Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > PANGERAN SAMBERNYAWA a.k.a Raden Mas SAID a.k.a MANGKUNEGARA
Total Views: 11036
Page 2 of 4 |  < 1 2 3 4 > 

makaribi - 21/10/2010 04:48 PM
#21
catatan hariansamber nyawa
Catatan Harian Samber Nyawa

Buku diari" itu disimpan di antara buku-buku kuno koleksi Rekso Poestoko, perpustakaan Mangkunegaran. Tebalnya 463 halaman, ditulis dengan huruf Jawa gagrak anyar. Semua hanya kertas fotokopi, dan kondisinya seperti kertas bekas yang tak terpakai. Fotokopiannya pun tak jelas, banyak warna hitam yang menutupi aksara Jawa baru itu. Tumpukan kertas itu dibundel hanya dengan tali rafia. Bahkan empat lembar pertamanya tercerai di luar bundelan. "Pusaka" itu diletakkan dalam sebuah kotak karton.

Itulah nasib catatan harian Mangkunegara I. Ditulis berbentuk tembang macapat dengan banyak pupuh. Ditulis ketika Pangeran Samber Nyawa berusia 53 tahun. Isinya menceritakan kehidupan dirinya sejak usia 16 tahun hingga 32 tahun ke depan. Catatan itu mendeskripsikan bagaimana awan hitam bergayut saat peperangan di Ponorogo, perasaan-perasaan Mangkunegoro I tatkala mengambil keputusan menyerang mertuanya sendiri. Tentang pengkhianatan Keraton Solo dan Yogya sampai perjanjian-perjanjiannya dengan Belanda.

Pihak pengelola Rekso Poestoko memberi bundel foto kopi itu nomor 753 atau B 29 A. KRNgtT Koestini Soemardi, pengageng Rekso Pustoko, mengatakan perpustakaan tak memiliki naskah yang asli. Yang asli tersimpan di perpustakaan Leiden KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde Oriental) dengan nomor penyimpanan 231, dengan judul Dagboek van KGPAA Mangkoenegoro I. Naskah itu berada di negeri itu karena pada 1930 di era Mangkunegara VII diberikan sebagai hadiah kepada Belanda.

Bisa disebut catatan harian itu merupakan sumber untuk mengetahui riwayat Mangkunegara I. Sosok Mangkunegara yang misterius, tidak pernah digambar sehingga tak ada lukisan yang merekam sosoknya. Bila memasuki ndalem Mangkunegaran, pengunjung bisa melihat foto-foto silsilah raja-raja Mangkunegara. Di posisi paling atas sendiri, yakni posisi Mangkunegara I, tidak ada gambarnya-digantikan dengan lambang kerajaan.

Menurut budayawan M.T. Arifin, Mangkunegara I memang tidak boleh dibuatkan gambar karena pengaruh dari mertuanya, Kiai Kasan Nuriman yang mempunyai keyakinan kuat pembuatan gambar itu haram. Berdasarkan cerita lisan, M.T. Arifin bisa melukiskan sosok Mangkunegara I. "Dia memiliki perawakan gagah, tubuhnya tidak terlalu tinggi. Wajahnya tampan tetapi pipinya agak sedikit bopeng karena bekas terkena cacar," ujarnya.

Yosodipura, pujangga Keraton Solo, pernah mendeskripsikan sosok Mangkunegara I. Menurut dia, tubuh Mangkunegara I kecil, tak ubahnya anak-anak, tapi sorotnya tajam memancarkan semangat menyala-menyala. Melihat potongan tubuhnya, Nicolas Hartingh, penguasa Belanda, kaget. Sebagaimana digambarkan Yosodipura, Nicolas menyaksikan bahwa pemberontak yang selama ini merepotkannya ternyata perawakannya kecil, pendek.

Karena jasa salah satu cucu Mangkunegara VII yang bernama Ray Hilmiyah Darmawan catatan harian itu bisa didatangkan kembali ke Solo. Berdasarkan keterangan dalam kotak kardus pembungkus, buku harian Mangkunegara I itu pulang pada Desember 1991.

Bungkus berwarna cokelat itu juga menjelaskan bahwa babad tersebut ditranskrip pertama kali ke dalam huruf latin oleh ahli sastra Jawa Dr Th.G.Th. Pigeaud atas perintah Mangkunegara VII pada Desember 1929. Kondisi naskah mulanya tidak terjilid rapi. Pigeaud kemudian yang mengurutkan dan membuatkan halaman naskah. Judul terjemahan latin Pigeaud adalah Serat Babad Nitik Mangkunegara I.

Kini, atas bantuan Bank Dunia, babad itu juga sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh MNg Supardi dan RNgtNg Darweni. Proyek ini selesai pada Mei 1998. Dalam bahasa Indonesia berjudul Babad Nitik Mangkunegara I (Catatan Harian Prajurit Estri Mangkunegaran).

Babad yang juga kerap disebut Babad Tutur ini penulisnya bukan Mangkunegara I sendiri. Hal itu bisa terlihat dari pembuka catatan sebelum masuk ke pupuh 1 dalam bentuk mijil. Dalam pembuka tulisan tertera kalimat: "serat lajeng kang sekar pamijil, papanipun sehos, nurut cerita carita sehos papane, saking panjang carita tinulis, maksih carik estri kang nyerat nunuruh."

Kalimat ini menjelaskan bahwa penulis biografi itu seorang juru tulis perempuan. Syahdan, memang terdapat juru tulis perempuan yang mengikuti terus perjalanan Pangeran Samber Nyawa. Almarhum Zainuddin Fananie, peneliti dari Universitas Muhammadiyah, yang pernah membahas Babad Tutur, juga menyinggung soal adanya carik perempuan ini.

Menurut Fananie, isi catatan harian terentang dari masalah ekonomi sampai sosial. Secara terperinci, dalam catatan harian itu misalnya diketahui Mangkunegara I mampu menekan Belanda agar setiap tahun membayar kepadanya 400 real. Uang itu digunakan untuk memberi gaji para prajuritnya dan lain-lain.

Fananie menunjukkan bagian dari catatan harian yang mendeskripsikan bagaimana muaknya RM Said melihat Pangeran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti. Sebagai balas budinya kepada Belanda karena ia dinobatkan sebagai raja Keraton Yogya, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Retnasari, kepada Belanda. Tembang itu berbunyi demikian:

Kang anama Raden Retnasari, ingkang sangking Pingkol Sukawatya, sareng dipun angkate, marang deler tinandu, Sultan datan saged ningali, sanget ngungun tur merang lan tansah sinamur, Den Retnosari semana sareng mangkat anangis tur niba-tangi....

Terjemahannya:

Dia bernama Raden Retnosari berasal dari Desa Pingkol Sukawati, Deler segera memondongnya memasukkan dalam tandu. Ketika menyaksikan Sultan hanya berpaling muka saja, agaknya tak tahan untuk melihatnya, dalam hati teramat kecewa dan malu, tapi perasaan tersebut ditutup-tutupinya, ketika tandu diusung, Raden Retnowati menjerit, menangis seakan-akan berusaha melepaskan diri....

Yang memang paling menarik adalah soal legiun perempuan. Selain oleh prajurit pria, RM Said juga dikawal prajurit wanita. Menurut Fananie, peranan prajurit perempuan yang semenjak Sultan Agung lebih merupakan hiasan, kini dirombak total. Prajurit perempuan RM Said ini dikedepankan sebagai combat corps atau pasukan tempur. Dilukiskan dalam catatan harian itu, pasukan perempuan tersebut berbusana putih, berkain corak parang rusak, dan menyandang keris seperti orang Bali.

Prajurit perempuan ini semuanya cantik-cantik dan pandai baca-tulis. Betapapun memiliki ketangkasan sebagaimana prajurit pria, mereka tetap terampil memasak dan membuat baju. Mereka juga pintar menghibur, menyanyi sesindhenan atau menari taledhekan, serimpi.

Masyarakat dilukiskan selalu berdecak kagum melihat mereka. Sebuah tembang melukiskan saat Mangkunegara I naik karbin kuda, ada pasukan perempuan berkuda mengiringinya. Disertai pemukul genderang, peniup terompet, semuanya wanita. Dalam memainkan instrumen gamelan pun mereka sangat piawai:

Tamu-tamu semuanya terheran-heran. Termangu-mangu membisu. Bagaimana wanita bertingkah bagaikan laki, seluruhnya terampil. Demikian pula penabuh-penabuh wanitanya tak ubahnya seperti penabuh lelaki saja....

Agustus nanti, perpustakaan Rekso Poestoko merayakan ulang tahunnya yang ke-140. Meskipun catatan harian itu hanya fotokopian, inilah salah satu koleksi Rekso Poestoko yang paling berharga.

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/03/26/SEL/mbm.20070326.SEL123494.id.html
Teghe - 21/10/2010 04:49 PM
#22

Quote:
Original Posted By crazy bokep
lengkap bgt gan ...

ane kagum sm RM. Said karena umur 19 th aja udah perang nglawan Belanda



oh iya gan.... ane denger jg RM Said sama putrinya Sri Sultan HB I cerai gan

soalnya kan musuhan sm mertua nya...

putrinya dsuruh pulang ke Jogja katanya HB I sakit, habis di Jogja ditahan gak boleh pulang lg ke Solo... padahal dulu pas perang selalu nemeni terus

CMIIW itu yang ane denger gan...
kekuasaan gan yang melatar belakanginya......mertua sama menantu saling bermusuhan
ndoro86dilangit - 21/10/2010 06:27 PM
#23

Quote:
Original Posted By makaribi


:2thumbup mantap gan akhirnya muncul juga repro pic. eyang sambernyawa
Element Of Life - 21/10/2010 09:42 PM
#24

gw yang rumahnya di Mangkunegaran aja baru ngeh baca niy trit
real.simple - 21/10/2010 11:04 PM
#25

woi woi....
ah masa mangkunegaran ga pernah dijajah sih !


ambil contoh legiun mangkunegara.....
dia kan pasukan "kacung" setia gan ....


ngaco ah.



trus itu bukan lawan belanda tapi lawan VOC.
rare99 - 06/01/2011 02:26 PM
#26

Quote:
Original Posted By makaribi


Loh ini bukan MANGKUNEGORO I!!!!!!
Lihat aja aksesoris di telinga..Itu dari Jogja!! ga tahu HB keberapa
Centrano - 09/01/2011 03:41 AM
#27

itu sultan agung gan
menurut imajinernya pujangga kraton jogya..

RM Said haram hukumnya dilukis.. !!! ada aturannya
azeer22 - 09/01/2011 01:05 PM
#28

hebat..
memulai perjuangan dari umur 19 tahun,,

untuk perajurit wanitanya siapa yg terkenal yah?
adakah yg seperti Jeanne d'Arc (Joan of Arc) ?

:2thumbup
badass77 - 09/01/2011 01:13 PM
#29

Nice trid...

Kraton Mangkunegaran meskipun lebih kecil dibanding Kraton Kasunanan Surakarta, tapi sepertinya di Mangkunegaran lebih 'adem' ya...
pembasmivampir - 10/01/2011 06:24 AM
#30

Akibat diadu domba dgn belanda jd terpecah.
ironmask_001 - 19/01/2011 03:52 PM
#31

Sudah menjadi tekadku biarlah aku gugur dimedan laga asal tidak jauh dari bumi Mataram itulah yang akan meluhurkan namaku " " Hai kalian semua bersiaplah bersedia mati dijalan Allah , kita serahkan jiwa raga kita kepadaNYA , apapun yang terjadi kita tetap menyerbu ( Yogyakarta ) marilah kita mati bersama sama "
(Kata-kata P.Sambernyawa ketika akan menyerbu Jogyakarta)
Penyerbuan ini dilakukan karena P.Sambernyawa muak melihat mertuanya, P. mangkubumi (HB I) yang meminta dirajakan kepada Belanda.
Pendudukan 6 jam Kasultanan Jogya inilah yang mengilhami Soeharto dengan Serangan Umum 1 Maretnya
badass77 - 19/01/2011 04:05 PM
#32

Quote:
Original Posted By ironmask_001
Sudah menjadi tekadku biarlah aku gugur dimedan laga asal tidak jauh dari bumi Mataram itulah yang akan meluhurkan namaku " " Hai kalian semua bersiaplah bersedia mati dijalan Allah , kita serahkan jiwa raga kita kepadaNYA , apapun yang terjadi kita tetap menyerbu ( Yogyakarta ) marilah kita mati bersama sama "
(Kata-kata P.Sambernyawa ketika akan menyerbu Jogyakarta)
Penyerbuan ini dilakukan karena P.Sambernyawa muak melihat mertuanya, P. mangkubumi (HB I) yang meminta dirajakan kepada Belanda.
Pendudukan 6 jam Kasultanan Jogya inilah yang mengilhami Soeharto dengan Serangan Umum 1 Maretnya


Militansi RM Said beserta pasukannya memang luar biasa...
mblonyot - 24/01/2011 01:00 AM
#33

ane baru kali ini baca kisah tentang beliau. .luar biasa ternyata
ironmask_001 - 28/01/2011 04:16 PM
#34

Quote:
Original Posted By badass77
Militansi RM Said beserta pasukannya memang luar biasa...


Pada usia 22 tahun RM Said dijodohkan dengan putri Pangeran Mangkubumi yang bernama RA Inten. Sejak saat itu RM Said menerima penggabungan Pangeran Mangkubumi untuk berjuang bersama. Namun perjuangan bersama itu harus berakhir setelah Mangkubumi mengadakan perjanjian damai dengan Kumpeni. Kumpeni merayu Sunan PB III untuk membagi kekuasaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan di Surakarta dan Kasultanan di Yogyakarta. Kasultanan dipegang Pangeran Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwana I dan PB III menjadi raja Kasunanan di Surakarta.

RM Said tetap konsisten melanjutkan perjuangan melawan intervensi Belanda. Kalau dulu musuhnya hanya Kumpeni dan Sunan PB, kini bertambah satu lagi yakni Sultan HB yang tidak lain paman dan mertuanya sendiri.
Dalam pertempuran di Ponorogo pada hari Jumat tanggal 16 Syawal tahun Je (1752 M) RM Said berhasil memporak-porandakan pasukan gabungan 3 kekuatan. Kendati jumlah pasukannya sedikit tetapi dengan strategi yang cerdas didukung sumpah setia, kebulatan tekad, ketangguhan, ketangkasan dan keberanian pasukannya, maka musuh dapat dihancurkan. Di pihak musuh 600 orang tewas, sedang dipihak RM Said hanya 3 prajurit gugur dan 29 prajurit luka-luka. Hasil rampasan berupa sejumlah besar mesiu, 120 kuda, 140 pedang, 160 karabin, 130 pistol dan perlengkapan militer lainnya dihibahkan kepada prajuritnya.

Kumpeni mengundurkan diri ke Rembang guna menunggu bantuan dari Batavia dipimpin Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman. Mengetahui kedatangan dua detasemen pasukan Kumpeni tersebut, RM Said mengerahkan pasukannya untuk lebih dahulu menyerang. Pada hari Senin tanggal 17 Sura tahun Wawu (1756 M), pertempuran dahsyat kedua pecah di daerah Sito Kepyak. Dalam pertempuran tersebut 15 prajurit andalannya gugur, tetapi RM Said berhasil membantai dua detasemen tentara Kumpeni. Bahkan dengan pedangnya sendiri beliau memenggal kepala Kapten Van der Pol dan menyerahkannya kepada istri tercinta sebagai pelunasan janji beliau.

Setahun kemudian tepatnya hari Kamis tanggal 3 Sapar tahun Jimakir (1757 M) secara mengejutkan RM Said menyerbu benteng Vre Deburg di Yogyakarta. Pasukannya diperintahkan bersiap sedia mati dijalan Allah. Benteng Belanda berhasil diserang dengan korban 5 tentara Kumpeni tewas serta ratusan lainnya mengalami luka-luka. Menjelang tengah malam RM Said memutuskan mundur karena apabila diteruskan justru akan merugikan pihaknya sendiri. Walaupun tidak memperoleh kemenangan mutlak, keberaniannya menyerang benteng Belanda ditengah kota Yogyakarta menjadi bukti bahwa RM Said merupakan pemimpin sekaligus panglima perang yang brilian.

Kehebatan RM Said dalam strategi perang dan membina pasukan yang militan bukan hanya dipuji oleh pengikutnya, melainkan juga disegani lawannya. Hampir dalam setiap pertempuran selalu memperoleh kemenangan sehingga beliau dijuluki ”Pangeran Sambernyawa” karena dianggap sebagai penyebar maut oleh musuh-musuhnya.
Mengutip Jendral Wiranto dalam bukunya ”Memahami Jejak Langkah Pangeran Sambernyawa” (2005), strategi tempur RM Said yang menggunakan tiga konsep “Dedemitan”, “Weweludan” dan “Jejemblungan” mengacu pada tindakan taktis yang dilandasi pertimbangan kerahasiaan, pendadakan, kecepatan gerak dan kepandaian mengecohkan lawan. ”Keputusan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta merupakan strategi tak lazim, misterius, dan tak pernah diperhitungkan lawan. Hal ini karena telah sekian lama RM Said menarik lawannya ke daerah hutan dan gunung”.
andreskancrit - 20/04/2011 08:47 PM
#35

Assalamualaikum..

Saya Nambahin Gambar Petilasan dan makam aslinya dari foto sendiri, diambil ketika kami berZiarah kesana atas Undangan dari Kanjeng Mbah Brengos atau KGPAA Mangkunagara I.
Mohon izin ya Mbah.

Silsilah di Petilasan


Pintu Gerbang Petilasan Terakhir diatas makam Soeharto.



Makam Asli ada di Kertohardjo


wankpee - 22/04/2011 11:28 AM
#36

Quote:
Original Posted By ironmask_001
Sudah menjadi tekadku biarlah aku gugur dimedan laga asal tidak jauh dari bumi Mataram itulah yang akan meluhurkan namaku " " Hai kalian semua bersiaplah bersedia mati dijalan Allah , kita serahkan jiwa raga kita kepadaNYA , apapun yang terjadi kita tetap menyerbu ( Yogyakarta ) marilah kita mati bersama sama "
(Kata-kata P.Sambernyawa ketika akan menyerbu Jogyakarta)
Penyerbuan ini dilakukan karena P.Sambernyawa muak melihat mertuanya, P. mangkubumi (HB I) yang meminta dirajakan kepada Belanda.
Pendudukan 6 jam Kasultanan Jogya inilah yang mengilhami Soeharto dengan Serangan Umum 1 Maretnya

keren juga nih org yaaa.... ! :matabelo
FUHRERS - 22/04/2011 09:18 PM
#37

Kyai Samber Nyawa
bellarminow - 22/04/2011 11:31 PM
#38

Ane nyimak Gan, sambil nunggu kalo ada yang punya sosok Raden Mas Said yang berpakaian kebangsaan. Karena sosok beliau berpakaian kerajaan belum ane ketahui. Dari sekian banyak dari Mangkunegara hanya Raden Mas Said yang sepertinya tidak ada penampakan berpenampilan pakaian kerajaan. Sapa tahu disini malah ada.

ini ada penampakan sosok Mangkunegara 6 sampai 2. Tapi maaf tidak semuanya foto.

The Prince Mangkoe Negoro VI pengelola kawasan pada tahun 1913 Mangkoe Negara
Spoiler for silahkan Agan/Sista


The Prince Mangkoe Negoro V antara 1881 dan 1896 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Sebuah potret Mangkoenegoro IV dari Surakarta Jawa Tengah dengan istrinya.
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Yang Mulia Pangeran Ario Adipati Mangkoe Negoro IV (1853-1881)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkoe Negoro IV antara 1853 dan 1881 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkoe Negoro III antara tahun 1835 dan 1853 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Negoro Mankoe II memerintah antara 1796 dan 1835 daerah Mangkoe Negaram independen Susuhunan
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkunegara dengan penari Srimpi (sekalian tanya ini siapa?)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkunegara (ini juga ya gan, ane numpang tanya ini siapa?)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Terakhir, ane juga mau tanya sekalian sosok disini siapa?
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Terimakasih sebelumnya jika ada dari Agan/Sista yang berkenan memberikan info atau jawabannya.
rare99 - 23/04/2011 12:13 AM
#39

Quote:
Original Posted By bellarminow
Ane nyimak Gan, sambil nunggu kalo ada yang punya sosok Raden Mas Said yang berpakaian kebangsaan. Karena sosok beliau berpakaian kerajaan belum ane ketahui. Dari sekian banyak dari Mangkunegara hanya Raden Mas Said yang sepertinya tidak ada penampakan berpenampilan pakaian kerajaan. Sapa tahu disini malah ada.

ini ada penampakan sosok Mangkunegara 6 sampai 2. Tapi maaf tidak semuanya foto.

The Prince Mangkoe Negoro VI pengelola kawasan pada tahun 1913 Mangkoe Negara
Spoiler for silahkan Agan/Sista


The Prince Mangkoe Negoro V antara 1881 dan 1896 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Sebuah potret Mangkoenegoro IV dari Surakarta Jawa Tengah dengan istrinya.
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Yang Mulia Pangeran Ario Adipati Mangkoe Negoro IV (1853-1881)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkoe Negoro IV antara 1853 dan 1881 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkoe Negoro III antara tahun 1835 dan 1853 daerah ini dikontrol Mangkoe Negaram
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Negoro Mankoe II memerintah antara 1796 dan 1835 daerah Mangkoe Negaram independen Susuhunan
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkunegara dengan penari Srimpi (sekalian tanya ini siapa?)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Pangeran Mangkunegara (ini juga ya gan, ane numpang tanya ini siapa?)
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Terakhir, ane juga mau tanya sekalian sosok disini siapa?
Spoiler for silahkan Agan/Sista


Terimakasih sebelumnya jika ada dari Agan/Sista yang berkenan memberikan info atau jawabannya.


yang terakhir tu MN VII CMIIW...
MN I emang ga ada fotonya..ga ada lukisannya juga..terlalu sakral buat diimajinasikan dalam gambar..kayak lukisan pangeran diponegoro ntu juga bukan foto asli dia tapi imajinasi pelukisnya kan?
bellarminow - 23/04/2011 12:18 AM
#40

Quote:
Original Posted By rare99
yang terakhir tu MN VII CMIIW...
MN I emang ga ada fotonya..ga ada lukisannya juga..terlalu sakral buat diimajinasikan dalam gambar..kayak lukisan pangeran diponegoro ntu juga bukan foto asli dia tapi imajinasi pelukisnya kan?


ane ngiranya juga MN VII Gan, tapi ga yakin juga.
bisa jadi sapa tahu kali-kali aja ada yang punya Gan.hehe.
thx Gan sebelumnya.
Page 2 of 4 |  < 1 2 3 4 > 
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > PANGERAN SAMBERNYAWA a.k.a Raden Mas SAID a.k.a MANGKUNEGARA