Militer
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > [PIC] Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat
Total Views: 53028
Page 3.5 of 14 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

supermarine - 28/11/2010 04:55 PM
#51

Quote:
Original Posted By suromenggolo
boleh masukin kisah trikora ga? Biar jadi lebih lengkap trit nya.
boleh aja bro...btw F-86 Sabre AURI waktu Trikora kan belum ada loh...
raffaell - 28/11/2010 04:56 PM
#52

Quote:
Original Posted By GreatSultan




Say What ?
dulu snapan standar trikora pk ak47, sks simonov, dan ar-15..meski ss1 punya akurasi d katakan lbh baik dr m16, tapi... Ss1 punya kelemahan..
1. besi gmpg b'karat
2. Berat (ksg 4kg, isi 4,3kg)
3. Kepanjangan bt orang indonesia
TheBlackFlag - 28/11/2010 05:09 PM
#53

Quote:
Original Posted By raffaell
dulu snapan standar trikora pk ak47, sks simonov, dan ar-15..meski ss1 punya akurasi d katakan lbh baik dr m16, tapi... Ss1 punya kelemahan..
1. besi gmpg b'karat
2. Berat (ksg 4kg, isi 4,3kg)
3. Kepanjangan bt orang indonesia




sarboih - 28/11/2010 05:29 PM
#54

Quote:
Original Posted By raffaell
dulu snapan standar trikora pk ak47, sks simonov, dan ar-15..meski ss1 punya akurasi d katakan lbh baik dr m16, tapi... Ss1 punya kelemahan..
1. besi gmpg b'karat
2. Berat (ksg 4kg, isi 4,3kg)
3. Kepanjangan bt orang indonesia


yaela, kepanjangan
suromenggolo - 28/11/2010 06:56 PM
#55

Quote:
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun demikian, pihak Belanda menganggap wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda, . Pemerintah Belanda kemudian memulai persiapan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda. Hal ini kemudian dibicarakan dalam beberapa pertemuan dan dalam berbagai forum internasional. Dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Belanda dan Indonesia tidak berhasil mencapai keputusan mengenai Papua bagian barat, namun setuju bahwa hal ini akan dibicarakan kembali dalam jangka waktu satu tahun.

Pada bulan Desember 1950, PBB memutuskan bahwa Papua bagian barat memiliki hak merdeka sesuai dengan pasal 73e Piagam PBB Karena Indonesia mengklaim Papua bagian barat sebagai daerahnya, Belanda mengundang Indonesia ke Mahkamah Internasional untuk menyelesaikan masalah ini, namun Indonesia menolak. Setelah Indonesia beberapa kali menyerang Papua bagian barat, Belanda mempercepat program pendidikan di Papua bagian barat untuk persiapan kemerdekaan. Hasilnya antara lain adalah sebuah akademi angkatan laut yang berdiri pada 1956 dan tentara Papua pada 1957. Sebagai kelanjutan, pada 17 Agustus 1956 Indonesia membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu yang berada di Pulau Tidore, dengan gubernur pertamanya, Zainal Abidin Syah yang dilantik pada tanggal 23 September 1956.

Pada tanggal 6 Maret 1959, harian New York Times melaporkan penemuan emas oleh pemerintah Belanda di dekat laut Arafura. Pada tahun 1960, Freeport Sulphur menandatangani perjanjian dengan Perserikatan Perusahaan Borneo Timur untuk mendirikan tambang tembaga di Timika, namun tidak menyebut kandungan emas ataupun tembaga.

Indonesia mulai mencari bantuan senjata dari luar negeri menjelang terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda. Indonesia mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat, namun gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960, Jendral A. H. Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.

Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.

Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19 ,20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 Kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat

Soekarno membentuk Komando Mandala, dengan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando. Tugas komando Mandala adalah untuk merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia. Belanda mengirimkan kapal induk Hr. Ms. Karel Doorman ke Papua bagian barat. Angkatan Laut Belanda (Koninklijke Marine) menjadi tulang punggung pertahanan di perairan Papua bagian barat, dan sampai tahun 1950, unsur-unsur pertahanan Papua Barat terdiri dari:

* Koninklijke Marine (Angkatan Laut Kerajaan Belanda)
* Korps Mariniers
* Marine Luchtvaartdienst

Keadaan ini berubah sejak tahun 1958, di mana kekuatan militer Belanda terus bertambah dengan kesatuan dari Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda) dan Marine Luchtvaartdienst. Selain itu, batalyon infantri 6 Angkatan Darat merupakan bagian dari Resimen Infantri Oranje Gelderland yang terdiri dari 3 Batalyon yang ditempatkan di Sorong, Fakfak, Merauke, Kaimana, dan Teminabuan.

Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan.

Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa. Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.

Misi itu sangat rahasia, sehingga hanya ada beberapa petinggi di markas besar TNI AU yang mengetahui tentang misi ini. Walaupun misi ini sebenarnya tidaklah rumit, TNI AU hanya bertugas untuk mengangkut pasukan dengan pesawat Hercules, hal lainnya tidak menjadi tanggung jawab TNI AU.

Kepolisian Republik Indonesia juga menyiapkan pasukan Brigade Mobil yang tersusun dalam beberapa resimen tim pertempuran (RTP). Beberapa RTP Brimob ini digelar di kepulauan Ambon sebagai persiapan menyerbu ke Papua bagian barat. Sementara itu Resimen Pelopor (unit parakomando Brimob) yang dipimpin Inspektur Tingkat I Anton Soedjarwo disiagakan di Pulau Gorom. Satu tim Menpor kemudian berhasil menyusup ke Papua bagian barat melalui laut dengan mendarat di Fakfak. Tim Menpor ini terus masuk jauh ke pedalaman Papua bagian barat melakukan sabotase dan penghancuran objek-objek vital milik Belanda.

Pada tanggal 12 Januari 1962, pasukan berhasil didaratkan di Letfuan. Pesawat Hercules kembali ke pangkalan. Namun, pada tanggal 18 Januari 1962, pimpinan angkatan lain melapor ke Soekarno bahwa karena tidak ada perlindungan dari TNI AU, sebuah operasi menjadi gagal.
suromenggolo - 28/11/2010 07:06 PM
#56

Quote:
Dalam merebut kembali Irian Barat dari Belanda pada 1961,Indonesia melalui Komando Tertinggi (Koti), membentuk operasi Mandala (Trikora). Tugasnya merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Lalu, Armada RI menyiapkan pasukan berani mati, dengan tugas pokok menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Belanda di Biak, dan menenggelamkan kapal Karl Dorman.

Lalu, muncullah nama Kolonel Laut OP Koesno sebagai komandan Kopaska TNI AL pertama, Mayor Laut Oerip Santoso,dan Sertu PDD Emil Yoseph sebagai pelatih. Selanjutnya, akhir Januari 1962, Mabesal membentuk instruktur grup, dengan memanggil personil TNI AL dari korps jasmani, berpangkat pama hingga tamtama sebanyak 17 orang.Awal Februari dimulailah latihan fisik, yang mengambil tempat di Hotel Thamrin Jakarta.

Latihan ini bersifat tertutup identitasnya. Puncaknya, pada 31 Maret 1962, di halaman kolam renang Senayan Jakarta, Panglima Angkatan Laut (Pangal), Laksamana Madya RE Martadinata meresmikan berdirinya satuan Pasukan Katak AL, yang kemudian dikenal dengan Kopaska. Mengingat pasukan ini harus sudah siap pada Juli 1962, Dansat Kopaska pertama memutuskan untuk mengambil personel dari satuan yang memiliki kualifikasi komando.

Namun ditolak Mabes KKO, dengan alasan Kipam akan menjalankan operasi sendiri, untuk mendukung operasi amfibi pada Operasi Mandala Trikora. Solusinya, atas perintah Danjen RPKAD Mayjen Pahardimulyo, dikirimlah 75 personel berpangkat prajurit kader hingga mayor.Setelah tes, tersaring 22 personel. Jumlah ini ditambah dari Kodam Jaya sebanyak tiga orang. Setelah latihan di Pulau Edam- Kepulauan Seribu selama dua bulan, sekitar awal Juni 1962, satuan RPKAD sebanyak 21 personel, menyatakan tidak sanggup, dan mengundurkan diri.

Mereka juga minta dikembalikan ke Cijantung.Tapi atas perintah Ketua G-1 Koti, pada Komandan Kol OP Koesno, latihan terus berlanjut, hingga keberangkatan ke daerah operasi Trikora. Namun, tempat latihan pun dipindah ke Pangkalan Armada RI Ujung Surabaya. Materi latihannya meliputi keluar masuk kapal selam, melaksanakan problem decompressi chamber, serta naik-turun jaring kapal.

Hingga akhirnya, mereka diberangkatkan dengan KRI Sam Ratulangi. Pada pertengahan Agustus 1962, Kopaska AL dikembalikan dari daerah operasi Mandala Trikora, akibat perjanjian damai antara Belanda dan RI. Selanjutnya,personel dari RPKAD yang berjumlah 21 personel dikembalikan ke Cijantung, sedangkan tiga dari Kodam Jaya disalurkan ke Kodikal, untuk kemudian dididik jadi Catam TNI AL.

Ada beberapa operasi laut selama operasi pembebasan Irian Barat yang dikenal dengan sebutan Operasi Trikora itu. Pada awal Trikora digelar, kapal -kapal cepat torpedo ALRI harus berhadapan dengan kapal- kapal perusak, fregat, dan pesawat Angkatan Laut Belanda di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962. Komodor Yos Soedarso beserta RI Macan Tutul tenggelam pada pertempuran laut tersebut. Peristiwa yang kemudian dikenang sebagai Hari Dharma Samudera itu memacu semangat untuk merebut Irian Barat secara militer. Pada saat itu ALRI mampu mengorganisasikan Operasi Jayawijaya yang merupakan operasi amfibi terbesar dalam sejarah operasi militer Indonesia. Tidak kurang dari 100 kapal perang dan 16.000 prajurit disiapkan dalam operasi tersebut. Gelar kekuatan tersebut memaksa Belanda kembali ke meja perundingan dan dicapai kesepakatan untuk menyerahkan Irian Barat ke pangkuan RI.
suromenggolo - 28/11/2010 07:11 PM
#57

Quote:
Pertempuran Laut Aru adalah suatu pertempuran yang terjadi di Laut Aru, Maluku, pada tanggal 15 Januari 1962 antara Indonesia dan Belanda. Insiden ini terjadi sewaktu dua kapal jenis destroyer, pesawat jenis Neptune dan Frely milik Belanda menyerang RI Matjan Tutul (650), RI Matjan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) milik Indonesia yang sedang berpatroli pada posisi 04,49° LS dan 135,02° BT. Komodor Yos Sudarso gugur pada pertempuran ini setelah menyerukan pesan terakhirnya yang terkenal, "Kobarkan semangat pertempuran".

Misi yang dilakukan empat kapal Motor Torpedo Boats/MTB terbilang sangat berani dan penuh risiko, karena sebelum bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, senjata andalan pada keempat MTB yang berupa Torpedo 21 inci (bentuk awal dari Rudal tapi belum ber pengendali) telah dipreteli dulu, dengan maksud agar mampu mengangkut pasukan yang lebih banyak dan perahu karet untuk mendarat ke pantai.(sebagian mengatakan stock torpedo terbatas krn embargo dari inggris). Misi ini merupakan misi rahasia, bahkan saking rahasianya pengisian bahan bakar serta logistik tambahan untuk menempuh perjalanan dari Tanjung Priok ke Irian Barat harus dilakukan di tengah malam, tanpa boleh berlabuh di semua pelabuhan yang dilewati. Di tengah perjalanan KRI Singa kehabisan bahan bakar sehingga hanya tersisa tiga MTB yang harus melanjutkan misi tersebut. Ketiga MTB pun tidak diperkenankan menggunakan radio Komunikasi untuk berkomunikasi selain dengan sesama MTB peserta operasi (taktik radio silent)

Hari H pukul 17.00 waktu setempat, KRI Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol. Mursyid, dan Kapten Tondomulyo sebagai kapten kapal.Di belakangnya adalah KRI Macan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso dengan kapten kapal Wiratno. Sedangkan di urutan paling belakang adalah KRI Macan Kumbang (Nah di macan kumbang ini babe ku ada didalamnya).

Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di kiri.(2 kapal jenis freegat ,Hr Ms Evertsen dan Hr Ms Kortenaer ,satunya lagi adalah kapal Induk Karl Doorman) tanda blips tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI tetap melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat neptune belanda mendekat, lalu menjatuhkan flare (merah menyala terang) yang tergantung pada parasut. Keadaan menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama.

Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo memerintahkan untuk balas menembak.Lalu KRI macan tutul menembakan tembakan balasan namun tidak mengenai sasaran. Berbekal titik api dari moncong tembakan itulah mungkin belanda berhasil menargetkan sasaran tepat ke lambung kapal & ruang kendali KRI macan tutul.mengakibatkan beberapa anggota terluka termasuk kapten kapal wiratno.Dalam keadaan darurat, Komando kapal macan tutul kemudian diambil alih Yos Soedarso.

Keadaan semakin genting.Lalu Kol Soedomo memerintahkan ketiga kapal u/ berputar ke kanan arah 239 derajat. Kolonel soedomo menyadari pertempuran tidak seimbang.Krn ketiga KRI hanya dipersenjatai senapan mesin anti pesawat terbang berupa senjata 12.7mm dan meriam 40 mm yang tidak bisa menjangkau target kapal² belanda dan tidak membawa torpedo sama sekali sehingga tidak mungkin menghadapi kapal belanda yang jauh lebih kuat(berjenis freegat dan destroy mempunyai meriam 4,7inci(12 cm), jadi bertahan dengan formasi apapun akan percuma.

Dua KRI berhasil berbalik arah,namun KRI macan tutul malah lurus (agak kekanan) mendekati kapal belanda Mr eversten. Ada beberapa versi mengapa KRI tsb malah menghampiri kapal belanda. Sebagian mengatakan kendali kapal macet sehingga tidak bisa berputar haluan, malah menuju kearah musuh. Ada pula yg mengatakan Yos Soedarso sengaja memerintahkan kapal tetap melaju kedepan untuk mengorbankan diri agar ke dua kapal lainnya selamat (Soedomo mengkritik keputusan yos soedarso ini yg dianggap salah olehnya), lainnya mengatakan komando salah dengar, harusnya kapal menuju 239derajat malah 329derajat sehingga arahnya lurus. Nakhoda kapal (kelasi suharmadji) dlm sebuah wawancara berkeyakinan dia mendengar perintah u/ tetap maju. Mungkin waktu itu keadaan sangat genting dengan ruang kendali yang sudah rusak. Komodor Yos soedarso melalui radio meneriakan perintah "kobarkan semangat pertempuran".

Karena berusaha mendekati kapal musuh,dan pihak belanda menyangka KRI macan tutul membawa torpedo bersiap u/ melakukan torpedo run(serangan torpedo), krn u/ melakukan serangan tsb, MTB harus mendekat u/ memenuhi jarak tembak torpedo(sebagaimana diketahui efek rusak torpedo jauh lebih sadis drpd pluru meriam biasa) maka dari itu segala tembakan belanda dikonsentrasikan ke macan tutul. Tembakan pertama meleset, namun tembakan kedua tepat mengenai KRI Macan Tutul. Menjelang tembakan telak menghantam kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah, "Kobarkan semangat pertempuran!"
raffaell - 29/11/2010 01:34 AM
#58

Quote:
Original Posted By sarboih


yaela, kepanjangan
bukan saya lho yang omong.. Tp tentara beneran..
GHORONK - 29/11/2010 02:00 AM
#59

Quote:
Original Posted By adiknyakabei
Liat putu2 itu jd ingat almarhum bokap...

bokapnya seorang pejuang ya gan?
anzings - 29/11/2010 02:22 AM
#60

Quote:
Original Posted By MrBhass
Yang bisa dapet foto BRIMOB bawa M-16 semasa TRIKORA gua kasih CENDOL...
(ada dulu di buku sejarah)


Om Bhass kalo yg ini gimana???


liat dari moncongnya keanya M-16 tuh...

ane search di google pake kata
"foto Brimob pada masa Trikora"
ga ada nyebutin M-16 nya...
fotonya ada di halaman 6 google...
jonigudez - 29/11/2010 03:12 AM
#61

Quote:
Original Posted By anzings
Om Bhass kalo yg ini gimana???


liat dari moncongnya keanya M-16 tuh...

ane search di google pake kata
"foto Brimob pada masa Trikora"
ga ada nyebutin M-16 nya...
fotonya ada di halaman 6 google...

Brimob waktu Trikora pake AR-15, kakaknya M-16..........
mikhey - 29/11/2010 09:03 AM
#62

belajar dari pengalaman ini......................

diplomasi tanpa alutsista yg kuat maka kita hanya akan menjadi bulan bulanan saja........................

tapi bila alutsista kita kuat, diplomasi mempunyai bargaining power yg besar dan musuh akan berpikir ulang dalam bernegosiasi................
GreatSultan - 29/11/2010 10:02 AM
#63

Katanya di Trikora ini ada kisah tentang seorang sukarelawan wanita ya ?

ada yang bisa share plis ?
jonigudez - 29/11/2010 10:19 AM
#64

Quote:
Original Posted By GreatSultan
Katanya di Trikora ini ada kisah tentang seorang sukarelawan wanita ya ?

ada yang bisa share plis ?



bukunya : Herlina, Pending emas : pengalaman-pengalaman selama mendarat di Irian Barat

merkapa - 29/11/2010 10:21 AM
#65

Herlina si pending emas, kalo gak salah dia cuman beberpa bulan untuk propaganda...
ch1ps - 29/11/2010 10:27 AM
#66

Quote:
Original Posted By merkapa
wah kalo gitu Kamov itu juga getu dunk coaxial rotor lebih ruwet

wah saya jg kurang tahu gunbro..
saya cm denger dr dosen saya, yg waktu operasi trikora berlangsung beliau masih SMA, cm memang beliau tertarik dibidang dirgantara.
anzings - 29/11/2010 11:56 AM
#67

Quote:
Original Posted By jonigudez
Brimob waktu Trikora pake AR-15, kakaknya M-16..........


iya gan,,
ane udah baca,,
brarti yg Om Bhass liat AR-15 kali ya???
btara.indra - 29/11/2010 12:13 PM
#68

Quote:
Original Posted By charioteer
sayang yah.. waktu operasi trikora tak terjadi pertempuran laut dan udara berskala besar dengan belanda.., kalo terjadi bisa seru banget tuh..


kalo gw malah untung ga jadi perang, toh meski tanpa perang, Irian juga bisa balik ke Indonesia. kita sih enak aja ga usah ikut perang, tapi kasihan tuh tentara yang ikut perang, kasihan juga tuh janda dan anak yatim dari tentara yg gugur di medan perang.
suromenggolo - 29/11/2010 06:57 PM
#69

Quote:
Original Posted By btara.indra
kalo gw malah untung ga jadi perang, toh meski tanpa perang, Irian juga bisa balik ke Indonesia. kita sih enak aja ga usah ikut perang, tapi kasihan tuh tentara yang ikut perang, kasihan juga tuh janda dan anak yatim dari tentara yg gugur di medan perang.


idem ama elo bos,..

kalo jadi perang,.. ga tau nasib bokap gue
bokap gua kan pasrat,.. artinya langsung ketemu ama titik pertahanan
antoinetonee - 29/11/2010 07:21 PM
#70

Quote:
Original Posted By duljonMaster


lihat gambar alutsista angkatan darat, amx 13 (masih jalan loh), mbah s-60 (dilestarikan sampai sekarang)..


bukan cuman S-60 gann....40mm bofors tuh
Page 3.5 of 14 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > MILITER & KEPOLISIAN > Militer > [PIC] Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat