Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah
Total Views: 27159 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 1 of 43 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›

overloadrecords - 12/09/2011 07:56 AM
#1
[DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah
Sejarah Munculnya Syi’ah (maaf kalau repostsumber : www.alhassanain.com)



thx to Ekspresi2nd & n'DhiK (special quotes)
Quote:

menjadi sebuah ironi adalah lahirnya budaya mengkafirkan (takfir) sesama Muslim

beberapa ayat berhubungan dengan Nietzschean:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir...." (Al-Kahfi: 29)

كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

"....demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka..." (Al-An'aam: 108)

jadi, kebenaran (al-haq) itu milik Allah, manusia tempatnya kealpaan dan khilaf, jangan merasa diri kita benar atau paling benar, atau malah merasa sudah berada di jalan yang benar..
.


a.Kapan Syi’ah Muncul?

Syi’ah sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib a.s. (imam pertama kaum Syi’ah) sudah muncul sejak Rasulullah SAWW masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita-realita berikut ini:

Pertama, ketika Rasulullah SAWW mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya masuk Islam, ia berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kalian yang siap untuk mengikutiku, maka ia akan menjadi pengganti dan washiku setelah aku meninggal dunia”. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk mengikutinya kecuali Ali a.s. Sangat tidak masuk akal jika seorang pemimpin pergerakan --di hari pertama ia memulai langkah-langkahnya--memperkenalkan penggantinya setelah ia wafat kepada orang lain dan tidak memperkenalkanya kepada para pengikutnya yang setia. Atau ia mengangkat seseorang untuk menjadi penggantinya, akan tetapi, di sepanjang masa aktifnya pergerakan tersebut ia tidak memberikan tugas sedikit pun kepada penggantinya dan memperlakukannya sebagaimana orang biasa. Keberatan-keberatan di atas adalah bukti kuat bahwa Imam Ali a.s. setelah diperkenalkan sebagai pengganti dan washi Rasulullah SAWW di hari pertama dakwah, memiliki misi yang tidak berbeda dengan missi Rasulullah SAWW dan orang yang mengikutinya berarti ia juga mengikuti Rasulullah SAWW.

Kedua, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir yang dinukil oleh Ahlussunnah dan Syi’ah, Rasulullah SAWW pernah bersabda bahwa Imam Ali a.s. terjaga dari setiap dosa dan kesalahan, baik dalam ucapan maupun perilaku. Semua tindakan dan perilakunya sesuai dengan agama Islam dan ia adalah orang yang paling tahu tentang Islam.

Ketiga, Imam Ali a.s. adalah sosok figur yang telah berhasil menghidupkan Islam dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah lakukannya. Seperti, ia pernah tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW di malam peristiwa lailatul mabit ketika Rasulullah SAWW hendak berhijrah ke Madinah dan kepahlawannya di medan perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Seandainya pengorbanan-pengorbanan tersebut tidak pernah dilakukannya, niscaya Islam akan sirna di telan gelombang kebatilan.

Keempat, peristiwa Ghadir Khum adalah puncak keistimewaan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s. Sebuah peristiwa --yang seandainya dapat direalisasikan sesuai dengan kehendak Rasulullah SAWW-- akan memberikan warna lain terhadap Islam.

Semua keistimewaan dan keistimewaan-keistimewaan lain yang diakui oleh Ahlussunnah bahwa semua itu hanya dimiliki oleh Imam Ali a.s. secara otomatis akan menjadikan sebagian pengikut Rasulullah SAWW yang memang mencintai kesempurnaan dan hakikat, akan mencintai Imam Ali a.s. dan lebih dari itu, akan menjadi pengikutnya. Dan tidak menutup kemungkinan bagi sebagian pengikutnya yang memang memendam rasa dengki di hati kepada Imam Ali a.s., untuk membencinya meskipun mereka melihat ia telah berjasa dalam mengembangkan dan menjaga Islam dari kesirnaan.

b.Mengapa Minoritas Syi’ah berpisah dari mayoritas Ahlussunnah?

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s., para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Rasulullah SAWW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Rasulullah SAWW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAWW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali a.s. yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Rasulullah SAWW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali a.s. seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali a.s. setelah Rasulullah SAWW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali a.s. untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali a.s. tampil aktif dalam memecahkannya.
overloadrecords - 12/09/2011 07:58 AM
#2

d. Keberhasilan-keberhasilan Pemerintahan Imam Ali a.s.

Meskipun Imam Ali a.s. tidak berhasil memapankan kembali situasi masyarakat Islam yang sudah bobrok itu secara sempurna, akan tetapi, dalam tiga segi ia dapat dikatakan berhasil:

Pertama, dengan kehidupan sederhana yang dimilikinya, ia berhasil menunjukkan kepada masyarakat luas, khususnya para generasi baru, metode hidup Rasulullah SAWW yang sangat menarik dan pantas untuk diteladani. Hal ini berlainan sekali dengan kehidupan Mu’awiyah yang serba mewah. Ia a.s. tidak pernah mendahulukan kepentingan keluarganya atas kepentingan umum.

