Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah
Total Views: 27159 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 43 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

MrBurakkuSan - 20/09/2011 04:06 PM
#61

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
mas, kan saya sudah bilang mendukung dalam gerakan politik, bukan dalam gerakan keagamaan. Harap dibedakan.


Beliau melakukan dukungan tsb atas keprihatinan beliau bahwa ahlulbait nabi semuanya syahid di tangan dinasti yg berkuasa. ke 11 imam syi'ah keturunan nabi muhammad saw semuanya syahid di bunuh oleh dinasti yg berkuasa saat itu.

Saya rasa bukti2 kecintaan beliau pada 12 imam (ahlulbait) sudah sangat jelas dalam puisi2 beliau. Bukankah Imam Abu Hanifah dan Syafi'i juga belajar pada Imam Ja'far ash-Shadiq as? Bahkan hadis2 imam bnukhari pun banyak yg mengambil riwayat dari para perawi syi'ah. Banyak loh riwayat2 Imam Syafi'i yg menyatakan demikian. Lalu bagaimana dgn fakta beliau hampir di penggal oleh khalifah Harun Ar-Rasyid karena puisi-puisi beliau yang mencintai ahlul bait?


memang kecintaan terhadap ahlul bait adalah salah satu aqidah yang juga diyakini oleh sunni, selama ahlul bait itu masih muslim. Kami kaum sunni bertawally kepada mereka. Tapi dalam definisi sunni ahlul bait bukan cuma ketrurunan Ali. Apalagi itsna asyariah menetapkan bahwa imam 12 ke bawah turunan husein semua.

Bagi kami Aisyah binti Abu Bakr radhiallahu anhuma adalah ahlul bait, begitu pula utsman dzun nurain, begitu pula hafshah, mereka semua adalah ahlul bait. Dan sunni meyakini Imamain Hasan wal Husain adalah penghulu pemuda di surga, dan Fatimah adalah wanita langka dengan kesempurnaannya. Tapi sunni hanya mengakui hak kema'shuman pada Rasulullah. Imam Syafii mencintai ahlul bait, tapi tidak mengakui kema'shumannya. Sedangkan syiah pada hari ini adalah rofidhoh secara jumhur, cukup ngecek di Wikipedia saja, nggak usah susah2 membaca Buku Syekh Ihsan Ilahi Dhahir sampe abis.

Imam Ahli Hadits bahkan mengambil hadist dari beberapa perawi tsiqoh seperti Imam Jafar (yang diklaim oleh Itsna Asyariah sebagai Imam), bahkan salah satu dari imam shahihain (lupa saya, imam bukhari atau muslim) juga mengambil hadits dari dedengkot khawarij yang tsiqah/jujur/terpercaya. jadi jangan heran kalau imam Bukhari mengambil hadits dari imam Ja'far, sebab di kalangan sunni Jafar Ash-Shadiq diakui sebagai salafussalih. \)


Dan jangan lupa, hari ini nawasib sudah tidak ada, so?? ngapain masih menjadi syiah ?? bani Abbas juga ahlul bait Rasulullah \)
jalak pengkor - 20/09/2011 04:53 PM
#62

KEGIATAN INTELIJEN AGEN YAZID DI KUFAH PART 1

Saat Imam Husein tiba di Kufah, beliau bertemu dengan Hur bin Yazid yang membawa 1000 orang pasukan. Hur tetap bersama Imam Husein dgn tujuan agar Imam tidak bisa kembali ke Madinah. Kemudian dari sebuah bukti datang seseorang mengendarai kuda mebawa pedang dan busur, ia menyalami Hur tapi tidak menyalami Imam Husein dan pengikutnya. Orang itu membawa sebuah surat dari Ibnu Ziyad yang berbunyi :

"...Saat surat ini disampai pada mu oleh pembawa pesanku, tahanlah al-Husein. Buat dia berhenti di tempat yang tidak ada perlindungan dan air..." (sumber sejarah sunni : Tarikh at-tabari, vol 19 hal 102)

Yazid bin Ziyad bin al Muhasir Abu al-Shatha al Kindi yang bersama Imam Husein menatap pembawa pesan Ibn Ziyad tersebut dan mengenalinya. Lalu ia bertanya pada pembawa pesan tersebut :

"Apakah kamu Malik bin Nusair al Baddi? Yang lainnya menjawa : 'Benar'. Dia berasal dari suku Kindah. Yazid bin Ziyad berseru : 'Semoga ibumu di rampas darimu! Ada urusan apa kau kemari?'. Salah seorang yang lain membalas : 'Inilah urusan yang aku bawa, aku telah mematuhi pemimpinku dan tetap setia pada janji baiatku'. Abu al-Shatha meresponnya : 'Kau sudah tidak mematuhi Tuhanmu dan lebih memilih patuh pada pemimpinmu dengan membawa kehancuran bagi jiwamu, kau telah membawa rasa malu dan api neraka (nagi dirimu). Sesungguhnya Allah telah berfirman : 'Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong (QS 28 : 41). Pemimpinmu adalah salah satunya'" (sumber : Tarikh at-tabari, vol 19 hal 102)

Sebenarnya siapakah pembawa pesan Ibn Ziyad Malik bin Nusair itu? Dia adalah orang yang mengayunkan pedang kekepala Imam Husein ketika terjatuh dari kuda akibat lukanya di hari asyura. (sumber : Tarikh at-tabari, vol 19 hal 153)

Perkataan orang itu yang mengatakan : "aku telah mematuhi pemimpinku dan tetap setia pada janji baiatku" menunjukkan dengan jelas bahwa ia mengakui bajwa Yazid bin Muawiyah adalah pemimpinnya, sekaligus membuktikan dia telah memisahkan dari dari Syiah 'Ali/Husein as.

========================================================

Ketika Muslim bin Aqil as mengambil baiat pada penduduk Kufah yang berkumpul karena sudah jengah dengan tirani dinasti Umayyah, Yazid bin Muawiyah menerima surat dari kufah yang ditulis oleh Abdullah bin Muslim al Hadrami yang berisi :

"Muslim bin Aqil sudah berada di Kufah, dan para Syi'ah itu sudah membaiat padanya sebagia perwakilan Husein bin 'Ali. Jika kau ada keperluan di kufah, kirim saja orang terkuatmu yang akan menjalankan perintahmu dan melakukan seperti apa yang akan kau lakukan terhadap musuh-musuhmu. Al Numan bin Bashir adalah orang yang lemah, atau bisa saja berpura-pura lemah" (Sumber : Tarikh at-Tabari, vol 19 hal 30)

Abdullah bin Muslim al Hadrami adalah orang pertama yang menyurati Yazid, disusul oleh Umarrah bin Uqbah dan Umar bin Saad yang menulis hal serupa pada Yazid. Yazid setelah menerima surat dari Ibnu Ziyad menyatakan :

"Para Syiahku (pengikutku) diantara penduduk kufah telah menuliskan surat padaku bahwa Ibnu Aqil sedang mengumpulkan pasukan di Kufah untuk mengadakan pemberontakan. Untuk karena itu, setelah kau membaca surat dariku ini pergilah ke Kufa dan buru Ibnu Aqil. Lalu belenggu dia dengan rantai, bunuh, atau buang (asingkan) dia" (Sumber : Tarikh at-Tabari, vol 19 hal 31)

Perhatikan bahwa Yazid menggunakan kata "Syi'ah" dalam suratnya untuk para agen-agennya di kufah, yang diterjemahkan kedalam bhs inggris dan indonesia menjadi "pengikutnya." (Sumber : Tarikh Tabari versi bhs Urdu, jilid 4 bagian 1 halaman 154)

=========================================================

Tentunya setelah membaca di atas, kita jadi mengetahui bahwa Umar bin Saad adalah orang pertama yang menembakkan panah ke arah Imam Husein. (Sumber : Tarikh at-Tabari jilid 19 halaman 129)

Kalimat dia dalam suratnya yang menyatakan "Muslim bin Aqil sudah berada di Kufah, dan para Syi'ah itu sudah membaiat padanya sebagia perwakilan Husein bin 'Ali" membuktikan dengan jelas bahwa dia bukan anggota dari Syiah 'Ali atau Syi'ah Husein, justru dia adalah Syi'ah (pengikut) Yazid.

Dan bukti lainnya pernyataan Yazid sbb berikut : "Para Syiahku (pengikutku) diantara penduduk kufah " menunjukkan dgn jelas bahwa Umar bin Saad adalah Syiahnya (pengikut) Yazid. Sekarang yng membunuh Imam Husein apakah Syiahnya 'Ali/husein atau Syiahnya Yazid?


Bersambung ............
jalak pengkor - 21/09/2011 02:25 AM
#63

Siapakah Umar bin Saad? Dia adalah putra salah seorang sahabat Nabi, yakni Saad bin Abi Waqas. Dia juga orang Kufah yang berperan andil dalam pembantaian Imam Husein dan para pengikutnya. Imam Bukhari dalam Kitab Tarikh al-Saghir mencatat :

“Abu al-Muaali al-Ejli meriwayatkan dari ayahnya bahwa ia berkata : ‘Ketika al-Husein tiba di Karbala, Umar bin Sa'ad adalah orang pertama yang memotong tali-tali tenda’.” (Imam Bukhari : Kitab Tarikh al-Saghir jilid.1 hal.75)
=========================================================

adh-Dhahabi mencatat dalam kitab Siyar Al-Aalam al-Nubla jilid.4 hal.349 mengenai Umar bin Saad : “Umar bin Saad, ia komandan pasukan yang bertempur melawan al-Husein, kemudian al-Mukhtar membunuhnya (Umar bin Saad).”

=========================================================

UBAYDULLAH BIN ZIYAD siapakah dia? Ibn Hajar Asqalani mencatat dalam kitabnya :

“Ubaydullah bin Ziyad adalah pangeran wilayah Kufa untuk Mu'awiyah dan putranya yakni Yazid dan dia adalah orang yang mempersiapkan pasukan tentara dari Kufa untuk bertempur melawan Al-Hussain sampai terbunuh di Karbala. Dia dikenal juga sebagai Ibnu Marjana dan Marjana adalah ibunya dia. Ibnu Asakir telah menyebutkan biografinya dalam kitab Tarikh Dimashq dan dia disebut juga dalam Sunan Abi Dawud… Dan dia menarasikan dari Sa'ad bin Abi Waqas dan Mu'awiya dan Ma'qil bin Yasir dan Ibnu Umayyah saudara dari Bani Ja'dah. Dan dari mereka yang menarasikan darinya adalah Al-Hasan al-Basri serta Abu al-Malih bin Usama.” (Tajil al Munfa Bazawaid Rijal al Aimah al Arbah, hal.180)

=========================================================

Jika ada pernyataan yg menyatakan bahwa Ibnu ziyad adalah seorang Syi’ah-nya al-Husein, maka saya katakan itu tidak mungkin. Sebab pada perawi dalam kalangan ahlulsunnah menyatakan bahwa ia Syi’ah-nya Yazid.

Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Ibnu ziyad menulis surat untuk Umar bin Saad :

“Jadilah penghalang antara al-Husein dengan sumber air, perlakukan dia sebagaimana amirul mukminin Utsman bin Affan diperlakukan dan minta dia beserta para pengikutnya untuk mengambil sumpah baiat kepada amirul mukminin Yazid bin Muawiyah.” (al Bidayah wal Nihayah (Urdu) Jilid.8 Hal.1058)

Ahmad Bin Daud Abu Hanifa Dinawari mencatat pernyataan Ibnu Ziyad bahwa ia adalah anak buahnya Yazid :

“Aku membunuh Al Hussain karena alasan dia memberontak terhadap pemimpin kami (Yazid) dan pemimpin kami (Yazid) mengirimkan pesan untuk membunuh Al Hussain. Sekarang jika yang membunuh Hussain adalah seorang pendosa maka Yazidlah yang harusnya bertanggung jawab” (Akhbar Tawal, hal 279 (Mesir) oleh Ahmad Bin Daud Abu Hanifa Dinwari)

Sumber lainnya mencatat :

“Aku membunuh Al Husein atas perintah Yazid, jika tidak Yazid akan membunuhku, oleh karena itu aku memilih membunuh Husein” (Tarikh Kamil, Jilid 4 hal 55 (Mesir))

Ulama terkenal ahlulsunnah terkenal lainnya yakni Jalaludin Suyuti mencatat dalam kitabnya :

“Yazid menulis surat pada pejabatnya di irak yakni Ibnu Ziyad untuk membunuh Husein.” (Tarikh Khulfa, Hal.182)
jalak pengkor - 21/09/2011 02:31 AM
#64

APAKAH PARA SYI’AH HUSEIN (as) DI KUFAH BENAR-BENAR MENULIS SURAT PADA IMAM HUSEIN UNTUK BERGABUNG DENGANNYA?

Banyak sekali teori yang menyatakan bahwa para Syi’ah di kufa mengirim surat pada Imam Husein untuk bergabung dengan beliau.

Dan salah satu tokoh utama yang menjadi klaim tersebut dan dinyatakan sebagai Syi’ahnya Imam Husein (as) adalah Shabath bin Rab’i, dia menulis surat pada imam Husein (as) yang tercatat dalam kitab Tarikh at-Tabari versi bhs inggris jilid 10 hal 25-26 dan dalam kitab al-bidayah wal nihayah (urdu) jilid 8 hal 1013. Tapi, apakah benar dia Syi’ahnya Imam al-Husein (as)?

Dhahabi mencatat dalam kitab Siyar al-Aalam an-Nubla, Jilid 4 Halaman 150:

“Dia adalah salah satu orang di antara orang-orang yang memberontak melawan ‘Ali, dia menolak arbitrasi, dan kemudian bertaubat. Dia menarasikan (hadis) atas otoritas ‘Ali dan Hudzaifah. Muhammad bin Ka’ab Al-Qarzi dan Sulaiman Taimi menarasikan (hadis) darinya, dalam Sunan Abu Daud terdapat satu hadis yang dinarasikan darinya”

Ibnu Hajr menulis dalam Tahdib at Tahdib, Jilid 4 Halaman 226:

"Shabath bin Rab'i at-Tamimi Al-Yurbu'i Abu Abd al-Quddus Al-Kufi, meriwayatkan dari Hudzaifa dan ‘Ali semoga Allah meridhoi mereka, dan mereka yang menarasikan darinya adalah Muhammad bin Ka'ab Al-Qarzi sertaand Sulaiman At Taimi …. Darqatni menyatakan bahwa ia (Shabath) pernah dijulukir (Mu'adzin) ketika masuk islam. Ibn Habban menyebutnya dalam Al-Thuqat dan menyatakan bahwa ia sering berbuat kesalahan (dalam meriwayatkan hadis), mereka menarasikan hadis darinya ketika saidah Fathimah memintanya untuk memberikan seorang pembantu۔ Al Ejli Berkata bahwa orang ini adalah orang pertama yang membantu dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan yang berpartisipasi dalam pembunuhan Husein."

Sekarang kita berpikir pakai logika sederhana, tidaklah mungkin beberapa orang perawi hadis terkemuka dari kalangan ahlulsunnah menarasikan hadis dari seorang Syi’ah, apalagi yg berperan dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan Imam Husein. Apalagi dijadikan sbg perawi yang dipercaya.

Bahkan dalam Sihah Shittah khususnya di dalam kitab sunan Abi Dawud Shabath bin Rab’i dinyatakan sebagai periwayat hadis yang dapat dipercaya.

Terlepas dari ia mengirim surat pada Imam Husein tidaklah membuktikan ia seorang Syi’ah Husein, ia hanya seorang pembuat masalah di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dimasa Imam ‘Ali dan di masa Imam Husein, boleh dikatakan ia hanya seorang oportunis yang memancing keuntungan di air yang keruh.

======================
BUKTI LAINNYA
======================

Muhamad bin Ashath, orang yang menangkap Muslim bin Aqil [as] dan mengirimnya kapada atasannya yakni Ibn Ziyad, adalah seorang periwayat hadis dari kalangan ahlulsunnah dalam kitab Mu'wata, Sunnan Abu Dawud, Sunnan an-Nisai, dan Sunnan Kubra tapi juga dianugrahi gelar sebagai periwayat hadis yang sanagt dipercaya oleh ulama sunni semacam Ibn Hajar dan Ibn Habban.

Umro bin Hareth, a Sahabi, yang merupakan perawi hadis sunni adalah kepala polisi di kufah yang diperintahkan untuk menangkap muslim bin aqil.

Kathir bin Shihab juga anak buah Ibn Ziyad dan juga seorang yang meriwyatkan hadis-hadis Umar bin Khattab dalam kitab-kitab Sunni.

Hajar bin Abjur, seorang anakn buah Ibn Ziyad, ia juga orang yang mengirim surat mengundang al-Husein. Beberapa Imam of Ahlul Sunnah yakni Ibn Habban menyatakan dia dalam kitabnya Thiqa, sedangkan Imam Ibn Saad menyatakan dia sebagai orana yang terhormat.

Jadi sudah dapat dipastikan bahwa pernyataan Syiah Husein berkhianat di Kufa hanyalah propaganda politik dan militer. Tindakan-tindakan pengkaburan informasi, intelijen dan kontra intelijen, serta operasi-operasi khusus adalah hal yang wajar dalam setiap peperangan. Dan jangan lupa, sejarah selalu ditulis oleh pihak pemenang, jangan sampai kefanatikan akan suatu hal membuyarkan logika berpikir kita.
jalak pengkor - 21/09/2011 02:50 AM
#65

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan
memang kecintaan terhadap ahlul bait adalah salah satu aqidah yang juga diyakini oleh sunni, selama ahlul bait itu masih muslim. Kami kaum sunni bertawally kepada mereka. Tapi dalam definisi sunni ahlul bait bukan cuma ketrurunan Ali. Apalagi itsna asyariah menetapkan bahwa imam 12 ke bawah turunan husein semua.
hal ini ada dasar dalil alquran dan hadisnya.

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah: pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan.” (sumber ahlulsunnah : Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95)


Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan
Bagi kami Aisyah binti Abu Bakr radhiallahu anhuma adalah ahlul bait, begitu pula utsman dzun nurain, begitu pula hafshah, mereka semua adalah ahlul bait. Dan sunni meyakini Imamain Hasan wal Husain adalah penghulu pemuda di surga, dan Fatimah adalah wanita langka dengan kesempurnaannya. Tapi sunni hanya mengakui hak kema'shuman pada Rasulullah. Imam Syafii mencintai ahlul bait, tapi tidak mengakui kema'shumannya. Sedangkan syiah pada hari ini adalah rofidhoh secara jumhur, cukup ngecek di Wikipedia saja, nggak usah susah2 membaca Buku Syekh Ihsan Ilahi Dhahir sampe abis.
Wikipedia tdk bisa dijadikan pegangan, karena informasi yang terdapat di dalamnya tidak memuat dalil2 pendukung dari kalangan Syi'ah.

Ahlulbait mashum, jelas sekali pernyataan dalam surat al-ahzab ayat 33, bahwa Allah menjamin kemashuman mereka, dan ahlulbait itu dibatasi oleh hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw itu sendiri.

Dan saya teratrik dgn komentar mas menyatakan Nabi Muhammad saw mashum, lantas menurut sejarah sunni kenapa Ia (saw) bermuka masam kepada seorang buta sehingga ditegur Allah dalam surat Abasa?

Bagi Syia'h Nabi Muhammad saw adalah mashum dan tidak mungkin bermuka masam.

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan
Imam Ahli Hadits bahkan mengambil hadist dari beberapa perawi tsiqoh seperti Imam Jafar (yang diklaim oleh Itsna Asyariah sebagai Imam), bahkan salah satu dari imam shahihain (lupa saya, imam bukhari atau muslim) juga mengambil hadits dari dedengkot khawarij yang tsiqah/jujur/terpercaya. jadi jangan heran kalau imam Bukhari mengambil hadits dari imam Ja'far, sebab di kalangan sunni Jafar Ash-Shadiq diakui sebagai salafussalih. \)
Imam Ja'far jelas seorang Syi'ah, ia mengikuti ajaran ayahnya sampai ke Imam Ali dan Nabi Muhammad Saw, banyak bukti hadisnya loh.

Pada masa itu, masalah fiqih dan macam lainnya tidak dipermasalahkan, justru masalah politik, karena para halul bait selalu meminta hak-nya. Dan jangan lupa, Imam Ja'far juga dibunuh oleh orang suruhan khlaifah al mansur karena kekhawatiran mereka pada jumlah pengikut beliau yang semakin banyak. \)
MrBurakkuSan - 22/09/2011 10:42 AM
#66

Ahlul Bait



Ahlul Bait adalah orang-orang yang mendapat keistimewaan dan keutamaan serta kedudukan tinggi dari Allah SWT. Dimana Allah telah membersihkan dosa-dosa mereka serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.
Allah berfirman :

انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا



( الاحزاب ؛ ٣٣ )



“ Sesungguhnya Allah hendak menghapus segala noda dan kotoran (dosa) dari kalian Ahlul Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”

(Al-Ahzab-33)


Kemudian para ulama sepakat bahwa Ahlul Kisa’, selain Rasulullah SAW yaitu Imam Ali, Siti Fatimah, Imam Hasan dan Imam Husin adalah termasuk Ahlul Bait. Dimana saat itu Rasulullah bersabda:

اللهم هؤلاء اهل بيتى



“ Yaa Allah mereka adalah Ahlul Baitku”.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi dari Ummi Salamah, bahwa setelah turun Ayatuttathir, Rasulullah menutup kain Kisa’nya (sorbannya) diatas Ali, Fatimah, Hasan dan Husin, seraya berkata :



اللهم هؤلاء اهل بيتى فاذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا



( رواه مسلم والترمذى واحمد والحاكم )



“ Ya Allah, mereka adalah Ahlul Baitku, maka hapuskanlah dari mereka dosa dan sucikan mereka sesuci-sucinya”.

(HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad dll )



Sebuah hadist yang terkenal, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya, dari Zeid bin Arqom sebagai berikut : “Pada suatu hari Rasulullah berkhotbah di satu tempat yang ada sumber airnya yang dikenal dengan nama Khumman yang terletak antara kota Mekkah dan Madinah. Setelah beliau bertahmid dan memuji Allah serta memberikan wejangan beliaupun bersabda :




اما بعد :الا ايها الناس ، انما انا بشر يوشك ان يأتى رسول ربى فأجيب وانا تارك

فيكم ثقلين ،اولها كتاب الله فيه الهدى والنور، فخذوا بكتاب الله واستمسكوا، فحث

على كتاب الله ورغب فيه,ثم قال: واهل بيتى ، اذكركم الله فى اهل بيتى, اذكركم الله

فى اهل بيتى ،اذكركم الله فى اهل بيتى , فقال له حصين : ومن اهل بيته يازيد ؟

اليس نساؤه من اهل بيته ؟ قال نساؤه من اهل بيته ،ولكن اهل بيته من حرم الصدقة

بعده ،قال : ومن هم ؟ قال :هم ال على وال عقيل وال جعفر وال عباس .

قال : كل هؤلاء حرم الصدقة ؟ قال : نعم.

( رواه مسلم واحمد والحاكم والدارمى وابن حبان والبزاروالطبرا 606;ى )





Amma ba’du : “ Hai orang-orang sesungguhnya aku adalah manusia, aku merasa akan datang utusan Tuhanku dan aku menyambutnya, aku meninggalkan pada kalian dua bekal (pegangan), yang pertama Kitabullah (Al-Qur’an), didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,. Ambillah (terimalah) Kitabullah dan berpegang-teguhlah padanya. “Setelah Rasulullah menekankan Kitabullah, kemudian berkata lebih lanjut. Dan Ahlul Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahlu Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku”.

Kemudian sahabat Khushoin bertanya : “ Siapa saja Ahlul Baitnya hai Zaid ? Apakah istri-istrinya termasuk juga Ahlul Bait?, maka dijawab, “istri-istrinya juga termasuk Ahlul Bait. Ahlu Baitnya adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh”.
Lalu Khusoin bertanya lagi : “ Siapa saja mereka ?” Lalu dijawab: “Mereka itu keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Penanya bertanya lagi : “Semua itu diharamkan menerima shodaqoh ?” Dijawab : “Ya”.



( H Muslim, Ahmad, Al Hakim, Ad Darini, Ibnu Hibban,

Al Bazzar dan At Thobaroni )


Dengan dasar hadist tersebut, para ulama berpendapat bahwa istri-istri Rasulullah juga termasuk Ahlul Bait. Hal tersebut juga dikuatkan, bahwa ayat tathir itu merupakan sambungan dari ayat-ayat yang diturunkan atau ditujukan kepada istri-istri Rasulullah SAW.
Kemudian diakhir hadist tersebut juga menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh. Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. Hal tersebut juga dikuatkan oleh hadist yang lain, dimana Rasulullah bersabda:


انا ال محمد لا تحل لنا الصدقة

( رواه البخارى )





“ Kami keluarga Muhammad, tidak dihalalkan bagi kami pemberian shodaqoh”.


( HR. Bukhori )



Disamping hadist-hadist diatas, sebagian ulama mengajukan argumentasi bahwa yang dimaksud dengan “Keluarga Muhammad“ itu adalah istri-istrinya dan keturunannya. Dalil mereka adalah penjelasan Rasulullah SAW, ketika beliau ditanya, “Bagaimana kami membacasholawat kepadamu ?” maka nabi bersabda :





قولو اللهم صل على محمد وعلى ازواجه وذريته ،كما صليت على ابراهيم

وعلى ال ابراهيم ، وبارك على محمد وعلى ازواجه وذريته ،

كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم ،

( متفق عليه )





Katakanlah : Yaa Allah, sampaikan salam sejahtera kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Dalam hadist ini, Rasulullah SAW tidak menyebut “Keluarganya” dengan kata “Aali Muhammad” tapi menggantikannya (menjabarkannya) dengan kata “Istri-istrinya dan keturunannya”.
Sehubungan dengan adanya hadist-hadist tersebut, kami menghimbau kepada para pembaca agar tidak mengikuti faham atau pendapat yang sifatnya berspekulasi yang mengatakan dan memvonis bahwa istri-istri Rasulullah SAW itu tidak termasuk Ahlul Bait. Sebab pendapat yang demikian itu faedahnya tidak ada, yang ada justru sebaliknya. Apa jadinya jika pendapat itu salah. Tidakkah Rasulullah SAW akan marah kepada kita, jika ternyata istri-istrinya itu termasuk Ahlul Bait? Mengapa kita harus mengambil resiko yang demikian besarnya. Padahal kita tahu, bahwa keistimewaan dan kedudukan tinggi itu Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki.
Dalam hal ini para ulama dari kalangan Habaib (salafunassholeh) berpendapat bahwa para istri Rasulullah SAW juga termasuk Ahlul Bait.
MrBurakkuSan - 22/09/2011 10:54 AM
#67

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
hal ini ada dasar dalil alquran dan hadisnya.

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah: pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan.” (sumber ahlulsunnah : Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95)


kok hadits-nya modelnya seperti ini ya mas?? soalnya sumber ini tidak divalidasi lagi, tidak disebutkan oleh ulama kibar di bidang hadits, toh al-qunduzi yang membawa hadits ini (seorang sufi, mungkin asy'ariyyah, bisa jadi sufi ghulat yang bukan lagi ahlus sunnah secara muthlaq) hidup jauh dari masa salafus sholeh yang membukukan hadits. namanya juga majhul untuk ukuran saya dan zaman sekarang. \)

Al-Qunduzi adalah seorang ulama di zaman turki utsmani, di mana sangat janggal kalau tiba-tiba dia menemukan hadits seperti ini dan isinya pun sangat janggal. Mengakui alQoim sebagai Imam Mahdi ???? Padahal riwayat mutawatir maknawi yang diriwayatkan oleh ulama2 hadits di masa salafus sholeh adalah al-Mahdi itu bukan al-Qoim. \)

lha wong hadits dari Imam Tirmidzi saja perlu validasi lebih lanjut apalagi oleh ulama kayak gini(yang mas jalak anggap sebagai sunni, dan kayaknya riwayat ini dipaksa-paksakan dan dipropagandakan sebagai riwayat ahlus sunnah). Padahal bisa saja dia mengambil hadits dari Rofidhoh Itsna Asyairoh. Penilaian hadits ini sebagai sebuah hadits bisa dipastikan menyalahi ijma ulama hadits \)



Quote:
Original Posted By jalak pengkor

Wikipedia tdk bisa dijadikan pegangan, karena informasi yang terdapat di dalamnya tidak memuat dalil2 pendukung dari kalangan Syi'ah.

Ahlulbait mashum, jelas sekali pernyataan dalam surat al-ahzab ayat 33, bahwa Allah menjamin kemashuman mereka, dan ahlulbait itu dibatasi oleh hadis-hadis dari Nabi Muhammad saw itu sendiri.

Dan saya teratrik dgn komentar mas menyatakan Nabi Muhammad saw mashum, lantas menurut sejarah sunni kenapa Ia (saw) bermuka masam kepada seorang buta sehingga ditegur Allah dalam surat Abasa?

Bagi Syia'h Nabi Muhammad saw adalah mashum dan tidak mungkin bermuka masam.


kalau memang kenyataan seperti itu, kenapa tidak ?? ada pendapat yang menyatakan bahwa Para rasul itu ma'shum, tapi memang tidak terbebas dari kesalahan-kesalahan kecil. Kalau memang bermuka masam, tapi diampuni dosanya oleh Allah, ya ndak masalah.

Quote:
Original Posted By jalak pengkor

Imam Ja'far jelas seorang Syi'ah, ia mengikuti ajaran ayahnya sampai ke Imam Ali dan Nabi Muhammad Saw, banyak bukti hadisnya loh.

Pada masa itu, masalah fiqih dan macam lainnya tidak dipermasalahkan, justru masalah politik, karena para halul bait selalu meminta hak-nya. Dan jangan lupa, Imam Ja'far juga dibunuh oleh orang suruhan khlaifah al mansur karena kekhawatiran mereka pada jumlah pengikut beliau yang semakin banyak. \)


Al-Manshur juga termasuk ahlul bait loh D
MrBurakkuSan - 22/09/2011 10:59 AM
#68

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
APAKAH PARA SYI’AH HUSEIN (as) DI KUFAH BENAR-BENAR MENULIS SURAT PADA IMAM HUSEIN UNTUK BERGABUNG DENGANNYA?

Banyak sekali teori yang menyatakan bahwa para Syi’ah di kufa mengirim surat pada Imam Husein untuk bergabung dengan beliau.

Dan salah satu tokoh utama yang menjadi klaim tersebut dan dinyatakan sebagai Syi’ahnya Imam Husein (as) adalah Shabath bin Rab’i, dia menulis surat pada imam Husein (as) yang tercatat dalam kitab Tarikh at-Tabari versi bhs inggris jilid 10 hal 25-26 dan dalam kitab al-bidayah wal nihayah (urdu) jilid 8 hal 1013. Tapi, apakah benar dia Syi’ahnya Imam al-Husein (as)?

Dhahabi mencatat dalam kitab Siyar al-Aalam an-Nubla, Jilid 4 Halaman 150:

“Dia adalah salah satu orang di antara orang-orang yang memberontak melawan ‘Ali, dia menolak arbitrasi, dan kemudian bertaubat. Dia menarasikan (hadis) atas otoritas ‘Ali dan Hudzaifah. Muhammad bin Ka’ab Al-Qarzi dan Sulaiman Taimi menarasikan (hadis) darinya, dalam Sunan Abu Daud terdapat satu hadis yang dinarasikan darinya”

Ibnu Hajr menulis dalam Tahdib at Tahdib, Jilid 4 Halaman 226:

"Shabath bin Rab'i at-Tamimi Al-Yurbu'i Abu Abd al-Quddus Al-Kufi, meriwayatkan dari Hudzaifa dan ‘Ali semoga Allah meridhoi mereka, dan mereka yang menarasikan darinya adalah Muhammad bin Ka'ab Al-Qarzi sertaand Sulaiman At Taimi …. Darqatni menyatakan bahwa ia (Shabath) pernah dijulukir (Mu'adzin) ketika masuk islam. Ibn Habban menyebutnya dalam Al-Thuqat dan menyatakan bahwa ia sering berbuat kesalahan (dalam meriwayatkan hadis), mereka menarasikan hadis darinya ketika saidah Fathimah memintanya untuk memberikan seorang pembantu۔ Al Ejli Berkata bahwa orang ini adalah orang pertama yang membantu dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan yang berpartisipasi dalam pembunuhan Husein."

Sekarang kita berpikir pakai logika sederhana, tidaklah mungkin beberapa orang perawi hadis terkemuka dari kalangan ahlulsunnah menarasikan hadis dari seorang Syi’ah, apalagi yg berperan dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan Imam Husein. Apalagi dijadikan sbg perawi yang dipercaya.

Bahkan dalam Sihah Shittah khususnya di dalam kitab sunan Abi Dawud Shabath bin Rab’i dinyatakan sebagai periwayat hadis yang dapat dipercaya.

Terlepas dari ia mengirim surat pada Imam Husein tidaklah membuktikan ia seorang Syi’ah Husein, ia hanya seorang pembuat masalah di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dimasa Imam ‘Ali dan di masa Imam Husein, boleh dikatakan ia hanya seorang oportunis yang memancing keuntungan di air yang keruh.

======================
BUKTI LAINNYA
======================

Muhamad bin Ashath, orang yang menangkap Muslim bin Aqil [as] dan mengirimnya kapada atasannya yakni Ibn Ziyad, adalah seorang periwayat hadis dari kalangan ahlulsunnah dalam kitab Mu'wata, Sunnan Abu Dawud, Sunnan an-Nisai, dan Sunnan Kubra tapi juga dianugrahi gelar sebagai periwayat hadis yang sanagt dipercaya oleh ulama sunni semacam Ibn Hajar dan Ibn Habban.

Umro bin Hareth, a Sahabi, yang merupakan perawi hadis sunni adalah kepala polisi di kufah yang diperintahkan untuk menangkap muslim bin aqil.

Kathir bin Shihab juga anak buah Ibn Ziyad dan juga seorang yang meriwyatkan hadis-hadis Umar bin Khattab dalam kitab-kitab Sunni.

Hajar bin Abjur, seorang anakn buah Ibn Ziyad, ia juga orang yang mengirim surat mengundang al-Husein. Beberapa Imam of Ahlul Sunnah yakni Ibn Habban menyatakan dia dalam kitabnya Thiqa, sedangkan Imam Ibn Saad menyatakan dia sebagai orana yang terhormat.

Jadi sudah dapat dipastikan bahwa pernyataan Syiah Husein berkhianat di Kufa hanyalah propaganda politik dan militer. Tindakan-tindakan pengkaburan informasi, intelijen dan kontra intelijen, serta operasi-operasi khusus adalah hal yang wajar dalam setiap peperangan. Dan jangan lupa, sejarah selalu ditulis oleh pihak pemenang, jangan sampai kefanatikan akan suatu hal membuyarkan logika berpikir kita.


wah, sumbernya comat-comot...
diambil seenak jidat

jangan-jangan ini model2nya O hashem ya??
atau jangan2 emang sumbernya O hashem ? \)

orang yang ngejek2 Abu Hurairah, dengan ngambil hujjahnya Umar D
polkmn - 22/09/2011 11:22 AM
#69

Mo tanya kenapa pengikut alhlul bait waktu kejadian di karbala cuma 80 orang?kemana pengikut yg lain?
MrBurakkuSan - 22/09/2011 11:36 AM
#70

Quote:
Original Posted By polkmn
Mo tanya kenapa pengikut alhlul bait waktu kejadian di karbala cuma 80 orang?kemana pengikut yg lain?


nah, itu gan yang menjadi kejanggalan, dan kenapa orang-orang syiah tidak menjawabnya secara gamblang ?? yang ada (seperti yang dilakukan mas jalak pengkor) menutak-atik sumber-sumber shahih di mata ahlussunnah, untuk kemudia menjustifikasinya sebagai jawaban dari kalangan syiah. Suatu hal yang sering dilakukan oleh O Hashem. Seorang yang pengambilan pendapatnya, prinsip pemikirannya, istimbath-nya dinilai tidak konsisten...


disepongiler aja deh, takutnya dianggap OOT sama yang nggak suka dengan puritanisme :
Spoiler for dari orang salafi

PERISTIWA KARBALA DALAM PANDANGAN AHLUSSUNNAH WAL-JAMA’AH
04 Jan

Rate This

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Maula Ali Hill,Chanderi

URGENSI SANAD
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah : “Ahlussunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi diantara para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Dan mereka juga mengatakan: “Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai kepada kita tentang keburukan-keburukan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, dikurangi dan dirubah dari aslinya (serta ada pula yang shahih-pen). Riwayat yang shahih. menyatakan, bahwa para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ini ma’dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.”[1]

Ahlussunah wal Jama’ah memposisikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma di Karbala. Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dhaif dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Sanad itu senjata kaum muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang” Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab al-Madkhal.

‘Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan, “Sanad ini termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.” Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih beliau rahimahullah.

Di tempat yang sama, Imam Muslim raimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin, “Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan, “Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya” !

KRONOLOGI TERBUNUHNYA HUSAIN RADHIYALLAHU ‘ANHUMA
Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain Radhiyallahu ‘anhu telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhu, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak”[2]

Oleh karenanya, dalam pembahasan tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya.

RIWAYAT SHAHIH TENTANG PERISTIWA KARBALA
Riwayat yang paling shahih ini dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, no, 3748 :

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

“Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan : aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan : Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd[3]. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Diantara Ahlul bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Saat itu, Husain Radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam)”

Kisahnya, Husain bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma tinggal di Mekah bersama beberapa Shahabat, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Muawiyah Radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum muslimin atau khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh pengikut ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Husain Radhiyallahu ‘anhuma meminta beliau Radhiyallahu ‘anhuma pindah ke Irak. Mereka berjanji akan membai’at Husain Radhiyallahu ‘anhuma sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan Khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain Radhiyallahu ‘anhuma di Mekah mengajak beliau Radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs Radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain Radhiyallahu ‘anhuma agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain Radhiyallahu ‘anhuma, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain juga disana. Husain Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana”.
.
Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau Radhiyallahu ‘anhuma mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya Muslim bin ‘Aqil yang telah dibunuh di sana.

Akhirnya, berangkatlah Husain Radhiyallahu ‘anhuma bersama keluarga menuju Kufah.



TO BE CONTINUED
MrBurakkuSan - 22/09/2011 11:38 AM
#71

lanjutan gan

Spoiler for dari wong salafi
Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bi n Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain Radhiyallahu ‘anhuma bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang membujuk Husain Radhiyallahu ‘anhuma, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain c dan keluarganya berhadapan dengan pasukan Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain Radhiyallahu ‘anhuma sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa kehadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka[4] ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain, padahal di situ ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu ‘anhum. Anas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan, “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.”

Dalam riwayat at- Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas Radhiyallahu ‘anhu dinyatakan :

فَجَعَلَ يَقُوْلُ بِقَضِيْبٍ لَهُ فِي أَنْفِهِ

“Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain Radhiyallahu ‘anhu”.

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu :

فَجَعَلَ قَضِيْبًا فِي يَدِهِ فِي عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ فَقُلْتُ ارْفَعْ قَضِيْبَكَ فَقَدْ رَأَيْتُ فَمَّ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْضِعِهِ

“Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain Radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan, “Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu”.

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu :

فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَلْثِمُ حَيْثُ تَضَعُ قَضِيْبَكَ , قَالَ : ” فَانْقَبَضَ

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.” Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Demikianlah kejadiannya, setelah Husain Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh, kepala beliau Radhiyallahu ‘anha dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi beliau Radhiyallahu ‘anhu ditusuk-tusuk dengan pedang. Para Sahabat Radhiyallahu anhum yang menyaksikan hal ini meminta kepada ‘Ubaidullah orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah pernah menempel tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah Shallallahu ‘aiahi wa sallam, orang kesayangan beliau n dihinakan di depan mata mereka.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain Radhiyallahu ‘anhuma diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain Radhiyallahu ‘anhuma dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid t saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Irak.

Syaikhul Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husain Radhiyallahu ‘anhuma dibawa kehadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya gigi Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husain.”[5]

Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husain dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan mengqisas ‘Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husain secara tegas.[6]

Jadi memang benar, Husain Radhiyallahu ‘anhuma dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dhaif (lemah). Alangkah banyak riwayat dhaif serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di atas.

Kemudian juga, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum muslimin. Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhâjus Sunnah IV/517 dan 554, 556 :

- Ketika Hari pembunuhan terhadap Husain, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.
- Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husain Radhiyallahu ‘anhuma.
- Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah perkataan yang berbunyi :

هَؤُلَاءِ وَدِيْعَتِيْ عِنْدَكُمْ

Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat :

“Katakanlah:”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan” [asy Syûrâ/42:23]

Riwayat ini dibantah oleh para ulama diantaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan, “Apa masuk di akal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kepada makhluk padahal Allah Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik. Sedangkan ayat di atas yang mereka anggap diturunkan Allah Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhuma, maka ini juga merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah Azza wa Jalla menurunkan surat ini sebelum Ali Radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah Radhiyallahu anha menikah.

HUSAIN RADHIYALLAHU ‘ANHUMA TERBUNUH SEBAGAI ORANG YANG TERZHALIMI DAN MATI SYAHID.
Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Tidak disangsikan lagi bahwa Husain Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma merupakan tindakan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husain Radhiyallahu ‘anhuma berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan”.[7]


TO BE CONTINUED
MrBurakkuSan - 22/09/2011 11:39 AM
#72

Spoiler for dari pak ustad salafi

Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para rasul. Allah Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa bani Israil telah membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu (bapak Husain Radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman juga Radhiyallahu ‘anhu.

Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi’ah yang meratapi kematian Husain Radhiyallahu ‘anhuma, namun, tidak meratapi kematian para nabi . Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh bani Israil terhadap para nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bersikap ghuluw (melampau batas) kepada Husain Radhiyallahu ‘anhu.

Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, pembunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api), dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk, penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang keluar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan, “Hadits ini termasuk di antara riwayat yang berasal dari para pendusta”.

MENYIKAPI PERISTIWA KARBALA.
Menyikapi peristiwa wafatnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhuma, manusia terbagi menjadi tiga : dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama : Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma itu merupakan tindakan benar. Karena Husain Radhiyallahu ‘anhuma ingin memecah belah kaum muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ جَاءَكُمْ وَأَمْرُكُمْ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia” [8]

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu ‘anhuma datang saat urusan kaum muslimin berada di bawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husain Radhiyallahu ‘anhuma hendak memecah belah umat.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu ‘anhuma merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa.. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Inilah kelompok ‘Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum ‘Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini.

Golongan Kedua : Mereka mengatakan Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama’ah kecuali di belakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jum’at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan idzinnya dan lain sebagainya. [9]

Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain Radhiyallahu ‘anhuma dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain Radhiyallahu ‘anuhma. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

Golongan Ketiga : Yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah, yang selalu berada di tengah antara dua kelompok.

Ahlussunnah mengatakan Husain Radhiyallahu ‘anhuma bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, beliau Radhiyallahu ‘anhuma bisa mengerahkan penduduk Mekah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai beliau Radhiyallahu ‘anhuma. Karena, saat beliau Radhiyallahu ‘anhuma di Mekah, kewibaannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Mekkah. Beliau Radhiyallahu ‘anhuma seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena beliaulah Ahli Bait yang paling besar.

Jadi Husain Radhiyallahu ‘anhuma sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya Muslim bin ‘Aqîl dibunuh di Irak, beliau Radhiyallahu ‘anhuma berniat untuk kembali ke Mekkah. Akan tetapi, beliau Radhiyallahu ‘anhuma ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, beliau Radhiyallahu ‘anhuma tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.

SETAN MENYEBARKAN BID’AH
Syaikhul Islam mengatakan[10], “Dengan sebab kematian Husain Radhiyallahu ‘anhuma, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia.

Pertama : Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari Asyûra (di negeri kita ini, acara bid’ah ini sudah mulai diadakan-pen) seperi menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa. (Para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu). Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain Radhiyallahu ‘anhuma dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat.

Kemudian Syaikhul Islam rahimahullah juga mengatakan , “Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain Radhiyallahu ‘anhuma yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan beliau Radhiyallahu ‘anhum. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَيَكُوْنُ فِي ثَقِيْفٍ كَذَّابٌ وَمُبِيْرٌ

“Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak”

Orang Syi’ah yang bernama Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid itulah sang pendusta . Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”

Juga hadits, “barangsiapa memakai celak pada hari ‘Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu dan lain sebagainya.

Kedua : Bida’ah yang kedua adalah bid’ah kesenangan pada hari Asyura : Karena itu, para khatib yang sering membawakan riwayat ini – karena ketidaktahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah – , sebenarnya secara tidak langsung, masuk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husain Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Dan wajib bagi kita mencintai Sahabat yang mulia ini dengan tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya, tidak mengatakan Husain c seorang imam yang ma’sum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain c itu adalah tindakan yang benar. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma adalah tindakan maksiat kepada Allah dan RasulNya.

Itulah sekilas mengenai beberapa permasalahan yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh setan dan para tentaranya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Syarhu al’Aqidah al-Wâsithiyyah Syaikh Sholeh al-Fauzan hal.198,
[2]. Minhâjus Sunnah (IV/556)
[3]. Komandan pasukan yang memerangi Husain, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala
[4]. Ia disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhuma, namun melakukannya.
[5]. Minhâjus Sunnah (IV/557)
[6]. Lihat Minhâjus Sunnah (V/557-558)
[7]. Minhâjus Sunnah (IV/550)
[8]. HR. Muslim, kitabul Imârah
[9]. Minhâjus Sunnah (IV/553)
[10]. IV/554

TAMAT


tamat dech
\)
jalak pengkor - 22/09/2011 06:40 PM
#73

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan

Kemudian sahabat Khushoin bertanya : “ Siapa saja Ahlul Baitnya hai Zaid ? Apakah istri-istrinya termasuk juga Ahlul Bait?, maka dijawab, “istri-istrinya juga termasuk Ahlul Bait. Ahlu Baitnya adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh”.
hadis yang antum cantumkan sebelumnya tidak akan saya bahas, sebab saya sepakat. Sekarang apakah istri2 Nabi Muhammad Saw termasuk ahlulbait? Saya akan uraikan satu persatu dahulu \)

Dalam hadis al-kisa yang antum cantumkan sebelumnya sudah bagus, namun antum tidak memasukkan hadis itu dengan lengkap, berikut isi hadis shahihnya yang lengkap :

وحدثنا ابن أبي داود أيضا قال حدثنا سليمان بن داود المهري قال حدثنا عبد الله بن وهب قال حدثنا أبو صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعيد بن جبير عن أبي الصهباء عن عمرة الهمدانية قالت قالت لي أم سلمة أنت عمرة ؟ قالت : قلت نعم يا أمتاه ألا تخبريني عن هذا الرجل الذي أصيب بين ظهرانينا ، فمحب وغير محب ؟ فقالت أم سلمة أنزل الله عز وجل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا وما في البيت إلا جبريل ورسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهما وأنا فقلت : يا رسول الله أنا من أهل البيت ؟ قال أنت من صالحي نسائي قالت أم سلمة : يا عمرة فلو قال نعم كان أحب إلي مما تطلع عليه الشمس وتغرب

"Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain.

Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”.

Beliau (Saw) berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau (Saw) menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat (dunia dan seisinya)" (Sumber : Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542)

Dalam Shahih Muslim bab keutamaan sahabat, bagian keutamaan 'Ali, edisi 1980 terbitan arab Saudi, versi Arab, jilid 4, halaman 1874 hadis ke 37 Ibnu Hayyan meriwayatkan :

"Kami pergi ke zaid bin Arqam dan berkata kepadanya, 'Kamu telah menemukan kebaikan (sebab kamu memiliki kemuliaan) karena dapat hidup di kalangan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw dan melaksanakan shalat bersama-sama dengan beliau,' (dan bunyi hadis selajutnya sama dengan 3 hadis sebelumnya), tetapi Nabi Muhammad saw berkata, 'Camkanlah! Aku meninggalkan bersama kalian dua barang / perkara yang berat, salah satunya adalah Kitabullah...,' (dan dalam hadis ini kami temukan kata-kata)

'Kami berkata. 'Siapakah Ahlulbait beliau tersebut (yang dimaksudkan oleh Nabi Muhammad saw)? Apakah mereka adalah istri-istri beliau?' Atas pertanyaan tersebut Zaid berkata, 'Tidak, demi Allah! Seorang perempuan hidup bersama dengan seorang pria (sebagai istrinya) untuk sementara waktu. Dia (pria) kemudian (dapat) menceraikannya dan dia (perempuan itu) kembali kepada orangtua dan kaumnya. Ahlulbait Nabi Muhammad saw adalah garis darah dan keturunan beliau (orang-orang yang berasal dari keturunan beliau) yang dilarang menerima sedekah.'"
jalak pengkor - 22/09/2011 06:46 PM
#74

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan

Amma ba’du : “ Hai orang-orang sesungguhnya aku adalah manusia, aku merasa akan datang utusan Tuhanku dan aku menyambutnya, aku meninggalkan pada kalian dua bekal (pegangan), yang pertama Kitabullah (Al-Qur’an), didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,. Ambillah (terimalah) Kitabullah dan berpegang-teguhlah padanya. “Setelah Rasulullah menekankan Kitabullah, kemudian berkata lebih lanjut. Dan Ahlul Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahlu Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku, kuingatkan kalian kepada Allah mengenai Ahli Baitku”.

Kemudian sahabat Khushoin bertanya : “ Siapa saja Ahlul Baitnya hai Zaid ? Apakah istri-istrinya termasuk juga Ahlul Bait?, maka dijawab, “istri-istrinya juga termasuk Ahlul Bait. Ahlu Baitnya adalah mereka yang diharamkan menerima shodaqoh”.

Lalu Khusoin bertanya lagi : “ Siapa saja mereka ?” Lalu dijawab: “Mereka itu keluarga Ali, keluarga Agil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas.” Penanya bertanya lagi : “Semua itu diharamkan menerima shodaqoh ?” Dijawab : “Ya”.
Saya akan membahas mengenai hadis Zaid bin Arqam ini \)

dalam Shahih Muslim, bab keutamaan sahabat, bagian keutamaan 'Ali, edisi 1980 terbitan Arab Saudi, versi Arab, jilid 4, halaman 1873, hadis ke 36, Muslim melaporkan bahwa Zaid bin Arqam berkata :

"Aku telah menua dan telah melupakan beberapa hal yang telah aku ingat dalam hubungannya dengan Rasulullah saw. Jadi, terimalah apa saja yang aku riwayatkan padamu, dan terhadap apa yang tidak aku riwayatkan! Janganlah memaksaku untuk melakukannya!"

Zaid kemudian berkata, "Suatu hari Rasulullah saw berdiri dan berkhutbah di sebuah telaga yang dikenal sebagai Khum yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, mensucikan-Nya, dan berkhutbah dan mendesak kita seraya mengatakan, 'Kini sampai ke tujuan kita, wahai manusia! Aku adalah seorang manusia. Aku hampir kedatangan menerima kedatangan utusan Tuhanku dan aku harus menjawab panggilan itu. Tetapi aku meninggalkan bersama kalian dua barang yang berat. Salah satunya adalah Kitabullah....Yang kedua adalah anggota rumah tanggaku (Ahlulbait). Demi Allah, aku mengingatkan kalian (akan tugas kalian) terhadap Ahllbaitku! (beliau mengucapkannya tiga kali)'"

Dia (Husein bin Sabra) bertanya kepada Zaid, "Siapakah anggota Ahlulbait beliau? Bukankah istri-istri beliau termasuk Ahlulbait?" Zaid menjawab, "Istri-istri beliau termasuk Ahlulbait, tetapi 'Ahlul' disini adalah orang-orang yang dilarang menerima zakat.'

Dia (Husein bin Sabra) bertanya kembali , 'Siapakah mereka?' Dia kemudian menjawab, 'Ali dan keturunannya, Aqil dan keturunannya, dan keturunan Ja'far dan keturunan Abbas.'"

Terlihat bahwa pada kalimat hadis yang saya bold merahdiatas bukan kata-kata Nabi Muhammad saw, itu hanyalah pendapat pribadi Zaid bin Arqam. Berlawanan dengan hadis sebelumnya, disini Zaid menyatakan bahwa 'Istri-istri Nabi adalah termasuk diantara Ahlulbait beliau tetapi Ahlulbait di sini adalah (orang-orang yang dilarang menerima zakat)...'Ali dan keturunannya,...dan keturunan abbas.'

Yang jadi pertanyaan adalah : Haruskah kita mengikuti perkataan Nabi Muhammad saw yang menyebutkan dengan rinci siapakah Ahlulbait beliau, atau kita mesti menerima pendapat salah seorang sahabat yang dalam kasus ini, bertentangan dengan pendapat Nabi Muhammad saw?

Di samping itu, sejarah telah mengatakan kepada kita bahwa terdapat banyak tiran / diktator di antara Abbasiyah (keturunan Abbas). Dapatkah kita menaati mereka dan mencintai mereka? Padahal Allah Swt berfirman dalam Quran, Dan janganlah kamu menaati orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka (QS Al-Insan 24)
jalak pengkor - 22/09/2011 06:48 PM
#75

Apakah para tiran dari kalangan Abbasiyah adalah termasuk Ahlulbait yang diletakkan oleh Rasulullah berdampingan dengan Quran sebagai salah satu dari dua barang berharga yang beliau tinggalkan untuk umat beliau agar mereka menaatinya setelah beliau?

Hal ini menunjukkan bahwa Ahlulbait adalah orang-oang yang khusus dan tidak termasuk di dalamnya kerabat-kerabat Nabi Muhammad saw. Secara kebahasaan, kata 'Ahlulbait' sama sekali tidak mengandung makna kerabat. Kata ini secara kebahasaan berarti orang yang muncul dari darah beliau sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis Zaid bin Arqam yang pertama. Jadi, bahkan istri-istri Nabi tidak termasuk ke dalam Ahlulbait.

Ketika Nabi dengan jelas tidak memasukkan istri-istri beliau ke dalam Ahlulbait, seperti Aisyah, Ummu Salamah dan Shafiyah juga menegaskan kenyataan ini, dan ketika Zaid bersumpah demi Allah bahwa istri-istri Nabi tidak termasuk ke dalam Ahlulbait , maka tidak ada pilihan lain kecuali menerima kenyataan bahwa istri-istri Rasulullah bukan termasuk anggota Ahlulbait.

Kini kita fokuskan pandangan kalimat terakhir dari hadis Zaid bin Arqam yang pertama : 'Seorang perempuan hidup bersama dengan seorang pria (sebagai istrinya) untuk sementara waktu. Dia (pria) kemudian (dapat) menceraikannya dan dia (perempuan itu) kemabli kepada orangtua dan kaumnya. Ahlulbait Nabi Muhammad saw adalah garis darah dan keturunan beliau (orang-orang yang berasal dari keturunan beliau) yang dilarang menerima sedekah.'

Ini adalah penalaran yang tepat. Hubungan pernikahan antara seorang pria dan perempuan tidak pernah dianggap sebagai permanen. Hubungan itu hanyalah hubungan yang kondisional dan dapat putus setiap saat, sebab seorang istri dapat diceraikan.
jalak pengkor - 22/09/2011 07:07 PM
#76

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan


Katakanlah : Yaa Allah, sampaikan salam sejahtera kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Muhammad dan istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Dalam hadist ini, Rasulullah SAW tidak menyebut “Keluarganya” dengan kata “Aali Muhammad” tapi menggantikannya (menjabarkannya) dengan kata “Istri-istrinya dan keturunannya”.

Saya akan bahas hadis yg mas cantumkan \)

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3370].

اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3369 dan Shahih Muslim no. 407].

Dengan kedua hadis ini mas berpendapat bahwa Lafaz “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsiran dari lafaz “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad). Kemudian mas menyimpulkan bahwa Ahlul Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi SAW.

Hujjah ini keliru, Silahkan perhatikan hadis shalawat dalam Musnad Ahmad berikut :

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

"Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Hadis Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth].

Dengan memperhatikan ketiga hadis tersebut maka yang dimaksud Aali Muhammad (keluarga nabi Muhammad) adalah :

[*]Ahlul Bait Muhammad SAW
[*]Istri-istri Muhammad SAW
[*]Keturunan Muhammad SAW



Bukankah ini justru menunjukkan kalau Ahlu Bait dan Istri-istri Nabi adalah dua entitas yang berbeda walaupun keduanya termasuk “keluarga Muhammad”. Ditambah lagi terdapat hadis shahih lain yang menunjukkan dengan jelas kalau Istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul Bait yaitu riwayat Zaid bin Arqam.

Sebutan Ahlul Bait bisa memiliki makna umum maupun khusus. Secara umum baik istri Nabi ataupun kerabat Nabi lainnya (keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas) bisa saja disebut sebagai Ahlul Bait tetapi secara khusus Nabi SAW pernah mengkhususkan siapa yang dimaksud Ahlul Bait terkait dengan keutamaan dan kemuliaan khusus yang mereka sandang seperti Ahlul Bait dalam Ayat Tathir yang dikhususkan oleh Nabi SAW untuk Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. \)
jalak pengkor - 22/09/2011 07:11 PM
#77

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan
wah, sumbernya comat-comot...
diambil seenak jidat

jangan-jangan ini model2nya O hashem ya??
atau jangan2 emang sumbernya O hashem ? \)

orang yang ngejek2 Abu Hurairah, dengan ngambil hujjahnya Umar D
loh in fakta mas tidak sekedar comat sana-sini atau copas semata, silahkan mas riset sendiri \)

saya ga tahu siapa itu o hasheem \)
jalak pengkor - 22/09/2011 07:15 PM
#78

Quote:
Original Posted By MrBurakkuSan
nah, itu gan yang menjadi kejanggalan, dan kenapa orang-orang syiah tidak menjawabnya secara gamblang ?? yang ada (seperti yang dilakukan mas jalak pengkor) menutak-atik sumber-sumber shahih di mata ahlussunnah, untuk kemudia menjustifikasinya sebagai jawaban dari kalangan syiah. Suatu hal yang sering dilakukan oleh O Hashem. Seorang yang pengambilan pendapatnya, prinsip pemikirannya, istimbath-nya dinilai tidak konsisten...
saya sudah menjawabnya dgn jelas dan gamblang berikut bukti hadisnya bahwa :

1. Penduduk kufah di tekan oleh Yazid
2. Banyaknya agen yazid yg menyamar sbg Syi'ah
3. Perintah pembunuhan thd setiap pengikut Imam Husein di Kufah

Dan hujjah saya sudah cukup, melihat postingan mas diatas, mas hanya menuduh saya comot seenak jidat, tapi mas ga mengeluarkan bukti-bukti sanggahan kegiatan intelijen pasukan yazid \)
cah_mancab - 23/09/2011 02:20 AM
#79

Rosul sendiri menyebutkan 10 orang dijamin masuk surga..diantaranya 4 khulafayrasyidin..
tapi syiah malah mencela mereka dan menuduh berkonspirasi keji dalam mengangkat abu bakar..
Umar yang pertama membaiat Abu bakar...Umar dijamin masuk surga..tapi syiah mencela Umar..

Ali sendiri membaiat abu bakar..tapi seperti biasa syiah mengatakan itu hanya taqiyah...

lah apa pantas seorang Imam Ali(bagi syiah) melakukan taqiyah?bagaimana kebenaran bisa di sampaikan dengan jelas apabila Imam tertinggi nya saja bertaqiyah..

banyak isyarat2 rosul yang mengarah ke Abu bakar sebagai penggantinya..

ni hadits yang paling jelas :

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu?, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Panggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan –pent.), kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)


menurut ane justru ada kemungkinan syiah itu adalah hasil konspirasi fihak tertentu untuk memecah belah umat islam..memanfaatkan isu kecintaan terhadap ahlul bait..
cinta kepada ahlul bait itu memang wajib bagi seluruh umat islam..ahlu sunnah juga begitu..
jalak pengkor - 23/09/2011 05:14 AM
#80

Quote:
Original Posted By cah_mancab
Rosul sendiri menyebutkan 10 orang dijamin masuk surga..diantaranya 4 khulafayrasyidin..
tapi syiah malah mencela mereka dan menuduh berkonspirasi keji dalam mengangkat abu bakar..
Umar yang pertama membaiat Abu bakar...Umar dijamin masuk surga..tapi syiah mencela Umar..

Ali sendiri membaiat abu bakar..tapi seperti biasa syiah mengatakan itu hanya taqiyah...

lah apa pantas seorang Imam Ali(bagi syiah) melakukan taqiyah?bagaimana kebenaran bisa di sampaikan dengan jelas apabila Imam tertinggi nya saja bertaqiyah..

banyak isyarat2 rosul yang mengarah ke Abu bakar sebagai penggantinya..

ni hadits yang paling jelas :

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu?, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Panggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan –pent.), kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)


menurut ane justru ada kemungkinan syiah itu adalah hasil konspirasi fihak tertentu untuk memecah belah umat islam..memanfaatkan isu kecintaan terhadap ahlul bait..
cinta kepada ahlul bait itu memang wajib bagi seluruh umat islam..ahlu sunnah juga begitu..

Mari kita telaah kembali hadis tsb \)

hadis yang mas cantumkan itu selain tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, juga tidak pernah dijadikan argumen khalifah pertama dan kedua dalam pemilihan mereka sebagai khalifah. Padahal jika hadis Rasul itu memang benar adanya maka itu juga dapat dijadikan penguat akan legalitas kekhalifahan mereka.

hadis itu memiliki ‘tanda tanya besar’ yang mengakibatkan kita meragukan kebenarannya. Hadis itu memiliki dua sandaran (sanad) yang kedua-duanya tidak dapat dipercaya.

Sanad pertama hadis itu kembali kepada pribadi yang bernama Humaid bin Abdurrahman bin Auf, dimana konon Umaid menukil hadis tersebut dari ayahnya, Abdurrahman bin Auf. Padahal sewaktu ayahnya meninggal, Humaid masih berusia kanak-kanak, 10 tahun. (Tahdzib at-Tahdzib 3/40)

Sanad kedua kembali kepada pribadi Abdullah bin Dzalim dimana kepribadiannya sangat ditentang oleh para ulama ilmu hadis Ahlusunnah sendiri, seperti: Bukhari, Ibnu ‘Adi, Aqili dan selainnya. (Tahdzib at-Tahdzib 5/236, adz-Dzu’afaa’ al-Kabir 2/267, al-Kamil fi adz-Dzu’afaa’ 4/223)

bersambung >>>>>>>>
Page 4 of 43 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah