Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##
Total Views: 59387
Page 2.5 of 38 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

adi6510 - 21/05/2008 08:19 PM
#31

@ mas adang4444. Wah? Bubakan? Mohon diterangkan lebih lanjut, mas tentang situs bubakan. Maklum saya bukan orang Wonogiri nich, jadi tidak mengetahui persis kondisi medannya. Monggo lho
adi6510 - 21/05/2008 08:27 PM
#32

@ mas suzaku musha. Foto-foto sendang siwani mohon di-upload. Sepertinya foto sendang siwani boleh aja disebar karena : 1. Sudah pernah dimuat di majalah skala nasional. 2. Kalo bisa dipotret tanpa foto print out terbakar berarti udah "boleh". Memang di situs tertentu yang sinengker dan wingit, kadang tidak dapat dipotret atau hasil fotonya rusak. Monggo, mas diupload kemawon. Matur nuwun.
adi6510 - 21/05/2008 08:42 PM
#33
250 Tahun Puro Mangkunegaran (bagian pertama)
250 Tahun Pura Mangkunegaran. Tak Peduli Literasi, Tak Kenal Jati Diri. Oleh Sulung Prasetyo
SURAKARTA - Indonesia tampaknya belum memiliki sistem pendokumentasian sejarah yang baik. Ada banyak data sejarah penting yang berkaitan dengan masa lalu bangsa ini justru didapat dari negeri lain.
Buruknya dokumentasi literasi Indonesia makin terasa terlihat jika kita mendengar cerita dari Pura Mangkunegaran Solo. Catatan pribadi asli Raden Mas (RM) Said alias Pangeran Sambernyowo, juga ternyata tersimpan dalam perpustakaan Leiden Koninklijk Institut Voor Taal Lan en Volkenkunde Oriental (KILTV).

Padahal, RM Said sendiri terkenal sebagai tokoh penting di belakang berdirinya istana pura di tengah kota Solo tersebut. Tanpa ia, mungkin tak pernah ada yang namanya Mangkunegaran yang menjadi satu ikon budaya di sana.

Rahasia adanya buku tersebut mulai terkuak ketika Hj KRAy Hilmiyah Pontjowolo berhasil kembali membawa salinan Babad Tutur yang merupakan catatan harian (diari) RM Said tersebut dari negeri Belanda tahun 1991 . Dari catatan itu kemudian terkuak secara komprehensif pemikiran-pemikiran RM Said ketika berperang dengan Belanda selama tahun 1741- 1757.

Dari analisis pemikiran-pemikiran itu, lahirlah persepsi baru mengenai keberadaan RM Said, yang semula dianggap bukan sekutu dari aliansi kerajaan Jawa saat terpecah pada perjanjian Giyanti.
Paradigma baru juga hadir seterusnya setelah penemuan buku diari RM Said itu, termasuk mengenai daerah-daerah yang didatangi RM Said kala berperang melawan Belanda selama 16 tahun itu. Dengan adanya catatan itu, wilayah seperti Gunung Gambar, Nglaroh, Pakuwon Tloboledok dan Gunung Mandegan menjadi makin berarti. Karena wilayah- wilayah itulah yang didatangi RM Said untuk merangkul massa pendukungnya.

Hal-hal kebaruan seperti itu juga yang kemudian terasa hadir ketika menyambangi peringatan 250 tahun Pura Mangkunegaran kisaran, pertengahan bulan ini, termasuk kebaruan tentang pemikiran pengurangan nilai mistis pada daerah-daerah kunjungan RM Said.

"Wawasan budaya seperti ini harusnya mampu lebih dioptimalisasikan sebagai bekal untuk kehidupan bernegara," tutur Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto, yang kebetulan hadir pada acara tersebut.

Pengejawantahan pemikiran baru itu kemudian tertuang dalam acara Napak Tilas Pangeran Samber Nyowo yang diadakan dalam rangkaian acara tersebut. Lebih dari 500 peserta kemudian mengikuti acara tersebut. Melintas Gunung Gambar hingga Gunung Mandegan yang berjarak total 62 kilometer.

Dalam semua acara tersebut tetap tak terukur jasa literasi dalam pendokumentasian. Karena adanya diari RM Said semua acara peringatan 250 tahun Pura Mangkunegaran makin bermakna. Namun kembali indahnya pemikiran-pemikiran menjadi buyar, kala teringat kembali buruknya dokumentasi literasi kita.

Hal ini juga yang dicermati seorang pemerhati budaya Jawa bernama Suyatno Kartodirdjo. Menurut dia ketidakpedulian pada dokumentasi, seperti pada kasus catatan RM Said bisa menjadi pelajaran. Karena ternyata catatan-catatan tersebut bisa menjadi patokan untuk perubahan berikutnya dan tak sepatutnya diremehkan.
"Karena dampak besarnya juga bisa menghilangkan jati diri sebuah bangsa," kata Suyatno dalam ucapan kesimpulan penutupnya.

Sumber : www.SinarHarapan.Co.Id
adi6510 - 21/05/2008 08:53 PM
#34
250 Tahun Puro Mangkunegaran (bagian 2)
Peringatan 250th Puro Mangkunegaran : A Reviving Moment

Ketika kokoh pondasi kian rapuh,
dan dinding - dinding putih semakin lusuh
oleh sang waktu yang tak henti menyepuh,
megah istana pun perlahan kian luluh,
lahirkan kegamangan, kobarkan kecemasan,
saat menyongsong angin yang terus
meniupkan perubahan pada zaman.

MEMASUKI usianya yang ke-250 tahun ini, Puro Mangkunegaran semakin terlihat menua. Secara fisik, ia tampak rapuh dan memerlukan pemugaran. Sementara kini, keberadaannya sendiri bukan lagi sekadar saksi bisu sejarah dan budaya Indonesia, melainkan juga cagar wisata bagi siapapun warga dunia yang ingin menikmati keeksotisannya.

Pendapa Ageng adalah satu dari beberapa bangunan utama Puro Mangkunegaran. Seluas 3500 meter persegi, pendopo terluas di Indonesia itu kini membutuhkan perhatian khusus, mengingat beberapa bagiannya telah mengeropos akibat proses pelapukan. Di sisi barat pendopo, tampak beberapa pondasi atapnya telah ditopang bambu penyangga.


Sementara itu, Langen Projo atau ruangan karawitan merupakan tempat bersejarah yang telah melahirkan dan mendidik pemain-pemain gamelan Mangkunegaran dari berbagai lintas generasi. Kini, ruangan itu pun sama pentingnya untuk disentuh pemugaran. Lantai bangunannya rusak, atap mulai berlubang, serta dinding yang mulai berlumut dan kusam.

Di sisi barat Puro Mangkunegaran, kondisi bangunan bersejarah lainnya juga demikian. Panti Putro, misalnya. Pada zaman dahulu, bangunan ini merupakan tempat para calon raja/ pangeran "dipingit" menjelang aqil baliq (dewasa) dan menyandang gelarnya. Di sana-sini, khususnya bangunan utama, mulai porak poranda dan tidak memungkinkan lagi dihuni. Tidak adanya dana perawatan membuat sekolah dasar "Siswo" yang dulu terkenal di situ kini beralih fungsi sebagai gudang penyimpanan barang inventaris Mangkunegaran.

Di bidang pendidikan formal, Puro Mangkunegaran sebetulnya cukup memberikan andil besar bagi Kota Solo dan sekitarnya. Dan lagi-lagi, hanya karena tidak ada dana perawatan, bangunan-bangun sekolah di lingkungan Puro itu kini kurang terawat baik. Bangunan "Siswo" untuk tingkat SMA yang berada di sisi kanan gerbang utama Puro Mangkunegaran, contohnya. "Gedung sekolah" itu kini juga semakin tidak terawat.
Rasanya, nasib bangunan bekas markas 'Artillerrie Kavalerrie' pun hanya sebatas kenangan kejayaan masa lalu Puro Mangkunegaran. Menghadap alun-alun Mangkunegaran, keberadaannya yang tinggi menjulang dan kokoh sebagai pusat perhatian publik itu kini tak lagi disertai perawatan memadai.

Dibangun sejak 1874, dinding bangunan bekas markas kavaleri itu kini tampak berlumut hitam dan keropos. Jendela-jendela besi kekar harus digantikan dengan papan kayu yang kini juga telah lapuk. Sementara itu, istal-istal kuda peliharan para pangeran sudah banyak yang kosong dan tak lagi berisi kuda-kuda gagah para prajurit dan bangsawan Mangkunegaran.


250th Puro Mangkunegaran :
Sebuah Momentum Mempertahankan Tradisi.

SENJAKALA tradisi, perjalanan seni dan budaya suatu bangsa harus terus berjalan demi mempertahankan eksistensi bangsa itu sendiri bagi masa depannya. Kiranya, begitu pula Puro Mangkunegaran. Di usianya yang ke-250 tahun ini, semangat para pelaku seni dan budaya di dalamnya masih senantiasa muda dan bergelora. Karena mereka percaya, setiap sesepuh tua kelak akan pergi, dan digantikan oleh mereka yang muda untuk meneruskan tradisi melakoni seni dan budaya para leluhurnya.
Namun, akankah semangat tersebut pupus di tengah jalan, dan bahkan terhapus hanya karena perjalanan waktu yang akan terus menggerogoti tempat mereka bernaung itu? Sampai kapan? Setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun, sementara waktu terus berjalan? Haruskah menunggu uluran tangan, hingga satu waktu dinding megah bangunan itu satu persatu akan roboh? Atau, menannti hingga atap nan indah menjulang itu akan runtuh?

Kini, bukan lagi waktunya menunggu, dan menunggu. Namun, sudah saatnya berbuat lebih nyata demi masa depan Puro Mangkunegaran. Sebuah warisan berharga, bukan hanya milik bangsa Indonesia, melainkan juga warga dunia.

Kiranya, momentum 250th Puro Mangkunegaran : A Reviving Moment" merupakan saat tepat yang dipilih oleh keluarga besar Puro Mangkunegaran yang terdiri dari Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, beserta Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat, untuk melakukan penggalangan dana bagi pemugaran Puro Mangkunegaran melalui beragam kegiatan seni dan budaya.

Sesuai rencana, setelah diawali Pergelaran Tari Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta & Selamatan Perjanjian Salatiga (16 - 17 Maret 2007 ), serta Lomba Macapat (3 Juni 2007 ), beragam hajatan seni-budaya, dan sejarah lainnya pun telah dirancang oleh panitia Peringatan 250 th Puro Mangkunegaran hingga November 2007 mendatang.

Beberapa mata acara, tempat, dan waktu pelaksanaannya, antara lain:
19 Juli 2007
Lokasi : Rumah Imam Bonjol - Jakarta
Acara : Macapat, Pergelaran Tari, & Presentasi Pemugaran dan Penggalangan Dana
21 Juli 2007
Lokasi : Museum Nasional (Gajah), Jakarta
Acara : Reperformance of Bedhaya Mataram Senapaten Diradameta
18 Agustus 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Seminar Perjuangan Rakyat Mataram
19 Agustus 2007
Lokasi : Kota Solo dan sekitarnya
Acara :
Napak Tilas
Tempat-Tempat Persinggahan RM.Said
7 , 8 , 9 September 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Peringatan Ulang Tahun Grup Tari Soeryosumirat & 140 Tahun Rekso Pustoko (Perpustakaan Mangkunegaran)
9 & 10 November 2007
Lokasi : Jalan di Sekitar Puro Mangkunegaran, dan Puro
Mangkunegaran
Acara : "Solo Tempo Doeloe" : Pesta Seni Budaya dan Pasar Rakyat
11 November 2007
Lokasi : Puro Mangkunegaran - Solo
Acara : Pergelaran Tari Kolosal Perjuangan Rakyat Mataram &
Berdirinya Puro Mangkunegaran Dalam Rangka Peringatan 250 Tahun Puro Mangkunegaran

2009
Jenis : Penerbitan Buku Pustaka
Materi : Buku Pustaka "250 Tahun Berdirinya Puro Mangkunegaran"

Sebagai deskripsi, acara puncak peringatan yang jatuh pada 9 dan 10 November 2007 nanti akan menyulap jalan-jalan utama Kota Solo dengan arak- arakan prajurit Puro Mangkunegaran yang diikuti dengan riuhnya marching band mengenakan busana khas budaya tradisional "ciri khas" Mangkunegaran. Keriuhan sejak pagi hingga petang hari tersebut juga akan diramaikan dengan digelarnya pusat-pusat kerajinan dan budaya tradisional di sepanjang areal acara (Alun-alun Mangkunegaran). Semuanya berasal dari Solo, mulai toko besar sampai dengan penjaja barang kerajinan dan jajanan pinggir jalan.

Sehari berikutnya, keramaian acara akan diriuhkan dengan Peragaan Busana Tradisional Jawa Khas Mangkunegaran, mulai dari era terdahulu sampai yang terkini. Selain itu, telah disiapkan pula jamuan makan malam dengan sajian kuliner khas Puro Mangkunegaran, senandung musik keroncong, serta pergelaran Tari Kolosal "Perjuangan Rakyat Mataram & Berdirinya Puro Mangkunegaran".

Khusus penyelenggaraan tari kolosal tersebut, panitia merancang keterlibatan sekitar 250 hingga 300 orang penari yang terdiri dari berbagai bangsa, etnis, dan suku, seperti warga negara Belanda, warga keturunan Tionghoa, suku Bali, Jawa, dan lain-lain yang akan melibatkan pasukan berkuda dan Gajah, serta Parade keluarga besar Puro Mangkunegaran & Sentono Abdi Dalem.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Pemerhati Puro Mangkunegaran (YPPM), Yayasan Soeryosumirat, Himpunan Kerabat Mangkunegaran Soeryosumirat, serta Idekami Communication, dan didukung oleh PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program "Sampoerna Untuk Indonesia" yang memiliki visi sama dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan kebudayaan nasional, di antaranya seni musik tradisional Jawa.

Sumber : www.opensubscriber.com/message/tourismindonesia @yahoogroups.com/ 6923783 .html
adi6510 - 21/05/2008 09:40 PM
#35
Sejarah Terbentuknya Kab. Wonogiri & Kaitannya dgn Pangeran Samber Nyowo (bag 1)
Sejarah terbentuknya Kabupaten Wonogiri tidak bisa terlepas dari perjalanan hidup Raden Mas Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Kata Wonogiri sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti wana (alas/sawah) dan giri (gunung/pegunungan) sehingga nama itu sangat cocok dengan kondisi wilayahnya yang memang sebagian besar berupa hutan dan gunung".

Pemerintahan di Kabupaten Wonogiri awal mulanya merupakan suatu daerah basis perjuangan Raden Mas Said dalam menentang penjajahan Belanda. Raden Mas Said lahir di Kartasuro pada hari Minggu Legi, tanggal 4 Ruwah Jimakir 1650 tahun Jawa, Windu Adi Wuku Wariagung, atau pada tanggal 8 April 1725 M. Raden Mas Said merupakan putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro dan Raden Ayu Wulan yang wafat saat melahirkannya. Pada usia baru 2 tahun, Raden Mas Said harus kehilangan ayahandanya karena dibuang oleh Belanda ke Tanah Kaap (Ceylon) atau Srilanka. Hal itu karena ulah keji berupa fitnah dari Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo. Akibatnya, Raden Mas Said mengalami masa kecil yang jauh selayaknya seorang bangsawan Keraton. Raden Mas Said menghabiskan masa kecil bersama anak-anak para abdi dalem lainnya sehingga mengerti betul bagaimana kehidupan kawula alit. Hikmah dibalik itulah yang menempa Raden Mas Said menjadi seorang yang mempunyai sifat kepedulian terhadap sesama dan kebersamaan yang tinggi karena kedekatan beliau dengan abdi dalem yang merupakan rakyat kecil biasa.

Pada suatu saat terjadi peristiwa yang membuat Raden Ms Said resah, karena di Keraton terjadi ketidakadilan yang dilakukan oleh Raja (Paku Buwono II) yang menempatkan Raden Mas Said hanya sebagai Gandhek Anom (Manteri Anom) atau sejajar dengan Abdi Dalem Manteri. Padahal kedudukan Raden Mas Said seharusnya sebagai Pangeran Sentana. Melihat hal ini, Raden Mas Said ingin mengadukan ketidakadilan kepada sang Raja, akan tetapi pada saat di Keraton oleh sang Patih Kartasura ditanggapi dingin. Dan dengan tidak berkata apa-apa sang Patih memberikan sekantong emas kepada Raden Mas Said. Perilaku sang Patih ini membuat Raden Mas Said malu dan sangat marah, karena beliau ingin menuntut keadilan bukan untuk mengemis.

Raden Mas Said bersama pamannya Ki Wiradiwangsa dan Raden Sutawijaya yang mengalami nasib sama mengadakan perundingan untuk membicarakan ketidakadilan yang menimpa mereka. Akhirnya Raden Mas Said memutuskan untuk keluar dari keraton dan mengadakan perlawanan terhadap Raja.

Raden Mas Said bersama pengikutnya mulai mengembara mencari suatu daerah yang aman untuk kembali menyusun kekuatan. Raden Mas Said bersama para pengikutnya tiba disuatu daerah dan mulai menggelar pertemuan- pertemuan untuk menghimpun kembali kekuatan dan mendirikan sebuah pemerintahan biarpun masih sangat sederhana. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) tahun Jumakir , windu segoro : Angrasa Retu Ngoyag Jagad atau tahun 1666 dalam kalender Jawa. Dan dalam perhitungan dalam kalender Masehi bertepatan dengan hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 M.

Daerah yang dituju Raden Mas Said itu adalah Dusun Nglaroh (sekarang wilayah di Kecamatan Selogiri) dan disana Raden Mas Said duduk di sebuah batu guna mempimpin pertemuan- pertemuan dengan para pengikutnya untuk menyusun strategi melawan ketidakadilan. Batu ini dikemudian hari dikenal sebagai Watu gilang yang merupakan tempat awal mula perjuangan Raden Mas Said dalam melawan ketidakadilan dan segala bentuk penjajahan. Bersama dengan pengikut setianya, dibentuklah pasukan inti kemudian berkembang menjadi perwira-perwira perang yang mumpuni dengan sebutan Punggowo Baku Kawandoso Joyo. Dukungan dari rakyat Nglaroh kepada perjuangan Raden Mas Said juga sangat tinggi yang disesepuhi oleh Kyai Wiradiwangsa yang diangkat sebagai Patih. Dari situlah awal mula suatu bentuk pemerintahan yang nantinya menjadi cikal bakal Kabupaten Wonogiri.

Dalam mengendalikan perjuangannya, Raden Mas Said mengeluarkan semboyan yang sudah menjadi ikrar sehidup semati yang terkenal dengan sumpah "Kawulo Gusti " atau "Pamoring Kawulo Gusti" sebagai pengikat tali batin antara pempimpin dengan rakyatnya, luluh dalam kata dan perbuatan, maju dalam derap yang serasi bagaikan keluarga besar yang sulit dicerai-beraikan musuh. Ikrar tersebut berbunyi "Tiji tibeh, Mati Siji Mati Kabeh, Mukti Siji Mukti Kabeh. Curigo Manjing Warongko, Warongko Manjing Curigo" . Ini adalah konsep kebersamaan antara pimpinan dan rakyat yang dipimpin maupun sesama rakyat.

Raden Mas Said juga menciptakan suatu konsep manajemen pemerintahan yang dikenal sebagai Tri Darma yaitu pertama adalah Mulat Sarira Hangrasa Wani , artinya berani mati dalam pertempuran karena dalam pertempuran hanya ada dua pilihan hidup atau mati. Berani bertindak menghadapi cobaan dan tantangan meski dalam kenyataan berat untuk dilaksanakan. Sebaliknya, disaat menerima anugerah baik berupa harta benda atau anugerah lain, harus diterima dengan cara yang wajar. Hangrasa Wani, mau berbagi bahagia dengan orang lain.

Kedua adalah Rumangsa Melu Handarbeni , artinya merasa ikut memiliki daerahnya, tertanam dalam sanubari yang terdalam, sehingga pada akhirnya pada akhirnya akan menimbulkan perasaan rela berjuang dan bekerja untuk daerahnya. Merawat dan melestarikan kekayaan yang terkandung didalamnya.

Ketiga adalah Wajib Melu Hangrungkebi , artinya dengan merasa ikut memiliki timbul kesadaran untuk berjuang hingga titik darah penghabisan untuk tanah kelahirannya.
Kegigihan Raden Mas Said dalam memerangi musuh-musuhnya sudah tidak diragukan lagi, bahkan hanya dengan prajurit yang jumlahnya sedikit Ia tidak akan gentar melawan musuh sampai titik darah penghabisan. Raden Mas Said merupakan panglima perang yang mumpuni, terbukti selama hidupnya Ia sudah melakukan tidak kurang 250 kali pertempuran dengan tidak menderita kekalahan yang berarti. Dari sinilah Raden Mas Said mendapat julukan "Pangeran Sambernyawa" karena beliau dianggap sebagai penebar maut (Penyambar Nyawa) bagi siapa saja musuhnya pada setiap pertempuran.

Berkat keuletan dan ketangguhan Raden Mas Said dalam taktik pertempuran dan bergerilya sehingga luas wilayah perjuangannya meluas meliputi Ponorogo, Madiun dan Rembang bahkan sampai daerah Yogyakarta. Pada akhirnya atas bujukan Sunan Paku Buwono III, Raden Mas Said bersedia diajak ke meja perundingan guna mengakhiri pertempuran.

Dalam perundingan yang melibatkan Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengkubuwono I dan pihak Kompeni Belanda maka disepakati bahwa Raden Mas Said mendapat daerah kekuasaan dan diangkat sebagai Adipati Miji atau mandiri bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I . Penetapan wilayah kekuasaan Raden Mas Said terjadi pada tanggal 17 Maret 1757 melalui sebuah perjanjian di daerah Salatiga. Kedudukannya sebagai Adipati Miji sejajar dengan kedudukan Sunan Paku Buwono III dan Sultan Hamengkubuwono I dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Keduwang (daerah Wonogiri bagian timur), Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar), Sembuyan (daerah sekitar Wuryantoro dan Baturetno), Matesih, dan Gunung Kidul.

Dalam masa pemerintahan KGPAA Mangkunegoro I membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi 5 daerah yang masing- masing memiliki ciri khas atau karakteristik yang digunakan sebagai metode dalam menyusun strategi kepemimpinan. Pembagian wilayah dengan karakteristik berbeda itu adalah pertama, daerah Nglaroh (wilayah Wonogiri bagian utara, sekarang masuk wilayah kecamatan Selogiri). Sifat rakyat daerah ini adalah Bandol Ngrompol yang berarti kuat dari segi rohani dan jasmani, memiliki sifat bergerombol atau berkumpul. Karakteritik ini sangat positif dalam kaitannya untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Rakyat di daerah Nglaroh juga bersifat pemberani, suka berkelahi, membuat keributan akan tetapi jika bisa memanfaatkan potensi rakyat Nglaroh bisa menjadi kekuatan dasar yang kuat untuk perjuangan.

Kedua adalah daerah Sembuyan (wilayah Wonogiri bagian selatan sekarang Baturetno dan Wuryantoro), mempunyai karakter sebagai Kutuk kalung Kendho yang berarti bersifat penurut, mudah diperintah pimpinan atau mempunyai sifat paternalistik.
Ketiga adalah daerah Wiroko (merupakan wilayah sepanjang kali Wiroko atau bagian tenggara Kabupaten Wonogiri sekarang masuk wilayah kecamatan Tirtomoyo). Masyarakat didaerah ini mempunyai karakter sebagai Kethek Seranggon yang berarti mempunyai kemiripan seperti sifat kera yang suka hidup bergerombol, tetapi sulit diatur, mudah tersinggung dan kurang memperhatikan dalam hal tata krama sopan santun. Jika didekati mereka kadang kurang mau menghargai orang lain, dan jika dijauhi mereka akan sakit hati. Ungkapan Jawa yang pas untuk menggambarkan sifat ini adalah gampang-gampang angel (gampang-gampang susah).

Keempat adalah daerah Keduwang (wilayah Wonogiri bagian timur) masyarakatnya mempunyai karakter sebagai Lemah Bang Gineblegan. Sifat ini bagai tanah liat yang bisa padat dan dapat dibentuk jika ditepuk-tepuk. Masyarakat daerah ini suka berfoya-foya, boros dan sulit untuk melaksanakan perintah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin yang tahu dan paham karakter sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya sifat tanah liat, maka mereka akan mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat.

Dan terakhir adalah daerah Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar) mempunyai karakter seperti Asu Galak Ora Nyathek. Karakteristik masyarakat disini bagaikan anjing galak yang suka menggonggong akan tetapi tidak suka menggigit. Sepintas dilihat dari tutur kata dan bahasanya, masyarakat Honggobayan memang kasar dan keras menampakkan sifat sombong dan congkak serta tinggi hati, dan yang terkesan adalah sifat kasar menakutkan. Akan tetapi mereka sebenarnya baik hati, perintah pimpinan akan dikerjakan dengan penuh tanggungjawab.

Dengan memahami sifat yang menjadi ciri khas daerah-daerah tersebut, Raden Mas Said menerapkan cara yang berbeda dalam memerintah dan mengendalikan rakyat diwilayah kekuasaannya. Dengan demikian akan tercapai penggalian potensi yang maksimal demi kemajuan dalam membangun wilayah tersebut.
adi6510 - 21/05/2008 09:53 PM
#36
Sejarah Terbentuknya Kab. Wonogiri & Kaitannya dgn Pangeran Samber Nyowo (bag 2)
Raden Mas Said memerintah selama kurang lebih 40 tahun dan wafat pada tanggal 28 Desember 1795.

Setelah Raden Mas Said meninggal dunia, kekuasaan trah Mangkunegaran diteruskan oleh putra-putra beliau. Pada masa kekuasaan KGPAA Mangkunegara VII terjadi peristiwa penting sekitar tahun 1923 M yakni perubahan status daerah Wonogiri yang dahulu hanya berstatus kawedanan menjadi Kabupaten. Saat itu Wedana Gunung Ngabehi Warso Adiningrat diangkat menjadi Bupati Wonogiri dengan pangkat Tumenggung Warso Adiningrat. Akibat perubahan status ini, wilayah Wonogiri pun dibagi menjadi 5 kawedanan yaitu kawedanan Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, Jatisrono dan Purwantoro.

Pada saat itu di wilayah kekuasaan Mangkunegaran dilakukan penghematan anggaran keraton dengan menghapuskan sebagian wilayah Kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar sehingga wilayah Mangkunegaran manjadi dua yaitu Kabupaten Mangkunegaran dan Kabupaten Wonogiri. Ini berlangsung sampai tahun 1946.

Dalam perkembangannya, rakyat Wonogiri pada masa pendudukan Jepang dan tentara sekutu, bersama-sama dengan rakyat Indonesia pada umumnya tidak bisa dilepaskan dari penderitaan dan kekejaman penjajahan. Rakyat Wonogiri bersama dengan rakyat Indonesia tergugah dan bersatu padu melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh bangsa Belanda maupun Jepang. Semangat pemuda Wonogiri yang tidak kenal menyerah dan ulet seakan telah menjadi karakter tersendiri dalam berjuang memperbaiki nasib dan taraf kehidupan.

Sejak Republik Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945 sampai tahun 1946 di wilayah Mangkunegaran terjadi dualisme pemerintahan, yaitu Kabupaten Wonogiri masih dalam wilayah monarki Mangkunegaran dan di lain pihak menginginkan Kabupaten Wonogiri masuk dalam sistem demokrasi Republik Indonesia. Timbulah gerakan Anti Swapraja yang menginginkan Wonogiri keluar dari sistem kerajaan Mangkunegaran. Akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Wonogiri tidak menghendaki kembalinya Swapraja Mangkunegaran.

Sejak saat itu Kabupaten Wonogiri mempunyai status seperti sekarang, dan masuk sebagai Kabupaten yang berada diwilayah Propinsi Jawa Tengah. Berikut adalah nama Bupati Wonogiri setelah masa kemerdekaan :
1 . KRT. Soetojo Harjo Reksono ( 1946 - 1948)
2 . R. Danupranoto ( 1948-1950)
3 . R. Agus Miftah Danoekoesoemo ( 1950-1953)
4 . R. Sentot Wongsoatmodjo ( 1953-1956)
5 . R. Soetarko ( 1956-1957)
6 . R. Poerwo Pranoto (1958)
7 . Yacob Danoeatmojo ( 1958- 1959)
8 . RM. Ng. Broto Pranoto ( 1960- 1966)
9 . R. Samino ( 1967-1974)
10 . RM. Soemoharmoyo ( 1974- 1979)
11 . Drs. Agoes Soemadi ( 1979- 1980)
12 . R. Soediharto ( 1980-1985)
13 . Drs. Oemarsono ( 1985-1995)
14 . Drs. Tjuk Susilo ( 1995-2000)
15 . H. Begug Poernomosidi (2000-sekarang)

Dengan mengambil momentum tanggal 19 Mei 1741 M yang merupakan tanggal Raden Mas Said membentuk sebuah awal pemerintahan di Nglaroh yang merupakan cikal bakal Kabupaten Wonogiri maka Pemerintah Kabupaten Wonogiri menetapkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1990 tentang Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri. Hari Jadi suatu daerah pada hakekatnya adalah merupakan awal perjalanan sejarah dan titik tolak untuk menatap masa depan dengan pembangunan secara sistematis dan berkesinambungan.

Berdasarkan budaya Jawa bahwa tahun 1741 mengandung makna surya sengkala yaitu : 1741 (Kahutaman Sumbering Giri Linuwih). arti kata yang terkandung didalamnya adalah Kahutaman : keberanian; Sumbering : sumber kekuatan; Giri : Gunung/Wonogiri; dan Linuwih : tertinggi. Sehingga jika digabungkan mengandung maksud filosofis yakitu : Dengan Keberanian atas dasar keluhuran budi, tekad dan semangat, segala tujuan luhur akan tercapai.

Hari Jadi Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu jati diri daerah yang perlu dihormati, dilestarikan dan diperingati oleh segenap jajaran Pemerintah Daerah dan seluruh lapisan masyarakat dengan menumbuhkan semangat juang, patriotisme, kesatuan bangsa, kemndirian, suri tauladan dan nilai budaya luhur para leluhur bagi generasi muda untuk mencapai cita-cita bangsa. Sudah menjadi agenda tahunan setiap tanggal 19 Mei di Kabupaten Wonogiri digelar serangkaian upacara dan kegiatan dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Jadinya dan sekaligus sebagai sarana mempromosikan potensi wisata budaya yang ada di Kabupaten Wonogiri.

Sekarang Kabupaten Wonogiri sudah menjadi sebuah Kabupaten yang memiliki berbagai keunggulan diberbagai bidang berkat kerja keras, keuletan, kemandirian dan semangat pantang menyerah seluruh rakyat dan semua komponen di Kabupaten Wonogiri dalam pembangunan. Kesadaran rakyat Wonogiri sangat tinggi dalam berpartisipasi untuk membangun daerah yang dulunya tandus menjadi daerah yang potensial dibidang ekonomi, sosial kebudayaan pariwisata, dan olahraga.


Sumber : www.mastrisno.blogspot.com, www.jawapalace.org, halosugriwo.tripod.com, Tabloid Gema Wonogiri, buku sejarah terjadinya pemerintahan di Wonogiri, dan sumber lain.
adi6510 - 21/05/2008 11:22 PM
#37
Watu Gilang
Lokasi Watu Gilang yaitu di desa Nglaroh Pule, Selogiri, Wonogiri. Dahulu tempat ini masih berupa hutan belantara. Dan di atas batu Gilang ini, Pangeran Samber Nyowo duduk memimpin dikelilingi anak buahnya. Tempat ini juga digunakan untuk menyusun strategi perang gerilya. Di lokasi ini sudah dibangun sebuah prasasti yang diberi nama Prasasti Watu Gilang. Pada hari Rabu Kliwon, tanggal 3 Rabiul Awal tahun 1666 Jimakir. Candra sengkala : Rasa restu ngayang jagad (19 Mei 1741). Surya sengkala : Kahutaman semering giri linuwih.
adi6510 - 22/05/2008 03:12 AM
#38
Tugu Monumen Penyimpanan Pusaka Selogiri
Sabtu, 15 Maret 2003. Kirab Pusaka Dimeriahkan 18 Kereta Kecana.

WONOGIRI - Prosesi kirab untuk mengawali ritual penjamasan pusaka Mangkungera I pada Sura Tahun Be 1936 yang diagendakan besok Minggu (16 /3 ), akan dimeriahkan dengan 18 kereta kencana. Kirab itu akan menjadi kirab agung termegah selama ini.

Di antara kereta kencana yang akan dikirab, ada kereta kencana pusaka dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipinjamkan oleh Raja Paku Buwono (PB) XII.
Juga ditampilkan prajurit iratana bersenjata tombak dari Istana Mangkunegaran Solo dan prajurit pemikul usungan joli (tempat alat-alat jamas). Kirab diiringi peraga pembawa dupa ratus, puluhan putri domas, dan punggawa baku kawan dasa jaya.
Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Seni Budaya (DPPSB) Wonogiri RT Hendro Purbandoro MM, Jumat (14 /3) mengatakan, untuk kali pertama pada kirab pusaka itu para punggawa dari Kaliwerak akan ikut mengiring dengan membuat barisan dalam prosesi kirab bersama para pamong kelurahan dan para aparat Kecamatan Wonogiri.
Disusul barisan grup-grup kesenian daerah dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Wonogiri dan sejumlah drum band pelajar.

Grup seni daerah yang akan tampil, antara lain dari Sanggar Langen Krida, Sanggar Seni Heru, kesenian reog caplok, trethek, oklik, sanggar KPSW, dan reog Dewan Kesenian Daerah (DKD). Selain itu, juga akan ditampilkan liong samsi barongsai.
Kepala Dinas Pasar Wonogiri Sri Wiyoso SH MM menyatakan, dalam kirab itu pihaknya sebagai pemimpin warok Reog Singo Giri juga akan menyertakan 100 warok.
Mereka akan mengiring kirab Singo Giri sebagai reog juara nasional yang menang dalam festival reog di Ponorogo Jatim. Mereka akan membawa piala kejuaraan reog nasional sebagai lambang supremasi kebanggaan para warok.

Camat Selogiri Harmadi SH MM mengatakan, untuk menyongsong pelaksanaan prosesi kirab dan riual penjamasan pusaka itu, para petugas dari Gunung Wijil dari Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN) Surya Sumirat Nglaroh, Sabtu (15 /3) sore akan menurunkan pusaka- pusaka Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I) dari tugu penyimpanannya.

"Ada keyakinan jika bukan trah dari Gunung Wijil, mustahil dapat mengangkat batu tutup tugu," kata Harmadi.

Pusaka yang akan diambil dari monumen tugu penyimpanan Selogiri terdiri atas dua tombak, yakni Kiai Totog dan Kiai Jagur Baladewa serta sebuah keris panjang Kiai Karawelang.

Setelah diambil dari tugu penyimpanan, pusaka akan dibawa ke Pendapa Kecamatan Selogiri, sebelum Minggu pagi (16 /3) dikirabkan dari Pendapa Kabupaten Wonogiri.
Ritual pengambilan pusaka tombak Kiai Limpung, kata Camat Girimarto Sutiyarno SM, juga akan dilakukan dari monumen rumah tiban Bubakan.

"Pusaka keris Semar Tinandu sudah beberapa tahun ini disimpan di Istana Mangkunegaran Solo," ujarnya. (P27-78e)


Sumber : www.suaramerdeka.com
ariherdi - 22/05/2008 03:14 AM
#39

Monumen Selogiri, konon katanya didalam monumen ini terdapat pusakanya.
Hmmm....mohon ditrawang para pinisepuh



mas adi memang nggak ada habisnya
avakuki - 22/05/2008 07:01 AM
#40

wah mas adi6510 dah kembali dengan sejarahnya. mantep

siap2 nggelar kloso trus menyimak
adi6510 - 22/05/2008 10:37 AM
#41

@ mas ariherdi. Matur nuwun sanget atas sumbangan foto nya.
adi6510 - 22/05/2008 12:27 PM
#42

@ mas avakuki. Terima kasih atas apresiasinya.
adi6510 - 22/05/2008 03:41 PM
#43
Rumah Tiban Bubakan, tempat pusaka (bagian 1)
Senin, 04 Februari 2008. Tiga bregada (setingkat pleton) prajurit dari Keraton Kasunanan Surakarta, ikut memeriahkan prosesi kirab pusaka Sura di Wonogiri, Minggu (3 /2). Prajurit itu dilengkapi barisan korps musik drum band kuno milik keraton.

Ketiga bregada itu, terdiri atas prajurit Prawiratama dan Prawiraanom yang berseragam hitam-hitam dan hijau-hijau, serta prajurit Sorogenen berseragam merah-merah. Kirab pusaka yang ditradisikan setiap bulan Sura, itu mengambil start dari pendapa Kabupaten Wonogiri, dikemas dalam nuansa kejawen.

Kirab dipimpin Bupati H Begug Poernomosidi, diikuti para pejabat, puluhan putri domas, barisan manggala kawan dasa jaya, prajurit Irotono dari Mangkunegaran, dan disambung barisan paguyuban keraton Surakarta (Pakasa). Ada pula keluarga besar kerabat Mangkunegaran, sekitar 500 pesilat dari SH teratai, dan para budayawan.
''Kegiatan budaya ini sekaligus sebagai laku spiritual kejawen untuk memohon berkah keselamatan dari Tuhan,'' kata Bupati Begug.

Kereta Kencana
Lima unit reog dadak merak dari grup Singobarong pimpinan Sura Bledek, dan barisan warok (seniman reog) cilik dari grup Singo Giri, serta drum band pelajar, ikut mengiringinya dari belakang.

Disertakan pula lima kereta kencana yang ditarik kuda. Di sepanjang jalan, Bupati Begug dikerubuti warga yang berebut berjabat tangan. Di tempat- tempat tertentu, utamanya ketika menjumpai nenek-nenek dan bocah kecil yang ikut nonton kirab, Bupati menyebar udik-udik (membagi-bagikan uang).

Dibandingkan dengan prosesi kirab Sura tahun lalu, kirab kali ini terhitung kalah meriah. Sebab tahun lalu, jumlah kereta kencananya saja mencapai 45 buah, dan diikuti barisan umbul-umbul yang mendapatkan rekor dunia dari Muri. Raja Surakarta PB XIII, waktu itu juga berkenan meminjami kereta kencana pusaka keraton Kiai Maraseba.

Arak-arakan kirab, diawali dengan upacara penyerahan pusaka Mangkunegara I dari Pengageng Kadipaten Mandrapura Mangkunegaran, KRT Lilik Priarso, kepada Bupati Begug. Meliputi keris Kiai Karawelang, tombak Kiai Totog dan Kiai Baladewa yang diambil dari tugu penyimpanan pusaka Nglaroh Kecamatan Selogiri. Kemudian keris Kiai Semar Tinandu dan tombak Kiai Limpung yang diambil dari
rumah tiban Bubakan

Kecamatan Girimarto. Berikut tombak Kiai Alap-alap dan Kiai Bancak dari rumah pusaka Kaliwerak Kecamatan Wonogiri Kota.

Bersamaan itu juga ikut dikirab dan dijamas, pusaka-pusaka dari Keraton Surakarta yang ada pada Bupati Begug, dan sejumlah pusaka Kabupaten seperti gong besar Kiai Mendung Ekadayawilaga dan tombak Kiai Tunjung Biru. Bertindak sebagai penjamas pusaka, tim dari Reksa Warasto Mangkunegaran, yakni MNg Riyadi, MNg Jarot dan Mas Demang Suparman. (P27-50)


Sumber : www.suaramerdeka.com
freak8272 - 22/05/2008 03:47 PM
#44

Quote:
Original Posted By adi6510
@ mas freak8272. Oh, eyang Santri memang dari trah Mangkunegaran. Beliau dimakamkan di desa Girijaya, Cidahu, Cicurug, lereng Gunung Salak, di antara jalan raya Bogor - Sukabumi. Saya memang pengen ziarah ke makam beliau suatu saat, cuma belum sempat. Sayang informasi yang saya punya cuma sedikit. Konon, Bung Karno sering berkunjung dan berdiskusi sewaktu beliau masih hidup. CMIIW, please.


yup betul sekali mas adi, makam beliau di atas gunung salak, saya pernah kesana. beliau dimakamkan di bekas pesantren tempatnya mengajar....
saya ada dulu ada klipping tulisan2 mengenai beliau sewaktu revolusi fisik dulu..ntar ya, ta' cari lagi, mudah2an ketemu, nanti ta' posting disini
Suzaku Musha - 22/05/2008 04:33 PM
#45
Napak Tilas
Kalau masuk Wonogiri, kita disambut patung seperti ini.



Ini pohon besar di Sendang Siwani.
Spoiler for ": Klik >>> "




Gambaran di tembok ini menceritakan asal mulan6ya ditemukan sendang ini oleh Pangeran Sambernyawa yg sedang bersemedi di sini, ceritanya dilihat dari kiri, kalah - minum air - menang.
Spoiler for ": Klik >>> "



Inilah petilasannya, di sebelah kanan itu di balik tembok adalah tempat untuk mandi (pusat sendang).
Spoiler for ": Klik >>> "




Batu di atas adalah tempat semedi Pangeran Sambernyawa.



Ini bukit di dekat Sendang Siwani yg ada 1 makam tapi di dalamnya ada 3 jenasah keturunan Singo Menggolo yg berdarah Mangkunegaran.
Spoiler for ": Klik >>> "





Kalau yg ini Kraton Mangkunegaran Solo
Spoiler for ": Klik >>> "
ariherdi - 22/05/2008 04:47 PM
#46

@mas Suzaku Musha

Mantab mas fotonya, jadi pingin ke sendang siwani, tapi kok foto 2 yang terakhir sama?
Suzaku Musha - 22/05/2008 04:53 PM
#47

maap dah saya edit mas, kedobel
ariherdi - 22/05/2008 04:58 PM
#48

^^ wow...mantab mas ^^

makamnya dibagian bukit yang rimbun mas?
Suzaku Musha - 22/05/2008 05:13 PM
#49

bukan mas, di sebelah kanan bukit ada jalan setapak kecil, ikuti aja jalan itu kira2 500 meter, makamnya ada di pinggir bukit, jauh dari arel pekuburan umum

bukit ini letaknya di belakang terminal, jaraknya dgn sendang siwani ga ada 1 km
ariherdi - 22/05/2008 05:34 PM
#50

@Suzaku Musha

Trimakasih mas udah sharing informasinya....wah..kapan ya bisa kesana hehehehe
Page 2.5 of 38 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]: "Napak Tilas Jejak Perjuangan Pangeran Sambernyawa"##