Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]:" Kerajaan Sriwijaya " ##
Total Views: 65272
Page 1.5 of 10 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

redbaron - 27/05/2008 09:51 PM
#11

san fot si mungkin memang bukan sriwijaya kabarnya yg sriwijaya itu sili fot tsi
Shinugami - 27/05/2008 09:53 PM
#12

Silat dan Sriwijaya

sumber : Sini

Sahabat Silat dan Kang O'ong.

Ini baru sangat menarik..Rupanya Kang O'ong mensinyalir adanya peninggalan
pencak silat dari jaman sriwijaya yang masih ada dan terjaga walaupun berada di
negeri thailand..(lihat email di bawah)..

Karena melacak jejak pencak silat, setidaknya bagiku, memang harus sampai ke
jaman kejayaan sriwijaya, kerjaan terbesar pertama di Nusantara yang walopun
pada saat itu dominan beragama budha, namun mereka semua--harus diakui, suka
tidak suka-- adalah nenek moyang kita adalah juga budaya kita.

Jadi sungguh tidak tepat karena sekedar berbeda agama kita memutus rantai
sejarah dan budaya bangsa kita (nusantara). Sebab semestinya sebagai sebagai
seorang peneliti sejati--seperti yg sering disampaikan oleh Kang O'ong-- kita
wajib mengakui, jika memang ada, kontribusi dari bangsa ini selama dalam
periode atau kurun terntenu lepas dari apa sukunya, warna rambutnya, keriting
atau tidak, agamanya apa--namun semua pertama-tama adalah bangsa Indonesia
(nusantara).. Bagi peneliti sejati, tidakada tempat bagi fanatisme suku,
bangsa, agama, ras atau apapun; yagn ada hanya "apakah memiliki nilai
kebenaran/kebaikan yang sungguh pernah terjadi" apakah 'data sejarah tersebut
benar dan valid adanya pernah terjadi"...

Maka peneliitian tentang sejarah dan beladiri jaman sriwijaya, bagi saya,
sangat sangat menarik karena siapa tau bisa ditarik benang merahnya hingga saat
ini...

Memang saat ini di Indonesia peninggalan jaman siriwjaya lebih berbentuk
candi atau situs..tidak ada (atau setidaknya aku belum tau) komunitas budaya
yang masih hidup dan terus melestarikan budayanya. Kalau Jaman majapahit ada
gambaran dari komunitas di Bali dengan segala macam budayanya; dan kalau
Pajajaran masih ada sisanya yaitu masyarakat baduy.

Tapi bagaimana kita bisa melacak budaya pencak silat dari jaman sriwijaya di
Indonesia?
Maka penemuan di thailan adalah langkah yang luuuaaarr biasa, setidaknya bagi
mereka yang sungguh peduli akan kebenaran dan keontentikan sejarah pecak silat,
dan terutama bagi mereka mau berbesar hati melepas segala macam kesempitan cara
pikir yang terutama diikat oleh kepicikan dalam melihat keyakinan agamanya
dalam hubungannya dengan pencak silat tradisional. Jika tidak punya jiwa besar
semacam ini, maka tidak banyak berguna melacak akarr sejarah pencak silat
tradisional hingga ke jaman jaman yang berbeda secara budaya, agama, keyakinan
saat ini, dll (sriwjaya/majapahit/pajajaran hindu, dlll)

Ada beberapa hal, , yang mungkin perlu lebih djelaskan oleh Kang O'ong
seandainya sudah pernah melihat permainan pencak warisan jaman sriwijaya ini :

1. Apakah ini sama dengan Muay Thai yang dominan main dengkul dan sikut?
2. apakah coraknya sama atau mirip dengan permainan gaya minangkabau atau
sunda? dengan gaya rapat, dominan tangan?
3. apakah filosofinya sama atau beda dengan silat tradisional di nusantara?
4. bagaimana dengan permainan senjata? adakah senjata2 yang khas nusantara
semisal kujang, dll?
5. bagaimana dengan istilah-istilah bealdiri yang dipakai, adakah kesamaan
dengan di nusantara? semisal trisula, kuda-kuda, langkah.dll.

Mmm ada filmnya gak ya? ada di youtube gak Kang O'ong...?
...
Ayo kita gali terus akar budaya pencak silat tradisonal hingga ke nenek
moyang kita dari jaman baheula..dengan berlapang dada dan pikiran yang terbuka
tentunya


Salam
Ian S

==



Sahabat Silat

Selamat pagi

Seperti anda katakan bahwasanya pencak silat betawi
banyak pengaruh dari Pajajaran dan Kerajaan Sunda lainnya
Bisa tolong tunjukkan sejauh mana pengaruh main po' didalam teknik
beladiri betawi yang sudah bercampur baur ini namun masih memiliki
warna betawi,,,,,, ,?
Sebelum nya saya ucapkan beribu terima kasih

Sekedar informasi bahwasanya aliran silat Sriwijaya masih ada,
meskipun tidak lagi di kawasan Indonesia lagi. Batas bagian barat
kekuasaan Sriwijaya abad VII berbatasan dengan kerajaan Ayuthaiya.
Daerah selatan barat Thailand yang menjadi batas adalah propensi
Surathani, Pkuket, Rayong, adalah menjadi batas Kerajan Sriwjaya.
Orang Siam menyebut daerah ini Kerajaan Scriwichai.
Sekarang ibu kotanya Nakon Sii Thamarat mereka bangga mangakui dirini
adalah orang Scriwichai., tradisi kehidupan dari makan sampai tari
sriwijaya masih ada sering dipertunjukkan disini dalam upacara
keagamaan budha.
Setelah Sriwijaya hancur karena Majapahit dan Islam daerah
kekuasaannya terlepas dan berdiri sendiri-sendiri. Kebudayaan
Sriwijaya masih hidup hingga kini.
Silat Sriwijaya itu kita kenali dalam bahasa Thai sekarang bernama
Muay-Chaiya( permainan orang Sriwijaya)
Tradisi lama tetap terpelihara dan utuh berkesinambungan berjalan
dengan kehidupan sehari-hari.
Muay Chaiyai sudah difilmkan dan mendapat sambutan dg baik.
Nanti saya sambung lagi pencak Jawa masih ada di Campa Vietnam
Selatan dan Di Kcampongcham Cambodia.
Budaya berpindah karena keadaan dinegeri itu tidak mendukung lagi.

wassalam

O'ong Maryono
Shinugami - 27/05/2008 09:57 PM
#13

Srwijaya dan Harga Sumatra

Sumber :sini




Harga Sumatera bukanlah ditentukan oleh berapa harga dari hasil kekayaan bumi Sumatera, akan tetapi berapa harga yang berani kita bayar untuk membela dan mempertahankannya. Ini sudah tentu berkaitan langsung dengan kesadaran politik, kesanggupan dan tanggungjawab dari bangsa-bangsa yang mendiami Sumatera. Sebab dalam kenyataannya, bumi Sumatera sebenamya tidak terlepas dari berbagai keperluan dan kepentingan.


Sebenamya, gambaran Sumatera mengenai masa lampau, telah cukup menceritakan tentang kuasa besar, kesan keindahan dan kekayaan alam yang melimpah ruah. Itulah sebabnya mengapa I-Tsing, seorang penjelajah Cina telah mengabadikan pengalamannya dalam buku Mulasarvastivada, yang meriwayatkan tentang tahap-tahap perjalanannya dari Tamralipti ke Canton. Itulah sebabnya mengapa Arthasastra -buku India kuno- menyebutnya dengan Pulau Emas (Suvamabhumi) atau kepulauan emas (Suvarnadvipa). Itulah sebabnya mengapa bangsa-bangsa Eropa (baca-Portugis) menyebutnya sebagai Pulau Emas (Ophir). Tegasnya, cerita mengenai kemegahan Sumatera bukan suatu mithos atau kisah novel fiksi yang mengisahkan petualangan di angkasa dalam fihn Star Track di layar TV anda, akan tetapi merupakan bukti nyata yang pemah disaksikan oleh para penjelajah ternama di dunia ke Sumatera. Sebagaimana diakui oleh Marcopolo bahwa Peureulak dan Samudera Pasai Sumatera-pada tahun 1292, sudah berdiri suatu kerajaan yang megah, kaya raya dan menganut agama Islam, dimana sistem pemerintahannya sudah mapan. Para penjelajah dan pedagang dari India, Cina Arab dan Eropa terus terang mengakui bahwa bumi Sumatera memiliki segala-galanya dan berkemampuan secara profesional mengatur negara. Lebih dari pada itu telah menjadi satu model pemerintahan yang megah dan disegani di Asia Tenggara suatu masa dahulu. Contohnya:



I. KERAJAAN SRIWIJAYA


Munculnya kerajaan Melayu tua di Sumatera -Sriwijaya- yang telah dipandang sebagai suatu kerajaan yang memiliki kekayaan dan rakyatnya hidup sejahtera dari perdagangan hasil bumi Sumatera dan kemegahan Sriwijaya telah mampu membangun sistem politik yang mapan, pertahanan darat dan laut yang kuat, sehingga kerajaan Sriwijaya telah menjadi suatu khazanah dalam sejarah dunia Melayu di Asia Tenggara. Sistem pemerintahannya ditata mengikut acuan Melayu yang berasaskan keterbukaan dengan dunia luar dan memompa semangat rakyatnya untuk bekerja keras dan selalu peka terhadap setiap kemungkinan-kemungkinan adanya anasir luar yang mengancam keselamatan Sumatera. Itulah sebabnya para sejarawan telah menyifatkan bahwa sistem yang digunakan sebagai suatu model pemerintahan yang modern pada waktu itu. Kita tidak dapat membayangkan betapa masyhurnya kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Untuk menggambarkannya, izinkan saya meminjam ucapan Wang Gungwu: “Pada tahun 775, keraj aan ini telah menj adi begitu masyhur sehingga hanya raja-raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di permukaan bumi”1). Wang Gungwu, “The Nanhai trade: A study of early history of Chinese trade in South China Sea”, 1958, hlm 135.


Kerajaan Sriwijaya berhasil membangun pangkalan-pangkalan ekonomi dan merangsang semangat rakyatnya berniaga dengan bangsa asing, sehingga: “pada awal sejarah Sriwijaya yang panjang itu, pelabuhan-pelabuhan Palembang dan Jambi merupakan penghubung di antara Sumatera dengan pasar-pasar Asia. Sistem komunikasi yang menjadi dasar perkembangan pelabuhan-pelabuhan ini telah dicipta oleh nakhoda kapalnya. Masa depan sistem itu tidak bergantung kepada kekayaan pedalaman Sumatera Selatan, tetapi bergantung kepada kemampuan para pemerintahnya untuk memastikan agar pelabuhan-pelabuhan tetap menjadi tempat yang mesti disinggahi dalam pelayaran ke negeri Cina.” Demikian dituturkan oleh Chou Chù-Fei, malahan “Jambi dan Palembang sebagai pusat perdagangan yang

sangat maju” 2). Rockhill, Notes on relations and trade of China, hhn 134-l 38.


Ketika itu berbagai hasil bumi telah dijual dalam pasaran bebas, Hal ini telah dikemukakan oleh Chèn Tsàng-chi: “dalam pertengahan abad ke-8. Lada Kemukus berasal dari Sriwijaya-Sumatera yang mendapat permintaan dalan pasaran di negeri Cina. Selain dari pada itu kapur barus yang dipandang sebagai barang perniagaan yang mendatangkan hasil memuaskan. Sebab pada kurun masa itu, kapur Barus merupakan barang mahal dan komoditi export besar, hingga kebanyakan negara selain Sriwijaya telah menggunakan upeti dan tanda mata. Seperti Chih Tu telah mengirim Batu Kapur sebagai upeti kepada kerajan Chang Chun, kerajaan Udayana di Barat Laut India, , kerajaan To-Yuan di Asia Tenggara melakukan perkara yang sama.” 3). J.G Boeles, The King of Sri Dvaravati and His Regalia, 1964, hlm 114.


Di kawasan Sumatera Tengah -Barus- telah didapati bahan galian Batu Barus (Kapur Barus), hingga kapur Bar-us merupakan salah satu barang komoditi terpenting bagi devisa negara di bawah kerajaan Sriwijaya. “Sekitar 500 orang Cina selatan menggali dan menggunakan kapur bar-us, yang hablur-nya mendapat tempat dalam perobatan karangan Tao Hung Ching”. 4) G. Ferrand, Relations de Voyages et testes Geographyques, hlm 56-57, yang dikutip dari catatan Ibnu al-Fakih, 902.


Memandangkan kenyataan-kenyataan ini maka ada penulis yang menuturkan bahwa: “Pada zaman pertengahan, Sriwijaya merupakan pusat perdagangan yang sangat maju dan masyhur, oleh itu wajar dipercayai bahwa terdapat latar belakang ekomoni di Asia Tenggara dan barangkali juga di tempat lain di Asia, yang selama berabad-abad telah memberi jalan kepada kerajaan Sriwijaya. Pada 700 M. Sriwijaya telah memperoleh pos luar wilayah di Barat Daya Semenanjung Tanah Melayu yang memberikan kepadanya kuasa di Selat Melaka. Perluasan perdagangan laut ini adalah perkara yang belum pemah ada sebelumnya dalam catatan yang telah kita selidiki.” 5) O.W. Wolters, Perdagangan Awal Indonesia, Suatu Kajian Asal Usul Kerajaan Sriwijaya, hlm 312.


Keberhasilan dalam bidang ekonomi tidak terlepas daripada kemampuan mengadakan hubungan perdagangan dan diplomatik dengan negara lain, seperti dilukiskan di sini: “Sejak abad ke-5 lagi, Kerajaan Sriwijaya sudah mempunyai hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Cina. Hampir setiap tahun para saudagar menaiki kapal barang ke Canton”. 6) Prof. Wealtly, Golden Khersonese, hlm 58.


Malahan dikatakan bahwa beberapa kerajaan dagang seperti: Ho-lo-tan, Pohuang (berpusat antara Jambi-Palembang), Ka-to-li, dan Cina telah mengirim utusan kepada Kerajaan Sriwijaya. “Ini harus dipandang sebagai tanda bahwa kekuasaan proto-Sriwijaya agak kukuh, hingga ia merasa tidak perlu mengingatkan orang Cina akan tanggung-jawabnya sebagai pelindung dengan sering mengirim utusan” 6). O.W. Wolters, Perdagangan Awal Indonesia, suatu Kajian Asal Usul Kerajaan Sriwijaya, h l m 323.


Kemasyhuran Sriwijaya tidak hanya terbatas dalam bidang perdagangan, akan tetapi juga dalam bidang militer untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan kerajaannya. “Sriwijaya di Sumatera Tenggara pada masa pertengahan abad ke-7M, sangat memainkan peranan penting dalam perdagangan Asia dan selama lebih 500 tahun dan setelah sejarahnya dihidupkan kembali oleh para sejarawan pada zaman modern dan di kalangan orang Melayu, mereka membanggakannya sebagai kekuatan laut yang besar dan empayer tertua di dalam sejarah kebangsaan mereka.” 7) Idem, hlm 1.


Seterusnya dikatakan: “raja Sriwijaya mempunyai senjata yang senantiasa bersedia untuk melaksanakan kekuasaannya atas saingannya. Kekuatan militemya bergantung kepada kapal-kapalnya. Raja-raja itu mempunyai kapal dan orang juga membayangkan nakhoda-nakhoda kapal Melayu datang dari rawa-rawa bakau dan pulau-pulau berdekatan.” 8) Sung Shih, Suma Oriental, hlm. 235-236.


Seorang penulis Belanda, J.C.Van Leur, malah mengatakan bahwa: “untuk memperkuat angkatan laut dalam usaha mempertahankan perdagangan mereka, Sriwijaya melakukan tindakan-tindakan khusus untuk perang dan apabila mereka hendak berperang melawan negara lain, mereka mengumpul dan kemudian merujuk kepada ketua-ketua mereka dan semua menyiapkan persediaan militer sendiri dan bahan-bahan makan yang diperlukan” 9). Chu Fan Chih, Indonesian trade and socities, hlm 106.



Sejarah telah mencatat bahwa kerajaan Sriwijaya mempunyai kuasa penting di Sumatera bahkan sampai ke Semenanjung Malaysia dalam jangka masa yang lama. Ketika itu Cina, India dan Arab merupakan mitra dagangnya. Namun begitu, secara formal kerajaan Sriwijaya belum menetapkan peraturan tertulis (perjanjian dagang) mengenai cukai dagang, perjanjian mengenai pertahanan bersama dan perlindungan dengan rakan dagangnya di Selat Melaka. Perkara ini dianggap sebagai salah satu sisi kelemahan yang tidak disadari pada ketika itu, sebab setidak-tidaknya, ketika ada gangguan dari kerajaan Cola dan Jawa yang menganggap Sriwijaya melakukan tindakan monopoli perdagangan telah dijadikan alasan yang sengaja dibuat oleh pihak asing untuk melakukan serangan terhadap post-post dagang Sriwijaya, mitra dagang yang sebelumnya akrab, ternyata tidak dapat membantu Sriwijaya. Apalagi “selama dua abad selepas itu, wilayah-wilayah naungan Sriwijaya, sedikit demi sedikit menentang monopoli pantai yang digemari itu dengan mendorong para saudagar-saudagar asing mengunjungi pelabuhan-pelabuhan mereka sendiri”. 10). O. W. Wolters, Perdagangan Awal Indonesia, Suatu kajian asal usul kerajaan Sriwijaya, hhn 336.


Akhirnya, kecemburuan pihak asinglah yang menjadi punca perang yang tidak dapat lagi dielakkan. Semua peperangan yang berlaku antara Sriwijaya dengan seteru asing dicatat pada batu bersurat -prasasti- yang dipandang penting dalam sejarahnya, yaitu:

1.

Prasasti (batu bersurat) di Muara Takus;
2.

Prasasti (batu bersurat) di Telaga Batu, Palembang;
3.

Prasasti (batu bersurat) di Kota Kapur, Pulau Bangka.


Dilihat dari segi psikologis dan sosiologis, peperangan ini telah mempengaruhi mentalitas bangsa ini untuk mempertahankan kesinambungan kerajaan Sriwijaya, sebab peperangan yang panjang dan melelahkan itu telah banyak merengggut korban jiwa manusia dan sekaligus meruntuhkan peradaban yang beratus-ratus tahun telah dibina. Dilihat dari segi futurologis, peperangan ini telah memakan masa yang panjang sekali dan memerlukan kajian dan tafsiran ihniah terhadap fakta yang terungkap dalam historiografi Sriwijaya sehingga mampu melahirkan semula kegemilangan itu. Sejarahlah yang akan menjawabnya sendiri.
Shinugami - 27/05/2008 09:59 PM
#14

Sriwijaya dan Songket

Sumber : Sini

Sekilas Songket Palembang

Kota Palembang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari kejayaan kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya sekitar tahun 683 Masehi menjadi cikal bakal kota yang terletak di tepian sungai Musi ini. Banyak peninggalan tak ternilai berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya adalah budaya wastra (kain) yang indah yaitu songket.

Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini, memberikan nilai tersendiri. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam lewat pola simetris membuat kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.

Songket tradisional ini dibuat dengan ketrampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain. Kemampuan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun.

Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.
Bahan sewet songket ini ditenun secara teliti dengan mengunakan bahan benang sutera. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain
Oleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni yang tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.
Pakaian songke lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.

Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.

Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.

Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya - jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.

Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.

Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan.
Shinugami - 27/05/2008 10:00 PM
#15

Upaya Mengungkap Situs Sejarah Kerajaan Sriwijaya Di Kaur Kandas

Bengkulu ( Berita ) : Upaya untuk mengungkap keberadaan peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Bukit Kumbang, Kecamatan Muara Sahung, Kabupaten Kaur, Bengkulu, akhirnya kandas setelah tim yang melakukan penelitian tidak menemukan tanda-tanda yang mengarah adanya kehidupan di masa lalu.

Tim peneliti yang bekerjasama dengan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi tidak menemukan indikasi sedikitpun yang terkait dengan kemungkinan adanya aktivitas kerajaan di Bukit Kumbang, kata kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kaur Drs Djunaidi K Taim ketika dihubungi di Kaur, Jumat [03/08].

Menurut dia, tekad untuk melakukan penelitian itu muncul setelah adanya warga yang mengaku dan menduga kawasan Bukit Kumbang merupakan daerah bekas kerajaan Sriwijaya, dengan serpihan batu-batu unik dari kawasan bukit itu.

Namun setelah diteliti dengan mendatangkan tenaga ahli sejarah dari Jambi, tim tidak menemukan tanda-tanda ke arah bahwa daerah itu menjadi lokasi atau bagian dari sebuah kerajaan, padahal tim sudah bekerja selama dua hari pekan lalu.

Djunaidi mengatakan, sekalipun penelitian tahap awal tidak menemukan apa-apa dan tidak membuahkan hasil, pihaknya tahun depan tetap akan melakukan penelitian lanjutan, karena masyarakat bersama beberapa paranormal lokal masih yakin di wilayah itu ada peninggalan sejarah.

Keyakinan warga itu selama ini sudah dibuktikan dengan ditemukannya sebuah candi Jepara di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan yang bersebelahan dengan Bukit Barisan, Bukit Kumbang Muara Sahung, Kaur.

Selama ini informasi yang berkembang bahwa ada dugaan di lokasi itu merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, karena warga sudah menemukan beberapa bangunan tua berbentuk candi yang dilengkapi sarana bebatuan unik seakan di lingkungan sebuah istana.

“Kita sudah coba melakukan penelitian secara ilmiah terhadap dugaan adanya situs sejarah yang pernah ditemukan sebelumnya di lokasi itu, namun tim belum membuahkan hasil,” ujarnya.

Yarsana, salah seorang paranormal di Kaur sebelumnya mengatakan, pihaknya berkeyanian bahwa di lokasi itu terdapat bekas candi yang diduga merupakan pusat Kerajaaan Sriwijaya.

“Saya pernah melihat beberapa bangunan candi di dalam perbukitan wilayah itu, dalam candi itu terdapat tempat bekas tahta kerajaan yang berlantaikan batu giok yang bernilai sejarah tinggi,” ujarnya.

Untuk membuktikannya, memang perlu penelitian mendalam, tidak cukup hanya satu atau dua hari saja, tambahnya. (ant )
Shinugami - 27/05/2008 10:02 PM
#16

Sriwijaya dan Sungai Komring
dari : http://batharasemar.multiply.com/journal/item/13/Sriwijaya_History


sedikit tambahan bahwa dulu sungai komering berhadapan langsung dengan istana keraton yang diperkirakan berada di daerah Pusri dan sekitarnya, terakhir istana dipindahkan ke benteng kuto besak.

dengan begitu keluarga sultan yang mengungsi ke daerah ogan ilir, tentu juga mudah untuk dijangkau atau diserang pihak belanda dengan menyusuri sungai komering, karena lebih dekat jarak dan waktunya, dengan melewati daerah jejawi-sp padang yang berada dipinggiran sungai komering kemudian memotong jalan melewati rawa dalam jejawi, maka akan tembus langsung ke daerah ogan ilir, inderalaya, muara penimbung dsb..

oleh karena itu juga di daerah jejawi - sp padang ini oleh pihak kerajaan dijadikan juga daerah pertahanan, dengan menempatkan panglima perang dari mataram yang terkenal dengan nama Raden Mas Bayangan, dan sering disebut oleh masyarakat jejawi dengan buyut panjang. adapun barang peninggalan dari buyut panjang seperti Senjata Parang, Tombak, Keris, serta silsilah keturunan buyut panjang yang tercantum dalam lembaran kulit kayu yang hampir menyerupai kertas karton, dan cap bendera Mataram, yang terbungkus dalam bumbung bambu, tersimpan baik oleh beberapa orang yang masih punya trah dari buyut panjang.

Selanjutnya memang kalau kita mau membangkitkan semangat SRIWIJAYA kembali, maka betul pertama kali kita harus menggali sejarah kesultanan Palembang. dari situ besar kemungkinan misteri sriwijaya akan lebih banyak lagi yang akan terungkap. jadi semua orang tidak lagi menganalisa sendiri sendiri mengikuti emosional masing masing, semua sejarawan harus kembali kepada data data yang nyata, seperti kain songket, kesenian gending sriwijaya, hiburan lenggang palembang, sejarah berdirinya daerah daerah sekitar palembang serta kalau masih ada peninggalan peninggalan sejarah dikumpulkan semua.

Saya juga pernah dengar dari beberapa ahli sejarah, bercanda tentang kemana saja bukti peninggalan sriwijaya dan kesultanan palembang, pada hilang tanpa sisa, ada yang menjawab, ya mungkin dibawa oleh pihak musuh waktu perang, mungkin juga semuanya dibuang kesungai Musi.

Sriwijaya dan Lintang

sriwijaya iut sudah terbentuk lama banyak para ahli mengatakan sriwijaya ada pada beberapa daerah saya juga berasal dari lintang sumatera selatan, sejarah sumatera selatan sendiri sebenarnya lebih lama dari sriwijaya karena adanya peningggalan berupa candi yang di ketemukan di daerah pagar alam memang belum tergali semua tetapi ini menunjukkan betapa besarnya bangsa sriwijaya karena peninggalan ini diperkirakan sebelum masehi jadi alangkah lamanya bangsa ini sudah bediri adapun mengenai kesultanan palembang itu bukan keturunan raja-raja sriwijaya karena mereka berasal dari daerah jawa yaitu sari kerajaan majapahit jadi sangat bertentangan
Shinugami - 27/05/2008 10:03 PM
#17

Sumber : http://batharasemar.multiply.com/journal/item/13/Sriwijaya_History

Kalo aq baco dari website luar. Mereka itu lebih mengakui kekuasaan Sriwijaya sebagai satu-satunya kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Majapahit yang katony menguasai nusantara itu cuma bo’ong (meragukan). Majapahit itu cuma biso menguasai Jawo bae. Kareno dak katek catetan sejarahnyo. Sriwijaya itu malah pas jaya2nyo menguasai seluruh Sumatera, Jawa, Kalimantan, sedikit Sulawesi, Malaysia, dan sedikit Thailand. Candi Borobudur
itu rasony emang bener yg bangun Sriwijaya kareno sebelumnya Balaputera Dewa itu tinggal di sano. Setelah terjadi perpecahan dan mulai muncul ny kerajaan mataram hindu dio pergi ke tempat kakekny di Palembang.

Sriwijaya dianggep hebat nian kareno dio yang jadi cikal bakal kerajaan melayu di seluruh Sumatera, malaya, dan Borneo( kalimantan). Kerajaan Sriwijaya itu berbeda dengan Kerajaan Palembang dan Kerajaan Palembang Darussalam. Klo dari catetan sejarah Pendiri kerajaan Malaka itu Parameswara yang merupakan anak Raja Sam Agi dari Sriwijaya. Dio pergi dari Sriwijaya akibat kekalahan dengan Majapahit (ekpedisi pamalayu-bener dk). Biarpun kalah dan kerajaan ny pindah ke malaka. Tetep be Majapahit dak pernah biso naro adipatinyo di Palembang. Malah palembang jadi pusat bajak laut cino. Sampe2 Rajo dinasti ming ngirim Laksamana Ceng ho untuk menumpas bajak laut itu. Cerito ttg bajak laut ini terkenal nian. dan cengho inilah yang membentuk komunitas cino di palembang. Sebelumnyo Parameswara ke malay dio ke Singapure dulu cuma gara-gara dak sanggup ngadepi serangan kerajaan Siam, dio ke malaysia dan buat kerajaan lagi disano. Kerajaan malaka ini tetep membina hubungan baek dengan cino cak Sriwijaya dulu. Inilah yang ngakibatke wong luar lebih taw Malaka dibandingke Majapahit. Gawe presiden qt wong jawo jadi cerito majaphit itu dilebih-lebihke nian sampe pacak ngusai nusantara.

Kerajaan Palembang dan Palembang Darussalam itu emang ado hubungannyo dengen jawo. Kerajaan palembang itu didirike oleh Ariodillah pas abad 15, Dio sebenernyo adipati majapahit jadi pas majapahit nk roboh tula baru biso naro adipati di Palembang, gara2 bajak lautny la ditangke Cengho pulo. Dari bininy Putri Campa lahirla Raden Fatah cuma itu bukan anak dio tp anak Rajo terakhir majapahit, Brawijaya V. Setelah majapahit mati kerajaan ini vakum. Trus gara2 ribut2 di Kerajaan demak, Keturunan Pangeran Trenggono (keturunan Radden Fatah jugo) pindah ke Palembang di pimpin Ke Gede Sedo Ing Lautan dan dirike kerajaan Palembang Darusalam neruske kerajaan Palembang yang vakum.

Setelah di Jawo muncul Kerajaan mataram yang Pangeranny itu jugo masih keturunan Raden Fatah maka hubungan Palembang Darussalam dengan mataram akrab nian. Itu la pacak ado panglima mataram itu Raden Mas Bayangan. Lagian Palembang ngeraso dilindungi jugo samo Mataram akibat dari anceman Kerajaan Banten.
Akhirnyo Palembang ancur jugo akibat serangan belando bekali-kali. Trus Rajonyo Sultan mahmud Baddaruddin II di asingke ke maluku. Waktu itu belando nawarke jabatan rajo boneka ck yogya dan solo itu, cuma baddaruddin 2 nolak dan menurut dio kerajaan Palembang darussalam itu di hilangke be. Kareno itu dak katek lagi rajo2 setelah belando bekuasa di palembang.
Shinugami - 27/05/2008 10:04 PM
#18

Sumber : http://batharasemar.multiply.com/journal/item/13/Sriwijaya_History

ada satu ajaran peninggalan jaman kerajaan sriwijaya yang sampai saat ini sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat di tibet…

namanya adalah ajaran transformasi pikiran… di tibet di sebut dengan nama Lojong.

ajaran untuk mengubah pikiran menjadi penuh kasih sayang pada semua mahluk tanpa pilih kasih…

orang tibet menyebut orang sumatera jaman sriwijaya dengan sebutan serlingpa…

dan ada dua guru yang berasal dari sriwijaya yang sampai saat ini sangat dihormati di tibet… karena ajarannya … bahkan Dalai lama pun sangat menghormati guru -guru dari sriwijaya ini…

nama guru-guru dari sumatera ini yang sekarang bahkan sudah tidak dikenal namanya di tempat asalnya sendiri adalah…

Dharmakirti dan Dharmaraksita
Shinugami - 27/05/2008 10:04 PM
#19

Sumber :http://batharasemar.multiply.com/journal/item/13/Sriwijaya_History

Mengenai bukti klo Sriwijaya yang jadi awal budaya melayu aku tunjukke Sejarah Melayu yang aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah Melayu:

….. ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya.
Shinugami - 27/05/2008 10:06 PM
#20

Prasasti Kedukan Bukit

SZumber : http://arkeologi.web.id/readarticle.php?article_id=36





Diantara prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini.

Alkisah, di daerah Kedukan Bukit, Palembang, terdapat batu bertuliskan huruf kuno yang dikeramatkan penduduk. Jika diadakan perlombaan berpacu perahu bidar di Sungai Musi, perahu yang akan dipakai ditambatkan dulu pada batu itu dengan harapan memperoleh kemenangan. Pada bulan November 1920, Batenburg seorang kontrolir Belanda mengenali batu itu sebagai prasasti. Penemuan itu segera dilaporkan pada Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala). Akhirnya, prasasti itu tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor D.146.

Pada tahun itu juga, Residen Palembang L.C. Westenenk menemukan prasasti lain di daerah Talang Tuwo. Di Museum Pusat prasasti itu bernomor D.145. Kemudian kedua prasasti itu ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel dalam tulisannya, “A Preliminary Notice Concerning Two Old Malay Inscriptions in Palembang”, pada majalah ilmiah Acta Orientalia, Volume II, 1924, hh. 12-21.

Isi Prasasti

Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 M) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri atas sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:

1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
9. laghu mudita datang marwuat wanua .....
10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa

Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
9. lega gembira datang membuat wanua .....
10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana.
2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).
3. Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni).
(Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, “Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie”, BEFEO, tome 46, 1952).

Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Besar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.

Timbul setumpuk pertanyaan: Di manakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah? Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya? Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

Beberapa Tafsiran

Pada tahun 1975 Departemen P dan K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuna, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio. Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).

Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaannya yang baru. Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang.

Dr. Slametmulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.
Shinugami - 27/05/2008 10:12 PM
#21

Sriwijaya dan Islam

Dari :http://swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=sabili-1a-risalah_islam_indonesia

Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.

Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck Hurgronje yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.
Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.

Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.

Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.

Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.

Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.

Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.

Biasanya, para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh, termasuk Indonesia. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16.

Hal ini juga bisa dilacak dari catatan para peziarah Budha Cina yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 untuk pergi ke India. Bahkan pada era yang lebih belakangan, pengembara Arab yang masyhur, Ibnu Bathutah mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara. Tapi sayangnya, tak dijelaskan dalam catatan Ibnu Bathutah daerah-daerah mana saja yang pernah ia kunjungi.

Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.

Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.

Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.

“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 hijriah atau 718 masehi.

Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya Dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.

Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Dan hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.

Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.

Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.

Masih banyak perdebatan memang, tentang hal ini. Tapi apapun, pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan. Pada periode ini pula hubungan antara Aceh dan kilafah Islam di Arab kian erat.

Selain pada pedagang, sebetulnya Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang dan mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, di Makkah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16. Bahkan pada tahun 974 hijriah atau 1566 masehi dilaporkan, ada lima kapal dari Kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah.

Ukhuwah yang erat antara Aceh dan kekhalifahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa Khalifah Utsmaniyah. Tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Utsmani membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah.

Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon. Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.

Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.

Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.

Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, saking besarnya pengaruh kekuatan agama yang dihasilkan Giri, Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kerajaan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.

Meski kerajaan dan kekuatan baru Islam tumbuh, Giri tetap memainkan peranannya tersendiri. Sampai ketika Mataram dianggap sudah tak lagi menjalankan ajaran-ajaran Islam pada pemerintahan Sultan Agung, Giri pun mengambil sikap dan keputusan. Giri mendukung kekuatan Bupati Surabaya untuk melakukan pemberontakan pada Mataram.

Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajah Belanda, kerajaan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang salah satunya mengupas makna dan semangat jihad telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Indonesia melawan penjajah. Tak hanya di Jawa dan Sumatera, tapi di seluruh wilayah Nusantara.

Muslim Indonesia mengantongi sejarah yang panjang dan besar. Sejarah itu pula yang mengantar kita saat ini menjadi sebuah negeri Muslim terbesar di dunia. Sebuah sejarah gemilang yang pernah diukir para pendahulu, tak selayaknya tenggelam begitu saja. Kembalikan izzah Muslim Indonesia sebagai Muslim pejuang. Tegakkan kembali kebanggaan Muslim Indonesia sebagai Muslim bijak, dalam dan sabar.

Kita adalah rangkaian mata rantai dari generasi-generasi tangguh dan tahan uji. Maka sekali lagi, tekanan dari luar, pengkhianatan dari dalam, dan kesepian dalam berjuang tak seharusnya membuat kita lemah. Karena kita adalah orang-orang dengan sejarah besar. Karena kita mempunyai tugas mengembalikan sejarah yang besar. Wallahu a’lam.n (Oleh Herry Nurdi/Sabili)
Shinugami - 27/05/2008 10:16 PM
#22

Titipan pra-Sriwijaya

Sumber :http://www.duniaesai.com/arkeo/arkeo8.htm

Legimin dan Titipan Pra-Sriwijaya

Tas hitam yang dibawa dari kampung dibukanya dengan sigap. Isinya bukan berkas-berkas penting, apalagi tumpukan uang. Tak disangka lelaki berwajah keras itu mengeluarkan kepingan-kepingan tembikar, bandul jaring dari tanah liat, tempurung kelapa, potongan kayu dan tulang hewan, pecahan bata, batu asah, sejumput manik-manik, dan seikat ijuk dari dalam tas.

"Ini contoh-contoh temuan yang ditemukan di belakang rumah saya waktu membuat parit," ujar Legimin (43), seorang transmigran asal Malang (Jawa Timur) yang kini jadi warga Desa Karangagung Tengah, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Menempuh jarak waktu empat jam dengan perahu motor dari kampungnya ke Kota Palembang hanya untuk memperlihatkan benda-benda usang dan tidak utuh lagi memang tidak lazim. Namun, kirimannya itu menjadi kado istimewa buat purbakalawan di Balai Arkeologi Palembang yang menekuni bukti-bukti peradaban sebelum munculnya Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.

Artefak-artefak yang dibawa Legimin berasal dari situs Karangagung Tengah yang terletak di kampungnya. Situs itu kemudian menjadi terkenal di dunia arkeologi ketika beberapa tahun yang lalu analisis laboratorium terhadap dua potong kayu bekas tiang rumah panggung zaman kuno menghasilkan pertanggalan 1624-1629 BP, kira-kira sama dengan tahun 326-329 Masehi.

Penelitian arkeologis secara intensif sejak tahun 2000 sampai sekarang semakin memperkuat teori bahwa pada abad ke-4 Masehi telah ada komunitas di daerah pantai Sumatera Selatan yang aktif dalam perdagangan internasional. Komunitas yang cukup padat dan telah mengenal spesialisasi pekerjaan dan stratifikasi sosial.

Letak situs dekat Selat Bangka, selat yang dikenal sebagai ajang perdagangan internasional pada awal Masehi. Komoditas impor yang ditemukan di situs, antara lain, adalah manik-manik dari India dan Asia Barat.

Situs Karangagung diidentifikasi sebagai situs masa proto sejarah, kemudian arkeolog memberi istilah situs pra-Sriwijaya. "Disebut situs pra-Sriwijaya karena masanya sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang, dan juga pertimbangan faktor lokasi yang tidak jauh dari persebaran situs-situs Sriwijaya di Sumatera Selatan dan Jambi," ujar Tri Marhaeni, ketua tim penelitian.

Tak pelak, ditemukannya situs Karangagung sekitar tahun 2000 telah mengubah teori perubahan garis pantai timur Sumatera dalam kaitannya dengan lokasi pusat Kerajaan Sriwijaya. Teori itu yang menyatakan lokasi Sriwijaya di Palembang maupun di Jambi terletak pada tanjung di tepi laut sekitar abad ke-7 Masehi. Tampaknya teori itu perlu dipertimbangkan lagi setelah ditemukannya permukiman Karangagung dari masa yang lebih tua daripada Sriwijaya (Soeroso, 2002).

Museum situs

Setelah lebih dari seribu tahun terkubur dalam kesunyian, situs Karangagung mulai diusik manusia. Pada tahun 1987 hingga 1990, daerah Karangagung mulai dibuka sebagai lahan transmigrasi menyusul dibukanya lahan transmigrasi di Air Sugihan beberapa tahun sebelumnya. Maka dimulailah eksploitasi kekayaan arkeologi situs Karangagung.

Legimin mengisahkan, tahun 1997-1998 terjadi booming manik-manik dan benda-benda berlapis emas dari situs Karangagung. Saat itu penduduk berburu manik-manik dari bahan kaca berlapis emas, bahan batu, kaca, dan perunggu. Semua benda relik itu menjadi komoditas yang laku keras.

Jual-beli manik-manik dilakukan menurut panjang manik-manik yang dirangkai. Harga manik-manik emas Rp 40.000 per cm, manik-manik perunggu Rp 5.000 per cm, manik-manik batu Rp 500 per cm, sedangkan dari bahan lainnya Rp 1.000 per cm. Umumnya para penadah manik-manik berasal dari luar Karangagung. Legimin teringat ada seorang penadah berhasil mengumpulkan manik-manik sampai satu karung beras seberat 20 kilogram. Manik-manik itu kemudian dibawa ke Jawa dan akhirnya ke Bali.

Bisnis artefak mulai surut ketika instansi purbakala di Palembang dan Jambi melakukan penyuluhan kepada penduduk, selain artefak semakin berkurang diambili penduduk. Legimin aktif membantu para purbakalawan. Bukan itu saja, ia rajin mengumpulkan artefak-artefak yang tidak laku dijual, seperti pecahan-pecahan tembikar, bata kuno, dan potongan kayu, lalu ditata di halaman rumahnya.

"Saya telah membuat museum situs di halaman rumah," ujar Legimin. Istilah "museum situs" diperolehnya dari arkeolog yang kerap melakukan penelitian dan tinggal di rumahnya. Baginya, mengumpulkan dan memajang artefak di depan rumah agar dilihat tamu tentang bukti-bukti peradaban abad ke-4 Masehi itu adalah museum situs.

Mengapa Legimin membawa artefak-artefak "rongsokan" ke Palembang?

"Saya ingat pesan teman-teman dari arkeologi, terutama Pak Roso, kalau menemukan lokasi temuan yang paling padat dan beraneka ragam, supaya melaporkan. Parit yang saya gali padat dan lengkap temuannya, Pak," kata Legimin menjelaskan maksud kedatangannya di Palembang, sambil melaporkan ada warga yang menyimpan tujuh patung perunggu berukuran kecil. Pak Roso yang dimaksud adalah Soeroso MP, salah satu peneliti yang pertama mengungkap identitas situs Karangagung Tengah, dan kini selaku Direktur Peninggalan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Legimin, yang pernah menempuh karier sebagai petinju di Malang, pertama kali ikut transmigrasi ke Air Sugihan pada tahun 1980 dan mulai menetap di Karangagung pada akhir tahun 1989. Air Sugihan, yang letaknya di sebelah timur Karangagung (masuk Kabupaten Banyuasin), dikenal juga kaya dengan artefak pra-Sriwijaya. Daerah ini yang terlebih dahulu dieksploitasi kekayaan arkeologinya, terutama manik-manik dan keramik. Dari Air Sugihan kemudian para pemburu harta karun mengalihkan perhatian ke Karangagung.

Legimin hidup tenang di Karangagung bersama keluarga. Usahanya sebagai petani dan tukang tambal gigi mampu menghidupi seorang istri dan lima anaknya, bahkan putrinya yang sulung dapat kuliah di Malang. Sebagai tukang tambal gigi, Legimin keliling kampung dengan sepeda mencari pasien sambil mengumpulkan artefak-artefak "rongsokan" untuk koleksi museum situsnya.

Museum terbuka Legimin kini telah diberi atap rumbia agar benda-benda koleksi tidak kepanasan dan kehujanan. Dia mengakui, museum itu diwujudkan karena kekagumannya pada umur artefak-artefak Karangagung yang lebih tua daripada Kerajaan Sriwijaya, setelah ia mendengar informasi dari para purbakalawan yang sering berdiskusi di rumahnya yang sederhana.

Legimin memang bukan Maclaine Pont yang rajin mengumpulkan benda-benda peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur, pada tahun 1924-1926. Arsitek bangsa Belanda yang merekonstruksi ibu kota Majapahit itu membangun gedung yang kokoh dan megah untuk menyelamatkan artefak Majapahit, sementara Legimin membangun museumnya dengan bahan apa adanya.

Bagi Legimin, benda-benda itu adalah titipan leluhur dari tanah Sriwijaya. Walaupun bukan tanah kelahirannya, kekayaan arkeologi di tanah Sriwijaya yang dipijaknya kini perlu dijaga.

Nurhadi Rangkuti Kepala Balai Arkeologi
Shinugami - 27/05/2008 10:17 PM
#23

Palembang dan Sriwijaya

Dari :http://taufik_syach.blogs.friendster.com/apriansyach/2008/02/palembang.html

Palembang

Palembang merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Selatan, kota Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota ini dahulu merupakan pusat dari kerajaan Sriwijaya sebelum dihancurkan oleh kerajaan Majapahit dalam Ekspedisi “Pamalayu”. Sampai sekarang peninggalan area Kerajaan Sriwijaya masih ada di Bukit Siguntang, Palembang Barat. Setelah dihancurkan oleh berbagai peristiwa mulai dari penyerbuan pasukan maritim barbar (Srilanka) dan isolasi Majapahit.

Palembang merupakan kota yang tertua di Indonesia bahkan Nusantara, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang. Yang menyatakan pembentukan sebuah wilayah yang merupakan ibu kota dari Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683. maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari jadi kota Palembang.

Kota Palembang juga dipercaya oleh sebagian masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal Raja Melayu pertama yaitu “Parameswara” yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswara meninggalkan kota Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke “Tumasik/Temasek” dan kemudian diberilah nama “Singapura”.

Sewaktu Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara dan pengikutnya pindah ke Malaka di semenanjung Malaya dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat yang sekarang merupakan wilayah Thailand Selatan. Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi “Sultan Iskandar Syah”.

Secara teratur, sebelum masa NKRI pertumbuhan kota Palembang dapat dibagi menjadi 5 fase utama:

Ø Fase sebelum Kerajaan Sriwijaya

Merupakan zaman kegelapan, karena mengingat Palembang telah ada jauh sebelum bala tentara Sriwijaya membangun sebuah kota dan penduduk asli daerah ini seperti yang tertulis pada manuskrip lama di hulu sungai Musi yang merupakan penduduk dari daerah hulu sungai Komering

Ø Fase Sriwijaya Raya

Palembang menjadi pusat dari kerajaan yang membentang mulai dari barat pulau Jawa, sepanjang pulau Sumatera, sampai semenanjung Malaka, bagian barat Kalimantan sampai ke Indochina. Runtuhnya Sriwijaya sendiri karena penyerbuan bangsa-bangsa pelaut yang tidak terdefinisikan, namun sebagian sejarahwan mengatakan mereka adalah pasukan barbar laut dari Srilanka (Ceylon). Akibat hancurnya kekuatan maritim mereka, Sriwijaya menjadi lemah dan persekutuan daerah-daerahnya mulai terlepas dan ketika datangnya ekspedisi Pamalayu dari Jawa (Majapahit) melakukan isolasi kepada Palembang untuk mencegah Sriwijaya bangkit kembali.

Ø Fase runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Di sekitar Palembang bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di hilir sungai Musi, Si Gentar Alam dii daerah pebukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat didaerah hulu sungai Komering, Panglima Gumai di sepanjang Bukit Barisan dan sebagainya. Pada masa inilah Parameswara yang mendirikan Tumasik/Temasek (Singapura) dan Kerajaan Malaka hidup dan di fase inilah juga terjadinya kontak langsung dengan para pengembara dan pedagang Arab dan Gujarat.

Ø Fase Kesultanan Palembang Darussalam

Hancurnya Kerajaan Majapahit di Jawa secara tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama sisa dari penyerangan Majapahit pada Ekpedisi Pamalayu. Setelah Kesultannan Demak yang merupakan pengganti dari kerajaan Majapahit di Jawa berdiri. Tak lama kemudian di Palembang berdirii pula Kesultanan Palembang Darussalam dengan Raja pertamanya adalah “Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Iman”. Kerajaan ini berhasil mengahwinkan dua kebudayaan yaitu kebudayaan Maritim peninggalan Sriwijaya dan agraris dari Majapahit. Selanjutnya Palembang menjadi pusat perdagangan terbesar di semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu Raja yang paling terkenal pada masa itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat tiga kali berjaya melawan kolonial Belanda dan Inggris.

Ø Fase Kolonialisme

Setelah Jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran yang keempat melawan Belanda yang pada saat itu turun dengan kekuatan besar dibawah pimpinan Jenderal De Kock, maka Palembang nyaris menjadi kerajaan Bawahan. Beberapa Sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang melakukan perlawanan kepada Balanda namun semuanya gagal dan berakhir pada pembumihagusan bangunan kesultanan dan penghancuran serta penghilangan simbol-simbol kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua Keresidenan Besar dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah hulu dan hilir. Daerah hilir diperuntukan bagi keluarga kesultanan dan masyarakat pribumi sedangkan di bagian hulu diperuntukkan bagi para pendatang keturunan China dan Arab.

Kota Palembang dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Sebagai “Kota Wisata Air” pada September 2005 dengan mengusung sebutan nama “Palembang Legendary City”.

Kota ini mulai bersolek dengan rapi dan profesional serta dikemas lebih modernitas baik dari segi Pemerintah, Penduduk, Inspratuktur, fasilitas umum dan lingkungan dengan tanpa mengabaikan unsur budaya yang sudah menjadi jati diri masyarakat.

Kota dengan beragam sebutan mulai dari Bumi Sriwijaya, Venesia dari timur, Tanah Leluhur bagi sebagian masyarakat Melayu, Negeri Batang hari atau sungai ini, semakin hari perencanaan penataan kota yang semakin baik, ini karena dukungan dan respon dari Pemerintah dan masyarakat hingga bisa mewujudkan sebagian dari wilayah kotanya seperti dalam sebuah selogan yang dicitakan kota ini yaitu Bersih Aman Rapi Indah (BARI).

Penduduk kota dengan multietnis mulai dari Melayu pesisir dan kepulauan, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, China, India, Arab ini bisa berbaur dan bermasyarakat dengan baik tanpa tingkat diskriminasi yang terbilang tinggi antar sesamanya.

Secara langsung dengan keadaan penduduk tersebut maka melahirkan suatu budaya yang sangat beragam yang tentunya melahirkan daya tarik tersendiri bagi kota ini.

Kota ini dibelah oleh sungai Musi yang membentang luas satu hingga tiga kilometer yang dilintasi oleh kemegahan jembatan Ampera dengan dua tower ditengahnya yang menjulang tinggi sebagai penyangga kekokohan jembatan tersebut, Dahulunya sungai inilah yang menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat disana. Dan saat ini kehidupan transportasi diatas sungai inipun sudah mulai digalakkan kembali.

Warisan dan simbol sejarah pun masih terpelihara sampai saat ini, mulai dari peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya sampai kepada Peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam masih terjaga dengan baik. Bahkan garis keturunan yang menjadi pewaris tahta Kesultanan Palembang Darussalam masih terdefinisi hingga saat ini, namun kekuasaan Sultan tersebut saat ini hanya sebagai simbol peninggalan kebudayaan semata.

Bicara tentang Palembang maka akan terbayang oleh masarakat luas tentang makanan khasnya Pempek yang saat ini bisa kita dapatkan hampir di seluruh pelosok Nusantara tanpa harus kita berkunjung kekota asalnya. Sebenarnya makanan khas Palembang bukan hanya Pempek saja, tetapi masih banyak sekali makanan khasnya seperti Tekwan, Model, Martabak Telor, Celimpungan, Kue Maksuba, Kue 8 Jam, Laksan Burgo,Pindang Ikan Patin Pegagan.

Makanan seperti Pempek, Model, Tekwan mengesankan Chinense Taste masyarakat Palembang, ini membuktikan bahwa perbauran antara masyarakat pendatang dan pribumi begitu baik sehingga perkahwinan kebudayaan dan kebiasaan sudah berlangsung sejak lama. Dan jika kita lihat dari kenyataannya bahwa memang Kota Palembang termasuk kota yang memiliki komunitas Tionghoa yang terbesar baik di Sumatera maupun Indonesia.
Shinugami - 27/05/2008 10:19 PM
#24

Situs Klasik di SUMSEL


sumber :http://www.balarpalembang.go.id/Sida82_Sondang.htm

Masa Klasik di Sumatera Selatan berlangsung dalam periode yang cukup panjang. Banyak tinggalan arkeologi yang tersebar baik di pusat kota maupun di daerah pedalaman mengindikasikan agama Hindu dan Buddha berkembang dalam waktu yang lama dan sebagian besar situs-situs arkeologi terletak di daerah aliran Sungai Musi.

Pada mulanya yang mendapat pengaruh Hindu adalah Pulau Bangka, yaitu di situs Kota Kapur. Di situs ini ditemukan reruntuhan bangunan candi, memiliki pagar keliling, berdenah bujur sangkar dengan arah hadap bangunan utara. Selain itu ditemukan sejumlah keramik dan tiga fragmen arca Wisnu. Agama Hindu juga berkembang di ibukota Sriwijaya (Palembang) hal ini dibuktikan dengan adanya temuan arca batu Ganesha dan arca logam Siwa Mahadewa. Selanjutnya agama Hindu berkembang pesat di daerah pedalaman, yaitu di situs Bumiayu, Kabupaten Muaraenim. Situs Bumiayu merupakan bukti kejayaan agama Hindu, dari 12 gundukan tanah di lokasi ini, 3 gundukan telah dibuka dan berisi reruntuhan bangunan suci Hindu.



Agama Hindu juga berkembang yaitu di daerah Musirawas. D tepi Sungai Rawas ditemukan situs Hindu yaitu situs Lesung Batu, tinggalannya berupa reruntuhan bangunan candi yang berdenah bujur sangkar.Berdasarkan hiasan yoni berbentuk makhluk primitif diduga mendapat pengaruh gaya seni Majapahit, oleh karena itu kronologi situs Lesung Batu diduga dari abad 14-15 Masehi. Gaya seni Majapahit juga ditemukan pada arca logam Trimurti yang ditemukan di bekas ibukota Kerajaan Sriwijaya yaitu Palembang. Berdasarkan tinggalan-tinggalan arkeologi yang tersebar baik di pusat maupun di daerah pedalaman diperkirakan agama Hindu berkembang di Sumatera Selatan dari abad 6-15 Masehi.



Berdasarkan data diketahui bahwa konsentrasi temuan terbanyak di pusat ibukota Sriwijaya yaitu Palembang, dibandingkan di daerah pedalaman. Di dekat Sungai Komering ditemukan tiga arca logam, yaitu arca Buddha, Maitreya dan Awalokiteswara. Arca-arca ini mirip dengan arca perunggu Jawa dari masa Sailendra.Agama Buddha juga berkembang di daerah pedalaman yaitu Ogan Komering Ulu dan Musirawas. Di tepi Sungai Komering, ditemukan situs Jepara, tinggalannya berupa reruntuhan candi Buddha, yang memiliki pelipit genta dan belah rotan. Sedangkan di daerah Musirawas dijumpai situs Tingkip dan Binginjungut. Bangunan candi Tingkip memiliki kesamaan dengan ciri-ciri candi Jawa Tengah seperti tangga pintu masuk di bagian timur dan adanya kombinasi profil sisi genta dan belah rotan pada fondasi yang merupakan gaya seni bangunan candi Jawa Tengah. Kronologi situs diduga berasal dari abad 8 – 14 M (Marhaeni 1998).Di Binginjungut ditemukan reruntuhan bangunan candi, yang memiliki profil sisi genta, dan belah rotan, selain itu juga ditemukan arca Buddha yang belum selesai dibuat dan arca Awalokiteswara, yang bergaya seni Jawa Tengah abad 9-10 M, temuan fragmen keramik Sung abad 11-13 M dan manik-manik yang diduga berasal dari abad 9-13 M.Berdasarkan tinggalan-tinggalan agama Buddha yang tersebar baik di bekas ibukota Kerajaan Sriwijaya maupun di daerah pedalaman diduga agama Buddha berkembang pada masa Kerajaan Sriwijaya dari abad 7-13 Masehi. Aliran yang berkembang pada masa itu adalah aliran Mahayana.



Pada masa Sriwijaya penganut agama Hindu dan Buddha dapat hidup berdampingan diduga telah terjalin toleransi, penguasa tidak mematikan perkembangan agama Hindu di wilayah kekuasaannya. Agama Hindu lebih berkembang bahkan mengalami kejayaan di daerah pedalaman. Agama Hindu tetap berkembang setelah Sriwijaya runtuh. Gaya seni bangunan beserta arca-arca dewanya mendapat pengaruh gaya seni Majapahit. Berdasarkan data sejarah diketahui bahwa Kerajaan Majapahit pernah menyerang dan menguasai Sriwijaya, diperkirakan turut memberi pengaruh dalam perkembangan kesenian di bekas wilayah Kerajaan Sriwijaya.
Shinugami - 27/05/2008 10:20 PM
#25

Ditemukan 21 situs kerajaan sriwijaya


sumber :http://ulunlampung.blogspot.com/2007/03/ditemukan-21-situs-kerajaan-pra.html


Palembang, Kompas - Balai Arkeologi Palembang menemukan 21 situs di enam desa di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang diduga peninggalan dari kebudayaan pada abad IV Masehi. Situs-situs itu menguatkan bukti telah berkembang dua kerajaan maritim sebelum Kerajaan Sriwijaya di Sumsel, yaitu Kerajaan Ko-Ying dan Kanto-Li.

Peneliti Balai Arkeologi Palembang, Tri Marhaeni SB, di Palembang, Selasa (4/4), mengungkapkan, penemuan 21 situs itu terjadi secara bertahap sejak tahun 2000 sampai 2006. Bahkan, di awal 1990-an, tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional yang diketuai Bambang Budi Utomo juga sebelumnya sudah menemukan sejumlah bukti lain di kawasan Air Sugihan, tak jauh dari lokasi temuan terakhir.

Penemuan berawal dari informasi masyarakat yang mendapatkan berbagai benda kuno di areal transmigrasi yang hendak diolah jadi lahan pertanian. Dalam situs-situs itu terdapat berbagai peninggalan, antara lain berupa manik-manik, tembikar, kemudi kapal, tiang rumah kuno, dan bandul jaring ikan dari timah.

Ke-21 situs tersebar memanjang hingga 20 kilometer di enam desa di Kecamatan Lalan, yaitu Desa Mulya Agung yang memiliki lima situs, Desa Karya Mukti (sembilan situs), Desa Karang Mukti (empat situs), Desa Sri Agung (satu situs), Desa Sukajadi (satu situs), dan Desa Bumi Agung (satu situs). Peninggalan itu mengelompok di tepi sungai purba yang sudah mengering di kawasan Karangtengah, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pantai timur Sumatera.

Benda-benda temuan itu menguatkan asumsi bahwa di sana pernah berkembang Kerajaan Ko-Ying (abad IV) dan Kanto-Li (abad V-VI), sebelum Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII ). Kedua kerajaan itu pernah diceritakan dalam literatur China, seperti Fu Nan T'u Su Chuan dan Nun Choui Wu Chih, dan dikaji peneliti dari Cornell Univercity, Amerika Serikat, OW Wolters. (iam)

Sumber: Kompas, Jumat, 7 April 2006
Shinugami - 27/05/2008 10:23 PM
#26

Candi Muarojambi



sumber :http://www.yuwie.com/blog/entry.asp?id=94964&eid=46023&t=CANDI%20MUARO%20JAMBI

Menyusuri Kompleks Percandian Muaro Jambi dengan kapal, yang melintasi kanal-kanal kuno warisan Kerajaan Melayu Kuno, suatu saat nanti bukanlah sekadar angan-angan. Daya tarik yang unik inilah yang akan ditawarkan Pemerintah Provinsi Jambi untuk mengembalikan pesona peninggalan purbakala Kerajaan Melayu Kuno di Pulau Sumatera tersebut.

Candi Muaro Jambi warisan budaya yang luar biasa masa peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tak kalah agungnya dengan Candi Borobudur dan candi lain di Jawa.

Candi Muaro Jambi yang terletak di bantaran Sungai Batanghari atau sekitar 30 km arah timur Kota Jambi juga merupkan situs purbakala terluas di Indonesia yaitu lebih kurang 12 Km2 atau sepuluh kali luar Borobudur.

Pemerintah dan masyarakat Jambi menaruh harapan besar terhadap pengembangan Kompleks Percandian Muaro Jambi, yang di dalamnya tersimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno dalam rentang abad IX-XV Masehi. Meskipun belum sepopuler candi-candi lain di Pulau Jawa, situs purbakala yang diyakini juga sebagai salah satu pusat pengembangan agama Buddha di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya itu merupakan aset yang dapat dimanfaatkan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, sosial, agama, dan ekonomi.

Situs purbakala ini membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang 7,5 kilometer. Dari sekitar 80 reruntuhan candi yang sudah diketahui, yang oleh masyarakat setempat disebut menappo, baru sebagian kecil yang sudah dipugar. Berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang ada, sebuah bangunan menggunakan batu merah.

Candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan adalah Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga Rajo. Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo. Akan tetapi, kondisinya memang masih jauh dari sebuah daerah tujuan wisata yang berkesan. Apalagi jika rombongan besar datang berkunjung hingga mencapai ribuan orang, fasilitas yang ada, semisal toilet, tempat makan, tempat parkir, belumlah memadai.

Keinginan untuk mengembalikan minat masyarakat Indonesia dan dunia terhadap keberadaan Kompleks Percandian Muaro Jambi itu semakin hidup tatkala sebagian umat Buddha Indonesia dan dunia memulai tradisi baru, yakni menggelar Perayaan Waisak Nasional yang pertama di kawasan Candi Muaro Jambi, awal Juni lalu. Sekitar 3.000 umat Buddha di Indonesia dan beberapa negara asing berkumpul di tempat ini. Bahkan, ke depan, ada keinginan untuk menjadikan Muaro Jambi sebagai pilihan tempat merayakan Waisak secara nasional atau ritual umat Buddha lainnya.

Bagi Budiman, Sekretaris Umum Majelis Buddhayana Indonesia, Kompleks Percandian Muaro Jambi merupakan warisan budaya yang sangat luar biasa dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Warisan masa lalu ini tidak kalah agungnya dengan Candi Borobudur dan candi- candi lain di Pulau Jawa. Sejarah Kerajaan Sriwijaya pun tidak kalah luar biasanya dibandingkan dengan Mataram dan Majapahit.

Keunikan dan nilai yang tinggi dari Kompleks Percandian Muaro Jambi ini menarik perhatian pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pengelolaannya. Rencana induk pengembangan kawasan Muaro Jambi bahkan sudah disusun. Dalam rencana induk pengembangan akan dibangun area perlindungan dengan jarak 150 meter dari candi-candi di kawasan cagar budaya ini. Dengan mempertimbangkan keadaan fisik, seperti kontur, sungai, rawa, dan kanal, akan dibuat deliniasi yang diharapkan dapat menampung kegiatan preservasi dan konservasi percandian.

Buffer sejauh minimal 100 meter keluar dari kawasan zona penyangga akan mempertimbangkan aspek fisik budaya. Ini diharapkan dapat menunjang pariwisata, perdagangan, dan permukiman.

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi menata ruang situs ini dengan pembagian ke dalam empat zona, yakni zona inti, penyangga primer, penyangga sekunder, dan pengembangan. Khusus pada zona inti, diberlakukan larangan mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam seperti penambangan dan pengubahan lahan, kecuali untuk kepentingan konservasi sumber daya budaya di dalamnya. Kawasan yang masuk zona ini ada sebanyak 12 candi, 69 menappo (pecahan candi), dan Kolam Telagorajo.

Kerajaan Melayu berdiri pada pertengahan abad VII Masehi dan berjaya sampai akhir abad XIV Masehi. Sampai saat ini baru ditemukan sekitar 30 prasasti dari kerajaan tersebut, yang tersebar di berbagai tempat. Sebagian terletak di wilayah Jambi, dan lainnya masuk Sumatera Barat dan Jawa Timur.

Menurut Nini Susanti, arkeolog dari Universitas Indonesia, berita asing sangat membantu memberi titik terang mengenai keadaan kerajaan ini. Catatan kisah perjalanan I-Tsing�pendeta Buddha dari China yang pernah tinggal cukup lama di Sriwijaya�menyebutkan, dalam pelayarannya dari Kanton di China ke Nagapattam di India dalam tahun 671/672 Masehi, ia singgah di She-Li-Fo-She untuk belajar bahasa Sanskerta selama enam bulan. Dari sini ia menuju Mo-Lo-Yeu dan tinggal selama dua bulan, kemudian melanjutkan ke Chieh-Cha (Kedah) dan ke India. Dalam perjalanan pulang dari Nalanda (India) pada 685 Masehi, ia singgah lagi di Mo-Lo-Yeu. Kisah perjalanan I-Tsing itu memberi gambaran bahwa Melayu merupakan persinggahan penting karena tidak dilewatkan begitu saja, baik dalam pelayaran dari China ke India maupun sebaliknya.

Pada saat itu, Kerajaan Melayu Kuno adalah aktor penting dalam hubungan perdagangan di kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah. Sabak bahkan menjadi tempat persinggahan barang-barang ekspor.

Bangsa China dan Arab merupakan penyumbang terbesar dalam penyediaan sumber informasi kuno tentang kawasan ini. Mereka memiliki tradisi menuliskan pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dan urusan kenegaraan di dalam catatan-catatan yang tersimpan di perpustakaan. Dari catatan-catatan bangsa asing ini diperoleh gambaran parsial tentang perdagangan di Jambi berkaitan dengan komoditas yang dipertukarkan dengan bangsa-bangsa asing tersebut.

Sumber-sumber ini mencatat, Jambi atau Pulau Sumatera pada umumnya dikenal sebagai penghasil bahan-bahan berharga yang sangat diminati. Di antara bahan-bahan itu adalah emas, getah damar, kemenyan, berbagai jenis kayu, gading gajah, cula badak, atau madu yang merupakan hasil hutan, hasil tambang, hasil perburuan, dan hasil perkebunan. Komoditas ini sangat diminati dalam perdagangan dunia pada masa itu.

Sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam berlimpah, Jambi diuntungkan oleh aktivitas perdagangan yang berkembang antara Asia Barat dan China. Penemuan ribuan keramik China di daerah Muaro Jambi, Ujung Plancu, dan Lambur ikut memberi gambaran akan tingginya lalu lintas komoditas perdagangan di masa lalu.

Dibawanya bahan-bahan komoditas ini ke kawasan pantai memperlihatkan adanya hubungan ekonomi di antara kedua kawasan: Asia Barat-China. Masyarakat di masing-masing kawasan dapat berperan baik sebagai pemakai maupun pemasok komoditas tersebut. Hubungan inilah yang menyebabkan ditemukannya benda-benda impor dari luar Jambi sampai jauh ke pedalaman. Sebaliknya juga demikian, di daerah pantai dapat ditemukan benda-benda atau bahan-bahan yang berasal dari lingkungan pedalaman.

Semua itu adalah cerita dari lintasan sejarah masa lalu. Tentu saja, sejarah sebagai sebuah peristiwa yang sudah terjadi tidak akan memberi banyak manfaat bagi kehidupan di masa kini bila keberadaannya sekadar untuk kepentingan romantisme semata. Oleh karena itu, dalam kaitan tinggalan sejarah dari masa Kerajaan Melayu Kuno ini, pesona dari masa silam itu harus juga dipetik manfaatnya dari kearifan-kearifan yang sudah dilakukan nenek moyang bangsa ini di masa lampau....

Masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Candi Muarojambi ketika itu membuat pelajar dari berbagai negara di dunia atau masa Universitas Nalanda, termasuk guru besar dari India Atisha Dipankara yang mengembangkan Buddha di Negeri Tibet pernah bermukim di Candi Muarojambi. .

Peninggalan sejarah masa Sriwijaya di Candi Muarojambi itu menjadi saksi bisu yang pernah ada kerajaan besar.
Shinugami - 27/05/2008 10:34 PM
#27

Sriwijaya dan Sejarah Lampung


SEJARAH DAN BUDAYA LAMPUNG


Wilayah Kabupaten Lampung Tengah terletak persis dibagian tengah dari Provinsi Lampung. Berbagai riwayat, hikayat maupun cerita-cerita rakyat berlatar belakang sejarah daerah telah pula mewarnai sosok Lampung Tengah. Sehingga dari sisi historis sejarah Kabupaten Lampung Tengah tidak terlepas dari sejarah Lampung secara umum.
A. Asal Muasal Kata Lampung

Sejarah asal mula kata Lampung berasal dari beberapa sumber. Salah satu sumber menyebutkan bahwa pada zaman dahulu provinsi ini bila di lihat dari daerah lain seperti melampung/terapung. Sebab wilayahnya sendiri pada waktu itu sebagian besar dikelilingi oleh sungai-sungai dan hanya dihubungkan deretan Bukit Barisan di tanah Andalas. Karena daerah ini pada saat itu tampak terapung, lalu muncullah sebutan lampung (melampung).

Sumber lain berdasarkan sebuah legenda rakyat menyebutkan, zaman dulu di daerah ini ada seorang yang sakti mandraguna serta memiliki kepandaian yang sulit ada tandingannya bernama Mpu Serutting Sakti. Sesuai dengan namanya, salah satu kesaktian Mpu tersebut dapat terapung diatas air. Kemudian di ambil dari kepandaian Mpu Serutting Sakti itu, tersebutlah kata lampung (terapung).

Riwayat lain menyebutkan bahwa pada zaman dahulu ada sekelompok suku dari daerah Pagaruyung Petani, dipimpin kepala rombongan bernama Sang Guru Sati. Suatu ketika Sang Guru Sati mengembara bersama ketiga orang anaknya, masing-masing bernama Sang Bebatak, Sang Bebugis dan Sang Bededuh. Karena kala itu tanah Pagaruyung sudah dianggap tak dapat lagi mampu memberikan penghidupan yang layak, lalu ketiga keturunan ini akhirnya mencari daerah kehidupan baru.

Dalam riwayat ini disebutkan, Sang Bebatak menuju ke arah utara, menurunkan garis keturunan suku bangsa Batak. Sang Bebugis menuju ke arah timur, menurunkan garis keturunan suku bangsa Bugis dan Sang Bededuh menuju ke arah timur-selatan yang merupakan garis keturunan suku Lampung.

Singkat cerita, keturunan berikutnya dari Sang Guru Sati lalu tinggal di Skala Brak. Saat rombongan tersebut memasuki sebuah daerah yang di sebut dengan Bukit Pesagi, Appu Kesaktian, salah seorang ketua rombongan menyebut kata “lampung”; maksudnya menanyakan siapa bermukim di tempat ini.

Kemudian dalam pertemuan ini, pertanyaan yang dilontarkan Appu Kesaktian di jawab oleh Appu Serata Dilangit yang sudah lebih dulu menetap di sana dengan kata “wat” yang dalam bahasa daerah berarti ada. Artinya, tempat tersebut ada yang menghuni. Karena terjadi selisih paham, kedua tokoh itu bersitegang namun mereka akhirnya menjalin persaudaraan. Selanjutnya nama “lampung” selalu diucapkan dan jadi nama tempat.

Versi lain dari cerita rakyat Lampung yang penuturannya hampir sama dengan kedatangan Appu Kesaktian di Bukit Pesagi adalah cerita tentang Ompung Silamponga. Dalam kisahnya diceritakan, di daerah yang sekarang dinamakan Tapanuli, dulu terjadi letusan gunung berapi. Karena letusan gunung berapi itu cukup dahsyat, di tempat ini banyak penduduknya yang mati terkena semburan lahar panas serta bebatuan yang disemburkan dari gunung berapi tersebut. Namun, meskipun letusan itu sangat hebat, banyak juga yang berhasil menyelamatkan diri. Letusan gunung api di daerah Tapanuli ini menurut tuturannya membentuk sebuah danau yang kini di kenal dengan nama Danau Toba.

Adalah empat orang bersaudara, masing-masing bernama Ompung Silitonga, Ompung Silamponga Ompung Silaitoa dan Ompung Sintalanga berhasil selamat dari letupan gunung berapi. Mereka berempat menyelamatkan diri meninggalkan tanah Tapanuli menuju ke arah tenggara. Dalam penyelamatan diri itu, keempat bersaudara tersebut naik sebuah rakit menyusuri pantai bagian barat pulau Swarna Dwipa yang sekarang bernama Pulau Sumatera. Siang malam mereka tidur diatas rakit terus menyusuri pantai. Berbulan-bulan mereka terombang-ambing dilautan tanpa tujuan yang pasti. Persediaan makananpun dari hari ke hari semakin berkurang. Keempat bersaudara ini juga sempat singgah di pantai untuk mencari bahan makanan yang diperlukan.

Entah apa sebabnya, suatu hari ketiga saudara Ompung Silamponga enggan diajak untuk meneruskan perjalanan. Padahal ia pada waktu itu dalam keadaan menderita sakit. Merekapun turun ke daratan dan setelah itu menghanyutkan Ompung Silamponga bersama rakit yang mereka naiki sejak dari tanah Tapanuli. Berhari-hari Ompung Silaponga tak sadarkan diri diatas rakit.

Pada suatu ketika, Ompung Silamponga sadar begitu merasakan rakit yang ditumpanginya menghantam suatu benda keras. Saat matanya terbuka, ia langsung kaget karena rakitnya telah berada di sebuah pantai yang ombaknya tidak terlalu besar. Yang lebih mengherankan lagi, begitu terbangun badannya terasa lebih segar. Segeralah dia turun ke pantai dengan perasaan senang. Ia tak tahu sudah berapa jauh berlayar dan dimana saudaranya berada. Yang dia tahu, kini telah mendarat di suatu tempat. Kemudian Ompung Silamponga tinggal di pantai tersebut. Kebetulan di pantai ini mengalir sungai yang bening. Pikirnya, disinilah tempat terakhirnya untuk bertahan hidup, jauh dari letusan gunung berapi.

Setelah sekian lamanya Ompung Silamponga menetap di sini, yang menurut cerita tempatnya terdampar itu sekarang bernama Krui, terletak di Kabupaten Lampung Barat, ia hidup sebagai petani. Karena merasa sudah lama bertempat tinggal di daerah pantai, Ompung seorang diri akhirnya melakukan perjalanan mendaki gunung dan masuk ke dalam hutan. Suatu ketika tibalah ia di sebuah bukit yang tinggi dengan panorama yang indah. Pandangannya mengarah ke laut serta di sekitar tempat itu.

Kegembiraan yang dirasakannya, tanpa sadar dia berteriak dari atas bukit dengan menyebut kata Lappung. Lappung dalam bahasa Tapanuli berarti luas. Keyakinannya, pastilah disekitar situ ada orang selain dirinya. Dengan tergesa-gesa dia turun dari atas bukit. Sesampainya di tempat yang di tuju, Ompung bertekad untuk menetap di dataran tersebut untuk selamanya.

Ternyata apa yang selama ini diyakininya memang benar, setelah cukup lama tinggal di sini, Ompung akhirnya bertemu dengan penduduk yang lebih dulu menetap di tempat ini dengan pola hidup yang masih tradisional. Tapi meskipun demikian, penduduk itu tidak mengganggu Ompung bahkan diantara mereka terjalin tali persahabatan yang baik. Saat datang ajal menjemput, Ompung Silamponga meninggal di dataran itu untuk selamanya. Daerah yang di sebut Lappung tersebut bernama Skala Brak.

Tuturan cerita rakyat di sini mengatakan, bahwa nama Lampung berasal dari nama Ompung Silamponga. Namun ada pula yang menuturkan kalau nama Lampung di ambil dari ucapan Ompung saat ia berada diatas puncak bukit begitu melihat dataran yang luas.

Versi berikutnya tentang asal-usul kata Lampung disebutkan bahwa Skala Brak merupakan perkampungan pertama orang Lampung yang penduduknya dinamakan orang Tumi atau Buai Tumi.

Menurut Achjarani Alf dalam tulisannya tahun 1954 berjudul “Ngeberengoh” tentang istilah kata Lampung, bahwa untuk menuliskan kata Lampung, selain orang Lampung yang beradat Sai Batin maka mereka menuliskannya dengan sebutan Lampung dan bagi orang Sai Batin menyebutkannya dengan sebutan `Lampung’ sebagaimana dalam bahasa Indonesia. Hal ini sama dengan sebutan “Mega-lo” menjadi kata “Menggala”.

Sebelum ajaran agama Hindu masuk ke Indonesia, beberapa sumber menyebutkan bahwa di daerah ini semasanya telah terbentuk suatu pemerintahan demokratis yang di kenal dengan sebutan Marga. Marga dalam bahasa Lampung di sebut Mega dan Mega-lo berarti Marga yang utama. Dimana masuknya pengaruh Devide Et Impera, penyimbang yang harus ditaati pertama kalinya di sebut dengan Selapon. Sela berarti duduk bersila atau bertahta sedangan Pon/Pun adalah orang yang dimuliakan.

Ketika ajaran agama Hindu masuk ke daerah Selapon, maka mereka yang berdiam di Selapon ini mendapat gelaran Cela Indra atau dengan istilah lebih populer lagi di kenal sebutan Syailendra atau Syailendro yang berarti bertahta raja.

Berdasarkan catatan It-Shing, seorang penziarah dari daratan Cina menyebutkan, dalam lawatannya ia pernah mampir ke sebuah daerah di tanah Swarna Dwipa (pulau Sumatera). Dimana di tempat itu walau kehidupan penduduknya masih bersifat tradisional tapi sudah bisa membuat kerajinan tangan dari logam besi (pandai besi) dan dapat membuat gula aren yang bahannya berasal dari pohon Aren. Ternyata tempat yang disinggahinya tersebut merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Sriwijaya, yang mana kerajaan besar ini sendiri gabungan dari Kerajaan Melayu dengan Tulang Bawang (Lampung).

Sewaktu pujangga Tionghoa It-Shing singgah melihat daerah Selapon, dari It-Shing inilah kemudian lahir nama Tola P’ohwang. Sebutan Tola P’ohwang diambilnya dari ejaan Sela-pun. Sedangkan untuk mengejanya, kata Selapon ini di lidah It-Shing berbunyi: So-la-po-un. Berhubung orang Tionghoa itu berasal dari Ke’, seorang pendatang negeri Cina yang asalnya dari Tartar dan dilidahnya tidak dapat menyebutkan sebutan So maka It-Shing mengejanya dengan sebutan To. Sehingga kata Solapun atau Selapon disebutnya Tola P’ohwang, yang kemudian lama kelamaan sebutan Tolang Powang menjadi Tulang Bawang.

Kerajaan Sriwijaya berbentuk federasi yang terdiri dari Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tulang Bawang semasanya menerima pengaruh ajaran agama Hindu. Sedangkan orang Melayu yang tidak menerima ajaran tersebut menyingkir ke Skala Brak. Sebagian lagi tetap menetap di Mega-lo dengan budaya yang tetap hidup dengan ditandai adanya Aksara Lampung.

Di antara orang Sela-pon yang menyingkir ke Skala Brak, guna untuk merapatkan kembali hubungan dengan orang Melayu yang pindah ke Pagaruyung, dilakukanlah pernikahan dengan seorang wanita bernama “Tuanku Gadis”. Dari pernikahan tersebut, Selapon akhirnya mendapat istilah baru lagi menjadi Selampung, dengan silsilahnya yang asli mereka gelari “Abung”.

Pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan agung yang wilayahnya sangat luas. Rajanya yang pertama bernama Sri Jayanegara (680). Wilayah daerahnya meliputi sejumlah daerah di Sumatera, Jawa Barat dan Kalimantan Barat, bahkan nama Sriwijaya termashur hingga ke Malaysia dan Singapura (konon di ambil dari nama panglima perang Sriwijaya yang mendarat di sana bernama Panglima Singapura) sampai ke India.

Kemashuran Kerajaan Sriwijaya di tanah air meninggalkan beberapa bukti kejayaan, diantaranya sebuah candi di Muara Takus Provinsi Jambi yang di kenal dengan Candi Muara Takus, makam raja-raja di Bukit Siguntang, Bukit Besar Palembang, Sumsel serta sejumlah prasasti (batu bertulis) yang berada di beberapa tempat, seperti: Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang, Prasasti Talang Tuo di Palembang, Prasasti Telaga Batu di Palembang, Prasasti Bom Baru di Palembang, Prasasti Kota Kapur di Pulau Bangka, Prasasti Karang Berahi di Jambi, Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan dan Prasasti Nalanda di Mesium Nalanda di India.

Dari sejumlah berita-berita ini diketahui, Sriwijaya memperoleh kemajuan sekitar abad ke 7 dan 8 masehi dibawah pemerintahan Raja Balaputra Dewa dari Wangsa Syailendra. Kemajuan-kemajuan itu, diantaranya: Membentuk armada laut yang kuat sehingga memberikan kemudahan bagi para pedagang untuk singgah dan berdagang dengan aman; Kapal-kapal dagang Sriwijaya berlayar hampir ke seluruh pelabuhan di Asia; Memberikan kesempatan pada putra-putri Indonesia untuk belajar sampai ke India (Perguruan Tinggi Nalanda).

Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran pada sekitar abad ke 11 masehi. Lemahnya kerajaan yang sempat jaya ini dikarenakan mendapat serangan dari Kerajaan Cola pimpinan Rajendrachola tahun 1025 dan munculnya Kerajaan Kediri yang mengadakan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera.

Dari beberapa keterangan di peroleh bahwa kata Lampung telah berulang kali mengalami perubahan. Semula sebelum Hindu dari India masuk ke Nusantara di sebut Selapon. Setelah Hindu masuk mendapat gelaran Cela Indra atau Syailendra/Syailendro. Abad ke IV oleh It-Shing disebutkannya Tola P’ohwang (Tulang Bawang). Abad ke VII di masa Tuanku Gadis mendapat gelaran Selampung yang kemudian menjadi sebutan Lampung.
B. Sejarah Perkembangan Daerah

Semasa kekuasaan marga-marga Hindu/Animisme, pada abad ke 14 masehi terdapat kekuasaan Ratu Sekar-mong (Sekromong) di Skala Brak Bukit Pesagi dan abad 14-15 kekuasaan Paksi-pak, Ratu di Puncak, Ratu Pemanggilan, Ratu di Balau dan Ratu di Pugung.

Semasa kekuasaan Islam dan pengaruh VOC, abad ke 15-16 masehi terdapat kekuasaan Ratu Darah Putih, penyimbang-penyimbang Lampung seba di Banten. Abad 16 sampai dengan 18 masehi, daerah Lampung dibawah pengaruh Banten, lalu masuknya pengaruh kekuasaan ekonomi VOC. Tahun 1668, VOC bercokol di tanah Lampung dan mendirikan Benteng Petrus Albertus di Tulang Bawang. Tahun 1684, penyimbang-penyimbang marga di Lampung melakukan perdagangan lada dengan VOC melalui pelabuhan Sungai Way Tulang Bawang. Tahun 1738, penyimbang-penyimbang marga dari kebuaian Abung (Ratu di Puncak) memboikot perdagangan lada dengan VOC dan melakukan pemasaran ke Palembang. Pada saat itu, Palembang berada dibawah pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, salah satu kerajaan Islam di tanah Sumatera. Akibatnya VOC mendirikan Benteng Valken Oog di Bumi Agung, Way Kanan.

Saat kekuasaan Raden Intan dan pengaruh Inggris pada tahun 1750 terjadi penyerahan daerah Lampung kepada VOC oleh Ratu Fatimah. Namun Banten tidak diakui rakyat Lampung. Lalu muncullah gerakan perlawanan Raden Intan I dari Keratuan Darah Putih. Penyimbang-penyimbang marga di daerah Krui akhirnya berhubungan dengan Inggris. Tahun 1799 VOC bubar, pemerintahan marga-marga di Lampung terancam bahaya perompakan bajak laut, kelaparan dan wabah penyakit.

Tahun 1801-1805, sebatin-sebatin bandar di daerah Semangka melaksanakan perjanjian dagang dengan Inggris. Tahun 1808 Gubernur Jenderal Daendels mengakui kekuasaan Keratuan Darah Putih dibawah pimpinan Raden Intan I. Tahun 1812 kekuasaan pemerintahan Inggris Raffles mengakui kekuasaan kepala-kepala marga di daerah Lampung.

Pada tahun 1816 daerah Lampung dibawah kekuasaan Residen Belanda di Banten. Setahun kemudian yakni tahun 1817 Assisten Residen Belanda Kruseman untuk Lampung mengakui kekuasaan Raden Intan I. Kapten J. A. Du Bois lalu memperkuat bentengnya di Kalianda dan Tulang Bawang. Tahun 1819-1826, ekspedisi Kapten Hulstein ditolak berunding oleh Raden Intan I. Tahun 1826 dapat dianggap tahun dimulainya perlawanan rakyat Lampung terhadap kekuasaan Belanda. Perlawanan ini di pimpin Raden Imba dari Keratuan Darah Putih. Tahun 1826 sampai dengan 1856 merupakan masa perang Lampung (Perang Raden Intan). Namun sayang, pada tanggal 5 Oktober 1856 Raden Intan II gugur dalam peperangan menghadapi tentara jajahan dibawah pimpinan Kolonel Waleson. Perang Lampung pun akhirnya berakhir.

Semasa administrasi pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1829-1834, J. A. Du Bois di angkat sebagai Residen Kepala Pemerintahan Sipil/Militer untuk daerah Lampung dan berpusat di Terbanggi Besar. Pada tahun 1847 Teluk Betung dijadikan ibukota Keresidenan Lampung. Tanggal 21 Juni 1857 pemerintah Hindia Belanda menetapkan pemerintahan daerah Lampung berdasarkan pada susunan pemerintahan setempat, dengan ditandai diakuinya sistem kemasyarakatan marga dibawah pimpinan penyimbang-penyimbang masing-masing.

Sebelum suku Lampung tersebar ke daerah-daerah Lampung seperti sekarang ini, disebutkan bahwa nenek moyang mereka pertama kali mendiami Skala Brak, yakni di sekitar Bukit Pesagi (Kecamatan Belalau, Lampung Utara). Pada mulanya di sana berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Tumi dengan raja-rajanya yang menganut kepercayaan animisme dan dipengaruhi agama Hindu Bairawa. Rajanya yang terakhir disebutkan bernama Kekuk Suik. Dengan daerah kekuasaannya yang terakhir adalah daerah jantung Tanjung Cina sekarang. Raja tersebut dikisahkan meninggal dunia dalam sebuah peperangan melawan anak buahnya sendiri yang datang dari daerah Danau Ranau yang sudah memeluk ajaran agama Islam.
C. Suku dan Adat Istiadat

Berdasarkan adat istiadatnya, penduduk suku Lampung terbagi ke dalam dua golongan besar, yakni masyarakat Lampung beradat Pepadun dan masyarakat Lampung beradat Saibatin atau Peminggir.

Suku Lampung beradat Pepadun secara lebih terperinci dapat di golongkan ke dalam; (a) Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga), terdiri atas: Buai Nunyai, Buai Unyi, Buai Nuban, Buai Subing, Buai Beliuk, Buai Kunang, Buai Selagai, Buai Anak Tuha dan Buai Nyerupa. (b) Megou Pak Tulangbawang (Empat Marga Tulangbawang), terdiri dari: Buai Bolan, Buai Umpu, Buai Tegamoan, Buai Ali. (c) Buai Lima (Way Kanan/Sungkai), terdiri dari: Buai Pemuka, Buai Bahuga, Buai Semenguk, Buai Baradatu, Buai Barasakti. (d) Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku), terdiri dari Buai Manyarakat, Buai Tamba Pupus, dan Buai Buku Jadi.

Diperkirakan bahwa yang pertama kali mendirikan adat Pepadun adalah masyarakat Abung yang ada disekitar abad ke 17 masehi di zaman seba Banten. Pada abad ke 18 masehi, adat Pepadun berkembang pula di daerah Way Kanan, Tulang Bawang dan Way Seputih (Pubian). Kemudian pada permulaan abad ke 19 masehi, adat Pepadun disempurnakan dengan masyarakat kebuaian inti dan kebuaian-kebuaian tambahan (gabungan). Bentuk-bentuk penyempurnaan itu melahirkan apa yang dinamakan Abung Siwou Migou (Abung Siwo Mego), Megou Pak Tulang Bawang dan Pubian Telu Suku.

Masyarakat yang menganut adat tidak Pepadun, yakni yang melaksanakan adat musyawarahnya tanpa menggunakan kursi Pepadun. Karena mereka sebagian besar berdiam di tepi pantai, maka di sebut adat Pesisir. Suku Lampung beradat Saibatin (Peminggir) secara garis besarnya terdiri atas: Masyarakat adat Peminggir, Melinting Rajabasa, masyarakat adat Peminggir Teluk, masyarakat adat Peminggir Semangka, masyarakat adat Peminggir Skala Brak dan masyarakat adat Peminggir Komering. Masyarakat adat Peminggir ini sukar untuk diperinci sebagaimana masyarakat Pepadun, sebab di setiap daerah kebatinan terlalu banyak campuran asal keturunannya.

Bila di lihat dari penyebaran masyarakatnya, daerah adat dapat dibedakan bahwa daerah adat Pepadun berada di antara Kota Tanjungkarang sampai Giham (Belambangan Umpu), Way Kanan menurut rel kereta api, pantai laut Jawa sampai Bukit Barisan sebelah barat. Sedangkan daerah adat Peminggir ada di sepanjang pantai selatan hingga ke barat dan ke utara sampai ke Way Komering.
D. Bahasa, Aksara dan Dialek

1. Bahasa

Selain pembagian berdasarkan masyarakat beradat, suku Lampung dapat pula di bagi berdasarkan logat bahasa yang dipergunakan, yaitu bahasa Lampung Belalau yang berlogat “A” dan bahasa Lampung berlogat “O”. Pembagian atas logat ini dikelompokkan menjadi logat “Api” dan logat “Nyou”. Masyarakat berbahasa Lampung Belalau (Logat “A”) terdiri dari: bahasa Jelma Daya/Sungkai, bahasa Pemanggilan Peminggir, bahasa Melinting Peminggir dan bahasa Pubian. Sedangkan masyarakat berbahasa Lampung Abung (Logat “O”) terdiri dari: bahasa Abung dan bahasa Tulang Bawang.

Selain bahasa dan budayanya yang memiliki kekhasan, etnik Lampung mempunyai aksara tersendiri yang dikenal dengan nama Had Lappung. Aksara itu berupa bahasa Lampung yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

2. Aksara

Bentuk tulisan yang masih berlaku di daerah Lampung pada dasarnya berasal dari aksara Pallawa (India Selatan) yang diperkirakan masuk ke Pulau Sumatera semasa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Macam-macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam aksara Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah di baris atas dan tanda-tanda kasrah di baris bawah, tapi tidak memakai tanda dammah di baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang. Masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri. Aksara Lampung hampir sama bentuknya dengan aksara Rencong (Aceh). Artinya, Had Lappung dipengaruhi dua unsur, yakni; aksara Pallawa dan huruf Arab.

Adapun Aksara Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka, dan tanda baca.

* Huruf Induk

Aksara Lampung disebut dengan istilah kaganga, ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan (pada Tabel 1 dibaca dari atas ke bawah). Huruf induk berjumlah 20 buah.
Shinugami - 27/05/2008 10:35 PM
#28

Sriwijaya dan Malaka

Sumber : http://majalah-misteri.net/forum/viewtopic.php?p=28&sid=972ec10eed5420a9218d4fe55488cb5f

PARAMESWARA
RAJA PENDIRI KERAJAAN MALAKA

OLEH : ARRYA


Seperti kata seorang pelaut terkenal yang bernama DUARTE BARBOSA “He who is lord of Malcca has his hand on the throat of Venice” (Siapapun yang menguasai Malaka, maka dia dapat menguasai perdagangan dunia).
Pada rubrik Jelajah Misteri edisi 392 telah dikisahkan sedikit tentang Parameswara yang melapaskan tahtanya sebagai raja di Sriwijaya.
Kali ini Misteri ingin mengisahkan perjalanan panjang Parameswara dalam mendirikan sebuah kerajaan Islam yang baru dan diberi nama Kasultanan Malaka. Selamat mengikuti!

SEJARAH MALAKA

Kesultanan Malaka adalah kesultanan Melayu Islam yang terdapat di wilayah penyempitan selat di Semenanjung Melayu. Sejak zaman Sriwijaya, Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat trategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Setiap harinya kapal-kapal dari negeri asing berdatangan dan singgah di sana. Tentu saja kedatangan para pelaut-pelaut asing tersebut membuat Semenanjung Melayu tersebut menjadi wilayah yang tumbuh dengan pesat.
Hal itu terjadi karena para pelaut-pelaut asing tersebut datang dengan membawa berbagai macam barang-barang yang mereka dagangkan. Maka jadilah Semenanjung Melayu (diwilayah bagian Malaka) menjadi sebuah pelabuhan sekaligus Bandar Raya.
Banyak negeri-negeri lain yang menginginkan Semenanjung Melayu masuk dalam wilayah kekuasaannya, mengingat wilayah Semenanjung Melayu merupakan tempat yang sangat strategis bagi jalur perdagangan antara barat dan timur.
Namun apa daya, angkatan perang kerajaan Sriwijaya sangat kuat dan susah ditaklukkan kala itu. Apalagi Raden Sri Pakunalang sebagai Panglima Tertinggi pada masa Ratu Dewayani dan Raja Cudamaniwarnadewa berkuasa sangat ahli akan stategis perang.
Tak hanya negeri-negeri lain yang ingin menguasai Semenanjung Melayu, penduduk asli pun sangat ingin memerdekakan tanah kelahirannya. Akan tetapi setiap daya dan upaya mereka selalu saja gagal ditangan prajurit-prajurit kerajaan Sriwijaya.
Hingga pada masa Raja Sri Sanggranawijayatunggawarman berkuasa di Sriwijaya. Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya. Uniknya Semenanjung Melayu merdeka berkat kerja keras seorang mantan raja Sriwijaya.
Parameswara namanya atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah, ketika beliau telah memeluk agama Islam. Berhasil merebut Semenanjung Melayu dari tangan Sriwijaya, dan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang diberinama Kesultanan Malaka.
Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah menjadi raja pertamanya dengan gelar Sultan Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka mengalami masa kejayaan. Negeri Malaka menjadi negara Islam yang makmur.
Dengan Panglima tertinggi, Panglima Tuan Junjungan serta si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Negeri Malaka selalu berhasil mengalahkan para penjajah seperti negeri Siam dan Majapahit. Dan tak ketinggalan juga jasa seorang laksamana angkatan laut bernama Hang Tuah.
Dikarenakan suatu hal, Sultan Iskandar Syah memutuskan kembali ke Lembang Melayu (Palembang). Kala itu Sriwijaya masih ada, namun tidak memiliki kedaulatan. Kemudian kedudukan raja digantikan oleh penerusnya dengan gelar Sultan Mayat Iskandar Syah (1414-1424 M).
Pada tahun 1424 M, Kesultanan Malaka di perintah oleh Sultan Muhammad Iskandar Syah. Pada masa kepemerintahannya, Malaka semakin maju sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dari berbagai negeri. Sultan Muhammad Iskandar Syah digantikan oleh putera bungsunya yang bernama Paramesara Dewa Syah.
Parameswara Dewa Syah menjadi raja dengan gelar Sultan Abu Syahid. Namun, ia hanya memerintah Malaka hanya satu tahun saja (1445-1446 M). Parameswara Dewa Syah terbunuh dalam perebutan kekuasaan oleh sepupunya yang bernama Mudzaffar.
Ia memerintah Malaka dengan gelar Sultan Mudzaffar Syah (1446-1458 M). Kemudian ia digantikan puteranya yang ketika naik tahta bergelar Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M). Kesultanan Malaka kemudian dipimpin oleh Sultan Alaudin Riayat Syah (1477-1488 M).
Pada tahun 1488 M, Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Sayangnya Sultan Mahmud Syah sangat mewarisi sifat kakek buyutnya (Sultan Mudzaffar Syah) yang tamak dan serakah. Tahun 1509 M, Diego Lopez de Sequiera dari kerajaan Portugis tiba di Malaka dengan rombongan sebanyak 18 kapal. Rombongan dari Portugis (Portugal) ini merupakan rombongan orang Eropa pertama yang tiba di Asia Tenggara.
Sayangnya, kelakukan orang-orang Eropa ini sangat tidak terpuji. Mereka sering berbuat onar terutama mengganggu para gadis. Atas usulan penasehat kerajaan, maka Sultan Mahmud Syah memerintahkan prajuritnya untuk mengusir orang-orang Eropa tersebut dan berhasil menangkap 20 orang dari mereka.
Pada 10 Agustus 1511, armada laut Portugis yang besar dari India menyerang Malaka. Armada perang yang beasr tersebut di pimpin oleh Alfonso d’ Albuquerque. Terjadilah peperangan selama 10 hari hingga akhirnya Malaka jatuh ketangan Portugis.
Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke pantai timur Semenanjung Melayu, tepatnya daerah Pahang. Maka habislah sudah masa Kesultanan Malaka yang dibangun oleh Parameswara.

PERJALANAN MENUJU NEGERI BARU

Konon Bukit Jempol, merupakan tempat yang bersejarah dalam usaha merebut dan membangun Malaka. Di bukit Jempol-lah Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah mendapat petunjuk dari Sang Maha Pencipta sebelum menuju wilayah di Semenanjung Melayu itu.
Setelah meninggalkan ibukota Sriwijaya, Parameswara beserta pengikut-pengikut setianya berangkat menuju Bukit Jempol menaiki sebuah kapal yang sangat legendaris yang bernama Kapal Lancang Kuning.
Berangkat dari sungai Musi hingga memasuki sungai Lematang. Rombongan Parameswara dikawal oleh sosok gaib Ratu Sangklang beserta buaya-buaya siluman yang merupakan prajurit-prajuritnya.
Setibanya di Bukit Jempol, Parameswara bertemu sosok gaib Dhapunta Hyang (ada kisah yang menceritakan bahwa Bukit Jempol merupakan candi yang dibuat Parameswara ketika menjadi raja di Sriwijaya. Candi alami tersebut sengaja dibuat atas permintaan sosok gaib Dhapunta Hyang sebagai tempat pertapaannya).
Setelah mendapatkan wejangan dari sosok gaib yang pernah menjadi gurunya itu, Parameswara beserta rombongan, berlayar menuju Timur Tengah. Kepergian Parameswara diiringi hingga ke lautan lepas oleh puluhan kapal angkatan laut Sriwijaya. Banyak rakyat Sriwijaya yang menangisi kepergian mantan Raja Sriwijaya itu.
Dalam perjalanan menuju Timur Tengah, Parameswara beserta rombongan, singgah di Temasik (Singapura) untuk beberapa waktu. Di Temasik, Parameswara dan kapal perangnya dari angkatan laut kerajaan Sriwijaya, sebanyak delapan buah yang bersenjatakan lengkap. Mereka merapat di perairan dangkal.
Ternyata di dalam salah satu kapal tersebut, terdapat salah seorang yang tidak asing lagi bagi Parameswara ketika dirinya menjadi raja di Sriwijaya. Dan orang tersebut adalah Panglima Jairo.
Panglima Jairo menceritakan pada Parameswara, bahwa kini telah diangkat raja baru yang bergelar Raja Sri Sanggramawijayatunggawarman. Tapi sayangnya, raja yang satu ini hanyalah sebagai boneka. Dan kendali pemerintahan di pegang sepenuhnya oleh para menteri.
Parahnya lagi, para menteri tersebut memiliki tujuannya masing-masing tanpa memikirkan negera dan rakyatnya. Panglilma Jairo pun bercerita panjang lebar pada orang yang masih dianggapnya sebagai rajanya yakni Parameswara.
Hati Parameswara terasa perih mendengar cerita dari Panglima Jairo yang baru saja diangkat sebagai Panglima Tertinggi menggantikan Raden Sri Pakunalang yang mengikuti jejak gurunya (Wali Putih) melanglang buana menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Walau tidak begitu lama memerintah di Sriwijaya, namun negeri Sriwijaya sangatlah dicintainya. Namun ada satu hal yang lebih menyakitkan terutama bagi Panglima Jairo. Panglima Jairo diutus oleh Raja Sriwijaya untuk memburu Parameswara yang menurut para menteri dapat menjadi ancaman bagi kerajaan Sriwijaya.
Mendengar cerita dari Panglima Jairo, tentu saja membuat Parameswara marah besar, terlebih ketika sang panglima mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang dalam tugas untuk memburu dirinya beserta para pengikutnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak mungkin dilakukan bagi seorang Panglima Jairo.
“Palinglima Jairo, kini aku telah dihadapanmu. Mengapa kau belum menjalankan tugas dari rajamu?” Tanya Parameswara dengan nada yang halus.
Tiba-tiba Panglima Jairo bersujud sambil menitikkan air mata. Dia berkata; “Maafkan diriku Tuan Raja. Bagiku Tuan masih rajaku, Raja Sriwijaya.”
Parameswara menjadi terharu mendengar perkataan Panglima Jairo. Terlebih ketika dirinya melihat seluruh prajurit dan awak kapal ikut bersujud dihadapannya tanpa terkecuali. Melihat keadaan tersebut Parameswara berkata.
“Panglima Jairo....Tinggallah dulu disini beberapa hari sambil memikirkan langkah selanjutnya.”
“Baiklah Tuan Raja.” Ucap Panglima Jairo.
Setiap malamnya, Parameswara menjalankan shalat Tahajjud memohon petunjuk-Nya. Pada hari ke-3 usai shalat Tahajjud, Parameswara bermimpi di datangi oleh gurunya yang berjulukan Wali Putih. Dalam mimpi itu Wali Putih berkata;
“Muridku....tundalah dulu niatmu ke Baghdad untuk berguru pada saudaraku. Saranku, pergilah ke Semenanjung Melayu. Tepatnya wilayah yang terdapat penyempitan selat dan tumbuh pepohonan yang disebut oleh penduduk setempat dengan sebutan Malaka. Agama Allah telah masuk disana, Insya Allah kau akan berhasil.”
Setelah bermimpi aneh tersebut, Parameswara beserta panglima-panglima setianya juga Panglima Jairo segera menyusun rencana. Setelah melalui diskusi yang cukup lama, maka Parameswara memutuskan, bahwa Panglima Jairo beserta armada perangnya kembali ke Ibukota Sriwijaya dan melaporkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan dirinya.
Akan tetapi, Panglima Jairo menolak dengan penuh rasa hormat. Dan berkata; “Biarlah saya pulang dengan dua kapal saya. Kapal yang lain beserta prajurit ikut Tuan Raja dalam usaha merebut Semenanjung Melayu nanti.”
“Benar Tuan Raja. Kita butuh kapal-kapal itu.” Ujar Panglima Tuan Junjugan yang menyambung ucapan Panglima Jairo.
Akhirnya Parameswara menyetujui rencana panglima-panglima itu. Panglima Jairo kembali ke Sriwijaya dengan alasan mereka berhasil dikalahkan Parameswara beserta pengikutnya. Sedangkan enam kapal lainnya berangkat menuju Semenanjung Melayu bersama Parameswara.
Setibanya dikota Raya, Panglima Jairo segera menghadap dan melaporkan kegagalannya dalam memburu Parameswara. Untunglah Raja Sanggramawijayatunggawarman adalah sosok raja yang berhati lembut. Mendengar kegagalan Panglima Jairo, sang raja hanya berkata, “Dia (Parameswara) memang orang yang hebat dan juga sakti.”
Parameswara beserta pengikutnya yang telah bertambah jumlahnya, segera menuju Semenanjung Melayu. Keenam kapal perang yang tersebut, berhenti di suatu tempat di Semenanjung Melayu. Sedangkan kapal Lancang Kuning yang membawa Parameswara, meneruskan perjalanan menuju wilayah yang kelak bernama Malaka.
Namun diperjalanan, kapal Lancang Kuning dihadang dua buah kapal yang ternyata adalah kapal para perampok yang sering merampok para pelaut dan menjadi buruan-buruan tentara Sriwijaya.
Mengetahui perjalanannya dihadang oleh perampok, Parameswara segera melompat ke salah satu kapal perampok tersebut dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Dengan ilmu-ilmu kanuragan miliknya, para perampok itu dihabisinya semua. Sedangkan para perampok di kapal yang lain dibantai oleh si kembar Panglima Bagus Karang dan Panglima Bagus Sekuning. Yang konon mampu berubah wujud menjadi macan kumbang (Panglima Bagus Karang) dan macan loreng (Panglima Bagus Sekuning).
Ternyata aksi Parameswara dan kedua pengikut setianya itu disaksikan oleh penduduk setempat yang rata-rata adalah nelayan. Mereka takjub melihat kesaktian Parameswara dan kedua pengikutnya itu.
Tanpa kesulitan yang berarti, Parameswara dan kedua panglimanya itu berhasil menumpas para perampok yang sering merasahkan para pelaut. Parameswara dengan kapal Lancang Kuningnya merapat di daratan. Mereka mendapat sambutan meriah dari penduduk di pesisir Semenanjung Melayu itu.
Parameswara pun berkenalan dengan para penduduk setempat yang dipimpin oleh seorang kepada adat. Dari kepala adat yang oleh penduduk mereka sebut dengan nama Hang Tuah. Di ketahui bahwa tamu yang datang ke tanah kelahiran mereka ternyata adalah mantan raja Sriwijaya, raja yang mereka cintai.
Dari Hang Tuah juga, Parameswara mengetahui bahwa kini peraturan Sriwijaya telah berubah. Para penduduk di setiap penjuru Sriwijaya harus membayar upeti yang tak terkira jumlahnya. Maka Hang Tuah meminta Parameswara memimpin mereka dalam upaya melepaskan diri dari Sriwijaya.
Singkat cerita, Parameswara memimpin para penduduk untuk melakukan pemberontakan. Dibantu oleh para prajurit dan kapal perang dari Panglima Jairo membuat rencana dan taktik yang dijalankan oleh mantan rajanya membuahkan hasil.
Semenanjung Melayu lepas dari tangan Sriwijaya, yang gagal meredam pemberontakan yang dipimpin Parameswara. Suatu hari, Parameswara sedang duduk-duduk bersama Hang Tuah disuatu tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan.
Tiba-tia dari balik pepohonan itu muncul ribuan ekor biawak yang terlihat sangat ganas. Setelah mengetahui bahwa biawak-biawak itu adalah makhluk gaib penunggu daerah tersebut, Parameswara segera mencabut sebilah keris. Keris Si Gentar Alam.
Kemudian ditancapkannya keris tersebut ke tanah sambil berucap dua kalimat Syahadat. Tiba-tiba terdengar gemuruh petir dengan kilat-kilat yang menyambar setiap siluman biawak tersebut.
Seusai peristiwa itu, Parameswara bertanya pada Hang Tuah; “Pohon-pohon apakah ini?”
“Pohon Malaka, Tuanku!” Jawab Hang Tuah.
Maka resmilah nama Malaka menjadi wilayah tersebut dan berdirinya sebuah pemerintahan. Kesultanan Malaka yang dipimpin oleh Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah (Sultan Iskandar Syah).

BUKIT JEMPOL PENINGGALAN RAJA SI GENTAR ALAM

Bukit Jempol yang terdapat di Kabupaten Lahat, memanglah terlihat sangat unik. Bukit yang terlihat seperti stupa candi itu merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya pada masa pemerintahan Raja Cudamaniwarmadewa (Parameswara).
Menurut dialog batin Misteri dengan sosok gaib Raja Cudamaniwarmadewa atau Parameswara atau Iskandar Zulkarnaen Alamsyah atau juga Raja Si Gentar Alam, bukit Jempol merupakan sebuah candi tempat dirinya berolah kanuragan sejak menjadi murid sosok gaib Dhapunta Hyang.
“Pada waktu-waktu tertentu kita dapat berjumpa dengan sosok Dhapunta Hyang di bukit jempol,” ucap sosok gaib Raja Si Gentar Alam pada Misteri.
Bukit Jempol juga tempat yang didatangi pertama kali ketika Parameswara kembali ke Swarna Dwipa (Sumatera) bersama isterinya yang dikenal dengan nama Puteri Rambut Selaka beserta pengikut-pengikut setia mereka.
Misteri yang melakukan dialog batin dengan sosok gaib Puteri Rambut Selaka mengetahui bahwa dibukit Jempol terdapat banyak peninggalan kerajaan Sriwijaya terutama pada masa kepemimpinan suaminya.
Seperti harta karun, naskah-naskah kuno (prasasti) yang ditulis pada dinding-dinding batu dengan huruf Palawa dan berbahasa Melayu Kuno. Namun ada juga yang bertuliskan huruf Arab gundul dan berbahasa Melayu Kuno.
Akan tetapi, semuanya itu terselimut gaib, mengingat banyak tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang siap mencuri dan menjual peninggalan-peninggalan sejarah Nusantara ini.
Tentu saja kita semua berharap, peninggalan-peninggalan dari sejarah Nusantara ini dapat kita pelihara dengan baik. Bukan diperjual-belikan ataupun menjadi milik negara lain. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah wawasan kita seputar sejarah orang-orang di masa lalu.
Shinugami - 27/05/2008 10:36 PM
#29

Di Temukan Stupa Sriwijaya

Sumber: http://www.harian-global.com/news.php?item.6556.31

Ditemukan Stupa Sriwijaya
Sebuah batu diduga peninggalan Kerajaan Sriwijaya ditemukan di pemakaman Sabokingking, Palembang. Batu ini mirip bagian puncak bangunan candi atau stupa.

Batu berbentuk segi empat, berukuran 74 cm x 74 cm x 26 cm itu dalam posisi empat tingkat. Setiap sudutnya terdapat lubang sedalam 5 cm. Batu ini ditemukan sejumlah pekerja yang tengah merenovasi pemakaman Sabokingking, makam leluhur Kerajaan Palembang (kerajaan sebelum Kesultanan Palembang Darussalam) di Sungai Buah, Ilir Timur II, Palembang.

Menurut juru kunci makam Kemas Madinah Yahya (70 tahun), yang ditemui di rumahnya sekitar 100 meter dari makam, Minggu (5/11), Selasa lalu ketika sejumlah pekerja membuat lubang di belakang Pangeran Sido Ing Pasaeran atau di belakang bagian kepala Tuan Sayid Guru Muhammad Nur, tiba-tiba linggis mereka menyentuh benda keras. Saat dikorek secara perlahan ternyata sebuah batu.

Lalu, setelah berusaha selama dua hari, Rabu dan Kamis, batu tersebut akhirnya dapat diangkat. Lokasi ditemukan batu itu sendiri tetap dipasang kerangka besi untuk tiang penyanggah makam.

Menurut arkeolog dari Balai Arkeolog Palembang Retno Purwanti, yang sempat melihat batu tersebut, diperkirakan batu itu mirip bagian puncak bangunan candi atau stupa. Bila benar, itu artinya bagian penting dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Apalagi diyakini bahwa pemakaman Sabokingking memang diduga dibuat di atas bangunan candi-candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya. "Tapi kita perlu melakukan penelitian yang dalam mengenai kebenaran batu tersebut," katanya. Sementara batu itu sendiri kini berada di dalam Pemakaman Sabokingking.

Dijaga Panglima
Pada Selasa (1/11) malam, Madinah bermimpi atau mendapatkan petunjuk dari Ratu Sinuhun-kerabat dekat Kesultanan Yogyakarta. "Saya dibisiki dalam bahasa Jawa halus, yang intinya batu tersebut boleh diangkat, tapi tidak boleh dibawa keluar dari makam dan harus diletakan di dekat makam Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman," tutur Madinah.
Sementara sampai hari ini, belum ada dari pihak pemerintah yang mendatangi Pemakaman Sabokingking. Menurut Madinah, Walikota Palembang Eddy Santana Putra saat ini tengah berada di luar kota.

Makam Sabokingking merupakan makam tertua para raja atau pangeran di Palembang. Di makam ini disemayamkan Pangeran Sido Ing Kenayan (1622-1630), Sido Ing Pasaeran atau Jamaluddin Mangkurat I (1630-1652), Ratu Sinuhun-penulis kitab Simbur Cahaya-serta imam kubur Al Habib Al Arif Billah Umar bin Muhammad Al Idrus bin Shahab, serta Panglima Kiai Kibagus Abdurrachman.
Shinugami - 27/05/2008 10:40 PM
#30

Beberapa Catatan Mengenai Sriwijaya

Sumber : http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Beberapa-catatan-mengenai-Sriwijaya.-to11976655.html

Beberapa catatan mengenai Sriwijaya.

Pada pertengahan pertama abad ke-tiga tarikh masehi, orang-orang
Tionghwa menyebut sebuah pusat perdagangan penting pada suatu tempat
di pantai tenggara Sumatra, yang mereka namakan Ko-ying.
Pentingnya terletak dalam hubungan-hubungan perdagangan dengan India.
Pada permulaan abad ke-lima tarikh masehi terdapat hubungan nyata
secara langsung antara Nusantara dan Tiongkok.

Dr. Wolters menunjukkan dari sumber-sumber Tiongkok bahwa kapal-
kapal Kun-lun (Asia Tenggara), dan bukan kapal-kapal Persia (Asia
Barat) , yang membawa barang-barang mewah ke pelabuhan-pelabuhan
Tiongkok.

Pada permulaan abad ke-enam, Dr. O. W. Wolters (dalam buku "Early
Indonesian Commerce and the Origins of Srivijaya". 1962), menemukan
lagi dari tawarikh Tiongkok kerajaan Kan-to-li di pantai yang sama
di tempat mana Sriwijaya kemudian berdiri. Sumatra Tenggara dengan
lokasinya yang strategis di Selat-selat Malaka dan Sunda, tercatat
sejak zaman dahulu kala sebagai tempat kedudukan suatu Negara
maritim yang kuat. (vide: Hall, A History of South East Asia, hlm 38-
40).

Dalam abad ke-sepuluh, kerajaan San-fo-ts'i atau She-li-fo-she
(terjemahan bahasa Tionghwa untuk Sriwijaya) memerintah lebih dari
lima belas negara yang tunduk padanya. Pada dasawarsa terakhir abad
ke-sepuluh, kerajaan Sriwijaya ini secara serius terancam oleh Jawa
akan tetapi segera mengadakan pembalasan yang setimpal untuk
perbuatan agresif ini.

Pada permulaan abad ke-tigabelas kita menemukan sekali lagi suatu
daftar negara-negara yang tunduk pada Sriwijaya. Dalam abad ke-
empatbelas, negara ini berada di bawah pengaruh kerajaan Majapahit.

Dr. George Coedes dalam bukunya yang berjudul "Royaume de
Sriwijaya" (l9l3), memberikan alasan-alasan kuat mengenai
pendapatnya.
Beliau adalah yang pertama mengenal Palembang dengan Sriwijaya.
Dalam abad ke-tujuh tarikh masehi, beliau menemukan dari prasasti-
prasasti Melayu-kuno bahwa Sriwijaya termasuk pulau Bangka antara
Sumatra dan jazirah Melayu.

Dalam abad ke-delapan Sriwijaya merupakan suatu negara berdaulat
sampai jauh ke utara di jazirah Melayu dan Teluk Bandon. Menurut
Hall, daerah kekuasaan Sriwijaya terletak di Sumatra atau di jazirah
Melayu, akan tetapi beberapa nama belum dapat diketahui di mana
letaknya. Yang sudah pasti adalah adalah Palembang, Malayur (Jambi),
dan Pane di tepi pantai Sumatra; Lankasuka (Ligor), Takola, dana
Kedah di tanah daratan Melayu; Tumasik = nama lama untuk pulau
Singapura. Aceh, dan pulau-pulau Nikobar. Demikian menurut Hall.

Sangat menarik hati bahwa pulau-pulau di selatan Filipina sampai
sekarang masih dinamakan Visayan Islands dan laut di sebelah selatan
Filipina dinamakan Visayan Sea. Akan tetapi sebagai awam mungkin
saya juga keliru atau salah mengenai nama Visayan tsb.. Menurut para
sejarawan, besar kemungkinan pula bahwa ibukota Sriwijaya sebagai
suatu imperium maritim berpindah-pindah tempat. Setelah diserang
oleh raja Cola pada kira-kira tahun 1031 tarikh masehi , ibukota
Sriwijaya dipindahkan ke Jambi. dari Palembang. Kemudian berpindah-
pindah lagi ke berbagai tempat di Sumatra, Semenanjung Melayu, dan
mungkin juga ke Filipina.

Dalam abad ke-sembilan,, kerajaan Sriwijaya disebut-sebut dalam
hubungan dengan biara di Nalanda dalam sebuah prasasti Dewapala,
Bengal. Dalam prasasti ini gelar nenek-moyang raja Sriwijaya adalah
Sailendra-vamsatilaka yavabhumipalah .....

Dalam abad ke-sepuluh, prasasti Cola menganggap sebuah candi Buddha
di Negarapatam (dekat Madras) berasal dari raja-raja Sriwijaya
dinasti Sailendra. Tidak lama setelah itu, raja-raja Cola menyerang
Sriwijaya dan merebut tidak lama. Akan tetapi Sriwijaya segera
memperoleh kekuasaannya kembali. Cau Yu-Kua, seorang penulis
Tionghwa
pada abad ke-tigabelas menyebut banyak tempat di
Sumatra, Jazirah Melayu, dst, yang mengakui keunggulan (supremasi)
Sriwijaya.

Limabelas negara yang disebut oleh Cau Yu-Kua sebagai jajahan San-fo-
t'si (Sriwijaya) di antaranya adalah Pahang, Kedah, Kelantan, dan
beberapa tempat di Jazirah Melayu, dan Sunda atau Jawa Barat, dan
anehnya, nama terakhir dalam daftar negara-negara jajahan ini,
adalah Sri Lanka. Tiga ratus tahun sebelum karya Tionghwa ini
ditulis, , Masudi, seorang Arab, menulis dalam buku yang
diterjemahkan judulnya dalam bahasa Inggeris sebagai "Prairies of
Gold," mengenaia Maharaja, yaitu raja pulau Zabag ISriwijaya) Kalah
(Kra), dan Sirandip (Sri Lanka).

Dinasti Sailendra yang kita temukan memerintah kerajaan Sriwijaya
dari abad kedua abad ke-sembilan tarikh masehi, mengakui Buddhisme
Mahayana. Di Jawa Tengah, terdapat sebuah candi Kalasan yang
didirikan sebagai penghormatan untuk Tara. kedewaan Mahayana, yang
dibangun pada tahun 778 tarikh masehi, atas perintah seorang raja
setempat yang merupakan raja pengikut dinasti Sailendra.

eperti disebut oleh prasasti Kalasan, candi tsb berada dalam
kerajaan raja sendiri, kita harus mengambil kesimpulan bahwa Jawa
Tengah diperintah oleh raja-raja Sailendra dalam pertengahan kedua
abad ke-delapan. Raja-raja
ini membangun
dalam ukuran besar candi-candi, seperti Borobudur, dsb.

Barangkali pula dalam abad ke-delapan bahwa armada Sriwijaya
memorakporandakan pantai Annam (Campa) dan menembus sejauh ke dalam
ibukota Kambodia. Sebuah prasasti Campa tahun 787 tarikh masehi,
menyatakan bahwa tentara-tentara Jawa (dieja Java, bukan Yava),
datang dari atas geladak kapal-kapal,membakar tempat suci Sri
Bhadradhipatishwara.

Di sini Jawa berarti Sriwijaya dan bukan Jawa karena Jawa maupun
Sumatra sama-sama dinamakan Jawa oleh orang-orang asing. Kamboja
juga tidak dapat menghindari serangan-serangan ini.

Menarik untuk dicatat bahwa baik sumber-sumber Muslim maupun
Tionghwa menandaskan penguasaan atas Selat-selat Malaka dan Sunda
sebagai dasar dari kejayaan dan kemakmuran Sriwijaya.

sum.
Page 1.5 of 10 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > ## [Sejarah]:" Kerajaan Sriwijaya " ##