Kedua, dengan segala kesibukan dan problema sosial yang dihadapinya, ia masih sempat meninggalkan warisan segala jenis ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan masyarakat dan dapat dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk mencapai tujuan hidup insani yang sebenarnya. Ia mewariskan sebelas ribu ungkapan-ungkapan pendek dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan rasional, sosial dan keagamaan. Ia adalah pencetus tata bahasa Arab dan orang pertama yang mengutarakan pembahasan-pembahasan filosofis yang belum pernah dikenal oleh para filosof kaliber kala itu. Dan ia juga orang pertama dalam Islam yang menggunakan argumentasi-argumentasi rasional dalam menetapkan sebuah pembahasan filosofis.

Ketiga, ia berhasil mendidik para pakar agama Islam yang dijadikan sumber rujukan dalam bidang ilmu ‘irfan oleh para ‘arif di masa sekarang, seperti Uwais Al-Qarani, Kumail bin Ziyad, Maitsam At-Tammar dan Rusyaid Al-H^ajari.

e.Masa Sulit bagi Kaum Syi’ah

Setelah Imam Ali a.s. syahid di mihrab shalatnya, masyarakat waktu itu membai’at Imam Hasan a.s. untuk memegang tampuk khilafah. Setelah ia dibai’at, Mu’awiyah tidak tinggal diam. Ia malah mengirim pasukan yang berjumlah cukup besar ke Irak sebagai pusat pemerintahan Islam waktu itu untuk mengadakan peperangan dengan pemerintahan yang sah. Dengan segala tipu muslihat dan iming-iming harta yang melimpah, Mu’wiyah berhasil menipu para anggota pasukan Imam Hasan a.s. dan dengan teganya mereka meninggalkannya sendirian. Melihat kondisi yang tidak berpihak kepadanya dan dengan meneruskan perang Islam akan hancur, dengan terpaksa ia harus mengadakan perdamaian dengan Mu’awiyah. (Butir-butir perjanjian ini dapat dilihat di sejarah 14 ma’shum a.s.)

Setelah Mu’awiyah berhasil merebut khilafah dari tangan Imam Hasan a.s. pada tahun 40 H., --sebagaimana layaknya para pemeran politik kotor-- ia langsung menginjak-injak surat perdamaian yang telah ditandatanganinya. Dalam sebuah kesempatan ia pernah berkata: “Aku tidak berperang dengan kalian karena aku ingin menegakkan shalat dan puasa. Sesungguhnya aku hanya ingin berkuasa atas kalian, dan aku sekarang telah sampai kepada tujuanku”.

Dengan demikian, Mu’awiyah ingin menghidupkan kembali sistem kerajaan sebagai ganti dari sistem khilafah sebagai penerus kenabian. Hal ini diperkuat dengan diangkatnya Yazid, putranya sebagai putra mahkota dan penggantinya setelah ia mati.

Mua’wiyah tidak pernah memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi’ah untuk bernafas dengan tenang. Setiap ada orang yang diketahui sebagai pengikut Syi’ah, ia akan langsung dibunuh di tempat. Bukan hanya itu, setiap orang yang melantunkan syair yang berisi pujian terhadap keluarga Ali a.s., ia akan dibunuh meskipun ia bukan pengikut Syi’ah. Tidak cukup sampai di sini saja, ia juga memerintahkan kepada para khotib shalat Jumat untuk melaknat dan mencerca Imam Ali a.s. Kebiasaan ini berlangsung hingga masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99-101 H.

Masa pemerintahan Mu’awiyah (selama 20 tahun) adalah masa tersulit bagi kaum Syi’ah di mana mereka tidak pernah memiliki sedikit pun kesempatan untuk bernafas.

Mayoritas pengikut Ahlussunnah menakwilkan semua pembunuhan yang telah dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu’awiyah itu dengan berasumsi bahwa mereka adalah sahabat Nabi SAWW dan semua perilaku mereka adalah ijtihad yang dilandasi oleh hadis-hadis yang telah mereka terima darinya. Oleh karena itu, semua perilkau mereka adalah benar dan diridhai oleh Allah SWT. Seandainya pun mereka salah dalam menentukan sikap dan perilaku, mereka akan tetap mendapatkan pahala berdasarkan ijtihad tang telah mereka lakukan.

Akan tetapi, Syi’ah tidak menerima asumsi di atas dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, tidak masuk akal jika seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran, keadilan dan kebebasan dan mengajak orang-orang yang ada si sekitarnya untuk merealisasikan hal itu, setelah tujuan yang diinginkannya itu terwujudkan, ia merusak sendiri cita-citanya dengan cara memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya, dan segala kesalahan, perampasan hak orang lain dengan segala cara, serta tindakaan-tindakan kriminal yang mereka lakukan dimaafkan.

Kedua, hadis-hadis yang “menyucikan” para sahabat dan membenarkan semua perilaku non-manusiwi mereka berasal dari para sahabat sendiri. Dan sejarah membuktikan bahwa mereka tidak pernah memperhatikan hadis-hadis di atas. Mereka saling menuduh, membunuh, mencela dan melaknat. Dengan bukti di atas, keabsahan hadis-hadis di atas perlu diragukan.

Mu’awiyah menemui ajalnya pada tahun 60 H. dan Yazid, putranya menduduki kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam. Sejarah membuktikan bahwa Yazid adalah sosok manusia yang tidak memiliki kepribadian luhur sedikit pun. Kesenangannya adalah melampiaskan hawa nafsu dan segala keinginannya. Dengan latar belakangnya yang demikian “cemerlang”, tidak aneh jika di tahun pertama memerintah, ia tega membunuh Imam Husein a.s., para keluarga dan sahabatnya dengan dalih karena mereka enggan berbai’at dengannya. Setelah itu, ia menancapkan kepala para syahid tersebut di ujung tombak dan mengelilingkannya di kota-kota besar; Di tahun kedua memerintah, ia mengadakan pembunuhan besar-besaran di kota Madinah dan menghalalkan darah, harta dan harga diri penduduk Madinah selama tiga hari kepada para pasukannya; Di tahun ketiga memerintah, ia membakar Ka’bah, kiblat muslimin.

Setelah masa Yazid dengan segala kebrutalannya berlalu, Bani Marwan yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Bani Umaiyah menggantikan kedudukannya. Mereka pun tidak kalah kejam dan keji dari Yazid. Mereka berhasil berkuasa selama 70 tahun dan jumlah khalifah dari dinasti mereka adalah sebelas orang. Salah seorang dari mereka pernah ingin membuat sebuah kamar di atas Ka’bah dengan tujuan untuk melampiaskan hawa nafsunya di dalamnya ketika musim haji tiba.

Dengan melihat kelaliman yang dilakukan oleh para khalifah waktu itu, para pengikut Syi’ah makin kokoh dalam memegang keyakinan mereka. Di akhir-akhir masa kekuasaan Bani Umaiyah, mereka dapat menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa mereka masih memilliki eksistensi dan mampu untuk melawan para penguasa lalim. Di masa keimamahan Imam Muhammad Baqir a.s. dan belum 40 tahun berlalu dari terbunuhnya Imam Husein a.s., para pengikut Syi’ah yang berdomisili di berbagai negara dengan memanfaatkan kelemahan pemerintahan Bani Umaiyah karena tekanan-tekanan dari para pemberontak yang tidak puas dengan perilaku mereka, datang ke Madinah untuk belajar dari Imam Baqir a.s. Sebelum abad ke-1 H. usai, beberapa pembesar kabilah di Iran membangun kota Qom dan meresmikannya sebagai kota pemeluk Syi’ah. Beberapa kali para keturunan Imam Ali a.s. karena tekanan yang dilakukan oleh Bani Umaiyah atas mereka, mengadakan pemberontakan-pemberontakan melawan penguasa dan perlawanan mereka --meskipun mengalami kekalahan-- sempat mengancam keamanan pemerintah. Realita ini menunjukkan bahwa eksistensi Syi’ah belum sirna.

Dikarenakan kelaliman dinasti Bani Umaiyah yang sudah melampui batas, opini umum sangat membenci dan murka terhadap mereka. Setelah dinasti mereka runtuh dan penguasa terkahir mereka (Marwan ke-2 yang juga dikenal dengan sebutan Al-Himar, berkuasa dari tahun 127-132 H.) dibunuh, dua orang putranya melarikan diri bersama keluarganya. Mereka meminta suaka politik kepada berbagai negara, dan mereka enggan memberikan suaka politik kepada para pembunuh keluarga Rasulullah SAWW tersebut. Setelah mereka terlontang-lantung di gurun pasir yang panas, mayoritas mereka binasa karena kehausan dan kelaparan. Sebagian yang masih hidup pergi ke Yaman, dan kemudian dengan berpakaian compang-camping ala pengangkat barang di pasar-pasar mereka berhasil memasuki kota Makkah. Di Makkah pun mereka tidak berani menampakkan batang hidung, mungkin karena malu atau karena sebab yang lain.
overloadrecords - 12/09/2011 08:00 AM
#3

f. Syi’ah Pada Abad Ke-2 H.

Di akhir-akhir sepertiga pertama abad ke-2 H., karena kelaliman dinasti Bani Umaiyah, muncul sebuah pemberontakan dari arah Khurasan, Iran dengan mengatasnamakan Ahlu Bayt a.s. Pemberontakan ini dipelopori oleh seorang militer berkebangsaan Iran yang bernama Abu Muslim Al-Marwazi. Dengan syiar ingin membalas dendam atas darah Ahlu Bayt a.s., ia memulai perlawanannya terhadap dinasti Bani Umaiyah. Banyak masyarakat yang tergiur dengan syiar tersebut sehingga mereka mendukung pemberontakannya. Akan tetapi, pemberontakan ini tidak mendapat dukungan dari Imam Shadiq a.s. Ketika Abu Muslim menawarkan kepadanya untuk dibai’at sebagai pemimpin umat, ia menolak seraya berkata: “Engkau bukanlah orangku dan sekarang bukan masaku untuk memberontak”.

Setelah mereka berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umaiyah, di hari-hari pertama berkuasa mereka memperlakukan para keturunan Imam Ali a.s. dengan baik, dan demi membalas dendam atas darah mereka yang telah dikucurkan, mereka membunuh semua keturunan Bani Umaiyah. Bahkan, mereka menggali kuburan-kuburan para penguasa Bani Umaiyah untuk dibakar jenazah mereka. Tidak lama berlalu, mereka mulai mengadakan penekanan-penekanan serius terhadap para keturunan Imam Ali a.s. dan para pengikut mereka serta orang-orang yang simpatik kepada mereka. Abu Hanifah pernah dipenjara dan disiksa oleh Manshur Dawaniqi dan Ahmad bin Hanbal juga pernah dicambuk olehnya. Imam Shadiq a.s. setelah disiksa dengan keji, dibunuh dengan racun dan para keturunan Imam Ali a.s. dibunuh atau dikubur hidup-hidup.

Kesimpulannya, kondisi para pengikut Syi’ah pada masa berkuasanya dinasti Bani Abasiah tidak jauh berbeda dengan kondisi mereka pada masa dinasti Bani Umaiyah.

g.Syi’ah Pada Abad Ke-3 H.

Dengan masuknya abad ke-3 H., para pengikut Syi’ah Imamiah mendapatkan kesempatan baru untuk mengembangkan missi mereka. Mereka dapat menikmati sedikit keleluasaan untuk mengembangkan dakwah di berbagai penjuru. Faktornya adalah dua hal berikut:

Pertama, banyaknya buku-buku berbahasa Yunani dan Suryani dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan masyarakat bersemangat untuk memperlajari ilmu-ilmu rasional dengan antusias. Di samping itu, peran Ma`mun Al-Abasi (195-218 H.) juga tidak patut dilupakan. Ia menganut mazhab Mu’tazilah yang sangat mendorong para pengikutnya untuk mengembangkan dan mempelajari argumentasi-argumentasi rasional. Oleh karena itu, ia memberikan kebebasan penuh kepada para pemikir dan teolog setiap agama untuk menyebarkan teologi dan keyakinan mereka masing-masing. Para pengikut Syi’ah tidak menyia-siakan kesempatan ini. Mereka mengembangkan jangkauan mazhab Syi’ah ke berbagai penjuru kota dan mengadakan dialog dengan para pemimpin agama lain demi mengenalkan keyakinan mazhab Syi’ah kepada khalayak ramai.

Kedua, Ma`mun Al-Abasi mengangkat Imam Ridha a.s. sebagai putra mahkota. Dengan ini, para keturunan Imam Ali a.s. dan sahabat mereka terjaga dari jamahan tangan para penguasa, dan menemukan ruang gerak yang relatif bebas.

Akan tetapi, kondisi ini tidak berlangsung lama. Karena setelah semua itu berlalu, politik kotor dinasti Bani Abasiyah mulai merongrong para keturunan Imam Ali a.s. dan pengikut mereka kembali. Khususnya pada masa Mutawakil Al-Abasi (232-247 H.). Atas perintahnya, kuburan Imam Husein a.s. di Karbala` diratakan dengan tanah.

h.Syi’ah Pada Abad ke-4 H.

Pada abad ke-4 H., dengan melemahnya kekuatan dinasti Bani Abasiyah dan kuatnya pengaruh para raja dinasti Alu Buyeh yang menganut mazhab Syi’ah di Baghdad (pusat khilafah Bani Abasiyah kala itu), terwujudlah sebuah kesempatan emas bagi para penganut Syi’ah untuk mengembangkan mazhab mereka dengan leluasa. Dengan demikian, --menurut pendapat para sejarawan--mayoritas penduduk jazirah Arab, seperti Hajar, Oman, dan Sha’dah, kota Tharablus, Nablus, Thabariah, Halab dan Harat menganut mazhab Syi’ah kecuali mereka yang berdomisili di kota-kota besar. Antara kota Bashrah sebagai pusat mazhab Ahlussunnah dan kota Kufah sebagai pusat mazhab Syi’ah selalu terjadi gesekan-gesekan antar mazhab. Tidak sampai di situ, penduduk kota Ahvaz dan Teluk Persia di Iran juga memeluk mazhab Syi’ah.

Di awal abad ini, seorang mubaligh yang bernama Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Hasan bin Ali bin Umar bin Ali bin Imam Husein a.s. yang dikenal dengan sebutan Nashir Uthrush (250-320 H.) melakukan aktifitas dakwahnya di Iran Utara dan berhasil menguasai Thabaristan. Lalu ia membentuk sebuah kerajaan di sana. Sebelumnya, Hasan bin Yazid Al-Alawi juga pernah berkuasa di daerah itu.

Pada abad ini juga tepatnya tahun 296-527 H., dinasti Fathimiyah yang menganut mazhab Syi’ah Isma’iliyah berhasil menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan besar di sana.

Sangat sering terjadi gesekan-gesekan antar mazhab di kota-kota seperti Bahgdad, Bashrah dan Nisyabur antara mazhab Ahlusunnah dan Syi’ah, dan di mayoritas gesekan antar mazhab tersebut, Syi’ah berhasil menang dengan gemilang.
overloadrecords - 12/09/2011 08:02 AM
#4

i. Syi’ah Pada Abad ke-5 hingga Abad ke-9 H.

Dari abad ke-5 hingga abad ke-9 H., sistematika perkembangan mazhab Syi’ah tidak jauh berbeda dengan sistematika perkembangannya pada abad ke-4. Perkembangannya selalu didukung oleh kekuatan pemerintah yang memang menganut mazhab Syi’ah. Di akhir abad ke-5 H., mazhab Syi’ah Isma’iliyah berkuasa di Iran selama kurang lebih satu setengah abad dan ia dapat menyebarkan ajaran-ajaran Syi’ah dengan leluasa. Dinasti Al-Mar’asyi bertahun-tahun berkuasa di Mazandaran, Iran. Setelah masa mereka berlalu, dinasti Syah Khudabandeh, silsilah kerajaan Mongol memeluk dan menyebarkan mazhab Syi’ah. Dan kemudian, raja-raja dari dinasti Aaq Quyunlu dan Qareh Quyunlu yang berkuasa di Tabriz dan kekuasaan mereka terbentang hingga ke daerah Kerman serta dinasti Fathimiyah di Mesir berhasil menyebarkan mazhab Syi’ah ke seluruh masyarakat ramai.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah dinasti Fathimiyah mengalami kehancuran dan dinati Alu Ayyub berkuasa, para pengikut Syi’ah mulai terikat kembali dan mereka tidak bebas menyebarkan mazhab mereka. Banyak para tokoh Syi’ah yang dipenggal kepalanya pada masa itu. Seperti Syahid Awal dan seorang faqih kenamaan Syi’ah, Muhammad bin Muhammad Al-Makki dipenggal kepalanya pada tahun 786 H. di Damaskus karena tuduhan menganut mazhab Syi’ah, dan Syeikh Isyraq, Syihabuddin Sahruwardi dipenggal kepalanya di Halab karena tuduhan mengajarkan filsafat.

j. Syi’ah Pada Abad ke-10 hingga ke-11 H.

Pada tahun 906 H., Syah Isma’il Shafawi yang masih berusia 13 tahun, salah seorang keturunan Syeikh Shafi Al-Ardabili (seorang syeikh thariqah di mazhab Syi’ah dan meninggal pada tahun 153 H.), ingin mendirikan sebuah negara Syi’ah yang mandiri. Akhirnya, ia mengumpulkan para Darwisy pengikut kakeknya dan mengadakan pemberontakan dimulai dari daerah Ardabil dengan cara memberantas sistem kepemimpinan kabilah yang dominan kala itu dan membebaskan seluruh daerah Iran dari cengkraman dinasti Utsmaniyah dengan tujuan supaya Iran menjadi negara yang tunggal. Dan ia berhasil mewujudkan cita-citanya tersebut sehingga sebuah kerajaan Syi’ah Imamiah terbentuk dan berdaulat kala itu. Setelah ia meninggal dunia, kerajaannya diteruskan oleh putra-putranya. Mazhab Syi’ah kala itu memiliki legistimasi hukum yang sangat kuat sehingga semua organ pemerintah menganut mazhab Syi’ah. Pada masa kecemerlangan dinasti Shafawiyah di bawah pimpinan Syah Abbas yang Agung, kuantitas pengikut Syi’ah mencapai dua kali lipat penduduk Iran pada tahun 1384 H.

k. Syiah Pada Abad ke-12 hingga ke-14 H.

Di tiga abad terakhir ini, mazhab Syi’ah berkembang dengan sangat pesat, khususnya setelah ia menjadi mazhab resmi Iran setelah kemenangan Revolusi Islam. Begitu juga di Yaman dan Irak, mayoritas penduduknya memeluk mazhab Syi’ah. Dapat dikatakan bahwa di setiap negara yang penduduknya muslim, akan ditemukan para pemeluk Syi’ah. Di masa sekarang, diperkirakan bahwa pengikut Syi’ah di seluruh dunia berjumlah 300.000 .000 lebih.
the.trickster - 14/09/2011 12:35 AM
#5

waaaah tritnya menarik banget nih.....izin baca dulu gan \)
avarrous - 14/09/2011 08:34 AM
#6

[SIZE="4"]Tolong donk Ini Tread Sejarah.. Bukan Tread Pemecah Belah... Tulisan anda Terkesan menyudutkan Golongan Yg lain ... Saya kira di wikipedia Sdh ada Info Mengenai Syiah ... Yg disana menurut saya lebih obyektif "Netral"[/SIZE]
avarrous - 14/09/2011 08:41 AM
#7

Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi'ah. Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.[rujukan?]

Etimologi
Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī شيعي.
"Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun)[1]
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.[2] Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.[3] Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.

Ikhtisar
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi'ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur'an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi'ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi'ah mengakui otoritas Imam Syi'ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi'ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.

Sebutan Rafidhah oleh Sunni
Sebutan Rafidhah ini erat kaitannya dengan sebutan Imam Zaid bin Ali yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik bin Marwan di tahun 121 H.[6]


Syaikh Abul Hasan Al-Asy'ari berkata: "Zaid bin Ali (Cicit Ali bin Abu Thalib) adalah seorang yang melebihkan Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai'atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: "Kalian tinggalkan aku?" Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka "Rafadhtumuunii".[7]

Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam "Majmu' Fatawa" (13/36) ialah bahwa Rafidhah pasti Syi'ah, sedangkan Syi'ah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syi'ah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi'ah Zaidiyyah.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar'."[8]

Baca aja di sini
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi'ah
merkapa - 14/09/2011 02:28 PM
#8

namanya juga aforum sejarah...
mau tanya di awal2nya apakah ada pertentangan antara Syiah dan Sunni seperti di Eropa dimana Katolik Vs Protestan?
Ekspresi2nd - 14/09/2011 02:31 PM
#9

Quote:
Original Posted By merkapa
namanya juga aforum sejarah...
mau tanya di awal2nya apakah ada pertentangan antara Syiah dan Sunni seperti di Eropa dimana Katolik Vs Protestan?


kalo pertentangan bahkan sampe sekarang pun sering terjadi konflik
kalo pada zaman awal2 dulu,,setau gw puncak konlik antara syiah dengan sunni adalah pemberontakan aisyah pada khalifah ali ( pemerintahan ali bisa dikatakan pemerintahan syiah )

CMIIW...

Thread bagus sayang banget diatas banyak yg nyampah mad:
javanissary - 14/09/2011 04:15 PM
#10

ini sebenarnya bisa menjadi trit sejarah yg bagus namun sayang terlalu Syi'ah minded...

btw, untuk hdits Ghadir Khum hingga skrg Sunni dan syi'ah masing2 mempunyai pendapat masing2 dan kukuh dgn pendapatnya sendiri2...

invoices septante
Ekspresi2nd - 14/09/2011 04:42 PM
#11

Quote:
Original Posted By javanissary
ini sebenarnya bisa menjadi trit sejarah yg bagus namun sayang terlalu Syi'ah minded...

btw, untuk hdits Ghadir Khum hingga skrg Sunni dan syi'ah masing2 mempunyai pendapat masing2 dan kukuh dgn pendapatnya sendiri2...

invoices septante


yah itu artikel pembukanya memang terlalu syi'ah,,tapi bisa di arahkan di diskusinya D

mungkin judulnya perlu ditambahkan [diskusi],,biar reader gak menelan mentah2
javanissary - 14/09/2011 05:04 PM
#12

Quote:
Original Posted By Ekspresi2nd
yah itu artikel pembukanya memang terlalu syi'ah,,tapi bisa di arahkan di diskusinya D

mungkin judulnya perlu ditambahkan [diskusi],,biar reader gak menelan mentah2


setuju sama ente gan...\)
milanizer - 14/09/2011 08:21 PM
#13

Quote:
Original Posted By javanissary
setuju sama ente gan...\)


hmm.. masih sebatas sejarahnya aja kan? kalo misalnya udah bawa2 aqidah tuh yang salah. kalo cuma share asal mulanya aja sih saya kira gapapa.
kutangbabeh17 - 14/09/2011 11:54 PM
#14

Quote:
Original Posted By Ekspresi2nd
kalo pertentangan bahkan sampe sekarang pun sering terjadi konflik
kalo pada zaman awal2 dulu,,setau gw puncak konlik antara syiah dengan sunni adalah pemberontakan aisyah pada khalifah ali ( pemerintahan ali bisa dikatakan pemerintahan syiah )

CMIIW...

Thread bagus sayang banget diatas banyak yg nyampah mad:

thrad yg berhub dgn Syiah selalu akan masuk di awal orang2 seperti yg agan bilang, dan mereka akan memulai melakukan postingan sampah dan memerahkan hati pengikut Syiah, pengalaman ane (bs cek thread2 terdahulu)ketika nanti dari kalangan Syiah membela penghakiman mereka, baru peserta thread yg lain menghardik, menyerukan kebaikkan dll (bahkan jd pertanyaan dmn KEADILAN para peserta ktk para penyampah dgn leluasa tanpa bantahan mereka diam, tanpa sikap adil bagaimana mau belajar objektif melihat sebuah sejarah apalagi gmn mau berdiskusi???), baru kali ini dari awal page sdh ada yg menghardik, smg peserta d thread ini lebih adil \)

klw diijinkan gue mau ikut diskusi dambil menikamati sebatang rokok...

Perang Jamal (Aisyah vs Imam Ali) dibilang puncak, dari segi apa gan???
Bukankah puncak perseteruan adalah di Perang Shiffin, dmn hingga sempat ada yg mengisahkan pertempuran berlangsung 3 hari tanpa jeda, dan membuat Negara Islam terpecah dua (dgn pemimpinnya Muawiyah dan Imam Ali)
Ekspresi2nd - 15/09/2011 12:00 AM
#15

Quote:
Original Posted By kutangbabeh17
thrad yg berhub dgn Syiah selalu akan masuk di awal orang2 seperti yg agan bilang, dan mereka akan memulai melakukan postingan sampah dan memerahkan hati pengikut Syiah, pengalaman ane (bs cek thread2 terdahulu)ketika nanti dari kalangan Syiah membela penghakiman mereka, baru peserta thread yg lain menghardik, menyerukan kebaikkan dll (bahkan jd pertanyaan dmn KEADILAN para peserta ktk para penyampah dgn leluasa tanpa bantahan mereka diam, tanpa sikap adil bagaimana mau belajar objektif melihat sebuah sejarah apalagi gmn mau berdiskusi???), baru kali ini dari awal page sdh ada yg menghardik, smg peserta d thread ini lebih adil \)

klw diijinkan gue mau ikut diskusi dambil menikamati sebatang rokok...

Perang Jamal (Aisyah vs Imam Ali) dibilang puncak, dari segi apa gan???
Bukankah puncak perseteruan adalah di Perang Shiffin, dmn hingga sempat ada yg mengisahkan pertempuran berlangsung 3 hari tanpa jeda, dan membuat Negara Islam terpecah dua (dgn pemimpinnya Muawiyah dan Imam Ali)


ow iya pertempuran shiffin,,lupa2 inget soalnya gan D
tadi ingetnya cuma perang jamal aja malu:

kalo untuk masalah postingan sampah,,yah tinggal report ke momod aja,,minta delete...gw juga pengen nyimak diskusi dari mereka2 yang paham tentang sejarah ini,,lumayan tambah ilmu D...soalnya gw tertarik dengan topik ini.
avarrous - 15/09/2011 02:37 AM
#16

Quote:
Original Posted By milanizer
hmm.. masih sebatas sejarahnya aja kan? kalo misalnya udah bawa2 aqidah tuh yang salah. kalo cuma share asal mulanya aja sih saya kira gapapa.


- SEEP Kalau ini Ane Setuju Sama Agan ..... Soalnya diawal tread Sudah Mengarah Syiah .... selama hanya informasi Mengenai Aqidah :
1. Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan
2. Furu'uddin {masalah penerapan agama)

Ngak masalah menurut ane sih gan
overloadrecords - 16/09/2011 12:08 AM
#17

Quote:
Original Posted By merkapa
namanya juga aforum sejarah...
mau tanya di awal2nya apakah ada pertentangan antara Syiah dan Sunni seperti di Eropa dimana Katolik Vs Protestan?


beda gan,awalnya dari peristiwa ghadirkhum,yg banyaak di uraikan oleh hadis2 umum di islam

Quote:
Original Posted By Ekspresi2nd
kalo pertentangan bahkan sampe sekarang pun sering terjadi konflik
kalo pada zaman awal2 dulu,,setau gw puncak konlik antara syiah dengan sunni adalah pemberontakan aisyah pada khalifah ali ( pemerintahan ali bisa dikatakan pemerintahan syiah )

CMIIW...

Thread bagus sayang banget diatas banyak yg nyampah mad:


perang jamal.perang siffin,tapi puncak bgt jelas kok tragedi karbala yg pasti buat semua muslim jadi sedih

Quote:
Original Posted By javanissary
ini sebenarnya bisa menjadi trit sejarah yg bagus namun sayang terlalu Syi'ah minded...

btw, untuk hdits Ghadir Khum hingga skrg Sunni dan syi'ah masing2 mempunyai pendapat masing2 dan kukuh dgn pendapatnya sendiri2...

invoices septante


bebas kok pendapat masing2 asal wara dan logis dalam berpendapat,ngga boleh pake dogma buta atau taqlid buta(kita berharap semua muslim dapat kebenaran tanpa saling keras hati D)

Quote:
Original Posted By Ekspresi2nd
yah itu artikel pembukanya memang terlalu syi'ah,,tapi bisa di arahkan di diskusinya D

mungkin judulnya perlu ditambahkan [diskusi],,biar reader gak menelan mentah2


kalo di forum spiritual jadi tread syiah,tapi ini forum sejarah,yg hujahnya berdasarkan data *history ,bukan story*


Quote:
Original Posted By milanizer
hmm.. masih sebatas sejarahnya aja kan? kalo misalnya udah bawa2 aqidah tuh yang salah. kalo cuma share asal mulanya aja sih saya kira gapapa.


aqidah adanya di dada masing2 insan,agama ngga boleh dipaksakan,silahkan berhujah dalam bentuk diskusi yang baik tanpa emosi \)

Quote:
Original Posted By kutangbabeh17
thrad yg berhub dgn Syiah selalu akan masuk di awal orang2 seperti yg agan bilang, dan mereka akan memulai melakukan postingan sampah dan memerahkan hati pengikut Syiah, pengalaman ane (bs cek thread2 terdahulu)ketika nanti dari kalangan Syiah membela penghakiman mereka, baru peserta thread yg lain menghardik, menyerukan kebaikkan dll (bahkan jd pertanyaan dmn KEADILAN para peserta ktk para penyampah dgn leluasa tanpa bantahan mereka diam, tanpa sikap adil bagaimana mau belajar objektif melihat sebuah sejarah apalagi gmn mau berdiskusi???), baru kali ini dari awal page sdh ada yg menghardik, smg peserta d thread ini lebih adil \)

klw diijinkan gue mau ikut diskusi dambil menikamati sebatang rokok...

Perang Jamal (Aisyah vs Imam Ali) dibilang puncak, dari segi apa gan???
Bukankah puncak perseteruan adalah di Perang Shiffin, dmn hingga sempat ada yg mengisahkan pertempuran berlangsung 3 hari tanpa jeda, dan membuat Negara Islam terpecah dua (dgn pemimpinnya Muawiyah dan Imam Ali)


ditunggu sumber2 tambahannya gan,kita bahas sejarah kok,data yg mengalir jadi bahan pertimbangan bukan paksaan akidah,semua manusia mencari kebenaran karna tuhannya satu yang maha esa

Quote:
Original Posted By Ekspresi2nd
ow iya pertempuran shiffin,,lupa2 inget soalnya gan D
tadi ingetnya cuma perang jamal aja malu:

kalo untuk masalah postingan sampah,,yah tinggal report ke momod aja,,minta delete...gw juga pengen nyimak diskusi dari mereka2 yang paham tentang sejarah ini,,lumayan tambah ilmu D...soalnya gw tertarik dengan topik ini.


kalo abis nyampah dibersihin kan enak sama tuan rumah,bisa nongkrong lagi deh gan,hehe

Quote:
Original Posted By avarrous
- SEEP Kalau ini Ane Setuju Sama Agan ..... Soalnya diawal tread Sudah Mengarah Syiah .... selama hanya informasi Mengenai Aqidah :
1. Ushuluddin (pokok-pokok agama) dan
2. Furu'uddin {masalah penerapan agama)

Ngak masalah menurut ane sih gan


belajar syiah ngga harus jadi syiah gan,ngga ada paksaan jadi syiah ,selama terjaga syahadat ,shalat dan zakat kita semua saudara gan,jangan ada takhfir diantara kita,kritik beda kok dengan mencela atau mengkafirkan,adab nya pun dengan adab quran dan ahlaq rasuluLLAH
overloadrecords - 16/09/2011 12:10 AM
#18

Quote:
Original Posted By avarrous
[SIZE="4"]Tolong donk Ini Tread Sejarah.. Bukan Tread Pemecah Belah... Tulisan anda Terkesan menyudutkan Golongan Yg lain ... Saya kira di wikipedia Sdh ada Info Mengenai Syiah ... Yg disana menurut saya lebih obyektif "Netral"[/SIZE]


Quote:
Original Posted By avarrous
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi'ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi'ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi'ah. Bentuk tunggal dari Syi'ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi'ah.[rujukan?]

Etimologi
Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī شيعي.
"Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun)[1]
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.[2] Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau.[3] Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.

Ikhtisar
Muslim Syi'ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi'ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur'an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.
Secara khusus, Muslim Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi'ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur'an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi'ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi'ah mengakui otoritas Imam Syi'ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi'ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.

Sebutan Rafidhah oleh Sunni
Sebutan Rafidhah ini erat kaitannya dengan sebutan Imam Zaid bin Ali yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada Khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul-Malik bin Marwan di tahun 121 H.[6]


Syaikh Abul Hasan Al-Asy'ari berkata: "Zaid bin Ali (Cicit Ali bin Abu Thalib) adalah seorang yang melebihkan Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai'atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: "Kalian tinggalkan aku?" Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka "Rafadhtumuunii".[7]

Pendapat Ibnu Taimiyyah dalam "Majmu' Fatawa" (13/36) ialah bahwa Rafidhah pasti Syi'ah, sedangkan Syi'ah belum tentu Rafidhah; karena tidak semua Syi'ah menolak Abu Bakar dan Umar sebagaimana keadaan Syi'ah Zaidiyyah.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau (Imam Ahmad) menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar'."[8]

Baca aja di sini
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi'ah


Quote:
Original Posted By overloadrecords
beda gan,awalnya dari peristiwa ghadirkhum,yg banyaak di uraikan oleh hadis2 umum di islam



perang jamal.perang siffin,tapi puncak bgt jelas kok tragedi karbala yg pasti buat semua muslim jadi sedih



bebas kok pendapat masing2 asal wara dan logis dalam berpendapat,ngga boleh pake dogma buta atau taqlid buta(kita berharap semua muslim dapat kebenaran tanpa saling keras hati D)



kalo di forum spiritual jadi tread syiah,tapi ini forum sejarah,yg hujahnya berdasarkan data *history ,bukan story*




aqidah adanya di dada masing2 insan,agama ngga boleh dipaksakan,silahkan berhujah dalam bentuk diskusi yang baik tanpa emosi \)



ditunggu sumber2 tambahannya gan,kita bahas sejarah kok,data yg mengalir jadi bahan pertimbangan bukan paksaan akidah,semua manusia mencari kebenaran karna tuhannya satu yang maha esa



kalo abis nyampah dibersihin kan enak sama tuan rumah,bisa nongkrong lagi deh gan,hehe



belajar syiah ngga harus jadi syiah gan,ngga ada paksaan jadi syiah ,selama terjaga syahadat ,shalat dan zakat kita semua saudara gan,jangan ada takhfir diantara kita,kritik beda kok dengan mencela atau mengkafirkan,adab nya pun dengan adab quran dan ahlaq rasuluLLAH


anda mau pake sumber manapun boleh kok,kita kan diskusi sehat,selama sumber datanya bisa dipertanggung jawabkan boleh dipake buat hujah,selama tidak saling mengkafirkan dan berhati keras,ane terima semua masukan agan D
cjik - 16/09/2011 08:30 AM
#19

buat yang syiah mau tanya nih, bener nggak setiap tahun orang2 syiah harus membayar yang namanya khums sebesar 20 % dari keuntungan pribadi ke Iran ?

kalau bener sama aja ngirim devisa secara cuma2 ke luar negeri nohope:

sorry kl pertanyaannya gak ada hubungannya ama sejarah
Ekspresi2nd - 16/09/2011 09:13 AM
#20

Quote:
Original Posted By cjik
buat yang syiah mau tanya nih, bener nggak setiap tahun orang2 syiah harus membayar yang namanya khums sebesar 20 % dari keuntungan pribadi ke Iran ?

kalau bener sama aja ngirim devisa secara cuma2 ke luar negeri nohope:

sorry kl pertanyaannya gak ada hubungannya ama sejarah


dsini gak ada syiah atau sunni om,,ini bukan forum spiritual,,jadi gak perlu pake latar belakang - latar belakang seperti itu.

si om bertanya seperti itu sumber nya dari mana ???
barusan gw googling kok gak nemu yah info seperti itu...
Page 1 of 43 |  1 2 3 4 5 6 >  Last ›
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah