah multi role. Mski sama2 multirole,setiap pswt mempunyai klbhn yg berbda dmn keefektfan serangn udara ke darat. Efektfitas pswt multirole dlm srangam udara darat,msh klh ma peswt yg emang dkhuskan utk tipe2 srgan trsbut.hal ini dtambh knyataan qt br mampu scra mandiri membuat prsnjataan serang udara darat pada tingkt menengah. Yakni bom jatuh/free fall bomb dan ffar roket.
Vintorez - 03/04/2010 04:30 AM
#49

Quote:
Original Posted By masbagong

OK, kita cari yg bisa semuanya. Pilihan kita jatuh ke Super Tucano...taruh..12 buah. Pertanyaannya: apakah mereka (ke 12 ST) itu mampu melakukan tugasnya/misinya mengingat kecepatannya yg rendah tentunya bisa menjadi target empuk bagi banyak persenjataan modern ? Kalau uang itu memang cukup utk beli 2 buah F-16 bekas atau 3 buah YAK-130 atau sejenisnya, ya mending beliin Yak-130 atau sejenisnya. Efek deterrentnya jelas lebih besar dibandingkan Super Tucano yg max speednya ~ 500 km/jam dan jarak tempuhnya separoh dari Yak-130 atau sejenisnya. Kecuali doktrin hankam kita selalu menekankan insurgency sebagai gangguan utama hankam...daripada beli 12 ST mending uangnya utk memperkuat intelijen kita aja....dan Densus 88

Ane ga bilang harus Super Tucano, atau harus Yak-130 etc. Ane bilang terserah nanti pesawat apa yg dipilih dari semua opsi yg ada. Karena urgensi kita adalah menambah jumlah pesawat tempur. So kalau konteksnya pengganti OV-10, tentu penggantinya pesawat dgn role yg sama dengan OV-10. Kalau yg dipilih Tucano ya OK, Yak-130 ya syukur, KO-1 yo monggo...

Dan kalau kita bicara ttg target empuk untuk persenjataan modern, IMHO hampir semua pesawat tempur adalah target empuk bagi persenjataan modern. F-16, F/A-18, MiG-29.. you name it, even F-117 yg stealth aja udah pernah ditembak jatuh...

So kalau mau nyari pesawat yg ga bakalan jadi sasaran empuk persenjataan modern, kita mesti beli PAK-FA atau F-22 mas... itupun belum pasti aman karena F-22 belum pernah diincar Triumf, dan PAK-FA belum pernah jadi target PAC-3...
senopati NKRI - 03/04/2010 04:32 AM
#50

Quote:
Original Posted By masbagong
Sebenernya DPR itu bisa dilobi kok asal ya kita transparan dan menjalin komunikasi dan pertemanan dgn mrk. Masak masalah yg krusial gitu anggaran jadi alasannya. Fight for it, dudes....Kenapa sy bilang fight for it krn pernah sy punya pengalaman nganterin temen yg ketemuan sm kenalannya bbrp orang anggota DPR. Udah makan-minum YARWE (bayar Dhewe-dhewe - bayar sendiri-sendiri), misi temen tercapai yakni proses fit-and-proper test lancar dan tidak ada imbalan apa-apa.

Nah justru kalo logikanya gini:

OK, kita cari yg bisa semuanya. Pilihan kita jatuh ke Super Tucano...taruh..12 buah. Pertanyaannya: apakah mereka (ke 12 ST) itu mampu melakukan tugasnya/misinya mengingat kecepatannya yg rendah tentunya bisa menjadi target empuk bagi banyak persenjataan modern ? Kalau uang itu memang cukup utk beli 2 buah F-16 bekas atau 3 buah YAK-130 atau sejenisnya, ya mending beliin Yak-130 atau sejenisnya. Efek deterrentnya jelas lebih besar dibandingkan Super Tucano yg max speednya ~ 500 km/jam dan jarak tempuhnya separoh dari Yak-130 atau sejenisnya. Kecuali doktrin hankam kita selalu menekankan insurgency sebagai gangguan utama hankam...daripada beli 12 ST mending uangnya utk memperkuat intelijen kita aja....dan Densus 88


emang kcptan rendah,tp bukan brarti gak bergigi lwn pswt cnggih ato snjt modern laen. ST dbagian bwh,dlengkapi armor jg buat melindungi dr prlawan msh yg dhajar.itu udh standar utk pswt coin.trlbh pnglaman malvinas,menunjukkan bahwa pucara yg jg di lindungi armor mcm tu selamat dr hantaman manpad pskan inggris.blajar dr perang itu jg,pesawat coin jg hrs ada peraltan cnggh dan mampu setidaknya membrikan perlawan trhdp pesawat intercept/pemburu. Maka lahirlah ST 314 ini.
Vintorez - 03/04/2010 04:40 AM
#51

Quote:
Original Posted By senopati NKRI
maksudnya pesawat multirole yg mumpuni?justru krn qt g da uang mknya kmampuan kita utk beli pswt kyk gene lemah.F 16,Hawk ma sukhoi single sit kan udah multi role. Mski sama2 multirole,setiap pswt mempunyai klbhn yg berbda dmn keefektfan serangn udara ke darat. Efektfitas pswt multirole dlm srangam udara darat,msh klh ma peswt yg emang dkhuskan utk tipe2 srgan trsbut.hal ini dtambh knyataan qt br mampu scra mandiri membuat prsnjataan serang udara darat pada tingkt menengah. Yakni bom jatuh/free fall bomb dan ffar roket.

Sama seperti jawaban ane untuk masbagong diatas, konteksnya adalah pengganti OV-10, so yg dicari tentu pesawat dengan role yg kurang lebih sama, dan disesuaikan dengan kondisi keuangan kita dan "willingness" pemerintah sekarang tanpa melupakan aspek teknologi.

Dan jangan samain "multirole" pesawat kelas ini dengan multirolenya MRCA gan. "Multirole" untuk pesawat sekelas ini ya bisa untuk CAS, bisa untuk COIN, bisa untuk pesawat latih, bisa untuk pesawat patroli, dan kalau amat sangat terpaksa sekali bisa juga untuk air to air combat (kan bisa nenteng short range AAM)...

btw siapa sih yg ga pengen punya 2 skadron Su-35BM atau Block-60 ? Tapi untuk pengganti OV-10 kita itu overkill gan...
senopati NKRI - 03/04/2010 04:51 AM
#52

Quote:
Original Posted By Vintorez
Sama seperti jawaban ane untuk masbagong diatas, konteksnya adalah pengganti OV-10, so yg dicari tentu pesawat dengan role yg kurang lebih sama, dan disesuaikan dengan kondisi keuangan kita dan "willingness" pemerintah sekarang tanpa melupakan aspek teknologi.

Dan jangan samain "multirole" pesawat kelas ini dengan multirolenya MRCA gan. "Multirole" untuk pesawat sekelas ini ya bisa untuk CAS, bisa untuk COIN, bisa untuk pesawat latih, bisa untuk pesawat patroli, dan kalau amat sangat terpaksa sekali bisa juga untuk air to air combat (kan bisa nenteng short range AAM)...

btw siapa sih yg ga pengen punya 2 skadron Su-35BM atau Block-60 ? Tapi untuk pengganti OV-10 kita itu overkill gan...


ST bs dlengkapi radar buat itu,kyknya c sepaket dgn standarnya.kekurangan mungkn g da camera intainya.tp bs mantau aktftas dbwh,prnh liat film behind enemy lines?kyk gtlah qira2 radarnya.amrik mlh niru persis neh ST cm dkash kode lain yakni AT 6B.perbdaan cm dikit di alat elktronik,bentk ma mesin sama persis produsena.radar dsb memilih beda perushaan.
Vintorez - 03/04/2010 04:59 AM
#53

Quote:
Original Posted By senopati NKRI
ST bs dlengkapi radar buat itu,kyknya c sepaket dgn standarnya.kekurangan mungkn g da camera intainya.tp bs mantau aktftas dbwh,prnh liat film behind enemy lines?kyk gtlah qira2 radarnya.amrik mlh niru persis neh ST cm dkash kode lain yakni AT 6B.perbdaan cm dikit di alat elktronik,bentk ma mesin sama persis produsena.radar dsb memilih beda perushaan.

Iya sih, ane jg setuju klo kita beli Tucano gan, tapi ada beberapa "tokoh" yg nolak Tucano karena pakai baling baling. Bagi mereka pesawat dengan baling baling berarti pesawat jadul...
masbagong - 03/04/2010 05:08 AM
#54

Quote:
Original Posted By Vintorez
Sama seperti jawaban ane untuk masbagong diatas, konteksnya adalah pengganti OV-10, so yg dicari tentu pesawat dengan role yg kurang lebih sama, dan disesuaikan dengan kondisi keuangan kita dan "willingness" pemerintah sekarang tanpa melupakan aspek teknologi.

Dan jangan samain "multirole" pesawat kelas ini dengan multirolenya MRCA gan. "Multirole" untuk pesawat sekelas ini ya bisa untuk CAS, bisa untuk COIN, bisa untuk pesawat latih, bisa untuk pesawat patroli, dan kalau amat sangat terpaksa sekali bisa juga untuk air to air combat (kan bisa nenteng short range AAM)...

btw siapa sih yg ga pengen punya 2 skadron Su-35BM atau Block-60 ? Tapi untuk pengganti OV-10 kita itu overkill gan...


Nah...sekarang kita mesti tahu dulu deh seberapa efektifkah OV-10 selama mengabdi ? Apakah selama puluhan tahun pengabdian itu dia benar2 optimum perannya ? OK semasa TimTim memang perannya cukup besar meskipun kemudian tugas CAS dibantu oleh A4. Tetapi selama era 90-an keatas...apakah tugasnya sebagai COIN mengharuskannya bekerja round-the-clock alias cukup sibuk ? Saat operasi Aceh bbrp th silam pun, peran COIN (kalaupun digunakan) kurang efektif. Terbukti, implikasi thd GAM tidak begitu signifikan. Mereka masih bisa upacara bendera dgn aman kok. Bahkan CAS pun jarang dipakai. Sy tidak melihat urgensinya. Apakah keberadaan OV-10 sangat2 krusial sehingga ST harus diadakan ? Kalau memang masalah anggaran, lebih baik buat beli 20-30 Cessna buat COIN. Kecepatannya malah bisa lebih rendah, maintenance sangat-sangat rendah. Tinggal tempelin Minimi atau senjata otomatis kal < 20mm. Atau lebih tepatnya lagi dibeliin Helikopter. Kan bisa juga membantu jika ada bencana...juga bisa buat deploy Densus 88 ngejar teroris.
blackjack101 - 03/04/2010 05:33 AM
#55

Quote:
Original Posted By justplay
mitsu lagi mitsu lagi...


semua mainan maunya dibeli gan?
blue_danube - 03/04/2010 07:25 AM
#56

A-5 Fantan? set dah... gw ngusulin F-7 yang turunan MiG-21 aja dihina2... lha ini malah turunan MiG-19... gantiin bronco pake A-5? yang boneng... mending juga Super Tucano...
Cl3puxs - 03/04/2010 08:55 AM
#57

udahlah TNI kan dah pilih super tucano, dan TNI tw apa yg mereka butuhin.....
mbok sebaiknya kita dukung aja.......
ntu aja dapetin persetujuannya aja susah.....

Quote:
Original Posted By blue_danube
A-5 Fantan? set dah... gw ngusulin F-7 yang turunan MiG-21 aja dihina2... lha ini malah turunan MiG-19... gantiin bronco pake A-5? yang boneng... mending juga Super Tucano...


nah lo sales f-7 kluar....
bkusmini - 03/04/2010 09:19 AM
#58

Loitering time nya yg jauh, sama minimum stall speed
wekaweka - 03/04/2010 10:05 AM
#59

Quote:
Original Posted By masbagong
Nah...sekarang kita mesti tahu dulu deh seberapa efektifkah OV-10 selama mengabdi ? Apakah selama puluhan tahun pengabdian itu dia benar2 optimum perannya ? OK semasa TimTim memang perannya cukup besar meskipun kemudian tugas CAS dibantu oleh A4. Tetapi selama era 90-an keatas...apakah tugasnya sebagai COIN mengharuskannya bekerja round-the-clock alias cukup sibuk ? Saat operasi Aceh bbrp th silam pun, peran COIN (kalaupun digunakan) kurang efektif. Terbukti, implikasi thd GAM tidak begitu signifikan. Mereka masih bisa upacara bendera dgn aman kok. Bahkan CAS pun jarang dipakai. Sy tidak melihat urgensinya. Apakah keberadaan OV-10 sangat2 krusial sehingga ST harus diadakan ? Kalau memang masalah anggaran, lebih baik buat beli 20-30 Cessna buat COIN. Kecepatannya malah bisa lebih rendah, maintenance sangat-sangat rendah. Tinggal tempelin Minimi atau senjata otomatis kal < 20mm. Atau lebih tepatnya lagi dibeliin Helikopter. Kan bisa juga membantu jika ada bencana...juga bisa buat deploy Densus 88 ngejar teroris.


ga harus pemberontakan tapi penyelundupan, pencurian ikan, pembalakkan hutan juga merupakan ancaman riil juga buat negara ini.

Untuk memberi ilustrasi yang lebih jelas, liat aja deh video2 di bawah, seperti ini kira2 peran Super Tucano nantinya:

Super Tucano nembak jatuh pesawat drug dealer:

[youtube]gHDZqUa0m1s&feature=PlayList&p=45D9AF529021A645&playnext_from=PL&playnext=1&index=17[/youtub e]

Super Tucano melakukan patroli dan intersepsi terhadap pesawat yang dicurigai

[youtube]Dk2FYwPSwCw&feature=related[/youtube]
JadgpanzerIV - 03/04/2010 10:50 AM
#60

Quote:
Original Posted By masbagong
4. Insurgency disana agak kompleks. Ada yg ikut-ikutan dgn alasan tertentu (kebodohan, kelaparan, susah hidup). Ada yg karena merasa ada ketidakadilan dan terpinggirkan. Tapi ada yg cukup secretive (dibantu kekuatan militer "asing") yg biasanya gerakannya dlm kelompok kecil dan sangat mobile (gimana bisa diendus sama peswt COIN ??). Ingat kejadian penyanderaan Mapunduma ? Peswt COIN tidak efektif . Lha wong hutannya sangat lebat dan berbukit-bukit. UAV pinjaman dari Singapore aja hampir worthless kecuali ngandalin FLIR cam-nya. Malah yg cukup efektif adalah bbrp paranormal kita yg cukup akurat dlm menjejak keberadaan para sandera.

5. Maybe. Karena jarang hutan lebat bahkan sebagian besar tanahnya kering/tandus, fungsi air patrol bisa cukup efektif

Utk border patrol, infantery masih yg paling efektif. Pesawat seringkali digunakan utk patroli airspace. Biasanya patroli udara (utk pengawasan darat) akan menjadi efektif jika ada intel di darat yg akurat. Contohnya, gimana pesawat COIN bisa tahu kalo tongkang yg mengangkut kayu adalah illegal logging ? Memang pesawat bisa mengecek dokumen muatan kapal ? wekekekek. Kalau tugasnya hanya utk memonitor pergerakan obyek yg kemudian diteruskan ke kapal AL atau POLAIR, sebuah pesawat jet juga bisa melakukannya bahkan kerasnya suara mesin jet bisa mempunyai efek deterrent yg signifikan.

Utk patroli laut: apakah pesawat COIN bisa tahu bahwa suatu kapal ikan adalah kapal asing yg lg mencuri ikan ? Kita tahu lah akal para pencuri2 ikan itu. Bisa aja mereka pasang bendera merah putih di kapal mereka. Apakah pesawat COIN akan merapat dan memeriksa dokumen kapal ?

So COIN is COIN which is Counter Insurgency....dimana insurgency itu adalah suatu bentuk perlawanan bersenjata terhadap suatu negara yg diakui. Yg pasti kita tidak bisa berpendapat bahwa hanya pesawat COIN saja yg bisa melakukan patroli perbatasan.

Tetapi saya setuju dgn pendapat terakhir bahwa dari sisi maintenance dan operational cost, SUper Tucano lebih murah dibandingkan dgn Hawk atau pesawat sejenisnya meskipun dari sisi jarak tempuh Hawk maupun Yak dan sejenisnya mempunyai jark tempuh 2x dari Super Tucano.


"the lighter, smaller and lower you go, the more kinds of threats there are that can take you down"

For an aircraft to be successful and useful in a counter insurgency situation, it must have a balance of several attributes.

1. Endurance: The aircraft must be able to loiter over the battlefield for extended periods of time to provide support for troops on the ground.
(OV-10 Bronco bisa terbang selama 3 jam, Pesawat2 jet tidak bisa selama itu , paling lama 1jam.)

2. Slow speed maneuverability: To accurately hit small and camouflaged ground targets, the aircraft must be able to fly low and slow to be able to see. Higher speed aircraft like the F-16 have difficulty moving slow enough to spot targets like small bunkers, and even if they see them, they usually will have to come around for another pass, because they have flown a few thousand feet by the time they can recognize and confirm the target.

3. Survivability: Since the aircraft has to hang around a long time, flying low and slow, it is certainly going to receive ground fire from small arms, AA guns, rockets, and surface to air missiles. The aircraft has be designed to meet these threats as well as possible. Part of this is making the aircraft as tough as possible with extra armor for the pilots and redundant systems. Another is making sure the aircraft has systems like chaff and flares to increase its resistance to advance anti-air weapon.

Persyaratan COIN harus mudah si perbaiki, tidak membutuhkan suku cadang yang mahal, perawatan, dan tim khusus untuk perbaikan. dan pilihan yang paling cocok ya bermesin turboprop. mesin jet terlalu mahal untuk support dan maintenance, dan yang jelas lebih mudah perbaiki turboprop dibanding jet.
Mudah diterbangkan dalam kondisi lapangan terbang apapun, kecil dan pendek (Bronco terbang dalam jarak cuma 800 feet).
Page 3 of 10 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > NAMC Q-5 FANTAN sebagai Pengganti OV-10 Bronco TNI-AU