Sejarah & Xenology
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah
Total Views: 27159 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 6 of 43 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›

MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:08 PM
#101

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
KEGIATAN INTELIJEN AGEN YAZID DI KUFAH PART 1

.


Spoiler for aspek gaib imam husein

Menurut khomeini, seorang pemegang mandat welayat faqih yang pertama, para Imam mampu menundukkan setiap atom di jagad raya, lantas kenapa Imam Husein harus takut dengan intelijen ???

Khomeini menyatakan: para imam memiliki tempat yang tinggi dan derajat mulia, seluruh atom di alam ini tunduk pada wilayah dan kekuasaan imam
[Al Hukumah Al Islamiyah hal 105.]

Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitabnya Aqaidul Imamiyah pada halaman 67: Kami meyakini bahwa imam adalah sama seperti Nabi, harus memiliki sifat yang sempurna dan menjadi yang terbaik dari seluruh manusia.
Sepertinya Allah dianggap memerlukan para imam untuk menyimpan ilmuNya, jadi harus "dititipkan" pada para imam syiah. Para imam menyimpan ilmu Allah berarti para imam mengetahui segala sesuatu tanpa batas. Karena ilmu Allah tidak ada batasannya. Bahkan dalam Al Qur'an ilmu Allah sebegitu luas sehingga jika ditulis dengan tinta sebanyak tujuh lautan masih kurang. Sebegitulah ilmu para imam. Ini jelas menyamakan antara imam dengan Allah, karena ilmu Allah dianggap sama dengan ilmu para imam. Lalu bagaimana dengan para Nabi? Jelas para Nabi tidak menyimpan segala ilmu Allah, para Nabi adalah manusia biasa yang diutus oleh Allah utnuk menyampaikan risalahNya kepada manusia. Segala tindakan Nabi dituntun oleh wahyu yang turun pada mereka. maka sudah jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah, tidak mengetahui apa yang Allah ketahui. Berbeda dengan para imam yang menjadi tempat simpanan ilmu Allah, artinya mereka mengetahui apa saja yang Allah ketahui, ilmu mereka sama dengan ilmu Allah. Jika memang demikian mestinya yang diutus oleh Allah bukannya Nabi tetapi imam. Para Nabi sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi pada ummat mereka setelah mereka wafat:

(Ingatlah), hari diwaktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah bertanya (kepada mereka): "Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu." Para rasul menjawab: "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu); sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib." (QS. 5:109)

Tetapi imam Ja'far di atas menyatakan bahwa para imam juga mengetahui perkara-perkara yang ghaib, sama seperti Allah. Nabi Isa pun tidak tahu apa yang terjadi dengan ummatnya. Allah bertanya pada Nabi Isa apakah pernah menyuruh ummatnya untuk menyembah diri dan ibunya. Beliau menjawab pertanyaan Allah:

Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya, Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. (QS. 5:116)

Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: "Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. (QS. 5:117)

Ini dikuatkan lagi oleh riwayat berikutnya –pada kitab dan halaman yang sama- dari Surah bin Kulaib, Abu Ja'far –Muhammad Al Baqir- mengatakan padanya: Demi Allah kami adalah penyimpan Allah di bumi dan langitnya, bukan menyimpan emas dan perak tetapi menyimpan ilmuNya. Sebagai bukti bahwa mereka memiliki ilmu Allah, terdapat riwayat yang menjabarkan ilmu yang dimiliki para imam. Jelas para Nabi tidak memiliki ilmu Allah. Mereka hanya memiliki pengetahuan hal ghaib ketika diberitahu oleh Allah:

Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (QS. 72:26)

Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)


Riwayat dari kitab Al Kafi jilid 1 hal 192, dari Abu Ja'far mengatakan: Kami adalah wali perintah Allah, kami adalah pembawa ilmu Allah dan penyimpan wahyu Allah.

Bagaimana mungkin Imam Husein nggak tahu kalau ada intel ??



apa itu vilayat e faqih??

http://www.alqoimkaltim.com/menentang-wilayatul-faqih-menentang-aimmah-as/

ALQOIMKALTIM.COM – Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Misbah Yazdi dalam pertemuannya dengan jama’ah Pasdaran mengatakan manusia diciptakan Allah swt dilengkapi dengan keinginan dan kehendak untuk memilih jalan kebahagiaan, “Keistimewaan manusia sebagai khalifatullah di muka bumi, adalah dilengkapi oleh kemampuan untuk memilih jalan kesempurnaan atau sebaliknya memilih jalan yang membuat dia jatuh dari kemanusiaannya.”

......................................................................................
Selanjutnya, Ayatulllah Misbah Yazdi mengaitkan kewajiban para mukallifin di zaman tidak adanya kemungkinan untuk berhubungan langsung dengan Imam, “Jangankan di masa kegaiban, di masa dimana umat bisa berinteraksi langsung dengan imam maksum, banyak dari kalangan umat manusia yang tidak memanfaatkannya. Karenanya, Imam Maksum senantiasa menunjuk seseorang untuk menjadi wakilnya, yang kemudian perintah tersebut dalam budaya kita disebut sebagai Wilayatul Faqih.”

“Sejarah juga menyebutkan, sejak awal permulaan Islam
“Sejarah juga menyebutkan, sejak awal permulaan Islam sampai sekarang, dengan ketiadaan akses langsung dengan Maksumin, terlebih lagi pada zaman kegaiban, para fukaha dan ulama sangat memberikan peran besar dalam memberikan petunjuk dan pengajaran kepada ummat. Tanpa peran dan kehadiran mereka, bisa dipastikan tidak ada yang tersisa dari Islam ini, kalaupun Islam tetap ada, ia akan menjadi sebuah agama yang menyimpang jauh dari awal ketetapannya.”

“Allah swt telah memberikan kemampuan yang besar kepada manusia, hatta meskipun Al-Qur’an yang diturunkan Allah swt sebagai kitab petunjuk, oleh kemampuan olah pikir manusia, Al-Qur’an justru mampu dimanfaatkan untuk menyesatkan manusia dan jauh dari Tuhan. Sebagaimana dilakukan oleh mereka yang murtad dari agama ini, mereka menggunakan Al-Qur’an untuk menyesatkan manusia. Karenanya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, berupaya keras mengenal dengan baik agama ini, mempelajarinya dari ulama-ulama yang Rabbani, sehingga mampu membedakan mana yang jalan benar dan mana yang jalan yang sesat, sehingga mampu memilih dan menetapkan jalan mana yang mesti ditempuh.”

Untuk lebih memudahkan memahami maksudnya, Ayatullah Misbah Yazdi mengangkat kisah Bani Israil yang disesatkan oleh Samiri, “Apa yang terjadi pada Bani Israil yang diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an adalah pelajaran bagi umat Islam. Sebagaimana Samiri yang dikenal oleh Bani Israil sebagai orang yang berilmu dan abid, namun justru menyesatkan ummatnya dan mengalihkannya dari ajaran tauhid yang diajarkan oleh Nabi Musa as. Ini disebabkan karena ketidak taatan Bani Israil terhadap perintah Nabi Musa as yang telah menetapkan Nabi Harun as sebagai wakil dan penggantinya selama kepergian Nabi Musa as. Alhamdulillah umat Syiah mengambil dengan baik pelajaran pada kisah Samiri tersebut, khususnya pada masa awal-awal meninggalnya Rasulullah saww, jika banyak dikalangan umat Islam saat itu yang melupakan pesan Nabi yang telah disampaikannya 70 hari sebelum wafatnya di Ghadir Khum, umat Syiah tetap setia terhadap pesan tersebut dengan menjadikan Ali bin Abi Thalib as sebagai imam yang harus ditaati.”


.............................................................

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Misbah Yazdi berkata, “Jika kita telah mengetahui kebenaran, kita harus tetap setia terhadap kebenaran tersebut. Jika kita telah melakukan penelitian dan terbukti bahwa Wilayatul Faqih adalah kebenaran, maka kita harus tegar berdiri dengan setia membelanya. Dan harus kita tahu, menentang Wilayatul Faqih sama halnya menentang Aimmah as, dan menurut riwayat sama halnya dengan mensyirikkan Tuhan.” -selesai-
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:15 PM
#102

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
Mas berkata tidak ada hadis dari Nabi bahwa akan terjadi pengkhianatan besar-besaran, maka saya jawab hadis itu ada :

Imam Ali as. berulang kali mengatakan:

إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.

“Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.” (Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142)

Baik saya akan jawab semampu saya mengapa akhirnya Imam 'Ali berbaiat kepada Abu Bakar :

Pertama, dalam sejarah disebutkan ketika Abu Bakar memimpin pemerintahan selam enam bulan, Musailamah Kadzdzab dengan pasukan murtadnya siap untuk menyerang Madinah. Abbas, paman Imam Ali as, yang berkhidmat kepada beliau as telah bersiap dan menyatakan, “Islam akan lenyap, dikarenakan tidak seorang pun yang taat pada perintah Abu Bakar untuk pergi perang melawan Musailamah dan pasukannya’. Rakyat berkata, ‘Karena Imam Ali as tidak membaiat Abu Bakar maka kami tidak ikut serta dalam peperangan melawan Musailamah.’

Akhirnya, Imam Ali as pun bangkit dan datang ke masjid membaiat Abu Bakar untuk menyelamatkan Islam. Ketika itu pula, rakyat memastikan untuk berperang melawan pasukan Musailamah. Tertulis dalam sejarah bahwa dalam peperangan melawam pasukan Musailamah, seratus orang penghafal al-Qur’an tewas, yang pada akhirnya Musailamah kalah. Jika Imam Ali as tidak membaiatnya, kaum Muslim dan Islam akan musnah (untuk selama-lamanya).

فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.

“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.” (nahjul balaghah, pidato imam 'Ali as ke 74)

Kedua: Pada saat itu, Kaisar Romawi menanti kesempatan adanya perbedaan dan perselisihan di antara kaum Muslim yang ada di Madinah hingga dia siap untuk menyerang dan dapat menjatuhkan Islam.

Ketiga, Imam Ali as. berpidato:

أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا .وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ!

فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, وفِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْنَهْب 611;ا.

“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya.

Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang dengan tangan terputus atau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!

Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. Aku menyaksikan warisanku dirampok… “ (Nahjul Balaghah, pidato Imam 'Ali as ke 3)

Selain itu kita juga tahu bahwa sejarah selalu berulang, dan kita tahu benar kedudukan hadis nabi yang mengatakan bahwa kedudukan Imam 'Ali pada Rasulullah saw sama dengan kedudukan nabi Harun as disisi nabi Musa as.

Dan kita juga tahu bahwa Nabi Harun as pernah dikhianati oleh datan, obiran dan on bin pelet atau yang lebih dikenal nama dgn kelompok Samiriy (Samiriy dlm bahasa arab bentuknya jamak bukan tunggal, jadi bukan satu individu).

Dan hampir terjadi perpecahan / perang saudara diantara sesama pengikut nabi harun as, oelh karena itu beliau bertaqiyah. Ini bukti dalam Al-Quran :

Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150)

Jadi, diamnya Imam 'Ali (taqiyah) sama dengan diamnya Nabi Harun as, yakni mencegah terjadinya pertumpahan darah sesama muslim diusianya yang masih muda. Oleh karena itu mau tidak mau, demi tujuan yang lebih baik, Imam 'Ali bertaqiyah dgn cara membaiat Abu Bakar walau itu ibarat ditusuk mata dan dicekik kerongkongannya. \)


Spoiler for akidah
itulah akidah syiah, lebih suka suudzon dengan shahabat, serta berlebihan dalam mengagungkan ahlul bait, hingga hadits Rasulullah pun dimansuhkan dengan beribu macam alasan. Kesalahan madzhab syiah adalah menganggap Imam haruslah ma'shum. Jadi mereka menganggap para shahabat (imam2 dari ahlus sunnah), adalah tidak pantas diikuti. Padahal tidak ada yang ma'shum selain rasulullah shallalahu alaihi wa sallam. Dan Rasulullah telah mewanti-wanti kita untuk mengikuti jejak para Shahabat serta Khulafaur Rasyidin


Biar nggak OOT kita tambahin info permainan politik syiah pada pembantaian Baghdad

Pengkhianatan Menteri Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad Al- Alqami Asy-Syi'i dengan Masuknya Orang-orang Tatar ke Baghdad

Ibnu Katsir menceritakan beberapa peristiwa yang terjadi pada tahun 642 H:
"Pada tahun itu Al-Musta'shim Billah mengangkat Muayyiduddin Abu Thalib Muhammad bin Ahmad Al-Alqami sebagai menterinya, yang justru kemudian mendatangkan keburukan bagi dirinya sendiri dan bagi penduduk kota Baghdad, yang akhirnya menyebabkan Al-Musta'shim tidak dapat menyelamatkan kementeriannya.

Dia bukanlah menteri yang dapat dipercaya, dan kinerjanya pun tidaklah dapat diharapkan. Dialah yang telah membantu kehancuran atas kaum muslimin dalam persoalan Hulaku Khan (pemimpin Tatar). Semoga Allah menjelekannya dan juga mereka.

Ibnu Katsir juga menceritakan peristiwa yang terjadi pada tahun 656 H. Dimana pada tahun ini, pasukan Tatar dalam jumlah yang cukup besar datang ke Baghdad, pusat Daulah Abbasiyah pada saat itu:
"Tahun itu baru saja dimulai, sementara pasukan Tatar sudah berada di Baghdad dengan dikawal oleh dua orang pemimpin yang berada di bagian depan prajurit-prajurit penguasa Tatar Hulaku Khan. Bantuan juga datang kepada mereka dari penguasa Al-Maushil untuk membantu mereka melawan orang-orang Baghdad, Miratah, Hadayah, dan Tuhafah.. Pemberian bantuan itu dilakukan karena mereka takut pada orang-orang Tatar, dan untuk mencari muka dan memberi sanjungan kepada mereka. Semoga Allah menjelekkan mereka semua. Sehingga orang-orang Tatar dapat mengepung pusat khilafah dan menghujaninya dengan anak-anak panah dari segala penjuru.

Hulako Khan datang dengan seluruh pasukan yang dimilikinya. Yang berjumlah kira-kira mencapai dua ratus ribu tentara. Dia dalam keadaan sangat marah pada khalifah. Hal itu terjadi, karena menteri Muayyiduddin Muhammad bin Al-Alqami (pengkhianat) menyarankan kepada khalifah untuk mengirimkan hadiah yang cukup berharga kepada Hulako Khan pada awal kedatangannya dari Hamdan menuju Iraq, sebagai bentuk penghargaan untuknya atas kesediaannya mengunjungi negara mereka.

Khalifah menolak menyerahkan hadiah berharga (dawidarahu) kepadanya. Dan orang-orang mengatakan, bahwa menteri melakukan ini hanya semata-mata untuk mencari muka dan menyanjung raja Tatar karena harta yang telah dikirimkan kepadanya. Mereka menyarankan untuk memberikannya sesuatu yang sederhana saja, kemudian dia mengirimkan hadiah padanya.

Raja Hulako Khan memandang rendah hadiah tersebut, lalu dia mengutus seseorang kepada khalifah untuk meminta dawidarahu (sejenis benda berharga) yang telah disebutkan dan juga Sulaiman Syah. Khalifah tidak mengirimkan keduanya kepadanya dan tidak memperdulikannya. Raja Tatar mempercepat kedatangannya dan sampai di Baghdad dengan pasukannya yang besar, kafir, jahat, zhalim, brutal, dan tidak percaya kepada Allah dan hari akhir.

Mereka mengepung Baghdad dari bagian barat dan timur. Tentara-tentara Baghdad dalam kondisi sangat lemah dan terhinakan, jumlah mereka yang tersisa tidak sampai sepuluh ribu tentara. Mereka semua adalah orang-orang yang telah terlantarkan kebutuhan ekonominya. Sehingga banyak dari mereka yang meminta-minta di pasar-pasar dan di pintu-pintu masjid.

Para penyair membuat puisi-puisi yang menyesali keadaan mereka dan bersedih atas Islam dan pemeluknya. Semua itu bermula dari ide sang menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi. Itu karena pada tahun sebelumnya terjadi peperangan hebat antara Ahlu sunnah dan Syiah; Al-Kurkh dan wilayah-wilayah Syiah dirampas, sehingga rumah-rumah para kerabat menteri pun ikut dirampas, maka kemarahannya menjadi memuncak.


to be continued...
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:22 PM
#103

Inilah yang memotifasinya untuk merencanakan sesuatu yang jahat dan keji kepada Islam dan para pemeluknya. Belum pernah ada dalam sejarah sesuatu yang lebih keji dari itu, semenjak Baghdad dibangun sampai dengan saat ini. Karena itu dialah orang pertama yang datang ke Tatar, yakni Ibnu Al-Alqami. Dia keluar bersama keluarganya, para sahabatnya, para pembantu dan pelayannya. Kemudian Sultan Hulako Khan bertemu dengannya, semoga Allah melaknatnya. Kemudian dia pulang dan menyarankan khalifah pergi dan menghadap kepadanya agar terjadi sebuah kesepakatan yang isinya yaitu; setengah dari pajak Iraq untuk mereka dan sisanya untuk khalifah.

Untuk kepergiannya, khalifah membutuhkan tujuh ratus orang penunggang kuda dari para qadhi, para fuqaha, orang-orang sufi, para pejabat negara dan kepala pemerintahan. Ketika mereka mendekati kediaman Sultan Hulako Khan, mereka melarang rombongan khalifah masuk kecuali hanya tujuh belas orang saja. Khalifah termasuk dari orang-orang yang disebutkan, sementara sebagian yang lain diturunkan dari kendaran-kendaraan mereka, kemudian harta benda mereka dirampas dan ada yang dibunuh. Khalifah dihadirkan di hadapan Hulako, kemudian dia menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya. Diceritakan bahwa, perkataan khalifah membingungkan akibat besarnya penghinaan dan kesombongan.

Kemudian dia dibawa kembali ke Baghdad dengan ditemani oleh Tuan Nashiruddin Ath-Thusi dan menteri Ibnu Al-Alqami serta lainnya. Khalifah dibawah pengepungan dan penawanan mereka. Banyak sekali yang disita oleh mereka dari dar khilafah (pusat khilafah) berupa emas, perhiasan, batu permata, mutiara dan barang-barang berharga lainnya. Orang-orang Syiah dan orang-orang munafik menyarankan kepada Hulako Khan untuk tidak membuat kesepakatan damai dengan khalifah. Menteri berkata, "Kapan pun terjadi kesepakatan untuk membagi dua, tidak akan bertahan kecuali hanya satu atau dua tahun, kemudian persoalannya akan kembali seperti semula." Mereka menganggap lebih baik membunuh khalifah.

Ketika khalifah kembali menghadap Sultan Hulako, dia memerintahkan untuk membunuhnya. Diriwayatkan bahwa yang menyarankan untuk membunuh khalifah adalah menteri Ibnu Al-Alqami dan Tuan Nashiruddin Ath-Thusi. Tuan Nashir ini telah ikut dalam melayaninya ketika dia membuka benteng Al-Mut dan merebutnya dari tangan orang-orang Ismailiyah. Nashir adalah salah seorang menteri Syams Asy-Syumus dan juga sebelumnya, yaitu ayahnya, Alau`ddin bin Jalaluddin. Hulako memilih Nashir untuk membantunya, seperti seorang perdana menteri.

Ketika Hulako datang dan dia masih merasa mengkhawatirkan pembunuhan khalifah, sang menteri menenangkannya dan menganggap ringan hal itu. Kemudian mereka membunuhnya dengan cara menendangnya, sementara dia dimasukkan di dalam karung, agar darahnya tidak menetes ke tanah. Mereka menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang bersamanya seperti; para qadhi, para penguasa, para pemimpin, para pejabat, dan para pembuat undang-undang (Anggota Dewan) di negaranya.

Mereka mendatangi negaranya dan membunuh siapa saja yang dapat mereka bunuh, laki-laki, para wanita, anak-anak, orang-orang tua dan para pemuda. Banyak orang-orang yang melarikan diri dengan masuk ke dalam sumur dan kamar mandi, serta tempat-tempat kotor. Mereka juga bersembunyi selama berhari-hari tidak menampakan diri. Sekelompok orang berkumpul di toko-toko dan mengunci pintunya; lalu orang-orang Tatar membukanya, baik dengan cara dihancurkan atau dibakar, kemudian mereka masuk. Orang-orang pun melarikan diri ke tempat-tempat yang tinggi, tetapi mereka tetap membunuhnya dengan potongan besi, sehingga saluran-saluran air di gang-gang dialiri oleh darah. Begitu juga di masjid-masjid dan tempat-tempat pengungsian.

Tidak ada satu pun dari mereka yang selamat kecuali orang-orang yang meminta jaminan keamanan, yaitu mereka yang dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang yang berlindung pada mereka dan pergi ke rumah menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi. Sekelompok pedagang meminta jaminan keamanan kepada mereka dengan cara memberi mereka bayaran yang tinggi, supaya mereka dan harta benda mereka selamat.

Baghdad benar-benar menjadi seperti puing-puing yang hancur setelah sebelumnya adalah negeri yang paling indah, tidak ada apa pun di sana, kecuali hanya sedikit orang saja dari mereka yang dalam ketakutan, kelaparan, kehinaan dan kekurangan.

Sebelum peristiwa ini, menteri Ibnu Al-Alqami telah berusaha keras merekayasa para tentara dan banyak menghapus nama mereka dari dewan (sengaj a agar kekuatan semakin berkurang). Sehingga jumlah prajurit di akhir kekuasaan Al-Mustanshir, kurang lebih hanya mencapai seratus ribu orang, sebagian pemimpin dari mereka ada yang seperti raja-raja besar. Dia selalu berusaha untuk mengurangi jumlah mereka sampai mereka hanya tersisa sepuluh ribu saja. Kemudian mengirim surat kepada orang-orang Tatar dan membujuk mereka agar datang ke negerinya serta memudahkan hal itu untuk mereka.

to be continued
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:23 PM
#104

Dia menceritakan situasi dan kondisi yang sebenarnya kepada mereka, dan juga mengungkapan mengenai kelemahan-kelemahan mereka. Semua itu dilakukannya karena ingin melenyapkan Ahlu sunnah, menyebarluaskan bid'ah Syiah dan mengangkat khalifah dari orang-orang Fathimiyah, serta menghabisi para ulama dan mufti (dari Ahlu sunnah). Allah Mahakuasa atas urusannya.

Menteri Ibnu Al-Alqami Ar-Rafidhi si pengkhianat ini sangat membenci ulama-ulama Ahlu sunnah, bahkan kebenciaannya itu hanya dapat disembuhkan dengan membunuh mereka. Salah satu dari mereka yang paling menonjol pada saat itu adalah Syaikh Muhyiddin Yusuf bin Syaikh Abul Faraj bin Al-Jauzi. Beliau dan ketiga anak-anaknya (Abdullah, Abdurrahman dan Abdul Karim) dan para pejabat negara satu persatu diundang untuk datang ke pusat khilafah, kemudian beliau dibawa ke pemakaman Al-Ghilal, lalu disembelih seperti halnya kambing yang sedang disembelih. Dibunuh pula Syaikhnya para Syaikh, penasehat Khalifah Shadruddin Ali bin Nayyar. Para khatib, para imam, dan mereka yang hafal Al-Qur'an juga ikut dibunuh, sehingga menyebabkan masjid-masjid dan shalat berjamaah serta shalat Jumat di Baghdad terhenti selama beberapa bulan.

Menteri Ibnu Al-Alqami -semoga Allah menjelekkan dan melaknatnya- ingin menutup masjid-masjid dan sekolah-sekolah di Baghdad, dan menggantinya dengan masyahid (pusara-pusara) dan perkampungan syiah, serta membangun sekolah yang besar bagi orang-orang Syiah untuk menyebarkan ilmu dan syiar mereka.

Jumlah Korban Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Orang-orang berbeda pendapat mengenai jumlah kaum muslimin yang tewas di Baghdad dalam peristiwa ini. Ada yang mengatakan delapan ratus ribu, ada yang mengatakan satu juta delapan ratus ribu, dan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai dua jutaan jiwa.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepadaNyalah kita kembali.

"Korban-korban tewas yang berada di jalanan, seakan-akan seperti gundukan tanah yang bertumpuk-tumpuk. Ketika hujan turun, mayat-mayat mereka segera berubah dan bangkai-bangkai mereka mengeluarkan bau busuk ke seluruh penjuru kota. Udara menjadi tercemar dan menimbulkan wabah penyakit yang luar biasa di mana-mana, sehingga menyebar dan berterbangan di udara sampai ke negara Syam. Banyak orang yang meninggal akibat perubahan cuaca dan tercemarnya udara. Semua orang menderita akibat kenaikan harga, wabah penyakit, kematian, pembunuhan, dan penyakit th'aun. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Setelah mengungkapkan pengkhianatan-pengkhianatan Syiah secara terperinci, saya ingin menyatakan dua hal:

Pertama; Kami hanya dapat mengatakan bahwa kondisi khalifah Abbasiyah pada saat itu sangat jelek, ide dan perencanaannya sangat buruk.

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Kekuasaan Bani Abbasiyah tidak dapat menjangkau semua negara, seperti Bani Umayyah yang mampu menundukkan seluruh wilayah, dan seluruh negara. Beberapa negara lepas dari tangan Bani Abbasiyah, sehingga khalifah hanya menguasai Baghdad dan sebagian wilayah Iraq. Ini disebabkan oleh lemahnya khilafah mereka dan kesibukan mereka pada nafsu syahwat dan mengumpulkan harta sepanjang waktu.

Kedua; Yang sangat mengherankan adalah perilaku menteri Syiah ini, bagaiman dia dapat melakukan semua ini? Padahal Khalifah Abbasiyah yang sunni telah berbaik hati padanya dengan mengangkatnya sebagai menterinya, pada saat di mana apabila orang-orang Syiah berkuasa, mereka tidak akan mungkin memberikan kesempatan kepada orang-orang Ahlu sunnah untuk menempati posisi manapun.

Ini adalah masalah yang selalu terjadi pada mereka sampai sekarang. Mengenai situasi Iran saat ini, Ustadz Nashiruddin Al-Hasyimi menjelaskan bagaimana keadaan Ahlu sunnah di sana. Beliau menjelaskan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh Ahlu sunnah di sana, seperti; membangun masjid di kota-kota besar, mencetak buku-buku mereka, dan berfatwa untuk mereka dengan madzhab mereka sendiri.

Beliau mengatakan, "Orang-orang Ahlu sunnah dilarang bekerja di kantor-kantor pemerintahan; di mana mereka tidak dipekerjakan di sana, walaupun mereka mengantongi gelar Doktor, baik pada posisi-posisi penting maupun posisi-posisi yang tidak penting. Kecuali hanya sekelompok kecil yang tersisa dari masa pemerintahan sebelumnya di kantor-kantor pemerintahan, itu terjadi setelah aksi pembersihan besar-besaran paska revolusi.

to be continued
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:25 PM
#105

Pembahasan Seputar Motif Pengkhianatan Ibnu Al-Alqami
Tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 655 H Ibnu Katsir berkata, "Pada saat itu di Baghdad terjadi fitnah yang hebat antara orang-orang Syiah dengan orang-orang Ahlu sunnah. Dimana Al-Kurkh dan rumah-rumah orang Syiah ditaklukkan, bahkan termasuk rumah kerabat menteri Ibnu Al-Alqami. Inilah yang menjadi salah satu penyebab paling kuat sehingga dia meminta bantuan kepada orang-orang Tatar.

Namun, mungkin ini hanya salah satu dari motifnya, tetapi motif utama orang Syiah yang jahat ini berkhianat adalah dari akidah yang diyakininya.

Pada permulaan buku ini telah kami jelaskan, bahwa mereka tidak memandang kewajiban jihad kecuali dengan kehadiran Al-Mahdi, yaitu imam mereka yang kedua belas. Al-Kulaini penulis kitab Al-Kafi meriwayatkan dari Abu Abdillah Alaihissalam, beliau berkata, "Setiap bendera yang dikibarkan sebelum datangnya (Al-Mandi), maka orang tersebut adalah thaghut, yang menyembah selain Allah Azza wa Jalla." Riwayat ini juga disebutkan oleh Syaikh mereka, Al-Hur Al-Amili dalam Wasa'il Asy-Syi'ah,

Dalam Shahifah As-Sajadiyah Al-Kamilah disebutkan, "Dari Abu Abdillah Alaihissalam, beliau berkata, 'Tidak keluar dan tidak akan keluar dari kita, Ahlul Bait, sampai datangnya Qa'im kita, seseorang yang menentang kezhaliman atau menegakkan kebenaran melainkan dia akan mengalami penderitaan, dan perbuatannya itu akan menambah kesulitan pada kita dan Syiah kita."

Juru bicara mereka, An-Nuri Ath-Thibrisi meriwayatkan dalam Mustadrak "Dari Abu Ja'far Alaihissalam, beliau berkata, perumpamaan orang yang keluar dari kita Ahlul Bait sebelum datangnya Al-Qa`im Alaihissalam, seperti anak burung yang terbang dan jatuh dari sarangnya, kemudian anak-anak pada mempermainkannya.

Apakah bisa diharapkan mereka mengumumkan jihad melawan orang-orang Tatar atau lainnya, sedangkan mereka menganggap kita sebagai orang-orang kafir, sementara Al-Mahdi mereka belum keluar?


Petikan Buku Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam (terjemahan), oleh Dr Imad Abdus Sami’ Husain, terbitan al-Kautsar


maaf ya kalau bahasanya sunni sekali, males ngedit dari yang raw soalnya... Yb
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:44 PM
#106

BIOGRAFI SEKUTU POLITIK IBNU AL-ALQAMI, NASIR AL-TUSI

https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=345096833&postcount=21

SIAPAKAH BELIAU ?

Beliau adalah seorang filsuf, teolog, matematikus, dan astronom. Beliau kurang dikenal dalam dunis Islam Sunni, termasuk di Indonesia, tetapi sangat dikenal di dunia Muslim Syi'ah. Ia lebih dikenal sebagai seorang teolog dan filsuf daripada sebagai seorang sufi. Tokoh ini terkenal karena berjasa membujuk Hulagu Khan (penguasa mogul; 1217-1265) untuk membangun Observatorium (teropong bintang) yang lengkap. Disana tersimpan banyak buku dan risalah hasil rampasan bangsa Mongol dan Tartar dalam serbuan mereka ke Irak, Suriah dan daerah lain. Bagi orang Persia (iran), Nasiruddin dikenal sebagai "guru manusia".

'ALLAMAH HILLI

Nasiruddin dapat dipandang sebagai teolog terbesar Muslim Syi'ah. Atas kejeniusan serta kepakarannya, teologi Muslim Syi'ah mencapai puncaknya pada masanya. Pemikiran beliau terus berkembang baik di bidang teologi maupun filsafat.

Banyak dari antara para muridnya mengikuti jejak keilmuannya seperti 'Allamah Hilli, seorang penulis Muslim Syi'ah yang produktif, dan Qutubuddin asy-Syirazi (1236-1311) seorang ulama Muslim Syi'ah ahli astronomi, kedokteran, fisika, fisafat dan agama.

PENASIHAT HULAGU KHAN

Khwaja Nasiruddin di lahirkan di Tus (Khurasan, Iran) pada tahun 597 H / 1201 M. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, beliau mempelajari berbagai cabang ilmu, antara lain fikih, usul fikih, kalam, filsafat, tasawuf, kedokteran, matematika dan musik (teori). At-Tusi mengawali karirnya sebagai seornag astronom.

Penyerbuan bangsa Mongol ke Khurasan pada awal abad ke-7 H (abad 13 M) terjadi ketika beliau menyelesaikan studinya di Nisabur. Ia lalu mendapat perlindungan dari Syi'ah Isma'illiyah, kemudian di pindahkan ke benteng Alamut (markas sekte hasyasyi'un pecahan dari Syi'ah Isma'iliyyah di Persia) sebagia tawanan perang.

Ketika bangsa Mongol merebut benteng Alamut, Khwaja Nasiruddin memainkan peran penting dalam penyerahan kekuasaan penguasa Isma'iliyyah, Rukn ad-Din Khursyah kepada Hulagu Khan. Sebagai imbalan atas tindakannya itu, Hulagu Khan mengangkat Khwaja Nasiruddin menjadi penasihatnya sampai penaklukan Baghdad pada tahun 657 H / 1258 M. Ia meninggal dunia di Baghdad pada tahun 672 H / 1274 M.

ZIJ-I IL KHANI

Selain terkenal dengan observatorium Maraghah, Nasiruddin terkenal pula dengan Zil-i Il Khani (tabel astronomi Ilkhaniyyah/tabel akurat gerakan planet). Para ahli astronomi lain juga ikut serta dalama penyusunan tabel ini. Perhitungan tabel ini di dasarkan pada posisi matahari tengah hari di kota Maraghah.

Nama tabel ini di ambil dari kata "Ilkhan", gelar kehormatan bagi Hulagu Khan. Tabel ini kemudian menjadi terkenal di seluruh Asia terutama di negri China, dan menjadi pegangan wajib para ilmu astronomi selama beberapa abad.

OBSERVATORIUM MARAGHAH

Jasa utama Khwaja Nasiruddin dalam pengembangan ilmu meliputi pembangunan sebuah Obesrvatorium di Maraghah, Azerbaijan. Pembangunan Observatorium itu dapat di lakuakn atas bantuan Hulagu Khan, penguasa Mogul.

Observatorium itu di lengkapi dengan alat yang paling baik pada masa itu. Di sana terdapat pula perpustakaan besar. menurut Ibnu Syakir, seorang ahli sejarah, koleksi perpustakaan itu berjumlah lebih dari 400.000 buku. Observatorium itu menjadi pusat penelitian astronomi dan matematika pada waktu itu.
MrBurakkuSan - 27/09/2011 03:59 PM
#107

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
saya akan membahas mengenai hadis zaid bin arqam ini \)

dalam shahih muslim, bab keutamaan sahabat, bagian keutamaan 'ali, edisi 1980 terbitan arab saudi, versi arab, jilid 4, halaman 1873, hadis ke 36, muslim melaporkan bahwa zaid bin arqam berkata :

"aku telah menua dan telah melupakan beberapa hal yang telah aku ingat dalam hubungannya dengan rasulullah saw. Jadi, terimalah apa saja yang aku riwayatkan padamu, dan terhadap apa yang tidak aku riwayatkan! Janganlah memaksaku untuk melakukannya!"

zaid kemudian berkata, "suatu hari rasulullah saw berdiri dan berkhutbah di sebuah telaga yang dikenal sebagai khum yang terletak di antara mekkah dan madinah. Beliau memuji allah, mensucikan-nya, dan berkhutbah dan mendesak kita seraya mengatakan, 'kini sampai ke tujuan kita, wahai manusia! Aku adalah seorang manusia. Aku hampir kedatangan menerima kedatangan utusan tuhanku dan aku harus menjawab panggilan itu. Tetapi aku meninggalkan bersama kalian dua barang yang berat. Salah satunya adalah kitabullah....yang kedua adalah anggota rumah tanggaku (ahlulbait). Demi allah, aku mengingatkan kalian (akan tugas kalian) terhadap ahllbaitku! (beliau mengucapkannya tiga kali)'"

dia (husein bin sabra) bertanya kepada zaid, "siapakah anggota ahlulbait beliau? Bukankah istri-istri beliau termasuk ahlulbait?" zaid menjawab, "istri-istri beliau termasuk ahlulbait, tetapi 'ahlul' disini adalah orang-orang yang dilarang menerima zakat.'

dia (husein bin sabra) bertanya kembali , 'siapakah mereka?' dia kemudian menjawab, 'ali dan keturunannya, aqil dan keturunannya, dan keturunan ja'far dan keturunan abbas.'"

terlihat bahwa pada kalimat hadis yang saya bold merahdiatas bukan kata-kata nabi muhammad saw, itu hanyalah pendapat pribadi zaid bin arqam. Berlawanan dengan hadis sebelumnya, disini zaid menyatakan bahwa 'istri-istri nabi adalah termasuk diantara ahlulbait beliau tetapi ahlulbait di sini adalah (orang-orang yang dilarang menerima zakat)...'ali dan keturunannya,...dan keturunan abbas.'

yang jadi pertanyaan adalah : Haruskah kita mengikuti perkataan nabi muhammad saw yang menyebutkan dengan rinci siapakah ahlulbait beliau, atau kita mesti menerima pendapat salah seorang sahabat yang dalam kasus ini, bertentangan dengan pendapat nabi muhammad saw?

