Kalimantan Selatan
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan
Total Views: 72819
Page 15 of 15 | ‹ First  < 10 11 12 13 14 15

shiviet - 06/10/2011 03:11 PM
#281
Hadupan
Quote:
:addfriends mudahan aja kada repost nah,sakadar bebagi info wan kwanan di banjar :addfriends



Spoiler for hadupan


Quote:
Hadupan/Hidupan/Adupan atawa Kunyuk/Kuyuk atawa Duyu atawa Kutang adalah mamalia karnivora nang hudah ma'alami domestikasi matan sarigala tumatan 15.000 tahun nang halam atawa mungkin hudah tumatan 100.000 tahun nang halam bapandalakan bukti génétik barupa panamuan fosil dan tés DNA. Penelitian lain mengungkap sajarah doméstikasi hadupan nang luman damintu lawas. Dalam bahasa Banjar ngaran lain hadupan disambat jua Duyu (lugat Balangan) dan Kutang (lugat Kandangan). Disambat jua asu dalam bahasa Jawa dan bahasa-bahasa Dayak (Ngaju, Bakumpai).


Quote:
Hadupan sudah barkambang manjadi ratusan ras lawan babagai macam variasi, mulai matan hadupan tingkau awak babarapa puluh cm kaya Chihuahua hingga Irish Wolfhound nang tingginya labih matan satu mitir. Warna bulu hadupan kawa baragam, mulai matan putih sampai hirang, jua habang, habuk (rancak disambat "biru"), dan suklat. Salain itu, hadupan baisi babagai janis bulu, mulai matan nang bangat handap smpai nang panjangnya kawa mancapai babarapa séntimitir. Bulu hadupan kawa kujur atawa kariting, dan batékstur kasar sampai lambut nangkaya banang wol.


sumber
hymunk - 12/10/2011 12:49 PM
#282
Pakaian Kebesaran Pangeran Antasari
Spoiler for pakaian kebesaran pangeran antasari


Satu set pakaian ini masih tersimpan rapi di rumah Nini Hindun (keturunan ke-3, dari Gt. M. Arsyad bin Gt. Matsaid bin P. Antasari)

Ibu Hajjah Gusti Hindun. Beliau adalah cicit langsung oleh pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Kalimantan Selatan, Pangeran Antasari.

Sebagaimana tradisi dalam lingkup aristokrat Banjar, gelar 'gusti' diperoleh karena faktor keturunan dari ayahnda beliau, yakni Gusti Muhammad Arsyad bin Panembahan Muhammad Said bin Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Antasari. Gusti Hindun adalah salah satu puteri Gusti Muhammad Arsyad dari salah satu isteri beliau yang seorang perempuan bangsawan Banjar juga.

sumber :
http://suluhbanjar.blogspot.com/2011/09/ratu-zaleha-srikandi-gagah-berani-dalam.html
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1679774388399&set=t.1505903375&type=3
hymunk - 19/10/2011 01:50 PM
#283
Tradisi Bedandang, Bermain Layangan Ukuran Besar di Kalimantan Selatan
Langit Kota Rantau dipenuhi ratusan layang-layang dandang yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Selatan. Para penggemar dandang tersebut berkumpul dan main layang-layang dandang (bedandang-red) yang digelar di pematang sawah.

Spoiler for Badandang


Lokasi yang dipilih adalah pematang sawah, yang sudah usai masa panen. Semakin luas areal pematang sawahnya semakin bagus.“Bedandang ini bertujuan untuk mengumpulkan para pecinta dandang yang datang dari berbagai kalangan dan usia dari Tapin dan HSS. Soalnya bedandang ini hanya ada di 2 kabupaten itu saja di Kalimantan Selatan, yang sudah diwariskan turun-temurun oleh para orang tua kita dulu dan kita lestarikan hingga saat ini,”.

Spoiler for Badandang



Tidak hanya itu saja, kegiatan ini sekaligus untuk menjalin talisilaturahmi diantara para pecinta dandang dari dua kabupaten untuk berkumpul dan main layang-layang dandang di satu kawasan yang sama.

Main layang-layang dandang ini tidak bisa dilakukan seorang atau dua orang saja, soalnya layangan ini berukuran lebih besar dari layangan biasa. “Untuk ukuran kecil saja biasanya panjangnya mencapai 1,5 meter dan lebar 1 meter, sedangkan ukuran yang besar bisa mencapai 10 meter. Apalagi berat sebuah layangan dandang bisa mencapai 10 kilogram hingga 30 kilogram lebih dengan rangka badan yang terbuat dari kayu ulin dan diberi buntut yang panjang. Jadi untuk mengangkat dan memainkannya hingga mengudara dibutuhkan kerjasama dan gotong-royong dari semua pemain untuk bisa menaikkan layang-layang dandang tersebut. Itu letak seninya bermain layang-layang dandang,” .


Spoiler for Badandang




Apalagi kalau dandangnya sudah mengudara tinggi, ditambah bunyi dengungan yang nyaring, membuat pemain dandang merasakan kenikmatan tersendiri dari permainan yang sudah ada sejak zaman dulu ini, Sama halnya dengan dengungan yang terbuat dari batang bambu yang sudah berumur puluhan tahun yang dipasang di layang-layang dandang.

Spoiler for Badandang




Untuk membuat layang-layang ini dibutuhkan beberapa bahan seperti kayu ulin, kayu belangiran, plastik, tali nilon untuk mengikat, dan lem. Pertama-tama dibuat dulu rangka badannya menggunakan kayu ulin dan belangiran. Setelah itu barulah rangka badannya ditempeli dengan plastik. Karena ukurannya besar, terpaksa disambung dengan lem plastiknya. Setelah selesai dandang tadi diberi buntut dari sarung yang disambung atau spanduk sepanjang 5 meter hingga 7 meter,”. Setiap layang-layang yang dibuat diberi nama berbeda, ada yang dinamai Datu Pamulutan, Independen, dan lain sebagainya.


Spoiler for Badandang


Spoiler for Badandang


Untuk sebuah layang-layang yang besar bisa menghabiskan dana sebesar Rp800 ribu hingga lebih. Tali yang dipakainya adalah tali nilon berukuran 5 inci sebanyak 3 kilogram. Repot memang menaikkan layangan ini, tapi disitulah seninya bermain layang-layang dandang ini. Diperlukan kerjasama yang baik dan angin yang sangat kencang agar layang-layang bisa naik. Kalau anginnya tidak bertiup sangat kencang, layang-layang tidak bakal naik. Makanya kegiatan ini digelar di bekas pematang sawah yang sangat luas, karena angin bertiup sangat kencang.

Spoiler for Badandang


Selain memiliki ukuran yang sangat besar, layang-layang dandang juga memiliki satu keunikan yang tidak dimiliki layangan biasa. “Kalau layang-layang dandang, dia memiliki dengungan atau kumbangan yang dipasang di badannya. Untuk sebuah layang-layang dandang ada 2 buah dengungan. Dengungan inilah yang mengeluarkan bunyi mendengung saat layangan terbang tinggi di udara. Dan jangan heran, dengungan yang terbuat dari bambu ini sudah berumur 10 tahun lebih dan ada juga yang berumur lebih dari 30 tahun.

Spoiler for Badandang



Salah satu peserta yang bernama Dani menuturkan Dengungan ini merupakan warisan dari para orang tua mereka. Dan uniknya lagi dengungan ini tidak boleh disentuh apalagi sampai dipegang oleh perempuan yang sedang haid, pamali kata orang. “Dulu pernah ada kisah dari orang tua kami, ada seorang perempuan yang sedang haid memegang dengungan ini eh saat layangan dinaikkan, dengungannya tidak berbunyi lagi, padahal dengungan itulah yang menjadi ciri khas dari layang-layang dandang tersebut. Dan kamipun mematuhi larangan tersebut sampai sekarang dan tidak berani melanggarnya,” terang Dani.

Spoiler for Badandang



Disebutkan Dani, setelah usai menaikkan layang-layang dandang, dengungan pun dilepas dan disimpan di dalam wadah khusus yang dibuat dari kain. “Agar dengungan ini awet hingga berumur puluhan tahun, saat disimpan diberi merica agar tidak berbubuk.

Resep ini kami dapatkan dari para orang tua kami yang kami pakai hingga sekarang. Layang-layang dandang boleh berganti setiap tahunnya, tapi dengungannya tetap menggunakan warisan para orang tua kami. Kami ingin tetap melestarikan tradisi para orang tua kami hingga ke anak cucu kami nanti, soalnya kami bisa makin rakat mufakat satu-sama lainnya dengan layang-layang dandang ini. Kalau di kampung dandang ini bisa mengudara selama 2 hari dua malam dengan bunyi dengungannya yang khas,” kata Dani.

Spoiler for Badandang


Dan dari cerita peserta acara ini, pernah ada sepasang dengungan milik salah seorang peserta yang sudah berumur lebih dari 30 tahun ditawar ingin dibeli oleh seorang pengusaha batubara seharga Rp30 juta. Tapi oleh si empunya, dengungan tadi tidak dijualnya, karena itu merupakan warisan orang tuanya dan anak diwariskan ke anak cucunya kelak, yang tidak bisa dinilai dengan uang sekalipun.

sumber :
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/17706
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/58/17743
sumber foto : http://budayakandangan.blogspot.com/
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.230023543712940.53700.100001158877335&type=3
target="_blank"http://www.facebook.com/media
/set/?set=a.2389327341685.133231.1505903375&type=3

http://www.facebook.com/media/set/?set=a.1728801012502.2088727.1012750144&type=1
hymunk - 12/12/2011 10:26 AM
#284
Jukung Perahu Tradisional Banjar
Sungai merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Kondisi geografis wilayah Kalimantan Selatan memang sarat dengan aliran sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil. Sungai Barito yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan Selatan mempunyai dua anak sungai, yaitu Sungai Martapura dan Sungai Negara. Kedua anak sungai ini juga mempunyai banyak cabang sungai yang semuanya dapat dilayari. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai prasarana perhubungan dan pengangkutan yang sangat penting bagi penduduk di kawasan tersebut. Fakta di atas menggambarkan bahwa pelayaran merupakan bagian penting dari kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Banjar.

Spoiler for jukung perahu tradisional banjar


Spoiler for jukung perahu tradisional banjar


Pada dasarnya, perahu khas suku Banjar ini termasuk ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar minyak. Namun, hingga saat ini, sebagian dari bentuk atau jenis jukung telah mengalami perubahan menjadi kelotok atau perahu motor seiring perkembangan teknologi yang semakin modern. Bahkan, beberapa di antaranya telah hilang dari peredaran karena masyarakat beralih ke alat transportasi darat yang lebih cepat, efektif, dan efisien akibat perkembangan teknologi yang semakin canggih


Spoiler for jukung perahu tradisional banjar


Perahu Banjar memiliki bentuk dan jenis yang khas dan unik. Oleh karena itu, perahu ini menjadi salah satu identitas budaya suku Banjar di Kalimantan Selatan. Kehadiran perahu Banjar menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang ke Kalimantan Selatan. Perahu Banjar dengan berbagai bentuk dan jenisnya menjadi alat transportasi untuk melakukan transaksi jual-beli di Pasar Terapung Muara Kuin di Kota Banjarmasin. Dengan demikian, pasar tradisional sebagai tempat berkumpulnya perahu-perahu Banjar menjadi pemandangan yang sangat menarik dan memiliki nilai daya tarik wisata yang tinggi. Dengan memahami nilai-nilai yang terdapat pada perahu Banjar tersebut di atas, dapat diketahui bahwa suku Banjar di Kalimantan Selatan mempunyai banyak kearifan lokal dalam menyikapi kondisi alam di sekitar mereka. Oleh karena itu, tindakan nyata yang diperlukan sekarang adalah menjaga eksistensi perahu khas suku Banjar ini dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya


Spoiler for jukung perahu tradisional banjar


Sebagian besar dari bahan baku yang digunakan untuk membuat Perahu Banjar adalah kayu lokal yang diambil dari hutan-hutan di sepanjang aliran sungai besar di kawasan Kalimantan Selatan. Secara umum, bahan-bahan baku tersebut adalah sebagai berikut : 1. kayu ulin atau kayu besi 2. panaga atau kayu kapur naga 3. kayu lanan 4. kayu balangiran 5. kayu taras atau kayu taras jingah 6. kayu mada hirang 7. kayu pipil 8. kayu damar putih 9. kayu mahui 10. kayu rasak 11. kayu halaban 12. kayu bungur 13. kayu bulan.


Perahu Banjar terbagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu jukung sudur, jukung patai, dan parahu batampit.

Jukung sudur adalah perahu yang terbuat dari kayu bulat yang dibelah dua dan kemudian ditakik memanjang di tengahnya. Bentuknya seperti lesung yang memanjang. Ujung dan pangkalnya berbentuk lancip atau runcing.

Jukung patai adalah perahu yang terbuat dari kayu bulat. Ukuran dinding lambungnya dibuat agak tipis dan diberi sampung (kepala perahu), baik pada haluan maupun pada buritannya.

Parahu batambit adalah perahu yang terbuat dari susunan balok kayu dan papan tebal dari kayu ulin. Perahu ini umumnya jauh lebih besar ukurannya dari jukung sudur dan jukung patai

Jukung Sudur (rangkaan)

Jukung Sudur Biasa
Jukung Sudur Bakapih
Jukung Sudur Anak Ripang

Jukung Patai

Jukung Biasa
Jukung Hawaian
Jukung Kuin
Jukung Pelanjan
Jukung Ripang Hatap
Jukung Pemadang

Jukung Batambit

Jukung Tambangan
Jukung Babanciran
Jukung Undaan
Jukung Parahan
Jukung Gundul
Jukung Pandan Liris
Jukung Tiung
hymunk - 12/12/2011 10:32 AM
#285
Buah Tanaman Ulin
Buah Tanaman Ulin

Pada umur 20 tahun, pohon Ulin mulai berbuah,
dengan pertumbuhan digambarkan oleh diameter kurang lebih
20 cm dan tinggi total 15 m. Setiap pohon perpanen/musim
buah rata-rata dapat memproduksi 100 – 500 buah. Ukuran
benih Ulin bervariasi dengan panjang 5 – 15 cm dan diameter 3
– 5,9 cm dan berat per butir 45 – 360 gram.

Spoiler for Buah Tanaman Ulin


Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa. Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras

Spoiler for Buah Tanaman Ulin


Spoiler for Buah Tanaman Ulin
[center]


Pohon ulin berubah setiap tahun, pada bulan Juli – Oktober. Buah ulin berbentuk bulat lonjong dengan garis tengah 5 – 10 cm dan panjang 10 – 20 cm. Buah muda berwarna hijau dan menjadi coklat setelah masak. Daging buah akan lepas dari biji melalui proses pembusukan selama ±1-2 bulan. Biji berwarna putih gading dengan kulit biji yang keras setebal 1-2 mm


Spoiler for Buah Tanaman Ulin


sumber foto : http://www.asianplant.net/Lauraceae/Eusideroxylon_zwageri.htm


Spoiler for Buah Tanaman Ulin


minyak buah ulin merupakan ramuan traditional turun temurun yg sudah terkenal,
berguna untuk :

mencegah rambut putih
melebatkan rambut
menghitamkan rambut yg sudah putih
mencegah rambut rontok
hymunk - 12/12/2011 10:36 AM
#286
Al Qur’an kuno di Masjid Raya Amuntai
Al Qur’an kuno di Masjid Raya Amuntai

Al Qur’an kuno yang terbuat dari kulit kayu dengan tinggi satu setengah meter, lebar satu meter dan berat delapan puluh lima kilogram diperkirakan berumur lebih dari 100 tahun tersimpan dalam lemari kaca di tengah-tengah Masjid Raya Amuntai.

Gambaran sepintas tentang Qur’an super besar itu sampul depan terbuat dari kulit lembu dan isinya dengan tulisan tangan. Sebelumnya Kitab Suci umat Islam ini adalah kepunyaan kiai pondok pesantren di Bagil Jawa Timur. Al Qur’an itu sempat pindah beberapa tahun di Gresik dan oleh beberapa Habib dari Jakarta dibawa lagi ke kediaman Al Habib Muhammad Effendy Al Idrus di Yogyakarta yang dikenal dengan panggilan Habib Muh.

Spoiler for Al Qur'an Kuno
]


Berawal dari perjalanan Khairil Ikhsan, warga Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel yang berguru dengan Alhabib Muhammad Effendy Al Idrus, di Yogyakarta, warga asli Amuntai ini membawa pulang sebuah Quran kuno yang usianya sudah lebih dari 100 tahun.

Khairil berguru dengan Alhabib yang terkenal dengan sebutan Habib Muh di Yogyakarta tersebut sudah cukup lama. Suatu hari, Khairil berjalan ke sebuah Masjid di Solo, di masjid tersebut terdapat sebuah Quran yang menjadi perhatian publik.

Perjalananannya ke masjid tersebut diceritakannya kepada sang guru Habib Muh, begitu juga dengan sebuah Quran kuno yang di pajang di dalam masjid dan banyak pengunjung yang memperhatikannya.

Spoiler for Al Qur'an Kuno


Mendengar cerita sang murid, Habib Muh akhirnya mengungkapkan sebuah rahasia, kalau dirinya juga ada menyimpan sebuah Quran kuno dari peninggalan para kyai terdahulu.

Quran yang terbuat dari kulit kayu tersebut tingginya 1,5 meter, lebar 1 meter dan berat 85 Kg, sampul depan Quran tersebut terbuat dari kulit lembu dan isinya ditulis dengan tulisan tangan.

Diungkapkan Habib Muh, Quran tersebut didapatnya dari seorang kyai di Bangil, ia diminta untuk menyimpan Quran tersebut di rumahnya.

"Usianya lebih dari 100 tahun, Quran itu sudah beberapa kali berpindah tangan, dari tangan kyai yang satu dengan kyai yang lainnya, hingga sampai kepada saya," ungkap Habib Muh waktu itu kepada Khairil.

Mendengar penuturan sang guru, Khairil lantas tertarik untuk membawa Quran tersebut ke tanah kelahirannya di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Spoiler for Al Qur'an Kuno


Hal ini diungkapkannya kepada Habib Muh, dan Quran tersebut akan ditempatkannya di Masjid Raya Amuntai, dengan harapan banyak warga ataupun masyarakat menyaksikan Quran tersebut.

Setelah mendapat sinyal lampu hijau dari Habib Muh, Khairil langsung kembali ke kampung halamanannya di Amuntai, kepada Bupati HSU Aunul Hadi ia menceritakan keberadaan Quran tersebut.

Bupati yang mendengar cerita anak banua itupun tertarik, ia mengutus Khaladi, Kepala Bagian Kesra Pemkab HSU untuk menemui Habib Muh.

Setelah bertemu dengan Habib Muh dan menceritakan siapa yang berminat dengan Quran tersebut, Habib menyetujuinya untuk dibawa ke kabupaten HSU.
war1k - 05/02/2012 07:19 PM
#287
Prosesi "Baayun" Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433H di Banua Halat, Rantau


Prosesi "Baayun" pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun
Acara ini sudah menjadi agenda tahunan Pariwisata Kalimantan Selatan
peserta tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa (biasanya memenuhi nazar)
Peserta yang berpartisipasi tidak hanya dari daerah Rantau
Tapi juga dari daerah lain di Kalimantan Selatan, bahkan dari luar Kalimantan Selatan, bahkan lagi dari luar pulau Kalimantan

Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for baayun


Spoiler for kalo ini anak ane gan


Spoiler for Bupati dan keluarga juga ikut Baayun
hymunk - 17/02/2012 02:17 PM
#288
“Adat Babunga Tahun Manyanggar Banua” Desa Barikin Kab.Hulu Sungai Tengah
Desa Barikin, Haruyan, Kab.Hulu Sungai Tengah. Kalimantan Selatan..upacara “Adat Babunga Tahun Manyanggar Banua”.

Ketua panitia pelaksana Masdulhak menjelaskan tradisi manyanggar banua erat kaitannya dengan Sejarah Kesultanan Banjar, dari legenda Datu Taruna Kesatria yang disegani di Negara Dipa dimasa berkuasanya Pangeran Suryanata.

Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Datu Taruna adalah seorang pemandu atau pelatih karawitan di kerajaan Dipa karena terjadinya pergolakan dalam kerajaan dan tidak ingin ikut campur dalam perselisihan di istana beliau mengasingkan diri dengan membawa seperangkat gemalan dan perabot lainnya.
“Beliau pergi mengasingkan diri bersama saudara-saudaranya menyisiri sungai mulai dari Muara Bahan (Marabahan) dengan mengambil arah ke hulu sungai dan sampai membuka perkampungan yang diberi nama “Pamatang Kambat” yang sekarang dikenal dengan nama desa “Barikin”,katanya.

Di perkampungan Pamatang Kambat (Barikin) inilah Datu Taruna mewariskan budayan dan kesenian-kesenian dari kerajaan kepada keturunannya diantaranya menabuh gemalan, wayang, tari topeng serta adat kebiasaan beliau berada di kerajaan seperti mandi badudus untuk juriat dan
anak cucu beliau.

Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Datu taruna beramanat kepada anak cucu dan para juriat yang ada diperkampungan Pamatang Kambat supaya melanjutkan kebiasaan beliau untuk menjamu para petinggi dan sahabat beliau setahun sekali serta upacara selamatan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat dan juriat Datu Taruna, upacara tersebut dinamakan manyanggar banua atau disebut babunga tahun.

Bupati HST H Harun Nurasid dalam sambutannya mengungkapkan tradisi manyanggar banua perlu dilestarikan dan dapat dijadikan agenda wisata tahunan mengingat tradisi ini tak terlepas dari sejarah kesultanan Banjar yang perlu diketahui masyarakat luas utamanya oleh generasi muda demi lestarinya tradisi warisan leluhur.

“Tradisi manyanggar banua berkaitan dengan legenda Datu Taruna mengamanatkan pesan tentang pentingnya semangat kebersamaan dan gotong royong, semoga upacara manyanggar banua mendatangkan manfaat bagi kita semua serta membina silaturrahmi dengan Kesultanan Banjar yang turut mendukung terlaksananya manyanggar banua”,katanya.
Upacara adat manyanggar banua terdiri dari turun wadai (sesajen) yaitu mangundang penyerahan sasajen diiringi gemalan irama lagu ayakan miring, pembacaan do’a selamat, sesajen disusun di
ancak dan dibawa ketempat upacara.

Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Upacara selanjutnya bertempat di dekat sumur pesanggrahan Datu Taruna yaitu mengudang penyerahan sasajen diiringi gemalan irama lagu galaganjur, menggantung kepala kambing diiringi irama gemalan irama lagu senin dan setelah upacara sakral selesai gemalan berubah lagu dengan irama Lagu ayakan miring.

Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Upacara adat menjadi unik karena pengarakan sesajen dilakukan berjalan kaki oleh panitia pelaksana bersama Bupati HST H Harun Nurasid dan Raja Muda Kesultanan Pangeran Muda H Khairul Saleh, beberapa warga utamanya para ibu-ibu dan remaja putri kesurupan hingga menari-nari mengikuti irama gemalan, suasana tetap aman terkendali walaupun ada yang kesurupan
dan ratusan warga berdesak-desakan.



Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Spoiler for manyanggar banua babunga tahun


Spoiler for manyanggar banua babunga tahun




sumber :
http://kalsel.antaranews.com/berita/5307/hss-gelar-mayanggar-banua-
http://www.facebook.com/profile.php?id=1682821843
http://www.facebook.com/pages/Gerakan-Cinta-Barabai-Berseri-Bandung-Van-Borneo/134151233298003?sk=wal l#!/media/set/?set=a.309301952449596.68867.134151233298003&type=3
hymunk - 21/02/2012 09:39 AM
#289
Anang Abdul Hamidhan, Pejuang Pers di Kalsel
BERKAT politik etis, Pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan pribumi menerbitkan dagblad (suratkabar) berbahasa melayu. Maka pada 23 Maret 1930, terbit Dagblad Soeara Kalimantan. Langkah perdana Anang Abdul Hamidhan ini kemudian diikuti wartawan lainnya. Dalam tempo singkat, di Borneo Selatan pada kurun 1930-1942 terbit 14 koran/majalah.

Spoiler for Pers Kalsel


Suara Kalimantan Edisi 236, 16 Juni 1961, tahun terakhirnya



Ada yang hanya cetak stensilan, ada pula yang mampu terbit dengan kertas koran kualitas seadanya. Kebanyakan memang hanya seumur jagung. Satu dagblad mati, dagblad lain lahir. Ibarat, ”Lahir tidak berkokok, mati tidak berkutik,” tulis Artum Artha.
Ia menyimpan kisah ini dalam buku Wartawan-wartawan Kalimantan Raya, 1981. Ia adalah wartawan Kalimantan Berdjoang (1941-1951) dan Ketua PWI Banjarmasin (1961-1963).

Spoiler for Pers Kalsel


Tentu awak media mesti berhati-hati. Persdelict (ranjau pers) setia mengintai pekerjaan jurnalistik wartawan banua. Hamidhan sendiri kena tiga kali. Dua bulan penjara di Cipinang, 1930. Enam minggu penjara di Banjarmasin, 1933. Dan enam bulan penjara di Banjarmasin, 1936. Satu kali lagi pelanggaran, Soeara Kalimantan bakal kena persbreidel (pemberangusan).

Spoiler for Pers Kalsel


Selama mendekam dalam penjara, Soeara Kalimantan dipimpin oleh A.A. Rivai, adiknya. Dibawah pengawasan ketat Belanda, bukannya jatuh, surat kabar harian pribumi tertua di Banjarmasin ini justru melesat. Terbukti dengan lahirnya mingguan Soeara Iboe Kalimantan dan mingguan Soeara Hoeloe Soengai.

Lalu, siapa sebenarnya lelaki kelahiran Rantau, 25 Februari 1909 ini? Hamidhan adalah anak kedua Anang Atjil Kusuma Wiranegara, pendiri surat kabar Perasaan Kita, Samarinda, terbit tiap 15 hari sekali. Anang juga tercatat sebagai tokoh yang turut andil membesarkan Sarekat Islam di Kalimantan.

Di lantai tiga Gedung PWI Kalsel Jalan Pangeran Hidayatullah, di antara deretan foto ketua PWI Banjarmasin, paling awal adalah foto Anang, dibawahnya tertulis ”Perintis Pers Indonesia”. Anang adalah lulusan ELS (Europese Lagere School) Samarinda dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Batavia.

Bakat jurnalistik sang ayah menurun pada sang anak. Sejak kecil, majalah Suluh Pelajar dan surat kabar Neraca—keduanya dari Jawa—sudah menjadi santapan sehari-hari Hamidhan. Usai lulus ELS, tahun 1927, Hamidhan melamar ke surat kabar Bintang Timur di Batavia milik Parada Harahap. Parada sering dijuluki sebagai King of The Java Press.

Selama dua tahun bekerja dan berguru pada Parada, Hamidhan kembali ke Samarinda. Pasalnya, Perasaan Kita semakin maju dan ganti nama menjadi Bendahara Borneo, terbit mingguan.

Tapi bagi Hamidhan, Samarinda terlalu kecil untuk ambisinya. Tahun 1930, Anang mengizinkan Hamidhan pergi ke Banjarmasin beserta seperangkat alat percetakan. Inilah titik tolak Soeara Kalimantan.

Seiring karir, Hamidhan tidak melupakan kehidupan pribadinya. Pada tanggal 2 Februari 1942, ditengah suasana Banjarmasin yang harap-harap cemas dengan kedatangan Jepang, Hamidhan menikahi Siti Aisyah.
Gadis kelahiran 27 Mei 1917 ini pernah duduk di HIS (Holland Inlands School), lanjut ke MULO dan OSVO (Opleiding School Voor Vak Onderwijzeressen). Ia tercatat sebagai putri Kalimantan pertama yang berhasil sekolah sampai OSVO (sekarang setingkat SMK).

Mereka menikah pada 2 Februari 1942 ditengah suasana mencekamnya Banjarmasin menjelang dimasuki Jepang, 13 Februari 1942. Sebelum itu, AVC (Afweer en Vernielings Corps, Pasukan Pelawan dan Perusak Belanda) menjalankan bumi hangus. Malam 8 Februari 1942, Banjarmasin menjadi lautan api.

Pasar Baru, Ujung Murung, Pasar Sudimampir dan Pasar Lima dibakar. Penyimpanan bensin di Banua Anyar dan Bagau musnah. Seluruh kendataan militer dikumpulkan di Sungai Bilu untuk dirusak. Jembatan Coen, satu-satunya jembatan untuk menyeberangi Sungai Martapura diledakkan dengan dinamit. Dari ke semua itu, turut menjadi sasaran pembakaran adalah percetakan Soeara Kalimantan.

Setelah berusaha keras mereparasi mesin cetaknya, Hamidhan berhasil menerbitkan Kalimantan Raya. Sempat terbit berbulan-bulan di bawah penguasaan Rikugun (angkatan darat) Jepang. Sialnya, saat perpindahan kekuasaan kepada Kaigun (angkatan laut) Jepang, penerbitan dilarang.
Hamidhan—bersama wartawan lainnya—direkrut Jepang untuk menjalankan media propagandanya, Borneo Shimbun. Terbit pada tanggal 1 Mei 1942, awalnya Borneo Shimbun terbit dua edisi, edisi Banjarmasin dan Kandangan. Borneo Shimbun mengadopsi nama media massa kebanggaan Jepang, Asahi Shimbun.

Spoiler for Pers Kalsel


”Perbedaan antara surat kabar di zaman Belanda dan Jepang, pengurus redaksi elit ada di tangan wartawan Jepang. Media propaganda ini berada dibawah pengawasan ketat Borneo Menseibu Cokan,” jelas Tajuddin Noor Ganie, dosen Rumpun Sastra di STIKIP PGRI Banjarmasin, Kamis pagi (2/2). Kata macam ”merdeka” atau nama ”Bung Karno dan Bung Hatta” sudah pasti kena sensor.

Dari dua edisi Borneo Shimbun nomor 851 dan 324, Hamidhan memang masih tertera sebagai pimpinan redaksi. Tapi dibawah kuasa umum K. Watanabe dan K. Kato. Di edisi 851 ini, ”Pengangkatan Kepala Negara Indonesia Merdeka” tampil sebagai berita utama.

Gara-gara berita ”Pertukaran Perpindahan Militer Jepang dari Kotabaru ke Daerah Lain”, Hamidhan dipanggil. Dalam nota pasukan Fasis Kuning (julukan yang disematkan wartawan Kalsel pada Jepang) setempat, Hamidhan minta dipotong lehernya. Tapi berkat kebijakan redaksi Borneo Shimbun, Hamidhan selamat dari samurai Kempetai (polisi rahasia Jepang).

Beda halnya dengan nasib Andin Bur’ie, wartawan Borneo Shimbun edisi Balikpapan. Ia dibunuh di suatu tempat di kota Balikpapan oleh Kempetai cuma karena menulis perihal kedudukan Jepang dan sistem pemerintahannya. Andin tidak sendirian, masih ada wartawan R.R. Paat, Anumpotro dan lainnya.

Diantara utusan yang hadir pada rapat PPKI di Jakarta, hanya Hamidhan yang tetap dijalurnya sebagai jurnalis. Sedangkan peserta rapat lainnya, rata-rata menjadi gubernur di masing-masing daerah.
hymunk - 21/02/2012 09:40 AM
#290
Anang Abdul Hamidhan, Pejuang Pers di Kalsel
Berkat informasi dari Tajuddin, Radar Banjarmasin berkesempatan mengunjungi rumah bergaya lawas di Jalan S Parman No 3 RT 20, Kamis siang (2/2). Disinilah A.A. Hamidhan tinggal sampai tutup usia di tahun 1997. Meninggalkan tujuh anak dan sebelas cucu.
”Kakek meninggal ketika saya masih SMP. Sebagai remaja, saya belum tertarik dan banyak bertanya perihal karier kewartawanan kakek. Tapi saya tahu, kakek adalah tokoh wartawan Kalsel,” cerita seorang cucu Hamidhan dengan ramah.

Di beberapa bagian rumah, lapuk sudah mengoyak. ”Wah, kalau ditanya kapan saya tidak tahu. Yang pasti sebelum Indonesia merdeka, rumah ini sudah berdiri tegak,” kata Siti Fathimah, kelahiran Malang, 14 September 1950. Fatimah adalah anak keempat Hamidhan.

Dari Fatimah, Radar kemudian menuju kediaman Siti Fauziah di Jalan Kol Soegiono, No 48 samping Musalla Al-Hidayah. Fauziah yang kelahiran Solo, 11 Agustus 1946 adalah kakak Fatimah. Kepergian Hamidhan sekeluarga ke Jawa pada kurun 1945-1950 jelas bukan karena jalan-jalan, tapi mengungsi dari Jepang yang kalah dan rentan mengamuk.

Sepulang ke Banjarmasin, segera penerbitan diusahakan kembali. Tetap dengan nama yang sama tapi ejaan baru, Suara Kalimantan. ”Karena kantor di Jalan Pasar Baru sudah habis terbakar, ia kemudian pindah ke rumah keluarga di Jalan S. Parman itu,” ucap Fauziah, Sabtu pagi (11/2).
Disanalah aktivitas keredaksian dan percetakan Suara Kalimantan dijalankan. Keluarga Hamidhan turut menyingsingkan lengan baju untuk menggerakkan surat kabar harian yang terbit tiap petang hari ini.

Aisyah yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Prancis bertugas selaku penerjemah berita atau cerita berbahasa asing ke dalam bahasa melayu. ”Kebetulan bapak hanya menguasai bahasa Belanda,” kisahnya.

”Ibu adalah guru di Meisjes Vervolgschool, semacam SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Sekolah itu dulu ada di Komplek Mulawarman,” tambahnya.

Berkat profesi itu pula, ketika Hamidhan harus bolak-balik masuk penjara, ekonomi keluarga tidak terlalu terganggu. Gaji Aisyah pernah sampai 125 gulden. ”Sedang saya bertugas sebagai korektor halaman terakhir,” katanya.

Isinya berupa advertensi, obituari, resensi film dan hal-hal ringan lainnya. Suara Kalimantan punya empat halaman.
”Zaman itu masih serba manual. Tiap cetakan timah huruf disusun satu demi satu. Kalau ada huruf yang tertukar atau keliru, saya bertugas memperbaikinya,” kenang Fauziah.

Kala itu ia masih SD. ”Sedangkan kakak saya, Abdul Faridhan, bantu mengoperasikan mesin percetakan,” tambahnya.
Dari Fauziah pula Radar mendapat buku biografi Hamidhan, Pejuang dan Perintis Pers di Kalimantan, buah karya Soimun Hp. Terbit tahun 1986 oleh Depdikbud Jakarta.

Pada tahun 1961, Suara Kalimantan dijual. Hamidhan mengaku jenuh dan kecewa dengan jalannya politik pemerintah Indonesia yang dianggapnya semakin jauh melenceng dari semangat proklamasi. Ia juga melihat batas kebebasan pers yang kian mengabur.

Hamidhan adalah satu-satunya wakil dari Kalimantan dalam PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ia dipilih oleh Jepang pada awal bulan Agustus 1945. Sebelum berangkat ke Jakarta, guna menyerap aspirasi warga, Hamidhan mengadakan rapat bersama tokoh-tokoh dari Banjarmasin dan Kandangan.

Pada dini hari 17 Agustus 1945, Hamidhan bersama hadirin lainnya adalah saksi dari penandatanganan teks proklamasi oleh Dwitunggal. Esok paginya, di halaman rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, Hamidhan menyaksikan pembacaan proklamasi.

Otto Iskandardinata kemudian menggelar rapat kecil pada dini hari 19 Agustus. Semua anggota yang hadir menerima kala ditunjuk sebagai gubernur untuk provinsinya masing-masing, terkecuali Hamidhan.
”Saya tetap sebagai jurnalis, gubernur bukan bidang saya,” jawabnya kalem. Hamidhan kemudian mengusulkan Ir. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernur pertama Kalimantan (kala itu masih disebut Borneo).
”Pangeran Muhammad Noor masih di Bandung. Sebelum balik ke Banjarmasin, bapak mengantar surat penunjukan gubernur itu ke Bandung,” kenang Fauziah.

Usaha Hamidhan untuk menyiarkan berita proklamasi di Borneo Shimbun ditahan Jepang.
Atas usul sang atasan, Watanabe, Hamidhan memutuskan menahan diri dan mengungsi ke Jawa bersama keluarga tercinta. Tapi sebelum pergi, Hamidhan menitipkan koran-koran Jakarta yang sempat ia beli kepada teman-temannya, isinya perihal proklamasi.

”Tuan Hamidhan tahu, kami sekarang ini di pihak yang kalah dalam perang. Sebagai orang yang kalah kami bisa membabi buta,” ucap Watanabe.

Selagi Hamidhan masih di Jawa dalam pengungsian. Usai Jepang kalah dan proklamasi, membonceng pasukan Sekutu, Belanda kembali datang. Percetakan yang sebelumnya menerbitkan Borneo Shimbun diambil alih oleh Regeering Voorlichtings Dienst (Departemen Penerangan Belanda). Sebagai gantinya, terbitlah kembali Soeara Kalimantan.

Belanda sengaja memakai nama ini untuk menarik perhatian dan mengecoh masyarakat. Satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa ini bukan Soeara Kalimantan adalah gaya pemberitaan yang manut Belanda, beda sekali dengan gaya Hamidhan yang tidak tedeng aling-aling.
Usai Konferensi Meja Bunda (KMB) di Den Haag, 23 Agustus sampai 2 November 1949, Belanda angkat kaki. Koran ini kemudian pindah nama menjadi Indonesia Merdeka.

Setelah Suara Kalimantan dijual, Hamidhan ditawari oleh keponakannya, Fachrudin Mahoni untuk mengawasi dua hotel miliknya, Hotel Banyuwangi (Banyuwangi) dan Hotel Wisma Andhika (Surabaya). Satu atau dua bulan sekali Hamidhan balik ke Banjarmasin untuk menengok keluarganya. Pekerjaan ini berjalan sampai tahun 1975.

Hamidhan kemudian istirahat bersama keluarga di rumahnya di Jalan S. Parman itu. Sesekali untuk melepas gatal di tangan, Hamidhan mengirim artikel ke media lokal atau nasional.
Ditanya apa ada keturunan Hamidhan yang berkarier di jurnalistik, Fauziah tertawa. ”Tidak ada, seperti terputus. Ada yang jadi insinyur, apoteker, dokter...” katanya.
”Tapi ada satu cucu dari bungsu, ia pintar sekali mengarang. Kantor Berita Antara sempat mengajaknya bergabung, tapi ia tolak,” kejarnya.
Dari ketujuh anak Hamidhan, hanya tiga yang masih tinggal di Banjarmasin. Tokoh ini meninggal pada usia 88 tahun.

sumber :
http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2011/12/10/pasal-karet-dan-persdelict-di-borneo-selatan/
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/Radar%20Banua/23434
http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/Radar%20Banua/23448
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.110663728995575.12761.100001558449735&type=3
hymunk - 23/02/2012 10:26 AM
#291
Makan Batalam Bakipas Pangeran,Desa Bangkiling Kec Benua Lawas Kab Tabalong Kalsel
Peringatan Maulidurasulullah SAW yang dilaksanakan oleh warga Desa Bangkiling Kecamatan Banua Lawas ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pelaksanaan peringatan yang sama ditempat lain di Kabupaten Tabalong. Perbedaannya adalah penyajian hidangan makanan seusai pelaksanaan acara disuduhkan dengan menggunakan Talam (Baki/Nampan)

Spoiler for Makan Batalam Bakipas Pangeran


Talam atau nampan yang berisi lauk pauk tersebut terdiri dari atas masakan ayam dan bebek ditambah dengan kuah sup serta kecap dan lombok serta jeruk nipis.

Satu nampan/talam dihidangkan sekaligus untuk empat hingga enam orang. Hal ini karena masakan ayam dan bebek panggang/goreng dihidangkan setengah utuh tanpa dipotong-potong sedemikian rupa. Sehingga undangan yang hadir makan nasi dari piring yang berbeda secara bersama-sama dengan lauk dalam nampan tadi.

Spoiler for Makan Batalam Bakipas Pangeran


Lauk pauk dalam nampan yang dihidangkan bagi undangan yang hadir memenuhi Masjid Sabilal Muttaqin Desa Bangkiling Kecamatan Banua Lawas dibawa dari rumah-rumah penduduk menggunakan kelotok. Namun ada sebagian warga yang mengantar langsung ke lokasi acara

Spoiler for Makan Batalam Bakipas Pangeran


Penyajian makanan dalam Talam/Nampan tersebut merupakan tradisi warga sekitar disetiap peringatan Maulid Nabis Muhammad SAW. Dalam acara ini kental dengan nuansa "Gawi Sabumi" khususnya dalam penyiapan hidangan dalam Talam

Spoiler for Makan Batalam Bakipas Pangeran


Keunikan lain pada acara ini adalah ketika para undangan yang hadir sedang makan ada beberapa orang yang bertugas mengipasi selayaknya pangeran yang sedang bersantap makanan..sehingga ada istilah "Makan Batalam Bakipas Pangeran"

sumber :
http://epaper.banjarmasinpost.co.id/dok/BP20120223.swf
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=161090787339148&set=t.1505903375&type=3
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=303601006368910&set=a.144163162312696.32630.100001570407483&ty pe=1
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=303604423035235&set=a.144163162312696.32630.100001570407483&ty pe=1
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=304158016313209&set=a.304156032980074.77307.100001570407483&ty pe=1&ref=nf
hymunk - 05/03/2012 03:04 PM
#292
Pupur Dingin atau Pupur Basah
Dulu, pupur dingin atau pupur basah dipercaya orang sebagai satu-satunya kosmetik untuk mempercantik dan menghaluskan kulit muka. Kini, tak banyak orang yang menggunakannya. Boleh dikata keberadaan pupur dingin telah digantikan oleh kosmetik-kosmetik berbahan kimia. Meski demikian, mempertahankan tradisi warisan orang dahulu menjadi sebab orang-orang yang masih memproduksinya hingga sekarang. Seorang nenek yang tinggal di Jalan Sasaran No 14A RT 5 RW 2 Kelurahan Keraton Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar,

Hj Sebbah (73) menjalani hari-hari sebagai pembuat pupur dingin telah dilakoninya selama 40 tahun. “Bahalat dua talu hari haja kada maulah, rasa sakitan awak. (Selang dua atau tiga hari saja tidak membuat. Badan rasanya sakit),” ucapnya sambil mempraktekkan proses pembuatan pupur dingin kepada penulis.

Spoiler for pupur basah


Hajjah Sebbah Sedang Mempraktikan Membuat Pupur Dingin dirumahnya

Ada yang menyebutnya sebagai pupur dingin, pupur basah, dan pupur kuning. Ada pula juga yang menyebutnya dengan pupur baras. Alhasil, semua sama jenisnya. Yang membedakan hanyalah beberapa bahan pokok dan proses pembuatannya. Sedangkan Hj Sebbah membuatnya dengan beberapa campuran bahan yang biasa disebut dengan bumbunya. Misal: Pucuk ganti, Mangsoye, Bunga Sisir, Kayu manis, Adas manis, Kulambak, Kulabat, Ragi dan Pula Santan. “Terkadang ada juga yang bikin dengan campuran tanah liat, tapi aku tidak bisa,” katanya.

Awalnya untuk membuat pupur dingin tersebut beras yang sudah dihancur. Lalu direndam dua hari dua malam. Kemudian disaring. Setelah menjadi agak lembek seperti adonan kue, digiling berbentuk bulat-bulat kecil dan dijemur. “Menjemurnya juga tak boleh terlalu lama. Karena kan mudah hancur,” tuturnya.

Sekian lama ia menjalani profesi sebagai pembuat pupur dingin, banyak orang dari segala penjuru Nusantara yang memesan atau membeli langsung dengan datang kerumahnya. Diantaranya orang Martapura, Kotabaru, Samarinda, Sungai Danau, Ujung Pandang, hingga Arab Saudi. “Orang yang membeli bermacam-macam. Ada yang perbungkus, harganya dari 500 rupiah hingga 1000 rupiah, tergantung takaran. Ada juga yang beli sekalian 500 ribum” papar nenek.

Sehari kadang tak menentu. Ada saat laris manis, ada juga tak ada yang membeli sama sekali. Membuatnya juga tak ada batasan waktu tertentu, kalau lagi ingin, bisa pagi sekali, siang hari. Atau malam. “biasanya kita mmbutuhkan 5 liter beras. Selain tergantung situasi dan kondisi. Factor cuaca juga menentukan. Kalau msuim hujan datang, kita jarang sekali produksi karena tak bisa menjemur,” bebernya.

Selama ini ia sudah punya distributor di pasar, di rumah-rumah, atau di toko. “Terserah orang yang membeli maunya diapakan. Entah dipakai sendiri, dijual lagi, atau di gunakan sebagai obat. Tapi saya tidak pernah mau ada embel-embel namas di bungkusannya” jelas Hj Sebbah berkilah.

Pupur dingin tersebut tetap kuat untuk disimpan dalam jangka waktu yang lama. “Kalau untuk menyimpan sendiri tak pernah lebih dari 3 bulan. Karena kadang ada yang datanguntuk mengambil pesananya. mEski disimpan sendiri pun, setahun-dua tahun tidak apa. Tetap bagus.” Tegasnya.

Selain digunakan untuk mendinginkan kulit muka dan menghindari kotoran di wajah. Pupur Dingi ala Hj Sebbah ini tak sedikit yang memakainya untuk oleh-oleh bagi keluarga yang senang dengan pupur dingin. “Kadang juga dijadikan sebagai oleh-oleh. Juga biasa dipakai seagai pupur Galuh Banjar. Untuk menghadiri resepsi kimpoian pun saya hanya memakai pupur ini. Tak pernah yang lain,” ungkapnya.


Spoiler for pupur basah


Hj Sebbah yang lahir pada tahun 1940 ini, telah menjalani profesi sebagai pembuat pupur dingin sejak remaja sekitar tahun 1965.

Siapa sangka, barokah yang didapat nenek Sebbah. Hanya dengan menjual pupur dingin, ia sudah bias membeli rumah sendiri untuk tempat tinggalnya beserta anak dan beberapa cucunya. “Alhamdulillah ada bekatnya. Meski tidak bagus rumahnya, tapi cukup untuk tempat tinggal,” ngkap nenek. Diceritakan nenek, kalau rejekinya lagi bagus, 3 blek dalam sepekan, ada saja urang nang membeli pupurnya.

Dari hasil membuat dan menjual pupur dingin itu, ia mampu membeli rumah dan naik haji. Namun apalah daya, Hj Sebbah sudah tak lagi muda. Kemampuannya pun kini kian terbatas. “Karena terlalu capek, untuk menggiling dan membeli bahannya, saya beri upah orang yang mau menyaring dan untuk disuruh-suruh. Upahnya 3 irbu rupiah/liter. Jadi saya minta gilingkan dan sarin lima liter dengan upah 15 ribu. Sudah gak bias kelamaan duduk,” ujarnya. Ia berharap, semoga pekerjaannya ini tetap membawa barokah. Dan cukup untuk membiayai sendiri tanpa harus merepotkan anak-anaknya.

sumber : http://hirangputihhabang.wordpress.com/2012/01/23/sepenggal-kisah-pembuat-pupur-basah/
hymunk - 09/03/2012 07:36 AM
#293
Gamelan Banjar "Si Mangu Kacil" dan "Si Mangu Basar"
Spoiler for Si Mangu Kacil


Perangkat gamelan yang berada di Museum Nasional ini merupakan peninggalan asli dari Kerajaan Banjar . Gamelan ini dikenal dengan sebutan “ Si Mangu Kecil” yang artinya adalah gamelan betina, sedangkan gamelan jantan yang dikenal dengan sebutan ’’Si Mangu Besar’’ berada di Museum Propinsi Kalimantan Selatan.


Spoiler for Si Mangu Basar





Gamelan Banjar merupakan seni karawitan yang berkembang di kalangan Suku Banjar, Kalimantan Selatan. Berdasarkan naskah tutur candi yang menceritakan tentang sejarah Kerajaan Banjar khususnya dalam hikayat lambung mangkurat, disebutkan istilah gamelan. Berikut adalah kutipan dari naskah tutur candi yang menyebutkan istilah gamelan, ‘’…..ayu anakanda bermain-main, karena urang di dalam nagri ini tiada biasa malihat wayang dan tuping, maka panji itupun menyuruh tamannya memalu atau memukul gamelan, maka sakalian taman-tamannya pun masing-masing dengan pekerjaannya ada yang manggusuk rebab dan mamukul agung dan lain-lain, maka berbunyilah….’’

Tradisi gamelan mulai dikenal sejak masa kerajaan Dipa pada abad ke 14 masehi, yaitu ketika Pangeran Suryanata berkuasa. Kerajaan yang berpusat di daerah Amputai ini merupakan Kerajaan Hindu pertama yang berdiri di Kalimantan Selatan. Pangeran Suryanata memiliki nama asli Raden Putera, seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit yang dinikahkan dengan seorang putri Banjar yang bernama Putri Junjung Buih. Saat itu rakyat Kalimantan Selatan dianjurkan untuk mengikuti budaya Jawa, seperti gamelan, keris dan juga wayang. Gamelan Banjar kemudian berkembang di kalangan keraton dan rakyat jelata.

Setelah Kerajaan Dipa runtuh, muncul Kerajaan Negara Daha yang meneruskan tradisi Gamelan yang dimulai oleh kerajaan Dipa. Kemudian, pada tahun 1526, Kerajaan Daha juga runtuh. Namun, ada beberapa pemuka adat yang terus mengajarkan kesenian, yaitu Datu Taruna (pemain gamelan), Datu Taya (dalang wayang kulit), dan Datu Putih (penari topeng). Selanjutnya, berdiri Kerajaan Islam pertama di daerah Kalimantan Selatan, yaitu Kerajaan Banjar. Pada masa pemerintahan raja ketiga mereka, yaitu Pangeran Hidayatullah (1570-1595), para pemain gamelan di Kerajaan Banjar diperintahkan untuk belajar menabuh gamelan di Keraton Solo.

sumber : http://11ipa4labsky.blogspot.com/2011/09/museum-yang-merekam-sejarah.html
hymunk - 09/05/2012 08:31 AM
#294
Pangeran Hidayatullah
Disahkan menjadi Sulthan Banjar berdasarkan Surat Wasiat kakek beliau Sulthan Adam pada tanggal 12 Safar 1259 H/1855 M (de jure) dan dinobatkan oleh rakyatnya (de facto) dengan gelar 'Al Sulthan Hidayatullah Alwasikibillah'

Spoiler for Pangeran Hidayatullah



Pangeran Hidayatullah dikenal dengan julukan "Ulama Besar Berjubah Kuning serta mempunyai senjata ampuh" beliau memaknai pengasingannya dgn cr aktif berdakwah dan interaksi Islami dengan masyarakat Cianjur.


Spoiler for Pangeran Hidayatullah


Makam Pangeran Hidayatullah Al-watsiqubillah di "Pusara Bukit Joglo" di Kabupaten Cianjur. Jawa Barat

Spoiler for Pangeran Hidayatullah


replika Keris Abu Gagang yang merupakan peninggalan dari Sultan Adam..dan Surat Wasiat Sultan Adam..Stempel Pangeran Hidayatullah dan Stempel tanda tangan beliau

Spoiler for Pangeran Hidayatullah



Tanda Kehormatan 'Bintang Mahaputera Utama' yang dianugerahkan Presiden RI kepada Pangeran Hidayatullah, Tokoh Pejuang dari Propinsi Kalimantan Selatan

Spoiler for Pangeran Hidayatullah


Makam Pahlawan Nasional Pangeran Hidayatullah Al-watsiqubillah beliau wafat pada tanggal 2 November 1904 M dan dimakamkan di "Pusara Bukit Joglo" di Kabupaten Cianjur.

Spoiler for Pangeran Hidayatullah


Makam Ratu Siti, Ibunda Pangeran Hidayatullah
war1k - 03/07/2012 06:57 PM
#295
Sedikit Mengenal Alat-Alat Tradisional Kal-Sel
Spoiler for Tutujah


Spoiler for Kakait


Spoiler for Sarapang


Spoiler for Pengayuh


Spoiler for Tajak


Spoiler for Tanggui


Spoiler for Tampirai


Spoiler for Lukah


Spoiler for Sarakap


Spoiler for Sungkit


Spoiler for Butah


Spoiler for Tatukup


Spoiler for Kabam


Spoiler for Kuri-ing


Spoiler for Tanghitan


Spoiler for Asak



Spoiler for Tangguk
Page 15 of 15 | ‹ First  < 10 11 12 13 14 15
Home > Kaskuser Regional > INDONESIA > KALIMANTAN > Kalimantan Selatan > Informasi Umum Propinsi Kalimantan Selatan