Karesidenan Besuki
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Besuki > Sejarah Besuki [Kota yang Tergadaikan] + Foto2
Total Views: 10596
Page 1 of 15 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

tokangan - 06/05/2010 01:28 AM
#1
Sejarah Besuki [Kota yang Tergadaikan] + Foto2 (UPDATE)
Buat Agan2/aganwati yang belum tau sejarah berdirinya Besuki,, ane punya sedikit Info nya ...
Ne cerita tentang berdirinya Besuki...
Semoga setelah membaca thread ini.. Agan2/Aganwati2 terutama yang berasal dari Besuki,,memiliki rasa bangga dan ingin membangun kembali Besuki seperti masa kejayaan dulu.
Cekidot



Spoiler for Sejarah Besuki

Secara administratif, Besuki masuk wilayah kecamatan di Kabupaten Situbondo, namun budaya dan dialek bahasa Madura masyarakatnya justru sama dengan orang di Kabupaten Bondowoso.

Masyarakat Besuki dan Bondowoso memiliki budaya dan dialek yg sama dengan masyarakat di Pamekasan, Madura, sedangkan masyarakat di wilayah Panarukan, Kabupaten Situbondo ke timur memiliki kesamaan budaya dg Sumenep.

Kesamaan budaya itu, menurut tokoh masyarakat Besuki, krn kedekatan Ke Pate Alos, demang pertama di Besuki dengan pembabat Alas di Bondowoso, yakni Ki Bagus Asra atau dikenal Ki Ronggo.

Ia menjelaskan, pada perkembangan pemerintahan di Besuki yang dipegang oleh Raden Sahirudin Wiroastro alias Wirodipuro II tersingkirkan setelah Belanda menerapkan politik adu domba.

Saat itu Belanda mendirikan pemerintahan di Panarukan yang pimpinannya masih ada hubungan keluarga dengan Raden Sahirudin. Akhirnya keluarga dan keturunan Sahirudin Wiroastro lari ke Bondowoso.

Keluarga itu, mendapatkan tempat terhormat dari keluarga Ki Bagus Asra (Ki Ronggo) yang juga berasal dari Madura. Ki Ronggo memiliki ikatan yang kuat dengan Ke Pate Alos karena pernah berguru kepadanya.

Bahkan ketika Ki Ronggo membabat alas di Bondowoso juga atas perintah Ke Pate Alos.

ketika di Bondowoso dibentuk pemerintah, maka bupati pertamanya adalah Raden Abdurahman Wirodipuro yang merupakan cicit dari Ke Pate Alos. Hal itu dilakukan sebagai bentuk balas budi dan penghormatan Ki Ronggo kepada gurunya, Ke Pate Alos.

Raden Abdurahman Wirodipuro itu dilantik mjd Bupati Bondowoso th 1850 M berdasarkan besluit Nomor 3 tertanggal 17 Oktober 1850 yang dikeluarkan Belanda. Beliau memerintah hingga tahun 1879 dan kemudian digantikan oleh menantunya, Raden Aryo Tumenggung Wondokusumo.

Tidak hanya ikatan antar keturunan guru dg muridnya, pada perkembangan berikutnya, tidak sedikit masyarakat Besuki yang lebih memilih Bondowoso untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk ketika keluarganya sakit. Mereka banyak yang memilih berobat ke Bondowoso, meskipun jarak Besuki ke Kota Situbondo dengan jarak Besuki ke Kota Bondowoso sama2 sekitar 35 Km

Mantan Kepala Seksi Kebudayaan pada Dinas P dan K Kabupaten Bondowoso, Hapi Tedjo Pramono mengakui bahwa masyarakat Besuki memiliki akar sejarah yang sama dg Bondowoso.

Kota Besuki, memiliki letak yang sangat strategis karena berada di perlintasan utama kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya menuju Bali lewat jalur darat.

Kota kecamatan yang kini menjadi bagian dari Kebupaten Situbondo, Jawa Timur itu sebetulnya memiliki sejarah panjang sbg salah kota penting di Nusantara ini.

Namun, nasib kota itu seperti mengulang kisah masa lalu yang pernah digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar keturunan Tiong Hoa di Surabaya. Kota itu kini seolah tetap tergadaikan meskipun masyarakatnya sebetulnya tdk menginginkan hal itu.

Misalnya, Besuki hanya dijadikan nama untuk polisi wilayah (Polwil) yg markasnya ada di Kabupaten Bondowoso atau badan koordinator wilayah (Bakorwil) di bawah Pemprov Jatim.

Kebesaran nama Besuki itu hanya digunakan sbg penanda, sementara sang pemilik sepertinya tidak memperoleh "imbalan" apa-apa, misalnya sekedar melestarikan warisan kebesaran sejarahnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata Kabupaten Situbondo, Agus Cahyono mengakui bahwa dari sisi sejarah, Besuki merupakan aset nasional.

"Besuki itu dulunya kota yg cukup besar, namun kemudian statusnya 'melorot' (turun) terus hingga kini menjadi kecamatan. Karena itu, sampai sekarang di kepolisian masih menggunakan nama Polwil Besuki, meskipun markasnya di Bondowoso," ujarnya.

Ia mengemukakan, Besuki pernah menjadi keresidenan dan pada saat lembaga itu diubah menjadi nama pembantu gubernur, kantornya tidak lagi di Besuki, melainkan di Bondowoso.
Setelah itu pindah ke Jember dan saat ini bergabung dg Bakorwil di Malang.

Sejarah Kota Besuki bermula dari diangkatnya Raden Bagus (RB) Kasim Wirodipuro sebagai demang pertama di Besuki. Kasim kemudian dikenal dengan nama Ki Pati Alos dan masyarakat Besuki menyebut Ke Pate Alos.

RB Kasim dilantik menjadi Demang Besuki oleh Tumenggung Joyo Lelono yang berkedudukan di wilayah Kabupaten Probolinggo skrg. Beliau dilantik pada Sabtu manis, 8 September 1764 M, atau 12 Robiul Awal 1184 H. Pada Saat itu lah Nama Besuki di sebut sebut.

Tumenggung Joyo Lelono pernah berpesan, dengan nama Besuki, maka siapa yang berniat jelek terhadap Ke Pate Alos, maka perbuatan itu akan kembali ke dirinya sendiri. Mengenai arti Besuki itu sendiri, saya belum mendapat kejelasan.

Mungkin saja itu dari Bahasa Jerman ”Besuch” krn menurut informasi, tentara Belanda zaman dulu juga banyak yang berasal dari Jerman. Mungkin Besuki itu dulu tempat untuk membesuk, meskipun belum jelas maksudnya membesuk apa?

Dalam perkembangannya, pemerintahan pimpinan Ke Pate Alos, Besuki bertambah maju. Ke Pate Alos yang memimpin kademangan itu dgn berlokasi di utara alun-alun Besuki atau dikenal sebagai "dalem tengah" mendapatkan penghargaan dari Tumenggung Joyo Lelono.

Ke Pate Alos kemudian dilantik menjadi Patih Besuki pada tahun 1764. Dengan pengangkatan itu, maka status Besuki sebagai wilayah kedemangan naik menjadi setingkat kabupaten.

Pada perkembangan berikutnya, menurut dia, Besuki digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar Cina muslim di Surabaya bernama, Han Boei Sing, sekitar tahun 1770. Diduga Belanda menggadaikan wilayah Besuki karena membutuhkan uang dalam jumlah banyak.

Namun belum ditemukan fakta berapa nilai uang yang diterima Belanda saat itu. Karena Besuki berada di bawah kekuasaan Han Boei Sing, maka ia mengangkat seorang wali dengan pangkat Ronggo di Besuki dan berlanjut hingga sekitar enam Ronggo. Ronggo itu adalah pangkat.

Menurut dia, pada saat Ronggo di Besuki dijabat oleh Suro Adiwijoyo yang juga Cina muslim, pada sekitar tahun 1805, didirikan bangunan bersejarah di Besuki, seperti gedung keresidenan dan kewedanan serta masjid jamik," katanya.

Besuki kemudian ditebus oleh Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1813 senilai 618.720 Gulden. Data itu ia dapatkan dari catatan yang ditulis J. Hageman, J. Cz. dengan titel Soerabaia, Februari 1864.

Sekitar 13 tahun sebelum tebusan itu dilakukan, Ke Pate Alos meninggal. Pemerintah selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya. Ke Pate Alos dimakamkan di Kauman Barat atau Kampung Arab, Besuki.

Makam itu kini dikeramatkan dengan dikunjungi banyak orang untuk ziarah. Pada setiap malam jumat, Moh. Hasan Nailul Ilmi memimpin istighasah di makam tersebut bersama ratusan jamaahnya.

Namun, kemungkinan tidak banyak dari peziarah itu tahu, bahwa Ke Pate Alos itu dulunya pernah menjadi 'penguasa' di Besuki, kota tua yang dulu pernah "tergadaikan"

Menurut Beberapa sumber mengatakan tonggak berdirinya Besuki menjadi tonggak hari jadi kota Situbondo pula,namun ada yang mengatakan Hari jadi kota Situbondo adalah 19 September...terlepas dari perbedaan Presepsi tersebut menurut saya harus di kaji lebih Dalam,mangambil titik temu beberapa presepsi adalah penting,tapi yang harus lebih di pentingkan adalah apa yang telah dan akan kita Lakukan Untuk kemajuan Kota ini.


Ane punya beberapa koleksi foto kunonya gan...

Spoiler for Alun2 Besuki 1808


Spoiler for Alun2 situbondo


Spoiler for Kantor Pos Besuki 1930


Spoiler for Kantor Pos Panarukan 1930


Spoiler for masjid baiturrahman jami' besuki 1880


Spoiler for PG.Demmas besuki


Spoiler for resort taman besuki 1907


Spoiler for RUMAH BESUKI 1910


Spoiler for RUMAH Resident BESUKI 1915


Spoiler for rumah resident besuki 1907



UPDATE GAN.....
Cekidot:

Spoiler for cerobong PG.Pandjie 1880


Spoiler for kantor pos Landangan1930


Spoiler for KANTOR POS PANARUKAN 1930


Spoiler for pesta ulang tahun ratu belanda Queen wilhelmia di alun2 situbondo 1923


Spoiler for PG.Pandjie 1880


Spoiler for rumah asisten resident situbondo th 1931

[B]
Thanks Buat Janusandi Dah nimpukin ane Cendol... jadi tambah semangat buat Thread tentang sejarah Besuki[/B]

Nah... itu beberapa foto kuno Gan...
Kalo agan/aganwati ada yang punya koleksi lagi.. silahkan di Share...
Di rate aja biar banyak yang tau tentang Besuki....
Ditimpuk : ane gak nolak...

foto-foto BUNG KARNO shalat di masjid amerika
- 06/05/2010 01:29 AM
#2

Spoiler for Sejarah Besuki

Secara administratif, Besuki masuk wilayah kecamatan di Kabupaten Situbondo, namun budaya dan dialek bahasa Madura masyarakatnya justru sama dengan orang di Kabupaten Bondowoso.

Masyarakat Besuki dan Bondowoso memiliki budaya dan dialek yang sama dengan masyarakat di Pamekasan, Madura, sedangkan masyarakat di wilayah Panarukan, Kabupaten Situbondo ke timur memiliki kesamaan budaya dengan Sumenep.

Kesamaan budaya itu, menurut tokoh masyarakat Besuki, karena kedekatan Ke Pate Alos, demang pertama di Besuki dengan pembabat Alas di Bondowoso, yakni Ki Bagus Asra atau dikenal Ki Ronggo.

Ia menjelaskan, pada perkembangan pemerintahan di Besuki yang dipegang oleh Raden Sahirudin Wiroastro alias Wirodipuro II tersingkirkan setelah Belanda menerapkan politik adu domba.

Saat itu Belanda mendirikan pemerintahan di Panarukan yang pimpinannya masih ada hubungan keluarga dengan Raden Sahirudin. Akhirnya keluarga dan keturunan Sahirudin Wiroastro lari ke Bondowoso.

Keluarga itu, mendapatkan tempat terhormat dari keluarga Ki Bagus Asra (Ki Ronggo) yang juga berasal dari Madura. Ki Ronggo memiliki ikatan yang kuat dengan Ke Pate Alos karena pernah berguru kepadanya.

Bahkan ketika Ki Ronggo membabat alas di Bondowoso juga atas perintah Ke Pate Alos.


ketika di Bondowoso dibentuk pemerintah, maka bupati pertamanya adalah Raden Abdurahman Wirodipuro yang merupakan cicit dari Ke Pate Alos. Hal itu dilakukan sebagai bentuk balas budi dan penghormatan Ki Ronggo kepada gurunya, Ke Pate Alos.

Raden Abdurahman Wirodipuro itu dilantik menjadi Bupati Bondowoso tahun 1850 M berdasarkan besluit Nomor 3 tertanggal 17 Oktober 1850 yang dikeluarkan Belanda. Beliau memerintah hingga tahun 1879 dan kemudian digantikan oleh menantunya, Raden Aryo Tumenggung Wondokusumo.

Tidak hanya ikatan antar keturunan guru dengan muridnya, pada perkembangan berikutnya, tidak sedikit masyarakat Besuki yang lebih memilih Bondowoso untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk ketika keluarganya sakit. Mereka banyak yang memilih berobat ke Bondowoso, meskipun jarak Besuki ke Kota Situbondo dengan jarak Besuki ke Kota Bondowoso sama-sama sekitar 35 Km.

Mantan Kepala Seksi Kebudayaan pada Dinas P dan K Kabupaten Bondowoso, Hapi Tedjo Pramono mengakui bahwa masyarakat Besuki memiliki akar sejarah yang sama dengan Bondowoso.

Kota Besuki, memiliki letak yang sangat strategis karena berada di perlintasan utama kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya menuju - Bali lewat jalur darat.

Kota kecamatan yang kini menjadi bagian dari Kebupaten Situbondo, Jawa Timur itu sebetulnya memiliki sejarah panjang sebagai salah kota penting di Nusantara ini.

Namun, nasib kota itu seperti mengulang kisah masa lalu yang pernah digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar keturunan Tiong Hoa di Surabaya. Kota itu kini seolah tetap tergadaikan meskipun masyarakatnya sebetulnya tidak menginginkan hal itu.

Misalnya, Besuki hanya dijadikan nama untuk polisi wilayah (Polwil) yang markasnya ada di Kabupaten Bondowoso atau badan koordinator wilayah (Bakorwil) di bawah Pemprov Jatim.

Kebesaran nama Besuki itu hanya digunakan sebagai penanda, sementara sang pemilik sepertinya tidak memperoleh "imbalan" apa-apa, misalnya sekedar melestarikan warisan kebesaran sejarahnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata Kabupaten Situbondo, Agus Cahyono mengakui bahwa dari sisi sejarah, Besuki merupakan aset nasional.

"Besuki itu dulunya kota yang cukup besar, namun kemudian statusnya 'melorot' (turun) terus hingga kini menjadi kecamatan. Karena itu, sampai sekarang di kepolisian masih menggunakan nama Polwil Besuki, meskipun markasnya di Bondowoso," ujarnya.

Ia mengemukakan, Besuki pernah menjadi keresidenan dan pada saat lembaga itu diubah menjadi nama pembantu gubernur, kantornya tidak lagi di Besuki, melainkan di Bondowoso.
Setelah itu pindah ke Jember dan saat ini bergabung dengan Bakorwil di Malang.

Sejarah Kota Besuki bermula dari diangkatnya Raden Bagus (RB) Kasim Wirodipuro sebagai demang pertama di Besuki. Kasim kemudian dikenal dengan nama Ki Pati Alos dan masyarakat Besuki menyebut Ke Pate Alos.

RB Kasim dilantik menjadi Demang Besuki oleh Tumenggung Joyo Lelono yang berkedudukan di wilayah Kabupaten Probolinggo sekarang. Beliau dilantik pada Sabtu manis, 8 September 1764 M, atau 12 Robiul Awal 1184 H. Pada Saat itu lah Nama Besuki di sebut sebut.

Tumenggung Joyo Lelono pernah berpesan, dengan nama Besuki, maka siapa yang berniat jelek terhadap Ke Pate Alos, maka perbuatan itu akan kembali ke dirinya sendiri. Mengenai arti Besuki itu sendiri, saya belum mendapat kejelasan.

Mungkin saja itu dari Bahasa Jerman ”Besuch” karena menurut informasi, tentara Belanda zaman dulu juga banyak yang berasal dari Jerman. Mungkin Besuki itu dulu tempat untuk membesuk, meskipun belum jelas maksudnya membesuk apa,?

Dalam perkembangannya, pemerintahan pimpinan Ke Pate Alos, Besuki bertambah maju. Ke Pate Alos yang memimpin kademangan itu dengan berlokasi di utara alun-alun Besuki atau dikenal sebagai "dalem tengah" mendapatkan penghargaan dari Tumenggung Joyo Lelono.

Ke Pate Alos kemudian dilantik menjadi Patih Besuki pada tahun 1764. Dengan pengangkatan itu, maka status Besuki sebagai wilayah kedemangan naik menjadi setingkat kabupaten.

Pada perkembangan berikutnya, menurut dia, Besuki digadaikan oleh Belanda kepada seorang saudagar Cina muslim di Surabaya bernama, Han Boei Sing, sekitar tahun 1770. Diduga Belanda menggadaikan wilayah Besuki karena membutuhkan uang dalam jumlah banyak.

Namun belum ditemukan fakta berapa nilai uang yang diterima Belanda saat itu. Karena Besuki berada di bawah kekuasaan Han Boei Sing, maka ia mengangkat seorang wali dengan pangkat Ronggo di Besuki dan berlanjut hingga sekitar enam Ronggo. Ronggo itu adalah pangkat.

Menurut dia, pada saat Ronggo di Besuki dijabat oleh Suro Adiwijoyo yang juga Cina muslim, pada sekitar tahun 1805, didirikan bangunan bersejarah di Besuki, seperti gedung keresidenan dan kewedanan serta masjid jamik," katanya.

Besuki kemudian ditebus oleh Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1813 senilai 618.720 Gulden. Data itu ia dapatkan dari catatan yang ditulis J. Hageman, J. Cz. dengan titel Soerabaia, Februari 1864 .

Sekitar 13 tahun sebelum tebusan itu dilakukan, Ke Pate Alos meninggal. Pemerintah selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya. Ke Pate Alos dimakamkan di Kauman Barat atau Kampung Arab, Besuki.

Makam itu kini dikeramatkan dengan dikunjungi banyak orang untuk ziarah. Pada setiap malam jumat, Moh. Hasan Nailul Ilmi memimpin istighasah di makam tersebut bersama ratusan jamaahnya.

Namun, kemungkinan tidak banyak dari peziarah itu tahu, bahwa Ke Pate Alos itu dulunya pernah menjadi 'penguasa' di Besuki, kota tua yang dulu pernah "tergadaikan"

Menurut Beberapa sumber mengatakan tonggak berdirinya Besuki menjadi tonggak hari jadi kota Situbondo pula,namun ada yang mengatakan Hari jadi kota Situbondo adalah 19 September...terlepas dari perbedaan Presepsi tersebut menurut saya harus di kaji lebih Dalam,mangambil titik temu beberapa presepsi adalah penting,tapi yang harus lebih di pentingkan adalah apa yang telah dan akan kita Lakukan Untuk kemajuan Kota ini.



sumber : http://sitoebondotempodoeloe.blogspot.com/2009/09/dari-besukike-hari-jadi-kota-situbondo.html


Nah... Gan... Kalo dah baca thread di atas mohon komen nya...
Bagaimana cara kita membangun Besuki agar bisa maju seperti pada masa jayanya dulu...

Mohon rate nya

UPDATE GAN....

Spoiler for Besoekisch-proefstation

Spoiler for De-societeit-te-Sitoebondo

Spoiler for esidentiehuis-te-Besoeki-aan-de-Straat-Madoera

Spoiler for stasiun Panarukan

Spoiler for Jembatan Gladak Kembar

Spoiler for dermaga besuki

Spoiler for dermaga besuki 2

Spoiler for dermaga besuki 3

Spoiler for dermaga besuki 4

Spoiler for event di Besuki zaman Belanda

Spoiler for kantor polisi

Spoiler for lomba di Besuki

Spoiler for masyarakat Besuki pada Zaman Belanda

Spoiler for masy. Besuki zaman Belanda 2

Spoiler for Pesisir besuki

Spoiler for pesisir-besuki2

Spoiler for residentswoning te besoeki op Oost-java 1866

Spoiler for rumah di Besuki

Spoiler for rumah mandor perhutani zaman Belanda di daerah taman

Spoiler for straat te Besoeki bij Sitoebondo 1880

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Kota Besuki 13 Sep 1929
Spoiler for 1

Spoiler for 2

Besuki 1910
Spoiler for 3


@ts : cek kulkas yah..


ane dikirimi cendol berderet gan :mewek
tokangan - 06/05/2010 01:38 AM
#3

UP DATE LAGI GAN...
ne Didaerah Jember..

Spoiler for societeitsgebouw-te-Djember

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Baloeng (Kantor Pos)

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Djember (Kantor Pos)

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Kalisat (Kantor Pos)

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Rambipoedji (Kantor Pos)

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Soekowono (Kantor Pos)

Spoiler for Post- en Telegraafkantoor te Tanggoel (Kantor Pos)

Spoiler for Suikerfabriek Semboro Nabij Tanggoel (Pabrik Gula)

Spoiler for De_katholieke_kerk_van_Djember.jpg

Spoiler for alun2 jember

Spoiler for De_aloen-aloen_te_Djember

Spoiler for Gezicht_vanaf_het_strand_van_Poeger_op_de_zeilen_van_binnenkomende_prauwen

Spoiler for Het_sociëteitsgebouw_te_Djember

Spoiler for Kantoorgebouw_van_de_N.V._Handels-_en_Transportonderneming_Djember

Spoiler for Tabakdroogschuur_met_aangeregen_bladeren_aan_de_anakkajoe's_Djember_TMnr_10011737.jpg

Spoiler for Djember 1900an

Spoiler for Djember - Huis ten bosch 1906

Spoiler for Djember - Salon toekang ramboet 1909

Spoiler for Djember Kotta 1900an 2

Spoiler for Djember Passerweg 1900an

Spoiler for Fermentieren - Sortieren. Hanpresse für Tabakballen, Djember, Java

Spoiler for k1-629

Spoiler for Karesidenan BESOEKI

Spoiler for Kautschukpflanzen.dhoe-sapi. Waringin

Spoiler for Kinderen in de rivier bij Djember

Spoiler for Bangunan stasiun di Jember,antara tahun 1927-1929

Spoiler for Pintu air di Jember, antara tahun 1927 - 1929
[/spoiler=Jalan sepanjang alun-alun di Jember,antara tahun 1927-1929]

Spoiler for Pasar di Jember,antara tahun 1927-1929

Spoiler for Alun-alun Jember,antara tahun 1927-1929

Spoiler for Gedung kantor N.V. Handels & Transportonderneming di Jember,antara th 1930-1940


SeKaresidenan Besoeki
Spoiler for Banyuwangi

Spoiler for Banyuwangi-telefoon 1909

Spoiler for adoe sapi di Banyuwangi

Spoiler for Toko Gruyter Banjoewangi 1912

Spoiler for Alun-Alun Bondowoso

Spoiler for Societeit-te-Bondosowo

Spoiler for Sitoebondo - Aloon aloon 1910an


Quote:
Original Posted By gnulkzih


Spoiler for Rumah Assistent Resident, Situbondo


before 1940


Spoiler for Rumah Assistent Resident, Bondowoso


before 1940

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Alun - ALun
Spoiler for alun-alun


13 September 1929

Spoiler for Masjid


13 September 1929

Quote:
Original Posted By gnulkzih

Spoiler for Dermaga di Panarukan



Spoiler for Kali Pabrik Kopi Telapak - Banyuwangi

Before 1920

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Kawah Ijen Before 1939
Spoiler for ijen

Spoiler for ijen2

Spoiler for ijen3

Spoiler for ijen4



Quote:
Original Posted By gnulkzih

Spoiler for Jembatan

Konstruksi jembatan kereta api besi di sungai dekat Banjoewangi
1890-1922
[spoiler=KA 1]

Spoiler for KA 2

Spoiler for Stasiun
1895-1910
[spoiler=KA 3]

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Banyuwangi
kereta Api Jalur Kalisat Banyuwangi
Spoiler

Terowongan di petak Kalisat-Banyuwangi
Spoiler for KA Kalisat

Spoiler for KA 5

Spoiler for KA 6

Proses Pembangunan 1895-1900
Spoiler for terowongan

Pengerjaan Rel 1901-1902
Spoiler for Rel 1

Spoiler for Rel 2

Spoiler for Rel 3

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Spoiler for terowongan

menurut sejarah dan gambar diatas untuk pengerjaan terowongan 1901-1902
pengerjaan Rel sampai 1910

romusha itu kan zaman jepang.. 1942-1945 cmiiw
jauh sebelum jalur ini di bikin


Quote:
Original Posted By gnulkzih
Alun2 Jember 1927-1929
Spoiler for alun-alun

Spoiler for alun2


BANYUWANGI

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Panorama Banyuwangi dan Pegunungan Idjen,Jawa Timur 1927-1929
Spoiler for idjen

Spoiler for idjen2


ALun- Lun 1920-1940
Spoiler for alun2


Perumahan,Kantor/Pabrik dan tangki Penyimpanan 'Mexolie' Banyuwangi 1929
Spoiler for Mexolie

Spoiler for Mexolie2

Spoiler for Mexolie3


Tari 1930
Spoiler for Gandrung


Quote:
Original Posted By gnulkzih
Kota Bondowoso
Stasion Bondowoso 1927-1929
Spoiler for station1

Spoiler for Stasion 1927-1929

Spoiler for station3


Spoiler for alun2

ALun-ALun 1927-1929
[spoiler=alun2 1]

Spoiler for alun2 2

Spoiler for alun2 3


Monumen Juliana 1927-1929
Spoiler for monumen

Spoiler for Rumah Asisten Residen Bondowoso 1927-1929


Gedung 1927-1929
Spoiler for gedung


Tempat Rekreasi 1927-1929
Spoiler for Tasnan

Spoiler for Tasnan2


Pabrik gula "Tangarang" Bondowoso
Tahun 1893-1927
Spoiler for PG

Spoiler for PG

Pertemuan publik tanggal 31 Agustus 1927 Bondowoso,Jawa Timur
Spoiler for 1

[/QUOTE]

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Masih di Bondowoso Tahun 1929
Kunjungan Gubernur-Jenderal de Graeff di Bondowoso
Spoiler for de Graeff


Paku Buwono X Solo berbicara dg Dr Serle selama adubanteng Bondowoso
Spoiler for Pakubuwono

Istri dari Paku Buwono X, Susuhunan Solo acara adubanteng Bondowoso
Spoiler for 1

Spoiler for 2

Pangeran Poerbonegoro, saudara Susuhunan Solo,acara adubanteng di Bondowoso
Spoiler for Poerbonegoro

Spoiler for adu banteng
tokangan - 06/05/2010 01:54 AM
#4

Disebut begitu karena dulunya Besuki adalah Ibu kota Karesidenan,,
Berarti dulunya Kota yang paling penting se-karesidenan Besuki..
Tapi sekarang,, seiring dengan perkembangan zaman,,
kota tersebut sangat lambat sekali perkembangannya,,
sehingga kalah dengan kota2 lain di karesidenan Besuki..

UPDATE gan...

Spoiler for Asal-Usul kota JEMBER
Ada beberapa versi kisah tentang asal usul kota Jember.Diantaranya ada versi yang mengatakan bahwa Jember dulunya adalah daerah yang berawa rawa. Kotor dan becek. Dibahasakan dengan kata "JEMBREK". Seiring berlalunya waktu, kata jembrek berubah menjadi Jember. Mengikuti lidah dan kebiasaan masyarakat lokal Jember.


Saya akan mengambil satu versi yang lain untuk anda. Semoga bermanfaat.

Alkisah pada suatu hari. Eh salah ding. Alkisah pada suatu masa. Nah ini kayaknya lebih keren. Hiduplah seorang putrid yang sangat seksi. Hehe.. Sori para netter, intermezzo.

Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara disbanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi. Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut bermigrasi. Mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.

Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kata2 jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang. JEMBER.

Itulah para netter, legenda singkat tentang asal usul kota Jember. Sampai hari ini, Jember masih didominasi oleh dua suku besar tersebut. Jawa dan Madura


Spoiler for Asal-Usul BANYUWANGI


Asal Usul Kota Banyuwangi

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Sumber: e-smartschool.com yang diambil dari elexmedia
tokangan - 06/05/2010 04:04 AM
#5

Agan2 tolong di rate ya...
biar tambah banyak yang liat

Bukankah Bangsa yang besar adalah Bangsa yang tidak lupa sejarah??

Quote:
Original Posted By gnulkzih
Kota Jember
Spoiler for Karyawan di kantor ANIEM Jember 1949



artikel mengenai aniem >-- http://af-za.facebook.com/note.php?note_id=97472019170
tokangan - 06/05/2010 04:08 AM
#6

UPDATE LAGI Gan..

ASAL-USUL KOTA BONDOWOSO

Spoiler for Asal-Usul BONDOWOSO

R. BAGUS ASSRAH PENDIRI BONDOWOSO
Semasa Pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar. Dengan semakin padatnya penduduk perlu dilakukan pengembangan wilayah dengan membuka hutan yaitu ke arah tenggara. Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas untuk membuka hutan tersebut. usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas tersebut. Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo terlebih dahulu menikahkan Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah yaitu putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Mertua Mas Astrotruno menghadiahkan kerbau putih “Melati” yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah) untuk dijadikan teman perjalanan dan penuntun mencari daerah-daerah yang subur.

Pengembangan wilayah ini dimulai pada 1789, selain untuk tujuan politis juga sebagai upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitas wilayah yang dituju penduduknya masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat melaksanakan tugasnya menuju arah selatan, menerobos wilayah pegunungan sekitar Arak-arak “Jalan Nyi Melas”. Rombongan menerobos ke timur sampai ke Dusun Wringin melewati gerbang yang disebut “Lawang Sekateng”. Nama-nama desa yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaiitu Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, lalu menuju selatan yaitu desa Kademangan dengan membangun pondol peristirahatan di sebelah barat daya Kademangan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Desa-desa yang lainnya adalah disebelah utara adalah Glingseran, tamben dan Ledok Bidara. disebelah Barat terdapat Selokambang, Selolembu. sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Praje,kan dan Wonoboyo. Sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, Keting. Jumlah Penduduk pada waktu itu adalah lima ratus orang, sedangkan setiap desa dihuni, dua, tiga, empat orang. kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing dan disebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak ±400 meter disebelah utara alun-alun.

Pekerjaan membuka jalan berlangsung dari tahun 1789-1794. Untuk memantapkan wilayah kekuasaan, Mas Astrotruno pada tahun 1808 diangkat menjadi demang denga gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah “Demang Blindungan”. Pembangunan kotapun dirancang, rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Dimana alun-alun tersebut semula adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena disitu tumbuh rerumputan makanan ternak. lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh (gemak), Sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi guna menghibur para pkerja. tontonan aduan sapi diselenggarakan secara berkala dan mejdi tontonan di Jawa Timur sampai 1998. Tas jasa-jasanya kemudian Astrotruno diangkat sebagai Nayaka merangkap Jaksa Negeri.
Dari ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” didapat keterangan bahwa pada tahun 1809 Raden bagus Asrrah atau mas Ngbehi Astrotruno dianggkat sebagi patih beriri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapau tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagi ubahan perkataan wana wasa. Maknanya kemudiandikaitkan dengan perkataan bondo, yang berarti modal, bekal, dan woso yang berarti kekuasaan. makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan kleras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Meskipun Belanda telah becokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukan Bondowoso kedalam wilayah kerkuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan personil praja masih wewenang Ronggo Besuki, maka tidak seorang pun yang berhak mengkliam lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepada Beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.

Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan perdikat Ronngo I. Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebgai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1829-1830.

Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekausaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangku antar 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang atau jalan S Yododiharjo (jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagi “Kabupaten lama”.Setelah mengundurkan diri, Ronggo I menekuni bidang dakwah agama Islam dengan bermukim di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, Jember), Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atai 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. jenazahnya dikebumikan disebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”.


Quote:
Original Posted By rauhul
Salam Kenal Gan!
Jujur gw suka banget Postingannya:2thumbup
jadi pingin punya mesin waktu trus jalan-jalan ke masa itu
Oia, kebetulan rumah gw cm 1 km ama pemandian tasnan bondowoso. nih coba aku tambah pictnya.. sorry kalo repost..

Spoiler for bondowoso

pemandian tasnan Bondowoso 1927


pemandian tasnan Bondowoso 2009


stasiun KA Bondowoso 1927


stasiun KA Bondowoso 2009
tokangan - 06/05/2010 09:03 AM
#7


Siap Gan...
Tu dah ane Update lagi.....

ASAL-USUL KOTA SITUBONDO

Spoiler for Asal-Usul SITUBONDO

Berdasarkan Legenda Pangeran Situbondo, nama Kabupaten Situbondo berasal dan narna Pangeran Situborido atau Pangeran Aryo Gajah Situbondo, dimana sepengetahuan masyarakat Situbondo bahwa Pangeran Situbondo tidak pernah menampakkan din, ha! tersebut dikarenakan keberadaannya di Kabupaten Situbondo kemungkinan sudah dalam keadaan meninggal-dunia akibat kekalahan pertarungannya dengan Joko Jumput, sehingga hanya ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala).
Pangeran Situbondo yang ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan dan sekarang dijadikan Ibukota Kabupaten Situbondo.Sedangkan menurut pemeo yang berkembang di masyarakat, arti kata SITUBONDO berasal dan kata : SITI = tanah dan BaANDO ikat , ha! tersebut dikaitkan dengan suatu keyakinan bahwa orang pendatang akan diikat untuk menetap di tanah Situbondo, kenjitaan mi mendekati kebenaran k banyak orang pendatang yang akhirnya menetap di Kabupaten Situbondo
Legenda Pangeran Situbondo

Pengeran Situbondo atau Pengeran Aryo Gajah Situbondo besaral dan Madura, pada suatu ketika dia ingin meminang Putni Adipati Suroboyo yang terkenal cantik, maka datanglah Pangeran Situbondo ke Surabaya untuk melamar Putri Adipati Suroboyo, naniun sayang keinginan Pangeran Situbondo sebenarnya ditolak oleh Adipati Suroboyo, akan tetapi penolakannya tidak secara terus-terang hanya diberi persyaratan untuk membábat hutan di sebelah Timur Surabaya, padahal persyaratan tersebut hanyalah suatu alasan yang maksudnya untuk mengulur-ulur waktu saja, sambil merencanakan siasat bagaimana caranya dapat menyingkirkan Pangeran Situbondo;Kesempatan Adipati Suroboyo menjalankan rencananya terbuka ketika
keponakannya yang bernama Joko Taruno dan Kediri, karena rupanya Joko Taruno juga bermaksud menyunting putrinya, dan Adipati Suroboyo tidak keberatan namun dengan syarat Joko Taruno harus mengalahkan Pangeran Situbondo tenlebih dahulu. Terdorong. kejnginannya untuk menyunting sang putri, maka berangkatlah Joko Taruno ke hutan untuk menantang Pangeran Situbondo, namun sayang Joko Taruno kalah dalam pertarungan tetapi kekalahannya tidak sampai terbunuh, sehingga Joko Taruno masih sempat mengadakan sayembara bahwa “barang siapa bisa mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapatkan hadiah separuh kekayaannya”.Mendengar sayembara tersebut datanglah Joko Jumput putra Mbok Rondo Prabankenco untuk mencobar maka ditantanglah Pangeran Situbondo oleh Joko Jumput, dan ternyata dalam ertarungan tersebut dimenangkan Joko Jumput, sedangkan Pangeran Situbondo tertendang jauh ke arah Timur hingga sampai di daerah Kabupaten Situbondo ditandai dengan ditemukannya sebuah ‘odheng’ (ikat kepala) Pangeran Situbondo, yang tepatnya ditemukan di wilayah Kelurahan Patokan yang sekanang menjadi Ibukota Kabupaten Situbondo.Selanjutnya kembali ke Surabaya dimana di hadapan Adipati Suroboyo kemenangan Joko Jumput atas Pangeran Situbondo diakui oleh Joko Taruno sebagai kemenangannya, narnun Adipati Suroboyo tidak begitu saja mempercayainya, maka untuk membuktikannya’ disuruhlah keduanya bertarung untuk menentukan siapayang menjadi pemenang sesungguhnya. Akhirnya pada saat pertarungan terjadi Joko Taruno tertimpa kutukan menjadi patung “Joko Dolog” akibat kebohongannya.Sejarah Kota SitubondoSejarah Kabupaten Situbondo tidak tenlepas dan sejarah Karesidenan Besuki, sehingga kita perlu mengkaji terlebih dahulu sejarah Karesidenan Besuki.Yang membabat Karesidenan Besuki pertama kali adalah Ki Pateh Abs (± th 1700) selanjutnya dipasrahkan kepada Tumenggung Joyo Lelono. Karena pada saat itu juga Belanda sudah menguasai Pulau Jawa (± th 1743) terutama di dáerah pesisir tennasuk pula Karesidenan Besuki dan dengan segala tipu-dayanya, maka pada akhirnya Tumenggung Joyo’ Lebono tidak berdaya hingga Karesidenan Besuki dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.Pada rnasanya (± th 1798) Pemerintahan Belanda pernah kekurangan keuangan untuk rnembiayai Pemerintahannya, sehingga Pulau Jawa pernah dikontrakkan kepada orang China, kemudian datanglah Raffles (± th 1811 - 1816) dan Inggris yang mengganti kekuasaan Belanda dan menebus Pulau Jawa, namun kekuasaan Inggris hanya bertahan beberapa tahun saja, selanjutnya Pulau Jawa di kuasai kembali o!eh Belanda, dan diangkatlah Raden Noto Kusumo putra dan Pangeran Sumenep Madura yang bergelar Raden Tumenggung Prawirodiningrat I (± th 1820) sebagai Residen Pertama Karesidenan Besuki.Da!am masa Pemerlntahan Kacten I I banyak membantu I-’emenntaii Belanda dalam membangun Kabupaten Situbondo, antara-lain Pembangunan Dam Air Pmtu Lima di Desa Kotakan Situbondot$etelah Raden Prawirodiningrat I meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah kaden Prawirodiningrat II’ (± th 1830). Dálam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II banyak menghasilkan karya yang cukup menonjol antara-lain berdirinya Pabrik Gula di Kabupaten Situbondo, dimulai dan PG. Demaas, PG. Wringinanorn, PG. Panji, dan PG. Olean, maka atas jasanya tersebut Pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa “Kalung Emas Bandul Singa”.Perlu diketahui pula pada masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat II wilayahnya hingga Kabupaten Probolinggo, terbukti salah seorang putranya yang bernama Raden Suringrono menj adi Bupati Probolinggo.Setelah Raden Prawirodiningrat II meninggal-dunia sebagai penggantinya adalah Raden Prawirodiningrat III (± th 1840). Tetapi dalam masa Pemerintahan Raden Prawirodiningrat III perkembangan Karesidenan Besuki kalah maju dibanding Kabupaten Situbondo, mungkin karena di Kabupaten Situbondo mempunyai beberapa pelabuhan yang cukup menunjang perkembangannya, yaitu antara-lain : Pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, sehingga pada akhimya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Situbondo dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro diangkat sebagai Bupati Pertama Kabupaten Situbondo, dan wilayah Karesidenan Besuki dibagi menjadi 2 yaitu: Besuki termasuk Suboh ke arah Barat hingga Banyuglugur ikut wilayah Kábupaten Bondowoso dan Miandingan ke arah Timur hingga Tapen ikut wilayah Kabupaten Situbondo, ha! mi terbukti dan logat bicara orang Besuki yang mirip dengan logat Bondowoso dan logat bicara orang Prajekan mirip dengan logat Situbondo.PERUBAHAN NAMA KABUPATENPada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah “Kabupaten Panarukan” dengan Ibukota Situbondo, sehingga dahulu pada masa Pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jenchal Daendels (± th 1808 - 1811) yang membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa dikenal dengan sehutan “Jalan Anyer - Panarukan” atau lebih dikenal lagi “Jalan Daendels”, kemudian seiring waktu berjalan barulah pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (± th 1972) diubah menjadi Kabupaten Situbondo dengan Ibukota Situbondo, berdasankan Peratunan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan Pemerintah Daeráh
Perlu diketahui pula bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa lalu belumlah berada di lingkungan Pendopo Kabupaten namun masih menempati rumah pribadinya, baru pada masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (± th 1900 - 1924), dia memperbaiki Pendopo Kabupaten sekaligus membangun Kediaman Bupati dan Paviliun Ajudan Bupati hingga sekarang mi, kemudian pada masa Pemerintahan Bupati Drs. H. Moh. Diaaman, Pemerintah Kabupaten Situbondo memperbaiki kembali Pendopo Kabupaten (± th 2002).
Terakhir kali diperbaharui ( Selasa, 13 Juni 2006 )
Sumber :http://situbondo.go.id


UPDATE
Quote:
Original Posted By gnulkzih
^
nambahin yah...

Bupati Besuki dan Istri-nya pada Tahun 1913

Spoiler for Bupati dan istrinya 1913


========================

Kedatangan Gubernur Jenderal de Graeff di Situbondo 1929

Gerbang Penyambutan di rumah Bupati di situbondo
Spoiler for Gerbang Penyambutan di rumah Bupati di situbondo


Gerbang Penyambutan di pintu masuk chinese town
Spoiler for Gerbang Penyambutan di pintu masuk chinese town


Rumah Bupati dan chinese town
Spoiler for Rumah Bupati dan chinese town


nah ini orangnya dateng..
Spoiler for Gubernur Jenderal de Graeff di Situbondo 1929


mantab euyyy updatennya agan gnulkzih
tokangan - 06/05/2010 09:14 AM
#8

Update

PANARUKAN

Quote:
Original Posted By sepedaonta
Spoiler for kantor pos panarukan 1930


mercu suar berusia 80 tahun masih kokoh mpe skr.... cm kantor posnya udah dirubah jadi toko/gudang (dblkg rmh ane tuh)

Spoiler for Dermaga di Panarukan

baru kemarin sore dari sana ngajak ponakan jalan2....

ga nyangka deh,,,,
tokangan - 06/05/2010 11:45 AM
#9

Update (5 Agustus 2010)



Spoiler for Arabs,feasts,Situbondo 1923

Spoiler for Assistent-resident F. van Mourik van Sitoebondo tekent voor een aangetekend stuk 1932

Spoiler for Assistent-residentswoning te Sitoebondo 1931

Spoiler for Bandjirkanaal te Sitoebondo 1915

Spoiler for Bendoengan Karangdoro-Situbondo
Spoiler for Arabs,feasts,Situbondo 1923

Spoiler for Bruiloft bij de regent van Sitoebondo, Raden Toemenggoeng Soedibiokoesoemo 1925

Spoiler for children,Chinese,feasts,Situbondo 1923
Spoiler for Arabs,feasts,Situbondo 1923
Spoiler for Arabs,feasts,Situbondo 1923
Spoiler for children's games,Chinese,feasts,Situbondo 1923
Spoiler for colonial administrators,Situbondo,soccer 1933-08-13

Spoiler for De Chinese optocht trekt voorbij aan de feesttribune op de aloen-aloen te Sitoebondo ter gelegenheid van het vijfentwintigjarig regeringsjubileum van koningin Wilhelmina 1923

Spoiler for situbondo

Spoiler for De irrigatiedam in de Kali Sampean bij Sitoebondo 1932

Spoiler for De rede van Panaroekan 1920
Spoiler for Arabs,feasts,Situbondo 1923

Spoiler for De Sampean bij Sitoebondo 1907

Spoiler for Deelnemers aan het Oranjebal te Sitoebondo 1923
Spoiler for Een prauw en badgasten te Pasirpoetih op Oost-Java 1933-12
Spoiler for Een wilde kapokboom bij Sitoebondo 1907

Spoiler for ergane bamboebrug in de residentie Besoeki, Oost-Java 1895

Spoiler for Harry Hirsch (1e van links) en zijn vrouw Willy (4e van links) in hun auto, vermoedelijk bij Besoeki 1938-04-17

Spoiler for Inheemse ambtenaren te Pradjekan 1907

Spoiler for Ontvangst in de Kaboepaten van Raden Adipati Ario Soedibiokoesoemo, regent van Panaroekan 1932

Spoiler for Panaroekan

Spoiler for Pasput-Situbondo 1895

Spoiler for pemandangan dari Panaroekan

Spoiler for Personeel van het assistent-residentskantoor van Sitoebondo bij het afscheid van assistent-resident F. van Mourik (in het midden). Rechts van hem aspirant-controleur H.H. Dingemans en daarnaast de djaksa Kiai Wiro

Spoiler for Postwagen Besoeki-Phaiton

Spoiler for Rumah Asisten Residen Besoeki 1931

Spoiler for Stuwdam, vermoedelijk voor irrigatie, in de Kali Sampean bij Pekalan ten westen van Sitoebondo 1920

Spoiler for tajoeban,Situbondo, wayang 1933

Spoiler for Toegangshek tot suikeronderneming Assembagoes te Situbondo 1978

Spoiler for Zeilschepen in de monding van de Besoekirivier 1907
tokangan - 06/05/2010 02:08 PM
#10

Quote:
Original Posted By Straat
Menurut Agan - agan semua apakah pic berikut adalah randu agung seperti yang ada di daerah Wringinanom sekarang ? ... bandingin fotonya ya Gan...


Spoiler for Randu Agung 1907


bandingkan dengan yang ini ya gan ... foto Agustus 2010

Spoiler for Randu Agung 2010


tokangan - 06/05/2010 06:58 PM
#11

Update (14 Agustus 2010)

BANYUWANGI

Spoiler for Gezelschap op de Goenoeng Raoeng in het Idjen-gebergte 1912


Spoiler for Hulppost- en telegraafkantoor te Genteng, Oost-Java 1930


Spoiler for Hulppost- en telegraafkantoor te Glenmore, Oost-Java 1930


Spoiler for Hulppost- en telegraafkantoor te Kalibaroe 1930


Spoiler for Hulppost- en telegraafkantoor te Rogodjampi, Oost-Java 1930


Spoiler for Koffie-drogen op cultuuronderneming Kali Telepak nabij Banjoewangi, Oost-Java 1925


Spoiler for Post- en telegraafkantoor te Banjoewangi 1930


Spoiler for Woning van de tapopzichter van onderneming Kali Klattak te Klatak bij Banjoewangi 1925
tokangan - 06/05/2010 09:18 PM
#12

"PETIK LAUT"

Quote:
Bentuk rasa syukur kepada Allh SWT atas segala limpahan karunianya banyak macamnya. Namun bagi komunitas nelayan, menunjukkan rasa syukur atas melimpahnya hasil tangkapan laut serta selalu selamat tanpa bencana serta rintangan apapun, hanya dikenal dengan ritual "Petik Laut" dan "larung saji".


Ritual ini yang selalu dinantikan dan rutin dilakukan dikalangan komunitas nelayan, termasuk nelayan petik laut di Desa Kilen Sari, Kecamatan Panarukan. Upacara ritual yang selalu dipadati ribuan warga nelayan tersebut merupakan acara puncak. Ada pemutaran film, pentas seni, pementasan musik gambus, orkes dangdut, dan tari gandrung banyuwangi. Ada juga Pengajian dan berbagai lomba untuk masyarakat nelayan. seperti renang bebas, domino, catur, tari, tarik tambang, dan panjat pinang.


Inti kegiatan petik laut adalah saat pelarungan sesaji ke tengah laut, sesaji itu disatukan dalam sebuah perahu kecil. Isinya macam-macam, namun yang paling menonjol adalah kepala sapi. Sebelum dilarung, sesaji itu telah melalui serangkaian ritual. Perahu sesaji diturunkan kelaut beramai-ramai kemudian dilarung ketengah dan ditenggelamkan. Sekretaris Panitia Petik Laut menambahkan "petik laut untuk melestarikan budaya bangsa". Sumberdananya berasal dari swadaya murni masyarakat nelayan. Mulai sumbangan dari pemilik perahu, kapal selerek, porsen, gandrung, dan kapal jurung. "Ditambah partisipasi dari pengusaha, masyarakat umum kilensari, instansi terkait, serta semua nelayan kilensari," ungkapnya. Membuang sesaji ketengah laut diyakini warga nelayan khususnya warga kilensari akan membawa keselamatan bagi Nelayan.


Tradisi tersebut juga diyakini mampu membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi nelayan yang ditandai melimpahnya ikan (hasil laut). Jadi tidak heran lagi jika dalam upacara pelarungan sesaji ketengah laut saat itu juga diikuti ratusan kapal nelayan Pondok Mimbo, yakni warga nelayan yang ada dikawasan Banyuputih. Mereka berjejer disamping kiri kanan dan belang sesaji sehingga ketengah laut. Begitu iring-iringan perahu pembawa sesaji tiba ditengah laut, sesaji ditenggelamkan. Begitu perahu membawa sesaji atau gethek tenggelam, mereka langsung berebut mengambil air laut yang ada disekitar prahu saji untuk disiramkan keperahunya. Acara tahunan tersebut kian meriah dengan hadirnya Bupati Ismunarso, Wabub. Suroso, jajaran Muspida, dan Muspika Panarukan. Dalam Sambutannya, Ismunarso berharap budaya petik laut di Kilen sari dipertahankan dan dilestarikan. Sehingga mampu menjadi salah satu aset Daerah. "Dengan kegiatan ini, semoga akan mampu mempermudah masyarakat nelayan mendapatkan rejeki dan selalu selamat dalam setiap kegiatan di laut. "


Photo2nya gan..

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut

Spoiler for Petik laut
erase - 06/05/2010 09:29 PM
#13

Quote:
Original Posted By tokangan
Biodata dmn Gan???
banyak bgt diodata nya


kesini kang
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2692491
patax - 06/05/2010 09:30 PM
#14

manteb, lay
sip lah..
Samh Wigna - 06/05/2010 10:41 PM
#15

wew..
itu menara suar di panarukan masih kuat berdiri sampe sekarang ya
cuma, sayangnya bekas tangsi di buat arena pacaran
mk_ekobudi - 07/05/2010 04:06 AM
#16

nice share gan.... mudah 2 besuki tercinta bisa maju lagi gan diawali dari kita 2 yg masih belum tertib ber lalulintas hehehe yg kecil2 aja dulu..... kesadaran disiplin pengguna jalan kita sepertinya paling payah gan jika dibanding kota/tetangga kota
but ajalahh....

hebat gan... dapet foto tersebut
Samh Wigna - 07/05/2010 02:35 PM
#17

Quote:
Original Posted By tokangan
Iya Gan,,,
Sampeyan lokasi disana??


udah dahulu kala gan pas masih skul, ane cuma 3 tahun tinggal di Panarukan. ya di dermaga itu biasanya suka nongkrong liatin orang pergi melaut
tokangan - 07/05/2010 08:12 PM
#18

Quote:
Original Posted By Samh Wigna
udah dahulu kala gan pas masih skul, ane cuma 3 tahun tinggal di Panarukan. ya di dermaga itu biasanya suka nongkrong liatin orang pergi melaut


Oo.. kirain masih di Panarukan..
Btw di Panarukan sekarang Dah di renovasi Gan Dermaga nya...
Jadi tambah keren... biasanya buat orang2 mancing..
Kapan2 ane share pict nya..
bigbengbend - 09/05/2010 03:49 PM
#19

Threadnya keren ya
Thanx!ane jd tau sejarahnya besuki!

Slm kenal ya buat smua
bigbengbend - 09/05/2010 03:53 PM
#20

Quote:
Original Posted By tokangan


Bener bgt Gan...
Ane muak ma orang2 yang suka geber knalpot keras2...
Bener dah,, ganggu bgt...
Yah,, smoga aja bisa sadar dah...
Btw gmn ya caranya kira2 biar mulai sadar lalu lintas??

Aq jg heran kang!
Mreka tuh pd cr perhatian!tp yg ngatain knalpot kyk gtu itu keren sp ya?
Perasaan smua cewek yg aq tanyain pd g suka sm suara knalpot itu!:
malahan lgsg ilfil kl liat cowok sok pembalap gtu
Page 1 of 15 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > JAWA TIMUR & BALI > Karesidenan Besuki > Sejarah Besuki [Kota yang Tergadaikan] + Foto2