Di samping itu, sejarah telah mengatakan kepada kita bahwa terdapat banyak tiran / diktator di antara abbasiyah (keturunan abbas). Dapatkah kita menaati mereka dan mencintai mereka? Padahal allah swt berfirman dalam quran, dan janganlah kamu menaati orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka (qs al-insan 24)


Pendapat Shahabat menurut keyakinan ahlus sunnah adalah pendapat yang menerangkan (men-syarah) pendapat Rasulullah, sebagaimana pendapat para Imam Syiah malah lebih hebat dari pendapat nabi dalam ajaran Syiah.

Sebab shahabat memiliki keutamaan yang tidak dimansuhkan kecuali oleh kaum Syiah, silahkan searching sendiri. Bahwasanya dinamakan ahlus sunnah karena taatnya mereka pada sabda Rasulullah (termasuk di dalamnya adalah perintah mengikuti Shahabat, Tabiin, dan tabiut tabiin) dan dipanggil rafidhah karena menolak Imam Zaid. \)
retro jersey - 27/09/2011 10:42 PM
#108
siapakah ABDULLAH BIN SABA ??
ABDULLAH BIN SABA’ TOKOH YAHUDI “PENCIPTA” GOLONGAN SYI’AH
Ideologi Ibnu Saba’ dan Berbagai Kesesatannya

Dibawah ini disebutkan hal-hal urgen yang menjadi ideologi Ibnu Saba’ dimana ia membawa dan meyakinkan pengikutnya pada masalah-masalah tersebut. Demikianlah ideologi sesat ini menyusup ke dalam sekte-sekte Syi’ah. Sedang motivasi kami menggelar ideologi Yahudi ini dari kitab-kitab dan riwayat mereka tentang imam-imam yang ma’sum di kalangan mereka oleh karena mereka mengatakan :

a. Percaya kepada ismah para imam menjadikan hadist-hadist yang berasal dari mereka shahih/benar, tanpa mengahruskan bersambungnya sanad tersebut dengan Nabi Sholallohu ‘alaihi was Salam, sebagaimana hal itu berlaku di kalangan ahli sunnah (lihat Tarikhul Imamah, hal : 158).
b. Karena iamam di kalangan Imamiah adalah ma’sum, maka tidak ada keraguan sedikitpun terhadap apa yang ia ucapkan (lihat Tarikhul Imamiah, hal : 140)
c. Al-Mamaqani berkata : ”Semua hadits kamu mutlak berasal dari Imam yang ma’sum.” (lihat Tanhiqul Maqol, jilid I/17). Kitab Al-Mamaqani termasuk diantara kitab-kitab jarh dan ta’dil yang paling urgen di kalangan syi’ah.

Setelah penjelasan-penjelasan ini, yang mengharuskan satu kaum untuk menerima kabar-kabar yang diriwayatkan dalam karangan-karangan mereka, maka akan kami sebutkan kesesatan-kesesatan utama yang disebarluaskan oleh Abdullah bin Saba’, yaitu :
1. Ia adalah orang pertama yang berpendapat tentang adanya wasiat Rasululloh Sholallohu ‘alaihi was Salam untuk Ali, yaitu bahwa Ali adalah penggantinya atas ummatnya setelah beliau berdasarkan nash.

2. Ia adalah orang pertama yang menunjukkan sikap ‘bebas diri’ terhadap musuh-musuh Ali –menurut anggapannya- dan menyatakan resistansi terhadap para penentangnya serta mengkafirkan mereka. Bukti akan kebenaran ungkapan tersebut berasal dari buku sejarah berdasarkan riwayat An-Nubakhti, Al-Kasyi, Al-Mamaqani, At-Tasturi dan para sejarawan Syi’ah lainnya.

3. Ia adalah orang pertama yang mengatakan tentang ke-Tuhanan Ali radiallohu ‘anhu

4. Ia adalah orang pertama yang mendakwahkan kenabian dari sekte-sekte Syi’ah yang ekstrim (ghulat). Sebagai bukti adalah apa yang diriwayatkan Al-Kasyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Quluwaith Al-Qummi.

5. Ia adalah orang pertama ya ng me ngada-adakan pe ndapat me nge nai kembalinya Ali ke dunia setelah wafatnya dan tentang kembalinya Rasululloh Sholallohu ‘alaihi was Salam. Petama kali ia mengutarakan pendapatnya secara nyata adalah ketika ia di Mesir.
Ia berkata : “Adalah sangat mengherankan jika orang menganggap bahwa Isa kelak akan kembali, namun mendustakan kembalinya Muhammad sholallohu ‘alaihi was Salam. Sedang Alloh berfirman : “Sesungguhnya Alloh yang mewajibkan (pelaksanaan hukum0hukum) Al-Qur’an atasmu, pasti akan mengembalikanmu ke tempat kembali.” Maka, dengan denikian, Muhammad lebih berhak untuk kembali ke dunia daripada Isa. Ucapannya itu bisa ditermia. Ia meletakkan dasar-dasar raj’ah (kehidupan kembali setelah mati) bagi mereka, maka mereka mulai memperbinca ngka nnya . (li hat Tarik h Dimasyq nomor 602, dalam terjemahan Abdullah bin Saba’, juga dalam Tahzib Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Badran jilid V/428).

6. Ibnu Saba’ yang beragama Yahudi itu mendakwahkan, bahwa Ali adalah binatang yang akan keluar dari perut bumi dan sesungguhnya dialah yang menciptakan makhluk dan mebagi-bagikan rizki.

7. Kaum Sabaiah berkata : “Mereka sebenarnya tidak mati, melainkan terbang setelah kematian mereka dan mereka dinamakan Ath-Thoyyaroh (yang berterbangan). Ibnu Thahir Al-Maqdisi berkata : “Sesungguhnya golongan Sabiah dinamakan Thoyarroh. Mereka menganggap diri mereka tidak mati, dan kematian mereka tidak lain adalah terbangnya diri mereka dalam gelapnya malam. Nama ini dipergunakan oleh Imam Jarh wat ta’dil di kalangan Syi’ah untuk –‘menetapkan’- kejelekan para rawi. (lihat Majmul Bayan fi tafsiri Quran oleh Abu Ali Fadhli bin Hasan Ath-Thabrani dari ulama Syi’ah Imamiah pada abad ke VI jilid IV, hal 234, cetakan Al-Irfan, Sidon 1355 H./1937 M. dan tafsir Al-Qummi jilid II, hal 131)

8. Suatu kamu dari golongan Sabaiah, telah berbicara tentang perpindahan ruhul qudus dalam diri para imam. Mereka menamakannya ‘reinkarnasi’. Ibnu Thahir Al=Maqdisi berkata : “Ada satu kaum diantara kaum Thoyyaroh (golongan Sabaiah) yang beranggapan, bahwa ruhul qudus terdapat dalam diri nabi, sebagaimana sebelumnya terdapat dalam diri Isa yang kemudian berpindah ke dalam diri Ali, lalu Hasan, Husain, demikian pula berpindah ke dalam diri para Imam. Umumnya mereka mengakui adanya reinkarnasi dan raj’ah.” (lihat Al-Badu wat Tarikh jilid V hal 129, cetakan 1916).

9. Kaum Sabaiah berkata : “Kami mendapat petunjuk melalui wahyu, namun banyak orang yang tersesat melalui isinya dan kami mendapat petunjuk berupa ilmu, namun tersembunyi bagi mereka.

10.Mereka bertanya : “Sesungguhnya Rasululloh Sholallahu ‘alaihi was Salam telah menyembunyikan 9/10 dari wahyu. Ocehan-ocehan omong kosong semacam itu telah disanggah oleh salah seorang Imam Ahlu Bait, yaitu Al-Hasan bin Muhammad Ibnul Hanafiah dalam risalahnya Al-Irja dan yang meriwayatkannya adalah orang-orang terpercaya di kalangan Syi’ah.
A l - H a f i d z A l - J a u z a j a n i ( 2 5 9 H ) b e r k a t a t e n t a n g Ib n u S a b a ’ : “ Ia beranggapan bahwa Al-Qur’an (yang ada sekarang) hanya 1 juz dari 9 juz. Dan ilmunya ada pada Ali, maka Ali melarangnya setelah menginginkannya. (lihat Al-Farqu bainal Firaq, hal : 234, ide semacam ini juga disebutkan oelh Ibnu Abil Hadid dalam Syarhu Nahjul Balagah jilid II, hal : 309)

11.Mereka juga mengatakan : “Bahwa Ali ada di langit. Petir adalah suaranya, kilat adalah cemetinya. Siapa diantara mereka yang mendengar suara petir, maka akan mengatakan : “Alaikassalam, ya Amirul Mukminin! (salam sejahtera bagimu, wahai amirul mukminin).”

Asy-Syaikh Muhyiddin Abdul Hamid, telah berkomentar tentang ideology semacam ini, yaitu : “Hingga kini saya masih melihat anak-anak kecil di Kairo berlarian ketika hujan deras, sambil berteriak : “Wahai berkah Ali, melimpahlah.” (lihat Maqalatul Islamiyyin, hal : 85)
MrBurakkuSan - 28/09/2011 01:41 AM
#109

Quote:
Original Posted By jalak pengkor
Saya akan bahas hadis yg mas cantumkan \)

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3370].

اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3369 dan Shahih Muslim no. 407].

Dengan kedua hadis ini mas berpendapat bahwa Lafaz “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsiran dari lafaz “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad). Kemudian mas menyimpulkan bahwa Ahlul Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi SAW.

Hujjah ini keliru, Silahkan perhatikan hadis shalawat dalam Musnad Ahmad berikut :

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

"Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Hadis Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth].

Dengan memperhatikan ketiga hadis tersebut maka yang dimaksud Aali Muhammad (keluarga nabi Muhammad) adalah :

[*]Ahlul Bait Muhammad SAW
[*]Istri-istri Muhammad SAW
[*]Keturunan Muhammad SAW



Bukankah ini justru menunjukkan kalau Ahlu Bait dan Istri-istri Nabi adalah dua entitas yang berbeda walaupun keduanya termasuk “keluarga Muhammad”. Ditambah lagi terdapat hadis shahih lain yang menunjukkan dengan jelas kalau Istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul Bait yaitu riwayat Zaid bin Arqam.

Sebutan Ahlul Bait bisa memiliki makna umum maupun khusus. Secara umum baik istri Nabi ataupun kerabat Nabi lainnya (keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas) bisa saja disebut sebagai Ahlul Bait tetapi secara khusus Nabi SAW pernah mengkhususkan siapa yang dimaksud Ahlul Bait terkait dengan keutamaan dan kemuliaan khusus yang mereka sandang seperti Ahlul Bait dalam Ayat Tathir yang dikhususkan oleh Nabi SAW untuk Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. \)


1. at least, jika memang istri2 Rasulullah bukan ahlul bait hadits-hadits yang antum sebutkan sendiri di atas menunjukkan sebuah kepastian bahwa Istri-istri Rasulullah memiliki "derajat" yang sama dengan ahlul bait. dan toh hadits-hadits tersebut mengucapkan mereka secara bersamaan \)

2. Jika memang ahlul bait dibatasi cuma pada hadits ahlul kisa maka Imam 12 (selain 3 imam pertama) atau apapun sebutannya jelas bukan di dalam lingkup ahlul bait.... \)
MrBurakkuSan - 29/09/2011 01:51 AM
#110

SYI’AH & RAFIDHAH

(menelusuri perbedaan syiah "moderat" dengan syiah yang disebut ulama sunni sebagai rafidhah -pent)

Istilah "Rafidhah" sering kita dengar di berbagai buku, majalah dan media massa, baik di Timur Tengah ataupun di Negara-Negara Islam, Namun sayangnya terdapat beberapa kekeliruan dalam memahaminya, sehingga ungkapan "Rafidhah" belum begitu dipastikan apakah gelaran tersebut untuk seluruh sekte Syi’ah, atau hanya sekte-sekte tertentu saja dalam berbagai aliran Syi'ah?. Untuk menjawab hal ini (hakikat pemakaian istilah "Rafidhah"), maka penulis dalam tulisan ini akan memaparkan asal-usul munculnya "Rafidhah".

Kalau melihat sejarah, penamaan Rafidhah ini erat kaitannya dengan gelaran yang diberikan oleh pendiri syi’ah Zaidiyah yaitu Imam Zain bin Ali, yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H.

Salah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah Imam Yahya bin Hamzah 'Alawi (w. 749 H) mendefinisikan Syi’ah Zaidiyah sebagai: "Setiap golongan memiliki doktrin yang dibawa oleh pemimpin masing-masing. Adapun istilah Zaidiyah muncul setelah era Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Semenjak itulah Zaidiyah dikenal sebagai salah satu aliran Syi’ah yang mengatasnamakan nama pemimpinnya".

Jelas dari teks diatas penamaan Syi’ah Zaidiyah dikaitkan dengan Imam Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Zaidiyah merupakan salah satu kelompok Syiah terbesar selain Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Isma’iliyah yang masih eksis sampai saat ini. Imam Ahmad bin Yahya al-Murtadha (w. 840 H) dalam kitabnya yang terkenal "al-Bahru az-Zahhar" menegaskan, bahwa ada tiga golongan besar Syi’ah, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’ilyah (di kenal dengan Syi'ah Bathiniyah).

Sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab klasik yang membahas tentang aliran-aliran Islam menjelaskan bahwa sebenarnya sejarah kemunculan Zaidiyah ditandai ketika Imam Zaid melancarkan revolusi melawan pemerintahan Bani Umayyah, yang didukung oleh lima belas ribu pasukan berasal dari penduduk Kufah di Iraq, di mana hal serupa dilakukan sebelumnya oleh kakek Imam Zaid yaitu imam Hussein bin Ali bin Abi Talib, dan mengalami kegagalan fatal dalam pertempuran di kota Karbala, dengan menewaskan 61 tentara Imam Hussein bin Ali. Namun selanjutnya Imam Zaid tidak menerima kegagalan tersebut, justru ia bersikeras untuk meneruskan revolusi kakeknya dan terus menerus memerangi Bani Umayyah sampai titik darah penghabisan. Maka ia dan bala tentaranya meninggalkan kota Kufah menuju tempat kekuasaan gubernur (Yusuf bin Umar at-Thsaqafi) yang merupakan agen kepala negara ketika itu (Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan) yang berkuasa dari tahun 105 sampai tahun 125 Hijriyah.

to be continued
MrBurakkuSan - 29/09/2011 01:55 AM
#111

Tatkala kedua pasukan tersebut bertemu dan saling berhadap-hadapan, dan sebelum kedua pasukan tersebut memulai peperangan, pasukan imam Zaid yang berasal dari penduduk Kufah berkata kepada Imam Zaid: "Kami akan menyokong perjuangamu, namun sebelumnya kami ingin tahu terlebih dahulu sikapmu terhadap Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab di mana kedua-duanya telah menzalimi kakekmu Imam Ali bin Abi Thalib". Imam Zaid menjawab: "bagi saya mereka berdua adalah orang yang baik, dan saya tak pernah mendengar ucapan dari ayahku Imam Zainal Abidin tentang perihal keduanya kecuali kebaikan. Dan kalaulah saat ini saya berani melawan dan menantang perang Bani Umayyah, itu disebabkan karena mereka telah membunuh kakek saya (imam Husain bin Ali). Di samping itu, mereka telah memberanguskan kota Madinah di tengah teriknya matahari pada siang hari. Ketika itu terjadilah peperangan sengit di pintu Tiba kota Madinah. Dan tentara Yazid bin Mu’awiyah (w 63H) ketika itu telah menginjak-injak kehormatan kami, dan membunuh beberapa orang sahabat. Dan mereka menghujani mesjid dengan lemparan batu dan api".


Setelah mendengar sikap dan jawaban Imam Zaid, para tentara Kufah meninggalkan Imam Zaid. Dan Imam Zaid berkata kepada mereka: "kalian telah menolak saya, kalian telah menolak saya". Semenjak hari itu tentara tersebut dikenal dengan nama (Rafidhah) . Mereka inilah yang di kemudian hari dikenal dengan nama golongan Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah.

Peristiwa inilah yang menjadi akar sejarah penggunaan istilah (Rafidhah) bagi golongan syi’ah Imamiyah, yang di tandai dengan penolakan dukungan perang mereka bersama Imam Zaid untuk menghadapi gubernur Iraq ketika itu (Yusuf bin Umar at-Tsaqafi). Sejarah ini dicatat oleh salah satu sejarawan dan ulama Zaidiyah yang bernama Nasywan al-Himyari (w 573H). Dan dia menegaskan bahwa Penamaan Rafidha bagi golongan syi’ah, disebabkan oleh penolakan mereka membantu imam Zaid untuk berpeperang melawan Bani Umayyah. Yaitu, ketika mereka menanyakan sikap Imam Zaid terhadap Abu Bakar dan Umar. Dan ternyata Imam Zaid memberikan tanggapan yang positif terhadap kedua mantan khalifah tersebut) .

Dan kemungkinan besar catatan Nasywan inilah yang membuat salah satu tokoh Mu’tazilah (al-Jahidz) menyimpulkan, bahwa syi’ah sebenarnya terbagi kepada dua golongan saja, yaitu: Syi'ah Zaidiyah dan Syi'ah Rafidhah. Meskipun demikian, dia mengakui kalau masih terdapat golongan lain, namun golongan tersebut baginya tidak terorganisir.

Dari keterangan al-Jahidz nampak jelas bahwa istilah "Rafidhah" menurutnya adalah dua golongan syi’ah, yaitu: Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah dan Ismiliyah al-Bathiniyah.

Hemat penulis, berdasarkan keterangan diatas, sebuah kekeliruan bila memandang perkataan atau istilah "Rafidhah" disamaratakan untuk semua golongan syi’ah tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang terjadi pada salah seorang sejarawan Ahlu Sunnah yang sangat populer yang berasal dari golongan 'Asy'ariah, yaitu Abdul Qahir al-Baghdadi dalam bukunya "al-Farq Baina al-Firaq". Di situ disebutkan: "Golongan Rafidhah setelah wafatnya imam Ali bin Abi Thalib terpecah kepada empat golongan, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah dan Ghulat (ekstrim). Dan anehnya pandangan inipun diikuti oleh al-Isfarayani yang menegaskan kembali bahwa: "Golongan-golongan Rafidhah terbagi kepada tiga, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Kaisaniyah".

Kekeliruan ini diingatkan oleh salah seorang ulama syi’ah Zaidiyah "Ahmad bin Musa at-Thabari". Ia menegaskan bahwa: "Asumsi golongan al-Hasywiyah (Ahlu Sunnah) terhadap syi’ah, mereka menjuluki semua golongan syi’ah dengan satu penamaan, yaitu Rafidhah. Pandangan ini dari segi sejarah tentunya keliru. Sebab yang dimaksud Rafidhah sebenarnya adalah Syi'ah Imamiyah yang merupakan salah satu golongan Syi’ah. Mereka menolak untuk menyokong imam Zaid dalam berperang melawan pasukan Umawiyyah, padahal mereka sendiri telah membai'at imam Zaid. Bahkan pada hakikatnya, golongan imamiyah sendiri memiliki beberapa sekte lagi, diantaranya: Syi'ah Qaramithah (Isma'iliyah). Pada kesempatan lain ia menjelaskan bahwa: "Golongan Imamiyah adalah pengikut imam Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Itsna'asyariyah), dan pengikut imam Isma’il bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Isma'iliyah".

Kemudian, imam Shalih al-Maqbali ikut menegaskan juga bahwa syi’ah Zaidiyah bukanlah bagian dari golongan Rafidhah, dan bukan pula golongan Syi’ah ekstim (ghulat). Ia berkata: (Syi’ah Zaidiyah tidak masuk ke dalam golongan Rafidhah. Bahkan juga tidak dapat digolongkan kepada syi’ah ekstrim, karena Syi'ah Zaidiyah memandang baik para sahabat (yang dikafirkan oleh Imamiyah dan Isma'iliyah), seperti: Utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, terlebih lagi kepada dua sahabat Rasulullah, khalifah Abu Bakar dan dan Umar .

Terdapat juga pandangan lain dan tak dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, yaitu asumsi bahwa Zaidiyah sebenarnya bukan golongan syi’ah, melainkan ia salah satu dari aliran pemikiran Mu’tazilah. Dengan alasan: jika ide mengaitkan Zaidiyah dengan Syi’ah atas dasar bahwa pendiri Zaidiyah adalah berasal dari keturunan ahlu bait, maka begitu juga halnya dengan mu'tazilah, sesungguhnya ide pemikiran Mu’tazilah juga muncul dari ajaran ahlu bait. Statemen ini bukan merupakan sesuatu yang aneh dan menimbulkan rasa heran, sebab Washil bin 'Atha sebagai pendiri Mu’tazilah belajar dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyyah yang merupakan ahlu bait.

to be continued
MrBurakkuSan - 29/09/2011 01:56 AM
#112

Di samping itu, Zaidiyah bukan mazhab yang ekstrim dan berlebihan, sebagaimana ekstimnya syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Sebagai contoh yang konkrit, kepemimpinan imam Ali dijadikan fokus utama golongan Syi’ah dan membuahkan nilai-nilai yang ekstrim. Dan keekstriman tersebut tidak ditemukan dalam sikap Zaidiyah terhadap imam, di mana Zaidiyah tidak menganggap imam itu ma'sum. Hal ini disebabkan karena Zaidiyah sangat moderat dalam menilai seorang imam, dalam arti lain tidak mengkultuskan imam. Ditambah lagi, Zaidiyah tidak mengkafirkan para sahabat, sebagaimana syi’ah Imamiyah dan Isma’iliyah terang-terangan mengkafirkan mereka.

Di antara ulama yang berpandangan bahwa Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran Mu’tazilah dan bukan bagian dari golongan Syi’ah adalah, DR. Muhammad Imarah, lalu diikuti oleh Dr. Abdul Aziz al-Maqalih. Keduanya menegaskan bahwa: "(Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran dalam Mu’tazilah. Oleh karena itu, tidaklah tepat pandangan para ulama -baik klasik ataupun kontemporer- yang menggolongkan Zaidiyah sebagai bagian daripada syi’ah" . Senada dengan pandangan diatas, Syekh Ali Asfur menafikan Zaidiyah sebagai bagian dari golongan Syi’ah, dengan alasan yang sama juga bahwa Zaidiyah tidak mengatakan imam itu ma’sum (terpelihara dari noda dan dosa) .

Hemat penulis ini merupakan asumsi yang keliru dan perlu di tinjau ulang. Sebab semangat Syi’ah sangat jelas dalam Zaidiyah. Khususnya pada masalah Imamah (politik), di mana mereka mensyaratkan (seperti halnya Imamiyah dan Isma'iliyah) bahwa imam mesti berasal dari keturunan Fatimah. Dan bedanya, kalau Imamiyah dan Isma'iliyah mensyaratkan garis keturunan dari imam Husein saja, sedangkan Zaidiyah berpendapat dari garis keturunan keduanya, yaitu: Hasan dan Husein, (dan hal ini juga yang membuat mereka bertengkar secara interen).

Adapun alasan bahwa Syi'ah Zaidiyah dikenal sebagai golongan yang memiliki pemikiran yang moderat dan tidak ekstrim dibandingkan golongan Syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Maka alasan inipun tidak dapat diterima. Sebab, kemoderatan dan keekstriman berpikir merupakan tabi’at tiap golongan dan aliran manapun. Oleh karena itu, tiap-tiap golongan dapat ditemukan kecenderungan moderat dan ekstrim, seperti halnya dalam golongan Syi'ah Zaidiyah. Di sanapun terdapat sekumpulan ulama Zaidiyah yang berpikiran ekstrim yang dikenal dengan golongan (Syi'ah Zaidiyah al-Jarudiyah). Rincian pandangan golongan ini dapat dibaca dalam buku penulis tentang teori politik Syi'ah "al-Firaq as-Syi'iyyah wa Ushuuluha as-Siyasiyah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha" USIM, Malaysia, 2009.

Imam Shalih al-Maqbali di lain tempat menjelaskan tentang adanya unsur moderat dan unsur ekstrim dalam tiap golongan, seperti yang terjadi dalam Syi'ah Zaidiyah. Ia menjelaskan lebih jauh bahwa: "Sebagian dari pengikut Awam Zaidiyah ada yang berpandangan bahwa derajat dan kedudukan seorang imam sama saja dengan kedudukan Nabi … dan hal ini membuktikan bahwa setiap mazhab ada saja unsur bid’ah didalamnya. Bahkan dipenuhi dengan berbagai bid’ah. Dan terlebih lagi kalau orang tersebut hanya mengandalkan kepada akal pikirannya sendiri. Dan yang tepenting serta merupakan realiti bahwa semua mazhab telah berbuat demikian, walaupun dalam sebagian permasalahan saja" .

to be continued
MrBurakkuSan - 29/09/2011 01:57 AM
#113

Juga perlu ditandaskan di sini, bahwa ulama Syi’ah Imamiyah telah menegaskan Zaidiyah sebagai salah satu golongan Syi’ah. Syekh al-Mufid (w 413H) berkata: "Sesungguhnya syi’ah itu ada dua golongan: Imamiyah dan Zaidiyah) . Dan Imamiyah yang dimaksudkan disini adalah: Itsna ‘Asyariah dan Ismal’iliyah".


Pada tempat lain, Syekh Muhammad Husein al-Kasyiful Ghita dalam penjelasannya tentang perbedaan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah dibandingkan syi’ah lain, ia menegaskan: "
keistimewaan utama yang dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dibandingkan dengan seluruh golongan dan aliran keislaman yang lain, yaitu keyakinan mereka terhadap imam dua belas. Dan atas dasar meyakini imam dua belas inilah yang membuat penamaan golongan imamiyah dengan nama "al-Itsna ‘Asyariah".

Sebab tidak semua golongan Syi’ah meyakini dua belas imam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penamaan Syi’ah mencakupi juga golongan Zaidiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Fathiyyah dan lain-lain" . Sebagai pelengkap, Nasywan al-Humayri menegaskan pembagian gologan Syi’ah kepada enam sekte, yaitu: (Saba'iyyah, Sahabiyyah, Gharabiyyah, Kamiliyyah, Zaidiyyah dan Imamiyyah) .

Ada pandangan lain dari Al-Malithi. Ia berpandangan, bahwa Mu’tazilah itu sebenarnya adalah bagian dari golongan Syi’ah Zaidiyah. Tentu pandangan ini tak dapat diterima. Sebab tidak dapat dipepertanggunjawabkan keilmiahannya.

Demikianlah asal usul penamaan Rafidhah, yang merupakan gelaran atau julukan yang diberikan oleh pendiri Syi’ah Zaidiyah yang dikategorikan sebagai salah satu golongan terbesar Syi’ah selain Syi'ah Imamiyah Itsna’asyariah dan Syi'ah Isma’iliyah Bathinyah.



DR Kamaludin Nurdin Marjuni

Department of Islamic Theology & Religion

ISLAMIC SCIENCE UNIVERSITY OF MALAYSIA
andreimot0 - 29/09/2011 09:47 AM
#114

waduh jadi ajang kopas dan penggiringan opini dibandingkan dengan analisis masing-masing kaskuser.

saya duduk dipojokan aja sambil baca postingan ini satu-persatu.
Semoga Imam Mahdi segera datang mendamaikan semua panji-panji yang ada.....
cah_mancab - 29/09/2011 02:31 PM
#115

Quote:
Original Posted By overloadrecords
selama kita mencari benang merahnya yg terpenting validasi sejarah gan bukan dogma dan taqlid terhadap siroh yg umum,setelah nyimak dari dua sisi yg berlainan baru aql dan logika kita bisa menilai dari benang merah yg ada \)

ya kalo gitu gak bakal ketemu...kitab2 rujukan syiah banyak menukil perkataan2 Ali dan lainya tanpa sanad sama sekali...ya sangat sulit lah di buktikan kebenaranya..
sangat berbeda dengan metode ahlu sunnah dalam menyeleksi hadits..

kalo gak ada standar yang sama yang dipakai..ya gak bakal ketemu..




Quote:
hadis kalo bertentangan dengan sejarah dan timing jadi gugur kasahihannya gan kalo dalam ilmu hadis suni

sejarah apa?sejarah menurut asumsi syiah kan?
hadits Rosul tentang keutamaan Abu bakar dan Umar sudah jelas shohih..tidak mungkin Rosul berdusta..
sekali lagi asumsi tidak bisa mengalahkan nash...



Quote:
sama gan,
mengambil kesimpulan itu jangan hanya dari satu hadits lalu mengingkari hadits2 lain..(di hati manusia ada AL FURQAN/pembeda)

kenyataanya agan melakukan hal itu..hadits2 Rosul tentang Abu bakar dan Umar tidak agan perhatikan..malah memilih memnangkan asumi..begitu juga ayat2 Alquran tentang kaum muhajirin dan anshor..dsb..

Quote:
cuma sebagian kecil yg berlebihan,yg sebagian besar menempatkan ALI pada posisi imam setelah RASULULLAH SAWW

taqiyah sama dusta beda bgt loh gan

sudah jelas hadits shohih Rosul mengatakan manusia terbaik setelah Rosul adalah Abu bakar kemudian Umar..



Quote:
taqiyah beda bgt sama dusta,jadi yg membuat umat terpecah itu dusta yg dilakukan muawiyah dan amr bin ash,baik sunni maupun syiah sepakat dalam benang merah ini \)
apalagi anak muawiyah yazid 1,sejarah umum dari beragam versi mencatat bagaimana dia berkuasa dengan zhalim


ane gak bahas raja2 dzolim...ane juga gak bahas muawiyah dan amr bin ash..
ane bahas taqiyah yang dilakukan seorang Imam yang diyakini penerus Rosul..

okelah kalo pengikut bertaqiyah..tapi ini Imam..penerus Rosul(menurut keyakinan syiah)

apakah pantas bertaqiyah?

apa agan meremehkan mental dan keimanan Ali sehingga harus bertaqiyah?

berapa banyak orang islam yang tersesatkan kalo Ali bertaqiyah...

imam syafii pernah bertaqiyah..dan ahlu sunnah tau itu..tapi ahlu sunnah tidak pernah menyebutkan Ali bertaqiyah..


kesimpulan : diskusi akan timpang karena sumber2 yang diambil oleh syiah dari kitab2 nya tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya...berbeda dengan sumber2 ahlu sunnah yang siapapun bisa meneliti dan ada ilmu nya yang baku untuk meneliti nya..
cah_mancab - 29/09/2011 02:44 PM
#116

ane mau tanya deh kepada agan2 yang syiah di sini..tolong jawab dengan jelas:

1. apa pendapat kalian tentang Abu Bakar dan Umar? tolong pendapat itu kalian perkuat dengan dalil

2. sah kah ke khilafahan Abu Bakar dan Umar?kapan Ali membaiat Abu bakar?kenapa Ali membaiat mereka?

3. apakah Ali dan Imam2 lainya maksum? dalil nya?

4.ane mau tanya tentang mushaf fatimah yang disebutkan al kulany dalam alkafi..
yang katanya isi nya 3 kali lipat mushaf saat ini,dan tidak satu huruf pun sama dengan Aquran saat ini..
nah apa yang agan2 ketahui tentang mushaf fatimah ini?

sekian
MrBurakkuSan - 29/09/2011 03:14 PM
#117

Quote:
Original Posted By andreimot0
waduh jadi ajang kopas dan penggiringan opini dibandingkan dengan analisis masing-masing kaskuser.

saya duduk dipojokan aja sambil baca postingan ini satu-persatu.
Semoga Imam Mahdi segera datang mendamaikan semua panji-panji yang ada.....


emang susah gan kalo ngomongin sunni syiah. Ane sebenernya nggak mau ikut2an ngomong, seandainya nama Imam Syafii tidak dikait-kaitkan dengan syiah. Sebab SUNNI BUKAN NAWASHIB!!! Di dalam sunni juga ada doktrin mencintai ahlul bait yang tertera dalam nash2 yang shohih.

Yang namanya ngomongin sejarah sunni vs syiah pasti berkaitan dengan ahlul kisa, ghadir kumm, tsaqiah, perang shiffien, karbala dll.

Yang jelas bukan hal yang aneh jika Imam Syafii tampak "syiah"nya. Karena memang sunni bukan nasibi, sunni mencintai ahlul bait.

Quote:
Original Posted By cah_mancab

ane gak bahas raja2 dzolim...ane juga gak bahas muawiyah dan amr bin ash..
ane bahas taqiyah yang dilakukan seorang Imam yang diyakini penerus Rosul..

okelah kalo pengikut bertaqiyah..tapi ini Imam..penerus Rosul(menurut keyakinan syiah)

apakah pantas bertaqiyah?



padahal Syiah Imamiyah (ismailiyah dan 12 imam) juga tidak kalah seringnya mengabdi pada Raja-raja Zalim

1. Nasir al-tusi mengabdi pada Hulagu, padahal jelas-jelas Hulagu ini pembunuh dan pembantai

2. Ibnu al-Alqami juga mengabdi pada khalifah Abbasiyah (meskipun tujuannya untuk menghancurkan)

3. Dr. Ali Syariati menyebut dinasti safawid (leluhur negara Iran yang merupakan dinasti yang bertanggung jawab atas bertahannya mazhab Syiah 12 imam di zaman ini) sebagai Syiah Hitam.

4. Ayatullah Sistani dengan tenangnya berdiam di Iraq, padahal Iraq itu boneka penjajah Amerika (???)

Jadi menurut mas Jalak Pengkor, yang namanya penguasa zalim itu apapun yang bermazhab sunni kayaknya \)
12313th - 29/09/2011 10:01 PM
#118

kita bahas sejarah Syiah atau mau copas2an artikel?
polkmn - 29/09/2011 10:45 PM
#119

Quote:
Original Posted By 12313th
kita bahas sejarah Syiah atau mau copas2an artikel?


Gimana mau diskusi kalau pertanyaan ane tidak dijawab ...
cjik - 29/09/2011 10:53 PM
#120

pertanyaan gw tentang khums masih belum jelas dijawab tapi lumayan lah, well sempet terpengaruh juga dg propaganda2 di SF sebelah.

silahkan dilanjut
Page 6 of 43 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 >  Last ›
Home > CASCISCUS > EDUCATION > Sejarah & Xenology > [DISKUSI] Sejarah Munculnya Syi’ah