Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Kumpulan cerita rakyat indonesia
Total Views: 165039
Page 9 of 16 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›

tridhy - 26/05/2011 10:50 AM
#161

Apik kie go tambah Pengetahuan.

Ijin baca njeh kang

Minibalanar - 30/05/2011 05:24 PM
#162
[Share] Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat


Tujuan Thread ini adalah Share dongen & Cerita Rakyat Nusantara yang kita tau bahwa Indonesia sangat kaya akan Cerita Rakyat.

Saya ucapkan Terima kasih kepada Moderator dvctoz yang sudah mengizinkan Thread ini dibuat di Forum Budaya

Semoga Thread ini bermamfaat bagi para Pembaca

Kritik, saran serta masukan dapat disampaikan via VM/PM

Terima kasih
Minibalanar - 30/05/2011 05:25 PM
#163
Asal Usul Desa Beringin (Cirebon)
Desa Bringin adalah salah satu desa dalam wilayah kecamatan Ciwaringin, kabupaten daerah tingka II Cirebon Luas wilayah desa Bringin 226,478 Ha. Dengan mata pencaharian penduduk mayoritas petani, dan beragama Islam.



Konon, setelah perang kedongdong berakhir, 40 orang Ki Gede yang ikut berperang akan kembali ke tempat asal masing-masing. Dalam perjalanan pulang mereka beristirahat. Mereka bernaung di bawah pohon bringin yang rindang, dan karena kelelahan mereka tertidur dengan lelapnya. Ketika mereka bangun, ada aura tanpa ujud yang mengatakan bahwa orang yang datang ke tempat itu disebut Ki Gede Bringin. Orang yang pertama datang adalah Ki Gede Srangin di kenal dengan sebutan Ki Gede Bringin.



Setelah bangun dari tempat tidur itu, ke empat puluh Ki Gede merasa haus dan ingin minum. Mereka akan mencari air untuk minum namun di cegah oleh Ki Gede Srangin, kemudian ki Gede Serangin menancapkan golok jimatnya yang bernama bandawasa ke tanah. Dari tancapan golok bandawasa, tanah itu keluar air. Mereka minum untuk menghilangkan dahaganya. Tempat keluar air itu akhirnya menjadi sebuah sumur yang disebut “sumur kedokan wungu”

- Kedokan artinya telaga

- Wungu artinya bangunan (tangi – Bhs. Jawa), yaitu para Ki Gede bangun dari tidurnya.



Sumur kedokan wungu terletak di sebelah utara desa bringin yang sekarang, ± 100 meter, di dalam sumur tersebut dulunya terdapat belut putih, ikan gabus pitak, ikan lele yang hanya ada kepalanya dan duri serta ekornya saja (tanpa ada dagingnya), dan kadang-kadang muncul bulus putih yang katanya bulus itu berasal dari Telaga Remis Cikaran.



Ke empat puluh Ki Gede, yaitu Ki Gede Srangin beserta kawan-kawannya pergi ke Kedongdong untuk membuat batas tanah. Batas tanah tersebut akhirnya disebut Rajeg Kedongdong, yang sekarang membatasi wilayah Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu.



Setelah itu Ki Gede Bringin mengubur jimatnya yang bernama golok Bandawasa di Kedongdong, tempat tersebut sekarang disebut Ki Buyut Bandawasa. Kemudian ki Gede Srangin kembali ke tempat Sumur Kedokan Wungu dan disana membangun padukuhan. Padukuhan itu sekarang adalah Desa Bringin.
Minibalanar - 30/05/2011 05:26 PM
#164
Monyet Penghuni Taman Wisata Banjar Bulak Jatibarang (INDRAMAYU)
Indramayu - Taman Wisata Banjar , terletak di Desa Bulak Kidul Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, tepatnya dipinggir Jalan raya Jatibarang - Karangampel. Di tempat ini terdapat kelompok kera yang sangat dikeramatkan. Bahkan jumlah monyet ini tidak pernah kurang atau lebih dari 41 ekor. Tempat ini dijadikan sebagai tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi orang saat Hari Raya Idul Fitri ataupun Idul Adha.





Konon, 41 ekor monyet penghuni Banjar tersebut adalah prajurit yang terkena kutukan. Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, hiduplah seorang patih bernama pangeran Surya Negara. Suatu saat ia mendapat perintah dari Sultan Cakra Buana untuk melihat dan sekaligus mengatasi musibah banjir di kawasan Kali Longga Trisna. Ditemani oleh prajurit dari kerajaan Gunung Jati, Pangeran Surya Negara pun berangkat.



Setibanya di Kali Longga Trisna, Surya Negara melihat betapa parahnya wilayah tersebut akibat dari banjir yang melanda kawasan tersebut. Melihat hal tersebut Pangeran Surya Negara memutuskan untuk membuat sebuah bendungan. Namun ternyata jumlah pasukan yang ia bawa tidak sebanding bila dibandingkan dengan pekerjaan pembuatan bendungan besar tersebut. Pangeran Surya Negara pun berinisiatif meminta bantuan pada kerajaan Karang Kendal yang masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Sunan Gunung Jati.



Pihak Karang Kendal pun sepakat mengirimkan bala bantuan ke lokasi pembangunan bendungan di tepi kali Logangga Trisna. Sambil menantikan datangnya bala bantuan, Pangeran Surya Negara bersama pasukannya memulai pekerjaan besarnya terlebih dahulu. Sementara bala bantuan yang ditunggu tidak kunjung datang juga, barulah ketika pekerjaan telah selesai bantuan yang ditunggu-tunggu itu pun datang. Tentu saja Pangeran Surya Negara menjadi sangat kesal. Namun ia masih menahan emosi untuk menghormati kerajaan Karang Kendal. Pasukan bala bantuan yang datang itu tetap diterimanya dengan baik, tetapi saat itu kebetulan waktu Shalat Ashar sudah tiba maka sang Pangeran menitipkan sebuah bungkusan kepada kepala rombongan prajurit dan berpesan agar tidak seorangpun diijinkan membuka bungkusan tersebut.



Namun kepala prajurit kerajaan Kendal dan anak buahnya tidak mengikuti pesan pangeran Surya Negara. Pimpinan rombongan akhirnya tergoda untuk membuka bungkusan yang dititipkan kepadanya. Ternyata isi bungkusan itu adalah buah kurma yang segar. Maka tanpa pikir panjang buah kurma tersebut di makan beramai-ramai. Disaat para prajurit tersebut tengah makan Pangeran Surya Negara datang dengan marah karena mengetahui perintahnya telah dilanggar, sang pangeran pun mengutuk para prajurit seperti menjadi kera, karena tingkah laku mereka mirip seekor kera yang suka mencuri dan tidak perduli.



Pada saat itu juga seluruh prajurit dari kerajaan Karang Kendal itu langsung berubah wujud menjadi monyet yang berjumlah 41 ekor dan kemudian oleh pangeran surya negara diberi nama Ki Buyut Banjar. Itulah asal muasal kisah 41 ekor monyet yang kini dikeramatkan dan menghuni komplek pekuburan Banjar di Desa Bulak Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, Jawa Barat atau yang sekarang dikenal dengan Taman Wisata Banjar.
Minibalanar - 30/05/2011 05:27 PM
#165
Legenda Ikan Kancra di Kaki Gunung Ciremai (2 Bahasa - Indonesia dan Sunda)
Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ”balong” itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara.



Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu.

Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama.



Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung.



Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara. Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna.



Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta. Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam ”ditanami” ikan kancra bodas.



Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia.

Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu:


* Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan.


* Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan.

Bahasa Sunda



Legenda Lauk Kancra di Kaki Gunung Ciremai



Balong Karamat Cigugur pernahna sekitar tilu kilometer ti ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ''balong'' asup ka wilayah Kelurahan Cigugur. Ceuk beja nu nyambuang jeung dipercaya ku masyarakat setempat, samemeh lahir ngaran Cigugur, tempat eta sok disebut Padara.



Ngaranna dicokot tina ngaran hiji tokoh masyarakat, nyaeta Ki Gede Padara, nu boga pangaruh kalintang gede di daerah eta. Ceuk beja Ki Gede Padara lahir samemeh Karajaan Cirebon ngadeg. Ceuk ijiran, tokoh nu jadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir dina abad ka-12 atawa ka-13. Dina waktu eta, sababaraha tokoh nu sajaman jeung manehna geus mimiti bermunculan, di antarana Pangeran Pucuk Umun ti Karajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat ti Karajaan Galuh, jeung Aria Kamuning nu mingpin Karajaan Kuningan. Numutkeun garis keturunan, kaopat tokoh eta masih keneh katalian hubungan babarayaan. Ngan dina hal pamerentahan, kapercayaan, jeung ajaran au diagemna, maranehna teu sarua. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning ngagem paham aliran ajaran agama Hindu. Sedengkeun Ki Gede Padara henteu ngagem salah sahiji ajaran agama.



Dina abad ka-14 di Cirebon lahir hiji paguron anu alirannana jeung nyiarkeun ajaran agama Islam. Tokoh anu ngadegkeunnana nyaeta Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati oge miboga peran anu gede dina enggoning ngembangkeun perguruan Islam di tanah Caruban . minangka kuwu mimiti di Dusun Cigugur nu dijenengkeunnana nyaeta Ki Gede Alang-Alang. Dugi ka pupusna, anjeunna dikurebkeun di Kompleks Masjid Agung.



Dina waktu kolotna, Ki Gede Padara hayang geura ninggalkeun kahirupan fana. anjeunna hayang teuing dina waktuna tilar dunya sawajarna siga manusa umumna. beritana kadangueun ku Aria Kamuning, tuluy anjeunna madep ka Syech Syarif Hidayatullah. Ngadangu laporan siga kitu, Syech Syarif Hidayatullah lajeng lnepangan Ki Gede Padara. Syech Syarif Hidayatullah ngaraos helok ku elmu pangaweruh nu dipigaduh ku Ki Gede Padara. Dina danget eta Padara ngadugikeun deui nu jadi kahoyongna nyaeta supados dina nalika maotna hoyong nu sawajarna siga batur. Syech Syarif Hidayatullah lajeng mundut Ki Gede Padara supados ngucapkeun dua kalimah syahadat, keur saratna. Teu talangke deui Ki Gede Padara tuluy ngucapkeun syahadat.



Kakara oge sakalimat, teu sakara-kara Ki Gede Padara ilang taya dikieuna. Satutasna Ki Gede Padara ngaleungit, Syech Sarif Hidayatullah tuluy rek abdas. Hanjakal, di daerah dina hese pisan neangan cai. Ku kalayan idin Allah SWT, anjeunna ngahadirkan bentar gelap nu dituturkeun ku hujan disertai hujan nu langsung ngabaseuhan bumi. Tina kajadian eta, cai hujan nu ngumpul bleg weh jadi hiji balong. Nya eta balong pisan nu nepi ka ayeuna dianggap karamat ku masarakat dinya, komo saeunggeusna dipelakkan lauk kancra bodas. Oge ka lauk-lauk nu sejen nu aya di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, jeung Pasawahan. Maksudna dikaramatkeun taya lian keur ngalestarikeun tur ngajaga supaya lauk-lauk langka eta henteu punah akibat polah manusa.



Aya sawatara hal nu kawilang aheng ngeunaan lauk-lauk nu aya di balong:


* Jumlahna teu ngurangan atawa nambahan, nandakeun yen lauk-lauk eta tara paraeh atawa aranakan. Komunitas lauk kancra bodas moal manggihan lianti di balong-balong karamat nu aya di Kabupaten Kuningan.


* Kaanehan lianna, laukna siga nu akrab jeung jelema. Lamun keur dibedahkeun, laukna ngadak-ngadak laleungitan. Ceuk beja mah laukna parindah ka balong sejen di Kuningan.
Minibalanar - 30/05/2011 05:54 PM
#166
Legenda Air Mata Sang Pangeran (Cirebon)
Keindahan Situ Ayu Salintang tidak terlepas dari legenda air mata Pangeran Sa-lingsingan yang menangis tak henti-hentinya saat diberi nasihat Pangeran Suta-jaya, kepercayaan Sultan Cirebon. MESKI hari masih pagi dan pandangan masih terhalang kabut, keramaian di persimpangan ruas Jalan Cikahalang sudah mulai ramai. Angkutan perdesaan maupun ojek sudah sibuk melayani masyarakat yang baru pulang dari pasar.



Menyusun ruas Jalan Cikahalang yang merupakan jalan utama menuju objek wisata Talaga Remis, suasana alam perdesaan sudah sangat terasa. Aroma khas kayu terbakar tercium dari asap yang mengepul dari rumah-rumah warga. Selain bentuk arsitektur rumah yang sederhana, keberadaan kolam ikan di depan rumah, menjadi ciri khas rumah warga Desa Kaduela, Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Selain pohon jeruk dan kelapa, beberapa rumah menjadikan pohon manggis mengisi halaman rumah.



Dari persimpangan Jalan Cikahalang dan Jalan Raya Dawuan-Cirebon hingga pintu gerbang Wana Wisata Alam Talaga Remis hanya sekitar tiga kilometer. Jalanan dengan kondisi be-raspal hotmix, hanya di dae-rah kelokan yang berlubang akibat terendam air yang meluap dari parit. Lepas dari gerbang masuk, diketeduhan pohon-pohon sonokeling berusia puluhan tahun meneduhi arena parkir. Dari tempat parkir inilah Talaga Remis dengan airnya yang kebiru-biruan sangat jelas terlihat.



Namun pada musim hujan seperti sekarang ini, pencinta wisata alam lebih banyak mengunjungi talaga lain, yang ada di Wana Wisata Talaga Remis. Karena, ada delapan talaga (telaga atau danau alam) yang terdapat di wana wisata alam ini, yaitu Talaga Leat, Talaga Nilem, Talaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Talaga Leutik, Talaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda.



Di antara delapan telaga tersebut, Situ Ayu Salintang yang paling banyak dikunjungi. Selain tempatnya yang asri serta masih alami, juga lokasinya yang tidak terlalu ramai. Keistimewaan lain dari Situ Ayu Salintang dibandingkan dengan tujuh telaga lainnya adalah berupa ikan yang selalu tidak pernah habis-habisnya meski tidak kenal waktu dipancingmasyarakat sekitar dan wisatawan yang sengaja datang untuk memancing.



Setiap musim hujan, seperti kali ini, Situ Ayu Salintang banyak mendatangkan berkah bagi siapa pun yang mengunjunginya. Bukan hanya berlimpahnya kesegaran udara di kaki Gunung Ciremai dimana Situ Ayu Salintang berlokasi, melainkan ikan nila dengan mudahnya dipancing. "Bila mampu bertahan di udara dingin, bisa membawa pulang tidak kurang dari sepuluh kilo gram ikan nila, tetapi umumnya pe-mancing hanya mampu bertahan tidak sampai lima jam," ujar Umar, salah seorang petugas Wana Wisata Talaga Remis.



Dikatakan Umar, dari delapan telaga yang terdapat di Wana Wisata Talaga Remis, masing-masing memiliki keistimewaan. Semisal Talaga Remis, dinamai demikian karena banyak didapat remis (kerang air tawar), Talaga Nilem dengan ikan nilemnya, Talaga Buruy menjadi tempat bertelurnya katak {buruy), Talaga Deleg berupa telaga kecil penuh bebatuan tempat hidup ikan deleg (gabus).



Keistimewaan lain dari Situ Ayu Salintang selain ikan nila yang hidup di telaga, juga warna airnya yang hitam mengilap karena bebatuan di dasar telaga. Sementara itu, bila musim kemarau, warna air akan sangat bening karena terkena sinar matahari.



Karena kebeningan airnya, di antara delapan telaga yang ada di Wana Wisata Talaga Remis, Situ Ayu Salintang menjadi sumber utama air masyarakat sekitar maupun suplai air PDAM Kota dan Kabupaten Cirebon serta Ma-jalengka.



Dibandingkan dengan telaga lainnya, Situ Ayu Salintang rapat dipagari tanaman hutan. Lokasi telaga yang berada di ketinggian 220 meter di permukaan laut, sedikitnya ada 160 jenis pepohonan, terutama pohon besar dan tinggi. Semisal pohon pinus, sonokeling, malaka, kosambi, pisang hyang, dan lain sebagainya.



Objek wisata Situ Ayu Salintang, bagi wisatawan yang menikmati keindahan alam, menjadi tujuan wajib setiap memasuki musim kemarau. Sementara itu, pada musim hujan seperti sekarang ini, Situ Ayu Salintang banyak dikunjungi wisatawan khusus yang memiliki hobi memancing. "Ya, karena pada musim hujan seperti sekarang ini banyak berlimpah ikan," ujar Umar.



Situ Ayu Salintang merupakan objek wisata perpaduan antara pesona alam pergu-nungan hutan, air telaga yang jernih, bening laksana kaca. Belum lagi dengan udara pergunungan Ciremai yang sejuk menantang untuk berwana wisata menguak misteri hutan dan tempat rekreasi favorit untuk dikunjungi.



Keindahan Situ Ayu Salintang tidak terlepas dari legenda air mata Pangeran Sa-lingsingan yang menangis tak henti-hentinya saat diberi nasehat Pangeran Sutajaya, kepercayaan Sultan Cirebon. Pangeran Salingsingan menangis, karena merasa berdosa telah mengkhianati negerinya dengan melakukan peperangan dengan saudaranya. "Karena diyakini berasal dari air mata pangeran (Salingsingan), air telaga sangat bening sekali, hingga ikan yang berenang pun dengan mudah terlihat," ujar Umar.



Meskipun masuk wilayah Kabupaten Kuningan, Situ Ayu Salintang berjarak sekitar 36 kilometer arah utara dari Kota Kabupaten Kuningan. Sementara itu, dari Kota Cirebon sekitar dua puluh kilometer ke arah selatan dan dari Majalengka hanya sekitar delapan belas kilometer.



Selain lokasinya yang sangat mudah untuk dikunjungi karena ditunjang infrastruktur sangat memadai, juga lokasinya di kawasan perbukitan jauh dari jalan utama Majalengka (via Dawuan)-Cirebon. Sebelum memasuki objek wisata banyak ditemui tempat menginap maupun rumah makan yang menawarkan berbagai makanan khas Kuningan dan Majalengka yang terkenal dengan ikan gurame bakar maupun goreng.



Belakangan ini rumah-rumah makan banyak yang menawarkan ikan gurame dengan bumbu cobek ataupun tabur sambal tomat hijau dengan harga sangat terjangkau. Jadi, selain mengungkap keindahan alam, juga menikmati makanan khas perdesaan di kaki Gunung Ciremai.
Minibalanar - 30/05/2011 05:55 PM
#167
Perempuan dalam Kultur Dermayu
Oleh SUPALI KASIM





Ujung tahun ini seakan-akan menegaskan kembali betapa penting keberadaan perempuan Dermayu. Kiprah politik Ny Anna Sophanah ditahbiskan secara formal sebagai Bupati Indramayu. Pemilu kepala daerah telah dimenanginya. Gugatan di Mahkamah Konstitusi dari para lawannya, yang notabene lelaki, telah dipatahkan. Tanggal 12 Desember 2010 Gubernur Jawa Barat melantiknya. Ia pun menjadi ”mimi” (ibu, bahasa Cerbon-Dermayu) bagi 2 juta warganya.



Perempuan dalam konsep kultur Dermayu memang menempati ruang yang terhormat. Upacara adat mapag sri, sedekah bumi, dan ngarot, yang dianggap berkorelasi dengan sosok perempuan, menempati posisi yang sangat penting. Folklor tentang Nawangwulan menunjukkan sisi penting kiprah seorang perempuan. Komunitas aliran kepercayaan Bumi Segandu (Dayak Losarang) juga mengagungkan perempuan dalam falsafahnya. Legenda Nyi Mas Endang Dharma Ayu malah dianggap sebagai cikal bakal nama Indramayu.



Mimi Bupati Anna Sophanah dengan demikian bukan sesuatu yang mengejutkan. Secara kultural ada sesuatu yang bisa ditarik benang merahnya. Perempuan dianggap menyemaikan dan menyuburkan kehidupan lewat sisi-sisi transendental. Ia berada di balik asal-usul padi, makanan pokok rakyat. Ia menyelinap sebagai tanah, pemberi kesuburan tanaman. Ia menjadi titik penting pusereng urip (pusat kehidupan). Ia juga memberi roh spirit jati diri dan langkah ke depan.



Padi dan kesuburan

Berabad-abad lamanya mitologi Dewi Sri tumbuh subur dalam masyarakat pertanian. Melalui tradisi lisan ataupun cerita ki dalang wayang, Dewi Sri bertalian erat dengan asal-usul padi, sesuatu yang paling dekat di hati masyarakat.



Melalui sang dewilah kehidupan diberi anugerah untuk terus berkelanjutan. Oleh karena itu, tanaman padi harus dijaga dengan tradisi mapag tamba (pengobatan). Diadakan juga mapag sri (menjelang panen). Wujud mulang trima (berterima kasih) diungkapkan melalui sedekah bumi, dengan menyandingkan dua sosok pengantin dari untaian bulir-bulir padi di depan pertunjukan wayang kulit di balaidesa.



Adapun upacara ngarot menegaskan kesuburan secara simbolik. Seusai arak-arakan bibit tanaman padi oleh para gadis desa dan alat-alat pertanian oleh jejaka desa, kesenian yang ditampilkan adalah simbol persilangan yang mengawinkan dua jenis kelamin berbeda. Gadis desa dihibur tari topeng lanang, sedangkan jejaka desa disuguhi tari ronggeng ketuk. Persilangan itu menghasilkan kesuburan tanah. Sementara kesuburan menumbuhkan kehidupan adalah peran perempuan.



Sosok bidadari Nawangwulan hidup dalam pemahaman masyarakat Indramayu, terutama di Desa Penganjang, yang konon berasal dari kata anjang-anjang. Bidadari tersebut seakan-akan mengajarkan bagaimana seorang istri harus berkiprah. Bagaimana mengolah padi menjadi gabah dan beras, lalu memasaknya menjadi nasi. Bagaimana membuat anjang-anjang (rangkaian kayu atau bambu yang diikat) sebagai tempat menggantungkan ayunan untuk meninabobokan bayi.





Dimuliakan, dihormati

Sosok perempuan demikian diagungkan pada komunitas aliran kepercayaan Bumi Segandu pimpinan Takmad Diningrat. Ibu Ratu atau Dewi Ratu, dalam pemahaman makrokosmos mereka, menempati posisi demikian sen- tral dalam kehidupan. Penghayatan mikrokosmos mereka menunjukkan bahwa ibu, istri, ataupun anak gadis harus dimuliakan, dihormati, dan tidak boleh disakiti. Implementasi lain adalah tanah harus dijaga, diolah, dan dipetik hasilnya secara optimal (vegetarian).



Nama Endang Dharma Ayu, dari legenda yang ditulis dalam beberapa manuskirp Babad Dermayu, konon menjadi nama daerah Darmayu, Dermayu, in-Dermayu, dan Indramayu. Sampai-sampai nama sosok perempuan itu diabadikan menjadi nama gedung olahraga, aula di sebuah universitas, nama perusahaan daerah air minum, nama apotek milik pemerintah, dan lain-lain.



Interpretasi kultural atas perempuan Indramayu memang bisa dideskripsikan dengan masif. Pengarusutamaan bisa berpusat pada revitalisasi sosok perempuan melalui pencitraan dewi, ratu, bidadari, endang, ataupun bumi. Kini, dalam jagat nyata kehidupan, sosok Mimi Bupati Anna Sophanah tentu saja tidak hanya berproses dalam pencit- raan secara kultural. Ada sisi-sisi lain yang juga penting menyangkut banyak hal, terutama bagaimana posisi seorang bupati, rakyat, dan daerahnya.



Secara politis, naiknya Anna Sophanah tak bisa dimungkiri terutama karena satu hal, yakni di belakangnya ada sang suami, bupati saat itu, Irianto MS Syafiuddin alias Yance. Jadilah ia seperti petahana. Ketika melangkah pun kini bayang-bayang itu tampaknya sulit lepas. Kultur masyarakat Indramayu, yang dilihat dari sisi indeks pembangunan manusia berada di urutan buncit se-Jawa Barat, dengan mudah diarahkan pada sosok petahana.



Pada situasi inilah Anna Sophanah naik. Kini, setelah menduduki kursi bupati, secara sosiokultural tentu saja ia bukan hanya perempuan yang diangankan legenda dan mitologi. Ia adalah pemimpin rakyat, bupati de facto dan de jure.

Kekhawatiran orang-orang akan mantan bupati yang bisa jadi mengalami post power syndrome, selalu memberi bayang-bayang, dan membuatnya hanya bupati de jure bisa dilihat dari langkah-langkahnya selama lima tahun ke depan. Begitu pula kekhawatiran akan terjadinya patriarki hingga dinasti (monarki). Hal ini seharusnya bisa menjadi energi yang melontarkannya melesat dalam program, kebijakan, dan pembangunan yang prorakyat.



Modal awal dari kultur Indramayu yang menempatkan posisi perempuan demikian agung mungkin menjadi pintu gerbangnya. Proses mengolah kultur inilah yang bisa dijadikan energi besar. Jika tidak, tuntutan kultur yang tinggi ini justru akan menjadi beban sejarah dan politik.



SUPALI KASIM, Mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu
Minibalanar - 30/05/2011 05:56 PM
#168
Tradisi Sedekah Bumi Cirebon
Oleh Mulyanto SWA *



Masyarakat pantai utara Cirebon, yang terkenal dengan udang dan petisnya, bermata pencaharian utama bertani dan melaut sejak zaman dulu sudah berkembang. Dalam usaha bertani dan melaut pada zaman sebelum Islam, mereka terikat keparcayaan agama nenek moyang. Pada masa itu masyarakat percaya kepada dewa penguasa bumi, dewa penguasa laut, dan sebagainya. Mereka menganggap para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.



Ketika Islam masuk, tradisi itu sangat mendapatkan perhatian. Kepercayaan akan dewa-dewa digantikan dengan iman kepada Tuhan. Menurut Islam, hanya Allah yang patut disembah. Sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali caranya, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan keparcayaan itulah terbentuk upacara baru, sedekah bumi. Upacara baru ini pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Kanjeng Susuhan Syekh Syarif Hidayatullah (1482–1568 M), tempatnya di Puser Bumi.



Puser Bumi adalah sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Sanga. Mengenai kedudukan Puser Bumi, ada penjelasan bahwa setelah Sunan Ampel wafat pada 1478 M, dipindahkan dari Ampel (Jawa Timur) ke Cirebon yang letaknya di Gunung Sembung—sekarang disebut Astana Gunung Jati.



De nika susuhan jati, hana ta sira maka purohitaning sakwehnya Dang Accaryagameslam rat jawa kulwam, mwang para wali ing jawa dwipa, muwah ta sira susuhan jati rajarsi. Susuhan jati adalah pimpinan para guru agama islam di Jawa Barat dan pimpinan para wali di Pulau Jawa, beliau adalah raja resi (PNK oleh P. Wangsakerta 1677 M sarga IV halaman 2). Upacara adat sedekah bumi dilaksanakan pada cawu ke 4 (bulan oktober) setiap tahunnya.



Tradisi ini dilaksanakan hampir di seluruh desa-desa di Cirebon, misalnya yang masih kuat melaksanakan tradisi ini adalah Desa Astana Gunung Jati yang termasuk kedalam kecamatan Gunung Jati sekarang. Sebagai pelaksananya adalah Ki Penghulu serta Ki Jeneng Astana Gunung Jati berikut para kraman. Pelaksana adat juga didukung oleh para pemuka masyarakat dan tokoh agama di desa-desa yang berkaitan dengan Keraton Cirebon, mereka disebut Prenata. Pelaksanaannya dimulai dengan Buka Balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keraton di beberapa daerah (masih ada di desa Pegagan) oleh Ki Penghulu bersama Ki Jeneng atas restu Sinuhun. Selanjutnya Ki Penghulu bersama Ki Jeneng Ngaturi Pasamon (mengadakan pertemuan) para Prenata dan para pemuka adat lainnya, dalam Pasamon ditetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi.



Maka sejak ditetapkannya hari pelaksanaan itu, disebarkanlah secara getok tular kepada seluruh penduduk bahwa akan diadakan Sedekah Bumi, melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “Gelondong Pengareng-areng”. Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.







Kaitannya dengan upacara Sedekah Bumi



Pelaksanaan yang merupakan tradisi masyarakat Cirebon ini sebenarnya merupakan Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran islam yang mengilhami pelaksanaanya. Termasuk dalam pakaian yang digunakannya, kuwu (kepala desa) menggunakan Iket (blangkon), baju takwa lurik dasar kuning, kain panjang, sumping kembang melati, memegang Teken (Tongkat paling tinggi ± 60 cm). Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.



Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di Alun-alun Gunung Sembung, misalnya kesenian rentena, reog, genjring, terbang, brahi, berokan, barongan, angklung bungko, wayang, bahkan sekarang ini ado pertunjukan tarling modern organ tunggal. Dalam pertunjukan wayang kulit lakon yang dibawakan dalam acara sedekah Bumi ini adalah Bhumi Loka, kemudian pada dipagi harinya diadakan ruwatan.



Dalam lakon Bhumi Loka diceritakan tentang dendam Arjuna atas kematian ayahnya yaitu prabhu Nirwata Kwaca. Terjadilah peperangan dengan putra Pandawa yang dipimpin Gatotkaca. Prabu Kresna dan Semar mengetahui putra Gatotkaca mendapat kesulitan untuk dapat mengalahkan mereka, bahwa para putra manik Iman-imantaka tidak dapat mati selama menyentuh bumi. Maka semar menasehatkan agar dibuatkan Anjang-anjang di angkasa, dan menyimpan mereka yang telah mati agar tidak dapat menenyentuh bumi. Prabu Kresna memerintahkan Gatotkaca untuk membuat Anjang-anjang tersebut di angkasa dan menyerang mereka dengan ajian Bramusti. Mereka semua akhirnya terbunuh oleh Gatotkaca , diatas Anjang-anjang yang telah dipersiapkannya. Bhumi Loka mati terbunuh kemudian menjadi Gludug lor dan Gludug kidul. Lokawati terbunuh menjadi Udan Grantang. Loka Kusuma terbunuh menjadi Kilap, loka sengara mati terbunuh menjadi Gledeg dan Lokaditya mati terbunuh menjadi Gelura. Habislah para putra Manik Imantaka terbunuh oleh Gatotkaca dan kematian mereka menjadi penyebab datangnya musim penghujan.
Minibalanar - 30/05/2011 05:56 PM
#169

^ sambungan

Dari mitos cerita di ataslah maka Sedekah Bumi dijadikan oleh kepercayaan masyarakat untuk menyambut datangnya musim penghujan.



Namun dasawarsa terakhir ini nampaknya makna dari Sedekah Bumi sudah bergeser dari makna awal. Selain menjadi upacara Ceremony rutinitas biasa sekarang Sedekah Bumi menjadi daya tarik pariwisata oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang setiap diadakaanya Sedekah Bumi, yang maksud dan tujuannya pun berbeda pula. Namun, paling tidak tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Menurut Plato tata masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang tidak mengalami perubahan terhadap pengaruh luar yang bisa merubahnya. Plato lebih mendambahkan konservasi dari pada perubahan.





Tradisi membentuk kehidupan yang ideal



Tradisi dan budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam membangun kehidupan yang ideal. Seperti halnya dengan ilmu dan agama. Ilmu dan Budaya juga berproses dari belahan otak manusia. Ilmu berkembang dari otak kiri yang berfungsi membangun kemampuan berpikir ilmiah, kritis, dan teknologi. Seperti halnya dengan tradisi, termasuk kedalam salah satu kebudayaan daerah yang harus kita lestarikan. Oleh karena, salah satu upaya yang bisa dikembangkan pemerintah dalam mengatasi persoalan ini adalah dengan menjadikan sejarah dan budaya sebagai muatan lokal dalam kurikulum, mulai dari tingkat SD, SMP, bahkan sampai ketingkat SMA. Harapannya adalah agar tidak membiarkan dinamika kebudayaan itu berlangsung tanpa arah, bisa jadi akan ditandai munculnya budaya-sandingan (Sub Culture) atau bahkan budaya tandingan (Counter-Culture) yang tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan, sebab dengan terbengakalainya pengembanagan kebudayaan bisa berakibat terjadinya kegersangan dalam proses pengalihannya dari satu generasi kegenarasi bangsa selanjutnya. Selain itu juga tujuan lain dari pelestarian ini paling tidak akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dan unggul tapi juga berjiwa humanis serta merasa memiliki bahwa Cirebon sebagai pusat peradaban sejarah dan budaya Islam ditanah jawa.



Pengenalan terhadap beberapa situs dan benda cagar budaya dikalangan pemuda juga sangat memperihatinkan, padahal Cirebon sangat kaya sekali akan situs dan kebudayaannya seperti, situs keraton, situs makam Sunan Gunung Jati dan beberapa situs yang menjadi petunjuk akan perkembangan Islam di tatar Jawa. Apalagi Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional. Selain itu juga Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.



Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat yang masih menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya seperti kata ini Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah”.



Soekarno menegaskannya dengan istilah: “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Bahkan, seorang Cicero begitu menghargai sejarah dengan menyebutnya sebagai “Historia Vitae Magistra” (Sejarah adalah Guru Kehidupan), sedangkan Castro berteriak dengan lantang di pengadilan: “Historia Me Absolvera !!!” (Sejarah yang akan Membebaskanku!!!).



Haruskah kita menyingkirkan sejarah?, bored with history?, hated social scientific history?….



Penulis adalah Penggiat Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon
Minibalanar - 30/05/2011 05:57 PM
#170
Legenda Gunung Ciremai dan Lingga(r)jati (Cirebon)
Asal Mula Gunung Ciremai dan Lingga(r)jati



1.Gunung Cereme

Gunung besar tempat bermusyawarahnya para wali, kemungkinan nama tersebut hanya kita maklumi bahwa gunung terbesar dan tertinggi di Jawa Barat hingga di beri nama Gunung Cereme, berasal dari kata “Pencereman” yang artinya “Perundingan” / musyawarah para wali. Oleh Belanda Gunung Cereme disebut Gunung Ciremai



2.Linggajati

Kata Linggajati adalah sebuah nama yang lahir karena perjalanan Sunan Gunungjati beserta 8 wali lainnya yang kalau kita Perbmbkan sampai sekarang nama tersebut masih dalam penelitian para ahli sejarah dan arkeologi, nama Linggajati kadang-kadang istilah tersebut juga tidak dihiraukan, seperti oleh seorang sekitar disebut Linggajati namun di dalam naskah perundingan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda tencantum Perundingan Liaggarjati.





Beberapa pendapat dan arti tentang Desa Linggajati, antara lain :

* Pendapat Sunana Kalijaga : disebut LINGGAJATI dengan alasan sebagai tempat linggih (Iingga) Gusti Sunan Gunungjati
* Pendapat Sunan Bonang : Diberi nama Linggarjati mempunyai alasan bahwa sebelum Sunan Gunungjati sampai ke puncak G. Gede beliau Linggar (berangkat) meninggalkan tempat setelah beristirahat dan¬bermusyawarah tanpa mengendarai kendaraan menggunakan ilmu sejati.
* Pendapat Syeh Maulana Magribi : Desa itu diberi nama LINGGARJATI, mempunyai arti tempat penyiaran ilmu sejati.
* Pendapat Sunan Kudus : Disebut LINGAJATI “nalingakeun ilmu sejata” karena justru di tempat itulah mereka bermusyawarah dan menjaga rahasia ilmu sejati jangan sampai diketahui orang banyak.



************

Legenda Gunung Ciremai



Banyak yang mengklaim kalau jalur pendakian gunung Ciremai melalui pos Linggar Jati adalah jalur Walisongo.



Secara singkatnya, konon Walisongo melakukan perjalanan mendaki gunung Ciremai dan di pandu oleh kakeknya Sunan Gunung Jati. Pendakian di mulai dari desa Linggar Jati, dan Pos Ciebunar adalah tempat pertama rombongan Walisongo berkemah.



Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit di banding dengan jalur-jalur lain seperti Palutungan maupun Majalengka. Sampai – sampai kakek Sunan Gunung Jati kelelahan (mungkin karena pengaruh usia) pas di pertengahan gunung.



Kakek Sunan gunung Jati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya,dan memilih beristirahat, dan mempersilahkan rombongan Walisongo untuk meneruskan pendakian dengan di temani oleh empat orang pengawal sang kakek.



Kakek Sunan Gunung Jati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang di kenal dengan sebutan Batu Lingga. Karena saking lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.



Kakek Sunan Gunung Jati sampai lama di tengah gunung Ciremai karena sampai Walisongo sudah turun, Sang Kakek tidak mau ikut turun di karenakan malu. Karenanya ada yang menyebutnya sebagai Satria Kawirangan.



Di bagian atas dari Pos Batu Lingga ada pos Sangga Buana, kalau di perhatikan pohon-pohonnya ada yang unik. Yakni pucuknya meliuk ke arah bawah semua.



Konon, para pengawalnya Sang Kakek yang mestinya menemani Walisango ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian. Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sang Kakek. Dan sebagai penghormatan kepada Sang Kakek, mereka membungkukkan badannya kebawah ke arah sang Kakek beristirahat. Para pengawal ini konon berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk ke bawah.



Sampailah rombongan Walisongo di bawah puncak 1 ciremai bertepatan dengan waktu sholat ashar tiba. Walisongo pun menunaikan sholat jamaah ashar di bawah puncak satu. Usai sholat ashar rombongan Walisongo memutuskan untuk istirahat dan makan bersama.



Namun ketika akan mulai memasak, ternyata semua persediaan laukpauk dan bumbu-bumbunya sudah habis. Cuma ada garam dapur saja yang tersisa. Seadanya yang penting ada yang di makan, walaupun cuma nasi putih campur garam tetap enak dan bisa untuk menambah tenaga baru. Karena hal inilah puncak II Ciremai di namakan sebagai Puncak Pengasinan. Karena cuma makan nasi dengan garam yang asin rasanya.



Perjalanan Walisongo pun di lanjutkan sampai ke puncak 1. Dan untuk menghormati Kakek dari Sunan Gunung Jati, Walisaongo berdoa minta petunjuk kepada Allah bagaimana cara penghormatan untuk orang sudah bersusah payah ikut memandu pendakian ini.



Dengan Izin dan Kuasa Allah SWT, puncak tempat Walisongo berdiri amblas ke dalam sampai kedalaman yang sejajar dengan tempat Kakek Sunan Gunung Jati beristirahat di Batu Lingga.



Karenanya kawah Ciremai memang exotis namun menyeramkan jika di banding dengan dengan kawah-kawah gunung lainnya.



Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui semua kebenaran cerita ini.



Kisah ini pernah diceritakan oleh Mbah Saman, pemilik warung makan dan penginapan di jalur pendakian Linggar Jati. Tepatnya kurang lebih 100 meter setelah Pos pendaftaran.



Satu pesan dari Mbah Saman yang harus diingat


1. Kalau mau mendaki gunung dengan selamat, jangan melakukan pendakian dari belakang gunung.


2. Lakukanlah pendakian dari depan sebagai mana sopan santun kita terhadap orang tua.


3. Bagian depan gunung ialah apabila dilihat gunung itu berbentuk kerucut atau segi tiga.
Minibalanar - 30/05/2011 05:58 PM
#171
Kerajaan dan Keraton yang pernah ada di wilayah Cirebon
Beberapa Kerajaan dan Keraton yang pernah ada di wilayah Cirebon. Beberapa Kerajaan dan Keraton itu antara lain, Kerajaan Indraprahasta, Keraton Carbon Girang, Keraton Singapura, Keraton Japura dan Keadipatian Palimanan di bawah Pemerintahan Keraton Rajagaluh.



1. Kerajaan Indraprahasta

Diperkirakan berdiri tahun 363 – 723 Masehi, lokasi keratonnya meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sekarang). Wilayahnya meliputi Cimandung, Kerandon Cirebon Girang di Kecamatan Cirebon Selatan. Raja pertamanya Resi Santanu dari lembah Sungai Gangga, datang ke pulau Jawa sebagai pelarian setelah kalah perang melawan Dinasti Samudra Gupta dari kerajaan Magada.



Resi Santanu menikahi Dewi Indari putri bungsu Rani Spati Karnawa Warman Dewi, Raja Slakanagara yang ibukota kerajaannya di Rajatapura (Pandeglang sekarang). Wilayah kerajaan Indraprahasta diperkirakan sebelah Barat Cipunegara, sebelah Timur sungai Cipamali, sebelah Utara Laut Jawa, sebelah Selatan tidak ada catatan yang jelas.



Raja-raja yang pernah berkuasa adalah :

1. Prabu Resi Santanu Indraswara Sakala Kreta Buwana, memerintah tahun 363 – 398 M
2. Prabu Resi Jayasatyanegara ( 398 – 421 )
3. Prabu Resi Wiryabanyu, mertua dari Prabu Wisnuwarman ( 421 – 444 )
4. Prabu Wama Dewaji ( 444 – 471 )
5. Prabu Wama Hariwangsa ( 471 – 507 )
6. Prabu Tirta Manggala Dhanna Giriswara ( 507 – 526 )
7. Prabu Asta Dewa ( 526 – 540 )
8. Prabu Senapati Jayanagranagara ( 540 – 546 )
9. Prabu Resi Dharmayasa( 546 – 590 ), masa lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tahun 571 M
10. Prabu Andabuwana, ( 590 – 636) menjelang berakhir masa kekuasaannya Nabi Muhammad SAW. Wafat, sekitar tahun 632 M.
11. Prabu Wisnu Murti ( 636– 661 ), Tentara Islam sudah membebaskan wilayah Palestina, Syiria, Irak, Mesir dan jauh sebelumnya Yaman sudah dalam kekuasaan Islam sejak menjelang wafatnya Nabi Muhammad SAW.
12. Prabu Tunggul Nagara ( 661 – 707 ), pada masa itu ekspedisi-ekspedisi damai Islam sudah sampai di Asia Tenggara khususnya Indonesia dan sampai ke China. TW. Arnold mengidentifikasikan Islam masuk ke Indonesia tahun 674 M.
13. Prabu Resi Padma Hari Wangsa ( 707 – 719 ), pada masanya Kekhalifahan Bani Umayah terus menerus mengirimkan ekspedisi-ekspedisi dagang dan dakwah ke negeri-negeri timur, yakni China dan sekitarnya termasuk ke Indonesia khususnya Sumatera dan Jawa waktu itu juga sudah terkenal.
14. Prabu Wiratara ( 719 – 723 ), pada masa itu kekuasaan Islam dari segi geografis telah menjadi super state dan dari keunggulan militer telah menjadi super power. Lembaga pendidikan telah maju, jauh meninggalkan Eropa dibawah peradaban Romawi dan Yunani.
15. Kerajaan Indraprahasta berakhir pada saat pemerintahan Pabu Wiratara yang dikalahkan Raja Sanjaya Harisdharma dari Kerajaan Mataram di Jawa Tengah.



2. Keraton Carbon Girang

Keraton Carbon Girang berasal dari keraton Wanagiri, setelah runtuhnya Indraprahasta yang didirikan oleh Ki Ghedeng Kasmaya. Perubahan dari Wanagiri menjadi Carbon Girang setelah Ki Ghedeng Kasmaya memiliki anak pertama bernama Ki Ghedeng Carbon girang hasil perkimpoiannya dengan Ratna Kirana Puteri Prabu Gangga Permana.



Keraton Carbon Girang antara lain diperintah oleh :

1. Ratu Dewata yang juga disebut Ki Ghedeng Kasmaya.
2. Ki Ghedeng Carbon Girang

Berakhirnya Keraton Carbon Girang diperkirakan tahun 1445. Kemudian setelah Pangeran Walangsungsang diangkat menjadi Kuwu Carbon II dengan gelar Pangeran Cakrabuwana menggantikan Ki Danusela, tahun 1447, wilayah carbon Girang disatukan dibawah kekuasaan Kuwu Carbon II, pada tahun 1454 diangkat oleh Raja Pajajaran menjadi Tumenggung dengan gelar Sri Mangana.



3. Keraton Singapura

Singapura merupakan sebuah pemerintahan bawahan Galuh yang sejajar dengan Keraton Carbon Girang. Letak Keraton Singapura sekira empat kilometer utara Giri Amparan Jati (makam Sunan Gunung Jati sekarang), batas dan luas tidak jelas, tetapi ada perkiraan sebagai berikut ;

* Sebelah Utara berbatasan dengan Surantaka,
* Sebelah Barat berbatasan dengan Carbon Girang,
* Sebelah Selatan berbatasan dengan Keraton Japura,
* Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa Teluk Cirebon.



Pemimpin yang dikenal antara lain Surawijaya Sakti dan yang terakhir Ki Ghedeng Tapa atau Ki Jumajan Jati. Pada masa pemerintahan Ki Ghedeng Tapa itulah dibangun Mercusuar yang pertama oleh Laksamana Te Ho tahun 1415 Masehi. Mercusuar tersebut menjadi awal kebangkitan kegemilangan Pelabuhan Cirebon. Singapura telah berdiri sebelum Prabu Siliwangi naik tahta pada tahun 1428.



4. Keraton Japura

Japura berasal dari kata ” Gajahpura” berarti gerbang masuk keraton yang berlambang gajah. Keraton Japura adalah ibukota kerajaan Medang Kamulan di sebelah Timur Cirebon, pusat pemerintahan meliputi Desa Japura Kidul, Japura Lor dan Desa Astana Japura di Kecamatan Astana Japura, batas-batasnya meliputi ;

* Sebelah Utara Laut Jawa,
* Sebelah Selatan Desa Cibogo dan Desa Jatipiring,
* Sebelah Barat Desa Mundu Pesisir dan Desa Suci,
* Sebelah Timur Desa Gebang

Pemimpinnya yang terkenal adalah Amuk Marugul Sakti Mandra Guna.



5. Keadipatian Palimanan

Keadipatian Palimanan dibawah pemerintahan Raja Galuh, dipimpin oleh seorang Adipati bernama Arya Kiban. Pusat Keadipatian terletak di Pegunungan Kapur Gunung Kromong Kecamatan Palimanan sekarang, yang lebih dikenal dengan sebutan Banyu Panas, saat itu wilayahnya meliputi Kecamatan Ciwaringin dan Kecamatan Susukan. Masa Keadipatian berlangsung hingga tahun 1528, pada saat pecahnya perang terakhir di Gunung Gundul antara Palimanan melawan Carbon.
Minibalanar - 30/05/2011 05:58 PM
#172
LEGENDA HUTAN IGIR BENDERA (Brebes)
Di Desa Kalinusu, termasuk Kecamatan Bumiayu, ada sebuah hutan yang disebut dengan Hutan Igir Bendera. Tidak jauh dari hutan itu terdapat sebuah dukuh kecil yang hanya berpenduduk dua puluh empat kepala keluarga.





Sebagai sesepuhnya ialah Kebayan Kaki Semprung. Anak-anak disitu semuanya menggembalakan ternak orang tuanya, kerbau atau lembu di sawah ladang yang sudah dipungut hasil tanamannya atau di padang yang banyak rumput hijaunya. Salah seorang diantara mereka ada yang bertabiat agak nakal, dia sering mengganggu maupun mengusik kawan sebayanya.



Pada suatu hari si anak nakal itu merencanakan sesuatu untuk menakut-nakuti teman-temannya. Diam-diam dia pergi menyendiri kemudian memanjat pohon yang sudah tua. Dibeberapa dahannya ditemukan sarang anai-anai ( sumpyuh ). Dipungutnya sumpyuh itu dari dahan pohon sempur yang dipanjatnya dan dibawa turun. Lalu dicarinya ranting-ranting kering yang berserakan di bawah pohon sempur kemudian disusun dan disulutnya sumpyuh tadi dibakarnya, sehingga hangus sama sekali kemudian ditummbuknya di atas permukaan batu yang lebar dan rata, sampai halus seperti debu. Serbuk hitam itu lalu dicoreng-morengkan pada mukanya sendiri, sehingga bagaikan orang hitam, sehingga sulit untuk mengenalinya siapa dia.



Setelah selesai persiapan yang direncanakan lalu keluarlah ia dari dalam hutan sambil berteriak-teriak menantang teman-temannya, Hai anak-anak! Aku adalah syaitan yang menguasai hutan ini. Siapa berani melawan aku, marilah datang kesini, pasti akan kumatikan dan kumakan dagingnya, ayo lekas, majulah.



Anak-anak penggembala itu keheran-heranan semuanya. Mereka dapat mendengarkan suara tantangan dengan jelas, tetapi tidak bisa melihat siapa yang berseru-seru itu. Karenanya larilah mereka tunggang langgang, semuanya pulang ke rumah masing-masing, dan sudah barang tentu sesuatu yang ajaib dan menakutkan itu diceritakan kepada orang tuanya. Seketika itu juga para penghuni dusun keluar ingin menyaksikan apa kiranya yang telah terjadi di hutan itu, namun tiada sesuatu yang aneh. Karena anak yang mengaku sebagai syaitan hutan tadi sebenarnya sudah ikut pulang kerumah bersama-sama teman lainnya tetapi tidak ada seorang anakpun yang mengetahuinya. Setibanya dirunah, anak aneh itu minta makan kepada ibunya, tetapi ibunya sangat heran, karena ia hanya mendengar suara saja, wujud tubuh anaknya tidak bias dilihat, lalu bertanya “ Nak, dimanakah engkau?” si anak menjawab “Aku berdiri dibelakangmu bu”. Ibunya bertambah heran. “ Engkau telah berbuat apa dihutan sana dan mengapa tubuhmu tidak tampak. Tanya ibunya. Si anak mulai memberikan penjelasan tentang apa yang telah dilakukan, katanya “ tadi aku mengoles mukaku dari serbu hitam dari sarang anai-anai yang kubakar sampai hangus. Akibatnya semua teman-teman dan ibu sendiri tidak dapat melihat wujud tubuhku. Aduh, bagaimana bu?

Setelah berpikir sejenak ibunya berkata “ cepatlah pergi ke sumur di belakang dan cucilah mukamu bersih-bersih.

Apa yang diperintahkan oleh ibunya cepat-cepat dan ternyata sesudah bersih mukanya dari orengan hitam tadi, si ibu dapatmelihat tubuh anaknya jelas-jelas. Mengetahui akan kejadian yang ajaib ini mereka berdua ibu beranak pergi ke rumah Kebayan Kaki Semprung untuk melaporkan peristiwa aneh tersebut.

“ Apakah serbuk hitam yang kau ceritakan masih ada sisanya?” Tanya bapak Kebayan. “masih banyak pak”, jawab si anak di atas batu besar di tepi hutan sana.



Mendengar penjelasan itu Kaki Semprung lalu lari cepat-cepat menuju ke hutan di luar dusun. Semua serbuk hitam yang masih tersisa di atas batu di ambilnya dan di bawa pulang. Setibanya di rumah, Kaki Kebayan lalu memukul tabuh bertalu-talu, maka semua penduduk dusun berkumpullah di depan rumah Kaki Kebayan.

Saudara-saudaraku sekalian,”Kebayan mulai berpidato, “ serbuk hitam inilah yamg menjadi penyebab anak ini tidak nampak tubuhnya. Kalu serbuk ini ku taburkan di sekitar dusun kita, maka dusun kita bersama kita semua tidak akan nampak di mata orang. Dengan demikian kita akan menjadi orang bebas merdeka, tidak diperintah oleh orang lain.

Bagaimana? Setuju hal ini kulakukan?” Tanya Kebayan. “ Setuju! Setuju! Setuju!” jawab penduduk semua



Memang betul seperti yang diperkirakan,

dukuh dengan seluruh penduduknya

tidak lagi kelihatan lagi di mata yang lalu lalang di situ.



Dengan persetujuan itu, Kaki Kebayan Semprung menaburkan serbukl hitan tersebut disekitar dusunnya. Memang betul seperti yang diperkirakan, dukuh dengan seluruh penduduknya tidak kelihatan lagi di mata yang lalu lalang di situ. Kaki Kebayan Semprung sendiri berubah menjadi seekor harimau besar.

Dusun yang musnah itu akhirnya disebut Hutan Igir Bendera.
Minibalanar - 30/05/2011 05:59 PM
#173
Yekyek Itel (Yogyakarta)
Beratus tahun yang lalu di daerah Jogjakarta, tinggallah sebuah keluarga di tepi hutan. Keluarga dengan tiga orang anggota ini tergolong miskin. Tempat tinggal mereka hanyalah sebuah rumah kecil yang sudah sangat usang. Mereka masih bersyukur karena rumah itu tidak roboh ketika hujan deras ataupun angin kencang.

Keluarga ini memiliki seorang anak perempuan bernama Yekyek Itel. Nasib malang menimpanya ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkannya. Akibatnya Yekyek Itel harus hidup dengan ayahnya dan ibu tiri yang dinikahi ayahnya ketika ia masih bayi. Sang ibu tiri tidak pernah menyayangi Yekyek Itel. Ia hanya terlihat baik ketika suaminya di rumah. Selebihnya Yekyek Itel seringkali dipukuli bahkan tidak diberi makan.

Walaupun masih kecil, Yekyek Itel diharuskan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga oleh ibu tirinya. Membersihkan rumah, mencuci baju, bahkan mencari kayu bakar merupakan tugasnya sehari hari. Jika salah sedikit saja, caci maki akan terlontar dari mulut ibu tirinya. Yekyek Itel tidak pernah menceritakan hal ini kepada ayahnya. Ibu tirinya mengancam akan menyiksanya jika ia bicara. Herannya, sang ayahpun tidak memperhatikan kondisi anaknya yang terlihat semakin kurus.

Pada suatu pagi, ibu tiri Yekyek Itel melaksanakan niat jahatnya untuk menyingkirkan Yekyek Itel. Begitu suaminya pergi berladang, ia menyuruh Yekyek Itel mencari pare ular ke dalam hutan. Ia berpikir jika anak sekecil Yekyek Itel masuk ke dalam hutan, pastilah habis dimangsa binatang buas. Meski tidak tahu pasti seperti apa bentuk pare ular, Yekyek Itel takut untuk bertanya. Ia menuruti saja perintah ibu tirinya.

Ketika memasuki hutan, Yekyek Itel berjalan perlahan karena banyak sekali semak belukar yang menghalangi langkahnya. Walaupun sudah hati hati, tak pelak tangan, kaki, dan wajahnya penuh luka goresan ketika Yekyek Itel berjalan merunduk sambil mencari cari pare ular. Ia terus saja mencari tapi belum menemukan sesuatu yang menurutnya pare ular seperti yang dimaksud ibu tirinya.

Tiba tiba Yekyek Itel mendengar sebuah suara yang menyapanya. “Sedang apa kau gadis cilik ? apa kau mencari sesuatu ?” Suara itu berasal dari balik pepohonan. Yekyek Itel terkejut, ia segera membalas sapaan itu. “Ya, aku sedang mencari pare ular untuk dimasak ibuku. Aku tidak tahu seperti apa pare ular itu. Yang pasti ibuku menyuruhku membawa pulang pare ular yang paling besar yang kutemui”, kata Yekyek Itel menjelaskan. Ia berharap, pemilik suara itu mau menolongnya menemukan pare ular.

Yekyek Itel menunggu jawaban. Ia melihat semak semak yang tumbuh dibawah pepohonan di depannya mulai bergerak. Yekyek Itel tidak mampu berkata kata ketika melihat seekor ular yang sangat besar muncul dihadapannya. Ular itu memiliki tubuh sebesar batang pohon kelapa yang sangat panjang. “Siapa namamu ?’, tanya sang ular yang bisa bicara itu. Yekyek Itel berusaha tetap tenang. Ia menjawab dengan suara pelan “Namaku Yekyek Itel, aku tinggal di tepi hutan ini”.

Sang ular menatap Yekyek Itel dengan tatapan iba. Dilihatnya wajah Yekyek Itel yang bercucuran keringat dan tubuh kurusnya yang kelelahan. “Akulah pare ular yang paling besar di hutan ini”, kata sang ular. “Bawalah aku pulang untuk dimasak ibumu”, lanjutnya lagi sambil lidahnya mengeluarkan suara berdesis. Yekyek Itel gembira sekaligus bingung mendengar jawaban sang ular. Ia gembira karena telah menemukan pare ular paling besar seperti yang diperintahkan ibunya, tapi Yekyek Itel bingung bagaimana membawa pulang ular sebesar itu.

“Kau tidak usah bingung”, tegur sang ular yang dapat membaca pikiran Yekyek Itel. “Kau tidak perlu menggendongku. Aku tidak akan kabur. Percayalah, kita berjalan saja beriringan menuju rumahmu”, lanjut sang ular sambil mulai bergerak mengarah keluar hutan. Yekyek Itel berjalan disamping sang ular. Ia berharap semoga sang ular menepati janji.

Yekyek Itel berjalan beriringan dengan sang ular menuju ke rumahnya. Hari sudah siang ketika Yekyek Itel menyadari ia belum makan dan minum hari itu. Tubuhnya terasa lemas. Ketika tiba di depan sebuah ladang mentimun, sang ular menyarankan Yekyek Itel agar ia berhenti sejenak sambil makan sebuah mentimun. Yekyek Itel setuju. Ia segera memetik sebuah mentimun dan mulai memakannya. Rasa hausnya seketika hilang.

Yekyek Itel teringat akan ibu tirinya. Khawatir terlambat pulang, Yekyek Itel mengajak sang ular untuk meneruskan perjalanan ke rumahnya. Sang ular mengusulkan agar Yekyel Itel naik saja di punggungnya. Ia tak tega jika gadis cilik itu harus berjalan lagi menuju rumahnya yang masih cukup jauh. Yekyek Itel menaiki punggung sang ular tanpa ragu. Hati kecilnya mengatakan ular itu sungguh baik kepadanya.

Ketika Yekyek Itel dan sang ular mulai memasuki desa, banyak penduduk yang terkesima melihatnya. Para penduduk yang berpapasan dengan mereka kagum sekaligus ngeri melihat Yekyek Itel menaiki punggung seekor ular raksasa tanpa rasa takut. Mereka juga bingung bagaimana ceritanya sampai Yekyek Itel menemukan ular raksasa yang sekarang sedang merayap menuju ke rumahnya itu.

Ibu tiri Yekyek Itel yang sedang berada di halaman sangat terkejut melihat Yekyek Itel pulang dengan menaiki punggung seekor ular raksasa. Keinginannya agar Yekyek Itel tewas dimakan binatang buas di dalam hutan rupanya tak kesampaian. Bahkan kini, anak itu pulang membawa seekor ular raksasa. Tanpa berpikir panjang ia segera lari masuk ke dalam rumah dan mengambil sebuah parang.

Begitu sang ular dan Yekyek Itel tiba di halaman rumah, Yekyek Itel terkejut melihat kedatangan ibu tirinya yang mengacungkan parang ke arah sang ular. Yekyek Itel segera turun dari punggung sang ular dan berlari menghampiri ibu tirinya. “Ini temanku Bu, ia ular yang baik, aku mohon ibu jangan membunuhnya”, ujar Yekyek Itel sambil berusaha memegang baju ibu tirinya agar tak beranjak menghampiri sang ular.

Ibu tiri Yekyek Itel tak menggubris permintaan Yekyek Itel. Ia berlari sambil mengacungkan parang guna menebas leher sang ular. Sang Ular sangat gesit. Dalam sekejap ia langsung menghindar dan menelan ibu tiri Yekyel Itel hidup hidup. Suaminya yang baru pulang dari ladang sangat panik melihat kejadian itu. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyerang sang ular dengan belati yang dibawanya. Nasib naas juga menimpanya. Alih alih membunuh sang ular, justru dirinyalah yang ditelan hidup hidup oleh sang ular.

Yekyek Itel terdiam di tempatnya menyaksikan kejadian itu. Orang tuanya kini telah tiada. Ada rasa sedih melingkupi hatinya ketika menyadari hal itu. Biar bagaimanapun, kedua orang yang ditelan sang ular adalah keluarganya di bumi ini. Ia tak memiliki sanak keluarga lainnya.

Ketika Yekyek Itel hendak beranjak masuk ke dalam rumah, ia mendengar sang ular berkata. “ikutlah denganku Yekyek Itel. Kau sudah cukup menderita selama ini. Aku akan memberimu kebahagiaan’, kata sang ular perlahan. Melihat kesungguhan sang ular, Yekyek Itel menuruti permintaannya. Ia mengikuti sang ular kembali ke hutan. Yekyek Itel berpikir ia pasti akan mengalami kesusahan jika hidup sendiri di rumahnya yang reot.

Hari berganti hari, waktu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa telah bertahun tahun Yekyek Itel hidup di hutan bersama sang ular. Kini Yekyek Itel telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Pada suatu hari , Yekyek Itel merasa sang ular menghilang. Ia tidak bertemu sang ular dari bangun tidur sampai hari menjelang sore. Ketika kebingungan mulai melandanya, tiba tiba ia dikejutkan oleh seorang pemuda tampan yang berdiri di hadapannya.

“Siapa kau ?’, tanya Yekyek Itel heran. “Darimana asalmu ? Kenapa kau tiba tiba ada dihadapnku ?”, tanyanya lagi. Yekyek Itel menatap pemuda tampan itu dengan seksama. Penampilannya seperti seorang pangeran. “Akulah sang ular yang bersamamu selama ini Yekyek Itel”, jawab sang pemuda perlahan sambil memandang Yekyek Itel. “Seorang penyihir yang merupakan musuh ayahku telah menyihirku menjadi seekor ular. Setelah bertahun tahun, akhirnya pengaruh sihir itu hilang. Sekarang aku telah kembali ke wujud asalku”, tambahnya lagi berusaha meyakinkan Yekyek Itel.

Semula Yekyek Itel ragu akan penjelasan pemuda itu. Keraguannya mulai hilang ketika sang pemuda menceritakan kembali saat pertama mereka bertemu ketika Yekyek Itel mencari pare ular di hutan. Ia juga bercerita bahwa dirinya telah menelan ayah dan ibu tiri Yekyek Itel ketika masih berwujud seekor ular raksasa. Ceritanya yang lengkap akhirnya membuat Yekyek Itel percaya pada pemuda itu.

Keesokan harinya, sang pemuda mengajak Yekyek Itel untuk menemui keluarganya. Yekyek Itel sama sekali tak menyangka bahwa sang pemuda adalah seorang pangeran. Raja dan Ratu yang tak menyangka sang pangeran akan kembali begitu bahagia bertemu lagi dengan putra mereka. Raja dan Ratu juga sangat berterima kasih pada Yekyek Itel yang bersedia menemani putranya di tengah hutan walaupun berwujud seekor ular. Mereka setuju ketika sang pangeran mengutarakan niatnya untuk menikahi Yekyek Itel.

Pesta besar segera digelar. Seluruh penduduk negeri diundang. Semua sangat gembira menyaksikan pangeran telah kembali dan memperoleh seorang istri yang cantik.

Yekyek Itel hidup bahagia dengan sang pangeran. Ketika raja mangkat, sang pangeran naik tahta menggantikan sang raja. Yekyek Itel kini menjadi seorang permaisuri. Lengkaplah sudah kebahagiaan yang dirasakan Yekyek Itel sampai akhir hayatnya.
Minibalanar - 30/05/2011 06:00 PM
#174
SEJARAH BREBES (bahasa Indonesia dan bahasa jawa Brebes)
Beberapa cerita rakyat tentang muncul/lahirnya beberapa nama desa-desa tertentu didalam wilayah Kabupaten Brebes memang ada. Misalnya nama desa Padasugih, Wangandalem, Gandasuli, Pasarbatang, Kersana, Ketanggungan dan sebagainya.



Namun itu semua hanya terlontar dari mulut ke mulut turun temurun. Tidak ada data pendukungnya untuk dijadikan bahan dalam penulisan sejarah lokal.Kalau saat ini sudah ada beberapa orang yang menyempatkan diri merekam cerita-cerita rakyat tersebut didalam bentuk tulisan, alhasil hanyalah merupakan rekaman belaka, yang tetapbelum menyandang bobot sebagai data penulisan sejarah.



Sebuah kisah menarik mengenai lahirnya kota Brebes justru kita jumpai dalam Serat Kanda edisi Brandes.



Menurut kisah ini, setelah kerajaan Majapahit berdiri dan Raden Susuruh dinobatkan menjadi raja dari kerajaan yang baru itu dengan nama Brawijaya yang terjadi tahun 1221 Saka (tahun 1299 Masehi) dengan candra sangkala Sela-Mungal-Katon-Tunggal, sri baginda raja Brawijaya juga mengangkat Wirun menjadi pepatih dengan nama julukan Adipati Wirun, Nambi menjadi Tumenggung, sedang Reksapura menjadi Wedana jero. Raja Brawijaya mengambil isterinya yang masih tertinggal di Galuh dan membantu saudaranya, Arya Bangah, dalam peperangannya melawan Ciyung Wanara. Namun dalam peperangan itu Arya Bangah terkalahkan, hinga melarikan diri ke Lebaksiu. Negeri Galuh terbakar, Arya Bangah diusir sampai Tugu, dimana pasukan-pasukan Majapahit telah datang untuk memberikan bantuan kepadanya. Arya Bangah mengirimkan orang-orang Timur mengeluarkan sepenuh keberanian mereka.



Selanjutnya mereka bergerak (baca: terdesak) kembali dari sebelah barat menuju arah lebih ke timur. Di dekat sungai yang oleh karena peristiwa itu diserbu Pemali, mereka berperang lagi. Tempat medan peperangan itu mendapat nama Brebes.



Ciyung Wanara mengundurkan diri ke negerinya. Arya Bangah pergi ke Majapahit, meninggalkan pasukan-pasukan yang berada dibawah pimpinan Reksapura. Raja Brawijaya mengangkatnya menjadi wedana (bupati) dengan tempat kedudukan di Tuban. Kumara kawin dengan anak perempuan Arya Bangah, Citrawati. Atas nasihat Arya Bangah sendiri, Dandang Wiring dan anak Wirun, Wahas. Atas nasihat anjuran Dandang Wiring, Kumara merebut tiga buah negeri jajahan Pajajaran. Setelah itu bergabung Reksapura, pergi sampai Sumedang. Dari tempat itu mereka pergi ke Galuh, Dandang Wiring menundukkan Dermayu (Indramayu). Wahas menundukkan Banyumas, Magelang, Prabalingga (Purbalingga) dan Caracap (Cilacap). Negeri Sokapura berhasil pula dikalahkan. Kumara berhasil merebut Bandung dan Sumedang. Ciyung Wanara menyerah. Ia memerdekakan Dipati Jayasudarga, mertua raja Brawijaya, dan mengirimkan utusan kepada Kumara. Sesuai dengan permintaannya, Ciyung Wanara diantarkan ke Majapahit. Demikian kerajaan Pajajaran akhirnya telah jatuh pada tahun 1223 Saka (1301 Masehi) dengan candra sengkala Guna-Kalih-Tinggal-Kaji, Ciyung Wanara selanjutnya diangkat menjadi Bupati Agung diseluruh kawasan Jawa Barat sampai ke sungai Pemali.



Dalam karya keagungannya The History of Jawa jilid II ,Raffles juga menyajikan sebuah kisah dengan inti pokok yang sama namun dengan sejumlah perbedaan.



Kisah tersebut tidak menyinggung ikhwal lahirnya daerah Brebes. Dari segi telaah sejarah, inti pokok kisah itu sendiri memang tidak benar. Seperti telah dikemukakan Prof. Hosein Djajadiningrat dalam Sastrakantanya, kerajaan Majapahit berdiri mulai dari kwartal ketiga abad ke XIII sampai lebih kurang tahun 1518 sedang kerajaan Pajajaran mulai dari tahun 1433/1434 sampai ada kemungkinan tahun 1579. Dengan demikian, sungguh tidak mungkin jika dikatakan bahwa kerajaan Majapahit merupakan hasil pemisahan kerajaan Pajajaran. Sekalipun demikian, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan, bahwa Brebes telah lahir pada jaman Hindu.



Dugaan ini bisa kita kemukakan berdasarkan kenyataan, bahwa di daerah Kabupaten Brebes banyak terjumpai barang-barang peninggalan dari jaman Hindu. Barang-barang tersebut ditemukan diberbagai kawasan di antaranya dikawasan Kawedanan Brebes. Dari kawasan ini pernah dijumpai sejumlah barang kuna yakni empat buah genta dari desa Slarang dan sebuah cincin emas dari desa Karangmangu. Cincin emas ini mempunyai pelat (permukaan rata) materai berbentuk bundar dihiasi dengan garis-garis lengkung yang nampaknya merupakan dua ekor ular dengan dua buah kepala. Cincin ini, yang ditemukan di dalam tanah, sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta.





********************



Terjemahan dalam Bahasa Brebes

dijukut & dialihbasakna sing situs Pemda Kabupaten Brebes dening Usman Didi Khamdani



Memang ana cerita- cerita sing nyeritakna anane aran-aran desa tertentu ning sajerone wilayah Kabupaten Brebes. Misale cerita soal desa Padasugih, Wangandalem, Gandasuli, Pasarbatang, Kersana, Ketanggungan lan liya-liyane.



Tapi kuwe kabeh mung cerita-cerita dopokan. Laka data sing bisa go didadikna bahan go penulisan sejarah lokal. Yen saiki ana wong-wong sing kaur nyalin cerita-cerita rakyat kuwe ning bentuk tulisan, hasile ya mung salinan thok, sing tetep ora bisa didadikna go data penulisan sejarah. Salah siji cerita apik soal laire kota Brebes justru ana ning Serat Kanda edisi Brandes. Jare cerita kiye, sawise Kerajan Majapahit ngadeg lan Raden Susuruh dinobatna dadi raja ning kerajaan anyar kuwe nganggo aran Brawijaya sing kedadiyane ning taun 1221 Saka nganggo candra sengkala Sela-Mungal-Katon-Tunggal (atawa tahun 1299 Masehi), raja Brawijaya terus ngangkat Wirun dadi pepatih nganggo aran juluk Adipati Wirun, Nambi dadi tumenggung lan Reksapura dadi wedana jero. ImageRaja Brawijaya teruse njukut bojo sing mesih ana ning Galuh lan mbantu sedulure, Arya Bangah, ning perange nglawan Ciyung Wanara. Tapi ning perang kuwe Arya Bangah kalah, terus mlayu ning Lebaksiu.



Negara Galuh kebakar, Arya Bangah dusir sampe Tugu, sing ning kono pasukan Majapahit wis teka go nein bantuan. Arya Bangah ngerahna wong-wong Wetan. Sing akhire balik maning (waca: terdesak) sing kulon maring wetan. Ning pereke kali sing lantarane peristiwa kuwe darani kali Pemali, pada perangan maning. Tempat perang kuwe darani Brebes. Ciyung Wanara balik ning negarane. Arya Bangah lunga ning Majapahit, ninggalna pasukan goning pimpinane Reksapura. Raja Brawijaya terus ngangkat dheweke dadi wedana (bupati) sing ditempatna ning Tuban. Anak wadone Arya Bangah, Citrawati, kawin karo Kumara. […] Kumara ngrebut telung negara jajahane Pajajaran. Sawise kuwe gabung karo Reksapura, lunga ning Sumedang. Sing kono mereka lunga ning Galuh. Dandang Wiring naklukna Dermayu (Indramayu). Wahas (anake Wirun), naklukna Banyumas, Magelang, Prabalingga (Purbalingga) karo Caracap (Cilacap). Negara Sokapura ya bisa ditaklukna. Kumara bisa ngrebut Bandung karo Sumedang. Ciyung Wanara nyerah.



Dheweke merdekakna Dipati Jayasudarga, mertuane Raja Brawijaya, lan ngirimna utusan maring Kumara. Nuruti jejalukane, Ciyung Wanara danterna ning Majapahit. Kuwe sing akhire kerajaan Pajajaran bubar taun 1223 Saka nggo candra sengkala Guna-Kalih-Tinggal-Kaji. Teruse Ciyung Wanara dangkat dadi bupati agung go wilayah Jawa Barat anjoge kali Pemali. Ning karyane, The History of Java (1817), Raffles ya nyritakna siji cerita sejen sing inti pokoke pada. Ning cerita kuwe ora disinggung soal kedadiyane daerah Brebes. Dening kajian sejarah, inti pokok cerita kuwe dhewek memang bener. Sing kaya wis dajukna Prof. Hosein Djajadiningrat ning Sastrakantanya, Kerajaan Majapahit ngadeg mulai kwartal ketelu abad XIII sampe kurang luwih taun 1518 sementara kerajaan Pajajaran mulai taun 1433/1434 sampe kemungkinan taun 1579. Sing dadine, ya ora mungkin dong darani yen Kerajaan Majapahit kuwe hasil pemisahan sing Kerajaan Pajajaran. Tapi kaya kuwe, ora bisa diabaekna soal kemungkinan yen Brebes wis ana sajege jaman Hindu. Dugaan kiye bisa dajukna lantaran kenyataan, yen ning daerah Kabupaten Brebes akeh ditemoni barang-barang tinggalan sing jaman Hindu. Barang-barang kuwe ditemukna ning pirang-pirang kawasan antarane kawasan Kawedanan Brebes. Ning kawasan kene pernah ditemokna barang-barang kuna ya kuwe patang iji gong sing Desa Slarang karo siji ali-ali emas sing Desa Karangmangu. Ali-ali kiye duwe plat meterei bentuke bunder hiasane garis-garis mlengkung sing katone kaya ula loro endase loro. Ali-ali kiye, sing ditemokna ning jerone lemah, saiki disimpen ning Museum Nasional Jakarta.
Minibalanar - 30/05/2011 06:00 PM
#175
Legenda Kandanghaur (Indramayu)
Legenda Kandanghaur merupakan sejarah misteri, sangat jarang yang mengetahui keberadaan tempat yang mengandung nama besar itu. Calon sebutan untuk Kabupaten, pernah menjadi nama tempat para Wedana bergantian membantu Bupati dan sampai sekarang menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu.



Kandanghaur adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, Indonesia yang terdiri dari 13 desa, yaitu Bulak,Curug, Eretan Kulon, Eretan wetan, Ilir, Karanganyar, Karangulya, Kertawinangun, Parean Girang, Pranti, Soge, Wirakanan, dan Wirapanjunan.



Batas-batas yang mengelilingi Kecamatan Kandanghaur adalah sebagai berikut :

* Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa
* Sebelah Timur Berbatasan dengan Kecamatan Losarang
* Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Gabus wetan dan Bongas
* Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Patrol.



Kandanghaur



Alkisah, hampir di ujung selatan Indramayu terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik. Di sekelilingnya ditanami bambu (Sunda : haur) ori yang sangat lebat yang menutup rapat lokasi itu, meng-kandang-nya dari dunia luar dengan duri tajamnya. Hanya melalui satu pintu gerbang yang dijaga ketat para penghuni yang terdiri dari para jawara, orang boleh berlalu lalang. Tamu tak diundang sangat dipantang, seorang ksatria pun akan lenyap ditelan bumi bila kedatangannya tidak dikehendaki.



Kehebatan mereka yang diiringi sifat isolasi bukan hanya membuat iri penduduk sekitarnya tetapi juga juga berulangkali merepotkan para prajurit kulit putih yang selalu bertindak “Atas Nama Ratu” untuk menguasai negeri ini. Berbagai tindakan, mulai jalan damai sampai penyerangan selalu membuahkan kekecewaan. Kandanghaur tidak pernah dapat ditembus sama sekali apalagi tertaklukan. Mereka harus mengakui bahwa kekuatan onak dan duri jauh lebih hebat daripada benteng-benteng beton yang pernah mereka buat.



Sadar bahwa upaya yang dilakukan selalu menemui kegagalan, Belanda memutar otak. Tidak lagi melalui perang senjata ataupun kata-kata tetapi berubah gaya seakan menjadi Santa Claus. Mereka membagi-bagikan kepingan uang emas kepada anak-anak Kandanghaur yang sedang main di luar pagar. Kilau gulden yang semula ditampik para jawara menjadi benda menarik bagi anak-anaknya.



Hal ini terus berlangsung sampai mereka tumbuh dewasa, ketika para orangtua sebagian telah menyerahkan tongkat kekuatan kepada penerusnya. Saat itu mereka sadar bahwa emas bukan sekedar mainan belaka tetapi menjadi sarana untuk mencapai segala yang diinginkan. Tanpa sadar, ketergantungan terhadap uang mulai merasuk dalam jiwa.



Mengetahui hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun mulai menampakkan hasil, prajurit Belanda merancang strategi lanjutan. Gulden bukan lagi dibagi-bagikan dari tangan ke tangan tetapi di-sawer-kan, dilempar jauh menembus onak dan duri pagar bambu. Koin-koin emas berselipan diantara batang bambu yang sangat sulit ditembus manusia.



Wong Londo memang cerdas. Keinginan memiliki gulden membuat penghuni kampung ber-kandang haur ini nekad, dengan menggunakan golok, parang dan wadung. Bambu ori satu-persatu dibereskan. Dilumatkan dengan tanah sampai akhirnya mereka mendapatkan uang emas yang diharapkan. Perkampungan itu lambat laun tidak lagi dikurung bambu, menjadi terbuka dengan dunia luar seperti halnya para penghuni kampung tetangganya.



Pucuk dicinta, ulam tiba, di saat itulah Belanda melampiaskan dendam kesumatnya. Jawara Kandanghaur tidak lagi punya perlindungan kuat, benteng pertahanan telah jebol. Berbagai sisi yang telah terbuka dengan dimanfaatkan penjajah dengan sebaik-baiknya. Kejayaan dan kesatriaan Ki Geden Kandanghaur amblas terkubur nafsu angkara anak-cucunya sendiri.



Sejak itulah mereka berpencar, sebagian tetap di tempat dan yang lain hidup dalam kesuksesan merantau di pinggiran laut bergabung dengan para keturunan Nyi Ageng Parean.



Kandanghaur sendiri sampai sekarang tinggallah sebuah nama besar, yang tidak akan pernah mudah ditemui kecuali oleh mereka masih mau menyempatkan diri untuk menelusuri perkampungan di Desa Sukaslamet.
Minibalanar - 30/05/2011 06:01 PM
#176
Air Laut Rasanya Asin (Cerita Rakyat Sunda)
Konon pada jaman dahulu ada dua kakak-beradik, yang sulung bernama Jana dan yang bungsu bernama Jani. Ki Jana termasuk orang yang kaya raya, sawah dan kebunnya luas, tetapi terkenal sangat pelit, jarang memberi atau menolong kepada orang yang kesusahan. Berbeda dengan Ki Jani, meskipun hidup miskin ia suka menolong orang bila memiliki rizki.



Pada suatu waktu, Ki Jani akan meminjam beras kepada kakaknya Ki Jana, tetapi tidak diberi malah dimarahi. Beruntung istrinya Ki Jana merasa kasihan, sambil sembunyi-sembunyi ia memberikan beras satu cangkir kepada Ki Jani berikut sekerat ikan asin.



Diperjalanan pulang, Ki Jani bertemu dengan seorang kakek-kakek, badannya kurus serta berjalan dengan tertatih-tatih. Karena merasa kasihan, kakek tersebut dibawa oleh Ki Jani ke rumahnya. Beras pemberian kakak iparnya itu kemudian dibubur dan dimakan berdua.



Pagi harinya, kakek itu berpamitan. Sebelum pergi, kakek itu memberi Ki Jani sepasang lesung dan alu yang terbuat dari perak.



Kakek itu berkata “Apa saja yang diminta oleh ananda sebutkan saja sambil berucap Tutu! Tutu! Tutu! Tiga kali, nanti juga alu nya menumbuk sendiri, dan yang diminta oleh ananda nantinya akan keluar dari dalam lesung, untuk memberhentikannya harus ditaburi tanah sedikit."



Singkat cerita, Ki Jani sudah menjadi orang kaya, tetapi tetap saja ia suka menolong orang yang sedang kesusahan. Mendengar bahwa adiknya sudah menjadi orang kaya, ia berniat menyelidiki adiknya mengapa sampai bisa kaya raya. Gancangna carita Ki Jani geus benghar, tapi tetep resep ngabantu jeung tutulung kanu susah.



Pada suatu malam, Ki Jani akhirnya menceritakan juga kepada kakaknya mengapa ia bisa sampai kaya. Malah diceritakan juga cara-cara menggunakan lesung dan alu tersebut. Karena watak kakaknya yang licik, dicurilah lesung dan alu milik adiknya tersebut untuk dibawa berlayar.



Di perjalanan tengah laut, persediaan garam sudah habis. Akhirnya Ki Jana meminta garam kepada lesung, dan keluarlah garam tanpa henti. Ki Jana lupa membawa tanah untuk menghentikan kerja lesung. Akhirnya kapalnya karam karena terlalu berat dipenuhi garam. Sejak itulah rasa air laut menjadi asin.



Hikmah yangbisa diambil :

Janganlah menjadi orang yang kikir dan jahat seperti Ki Jana, jadilah orang yang baik hati, suka menolong sesama seperti Ki Jani.
Minibalanar - 30/05/2011 06:02 PM
#177
Ayam Berkokok di Waktu Subuh (Cerita Rakyat Sunda)
Alkisah pada jaman dahulu ada seekor ular naga yang telah lama berkeinginan pergi ke kayangan. Tiap pagi ular naga tersebut selalu berdandan, tetapi ia tidak merasa percaya diri karena tidak punya perhiasan, apalagi akan menemui dewa. Setelah berpikir lama, ia teringat kepada sahabatnya yaitu si kaki seribu (titinggi : Bhs Sunda), maksudnya minta diantar menemui ayam jago untuk untuk dipinjam tanduknya, sebab pada waktu itu ayam jago memiliki tanduk. Setelah bertemu dengan sang ayam jago diceritakanlah semua permasalahan sang naga, intinya bila dipinjamkan tanduknya nanti akan dikembalikan lagi oleh sang naga.



Ayam jago diam saja tidak menjawab karena tahu sikap dan prilaku sang naga yang licik. Tapi sang naga tahu kelemahan ayam jago yang suka dipuji, maka dipuji-pujilah ayam jago oleh sang naga, akhirnya ayam jago meminjamkan juga tanduknya kepada sang naga.



Sang naga berkata kepada ayam jago bahwa nanti juga tanduknya akan diberikan lagi yang akan dititipkan kepada si kaki seribu sebelum fajar atau subuh, tetapi bila ia kelupaan mengembalikan karena sedang asyik mengobrol dengan dewa, ayam jago diminta untuk berkokok keras.



Besoknya di waktu subuh, ayam jago berkokok dengan kerasnya, meskipun berkali-kali berkokok tetapi si kaki seribu tak kunjung juga sampai matahari terbit.



“Biarlah mungkin nanti malam” kata ayam jago dalam hati.



Tetapi tetap saja sampai sampai hari berikutnya sang naga dan si kaki seribu tidak muncul. Betapa marahnya ayam jago kepada sang naga juga kepada si kaki seribu yang telah menipunya. Ia berencana akan mematuk si kaki seribu sampai mati bila ketemu. Sejak itu ayam jago selalu berkokok di waktu subuh, serta bila bertemu dengan si kaki seribu selalu dipatuknya sampai mati.



Hikmah yang bias diambil :

* Hidup itu jangan sombong, adikuasa, suka menipu seperti ular naga.
* Jangan suka disuruh-suruh meskipun salah seperti si kaki seribu.
* Jangan mudah diperdaya dan selalu percaya omongan orang lain seperti ayam jago.
Minibalanar - 30/05/2011 06:02 PM
#178
Cerita Cindek : Peteng-dedet (Cerita Pendek : Gelap-gulita)
Teng tengah wana, Saida lan Saeni ahiripun dipun tilar Mang Sarkawi. Pancen maksadipun mang Sarkawi, sampun niat mbucal lare kalih wau. Keranten Mang Sarkawi nuruti wanodya anyare utawi mbok walon lare kalih wau, supados Saida lan Saeni dipun bucal.

Di tengah hutan, Saida dan Saeni akhirnya ditinggalkan oleh Mang Sarkawi. Memang maksud Mang Sarkawi sudah berniat membuang kedua anak tadi. Karena Mang Sarkawi menuruti istri mudanya, atau ibu tiri kedua anak tadi, yang meminta Saida dan Saeni untuk dibuang.



Saida lan Saeni, dalu puniku maksih ngentosi bapane teng tengah wana, boten nduga bapane mbucal putra-putri kakang-adi puniku.

Saida dan Saeni, sampai malam masih menunggu ayah mereka di tengah hutan, tidak menduga bahwa ayahnya tega membuang anak-anaknya.



Saeni ngucap dateng kakangipun, ”Kang Saida, langit ketingale cemeng, peteng-dedet! Lintang lan wulan ketutup mendung. Boten ketingal napa-napa. Mung kakang lan wit-witan ingkang ageng-ageng mawon. Sampun tebih-tebih sing kula, Kang.”

Saeni berkata pada kakaknya, "Kang Saida, langit kelihatan hitam, gelap gulita! Bulan dan bintang tertutup mendung. Tidak bisa melihat apapun. Cuma kakak dan pepohonan yang besar-besar saja. Jangan jauh-jauh dari aku, kakang."



Saida njawab, ”Nggih, Saeni. Kakang uga ngraos mekoten. Kadose niki kih, wana ingkang tebih saking griya utawi saking dedusunan. Wontene wit-witan ageng mawon, lan suwanten-suwanten sato-kewan mawon.”

Saida menjawab, "Betul Saeni. Kakang juga merasa begitu. Bagaimana ini ya... hutan ini jauh dari rumah atau dari pedesaan. Adanya pohon-pohonan yang tinggi saja, dan hewan-hewan saja."



Saeni njerit, ”Kaaaaang! Saeni-e wedos, Kang! Sampun tebih-tebih, Kang!”

Saeni menjerit, "Kaaaaang! Saeni takut Kang1 Jangan jauh-jauh, Kang!"



Lare kalih wau sami rerangkulan, sami tetangisan teng tengah wana. Lami-lami Saeni ngelih ngombe. Ilat lan cangkemipun kraos garing.

Kedua anak itu berangkulan, sambil menangis di tengah hutan. Lama kelamaan Saeni merasa haus. Lidah dan bibirnya terasa kering.



“Kang Saida,” wiraosipun Saeni, “Saeni pengen ngombe, Kang! Sing wau boten wonten toya. Saeni ngelih ngombe, Kang!”

“Kang Saida,” kata Saeni, "Saeni ingin minum Kang! Sejak tadi tidak ada air. Saeni merasa haus Kang!"



Saida njawab, “Ya, mpun, mengkin Kakang nhilari toya krihin, nggih? Saeni tek tinggal krihin, nggih?”

Saida menjawab, "Ya sudah, Kakang carikan air dulu ya? Saini aku tinggal di sini ya?"



”Nggih, kang. Sampun lami-lami, ya Kang!” jawabe Saeni.

"Baiklah kang. Jangan lama-lama, ya Kang!" jawab Saeni.



Dalu peteng-dedet boten wonten lintang, boten wonten wulan, lan boten wonten sinten-sinten, mung Saeni mawon teng tengah wana. Ngentosi kakange ingkang siweg ngilari toya, lantaran Saeni ngelih ngombe pisan, cangkemipun garing, ilatipun garing!

Malam gelap gulita, tidak ada bintang, tidak ada bulan, dan tidak ada siapa pun, hanya Saeni sendirian di tengah hutan. Menunggu kakaknya yang sedang sibuk mencari air, karena Saeni kehausan, bibirnya kering, lidahnya juga kering!



Mendung cemeng teng inggil wana kraos damel wedos. Wit-witan ageng ketingale kados memedi ingkang mesam-mesem, mringis-mringis, lan cengar-cengir. Damel ati Saeni mbregidik!

Mendung hitam di atas hutan juga membuatnya merasa takut. Pepohonan yang besar terlihat seperti memedi yang sedang tersenyam-tersenyum, meringas-meringis, dan cengar-cengir. Membuat hati Saeni gemetaran!"



”Kaaaaaaang! Saeni-e wedos Kang! Saeni-e wedos, Kang!” njerite Saeni teng tengah wana teng dalu peteng-dedet puniku.

Kaaaaaaaaang! Saeni takut Kang! Saeni takut, Kang!" teriak Saeni di tengah hutan yang sudah gelap gulita itu.



Nanging mlampahipun Saida, mbuh pundi parane. Ngilari toya kangge ngombe adie, nyata-nyata dereng kepanggih mawon.



“Kaaaaaaaaaaaaaang! Saeni-e wedos, Kang! Saeni-e wedos, Kang!” jeritan Saeni kados mbelah bumi sejagat-raya. Jeritan wau boten wonten ingkang njawab, boten wonten ingkang nyauti. Ingkang njawab lan nyauti mung suwantene piyambek.



Saida dereng mawon dugi, dereng mawon ketingal. Menit gentos menit, jam gentos jam, sampe medal semburat layung enjing teng langit, teng inggil wana wau. Wana ingkang biasane kraos adem, gawe ati Saeni kraose panas pisan. Srengenge ingkang biasane kraos anget, gawe badan Saeni kraose trelep-trelep. Mlampahipun Saeni seturute dalan setapak ingkang wonten wana. Melebet krasak-krusuk teng alang-alang, teng pinggir wit-witan, teng suket ijo royo-royo. Nanjak-mudun, planggak-plenggok tanpa maksad lan tujuan. Tapak-tapak suku alit kraos pegel, nanging Saeni boten mandeg, boten ngaso, teras mlampahaken sukue ingkang sampun bleput lan kotor.



Srengenge tambih lami tambih panas. Badan sayah lemes-dedes. Nanging Saeni teras mlampah nanjak-mudun, planggak-plenggok, krasak-krusuk kayadene mbabad wana ingkang masih prawan. Teng inggil langit ahire srengenge kadose kraos pegel piyambek. Mencoronge mulai liyep-liyep. Teng kilen, srengenge wau mulai surup, nanging layung sonten damel werna-werni ingkang abyor pisan dipandenge. Badan Saeni kraos lemes-dedes, balung-balung kraos pada copot. Ahire Saeni pingsan teng andap wit ageng. Teng selebete pingsan, rupine saeni kados ngimpi.



”Eh, Nok Saeni, mriki-mriki! Pundi mawon? Kakang ngilari, nok Saeni boten kepanggih mawon,” wiraosipun Saida, ingkang wonten teng selebete istana kerajaan. Rasukanipun Saida sae pisan, keranten Saida sampun dados raja teng istana wau.



Saeni kaget! Nanging kagete boten lami, keranten Saeni uga rasukane sami sae. Saeni minangka putri kerajaan ingkang diiirng para embok-emban. ”Nggi, Kang. Wau Saeni nembe pisan dolan-dolan, mlampah-mlampah teng taman istana. Saeni seneng pisan, katah sekar werna-werni, wit-witan ageng damel ayem, toya ingkang mancur-mancur saking gunung. Kupu, kinjeng, lan manuk pating sliwer.



Kakang-adi wau sami-sami mesem, seneng pisan.



”Saeni, tangi, Nok! Saeni, tangi Nok! Niki toyane. Kakang sampun dugi, Nok. Kakang sampun mbakta toya, Nok. Saeni ngelih, kan?”



Suwanten Saida gawe Saeni njenggelek tangi. Saeni mandengi kakange, mandengi piyambeke. Diawiti malih, mandengi kakange, teras mendenge piyambeke. Nyata-nyata, rasukan raja utawi putri kerajaan lan istana, ical sing pandengan. Ingkang wonten, nyata-nyata maksih teng tengah wana!



Lare kalih wau boten ngertos dibucal teng tengah wana. Peteng dedet.
Minibalanar - 30/05/2011 06:03 PM
#179
Apa yang Kau Cari, Saida-Saeni?
Kemiskinan, kebodohan, dan kesehatan yang rawan seperti yang senantiasa menjadi obyek sorotan indeks pembangunan manusia (IPM) sesungguhnya terangkum dalam dongeng rakyat Indramayu, Saida-Saeni. Ketika tahun ini IPM Kabupaten Indramayu dinyatakan berada di urutan terakhir atau peringkat ke-26 kabupaten/kota se-Jawa Barat, dongeng rakyat itu seakan-akan menjelma menjadi kenyataan.



Entah sejak kapan Saida-Saeni muncul menjadi teman anak-anak dalam ninabobo. Sebagaimana dongeng, Saida-Saeni memiliki kearifan tersendiri. Ia menjadi semacam pitutur para orang tua. Ia mengajarkan tentang berbagai hal, terutama kemiskinan, kebodohan, tipu daya, dan ketidakadilan. Akan tetapi, di situ juga ada nilai-nilai keuletan.



Saida dan adiknya, Saeni, bernasib tragis bukan hanya karena miskin. Ibunya wafat ketika mereka masih kecil. Ayahnya, Ki Sarkawi, kemudian menikah lagi dengan wadon yang ternyata madep rai mungkur ati (antara wajah dan hati tidak sama). Hasutan ibu tirinyalah yang membuat Saida dan Saeni dibuang ayahnya ke tengah hutan.



Perjuangan kakak-beradik yang kemudian terpisah itu penuh balada dan elegi, pengembaraan dan tangisan perih. Sampai akhirnya nasib mengubahnya.



Saeni, dengan mantra seorang kakek, menjadi pesinden tarling yang terkenal dan kaya. Akan tetapi, kekuatan mantra itu ada batasnya sampai akhirnya ia harus dijemput ajal. Sungai Sewo di perbatasan Kabupaten Indramayu dan Subang menjadi latar tragis itu.



Miskin kultural



Nilai-nilai keuletan itulah yang sesungguhnya hingga kini digenggam warga Indramayu. Secara tradisi, para nelayan yang jumlahnya terbesar di Jabar mampu menghasilkan tangkapan ikan yang juga terbesar.



Secara tradisi pula, para petani mampu menjadikan Indramayu sebagai lumbung padi Jabar dan nasional. Namun, bisa dicatat, angka besar dari Indramayu itu juga ada pada para dalban (medal ban/mengayuh becak), sopir bajaj, sopir taksi, ojek sepeda di kota-kota lain, tenaga kerja wanita di luar negeri, bahkan para pekerja seks komersial.



Bangga, tetapi juga ironis. Terperangah, tetapi memang realis. Angka-angka kontemporer dalam IPM seakan-akan memberikan kaca benggala akan kondisi sumber daya manusia (SDM) yang tak beranjak. Ketika dicermati lebih saksama, realitas itulah yang selama berpuluh-puluh tahun menggelayuti langit Indramayu.



Saeni mungkin bisa menjadi contoh sebuah kasus yang diambil dari arifnya fiksi. Akan tetapi, di situ ada imaji dan kontemplasi. Saeni yang pantang menyerah tampak tak terarah sehingga sesatlah jalan yang ditempuh. Saida sebagai laki-laki justru lemah. Kemiskinan struktural itu memang teratasi sesaat, tetapi kemiskinan kultural tetap membelenggu.



Pencarian Saida-Saeni untuk menemukan dunia yang mencerahkan tak tergapai. Hal itu seperti yang terjadi pada tataran Kabupaten Indramayu, yang juga tak beranjak dari kemiskinan, kebodohan, dan rawannya kesehatan secara kultural dan struktural. Sumber daya alam yang berlimpah dari sawah, ladang, tambak, hutan, laut, dan minyak bumi ternyata tetap membuat IPM terpuruk.



Wilayah baru



Secara sosiohistoris, Kabupaten Indramayu menunjukkan wilayah yang masih baru. Sejak awal masyarakatnya adalah campuran dari berbagai daerah, yakni suku Jawa (Bagelen Purworejo, Cirebon, Demak, Brebes, Tegal, sebagian kecil Sumedang), suku Sunda, juga China dan Arab. Akulturasi ini pada akhirnya memperlihatkan kultur baru yang menampakkan corak Jawa yang ndermayu. Mungkinkah fondasi kultur dan historis yang tergolong muda berimbas pada pencapaian pembentukan SDM yang secara mayoritas juga tidak terlalu kuat?



Catatan sejarah menunjukkan, pengaruh Kerajaan Sumedanglarang, yang wilayahnya mencapai sebagian Indramayu, tampak pada abad ke-9. Namun, sejak abad ke-17 wilayah tersebut melepaskan diri. Sangat mungkin peninggalan itu terletak di empat desa di Kecamatan Kandanghaur dan sebuah desa di Kecamatan Lelea yang tetap menggunakan bahasa Sunda wewengkon setempat. Pengaruh Cirebon sangat kentara ketika kesultanan tersebut berdiri pada abad ke-15. Wilayahnya sampai utara, yaitu daerah Junti, Indramayu.



Ketika Kerajaan Sunda berjaya hingga abad ke-16, Pelabuhan Cimanuk di Indramayu juga dikuasai dengan ditempatkannya seorang syahbandar. Hal ini dicatat pengelana Portugis, Tome Pires (1513-1515). Pelabuhan terbesar kedua di pantai utara Jabar itu mampu menarik minat pedagang dari Arab dan China hingga menetap di sepanjang tepi Sungai Cimanuk.



Selanjutnya, naskah Wangsakerta menyebutkan, penyerbuan Sultan Agung Mataram ke Batavia (1628-1629) yang gagal itu membuat pemikiran baru untuk melakukan bedol desa dari pedalaman Jawa Tengah ke pantai utara Jabar dalam rangka mencetak sawah-sawah baru. Wiralodra, salah seorang laskar dari Bagelen, ditugaskan menetap di Indramayu, kemudian menjadi Adipati Indramayu.



Migrasi warga Brebes, Tegal, dan daerah lain ke wilayah barat Indramayu dilakukan sekitar tahun 1920. Alat transportasi yang mudah, murah, dan massal, yakni kereta api, digunakan. Saat itu wilayah tersebut memang eksotik karena sawah-sawah baru tengah dibuka, irigasi teratur, dan bendungan sudah selesai dibangun Belanda.



Ketika kini dihadapkan pada terpuruknya IPM, tangis perih seharusnya pecah di Indramayu. Tangis perih Saida-Saeni seharusnya hanya fiksi. Namun, situasi yang terjadi justru sebaliknya. Spanduk, umbul-umbul, dan pesta kegembiraan sejak awal Oktober berlangsung dalam euforia kemenangan kontes pemilu kepala daerah yang berbaur dengan semarak hari jadi. Ya, apa yang kau cari, Indramayu?
Minibalanar - 30/05/2011 06:04 PM
#180
Pulau Mas (Indramayu)
Alkisah ketika Raden Wiralodra akan membuka hutan Indramayu untuk dijadikan pemukiman atau pedukuhan. Namun, usaha itu banyak mengalami halangan dan rintangan yang mengganggu rencananya. Salah satu kendala yang sangat berat adalah ia harus berhadapan dengan jin penguasa hutan Indramayu.



Jin itu akan membinasakan setiap orang yang mencoba mengusik kekuasaannya. Begitu pula saat ada Raden Wiralodra yang sedang membabat hutan Indramayu untuk dijadikan tempat tinggal, maka dengan serta merta si jin marah dan menghalau rencana Raden Wiralodra.



Akibatnya, pertempuran pun tidak dapat dielakkan. Raden Wiralodra yang gagah perkasa berhadapan dengan makhluk jin yang terkenal sangat sakti. Keduanya mengeluarkan semua ilmu kedigjayaan.



Tidak diketahui berapa lamanya pertempuran itu terjadi, namun kuasa Tuhan menentukan bahwa manusialah yang harus menang. Raden Wiralodra berhasil mengalahkan jin. Setelah jin itu takluk, ia mohon kepada Raden Wiralodra agar diberi kebebasan untuk hidup di sebuah pulau. Di sana ia tidak akan mengganggu manusia lagi, terutama keturunan Raden Wiralodra.



Pendek kata, Raden Wiralodra mengizinkan keinginan makhluk jin tadi. Maka pergilah jin itu menuju ke sebuah pulau. Ia menetap di pulau itu sampai kini. Masyarakat sekitar pulau tersebut, jika malam hari sering melihat pulau tersebut bercahaya kekuningan seperti sinar emas, maka disebutlah Pulau Mas.
Page 9 of 16 | ‹ First  < 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > Kumpulan cerita rakyat indonesia