Spiritual
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)
Total Views: 11350 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 16 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

Minibalanar - 13/08/2011 06:38 AM
#41
Bahayanya Membuka Mulut
Dahulu kala, seorang raja telah di buat jengkel oleh salah seorang menterinya. Kapanpun diadakan rapat untuk membahas sesuatu dalam sidang,menteri ini akan menyela dan mulai berpidato, yang tampaknya akan berlangsung selamanya. Tak seorangpun, bahkan sang raja sendiri, berkesempatan untuk mengatakan sesuatu. Lebih-lebih, apa yang dikatakan oleh si menteri jauh lebih tidak menarik ketimbang isi sebutir bola ping-pong.



Setelah suau rapat yang lain juga tidak menghasilkan keputusan apapun, sang raja mencari kedamaian di tamannya, mrnjauhi kefrustasian polotik. Di bagian taman yang terbuka untuk umum, sang raja menyaksikan sekelompok anak-anak yang riang gembira mengerumuni seorang lelaki paruh baya, seorang cacat yang duduk di tanah. Anak-anak itu memberikan si lelaki beberapa keping uang logam,menunjuk ke suatu pohon kecil, dan meminta ayam kepadanya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah tas penuh kerikil dan sebuah tulupan, lalu mulai menembakkan kerikil ke arah pohon itu.



Dia menembak jatuh daun demi daun dari pohon kecil itu dengan tembakan beruntun dari tulupannya. Dengan kecepatan yang mencengangkan, dan dengan ketepatan yang sempurna, dia memangkas pohon itu menjadi seperti bentuk seekor ayam jantan. anak-anak itu lalu memberikan uang yang lebih banyak lagi, menunjuk ke arah sebuah semak besar dan meminta seekor gajah kepadanya. Segera si penembak jitu yang cacat itu, dengan tulupannya, memahat semak besar itu menjadi bentuk seekor gajah. Ketika anak-anak itu bertepuk tangan dengan riuh, sang raja mendapatkan sebuah gagasan.



Lalu sang raja pergi menghampiri lelaki cacat itu dan menawarkan kekayaan yang berlimpah ruah kepadanya, jika dia bersedia membantu sdang raja membereskan sebuah masalah yang sepele tapi menjengkelkan. Sang raja membisikkan sesuatu ke telinga lelaki itu. Lelaki itu mengangguk-angguk setuju dan sang raja tersenyum untuk pertama kalinya dalam minggu itu.



Pagi berikutnya, sidang berlangsung sebagaimana biasanya. Tak seorangpun memperhatikan kehadiran sebuah tirai baru yang dipasang pada salah satu sisi tembok. Saat itu sidang akan membahas mengenai usulan kenaikan pajak.



Tak berapa lama setelah raja mengumumkan agenda sidang, si menteri super bawel memulai celotehannya. Ketika dia membuka mulutnya, dia merasakan ada sesuatu yang kecil dan lembut mengenai bagian dalam tenggorokannya dan meluncur turun ke dalam perutnya. Dia menelannya dan karena itu ocehannya menjadi agak tersendat, tetapi dia terus maju pantang mundur.



Lagi dan lagi dia harus menelan sesuatu itu selama dia berbicara, tetapi sesuatu itu masih saja tak mampu membuatnya berhenti bicara. Setelah setengah jam berpidato dengan penuh semangat, dan menelan sesuatu itu setiap detiknya, dia merasa amat sangan mual.Tetapi kepala batunya tak membuat dia menghentikan pidatonya. Setelah beberapa menit kemudian, wajahnya terlihat pucat bersemu kehijauan, perutnya terasa mual, dan akhirnya dia terpaksa menghentikan ocehannya. Dengan sebuah tangan memegangi perutnya yang sakit dan tangan yang lain menutupi mulutnya untuk mencegah sesuatu yang menjijikkan keluar dari sana, dengan panik dia bergegas mencari kamar mandi terdekat.



Dengan gembira raja menghampiri tirai dan menyibaknya untuk berterima kasih kepada pria cacat itu, yang sebelumnya memang bersembunyi di balik tirai tersebut bersama dengan tulupan dan sekantong amunisinya. Sang raja tak dapat lagi menahan tawanya begitu melihat sekantong besar amunisi yang sudah hampir habis, peluru-peluru tahi ayam yang telah ditembakkan ke mulut se menteri dan berhasil menimbulkan kerusakan parah terhadap menteri malang itu.



Si menteri tidak dapat menghadiri sidang selama beberapa minggu. Sungguh mengesankan, betapa banyak urusan dapat diselesaikan selama ketidakhadirannya. Lalu ketika dia kembali menghadiri sidang, dia menjadi pendiam sekali. Dan jika dia terpaksa harus berbicara, dia akan selalu menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Gulley - 13/08/2011 10:22 AM
#42

Seorang murid Taurat datang kepada gurunya dan mengatakan bahwa menurut pendapatnya dia sudah pantas ditahbiskan menjadi seorang Rabi. Gurunya itu pun bertanya.
"Apa kualifikasi anda?"

Murid itu menjawab. "Saya sudah mendisplinkan tubuhku sedemikian rupa sehingga saya dapat tidur diatas atanah, makan rumput di padang dan membiarkan diriku didera tidak kali sehari."

Guru itu berkata lagi. :Lihat keledai itu dan hendaknya anda ingat bahwa keledai itu tidur di tanah, makan rumput dipadang dan tidak kurang dari tiga kali dicemeti. Karena ini samppai saat ini anda hanya layak menjadi seekor keledai bukan sebagai Rabi"
Minibalanar - 13/08/2011 10:30 AM
#43
Index
Zakarriaa - 13/08/2011 01:09 PM
#44
Iman Semut Vs Iman Manusia
Quote:
IMAN SEMUT

Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)

Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut: " Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu".
Semut pun menjawab: "Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki ditangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku". Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya: " Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?"
Jawab semut: "Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan".
Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan: "Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong".
Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu. Kemudian Nabi tinggal semut di dalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.
Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: "Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah".
Jawab semut: "Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki
aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa".
Spoiler for Hmmm..
Itu Iman Semut gan, klo Iman Manusia gimana?
:angel :angel
Quote:
IMAN MANUSIA

Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)

Di zaman Imam Suffian, ada seorang hamba Allah yang kerjanya mengorek kubur orang mati. Kerja korek kubur orang mati bukan kerja orang ganjil. Bila ada orang mati, mayat terpaksa ditanam, oleh itu kubur perlu digali dulu. Tetapi yang ganjil mengenai hamba Allah ini ialah dia tidak gali kubur untuk tanam mayat.
Sebaliknya apabila orang mati sudah ditanam, waris sudah lama balik ke rumah dan Munkar Nakir sudah menyoal, barulah penggali ini datang ke kubur untuk korek balik.
Dia nak tengok macam mana rupa mayat setelah diINTERVIEW oleh Munkar Nakir. Dia korek 1 kubur, 2 kubur, 3 kubur, 10 kubur, 50 kubur sampai 100 kubur. Lepas itu, penggali pergi kepada Imam Suffian dan bertanya kepadanya: "Ya Imam, kenapakah daripada 100 kubur orang Islam yang aku gali, dua sahaja yang mana mayat di dalamnya masih berhadap kiblat. Yang 98 lagi sudah beralih ke belakang?”
Jawab Imam Suffian:" Di akhir zaman hanya 2 dari 100 umat Islam yang percaya rezeki itu ditangan Allah. 98 orang lagi tidak percaya bahawa rezeki di tangan Tuhan". Itulah sebabnya apabila umat Islam tertekan dengan SOGOKAN duit yang banyak, biasanya,
iman dia akan beralih. Nyatalah iman semut lebih kuat dari iman manusia.
Minibalanar - 13/08/2011 07:42 PM
#45
5 Sifat Yang Dimiliki Orang Sukses
Setiap orang pasti mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Banyak kisah sukses yang kita dengar, hampir semuanya menceritakan perjalanan yang berbeda. Mulai dari keteguhan usaha, faktor kesempatan yang datang begitu saja, kebetulan, hingga ketidaksengajaan.



Terlepas dari semua itu, kesuksesan seseorang tidak pernah ada yang murni kebetulan. Tiap orang memiliki karakter maupun kebiasaan yang membantunya. Ada hal-hal yang juga bisa dipelajari maupun diajarkan. Jadi, sukses bukan hanya takdir semata, namun ditunjang dengan usaha. Dilansir oleh Bnet, ada 5 atribut kesuksesan yang dimiliki oleh nama-nama besar yang bisa menjadi inspirasi.



1. Oportunis
Hal ini berarti mampu memanfaatkan situasi dan kesempatan yang ada semaksimal mungkin. Termasuk niat keras untuk memulai usaha, mengambil keputusan dengan cepat dan siap menerima risiko tanpa terlalu lama mempertimbangkan hasil akhir. Sukses juga tidak terlepas dari proses dan kegagalan (trial & error). Hal ini menjadi pola pikir mendasar dari para pengusaha.



2. Keahlian Komunikasi
Bukan kemampuan bersosialisasi modern ala twitter dan facebook seperti yang Anda pikirkan, namun networking tradisional. Kemampuan membuka obrolan yang menyenangkan dengan calon klien, membina hubungan baik dan terus menjalin hubungan meskipun bisnis telah selesai. Anda tidak pernah tahu 'pintu' apa yang terbuka untuk Anda dari mulut ke mulut.



3. Saya Bisa!
Anda boleh saja disuguhkan segala kesempatan usaha di depan mata, namun jika Anda seorang yang serba negatif, takut memulai sesuatu dengan terlalu banyak pertimbangan dan akhirnya melewatkan kesempatan yang datang, mereka akan bosan datang kepada Anda. Jadi, jangan selalu mempertanyakan apa yang salah dengan usaha yang telah dilakukan, namun mulailah mengubah sikap Anda yang selalu negatif.



4. Orisinil & Terbuka
Beberapa orang terlalu berlebihan dalam menjelaskan diri maupun usahanya. Semua dibumbui dan dipermanis terlalu banyak, hingga kepuasan klien ternyata tidak sesuai ekspektasi. Terus perbaiki kualitas diri dan terbuka akan saran-saran yang diberikan orang lain. Anda akan semakin disukai banyak orang karena dinilai tidak sombong dan mau mendengarkan.



5. Selalu Mencari Tahu
Terkesan sepele namun karakter ini berperan besar dalam kesuksesan seseorang. Selalu mencari tahu problem dan solusi, belajar dari kasus yang sudah ada, membuka mata dan telinga besar-besar akan perkembangan informasi terkini akan mendorong seseorang untuk bergerak lebih mantap dan hati-hati. Karakter ini juga mendorong seseorang untuk terus berusaha hingga mendapatkan apa yang diinginkan.
Gulley - 14/08/2011 06:27 AM
#46
tidak konsisten
Seorang imam ditodong oleh seorang perampok disuatu lorong yang gelap. Perampok itu meminta agar imam itu menyerahkan dompetnya. Ketika imam itu membuka jasnya untuk mengambil dompet, pencri itu melihat Collar (tanda imam) dan menyadari bahwa dia sedang merampok soerang imam.

Dia segera meminta maaf dan mengatakan. "Maaf, pastor. Simpan uangmu. Saya tidak menyangka sama sekali engkau seorang imam." Merasa gugup dan sekaligus juga terbebas, imam itu mengambil rokok dan menawarkan kepada orang asing itu. Tetapi perampok itu berkata. "Tidak, terima kasih, saya tidak merokok selama Masa Pantang"


================================================================

Yang kecil gak boleh D yang besar boleh p
Gulley - 15/08/2011 07:52 AM
#47
Meminta karena Iman
Konon di suatu desa telah bertahun-tahun tak turun hujan. Desa tersebut mengalami kelaparan hebat karena kemarau yang panjang. Satu-satunya Pendeta di desa ini mengundang setiap warga desa untuk berdoa bersama meminta hujan turun. Setiap orang diharapkan untuk ikut berdoa—tua, muda, pria, wanita tanpa kecuali.

Ketika waktu yang ditentukan tiba, semua orang berbondong-bondong datang ke gereja. Datang juga seorang gadis kecil yang membawa sebuah payung. Karena lama tak turun hujan seorang bapak bertanya pada gadis ini, mengapa ia membawa payung. Anak tersebut menjawab “Bukankah kita akan berdoa meminta hujan turun malam ini? Jadi aku sudah membawa payung untuk itu.”

Semua orang datang bersama untuk berdoa, namun hanya si gadis kecil yang datang dengan percaya bahwa ia akan menerima apa yang didoakan.
Minibalanar - 15/08/2011 07:54 AM
#48

Quote:
Original Posted By Gulley
Seorang imam ditodong oleh seorang perampok disuatu lorong yang gelap. Perampok itu meminta agar imam itu menyerahkan dompetnya. Ketika imam itu membuka jasnya untuk mengambil dompet, pencri itu melihat Collar (tanda imam) dan menyadari bahwa dia sedang merampok soerang imam.

Dia segera meminta maaf dan mengatakan. "Maaf, pastor. Simpan uangmu. Saya tidak menyangka sama sekali engkau seorang imam." Merasa gugup dan sekaligus juga terbebas, imam itu mengambil rokok dan menawarkan kepada orang asing itu. Tetapi perampok itu berkata. "Tidak, terima kasih, saya tidak merokok selama Masa Pantang"


================================================== ==============

Yang kecil gak boleh D yang besar boleh p


Quote:
Original Posted By Gulley
Konon di suatu desa telah bertahun-tahun tak turun hujan. Desa tersebut mengalami kelaparan hebat karena kemarau yang panjang. Satu-satunya Pendeta di desa ini mengundang setiap warga desa untuk berdoa bersama meminta hujan turun. Setiap orang diharapkan untuk ikut berdoa—tua, muda, pria, wanita tanpa kecuali.

Ketika waktu yang ditentukan tiba, semua orang berbondong-bondong datang ke gereja. Datang juga seorang gadis kecil yang membawa sebuah payung. Karena lama tak turun hujan seorang bapak bertanya pada gadis ini, mengapa ia membawa payung. Anak tersebut menjawab “Bukankah kita akan berdoa meminta hujan turun malam ini? Jadi aku sudah membawa payung untuk itu.”

Semua orang datang bersama untuk berdoa, namun hanya si gadis kecil yang datang dengan percaya bahwa ia akan menerima apa yang didoakan.


Coba diberi judul om gulley malu:

Biar enak meng-indexnya o7
BantengMirc - 15/08/2011 10:54 AM
#49

salim dolo ama cecepuh ngakak
trit nya di stikiii coiiiiiii :cool

btw req ... cerita abu nawas gw di stiki kemari aje deh
Gulley - 15/08/2011 12:21 PM
#50

Quote:
Original Posted By Minibalanar
Coba diberi judul om gulley malu:

Biar enak meng-indexnya o7


udah om balanar :matabelo

Quote:
Original Posted By BantengMirc
salim dolo ama cecepuh ngakak
trit nya di stikiii coiiiiiii :cool

btw req ... cerita abu nawas gw di stiki kemari aje deh



langsung aja mbah yang jenggtan D
Zakarriaa - 16/08/2011 05:19 AM
#51
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 1
Quote:
Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)

Salah satu kisah Al-Qur’an yang sangat mengagumkan dan dipenuhi dengan misteri adalah, kisah seseorang hamba yang Allah SWT memberinya rahmat dari sisi-Nya dan mengajarinya ilmu. Kisah tersebut terdapat dalam surah al-Kahfi di mana ayat-ayatnya dimulai dengan cerita Nabi Musa, yaitu: “Dan (ingatlah) ketika Musa as berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan-jalan sampai bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 60)

Kalimat yang samar menunjukkan bahwa Nabi Musa as telah bertekad untuk meneruskan perjalanan selama waktu yang cukup lama kecuali jika beliau mampu mencapai majma’ al-Bahrain (pertemuan dua buah lautan). Di sana terdapat suatu perjanjian penting yang dinanti-nanti oleh Musa as ketika beliau sampai di majma‘ al-Bahrain. Anda dapat merenungkan betapa tempat itu sangat misterius dan samar. Para musafir telah merasakan keletihan dalam waktu yang lama untuk mengetahui hakikat tempat ini. Ada yang mengatakan bahwa tempat itu adalah laut Persia dan Romawi. Ada yang mengatakan lagi bahwa itu adalah laut Jordania atau Kulzum. Ada yang mengatakan juga bahwa itu berada di Thanjah. Ada yang berpendapat, itu terletak di Afrika. Ada lagi yang mengatakan bahwa itu adalah laut Andalus. Tetapi mereka tidak dapat menunjukkan bukti yang kuat dari tempat-tempat itu. Seandainya tempat itu harus disebutkan niscaya Allah SWT akan rnenyebutkannya. Namun Al-Qur’an al-Karim sengaja menyembunyikan tempat itu, sebagaimana Al-Qur’an tidak menyebutkan kapan itu terjadi. Begitu juga, Al-Qur’an tidak menyebutkan nama-nama orang-orang yang terdapat dalam kisah itu karena adanya hikmah yang tinggi yang kita tidak mengetahuinya.

Kisah tersebut berhubungan dengan suatu ilmu yang tidak kita miliki, karena biasanya ilmu yang kita kuasai berkaitan dengan sebab-sebab tertentu. Dan tidak juga ia berkaitan dengan ilmu para nabi karena biasanya ilmu para nabi berdasarkan wahyu. Kita sekarang berhadapan dengan suatu ilmu dari suatu hakikat yang samar; ilmu yang berkaitan dengan takdir yang sangat tinggi; ilmu yang dipenuhi dengan rangkaian tabir yang tebal. Di samping itu, tempat pertemuan dan waktunya antara hamba yang mulia ini dan Musa as juga tidak kita ketahui. Demikianlah kisah itu terjadi tanpa memberitahumu kapan terjadi dan di tempat mana. Al-Qur’an sengaja menyembunyikan hal itu, bahkan Al-Qur’an sengaja menyembunyikan pahlawan dari kisah ini. Allah SWT mengisyaratkan hal tersebut dalam firman-Nya: “Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al-Kahfi: 65)

Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan siapa nama hamba yang dimaksud, yaitu seorang hamba yang dicari oleh Musa as agar ia dapat belajar darinya. Nabi Musa as adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya dan seorang Nabi yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana yang harus belajar kepada gurunya dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya itu. Lalu, siapakah gurunya atau pengajarnya? Pengajarnya adalah seorang hamba yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an meskipun dalam hadis yang suci disebutkan bahwa ia adalah Khidir as. Musa as berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui.

Mula-mula Khidir as menolak ditemani oleh Musa as. Khidir as memberitahu Musa as bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Akhirnya, Khidir as mau ditemani oleh Musa as tapi dengan syarat, hendaklah ia tidak bertanya tentang apa yang dilakukan Khidir as sehingga Khidir as menceritakan kepadanya. Khidir as merupakan simbol ketenangan dan diam; ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa as. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir as jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa as; sebagian tindakan Khidir as yang lain dianggap Musa as sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun; dan tindakan yang lain justru membuat Musa as bingung dan membuatnya menentang. Meskipun Musa as memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.

Ilmu Musa as yang berlandaskan syariat menjadi bingung ketika menghadapi ilmu hamba ini yang berlandaskan hakikat. Syariat merupakan bagian dari hakikat. Terkadang hakikat menjadi hal yang sangat samar sehingga para nabi pun sulit memahaminya. Awan tebal yang menyelimuti kisah ini dalam Al-Qur’an telah menurunkan hujan lebat yang darinya mazhab-mazhab sufi di dalam Islam menjadi segar dan tumbuh. Bahkan terdapat keyakinan yang menyatakan adanya hamba-hamba Allah SWT yang bukan termasuk nabi dan syuhada namun para nabi dan para syuhada “cemburu” dengan ilmu mereka. Keyakinan demikian ini timbul karena pengaruh kisah ini. Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan Khidir as. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia seorang wali dari wali-wali Allah SWT. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia seorang nabi. Terdapat banyak cerita bohong tentang kehidupan Khidir as dan bagaimana keadaannya. Ada yang mengatakan bahwa ia akan hidup sampai hari kiamat. Yang jelas, kisah Khidir as tidak dapat dijabarkan melalui nas-nas atau hadis-hadis yang dapat dipegang (otentik). Tetapi kami sendiri berpendapat bahwa beliau meninggal sebagaimana meninggalnya hamba-hamba Allah SWT yang lain. Sekarang, kita tinggal membahas kewaliannya dan kenabiannya. Tentu termasuk problem yang sangat rumit atau membingungkan. Kami akan menyampaikan kisahnya dari awal sebagaimana yang dikemukakan dalam AlQur’an.

Nabi Musa as berbicara di tengah-tengah Bani Israil. Ia mengajak mereka untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran. Pembicaraan Nabi Musa as sangat komprehensif dan tepat. Setelah beliau menyampaikan pembicaraannya, salah seorang Bani Israil bertanya: “Apakah ada di muka bumi seseorang yang lebih alim darimu wahai Nabi Allah?” Dengan nada emosi, Musa as menjawab: “Tidak ada.” Allah SWT tidak setuju dengan jawaban Musa. Lalu Allah SWT mengutus Jibril untuk bertanya kepadanya: “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?” Musa as mengetahui bahwa ia terburu-buru mengambil suatu keputusan. Jibril kembali berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di majma’ al-Bahrain yang ia lebih alim daripada kamu.” Jiwa Nabi Musa as yang mulia rindu untuk menambah ilmu, lalu timbullah keinginan dalam dirinya untuk pergi dan menemui hamba yang alim ini. Musa as bertanya bagaimana ia dapat menemui orang alim itu. Kemudian ia mendapatkan perintah untuk pergi dan membawa ikan di keranjang. Ketika ikan itu hidup dan melompat ke lautan maka di tempat itulah Musa as akan menemui hamba yang alim.

Akhirnya, Musa as pergi guna mencari ilmu dan beliau ditemani oleh seorang pembantunya yang masih muda. Pemuda itu membawa ikan di keranjang. Kemudian mereka berdua pergi untuk mencari hamba yang alim dan saleh. Tempat yang mereka cari adalah tempat yang sangat samar dan masalah ini berkaitan dengan hidupnya ikan di keranjang dan kemudian ikan itu akan melompat ke laut. Namun Musa as berkeinginan kuat untuk menemukan hamba yang alim ini walaupun beliau harus berjalan sangat jauh dan menempuh waktu yang lama. Musa as berkata kepada pembantunya: “Aku tidak memberimu tugas apa pun kecuali engkau memberitahuku di mana ikan itu akan berpisah denganmu.” Pemuda atau pembantunya berkata: “Sungguh engkau hanya memberi aku tugas yang tidak terlalu berat.”
Lanjut....
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
Zakarriaa - 16/08/2011 05:20 AM
#52
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
Quote:
Kedua orang itu sampai di suatu batu di sisi laut. Musa as tidak kuat lagi menahan rasa kantuk sedangkan pembantunya masih bergadang. Angin bergerak ke tepi lautan sehingga ikan itu bergerak dan hidup lalu melompat ke laut. Melompatnya ikan itu ke laut sebagai tanda yang diberitahukan Allah SWT kepada Musa as tentang tempat pertamuannya dengan seseorang yang bijaksana yang mana Musa as datang untuk belajar kepadanya. Musa as bangkit dari tidurnya dan tidak mengetahui bahwa ikan yang dibawanya telah melompat ke laut sedangkan pembantunya lupa untuk menceritakan peristiwa yang terjadi. Lalu Musa as bersama pemuda itu melanjutkan perjalanan dan mereka lupa terhadap ikan yang dibawanya.

Kemudian Musa as ingat pada makanannya dan ia telah merasakan keletihan. Ia berkata kepada pembantunya: “Coba bawalah kepada kami makanan siang kami, sungguh kami telah merasakan keletihan akibat dari perjalanan ini.” Pembantunya mulai ingat tentang apa yang terjadi. Ia pun mengingat bagaimana ikan itu melompat ke lautan. Ia segera menceritakan hal itu kepada Nabi Musa. Ia meminta maaf kepada Nabi Musa as karena lupa menceritakan hal itu. Setan telah melupakannya. Keanehan apa pun yang menyertai peristiwa itu, yang jelas ikan itu memang benar-benar berjalan dan bergerak di lautan dengan suatu cara yang mengagumkan. Nabi Musa as merasa gembira melihat ikan itu hidup kembali di lautan dan ia berkata: “Demikianlah yang kita inginkan.” Melompatnya ikan itu ke lautan adalah sebagai tanda bahwa di tempat itulah mereka akan bertemu dengan seseorang lelaki yang alim. Nabi Musa as dan pembantunya kembali dan menelusuri tempat yang dilaluinya sampai ke tempat yang di situ ikan yang dibawanya bergerak dan menuju ke lautan.

Perhatikanlah permulaan kisah: bagaimana Anda berhadapan dengan suatu kesamaran dan tabir yang tebal di mana ketika Anda menjumpai suatu tabir di depan Anda terpampang maka sebelum tabir itu tersingkap Anda harus berhadapan dengan tabir-tabir yang lain. Akhirnya, Musa as sampai di tempat di mana ikan itu melompat. Mereka berdua sampai di batu di mana keduanya tidur di dekat situ, lalu ikan yang mereka bawa keluar menuju laut. Di sanalah mereka mendapatkan seorang lelaki. Kami tidak mengetahui namanya, dan bagaimana bentuknya, dan bagaimana bajunya; kami pun tidak mengetahui usianya. Yang kita ketahui hanyalah gambaran dalam yang dijelaskan oleh Al-Qur’an: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. “ Inilah aspek yang penting dalam kisah itu. Kisah itu terfokus pada sesuatu yang ada di dalam jiwa, bukan tertuju pada hal-hal yang bersifat fisik atau lahiriah.

Allah SWT berfirman: “Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa as kepada muridnya: ‘Bawalah ke rnari makanan kita; sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan hita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. ’Musa as berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. ” (QS. alKahfi: 61-65)

Bukhari mengatakan bahwa Musa as dan pembantunya menemukan Khidir as di atas sajadah hijau di tengah-tengah lautan. Ketika Musa as melihatnya, ia menyampaikan salam kepadanya. Khidir as berkata: “Apakah di bumimu ada salam? Siapa kamu?” Musa as menjawab: “Aku adalah Musa.” Khidir as berkata: “Bukankah engkau Musa as dari Bani Israil. Bagimu salam wahai Nabi dari Bani Israil.” Musa as berkata: “Dari mana kamu mengenal saya?” Khidir as menjawab: “Sesungguhnya yang mengenalkan kamu kepadaku adalah juga yang memberitahu aku siapa kamu. Lalu, apa yang engkau inginkan wahai Musa?” Musa as berkata dengan penuh kelembutan dan kesopanan: “Apakah aku dapat mengikutimu agar engkau dapat mengajariku sesuatu yang engkau telah memperoleh karunia dari-Nya.” Khidir as berkata: “Tidakkah cukup di tanganmu Taurat dan bukankah engkau telah mendapatkan wahyu. Sungguh wahai Musa, jika engkau ingin mengikutiku engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.”

Kita ingin memperhatikan sejenak perbedaan antara pertanyaan Musa as yang penuh dengan kesopanan dan kelembutan dan jawaban Khidir as yang tegas di mana ia memberitahu Musa as bahwa ilmunya tidak harus diketahui oleh Musa, sebagaimana ilmu Musa as tidak diketahui oleh Khidir as. Para ahli tafsir mengemukakan bahwa Khidir as berkata kepada Musa: “Ilmuku tidak akan engkau ketahui dan engkau tidak akan mampu sabar untuk menanggung derita dalam memperoleh ilmu itu. Aspek-aspek lahiriah yang engkau kuasai tidak dapat menjadi landasan dan ukuran untuk menilai ilmuku. Barangklali engkau akan melihat dalam tindakan-tindakanku yang tidak engkau pahami sebab-sebabnya. Oleh karena itu, wahai Musa, engkau tidak akan mampu bersabar ketika ingin mendapatkan ilmuku.” Musa as mendapatkan suatu pernyataan yang tegas dari Khidir as namun beliau kembali mengharapnya untuk mengizinkannya menyertainya untuk belajar darinya. Musa as berkata kepadanya bahwa insya Allah ia akan mendapatinya sebagai orang yang sabar dan tidak akan menentang sedikit pun. Perhatikanlah bagaimana Musa, seorang Nabi yang berdialog dengan Allah SWT, merendah di hadapan hamba ini dan ia menegaskan bahwa ia tidak akan menentang perintahnya.

Hamba Allah SWT yang namanya tidak disebutkan dalam AlQur’an menyatakan bahwa di sana terdapat syarat yang harus dipenuhi Musa as jika ia bersikeras ingin menyertainya dan belajar darinya. Musa as bertanya tentang syarat ini, lalu hamba yang saleh ini menentukan agar Musa as tidak bertanya sesuatu pun sehingga pada saatnya nanti ia akan mengetahuinya atau hamba yang saleh itu akan memberitahunya. Musa as sepakat atas syarat tersebut dan kemudian mereka pun pergi.

Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi: “ Musa as berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa as berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’” (QS. alKahfi: 66-70)

Musa as pergi bersama Khidir as. Mereka berjalan di tepi laut. Kemudian terdapat perahu yang berlayar lalu mereka berbicara dengan orang-orang yang ada di sana agar mau mengangkut mereka. Para pemilik perahu mengenal Khidir as. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa as, tanpa meminta upah sedikit pun kepadanya. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada Khidir as. Namun Musa as dibuat terkejut ketika perahu itu berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir as melobangi perahu itu. Ia mencabut papan demi papan dari perahu itu, lalu ia melemparkannya ke laut sehingga papan-papan itu dibawa ombak ke tempat yang jauh.

Musa as menyertai Khidir as dan melihat tindakannya dan kemudian ia berpikir. Musa as berkata kepada dirinya sendiri: “Apa yang aku lakukan di sini, mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku? Sungguh Para pemilik perahu ini telah mengangkut kami tanpa meminta upah. Mereka pun memuliakan kami tetapi guruku justru merusak perahu itu dan melobanginya.”
Lanjut...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) part 1
Zakarriaa - 16/08/2011 05:20 AM
#53
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Quote:
Tindakan Khidir as di mata Musa as adalah tindakan yang tercela. Kemudian bangkitlah emosi Musa as sebagai bentuk kecemburuannya kepada kebenaran. Ia terdorong untuk bertanya kepada gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa as berkata: “Apakah engkau melobanginya agar para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang tercela.” Mendengar pertanyaan lugas Musa as, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa as untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa as tidak mampu lagi bersabar. Musa as meminta maaf kepada Khidir as karena ia lupa dan mengharap kepadanya agar tidak menghukumnya.

Kemudian mereka berdua berjalan melewati suatu kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kacil itu. Musa as dengan lantang bertanya kepadanya tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa as bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa as meminta maaf kepadanya karena lagi-lagi ia lupa. Musa as berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa as berkata ini adalah kesempatan terakhirku untuk menemanimu. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan.

Mereka memasuki suatu desa yang sangat bakhil. Musa as tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi penduduk itu tidak mau memberi dan tidak mau menjamu mereka. Kemudian datanglah waktu sore. Kedua orang itu ingin beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa as dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa as sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa as, desa yang bakhil itu seharusnya tidak layak untuk mendapatkan pekerjaan yang gratis ini. Musa as berkata: “Seandainya engkau mau, engkau bisa mendapat upah atas pembangunan tembok itu.” Mendengar perkataan Musa as itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: “Ini adalah batas perpisahan antara dirimu dan diriku.” Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa as tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaan yang ketiga adalah akhir dari pertemuan.

Kemudian hamba Allah SWT itu menceritakan kepada Musa as dan membongkar kesamaran dan kebingungan yang dihadapi Musa as. Setiap tindakan hamba yang saleh itu—yang membuat Musa as bingung—bukanlah hasil dari rekayasanya atau dari inisiatifnya sendiri, ia hanya sekadar menjadi jembatan yang digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tinggi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampak keras namun pada hakikatnya justru menyembunyikan rahmat dan kasih sayang. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah. Hal inilah yang tidak diketahui oleh Musa as. Meskipun Musa as memiliki ilmu yang sangat luas tetapi ilmunya tidak sebanding dengan hamba ini. Ilmu Musa as laksana setetes air dibandingkan dengan ilmu hamba itu, sedangkan hamba Allah SWT itu hanya memperoleh ilmu dari Allah SWT sedikit, sebesar air yang terdapat pada paruh burung yang mengambil dari lautan.

Allah SWT berfirman: “Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir as melobanginya. Musa as berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya?Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir as) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa as berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir as membunuhnya. Musa as berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir as berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa as berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir as menegakkan dinding itu. Musa as berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir as berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.’” (QS. al-Kahfi: 71-82)

Hamba saleh itu menyingkapkan dua hal pada Musa as: ia memberitahunya bahwa ilmunya, yakni ilmu Musa as sangat terbatas, kemudian ia memberitahunya bahwa banyak dari musibah yang terjadi di bumi justru di balik itu terdapat rahmat yang besar. Pemilik perahu itu akan menganggap bahwa usaha melobangi perahu mereka merupakan suatu bencana bagi mereka tetapi sebenarnya di balik itu terdapat kenikmatan, yaitu kenikmatan yang tidak dapat diketahui kecuali setelah terjadinya peperangan di mana raja akan memerintahkan untuk merampas perahu-perahu yang ada. Lalu raja itu akan membiarkan perahuperahu yang rusak. Dengan demikian, sumber rezeki keluarga-keluarga mereka akan tetap terjaga dan mereka tidak akan mati kelaparan. Demikian juga orang tua anak kecil yang terbunuh itu akan menganggap bahwa terbunuhnya anak kecil itu sebagai musibah, namun kematiannya justru membawa rahmat yang besar bagi mereka karena Allah SWT akan memberi mereka— sebagai ganti darinya—anak yang baik yang dapat menjaga mereka dan melindungi mereka pada saat mereka menginjak masa tua dan mereka tidak akan menampakkan kelaliman dan kekufuran seperti anak yang terbunuh. Demikianlah bahwa nikmat terkadang membawa sesuatu bencana dan sebaliknya, suatu bencana terkadang membawa nikmat. Banyak hal yang lahirnya baik ternyata justru di balik itu terdapat keburukan.

Mula-mula Nabi Allah SWT Musa as menentang dan mempersoalkan tindakan hamba Allah SWT tersebut, kemudian ia menjadi mengerti ketika hamba Allah SWT itu menyingkapkan kepadanya maksud dari tindakannya dan rahmat Allah SWT yang besar yang tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Lanjut...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 2
Zakarriaa - 16/08/2011 05:21 AM
#54
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 4
Quote:
Selanjutnya, Musa as kembali menemui pembatunya dan menemaninya untuk kembali ke Bani Israil. Sekarang, Musa as mendapatkan keyakinan yang luar biasa. Musa as telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi yang berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Itulah pelajaran yang diperoleh Nabi Musa as as dari hamba ini. Nabi Musa as mengetahui bahwa ia berhadapan dengan lautan ilmu yang baru di mana ia bukanlah lautan syariat yang diminum oleh para nabi. Kita berhadapan dengan lautan hakikat, di hadapan ilmu takdir yang tertinggi; ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa.

Ini bukanlah ilmu eksperimental yang kita ketahui atau yang biasa terjadi di atas bumi, dan ia pun bukan ilmu para nabi yang Allah SWT wahyukan kepada mereka. Kita sekarang sedang membahas ilmu yang baru. Lalu siapakah pemilik ilmu ini? Apakah ia seorang wali atau seorang nabi? Mayoritas kaum sufi berpendapat bahwa hamba Allah SWT ini dari wali-wali Allah SWT. Allah SWT telah memberinya sebagian ilmu laduni kepadanya tanpa sebab-sebab tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa hamba saleh ini adalah seorang nabi. Untuk mendukung pernyataannya ulama-ulama tersebut menyampaikan beberapa argumentasi melalui ayat Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya.

Pertama, firman-Nya: “Lalu mereka bertemu dengan searang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

Kedua, perkataan Musa as kepadanya: “Musa as berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmuilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?’ Musa as berkata: ‘lnsya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu rmnanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu,’” (QS. alKahfi: 66-70)

Seandainya ia seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa as tidak akan berdiaog atau berbicara dengannya dengan cara yang demikian dan ia tidak akan menjawab kepada Musa as dengan jawaban yang demikian. Bila ia bukan seorang nabi maka berarti ia tidak maksum sehingga Musa as tidak harus memperoleh ilmu dari seseorang wali yang tidak maksum.

Ketiga, Khidir as menunjukkan keberaniannya untuk membunuh anak kecil itu melalui wahyu dari Allah SWT dan perintah dariNya. Ini adalah dalil tersendiri yang menunjukkan kenabiannya dan bukti kuat yang menunjukkan kemaksumannya. Sebab, seorang wali tidak boleh membunuh jiwa yang tidak berdosa dengan hanya berdasarkan kepada keyakinannya dan hatinya. Boleh jadi apa yang terlintas dalam hatinya tidak selalu maksum karena terkadang ia membuat kesalahan. Jadi, keberanian Khidir as untuk membunuh anak kecil itu sebagai bukti kenabiannya.

Keempat, perkataan Khidir as kepada Musa as:“Sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. ” (QS. al Kahfi: 82)

Yakni, apa yang aku lakukan bukan dari doronganku sendiri namun ia merupakan perintah dari Allah SWT dan wahyu dariNya. Demikianlah pendapat para ulama dan para ahli zuhud. Para ulama berpendapat bahwa Khidir as adalah seorang Nabi sedangkan para ahli zuhud dan para tokoh sufi berpendapat bahwa Khidir as adalah seorang wali dari wali-wali Allah SWT.

Salah satu pernyataan Khidir as yang sering dikemukakan oleh tokoh sufi adalah perkataan Wahab bin Munabeh, Khidir as berkata: “Wahai Musa as, manusia akan disiksa di dunia sesuai dengan kadar kecintaan mereka atau kecenderungan mereka terhadapnya (dunia).” Sedangkan Bisyir bin Harits al-Hafi berkata: “Musa as berkata kepada Khidir as: “Berilah aku nasihat.” Khidir as menjawab: “Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kamu untuk taat kepada-Nya.”

Para ulama dan para ahli zuhud berselisih pendapat tentang Khidir as dan setiap mereka mengklaim kebenaran pendapatnya. Perbedaan pendapat ini berujung pangkal kepada anggapan para ulama bahwa mereka adalah sebagai pewaris para nabi, sedangkan kaum sufi menganggap diri mereka sebagai ahli hakikat yang mana salah satu tokoh terkemuka dari ahli hakikat itu adalah Khidir as.

Kami sendiri cenderung untuk menganggap Khidir as sebagai seorang nabi karena beliau menerima ilmu laduni. Yang jelas, kita tidak mendapati nas yang jelas dalam konteks Al-Qur’an yang menunjukkan kenabiannya dan kita juga tidak menemukan nas yang gamblang yang dapat kita jadikan sandaran untuk menganggapnya sebagai seorang wali yang diberi oleh Allah SWT sebagian ilmu laduni.

Barangkali kesamaran seputar pribadi yang mulia ini memang disengaja agar orang yang mengikuti kisah tersebut mendapatkan tujuan utama dari inti cerita. Hendaklah kita berada di batas yang benar dan tidak terlalu jauh
mempersoalkan kenabiannya atau kewaliannya. Yang jelas, ketika kami memasukkannya dalam jajaran para nabi karena ia adalah seorang guru dari Musa as dan seorang ustadz baginya untuk beberapa waktu

Tambahan...

Inilah kisah yang menarik mengenai Hakikat dan Syariat, perlu disadari Hakikat adalah cerminan dari takdir yang berjalan sedangkan syariat adalah tuntunan hidup yang baik. Hakikat tanpa diiringi Syariat adalah kurang baik begitu pula dengan syariat tanpa diiringi dengan hakikat. Hakikat adalah tuntunan ilmu agar kita selalu bersyukur dan ikhlas kepada Allah SWT dengan menerima apa yang ada, kenyataan hidup ini tidak usahlah kita terlarut dalam penyesalan dan mempersalahkannya. Syariaat merupakan tuntunan hidup untuk mencari ridho Allah SWT, maka dari itu bersungguh-sungguhlah kita dalam menjalankan ibadah dan melakukannya hanya karna Allah SWT tanpa ada rasa ria dan sombong. Tersenyumlah karena itu cerminan Hakikat dan Syariat.. \)
Mundur...
NABI KHIDIR AS (Didalam Islam) Part 3
Gulley - 16/08/2011 12:59 PM
#55
Hanya 3 orang Majus
Menurut sebuah cerita kuno, ketika 3 orang Majus mengikuti bintang Betlehem, mereka juga sampai di rumah seorang wanita. Mereka mengatakan kepadanya, "Mari ikutilah kami! Kami telah melihat bintangnya di Timur dan kami ingin datang mempersembahkan pada DIA."

Wanita itu menjawab, "Saya ingin pergi. Sata mendengar bahwa Dia akan datang pada suatu hari dan saya akan memperhatikan itu. Tetapi saya tidak dapat mengikuti kalian sekarang. Saya harus mengatur rumah saya terlebih dahulu, lalu saya akan segera mengikuti kalian untuk menemui DIA."

Tetapi ketika pekerjaan wanita itu sudah selesai dilakukan, 3 orang Majus itu sudah pergi meninggalkan nya, dan wanita itu tidak dapat kesempatan melihat dan mempersembahkan untuk Bayi Yesus
Zakarriaa - 17/08/2011 12:47 AM
#56
Niat Taubat Menukar Arak Menjadi Madu
Quote:
Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau terserempak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?" Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. Walhal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang bercakap bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus minum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang ditegah oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditegah oleh agama itu.

Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu." Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah s.w.t. seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.

Allah Taala berfirman: "Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunahnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari 'Nahrul Khabal'.
Ketika ditanya, "Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?" Jawab Rasulullah s.a.w., "Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! "
Zakarriaa - 17/08/2011 12:55 AM
#57
Permohonan Si kaya dan Si miskin
Quote:
Nabi Musa a.s. memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa a.s..

Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa a.s., "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar Allah s.w.t. menjadikan aku orang yang kaya." Nabi Musa a.s. tersenyum dan berkata kepada orang itu, "Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, "Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa a.s..

Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa a.s., "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah s.w.t. permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu." Nabi Musa a.s.pun tersenyum, lalu ia berkata, "Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah s.w.t.". "Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Allah s.w.t.?. Allah s.w.t. telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah s.w.t. telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah s.w.t. tambah kekayaannya kerana ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah s.w.t. mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua kerana ia tidak mau bersyukur kepada Allah s.w.t.
Zakarriaa - 17/08/2011 01:29 AM
#58
Rela Dimasukan kedalam Neraka
Quote:
Nabi Musa AS suatu hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Nabi Musa AS melihat seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, Wahai Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun tanpa melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT akan meletakkanku di Syurga-Nya?. Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah. Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu.

Nabi Musa AS kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya bahawa Aku akan meletakkannya di dasar Neraka-Ku yang paling dalam". Nabi Musa AS kemudian mengkhabarkan kepada orang tersebut apa yang telah difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS. Malamnya ahli ibadah itu terus berfikir mengenai keadaan dirinya. Ia juga mulai terfikir bagaimana dengan keadaan saudara-saudaranya, temannya, dan orang lain yang mereka baru beribadah selama 200 tahun, 300 tahun, dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya, di mana lagi tempat mereka kelak di akhirat.

Keesokan harinya ia menjumpai Nabi Musa AS kembali. Ia kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Musa AS, aku rela Allah SWT memasukkan aku ke dalam Neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam Neraka maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu Neraka tertutup oleh tubuhku jadi tidak akan ada seorang pun akan masuk ke dalamnya". Nabi Musa AS menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa AS maka Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepada umatmu itu bahawa sekarang Aku akan menempatkannya di Syurgaku yang paling tinggi".
Zakarriaa - 17/08/2011 01:35 AM
#59
Pahlawan Neraka
Quote:
Suatu hari satu pertempuran telah berlaku di antara pihak Islam dengan pihak Musyrik. Kedua-dua belah pihak berjuang dengan hebat untuk mengalahkan antara satu sama lain. Tiba saat pertempuran itu diberhentikan seketika dan kedua-dua pihak pulang ke markas masing-masing.

Di sana Nabi Muhammad S.A.W dan para sahabat telah berkumpul membincangkan tentang pertempuran yang telah berlaku itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih terbayang-bayang di ruang mata. Dalam perbincangan itu, mereka begitu kagum dengan salah seorang dari sahabat mereka iaitu, Qotzman. Semasa bertempur dengan musuh, dia kelihatan seperti seekor singa yang lapar membaham mangsanya. Dengan keberaniannya itu, dia telah menjadi buah mulut ketika itu.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat.

Mendengar perkataan itu, Rasulullah pun menjawab, "Sebenarnya dia itu adalah golongan penduduk neraka."

Para sahabat menjadi hairan mendengar jawapan Rasulullah itu. Bagaimana seorang yang telah berjuang dengan begitu gagah menegakkan Islam boleh masuk dalam neraka. Para sahabat berpandangan antara satu sama lain apabila mendengar jawapan Rasulullah itu.

Rasulullah sedar para sahabatnya tidak begitu percaya dengan ceritanya, lantas baginda berkata, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam oleh pihak musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Dengan segera Qotzman meletakkan pedangnya ke atas tanah, manakala mata pedang itu pula dihadapkan ke dadanya. Lalu dia terus membenamkan mata pedang itu ke dalam dadanya."

"Dia melakukan perbuatan itu adalah kerana dia tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya. Akhirnya dia mati bukan kerana berlawan dengan musuhnya, tetapi membunuh dirinya sendiri. Melihatkan keadaannya yang parah, ramai orang menyangka yang dia akan masuk syurga. Tetapi dia telah menunjukkan dirinya sebagai penduduk neraka."

Menurut Rasulullah S.A.W lagi, sebelum dia mati, Qotzman ada mengatakan, katanya, "Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang."

Riwayat ini telah dirawikan oleh Luqman Hakim.
Zakarriaa - 17/08/2011 01:41 AM
#60
Riak Memusnahkan Pahala
Quote:
Syidad bin Ausi berkata, "Suatu hari saya melihat Rasulullah S.A.W sedang menangis, lalu saya pun bertanya beliau, Ya Rasulullah, mengapa anda menangis?"

Sabda Rasulullah S.A.W, "Ya Syidad, aku menangis kerana khuatir terhadap umatku akan perbuatan syirik, ketahuilah bahawa mereka itu tidak menyembah berhala tetapi mereka berlaku riak dengan amalan perbuatan mereka."

Rasulullah bersabda lagi, "Para malaikat penjaga akan naik membawa amal perbuatan para hamba dari puasanya, solatnya, dermanya dan sebagainya. Para malaikat itu mempunyai suara seperti suara lebah dan mempunyai sinar matahari dan bersama mereka itu 3,000 malaikat dan mereka membawa ke langit ke tujuh."

Malaikat yang diserahi ke langit berkata kepada para malaikat penjaga, "Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan ini ke muka pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya menghalangi sampainya kepada Tuhan saya setiap amal perbuatan yang tidak dikehendaki untuk Tuhan selain daripada Allah (membuat sesuatu amal bukan kerana Allah)."

"Berlaku riak di kalangan ahli fiqh adalah kerana inginkan ketinggian supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan para ulama pula untuk menjadi popular di kota dan di kalangan umum. Allah S.W.T telah memerintahkan agar saya tidak membiarkan amalnya melewati saya akan sampai selain kepada saya."

Malaikat penjaga membawa amal orang-orang soleh dan kemudian dibawa oleh malaikat di langit sehingga terbuka semua aling-aling dan sampai kepada Allah S.W.T. Mereka berhenti di hariban Allah dan memberikan persaksian terhadap amal orang tersebut yang betul-betul soleh dan ikhlas kerana Allah.

Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Kamu semua adalah para malaikat Hafazdah (malaikat penjaga) pada amal-amal perbuatan hamba-Ku, sedang Aku-lah yang mengawasi dan mengetahui hatinya, bahawa sesungguhnya dia menghendaki amal ini bukan untuk-Ku, laknat para malaikat dan laknat segala sesuatu di langit."
Page 3 of 16 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Spiritual > Semua Cerita Bermakna (Semua Kepercayaan)