Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819
Page 14 of 15 | ‹ First  < 9 10 11 12 13 14 15 > 

hymunk - 08/08/2011 02:41 PM
#261
Gerabah Buah dari Negara
Spoiler for Gerabah Buah


1. Segenggam tanah liat yang telah bercampur pasir, diletakkan di atas meja putar. Sebelum diletakkan terlebih dahulu diberi alas plastik. Gunanya untuk memudahkan pada saat strawberry akan diangkat. Sehingga yang diangkat cukup plastiknya saja

2. Meja diputar-putar, sambil sebelah tangan membentuk tanah liat yang mulai meninggi menjadi bulat bak strawberry

3. Setelah itu bagian bawahnya diratakan dengan bantuan sedikit air

4. Lalu bagian atas ditutup. Bagian tengahnya sedikit diberi lengkungan ke dalam, tempat dimana tangkai buah akan dipasang

5. Bulatan strawberry kembali diratakan dengan cara dipukul-pukul menggunakan papan kecil

6. Setelah tangkainya ditancapkan, dilanjutkan dengan pemasangan dua helai daun. Urat daun dibuat dengan menggunakan semacam pinsil

7. Dilanjutkan dengan proses pembakaran di dalam tungku

8. Lalu pengecatan, Cat yang digunakan bisa cat minyat atau cat air. Terakhir dikeringkan di bawah terik sinar matahari. Jika hari panas, cat sudah kering setelah dua hari


Sumber :
Majalah Kriya Indonesian Craft No.08 2007
hymunk - 08/08/2011 03:48 PM
#262
Kerajinan Purun
Spoiler for Kerajinan Purun


1. Purun dipanen, kemudian dijemur hingga kering

2. Dibelah, sehingga tampak melebar. Belahan yang melebar itu kemudian dibelah menjadi dua bagian

3. Ambil lima belahan untuk dianyam menjadi tali

4. Dianyam, tiga helai bagian permukaannya sedangkan dua helai lainnya sengaja dibalik. Hasil anyaman berupa tali, tampak ada dua warna. Warna purun bagian permukaan, dan warna purun bagian dalam.

5. Tampak gulungan anyaman purun yang sudah dalam bentuk tali

6. Tali Anyaman purun ini kemudian dianyam lagi menjadi tikar.

7. Agar bagian pinggir tikar purun tidak mudah terburai, atau terlepas, keempat bagian tepinya di tulang walut, yaitu dijahit menggunakan benang yang dimasukkan ke jarum kasur

sumber :
Majalah Kriya Indonesian Craft No.08 2007
hymunk - 08/08/2011 04:00 PM
#263
Mesjid Keramat Palajau, Pandawan, HST






Pasukan Belanda Banyak Muntah Darah

Mesjid Keramat Palajau diyakini bangunan nomor lima dari sembilan mesjid yang dibangun secara bersama-sama. Jumlah sembilan diambil dari jumlah Wali Songo yakni sembilan orang. Menurut data yang muktabar, tanda-tanda pembangunan mesjid secara bersamaan bisa dilihat dari pahatan huruf Jawa di tiang guru atau tiang menara yang bertuliskan hari dan waktu berdirinya Mesjid Keramat.

Menurut versi sejarah, Mesjid Keramat terletak di Kampung Palajau, sebuah desa di Kecamatan Pandawan yang kurang lebih 3-5 km arah barat laut dari kota Barabai. Kampung Palajau justru sudah terkenal sekitar abad ke-13 Masehi, saat itu masih bernama Palayarum sesuai dengan nama sungai yang hulunya dari Pegunungan Meratus, tapi sungai itu kini sudah mati.

Versi lain menyebutkan, jika Palayarum itu berasal dari sebuah pohon yang dulunya terletak di tepi sungai dan sering jadi tempat berteduh pedagang dari luar kota.
Cikal bakal sejarah di Hulu Sungai Tengah tak lepas dari gugusan Pegunungan Meratus sebagai poros utama hulu sungai bagi warga yang tinggal dibawahnya. Jika dirunut, Sungai Alai atau Batang Alai di daerah Birayang, Sungai Palayarum di kampung Palajau dan terus menjulur ke Sungai Buluh, Nagara (Dhaha) dan terus Banjarmasin yaitu Daerah Kuin yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Banjar dan sungai itu bermuara di laut Jawa.

Baru pada abad ke-14 berdatangan utusan Raden Fatah dari Kerajaan Demak, bersama pangeran dan gusti-gusti dari Kerajaan Banjar, utusan dari Demak ada diyakini 7 orang. Merekalah yang singgah dan istirahat di Kampung Palajau serta mendirikan mesjid secara bersamaan dengan dibangunnya mesjid lain di beberapa tempat di Pulau Jawa dan Kalimantan.
Menurut catatan, ada sembilan buah mesjid yang dibangun pada waktu bersamaan, dengan bentuk, waktu yang sama termasuk diantaranya Mesjid Keramat Palajau, Pandawan Hulu Sungai Tengah (HST) dan Mesjid Jami Sungai Banar Amuntai Hulu Sungai Utara (HSU).

Pada daerah pinggir lereng kaki Pegunungan Meratus yang bertemu dengan dataran rendah terdapat pusat-pusat kediaman penduduk yang tertua di Kalimantan Selatan dan memanjang dari utara ke selatan seperti Muara Tabalong - Tanjung, Amuntai - Negara Dipa, Nagara - Daha, Alai - Birayang dengan ranting-rantingya seperti Sungai Kambat dan Sungai Palayarum yang kini sudah dangkal.

Dari cerita warga, daerah sekitar mesjid dulunya banyak bekas pecahan barang baik perahu maupun jukung yang sudah terbenam dalam tanah. Sewaktu diadakan penggalian oleh warga sekitar untuk membuat kolam ikan, sumur dan membangun rumah, itu bukti jika di samping Mesjid Keramat Palajau ada sungai besar yang bisa dilayari.

Momentum dari kisah puncak keajaiban Mesjid Keramat Palajau terjadi ketika masa peperangan antara pasukan Demang Leman dari Kerajaan Banjar dengan Pasukan Belanda yang diperkirakan tahun 1862 di hutan Simpur, yang berjarak 750 meter arah barat daya mesjid.

Entah karena ingin menghancurkan atau beristirahat di Mesjid Keramat, beberapa pasukan Belanda yang ingin singgah di tempat ibadah tersebut muntah darah. Konon pasukan Belanda yang tiba di Barabai dan memasuki Kampung Palajau, terutama melewati mesjid keramat mendadak sakit. Masyarakat percaya jika itu akibat katulahan alias kualat.

Otomatis, semakin hari, peziarah yang mengunjungi Mesjid Keramat Palajau bertambah. Ditakutkan banyak penyelewengan terhadap ajaran agama Islam yang bisa mengakibatkan syirik, akhirnya para guru agama dan tetuha menghapus beberapa tradisi yang menyimpang seperti adat membungkus kepada mesjid dengan kain kaci serta memberikan kain-kain kuning pada tempat tertentu.

Rahmat, salah satu warga Barabai mengaku, sudah banyak adat istiadat yang dihilangkan karena banyak yang bisa tergelincir berbuat syirik untuk menghindari efek negatif. Meski banyak yang menentang namun tradisi yang berbau unsur di luar Islam akhirnya berhasil dikikis.

”Dulu para guru agama prihatin dengan kondisi mental masyarakat, hal itu diperparah kondisi bangunan Mesjid Keramat yang saat itu mulai rapuh,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata HST Ahmad Syahriani Effendi mengharapkan, peziarah yang ingin beribadah di Masjid Keramat benar-benar tulus dan ikhlas karena Allah SWT dan tidak lagi mencampuradukkan antara kepercayaan yang diluar Islam.

sumber :
http://www.radarbanjarmasin.co.id/i
hymunk - 08/08/2011 04:13 PM
#264
Lulung, Lumbung Padi Masyarakat Dayak Meratus


Lampau tempat menaruh lulung


Kehidupan Suku Dayak Meratus sangat erat sekali dengan padi. Padi bagi mereka bukan hanya sekedar untuk makan, tapi sesuatu yang sangat di hormati dan ini mempunyai legenda tersediri yang menurut Radam (2001),

Padi diciptakan oleh Suwana (penguasa dunia) dalam periode penciptaan yang sama. Padi diciptakan pada hari ketiga setelah hari pertama diciptakan manusia dan wasi (besi) pada hari kedua, sehingga padi diyakini sebagai tumbuhan langit yang sengaja diusahakan di tanam di bumi. Begitu penting dan sakralnya kedudukan padi dalam masyarakat Dayak, menghasilkan suatu budaya bercocok tanam padi yang unik, bukan hanya sekedar bagian dari sitem ekonomi tradisional tetapi terlebih-lebih merupakan dasar berpijak kehidupan religius (Radam, 2001).

Mungkin terdengar agak aneh, ada padi yang disimpan dalam lulung (lumbung) usianya mencapai lebih dari lima tahun. Tapi demikianlah kehidupan suku Dayak Meratus yang banyak pantangan atau larangan. Di antaranya dilarang menjual hasil panen yang sudah dimasukkan ke dalam lulung. Padi dalam lulung hanya akan digunakan bila hasil panen berikutnya benar-benar gagal. Hal ini merupakan suatu bentuk antisipasi yang luar biasa terhadap kemungkinan adanya kelangkaan padi di saat musim paceklik.

Spoiler for Lulung


Spoiler for Lulung


Spoiler for Lulung



LULUNG,
DOLOG-NYA MASYARAKAT DAYAK MERATUS


Dikalangan masyarakat Dayak Meratus telah berkembang suatu tradisi turun temurun yang mengharuskan mereka menyimpan hasil panen padi ke dalam ‘lulung’. Lulung atau yang lebih dikenal dengan sebutan kindai (lumbung) terbuat dari bahan purun berbentuk tabung bundar. Setiap lulung mampu menyimpan padi sedikitnya 7 kwintal (700 kg). Berdasarkan pemantauan di lapangan, lulung yang dimiliki masyarakat Adat Dayak

Meratus HST jumlahnya mencapai 208 buah. Jika jumlah tersebut dikalikan dengan daya tampung lulung yang diperkirakan sebesar 700 kg, maka stok/persediaan padi HST dalam satu kali musim panen paling sedikit mencapai 145.608 kg (145 ton). Suatu jumlah yang cukup signifikan untuk menjamin ketahanan pangan HST secara keseluruhan.

Oleh karena itu, ketika orang lain mulai gelisah akibat berkurangnya stok beras, maka tidaklah demikian dengan masyarakat adat Meratus terutama masyarakat adat yang memegang teguh prinsif nenek moyangnya. Tradisi turun temurun yang dipercaya mampu memberi sugesti tertentu terhadap keberhasilan bercocok tanam diladang adalah aruh adat. Upacara sakral ini bagi masyarakat Dayak Meratus yang menganut kepercayaan animisme/ kaharingan sangat menentukan bagi keberhasilan panen. Oleh karena itu setiap kali akan memulai tanam padi mereka melakukan aruh adat.

Demikian pula ketika memulai dan selesai panen mereka melakukan aruh adat serupa, bahkan ketika akan mulai menggunakan hasil panen untuk makan sehari-hari juga harus didahului dengan upacara adat.

Dalam kehidupan Dayak meratus juga terdapat pantangan/ larangan untuk menjual hasil panen yang sudah dimasukan ke dalam lulung. Padi dalam lulung hanya akan digunakan bila hasil panen berikutnya benar-benar gagal. Sungguh hal ini merupakan suatu bentuk antisipasi yang luar biasa terhadap kemungkinan adanya kelangkaan padi disaat musim paceklik. Keteguhan memegang tradisi ini sehingga tidak jarang padi yang ada dalam lulung usianya mencapai lebih dari lima tahun.

Memang tak semua orang tahu keberadaan lulung ini, kecuali para petualang yang suka keluar masuk hutan dan sesekali menginap di perumahan suku Dayak ini. Keberadaan lulung ini boleh dibilang dolog-nya masyarakat Dayak Meratus. Yang membedakannya dengan Dolog Pemerintah adalah kapasitasnya yang kecil dan dikelola oleh masing-masing Kepala Keluarga dalam satu rumpun Balai Adat.

Keberadaan lulung ini masih dapat kita temukan di Balai-Balai Adat Patikala’in, Papagaran, Tamburasak, Pantai Mangkiling, Datar Ajab, dan Haruyan Dayak di kecamatan Hantakan.

Tradisi stok padi ala masyarakat Dayak ini terbukti mampu mempertahankan ketersediaan padi sepanjang masa, yang pada akhirnya tentu saja juga mampu memberikan kontribusi bagi penciptaan ketahanan pangan HST, bahkan diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi ketersediaan pangan se Kalimantan.


Sumber :
http://daturadam.blogspot.com/
http://dayakmeratushst.blogspot.com/2010/10/lampau.html
hymunk - 10/08/2011 10:18 PM
#265
Pengrajin intan
hymunk - 14/08/2011 04:39 PM
#266
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar



Sultan Tahmidullah Mangkat Digantikan Sultan Kuning

Nama maupun gelar raja-raja di kerajaan Banjar sebagian besar memang mirip dan serupa. Bahkan, kelahiran dan syiar Islam Syekh Arsyad juga terkadang terjadi simpang siur.

ULAMA besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan, ternyata dilahirkan di masa pemerintahan Sultan Hamidullah atau Sultan Tahmidullah. Anak dari Sultan Tahlilullah atau Amirul Bagus Kasuma ini, memerintah sejak 1700 sampai 1734 Masehi.

Kapan Syekh Arsyad dilahirkan? Ada yang menyebutkan di masa Sultan Takhlillah atau Sultan Tahlilullah. Hanya saja, di buku Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari karangan Abu Daudi (Syekh M Irsyad Zein) disebutkan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, dilahirkan masa Sultan Tahmidullah, malam Kamis tanggal 15 Safar 1122 Hijriyah sesuai catatan Alimul Allamah H Muhammad Khatib dari Dalam Pagar yang juga cucu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Syekh Arsyad lahir pukul 03.00 dinihari bersamaan dengan tanggal 19 Maret 1710 Masehi sebagaimana buku karangan Abu Daudi berjudul Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Madrasah Sullamul Ulum, Martapura, 1980.

Dimasa Sultan ini ini pula Syekh Arsyad semasa kecil diasuh di lingkungan istana, antara usia 7 dan 8 tahun. Sultan Tahmidullah mangkat tahun 1734 Masehi dan dimakamkan di Ilir Kampung Dalam Pagar. Pengganti Sultan Tahmidulllah adalah Sultan Kuning atau Sultan Badarul Alam bin Sultan Tahlilullah, namun dalam tahun itu (1734 Masehi) Sultan Kuning mangkat sedangkan anaknya, Muhammad Aliuddin masih belum dewasa. Maka, Pangeran Tamjid atau Pangeran Tamjidullah yang memangku jabatan mangkubumi dengan gelar Sultan Muda untuk memegang pemerintahan.

Ketika Sultan Tamjidullah atau Sultan Tamjidillah memerintah hingga berakhir pemerintahannya ditahun 1759 Masehi, Syekh Arsyad berada di tanah suci Mekkah. Syekh Arsyad pulang ditahun 1772 Masehi dimasa Sultan Tahmidullah II. Sejak Sultan Tahmidullah II itulah hukum-hukum Islam dilaksanakan dan disempurnakan sehingga terbentuklah lembaga Mahkamah Syariah.

http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/14918
hymunk - 14/08/2011 05:16 PM
#267
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar



Syekh Arsyad Wafat Dimasa Sultan Sulaiman

Setelah Sultan Tahmidullah II mangkat, kekuasaan pemerintahan dipegang Sultan Sulaiman. Karang Intan menjadi pusat pemerintahan. Dimasa inilah Syekh Arsyad berpulang ke rahmatullah.

SULTAN Tahmidullah II yang mangkat di tahun 1801 Masehi, selanjutnya posisi kekuasaan beralih ke tangan Sultan Sulaiman Rahmatullah. Ia memerintah mulai tahun 1801 hingga 1825 Masehi. Sultan Sulaiman bin Sultan Tahmidullah II atau Pangeran Nata Dilaga, diangkat sebagai raja dan pusat kekuasaan berkedudukan di Karang Intan.

Sejak memegang pemerintahan hingga mangkat, pusat kekuasaaan tidak berpindah dan terletak di Karang Intan. Sultan Sulaiman disebutkan Abu Daudi (Syekh M Irsyad Zein) memerintah dengan adil dan bijaksana, ramah terhadap rakyat dan dicintai. Rakyat juga taat terhadap perintahnya seperti menyerukan kepada rakyat untuk rajin beribadah kepada Allah.
Inalillahi, dimasa pemerintahan Sultan Sulaiman ini, ulama kebanggaan yang dihormati warga Kalimantan Selatan Syekh Muhammad Arsyad wafat pada malam Selasa tanggal 6 Sawal 1227 Hijriyah atau 13 Oktober 1812 Masehi, antara magrib dan isya. Sultan sulaiman sendiri mangkat 1825 Masehi dan dimakamkan di Desa Lihung Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.

Belum lama tadi penulis berziarah ke makam raja kesebelas Kerajaan Banjar masa Islam ini di Desa Lihung, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari ibukota Kabupaten Banjar, Kota Martapura. Letak makam persis berdekatan dengan sungai setempat. Menuju makam, bisa lewat Desa Pasar Lama atau jalan disamping kiri kantor Camat Karang Intan. Namun, tidak ada plang penunjuk arah.

Sultan Sulaiman merupakan ayah dari Sultan Adam Al Watsiqubillah. Catatan tertera di dinding kubah, Sultan Adam adalah anak tertua dari 23 orang anak keturunan Sultan Sulaiman. Sultan Adam anak Sultan Sulaiman dari istrinya, Ratu Intan Sari atau Nyai Ratna. Anak lain Sultan Sulaiman ialah Pangeran Singasari, yang juga zuriat Pangeran Khairul Saleh (Bupati Banjar). Pangeran Singasari anak Sultan dari istri Nyai Sari.

http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15100
r13fan - 15/08/2011 06:01 PM
#268
Peta Kota Banjarmasin
hymunk - 16/08/2011 02:29 PM
#269
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Sultan Adam Memerintah Lebih Kurang 32 Tahun

Diantara raja-raja Kerajaan Banjar

Selain Sultan Surianyah sebagai raja ternama

Adalah Sultan Adam yang cukup dikenal luas.

Bagaimanakah riwayat Sultan Adam?



HAIRIYADI, Martapura



SULTAN Adam Al Watsiq Billah naik tahta menggantikan ayahnya Sultan Sulaiman Ramatullah sebagai raja di Kerajaan Banjar. Ia dinobatkan tahun 1825 Masehi tidak lama setelah Sultan Sulaiman mangkat. Masa pemerintahan sultan kelahiran tahun 1786 Masehi di Karang Intan, terbilang lama. Mulai 1825 sampai 1857 Masehi atau sekitar 32 tahun.

Bila menyimak silsilah Kerajaan Banjar dimasa menganut animisme dan dimulai dari Pangeran Suryanata atau Surya Cipta atau Pangeran Surya Dwiwangsa, Sultan Adam merupakan raja ke 18. Jika dirunut dari Kerajaan Banjar masa Islam saat pemerintahan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, Sultan Adam adalah sultan ke 12.

Masa tenang rakyat Banjar yang diperintah Sultan Adam, hanya berlangsung 25 tahun, selanjutnya mulai diusik kehadiran Belanda. Sehingga, Sultan Adam berusaha benar-benar meningkatkan kewaspadaan terhadap tipu muslihat dan akal licik Belanda. Peningkatan pertahananan dilakukan disegala bidang.

Dimasa pemerintahan Sultan Adam, penegakkan ajaran Islam dan ahli sunah sangat dominan diterapkan. Apalagi, walau tidak diketahui secara langsung Sultan Adam belajar dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, data-data terhimpun menyimpulkan pelajaran didapat dari putra dan cucu ulama besar Kalimantan Selatan tersebut. Sebutlah, Allimul Allamah Qadhi H Abu Na’im, Allimul Allamah Khalifah Syahabuddin, Allimul Allamah Mufti H Jamaluddin, Allimul Allamah Pangeran Ahmad Mufti, Allimul Allamah Mufti HM Arsyad (Pagatan) bin Allimul Allamah Mufti HM As’ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Allimul Allamah Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Begitu besar cinta, hormat dan patuh kepada para ulama, rakyat disuruh mematuhi fatwa-fatwa para guru atau ulama yang memberikan pengajaran kepada Sultan Adam. Hubungan umara dan rakyat dengan ulama sangat terjalin erat. Kehidupan berjalan sebagaimana arahan Sultan Adam dan petunjuk ulama. Kota Martapura sangat terkenal sebagai Serambi Mekkah. Kota menjadi ramai sebagai pusat kegiatan belajar ilmu agama, sehingga Sultan Adam mendapatkan gelar Sultan Adam Al Watsiq Billah.

Antara Undang-Undang dan Pusat Pemerintahan Kekuasaan

Dimasa Sultan Adam Al Watsiq Billah memerintah
Diterapkan hukum Islam dan Undang-Undang
Bagaimanakah bentuk Undang-Undang tersendiri itu?

HAIRIYADI, Martapura

HUKUM Islam menancap kuat ketika Sultan Adam Al Watsiq Billah memerintah di Kerajaan Banjar. Distruktur pemerintahan malah disusupkan lembaga keagamaan. Pelaksanaannya dipimpin para hakim tinggi, antara lain Mufti atau hakim tertinggi selaku pengawas pengadilan umum. Qadhi sebagai kepala urusan hukum Agama Islam dan Khalifah dalam urusan membantu tugas Mufti dan Qadhi.
Dimasa Sultan Adam selain Mufti, Qadhi dan Khafilah, juga dikenal adanya pengulu, lalawangan, lurah, pembakal, mantri, tatuha kampung dan panakawan alias orang yang menjadi suruhan raja atau kepala. Para panakawan ini dibebaskan dari segala pekerjaan negeri dan tidak dikenakan membayar pajak. Lalu, ada golongan yang membantu urusan pelaksanaan undang-undang dan hukum adat. Meliputi pangeran, gusti, raden, kiai demang dan nanang. Kedudukan golongan itu, pertama ada tugas pembantu kehormatan dan kedua penyelenggara tetap cabang pekerjaan.
Turut campurnya Belanda yang dapat mengancam kehidupan masyarakat, Kerajaan Banjar memberlakukan Undang-Undang Sultan Adam (UUSA). UUSA dibuat oleh Sultan Adam, dibantu Pangeran Syarif Husin (menantu Sultan Adam) dan Mufti H Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ada dua versi UUSA yang berkembang, versi Martapura dan Amuntai. Versi Martapura menyebut 31 pasal dan Amuntai berisi 38 Pasal. “Yang pokoknya sarat pemikiran anak cucu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari,” cetus Abu Daudi (Syekh HM Irsyad Zein).

Inti sari tujuan terbentuknya UU SA, memantapkan keyakinan rakyat, membendung dan mencegah perpecahan, membantu hakim menetapkan kepastian hokum, mensejahterakan rakyat. Materi yang termaktub, ialah masalah agama dan peribadatan, hukum tata pemerintahan, hukum perkawinan, hukum acara/peradilan, hukum tanah, peraturan peralihan. UU SA ditetapkan Kamis 15 Muharam 1251 Hijriyah atau 11 Juni 1835 Masehi pukul 09.00 Wita oleh Sultan Adam.

Merunut letak pusat pemerintahan Kerajaan Banjar dimasa sultan pertama, Sultan Suriansyah. Letaknya selalu berpindah-pindah karena dipengaruhi bermacam faktor. Mulai di Negara Dipa (Margasari), Kahuripan (Amuntai), Daha (Nagara) dan Bandarmasih (Banjarmasin). Kemudian, sempat berpindah ke Pemakuan (Sungai Tabuk), Muara Tambangan, Batang Banyu, Kayu Tangi Martapura. Pernah juga di Karang Intan dimasa Sultan Sulaiman Rahmatullah. Akhirnya, dimasa Sultan Adam pusat pemerintahan kembali ke Martapura. Istananya terletak di Keraton, Sasaran dan Jl Demang Lehman Pasayangan

sumber :
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15156
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15221
r13fan - 16/08/2011 04:28 PM
#270
Museum Wasaka Banjarmasin


Wisatanesia.com-Museum Wasaka terletak di Jalan Sultan Adam Komplek H Andir, Kampung Kenanga Ulu RT 14 Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara.Kota Banjarmasin. Museum Wasaka ini terletak di tepian sungai, berdampingan dengan kokohnya sebuah jembatan yang panjang lagi besar, yang bernama Jembatan 17 Mei, atau lebih di kenal dengan Jembatan Banua Anyar. Di museum Wasaka yang diresmikan pada 10 November 1991 ini, terdapat kurang lebih 400 benda bersejarah di periode Perang Kemerdekaan. adalah sebuah museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Wasaka singkatan dari Waja Sampai Ka Puting yang merupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Museum Wasaka bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang telah dialih fungsikan dari hunian menjadi museum sebagai upaya konservasi bangunan tradisional.Di museum yang dibangun dengan arsitektur khas Banjar ini juga terdapat daftar organisasi yang pernah berjuang menentang pemerintahan penjajah seperti Lasykar Hasbullah yang bermarkas di Martapura, Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan yang bermarkas di Banjarmasin, serta yang lainnya. Krmudian ada peta Kalimantan Selatan yang dilengkapi dengan bebera foto masyarakat adat di daerah masing-masing, struktur organisasi perjuangan gerilya Kalsel menuju Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI, serta benda-benda bersejarah lain seperti mesin tik kuno, kamera, cermin, dan sebagainya. Wisata Indonesia Surga dunia.

SUMBER

klo berkenan cendol ya gan... biar ane ijo lagi...
r13fan - 16/08/2011 04:50 PM
#271
Bingka Barandam, Kuliner Ramadhan Khas Banjarmasin dan Kue-Kue Lainnya


Sudah menjadi tradisi di beberapa daerah di Indonesia, saat Ramadhan tiba sudah dipastikan akan bermunculan pasar-pasar yang khusus menjajakan makanan untuk berbuka. Salah satunya aneka kuliner khas yang ada di Pasar Wadai di Banjarmasin.
Ada satu jenis makanan yang sangat terkenal, kebetulan memang lebih banyak muncul saat Ramadhan tiba. Kehadirannya seringkali menjadi incaran. Makanan ini bernama Bingka Barandam.
Bahan baku utamanya adalah kentang. Kemudian bahan dasar ini di campur dengan telur bebek, gula, mentega, dan santan. Terakhir dibakar dalam loyang khusus yang terbuat dari besi kuningan. Uniknya proses pembakarannya dipanggang di atas panas api arang, tidak di dalam oven. Inilah yang membedakan bingka kentang khas Banjar dengan kue bingka sejenis dari daerah lain.
Dengan menggunakan proses pembakaran yang unik, dipanggang dalam api arang, tentunya aroma yang dihasilkan sangatlah menggugah selera, amat wangi dan sangat lezat. Begitu digigit terasa sangat empuk di lidah ditambah citarasa nan legit sehingga pantas jika kue ini menjadi primadona warga Banjarmasin untuk menu berbuka puasa.
Hemm..rasanya, sudah tak sabar ingin segera menikmati potongan demi potongan Bingka Barandam begitu adzan berbuka nanti.


MACAM-MACAM KUE/WADAI LAINNYA...

AMPARAN TATAK



WADAI LAPIS KAKAU



NANGKA SUSUN



PUTERI SALAT



PUTU MAYANG



SARI PANGANTIN




klo berkenan gan...

SUMBER

SUMBER
hymunk - 17/08/2011 12:51 PM
#272
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Perang Banjar Meletus Setelah Sultan Adam Mangkat

Sekitar 32 tahun memerintah
Sultan Adam mangkat ditahun 1857 Masehi
Penangkapan putra Sultan Adam oleh Belanda
Menandai pecahnya perang Banjar

SULTAN Adam Al Watsiq Billah dilantik sebagai raja di Kerajaan Banjar ditahun 1825 Masehi. Sedangkan puteranya, Pangeran Abdurahman dilantik menjadi raja muda dengan nama Sultan Abdurahman Muda. 32 tahun menjalankan roda pemerintahan di Kerajaan Banjar dimasa berkembang pesatnya Islam, Sultan Adam mangkat pda 13 Rabiul Awal 1274 Hijriyah dan dimakamkan di Martapura pada Ahad 14 Rabiul Awal 1274 Hijriyah atau 1 Nopember 1857 Masehi.

Dijunjung tinggi oleh zuriat Sultan Adam dan rakyat Banjar, adalah semangat perjuangan dalam mempertahankan kerajaan dan undang-undang sebagai pegangan atau landasan berpijak menentukan segala kebijakan, memegang teguh Islam, perkokoh persaudaraan, persatuan dalam menciptakan masyarakat agamis untuk kemajuan bangsa dan negara.

Mengenang Sultan Adam Al Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Rahmatullah, jalan tempat makam dinamakan Jalan Sultan Adam. Bahkan, sebuah perguruan tinggi di Banjarmasin berdiri dengan nama Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sultan Adam atau STIHSA.

Awan kelabu bergayut di Kerajaan Banjar setelah Sultan Adam mangkat. Belanda malah bertindak sewenang-wenang dengan menangkap putera Sultan Adam, Pangeran Prabu. Kondisi itu memicu zuriat kerajaan Banjar dan rakyat menjadi marah. Perang Banjar bergejolak dimana-mana dipimpin Sultan Hidayatullah bin Sultan Abdurahman Muda, perlawanan terhadap Belanda didukung Mangkubumi, Pangeran Antasari dan Demang Lehman. Lalu, muncul pula perlawanan ditempat lain yang dikomando Ki Saat Rata dari Banjar, H Buyasin (Tanah Laut), Antaluddin dan Neneng Fatimah (Hulu Sungai Selatan), Datu Aling, Tagap Kandi, Tagap Damun (Tapin), Abdul Jalil Dinding Raja (Hulu Sungai Tengah), Panglima Rasyid (Hulu Sungai Utara), Tumenggung Gamar Batu Mandi dan Kelua Tabalong), Surapati (Barito, Kalteng) dan sebagainya.

Perang Banjar berlangsung selama 48 tahun yang berakhir 5 Otkober 1905. Namun, perjuangan dan semangat Sultan Adam tetap tumbuh di hati pejuang dan pengikutnya. Pengganti Sultan Adam adalah Sultan Abdurahman Muda.

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15281
hymunk - 18/08/2011 12:51 PM
#273
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Keturunan Sultan Sulaiman dan Memiliki 22 Saudara

SULTAN Suriansyah merupakan tonggak sejarah berdirinya Kerajaan Banjar di zaman masuknya Agama Islam di Kalimantan Selatan. Sultan Adam Al Watsiq Billah menjadi penutup kejayaan, walaupun masih ada penerusnya.


Menarik sekilas benang merah dari cerita simpang siur mengenai sejarah kerajaan Banjar dan penerus-penerus generasinya, tulisan ini yang dikutip dari buku karangan Abu Daudi (Syekh HM Irsyad Zein) dan penelusuran beberapa narasumber maupun fakta di lapangan, semoga bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang gambaran kebesaran Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam yang menyertai. Termasuk silsilah Sultan Adam.

Terbentuknya Kota Banjarmasin dan kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan, hingga dikenalnya Kota Martapura sebagai Serambi Mekkah, tentu tak bisa dilepaskan dengan sejarah masa lalu. Sejarah pula tidak akan melupakan dan tercatat adanya Kerajaan Banjar.
Sultan Adam adalah putera tertua Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah bin bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidillah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah atau Pangeran Samudera.

Saudara seibu sebapak dari Sultan Adam, ada lima orang dan saudara sebapak sebanyak 17 orang. Sehingga, Sultan Adam mempunyai 22 saudara. Artinya, anak Sultan Sulaiman berjumlah 23 orang sesuai tertera di kubah Sultan Sulaiman di Desa Lihung Kecamatan Karang Intan, dan catatan Abu Daudi.

Lima orang saudara seibu sebapak dengan Sultan Adam, ialah Pangeran Husin Mangkubumi Nata, Ratu Haji Musa, Pangeran Perbata Sari, Pangeran Hashir dan Pangeran Sungging Anom. Saudara sebapa, yakni Pangeran Berahim atau Kesuma Wijaya, Pangeran Ahmid, Pangeran Hamim, Pangeran Singasari (zuriat Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh), Pangeran Dipati, Pangeran Ahmad, Pangeran Wahid, Pangeran Thosin, Pangeran Tahmid, Pangeran Muhammad , Ratu Marta, Pangeran Kusairi, Ratu Salamah, Pangeran Hasan, Gusti Umi, Ratu Mashud dan Ratu Karta Sari.

Sultan Adam memiliki lima orang istri dan sebelas anak. Istri pertama Nyai Ratu Kumala Sari menurunkan Ratu Serip Husin Darmakesuma, Ratu Serip Kesuma Negara, Sultan Abdurahman, Ratu Serip Abdullah Natakesuma, Pangeran Asmail, Pangeran Nuh Ratu Anom Mangkubumi Kencana, Pangeran Parabu Anom,. Istri kedua Nyai Endah melahirkan Pangeran Surya Mataram. Istri ketiga adalah Nyai Peah punya anak bernama Ratu Jantera Kesuma, Istri keempat Nyai Peles berputera Pangeran Surya Nasaruddin. Istri kelima Nyai Saamah mempunyai anak Ratu Ijah.

sumber : http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15335
hymunk - 22/08/2011 01:04 PM
#274
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Martapura Dibumi Hanguskan, Sultan Hidayat Ditangkap Belanda

Perang Banjar yang dipimpin Sultan Hidayatullah
Membuat Belanda gusar. Sultan pun tertangkap karena akal licik Belanda
Perlawananan dilanjutkan Demang Lehman dan Pangeran Antasari.

SETELAH Sultan Adam mangkat, posisi raja digantikan Sultan Abdurahman Muda. Namun, dilain waktu putra Sultan Adam yakni Pangeran Prabu ditangkap Belanda hingga meletuslah perang Banjar diberbagai tempat dengan pimpinan Sultan Hidayatullah atau Sultan Hidayat bin Sultan Abdurahman Muda bin Sultan Adam. Belanda mengajak berunding tapi gagal. Belanda berusaha menangkap Sultan Hidayat dan akan membuang ke tanah Jawa.

Ketika ditahun 1862 Masehi Sultan hendak dibawa, Panglima Demang Lehman dapat menggagalkan dan melarikannya. Belanda sangata marah dan mengepung Kota Martapura, bahkan membumi hanguskan mulai kampung Pasayangan sampai Kertak Baru. Turut pula istana ludes terbakar Kerajaan Banjar.

Tipu muslihat Belanda adalah membuat surat palsu yang menyatakan ibunda Sultan Hidayat, Ratu Siti sakit dan ingin bertemu. Di perjalanan, Sultan diadang dan Sultan tertangkap 28 Pebruari 1862 Masehi. Tanggal 3 Maret 1862 Masehi dibawa ke Pulau Jawa sekeluarga dan diasingkan di Cianjur Jawa Barat hingga wafat.

Panglima Demang Lehman meneruskan perjuangan terhadap Belanda. Namun, dibulan Januari 1864 Masehi, ia tertangkap dan dihukum gantung di pohon Beringin di Martapura pada 27 Pebruari 1864 Masehi. Lalu, Belanda yang telah menangkap Sultan Hidayat mengumumkan hapusnya Kerajaan Banjar.

Perlawanan berikutnya diteruskan oleh Pangeran Antasari beserta pengikut dan sejumlah penerus generasi Sultan Adam. Pangeran Antasari pantang menyerah dengan semangat semboyan haram manyarah, berjuang bersama Gusti Madseman, Gusti Arsyad, Ratu Zalecha dan lain-lain. Mereka ini dianggap Belanda pemberontak dan perampok. Sejarah dan silsilah sengaja dikelirukan, benda peninggalan Kerajaan Banjar diangkut ke Jakarta dan Musium Negeri Belanda.

Pangeran Antasari bin Pangeran Mas’ud bin Pangeran Amir bin Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Kuning bin Sultan Tahliullah (Amirullah Bagus Kasuma), yang dilahirkan 1809 Masehi di Kayu Tangi Martapura dan wafat 11 Oktober 1862 Masehi. Ia dimakamkan di Kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin dengan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional

http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15392
hymunk - 22/08/2011 01:07 PM
#275
Napaktilas Pejuang Dibalik Perkembangan Islam dan Nama Besar Kerajaan Banjar
Pangeran Khairul Saleh Mengangkat Batang Terendam

Kerajaan Banjar telah lama redup
Sejak perang Banjar dan diobrak abrik Belanda
Kini, budaya Banjar mulai bangkit untuk dilestarikan
Ditandai penobatan Khairul Saleh sebagai Raja Muda
Setelah 100 tahun lebih timbul tenggelam

PERANG Banjar sangat dipengaruhi pula dengan campur tangan Belanda yang mengadu domba dan dipenuhi akal licik maupun propaganda. Ditahun 1857 Masehi Sultan Abdurahman Muda menggantikan Sultan Adam Al Watsiq Billah. Kesehatan yang menurun, Sultan juga mangkat dan dimakamkan di Jl Makam Martapura.

Sebelumnya, Sultan Abdurahman Muda kawin dengan Nyai Aminah, melahirkan Pangeran Tamjid. Mengawini lagi Ratu Siti, lahirlah Pangeran Hidayat. Sultan Adam dimasa hidup, menghendaki dan berwasiat supaya menggantikan nanti adalah Pangeran Hidayat sebagai raja muda dan Parabu Anom menjadi Mangkubumi. Keputusan itu ditentang Belanda dan mengangkat Pangeran Tamjid selaku raja di Kerajaan Banjar. Perang terhadap Belanda tak terelakkan, digerakkan Sultan Hidayatullah, Demang Lehman, Pangeran Antasari dan lain-lain.

Lama tidak terdengar maka tercetuslah ide untuk mengangkat budaya Banjar dan melestarikannya. Sehingga terbentuklah Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB) yang dipelopori Bupati Banjar H Gt Khairul Saleh. Ibarat mengangkat batang terendam, Khairul Saleh berusaha membangkitkan nilai-nilai budaya Banjar, dengan menghilangkan kesan feodal dan asal zuriat dari Kerajaan Banjar.

Minggu (12/12/2010) menjadi tonggak sejarah Kesultanan Banjar dan dinobatkannya Pangeran Khairul Saleh sebagai Raja Muda. Lalu, dianugerahkan pula beberapa zuriat dan tkh masyarakat gelar pangeran dan cendekia berikut KH Anang Djazouly Seman sebagai Mufti Besar di Kesultanan Banjar. Khairul Saleh merupakan Bupati Banjar dua periode, yang dilahirkan di Tabalong pada 5 Januari 1964 Beristri Dra Hj Raudatul Jannah MSi dan dua anak yaitu Gt Dhia Hidayat dan Gt Dhia Karima.

Khairul Saleh masih ada zuriat dengan Sultan Sulaiman Rahmatulah. Yakni, Pangeran Khairul Saleh bin Pangeran Jumri bin Gusti Umar bin Pangeran Abu Bakar bin Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman Rahmatullah. Pangeran Abu Bakar anak bungsu Pangeran Singasari, yang kawin dengan Putri Bagus. Anak Pangeran Singasari atau saudara Pangeran Abu Bakar, terdiri Pangeran Muhamad Amin (makam di Tabalong), Putri Amitah, Putri Salamah, Putri Anjung ((Tabalong), Muhamad Jidi (Kotabaru), Putri Habibah ((Mekkah), lalu Pangeran Abu Bakar ((Marindi, Tabalong) sebagai anak terakhir. Putri Habibah bersuami Gt Mustafa anak Pangeran Muhamad Taib bin Syekh Nafis Al Banjari)
“Pangeran Singasari berbagi wilayah kekuasaan dengan Sultan Adam.

Pangeran Singasari untuk banua lima, Sultan Adam di Martapura dan di Banjarmasin adalah Pangeran Ahmid yang merupakan zuriat Gusti Hasan Aman,” kata Khairul Saleh.

http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/46/15448
hymunk - 22/08/2011 10:34 PM
#276
Download Kamus Bahasa Banjar
Melalui halaman ini, Anda dapat mengunduh (download) Kamus Bahasa Banjar yang ada pada media ini. Kosa kata yang terdapat pada format onine dan e-Book Kamus Bahasa Banjar adalah sama. E-Book Kamus Bahasa Banjar yang tersedia di sini adalah edisi I (pertama) dan terus akan disesuaikan jika ada perubahan.

Saat ini yang tersedia adalah format Kamus Bahasa Banjar yang ditermahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sementara format Kamus Bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Banjar masih belum tersedia.

Kamus Bahasa Banjar yang tersedia adalah dalam format PDF (normal dan terkompresi). Silakan klik salah salah satu yang sesuai dengan keinginan Anda.



Download Kamus Bahasa Banjar (ZIP)
(terkompresi .zip)




Download Kamus Bahasa Banjar (PDF)
(tanpa kompresi)


sumber ;
http://bahasabanjar.net/kamus/download.html
hymunk - 23/08/2011 11:16 AM
#277
Kai Arsyad Juara Dua Lari 5.000 Meter


Meski usianya tidaklah muda lagi, M Arsyad masih mampu berprestasi di kejuaraan Nasional Atletik Master Indonesia 2011 di Stadion Manahan Solo dari cabang olahraga lari yang dicintainya sejak kecil.

Kai Arsyad dirinya disapa, usianya sudah 72 tahun. Dua pekan yang lalu, tepatnya 16-18 Juni, Kai Arsyad mengikuti kejurnas itu.



Meski harus berangkat dengan biaya sendiri, karena kecintaannya dengan olahraga lari. M Arsyad mampu meraih juara dua katagori lari 5000 meter.

Suatu prestasi yang membanggakan bagi dirinya yang sudah berusia senja. Pria kelahiran 13 Maret 1939 itu mengaku menyukai olahraga lari semenjak kecil. Sewaktu sekolah dirinya hampir selalu berlari agar tidak terlambat sampai di Sekolah.

Sebelum berangkat ke sekolah, warga Antasan Kecil Timur itu mengatakan selalu mengantarkan kue pesanan orang. Setelahnya, dirinya baru pergi ke sekolah dengan berlari.

Dirinya pergi ke Solo dengan biaya sendiri membawa nama Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI) Kalsel. Dirinya harus bersaing dengan 29 pelari usia di atas 40 tahun dari berbagai daerah.

Jiwanya sebagai seorang pelari tangguh masih teruji dengan bukti dirinya masih mampu berlari tercepat dua dari 29 pelari lainnya.

Sebelumnya, segudang prestasi dari cabang lari sudah ditorehkannya. Saat metro berkunjung kerumahnya, Kamis (7/7) beberapa piala dan mendali diperlihatkannya.

Dari sekian banyak prestasinya, satu prestasi yang sampai sekarang menjadi kenangan dan kebanggaannya yakni juara dua lari atletik se Asia di Jakarta 1994 yakni lari 10 K dan 5000 meter.



"Saya akan terus berlari hingga kapan pun. Meski usia sudah tua, namun dengan berlari saya merasa sehat dan tidak ada gejala sakit," ucap babak 10 anak, 19 cucu itu.



sumber :
http://banjarmasin.tribunnews.com/
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1025105707979.2004610.1235366671
hymunk - 12/09/2011 12:23 PM
#278
Upacara Batasmiah (pemberian nama anak)
Kalimantan Selatan kaya akan tradisi masyarakatnya secara turun temurun. Tradisi yang dilaksanakan telah menjadi budaya pada setiap daerah dalam masyarakat tersebut. Apabila ada kegiatan oleh warga selalu berdasarkan tradisi yang berlaku pada masyarakat setempat, terutama yang berhubungan dengan keyakinan yang dipercayai. Hal ini terus dipertahankan oleh pendukungnya terutama para orang tua (sesepuh masyarakat).

upacara batasmiah (mengarani anak) mungkin saja ada perbedaan acara pada setiap daerah di Kalimantan Selatan menurut kebiasaan yang berlaku pada masyarakat setempat, namun substansi nilai-nilai budayanya tetap bertahan...

pembacaan syair maulid habsyi sebelum acara tasmiah..







Acara Tamiah dilakukan dengan duduk bersila di lantai beralaskan tikar atau permadani, pada saat 'Asrakal' yang berarti 'bulan penuh di atas kita'. bayi dibawa ke tengah acara untuk mendapatkan tampung tawar oleh hadirin yang berhadir..Tampung Tawar memecikkan Minyak Likat Baboreh yang berupa minyak kelapa yang dicampur dengan pewangi





Ditampung tawari wan padatuan mudah2an menjadi anak yang shalehah..




Pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an; biasanya qari, atau bisa juga tuan guru yang diminta. Dalam pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an ini anak dihadapkan oleh orang tuanya (bapaknya) kepada orang yang membaca Al-Qur’an tersebut untuk diperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Hal ini dimaksudkan bahwa kelak anak taat kepada tuhannya Allah, kepada Rasulnya, dan berbakti kepada kedua orang tuanya sebagaimana yang dianjurkan oleh Al Qur’an.




Acara pemberian nama oleh tuan guru dengan mengucapkan Bismillahirrahmannirrahim dan seterusnya sampai menyebutkan nama si fulan bin fulan yang kemuadian di jawab oleh jamaah yang hadir dengan ucapan yang baik untuk mendoakan anak tersebut.




Anak yang sudah diberi nama ini akan dibawa berkeliling oleh ayahnya untuk ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Tapung tawar diberikan oleh beberapa orang tua yang hadir di acara tersebut (terutama kakeknya) disertai doa-doa untuk si anak...



Setelah pemberian nama selesai diucapkan oleh tua guru, rambut si anak dipotong sedikit dengan gunting..





pada bibirnya diisapkan garam, madu atau gula merah, dan air kelapa. Ini dimaksudkan agar hidup si anak berguna bagi kehidupan manusia seperti sifat benda tersebut...
hymunk - 20/09/2011 11:04 AM
#279
Desa Walatung Kecamatan Pandawan, Sentra Pengrajin Kuliner Kolang Kaling
Barabai, Sentra Pengrajin kuliner kolang kaling berada di desa Walatung Kecamatan Pandawan, hampir setiap hari Ibu-ibu rumah tangga sibuk membersihkan, membakar dan mengupas Kolang-kaling.




Kolang-kaling (buah atap) adalah nama cemilan kenyal berbentuk lonjong dan berwarna putih transparan dan mempunyai rasa yang menyegarkan. Kolang kaling yang dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertjes ini, dibuat dari biji pohon aren (Arenga pinnata) yang berbentuk pipih dan bergetah.



Untuk membuat kolang-kaling, para pengusaha kolang kaling biasanya membakar buah aren sampai hangus, kemudian diambil bijinya untuk direbus selama beberapa jam. Biji yang sudah direbus tersebut kemudian direndam dengan larutan air kapur selama beberapa hari sehingga terfermentasikan. glibbertkjes ini sebetulnya hanya merupakan protein albumin yang dibutuhkan oleh benih pohon aren sebagai persediaan makanan.



Kepala Desa Walatung Salahudin menjelaskan warganya di walatung berjumlah 2.053 jiwa terdiri dari 512 Kepala Keluarga, berprofesi antara lain Petani sawah dan Karet, PNS/TNI/Polri, Pengrajin Purun dan Pengrajin Kuliner Kolang Kaling.

Menurutnya Pengrajin Sentra Kuliner yang terdiri dari 8 Kepala Keluarga yang rutin memproduksi kolang kaling dalam jumlah besar, satu Kepala Keluarga bisa memasak 3.5 pikul kolang kaling dua kali dalam seminggu sementara walaupun ada juga beberapa warga lainnya yang membakar kolang kaling secara musiman seperti saat Bulan Ramadahan permintaan meningkat.

Hasil Produksi kolang kaling katanya, akan langsung dibeli oleh Pengumpul yang suda ada di Walatung yaitu Pa Udin, atau pun kepada H Aluh di Barabai yang kemudian didistribusikan ke pengecer baik di Barabai bahkan keluar daerah seperti Banjarmasin, Palangkaraya dan Samarinda.


"Untuk pengiriman ke luar daerah biasanya dipilih bahan baku kolang kaling yang berumur lebih tua sehingga lebih awet dan tahan lama, kolang kaling digunakan untuk melengkapi kuliner seperti kolak kolang kaling, koktail, es campur atau buah, bahkan untuk obat herbal baik untuk diet, menyegarkan tubuh dan memperlancar metabolisme tubuh" katanya.














Sebelum dikupas, buah enau direndam dan direbus terlebih dahulu. Lama proses perebusan biasanya memakan waktu sekitar tiga jam. Ketika berubah warna, buah enau ditiriskan untuk kemudian dibelah, diambil dagingnya dan ditumbuk.

Proses selanjutnya adalah penjemuran yang dilakukan selama dua hari. Setelah kering dengan sempurna, kolang kaling dari buah enau itu siap dipasarkan. Dari satu tandan buah enau akan menghasilkan sekitar 10 Kg kolang kaling.

Pengrajin Kuliner Kolang kaling Sapnah mengatakan bahwa kesulitan para pengrajin adalah bahan baku buah aren yang cukup sulit karena jarak yang jauh atau didatangkan dari kecamatan-kecamatan lain, pertandan dibeli dengan harga Rp. 5.000,- ditambah biaya pengangkutan Rp. 100.000,- atau umumnya untuk modal masing-masing pengrajin bermodal awal Rp. 500.000,- untuk sekali pembakaran.

Untuk Pembakaran, katanya dibutuhkan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan kayu yang dibeli dari bangsaw terdekat dengan harga Rp. 150.000,- sekali angkut dengan taksi pedesaan, pengupasan isi dengan kulit menggunakan jasa puluhan para ibu-ibu dan anak-anak sekitar rumah dengan upah Rp. 250/Kilo.

Adapun untuk penjualan, katanya satu kilo kolang kaling dibeli pengumpul dengan harga Rp. 3.500,-/kilo dengan total keuntungan sekitar Rp. 500.000,- sekali pembakaran, dari penghasilan ini dirinya dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menyekolahkan anak-anaknya yang duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah setempat.

Begitu pun Pengrajin Kolang Kaling Samporna yang menekuninya sudah puluhan tahun menerangkan proses pembakaran kolang kaling yang dari Buah pohon aren (Arenga Pinnata) berlangsung tidak lama, namun memisahkan isi dengan kulitnya yang memakan waktu lama dan tenaga.

Untuk Permodalan, katanya untuk membeli tandan buah pohon aren kadang mendapat pinjaman dari pihak pengumpul dulu, dan pembayarannya dipotong dari penjualan kolang kaling. Dalam satu minggu keluarganya mampu mengirim kolang kaling ratusan kilogram keluar daerah.

"Produk kami dapat awet selama satu bulan, rasanya gurih dan juga sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan saluran pencernaan dengan syarat jangan terlalu banyak menggunakan gula"katanya.



Sementara itu Pemerhati Lingkungan Lingkar Hijau Murakata Masrifani mengatakan Buah pohon aren (Arenga Pinnata) ini ternyata tak Cuma menyegarkan karena mengandung banyak air, tetapi juga mengandung protein , karbohidrat,dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.

Ditambahkanya Kadar air kolang-kaling mencapai 93,8 setiap 100 gram juga mengandung 0,69 gram protein, 4 gram karbohidrat, serta serat 0,95 gram.Kandungan itulah yang membuat orang yang mengonsumsi kolang-kaling cepat merasa kenyang, nafsu makan pun menjadi menurun sehingga baik untuk mereka yang diet.

Untuk ketersedian buah Aren, katanya karunia alam HST yang terlihat dari masih banyaknya jumlah pohon aren yang produktif berbuah sehingga pengrajin tidak perlu keluar daerah untuk mencari bahan baku.

sumber :
http://asprajapress.blogspot.com/2011/06/khasiat-gurihnya-kolang-kaling-walatung.html
http://banjarmasin.tribunnews.com/read/artikel/2010/5/30/46014/
http://khasiatbuah.com/buah-kolang-kaling.htm
http://www.thejakartapost.com/news/2008/09/19/039kolangkaling039-fastbreaking-favorite.html
http://www.ceritamu.com/TahukahKamu/TahukahKamu/SOLUSI-DIET-DARI-KOLANG-KALING.aspx
http://trajukrakal.blogspot.com/2010/08/kolang-kaling-si-buah-tajil.html
http://kebunaren.blogspot.com/2011/08/kolang-kaling-rejeki-dari-buah-yang.html
hymunk - 20/09/2011 11:35 AM
#280
Desa Tapuk Kecamatan Limpasu, Sentra Pembuatan Harang Halaban
Tapuk, Sentra Pembuatan Harang Halaban yang terkenal karena kualitasnya yang tinggi dilakoni oleh Syarifuddin dan warga lainnya terletak di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah.



Menurut Kepala Desa Tapuk keberadaan sentra Pembuatan Harang Halaban sudah ada di desanya sejak tahun 1997, keterampilan warga didapat dari pelatihan yang diberikan oleh Instruktur dari Bati-Bati Pelaihari.

Diterangkannya Di desanya yang luasnya 3 km2 dan berpenduduk 1.274 jiwa terdiri dari 728 Kepala keluarga, mayoritas bermata pencaharian petani sawah dan karet sementara ada 18 orang pengrajin harang Halaban.

Harang Halaban sangat dibutuhkan untuk keperluan dapur, rumah makan dan industri kecil menengah antara lain untuk memanggang ikan, roti, sate, dan menyetrika baju.

Harang Halaban produk warga desa Tapuk sangat dikenal bahkan dijual sampai ke luar daerah, antara lain rantau, kandangan hingga Banjarmasin.

Sementara salah satu Pemilik sentra Harang Halaban Syarifudin mengungkapkan bahwa dirinya memiliki 6 buah tungku pembakaran harang halaban, yang berbentuk bundar dengan diameter 4 m mirip dengan rumahnya "Teletubies".



Ratusan Batang Halaban dimasukkan dalam tungku dan ditutup dengan batu bata dan dibakar hingga lima belas hari, tanda bahwa pembakaran telah sempurna adalah asap yang muncul dibelakang tungku berwarna hijau yang menandakan pembakaran hampir selesai.

Dan apabila telah muncul asap putih maka pembakaran dianggap telah selesai dan siap dibongkar, untuk proses dari proses awal dan akhir pembakaran dia memperkerjakan empat orang warga desa.

"Para Pelanggan Harang Halaban ini datang berkelompok atau pun sendiri untuk membeli atau pesanan yang dikirimkan langsung, pembayarannya bisa kontan ataupun kredit untuk jangka waktu yang tidak lama, pembeli kami cukup jeli dapat membedakan antara harang halaban asli dan bukan jadi kami senantiasa menjaga keaslian bahan baku"katanya.

Dijelaskannya keunggulan dari harang Halaban dibanding arang lainnya adalah untuk memanggang jadi lebih baik karena api akan menyala dari arang menyala rata dan sempurna, asapnya tidak berterbangan dan meningkatkan kualitas rasa makanan.

Dari satu tungku pembakaran biaya bahan baku kayu halaban yang didatangkan dari Tanjung, tenaga kerja, operasional hingga pengangkutan modalnya sekitar Rp. 1.700.000,- dan biaya pendapatan kotor Rp. 2.500.000,- atau selisih laba Rp.800.000,- jadi pendapatan untuk 6 tungku sekitar Rp. 4.800.000,-.

Pembakaran dalam satu tungku dilakukan 2 kali dalam sebulan, keuntungan dari harang Halaban digunakannya untuk keperluan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya dari SMA hingga Perguruan tinggi.

Ditambahkannya untuk saat ini para pengrajin harang Halaban mengalami kesulitan dalam bahan baku dan permodalan, dahulu pernah ada bantuan kredit dari Bank Mandiri namun karena terjadi musim hujan berkepanjangan sehingga pengrajin tidak dapat berproduksi hingga merugi akibatnya kredit pun macet pembayarannya.

Saat ini Syarifudin dan pengrajin harang Halaban lainnya memang masih memerlukan bantuan permodalan dari pihak yang berkompeten, permodalan yang didapatkan sangat penting untuk menunjang ketersedian bahan baku yang didatangkan dan untuk operasional, pembinaan dan pengawasan permodalan secara efektif akan mendorong peningkatan kesejahteraan pengrajin setempat.

Keterangan Gambar :

Tempat Sentra Pembuatan Harang Halaban yang terkenal karena kualitasnya yang tinggi dilakoni oleh Syarifuddin dan warga lainnya terletak di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Tapuk, Sentra Pembuatan Harang Halaban yang terkenal karena kualitasnya yang tinggi dilakoni oleh Syarifuddin dan warga lainnya terletak di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Menurut Kepala Desa Tapuk keberadaan sentra Pembuatan Harang Halaban sudah ada di desanya sejak tahun 1997, keterampilan warga didapat dari pelatihan yang diberikan oleh Instruktur dari Bati-Bati Pelaihari.

Diterangkannya Di desanya yang luasnya 3 km2 dan berpenduduk 1.274 jiwa terdiri dari 728 Kepala keluarga, mayoritas bermata pencaharian petani sawah dan karet sementara ada 18 orang pengrajin harang Halaban.

Harang Halaban sangat dibutuhkan untuk keperluan dapur, rumah makan dan industri kecil menengah antara lain untuk memanggang ikan, roti, sate, dan menyetrika baju.

Harang Halaban produk warga desa Tapuk sangat dikenal bahkan dijual sampai ke luar daerah, antara lain rantau, kandangan hingga Banjarmasin.

Sementara salah satu Pemilik sentra Harang Halaban Syarifudin mengungkapkan bahwa dirinya memiliki 6 buah tungku pembakaran harang halaban, yang berbentuk bundar dengan diameter 4 m mirip dengan rumahnya "Teletubies".

Ratusan Batang Halaban dimasukkan dalam tungku dan ditutup dengan batu bata dan dibakar hingga lima belas hari, tanda bahwa pembakaran telah sempurna adalah asap yang muncul dibelakang tungku berwarna hijau yang menandakan pembakaran hampir selesai.

Dan apabila telah muncul asap putih maka pembakaran dianggap telah selesai dan siap dibongkar, untuk proses dari proses awal dan akhir pembakaran dia memperkerjakan empat orang warga desa.

"Para Pelanggan Harang Halaban ini datang berkelompok atau pun sendiri untuk membeli atau pesanan yang dikirimkan langsung, pembayarannya bisa kontan ataupun kredit untuk jangka waktu yang tidak lama, pembeli kami cukup jeli dapat membedakan antara harang halaban asli dan bukan jadi kami senantiasa menjaga keaslian bahan baku"katanya.

Dijelaskannya keunggulan dari harang Halaban dibanding arang lainnya adalah untuk memanggang jadi lebih baik karena api akan menyala dari arang menyala rata dan sempurna, asapnya tidak berterbangan dan meningkatkan kualitas rasa makanan.

Dari satu tungku pembakaran biaya bahan baku kayu halaban yang didatangkan dari Tanjung, tenaga kerja, operasional hingga pengangkutan modalnya sekitar Rp. 1.700.000,- dan biaya pendapatan kotor Rp. 2.500.000,- atau selisih laba Rp.800.000,- jadi pendapatan untuk 6 tungku sekitar Rp. 4.800.000,-.

Pembakaran dalam satu tungku dilakukan 2 kali dalam sebulan, keuntungan dari harang Halaban digunakannya untuk keperluan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya dari SMA hingga Perguruan tinggi.

Ditambahkannya untuk saat ini para pengrajin harang Halaban mengalami kesulitan dalam bahan baku dan permodalan, dahulu pernah ada bantuan kredit dari Bank Mandiri namun karena terjadi musim hujan berkepanjangan sehingga pengrajin tidak dapat berproduksi hingga merugi akibatnya kredit pun macet pembayarannya.

Saat ini Syarifudin dan pengrajin harang Halaban lainnya memang masih memerlukan bantuan permodalan dari pihak yang berkompeten, permodalan yang didapatkan sangat penting untuk menunjang ketersedian bahan baku yang didatangkan dan untuk operasional, pembinaan dan pengawasan permodalan secara efektif akan mendorong peningkatan kesejahteraan pengrajin setempat.

Pembuatan harang halaban –diambil dari nama pohon yang jadi bahan arang, red– sudah dikenal memiliki kualitas tinggi, bara yang dihasilkan dari arang itu sempurna dan merata. Hebatnya, asapnya tidak banyak beterbangan, dijamin kualitas dari makanan yang dipanggang tidak berubah. Kualitas produk inilah yang membuat arang itu sangat laku dan sudah disuplai ke luar kota.

Cara unik pembuatannya juga patut diperhatikan, tungku pembakaran harang halaban mirip gua bundar dengan diameter khusus. Para perajin harang tradisional bisa mendeteksi, ketika kepulan asap putih keluar dari gua, pengrajin mengetahui jika proses pembakaran harang halaban itu selesai. Tungku itu hanya berfungsi 2 kali sebulan.

Itu artinya, satu kali produksi, ratusan batang pohon halaban dengan berbagai diameter dimasukan kedalam tungku itu dan dikunci dengan batu bata, proses pembakarannya selama 15 hari, kesempurnaan produk jadi kunci utama pembuatan arang. Kualitas itu tetap dipertahankan hingga kini.


Keterangan Gambar :

Tempat Sentra Pembuatan Harang Halaban yang terkenal karena kualitasnya yang tinggi dilakoni oleh Syarifuddin dan warga lainnya terletak di Desa Tapuk Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah

sumber :
http://www.hulusungaitengahkab.go.id
http://asprajapress.blogspot.com/2011/06/manfaat-hitamnya-harang-halaban.html
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/43/12088
Page 14 of 15 | ‹ First  < 9 10 11 12 13 14 15 > 
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan