Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > Pahlawan Nasional Yang Jarang Kita Tau
Total Views: 28295
Page 3.5 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

yykmbix - 09/01/2011 10:17 AM
#51


TEUNGKU CIK DI TIRO
Lahir : Tiro, Pidie, 1836
Wafat : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891

Spoiler for Biografi Singkat
SEJAK kecil, Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal di lingkungan pesantren. Di situ ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Saman menunaikan ibadah haji ke Mekah sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Sekembalinya dari Mekah, Saman menjadi guru agama di Tiro hingga kemudian dikenal sebagai Teungku Cik Di Tiro.

Tahun 1873, Saman melakukan perlawanan terhadap VOC yang bermaksud memasukkan Aceh ke dalam wilayah jajahannya. Bahkan pada perang di tahun itu, Panglima Belanda, Mayor Jenderal JHR Kohler tewas dalam suatu pertempuran. Hal ini membuat Belanda marah dan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang jauh lebuih besar dan kuat untuk memerangi Aceh.

Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukan Cik Di Tiro. Tak lama kemudian benteng-benteng Belanda lainnya seperti benteng Lambaro, dan Aneuk Galong juga berhasil direbut. Ketika itu, Belanda sudah sangat terdesak sehingga satu-satunya tempat bertahan Belanda hanya tinggal benteng di Banda Aceh. Daerah yang dikuasai Belanda itu pun hanya tinggal empat kilometer persegi. Hal ini membuat Belanda panik dan kewalahan. Cik Di Tiro memang sulit ditundukkan, dan Belanda selalu mengalami kekalahan.

Menyadari peran vital Cik Dik Tiro sebagai sumber semangat perjuangan rakyat Aceh, Belanda akhirnya menggunakan akal licik untuk membunuhnya. Cik Di Tiro akhirnya berhasil diracun melalui makanannya yang dilakukan oleh kakitangan Belanda. Cik Di Tiro kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891.



TEUKU UMAR
Lahir : Meulaboh, Aceh 1854
Wafat : Meulaboh, 11 Februari 1899

Spoiler for Biografi Singkat
SEJAK umur 19 tahun, tepatnya tahun 1873, Teuku Umar telah ikut berperang melawan Belanda di kampung halamannya Meulaboh. Terlebih sejak menikah dengan Cut Nyak Dien pada tahun 1880, perlawanan Teuku Umar semakin menghebat. Seperti diketahui, Cut Nyak Dien juga merupakan seorang pejuang wanita yang gigih melawan Belanda.

Teuku Umar adalah panglima perang yang cerdik dan pandai bersiasat. Ia pernah berpura-pura membantu Belanda membebaskan kapal Inggris Nissero yang terdampar dan ditawan oleh Raja Teunom, Aceh Barat. Inggris mendesak Belanda agar membantu membebaskan awak kapal yang ditawan. Belanda lantas mengutus TeukuUmar dengan 32 orang tentara ke Teunom. Di tengah jalan, tentara Belanda yang menyertainya dibunuh dan dirampas senjatanya.

Teuku Umar pernah menyerang dan menawan kapal Hok Canton yang berlabuh di Pantai Rigaih. Pasalnya, Teuku Umar curiga awak kapal tersebut akan menangkap dirinya. Untuk menebusnya, Belanda terpaksa harus membayar uang sebesar 25.000 Dollar.

Tahun 1893, Teuku Umar tunduk dan bergabung dengan Belanda. Siasat berpura-pura Teuku Umar ini ternyata berhasil. Belanda kemudian mengizinkan Teuku Umar memiliki tentara berkekuatan 250 orang berikut persenjataan lengkap untuk memerangi pejuang-pejuang Aceh yang belum tunduk. Para pejuang Aceh yang akan diperangi pun paham karena telah diberitahu sebelumnya. Semua itu dilakukan Teuku Umar demi mendapatkan senjata dan perbekalan dari pihak VOC Belanda.

Pada tanggal 29 Maret 1896, Teuku Umar kembali bergabung dengan para pejuang Aceh. Ia berhasil membawa lari senjata, uang sebanyak 800.000 Dollar, dan perlengkapan lain milik Belanda.

Semasa bergabung dengan Belanda, Teuku Umar pernah diberi gelar Teuku Johan Pahlawan dan memimpin 1 legiun tentara berkekuatan 250 orang serdadu. Teuku Umar mampu menghadapi Politik Devide et Empera (“Pecah Belah dan Jajahlah”) Belanda dengan menggunakan kekuatan Belanda sendiri.

Pada Januari 1899, Belanda merasa tertipu dan amat marah sehingga mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap Teuku Umar di Meulaboh. Teuku Umar akhirnya gugur pada tanggal 11 Februari 1899, dan dimakamkan di Desa Mugo, Aceh.



SYEKH YUSUF TAJUL KHALWATI
Lahir : Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626
Wafat : Cape Town, Afrika Selatan 23 Mei 1699

Spoiler for Biografi Singkat
MESKIPUN Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, namun dirinya banyak menghabiskan waktu untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan Ibadah Haji. Sebelum ke Makkah, Syekh Yusuf mampir ke Banten dan tinggal selama 5 tahun di kediaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, Banten sedang bermusuhan dengan Belanda.

Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1664, Syekh Yusuf mampir kembali ke Banten dan membantu perjuangan Sultan Banten melawan VOC. Bahkan ia kemudian dijadikan menantu dan penasihat kesultanan. Ketika Belanda dan Sultan Haji berhasil menguasai Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara di Batavia. Sedangkan Syekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berusaha berjuang dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa di Nusantara untuk menentang Belanda. Di samping itu juga menyebarkan agama Islam. Perbuatan Syekh Yusuf tersebut membuat Belanda berang dan kembali membuang Syekh Yusuf ke Afrika Selatan.

Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf menyebarkan agama Islam. Oleh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam di Afrika Selatan.



SULTAN THAHA SYAIFUDDIN
Lahir : Jambi, 1816
Wafat : Betong, 24 April 1904

Spoiler for Biografi Singkat
PADA tahun 1841, Thaha Syaifuddin diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Sultan Abdurachman. Sejak itu pulalah dia selalu menunjukkan sikap menentang terhadap kekuasaan Belanda di Jambi.

Setelah diangkat menjadi Sultan, ia malah menolak menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Jambi adalah milik Belanda dan Sultan Jambi hanya meminjam dari Belanda.

Pada 25 September 1858, Belanda melakukan serangan ke Jambi. Meskipun berhasil menenggelamkan kapal-kapal Belanda, tetapi Sultan Thaha tidak mampu mempertahankan istananya dan menyingkir ke pedalaman. Sejak itu, Sultan melakukan perlawanan secara gerilya dan membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris.

April 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh Belanda. Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo. Saat ini namanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang utama di Kota Jambi.
yykmbix - 09/01/2011 10:18 AM
#52


SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
Lahir : Palembang, 1767
Wafat : Ternate, 26 November 1852

Spoiler for Biografi Singkat
SEMENJAK ditunjuk menjadi Sultan Kerajaan Palembang menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Baha’uddin, Mahmud Badaruddin melakukan perlawanan terhadap Inggris dan Belanda. Ketika Batavia berhasil diduduki Inggris pada tahun 1811, Sultan Mahmud justru berhasil membebaskan Palembang dari cengkeraman Belanda pada tanggal 14 Mei 1811.

Tahun 1812, peperangan dengan Inggris dimulai karena Sultan tidak mau mengakui kekuasaan Inggris di Palembang dan mengangkat Najamuddin menggantikan Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyingkirkan ke Muara Rawas.

Berdasarkan Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia harus dipulihkan, tahun 1818 Inggris mengembalikan kekuasaannya di Palembang kepada Belanda. Selanjutnya Inggris juga kembali mengangkat Sultan Mahmud Badaruddin II sebagai Raja Palembang.

Namun, sejak tahun itu pula perang antara Sultan Mahmud badaruddin II dengan Belanda kembali berkobar. Tanggal 1 Juli 1821, Kesultanan Palembang berhasil diduduki Belanda dan Sultan berhasil ditawan. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian dibuang ke Ternate, Maluku Utara hingga wafatnya. Sultan Mahmud Badaruddin II tercatat sebagai salah satu pejuang Nasional yang melakukan perlawanan terhadap dua penjajah sekaligus yaitu Inggris dan Belanda.



SULTAN ISKANDAR MUDA
Lahir : Banda Aceh, 1593
Wafat : Banda Aceh, 27 September 1636

Spoiler for Biografi Singkat
SULTAN ISKANDAR MUDA memerintah Kerajaan Aceh tahun 1607-1636. Sebelum menjadi Sultan di Aceh, ia bernama Johan Perkasa Alam. Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan besar di Nusantara. Wilayah kekuasaannya ketika itu hingga mencapai Malaysia, Sumatera Barat, Sumatera Timur, dan Semenanjung Melayu. Aceh juga menjadi pusat peradaban kebudayaan Islam, di samping juga sebagai pusat perniagaan dan mendapat sebutan Serambi Makkah hingga kinii.

Portugis yang telah menguasai Malaka sejak tahun 1511, tidak pernah mampu menguasai Aceh. Tahun 1615, Iskandar Muda melakukan penyerangan ke Malaka. Namun upaya ini dapat digagalkan oleh Portugis. Tahun 1629, Iskandar Muda kembali menyerang Portugis di Malaka. Kali itu hampir saja Malaka dapat dikuasai jika Portugis tidak mendapat bantuan dari Kerajaan Johor, Pahang, dan Patani.

Sultan Iskandar Muda wafat pada usia 43 tahun. Namun hingga akhir hayatnya, ia berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan dan kemakmuran.



SULTAN HASANUDDIN
Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
Wafat : Makassar, 12 Juni 1670

Spoiler for Biografi Singkat
TERLAHIR dengan nama asli I Mallambosi, dia diangkat menjadi Sultan Ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Dia juga diberi nama Arab Muhammad Bakir dan bergelar Sultan Hasanuddin. Sementara itu, Belanda memberinya gelar de Haav van de Osten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihan dan keberaniannya.

Peperangan antara VOC dan Sultan Hasanuddin dimulai pada tahun 1660. Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala, akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah. Lalu mengirimkan armada perang yang besar di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Aru Palaka, penguasa Bone, juga ikut memimpin pasukannya menyerang Gowa. Hasanuddin yang semakin terdesak akhirnya sepakat untuk membuat perjanjian yang disebut Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Pada tanggal 12 April 1668, Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun, karena saat itu Belanda sudah mempunyai kedudukan yang kuat, pada tanggal 26 Juni 1668, Benteng Sombo Opu sebagai pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin berhasil dikuasai Belanda.

Hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1670, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda.



SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO
Lahir : Yogyakarta, 1591
Wafat : Yogyakarta, 1645

Spoiler for Biografi Singkat
SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO diangkat sebagai Raja Mataram menggantikan ayahnya, Raden Mas Jolang pada tahun 1613. Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaannya sebagai kerajaan terbesar di Pulau Jawa saat itu. Sultan Agung adalah raja yang tidak pernah mau berkompromi dengan VOC. Ia bahkan pernah dua kali menyerang kedudukan VOC di Batavia.

Penyerangan pertama pada tahun 1628 dipimpin oleh Tumenggung Baurekso dan beberapa panglima perang lainnya. Namun, serangan ini dapat dipatahkan oleh Belanda. Wabah penyakit serta kekurangan pasokan air dan makanan menjadi sebab gagalnya serangan ini.

Pada tahun 1629, Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram untuk menyerang Batavia. Penyerangan ini dipimpin oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Meskipun telah dipersiapkan dengan baik, termasuk membangun lumbung-lumbung padi di sepanjang perjalanan yang akan dilalui, penyerangan ini gagal. Penyebabnya, rencana penyerangan telah bocor dan diketahui oleh Belanda sehingga Belanda mendahului dengan membakar lumbung-lumbung padi yang telah di bangun.

Selain itu, wabah penyakit kolera turut memperburuk kondisi prajurit Mataram. Meskipun demikian, pada serangan kali ini, pasukan Mataram berhasil menguasai dan menghancurkan Benteng Hollandia. Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen juga tewas karena wabah penyakit kolera yang saat itu sedang berjangkit di Batavia.

Dari kedua penyerangan tersebut, Sultan Agung kemudian menarik kesimpulan menarik bahwa dukungan logistic amat penting untuk melakukan penyerangan ke lokasi yang jauh. Belajar dari hal tersebut, Sultan Agung kemudian mengirimkan orang-orangnya untuk membuka persawahan di daerah Purwakarta dan Sumedang. Namun, rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia yang ketiga kalinya tidak terlaksana. Dia wafat pada tahun 1645, sebelum penyerangan itu terlaksana. Penggantinya, Sultan Amangkurat I (1645-1677) ternyata bersikap lemah dan mau bekerjasama dengan Belanda.
yykmbix - 09/01/2011 10:19 AM
#53


SULTAN AGENG TIRTAYASA

Lahir : Banten, 1631
Wafat : Jakarta, 1692

Spoiler for Biografi Singkat
NAMA kecilnya adalah Abdul Fatah. Ia diangkat menjadi Sultan Banten pada usia 20 tahun dan mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan rakyat Banten untuk menolak bekerjasama dengan VOC (Belanda) dan melakukan serangan-serangan gerilya terhadap kedudukan Belanda.

Ia juga berhasil membongkar blockade laut Belanda dan melakukan kerjasama dagang dengan bangsa-bangsa Eropa lain seperti Denmark dan Inggris. Banyak kapal dan pekebunan teh VOC yang berhasil dirampas dan dirusak oleh pejuang-pejuang Banten. Hal ini sangat merugikan VOC.

Belanda akhirnya memakai strategi adu domba untuk menundukkan Banten, yakni dengan menghasut Sultan Haji anak tertua Sultan Ageng. Sultan Haji termakan hasutan Belanda dan mengira ayahnya akan menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Purbaya, adik Sultan Haji, sehingga terjadi perselisihan bahkan sampai terjadi peperangan antara ayah dan anak. Kerjasama Belanda dan Sultan Haji akhirnya dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dibuang ke Batavia hingga wafat di penjara pada tahun 1692. Sedangkan Pangeran Purbaya menyingkir ke daerah Priangan.



SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO VI
Lahir : Surakarta, 1807
Wafat : Ambon, 5 Juli 1849

Spoiler for Biografi Singkat
MESKIPUN bukan anak dari permaisuri, Paku Buwono VI dapat diangkat menjadi raja. Sesaat sebelum meninggal, ayahnya mengangkat Paku Buwono VI menjadi raja Kerajaan Surakarta pada tahun 1823.

Pada waktu Paku Buwono VI memerintah, pengaruh Belanda sudah amat besar atas kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah, demikian pula di Surakarta. Sehingga sewaktu terjadi perang Diponegoro, Keraton Surakarta tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantunya. Bahkan kemudian Paku Buwono VI dipaksa oleh Belanda untuk membantu memerangi Pangeran Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro berakhir, untuk menutupi kerugian besar akibat perang, Belanda justru melakukan tekanan-tekanan terhadap Paku Buwono VI dan Keraton Surakarta. Ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian yang merugikan Keraton Surakarta. Paku Buwono VI menolak menandatangani perjanjian tersebut. Belanda menjadi kesal, kemudian menganggap Paku Buwono VI sedang menyiapkan pasukannya untuk memberontak.

Kemudian Jenderal Hendrik De Kock selaku pemimpin Belanda saat itu berupaya untuk menundukkan Paku Buwono VI. Berbagai siasat dan tekanan-tekanan dilakukan hingga pada tanggal 6 Juni 1830 Paku Buwono VI pergi ke pemakaman Imogiri untuk berdoa. Belanda menuduh Paku Buwono VI akan menyiapkan pemberontakan. Paku Buwono VI kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ambon sehingga wafat pada tahun 1849.



SISINGAMANGARAJA XII
Lahir : Bakkara, Tapanuli, 1849
Wafat : Simsim, 17 Juni 1907

Spoiler for Biografi Singkat
NAMA aslinya adalah Patuan Besar Ompu Pulo Batu. Nama Sisingamangaraja XII baru dipakai pada tahun 1867, setelah ia diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya yang mangkat. Sang ayah meninggal akibat serangan penyakit kolera.

Februari 1878, Sisingamangaraja mulai melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Ini dilakukannya untuk mempertahankan daerah kekuasaannya di Tapanuli yang dicaplok Belanda. Dimulai dari penyerangan pos-pos Belanda di Bakal Batu, Tarutung. Sejak itu penyerangan terhadap pos-pos Belanda lainnya terus berlangsung diantaranya sebagai berikut.

- Mei 1883, pos Belanda di Uluan dan Balige diserang oleh pasukannya Sisingamangaraja.
- Tahun 1884, pos Belanda di Tangga Batu juga dihancurkan oleh pasukan Sisingamangaraja.

Tahun 1907, Belanda berhasil memperkuat pasukan dan persenjataannya. Kondisi ini membuat pasukan Raja Batak ini semakin terdesak dan terkepung. Pada pertempuran yang berlangsung di daerah Pak-pak inilah Sisingamangaraja XII gugur tepatnya pada tanggal 17 Juni 1907. Bersama-sama dengan putrinya (Lopian) dan dua orang putranya (Patuan Nagari dan Patuan Anggi).

Sisingamangaraja kemudian dimakamkan di Balige dan selanjutnya kembali dipindahkan ke Pulau Samosir.



RAJA HAJI FISABILILLAH
Lahir : Ulu Sungai, Riau 1725
Wafat : Teluk Ketapang, 18 Juni 1784

Spoiler for Biografi Singkat
RAJA HAJI FISABILILLAH diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda (YDM) Kerajaan Melayu Riau pada tahun 1777. Sebagai Yang Dipertuan Muda, Raja Haji bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan di Kerajaan Melayu Riau. Dalam masa pemerintahannya, Kerajaan Melayu Riau berkembang cukup baik.

Akan tetapi, Belanda yang saat itu masih menguasai Malaka, tetap merupakan ancaman bagi kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Sebetulnya pada tahun 1780, Kerajaan Melayu Riau telah mengadakan perjanjian tersebut, peperangan pun tidak dapat dihindari.

Walaupun angkatan laut Belanda mencoba untuk memblokade Riau, terutama Pulau Penyengat sebagai tempat kediaman YDM Raja Haji, armada Melayu Riau dapat dengan mudah menerobos blokade tersebut. Akhirnya, karena selalu gagal menguasai Pulau Penyengat, Belanda menggunakan taktik mengulur-ulur waktu sambil menunggu bantuan yang lebih besar didatangkan ke Perairan Riau. Raja haji kemudian bekerja sama dengan Sultan Selangor untuk memerangi Belanda di Malaka. Untuk menghadapi pasukan gabungan itu, Belanda mendatangkan pasukannya dari Jawa dalam jumlah besar.

Pada tahun 1784, terjadilah pertempuran hebat. Raja Haji yang memimpin sendiri pasukannya di Teluk Ketapang akhirnya tewas terkena tembakan. Semula jenazahnya dimakamkan di Malaka, kemudian dipindahkan ke pemakaman raja-raja Melayu Riau di Pulau Penyengat.
yykmbix - 09/01/2011 10:19 AM
#54

RADIN INTEN II
Lahir : Lampung, 1834
Wafat : Lampung, 5 Oktober 1858

Spoiler for Biografi Singkat
SEJAK Radin Inten II dinobatkan sebagai raja di Negara Ratu (Lampung) ia selalu menentang pemerintahan Belanda yang waktu itu telah menguasai sebagian lampung. Tahun 1851, Belanda melakukan serangan ke Negara Ratu, tetapi dapat digagalkan. Kemudian Belanda dan Radin Inten membuat perjanjian damai yang isinya antara lain Belanda mengakui kedaulatan Negara Ratu, sedangkan Radin Inten mengakui pula daerah-daerah kekuasaan Belanda. Ternyata upaya ini hanya merupakan taktik Belanda belaka untuk menyusun kekuatan.

Tahun 1856, Belanda kembali melancarkan serangan secara besar-besaran ke Negara Ratu dan Berhasil menguasai beberapa Benteng pertahanan Radin Inten. Namun Radin Inten tidak berhasil ditangkap oleh Belanda. Secara licik kemudian Belanda berhasil mengajak kerjasama Radin Ngerapat untuk menjebak Radin Inten II.

Tanggal 5 Oktober 1858, Radin Ngerapat berpura-pura mengajak Radin Inten II ke suatu tempat. Tanpa diketahui Radin Inten, tempat tersebut ternyata sudah dikepung pasukan Belanda yang telah bersiap untuk melakukan penyergapan. Radin Inten tetap memberikan perlawanan, namun karena pertempuran tidak seimbang hingga akhirnya ia harus tewas saat itu juga.

Gugurnya Radin Inten II adalah akhir dari perjuangan rakyat Negara Ratu atau Lampung dalam memerangi Belanda.
yykmbix - 09/01/2011 10:20 AM
#55

telah dipesan telah dipesan
pembasmivampir - 10/01/2011 06:37 AM
#56

Iya katanya yg meninggal paling muda itu martha tiahahu.
javanissary - 10/01/2011 09:07 AM
#57

nice trit gan

ane rate *****

oio untuk Pangeran Diponegoro, ada buku yg dibuat oleh R.M. Pranoedjoe Poespaningrat-yg salah seorang anggota Keraton, yg menyatakan bahwa gelar Abdul Hamid yg disandang oleh Pangeran Diponegoro dipakai oleh beliau karena terinspirasi oleh Sultan Abdul Hamid I dari Kesultanan Ottoman..selain itu gelar dan pembagian prajurit Pangeran Diponegoro menggunakan istilah yg juga terinspirasi dari Pasukan Ottoman seperti Basya (Pasha), dll...
mbixyyku - 11/01/2011 11:54 AM
#58

waaah keren lanjut gan ane kasih *****
Longcat.inc - 11/01/2011 05:10 PM
#59

wow

hormat grak.!
n'DhiK - 11/01/2011 10:29 PM
#60

wah, thread begini nih yg ane tunggu2 di forsex! membangkitkan gelora nasionalisme! lanjutin lagi gan profil pahlawan nasional kita! terutama pas era 1900-an! btw ane pengen tau dong sejarahnya Tan Malaka
yykmbix - 14/01/2011 08:37 AM
#61

Quote:
Original Posted By n'DhiK
wah, thread begini nih yg ane tunggu2 di forsex! membangkitkan gelora nasionalisme! lanjutin lagi gan profil pahlawan nasional kita! terutama pas era 1900-an! btw ane pengen tau dong sejarahnya Tan Malaka


okey akan saya lanjutkan nanti siang
BrokenCrescent - 14/01/2011 09:02 AM
#62

sayang tritnya ga pernah diupdate lagi :mewek
BrokenCrescent - 14/01/2011 09:05 AM
#63

hampir mirip dengan trit yang ini ya
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6123002

tp gpp, itu tandanya kita cinta dengan para Pahlawan kita.
BrokenCrescent - 14/01/2011 09:14 AM
#64

Thaha Syaifuddin (1816-1904)


Spoiler for Thaha Syaifuddin dari Jambi

Sultan Thaha Syaifuddin (Jambi, 1816 - Betung, 26 April 1904) adalah seorang sultan terakhir dari Kesultanan Jambi. Dilahirkan di Keraton Tanah pilih Jambi pada pertengahan tahun 1816. Ketika kecil ia biasa dipanggil Raden Thaha Ningrat dan bersikap sebagai seorang bangsawan yang rendah hati dan suka bergaul dengan rakyat biasa.[1]

Pada pertempuran di Sungai Aro itu jejak Sultan Thaha tidak diketahui lagi oleh rakyat umum, kecuali oleh pembantunya yang sangat dekat. Sultan Thaha Syaifuddin meninggal pada tanggal 26 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo, Jambi.


namanya diabadikan menjadi Nama Bandara di Jambi
BrokenCrescent - 14/01/2011 09:21 AM
#65

Hamengkubuwana I (1717-1792)


Spoiler for sedikit tentang beliau

Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak . Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.

Perang antara Mangkubumi melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.

Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan. Pada akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Ia pun menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada VOC sebagai pelindung Surakarta tanggal 11 Desember.

Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai raja bergelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di markasnya, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15. Dengan demikian terdapat dua orang Pakubuwana III. Yang satu disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kebanaran, karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah Mataram.

Perang kembali berlanjut. Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck. Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek.

Pada tahun 1752 Mangkubumi dengan Raden Mas Said terjadi perselisihan.Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara dukungan kepada Raden Mas Said oleh kalangan elite Jawa dan tokoh tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi.Dalam dukungan elite Jawa menemui fakta kalah dengan Raden Mas Said maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Raden Mas Said tetapi Mangkubumi menemui kegagalan.Raden Mas Said kuat dalam dukungan-pilihan oleh elite Jawa dan juga kuat dalam kekuatan bersenjata.Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu Raden Mas Said.Akibat kekalahan yang telak Mangkubumi kemudian menemui VOC menawarkan untuk bergabung dan bertiga dengan Paku Buwono III sepakat menghadapi Raden Mas Said.

Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan Raden Mas Said akhirnya diterima VOC tahun 1754. Pihak VOC diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara Jawa. Sebagai perantara adalah Syaikh Ibrahim, seorang Turki. Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan September 1754.

Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan. Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan Pakubuwana III, sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa VOC seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua;10.000 real untuk dirinya Mangkubumi dan 10.000 real untuk Pakubuwono III.

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dilakukan penandatanganan naskah Perjanjian Giyanti yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Wilayah kerajaan yang dipimpin Pakubuwana III dibelah menjadi dua. Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian.Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara pemberontak kelompok Mangkubumi bergabung dengan Pakubuwono III dan VOC menjadi persekutuan untuk melenyapkan pemberontak kelompok Raden Mas Said.

Bergabungnya Mangkubumi dengan VOC dan Paku Buwono III adalah permulaan menuju kesepakatan pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Dari persekutuan ini dapat dipertanyakan; Mengapa Mangkubumi bersedia membagi Kerajaan Mataram sedangkan persellisihan dengan menantunya Raden Mas Said berpangkal pada supremasi kedaulatan Mataram yang tunggal dan tidak terbagi? Dari pihak VOC langsung dapat dibaca bahwa dengan pembagian Mataram menjadikan VOC keberadaannya di wilayah Mataram tetap dapat dipertahankan. VOC mendapat keuntungan dengan pembagian Mataram.

Sejak Perjanjian Giyanti wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Pakubuwana III tetap menjadi raja di Surakarta, Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I menjadi raja di Yogyakarta.Mangkubumi sekarang sudah memiliki kekuasaan dan menjadi Raja maka tinggal kerajaan tempat untuk memerintah belum dimilikinya.Untuk mendirikan Keraton/Istana Mangkubumi kepada VOC mengajukan uang persekot sewa pantai utara Jawa tetapi VOC saat itu belum memiliki yang diminta oleh Mangkubumi.

Pada bulan April 1755 Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya . Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan saat mengantar jenazah dari Surakarta menuju Imogiri. Oleh karena itu, ibu kota baru dari Kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, atau disingkat Yogyakarta.

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer. Kerajaan yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I kemudian lebih terkenal dengan nama Kesultanan Yogyakarta.

lengkapnya di http://id.wikipedia.org/wiki/Hamengkubuwana_I


Pahlawan Nasional yang melawan VOC Pendiri Keraton Yogyakarta
BrokenCrescent - 14/01/2011 09:22 AM
#66

Nyi Ageng Serang (1752-1828)



Spoiler for keturunan Sunan Kalijaga dan Neneknya Ki Hajar Dewantara

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, 1752 - Yogyakarta, 1828) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen. Setelah ayahnya wafat Nyi Ageng Serang menggantikan kedudukan ayahnya. Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan,mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien tapi beliau sangat berjasa bagi negeri ini.Warga Kulon Progo mengabadikan monumen beliau di tengah kota Wates berupa patung beliau sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.


ternyata banyak sekali pahlawan wanita di Indonesia, tp yang satu ini kurang terdengar waktu belajar sejarah disekolahan
thebolonz - 14/01/2011 10:34 AM
#67

nice gan...update terus y..
Hartchenko - 14/01/2011 11:49 AM
#68


Pahlawanku...
javanissary - 14/01/2011 01:53 PM
#69
Abdulrahman Saleh


Spoiler for Biografi
Abdulrahman Saleh, Prof. dr. Sp.F, Marsekal Muda Anumerta, (lahir di Jakarta, 1 Juli 1909 – meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 29 Juli 1947 pada umur 38 tahun) atau sering dikenal dengan nama julukan "Karbol" adalah seorang pahlawan nasional Indonesia, tokoh Radio Republik Indonesia (RRI) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

Masa kecil
Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, ia bersekolah di HIS (Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School) MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau kini SLTP, AMS (Algemene Middelbare School) kini SMU, dan kemudian diteruskannya ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Karena pada saat itu STOVIA dibubarkan sebelum ia menyelesaikan studinya di sana, maka ia meneruskan studinya di GHS (Geneeskundige Hoge School), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tak pernah memaksakannya untuk menjadi dokter, karena saat itu hanya ada STOVIA saja. Ketika ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat giat berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

Kegiatan kedokteran dan militer
Setelah ia memperoleh ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan ilmu faal. Setelah itu ia mengembangkan ilmu faal ini di Indonesia. Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958 menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.

Ia juga aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil memperoleh ijazah atau surat izin terbang. Selain itu, ia juga memimpin perkumpulan VORO (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep), sebuah perkumpulan dalam bidang radio. Maka sesudah kemerdekaan diproklamasikan, ia menyiapkan sebuah pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melalui pemancar tersebut, berita-berita mengenai Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dapat disiarkan hingga ke luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesia yang berdiri pada 11 September 1945.

Setelah menyelesaikan tugasnya itu, ia berpindah ke bidang militer dan memasuki dinas Angkatan Udara Ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946. Ia turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Sebagai Angakatan Udara, ia tidak melupakan profesinya sebagai dokter, ia tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter di Klaten, Jawa Tengah.

Akhir hidup
Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini, mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.

Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi ijin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.

Abulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 Nopember 1974.

Pada tanggal 14 Juli 2000, atas prakarsa TNI-AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan para istri mereka dipindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.

Nama Ia diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum (Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.


Nama beliau diabadikan jadi nama bandara di kota ane gan
javanissary - 14/01/2011 01:56 PM
#70
Agustinus Adisucipto




Spoiler for Adisutjipto
Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta[1] (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916 – meninggal di Bantul, Yogyakarta, 29 Juli 1947 pada umur 31 tahun) adalah seorang pahlawan nasional dan seorang komodor udara Indonesia.

Adisutjipto dilahirkan 3 Juli 1916 di Salatiga, mengenyam pendidikan GHS (Geneeskundige Hoge School) (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan lulusan Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati.

Pada tanggal 15 November 1945, Adisutjipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasa beliau sebagai pahlawan nasional.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisujipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Namun dalam perjalanan pulang membawa bantuan obat-obatan dari Malaya, pesawat Dakota VT-CLA ditumpanginya jatuh ditembak oleh dua pesawat P-40 Kittyhawk[2] Belanda di Dusun Ngoto pada tanggal 29 Juli 1947.

Beliau dimakamkan di pekaman umum Kuncen I dan II, dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di Desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.
Page 3.5 of 9 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > Pahlawan Nasional Yang Jarang Kita Tau