YOUNG ON TOP KASKUS COMMUNITY (YOTKC)
Home > CASCISCUS > YOUNG ON TOP KASKUS COMMUNITY (YOTKC) > Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..
Total Views: 2388 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 4 |  < 1 2 3 4

genul - 15/08/2011 10:25 AM
#61
diri sendiri
Ketika kita dan banyak orang mengalami kebuntuan, maka kita memerlukan MOTIVATOR-MOTIVATOR SUKSES. Sehingga kita datang dan membeli Tiket maupun buku-buku MOTIVATOR SUKSES tersebut. Setelah kita mendapat suntikan semangat dari Motivator-Motivator tersebut, kita berusaha dan gagal, akhirnya kita mengalami kebuntuan lagi.

Dimana tanpa kita sadari kita sudah menjadi bagian dari kesuksesan Motivator-motivator tersebut, dengan membeli buku, menghadiri seminar-seminarnya dan membeli tiket-tiketnya, dan bahkan kita mengajak teman kita untuk membeli tiket acara seminar mereka.

Bagaimana mereka sukses? Karena ada kita.
Bagaimana kita sendiri? Belum tentu Sukses seperti apa yang mereka bilang.
Bagaimana seandainya semua orang jadi Motivator?

Terlalu bergantung kepada Obat juga tidak baik, dan efeknya juga cuma sementara.

Peace
iloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias
takuthilang - 15/08/2011 10:54 AM
#62

Quote:
Original Posted By GudangaAmazon
ane rasa agan mencampur adukan antara pengalaman dan pengetahuan.

pengalaman tidak bisa dibeli gan, yg bisa dibeli itu pengetahuan.

ane ambil contoh, misal ane adalah seorang yg bisa bela diri dan sudah pernah bertarung dengan berbagai macam orang, mulai dari yg 1 alawan 1 sampai yg keroyokan, mulai dari yg tangan kosong sampai bawa golok. nah itu adalah pengalaman ane.

agan bisa bayar ane untuk menceritakan semua pengalaman itu dan mengajarkan ilmu bela diri ane ke agan, tapi agan tidak serta merta akan bisa bertindak sama dengan ane ketika berhadapan dengan lawan 10 orang, kenapa? karena ane berpengalaman, semetara agan hanya berpengetahuan.

dalam bisnis pun sama, agan bisa dengar/baca bayar/gratis semua cerita yg dibawakan oleh orang lain, tapi itu tidak serta merta membuat agan sanggup bernegosiasi sama baiknya dengan orang yg sudah berpengalaman dalam sebuah deal bisnis bernilai puluhan milyar. kenapa? karena org tsb berpengalaman sementara agan hanya berpengetahuan.

benar bahwa pengetahuan bisa memberikan kita lebih banyak advantage point daripada orang yg tidak memiliki pengetahuan itu, tapi tetap saja itu tidak bisa menggantikan pengalaman.

dari kata 'pengalaman' saja sudah jelas, harus MENGALAMI bukan MENGETAHUI. Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..


ane lebih setuju ini gan
the.punisher - 15/08/2011 11:40 AM
#63

duid adalah segalanya..!!! hammer:
FajarDZ8217 - 15/08/2011 12:42 PM
#64

Quote:
Ketika kita dan banyak orang mengalami kebuntuan, maka kita memerlukan MOTIVATOR-MOTIVATOR SUKSES. Sehingga kita datang dan membeli Tiket maupun buku-buku MOTIVATOR SUKSES tersebut. Setelah kita mendapat suntikan semangat dari Motivator-Motivator tersebut, kita berusaha dan gagal, akhirnya kita mengalami kebuntuan lagi.

Dimana tanpa kita sadari kita sudah menjadi bagian dari kesuksesan Motivator-motivator tersebut, dengan membeli buku, menghadiri seminar-seminarnya dan membeli tiket-tiketnya, dan bahkan kita mengajak teman kita untuk membeli tiket acara seminar mereka.

Bagaimana mereka sukses? Karena ada kita.
Bagaimana kita sendiri? Belum tentu Sukses seperti apa yang mereka bilang.
Bagaimana seandainya semua orang jadi Motivator?

Terlalu bergantung kepada Obat juga tidak baik, dan efeknya juga cuma sementara.

Peace



Nah. ini sisi lain yang sering kita nggak perhatikan. Ada benarnya juga.
abangbayi - 15/08/2011 03:25 PM
#65

Quote:
Original Posted By GudangaAmazon
ane rasa agan mencampur adukan antara pengalaman dan pengetahuan.

pengalaman tidak bisa dibeli gan, yg bisa dibeli itu pengetahuan.

ane ambil contoh, misal ane adalah seorang yg bisa bela diri dan sudah pernah bertarung dengan berbagai macam orang, mulai dari yg 1 alawan 1 sampai yg keroyokan, mulai dari yg tangan kosong sampai bawa golok. nah itu adalah pengalaman ane.

agan bisa bayar ane untuk menceritakan semua pengalaman itu dan mengajarkan ilmu bela diri ane ke agan, tapi agan tidak serta merta akan bisa bertindak sama dengan ane ketika berhadapan dengan lawan 10 orang, kenapa? karena ane berpengalaman, semetara agan hanya berpengetahuan.

dalam bisnis pun sama, agan bisa dengar/baca bayar/gratis semua cerita yg dibawakan oleh orang lain, tapi itu tidak serta merta membuat agan sanggup bernegosiasi sama baiknya dengan orang yg sudah berpengalaman dalam sebuah deal bisnis bernilai puluhan milyar. kenapa? karena org tsb berpengalaman sementara agan hanya berpengetahuan.

benar bahwa pengetahuan bisa memberikan kita lebih banyak advantage point daripada orang yg tidak memiliki pengetahuan itu, tapi tetap saja itu tidak bisa menggantikan pengalaman.

dari kata 'pengalaman' saja sudah jelas, harus MENGALAMI bukan MENGETAHUI. Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..


bener banget kata agan yg satu ini, bagaimana TS ?????
teunyahonanaon - 17/08/2011 07:37 PM
#66

hmmm , motivator adalah pedagang pengalaman . masuk akal jga ya ,
tpi kembali ke individu masing2 aja klo soal motivasi
attiatravel - 17/08/2011 11:32 PM
#67

Semua pasti ada yg pro dan kontra,

Cuma ga perlu terlalu sampai seperti ini dong gan,

Quote:
Original Posted By legacyofnemesis
Ane jadi gak enak gitu baca trit ente.. Bukan karena trit yang ane bikin kan?

Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..

Goodlah kalau ente tidak minta dianggap [B]MOTIVATOR apalagi mengaku 'Motivator Muda', karena udah ada salah satu motivator yang terang"an mengklaim sebutan itu shakehand[/B]

'Bahkan bayi yang baru lahir pun bisa menjadi MOTIVATOR walau hanya menangis!'


kalau saya baca pendapat agan, saya setuju, mamang namanya juga cari nafkah, bisa dari mana aja dan apa saja yang penting sesuatu yang dijual tidak tergolong dalam hal" yang haram,

sama halnya kaya uztad yang sering ceramah, apa itu namanya bukan motivator juga ? menurut ane sih sama aja cuma bungkusnya yang berbeda,
mereka juga ada yang dibayar,

jadi intinya ya motivator juga sama" cari nafkah sama seperti ustad, dan mungkin sama seperti agan yang cari nafkah (bekerja) untuk keluarga dan diri agan

cuma ga etis aja gan, kan agan bilang td motivator jualan,
ibaratnya jika agan ga mau beli bakso di toko A karna kurang enak, jangan dong agan menjatuhkan dagangan bakso toko A tersebut dengan berteriak di depan toko A tersebut bahwa bakso disini kurang enak,
biarkan publik yang menilai, kalau orang menilai kurang enak saya yakin ko mereka ga akan datang kembali kesana, sekalipun dengan promosi yang gila"an, karna mereka sudah tau bahwa bakso di toko A kurang enak,

saya sering di FJB gan soalnya ada lapak, jadi setidaknya saya paham lah mengenai yg namanya orang JUALAN,

sekian masukan dari saya,

Saya menghargai dan setuju dengan pendapat agan
dan saya juga menghargai sang motivator,

Terimakasih,
PERBEDAAN PENDAPAT BUKAN UNTUK SALING MENJATUHKAN Tetapi UNTUK SALING MENGINTRSOPEKSI DIRI MASING MASING
attiatravel - 17/08/2011 11:48 PM
#68

dan tujuan adanya / jualannya motifator untuk ini

Quote:
Original Posted By BillyBoen

Sebaiknya, kita tidak hanya belajar dari kesalahan kita sendiri. Tapi kita juga harus belajar dari kesalahan orang lain. Kalau sudah tahu di depan kita ada lubang dan sudah ada orang di depan kita yang ketika berjalan jatuh di lubang tersebut, kenapa kita harus jalan dan terjatuh ke lubang yang sama? Dengan belajarin kesalahan orang lain, kita akan bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat (karena tidak harus terjatuh dulu)


tidak semua bisa bergaul dan mendapatkan banyak teman, untuk saling bertukar pikiran dan pendpat,

ya jalan terakhirnya dengan lelalui MOTIVATOR

Just my opinion
legacyofnemesis - 18/08/2011 07:00 AM
#69

Quote:
Mantab! Komentar agan" ini memberi masukan berarti buat pemikiran ane dan semoga agan" lainnya. Ane coba tanggapi dengan pemahaman ane tanpa bermaksud membantah apalagi mencari siapa yang benar dan salah shakehand2


Quote:
Original Posted By GudangaAmazon
ane rasa agan mencampur adukan antara pengalaman dan pengetahuan.

pengalaman tidak bisa dibeli gan, yg bisa dibeli itu pengetahuan.

ane ambil contoh, misal ane adalah seorang yg bisa bela diri dan sudah pernah bertarung dengan berbagai macam orang, mulai dari yg 1 alawan 1 sampai yg keroyokan, mulai dari yg tangan kosong sampai bawa golok. nah itu adalah pengalaman ane.

agan bisa bayar ane untuk menceritakan semua pengalaman itu dan mengajarkan ilmu bela diri ane ke agan, tapi agan tidak serta merta akan bisa bertindak sama dengan ane ketika berhadapan dengan lawan 10 orang, kenapa? karena ane berpengalaman, semetara agan hanya berpengetahuan.

dalam bisnis pun sama, agan bisa dengar/baca bayar/gratis semua cerita yg dibawakan oleh orang lain, tapi itu tidak serta merta membuat agan sanggup bernegosiasi sama baiknya dengan orang yg sudah berpengalaman dalam sebuah deal bisnis bernilai puluhan milyar. kenapa? karena org tsb berpengalaman sementara agan hanya berpengetahuan.

benar bahwa pengetahuan bisa memberikan kita lebih banyak advantage point daripada orang yg tidak memiliki pengetahuan itu, tapi tetap saja itu tidak bisa menggantikan pengalaman.

dari kata 'pengalaman' saja sudah jelas, harus MENGALAMI bukan MENGETAHUI. Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..


Menurut ane belajar dan pengalaman adalah bagian dari pengetahuan karena dari proses itulah kita menjadi tau. Contoh yg agan jelaskan itulah yang terjadi pada acara" seminar motivasi dimana sang motivator berbagi pengalaman pribadinya dari blangsak sampai sukses (gak ada motivator kere gan..)..
Memang tidak ada jaminan kalo kita ikutin langkah si motivator akan menjadi seperti dia skrg. Mana mungkin 1000 peserta pulang seminar jadi CEO semua hammers , sama seperti ente ngelawan 10 org balik sehat walafiat..
Dan apa yang kita tukar untuk mendapatkan cerita pengalaman itu? Yap, beli tiketnya donk..

Untuk motivator, dia menjual pengalaman dapet duit.
Untuk peserta, dia membeli tiket dapet makan siang, secangkir kopi, agenda, name tag, suvenir, sertifikat, cerita pengalaman dan pengetahuan ttg kehidupan motivator.

Untuk berbisnis mah beda kasus, seorang atasan gak mngkn menggantungkan masa depan perusahaannya dalam bernego senilai 1 M kepada anak kemaren sore.. Yb

Makasih banyak atas komentarnya gan shakehand2

Quote:
Original Posted By banteng69
Poin positif yang disampaikan TS bener juga, dimana kita dapat belajar menghadapi permasalahan dari pengalaman orang lain dan memotivasi diri sendiri tanpa cuap2 orang lain. Tapi, pernyataan TS pengalaman bisa dibeli ane rasa salah. Pengalaman harus dialami sendiri sedang pengalaman orang lain yg kita tahu entah itu dari obrolan warkop ato omongan motivator itu hanya sekedar tau, sekedar mengambil pelajaran bukan sesuatu yang kita alami sendiri dan kita selesaikan sendiri. Ane setuju dengan pernyataan gudangaAmazon dimana ada perbedaan antara pengalaman dan pengetahuan. Kita hanya belajar dari pengalaman orang lain tapi tidak bisa membelinya
Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..


Udah ane jawab diatas gan.. Makasih komentar dan cendolnya shakehand2

Quote:
Original Posted By ziie92
sorry gan ane kurang setuju sama kata2 pengalaman dpt di beli.. Udh terlihat dri kata dasarnya aja alami. berarti yg secara alami udh kita rasain anamanya pengalaman. kalo cuma kita dri buku dll yg kyk agan sebut di atas, namanya cm sekedar pengetahuan. Byk gan org yg pengetahuannya tinggi tapi ga punya pengalaman. dan menurut ane pengalaman ttep ga bisa dibeli. Orang ga akan pernah tahu realita yg terjadi sebenernya kalo org tersebut ga pernah ngalaminnya. Contohnya simpel aja:

ada ibu rumah tangga A pakai detergen X dan blg ke ibu rmh tngga B kalo detergen X itu bagus. Dan ibu rmh tngga B itu blg ke org2 kalo detergen X itu bagus, apakah ibu rmh tngga B adalah org yg berpengalaman? tentu tidak gan.. Dia hnya tahu tapi tidak pernah mengalaminya.

No offense yaa gan...shakehand


Kalau tidak bisa dibeli lalu apa yang dijual seorang Motivator?! Mungkin penjelasan ane diatas cukup jelas..
Makasih komentarnya gan shakehand2

Quote:
Original Posted By attiatravel
Semua pasti ada yg pro dan kontra,

Cuma ga perlu terlalu sampai seperti ini dong gan,

kalau saya baca pendapat agan, saya setuju, mamang namanya juga cari nafkah, bisa dari mana aja dan apa saja yang penting sesuatu yang dijual tidak tergolong dalam hal" yang haram,

sama halnya kaya uztad yang sering ceramah, apa itu namanya bukan motivator juga ? menurut ane sih sama aja cuma bungkusnya yang berbeda,
mereka juga ada yang dibayar,

jadi intinya ya motivator juga sama" cari nafkah sama seperti ustad, dan mungkin sama seperti agan yang cari nafkah (bekerja) untuk keluarga dan diri agan

cuma ga etis aja gan, kan agan bilang td motivator jualan,
ibaratnya jika agan ga mau beli bakso di toko A karna kurang enak, jangan dong agan menjatuhkan dagangan bakso toko A tersebut dengan berteriak di depan toko A tersebut bahwa bakso disini kurang enak,
biarkan publik yang menilai, kalau orang menilai kurang enak saya yakin ko mereka ga akan datang kembali kesana, sekalipun dengan promosi yang gila"an, karna mereka sudah tau bahwa bakso di toko A kurang enak,

saya sering di FJB gan soalnya ada lapak, jadi setidaknya saya paham lah mengenai yg namanya orang JUALAN,

sekian masukan dari saya,

Saya menghargai dan setuju dengan pendapat agan
dan saya juga menghargai sang motivator,

Terimakasih,
PERBEDAAN PENDAPAT BUKAN UNTUK SALING MENJATUHKAN Tetapi UNTUK SALING MENGINTRSOPEKSI DIRI MASING MASING

dan tujuan adanya / jualannya motifator untuk ini



tidak semua bisa bergaul dan mendapatkan banyak teman, untuk saling bertukar pikiran dan pendpat,

ya jalan terakhirnya dengan lelalui MOTIVATOR

Just my opinion


Yap, pasti ada yg pro dan kontra..
Nah, gak semua ustad begitu gan.. Yang memberikan predikat ustad itu masyarakat tapi kalo orang" bijak ini dengan sengaja menamai dirinya sendiri Motivatorlah, Inspiratorlah atau apalah..

Banyak org" muda yang sok intelek bangga bgt menjadi penggemar, pengagum dan peserta seminar salah satu motivator. Padahal dirumahnya ndiri ada 2 motivator yang memotivasi dia dari orok ampe bebulu, orang tuanya ndiri yang jelas" gak minta bayaran..

Ane bukannya pinter, kelewat goblog malah, seriusan.. Tapi kegoblogan ane gak bisa jadi celah untuk orang" bijak ini menciptakan pasar untuk barang dagangannya!!

Oh ya, ngomong" soal jualan, ane juga JUALAN tapi didunia nyata.. Apa di FJB ada konsumen nawar mampus didepan muke agan ampe matanya melotot mulut berbusa dan akhirnya terjual dgn harga awal?! ngakaks

"Kegagalan adalah sukses yang tertunda".. Kalo kata" bijak ini ane yg bilang, apa mereka mau bayar ane? Boro", yang ada malah dijawab, "Dari biji gw belon bebulu juga udah tau.." ngakaksngakaksngakaks

Inilah bedanya, sama" menjual tapi yang mempengaruhi harga tu motivatornya bkn barangnya.. Dan jualan FJB tidak bsa disamakan, karna org lebih ngeliat kondisi barangnya bukan sellernya. Buktinya aja banyak yg ketepu seller.. hammers

Intinya sih gini gan, ane pengen semua orang tu tau kalo dia bisa menjadi motivator buat dirinya..

Terimakasih banyak utk komentarnya gan.. Ane sangat menghargai pendapat agan" semua.. shakehand2
genul - 18/08/2011 11:13 AM
#70

Nanti peserta-peserta mendapat Motivasi dan Inspirasi dari para Motivator dan Inspirator, tentang bagaimana mereka sukses? Akhirnya peserta jadi Motivator semua, lama-lama semua orang jadi Motivator, para Petani alih Profesi jadi Motivator, para Peternak jadi Motivator.

Trus makan apa kita gan? Ya tetep makan nasi, tapi Impor.
Peace

iloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias
junod - 24/08/2011 03:19 PM
#71

mantaapsss, nice share beer:
brekelez - 27/08/2011 07:14 AM
#72

Quote:
Original Posted By JasaCendolisasi
mantab bgt threadnya
sangat bermanfaatD




Add YM ane yang butuh Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya.. atau Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..
Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..


haaahh??

-----------

nice trit! rate 5 aaahhh malu:
legacyofnemesis - 28/08/2011 05:46 AM
#73

Quote:
Original Posted By genul
Nanti peserta-peserta mendapat Motivasi dan Inspirasi dari para Motivator dan Inspirator, tentang bagaimana mereka sukses? Akhirnya peserta jadi Motivator semua, lama-lama semua orang jadi Motivator, para Petani alih Profesi jadi Motivator, para Peternak jadi Motivator.

Trus makan apa kita gan? Ya tetep makan nasi, tapi Impor.
Peace

iloveindonesiasiloveindonesiasiloveindonesias


Itu namanya demam motivator gan.. Latah yang membabi buta.. ngakaks

Quote:
Original Posted By junod
mantaapsss, nice share beer:


Quote:
Original Posted By brekelez
haaahh??

-----------

nice trit! rate 5 aaahhh malu:


Tq gan.. Semoga bermanfaat beer:
lacozte - 15/10/2011 05:18 AM
#74

Anjrit, dalem bgt lo gan!
lacozte - 25/02/2012 01:32 AM
#75

Thread menarik dan sangat masuk akal ini jangan sampe nyungsep. shakehand2
RUINHA - 25/02/2012 12:33 PM
#76

Hehe bener juga segala sesuatu yg berhubungan dgn motivasi sbenarnya sdh ada dlm diri kita
tapi utk membangkitkan itu biasanya dibutuhkan sosok motivator sbg pemicunya
cmiiw \)
robertobosingwa - 25/02/2012 12:39 PM
#77

pengalaman adalah guru yang terbaik, dengan mejalani sesuatu kita akan mendapatkan pengalaman,,baik atau buruk pengalaman itu bisa terus kita jadikan pelajaran untuk menjadikan yang terbaik.
Debate.Cupu - 23/05/2012 06:54 PM
#78

Quote:
Apakah pengalaman bisa dibeli? Tidak, jika kita membelinya dengan uang. Karena, money can’t buy everything. Tetapi, apakah pengalaman memang bisa dibeli? Bisa, jika kita membelinya dengan alat pembayaran yang tepat. Jika bukan dengan uang, dengan apa membayarnya? Alat pembayaran itu bernama;’melakukan’ alias ‘mengajalaninya’ sendiri. Jika Anda pernah melakukan sesuatu, maka Anda bisa memiliki pengalaman itu. Jika Anda menjalani suatu peristiwa, maka Anda menjadi berpengalaman dengan peristiwa itu. Sesederhana itu. Sekalipun sederhana, tidak mudah untuk membangun pengalaman yang bernilai tinggi. Karena pengalaman yang buruk, berbeda dengan pengalaman yang baik. Dua orang yang sama-sama telah menjalani sesuatu selama 10 tahun belum tentu memiliki keterampilan yang sama baiknya, misalnya. Apa yang membedakan keduanya?



Dalam sebuah film documenter, sekelompok gajah menjelajah padang tandus Afrika ditengah terik matahari musim kemarau yang panjang. Mereka berpindah dari satu kolam kering ke kolam berikutnya yang masih menyisakan genangan air. Suatu hari, pemimpin mereka menghilang secara misterius, sehingga seluruh keluarga kebingungan. Pada situasi sulit itu, tampillah gajah lainnya yang mengambil tanggungjawab kepemimpinan. Waktu tempuh menuju sumber air itu pun menjadi semakin panjang berkali-kali lipat. Meskipun gajah pengganti itu sama besarnya, namun pengalamannya tidak sebanding dengan gajah pemimpin mereka. Sama persis seperti kehidupan karir kita. Nama besar kita tidak berbanding lurus dengan ukuran badan, atau lamanya kita berada pada situasi tertentu; melainkan dengan besarnya pengalaman kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membesarkan pengalaman; saya ajak untuk memulainya dengan memahami dan melakukan 5 prinsip Natural Intelligence berikut ini:



1. Textbook hanya bisa memuaskan lapar intelektual. Ketika sang pemimpin menghilang begitu saja, semua gajah menjadi kebingungan. Mereka terdiam tanpa tahu kemana arah yang harus mereka ambil untuk menuju oasis baru. Bertanya? Kepada siapa? Membaca? Atas buku apa? Manusia beruntung karena bisa bertanya. Manusia juga beruntung karena bisa membaca buku. Namun dibalik keuntungan itu, manusia menghadapi resiko besar. Jika bertanya, belum tentu orang yang ditanya tahu jawabannya. Dan jika membaca textbook, belum tentu textbook itu sejalan dengan realitas hidup. Lewat textbook kita hanya bisa memuaskan lapar intelektual. Namun kita tidak bisa merasakannya dengan hati, kulit, tangan, kaki, keringat, atau air mata. Padahal pengalaman adalah tentang sensasi yang pernah dirasakan oleh sekujur tubuh kita. Jadi, bacalah textbook. Tetapi jangan terlalu cepat puas dengan isinya.



2. Pengalaman tidak bisa didelegasikan. Banyak orang yang terlalu sering mendelegasikan hal-hal penting kepada orang lain. Lebih parahnya lagi, banyak anak buah yang ‘mendelegasi’ tugas-tugas penting kepada atasannya. Lho, kok bisa? Ya bisa. Jika ada tugas penting, mereka tidak mengambil tanggungjawab. Nanti saja kalau sudah ada atasan; ‘itu bukan tanggungjawab saya’. Atau, ‘gaji saya tidak termasuk mengerjakan tugas itu’. Kalau ada penugasan penting, sebisa mungkin menghindar saja. Biarkah teman lain yang menanganinya. Padahal, ada aspek-aspek kritis dalam jabatan dan posisi kita yang harus kita ambil peluangnya untuk menjadi pengalaman berharga. Sekalipun ada banyak orang dalam satu level jabatan, tetapi kita selalu bisa menemukan salah satu dari mereka yang mengungguli kolega lainnya. Keunggulan itu pasti tidak didapatkannya dengan mendelegasikan kepada orang lain, melainkan dari ‘mengalaminya’ sendiri. Jadi pupuklah pengalaman sebanyak dan sebaik mungkin. Karena pengalaman tidak bisa didelegasikan.



3. Bayarlah harganya secara penuh. Anda tidak bisa membeli setengah perangkat pesawat televisi, misalnya. Atau setengah tube pasta gigi. Anda harus membeli ‘1 unit’ dengan harga penuh. Anda yang hanya mau membeli setengahnya jangan harap bisa mendapatkannya. ‘Take it all, or leave it alone’. Untuk membeli sebuah pengalaman tidak mesti begitu. Kita boleh membeli ‘sebagiannya’ atau ‘seutuhnya’. Terserah Anda. Jika Anda hanya ingin ‘seperempatnya’ saja juga boleh. Anda bisa mendapatkannya hanya dengan ‘titel jabatan Anda’ tanpa melakukan hal-hal bermakna selama menduduki jabatan itu. Makanya ada orang-orang yang sudah bertahun-tahun menduduki jabatan penting tertentu tetapi kualitas dirinya tidak mencerminkan tingginya jabatan yang disandangnya. Atau, Anda bisa membelinya secara penuh. Caranya? Manfaatkanlah jabatan atau posisi apapun Anda saat ini untuk melakukan tindakan-tindakan yang bernilai tinggi. Baguskan prestasi Anda. Sempurnakan kualiatas kerja Anda. Maka Anda akan mendapatkan pengalaman itu seutuhnya. Karena hanya dengan semua hal itu Anda bisa membayar harganya secara penuh.



4. Pengalaman berharga seringkali ada di tempat lain. Coba perhatikan betapa banyak orang yang hanya melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang hingga belasan atau puluhan tahun. Salahkah itu? Tidak salah jika memang ingin membangun keahlian dibidang itu saja sampai masa pensiun tiba. Tetapi jika ada perasaan bosan, atau menginginkan hal lain padahal masih ngendon saja diposisi yang sama; pasti ada yang salah. “Masalahnya saya tidak diberi kesempatan untuk pindah departemen,” ini adalah alasan klise yang sering kita dengar. Itukah yang menghalangi kita dari pengalaman berharga untuk meningkatkan kapasitas diri kita? Tidak. Sejauh yang saya tahu, jika kita bersedia bekerja extra, memberi lebih banyak waktu, bekerjasama dengan orang lain, membuka diri dengan penugasan dan pekerjaan baru, mengulurkan tangan untuk menawarkan bantuan; maka kita punya kesempatan yang sama untuk ‘membeli’ pengalaman itu. Dengan cara itu, kita bisa belajar dan mengembangkan diri lebih cepat dan lebih luas dibandingkan kolega-kolega kita yang lainnya.



5. Nikmati saat menjalani keadaan yang paling menyulitkan. Tidak disangka-sangka, pemimpin gajah itu datang lagi. Setelah semua kesulitan yang dialami oleh semua anggota kelompok, dia datang sama misteriusnya dengan ketika dia menghilang. Semua anggota kelompok sekarang kembali bersuka cita. Tetapi, pemimpin gajah itulah yang paling bahagia. Karena sekarang dia memiliki calon pengganti yang bisa diandalkannya jika suatu saat nanti dia harus benar-benar ‘pergi’. Tidak disangka, seekor gajah pun memahami makna suksesi. Dia tahu jika pemimpin pengganti haruslah gajah yang kemampuan memimpinnya sudah teruji. Saat dia tahu kebanyakan gajah sering bersembunyi dibalik ketiak pemimpinnya, dia pergi sebelum sampai di oasis yang baru. Dengan cara itulah calon pemimpin berikutnya menunjukkan kemampuannya dihadapan para gajah lain yang hanya cocok untuk menjadi pengikut saja. Dalam karir, mungkin Anda menghadapi masa-masa sulit. Bahkan atasan Anda membiarkan kesulitan itu melumatkan sekujur tubuh dan meremukkan tulang belulang Anda. Janganlah menyalahkan atasan Anda. Karena boleh jadi, sesungguhnya Anda sedang diawasi oleh mata yang tidak terlihat. Apakah Anda berhasil melewati kesulitan itu, atau tidak.

Kita sering keliru mengukur pengalaman dengan ‘berapa lama’ waktu yang dihabiskan untuk menangani suatu jabatan tertentu. Padahal, waktu sama sekali tidak berbicara lain selain seberapa banyak kesempatan yang kita sia-siakan, ‘atau’ seberapa banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup yang kita hadapi. Hanya mereka yang mau bertindak dan menjalani setiap detik dengan baik sajalah yang mampu menguasai keterampilan dan pengalaman baru dalam waktu singkat. Jadi jika sekarang Anda sedang manghadapi keperjaan yang sulit atau penugasan yang rumit, atau tantangan yang berat; nikmati saja. Boleh jadi sekarang kita sedang berada di ‘bursa pengalaman’, dan kita bisa membelinya dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki.


Temenku karna anak org kaya dia dikirim ke australia, ciciknya punya rumah dan tgl d australia

Dia hidup d sana dgn d biayai ortu tentunya

Dia d sana ikut les masak,dll

Kalo tak tanyai "ngapain lue d ausie?"

Dia jawab "lg cari pengalaman aja"

Nah...

Kalo dia ga punya uang mana bisa cr pengalaman sampe ke aussie?
begin ariF - 20/06/2012 09:58 AM
#79

semoga berkah gan ilmu yg ente share \)
legacyofnemesis - 21/06/2012 09:00 PM
#80

Quote:
Original Posted By begin ariF
semoga berkah gan ilmu yg ente share \)


Semoga gan.. Amin.. shakehand2
Page 4 of 4 |  < 1 2 3 4
Home > CASCISCUS > YOUNG ON TOP KASKUS COMMUNITY (YOTKC) > Pengalaman Itu Bisa Dibeli dan Motivator Adalah Pedagangnya..