Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819
Page 13 of 15 | ‹ First  < 8 9 10 11 12 13 14 15 > 

hymunk - 22/06/2011 07:34 PM
#241
Menyandingkan Seni Mengharumkan Banua




sumber :
e-paper B.post 22 Juni 2011
hymunk - 25/06/2011 11:14 AM
#242
Teater Japin Carita
Japin Carita merupakan teater rakyat tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan berasal dari pengembangan tari dan musik japin. Biasanya Japin Carita ini dibawakan untuk meramaikan malam pengantin dan hari besar Islam. Jenis Teater ini boleh dibilang hampir punah karena sudah sangat jarang dimainkan.




Pada tahun 1900, di Banjarmasin telah mengenal Japin Arab, yang ditarikan oleh suku Arab di perkampungan Arab. Japin Arab berpengaruh besar masyarakat sekitar, yakni Kampung Melayu, Kuin, Alalak, Sungai Miai, Antasan Kecil, Kalayan, Banyiur. Sampai dengan tahun 1960 di Banjarmasin lebih dari sepuluh orkes Japin lengkap dengan tari-tarian Japin yang langkah-langkahnya agak mirip dengan Japin Arab. Tahun 1961 di kampung Sungai Miai dipergelarkan Japin yang berisi tari Japin dilanjutkan dengan sebuah cerita. Pada tahun 1975 dari dari Tapin menyebutkan bahwa ditemukan Japin bercerita di Kampung Binuang Dalam. Informasi sebelumnya didapatkan pada tahun 1958 terdapat pergelaran Japin Bakisah di Margasari.




Dengan demikian, Japin Carita muncul pada tahun 1958 dan tidak diketahui siapa pencetusnya. Yang jelas, bahwa Japin Carita adalah perkembangan dari Tari dan musik Japin pesisiran. Diperkirakan lahir di Banjarmasin karena pengaruh tonil/sandiwara dan komedi bangsawan kemudian berpengaruh pada masyarakat Badamuluk di Margasari.



Fungsi Japin Carita pada awalnya semata-mata hanyalah hiburan rakyat sama seperti kesenian khas Banjar lainnya. Pada perkembangannya berfungsi pula untuk perayaan kampung dan perayaan hari besar Islam. Pada masyarakat nelayan Banjar biasanya diadakan pada waktu tidak melaut.



Perkembangan berikutnya, peranannya bertambah dengan masuknya unsur dakwah Islamiyah yang larut di dalamnya. Unsur tari sebagai permulaan dan di tengah pertunjukkan sebagai selingan. Tari Japin yang digelar menunjukkan gaya dan pengaruh Japin Arab. Dakwah sebagai unsurnya lebih menonjol dengan adanya adegan-adegan ceramah agama yang dramatis sehingga fungsinya sebagai sarana dakwah menjadikan Japin Carita semakin diminati masyarakat dan mempunyai wilayah publik yang baik.



Tempat Penyajian

Di lapangan atau di halaman sebuah rumah dibuat tempat bergelar seluas perkarangan, atau dengan ukuran yang cukup untuk tempat musik Japin dan untuk permainan. Biasanya tempat ini diberi hiasan janur yang dibentuk melingkar seperti pintu besar. Latar belakangnya terdiri dari kain yang disebut ‘dinding tambal’ dibuat dari kain perca yang warnanya kuning, hitam, dan merah. Kadang-kadang dibuat juga ‘lalangitan’ yakni bentuk atap pisang sesikat, gunanya agar cahaya lampu tetap terjaga, bahan yang digunakan biasanya ‘kajang’ terbuat dari daun nipah.

Untuk alat pentas digunakan kursi biasa atau kotak kayu yang ditutupi kain. Biasanya setting yang demikian hanya satu buah untuk diduduki oleh peran yang terhormat. Posisi pemusik Japin berada di samping kanan panggung (setengah arena). Posisi penonton adalah berkeliling setengah lingkaran diberi garis batas.

Tari-Tarian

Gerak tari Japin pesisiran atau Japin Rantauan menjadi ciri khas Japin Carita. Gerak tari difungsikan oleh para pemain ketika memasuki arena permainan. Dan tari difungsikan secara utuh sebagai pembukaan, kalau ada penambahan tari dalam adegan dimasukkan tari Japin Rantauan, Japin Tiga Saudara, Japin Pengulu dan sebagainya.



Musik

Musik yang dipakai dalam teater Japin adalah musik Japin Pesisiran. Alat-alat yang ada dalam musik Japin tersebut adalah:

Gambus Bidawang
Biola
Harmonika Angin
Babun
Keprak
Tamborin
Agung (Gong) besar dan kecil

Nyanyian

Nyanyian Japin selalu dinyanyikan untuk memanggil penonton sebelum teater dimulai. Nyanyian tersebut memiliki pantun berbahasa Banjar ada juga yang berbahasa Melayu. Nyanyian yang sering dipergunakan adalah :

Japin Kuala
Japin Sisit
Japin Tuan Haji
Japin Rantauan
Japin Tirik Kuala
Japin Tirik Pindahan
Japin Kilir-Kiliran


Foto diambil pada saat Pementasan Theater Tradisional Banjar Japin Carita yang berjudul Hayatun Nufus oleh Sanggar Lawang banjarmasin

sumber :
http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/27/teater-japin-carita/
hymunk - 28/06/2011 11:52 AM
#243
Julak Siwan, Nenek Penakluk Meratus


sumber ;
e-paper B.post 28 juni 2011
hymunk - 01/07/2011 02:00 PM
#244
Bingka, Kue Khas Banjar
Kue khas Banjar sangat beragam, jumlahnya sangat banyak dari kue kering hingga basah bahkan ada yang terkenal dengan istilah 41 macam kue. Salah satunya adalah bingka. Rasanya yang manis, lemak dan lembut dinilai cocok untuk orang berbuka puasa.



Sejarah kue ini kerap dikaitkan dengan Kerajaan Melayu. Pada zaman Kerajaan Melayu dulu dikenal bingka rasa pandan. Kini, soal rasa telah dimodifikasi. Ada yang menambahnya dengan parutan keju atau siraman coklat.

Bentuk kue bingka sungguh unik. Kue berbahan tepung terigu, telur, santan, gula pasir, dan garam, itu dicetak seperti bunga. Setelah berbentuk adonan, kue itu dipanggang sekitar setengah jam. Jajanan itu dijual antara Rp 10 ribu sampai 30 ribu.

Kue bingka khas Banjar atau yang lebih dikenal dengan sebutan wadai bingka, merupakan salah satu sajian yang nikmat saat berbuka puasa. Meski harganya cukup mahal jika dibanding dengan kue yang lain, bingka tetap diburu pengunjung karena rasanya yang manis dan enak.

Di Banjarmasin, kue bingka yang terkenal adalah berlabel bingka Bunda dan bingka H Thambrin. Kedua produk bingka ini laris manis dibeli masyarakat sebagai sajian untuk berbuka puasa.

Bingka Thamrin



H Thambrin memaparkan, bingka tidak hanya disukai masyarakat Kalsel atau urang Banjar. Tapi banyak pula masyarakat luar daerah yang menyenangi, karena seringkali bingka produksinya dibeli dan dibawa ke luar negeri, antara lain Brunei.



"Kue bingka produksi kami ada tujuh varian rasa, antara lain bingka kentang, bingka keju, bingka telur, bingka tape, harganya Rp 27 ribu, sedangkan bingka kelapa parut Rp 30 ribu. Di luar bulan Ramadhan kami juga tetap memproduksi, namun minimal pesanan adalah 10 bingka," jelas H Thambrin yang juga pemilik Salon H Thambrin di bilangan Jalan Sultan Adam, Banjarmasin.



Selama bulan Ramadhan, H Thambrin memproduksi antara 750 sampai 1000 bingka per hari. Memenuhi kebutuhan pasar tersebut, ia mempekerjakan 25 orang untuk membuat bingka. Selain dipasarkan di Banjarmasin, bingka tersebut ada yang membawa sampai ke luar kota.



Kue Bingka Kentang HJ.Thamrin di Jalan Sultan Adam RT.20 No.80 Surgi Mufti. Banjarmasin Utara Telp. (0511)3352616,3302822

Bingka Bunda



Bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat kota. Persis di depan rumah ada seorang pedagang telur ayam dan bebek. "Setiap hari saya beli telur yang cangkangnya pecah atau retak murah, Saban hari saya membeli telur untuk bahan membuat kue untuk santapan keluarga," kenang Zuhriah.

Tak hanya keluarga, teman-temannya pun tahu, Zuhriah piawai mengolah kue yang lezat. Hobi Zuhriah berkembang ketika mereka pindah ke Banjarmasin, ibukota Kalsel. Di kota Seribu Sungai ini tiap bulan puasa diselenggarakan Festival Kue Ramadhan. Pada tahun 1984, seorang teman Zuhriah mengajaknya bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat mengisi gerainya. "Ayolah, ikut saja. Kue yang mau saya jajakan masih kurang untuk mengisi kios," ajak teman Zuhriah. Zuhriah pun setuju.

KLIK - Detail Zuhriah memilih membuat wadai Bingka, kue khas Banjar. Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue. Rasanya mirip kue lumpur. Seperti kolak, hampir tiap hari kue bingka disajikan saat bulan puasa. "Awalnya, kue buatan Ibu tak laris. Dari 40 loyang, sehari paling laku 20 loyang. Terpaksa kue yang tak laku tiap hari dibagikan pada tetangga. Maklum bingka, kan, kue basah yang hanya tahan sehari semalam," cerita Netty Asistina Suciati (34), anak sulung Zuhriah.

Namun, Zuhriah tak putus asa. Ia tetap menjajakan kuenya. Hanya butuh waktu dua minggu, bingka buatannya mulai banyak peminat. "Setelah itu tidak ada lagi bingka yang tersisa," lanjut Netty.

JADI OLEH-OLEH KHAS
Tahun-tahun berikutnya, Zuhriah rutin ikut festival. Lama-kelamaan, rasa bingka made in Zuhriah sudah menancap di lidah langganannya. Tak heran meski Ramadhan usai, masih ada saja orang yang mengetuk pintu rumahnya memesan wadai berwarna kuning kecokelatan ini. "Saya mulai kewalahan. Sekarang, tiap hari selalu saja ada yang pesan. Nah, saya pun dibantu tiga karyawan. Sehari kami buat buat 50 loyang," kata Zuhriah.

KLIK - Detail Bila bulan Puasa tiba, omzet Zuhriah melonjak tajam. Sehari ia bisa memproduksi 400 loyang. Ia pun butuh karyawan lebih banyak lagi. "Biasanya kami dibantu oleh 40 orang," kata Zuhriah. Untungnya hampir semua orang Banjar bisa membuat kue ini. "Jadi hampir tiap bulan puasa banyak orang menawarkan jasanya membantu membuat," timpal Netty.

Di halaman belakang rumahnya, Zuhriah membangun sebuah tempat pembakaran. Di sana tungku-tungku arang terpasang. Di sisi kanan rumah terdapat belasan tungku. "Kalau sudah masuk Ramadhan, tiap hari hiruk pikuk membuat kue terjadi di sini," kata anak perempuan semata wayang Zuhriah-Fuad yang berniat meneruskan usaha orang tuanya.

Lama-kelamaan, bingka menjadi oleh-oleh khas Banjarmasin. Pembelinya tak hanya orang Banjar, bahkan dari luar provinsi pun banyak yang pesan. "Dari orang biasa sampai pejabat. Hampir setiap tamu provinsi pesan bingka pada kami untuk oleh-oleh," kata Netty yang sedang berguru pada ibunya. "Saya ingin bisa membuat bingka yang rasanya mirip buatan Ibu,"

Sebenarnya, Zuhriah ingin memperluas pasar sampai ke luar pulau. Namun, ada kendala bila mengingat bingka tak tahan lama. "Kami sedang berpikir bagaimana caranya bisa menjual bingka ini di luar Banjarmasin, misalnya di Surabaya. Saya bercita-cita bisa memperluas usaha istri saya," tekad Fuad.

Meskipun usaha membuka cabang masih rencana, Zuhriah mengaku bahagia dengan perkembangan bisnisnya. "Aduh, rasanya bangga juga ya. Ternyata yang dulunya hobi sekarang dinikmati banyak orang," ujar Zuhriah.

Kalo ada yang tertarik dan sedang main ke Banjarmasin, Bingka Kentang ini dapat diperoleh di sini:
Bingka Bunda:
Jl. Veteran Simp. SMP 7/ II No. 52 Telp: (0511) 325848,(0511)3258481 Banjarmasin

sumber :
http://bingkathambrin.blogspot.com/2011/08/bagi-masyarakat-banjarmasin-sudah-tak.html
http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=2578
http://banjarmasin.tribunnews.com/index.php/read/artikel/2010/8/10/53029/legitnya-bisnis-bingka
http://as3pram.blogspot.com/2008/03/bingka-kentang.html
hymunk - 01/07/2011 08:01 PM
#245
Jejak perjuangan a.m. Sangaji di kalimantan


Di Jakarta Pusat, Yogyakarta, Samarinda, atau mungkin di kota lainnya, terdapat nama Jalan A.M. Sangaji. Mungkin banyak yang tak mengetahui bahwa A.M. Sangaji adalah seorang pejuang perintis kemerdekaan Indonesia kelahiran Maluku dan seangkatan dengan pejuang perintis kemerdekaan lainnya seperti H.O.S. Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Oleh para pejuang kemerdekaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, A.M. Sangaji disebut sebagai pemimpin tua. “Jago Tua”, kata beberapa surat kabar di ibukota Republik. “Hindeburg Kalimantan”, kata s.k. Merdeka Solo. Belanda dan Jepang pun tahu tentang kedudukan beliau sebagai pemimpin tua itu. Tapi, tahukah anda bahwa sebelum akhir hayatnya di pulau Jawa, ia pernah berjuang menggelorakan semangat kebangsaan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Di Samarinda Kalimantan Timur, A.M. Sangaji melalui Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) yang didirikannya ia mengelola Neutrale School untuk menampung anak-anak sekolah dari kalangan bumiputera.
Setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, A.M. Sangaji mengkoordinir suatu perjalanan panjang yang dilakukan oleh 3 grup/gelombang dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pimpinan BPRI sekaligus memberitahukan proklamasi kemerdekaan, mengibarkan bendera, dan memberikan kesadaran kepada rakyat di daerah-daerah yang dilalui.




Rombongan A.M. Sangaji tiba di Marabahan Kalimantan Selatan, akan tetapi beberapa saat kemudian yakni pada bulan April 1946 polisi Belanda berhasil menangkap A.M. Sangaji dan memenjarakannya di penjara Banjarmasin, yakni bangunan penjara yang lokasinya sekarang ditempati Gedung Pos Besar Banjarmasin. Penjara Banjarmasin saat itu penuh sesak dengan tawanan. Sebagian besar adalah hasil penangkapan besar-besaran yang dilakukan Belanda pasca meletusnya pemberontakan 9 November 1945 di Banjarmasin, pemberontakan 5 Desember 1945 di Marabahan, dan pemberontakan “trikesuma” di Barabai tanggal 19 ke 20 Maret 1946.

Banyaknya pejuang yang ditangkap Belanda, mengakibatkan penjara Banjarmasin penuh sesak dengan para tawanan. Mereka yang mengalami mengatakan hanya berdiri, dan sukar bebas bernapas dan bahkan kelaparan karena makanan seringkali diberikan satu kali sehari dengan porsi sepiring dibagi empat, sehingga kulit pisang yang dilempar penjaga pun menjadi santapan dan rebutan. Akan tetapi, banyaknya pejuang dan saat dijebloskannya A.M. Sangaji ke dalam penjara Banjarmasin, telah menjadikan penjara itu seolah-olah daerah kekuasaan Republik.

Pak Sangaji masuk dengan lenggang yang gagah, ayun tangan sebagai seorang prajurit yang menang perang. Seruan merdeka bergemuruh sebagai sambutan dari segenap bilik penjara. Dan dari bangsal D (bangsal yang besar) bergema lagu Indonesia Raya. Polisi tak bisa bertindak apa-apa.
Di dalam Majalah Mandau yang diterbitkan oleh Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK) di Yogyakarta (1948) Pak Sangaji menceritakan, “Keadaan kami ketika itu dalam penjara adalah sebagai dalam daerah merdeka, daerah Republik, di tengah-tengah daerah musuh. Di sana ada pamong prajanya, ada polisinya, ada dokternya, ada kadi-nya dan terutama pemuda-pemuda sebagai prajurit yang menjadi isi tempat tahanan itu”, kata Pak Sangaji.




Selepas keluar penjara Banjarmasin, A.M. Sangaji menyeberang ke pulau Jawa. Ia kemudian memimpin Laskar Hisbullah yang berpusat di Yogyakarta dan pernah menugaskan R. Soedirman untuk membentuk Laskar untuk daerah Martapura dan Pelaihari, serta Tamtomo sebagai penghubung Markas Besar Hisbullah Yogya untuk Kalimantan. Akan tetapi, ia kemudian tewas ditembak militer ketika Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta tahun 1947. Sumber: Buku “Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942 (2007)”, Buku “Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik (2007)”, Buku “Sejarah Banjar (2003)”, Buku “Provinsi Kalimantan” (1950), buku “Republik Indonesia: Kalimantan” (1953), dan Majalah “Mandau” (1948).

sumber : http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2011/06/30/jejak-perjuangan-a-m-sangaji-di-kalimantan/
hymunk - 23/07/2011 05:35 PM
#246
Talipuk, Pangan Lokal Lahan Rawa Lebak Kalimantan Selatan
Pekan Pertanian Rawa Nasional ke I di Balitra Banjarbaru diisi pemecahan rekor baru. Panitia penyelenggara membuat Kue Talipuk raksasa dengan panjang 10 meter, lebar 1 meter dan ketinggian 50 cm. Kue khas Kalsel asal Sungai Sudung Alabio Hulu Sungai Utara ini pun menjadi pusat perhatian pengunjung.

Spoiler for Talipuk





Masruni, sang pembuat kue, mengatakan, kue yang diolah dari buah teratai tersebut dibuat dalam tempo dua setengah hari. Dengan dibantu dua orang, ia mengatakan proses pembuatan berjalan lancar. “Untuk menghasilkan kue sebesar itu saya menghabiskan 120 liter buah teratai mentah. Setiap satu kali kami mengadon 40 liter buah teratai. Saya sangat puas bia membuat makanan khas yang sudah mulai SD saya geluti membuatnya ini,” terangnya

Spoiler for Talipuk












Talipuk merupakan bahan pangan yang diperoleh dari tumbuhan teratai yang banyak tumbuh di lahan-lahan rawa kalimantan selatan

Spoiler for Talipuk


setelah diambil dari tanaman tersebut bijinya dikeringkan terlebih dahulu..

Spoiler for Talipuk



kemudian dikupas dan bisa dijadikan tepung dalam pembuatan kue tradisional..

Spoiler for Talipuk





ibu didalam foto ini sedang membuat kue apam dengan bahan tepung dari biji teratai yang sudah dihaluskan..

Spoiler for Talipuk


nah kalo yang ini namannya kue cincin..juga terbuat dari tepung biji teratai..

Spoiler for Talipuk


kalo mau membuat bipang talipuk biji teratainya harus dijadikan brondong dulu..seperti yang ibu ini pegang..itu merupakan bahan untuk pembuatan dalam pemecahan rekor MURI ini..

kemudian dengan menggunakan alat dipadatkan sambil disiram sedikit demi sedikit dengan gula pasir yang sudah dilelehkan..sehingga kuenya menjadi padat..

sumber :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.2187230489390.124950.1505903375
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/35/13708
agnk,, - 26/07/2011 05:36 PM
#247
Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan) - Kalimantan Selatan
balum ada tntang Datu Kalampayan.. ada link di peki sblmnya, tp link-nya mati

Quote:
Original Posted By agnk,,


[COLOR="Navy"]Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H) adalah ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta [COLOR="Black"]Datu Kelampaian/Kalampayan.

Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara

Silsilah keturunan

Spoiler for silsilah
Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW


Riwayat

Spoiler for Masa Kecil
Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kesultanan Banjar, suatu hari ketika berkunjung ke kampung Lok Gabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, dicerita-kan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Spoiler for Menikah & Menuntut ilmu di Mekkah
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian ia dikimpoikan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut. Hasil perkimpoian tersebut ialah seorang putri yang diberi nama Syarifah.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, terlintaslah di hati Muhammad Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya isterinya mengamini niat suci sang suami dan mendukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian doa mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syekh ‘Athoillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Syekh yang disebutkan terakhir adalah guru Muhammad Arsyad di bidang tasawuf, dimana di bawah bimbingannyalah Muhammad Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan akan kampung halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang di arak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penentiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu.

Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah. Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama "Matahari Agama" yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kesultanan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan, sultan pun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’. Selama hidupnya ia memiliki 29 anak dari tujuh isterinya


Hubungan Dengan Kesultanan Banjar

Spoiler for
Pada waktu ia berumur sekitar 30 tahun, Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah demi memperdalam ilmunya. Segala perbelanjaanya ditanggung oleh Sultan. Lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu setelah gurunya menyatakan telah cukup bekal ilmunya, barulah Syekh Muhammad Arsyad kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi, Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah II yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya. Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh), yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.


Pengajaran dan bermasyarakat

Spoiler for
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah pelopor pengajaran Hukum Islam di Kalimantan Selatan. Sekembalinya ke kampung halaman dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakannya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Dalam Pagar, yang kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Di samping mendidik, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara Dan juga dijadikan dasar Negara Brunai Darussalam.

Spoiler for pict Kitab Sabilal Muhtadin




Karya-karyanya

Spoiler for karya
Kitab karya Syekh Muhammad Arsyad yang paling terkenal ialah Kitab Sabilal Muhtadin, atau selengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, yang artinya dalam terjemahan bebas adalah "Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Syekh Muhammad Arsyad telah menulis untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, beberapa kitab serta risalah lainnya, diantaranya ialah:
* Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh,
* Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat,
* Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri,
* Kitabul Fara-idl, semacam hukum-perdata.
Dari beberapa risalahnya dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian dihimpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Sedangkan mengenai bidang Tasawuf, ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.



Sumber :*Wiki & gugel[/COLOR]

kuot dari sini nah [/COLOR]
hymunk - 03/08/2011 12:56 PM
#248
Surgi Mufti K.H. Jamaluddin
Sengaja Pintu Kubah Dibiarkan Terbuka



KH Jamaluddin yang berkubah di Kelurahan Surgi Mufti merupakan tokoh yang diangkat di masa Sultan Adam sebagai Sultan di kerajaan Banjar semasa jaman penjajahan Belanda. Kubah ini sekarang merupakan salah satu cagar budaya di Banjarmasin.


SATU benda cagar budaya yang terletak di Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, adalah makam Surgi Mufti KH Jamaluddin bin Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datuk Kelampayan).

Kubah Mufti Jamaluddin di Jl Surgi Mufti RT 12 ini dirawat dan dipelihara oleh seorang perempuan bersama Hj Siti Khadijah. Di depan kubah di bagian kanan diletakkan dua plang, menandakan cagar budaya yang dilindungi. Bertuliskan nama tempat dan larangan merusak benda cagar budaya itu, dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Budaya. Kubah beratapkan sirap berdinding dilapisi hijau, selain ditempati Mufti Jamaluddin, juga ada tiga makam lainnya.



Hj Siti Khadijah menuturkan, ketiga makam yaitu satu di sebelah kiri adalah Hj Siti Aisyah, istri KH Jamaluddin dan dua di kanan merupakan anak KH Jamaluddin.
Kemudian, di dekat makam, ditempatkan satu buku besar yang disediakan khusus untuk para tamu mengisi buku tamu. “Buku tamu itu diberikan oleh Pemkot Banjarmasin. Setiap tamu yang datang diminta mengisi buku tamu,” katanya.

Diceritakan dia perihal KH Jamaluddin yang disapanya dengan sebutan abah (bapak). KH Jamaluddin hidup semasa KH Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Kemana-mana beliau selalu bersama. Tidak saja menuntut ilmu dan serumah di Makkah, tapi makan juga bersama.
“Tidak hanya serumah, ibaratnya makan pun sekenceng (sepanci),” ujar perempuan berusia lanjut tersebut.

Tak ada warisan harta benda yang ditinggalkan kepada anak cucu, selain ilmu dan buku-buku pelajaran agama Islam. “Misalnya kitab gundul,” imbuh cetusnya, yang tinggal persis di belakang kubah mufti.
Sudah barang tentu sebagai juriat Datuk Kelampayan, almarhum KH Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) dan KH Anang Dzajouly Semman, masih ada hubungan kekerabatan dengan KH Jamaluddin.

Satu hal selalu dilakukan Siti Khadijah yang mempunyai bapak kandung bersaudara KH Jamaluddin ini, ialah pintu kubah dibiarkan terbuka. “Jendela haja (saja) ditutup, pintunya biar terbuka. Kalu (kalau) ada urang (orang) yang handak (mau) banaung (berteduh),” sebutnya.

Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, ada dua mufti KH Jamaluddin. Di Kelampayan dan di Sungai Jingah. Silsilah KH Jamaluddin yang berkubah di Sungai Jingah dan hidup di jaman Belanda ini, menurut Abu Daudi, lebih dikenal dengan sebutan Tuan Guru H Surgi Mufti.

Tuan Guru H Surgi Mufti atau Mufti Jamaluddin adalah cicit Datuk Kelampayan dari garis istri keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha (seorang bangsawan Kerajaan Banjar). Silsilahnya, Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Diangkat menjadi mufti oleh pemerintah Belanda, berkedudukan di Banjarmasin pada tahun 1896. Beliau wafat pada tanggal 8 Muharram 1348 H (1902) dan dimakamkan di depan rumah beliau di Jl Surgi Mufti Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara. Masyarakat Kalsel mengenalnya dengan nama “Kubah Sungai Jingah”.

Jejak rekam hidup seseorang bisa terlihat dari sejauh mana ia menorehkan sejarah kebaikan maupun kejahatan. Ada yang terkenal dengan kebaikannya semasa hidup, ada juga yang membekas karena perangai buruknya.

Menyusuri jejak hidup seorang ulama kharismatik seperti Tuan Guru Surgi Mufti KH Jamaluddin tidaklah susah. Namanya kini diabadikan menjadi salah satu nama tempat di Banjarmasin. Di daerah itu pulalah beliau dimakamkan, dan hingga kini masih bisa dilihat di jalan Sungai Jingah, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara.




Tepatnya di seberang langgar, yang sering disebut warga sebagai langgar Bani Arsyadi. Kalau kita masuk dari jalan S Parman, terus saja ke arah Pasar Lama, lalu masuk ke jalan Sulawesi, maka satu kilometer lagi akan bisa kita temukan makam beliau.

Salah satu warga sekitar makam bernama Suryadi menuturkan, Tuan Guru Surgi Mufti KH Jamaluddin masih keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau yang sering kita sebut Datu Kelampayan.
“Beliau adalah keturunan dari Datu Kelampayan di Kabupaten Banjar, jadi memang masih ada hubungan darah. Kalau cerita orang-orang tua kami dulu, di langgar seberang makam beliau itulah yang sering didatangi beliau,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin.

Surgi Mufti KH Jamaluddin sendiri adalah cicit Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dari garis istri beliau yang keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha. Silsilah Tuan Guru Surgi Mufti ini adalah Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.

“Beliau ilmu agamanya diakui. Karena sempat bersekolah di Timur Tengah, dari sanalah beliau menuntut ilmu Islam dan di sini beliau menyampaikan dakwah kepada masyarakat,” tuturnya.
Surgi Mufti KH Jamaluddin memang pada zaman kerajaan Banjar dulu sudah diangkat menjadi mufti, karena keilmuan beliau yang tak diragukan tersebut. Beliau wafat pada tanggal 8 Muharram 1348 H (1902).

Langgar di seberang makam beliau, yang bernama Langgar Bani Arsyadi, diambil dari nama anak beliau yang bernama Arsyad. Menurut keterangan Suryadi, anak beliau tersebut mewarisi keilmuan ayahnya. Sehingga ia juga menjadi salah satu ulama di masanya. Langgar tersebut menjadi saksinya.
Haul Surgi Mufti KH Jamaluddin, lanjut Suryadi, selalu ramai didatangi pengunjung dari Banjarmasin maupun luar daerah. Haul beliau selalu diperingati setiap bulan Muharam, biasanya pada tanggal 10 Muharam.

Menariknya, di sekitar wilayah makam beliau ini, bisa kita temukan beberapa rumah khas Banjar yang sudah berumur ratusan tahun masih tegak berdiri. Kebanyakan berpola cacak burung. Daerah yang berada di pinggiran sungai ini konon katanya dulu menjadi jalur trasnportasi pada saat zaman kerajaan Banjar. (mr-116)


http://al4nborn3o.blogspot.com
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/50/14570
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/50/4242
hymunk - 03/08/2011 01:00 PM
#249
Mesjid Jami Banjarmasin



Masjid Jami' Banjarmasin atau dikenal juga sebagai Masjid Jami' Sungai Jingah adalah sebuah masjid bersejarah di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mesjid berarsitektur Banjar dan kolonial (indish) yang dibuat dengan bahan dasar kayu besi (ulin) ini dibangun di tahun 1777. Walaupun termasuk di lingkungan Kelurahan Antasan Kecil Timur, masjid yang seluruh konstruksi bangunan didominasi kayu besi alias kayu ulin ini lebih identik dikenal Masjid Jami Sungai Jingah. Lokasi awal pembangunan masjid ialah di tepi Sungai Martapura, setelah masjid ini dipindahkan sekarang berada di Jalan Masjid kelurahan Antasan Kecil Timur, Kota Banjarmasin pada tahun 1934.




Konon ceritanya di masa itu masyarakat Banjar kesulitan beribadah karena tidak ada mesjid yang cukup besar untuk menampung orang banyak. Pemerintah kolonial Belanda yang kehadirannya tidak disukai oleh masyarakat Banjar berusaha menggunakan kesempatan itu untuk mengambil hati orang Banjar. Mereka berniat menyumbangkan uang hasil pajak untuk pembangunan masjid. Kebetulan saat itu pendapatan pajak pemerintah Belanda dari hasil memeras rakyat Kalimantan sedang berlimpah, terutama dari hasil hutan seperti karet dan damar.

Namun masyarakat Banjar menolak mentah-mentah tawaran itu. Bagi orang Banjar yang beragama Islam adalah haram hukumnya menerima pemberian dari penjajah Belanda, apalagi untuk pembangunan masjid. Untuk mengatasi permasalahan tersebut mereka secara swadaya dan bergotong-royong membangun tempat ibadah tersebut. Tua-muda, laki-laki dan perempuan secara bahu-membahu mengumpulkan dana. Ada yang menyumbangkan tanah, perhiasan emas atau hasil pertanian, sehingga tidak lama kemudian di atas tanah seluas 2 hektar berdirilah sebuah mesjid yang indah dan megah sebagai tempat beribadah dan kegiatan sosial lainnya hingga sekarang.

Budaya gotong royong selalu dinomorsatukan terlebih dalam perkara agama. Aksi urunan duit ini bukan tanpa sebab. Konon pada tahun 1325 Hijriah –era jajahan Belanda, warga Banjar kesulitan beribadah. Inlander kolonial Belanda pun berusaha mendekati warga Banjar yang menentang keras kehadiran mereka.

Caranya dengan menawarkan jasa menyumbangkan duit hasil pajak milik rakyat untuk dibangunkan masjid. Saat itu pendapatan pajak Belanda dari hasil memeras rakyat Borneo berlipat ganda. Terutama hasil hutan dari karet dan damar.

Namun penawaran ditentang tokoh masyarakat Banjar, ”haram hukumnya memakan duit urang Walanda.” Merasa ditolak mentah-mentah inlander Belanda murka dan mengalihkan dananya untuk pembangunan rumah ibadah lainnya yang kini berdiri permanen tepat di tengah-tengah kota Banjarmasin.

Warga Banjar pun merapatkan barisan membangun Masjid Jami di tanah seluas 2 hektar yang tak kalah megahnya. Kini salah satu masjid tertua selain Masjid Raja Pertama Banjar Sultan Suriansyah, menjadi pilihan sebagai wadah beritikaf selama Ramadan.

Bangunannya yang terbuat dari kayu membuat jamaahnya adem beribadah di dalamnya. Adanya 35 pintu yang mengelilingi bangunan selain 3 pintu utama, membuat sirkulasi udara terjaga. Lantai marmer dan minimnya kaca seperti yang ada di masjid-masjid modern, membuatnya menolak efek panas ekstrim di siang hari.

Ciri khas ornamennya melayu Banjar dan ditopang 17 tiang sebagai simbol jumlah rakaat dalam salat lima waktu. Dari 17 tiang ada satu soko guru utama dari kayu ulin atau kayu besi yang tingginya mencapai 35 meter tanpa sambungan, menancap dari lantai dasar hingga atas kubah tertinggi. Ciri khas menonjol antar sambungan menggunakan pasak kayu dan bukan paku besi.

Di masa pembangunannya, sebuah prasasti dari bahan kuningan dibuat dengan tulisan arab asli yang dirajah atau menggunakan teknik pahat berupa titik-titik. Kini prasasti berisi riwayat dan tahun pembanguan masjid diletakkan di sisi mimbar.

http://ardasa.multiply.com
http://fkubkalsel.org
http://landscapeofborneo.blogspot.com
hymunk - 03/08/2011 01:06 PM
#250
Masjid Al Karomah Martapura


CUACA panas dan terik menyengat tampaknya cukup menjadi cobaan berat bagi sebagian ummat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan di Martapura. Betapa tidak, meski waktu dzuhur masih lama, siang kemarin tidak sedikit warga yang memilih beristirahat di dalam maupun di halaman yang dinaungi pohon raksasa.



Kini Bergaya Timur Tengah




Megahnya Mesjid Al-Karomah menjadi salah satu icon kebanggaan masyarakat Banjar, khususnya Martapura. Kemegahan ini bisa dilihat dari sisi arsitekturnya. Bentuk bangunan mengikuti Mesjid Demak buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.

Menurut Ketua Nazir Mesjid Al-Karomah Martapura, KH Kholilurrahman hingga saat ini mesjid yang dibangun pertama kali tahun 1280 Hijtiyah atau 1863 Masehi ini sudah tiga kali direhab dengan gaya arsitektur terakhir berkiblat ke gaya arsitektur Timur Tengah dengan warna modern.
Mesjid yang direhab terakhir pada 2004 dengan menghabiskan dana Rp 27 miliar ini semula berbentuk sederhana dengan kubah berbentuk kerucut berkonstruksi atap tumpang lebih mengesankan nilai tradisionalitas sebuah arsitektur Banjar.

Bentuk atap itu pun seiring berjalannya waktu mengalami perubahan dan belakangan mengadopsi kubah bawang.
Menariknya, meski arsitektur berubah, mimbar tempat khatib khutbah yang berusia lebih satu abad di masjid ini tidak pernah berubah. Mimbar karya arsitektur HM Musyafa berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi.
Pola ruang pada Mesjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Mesjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan.



Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama mesjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam bangunan induk. (bem)

Latar Belakang

Kerajaan Banjar, yang beribukota di Martapura memiliki Mesjid sebagai Pusat Da’wah Islam dan menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu Mesjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menantang Belanda.
Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijriyah atau 1863 Masehi, pembangunan mesjid pun dimulai

Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati.

Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak Buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.

Sampai saat ini bentuk bangunan Masjid menurut KH Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan Masjid sudah tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah.

Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp27 miliar pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda.

Semula atap Masjid berbentuk kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar. Setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk kubah.

Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi.

Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki HM Musyafa.

Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter

Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijtiyah atau 1863 Masehi, pembangunan [...]

SEBAGAI pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu Mesjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menantang Belanda.

Akibat pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijtiyah atau 1863 Masehi, pembangunan Masjid pun dimulai.

Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati.

Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak Buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.

Sampai saat ini bentuk bangunan Masjid menurut KH Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan Masjid sudah tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah.

Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp27 miliar pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda.

Semula atap Masjid berbentuk kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar. Setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk kubah.

Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi.

Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki HM Musyafa.

Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter.

Sekarang Mesjid tersebut bagian yang tak terpisahkan dari Kota Martapura, dengan bangunan perpaduan arsitektur Islam Timur Tengah dan Modern Eropa sungguh menawan dan megah apalagi dipandang pada malam hari di Jembatan Besi disamping Pondok Pesantren Darussalam Martapuran Wuihhh bagus banget kebayang rasanya berada di Jazirah Arab dekh. Mesjid ini juga beseberangan dengan Perkantoran Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar yang juga Kantor Bupati Banjar. Dengan Syiar Islam yang begitu kental di Martapura tidaklah salah Kota Martapura diberi label sebagai Serambi Mekkah.

Semoga Martapura yang begitu terkenal seantero dunia dan melahirkan banyak Ulama Yang Zuhud tetap menjadi Kota Santri yang santun dan religus dalam menjawab tantangan globalisasi modern. Amin.

sumber:
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/50/14571
http://sangpemimpi46.blogspot.com/2010/09/masjid-al-karomah-martapura.html
http://rifafreedom.wordpress.com/
hymunk - 05/08/2011 10:17 AM
#251
Dalang Rela Tampil di Depan Rumah




Ketika Wayang Kulit Purwa Banjar Makin Ditinggalkan

Tak mudah bagi penggiat Seni pertunjukan Wayang Kulit Purwa Banjar bertahan. Keberadaan seniman ini semakin tergilas oleh model pertunjukan baru seiring perkembangan zaman, bagaimana seni asli banua ini bertahan, berikut tulisan singkatnya.



Eksistensi sanggar wayang kulit tetap tampil dan memainkan lakon seperti biasa. Namun kuantitas pertahunnya tak sepadat dulu yang lebih 99 kali, sekarang dalam setahun paling 40 kali tampil itu juga sudah syukur.




Menurunnya jumlah pengundang berbanding lurus dengan jumlah penikmat wayang. Sulit melihat kawula muda duduk berlama-lama menonton wayang meskipun seni yang satu ini kini lebih fleksibel dan tidak terlalu ketat memegang pakem, repertoar dan ideom-ideom yang dahulu sulit dimengerti.






Berbicara dengan Ki Dalang Diman sapaan Dimansyah (60), dalang senior yang sangat disegani di rumahnya Jalan Pantai Hambawang Timur RT 1 No 54, Labuan Amas Selatan, HST mengakui, dari perjalannya selama 43 tahun menjadi dalang banyak suka duka yang mengharuskan dia tetap bertahan. Banyak alasan kenapa tetap survive diantaranya memegang amanah berat dari sang guru yaitu Alm Ki Dalang Tulur dari Barikin, Haruyan, HST, kai Tulur terkenal sangat tenar pada masanya.





”Wayang yang saya mainkan ini asli Barabai, perasaan dalang seangkatan saya tinggal satu orang,” Kata Ki Dalang Diman secara khusus kepada Radar Banjarmasin sebelum Pertunjukan Wayang Sampir yang hampir 5 tahun terakhir tidak pernah digelarnya.






Arus globalisasi dan makin terbukanya informasi, maraknya seni pertunjukan lain seperti organ tunggal di tiap hajatan, hiburan aneka variasi di tv serta minimnya kaderisasi dalang ikut membawa perubahan hobi orang. Meski tak dipungkiri, militansi penikmat wayang tak pernah mati, namun jumlahnya kini bisa dihitung jari.






”Keturunan kami sudah ada yang jadi dalang cilik, saya sendiri senang jika diundang tampil di sekolah-sekolah. Ini bagian dari strategi meremajakan wayang kulit,” ujar Pemilik Sanggar Asam Rimbun Pantai Hambawang yang memiliki darah dari Barikin, Haruyan, HST.

Berprofesi dalang bukan pilihan mudah di abad yang makin modern, remaja masa ini lebih suka boyband dan band-band pop rock yang mereka anggap gaul, padahal melihat wayang sanggup membuat penonton mempelajari nilai-nilai kehidupan dari dari seluruh harmonisasi ketokohan yang dimainkan.

Usai Idul Fitri rencananya beberapa sekolah akan dibuatkan pertunjukan wayang. Selain dalang senior yang tampil, dalang cilik juga diajak untuk meningkatkan intuisi dan ketajaman mereka.”Saking fleksibelnya, kami sering membawakan cerita Pancar alias kisah karangan/gubahan sendiri, bahkan pesanan kisah dari pengundang sering kami mainkan,” ujar Pak Diman.

Terkait pertunjukan wayang sampir yang digelar secara pribadi, merupakan merupakan ritual khusus orang yang lagi berhajat tujuannya mengusir roh-roh jahat yang mengganggu kehidupan si empunya hajat.”Karena yang menggelar wayang sampir kami sendiri, makanya pertunjukannya kami gelar di depan rumah sendiri,” katanya.

Rupanya tak sembarang bisa menggelar ritual wayang sampir yang bertujuan untuk bersuci atau membersihkan alat-alat pertujunkan yang sudah hampir lima tahun terakhir sulit dan sangat langka ditemui. Banyak ritual khusus dan sesajen yang harus disiapkan agar seluruh rangkaian acara sukses dan membawa hasil.

Tak sedikit uang untuk menyiapkan upacara itu meski digelar secara sederhana dan harus melewati pakem yang ketat, seperti baandak wadai yang berjumlah 41 macam, basurung wadai diiringin lagu Ayakan Alun. Setiba di panggung wajib membawakan lagu Galaganjur. Sedangkan kala malam datang, seorang dalang harus membawakan wayang kodang untuk berkomunikasi dengan alam gaib dan diakhiri seluruh tahapan baru batapung tawar dan badudus atau mandi-mandi bagi seluruh keluarga.






“Selama dua hari pertunjukan banyak acara kesenian terlibat seperti tari topeng, acara Bapanjak dengan Lakon Antul Ambam, kami harus tetap menjaga agar tradisi ini tidak menyalahi aturan agama,” ujarnya.

Rusdi atau Alus Barikin salah satu cucu maestero seniman topeng Barikin, Haruyan, HST mengatakan, berbagai cabang kesenian yang hidup di HST sulit dipisahkan dari nama Barikin. Stemple nama besar Barikin selalu berhubungan dengan segala jenis kesenian dan kreatifitas turun temurun secara mandiri untuk mempertahankan budaya pertunjukan.(ij/abj)

sumber :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.232127703491919.54628.100000840727472
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/43/14642
hymunk - 05/08/2011 11:10 AM
#252
Dua Generasi Penerus Sultan Suriansyah



Rakyat yang Tidak Salat Jumat Direndam
Dua Generasi Penerus Sultan Suriansyah

Mangkatnya raja pertama Sultan Suriansyah Tongkat kepemimpinan Kerajaan Banjar yang Islami diteruskan oleh anak dan cucunya, Sultan Rahmatullah dan Sultan Hidayatullah.

HAIRIYADI, Martapura

SULTAN Suriansyah hampir 19 tahun memegang jabatan sebagai raja atau sultan pertama, mulai tahun 1526 dan mangkat 1545 Masehi. Setelah Pangeran Samudera ini wafat, kedudukan kepala pemerintahan digantikan anaknya, Sultan Rahmatullah. Sebagaimana Sultan Suriansyah, lokasi pusat pemerintahan tak berpindah, menetap di Kuin Banjarmasin.

Abu Daudi (Syekh Irsyad Zein) menuliskan, pemerintahan Sultan Rahmatullah tidak mengalami banyak perubahan. Hanya, keadaan aman masih terpelihara dan rakyat merasakan kemudahan menjalankan kehidupan aktivitas sehari-hari. Pemerintahan dimasa putra Sultan Suriansyah ini, didasari Islam, mengutamakan sektor pertanian dan membuka hubungan kerjasama dengan luar daerah.

Sultan Rahmatullah atau bergelar Panambahan Batu Putih memerintah sejak 1545 dan mangkat tahun 1570 Masehi. Ia dimakamkan dekat dan satu komplek bersama ayahnya, di Kelurahan Kuin Utara Kecamatan Banjarmasin Utara.

Seusai Sultan Rahmatullah, kerajaan Banjar alias kerajaan yang berlatar sendi-sendi Islam ini diteruskan oleh anak Sultan Rahmatullah atau cucu Sultan Suriansyah, yakni Sultan Hidayatullah. Berbeda ayah dan kakeknya, Sultan Hidayatullah sangat keras mengembangkan ajaran Islam. Misal, pelaksanaan pemerintahan berdasarkan hukum Islam, apabila rakyat tidak salat Jumat secara sengaja maka hukumannya direndam di air selama satu jam. Pusat pemerintahan masih terletak di Kuin.

Sultan Hidayatullah berkuasa dari tahun 1570 dan wafat 1595 Masehi. Ia dimakamkan berdampingan makam ayahnya di Kelurahan Kuin Utara Kecamatan Banjarmasin Utara. Gelar diberikan adalah Panambahan Batu Hirang


sumber :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1311978511883.2041497.1003230454
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14618
hymunk - 05/08/2011 11:15 AM
#253
Kesultanan Banjar, Titik Awal Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Selatan



Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al Idrus, Pembawa Islam ke Tanah Banjar
Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih.
Khatib Dayan adalah keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Ia menyampaikan syiar Islam dengan kitab pegangan Serat Layang Kalima Sada di dalam bahasa Jawa. Ia seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

Kerajaan Banjar turut berperan penting menjadi penentu dalam perkembangan Islam
di Kalimantan Selatan. Titik sejarah Islam bermula dengan berdirinya Kerajaan Banjar
dan Sultan Suriansyah sebagai raja pertama.

HAIRIYADI, Martapura

Menyimak sejarah keturunan Kerajaan Banjar, Pangeran Samudera atau bergelar Sultan Suriansyah adalah titik tonggak Islam di Kalimantan Selatan, yang masuk ditahun 1526 Masehi. Mengutip buku karangan Abu Daudi (Syekh Irsyad Zein) tentang Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, tertulis bahwa berkembangnya Islam di daerah Kerajaan Banjar sejak dinobatkan Pangeran Samudera sebagai Sultan Suriansyah, yang memerintah ditahun 1527. Tahun 1526 Masehi merupakan tahun Sultan resmi memeluk agama Islam. Tepatnya, Rabu 24 September 1526 Masehi pukul 10.00 Wita atau tanggal 8 Zulhijjah 932 Hijriyah.

Utusan Penghulu Demak Khatib Dayyan, nama lengkapnya Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Al Idrus, menjadi orang yang meng-Islam-kan Sultan. Ada banyak perbedaan dan pendapat mengenai tahun masuknya Islam dan pemerintahan Kerajaan Banjar zaman Sultan Suriansyah. Namun, Abu Daudi disertai argumen dan catatan sejarah dimiliki, berkeyakinan masa pemerintahan Sultan Suriansyah adalah tahun 1526-1545 Masehi. “Khatib Dayyan bukan penghulu Demak, tetapi utusan dari Penghulu Demak Rahmatullah dengan tugas melakukan proses peng-Islam-an raja beserta pembesar dan rakyat kerajaan,” tulis Abu Daudi.

Sejalan perkembangan Kerajaan Banjar, ulama merupakan pemeran kedua setelah penguasan kerajaan. Ulama sebagai penegak amar makruf dan kerajaan sebagai penegak nahi munkar. Ulama diperlukan untuk menentukan strategi pemerintahan, mencetak insan bermoral dan bertakwa. Masa pemerintahan Sultan Suriansyah, dibantu oleh Mangkubumi Patih Masih, Pangiwa Patih Balit, Panganan Patih Balitung, Gumpiran Patih Kuin dan Panumping Patih Muhur.

Sultan Suriansyah (Penembahan/Susuhunan Batu Habang) mangkat tahun 1545 Masehi dan digantikan anak lelakinya, Sultan Rahmatullah. Sultan dimakamkan di Kelurahan Kuin Utara Kecamatan Banjarmasin Utara. Di Komplek makam raja pertama penganut Islam, bermakam pula ibu kandung sultan, Ratu Intan Sari atau Putri Galuh. Kemudian berdampingan makam Raja Banjar kedua Sultan Rahmatullah (Susuhunan Batu Putih) dan Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah (Susuhunan Batu Irang).

Berikut, makam Khatib Dayan, Patih Kuin, Patih Masih, Senopati Antakusuma, Syekh Abdul Malik, Haji Sa'anah, Pangeran Ahmad, Pangeran Muhammad, Sayyid Ahmad Iderus, Gusti Muhammad Arsyad, Kiai Datu Bukasim, Anak Tionghoa Muslim. **

sumber :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1311978511883.2041497.1003230454
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14488
hymunk - 05/08/2011 02:55 PM
#254
Mesjid As Saadah Taniran di Angkinang


Sejarah berdirinya Mesjid As Saadah Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang sangat erat kaitannya dengan Mesjid Suada (masjid Baangkat) yang berada di Desa Wasah Kecamatan Simpur. Karena kedua mesjid tersebut dibangun oleh seorang tokoh agama dari keturunan yang sama.

MUCHEI RIFAI, Kandangan

Desa Taniran, Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dalam Manakib Datu Taniran Kubah (Syaikh Haji Muhammad Thaib) alias Haji Sa’ duddin yang dikarang oleh Drs Muhammad Arsyad, adalah salah satu desa yang menjadi tempat belajar dan penyiaran agama Islam di Hulu Sungai Banua Lima (sekarang Banua Anam).




Makam keramat Datu Syekh H.M.Thaib atau H.Sa’duddin atau Datu Taniran. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Beliau dilahirkan di Dalam Pagar Martapura Timur Kabupaten Banjar pada tahun 1774, dan meninggal pada 1856 di Taniran, tempat H.Sa’duddin menyiarkan Agama Islam selama hidupnya sekitar 45 tahun.

Menurut Muhammad Arsyad yang ditemui Radar Banjarmasin menceritakan, sebelum tahun 1812 Masehi, sejumlah tokoh masyarakat yang ada di kampung Taniran, mendatangi Haji Muhammad As’ad yang tercatat sebagai seorang mufti kerajaan Banjar.

Di sana para tokoh masyarakat Kampung Taniran, meminta agar ulama tersebut bisa mengirimkan seorang guru agama untuk mengajari masyarakat di kampung Taniran.

Mendapatkan permintaan tersebut, H Muhammad As’ ad langsung mengirim putranya yang bernama Syaikh Haji Muhammad Thaib yang bergelar Haji Sa’ duddin yang baru pulang dari tanah suci Mekah.

Dari pandangan mufti ini, anaknya yang baru pulang dari Mekkah akan sanggup memberikan pendidikan agama kepada masyarakat yang ada di Hulu Sungai.

Setelah mendengarkan permohonannya di kabulkan, Masyarakat Kampung Taniran yang saat itu dipimpin oleh Abah Saleh, langsung menjemput ke Martapura dengan menggunakan perahu Bagawis (Bercabik) yang dipimpin oleh seorang tokoh bernama Su Salum.
Sebelum sampai di Kampung Taniran, ulama tersebut meminta mampir di Kampung Wasah.

Di tengah kampung inilah ulama tersebut membangun sebuah musalla yang selanjutnya menjadi mesjid pusat pendidikan agama Islam dan berkembang menjadi masjid dengan nama Suada pada tahun 1908.
Setelah selesai di kampung Wasah, perjalanan dilanjutkan menuju kampung Taniran. H Sa’ duddin pun langsung diberi sebidang tanah oleh masyarakat desa untuk tempat penyiaran agama di kampung mereka.

Di atas sebidang tanah inilah sebuah mesjid yang bernama As Saadah atau Mesjid Kubah Taniran ini dibangun dan menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Agama Islam di Hulu Sungai (dulu Banua Lima).



Dari keterangan mantan anggota DPRD Kabupaten HSS ini, dulu Mesjid Taniran Kubah dibangun oleh Haji Muhammad Said bin Haji Muhammad Thaib pada tahun 1923. Sebelum membangun mesjid di kampung Taniran, Muhammad Said (Thaib) terlebih dahulu membangun Mesjid Su’ada di Desa Wasah Kecamatan Simpur pada tahun 1908.
Dulu, mesjid Taniran ini bentuk dan bangunannya sangat serupa dengan mesjid Baangkat.
Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan, antara dua kampung tersebut tidak jauh berbeda.
Hanya saja dalam perkembangannya, oleh Muhammad Said mesjid Taniran ini saja yang boleh diubah bentuknya. Sedangkan mesjid Baangkat yang ada di Simpur tidak diperkenankan diubah atau dipugar. Karena sudah mendapatkan jaminan, pada saatnya nanti akan ada orang-orang yang mau menjaga kelestarian mesjid tersebut.

Mesjid Taniran Kubah sejak dibangun pada tahun 1923, sudah beberapa kali mendapatkan pemugaran. Pertama dipugar hanya lantai dan diberi semen pada tahun 1944, oleh H Hanafiah cucu dari Muhammad Said. Selanjutnya pada tahun 1961 dipugar lagi oleh H Sa’dudin bin Haji Muhammad Hanafiah.
Masih dari keterangan Muhammad Arsyad, sebelum penyiaran agama Islam dilakukan di kampung Taniran, terlebih dahulu dilaksanakan di kampung Wasah. Di kampung Wasah ini juga didirikan pusat pendidikan agama Islam.



Mesjid Baangkat di Wasah


Bagi masyarakat setempat hingga melebar ke kampung-kampung lainnya yang ada di Kandangan.
Selama penyebaran Islam, Kampung Taniran sangat terkenal dan banyak pemuda dan masyarakat yang datang untuk berguru. Selanjutnya setelah mendapatkan pendidikan agama dari ulama tersebut banyak yang menjadi guru di kampung mereka.
Keterangan serupa juga disampaikan oleh H Abdul Halim (60). Menurutnya, bentuk dan rupa mesjid Taniran sama persis dengan mesjid Baangkat di Wasah. Jika ingin melihat mesjid Taniran yang asli, maka dapat dilihat rupa Mesjid Baangkat yang ada di Wasah.


http://humashss.blogspot.com
http://keramatdankandangan.blogspot.com
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/50/14727
hymunk - 07/08/2011 10:05 PM
#255
Makam Sultan Sulaiman di Lihung Karang Intan



Sultan Sulaiman adalah ayah dari Sultan Adam. JIKA menyebut raja Banjar pertama memeluk Agama Islam, maka terkenanglah nama Sultan Suriansyah. Lalu, raja Banjar terakhir sebelum kedatangan Belanda yang memerintah di Kesultanan Banjar adalah Sultan Adam Alwasiqubillah. Menjumpai makam kedua raja ini, cukup mudah ditempuh dan ditemukan. Sultan Suriansyah di makamkan di Kelurahan Kuin Utara Kecamatan Banjarmasin Utara, sedangkan Sultan Adam Alwasiqubillah bermakam di Kelurahan Jawa Kecamatan Martapura Kota.

Kalau Sultan Suriansyah merupakan raja pertama masa 1595-1620 Masehi dan Sultan Adam Alwasiqubillah adalah raja Kesultanan Banjar yang ke-12 dimasa 1825-1857 Masehi, maka sebelum Sultan Adam Alwasiqubillah ialah Sultan Sulaiman Rahmatullah sebagai raja Banjar ke-11. Ketika Sultan Sulaiman Rahmatullah mangkat, posisi raja Banjar digantikan anak tertua Pangeran Adam atau Panembahan Adam atau Sultan Adam Alwasiqubillah.
Belum lama tadi penulis menyempatkan diri berziarah ke kubah Sultan Sulaiman Rahmatullah di Desa Lihung Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.




Untuk menuju kubah bisa ditempuh menggunakan jalur darat maupun jalur angkutan sungai. Kubah raja Banjar masa pemerintahan 1808 sampai 1825 Masehi ini tidak terlalu jauh dari pusat ibukota Kecamatan Karang Intan, tak lebih sekitar 1,5 kilometer.

Nama lain Sultan Sulaiman Rahmatullah menurut literatur Wikipedia Ensiklopedia Bebas, adalah Sultan Sulaiman al Mu'tamidullah atau Sultan Sulaiman Saidullah II, dengan gelar Panembahan Sepuh. Sultan Sulaiman wafat 3 Juni 1825 Masehi dan dimakamkan di pusat pemerintahan bersangkutan di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.




Di papan tertempel di dinding yang terdapat di kubah Sultan Sulaiman, diketahui memiliki putra putri sebanyak 23 orang, termasuk Pangeran Adam atau Sultan Adam yang menjadi raja Banjar ke 12, dan Pangeran Singasari.

Satu hal menjadi catatan penulis dan bisa jadi akan dialami pengunjung yang belum pernah berziarah ke makam Sultan Sulaiman. Ialah, tidak ada tanda penunjuk arah untuk memperjelas tempat dituju agar tidak salah jalan, apalagi sampai tersesat. Satu-satunya tanda hanya ada di lokasi makam, tertulis Makam Sultan Sulaiman Desa Lihung Kecamatan Karang Intan, dibuat oleh Kanbudpar. Jarak terdekat, melewati jalan di samping kantor Camat Karang Intan, menyeberang sungai dengan melintasi jembatan gantung, lalu belok kiri.

Kendati tidak ada penunjuk arah, penduduk setempat sudah pasti mengetahui keberadaan tokoh Kalimantan Selatan ini bermakam. Kubah salah satu zuriat Kesultanan Banjar itu juga selalu ramai dikunjungi peziarah setiap harinya. “peziarah yang datang cukup banyak setiap harinya,” kata Rifai, warga Karang Intan.

Masyarakat datang dari berbagai tempat. “Kami datang dari Marabahan Kabupaten Barito Kuala bersama keluarga, khusus datang kesini karena ingin berziarah dan sekaligus masih mempunyai keterkaitan keluarga,” kata seorang peziarah. ***

sumber :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.113616751995445.13733.100000413624261
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/13441
hymunk - 07/08/2011 10:21 PM
#256
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Sempat Terdengar Banyak Versi Sosok Gusti Kacil

PANAS terik terasa begitu menggigit. Jalan Martapura Lama yang sempat menjadi saksi sejarah berkembangnya Islam dan pusat pemerintahan Kerajaan Banjar terlihat begitu lengang.

Jalan ini lah yang saat ini bisa digunakan untuk menuju makam Sultan Musta’in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah di Desa Sungai Kitano Martapura Timur.

Pertama kali berwisata religi ke makam sultan yang satu ini memang cukup mengesankan. Tidak begitu sulit untuk menempuh tempat makam pejuang yang dikenal keras menentang penjajahan Belanda dimasanya ini.

Jembatan beton yang memotong Sungai Martapura kini sudah cukup nyaman dan memersingkat perjalanan, dan cukup memudahkan peziarah yang datang.
Meski begitu, suasana sejuk mulai terasa ketika kaki menginjakan kaki di anak tangga tempat pemakaman. Ya, arsitektur makan layaknya tempat tinggal ini memang terasa sejuk lantaran dinaungi atap dan berlantaikan keramik.
Suasananya pun kemarin terlihat sepi, tidak ada penjaga yang biasanya duduk bersila di sekitar pusara. Suasana terik namun hening itu pun hanya sesekali pecah dengan suara kendaraan roda dua yang melintasi Jalan yang namanya mengadopsi secara penuh nama sultan Musta’in Billah sendiri.

Dibalik semua itu, pejuang yang juga dikenal dengan sebutan Pangeran Kacil ini ternyata memiliki dua versi. Versi pertama bahwa Gusti Kacil saat ini makamnya berada di Palembang, dan versi Kesultanan Banjar, Gusti Kacil yang merupakan dzuriat Sultan Suriansyah ada di Desa Sungai Kitano.
Raja Muda Kesultanan Banjar, Pangeran Khairul Saleh saat dikonfirmasi mengatakan memang ada banyak versi tentang Gusti Kacil. Sebab katanya, Gusti Kacil sendiri adalah nama sebuah gelar.

“Saya tidak menyalahkan Gusti Kacil yang ada di Palembang, namun Gusti Kacil yang di Desa Sungai Kitano ini dzuriatnya memang dari Sultan Suriansyah. Yang tidak bisa didustai itu bin-nya atau dzuriatnya itu dilihat dulu,” ungkapnya.

Dalam sejarah Kerajaan Banjarpun kata Pangeran memang ada banyak versi mengenai keturunan ini. Namun dari sekian banyak perbedaan itu ada titik temu tentang bagaimana mengetahui atau merunut dzuriat-dzuriat kesultanan Banjar

Gusti Kacil, Pemimpin Keras Penentang Belanda

Tak banyak cerita tentang Sultan Musta’in Billah1595-1620 M. Meski begitu, dzuriat Sultan Suriansyah yang satu ini memiliki catatan sejarah yang sukar dilupakan. Sikap tegas dan keras kepemimpinannya semasa kejayaan Kerajaan Banjar sempat mengenalkan sosok dirinya dengan dua sebutan.

SULTAN Musta’in Billah, semasa kepemimpinannya sempat disebut juga Maruhum Panambahan atau Pangeran Kacil yang dikenal memegang pemerintahan sangat keras dari yang lainnya.

Ini terlihat ketika dimasanya, Gusti Kacil mengeluarkan titah kepada rakyat dan mewajibkannya membuka lahan sawah dan kebun untuk pertanian dengan tujuan meningkatkan pendapatan rakyat. Kala itu, Gusti Kacil beranalogi, ketika pendapatan rakyat meningkat, kemakmuran pun akan terwujud.

Kerasnya kepemimpinan Gusti Kacil kala itu juga terlihat ketika menentang Belanda. Pusat pemerintahan Kerajaan Banjar sempat berpindah-pindah. Semasa pemerintahannya tahun 1612 M, pusat kota di Kuin pernah ditembaki Belanda, sehingga banyak mengalami kerusakan.
Ibukota kemudian dipindahkan ke Pemakuan yang sekarang disebut dengan daerah Sungai Tabuk. Selang 10 tahun berjalan, kemudian pindah lagi ke Muara Tambangan, kemudian pindah ke Batang Banyu dan berakhir di Kayu Tangi Martapura.

Dalam pemerintahan Sultan Musta’in Billah ini, struktur pemerintahannya sudah melibatkan pemuka agama yang memiliki jabatan dalam pemerintahan. Demikian halnya dengan kaum bangsawan juga mendapat kehormatan dengan gelar Raden dan pengeran dan diikutsertakan dalam sidang kerajaan setiap kali membicarakan masalah kerajaan.

Meski pusat pemerintahan kerap berpindah-pindah, namun Sultan Musta’in Billah berhasil menyempurnakan struktur pemerintahannya dengan dibentuknya jabatan-jabatan baru seperti, Mangkubumi jabatan tertinggi setelah raja, Manteri Pangiwa Penganan, Menteri Jaksa yang bertugas memimpin rapat yang menyangkut masalah hukum sekuler yang dihadiri oleh Raja, Mangkubumi, Dipati dan Jaksa.

Berikutnya jabatan Tuan Panghulu, bertugas memimpin pertemuan yang menyangkut masalah agama Islam. Wewenang Panghulu lebih tinggi dari pada wewenang jaksa, karena Panghulu mengurusi tentang masalah agama, sedangkan jaksa mengurus masalah hukum dunia.

Ada juga jabatan Tuan Khalifah, bertugas pengganti apabila yang bertugas memimpim musyawarah tentang masalah keagamaan berhalangan. Selanjutnya Khatib yang bertugas berdakwah dan memimpin ibadah. Para Dipati, biasanya terdiri dari saudara raja atau keluarga dekatnya dalam menemani dan membantu raja. Namun kedudukannya dalam pemerintahan di bawah Mangkubumi atau orang kedua sesudah Mangkubumi.

Dan terakhir para Priyayi, yaitu golongan kaum bangsawan yang diikutsertakan dalam rapat-rapat pemerintahan. Sedangkan masalah yang menyangkut urusan kerajaan merupakan urusan khusus dari Raja, Mangkubumi dan Dipati.

Sultan Musta’in Billah wafat pada 1620 M, dan dimakamkan di Desa Sungai Kitano Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Banjar.

sumber :
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14682
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14752
hymunk - 07/08/2011 10:26 PM
#257
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Sultan Inayatullah, Raja Banjar Kelima Bergelar Ratu

Sultan Inayatullah bin Sultan Musta’in Billah adalah Raja Banjar ke-13 (zaman Hindu) atau Sultan Banjar ke 5 (zaman Islam). Zuriah Sultan Suriansyah ini pada masanya bergelar Ratu Agung Pangeran Dipati Tuha yang memerintah sejak tahun 1620-1637 M selama kurang lebih 7 tahun.

PUSAT kerajaan tetap berada di Muara Tambangan Dalam Pagar Kayu Tangi Martapura, selama pemerintah Sultan Inayatullah serangan-serangan pihak Kompeni Belanda masih terjadi di luar pusat kerajaan.
Tercatat sebagai Mangkubumi adalah Tumenggung Raksa Negara dan sebagai Punggawa adalah Pangeran Perbatasari dan Kiai Warang Baja. Pemerintahannya sebagaimana pemerintahan Sultan-Sultan sebelumnya yakni berdasarkan Hukum Syariat Islam.

Sultan Inayatullah atau Sultan Indallah bin Sultan Mustain Billah adalah Sultan Banjar antara tahun 1642-1647. Sultan Inayatullah adalah gelar resmi yang digunakan dalam khutbah Jumat di masjid-masjid, sedangkan gelar yang dipopulerkan adalah Ratu Agung.

Menurut tradisi suksesi kesultanan Banjar yang berlaku semenjak Sultan Mustain Billah, maka di antara putera-putera dari Sultan tersebut, salah seorang puteranya kelak akan dilantik sebagai Sultan dan seorang yang lainnya akan dilantik sebagai mangkubumi (Pangeran Mangkubumi,red) menggantikan mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.
Karena itu putera tertua almarhum Sultan Mustain Billah dilantik sebagai Sultan Banjar yaitu Pangeran Dipati Tuha dengan gelar Sultan Inayatullah, sedangkan putera lainnya dilantik sebagai mangkubumi menggantikan Kiai Tumenggung Raksanegara yaitu Pangeran Dipati Anom dengan gelar Pangeran di Darat.

Dari periode raja pertama Sultan Suriansyah sampai dengan Sultan Inayatullah atau Ratu Agung, orang-orang yang pernah menjabat sebagai Mangkubumi diangkat bukan dari anak raja secara berurutan yaitu Patih Aria Taranggana, Kiai Anggadipa, Kiai Jayanegara dan Kiai Tumenggung Raksanegara (Kiai Tanuraksa,red).

Dalam masa pemerintahan Ratu Agung, Pangeran Martasari bin Pangeran Mangkunagara sempat berniat merencanakan kudeta dengan pergi ke daerah Mendawai yang selanjutnya akan pergi ke Mataram untuk meminta bantuan, tetapi sebelum niatnya kesampaian, Mangkunagara didera sakit dan wafat di Mendawai. Jenazahnya dibawa ke istana dan dimakamkan dalam kompleks istana Martapura.

Pangeran Mangkunagara (Raden Subamanggala putera Putri Nur Alam) adalah putera permaisuri tetapi gagal menggantikan ayahnya sebagai raja karena yang akhirnya menggantikan Sultan Hidayatullah adalah Pangeran Senapati atau Marhum Panembahan, anak seorang istri selir (puteri Tuan Khatib Banun). Marhum Panembahan atau Sultan Mustain Billah adalah ayah Sultan Inayatullah.

Sultan Inayatullah ini mempunyai anak dari tiga orang istri. Dari istri beliau orang Banjar melahirkan Ratu Anum, kemudian setelah menjadi Raja bergelar Sultan Sa’idullah. Dari istri beliau orang Jawa melahirkan Adipati Halid dan disebut pula dengan Pangeran Tapesana. Dan dari istri beliau orang Dayak melahirkan Pengeran Surianata atau yang disebut dengan Pangeran Adipati Anum.

Sultan Inayatullah wafat pada tahun 1637 M dan menurut riwayat dimakamkan di Desa Dalam Pagar Martapura Kabupaten Banjar.

Untuk ke kubah makam Sultan Inayatullah, dapat ditempuh dengan dua arah. Pertama, melalui jalan Desa Dalam Pagar, lalu memasuki pintu gerbang jalan menuju kubah makam Sultan Inayatullah. Jaraknya diperkirakan sekitar 150 meter.

Alternatif lain adalah memanfaatkan jalan di samping alkah setempat atau jalan ke sekolah dasar yang berhubungan jalan ke kantor Kepala Desa Dalam Pagar.

Jalan di depan kantor Kepala Desa Dalam Pagar hingga menembus ke depan kubah makam Sultan Inayatullah, kondisinya agak lebih baik dibandingkan menggunakan jalan utama pintu masuk kubah. Jalan diperkeras dan cukup lebar untuk pengguna roda empat. Jalan penghubung kubah dan kantor kepala desa itu diperkirakan mencapai panjang 400 meter.

Lima Makam Raja dalam Satu Kawasan di Jalan Batuah

PERBEDAAN tentu bukan untuk diperdebatkan tapi khasanah kekayaan ilmu. Perbedaan itu diantaranya termasuk digambarkan pada buku selayang pandang Kesultanan Banjar & Pembentukan Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar Kalsel, maupun tertera di kawasan makam Sultan Adam Martapura. Penulis berpegangan pada buku berjudul Syekh Mauhammad Arsyad Al Banjari karangan Syekh M Irsyad Zein atau Abu Daudi, ulama sepuh Martapura dari Desa Dalam Pagar Kecamatan Martapura Timur.

Jika tulisan sebelumnya menyebutkan Sultan Inayatullah berkuasa mulai 1642 sampai 1647 Masehi, maka Abu Daudi berkeyakinan 1620 hingga 1637 Masehi. Berikutnya, menggantikan kedudukan Sultan Inayatullah adalah anaknya, Ratu Anum yang bergelar Sultan Saidullah atau Sultan Saidillah. Ratu Anum bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah memegang pemerintahan sejak ayahnya mangkat, 1637 hingga 1642 Masehi.

Pemerintahan dimasa Sultan Saidullah lebih banyak dilaksanakan oleh wazir, bersama sama patih panggawa. Mengapa? Karena Sultan ini hanya memperhatikan dan suka beribadah saja. Ketika Sultan Saidullah berkuasa, saudaranya yang bernama Adipati Halid menjabat sebagai mangkubumi dan mempunyai gelar Pangeran Mangkubumi. Sultan Saidullah memiliki anak laki-laki, Amirullah Bagus Kusuma. Setelah lima tahun memerintah, Sultan mangkat dan di makamkan di Jl Batuah Kelurahan Keraton Kecamatan Martapura Kota.

Tidak sulit menemukan makam Sultan Saidullah atau Sultan Saidillah. Letaknya manunggal atau menyatu dengan alkah warga setempat. Menuju makam ini, bisa melalui jalan disamping kantor Dinas Kependudukan Catatan Sipil Banjar atau tidak begitu jauh sekitar 200 meter dari bagian belakang gedung DPRD Banjar.

Dikawasan makam itu juga, terdapat empat makam raja Banjar sebagaimana plang dibuat oleh kantor Disbudpar Banjar. Terdiri makam Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidullah, Sultan Tamjidillah bin Sultan Tahlilullah, Sultan Badarul Alam/Sultan Kuning bin Sultan Tahlilullah, Sultan Tahmidillah bin Sultan Tamjidillah.

Kerajaan Sempat Terpecah Dua Tapi dapat Disatukan


Mangkatnya Sultan Saidullah, kedudukan raja di Kerajaan Banjar
digantikan sang anak, Sultan Tahlilullah. Dimasa itulah disatukannya kerajaan yang terbagi dua.

RATU Anum atau Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah mangkat di tahun 1642 Masehi. Karena Amirullah Bagus Kasuma atau Sultan Tahlilullah belum dewasa, pemerintahan dipegang Adipati Halid di tahun 1642 sampai 1660 Masehi yang waktu itu sebagai mangkubumi. Adipati Halid atau Pangeran Tapesana adalah anak Sultan Inayatullah dari istri orang Jawa.
Ditahun 1660 Masehi, pemerintahan diserahkan Adipati Halid kepada Sultan Tahlilullah. Namun, tiga tahun berselang, 1660-1663 tampuk kekuasaan kerajaan direbut Pangeran Surianata atau Pangeran Adipati Anum, anak Sultan Inayatullah dari istri orang Dayak. Pusat pemerintahan di Kayu Tangi Martapura dipindahkan Pangeran Surianata ke Sungai Pangeran Banjarmasin. Ia bergelar Sultan Agung.

Amirul Bagus Kasuma melarikan diri ke Alai Birayang, sedang pemerintahan di Martapura diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi. Sehingga, waktu itu tahun 1663-1666 Masehi Kerajaan Banjar terbagi dua, di Martapura dipimpin Adipati Halid atau Pangeran Mangkubumi, di Banjarmasin dipimpin Pangeran Adipati Anum atau Sultan Agung.
Pangeran Mangkubumi wafat 1666 Masehi dan bergelar Panambahan Sepuh. Amirullah yang lari ke Alai Birayang, setelah menguasai hasil lada dan banyak punya pengikut, ia datang ke Sungai Pangeran dan merebut kerajaan dari Sultan Agung di tahun 1679 Masehi dan berakhirlah kekuasaan Sultan Agung.

Amirullah memegang kekuasaan mulai 1680-1700 Masehi dan mempunyai gelar Pangeran Kuning atau Pangeran Tingie. Diriwayatkan, ia pula bergelar Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah. Dituliskan di buku karangan Abu Daudi (Syekh M Irsyad Zein), bahwa Sultan Tahlilullah yang memulihkan dan menyatukan kembali Kerajaan Banjar setelah terbelah terbagi dua. Sultan mempunyai tiga orang anak, yakni Hamidullah atau Tahmidullah, Sultan Kuning dan Pangeran Tamjidillah.

Dari penelusuran penulis, makam Sultan Tahlilullah berada satu komplek dengan ayahnya, Sultan Saidullah di Jl Batuah Kelurahan Keraton Martapura. Di makam itu dibangun kubah dan berdampingan tiga makam raja lainnya dari Kerajaan Banjar, sebagai masa berkembangnya agama Islam.

sumber :
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14788
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14804
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14870
hymunk - 08/08/2011 11:39 AM
#258
Gua liang hidangan wisata yang menakjubkan
Sebuah Desa bernama “ Karatau “ Kecamatan Batu Benawa di Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah Desa yang bersih. Masyarakatnya, nampaknya sangat peduli akan kebersihan lingkungan walau pun rumah-rumah di kiri kanan jalan cukup sederhana. Suasana Desa ini terasa nyaman dan menyenangkan dalam sebuah pemukiman penduduk. Di ujung Desa inilah terdapat Gua bernama Liang Hidangan.




Jika kita akan ke Gua Liang Hidangan, dari Kota Barabai berjarak sekitar 8 km menuju Desa Karatau naik mobil atau sepeda motor sekitar kurang dari satu jam. Tetapi dari Desa Karatau menuju Gua Liang Hidangan berjarak 3 km yang agak sulit ditempuh dengan mobil melainkan dengan sepeda motor sekitar satu jam atau jalan kaki sekitar satu setengah jam manakala musim hujan.

Gua Liang Hidangan berada hampir di tengah – tengahnya Gunung Batu Benawa, yang memiliki panorama yang sungguh menakjubkan. Selain keindahan hutan di sekitar gua, juga gua ini memiliki keunikan tersendiri. Gua yang mempunyai kisah zaman dahulu, kisah Raden Panganten anak durhaka yang disumpah Diang Ingsun ibunya sehinga menjadi batu. Kisah ini dituturkan secara lisan mau pun dikemas dalam sebuah buku yang selalu melekat dalam masyarakat Tanah Banjar sampai sekarang ini.

Sesungguhnya,Gua Liang Hidangan ini merupakan objek wisata yang sangat strategis bagi Kabupaten HST khususnya Kota Barabai dan Kalimantan Selatan umumnya, namun kondisi potensi wisata ini masih belum diolah dan dikelola dengan baik oleh Pemerintah Daerahnya baik Pemkabnya mau pun Pemda Prov.Kalsel.







Jalan sepanjang 3 km menuju ke Gua Liang Hidangan dalam kondisi sangat buruk dan berlumpur jika hujan. Di kaki gunung dimana letak gua tersebut ada sebuah bangunan kecil tempat peristirahatan pengunjung sangat memperihatinhan. Ada beberapa bagian bangunan itu sudah lapuk dan coret-moret di bangku dan langit-langit bangunan dan lebih-lebih lagi disekitarnya ditumbuhi hutan kecil yang menutupi serkitar bangunan itu sehingga yang terlihat hanya atapnya saja. Jalan bertangga yakni pendakian menuju Gua Liang Hidangan yang dibangun dari beton nampak rusak berat. Untuk mencapai gua begitu sulit kalau tidak hati-hati akan membahayakan karena tangga ini licin ditumbuhi semak dan pohonan.

Kalau melihat potensi Gua Liang Hidangan ini, pemerintah dan masyarakatnya dapat mengemasnya dengan bungkus paket wisata yang rapi dan menarik maka akan menguntungkan bagi daerahnnya dan kemakmuran masyarakatnya. Apalagi jika menjadikan sebuah komplek taman wisata budaya sehingga akan menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional tentu tak kalah dengan gua-gua yang lain di Indonesia, seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta ada Gua Braholo ( arena susur gua), Goa Cerme (Gua siluman), Gua Selarong (sejarah ) di Langse (Gua Kanjeng Ratu Kidul ) Gua Jatijajar (alam). Gua Sunyaragi (Budaya) di Cerebon, Gua Selomangleng (batu andesit hitam) di Kediri, Gua Pawon di Badung, Gua Maharani. Jatim,Gua Jepang (sejarah) Di Biak Papua dll











Menilik dari keunikan yang terkandung dalam Gua Liang Hidangan, selain menjadi objek pariwisata yang potensial juga menjadi tempat penelitian bagi para ahli. Menurut tutur tetuha masyarakat setempat bahwa di dalam Gua Liang Hidangan itu terdapat batu-batu berupa manusia, hewan ternak, alat-alat rumah tangga dan perabot kapal.

Gua Liang Hidangan ini pada zaman dahulu adalah sebuah pecahan perahu yang ditumpangi Raden Panganten dan isterinya (putri china) beserta awak kapalnya yang disumpah oleh Diang Ingsun ibunya menjadi batu. Cerita ini apakah merupakan sebuah sejarah atau legenda atau mitos, kita serahkan saja kepada para ahli untuk menelitinya..

sumber :
http://sastrabanjar.blogspot.com/2011/07/gua-liang-hidangan-wisata-yang.html
hymunk - 08/08/2011 01:28 PM
#259
Sasirangan, Kain Adat Suku Banjar di Kalimantan Selatan
Sasirangan Kain khas Banjarmasin


Kain sasirangan adalah sejenis kain yang diberi gambar dengan corak dan warna tertentu yang sudah dipolakan secara tradisional menurut citarasa budaya yang khas etnis Banjar di Kalsel.

Secara etimologis istilah sasirangan bukanlah kata benda sebagaimana yang dikesankan oleh pengertian di atas, tapi adalah kata kerja. Sa artinya satu dan sirang artinya jelujur. Ini berarti sasirangan artinya dibuat menjadi satu jelujur.



Kain sasirangan memang identik dengan kain yang diberi gambar dengan corak warna-warni berbentuk garis-garis jelujur yang memanjang dari bawah ke atas (vertikal). Sungguhpun demikian, istilah sasirangan sudah disepakati secara sosial budaya (arbitrer) kepada benda berbentuk kain (kata benda).

Pada mulanya kain sasirangan disebut kain langgundi, yakni kain tenun berwana kuning. Ketika Empu Jatmika berkuasa sebagai raja di raja di Kerajaan Negara Dipa pada tahun 1355-1362, kain langgundi merupakan kain yang digunakan secara luas sebagai bahan untuk membuat busana harian oleh segenap warga negara Kerajaan Negara Dipa.






Hikayat Banjar memaparkan secara tersirat bahwa di kawasan yang sekarang ini dikenal sebagai pusat kota Amuntai banyak berdiam para pengrajin kain langgundi. Keterampilan membuat kain langgundi ketika itu tidak hanya dikuasai oleh para wanita yang sudah tua saja, tetapi juga dikuasai oleh para wanita yang masih gadis belia. Paparan ini menyiratkan bahwa kain langgundi ketika itu memiliki pangsa pasar yang besar. Jika tidak, maka sudah barang tentu tidak bakal banyak warga negara Kerajaan Negara Dipa yang menekuninya sebagai pekerjaan utama.

Bukti bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para pembuat kain langgundi adalah paparan tentang keberhasilan Lambung Mangkurat memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai syarat kesediaannya untuk dijadikan raja putri di Kerajaan Negara Dipa.

Menurut Hikayat Banjar, Putri Junjung Buih ketika itu meminta Lambung Mangkurat membuatkan sebuah mahligai megah yang harus selesai dikerjakan dalam tempo satu hari oleh 40 orang tukang pria yang masih bujangan. Selain itu, Putri Junjung Buih juga meminta Lambung Mangkurat membuatkan sehelai kain langgundi yang selesai ditenun dan dihiasi dalam tempo satu hari oleh 40 orang wanita yang masih perawan.

Semua permintaan Putri Junjung Buih itu dapat dipenuhi dengan mudah oleh Lambung Mangkurat. Paparan ini menyiratkan bahwa di kota Amuntai ketika itu banyak berdiam para tukang pria yang masih bujang, dan para penenun wanita yang masih perawan. Jika tidak, maka sudah barang tentu Lambung Mangkurat tidak akan mampu memenuhi semua permintaan Putri Junjung Buih.

Pada hari yang telah disepakati, naiklah Putri Junjung Buih ke alam manusia meninggalkan tempat persemayamannya selama ini yang terletak di dasar Sungai Tabalong. Ketika itulah warga negara Kerajaan Negara Dipa melihat Putri Junjung Buih tampil dengan anggunnya. Pakaian kebesaran yang dikenakannya ketika itu tidak lain adalah kain langgundi warna kuning hasil tenunan 40 orang penenun wanita yang masih perawan (Ras, 1968 : Baris 725-735, Hikajat Bandjar)

Merujuk kepada paparan yang ada di dalam Hikayat Banjar (selesai ditulis tahun 1635), kain langgundi sebagai cikal bakal kain sasirangan sudah dikenal orang sejak tahun 1365 M. Namun, sudah barang tentu kain langgundi yang dibuat pada kurun-kurun waktu dimaksud sudah tidak mungkin ditemukan lagi artefaknya.

Menurut laporan Wulan (2006), kain sasirangan yang paling tua berusia sekitar 300 tahun. Kain sasirangan ini dimiliki oleh Ibu Ida Fitriah Kusuma salah seorang warga kota Banjarmasin (Tulah Mata Picak Tangan Tengkong, SKH Mata Banua Banjarmasin, Senin, 13 November 2006, hal 1 bersambung ke hal 13).

Konon, sejak Putri Junjung Buih mengenakan kain langgundi, maka sejak itu pula, warga negara Kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi mengenakan kain langgundi. Mereka khawatir akan kualat karena terkena tulah Putri Junjung Buih yang sejak itu menjadi raja putri junjungan mereka. Akibatnya, para pengrajin kain langgundi tidak lagi membuatnya, karena pangsa pasarnya memang sudah tidak ada lagi.

Meskipun demikian, kain langgundi ternyata tidaklah punah sama sekali. Beberapa orang warga negara Kerajaan Negara Dipa masih tetap membuatnya. Kali ini kain langgundi dibuat bukan untuk dijadikan sebagai bahan pembuat busana harian, tetapi sebagai bahan pembuat busana khusus bagi mereka yang mengidap penyakit pingitan. Penyakit pingitan adalah penyakit yang diyakini sebagai penyakit yang berasal dari ulah para arwah leluhur yang tinggal di alam roh (alam barzah).

Menurut keyakinan yang sudah berurat berakar di kalangan etnis Banjar di Kalsel, konon para arwah leluhur itu secara berkala akan menuntut anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya untuk mengenakan kain langgundi. Begitulah, setiap satu, tiga, lima, dan tujuh tahun anak, cucu, buyut, intah, piat keturunannya akan jatuh sakit akibat terkena penyakit pingitan. Tidak ada obat lain yang dapat menyembuhkannya dari penyakit pingitan itu kecuali mengenakan kain langgundi.

Kain langgundi yang dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif itu dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan keperluan, seperti sarung (tapih bahalai), bebat (babat), selendang (kakamban), dan ikat kepala (laung). Corak dan warna gambar kain langgundi sangatlah beragam (tidak melulu bercorak getas dan berwarna dasar kuning saja), karena setiap jenis penyakit pingitan menuntut adanya kain langgundi dengan corak dan warna gambar tertentu yang saling berbeda-beda. Sejak dipergunakan sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan alternatif inilah kain langgundi lebih dikenal sebagai kain sasirangan. Nama ini berkaitan dengan cara pembuatan, yakni disirang (kain yang dijelujur dengan cara dijahit kemudian dicelup ke dalam zat pewarna).

Berkaitan dengan bentuk (corak dan warna gambar), makna (corak dan warna gambar), dan fungsi kain sasirangan di atas, maka ini berarti sejak awal sudah menyandang fungsi sosial kultural, atau diberi fungsi sosial kultural sebagai tanda simbolik yang mengandung makna-makna semiotik tertentu yang khas etnis Banjar Banjar di Kalsel. Paling tidak, kain sasirangan merupakan tanda simbolik bahwa para pemakainya sedang mengidap suatu penyakit dan sekarang ini sedang menjalani terapi pengobatan alternatif.

Pada zaman dahulu kala, orang sudah mengetahui jenis penyakit yang diderita seseorang dari genre/jenis bentuk kain sasirangan yang dikenakannya, yakni :

1. Sarung sasirangan (tapih bahalai) dikenakan sebagai selimut untuk mengobati penyakit demam atau gatal-gatal

2. Bebat sasirangan (babat) yang dililitkan di perut dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit diare, disentri, kolera, dan sebenar jenis penyakit perut lainnya

3. Selendang sasirangan (kakamban) yang dililitkan di kepala atau disampirkan sebagai penutup kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).

4. Ikat kepala sasirangan (laung) yang dililitkan di kepala dimaksudkan sebagai sarana untuk menyembuhkan penyakit kepala sebelah (migrain).

Fungsi kain sasirangan sebagai tanda simbolik pada kasus di atas tidak berbeda dengan fungsi tanda simbolik yang melekat pada pakaian dinas yang dikenakan oleh para PNS, anggota polisi, anggota ABRI, dan para aparatur negara yang berseragam lainnya.

Beberapa buah rumah sakit swasta di kota Banjarmasin sudah sejak lama menyediakan busana harian khusus yang diseragamkan bagi para pasien yang sedang menjalani rawat inap. Mungkin, akan lebih menarik jika di kemudian hari ada rumah sakit swasta atau milik pemerintah di kota Banjarmasin memberikan busana harian khusus yang dibuat dari kain sasirangan.



Kain ini telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI beberapa motif sasirangan sebagai berikut :
1. Iris Pudak
2. Kambang Raja
3. Bayam Raja
4. Kulit Kurikit
5. Ombak Sinapur Karang
6. Bintang Bahambur
7. Sari Gading
8. Kulit Kayu
9. Naga Balimbur
10. Jajumputan
11. Turun Dayang
12. Kambang Tampuk Manggis
13. Daun Jaruju
14. Kangkung Kaombakan
15. Sisik Tanggiling
16. Kambang Tanjung

Padahal motif sasirangan mencapai ratusan namun yang baru diakui oleh pemerintah baru 16 motif.
Berbagai macam produk sasirangan seperti :
a. Baju Pria dan Wanita
b. Jas Pria dan Wanita
c. Kopiah
d. Selendang
e. Horden
f. Taplak Meja
g. Sarung dll

Sumber :
http://tajudinnoorganie.blogspot.com/2009/04/fungsi-magis-kain-sasirangan.html
http://sasirangan.multiply.com
http://kainikat.com/
http://www.skyscrapercity.com/showpost.php?p=74375131&postcount=18
hymunk - 08/08/2011 02:00 PM
#260
Proses Produksi Kain Sasirangan
1. Pendahuluan

Kain sasirangan banyak dibuat oleh pengusaha industri kecil di Kalimantan Selatan. Seperti halnya batik di Pulau jawa, kain sasirangan merupakan ciri khas daerah Kalimantan Selatan. Kain sasirangan adalah merupakan kain yang menerapkan proses pewarnaan dengan cara rintang yaitu dijahit menggunakan benang atau tali rafia menurut corak yang dikehendaki. Desain corak didapatkan dari jahitan atau dikombinasi dengan ikatan maupun komposisi warna yang dibuat. Kain sasirangan dapat dibuat dari bahan mori dengan berbagai kwalitas seperti mori primissima, mori prima, mori biru, mori voalissima, bahan sutera, rayon maupun synthetic.

Secara garis besar urutan proses pembuatan kain sasirangan adalah sebagai berikut



2. Proses Awal / Persiapan (Penghilangan Kanji)

ImageDalam perdagangan biasanya kain dijual dalam keadaan telah difinish atau dikanji, dimana kanji tersebut dapat menghalangi penyerapan zat warna. Oleh karena itu kain harus diproses persiapan / penghilangan kanji agar kain mempunyai daya serap terhadap zat warna.

Untuk menghilangkan kanji dapat dilakukan dengan 3 cara :

Perendaman biasa, bahan direndam dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Cara ini tidak banyak disukai, karena banyak memakan waktu dan ada kemungkinan timbul mikro organisme yang akan merusak kain.

Perendaman dengan asam, kain direndam dalam larutan asam sulfat atau asam chlorida selama satu malam. Apabila larutan dipanaskan pada suhu 35' C maka waktu pengerjaan dapat disingkat hingga menjadi 2 jam saja. Setelah proses maka kain dibilas dengan air sehingga bebas dari asam.

Rendaman dengan enzym, bahan dimasak dengan suatu larutan enzym (Rapidase, Novofermasol dan lain-lain) pada suhu 45' C selama 30 s/d 45 menit. Setelah pemasakan kain dicuci dalam air panas dua kali masing-masing 5 menit, kemudian dicuci dingin sampai bersih.

3. Pembuatan Pola Desain dan Jahitan.

Spoiler for Kain Sasirangan




Kain yang sudah bebas dari resin finish atau kanji maka siap dipotong guna diberi pola. Pemotongan kain menurut kebutuhan misalnya untuk kemeja , gaun selendang atau yang lain. Selanjutnya kain dijahit menggunakan benang sesuai pola dengan jarak 1 - 2 mm atau 2 -3 mm. Benang ditarik kencang samapai kain menjadi rapat dan membentuk kerutan-kerutan.


Spoiler for Kain Sasirangan





Benang berfungsi sebagai perintang oleh sebab itu bahan perintang mempunyai persyaratan-persyaratan sebagai berikut :

Tidak dapat terwarnai oleh zat warna, sehingga mampu untuk mewarnai zat warna. Benang mempunyai konstruksi anyaman maupun twist benang yang padat. Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi. Sebagai bahan perintang/pengikat dapat berupa : benang kapas, benang polyester, rafia, benang ban, serat nanas dan lainnya.

Pola atau motif yang dipakai pada kain sasirangan antara lain : kembang tampuk manggis, iris pudak, naga balimbur, bayam raja, kulit kayu, kulit kurikit, sarigading dan lain-lain.

4. Pewarnaan pada Kain

Pewarnaan adalah pemberian warna yang merata pada suatu bahan yang mempunyai sifat kurang lebih permanent. Pada umumnya pewarnaan terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat warna dalam air atau medium lain kemudian bahan tekstil dimasukkan atau dicolet dengan larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat.


Spoiler for Kain Sasirangan



Yang penting dalam pewarnaan adalah kerataan warna pada bahan artinya terdapat kerataan yang maksimum dalam pembagian zat warna pada bahan. Masing-masing zat warna mempunyai cara pewarnaan yang berbeda dan pemakaian zat warna disesuaikan dengan jenis serat serta ketahanan luntur yang diinginkan.

Dalam proses pewarnaan kain sasirangan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

Pencelupan. Apabila diinginkan hanya satu warna saja, maka dapat dikerjakan proses pencelupan. kain dicelup kedalam larutan zat warna dan obat-obat pembantu, sehingga kan dihasilkan kain berwarna yang merata kecuali pada bekas jahitan/sirangan akan tetap berwarna putih.

Pencoletan. Kain yang telah disirang diberi warna dengan cara dicolet di atas sirangannya maupun diantara sirangan. banyaknya warna bisa lebih dari satu atau dua warna tergantung dari motif dan macam warna yang diinginkan.


Spoiler for Kain Sasirangan



Pencelupan dan Pencoletan. Pada cara ini mula-mula kain dicelup warna muda sebagai dasar warna. Kemudian dicolet dengan warna yang lebih tua.


Spoiler for Kain Sasirangan



Setelah dilakukan perwarnaan kain dicuci bersih dengan sabun, sampai air cucian tidak berwarna lagi

5. Pelepasan Jahitan, Pencucian dan Pengeringan


Spoiler for Kain Sasirangan



Setelah proses pewarnaan kain sasirangan, kemudian jahitan jelujur pada kain di lepas. Setelah itu kain dicuci sampai bersih. kain yang sudah dicuci kemudian di jemur pada tempat yang sudah disediakan dengan syarat tidak boleh terkena sinar matahari.


Spoiler for Kain Sasirangan


6. Finishing


Spoiler for Kain Sasirangan


Proses terakhir yaitu proses penyempurnaan berupa merapikan kain agar tidak kumal yaitu dengan menyetrikanya. Penyetrikaan dilakukan secara manual dengan menggunakan setrika listrik. Kegiatan ini dilakukan secara hati-hati apalagi kalau bahan yang disetrika terbuat dari kain sutera.


sumber :
Majalah Kriya Indonesia Craft. No.8 2007
http://rubiyah.com/
Page 13 of 15 | ‹ First  < 8 9 10 11 12 13 14 15 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan