Militer
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > Pejoeang Wanita Indonesia Yang Jarang Diketahui Umum (info+pict.)
Total Views: 1236

venom.jeka - 11/05/2010 06:57 PM
#1
Pejoeang Wanita Indonesia Yang Jarang Diketahui Umum (info+pict.)
Saya coba buka tread ini untuk mengumpulkan sisi lain dari Perjuangan Bangsa Indonesia namun jarang kita ketahui, tread semacam ini dah pernah ada di lounge tapi cuma gambar2 saja sehingga saya coba buka di Formil dengan harapan kisah2 mereka bisa dikumpulkan lebih komplit dari rekan2 formilers.

Saya mulai dari Makassar (sebagai penghormatan bagi daerah saya)

EMMY SAELAN


Spoiler for Kisah Emmy Saelan
Disuruh Menyerah, Emmy Lempar Granat
Kuburan seadanya itu digali kembali. Keluarganya masih bisa mengenali jenazah gadis yang terkubur itu dari konde dan giginya yang cacat. Kemeja dan celana panjangnya yang lusuh tercabik masih bisa dikenali. Gadis itu memang dikenal suka berpakaian seperti laki-laki ketika bergerilya. Kepergian gadis itu sungguh memukul penghuni rumah di jalan Ali Malaka 20 (dulu bernama Tweede Zeestraat) Makassar.

Rumah duka itu letaknya kira-kira sekitar 2 km dari Pantai Losari yang terkenal dengan sunset-nya yang indah. Pemilik rumah itu, Amin Saelan seorang tokoh pejuang dan tokoh Taman Siswa Makassar, harus menerima kenyataan pahit. Putrinya yang manis dan berkulit putih, Emmy Saelan telah gugur dalam pertempuran di hutan di luar kota Makassar. Sebagai catatan, Amin Saelan, ayah Emmy di jaman revolusi adalah juga penasehat organisasi Pemuda Nasional Indonesia di Makassar yang diketuai oleh Manai Sophiaan (ayah aktor Sophan Sophiaan). Dengan dikelilingi oleh atmosfir para pejuang di sekitarnya, sedikit banyak turut memotivasi kepahlawanan Emmy.

Emmy Saelan adalah pejuang wanita berdarah Sulawesi Utara. Di jaman Jepang dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Katolik “Stella Maris” Makassar. Dia juga pernah ikut aksi pemogokan Stella Maris karena protes terhadap penangkapan Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi ketika itu. Tahun 1946 Sam Ratulangi oleh Belanda ketika itu diasingkan ke Serui, Irian Jaya.

Emmy adalah salah satu potret pejuang muda jebolan SMP Nasional di kota Makassar. Sekolah yang sampai sekarang masih berdiri di jalan Dr. Sam Ratulangi Makassar ini, patut dikenang sebagai salah satu monumen sejarah. Karena di masa lalu sekolah ini banyak menelurkan tokoh pejuang republik. Letaknya di sekitar belakang stadion Mattoanging.

Ketika agresi militer kedua Belanda, para pelajar sekolah itu bersatu membentuk laskar perjuangan dan bergerilya. Mereka itu, di antaranya Emmy Saelan sendiri, Robert Wolter Mongisidi dan Maulwi Saelan, adik Emmy. Juga masih banyak beberapa nama lain. Maulwi Saelan di kemudian hari dikenal sebagai pengawal pribadi Bung Karno (resimen Tjakrabirawa) dan mantan kiper PSSI. Adik Emmy yang lain, Elly Saelan kemudian juga dikenal publik dengan nama Elly Yusuf, istri Jendral M. Yusuf, mantan Menhankam Pangab.

Selain sebagai sekolah yang menghasilkan alumni pahlawan terkenal seperti Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Mongisidi, sekolah ini juga pernah menjadi tempat persembunyian dan markas pejuang. Sebagai catatan, di SMP Nasional ini pula Mongisidi bersembunyi dan ditangkap Belanda pada suatu malam, tanggal 28 Februari 1947. Ketika ditangkap, langsung tangannya diborgol dan kakinya dirantai.

Sejak kedatangan Kapten Westerling ke Makassar, ruang gerak anak-anak pejuang di SMP Nasional tadi semakin sempit. (Tentang Westerling, baca artikel saya “Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen”). Penangkapan besar-besaran di seluruh kota berlangsung intensif. Cara penangkapannya kali ini tidak main-main. Siapa yang tidak kenal kekejaman Westerling? Pasukan Westerling memang sengaja didatangkan dari Belanda, dengan misinya yang pertama. Yaitu penumpasan pemberontakan di Sulawesi Selatan. Soalnya pemberontakan di daerah itu sudah begitu memusingkan pihak Belanda, yang akhirnya mendapatkan solusinya. Yaitu, mendatangkan Kapten Westerling yang bengis dan kejam.

Sebelum kedatangan Westerling, murid-murid SMP Nasional Makassar masih bisa belajar dengan baik. Tapi sejak kedatangan Westerling, sekolah itu terpaksa ditutup. Pasalnya, Belanda sudah mencium sekolah itu sebagai sarang ekstrimis. Pelajar SMP itu umumnya banyak yang berusia “matang” yang seharusnya usia mereka tergolong usia pelajar SMA ke atas. Tapi karena di jaman Jepang mereka tidak bisa bersekolah layak, terpaksa mereka harus mengejar ketinggalan di SMP Nasional, karena ketika itu belum ada SMA Nasional di Makassar.

SMP Nasional itu memang didirikan tahun 1945 oleh tokoh-tokoh pejuang di Makassar yang tidak setuju dengan rencana akan dibukanya sekolah NICA. Guru-guru yang mengajar di kala itu adalah para tokoh republik.

Suntikan pendidikan politik dari para tokoh republik mengobarkan semangat pelajar-pelajar SMP Nasional itu. Karena itu mereka lalu membentuk laskar pejuang yang bernama Harimau Indonesia. Anggotanya antara lain Emmy Saelan, Maulwi Saelan dan Robert Wolter Mongisidi yang menjabat sebagai kepala staf.

Robert Wolter Mongisidi ketika itu terkenal dengan kenekatannya dan keberaniannya. Misalnya melempari granat dan menyerang markas Belanda hingga kocar-kacir. Belum terhitung memblokade jalan, meledakkan jembatan, merebut senjata, memutuskan komunikasi dan menyebarkan pamflet yang berisi seruan pada Belanda untuk segera menyerah. Selain menembaki kamp-kamp Belanda, mereka juga berani menembaki rumah-rumah pembesar Belanda.

Belanda yang sudah kewalahan menghadapi teror tanpa henti itu, akhirnya memutuskan mendatangkan pasukan khusus langsung dari Belanda di bawah pimpinan Kapten Westerling. Pasukan Harimau Indonesia ketika itu memang bikin pusing Belanda. Misalnya Mongisidi melucuti tentara Belanda yang sedang berpatroli. Merampas mobilnya, senjatanya, bahkan seragam tentara itu juga dilucuti hingga tinggal pakaian dalam. Dengan seragam rampasan itu Wolter dan pasukannya menyaru sebagai tentara KNIL, mendatangi markas KNIL dan menembaki markas itu tanpa ampun. Jalan tempat Mongisidi melucuti tentara Belanda, hingga kini diberi nama jalan Wolter Mongisidi.

Peran Emmy di laskar Harimau Indonesia yaitu memimpin laskar wanita, sekaligus bertugas di palang merah. Karena kulitnya yang putih, dia mendapat nama sandi Daéng Kébo' (membaca huruf é seperti huruf é pada kata “béda”). Daéng adalah panggilan sapaan di Makassar, kira-kira sama artinya kalau menyapa dengan kata “Kak”.

Anggota laskar lainnya mengenang, bagaimana Emmy menentukan aturan menggunakan sandi untuk mengenal sesama pejuang. Misalnya jika dia memegang rambut dan orang yang ditemui juga memegang rambut, maka artinya orang itu adalah sesama teman pejuang.

Takdir tak dapat ditolak. Tengah malam, di hutan kampung Kassi-Kassi di luar kota Makassar, tanggal 23 Januari 1947 adalah akhir hidup Emmy.

Ketika itu Emmy yang memimpin 40 orang sekaligus memimpin palang merah, terjebak dalam pertempuran. Pertempuran itu dikoordinasi Robert Wolter Mongisidi, yang kala itu sedang berada di kampung Tidung, tak jauh, namun terpisah dari lokasi Emmy. Karena terkepung dengan pasukan tank Belanda dan dihujani tembakan, Mongisidi memerintahkan anak buahnya untuk mundur.

Di saat yang sama di lokasi terpisah, Emmy yang juga membawa korban-korban luka, berusaha mundur. Tapi sudah terlambat. Kepungan begitu ketat. Persenjataan musuh jauh lebih kuat. Tak ada lagi ruang gerak bagi pejuang-pejuang muda yang bersenjata seadanya itu.

Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda berteriak padanya untuk segera menyerah. Teman Emmy semua sudah gugur tertembak. Tinggal Emmy sendiri yang masih hidup. Perintah untuk menyerah tak digubris Emmy. Sebagai jawaban, dilemparkannya granat ke pasukan Belanda itu. Sejumlah tentara Belanda tewas karenanya. Namun Emmy juga akhirnya gugur oleh ledakan granatnya sendiri.

Jenazahnya kemudian dikuburkan oleh Belanda saat itu juga langsung di lokasi kejadian. Sesudah situasi pulih, jenazah itu digali kembali dan dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Panaikang. Di sana dia dimakamkan secara layak dengan penghormatan besar.



Spoiler for SD/SMP/SMA/SMK Nasional

Dulu adalah markas perjuangan Emmy Saelan dan Wolter Monginsidi


Spoiler for Monumen Emmy Saelan


Saya saja yang asli Makassar baru tau sejarahnya, kalau dia itu berjuang bersama Wolter Mongisidi dan Bapak dari Sophan sofyan bahkan salah satu adiknya ternyata adalah Istri dari Jendral M. Yusuf
Sumber: http://kolomkita.detik..com/baca/artikel/3/1536/disuruh_menyerah_emmy_lempar_granat
venom.jeka - 11/05/2010 07:20 PM
#2

Jo Paramita



Sangat sedikit artikel tentang Jo Paramita ini, yang ada hanya info bahwa dia adalah anak dari Abdul Rachman yang banyak membantu masa terbentuknya PMI
dijaman perjuangan

Kalo ada rekan2 yang punya info lebih silahkan dan akan saya lengkapi tentang beliau ini
venom.jeka - 11/05/2010 07:50 PM
#3

Dewi Dja


Dewi Dja adalah seorang penari yang berkeliling dunia bahkan sampai Hollywood dan penghasilannya disisihkan untuk Perjuangan Bangsa

Spoiler for Kisah Dewi Dja

Devi Dja, Wanita Jawa yang Mencapai Hollywood

Menurut catatan Ramadhan KH, Devi Dja atau “Bintang Dari Timur” lahir pada 1 Agustus 1914 di Sentul, Yogyakarta, dengan nama kecil Misria dan kemudian menjadi Soetidjah. Dia sering menguntit kakek dan neneknya, Pak Satiran dan Bu Sriatun, ngamen berkeliling kampung memetik siter. Devi Dja memang memiliki minat seni sejak kecil. Dia juga berangkat dari keluarga Jawa yang miskin di awal abad ke-20.

Saat mereka sedang ngamen di daerah Banyuwangi, dimana pada waktu bersamaan grup sandiwara yang lain, Dardanella pimpinan Pedro (Willy Klimanoff) yang sudah terkenal, juga main di Banyuwangi.

Pedro mengaku tertarik dengan Soetidjah dan langsung melamarnya. “Ternyata Pedro melihat pertunjukan kami. Katanya ia tertarik pada saya ketika saya menyanyikan lagu Kopi Soesoe yang ketika itu memang sedang populer,” tutur Devi Dja ketika berkunjung ke Jakarta menjenguk Tan Tjeng Bok yang sedang terbaring sakit tahun 80-an.

Meski keluarga Soetidjah keberatan, akhirnya Soetidjah mau menerima pinangan Pedro dan bergabung sebagai pemain Dardanella. Soetidjah tak penah mengenyam pendidikan sebelumnya, dia baru belajar baca dan menulis latin ketika bergabung di Dardanella pada usia 14 tahun.

Di tahun awalnya bergabung, Soetidjah hanya dapat peran-peran kecil dan lebih sering menjadi penari yang tampil dalam pergantian babak. Bintang Soetidjah mulai bersinar ketika pemeran utama wanita Dardanella, Miss. Riboet jatuh sakit.

Soetidjah pun didaulat memerankan tokoh Soekaesih—peran yang selama ini dipegang Miss. Riboet—dalam lakon “Dokter Syamsi”. Meskipun usianya baru 16 tahun ketika itu, akting Soetidjah cukup meyakinkan yang kemudian dipanggil Erni oleh kawan-kawannya.

Keliling Dunia, Nginap di Rumah Mahatma Gandhi lalu Berlabuh di Amerika

Dan sejak itu, karirnya di Dardanella mulai menanjak. Perlahan tapi pasti ia berhasil menjadi menyaingi ketenaran Miss. Riboet dan Fifi Young, dua wanita pemeran utama Dardanella. Bersama Tan Tjeng Bok, Soetidjah menjadi sosok penting dalam kisah sukses grup Dardanella. Dia lalu terkenal dengan nama Miss. Devi Dja.

Saat Dardanella pertama kali mentas di luar negeri, Devi Dja baru 17 tahun. Usia yang kata Devi Dja lagi seger-segernya. Menurut catatan Ramadhan KH, saat Dardanella manggung di luar negeri, nama kelompok Dardanella mulai berganti-ganti, dengan personil yang juga berganti-ganti. Kecuali Pedro dan Devi Dja tentunya.

Dardanella lalu main di Hongkong, New Delhi, Karachi, Bagdad, Basra, Beirut, Kairo, Yerusalem, Athena, Roma. Terus keliling Negeri Belanda, Swiss, dan Jerman. Pada Mei 1937 saat manggung di India, rombongan mereka disaksikan oleh Jawaharlal Nehru yang kemudian jadi pemimpin negeri itu. Kabarnya Pedro dan Devi Dja sempat menginap di rumah Mahatma Gandhi.

Dan seperti dituturkan Devi Dja pada Majalah Tempo di tahun 80-an, saat bermain di luar negeri, Dardanella berubah namanya menjadi “The Royal Bali-Java Dance”. “Kami lebih mengutamakan tari-tarian daripada sandiwara, sebab khawatir penonton tidak tahu bahasanya,” katanya.

Devi Dja juga masih ingat ketika perang dunia pertama mulai berkecamuk, mereka sedang berada di Munich, Jerman. Saat itulah keadaan masyarakat dunia sedang dalam kegelisahan yang juga dialami oleh personel “The Royal Bali-Java Dance” (Dardanella) terkait situasi perang.

Ramadhan KH menulis, di tengah kegelisahan masyarakat Eropa khususnya, Pedro kemudian mengambil keputusan menyeberang ke Amerika saat mereka sedang berada di Belanda. Akhirnya bersama rombongan kecil Dardanella, Devi Dja naik kapal “Rotterdam” menuju Amerika.

Perhitungan Pedro ketika itu barangkali karena negara Amerika relatif lebih menjanjikan, lagipula Amerika tidak terlibat terlalu jauh dalam perang dunia pertama.

Dengan nama tenar yang disandangnya, sesampainya di Amerika mereka mendapat sponsor dari Columbia untuk mementaskan karya-karya mereka di hampir seluruh kota besar Amerika. “Kami keliling, tidur di trem saja. Cuma di New York menetap dua minggu,” tutur Devi Dja.

Sudah merasa cukup lama di Amerika mereka bermaksud kembali ke tanah air, tapi Perang Dunia II keburu pecah dan Indonesia diduduki Jepang. Akhirnya mereka tertahan di Amerika tidak bisa pulang.

Setelah perang usai anggota rombongan tinggal belasan orang, sebab sebagian berusaha pulang. Dan semangat pun mulai luntur.

Demi bertahan hidup di Amerika, Pedro dan Devi Dja membuka sebuah niteclub bernama Sarong Room di Chicago, yang sayang terbakar habis pada 1946. Pedro akhinya merasa tak tahan dan meninggal dunia di Chicago tahun 1952.

Di masa awal kemerdekaan Indonesia, Devi Dja sempat bertemu Sutan Syahrir yang tengah memimpin delegasi RI untuk memperjuangkan pengakuan Internasional terhadap kemerdekaan Indonesia di markas PBB New York tahun 1947. Oleh Syahrir, dia sempat diperkenalkan sebagai duta kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika. Dan namanya pun makin dikenal di negara itu. Sebab itu tak sulit baginya mendapatkan kewarganegaraan Amerika.

Tahun 1951 Devi resmi menjadi warga negara Amerika. Sepeninggal Pedro, Devi masih sempat mementaskan kebolehannya dari pangung ke panggung bersama anggota kelompok yang tersisa. Devi menikah dengan seorang seniman Indian bernama Acce Blue Eagle.

Menurut Ramadhan KH, pernikahan itu hanya berlangsung sebentar. Acce tidak suka Devi Dja bergaul dengan sesama masyarakat Indonesia di Amerika. Sedang itu adalah dunia Dewi Dja. Apalagi setelah terbetik kabar, bahwa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.

Setelah itu Devi terbang ke Los Angeles, kesempatan karir terbentang di sana. Devi Dja sempat menari di depan Claudette Colbert yang takjub oleh gerak tangan dan kerling mata Devi Dja. Kabarnya Devi hampir terpilih untuk mengambil peran dalam salah satu film produksi Hollywood. Tapi sayang, karena bahasa Inggrisnya kurang fasih. Dia gagal mendapatkan kesempatan itu.

Dia lalu menikah lagi dengan orang Indonesia asal gresik yang menetap di Amerika bernama Ali Assan. Dari Ali Assan ini Devi memperoleh satu anak perempuan yang diberi nama Ratna Assan. Tapi usia pernikahan mereka tak lama, mereka pun bercerai.

Kesibukaannya di Amerika adalah mengajarkan tari-tarian daerah kepada penari-penari Amerika. Devi mengaku meski namanya sudah terkenal sebagai penari, tapi kehidupan kala itu susah, mengingat dunia habis dicabik-cabik perang.

Namun Devi mengaku beruntung berteman dengan selebriti Hollywood yang menjadi teman akrabnya. Ia akrab dengan Greta Garbo, Carry Cooper, Bob Hope, Dorothy Lamour, dan Bing Crosby. Merekalah yang banyak membantu Devi dalam memberikan kesempatan.

Devi juga sempat bermain dalam beberapa film, antara lain The Moon And Sixpence, riwayat hidup pelukis Prancis Paul Gaugin. Dia juga membintangi atau menjadi koreografer film Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), Three Came Home (1950) dan Road to Bali (1952). Di Los Angeles Dewi juga rutin mengisi acara televisi lokal.

Anaknya, Ratna Assan sempat bermain sebagai pemeran pendukung dalam film Papillon (1973) yang dibintangi Steve Mc Quin dan Dustin Hoffman. Tapi Ratna Assan kemudian tidak melanjutkan karir aktingnya di Hollywood, sesuatu yang amat disesali Devi Dja mengingat anaknya itu fasih berbahasa Inggris, tidak seperti dirinya.

Di Los Angeles Devi Dja tinggal di kawasan Mission Hill, San Fernando Valley, 22 km utara Los Angeles. Di rumah berkamar tiga di pinggiran kota itu ia tinggal bersama putri satu-satunya, Ratna Assan. Semasa pensiun Devi Dja mendapat sedikit uang pensiun dari Union Arts, tempat dimana dia bergabung.

Tahun 1982 saat berusia 68 tahun, Devi Dja pernah pulang ke Indonesia atas undangan Panitia Festival Film Indonesia. Dia sempat menjenguk kolega lamanya Tan Tjeng Bok yang tergolek lemah di rumah sakit sebelum meninggal dunia tahun 1985.

Devi Dja kemudian meninggal di Los Angeles pada tanggal 19 Januari 1989 dan dimakamkan di Hollywood Hills, Los Angeles.


Spoiler for Makam Dewi Dja


Sumber: http://wong168.wordpress.com/2010/04/20/devi-dja-wanita-jawa-yang-mencapai-hollywood/
venom.jeka - 11/05/2010 07:54 PM
#4

===maaf double====
Kyo10 - 11/05/2010 08:07 PM
#5
442
baru tau kl si wolter monginsidi punya kawan sperjuangan cew, lanjot kang, buka apa yg blm tll kbuka...................:toast
anupie - 11/05/2010 08:11 PM
#6

ngomong2 srikandi2 itu udah diangkat jadi pahlawan apa blom ya Kang ?
shoux - 11/05/2010 08:25 PM
#7

yg ini juga gan, jarang diulas

ktut tantri aka Muriel Pearson warga amerika kelahiran inggris yg bergabung dgn Republik Indonesia



venom.jeka - 11/05/2010 08:51 PM
#8

Ktut Tantri


Spoiler for Kisah Ktut Tantri
Menarik sekali membaca perjalanan hidup Ktut Tantri tersebut. Perempuan bernama asli Muriel Pearson ini adalah keturunan Pulau Man sehingga lebih percaya bahwa nenek moyangnya adalah bangsa Viking ketimbang orang Inggris, lalu memiliki ayah tiri seorang Skotlandia, lalu menjadi warga negara Amerika Serikat dan berikutnya pernah merasakan sebagai orang Bali dan putri seorang raja di Bali.
Sebuah film tentang eksotisme Bali di tahun 1933-an mengundang Ktut Tantri untuk meninggalkan kehidupan mapan di AS lalu pergi ke Bali. Bukan untuk menjadi turis, tapi untuk menjadi orang Bali. Sebagai bule, kedatangannya disambut oleh prasangka jahat kolonialisme pejabat Hindia Belanda di Bali. Apalagi setelah Ktut Tantri dianggap merendahkan derajat kaum kulit putih dengan mengenakan pakaian Bali dalam kesehariannya, juga senantiasa membaur dengan penduduk Bali kebanyakan.
Dengan cara yang unik, dia kemudian diterima di sebuah istana salah satu raja di Bali. Bahkan kemudian diangkat sebagai anak ke empat dengan nama Ktut (Ketut) Tantri. Dalam memoarnya ini juga disebutkan bahwa pada tahun-tahun itu Bali memang sudah terbuka denga dunia barat. Banyak raja yang bisa berbahasa Inggris atau Belanda, bahkan ada seorang raja yang memiliki istri seorang Perancis dan biasa menempuh rute Bali – Paris. Juga sudah banyak seniman-seniman dari Eropa dan AS yang tinggal, menetap dan memilih gaya hidup Bali di sana.
Pengalaman dibenci oleh pejabat Belanda dan interaksinya dengan putera bapak angkatnya di Bali (yang berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di Belanda) menumbuhkan perasaan cinta, tidak hanya kepada Bali tapi juga kepada Indonesia.
Kehidupan di Bali yang dia rasakan bak Surga akhirnya berakhir saat Jepang menyerbu dan menguasai Bali dan Indonesia. Pada masa pendudukan Jepanglah dia berkenalan dengan pergerakan kemerdekaan bawah tanah, termasuk dalam usaha menyelundupkan senjata ke Bali, yang membawa dia kepada penahanan, interogasi kasar dan siksaan di penjara Jepang di Kediri dan Surabaya lebih dari 2 tahun dengan tuduhan sebagai mata-mata AS di Jawa. Siksaan yang dialaminya bahkan menyebabkan hampir tewas di penjara. Melihat kerusakan tubuhnya, Jepang memindahkan dari tahanan di Surabaya ke sebuah rumah sakit di Ambarawa.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, nyawanya terselamatkan setelah rakyat menyerbu rumah sakit Ambarawa lalu membebaskan dia dan mengirimkan ke sebuah rumah sakit di Surabaya. Di Surabaya, dia dirawat oleh seorang dokter bernama dokter S. Besar kemungkinan dia adalah dr Sugiri, seorang pejuang yang juga terlibat dalam peristiwa 10 November 1945.

Perkenalan dengan dokter S, membawanya larut dalam perjuangan arek-arek Suroboyo saat melawan Inggris. Bung Tomo dalam bukunya Pertempuran 10 November 1945 juga mengkonfirmasi keterlibatan Ktut Tantri dalam pertempuran 10 November 1945 yaitu sebagai penyiar Radio Pemberontakan yang dipimpin Bung Tomo baik menjelang, selama maupun setelah pertempuran 10 November 1945. Di radiolah dia menempatkan dirinya sebagai bumper untuk melindungi Surabaya dari serangan tentara Inggris, negara dimana dia dilahirkan.
Dengan rinci dia menuliskan pengalamannya selama Perang Surabaya, lalu selama mengikuti pasukan Bung Tomo dalam perang gerilya di pedalaman Jawa Timur. Melalui Radio Pemberontakan, suara perlawanannya menggema jauh sampai Australia dan Eropa sehingga mengundang simpati dari banyak negara asing kepada perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Karena radio ini pula, kelak Ktut Tantri mendapat julukan Surabaya Sue dari pers asing.
Perkembangan perjuangan membawa dia pada kedekatan dengan Amir Syarifudin (saat itu menteri pertahanan), Bung Karno dan beberapa petinggi militer di Yogyakarta menjelang Agresi Militer I. Bahkan pada suatu kesempatan di Malang, Bung Karno secara khusus pernah memperkenalkan kepada rakyat Ktut Tantri sebagai orang bule yang lebih Indonesia dari orang Indonesia asli.
Sangat menarik sekali pengalamannya ikut menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ada yang lucu, menegangkan dan malah mengecewakan. Segala romantika perjuangan dituliskannya dengan runtut dan bahasa yang menarik.
Untuk memperluas jangkauan perjuangan, Ktut Tantri kemudian dikirim oleh Amir Syarifudin dengan kapal penembus blokade Belanda menuju Singapura. Di sinilah kita akan melihat sebuah romantika perjuangan yang dibumbui dengan korupsi, aksi tipu-tipu dan adu otak. Saya akan coba menuliskan hal-hal ini dalam tulisan berikutnya.
Akhirnya Ktut Tantri berhasil mempromosikan kemerdekaan Indonesia di Singapura dan Australia, bahkan berhasil menggalang bantuan Palang Merah Australia untuk Indonesia. Sayang, utusan Palang Merah Australia turut tewas bersama Adisucipto, Iswahyudi dan pahlawan Angkatan Udara yang lain saat pesawat mereka ditembak jatuh oleh pesawat tempur Belanda di atas Yogyakarta.
Saat di Australia, Ktut Tantri sempat dihujani kecaman sebagai orang kulit putih yang mau diperalat oleh Indonesia. Di sinilah dia meramalkan nasibnya di kemudian hari bahwa lepas dari jasanya akan diingat oleh rakyat Indonesia atau tidak, dia akan tetap turut berjuang untuk Indonesia semata-mata karena cintanya kepada Indonesia.
Pernyataannya itu kemudian terbukti bahwa selama hidupnya saya belum pernah menemukan sebuah berita bahwa dia mendapat penghargaan dari pemerintah apalagi gelar pahlawan. Tolong para pembaca bisa meralat pernyataan di atas kalau ada fakta sebaliknya.
Dalam buku-buku sejarah resmi anak-anak kita juga tidak pernah disebutkan jasa-jasa Ktut Tantri dalam perjuangan kemerdekaan, sehingga anak-anak kita tidak bakal tahu siapa dan apa jasa wanita bule ini.
Ktut Tantri sebenarnya pernah bermaksud mengijinkan Holywood membuat film berdasarkan memoarnya tersebut. Untuk itu, di tahun 1965 dia pernah bermaksud menemui Bung Karno untuk meminta ijin pembuatan film, sayang rencananya berantakan karena peristiwa G30S. Lalu di tahun 1980-an dia sempat menemui Pak Harto dan pejabat-pejabat yang lain untuk mendapatkan ijin yang sama. Sepertinya ijin didapatkan, tapi entah filmnya jadi dibuat atau tidak. Mungkin ada di antara pembaca yang tahu mengenai filmnya ?
Kabar terakhir, Ktut Tantri diberitakan meninggal dalam kesepian di Sidney, Australia tanggal 27 Juli 1997, tidak jauh dari negara yang pernah dibelanya mati-matian sampai mengorbankan darah dan dagingnya.
Apakah kita bangsa yang tahu berterimakasih kepada mereka yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk kita ?
Mungkin kalau pemerintah tidak mau menjadikannya sebagai pahlawan nasional, kita bisa menjadikannya pahlawan…..di hati kita….di hati anak-anak kita.


Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2009/11/13/ktut-tantri/
Woodywoodpecker - 11/05/2010 09:03 PM
#9

Nice Info Gan

Sebenernya Sih Ada 100 Wanita Pejuang Yang Jarang Di Ketahui Umum...Karena Sesudah Adanya G30S/PKI..Beberapa Wanita Ini Di Coret Dan Tertuduh Sebagai Gerwani

*Jangan Bata Dulu Liat Komen Nya Baik Baik
Hen_zai - 11/05/2010 09:08 PM
#10

Quote:
Original Posted By Woodywoodpecker
Nice Info Gan

Sebenernya Sih Ada 100 Wanita Pejuang Yang Jarang Di Ketahui Umum...Karena Sesudah Adanya G30S/PKI..Beberapa Wanita Ini Di Coret Dan Tertuduh Sebagai Gerwani

*Jangan Bata Dulu Liat Komen Nya Baik Baik


Quote:
Sebenernya Sih Ada 100 Wanita Pejuang Yang Jarang Di Ketahui Umum...Karena Sesudah Adanya G30S/PKI..Beberapa Wanita Ini Di Coret Dan Tertuduh Sebagai Gerwani


siapa aja gan....
tapi klo yg tjut tantri...jelas krn terlalu dekat sama soekarno dan bung tomo....gak pulang2 ke indonesia setelah soeharto berkuasa..
venom.jeka - 11/05/2010 09:17 PM
#11

Quote:
Original Posted By Woodywoodpecker
Nice Info Gan

Sebenernya Sih Ada 100 Wanita Pejuang Yang Jarang Di Ketahui Umum...Karena Sesudah Adanya G30S/PKI..Beberapa Wanita Ini Di Coret Dan Tertuduh Sebagai Gerwani

*Jangan Bata Dulu Liat Komen Nya Baik Baik


Hehehe pengen menjebak nih Bro

Quote:
Original Posted By Hen_zai
siapa aja gan....
tapi klo yg tjut tantri...jelas krn terlalu dekat sama soekarno dan bung tomo....gak pulang2 ke indonesia setelah soeharto berkuasa..

Itulah sejarah Bro kita Bro, masih banyak yang belum kita ketahui. Kita liat saja sisi perjuangan mereka untuk Bangsa yang ada hubungannya sama PKI di simpan saja disamping
Kalo Ktut Tantri kan katanya pernah mau bikin filem di Holywood ttg dirinya dan setelah minta izin ma Pak Harto katanya di izinkan nah kalo betul dia antek PKI pasti dilarang ma Mbah

[QUOTE=]Ktut Tantri sebenarnya pernah bermaksud mengijinkan Holywood membuat film berdasarkan memoarnya tersebut. Untuk itu, di tahun 1965 dia pernah bermaksud menemui Bung Karno untuk meminta ijin pembuatan film, sayang rencananya berantakan karena peristiwa G30S. Lalu di tahun 1980-an dia sempat menemui Pak Harto dan pejabat-pejabat yang lain untuk mendapatkan ijin yang sama. Sepertinya ijin didapatkan, tapi entah filmnya jadi dibuat atau tidak.[/QUOTE]
tedyimoet - 11/05/2010 09:26 PM
#12

Ini dia manteb critanya.......lanjut gan tokoh wanita lainnya. Emang bener sih banyak tokoh wanita yang hilang tau dihilangkan setelah peristiwa G30/S/PKI
venom.jeka - 12/05/2010 02:07 PM
#13

S.K Trimurti



Spoiler for Kisah S.K. Trimurti
Wartawati Kritis

SK Trimurti adalah seorang wartawati, penulis, pengajar, dan istri dari Sayuti Melik, pengetik naskah proklamasi.

Semasa hidupnya, Trimurti pernah menjabat sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II.

Peraih bintang Bintang Mahaputra Tingkat V dari Presiden Soekarno ini sejak 2000 beberapa kali dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.

Trimurti lahir sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara, dari pasangan R. Ng Salim Banjaransari Mangunsuromo dan R.A. Saparinten binti Mangunbisomo. Ayahnya adalah pegawai negeri di Kesultanan Solo, Surakarta.

Sebelum menekuni bidang jurnalistik pada 1934, Trimurti adalah guru di SDN Solo, kemudian di Banyumas dan terakhir di Perguruan Rakyat Bandung yang hanya berjalan selama tiga bulan karena adanya larangan mengajar dari pemerintah kolonial Belanda pada 1933.

Hidup Trimurti sarat dengan perjuangan. Sebagai wartawati dengan tulisan-tulisan yang sangat kritis, kondisi hidupnya dapat berubah-ubah tiap saat akibat tulisannya.

Ia kerap menghabiskan hari-hari di penjara pada masa pergerakan karena tulisan-tulisannya yang mengritik pemerintah Hindia Belanda.

"Saya terdorong untuk berjuang karena melihat adanya ketidakadilan. Jaman Belanda dulu, perlakuan terhadap pribumi dan keturunan Eropa sangat berbeda," katanya.

Tahun 1939, Trimurti ditahan di penjara wanita Bulu, Semarang, karena tulisannya di Harian Sinar Selatan terkena delik pers.

Selanjutnya pada 1941, ia ditawan Belanda di Ambarawa dan kemudian dipindahkan ke Garut, Jawa Barat.

Ketika masa pendudukan Jepang, Trimurti juga sempat ditahan oleh Kenpetai (tentara Jepang) di Semarang pada 1941-1943 dan telah menjalani berbagai interogasi yang tidak terhitung jumlahnya.

Sebenarnya Karma dan Trimurti adalah nama samaran yang dipakainya secara bergantian untuk menghindari delik pers pemerintahan kolonial Belanda dulu. Namun, nama itu terlanjur melekat pada dirinya dan ia pun dikenal dengan nama S.K. Trimurti.

"Sebagai wartawan saya berjuang melalui tulisan, mulut, dan bisik-bisik. Pokoknya segala cara dipakai untuk mencapai kemerdekaan," kata mantan menteri perburuhan pada 1947-1948 itu dalam sebuah wawancara dengan wartawan ANTARA (2004).


Disayang Keluarga Soekarno

Trimurti memiliki hubungan yang sangat baik dan cukup dekat dengan Soekarno. Ia juga pernah mengikuti kursus kader politik di bawah pimpinan Bung Karno.

Di rumah kontrakannya, diantara deretan foto-fotnya bersama keluarga, terdapat sebuah lukisan yang paling besar bergambar Bung Karno menyematkan Bintang Mahaputra tingkat V pada Trimurti.

Kedekatannya di masa perjuangan dengan Bung Karno telah membuat Trimurti menganggap mantan presiden RI pertama itu sebagai keluarganya sendiri.

"Dulu anak-anak Bung Karno sering mengompoli saya," ujarnya sambil tertawa.

Kedekatan hubungannya dengan anak-anak Bung Karno itu dibenarkan Guruh Soekarno Putra. Bahkan untuk mengenang jasa kepahlawanan Trimurti, Yayasan Bung Karno menerbitkan buku "95 Tahun SK Trimurti, Pejuang Indonesia".

Guruh yang juga Ketua Yayasan Bung Karno mengatakan buku tersebut berisi kumpulan tulisan-tulisan terpilih dari SK Trimurti selama masih aktif sebagai wartawan.

"Buku ini bukan kado pribadi buat Ibu Tri, melainkan untuk kita sebagai generasi penerusnya, karena tulisan tulisan beliau dapat membantu kita dalam mengenali sejarah perjuangan perempuan, buruh, penegakan demokrasi dan keadilan di Indonesia," terang Guruh.

Buku setebal 300 halaman tersebut berisi tulisan-tulisan terpilih karya SK Trimurti dari Tahun 1931 hingga 1991. Bukunya diluncurkan Rabu, 16 Mei 2007, sekaligus memperingati ulang tahun SK Trimurti ke-95. SK Trimurti yang seharusnya ada diantara keluarga besar Bung Karno saat itu tidak hadir karena sakit.

Pukul 18.30 WIB SK Trimurti menghembuskan nafasnya yang terakhir di tengah keluarga yang sangat menyintainya.

Kini tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan kritis yang dilontarkan, namun kenangan terhadap sosok wartawati ini akan terus tersimpan di hati setiap orang yang mengenalnya.

"Ibu itu orang yang sangat tegas dan kritis, berpendirian keras dan tak pernah berhenti berjuang lewat tulisan-tulisannya," demikian ujar Heru Baskoro.(*)

Sumber: http://www.antara.co.id/view/?i=1211296625&c=ART&s=
Sumber lain: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/trimurti-sk/index.shtml
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > Pejoeang Wanita Indonesia Yang Jarang Diketahui Umum (info+pict.)