Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819
Page 9.5 of 15 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›

hymunk - 28/12/2010 04:54 PM
#171
Badandang (Kalayangan Dandang)
Di Kalimantan Selatan layang-layang disebut "Kalayangan", nah kalo yang ukurannya besar disebut "Kalayangan Dandang". Kata dandang, diambil dari sebutan alat memasak nasi di daerah Kalimantan Selatan berupa sejenis panci.

Di Musem Layang-Layang Indonesia (Museum yang terletak di Jl. H. Kamang No. 38. Pondok Labu. Jakarta Selatan) dikoleksi juga sepasang layang-layang dari Kalimantan Selatan yang bernama Dandang Laki dan Dandang Bini. Layang-layang itu terbuat dari beberapa potong bambu berukuran panjang 1,5 meter dengan diameter 20 cm. Diperkirakan, usianya sudah mencapai 50 tahun.

1. Dandang Laki

Spoiler for Dandang Laki


Panjangnya hingga mencapai pucuk atap ruangan. Namanya, Dandang Laki.

Layang-layang Dandang Laki yang berwarna merah muda ini, punya pasangan sejodoh, yaitu layang-layang Dandang Bini, yang berwarna hijau gelap. Dua layang-layang ini biasanya diterbangkan pada masa sehabis panen, di tengah lahan sawah pada musim panas. Dengan pengharapan, agar musim panen selanjutnya membawa kemakmuran bagi penduduk di sana.

Pada layang-layang Dandang Laki, alat kowangan yang dipakai adalah dua bilah bambu yang dikaitkan pada rangka kepala sisi kiri dan kanannya. Bambu dengan ukuran diameter kira-kira sepuluh sentimeter tersebut bentuknya seperti kentongan. Ada celah dibuat membujur di tengahnya. Jika layang-layang Dandang Laki diterbangkan dengan hembusan angin yang cukup kencang, bunyinya bisa terdengar sejauh satu kilometer.

2. Dandang Bini

Spoiler for Dandang Bini


Sedangkan layang-layang Dandang Bini berbentuk lebih ramping dibanding Dandang Laki. Layang-layang Dandang Bini melambangkan kesuburan. Layangan ini terbuai dari kain berwarna hijau dengan motif tenun khas Banjarmasin. Layang-layang ini memiliki sayap sepanjang 2 meter dan ekor 3 meter.

Zaman dulu, di beberapa daerah layang-layang dimainkan untuk mengusir burung di sawah. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan.

Budaya Badandang sering di selenggarakan di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Untuk Festival Di selenggarakan pada setiap tahun dan pada Musim Kemarau atau lebih tepatnya sehabis panen padi.

Untuk Lebar dandang 4m dan tinggi 12m termasuk buntut dandang, menaikan dandang harus Lebih dari 1 oarang minimal 5 orang.

Spoiler for Dandang


Spoiler for Dandang


Spoiler for Dandang


Spoiler for Kukumbangan



Dari Bambu yang dibuat lubang inilah yang dapat mengeluarkan bunyi seperti suara kumbang yang nyaring hingga bisa didengar lebih dari 1 kilometer..disebut juga dengan nama "kukumbangan"


sumber :
http://www.museum-layang.com
http://quirkyindonesia.blogspot.com
http://bataviase.co.id
http://budayakandangan.blogspot.com
http://netsilver.mw.lt
hymunk - 28/12/2010 08:13 PM
#172
Ba'ayun Maulid di Desa Banua Halat, Kabupaten Tapin.
Setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad tiba, kaum Muslimin bergembira.Masing-masing daerah merayakannya dengan ragam cara, namun tetap satu tujuan. Seperti kemeriahan perayaan Maulid di Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin.



Perayaan Maulid di Banua Halat memang tidak biasa. Karena selain pembacaan syair-syair Maulid, disertai dengan prosesi dan ritual budaya Ba ayun Anak, yang karena pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Maulid maka disebut juga Ba ayun Maulid.

Tempat pelaksanaannya tidak sembarangan. Bertempat di Mesjid Al Mukarramah atau biasa disebut Mesjid Keramat, membuat ritual ini menjadi luar biasa. Dengan maksud agar anak senantiasa sehat, cerdas, berbakti kepada orang tua dan taat beragama, sangat kontras dengan tempatnya yang dikeramatkan. Menjadikan ritual ini bukan sekedar ramai, tapi juga sakral dan suci.



Simbol-simbol seperti adanya piduduk (sesajen), janur, wadai 41 (kue tradisional yang terdiri dari 41 macam atau jenis), parapin (dapur kecil tempat membakar dupa atau kemenyan), panginangan, banyu putih dalam galas dan minyak likat baburih yang tetap disertakan pada prosesi budaya Ba-ayun Anak. Sama persis dengan yang ada pada prosesi adat Aruh Ganal di masyarakat Dayak Meratus.


Sebelumnya, pada budaya pra-Islam di tanah Banjar telah berkembang budaya yang serupa dengan ba ayun anak. Dimana pada masyarakat dulu di kenal adanya prosesi ba ayun wayang, ba- ayun topeng dan ba ayun madihin. Pada prosesi ba ayun wayang dan ba ayun topeng, ritual didahului dengan pertunjukan wayang dan topeng. Sedang pada ba ayun madihin, prosesi diikuti dengan melantunkan syair Madihin.



Seiring dengan transpormasi budaya yang terjadi dan perkembangan zaman, membuat budaya tersebut di rasa tidak lagi mempunyai pengaruh atau efek bila tidak dilakukan. Serupa dengan tradisi ma ayun anak dengan bapukung (menidurkan anak dalam posisi didudukkan dalam ayunan, red) yang kini banyak ditinggalkan. Namun pada masyarakat di Hulu Sungai, masih dapat ditemui tradisi ini.



… guring, anakku guring

Anakku pintar, dalam ayunan

Matanya kalat, nang handak guring…



Alunan syair tembang seperti di atas biasanya dilantunkan saat mangguringakan (menidurkan) anak sambil bapukung dalam ayunan. Namun pada perkembangannya, syair-syair tradisional seperti itu sudah tergantikan dengan syair dan alunan shalawat. Seperti itu jugalah yang terjadi pada proses pembentukan budaya ba ayun anak atau ba ayun maulid di Banua Halat.

Kekeramatan masjid Banua Halat diantaranya erat kaitannya dengan kepercayaan berupa mitos yang berkembang khususnya di kalangan orang Dayak Meratus di pegunungan Meratus daerah Tapin yang menyatakan bahwa orang Dayak Meratus dan orang Banjar Hulu sesungguhnya “badangsanak” (mempunyai ikatan darah; genealogis) karena berasal dari keturunan dua bersaudara kandung: Intingan dan Dayuhan yang berasal dari Banua Halat.

Keyakinan adanya “hubungan genealogis” itu dapat ditelusuri dari adanya Mitos Intingan dan Dayuhan berhubungan yang dengan pembangunan Masjid Banua Halat. Orang Dayak Meratus mempercayai bahwa Masjid Banua Halat dahulunya dibangun oleh Intingan, yakni saudara kandung Dayuhan; nenek moyang mereka.




Perhatikan tahapan prosesi ba ayun anak ini. Ayunan di buat tiga lapis, dengan kain sarigading (sasirangan) pada lapisan pertama, kain kuning pada lapisan kedua dan kain bahalai (sarung panjang tanpa sambungan) pada lapisan ketiga.




Tali ayunan dipenuhi hiasan dari janur berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, hiasan dari wadai 41 seperti cucur, cincin, pisang, nyiur dan lain-lain. Orang tua yang melaksanakan ba ayun diharuskan menyiapkan piduduk berupa beras, gula habang (gula merah), nyiur (kelapa), hintalu hayam (telur ayam kampung), banang (benang), jarum, uyah (garam) dan binggul (uang receh).



Ritual dimulai dengan membaca syair Maulid Al Habsy, Maulid Ad Diba’i atau Maulid Al Barzanji. Dilanjutkan dengan pembacaan Manakib Wali Allah, ceramah agama dan di tutup dengan do’a. Kemudian para Habib, Ulama dan umara menapung tawari (memberkati) peserta ba ayun anak dengan diiringi pembacaan Sholawat Badar.



Semua posesi itu menandakan betapa budaya dasar yang di anut dalam prosesi ba ayun anak masih terjaga. Sehingga, ikatan budaya secara emosional antara urang Banjar dan Dayak, senantiasa terjalin harmonis, meski dengan baju yang berbeda.

Ritual ba ayun anak menjadi sebuah prosesi yang sangat unik. Manakala peserta yang ikut bukan hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa bahkan yang berusia lanjut.



Tujuan orang dewasa ikut ba ayun itu beragam. Ada yang sekedar ikut-ikutan dan ada pula karena nazar, ingin sembuh dari penyakit, membuang sial, mencari berkah serta sebagai ucapan syukur setelah hajatnya terkabul.

Pada Maret 2008, Baayun Anak masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan peserta terbanyak se-Indonesia. Jumlah peserta pada waktu itu sebanyak 1.544 orang, terdiri dari 1.643 anak-anak dan 401 orang dewasa. Peserta tertua Hj Masriah (75) dari Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan termuda seorang bayi yang baru berumur 4 hari.

Pada Tahun 2011, baayun maulid diikuti peserta seluruhnya sebanyak 3.741 orang yang terdiri dari 1.714 anak-anak dan 2.027 dewasa.

Seorang wanita berusia 100 tahun juga menjadi peserta beliau bernama Rabiah, warga Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Tapin, yang bernadzar akan ikut Baayun Maulid bila diberi Allah umur yang panjang hingga 100 tahun, Peserta termuda dalam ritual ini adalah bayi berusia 40 hari, Ardian, warga Desa Banua Halat Kiri.

Tujuan mengikuti ritual Baayun Maulid beragam, dari menunaikan nazar, bernazar, sebagai wujud syukur karena sembuh dari sakit maupun sekadar ikut meramaikan saja. Sedangkan tujuan sebenarnya dari ritual tersebut adalah agar yang ikut Baayun Maulid senantiasa berkecukupan secara ekonomi, kuat ingatan dalam mempelajari ilmu agama, dilimpahkan kebahagiaan dan memiliki keteguhan iman.

Para peserta bukan hanya penduduk Desa Banua Halat atau warga Kota Rantau, tetapi datang dari seluruh Kalimantan. Berdasarkan data pendaftaran dari panitia pelaksana, tercatat peserta dari pulau Jawa dan Sumatra. Bahkan ada peserta yang berasal dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Menariknya, dari daftar peserta itu terdapat pula orang Dayak yang nota bene masih menganut agama kepercayaan Kaharingan.

Melalui ritual itu, akan terasa sebuah kesadaran yang kadang berada di bawah sadar, dan jalinan tertentu bahwa mereka memiliki ikatan kultural. Hubungan emosional masa lalu yang masih dipertahankan, menimbulkan kesadaran budaya yang sama.

Secara keseluruhan, tradisi yang dilakukan secara massal ini merupakan pencerminan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi sekalian alam.

Spoiler for tiang keramat


Di samping kiri mimbar masjid ini terdapat sebuah tiang yang dikeramatkan. Tiang Guru dari kayu ulin ini setinggi lebih dari empat meter..Keunikan dari batang ulin hitam ini mengeluarkan minyak sehingga terus terlihat mengkilap. Riwayat Tiang Guru ini dibawa oleh Teungku Muhammad Thohir Al Kahdi atau datu Ujung sejak 1862. Bagian yang terlihat berminyak ini dibiarkan tanpa cat. Tidak sedikit warga yang datang menggosok2an lembaran uang kertas pada tiang ini dengan harapan uang tersebut dapat membawa berkah.

Spoiler for ayunan raksasa


ayunan raksasa disediakan untuk orang dewasa yang ingin ikut meramaikan acara ini..

sumber :
http://bubuhanbanjar.wordpress.com
http://ananajahamin.wordpress.com
http://myrasta.wordpress.com
http://hasanzainuddin.wordpress.com
http://s442.photobucket.com/albums/qq149/loeweng/
http://www.facebook.com/album.php?aid=23742&id=1484147259&page=28
http://www.facebook.com/album.php?aid=2005266&id=1564997087
hymunk - 31/12/2010 04:33 PM
#173
Tutujah (Alat Tanam Tradisional Suku Banjar)
Spoiler for tutujah



Tutujah adalah alat tradisional yang kegunaannya untuk melubangi tanah yang akan ditanami anakan padi..di beberapa tempat ada yang menyebutnya "Asak" dan di malaysia disebut juga dengan "Kuku Kambing"

Spoiler for tutujah






tutujah koleksi museum lambung mangkurat

Spoiler for tutujah






tutujah yang terbuat dari kayu ulin yang biasa digunakan pada areal persawahan di daerah rawa..

Spoiler for tutujah



tutujah yang terbuat dari kuningan pada bagian atas dan bawahnya..

Macam bentuk tatujah namun kegunaannya sama yakni untuk membuat lubang pada saat menanam padi..

Spoiler for tutujah








ini mantap...

Spoiler for tutujah wayang


















sumber foto :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2213290500874.126111.1505903375
http://www.facebook.com/album.php?aid=7232&id=100000150345532
http://www.facebook.com/album.php?aid=93871&id=731636599&page=2
http://www.facebook.com/album.php?aid=2062899&id=1461404684
http://www.facebook.com/album.php?aid=2006617&id=1321750832
zencatama - 01/01/2011 08:32 PM
#174
Semangat Lestarikan Budaya Indonesia
Upacara Aruh Ganal
ini merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Bukit di Pegunungan Meratus. Suku Bukit yang sering melaksanakan upacara ini antara lain daerah Mancabung, Harakit, Balawaian, Batung, Danau Darah, dan Ranai.


hymunk - 04/01/2011 09:58 PM
#175
Idrus, Pelestari Seni Tradisi Kalimantan
Spoiler for Pa Idrus



”Pak, mohon dibacakan doa selamat bagi keluarga kami,” Itulah kira-kira permintaan seorang ibu yang disampaikan dalam bahasa Dayak Bakumpai bercampur Banjar saat bertamu ke H Idrus di rumahnya di Jalan Arya Bujangga, Berangas Timur, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.

Pensiunan penjaga Sekolah Dasar Tata Mesjid, Desa Alalak Bakti, Kecamatan Alalak, itu pun segera membacakan beberapa doa. Ia lalu meniupkan air ke dua botol plastik milik perempuan berumur 35 tahun tersebut. Air yang sudah diberi doa atau mantra itu dibawa pulang untuk diminum seluruh anggota keluarga. Mereka meyakini hal itu bisa memberi keselamatan buat keluarga.

Datang ke rumah Idrus (51) sepintas memang tidak mengira kalau setiap hari ia banyak menerima warga yang meminta tolong. Tidak hanya minta didoakan, tetapi juga batatamba (pengobatan atau penyembuhan alternatif). Apalagi di depan rumahnya tidak ada papan nama terkait batatamba tersebut.

Yang tertulis justru kegiatan berkesenian tradisional yang dilakukan Idrus dengan Sanggar Seni Sinar Pusaka. Sanggar ini menyelenggarakan kegiatan seni japen, kuda gepang, tari topeng, wayang kulit, dan musik panting.

Orang yang baru datang dan membaca papan nama di depan rumah itu pastilah mengira Idrus adalah pegiat seni Jawa atau Melayu. Padahal sanggar milik Idrus ini justru menjadi salah satu wadah pelestarian seni tradisi Banjar dan Dayak Bakumpai, yang masih bertahan di Kalsel.

”Kalau di rumah, saya memang lebih dikenal sebagai petatamba (orang pintar dalam pengobatan alternatif),” katanya. Untuk kegiatan batatamba, Idrus melakukannya di ruang depan.

Akan tetapi, di kalangan pegiat tradisi adat dan kesenian di Kalsel, Idrus justru menjadi salah seorang pelestari tradisi Banjar dan Dayak Bakumpai. Pemerintah Kabupaten Barito Kuala sudah beberapa kali mengirim Idrus dan tim keseniannya tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Dua identitas

Di TMII mereka menampilkan berbagai tradisi pengobatan dan kesenian Banjar dan Bakumpai. Uniknya, tangan pria yang sudah dua kali menunaikan ibadah haji ini—dan memberangkatkan anak dan keluarganya berhaji sebanyak tujuh kali ini—mampu memadukan kepercayaan lama Dayak Bakumpai dengan tradisi Islam Banjar.

Dari kemampuannya inilah, Idrus bisa disebut sebagai sosok yang memiliki dua identitas, yakni sebagai seorang petatamba sekaligus pelestari seni tradisi Banjar dan Bakumpai. Bahkan, sebagian kegiatan batatamba itu ia lakukan dengan ritual tradisi dan seni budaya Dayak dan Banjar yang sudah sangat jarang digelar.

Kegiatan menyanggar banua atau babarasih banua, yakni tradisi ritual masyarakat Banjar dalam upacara selamatan kampung dengan menggelar pergelaran wayang kulit dan topeng Banjar untuk batatamba, misalnya, sudah jarang ditemukan di Kalsel. Idrus justru terus mempertahankannya. Kebanyakan warga yang meminta menggelar proses ini sebagai upaya mereka membersihkan berbagai perilaku buruk yang dapat menimbulkan bencana terhadap kampung atau keluarga mereka.

”Beberapa kampung di pinggiran Sungai Barito masih mempertahankan tradisi ini. Tetapi, yang pindah ke kota meminta digelar di sanggar saya,” katanya. Adapun yang memiliki hajat tertentu, seperti mengusir roh jahat tertentu, biasanya minta digelar wayang sampir.

Itulah sebabnya, ruang tamu dan ruang tengah rumah Idrus menjadi tempat utama menggelar berbagai tradisi tersebut. ”Jangan heran, rumah kami tidak ada kursi tamu. Yang ada cuma seperangkat gamelan, topeng, dan pakaian kesenian. Semuanya kami sediakan sendiri. Mereka yang meminta itu tidak hanya dari Kalsel, tetapi juga ada yang dari Kaltim dan Kalteng,” tuturnya.

Sebagian seni tradisi ini, katanya, tidak bisa dilakukan sembarang orang. Itu karena tradisi tersebut berasal dari warisan turun-temurun. Idrus adalah keturunan keenam yang melakukan kegiatan ini.

Orang Dayak Bakumpai seperti dirinya, kata Idrus, juga memiliki tradisi upacara badewa untuk menyembuhkan sejumlah penyakit, seperti stres atau gila karena terkena guna-guna. Juga sulit jodoh karena ”dikerjai” oleh orang yang tidak suka, menderita penyakit yang sulit diobati karena terkena parangmaya,, yakni orang yang mati separuh badan, tangan mendadak tidak bisa digerakkan, badan membiru seperti terkena santet. Dengan ritual badewa inilah, Idrus berusaha menyembuhkan penyakit-penyakit yang muncul karena kekuatan magis tersebut.

Untuk batatamba dengan memainkan kesenian tradisional itu, Idrus tidak sendirian melakukannya. Tetapi, bersama sejumlah seniman yang tergabung dalam Sanggar Seni Sinar Pusaka, yang menjadi para penari, pemukul gong, babun (gendang), sarun dan kanung. Bahkan, beberapa seniman tradisional dari beberapa kampung di pinggir Sungai Barito juga dipanggil ikut bergabung.

”Kalau mau menggelar lengkap kegiatan ini, biayanya bisa belasan juta rupiah. Itu sebabnya, kami menyesuaikan dengan kemampuan pengundang. Yang penting, tim kesenian yang main bisa mendapat upah secukupnya,” katanya.

Untuk batatamba dengan pergelaran topeng wayang Banjar, biasanya juga dilengkapi sesaji sebanyak 41 macam kue. Selain itu, juga disediakan piduduk berupa sesaji mentah, seperti kelapa, beras, bawang merah, gula merang, benang dan jarum. Adapun pengobatan dengan upacara badewa dilakukan dengan prosesi mengundah roh leluhur dengan pembacaan mantra dan tari-tarian ritual Dayak Bakumpai mengelilingi pasien yang akan diobati.

Topeng wayang Banjar

Idrus, yang di kampung lebih dikenal dengan Haji Pa Rudi, (sebutan itu karena anak pertamanya bernama Rudi), menekuni prosesi berkesenian untuk pengobatan ini sejak tahun 1980-an. Ia mampu mempertahankan kesenian tradisional ini bukan karena mendapat bantuan dari pemerintah, melainkan dari warga yang datang untuk berobat.

Untuk perangkat 30 jenis topeng wayang Banjar, misalnya, Idrus mengaku membuatnya sendiri tahun 1994. Itu karena tahun 1990 puluhan topeng warisan keluarganya hilang. Adapun perangkat baju dan gamelan juga dibeli dari hasil pertunjukan ke beberapa kampung.

”Kami juga diberi sebuah mobil pick-up oleh seorang warga dari Surabaya setelah berhasil menyembuhkan sakit yang diderita anggota keluarganya. Dengan mobil inilah, kami masuk keluar kampung di pinggir Sungai Barito hingga ke daerah perbatasan Kalteng untuk mendatangi warga yang mengundang. Dengan cara inilah, kami masih bisa melestarikan seni tradisi Banjar dan Bakumpai ini,” ujarnya.

H IDRUS (PA RUDI)

• Umur: 50 Tahun • Istri: Hj Mama Rudi (50) • Anak: 1. H Rudi (37) 2. Hj Nanti (30) 3. Hj Rusmini (28) 4. Hj Mulyani (25)

Sumber :
Oleh M Syaifullah di
Kompas, 19 Desember 2009
http://m.kompas.com
hymunk - 05/01/2011 01:13 PM
#176
Upacara Adat Badewa
Upacara adat badewa adalah merupakan prosesi yang dilakukan oleh orang dayak bakumpai dalam melakukan pengobatan bagi mereka yang sakit akibat diganggu roh halus, parang maya (santet), palasit, dan juga bagi mereka yang sulit mendapatkan jodoh, penglaris dagang, dan sebagainya. Adapun proses upacara adat badewa adalah sebagai berikut:

1. Mempersiapkan Alat ritual seperti topeng pantul, sangkala, panji, kelana, wayang dll.





2. Mempersiapkan sesajen 41 macam



3. Batatabur atau memanggil roh-roh para leluhur yang diiringi dengan gamelan



4. Setelah prosesi tersebut selesai maka mulailah melakukan pengobatan dengan bantuan roh leluhur yang telah dipanggil.















5. Setelah pengobatan tersebut selesai maka prosesi yang dilakukan adalah pengembalian roh-roh leluhur.



sumber :
http://sanggarsenisinarpusaka.blogspot.com/2010/03/upacara-adat-badewa.html
hymunk - 05/01/2011 01:31 PM
#177
Tari Pantul




Tari ini adalah merupakan tari tradisi dayak bakumpai (Kalimantan Selatan) yang dimana biasanya ditarikan pada upacara adat Batopeng Bawayang untuk menolak bala (babarasih kampung).

Tari ini biasanya dimainkan dalam bentuk teater cerita rakyat sekaligus untuk pengobatan bagi mereka yang sakit karena diganggu oleh roh halus akibat lupa dengan leluhurnya atau mereka sakit karena menolak menjadi seorang pardewa (orang yang bisa mengobati penyakit).

Dalam ritual adat tersebut, setiap penarinya haruslah memiliki garis keturunan dari penari-penari sebelumnya. Biasanya mereka mengenakan busana hitam atau kuning, yang juga melambangkan bahwa mereka termasuk keturunan penari Pantul.

Tarian yang kental dengan unsur magis ini, dimanfaatkan masyarakat Dayak Bakumpai sebagai media pengobatan penyakit kejiwaan, guna-guna, dan lain sebagainya.

Saat membawakan tarian ini, penari seperti kehilangan kesadarannya, semua gerakannya refleks, namun gerakan tariannya masih teratur.

Mereka diyakini digampiri makhluk alam sebelah, dan dengan bantuan makhluk tersebut, saat menari mereka diyakini mampu mengobati orang-orang yang sakit.

Selain itu, penari juga dapat mendeteksi orang yang sedang kena guna-guna, atau mempunyai ciri pertanda buruk, seperti ciri disambar buaya, disambar petir, mati lamas dan lainnya. Mereka juga dipercaya bisa membuang semua pertanda buruk tersebut.

Biasanya tarian ini dibawakan oleh lima orang, namun bisa juga dimainkan hingga tujuh orang. Tarian ini biasanya dimainkan oleh laki-laki, namun juga bisa dimainkan oleh perempuan, yang penting masih memiliki garis keturunan.

Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian Pantul biasanya berupa Sarun, Sarantam, Agung, Kanung, rebab dan lain sebagainya.

Ketua Sanggar Seni Sinar Pusaka Selidah, H Rudi mengatakan, ada ritual khusus yang harus dilakukan sebelum mebawakan tarian ini.

Dia menambahkan, biasa ritual khusus tersebut dilakukan dengan cara menyiapkan sesajen kepada makhluk alam sebelah yang berperan sebagai tabib tersebut.

"Kalau tarian ini dimainkan oleh perempuan, maka gaya atau gerakan perempuan tadi gesit, layaknya seorang pria," ujar H Rudi.

Jika seorang keturunan penari Pantul yang terpilih sebagai penari, namun tidak mau melaksanakan atau mengemban tugas untuk melestarikan tarian ini, maka diyakini orang tersebut akan mengalami gangguan kejiwaan, bahkan bisa gila.

Kesenian Bapantul di Kabupaten Tapin




Kesenian Tradisional Bapantul merupakan hiburan segar yang jenaka dan mampu membuat penontonnya tertawa, padahal propertinya cukup sederhana, yang utamanya adalah sebuah topeng yang dipakai oleh seniman yang berperan tergantung dari karakteristik topeng tersebut.

Topeng ini bisanya bukan topeng tokoh pewayangan tetapi topeng yang menunjukkan mimik muka yang lucu dan jenaka, sehingga apabila orang yang melihatnya diharapkan akan langsung tertawa. Biasanya cerita yang ditampilkan adalah cerita sehari-hari dalam kehidupan masyrakatnya yang biasanya berhubungan dengan mata pencaharian masyrakat Tapin, seperti Paunjunan (orang yang senang memancing), Tukang Iwak (orang yang berjualan ikan), Panungkihan (orang yang mencari kayu) dan lain-lain.

Disamping pola ceritanya yang cukup sederhana, ada pula segi positif dari Kesenian Tradisional Bapantul, biasanya pemeran/pemain/seniaman dari kesenian ini membumbui ceritanya dengan pesan-pesan moral yang disampaikan untuk para penonton. Pesan moral ini bervariasi sesuai dengan perkembangan jaman yang ada, seperti pesan yang ditujukan untuk para generasi muda, bahwa mereka harus menjauhi obat-obatan terlarang dan belajar yang rajin agar mampu membangun bangsa ini.

Hal-hal inilah yang cukup unik dalam kesenian ini karena dalam kesenian tradisional biasanya hanya menampilkan ciri khas kesenian itu, baik itu unsur tradisionalnya, budaya, mistik, dan pola cerita. Kesenian Tradisional Bapantul memiliki akulturasi tersendiri dalam hubungan dengan yang menonton kesenian ini sehingga kesenian ini sangat berharga untuk dipertahankan dan cukup disayangkan untuk hilang.

Penari Topeng Kesurupan Pantul dan Sangkala





RATUSAN orang memadati Jalan Banyiur Luar RT 10, Kelurahan Basirih, Banjarmasin, Senin (2/1/2011) malam. Mereka sedang menyaksikan dua laki-laki yang sedang menari di atas panggung tapi dalam keadaan tak sadar.



Keduanya kerasukan roh halus ketika mengenakan topeng pantul dan sangkala. Namun, dua pria itu berangsur-angsur sadar setelah sesepuh kawasan Banyiur, Ara, menapung tawari mereka sembari membacakan doa.



Setelah kedua penari yang kesurupan mulai sadar dan turun dari panggung, penonton langsung berebut air yang telah disiapkan dan ditempatkan tidak jauh dari panggung.



Baik orangtua maupun anak-anak berebut mendapatkan air itu. Mereka membasuh muka dengan air yang diyakini membawa berkah itu.

Sebelum dua pria itu menari mengenakan topeng pantul dan sangkala, di atas panggung berukuran 4x3 meter itu, tujuh perempuan berlenggok gemulai. Mereka membawakan tarian Tujuh Bidadari. Ketujuh perempuan itu juga mengenakan topeng di wajahnya.



Alat musik babon, tenongan, gong, kerecek dan biola mengiringi gerakan tubuh para penari. Sesekali penonton bersorak dan bertepuk tangan melihat tarian itu.

Para penari sebelum naik ke panggung juga terlebih dulu ditapung tawari. "Istilahnya, kami pinjam dulu rohnya untuk menari. Setelah azan Subuh baru mengembalikan roh ke alam gaib," kata Ara, pria berusia 60 tahun.

Tradisi tari topeng di Kelurahan Basirih itu berlangsung turun temurun di keluarga Ara. Konon, tidak sembarang orang bisa membawakan tari topeng itu.

Anggota keluarga menggelar tradisi itu setelah turun bulan, maksdunya digelar pada akhir tahun atau awal tahun. Seperti pergelaran malam itu, dilaksanakan awal tahun karena sudah turun bulan.

Ara mengatakan, tujuan pergelaran itu untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga. Pihaknya meneruskan tradisi tetua sebelumnya, menggelar tari topeng setelah turun bulan.

"Ini hajatan tahunan, mengumpulkan keluarga yang jauh-jauh. Supaya semua beketahuan (saling mengenal), ada yang dari Tamban dan Mantuil," ujar Ara.

Menurut Ara, semua penari masih satu silsilah keluarga. Jika bukan, maka diyakini tidak bisa menari mengikuti alunan musik pengiringnya.

Seorang penari, Ayu mengatakan, tidak sulit belajar tari topeng. Menurut dia, tinggal menari melenggokkan badan sesuai mengikuti alunan musiknya. "Mudah saja menarinya, mengikuti alunan musik," kata perempuan berkulit putih itu.


sumber :
http://epaper.banjarmasinpost.co.id/
Banjarmasinpost.co.id
http://hardanika05.wordpress.com/
http://www.tribunnews.com/
http://sanggarsenisinarpusaka.blogspot.com/2010/03/tari-pantul.html
hymunk - 10/01/2011 12:20 PM
#178
Kayu Manis - Loksado, Dayak Meratus
Hasil Bumi di Indonesia sangat melimpah,karena begitu banyak ragamnya hingga sangat di kenal di dunia,salah satu Hasil Bumi itu adalah Kayu Manis,Kayu yang satu ini mempunyai fungsi yang tidak bisa dianggap remeh,Kayu Manis lebih sering digunakan untuk membantu menyehatkan dengan di jadikan obat bagi manusia.




Kayu Manis adalah Rempah yang sangat strategis keberadaannya,untuk mengenal lebih jauh tentang Kayu Manis,dan bagaimana manfaat dari kayu manis.




Kayu Manis adalah sebutan untuk tumbuhan yang menghasilkan kulit kayu yang terasa manis. Orang awam sering melihatnya dalam bentuk potongan kulit kayu berukuran kecil-kecil yang berwarna coklat, menggelung. Biasanya digunakan untuk bumbu dapur, dan sedikit sekali yang tahu bahwa fungsi lainnya adalah penyedap seduhan minuman kopi.



Menurut salah satu petani Kayu Manis di Balai Malaris, Dayak Meratus, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Kayu Manis layak dipanen jika berusia 10 tahun. Ketebalan kulitnya sudah mencapai sekitar 1 - 1,5 cm.



Ada dua cara memanen Kayu Manis, pertama ditebang dan yang kedua adalah dengan mengulitinya sebagian demi sebagian. Bayangkan kalo ditebang dan memerlukan waktu 10 tahun untuk bisa dipanen lagi.







Untuk menghasilkan Kayu Manis yang siap jual, petani perlu melakukan beberapa hal. Pertama, setelah Kulit Kayu Manis dipanen, maka dikerok atu dikerik dulu kulit luarnya hingga bersih dan yang terlihat hanya kulit dalamnya saja. Warnanya agak kekuningan layaknya kupasan kulit kayu lainnya.



Kedua, setelah dikerok maka Kulit Kayu Manis akan dijemur di bawah terik matahari. Jika hasilnya sudah bisa patah kering baru dijual. Kulit kemudian dijemur pada sinar matahari selama 2-3 hari sampai mencapai kadar air 10%, kulit kemudian dipotong-potong sesuai kebutuhan.




Pegunungan Meratus yang membentang dan melintasi sejumlah kabupaten kaya akan plasma nuftah berupa tanaman obat yang berkualitas diantaranya tanaman kayu manis. Tanaman tersebut sebagian tumbuh alami sebagian lagi dibudidayakan oleh masyarakat Dayak Loksado kabupaten Hulu Sungai Selatan. Menurut Camat Loksaso Rumbingan, luasan areal hutan kayu manis di pegunungan Meratus diperkirakan mencapai 5 sampai 10 hektare yang didalamnya juga terdapat tanaman kemiri.

Untuk pemasaran kayu manis tersebut masyarakat pedagang sudah memiliki jaringan tersendiri dengan para pembeli sehingga untuk pemasaran nya sampai saat ini masih cukup baik. Kayu manis yang terdapat di kawasan pegunungan Meratus kecamatan Loksado kabupaten Hulu Sungai Selatan merupakan kayu manis dengan kualitas nomor satu, sehingga laku dicari kunsumen. Camat Rumbingan menjelaskan luasan areal kawasan hutan kayu manis di kawasan ini cenderung meningkat karena harganya yang relative sehigga memotivasi masyarakat untuk menanamnya.

Camat Rumbingan menambahkan masyarakat Dayak Loksado sangat menjaga kelestarian lingkungan dengan membentuk kelompok masyarakat mangunsiraksa yang bertugas menjaga kawasan hutan manis dan kemiri serta kelestarian anggrek yang ada di kawasan pegunungan tersebut

Dibawah ini ada beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan ramuan dari Kayu Manis :

• Sakit Perut
Madu yang dicampur bubuk kayu manis dapat mengobati sakit perut. Juga dapat membersihkan perut serta menyembuhkan bisul hingga keakar - akarnya.

• Kembung
Penelitian yang dilakukan di India dan Jepang menyatakan bahwa madu yang diminum bersama kayu manis panas dapat membuat nafas tetap segar sehari penuh. Orang Amerika Selatan biasa meminum ramuan tersebut dipagi hari.

• Sakit Kepala dan Sinus
Minum campuran madu dan jus jeruk dapat menyembuhkan sakit kepala karena sinus.

• Kelelahan
Warga usia lanjut yang mengkonsumsi madu dan bubuk kayu manis dengan ukuran sama, terbukti lebih waspada dan fleksibel. Penelitian Dr. Milton membuktikan 1/2 sendok makan madu yang diminum bersama segelas air dan ditaburkan bubuk kayu manis dapat meningkatkan vitalis tubuh dalam seminggu. Ramuan tersebut diminum setiap hari setelah menggosok gigi dan jam 3 sore pada saat vitalis tubuh menurun.

• Kelebihan Berat Badan
Minum segelas air yang direbus bersama madu dan bubuk kayu manis
setiap pagi 1/2 jam sebelum sarapan atau saat perut masih kosong. Bila dilakukan secara teratur dapat mengurangi berat badan, bahkan bagi orang yang sangat gemuk. Minum ramuan ini secara teratur akan mencegah lemak terakumulasi dalam tubuh, meski tetap makan makanan kalori tinggi.

• Influenza.
Ilmuwan Spanyol telah membuktikan bahwa madu berisi kandungan alam yang membunuh kuman influenza dan menyembuhkan pasien dari flu. Maka minumlah madu ketika akan flu.

Nah kalau sudah demikian tak heran kebutuhan tentang Kayu Manis semakin hari semakin dibutuhkan,terutama di Negara lain peran Kayu Manis tak tergantikan..

Masyarakat Dayak Meratus Balai Adat Malaris Loksado Kalimantan Selatan kini dapat tersenyum gembira. Ini setelah kayu manis yang merupakan salah satu produk utama pertanian di kawasan ini (selain karet dan padi – red) mendapatkan sertifikat organis SNI dari PT BIOCert Indonesia. Penyerahan sertifikat secara simbolis ini diberikan pada tanggal 26 Mei 2010 lalu di Jakarta berbarengan dengan Agro and Expo 2010. Keberhasilan mendapatkan sertifikat organis ini adalah buah dari kerja keras para petani kayu manis Balai Malaris yang selama kurang lebih 2 tahun telah mengajukan permohonan sertifikasi kepada PT BIOCert Indonesia dengan difasilitasi oleh Yayasan Cakrawala Indonesia, Kalimantan dan Aliansi Organis Indonesia, Bogor

Di Kalimantan, Loksado adalah merupakan sentra kayu manis (Balai Malaris adalah salah satu dari 40 Balai di Loksado yang memiliki stok produksi kayu manis sekitar 80 ton – red). Sedangkan untuk Kecamatan Loksado sendiri, kapasitas produksi kayu manisnya mencapai 50 ton/bulan.

Kegiatan untuk mendapatkan sertifikat organik SNI ini adalah sebagai upaya untuk mengoptimalkan potensi kayu manis di kawasan ini guna didorong ke pasar ekspor. Harapannya, dengan mendapatkan sertifikat organis nasional dan Eropa, kayu manis Loksado mampu memberikan kontribusi ekonomi untuk masyarakat lokal. Semoga...



Hubungi: Pondok Informasi Mangku Raksa, Balai Malaris Dayak Meratus, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Atau jika anda berminat melakukan wisata ke loksado, anda bisa menghubungi:
yayasan cakawala hijau indonesia ( YCHI )
05114774335



sumber ;
http://www.facebook.com/album.php?aid=50323&id=100000228164940
http://ychi.org
http://riza6315.multiply.com
http://www.rribanjarmasin.info
http://baltyra.com
http://tbrajamusti.blogspot.com
http://www.kalbe.co.id
http://www.hasilbumi.com
http://www.bi.go.id
http://travel-report-fromyuni.blogspot.com
http://muhammad.student.umm.ac.id
hymunk - 18/01/2011 06:45 PM
#179
Rumah Banjar, sejarah, kontruksi, filosofi dan bahan bangunan
Spoiler for sejarah perkembangan rumah banjar


Spoiler for kontruksi rumah banjar


Spoiler for filosofi rumah banjar


Spoiler for teknologi bahan rumah banjar


Spoiler for teknologi bahan rumah banjar



sumber :
http://isalliv8.blogspot.com
hymunk - 22/01/2011 10:55 AM
#180
Intan dari Kalimantan Selatan


Tambang intan Kalimantan Selatan menyimpan banyak kandungan intan yang besar, akan tetapi tidak setiap saat bisa ditemukan. Yang bisa diperoleh setiap harinya hanyalah intan-intan kecil yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kadang-kadang dalam beberapa hari pendulang intan tidak dapat menemukan intan sama sekali. Akan tetapi hal ini tidak menyurutkan langkah mereka untuk bekerja mencari rezeki karena untuk menemukan intan yang diidam-idamkan sifatnya adalah untung-untungan. Baik bekerja keras atau seadanya saja, kalau sudah sampai rezekinya, maka hasillah apa yang mereka idam-idamkan. Begitulah resikonya jadi pendulang intan.







Penambang artinya pekerjaan yang dilakukan seseorang berkenaan dengan penggalian tanah, intan adalah mineral yang secara kimia merupakan bentuk kristal, atau alotrop, dari karbon. Intan terkenal karena memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama faktor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan cahaya. Sifat-sifat ini yang membuat intan digunakan dalam perhiasan dan berbagai penerapan di dalam dunia industri.

Penambangan intan merupakan sektor andalan dalam bidang perekonomian Kalimantan Selatan, dimana daerah Banjarmasin adalah daerah yang paling kaya akan intan, khususnya di daerah Cempaka yang merupakan daerah yang paling banyak ditemukan intan.







Bagi penduduk Desa Cempaka, mendulang intan merupakan mata pencaharian turun temurun. Para pendulang biasanya berkelompok-kelompok mengali lobang pada kedalam sekitar 10-12 meter dengan menggunakan perkakas tradisional dan metode lama.





Mereka bekerja keras mengadu nasib. Bahan galian tersebut selanjutnya dicuci untuk mencari sebutir Intan, terkadang pendulang menemukan pula Batu Akik dan Pasir Emas.



Cempaka adalah kawasan penambangan intan dan emas yang terletak 47 km dari Kota Banjarmasin dan 7 km dari Kota Banjarbaru.



Di tempat ini pengunjung dapat melihat langsung bagaimana para pekerja mencari Intan atau Emas di lobang-lobang penuh galian dan penuh lumpur. Dari catatan sejarah di tambang ini pernah ditemukan intan terbesar seberat 20 karat pada tahun 1846, rekor ini kemudian dipecahkan pada tahun 1850 dengan ditemukannya intan yang lebih besar lagi seberat 167,5 karat.



Intan yang ditemukan kemudian dibawa ke Martapura untuk dibersihkan dan digosok, di jantung Kota Martapura banyak ditemukan rumah-rumah tempat penggosokan intan baik secara tradisional maupun modern




Setidaknya dalam satu dekade, Kota Martapura dikenal hingga mancanegara, karena kekayaan batu mulianya yang sangat melegenda. Namun, menyajikan kilauan intan yang mempesona, ternyata harus mengorbankan banyak hal. Kerusakan lingkungan sekitar salah satunya.

“Jangan lupa lihat permata, murah-murah, lho”, demikian pesan teman-teman, begitu tahu saya akan berkunjung ke Kalimantan Selatan, tepatnya di Kota Martapura. Sejak jaman dahulu, propinsi ini sangat terkenal dengan permatanya. Mencari permata, intan, atau berlian kurang lengkap rasanya jika tidak mendatangi pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, Kabupaten Banjar. Di sinilah, beragam jenis batu-batu mulia itu mudah ditemukan.

Selain itu, hal lain yang membuat pertokoan ini cukup terkenal, yakni harga yang ‘miring’ dibanding di tempat lain dan dekat dengan pendulangan intan sehingga terjamin keasliannya. Sebagai tambahan informasi, berlian merupakan intan yang sudah dikikis bagian luarnya. Sedikitnya setengah bagian dari intan harus dibuang untuk menghasilkan batu berlian yang berkilau.

Spoiler for batu permata












Kebanyakannya intan yang masih mentah atau sudah digosok diperjualbelikan di Kota Martapura. Ada dua macam cara orang berjualan intan di Marapura ini. Yang pertama, dijual di pusat pertokoan permata. Yang cukup terkenal adalah Pusat Pertokoan Cahaya Bumi Selamat (CBS).





Di tempat ini dijual berbagai macam jenis permata dari yang harganya murah sampai yang harganya selangit. Selain permata, di pertokoan CBS juga dijual bermacam aksesories, kerajinan tangan, khas daerah sampai kepada ramuan obat dari Kalimantan seperti pasak bumi.

Cara yang kedua adalah yang dikenal di kota Martapura dengan sebutan PembalantikaN Intan. Sistem dagang seperti ini tidak memajang intan dagangan mereka di sebuah toko, tapi intan-intan itu disimpan di dompet atau kantong mereka. Para penjual ini biasanya bergerombol di suatu tempat sambil memamerkan intan-intan kepunyaan mereka kepada orang yang berminat. Mudah saja untuk menemukan para pedagang ini di Kota Martapura. Tanya saja setiap orang yang berjualan di pasar Martapura pasti mereka tahu tempatnya.

Oleh karena di kota ini banyak ditemukan intan dan merupakan tempat jual beli intan yang terkenal di Indonesia, maka Martapura pun mendapat julukan Kota Intan.

Di Martapura juga terdapat tambang intan yang terkenal di Pengaron, dimana pada masa pendudukan Belanda tambang intan di Pengaron adalah penghasil intan terbanyak, tambang intan tersebut adalah Orange Nassau.
Baru-baru ini, penambang di Kabupaten Banjar menemukan intan mentah sebesar pentol bakso. Kelompok pendulang intan tradisonal menemukannya di kedalaman 15 meter di Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar.

Beratnya mencapai 40 gram, penambang mengatakan ukurannya 200 karat. Diberi nama Puteri Malu, intan ini penemuan terbesar setelah intan Trisakti tahun 1965 seberat 33 gram. Bagi seorang penambang, menemukan intan besar belum tentu membawa kemakmuran baginya. Penambang intan ibarat seorang buruh tani, hidup miskin bertahan hidup dari utang.

Kabar ini membuat Desa Antaraku ramai dikunjungi para wartawan media cetak dan elektronik padahal menuju desa ini harus menempuh perjalanan dari Ibu Kota Kabupaten Banjar dengan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dan mesti melewati jalan yang terbilang tidak mudah, namanya juga di gunung.



Kediaman H. Irsa yang berjarak 500 m dari tempat intan putri malu yang didapat sangatlah sederhana, kehidupan warganya sangat religius dan agamis dengan kehidupan yang rukun, aman dan tentram.



H. Irsa mengisahkan, intan yang ditemukannya sebesar 200 karat ini memiliki kelebihan dari intan-intan yang pernah ditemukan, karena bentuknya yang bulat bundar juga melebihi berat intan tri sakti yang beratnya hanya 169 karat yang ditemukan pada tahun 1969 di Desa Pumpung Cempaka.

sumber :
http://jackoagun.multiply.com/journal/item/43/Potret_Kelam_Intan_Cempaka
http://nanagina.student.umm.ac.id/2010/07/29/martapura-kota-intan/
http://tambangkalimantan.blogspot.com/
http://tpmkalimantan.wordpress.com/2008/10/05/shame-princess-diamond/
http://jalanjalanterus.wordpress.com/2008/06/22/
http://www.flickr.com/photos/jantomarzuki/
http://muhammadmarcohidayat.wordpress.com/2009/04/23/penambangan-intan-di-kalimantan-selatan/
http://penyair-kalsel.blogspot.com/2010/11/nasib-intan-trisakti.html
http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=989
http://www.facebook.com/album.php?aid=2091970&id=1092890726
http://www.facebook.com/album.php?aid=23742&id=1484147259&page=22
http://www.facebook.com/album.php?aid=2076643&id=1003230454
hymunk - 22/01/2011 04:54 PM
#181
Wajidi, Pembelajar Sejarah Lokal



Oleh M Syaifullah

Wajidi mengeluarkan sejumlah dokumen dalam sebuah amplop di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, di Banjarmasin. ”Ini sejumlah bahan terkait Pangeran Hidayatullah dari Kerajaan Banjar, Kalsel. Ketokohan beliau ini menarik untuk didalami sehingga bisa dinilai patut tidaknya tokoh ini mendapat gelar pahlawan nasional,” katanya.

Peneliti Madya bidang sejarah dan arkeologi tersebut sudah melakoni pekerjaan mencari atau menerima bahan-bahan sejarah perjuangan rakyat dan kebudayaan Kalsel selama 18 tahun.

Dia memulainya ketika diterima sebagai staf Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel tahun 1993. Saat itu, dia baru setahun lulus sebagai sarjana Jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin (1992).

Ketekunan mengkaji sejarah lokal dan budaya Banjar makin serius karena sejak tahun 2001 dia menjadi peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Daerah Provinsi Kalsel. Dia kini merupakan salah satu peneliti sejarah lokal yang cukup produktif di Kalsel.

Di lembaga itu, Wajidi tidak hanya membuat laporan atau makalah karena bertugas sebagai peneliti. ”Saya juga berusaha membuat buku dengan harapan masyarakat Kalsel lebih banyak mengenal sejarah daerahnya, khususnya di kalangan muda,” katanya.

Wajidi merasa prihatin, bahan sejarah lokal di Kalsel masih minim tersedia di perpustakaan sekolah-sekolah. Sehubungan dengan itu, Wajidi sudah menerbitkan lima buku terkait sejarah lokal dan budaya Banjar.

Meskipun cukup banyak menerbitkan buku sejarah dan budaya lokal, Wajidi menyatakan dia bukanlah sejarawan atau budayawan. ”Saya bukanlah ahli. Saya lebih tepat sebagai seorang pembelajar sejarah dan budaya lokal. Sebagian hasil pembelajaran itu saya tuangkan lewat buku,” ujarnya.

Perang kemerdekaan

Wajidi lebih memilih penulisan sejarah kontemporer atau dikenal sejarah sezaman. Ia lebih banyak mendalami sejarah lokal, seperti perang kemerdekaan, mulai masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan. Dia memilih sejarah lokal karena sebagian para pelaku atau keluarganya masih hidup. Sebagian dokumentasi juga masih disimpan oleh keluarga mereka.

Selain membukukan sejarah lokal, katanya, Wajidi kini juga berupaya mengumpulkan foto-foto masa lalu. Dia berharap pemerintah provinsi memfasilitasi penyelamatan foto-foto perjuangan rakyat Kalsel pada masa lalu. ”Foto milik Kantor LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang dipamerkan tahun 1995, misalnya, memperlihatkan seorang pejuang terkapar bersimbah darah akibat terjangan peluru Belanda. Foto itu sangat dramatis dan menceritakan betapa beratnya perjuangan mereka,” katanya.

Mengutip pendapat Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kalsel Bambang Subiyakto, buku sejarah lokal yang ditulis Wajidi, yakni Proklamasi Kesetiaan kepada Republik (2007), patut diapresiasi. Sebab, perjuangan di Kalsel, yakni perjuangan menolak negara federal di daerah dan Proklamasi 17 Mei 1949, berdirinya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Divisi IV Pertahanan Kalimantan itu selama ini belum dianggap penting dalam sejarah perjuangan nasional. Ini dinilai kurang adil.

Sementara itu, dalam buku Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, Wajidi juga ingin menyampaikan nasionalisme bangsa Indonesia tidak akan terwujud tanpa mengedepankan dinamika aktivis organisasi pergerakan di daerah pada masa itu.

Sesuai kemampuan

Dalam menulis buku, Wajidi tidak melakukannya secara khusus. ”Buku yang terakhir sebenarnya mulai dia tulis tahun 2003 dan baru diterbitkan 2007. Hal ini karena tidak ada dana khusus untuk itu. Wajidi meneliti dan mengumpulkan bahan perlahan-lahan, sesuai dengan kemampuannya,” ujar Bambang.

Wajidi juga tidak menawarkan tulisannya ke penerbit dan kemudian menerima royalti setelah buku diterbitkan dan dijual. Ia menerbitkan buku dengan modal sendiri. ”Kalau buku pada umumnya dicetak lebih dari 1.000 eksemplar, saya menerbitkan sesuai kemampuan dana tersedia, misalnya cukup 200 atau 500 buku,” katanya.

Bagi Wajidi, kemampuan menulis tidak datang dengan sendirinya. Sejak kuliah di FKIP Unlam tahun 1989, dia sering menulis artikel di beberapa surat kabar di Kalsel. ”Tidak semua artikel yang saya kirim dimuat, banyak juga yang ditolak. Tetapi, itu tidak membuat saya berhenti menulis,” katanya.

Kemampuannya menulis semakin terasah setelah mengikuti berbagai lomba penulisan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Tahun 1991-2009, ada tujuh lomba penulisan yang ia menangi, mulai juara I hingga III. ”Sebagian hadiah dari lomba penulisan itu juga menjadi modal saya untuk membuat buku dan tentu juga membangun rumah,” kata Wajidi.

Mengumpulkan koran, dokumen, dan foto-foto lama, menemui tokoh-tokoh masa lalu atau menemui keluarga dan teman-teman para tokoh itu, sampai kini tetap dilakukan Wajidi.

”Dengan bahan dari merekalah berbagai tulisan atau buku-buku itu bisa saya tulis. Secara materi, sejarah memang tidak memberikan kekayaan, tetapi muatannya memberikan guru kehidupan yang amat berharga bagi generasi mendatang,” tuturnya.

WAJIDI

• Lahir: Pagat, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel

• Jabatan: Peneliti Muda Bidang Ilmu Sejarah dan Arkeologi pada Balitbangda Provinsi Kalsel

• Pendidikan terakhir: S-1 Pendidikan Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin (1992)

• Karya buku: 1. Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007) 2. Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007) 3. Artum Artha, Sastrawan, Wartawan, dan Budayawan Kalimantan Selatan, Debut Press, Yogyakarta (2008) 4. Glosarium Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Periode 1900-1950, Debut Press, Yogyakarta (2008) 5. Mozaik Sejarah dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, Sebuah Catatan Ringan, Debut Press, Yogyakarta (2008)

• Penghargaan (antara lain): - Pemenang II Lomba Karya Tulis Ilmiah Bidang Pendidikan Tingkat Universitas Lambung Mangkurat (1991) - Pemenang II LKT Tingkat Nasional Dwidasawarsa Taman Mini Indonesia Indah (1995) - Pemenang I LKT Peringatan Hari AIDS Internasional Tingkat Provinsi Kalsel (2000) - Pemenang I Lomba Penulisan Jurnalistik Tingkat Nasional Pendidikan Usia Dini pada Peringatan Hari Anak Nasional (2005) - Pemenang III Lomba Penulisan Kebencanaan Tingkat Nasional oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-BPPT (2009)

sumber :
http://cetak.kompas.com
hymunk - 22/01/2011 05:20 PM
#182
Bakhtiar Sanderta, Penjaga Identitas Kesenian Rakyat Banjar



Oleh M SYAIFULLAH

Jalannya perlahan saat menyambut tamu di rumahnya. Bakhtiar Sanderta, seniman Banjar ini usianya sudah 69 tahun, tetapi pemikiran dan usahanya melestarikan seni pertunjukan tradisional belum berhenti. Januari 2008 dia menjadi salah satu dari 27 seniman tradisi Indonesia yang menerima penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Pria kelahiran Awayan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, ini bulan lalu menerima kabar dari pejabat Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kalsel yang menyebutkan bahwa dia salah satu dari 27 seniman tradisi Indonesia penerima penghargaan Maestro Seniman Tradisi dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

"Saya hanya diberi kabar lisan adanya penghargaan itu. Saya berterima kasih kalau memang itu (penghargaan) ada. Setidaknya upaya kita menjaga keberadaan seni pertunjukan rakyat Banjar tak sia-sia," ucapnya.

Bakhtiar menjadi salah satu rujukan seniman yang belajar memainkan seni pertunjukan Banjar. Dia tergolong produktif membuat
naskah drama. Karya itu sebagai buah pergaulannya dengan para seniman tradisi yang secara intensif dia lakukan sejak 20 tahun terakhir. Ia juga memiliki sedikitnya 30 naskah drama kesenian Banjar klasik. "Para seniman itu sudah banyak yang meninggal. Kalaupun ada, tak banyak yang bermain lagi karena usia lanjut. Dari persahabatan dengan mereka, saya menuliskan naskah cerita yang mereka mainkan. Selama ini mereka bermain tanpa naskah, kepandaian itu mereka dapat dari berguru secara lisan dan langsung," katanya.

Bakhtiar mewarisi darah seni dari ayahnya, Hasan (almarhum), seorang seniman madihin, seni bertutur berisi pesan moral dan humor
dengan iringan alat musik perkusi yang disebut terbang.

Sedari masa kecil hingga sekarang ia terlibat langsung dengan seni pertunjukan rakyat. Sebagai pegawai negeri sipil pada 1974,
Bakhtiar ditempatkan sebagai tenaga teknis kesenian pada Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel. Di posisi ini ia tak hanya bertugas mendokumentasi seni pertunjukan rakyat itu, tetapi juga ikut bermain. "Wayang gong (wayang orang) Banjar dan mamanda (teater rakyat khas Banjar) sebagai seni teater kolektif tradisional memerlukan banyak orang. Saya sering ikut bermain untuk melengkapi. Istilah mereka sebagai bon, pemain cabutan. Saya tak pilih-pilih lakon, diberi peran apa pun, termasuk menjadi khadam (pelayan), saya laksanakan. Ibarat penelitian, saya membuat naskah setelah observasi partisipan," ceritanya.

Makin dalam

Keterlibatannya pada seni pertunjukan rakyat Banjar makin dalam setelah ia menjadi penilik kebudayaan. Di sisi lain karier PNS-nya
pun terus "menanjak". Setelah menjadi Kepala Seksi Kebudayaan Dinas P dan K Kota Banjarmasin, dia dipindah ke Kanwil P dan K Kalsel sebagai Kepala Seksi Bina Program Kebudayaan. Pembuatan naskah paling intensif dia lakukan saat menjadi Kepala Taman Budaya Banjarmasin.

Hasilnya, kata pria yang tinggal di Kompleks Kayu Tangi II, Banjarmasin, ini, kesenian Banjar seperti wayang gong dan mamanda
sampai sekarang bisa dipelajari oleh siapa pun tanpa harus berguru langsung atau ikut pertunjukan dari kampung ke kampung Bakhtiar juga berusaha mendokumentasikan kesenian tradisi Banjar lainnya, seperti madihin, kuda gepang carita (semacam kudang lumping yang membawakan cerita pewayangan), dan lamut (seni bertutur yang mengisahkan pesan moral dan percintaan dari negeri seribu satu malam), yang dibawakan dengan diiringi alat musik terbang.

Maka, para peneliti seni, baik dari dalam maupun luar Kalsel, mendatangi Bakhtiar untuk mempelajari naskah kesenian rakyat.
Beberapa perkumpulan seni pun memainkan karyanya, seperti pada mamanda.

Taman Budaya Kalsel pada akhir 2007 memainkan karyanya bersama karya tari dan lagu ciptaan Anang Ardiansyah serta Adjim Arijadi dalam pertunjukan Ansamble Drama, Lagu, dan Tari Tiga Seniman Kalsel. Naskah seni lamut miliknya juga ditampilkan pada Gebyar Festival Sastra Nusantara di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pertengahan 2007.

Bakhtiar tak hanya menulis naskah dan mendokumentasikan kesenian rakyat, tetapi ia pun pandai bermain, antara lain dalam wayang gong, mamanda, dan lamut. Semua itu tak didapatkannya dari pendidikan formal. "Ini terbentuk dari tempat lahir saya di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan. Di sana kesenian itu menjadi hiburan yang hidup di masyarakat. Warga menggelar kesenian tak hanya saat pesta perkimpoian, tetapi juga setiap kali petani panen," tuturnya.

Semasa orkes Melayu populer, kesenian rakyat masih bertahan. Bahkan, orkes dan kesenian rakyat digelar bersamaan. Kesenian rakyat kehilangan gaung dan makin jarang dimainkan setelah masuk televisi. "Tahun 1940 sampai 1970-an kesenian rakyat masih ditunggu kehadirannya di setiap kampung. Sejak kecil saya suka menonton pertunjukan kesenian itu," kenang Bakhtiar yang berguru kepada beberapa seniman kesenian rakyat.

Ketika ia belajar di Sekolah Guru B di Amuntai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara, misalnya, Bakhtiar belajar lamut kepada Suikat, guru seni lamut. Sedangkan mamanda dia pelajari dari seorang guru di Gambah Dalam, Kecamatan Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Ia juga belajar wayang gong dengan menjadi anak buah Dalang Tulur dari Kampung Barikin, Hulu Sungai Tengah.

Tahun 1960 Bakhtiar belajar di Sekolah Pendidikan Guru A di Banjarmasin. Di sini ia bergabung dengan perkumpulan kesenian Perpekindo pimpinan Amir Hasan Bondan. Dua tahun kemudian ia dipercaya memimpin perkumpulan itu.

Pada 1969 ia mendirikan Teater Banjarmasin, dan namanya pun dikenal kalangan seniman Banjar di Kalsel. "Teater Banjarmasin" menjadi wadah para seniman tradisi berkumpul dan tampil bersama."

Ketika itu banyak seniman yang madam (merantau) ke Banjarmasin akibat desakan ekonomi. Teater Banjarmasin menjadi hidup. Setidaknya setiap ada anggota yang menikahkan anaknya, mereka menyumbangkan pertunjukan salah satu kesenian tradisional. "Kesenian rakyat kian terpuruk karena tak banyak lagi ruang untuk memunculkannya."

Ia sadar, kesenian rakyat bertahan bila masyarakat peduli untuk melestarikannya. Naskah yang telah dikumpulkan Bakhtiar bisa menjadi pegangan untuk menjaga identitas kesenian Banjar. Namun, lanjutnya, agar bisa diterima zaman, mereka yang berminat harus dapat berimprovisasi dan mengemasnya sedemikian rupa hingga menarik untuk ditonton.

Ia juga berharap naskah kesenian rakyat Banjar yang sudah dikumpulkannya selama ini bisa dibukukan sebagai pegangan generasi
mendatang. "Ini bukan untuk kepentingan pribadi saya," ujar Bakhtiar yang bersama HM Thaha menerbitkan buku Pantun, Madihin dan Lamut (2000)

Drs H Bakhtiar Sanderta, maestro seni tradisi asal Kalsel, telah berpulang ke rahmatullah Kamis malam Jumat, pukul 20.00 Wita (6 Maret 2008). Budayawan asal Awayan, Kabupaten Balangan, Kalsel yang juga pegiat mamanda ini meninggal dunia dalam usia sekitar 69 tahun.


Biodata

* Nama: Bakhtiar Sanderta
* Lahir: Awayan, Kabupaten Balangan, 4 Juli 1939
* Istri: Astiah
* Anak :
- Lesti Arbainah
- Arif Budiman
- Misdamayanti
- Rudi Nugraha
- Mainawaty
* Pendidikan:
- SD Negeri Awayan, 1958
- Sekolah Guru B Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, 1960
- Sekolah Guru A Banjarmasin, 1964
- Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung
Mangkurat, jurusan Bimbingan Penyuluhan, 1984
* Riwayat Organisasi/Pekerjaan:
- Pendiri Teater Banjarmasin, 1969
- Wakil Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kalsel
- Wakil Ketua Bidang Kesenian Lembaga Budaya Banjar
- Penilik Kebudayaan pada Kantor Wilayah P dan K Kalsel
- Kepala Seksi Kebudayaan Kantor Pendidikan dan Kebudayaan
Kotamadya Banjarmasin
- Kepala Seksi Bina Program Kesenian pada Kanwil Depdibud Kalsel
- Kepala Taman Budaya Kalsel
- Pengajar pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Banjarmasin

sumber :
http://bubuhanbanjar-bakisah.blogspot.com
http://nasional.kompas.com/read/2008/09/08/22124021/penjaga.identitas.kesenian.rakyat.banjar
hymunk - 22/01/2011 07:51 PM
#183
Eksistensi Pengrajin Logam Nagara
Nagara merupakan salah satu wilayah yang berada di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Wilayah ini terkenal sebagai pusat perajin alat-alat logam di Kalimantan sejak ratusan tahun silam. Tidak ada angka tahun pasti yang menyebutkan kapan teknik pengolahan alat besi mulai dikenal di Nagara.

Tapi yang pasti aktifitas pembuatan alat-alat logam masih berlangsung di nagara sampai sekarang. Menurut cerita, perajin logam nagara mendapatkan ilmunya dari perajin logam dari Cina yang di datangkan langsung oleh Mpu Jatmika pada masa kerajaan Dipa.

Waktu itu perajin-perajin logam perunggu/kuningan dari Cina membuat sepasang patung perunggu untuk diletakkan di dalam Candi. Yang mana akhirnya Kerakaan Dipa kekuasaannya di pindah ke Nagara Daha (sampai sekarang). Perajin Nagara secara turun-temurun sekitar 8 generasi (sekitar 400 tahun yang lalu).

Spoiler for industri logam nagara


Pekerjaan sebagai perajin logam telah ditekuni oleh pengrajin ini menarik sekali apabila kita mau mengkaji keberadaan perajin logam di Nagara yang sampai sekarang masih mampu bertahan, masih mampu memproduksi barang-barang logam dan masih mampu menunjukkan eksistensinya, meskipun sekarang ini arus globalisasi dengan teknologi yang serba modern telah semakin mengikis keingintahuan dan membentuk jiwa manusia yang instant, yang tidak lagi mempunyai jiwa untuk mempertahankan budaya dan hasil budaya local masyararat itu sendiri.

Spoiler for industri logam nagara


Bagaimana pengolahan logam yang dilakukan oleh perajin Nagara, alat-alat apa saja yang dihasilkan dan apa yang menyebabkan sampai saat ini perajin logam dari Nagara tetap mampu bertahan ? Masyarakat kita memiliki kemampuan dan intelegensi dalam mengolah sesuatu dari alam sekitar menjadi hasil karya yang sangat berharga. Dan kita nikmati melalui keindahan-keindahan hasil budaya di wilayah kita.

Dalam catatan perjalanan Boeke kepedalaman Kalimantan tahun1879 disebutkan bahwa Nagara adalah kota yang aktifitas penduduknya sangat sibuk dengan kegiatan pembuatan alat-alat besi seperti pedang dan klewang. Selain itu Nagara juga dikenal sebagai Produsen gerabah, batu bara dan perahu besar yang terbuat dari kayu besi atau ulin. Ada beberapa teknik dalam pembuatan alat-alat logam, dimana dikenal dua teknik dasar yaitu teknik tempa dan teknik cetak. Teknik cetak adalah pengolahan logam dengan melalui proses peleburan sampai pada titik lebur tertentu kemudian di tuang dan di buat ke dalam cetakan sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Ada 2 jenis teknik cetak logam, yakni teknik cetak langsung dan teknik tidak cetak langsung. Sedangkan teknik tempa merupakan teknik pembuatan alat logam dengan menggunakan alat dasar pemukul besar sebagai penempa dan bara api untuk memanaskan logam yang akan di tempa tanpa proses peleburan.

Spoiler for industri logam nagara


Aktifitas pembuatan alat-alat besi dengan system tempa dilakukan dibalai, yaitu bangunan kecil tanpa dinding dengan atap rumbia atau seng, biasanya berada di belakang atau di depan rumah. Dalam proses pembuatan alat-alat logam tradisional ( Pande Besi), alat yang digunakan adalah : pompa udara atau puputan (ububan) tetapi saat ini para perajin banyak yang menggunakan blower, kemudian ada perapian, landasan berbagai jenis palu, penjepit, besi untuk pembengkok, pahat besi, tempat penyepuhan, tangguk untuk mengayak arang, pengarik arang dan besi logo/ cap.

Ada beberapa tahap dalam pembuatan alat-alat besi dengan system tempa yaitu : tahap pertama, besi dipotong-potong sesuai dengan ukuran dengan ditimbang, kemudian tahap pembentukan alat, dimana besi yang telah dipotong di baker dalam perapen, diambil dengan sasapit kemudian di tempa diatas landasan besi menggunakan penggodam. Yang terakhir adalah tahap finishing yaitu pemeberian Cap, digerenda dan disepuh. Perajin mempunyai cara tersendiri untuk membuat alat besi terutama kapang dan parang, supaya awet yaitu pembakaran besi jangan sampai merah, kemudian di tempa supaya pori-pori besi lebih rapat / tidak membengkak.

Untuk saat ini alat-alat yang dihasilkan oleh perajin logam telah banyak mengalami modifikasi dan perkembangan seiring dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Sementara itu produksi linggis, cangkul, dan sabit mulai berkurang, mungkin itu karena dipengaruhi semakin berkurangnya jumlah lahan pertanian. Memang semakin majunya zaman, perubahan dalam teknologi pun tidak dapat dihindari. Oleh karenanya selalu menyesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Pengrajin Nagara semakin membuktikan bahwa dengan kemampuan dan ketekunan, pengrajin logam bisa menghasilkan benda-benda yang berguna bagi umat manusia.

Keberadaan daerah Nagara sebagai produsen peralatan dari bahan logam sudah dikenal sejak ratusan tahun silam. Sampai sekarang aktifitas pembuatan alat-alat logam seperti perhiasan, alat-alat rumah tangga, dan peralatan kerja dari bahan emas, perak, tembaga, besi, nikel, dll, baik itu menggunakan teknik tempa maupun teknik cor. Teknik tempa terkonsentrasi di desa tumbukan banyu dan sungai pinana kecamatan Daha Utara, sedangkan untuk teknik cor terkonsentrrasi di desa Panggandingan kecamatan Daha Utara.

Jenis alat-alat logam yang diproduksi selalu berubah dari waktu-kewaktu, tergantung pada tuntutan zaman dan kebutuhan pasar. Fenomena ini tentunya menarik untuk dikaji lebih jauh lagi karena bagaimana pun juga eksistensi pengrajin logam yang mampu bertahan sampai saat ini menjadikan daerah nagara mempunyai nilai budaya, nilai ekonomis yang bisa dimanfaatkan lebih baik lagi.

Oleh : Erina Marsiana
Sumber :
http://www.facebook.com/album.php?aid=21818&id=1817418243
http://historycommunity.wordpress.com/2009/04/03/eksistensi-pengrajin-logam-nagara/
hymunk - 22/01/2011 08:37 PM
#184
Amir Hasan Bondan, “PERASAAN BANDJAR TOTOK”


Amir Hasan Bondan. Nama lengkapnya Amir Hasan Kiai Bondan, mengikutsertakan nama ayahnya: Kiai Bondan. Ia dilahirkan di Marabahan pada tanggal 10 Februari 1882. Termasuk putera Banjar pertama yang memasuki sekolah Europese Lagere School (ELS) tahun 1893, kemudian melanjutkan ke STOVIA namun tidak tamat.

Amir Hasan Bondan salah seorang pendiri Seri Budiman (1910) sebuah organisasi lokal beranggotakan para pangreh praja dan pedagang yang bertujuan mempererat hubungan silaturahmi sesama anggotanya, mempropagandakan pentingnya pengajaran dari Barat, persatuan kaum pedagang dan pertanian. Bersama-sama dengan dr. Rusma, Gusti Citra, Kumala Ajaib, Mas Abi dan Abdullah, ia mendirikan organisasi Srie tahun 1923. Organisasi Srie mempunyai Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dan majalah mingguan Malam Djoema’at yang ia pimpin bersama Saleh Bal’ala. Dalam majalah ini para anggota Srie mengadakan rubrik tulisan tersendiri. Haluan dan isi tulisan mereka mula-mulanya bertemakan keagamaan, lambat laun isinya mengarah kepada kebangsaan.

Menyambut proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 ia aktif dalam kepengurusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang diketuai Pangeran Musa Ardikesuma.

Sebagai seorang tokoh pergerakan, budayawan dan wartawan maka Amir Hasan Bondan sering menulis di media cetak. Bukunya berjudul “Suluh Sedjarah Kalimantan” terbitan Fadjar Banjarmasin tahun 1953, merupakan buku yang “wajib” dijadikan rujukan bagi siapa saja yang ingin menulis sejarah dan kebudayaan Banjar.

Dalam menulis sejarah Kesultanan Banjar dia masih sempat mendengar langsung silsilah raja-raja Banjar dari Pangeran Hidayatullah dari tempat pengasingannya di Cianjur. Ia banyak menyumbangkan koleksi sejarah dan budaya Banjar pada Museum Lambung Mangkurat yang terletak di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Bermula dari Museum Borneo yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1907 di Banjarmasin. Akibat masuknya penjajahan Jepang, Museum Borneo berakhir dan dilanjutkan pencetusannya oleh Gubernur Milono dengan didirikannya Museum Kalimantan pada tanggal 22 Desember 1955. Separuh dari koleksi museum ini merupakan kepunyaan Kiai Amir Hasan Bondan sebagai salah satu Bapak Pioneer Museum.

Diantara tulisan Hasan Bondan yang menarik adalah yang pernah terbit di surat kabar Indonesia Merdeka edisi Nomor 99 Tahun ke VII, Sabtu 28 April 1951 berjudul “Pers di Kalimantan”, isinya menceritakan sekilas perkembangan pergerakan tahun 1920-an. Tulisannya itu berasal dari tulisan sebelumnya yang pernah terbit dalam majalah yang ia pimpin yakni majalah Malam Djoema’at tanggal 24 November 1927 dengan judul “Perasaan Bandjar Totok”:

“Saja ini seringkali berlajar pulang balik ke tanah Djawa berdagang barang makanan dan dan barang palen.Di segenap pasar dan desa banyak kenalan orang2 Djawa dan Madura dan saja kerapkali nonton orang gaderingan, politik buat kemadjuan bangsa. Di Djawa petjah kabar, tuan besar Djenderal sudah mengeluarkan perintah sama amtenar2 supaja djangan membesarkan diri. Pendeknja supaja orang2 Kantoran mau berbitjara pandjang sama orang Kampung, suka mengenal rakjat……………………..

Tempo saja pulang di Bandjarmasin, kenapa saja kebetulan ada membatja Koran Malam Djum’at. Di dlm koran saja ada batja matjam2 karangan buah pikiran anak Bandjar. Di antara karangan2 jg sudah saja batja, jang menarik hati benar2 jaitu: I. Tuan besar Djenderal bermaksud supaja orang2 jg makan gadjih sama Kompeni dan bangsa Belanda supaja suka mengenal rakjat dan suka berbitjara sama tetuha2 kampung……………………………
(Tjotjok sadja kabar Djawa sama Borneo. Lamun begitu koran2 di Borneo tidak kalah lawan koran2 di Djawa. Sama2 hangat bunji kabarannja) ……………………….

Di Djawa di kampung banjak sekolah matjam2, laki2 perempuan kerotjosan bisa basa Belanda-Inggeris. Di rumah kuting-kutingan koran di tangan. Djadi dalam hati saja, kalu sama bersekolah, tida ada lainnja Djawa sama Bandjar.
Sekarang Borneo mau madju, tapi bagaimana kalau sekolah sedikit. Tiap tahun banjak anak Bandjar tidak bisa dapat tempat di sekolah2. Pasal ini, anak Bandjar jang nekat2 dan sekolah tinggi djangan berdiam diri sadja, sunji burinik. Saja liat di Djawa jg djadi pengurus, semua orang Djawa jang pintar2; rakjat berdiri di belakang si pintar. Mustahil di Bandjar tida ada org pintar jg suka beraksi buat memadjukan negeri.
Lamun anak Bandjar jang berdiploma kagum, siap lagi jg diharap2 buat ke muka. Orang kampung kebanjakan ada sadja hati mau turut madju, tetapi kepala kawan tida bergerak.

Adapun pasal meadakan sekolah perempuan, lamun orang besar tida lekas memulainja, kita kerdjakan sendiri. Orang kampung harus rami2 membantu uang derma dan jg pintar djadi pengurusnja. Dan lagi kalau les derma sudah didjalankan, diharap djuga saudagar2 Bandjar buka tangan, djangan engken mengeluarkan uang derma, sebab itu amal memadjukan bangsa sendiri kaum perempuan….

sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Amir_Hasan_Kiai_Bondan
http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2010/03/27/perasaan-bandjar-totok%E2%80%9D-amir-hasan-bondan/
hymunk - 02/02/2011 07:37 PM
#185
Kampung wisata alalak selatan


Kampung wisata merupakan merupakan program yang digagas oleh pemerintah pusat sebagai salah satu upaya untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja melalui konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melalui lembaga PNPM Mandiri.

Program pengembangan potensi pariwisata ini dimulai pada tahun 2009 dengan tujuan utamanya guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Sekaligus mempromosikan Kelurahan Alalak Selatan sebagai salah satu tujuan wisata khas dengan keunikan pasar terapungnya bagi wisatawan yang berkunjung di Kota Banjarmasin.



Kelurahan Alalak Selatan dengan potensi andalannya objek wisata Pasar Terapung termasuk daerah Kesultanan Banjar. Dan salah satu kampung tua selain kampung Kuin sebagai cikal bakal Kota Banjarmasin.


SEJARAH KAMPUNG ALALAK SELATAN

Kampung Alalak Selatan pada mulanya hanyalah sebuah wilayah delta pertemuan 4 buah sungai kecil yang berhutan rawa yang bermuara ke Sungai Barito. Penduduknya terdiri dari para pendatang dari Melayu Pontianak, penduduk dari ‘pahuluan’ (sebutan bag masyarakat dari Hulu Sungai) yaitu Kandangan dan Amuntai, Uluh Barito atau orang Dayak Bakumpai, Bugis, China, Arab dan pendatang dari Daha atau Negara. Komunitas-komunitas tersebut kemudian bercampur baur, berinteraksi, kimpoi mawin dan membentuk masyarakat baru yang kemudian disebut sebagai Orang Alalak. Dimana asal nama Alalak adalah dari bahasa Arab yaitu Al-Alaq yang artinya segumpal/menggumpal/menyatu.

Kampung Alalak menjadi ramai didatangi penduduk dari berbagai daerah. Apalagi keberadaan Pasar Terapung yang merupakan pusat perekonomian masyarakat saat itu masih berkembang pesat. Ditambah lagi, sejak dahulu merupakan pusat industri kayu atau hasil hutan.

Secara administratif pemerintahan diawali sekitar 1950-an yang wilayahnya meliputi Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Utara saat ini menjadi sebuah desa/kampung yang diberi nama Desa Alalak Besar. Dimana kepala pemerintahan saat itu dipimpin oleh seorang Pembakal yang bernama Pembakal Fasi.

Pada tahun 1960-an Desa Alalak Besar dimekarkan menjadi 3 desa yaitu Desa Alalak Selatan, Desa Alalak Tengah dan Desa Alalak Selatan dan dipimpin pemimpin wilyaha yang disebut ‘pembakal dipilih secara langsung oleh masyarakat desa. Terakhir, sekitar tahun 1980-an baru ditetapkan sebagai Kelurahan Alalak Selatan.


OBYEK WISATA KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN

Obyek wisata andalan yang terdapat di Kampung Wisata ini adalah Pasar Terapung. Di pasar tradisional ini wisatawan dapat melihat secara langsung bagaimana proses interaksi sosial antara pedagang dan pembeli dilakukan yang telah dijalani secara turun-temurun. Atau langsung membeli atau menikmati jajanan khas masyarakat Banjarmasin, dari sayur-mayur, buah-buahan segar, kuliner, hingga barang cindera mata lainnya yang sehari-hari diperdagangkan di pasar yang menjadi ikon wisata kota seribu sungai Banjarmasin ini.



Selain itu, di Kampung Wisata Alalak Selatan ini juga dapat mengunjungi objek wisata ziarah ke Makam Tumenggung Ronggo Ibrahim Surya Kesuma Bin Bayan Aji, seorang keturunan dari Sultan Abdurrasyid Sulu Mindanao Filipina yang menetap dan dikeramatkan karena budi baiknya terhadap masyarakat Alalak Selatan .



Setelah menikmati uniknya Pasar Terapung, para wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke objek wisata hutan alami Pulau Kembang dan Pulau Kaget yang terletak di tengah-tengah Sungai Barito, yang dikenal sebagai habitat kera dan bekantan yang dilindungi.



CINDARAMATA KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN
Selain dapat menikmati panorama dan suasana khas pasar terapung, wisatawan juga dapat membeli berbagai souvenir unik di kios souvenir Kampung Wisata atau langsung ke tempat produksi atau kelompok pengrajin, yang tentunya akan menjadi kenangan ketika berwisata di Kampung Wisata Alalak Selatan.

Adapun souvenir tersebut antara lain berupa;
- Tanggui hias (tutup kepala tradisional masyarakat lokal).
- Miniatur jukung (perahu tradisional).
- Gantungan kunci
- T-Shirt
- Kain sasirangan
- dll.
Juga dapat menikmati wisata kuliner kue dan makanan tradisional di warung terapung, rumah makan atau membeli langsung kepada masyarakat pembuatnya. Beberapa makanan/masakan dan kue tradisional tersebut antara lain :
- Aneka masakan khas Banjar (seperti; masak
habang, nasi kuning, lontong, dll)
- Kue bingka
- Amparan tatak
- dll.



Selain itu juga wisatawan dapat menikmati kesyakralan dan dapat melakukan penelitian Syair Lamut yang merupakan seni sastra lisan Banjar yang unik.



AKSES MENUJU KAMPUNG WISATA ALALAK SELATAN
Kampung Wisata Alalak Selatan dapat dicapai dengan kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) atau melalui sungai dengan kelotok, speedboat atau kapal, dengan jarak tempuh dari atau ke :
a. Ibu Kota Kecamatan : 1 Km
b. Kota Banjarmasin/Ibu Kota Provinsi : 7 Km

Spoiler for kampung wisata alalak selatan



SEKRETARIAT /INFORMATION CENTER :
Jl. Alalak Selatan RT. 02 Samping Dermaga Wisata Pasar Terapung Kel. Alalak Selatan Kec. Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin - Kalimantan Selatan (South Kalimantan) - Indonesia
Kode Pos : 70126
Email : [email]aahym_suhu95@ymail.com[/email]
Facebook : Wisata Pasar Terapung
Telp./HP : 081351451407 – 05117082644
Website/Blog : http://www.aahymblog*Forbidden*

sumber :
http://www.aahymblog*Forbidden*/2011/02/welcome-to-kampung-wisata-alalak.html
http://www.facebook.com/album.php?aid=31987&id=132257746829682
hymunk - 16/02/2011 09:11 AM
#186
Baayun Maulid di Masjid Syuhada Pelaihari Kab.Tanah Laut
Spoiler for baayun maulid














Spoiler for baayun maulid








hymunk - 16/02/2011 09:32 PM
#187
Sarunai (Alat Musik Tiup Tradisional daerah Kalimantan Selatan)
Spoiler for sarunai


Sarunai adalah nama alat musik tiup tradisional daerah Kalimantan Selatan. Penamaan alat ini menurut ucapan Bahasa Banjar, yaitu berasal bahasa Indonesia serunai. Sarunai yang terdapat di daerah Kalimantan ada yang terbuat dari kayu dan ada pula dari paring (sejenis bambu).

Apabila sarunai tersebut dibuat dari kayu, maka kayu yang digunakan haruslah keras dan liat. sedangkan yang dibuat dari bahan paring, maka yang paling baik adalah jenis paring tali.

Spoiler for sarunai


Bentuk sarunai dari kayu pada bagian depannya menyerupai corong terompet. Badan tengahnya seperti suling berlobang lima buah dan tengahnya agak sedikit cembung. di bagian ujung atau tempat meniup bentuknya bundar mengecil. untuk mencegah agar mulut tidak terlalu bebas bergerak pada waktu meniup, maka dibuatkan penahannya dari tempurung kelapa yang berbentuk seperti kumis.

Spoiler for sarunai


Sarunai yang bahannya dari paring tali bentuk badannya datar. Bagian tengahnya memiliki lobang lima buah dan dibawahnya satu lobang. Corong bagian depan yang disebut kepala sarunai bundar bentuknya. pada ujung badan atau tempat meniup dibuatkan ilat (lidah bunyi) dari daun nyiur atau bulu ayam. Bagian ujung bawah dekat mulut sarunai itu dibuat bertatah-tatah (bertingkat-tingkat), fungsinya hanyalah sebagai penambah keindahan bentuk sarunai.

Fungsi dan kegunaan sarunai ini adalah alat pengiring tarian, pertunjukan pencak silat (kuntau), hiburan rakyat, permainan tradisional dan lain-lain.

Spoiler for sarunai



Sarunai terdiri dari bagian badan sarunai, penahan mulut berbentuk kumis dan bagian depan yang bentuknya seperti corong terompet. apabila mau digunakan dipasang barasuk atau bersambung.

Spoiler for sarunai




Untuk memainkan alat ini cukup mudah caranya. ilat atau lidah bunyi alat tersebut dimasukkan ke dalam mulut, kemudian ditiup, sementara jari tangan kiri dan kanan menutup dan membuka lobang nadanya yang lima sesuai dengan irama yang dikehendaki.


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1340160671691&set=t.1505903375#!/album.php?aid=2036586&id=1461 404684
http://www.facebook.com/album.php?aid=10537&id=100000622896290
hymunk - 16/02/2011 10:12 PM
#188
Babun (Alat Kesenian Kalimantan Selatan)
Babun, penamaan alat musik ini tidaklah diketahui secara pasti asal usulnya, karena nama babun tidak ada persamaan dengan istilah lain dalam Bahasa Banjar maupun bahasa Dayak Bukit di Kalsel. Babun telah lama ada dan dikenal masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Bahan untuk pembuatannya terdiri dari kayu, kulit dan rotan. Kayu sebagai bahan utama digunakan untuk rangka atau Karungkung. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu Jingah, Kayu Rajawali dan kayu Balangiran terkadang juga ada yang terbuat dari batang kelapa.

Rongga babun terdiri dua tampuk (mulut gandang). Tampuk ini tidak sama besarnya. tampuk yang agak kecil biasanya ditutupi dengan kulit binatang yang agak tipis misalnya kulit kambing sedangkan tampuk satunya lagi menggunakan kulit sapi/kerbau. Rotan digunakan sebagai tali peregang membran.

Bagian-bagian dari Babun ;
- Rangka atau karungkung
- Tampuk yang agak kecil disebut pang (rumpiang) kadang juga disebut
pamantil, Tampuk yang agak besar disebut bam (pembaduk)
- Bingkai penggulung kulit
- Bingkai tempat memasukkan tali peregang (rajut)
- Tali peregang atau tali rajut
- Alat peregang yang terbuat dari kulit sapi/kelit kambing dan atau bisa
juga dari rotan yang dianyam
- Lobang udara atau disebut luang angin

Babun yang terdapat di Kalsel ada tiga macam, yaitu babun katingan, babun biasa dan babun basar. Babun digunakan hampir disemua permainan dan musik tradisional.

Spoiler for babun










sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://www.facebook.com/album.php?aid=10537&id=100000622896290
http://www.facebook.com/album.php?aid=13749&id=100001755504326
hymunk - 16/02/2011 10:37 PM
#189
Gambus


Gambus merupakan alat musik yang berasal dari Arabia dengan nama aslinya gapuz. Di Kalsel alat ini telah lama dikenal, alat ini dapat dikatakan sudah menjadi alat musik tradisional daerah kalsel karena banyak dibuat dan dikembangkan masyarakat suku banjar yang beragama Islam.




Bahan yang digunakan dari jenis kayu yang ringan, liat dan kuat biasanya kayu halaban dan rawali. Bentuk kotak suaranya datar di bagian atas dan cembung di bagian bawah. wadah gema gambus terbuat dari triplek dengan lobang-lobang kecil. Bagian tangkai tempat penyetem tali melengkung dengan putaran tali sebanyak tujuh buah.




Gambus berfungsi menghibur atau mengiringi suatu tarian japin, pesta-pesta perkimpoian , perayaan hari besar Islam dan keramaian rakyat.


sumber :
Syarifuddin R. dkk, Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, 1988, Banjarmasin
http://algembira.blogspot.com
hymunk - 19/02/2011 12:16 PM
#190
Halusnya Gerabah Negara, HSS
Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara.

Spoiler for gerabah Nagara


Tak ada yang istimewa di pagi itu. Pun dengan aktivitas di Desa Bayanan, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan (HSS). Warganya sibuk menyiapkan bahan untuk pembuatan gerabah.

Seperti yang dilihat BPost di rumah Rosita. Pada saat sinar matahari mulai memanasi bumi, ibu tiga anak itu sudah berpeluh mengayak pasir. Butiran pasir itu nantinya dicampur dengan tanah liat.

Begitu kelar, dia tidak istirahat, namun langsung mengambil gundukan tanah liat di sudut rumah. Tanah liat itu dipindahkannya ke tempat lebih luas, ditaburi pasir halus lalu disiram air. Biar lebih tercampur, campuran tanah liat dan pasir diinjak-injak. Sesekali 'adonan' itu dibolak-balik dengan menggunakan tangan.

Tak ingin mengganggu kesibukannya, BPost beralih ke rumah lain. Di rumah Idup, terlihat pemandangan serupa. Hanya saja, campuran sudah 'terbentuk'. Dia lalu duduk di depan tembikar yang bisa diputar sesuai keinginan.

Adonan pun diambil sedikit-sedikit, diletakkan di atas tembikar lalu dibentuk menjadi semacam wadah. Dengan terampil kedua tangannya mengolah adonan itu menjadi gerabah yang bisa mendatangkan rezeki. Hanya dalam hitungan belasan menit gerabah 'mentah' itu selesai dikerjakan.

Spoiler for gerabah Negara


Gerabah yang sudah berbentuk itu kemudian dikumpulkan di luar untuk dijemur hingga kering. Biasanya proses penjemuran ini berlangsung selama tiga hari, meski juga harus melihat kondisi cuaca. Setelah itu proses pembakara dilakukan. "Biasanya sekali bakar ada tiga ratus hingga empat ratus gerabah," ucap Idup.

Proses belum selesai. Setelah pembakaran, dilakukan proses pewarnaan. "Tetapi ada juga yang tidak perlu diwarnai seperti peralatan dapur," ujarnya.

Para perajin di Desa Bayanan, biasanya tidak menjalankan sendiri seluruh proses itu. Ada yang khusus menangani pembuatan gerabah, tapi ada juga yang spesial membakar gerabah.Seperti yang dilakoni Sabran. Setiap hari dia membeli gerabah 'mentah' dari perajin lalu dibakar dan dijualnya.

Lain lagi dengan Amat. Dia khusus membuat tungku. Sehari mampu membikin 25 hingga 40 tungku. "Hasil usaha ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya.

Bagi konsumen, gerabah produk Desa Bayanan lebih dikenal dengan sebutan Gerabah Negara (Negara, ibu kota Daha Selatan). Desa Bayanan dan Negara pun terkenal sebagai kawasan Gerabah sebagaimana Kasongan, Bantul, DIY. Gerabah Negara dikenal tahan lama. "Tekstur tanah liatnya beda dengan tanah liat di daerah lain," ujar Rosita.

Penggunaan tanah liat pun tidak sembarangan. Untuk menghasilkan gerabah yang berkualitas baik, tanah liat yang diambil dari kedalaman satu sentimeter. "Semua perajin di sini menggunakan bahan yang sama, hanya model yang berbeda. Semua tergantung kreativitas dan pesanan pembeli. Namun, tentu saja harga gerabah pesanan jauh lebih mahal tergantung kerumitan model serta besar kecilnya gerabah itu," tegasnya.

Soal pemasaran, ada dua cara yang dilakukan para perajin. Selain memasarkan sendiri, ada juga yang melalui jalur pelanggan yang datang dari berbagai daerah di Kalsel dan Kalteng. Bahkan, sesekali dari Kaltim. "Harganya bervariasi dari ribuan hingga ratusan ribu tergantung model, ukuran dan kehalusan gerabah," katanya.

Kepala Disprindagkop dan UKM HSS Ainani Basyuri juga menyatakan kerajinan gerabah di Desa Bayanan memiliki prospek cerah. "Mestipun rata rata yang bekerja warga setempat namun ini kerajinan ini membuka lahan kerja bagi sekitar 300 orang. Untuk lebih mempromosikan, kami sering ikutkan ke pameran kerajinan," ucapnya.

sumber :
http://forum.banjarmasinpost.co.id/
http://ayojepret.blogspot.com/
Page 9.5 of 15 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan