Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819
Page 12 of 15 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 > 

hymunk - 18/04/2011 10:55 PM
#221
Yusni Antemas, sastrawan Kalsel kelahiran Amuntai



Mungkin kita telah mengenal siapa Anggraini Antemas? Mungkin antara lain melalui Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan (Saefuddin, dkk., 2008: 28-29). Anggraini adalah nama pena dari Yusni Antemas, sastrawan Kalsel kelahiran Amuntai (22/4/1922). Selama menjadi sastrawan dan wartawan sejak 1940, 25 judul bukunya berhasil diterbitkan. Buku-buku itu mengenai sejarah daerah, folklor, dan cerita anak-anak. 12 judul di antaranya diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta. Ensiklopedia itu tidak menyebutkan karyanya yang berupa karya sastra, baik dalam entri namanya maupun entri lain yang berawalan “T” dan “M” untuk dua karyanya yang saya temukan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Kedua karya itu adalah Tunas-tunas Mekar Pagi (1981), dengan nomor register 1478/84, dan Mendulang Intan di Cempaka (1981), dengan nomor register 1454/84.

Karya-karyanya yang lain rupanya juga tersimpan di Perpustakaan Nasional Australia, seperti karyanya yang berjudul Mutiara Nusantara, seri 1, yang diterbitkan Mega Sapura, Amuntai pada 1986 (Bib ID 259958); Si Pujung yang Menambat Barito (1980), Bib ID 2883237, terbitan Depdikbud Jakarta; Kahancuran di Baruh Kelayar (1980), Bib ID 1387792, juga terbitan Depdikbud Jakarta; dan Bara dan Nyala di Banua Lima (Negara-Alabio-Sungai Banar-Amuntai-Kelua), Bib ID 1592126. Di perpustakaan ini karya tahun 1974 ini terbitan Banjarmasin tentang sejarah Kalimantan.

Karya-karyanya juga tersimpan di Perpustakaan Universitas Yale antara lain: Orang-orang Terkemuka dalam Sedjarah Kalimantan, dari Mulawarman sampai H. Hasbullah Jasin (1971), Call Number: DS646.3 A57; Si Puyung yang Menambat Barito (1980), Call Number: GR323 A56; Mendulang Intan di Cempaka (1981), Call Number: PL5139 A559 M4; dan Tunas-tunas Mekar Pagi (1981), Call Number: PL5139 A559 T8.

Tulisan ini tentang dua karyanya, yaitu Mendulang Intan di Cempaka dan Tunas-tunas Mekar Pagi. Dalam kedua buku ini tak ada keterangan tentang siapa Anggraini Antemas dan tak ada keterangan bahwa buku ini termasuk dalam genre apa secara spesifik. Yang pasti ini prosa fiksi yang mengisahkan salah satu aspek kebudayaan masyarakat Banjar. Meskipun kedua karyanya ini ditulis dalam bahasa Indonesia, secara tidak langsung, pengantar dalam kedua buku ini mengkategorikan karyanya sebagai karya sastra lama dan sastra daerah.

Fiksi Tunas-tunas Mekar Pagi karya Anggraini Antemas diterbitkan oleh Departeman Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta, 1981). Buku ini tipis (12 bab, 67 halaman, 14,5 x 21 cm). Mendulang Intan di Cempaka lebih tebal (78 halaman), dengan jumlah bab yang lebih sedikit (10 bab), diterbitkan oleh penerbit yang sama dalam ukuran dan tahun yang sama.

sumber ;
epaper b.post
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/38/11375
hymunk - 21/04/2011 06:25 PM
#222
link penting..
Biografi Para Penulis di Tanah Banjar

Pamali Banjar Sebagai Fenomena Folklor Daerah

De bandjermasinsche krijg van 1859-1863

Sultans van Bandjermasin ..

Museum Sultan Suriansyah

masjid sultan suriansyah

Pangeran Antasari

Video Barabai Tempo Doloe dan Lensa Kegiatan Pemkab HST

mamalia di kalimantan, sabah, sarawak dan brunei darussalam

Atlas Sebaran Gambut Kalimantan


kerajaan islam banjarmasin

Mamanda dan Eksistensi Bahasa Banjar

Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari

Kerajaan Banjar adalah kerajaan yang terdapat di Kalimantan Selatan

Putri Banjar di Tanah Dayak,,

SILSILAH KETURUNAN PANGERAN ANTASARI..

Ratu Zaleha adalah puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang turut berjuang dalam perang Banjar

Ratu Zaleha


Buku “Model Arsitektur Keraton Banjar, Pendekatan Model Berdasar Kajian Historis dan Arkeologis”


Gerakan Tengkorak Putih

UPACARA ARUH GANAL ETNIS DAYAK MERATUS

WAYANG KULIT BANJAR

ORNAMEN RUMAH TRADISIONAL BANJAR

KISAH PILU BUDAK SEKS (JUGUN IANFU) DI BANJARMASIN

PEMBANTAIAN KOMPLOTAN HAGA DI BORNEO SELATAN

ORANG BANJAR MERATUS

RUMAH BULAT, RUMAH BERSEJARAH DI MARABAHAN

PROKLAMASI 17 MEI 1949

SEPINTAS SASTRAWAN DAN KOMUNITAS SASTRA DI KALIMANTAN

Semangat Kedaerahan dan Identitas Banjar

Kliping harian utama mengenai Hamran Ambrie..

Sekilas siapa Hamran Ambrie dalam sejarah Kalimantan Selatan

SANJA KUNING..

Jukung: Perahu Tradisional Suku Banjar di Kalimantan Selatan

Tan, Liem, Nyoo, Hong, Kiu, Go, Gwan, Tjong, Tjiaw, Law, dan Oey.

Lintas Sejarah Borneo: Antara Maluka dan Maluku

Lintas Sejarah Borneo: PERBUDAKAN DI DAERAH KONSESI MALUKA

Banjarmasin sebagai kota dagang

Pasar Terapung / floating market..

Banjarbaroe tempo doeloe

DAW Van der Peijl

Kenapa ada sebuah lapangan di Banjarbaru yang diberi nama "Lapangan dr.Murdjani"

Pangkalan Udara Sjamsudin Noor

Kenapa Bandar Udara di Kalimantan Selatan dinamakan "Syamsudin Noor"...

Di Banjarmasin nama Jalan Zafri Zamzam yang sangat dikenal

Monumen Panglima Batur


Panglima Batur



Mengenal Panglima Batur, Pejuang Barito


A. Sinaga

Maulana Syekh Muhammad Arsyad

Mathilda Batlayeri Pahlawan Bhayangkari

Seni Hadrah Pemuda Kuala Tambangan

Teknologi Fermentasi Pangan Kalimantan Selatan : Lezat dan Kaya Probiotik

BUNGA RAMPAI BANJARMASIN [HQ]

BAINGAT CU'I

DARAU PUASA

THE PAKASAM


Balai Adat Jadi Lambang Persaudaraan Orang Maanyan, Banjar dan Madagaskar


Peninggalan Purbakala Maanyan
hymunk - 23/04/2011 10:20 AM
#223
Tari Baksa Kambang, Tari Klasik Banjar
Tari Baksa Kambang
Merupakan jenis tari klasik Banjar sebagai tari penyambutan tamu agung yang datang ke Kalimantan Selatan, penarinya adalah wanita. Tari ini merupakan tari tunggal dan dapat dimainkan oleh beberapa penari wanita.




Tarian ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang sedang merangkai bunga. Sering dimainkan di lingkungan istana. Dalam perkembangannya tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu.



Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar. Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran . Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional.



Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan
selamatan.




Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan.

Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.



Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan. Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang.

Pada tahun 1990-an,
Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku.
Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.

sumber :
antarafoto.com
http://hasanzainuddin.files.wordpress.com
wikipedia.org
hymunk - 23/04/2011 10:43 AM
#224
Tari radap rahayu
Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan.



Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ Bantam” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “ Radap Rahayu “.

Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkimpoian, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan .



Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “Tapung Tawar”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam.




Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda.


[youtube]i44Ylwu3eDY?version=3[/youtube]

Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu.

sumber :
http://ansepadang.blogspot.com/2008/05/tari-radap-rahayu.html
http://www.youtube.com/watch?v=i44Ylwu3eDY
hymunk - 30/04/2011 09:10 AM
#225
Kh. Idham chalid



KH Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin.

Saat usianya baru enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya.

Menurut buku Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid yang disunting oleh Arief Mudatsir Mandan, kiprah dan peran Idham Chalid tergolong istimewa. Ia bukanlah sosok yang berasal dari warga kota besar.

Ia hanyalah putra kampung yang merintis karier dari tingkat yang paling bawah, sebagai guru agama di kampungnya. Tapi kegigihannya dalam berjuang, dan kesungguhannya untuk belajar dan menempa pribadi, telah mengantar dirinya ke puncak kepemimpinan nasional yang disegani.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis. Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.



Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH Idham Chalid yang berlatarbelakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.

Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul “Idham Chalid: Guru Politik Orang NU” yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.



“Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal 55)

Sebagai ulama dan politisi pelaku filosofi air, Idham Chalid dapat berperan sebagai tokoh yang santun dan pembawa kesejukan. Apresiasi ini sangat mengemuka pada acara peluncuran buku otobiografi: “Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah”, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis 6 Maret 2008.

Ia pernah menjadi Ketua Partai Masyumi Amuntai, Kalimantan Selatan, dan dalam Pemilu 1955 berkampanye untuk Partai NU. Ia pernah pula menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Ali-Roem-Idham, dalam usia yang masih sangat belia, 34 tahun. Sejak itu Idham Chalid terus menerus berada dalam lingkaran kekuasaan.

Di organisasinya, ia dipercaya warga nahdliyyin untuk memimpin NU di tengah cuaca politik yang sulit, dengan memberinya kepercayaan menjabat sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU selama 28 tahun (1956 – 1984).

Di samping berada di puncak kekuasaan pimpinan NU, ia juga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo (PNI), 1956 – 1957. Saat kekuasaan Bung Karno jatuh pada 1966, Idham Chalid yang dinilai dekat dengan Bung Karno ini tetap mampu bertahan.

Bahkan, Presiden Soeharto memberinya kepercayaan selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967 – 1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970 – 1971) dan setelah itu Ketua MPR/DPR RI (1971 – 1977) dan Ketua DPA (1977 -1983).

Ketika partai-partai Islam berfusi dalam Partai Persatuan Pembangunan, pada tanggal 5 Januari 1973, mantan guru agama Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo ini menjadi ketua, sekaligus Presiden PPP.

Dari sisi wawasan keilmuwan dan kemahiran, sosok Idham Chalid dikenal sebagai ulama yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Belanda, dan Jepang. Ia juga menyandang gelar doctor honoris causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Idham Chalid merupakan khazanah yang tak ternilai bagi bangsa ini, khususnya PPP, tulis buku yang diterbitkan Pustaka Indonesia Satu itu.

Menurut Arief Mudatsir Mandan, langkah-langkah cerdik dan cermat yang dilakukan oleh pemimpin seperti KH Idham Chalid semacam itu perlu dipelajari oleh generasi sekarang ini. Kerendahan hati merupakan sifat Kiai Idham Chalid, tidak hanya pada para kiai, pada orang biasapun bisa bergaul dengan supel. Ia selalu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan dan akrab dengan siapa saja. Sikap ramah dan simpatik itulah salah satu modal kesuksesan kepemimpinannya sehingga bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Menurut Suryadharma Ali, Idham Chalid adalah tokoh bangsa, tokoh agama, tokoh organisasi besar Nahdlatul Ulama (NU), dan juga deklarator sekaligus pemimpin partai, Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

“Beliau adalah tokoh panutan. Bukan hanya keluarga besar PPP yang kehilangan, tapi seluruh bangsa Indonesia,” katanya di Jakarta, Ahad.



KH.Dr.Idham Chalid (88) meninggal dunia di kediamannya di kawasan pendidikan Darul Ma’arif, Cipete, Jakarta Selatan, Ahad (11/7) pagi, pukul 08.00 WIB, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.

sumber :
http://www.facebook.com/pages/Dukung-KH-Idham-Chalid-jadi-Pahlawan-Nasional/116146415132424
hymunk - 02/05/2011 11:49 AM
#226
KH. Idham Khalid..
hymunk - 14/05/2011 09:13 AM
#227
Seni Tradisional: Lamut, Budaya Tutur yang Perlahan Ditinggalkan
TANGAN keriput Kai Jamhar (69) masih lincah menabuh terbang, semacam rebana agak tebal. Dari mulutnya keluar cerita yang dilantunkan dengan gaya bertutur menggunakan dialek bahasa Banjar, bahasa ibu yang banyak digunakan masyarakat Kalimantan Selatan.



Maestro "lamut" dari Kalimantan Selatan, Gusti Jamhar Akbar (menabuh terbang), tengah memainkan seni lamut di hadapan penonton dalam rangka pendokumentasian di Taman Budaya Kalsel, pertengahan Januari lalu. Lamut menjadi salah satu seni bertutur Banjar yang perlahan mulai ditinggalkan. (KOMPAS/DEFRI WERDIONO)


Pertengahan Januari lalu, Jamhar yang memiliki nama lengkap Gusti Jamhar Akbar tampil sendirian di salah satu ruang Taman Budaya Kalsel di Banjarmasin. Di depannya, belasan penonton duduk di kursi lipat. Mereka khidmat mencermati apa yang dituturkan sang palamutan, istilah bagi seniman pemain lamut.

Semestinya bermain lamut ditampilkan malam hari dengan durasi hingga lima jam. Namun, karena dalam rangka pendokumentasian untuk kepentingan disertasi oleh Sainul Hermawan dan pelestarian budaya oleh Komunitas Sastra Indonesia Banjarmasin, lamut kali itu dipentaskan siang hari. Waktu pertunjukan pun dipangkas lebih singkat.

Lamut dibawa oleh pedagang dari China pada abad ke-19 yang masuk ke Kalsel melalui Amuntai, yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara—meskipun, kata Jamhar, secara harfiah kata lamut diperkirakan berasal dari bahasa Arab laamauta (tidak mati). Lamut kemudian sering dimainkan saat musim panen padi.

Dalam perkembangannya, lamut terbagi dalam dua kelompok, yakni untuk hiburan seperti dalam rangka hajatan, perkawinan, dan peringatan hari besar lainnya. Yang kedua, lamut menjadi ritual untuk penyembuhan penyakit yang biasanya disertai sesaji.

Di tangan leluhur Kai Jamhar, lamut baru mendapat iringan terbang ketika kesenian hadrah masuk ke Banjar. Sebelumnya, kesenian ini hanya dituturkan begitu saja. Adapun cerita yang dibawakan seputar kehidupan Prabu Awang Selenong, raja di Palimbangan, beserta keturunannya.

Makin ditinggalkan

Seperti kesenian tradisional di daerah lainnya, kini lamut mulai ditinggalkan. Di pedesaan Kalsel, lamut masih bisa dijumpai dalam beberapa kesempatan, terutama yang berbau hiburan. Sementara di perkotaan, lamut sudah kalah dengan pertunjukan lain seperti musik dan teater.

Anak muda kota yang mengerti lamut pun kian sedikit. Rizali (28), seorang pegawai swasta di Banjarmasin yang tinggal di Alalak, mengaku tidak tahu apa itu lamut. Begitu pula Rezy (20), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin, yang mengaku belum pernah sekali pun menonton lamut. ”Yang saya ketahui madihin (salah satu kesenian Banjar yang ceritanya lebih universal). Itu pun kadang-kadang nontonnya,” ujar Rizali.

Makin terancamnya kesenian lamut dibenarkan Hajriansyah, Ketua Komunitas Sastra Indonesia Banjarmasin. Menurut dia, di pedesaan, kesenian yang masuk kategori sastra lisan Banjar ini masih cukup kuat karena ancaman pengaruh masuknya kebudayaan baru di desa belum semasif di kota.

”Di desa-desa, lamut masih sering ditampilkan, terutama ketika ada pesta hajatan,” ujar Hajriansyah, yang mengaku pendokumentasian kali ini merupakan upaya pelestarian lamut dari kepunahan.

Kepala Taman Budaya Kalsel Enos Karli berpendapat, makin suramnya lamut terjadi akibat kurangnya pengaderan dan regenerasi. Saat ini, yang ia kenal sebagai palamutan hanyalah Kai Jamhar. ”Sebenarnya ada regenerasi, anak Pak Jamhar. Namun, dia belum percaya diri untuk tampil. Padahal, dia mau kami tampilkan dalam skala kecil-kecilan dulu, sekalian untuk melatih mental. Tapi yang bersangkutan belum bersedia,” ujarnya.

Selain regenerasi dan pengaderan, menurut Enos, ada beberapa hal yang menyebabkan lamut kalah dari kesenian Banjar lainnya, antara lain lamut dimainkan seorang diri. Ritme pukulan pada terbang kurang cepat atau kurang menggebu sehingga penonton kurang bergairah.

Kecuali itu, juga karena banyak kata yang diambil dari kitab suci, terutama pada lamut yang digelar untuk penyembuhan. (Defri Werdiono)

Sumber: Kompas, Kamis, 21 April 2011
hymunk - 14/05/2011 09:45 AM
#228
Bagandut
Jenis tari tradisional berpasangan yang di masa lampau merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya mirip dengan tari tayub di Jawa dan ronggeng di Sumatera. Gandut artinya tledek (Jawa).



Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan, baru pada kurang lebih tahun 1860-an tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkimpoian, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

Spoiler for bagandut


Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

Tari Gandut sejak tahun 1960-an sudah tidak berkembang lagi. Faktor agama Islam merupakan penyebab utama hilangnya jenis kesenian ini ditambah lagi dengan gempuran jenis kesenian modern lainnya. Sekarang Gandut masih bisa dimainkan tetapi tidak lagi sebagai tarian aslinya hanya sebagai pengingat dalam pelestarian kesenian tradisional Banjar.

sumber :
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1488806502856&set=t.1742907142&type=1
http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Banjar#Bagandut
http://epaper.banjarmasinpost.co.id/dok/BP20110512.swf
hymunk - 14/05/2011 10:15 AM
#229
Astaliah, Maestro Tari Topeng Banjar
Tubuhnya yang renta tidak membuat Astaliah, maestro tari topeng yang telah berusia 119 tahun itu kehilangan cintanya kepada beberapa topeng yang selalu menemaninya selama 100 tahun lebih.




Sang Maestro tari topeng Barikin yang tinggal di Desa Barikin RT. 2 RW. II Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan, kendati kini tidak lagi menari namun beberapa masyarakat masih banyak mengunjunginya terutama yang ingin melaksanakan hajatan.

Beliau dulu adalah penari topeng yang sering tampil dalam pesta pernikahan ataupun memberi selamat dalam acara sakral “Manyanggar Banua”, juga acara hajatan serta pagelaran berupa hiburan dalam perayaan hari-hari besar daerah dan nasional.

Pementasan tari topeng berlangsung 15 menit hingga 30 menit, diiringi dengan "Karawitan Banjar" atau iringan kelompok musik khas Banjar yang menggunakan alat antara lain kanung, gong, babon, dawuh dan lainnya.



ada tujuh jenis topeng yang selalu dimainkan oleh Astaliah disesuaikan dengan tema acara.

Ketujuh topeng tersebut bernama Pamindu, Patih, Kalana, Gunung Sari, Pinambi, Temanggung, dan Panji.

Dengan logat bahasa Banjar, Astaliah berusaha ikut menjelaskan ada beberapa jenis tarian yang sering dimainkan antara lain Tapung Tali, Sakar Suhun dan Sasar Glatik, biasanya ia akan menari sesuai irama yang dimainkan Karawitan Banjar.

Kala Umur 70 tahun, kata Astaliah, fisiknya masih memungkinkan untuk diajak berlenggak-lenggok menghibur masyarakat, namun sekarang di usianya yang di atas 100 tahun sudah tidak memungkinkan lagi untuk bergerak dengan lincah dan gemulai.

"Seandainya masih memungkinkan ingin rasanya tetap bisa menari, tapi bagaimana untuk bergerak saja sekarang sudah mulai susah," katanya.

Tanpa Pewaris

Menurut Astaliah, tidak bisa menari tidaklah membuatnya sedih, karena dia sangat mahfum bahwa ada waktunya manusia harus berhenti melakukan aktivitas yang telah dilakoninya.

Hanya saja, yang membuat dia kini tidak tenang, hingga kini belum ada penerus yang bisa menguasai ketujuh tari topeng yang dilakoninya mulai dari umur 15 tahun itu.

Bahkan anak perempuannya, Radiah yang telah dipersiapkan untuk mewarisi seni budaya yang membesarkan nama Astaliah, kini tidak bersedia menari dengan alasan telah bersuamikan seorang ulama.

Begitu juga cucunya Wahyudin, yang kini menjadi pengajar tari yang cukup terkemuka di Palangkaraya Kalimantan Tengah, memilih mengembangkan seni tari secara umum atau nasional.

Selain Astaliah, sebenarnya ada beberapa penari topeng lainnya yang sering menemani sang Maestro di panggung antara lain Aluh, Ritanah dan Tukacil tapi semuanya telah meninggal dunia.

"Dulu tarian kami sering mengiringi pergelaran wayang kulit K Dalang Tulur, Dalang terkenal sekitar tahun 1950 hingga 1975, hingga sekarang masih ada juriatnya yaitu Dalang A.W.Syarbaini, yang memiliki Sanggar Ading Bastari Barikin," katanya.

Walaupun sudah tidak menari, Astaliah tetap rajin memelihara tujuh buah topengnya dengan pemeliharaan khusus antara lain, setiap malam Jum'at dia menyediakan kopi manis, kopi pahit, air kinca, air putih, telor ayam dan itik dan dua piring nasi ketan.

Pemberian sesajen tersebut, sebagai bentuk pemeliharaan topeng-topeng yang usianya lebih dari 200 tahun dengan harapan tidak mengganggu keluar dan keturunannya.

Dengan alasan tersebut membuat Astaliah belum bisa mempercayakan topeng-topeng tersebut ke Museum Daerah Banjarbaru.

Astaliah beberapa waktu lalu sempat diisukan meninggal, padahal kenyataannya dia masih sehat.

"Ini perlu saya luruskan karena dia masih sehat, panca inderanya juga masih masih tajam. Ini perlu saya luruskan karena banyak anak angkat dan asuh dia yang tersebar baik dalam daerah Hulu Sungai Tengah bahkan di luar daerah," kata Rusli yang setia menemani selama wawancara.

[youtube]_mOXA0MTXk8?version=3[/youtube]

Berkat Kepiawaiannya menari, Gubernur Kalimantan Selatan telah menganugerahkan dua kali penghargaan yaitu Penghargaan Seniman Perintis "Tari Topeng Banjar" Lintas Generasi pada tanggal 20 April 2009.

Selanjutnya, Penghargaan Borneo Award ke-4 untuk Penari Topeng yang digelar oleh Yayasan Mendulang Menuju Dunia Gemilang pada tanggal 16 April 2011 beserta bantuan tali asih dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Tokoh Masyarakat Haruyan, Syamsudin Arsyad mengungkapkan perlunya melestarikan tari topeng Barikin yang hampir punah yang biasa dipentaskan hanya 2 tahun atau 3 tahun sekali.

Menurut dia, di era modern sekarang hiburan tari topeng tergantikan dengan organ tunggal dan orkes dangdut.

Pelestarian kata dia, dapat dilakukan melalui perhatian Pemerintah Daerah untuk dengan mendirikan Sanggar-sanggar tari daerah dibawah binaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata HST.

Bahkan kalau perlu, kata dia, memasukkan tari topeng Barikin dalam materi muatan lokal atau ekstraKulikuler sekolah.

"Dalam Penobatan Raja Muda dan Penganugerahan Gelar Pangeran Haji Khairul Saleh, 10-12 Desember 2010, di Martapura, Sanggar Ading Bastari Barikin mendapat kehormatan mementaskan Seni Budaya Banjar dari Barikin Termasuk tari topeng namun tanpa alasan jelas dalam HUT HST ke 51 tak ditampilkan,"katanya.

Guna melestarikan tari topeng, kata dia, sebaiknya bila ada kegiatan daerah kesenian asli Barikin dipentaskan, agar kesenian daerah tidak hilang tergerus oleh budaya modern yang berkiblat ke Barat saja.

Seperti Astaliah yang telah 100 tahun lebih mendedikasikan dirinya untuk menghibur dan mempertahankan topeng-topeng yang kini nyaris kehilangan tuannya.

Di sisa hidupnya Astaliah berharap, kebesaran tari topeng Barikini bisa berkibar seperti pada masanya dulu, tidak justru meredup dan hilang bersama tubuhnya yang renta dimakan usia.(Fathurahman/B)

sumber:
http://kalsel.antaranews.com/berita/2238/maestro-tari-topeng-mencari-pewaris
hymunk - 20/05/2011 11:45 PM
#230
Letnan Dua Ibnu Hajar, Dia Pejuang Bukan Pemberontak..!!
hymunk - 03/06/2011 11:37 AM
#231
Prahara di Kerajaan Banjar





sumber : ePaper B.post tanggal 3-4juni2011
hymunk - 08/06/2011 09:01 AM
#232
Kuriding akankah selamanya patah…
Ampat si ampat lima ka ay
kuriding patah
patah sabilah, patah sabilah,
di higa lawang
Ampat si ampat lima ka ay
'ku tanding sudah
kada manyama, kada manyama,
nang baju habang

Siapa yang tak kenal dengan lagu tersebut..? ya lagu dengan judul “Ampat Lima” karya H. Anang Ardiansyah ini sangat dikenal masyarakat di Kalimantan Selatan. Namun kenal kah anda dengan “kuriding” tak sedikit yang mungkin tidak tahu seperti apa wujud si “Kuriding”. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menyampaikan sebuah catatan pengalaman berkenalan dengan alat musik tradisional yang sangat langka ini.
Berawal dari informasi seorang teman yang menyampaikan akan ada sebuah pertunjukan kesenian “Kuriding” pada acara pembukaan “Kongres Budaya Banjar II” nah tentunya sangat menarik untuk disaksikan.



Pada acara pembukaan KBB II ditampilkan kesenian “Kuriding” yang dimainkan oleh seniman dari Kabupaten Batola (Marabahan) ternyata mereka yang memainkan ini berasal dari suku Bakumpai yang sudah turun temurun menggeluti kesenian ini.



Dari penuturan salah satu pemain Kuriding yang bernama Ibu Raminah, beliau menceritakan saat ini sudah jarang yang bisa memainkan alat musik ini dan bahkan yang membuatnya pun sudah lama meninggal sehingga mereka hanya bisa memainkan “Kuriding’ peninggalan secara turun temurun namun tidak bisa membuatnya. Memainkan Kuriding perlu keterampilan khusus, “Dulu jumlah kami yang belajar kuriding sekitar 50 orang, tapi terus bermain hanya tiga orang,” kata Raminah sambil memperlihatkan kuriding.



Ia mewarisi kuriding dari ayahnya, lalu menceritakan bahan membuat kuriding dari enau, atau kayu mirip ulin (kayu pangaris) yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Sesulit memainkannya, alat kuriding juga sulit dibuat meskipun tampak sederhana. “Kalau salah membuatnya dapat membahayakan pemain, makanya lagu Kuriding patah itu benar adanya. Sebab, kuriding bisa patah ketika dimainkan dan berakibat membahayakan pemainnya,” terangnya. Melihat kenyataan demikian, perempuan dari suku Bakumpai ini khawatir, generasi muda kini susah belajar bermain musik tradisional Kuriding.





Rasa penasaran dengan alat musik ini semakin meningkat, dengan bantuan salah seorang kawan dari Kota Kandangan, saya memesan 3 buah Kuriding yang dibuat dari kayu Bengkala kepada salah seorang warga Dayak Loksado yang bisa membuat “Kuriding’. Pembuatnya menyampaikan membuat kuriding sangat sulit karena dari sepuluh buah kuriding yang dibuat, yang menghasilkan kualitas bagus hanya 5-6 buah saja. Dan kayu bengkala hanya ada di lereng gunung kentawan (Kec. Loksado)




Guriding atau Kuriding adalah alat musik tradisional asli buatan nenek moyang orang Banua, Kalimantan Selatan. Kuriding terbuat dari bambu atau kayu, berbentuk kecil, dan memiliki alat getar (tali) serta tali penarik. dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir sambil menarik gagang tali getar. Bunyi akan muncul ketika tali getar bergetar. Dan bunyi akan terdengar merdu jika sang pemain dapat menarik tali dengan ritme tertentu.

Mitos asal-usul menarik untuk disimak. Syahdan, Guriding adalah milik seekor macan di hutan Kalimantan Selatan. Suatu ketika, sang macan meminta anaknya untuk memainkan guriding. Namun, sang anak justru mati karena tenggorokannya tertusuk guriding. Akibatnya sang macan mewanti-wanti agar anak keturunannya tidak lagi memainkan guriding. Dalam perkembangannya, mitos ini menjadi dasar mitos masyarakat Banjar membunyikan guriding, yakni sebagai alat ampuh untuk mengusir macan. Mereka juga menggantungkan atau meletakkannya di atas tempat tidur anak-anak mereka

Dalam kehidupan sosial dan budaya orang Banjar, guriding memiliki fungsi guna yang beragam, yaitu sebagai alat untuk pelipur lara di kala sepi dan melepas lelah usai bekerja di kebun atau hutan, sebagai alat untuk mengingatkan mereka akan leluhur, dan sebagai media yang disakralkan. Fungsi-fungsi ini masih dipercaya oleh masyarakat hingga kini. Akan tetapi mereka sudah jarang memainkan atau menyimpannya, kecuali mereka yang masih peduli dengan budaya tradisi.

Keberadaan guriding saat ini sangat memprihatinkan, bahkan hampir punah. saat ini hanya dimainkan oleh generasi tua yang tinggal di perkampungan. generasi muda sudah enggan memainkan guriding Selain dianggap sudah ketinggalan zaman, para generasi muda banua lebih suka memainkan alat musik modern, seperti gitar, mendengarkan musik dari radio atau telpon genggam.

Kuriding atau Guriding merupakan peninggalan leluhur yang telah turut menyumbang kekayaan budaya Banjar mestinya dipelihara. Mengingat keberadaannya yang memprihatinkan, maka ini menjadi satu pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Daerah (Pemda) dan para pemerhati budaya Banua untuk menyelamatkan guriding dari kepunahan.



Dan ternyata di daerah lain juga ada alat musik sejenis yang ternyata juga saat ini sangat langka, alat musik Kuriding termasuk dalam kategori alat musik “Jew’s Harp” yang diduga merupakan alat musik paling tua yang ada didunia sebarannya pun bukan hanya di Asia namun juga terdapat di Benua Eropa, dengan nama yang berbeda-beda dan bahannya pun juga beragam. Dari sisi produksi suara pun tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan; ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul), dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang seperti Kuriding.
Di Indonesia alat musik yang sejenis dengan Kuriding juga terdapat di Daerah Istimewa Yogya karta biasanya dimainkan saat menjelang musim panen padi tiba namanya “Rinding”





Saat mulai dimainkan terdengar alunan bunyi yang unik dari bambu pipih yang ditiup dan bambu bulat yang dipukul. ”Inilah Rinding Gumbeng, alat musik yang kami percaya sudah ada sejak jaman purba dan sudah turun-temurun diwariskan kepada kami” ungkap Sudiyo, pimpinan kelompok ”Ngluri Seni” dari Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul.



Nah kalo di Sunda namanya “Karinding”, alat musik ini sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat di tatar Sunda sejak abad ke-15. dalam Bahasa Sunda, penyebutan Karinding juga merujuk pada Kakarindingan, yaitu sejenis serangga bersuara nyaring yang hidup di air sawah, saat ini Karinding dapat dijumpai di Kecamatan Cineam, Kab. Tasikmalaya





Selanjutnya di Pulau Dewata (Bali) alat musik ini dinamakan “Genggong”. Desa yang telah memiliki tradisi Genggong yang kuat adalah Batuan (Gianyar). Di sini Genggong dimainkan sebagai pengiring tari, yaitu tari Kodok dan sebagai sajian musik instrumental. Untuk membunyikannya, genggong dipegang dengan tangan kiri dan menempelkannya ke bibir. Tangan kanan memetik "lidah"nya dengan jalan menarik tali benang yang diikatkan pada ujungnya. perubahan nada dalam melodi genggong dilakukan dengan mengolah posisi atau merubah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.
Kuriding, akan kah selamanya patah di Banua Banjar ini..? Tentunya perlu usaha semua pihak untu pelestariannya termasuk kita generasi muda sebagai pewaris budaya yang patut kita banggakan ini, Kuriding bisa di kolaborasikan dengan alat-alat musik modern yang dapat menghasilkan karya yang yang bisa dinikmati menurut selera anak muda saat ini…maulihat contohnya silahkan anda googling dengan kata “Karinding Attack”
Untuk Banua Banjar Tercinta Kami Berkarya…

Sumber ;
http://www.gunungkidulkab.go.id
http://www.bamboocraft.net
http://www.babadbali.com/seni/gamelan/gw-genggong.htm
http://unordinary-world.blogspot.com/2010/06/karinding-seni-bunyi-penakluk-hati.html
http://suarakomunitas.net/baca/8649/melestarikan.rinding.gumbeng,.alat.musik.khas.ngawen.gunungkidul. html
http://baritobasin.wordpress.com/2010/04/13/generasi-kuriding-patah/
http://melayuonline.com/ind/bookreview/read/175/guriding-alat-musik-tradisional-kalimantan-selatan
hymunk - 08/06/2011 12:50 PM
#233
Logo Kesultanan Banjar
Lambang Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar

Spoiler for lambang LAKKB


Lambang ini dibuat pada Akhir Bulan April 2010, pembuatan lambang ini memakan waktu sekitar 3 minggu, asal mula Lambang ini diambil dari Stempel Sultan Tamjidillah, namun pada akhirnya tidak semua diambil melainkan bentuk dari Tamengnya saja.

Arti Lambang :
1. Padi dan Kapas
Melambangkan Kesuburan dan Kemakmuran

2. Bulan dan Bintang
Melambangkan Ke Islaman

3. Tameng berwarna Merah
Melambangkan Suatu Pertahanan atau Melindungi

4. Saraung Mahkota Berwarna Kuning
Melambangkan Kebangsawanan

5. Pita Biru mengikat Padi dan Kapas
Melambangkan di ikat atau disatukan oleh darah Bangsawan atau Pagustian

Lambang Panji Kesultanan Banjar

Spoiler for Panji Kesultanan Banjar


Panji atau Bendera Kesultanan dibuat sekitar Akhir Bulan Mei 2010, sebelumnya banyak masukan bagaimana bentuk Panji dari Kesultanan Banjar namun pada akhirnya Panji Kesultanan diambil dari Bentuk Keris Sultan Adam, tidak mudah dalam pembuatan Lambang ini karena bentuk dari Keris Sultan Adam adalah berupa Relief dan waktu membuatnya pun tidak langsung melihat keris melainkan dari photo handphone.

Arti Lambang :
1. Gambar Naga Menghadap ke Kanan
Melambangkan Sultan yang Bijak dan memperhatikan Rakyatnya dengan baik

2. Kuda Bersayap menghadap Kebelakang
Melambangkan Menjaga Kesultanan dari Tanah Langit dan Air atau musuh dari belakang (menjaga kebudayaan banjar dari pengaruh luar yang negatif)

3. Tongkat bergagang Pedang dililit Merah Putih diatasnya
Melambangkan Kekuasaan Kesultanan tetap di bawah NKRI

4. Lambang Bulan Sabit
Melambangkan Ke Islaman

5. Lambang Dua Bintang
Melambang Al-Qur'an dan Al-Hadist.

6. Lambang Payung berwarna Kuning
Melambangkan Suku Banjar

7. Gambar Tombak / Pusaka-pusaka
Melambangkan Adat dan Budaya Banjar yang perlu dilestarikan dan dipelihara

8. Gambar Gunung
Menggambarkan kalau Kesultanan terletak dikaki Pegunungan Meratus

9. Dua Garis berwarna Biru
Meartikan Kesultanan terletak di antara dua Sungai Riam Kanan dan Riam Kiwa

Lambang Lencana Kesultanan Banjar

Spoiler for Lencana Kesultanan Banjar



Lambang ini dimulai dibuat pada malam Nisfu Sya'ban, dan memakan banyak waktu hampir satu bulan banyak perubahan dan penyempurnaan sehingga menghasilkan seperti ini.

Arti Lambang :
1. Perisai Warna Kuning didalamnya Gambar Naga dan Benda Pusaka
Melambangkan Keagungan Raja dan Benda pusaka atau Tradisi

2. Macan Putih
Melambangkan Penjaga atau menjaga Raja dan Tradisi

3. Bulan Bintang
Melambangkan Keislaman

4. Pita kuning bertuliskan Baiman-Bauntung-Batuah
Mengartikan Keadaan Masyarakatnya

Semua Pembuatan Lambang Kebesaran ini rampung sepenuhnya pada tanggal 17 Juli 2010, Karena pada tanggal 24 Juli 2010 akan diadakan Pelantikan Para Pemangku Adat di Hotel Arum Banjarmasin

Rancangan Lencana Raja Muda

Spoiler for lencana


Lencana ini selesai dibuat pada tanggal 11 Agustus 2010, setelah Acara Pelantikan Pengurus Pemangku Adat

Banyak Mistik dalam pembuatan Lambang ini karena bukan lambang biasa seperti lambang suatu produk atau usaha, namun pada saat saya membuat yang saya pikirkan adalah suatu kebanggaan karena sudah di beri kepercayaan telah membuat lambang Kesultanan Banjar.

Walaupun Akhirnya banyak yang mengecewakan dari yang mengakui sampai yang beranggapan bahwa saya memandang materi dalam pembuatan ini, sehingga saat ini saya pribadi tidak dicantumkan sebagai Pembuat lambang malah tidak diakui lagi.

Logo-logo ini adalah karya Rusman Effendi Hak Cipta ada atas nama beliau


sumber :

http://www.suryanata.co.cc
hymunk - 08/06/2011 03:09 PM
#234
Wisata Religi Kab. Banjar
hymunk - 10/06/2011 02:48 PM
#235
Kuriding di Banjart Magz
Spoiler for Kuriding 1




Spoiler for Kuriding 2




Spoiler for Kuriding 3




Spoiler for Kuriding 4




Spoiler for Kuriding 5




Spoiler for Kuriding 6




Spoiler for Kuriding 7




sumber : http://www.banjart.com
hymunk - 14/06/2011 09:27 PM
#236
Festival Silat Tradisional Kuntau Se Kalimantan Selatan 2011
Spoiler for festivalkuntau 2011


Dalam Rangka Pelestarian Silat Tradisional Kuntau maka diadakan Festival Silat Tradisional Kuntau se Kalimantan Selatan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 10-12 Juni 2011...yang diikuti oleh 91 peserta..

Spoiler for festivalkuntau 2011


Seluruh Kabupaten/Kota mengirim dutanya. Even ini dihelat oleh Sanggar Seni Arjuna Singakarsa Kandangan.

Pengunjung cukup antusias menikmati kegiatan yang dihelat pada pagi, siang dan sore hari di Open Stage Darmansyah Zauhidie itu. Dengan diiringi babun, sarunai, dan agung.

Spoiler for festivalkuntau 2011


Adapun juri yang memimpin even itu adalah : Aliman Syahrani, Ahmad Yunani Yusuf, dan Lupi Anderiani.

Spoiler for festivalkuntau 2011


Perguruan kuntau yang ikut diantaranya : Surung Kupak Balangan, Jasa Datu HSS, dsb.

Spoiler for festivalkuntau 2011






Kalah atau menang dalam lomba itu hal yang biasa, namun yang lebih penting adalah silaturrahmi.

Aliman Syahrani berharap even seperti ini tetap eksis dilaksanakan. " Tiap daerah bergiliran menyelenggarakannya. Seperti Aruh Sastra," ujarnya.

Spoiler for festivalkuntau 2011


" Masyarakat cukup antusias menyaksikan even ini. Dapat dijadikan even tahunan,"ujar Hasan Awsy, Ketua Panitia.

Spoiler for festivalkuntau 2011


Hasil Festival Kuntau se Kalsel di Kandangan :

Kategori Bunga Tunggal Anak

1. Ahmad Yani (Tapin)
2. Rizkan Akbar (HSS)
3. Amrullah (HSS)

Kategori Bunga Tunggal Remaja

1. Rahman (Tapin)
2. Sapriadi (Tapin)
3. Yuliannor (Balangan)

Kategori Bunga Tunggal Dewasa

1. Asmuni (HSS)
2. Atiyah (HSS)
3. Mulyadi Yusuf (HSS)

Kategori Bunga Berpasangan Anak

1. Yandi - Ahmad (Tapin)
2. Kasim - Hasani (HSS)
3. Sri Marlina - Novie Risma (HSS)

Kategori Bunga Berpasangan Remaja

1. Sapriadi - Ahmadun (Tapin)
2. Yusuf - Rahman (HSU)
3. Majid - Fahru (HSS)

Kategori Bunga Berpasangan Dewasa

1. Asmuni - Halik (HSS)
2. Wahab - Nadi (Tapin)
3. Nuryani - Maksum (Balangan)

sumber :
http://sketsahss212.blogspot.com
hymunk - 16/06/2011 01:26 PM
#237
Silsilah Kerajaan Banjar
Spoiler for silsilah




sumber :
Kerajaan2 Indonesia: An alphabetical enumeration of the former princely states of Indonesia, from the earliest time to the modern period, with simplified genealogies and order of succession by Hans Haegerdal

http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2011/06/silsilah-kerajaan-banjar.html

Silsilah Keturunan Sultan Adam Al Wasikubillah Martapura Kerajaan Banjar

Spoiler for silsilah


sumber http://sinarbulannews.wordpress.com/2011/01/02/silsilah-keturunan-sultan-adam-al-wasikubillah-martapu ra-kerajaan-banjar/

SILSILAH KETURUNAN PANGERAN ANTASARI silahkan download di : http://www.4shared.com/file/WiiUKzgw/SILSILAH_KETURUNAN_PANGERAN_AN.html
hymunk - 16/06/2011 01:48 PM
#238
Pangeran Antasari, Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin


Pangeran Antasari (lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797 atau 1809 – meninggal di Bayan Begok, Hindia-Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada 14 Maret 1862, beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.



Semasa muda nama beliau adalah Gusti Inu Kartapati. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir bin Sultan Muhammad Aminullah. Ibunya Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang bernama Ratu Antasari / Ratu Sultan yang menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman tetapi meninggal lebih dulu sebelum memberi keturunan.

Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri

Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito.

Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan:

“ Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah! ”

Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi “Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin”, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengaron tanggal 25 April 1859. Selanjutnya peperangan demi peperangan dipkomandoi Pangeran antasari di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, namun beliau tetap pada pendirinnya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861.

“ …dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)… ”

Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini.

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.

Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Dengan wafatnya Pangeran Antasari, rakyat kehilangan pemimpin yang berani, cerdas, tangguh, cerdik, dan alim. Meskipun demikian semangat perjuangan Pangeran Antasari tetap berkobar-kobar. Rakyat Banjar tidak tenggelam kesedihannya, hingga kedudukan pejuang ini diteruskan oleh putra-putranya.

Ada 7 pesan yang ditinggalkan sebelum Pangeran Antasari wafat, yakni :
1. haram manyarah waja sampai kaputing,

2. lamun tanah banyu kita kahada handak dilincai urang jangan bacakut papadaan,

3. lamun handak tulak manyarang Walanda baikat hati di tali sindat,

4. jangan sampai mati parahatan bukah matilah kita di jalan Allah,

5. siapa nang babaik-baik lawan Walanda tujuh katurunan kahada aku sapa,

6. amun kita sudah sapakat handak mahinyik Walanda janganlah Walanda dibari muha, dan

7. haram dijamah Walanda, haram diriku dipanjara, haram nagriku dijajah.

sumber :
http://yapiza.wordpress.com/2011/05/18/pangeran-antasari/
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/37/17937
hymunk - 16/06/2011 01:49 PM
#239
Pangeran Antasari, Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin
Makam Pangeran Antasari ada di tengah pemakaman umum dekat masjid Jami’, masjid tertua kedua di Banjarmasin. Di atas makamnya dibuat rumah yang tidak terlalu besar, di dalam rumah itu ada 5 makam. Makam Pangeran Antasari ada di sebelah kiri pintu masuk, diberi pagar. Di sebelah kanan pintu masuk adalah makam panglima Batur, pejuang kelahiran Buntok Baru, Barito Utara, tahun 1852. Ia adalah seorang panglima suku Dayak yang telah masuk Islam. Di perang Barito sebagai kelanjutan perang Banjar, panglima Batur merupakan panglima setia masa sultan Muhammad Seman. Ia meninggal di Banjarmasin 5 Oktober 1905 dalam usia 53 tahun. Makam berikutnya adalah makam Hasanuddin HM (Hasanuddin bin Haji Madjedi), pahlawan Ampera di Kalsel. Ia mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang meninggal tahun 1966. Makam berikutnya adalah makam Ratu Antasari, istri Pangeran Antasari. Satu lagi adalah makam Ratu Zulaiha, puteri Sultan Muhammad Seman.




Pangeran Antasari bin Pangeran Mas’ud bin Sultan Amir bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, lahir tahun 1809, ibunya bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ia adalah keluarga Kesultanan Banjarmasin, tetapi hidup dan dibesarkan di luar lingkungan istana, yakni di Antasan Senor, Martapura. Kericuhan-kericuhan yang terjadi di kalangan penguasa kesultanan, menjadikan cicit dari Sultan Aminullah ini tersisih, walaupun ia sebenarnya pewaris pula atas tahta Kesultanan Banjar.



Ketika Sultan Adam (1825-1857) meninggal dunia, Belanda mengangkat cucunya yaitu Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan. Putra Sultan Adam yaitu Pangeran Abdulrachman, ayah Tamjidillah, telah meninggal lebih dahulu pada 1852. Pengangkatan ini menimbulkan masalah, karena ibu Tamjidillah adalah orang Cina. Ditambah kesenangannya pada minuman keras dan bermabuk-mabukan. Para bangsawan, ulama, dan rakyat tidak menyukai terhadap pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan. Yang lebih disukai adalah putra Abdulrachman yang lain yaitu Pangeran Hidayatullah. Dia selain putra dari ibu bangsawan, juga berperangai baik. Tapi Tamjidillah sudah didukung dan ditetapkan Belanda sebagai sultan dan Hidayatullah dijadikan mangkubumi (patih).



Harapan rakyat Banjar adalah Hidayatullah yang menjadi sultan, yang diperkuat pula dengan Surat Wasiat Sultan Adam Alwasyiqubillah. Isi Surat Wasiat itu sebagai berikut: Sultan Adam memberi kepada Pangeran Hidayat gelar Sultan Hidayatullah Khalilullah. Mengangkat menjadi penguasa agama serta mewariskan semua tanah kesultanan, semua alat senjata kesultanan, alat pusaka dan padang-padang perburuan. Apabila Sultan Adam wafat, maka penggantinya ialah Pangeran Hidayat, dan hendaknya memerintah rakyat dengan penuh keadilan dan mengikuti perintah agama. Memerintahkan kepada seluruh rakyat Kesultanan Banjar supaya mentaati hal ini dan jika perlu mempertahankan dengan kekerasan. Memerintahkan kepada semua pangeran, menteri, orang besar kesultanan, ulama dan tetua kampung supaya mematuhi ketentuan ini, apabila dilanggar Sultan Adam menjatuhkan kutuknya.

Karena keadaan itu muncullah gerakan-gerakan perlawanan rakyat. Di berbagai tempat, di kampung-kampung, mereka mempengaruhi rakyat dan di sana-sini mengganggu ketenteraman. Keresahan rakyat tampak jelas dengan timbulnya perlawanan di daerah pedalaman, yaitu: Di Banua Lima (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua) dipimpin oleh Tumenggung Jalil. Di Muning dibawah pimpinan Aling yang telah menobatkan dirinya menjadi sultan dengan nama Penembahan Muda. Anaknya yang bernama Sambang diangkat dan bergelar Sultan Kuning. Anak perempuannya Saranti diberi gelar Puteri Junjung Buih. Nama kampungnya diganti menjadi Tambai Makkah. Di daerah Batang Hamandit, Gunung Madang, dipimpin Tumenggung Antaluddin. Di Tanah Laut dan Hulu Sungai dipimpin oleh Demang Lehman. Di Kapuas Kahayan dibawah pimpinan Tumenggung Surapati.

Pangeran Hidayatullah dalam kedudukannya sebagai mangkubumi mengutus 3 orang untuk menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak. Salah seorang dari utusan itu adalah pamannya sendiri, yaitu Pangeran Antasari. Maka terbukalah kesempatan bagi Pangeran Antasari untuk menghubungi pemimpin-pemimpin gerakan rakyat yang siap mengadakan perlawanan, bahkan ia berhasil memperoleh kepercayaan rakyat dan dipilih sebagai pemimpin perlawanan. Cita-cita mereka memang sesuai dengan sikap dan pendirian Antasari.

Oleh karena itu ia dan keluarganya diam-diam meninggalkan kediamannya di Antasan Senor Martapura dan menyatukan diri dengan kaum perlawanan di pedalaman. Puteranya yang bernama Gusti Penembahan Muhammad Said, dikimpoikan dengan Saranti, puteri Penembahan Aling, tokoh yang berpengaruh di kalangan mereka.

Pangeran Antasari berhasil mempersatukan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Penembahan Aling di Muning dengan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil di Benua Lima. Wilayah perlawanan bertambah luas, meliputi Tanah Dusun Atas, Tabanio dan Kuala Kapuas, serta Tanah Bumbu. Semuanya menjadi satu front di bawah pimpinan Pangeran Antasari untuk menentang Belanda dan kekuasaannya yang menggunakan Sultan Tamjidillah.

Pengaruh Pangeran Antasari menjadi makin luas, juga di kalangan alim ulama Banjar yang sebagian besar bersedia ikut menempuh jalan kekerasan. Pada permulaannya ia berhasil menghimpun sebanyak 6.000 orang lasykar. Serangan pertama dilakukan pada tanggal 28 April 1859. Dengan serangan itu maka meletuslah Perang Banjar. Pagi-pagi buta 300 orang lasykar yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaron. Pertempuran berlangsung hingga pukul 14.00 siang. Baik pihak Pangeran Antasari mapun pihak Belanda berjatuhan korban.

Pengaron dikepung rakyat lasykar Antasari. Komandan Beeckman sangat khawatir karena persediaan makanan sudah menipis. Ia segera mengirim kurir, tetapi kurir itu dapat dibunuh oleh lasykar. Keadaan di luar tambang dan benteng Belanda di Pengaron dapat dikuasai lasykar Pangeran Antasari. Dua puluh orang bersenjata parang menyelinap ke dalam pos dan benteng tambang batu bara Oranje Nassau Pengaron, tetapi diketahui musuh, dan semuanya gugur terbunuh. Dokter Belanda di dalam lokasi itu diamuk dan dibunuh oleh orang hukuman. Pangeran Antasari sebagai pimpinan lasykar perlawanan mengirim surat kepada Beeckman agar ia menyerah.

makam pangeran antasari. masih ada trah majapahit menurut silsilah
Dalam keadaan semacam ini pemerintah Belanda menganggap berbahaya terhadap pangeran Antasari sehingga dianggap pemberontak yang dikenai premie atau harga kepala 10.000 gulden untuk menangkapnya hidup atau mati. Demikian pula terhadap Pangeran Hidayatullah yang kemudian bergabung dengan Pangeran Antasari. Hal ini dilakukan Belanda setelah dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860.

Di dalam bulan suci Ramadhan 1278 H (14 Maret 1862, yaitu setelah 11 hari Pangeran Hidayatullah II diasingkan ke Cianjur) para alim ulama dan pemimpin rakyat di Barito, Sihong, Teweh serta kepala-kepala suku Dayak Kapuas Kahayan berkumpul di Dusun Hulu untuk menobatkan Pangeran Antasari menjadi Penembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, pemimpin tertinggi agama. Dengan demikian, dalam pengertian rakyat, kedaulatan daerah Banjar dipegang oleh Pangeran Antasari. Kekuasaan dan kedaulatan dilaksanakan sesuai dengan keadaan perang yang masih berkobar.

Belanda masih berusaha berdamai dengan Pangeran Antasari dan bersedia memberi pengampunan. Pangeran Antasari menolak ajakan Belanda dengan mengirim surat kepada gezaghebber (Kepala Daerah/penguasa) di Marabahan (Bakumpai). Isinya ialah penolakan pengampunan yang diajukan Belanda kepada Pangeran Antasari. Ia tidak percaya kepada janji-janji yang diberikan Belanda dan menganggapnya sebagai tipu muslihat belaka. Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin hanya memberi satu jaminan untuk perdamaian, yaitu diserahkannya Kesultanan Banjarmasin, sedangkan Belanda hanya diizinkan untuk menarik pajak. Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, maka Pangeran Antasari memilih jalan meneruskan peperangan.



Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga. Dalam keadaan sakit parah ia diangkut ke pegunungan Dusun Hulu. Akhirnya meninggal di kampung Sampirang, Bayan Pegog, Hulu Teweh, pada tanggal 11 Oktober 1862. Kemudian makamnya dipindah pada 11 November 1958 ke Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin.

sumber :
http://adimust.wordpress.com/about-pics/pangeran-antasari-panembahan-amiruddin-khalifatul-mukminin/
hymunk - 22/06/2011 07:24 PM
#240
Balutrai, Kearifan Menjaga Ikan




sumber :
e-paper B.post 21 Juni 2011
Page 12 of 15 | ‹ First  < 7 8 9 10 11 12 13 14 15 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan