Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 10 of 13 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

buhitoz - 27/10/2011 03:47 AM
#181
Ubo Rampe Menempati Rumah baru
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Dalam menempati rumah baru, ada ritual yang biasa dilakukan oleh keluarga yang akan menempatinya. Ritual itu dinamakan “Slup-slupan”. Dalam ritual ini, ada beberapa hal yang harus di persiapkan :
1. Lampu Minyak
2. Tempat Air (diisi air dari tempat asal)
3. Beras dan bumbu
4. Tiker
5. Sapu Lidi

Prosesi :
Ada dua orang yang perlu melakukan ritual ini, satu orang memegang sapu lidi untuk menyapu, dan satu orang lagi memegang lampu minyak dan tempat air. Dua orang ini akan berdoa terlebih dahulu di depan rumah dan setelah berdoa, mulailah mereka mengitari rumah dengan menyapu dan menyirami sekeliling rumah dengan air dari dalam tempatnya tersebut.

Setelah selesai, lampu minyak tadi harus menyala selama sehari dan tidak boleh padam. Dan di satukan di salah satu sudut rumah beserta dengan beras, tiker, bumbu dan empon-emponnya.

Makna :
- Air disiram ke sekeliling rumah agar rumah menjadi dingin, anyeb, tentram. - - Sapu lidi dan kegiatan menyapu agar semua kotoran bersih, baik dari yang fisik maupun non fisik.
- Lampu agar selalu mendapat sinar terang dalam menjalani hidup.
- Beras, simbol agar tidak pernah kekurangan pangan.
- Bumbu dapur, sebagai simbol bahwa selalu tersedia bumbu untuk masak dan obat-obatan.
- Kembang setaman, agar rumah dan penghuninya selalu harum, berbuat baik.
- Tikar, simbol bahwa sesungguhnya kita harus satu maksud,satu tujuan yg kesemuanya itu hrs di dasari.

sumber: http://ryotahiro.blogsome.com/2009/04/29/slup-slupan-hari-pertama-menempati-rumah/
buhitoz - 27/10/2011 04:24 AM
#182
Seni Tarawangsa dan Makna Simbolisnya
Seni Tarawangsa

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Seni tarawangsa merupakan salah satu jenis seni tradisi yang hidup dan berkembang di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Saat ini keberadaannya masih dapat kita saksikan secara langsung karena kesenian tersebut ternyata masih digunakan oleh masyarakat di sana.

Istilah tarawangsa memiliki dua pengertian: (1) alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan (2) nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda. Sebagai alat musik gesek, tarawangsa tentu saja dimainkan dengan cara digesek. Akan tetapi yang digesek hanya satu dawai, yakni dawai yang paling dekat kepada pemain (dawai yang dipasang di tengah tiang tarawangsa); sementara dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri. Kemudian, sebagai nama salah satu jenis musik, tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kecapi, yang disebut kacapi.

Pemain seni tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain tarawangsa dan satu orang pemain kacapi. Pemain tarawangsa terdiri dari laki-laki, biasanya bekerja sebagai petani, dengan usia rata-rata 30 – 60 tahun. Dalam pertunjukannya ini biasanya dilibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa.

Seni tarawangsa biasanya disajikan pada saat upacara-upacara ritual yang berkaitan dengan mitos Dewi Padi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sri. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar penduduk Rancakalong mengandalkan hidup dari bersawah dan bercocok tanam. Dalam hal ini, seni tarawangsa merupakan sebuah bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang telah mereka dapatkan, juga sebagai media penghormatan terhadap Dewi Sri yang bertujuan untuk menyampaikan rasa terima kasih atas pertolongannya yang telah bersedia menghidupkan dan menyuburkan tanaman padi. Namun, dalam perkembangan selanjutnya selain disajikan pada upacara penghormatan terhadap Dewi Sri, tarawangsa disajikan pula pada acara-acara atau hal lain yang erat hubungannya dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat setempat, terutama yang berkaitan dengan acara selamatan atau syukuran, bahkan ada yang menggunakannya sebagai media untuk menyembuhkan orang sakit.

Asal-usul Seni Tarawangsa

Asal-usul seni tarawangsa sebenarnya masih belum dapat dipastikan secara tepat. Hal tersebut mungkin dikarenakan kurangnya minat menulis pada masyarakat Sunda pada saat itu. Seperti halnya asal-usul tentang seni tradisi lainnya, khususnya yang ada di Jawa Barat, kesejarahan seni tarawangsa ternyata didapatkan berdasarkan cerita-cerita yang secara turun temurun diwariskan pada tiap generasi masyarakat di Rancakalong.

Sebenarnya untuk mengungkap informasi tentang asal-usul lahirnya seni tarawangsa dapat didekati melalui pendekatan sejarah. Salah satu sumber sejarah yang tergolong tua di Jawa Barat adalah naskah Sanghyang Siksakandang Karesian dan naskah Swaka Darma. Cahya Hedy dalam bukunya Tarawangsa dan Mitos Dewi Sri mengemukakan bahwa keberadaan tarawangsa sudah dikenal sejak abad ke-15 dalam naskah Swaka Darma ( kropak 408 ) yang diteliti oleh Saleh Danasasmita, dkk, yang berbunyi:

Na(ng)gapan

Sada canang

Sada gangsa tempang Kembar

Sada titila ri(ng) bumi

Sada tatabuh Jawa

Sada gabeng di reka cali(n)tuh di a(n)jing

Sada hanjaru kacapa la(ng)nga

Sada kerak e sagung


Artinya ;


Suara canang

Suara gamelan tupang kembang

Suara kembang dan tarawangsa menyayat

Suara peninggalan bumi

Suara gamelan jawa

Suara baling-baling ditingkahi calintah di dangau

Suara deru kacapi penuh khawatir

Suara sedih semua

Risalah tentang asal usul dari seni tarawangsa yang menyebar di masyarakat Kecamatan Rancakalong sebenarnya cukup banyak. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya tambahan dan variasi keterangan yang diberikan oleh tokoh yang satu dengan tokoh lainnya yang sedikit berbeda, keterangan atau cerita tersebut telah mereka dapatkan secara turun temurun dari generasi mereka sebelumnya. Walaupun mungkin cerita tersebut telah mempunyai banyak versi, namun inti dari cerita tersebut tetap mempunyai kesamaan yaitu seni tarawangsa merupakan sebuah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa akan hasil panen yang mereka dapatkan. Adapun salah satu cerita mengenai asal usul seni tarawangsa yang penulis dapatkan dari hasil wawancara dengan salah seorang tokoh seniman seni tarawangsa di desa Rancakalong yang bernama Bapak Dia adalah sebagai berikut:

“Dahulu, Rancakalong termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Suatu ketika kehidupan masyarakat di Rancakalong tengah mengalami bencana, yaitu bencana kelaparan. Hal tersebut dikarenakan tanaman padi yang mereka tanam selalu mengalami gagal panen karena selalu diserang oleh hama. Penduduk Rancakalong saat itu banyak yang meninggal karena bencana kelaparan itu. Sehubungan dengan bencana itu, seorang tokoh masyarakat dari Rancakalong berpendapat bahwa musibah tersebut muncul karena masyarakat Rancakalong tidak mempunyai benih padi yang tahan hama.

Kemudian diutuslah tujuh orang penduduk Rancakalong untuk pergi ke Keraton Kerajaan Mataram dengan maksud meminta benih padi yang tahan hama serta meminta petunjuk tentang bagaimana cara menanam dan memeliharanya. Ketujuh orang utusan tersebut pergi dalam waktu yang cukup lama. Setelah berhasil mendapatkan benih padi, utusan-utusan pun kembali pulang ke Rancakalong dengan didampingi oleh seorang utusan dari Kerajaan Mataram yang ahli dalam bidang pertanian yaitu Eyang Wisanagara yang bertujuan untuk memberikan petunjuk kepada masyarakat Rancakalong tentang bagaimana cara menanam dan memelihara tanaman padi sehingga hasilnya menjadi lebih baik. Karena perjalanan yang mereka tempuh sangatlah jauh dan memakan waktu yang lama, serta melewati daerah-daerah yang mereka anggap kurang aman. Mereka pun berinisiatif untuk membawa benih padi tersebut dengan cara memasukkannya ke dalam alat musik, yaitu tarawangsa dan kacapi. Dalam perjalanannya pun mereka bertindak seolah-olah sedang mengamen. Dengan menggunakan cara tersebut para utusan dapat berhasil membawa benih padi ke daerah Rancakalong dengan selamat”.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Berdasarkan hal di atas, masyarakat Rancakalong kemudian melakukan upacara berupa iring-iringan dan memainkan alat musik dalam setiap upacara ritual setelah panen padi. Hal tersebut mereka anggap sebagai bentuk rasa syukur masyarakat desa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang berlimpah serta sebagai cara untuk mengingat atau mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah berhasil membawa benih padi dari kerajaan Mataram ke Rancakalong.

Hingga saat ini pun masyarakat Rancakalong selalu menyajikan seni tarawangsa pada setiap upacara-upacara tradisinya, terutama upacara yang berkaitan dengan mitos Dewi Sri. Hal tersebut juga dilakukan karena adanya anggapan dan rasa kekhawatiran dari masyarakat Rancakalong, yaitu jika upacara tersebut tidak dilakukan maka akan terjadi bencana pada daerah mereka yang dapat berupa kegagalan dalam panen, kesusahan, padi akan cepat habis, wabah penyakit, kekurangmanfaatan hasil panen, hingga berujung pada kematian.
buhitoz - 27/10/2011 04:39 AM
#183

Simbol - Simbol pada Seni Tarawangsa

Setiap kelompok masyarakat atau setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan dan kesenian sendiri-sendiri yang khas dan cenderung berbeda dengan masyarakat lainnya. Dalam kesehariannya, setiap kelompok atau suku bangsa tersebut, baik di dalam berkomunikasi, pergaulan, terutama dalam pelaksanaan upacara-upacara ritual selalu ada penggunaan simbol-simbol dalam rangka mengungkapkan rasa budayanya.

Suatu karya seni juga dapat berperan sebagai media penyampaian suatu perasaan, suasana hati, pemikiran, pesan atau amanat yang diyakini oleh penciptanya kepada penghayatnya. Hal tersebut disampaikan melalui bentuk-bentuk simbol yang mereka gunakan pada karya seni tersebut.

Seni tarawangsa merupakan salah satu jenis seni tradisi yang banyak menyimpan simbol-simbol di dalamnya. Kita dapat melihat penggunaan simbol-simbol tersebut di antaranya pada tata cara penyajian, perlengkapan upacara, alat musik, lagu-lagu, tarian dan lain-lainnya. Simbol-simbol tersebut haruslah terbuka maknanya agar masyarakat luas dapat mengetahui makna-makna yang terkandung di dalamnya. Karena ada semacam kesan bahwa makna dari simbol-simbol itu hanyalah milik dari para tetua belaka. Simbol-simbol itu seolah-olah dianggap sakral sehingga masyarakat awam atau kalangan muda ditabukan untuk mengetahuinya.

Makna dari suatu simbol haruslah diungkapkan, karena simbol-simbol tersebut mengandung pesan-pesan atau nasehat-nasehat yang dapat dikenali dan dihayati sehingga dapat diambil nilai-nilai positifnya. Seperti halnya makna dari bentuk-bentuk simbol yang terdapat pada penyajian seni tarawangsa di Kecamatan Rancakalong di bawah ini:

1. Bentuk dan Makna Simbol pada Sesajen dan Perlengkapan Upacara.

Sudah menjadi ketentuan bahwa sebelum melaksanakan upacara yang bersifat ritual haruslah menyediakan bermacam sesajen dan juga perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan.

Sesajen merupakan simbol dari sebuah bentuk persembahan kepada para dewa, roh atau arwah nenek moyang, serta pengiring doa-doa agar dewa dan roh nenek moyang menerima dengan bahagia doa mereka sambil menikmati harumnya bunga dan asap kemenyan. Hal tersebut juga bertujuan agar mereka mendapatkan kelancaran dan keselamatan dalam melaksanakan upacara.

Persembahan sesajen juga merupakan suatu bentuk komunikasi manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Budaya timur zaman dahulu termasuk di Nusantara mengajarkan keseimbangan hubungan terhadap 3 hal, yaitu :

1. Vertikal ke atas antara manusia dengan Tuhan.

2. Horisontal antara manusia dengan sesama manusia.

3. Vertikal ke bawah antara manusia dengan alam serta hewan dan tumbuhan.


Konon, sesajen merupakan bentuk pengajaran penghargaan terhadap alam, bukan hanya sebuah teori tapi dengan pelaksanaan secara ritual sehingga jika sebuah tempat dikeramatkan adalah dengan tujuan agar orang tidak merusaknya. Hal tersebut juga merupakan satu bentuk wujud rasa terima kasih atas berkah yang diberikan oleh Tuhan melalui tempat atau benda tersebut, jadi bukan menyamakan benda tersebut atau tempat tersebut dengan Tuhan. Manusia yang memiliki keterbatasan membutuhkan sebuah simbol atau tanda dalam mengungkapkan perasaannya.

Segala bentuk kegiatan simbolik dalam masyarakat tersebut juga merupakan sebuah upaya pendekatan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menciptakan, menghidupkan dan juga menentukan kematian. Jadi simbol-simbol tersebut selain mempunyai pesan-pesan kepada generasi berikutnya, juga berkaitan dengan religi.

Dapat diyakini bahwa seiring bertambahnya kesadaran manusia, bentuk fisik dari sesajen dan sebagainya akan semakin terabaikan, sebab itu hanya merupakan alat bantu saja. Karena apabila digali lagi makna dari pemberian sesajen dan perlengkapan upacara tersebut, maka kita akan takjub dengan cara pengajaran tempo dulu dan pemahaman leluhur kita saat itu.

Dalam perspektif kultural, sesajen dapat dipandang sebagai adat dan tradisi yang penuh makna. Di dalamnya ada nilai yang jika dipahami akan menjadikan manusia lebih bersikap arif dan bijak terhadap Tuhan, sesamanya, alam serta lingkungan sekitar.

Hal seperti tersebut di atas dapat kita lihat pada beberapa sesajen dan perlengkapan upacara tarawangsa berikut ini.

a. Parupuyan

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Parupuyan yaitu wadah untuk pembakaran kemenyan. Parupuyan digambarkan sebagai bentuk dari manusia yang mempunyai nafsu yang disimbolkan oleh bara api dan kesucian yang disimbolkan dengan asap dari pembakaran kemenyan. Asap dari pembakaran kemenyan pun mempunyai pengertian sebagai simbol terhubungnya dunia manusia dengan dunia atas atau dunia para roh leluhur. Parupuyan mempunyai pengertian bahwa manusia harus bisa menghilangkan segala hawa nafsunya sehingga bisa mencapai kesucian untuk dapat menuju dunia atas.

b. Kemenyan

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Wangi khas asap yang dihasilkan dari pembakaran kemenyan dianggap sebagai media penyampaian pesan, dalam hal ini manusia mencoba untuk mengundang arwah atau roh para leluhur untuk dapat menghadiri upacara yang akan mereka laksanakan. Hal tersebut mempunyai tujuan untuk menghormati arwah para leluhur dengan cara mengundangnya untuk “turut serta” bersuka cita, karena dengan jasa dari para leluhurlah masyarakat Rancakalong kini mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kemenyan yang biasa digunakan adalah kemenyan jenis durame atau kemenyan berwarna hitam (Styrax Benzoine).

Selain hal di atas, dalam masyarakat pedesaan pada umumnya ada pengetahuan tentang alam secara terbatas. Segala sesuatu yang tampak dapat mereka identifikasi sedang segala sesuatu yang tidak tampak atau diluar kemampuan akalnya, mereka hubungkan dengan hal-hal yang supranatural. Untuk itulah mereka percaya bahwa ada sesuatu yang mengatasi segalanya di dunia tempat ia berada. Untuk mempengaruhi kekuatan alam supranatural, mereka menggunakan upacara-upacara tertentu, misalnya dengan sesajen, berkurban dan lain sebagainya.

Di dalam menjaga keseimbangan alam mereka memiliki kepercayaan tertentu, yang berhubungan dengan supranatural itu dan mereka tidak menyadari makna apa yang ada dibalik kepercayaan itu kalau berdasarkan logika. Sekalipun kepercayaan itu sepintas lalu bersifat takhyul dan tidak masuk akal, namun apabila kita renungkan ternyata memiliki tujuan tertentu, yang tidak disadari oleh kebanyakan orang. Misalnya kepercayaan beberapa orang ketika menebang pohon besar di dekat kuburan, memperlakukan barang atau sesuatu pusaka. Mereka percaya adanya kekuatan gaib yang akan mencelakakan apabila larangan itu dilanggarnya, sehingga untuk itu seringkali diberi sesajen, kemenyan, menempatkan bunga (kembang setaman) dan sebagainya

c. Kain putih

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Kain berwarna putih tersebut digunakan sebagai alas dari semua sesajian. Warna putih merupakan simbol kebaikan, putih itu berhubungan dengan cahaya spiritual (King Gunawan, 2004:34).

Warna putih juga bermakna netral, namun tidak hanya bermakna netral, putih bisa diartikan cahaya, terang, dan bersih. Jika dikaitkan dalam hal berbusana, putih sering menjadi pilihan dalam busana kantor karena membuat si pemakai merasa sejuk dan nyaman. Putih juga melambangkan kepolosan dan kebersihan. Hal itu juga menjelaskan para pelaku medis menggunakan seragam putih untuk merepresentasikan bersih dan bebas kuman.

Dalam kaitannya dengan penggunaan kain putih sebagai alas sesajen pada upacara tarawangsa adalah bahwa warna putih menggambarkan kesucian, yang mengandung makna bahwa setiap manusia di dalam mengerjakan sesuatu hal haruslah didasari dengan hati yang suci dan bersih.

d. Kendi berisi air, daun hanjuang, dan hihid

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Hal di atas merupakan simbol dari empat unsur yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Kendi menggambarkan bumi,
hihid menggambarkan angin atau udara, daun hanjuang sebagai gambaran dari kehidupan, dan air sebagai sumber kehidupan. Keempat elemen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan mempunyai peranan penting dalam kehidupan semua umat manusia. Kita tidak akan mungkin bisa hidup tanpa salah satu elemen tersebut. Manusia dalam kesehariannya sangat membutuhkan semua unsur tersebut, karena itu manusia berkewajiban untuk menjaga dan memeliharanya.
buhitoz - 27/10/2011 04:43 AM
#184

e. Tampolong

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Tampolong adalah wadah untuk meludah, terutama oleh orang yang mengunyah tembakau. Juga dikenal sebagai cuspidor, walaupun nama ini juga digunakan untuk tempat meludah di dokter gigi. Cuspidor masih diproduksi sekarang, terutama ditemukan di tempat olahraga dekat tempat minum. Wadah serupa telah digunakan di Asia barat daya selama berabad-abad. Tampolong dikenal di Amerika Serikat dan Inggris kurang lebih sekitar tahun 1840-an (http://id.wikipedia.org).

Tampolong memiliki alas datar, biasanya diberi pemberat agar tidak mudah terbalik. Penggunaan tampolong dianggap kemajuan dalam hal kebersihan dan kesopanan, karena orang tidak meludah sembarangan di tanah, jalan, dan sisi jalan. Intinya adalah bahwa tampolong adalah wadah atau tempat yang terbuat dari bahan logam untuk membuang kotoran. Benda tersebut mengandung pengertian bahwa manusia haruslah kuat dalam menghadapi segala cobaan, walaupun manusia tersebut diperlakukan seperti tampolong tetapi manusia tetap harus mempunyai kegunaan. Tampolong pada upacara tarawangsa dipakai sebagai wadah untuk membuang air bekas berkumur-kumur para sesepuh sebelum membaca mantra atau doa-doa.

f. Poci

Poci yaitu tempat untuk air minum. Air yang ada dalam poci tersebut digunakan untuk berkumur–kumur dengan tujuan untuk membersihkan mulut. Aktivitas tersebut mengandung pengertian bahwa manusia harus menjaga hal- hal yang akan diucapkannya agar tidak sampai mengucapkan kata-kata kotor atau kata–kata yang dapat menyakiti orang lain. Pedoman utama mereka terletak pada sikap hati-hati dan terukur, khususnya dalam berbicara. Hal itu untuk menghindari salah paham. Sementara dalam pergaulan sehari-hari, setiap warga dituntut mampu berbuat baik, bertanggung jawab, dan menepati janji.

Kegiatan berkumur ini biasanya dilakukan oleh sesepuh atau tetua sebelum memulai upacara tarawangsa yaitu pada saat sebelum membaca mantra-mantra.

g. Selendang

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Selendang yang digunakan dalam upacara mempunyai empat macam warna yaitu warna merah, kuning, hijau, dan putih. Setiap warna tersebut menggambarkan karakter-karakter yang dimiliki oleh manusia, yaitu:

1. Warna merah menggambarkan sifat pemarah, berani, dan angkara murka.

2. Warna kuning menggambarkan kejujuran, kemuliaan, dan sikap bertanggung jawab.

3. Warna hijau menggambarkan kedamaian dan ketentraman.

4. Warna putih menggambarkan sifat ksatria, suci, dan membela kebenaran.

h. Keris

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Keris adalah sejenis senjata tikam khas yang berasal dari Indonesia, atau mungkin lebih tepat Nusantara. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-IX. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut (http://id.wikipedia.org).

Keris, berangkat dari pengertian secara bahasa yaitu dari bahasa Jawa “mengker kerono aris” yang berarti menuju kebijaksanaan, menuju Yang Maha Bijaksana, peringkat yang menjadi simbol kehidupan manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Tidak hanya sebagai sebuah bentuk simbol, keris juga merupakan hasil karya spiritual yang mempunyai nilai-nilai keindahan, nilai-nilai estetika dan tentu saja nilai pesan-pesan moral.

Keris pada seni tarawangsa melambangkan kebijaksanaan, kepandaian, keuletan, dan ketangkasan dalam menghadapi segala tantangan hidup yang berliku. Agar dapat selamat dari segala tipu daya manusia hendaknya memiliki pikiran tajam, dapat menghadapi segala macam situasi, lalu bertindak dengan cepat, tepat, tangkas dan ulet.

i. Padi

Padi memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Rancakalong yaitu sebagai sumber kehidupan. Begitu berartinya padi, membuat masyarakat Rancakalong senantiasa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan rezeki yang telah mereka dapatkan.

Padi dipercaya sebagai penjelmaan Dewi Sri, yaitu dewi kemakmuran. Agar hidup manusia mencapai kemakmuran maka setiap orang harus mampu ngreksa Dewi Sri dalam arti harus bersedia mengolah lahan pertanian hingga dapat menghasilkan bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Adapun Nyi Pohaci atau dewi padi adalah penunjang utama kehidupan. "Euweuh sangu mah urang moal hirup," begitu kata mereka dalam bahasa Sunda. Tanpa nasi kita tidak akan hidup, begitu kurang lebih artinya.

Secara filsafati padi memiliki sifat semakin tua semakin merunduk. Sama halnya dengan manusia, sudah semestinya semakin tua semakin mengolah batin untuk menundukkan diri terhadap Sang Pencipta dan memiliki sifat rendah hati terhadap sesama.

j. Air

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Masyarakat Rancakalong menggambarkan air sebagai simbol dari kebersihan dan kehidupan. Air senantiasa mereka pergunakan untuk membersihkan diri mereka sehingga dapat mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Bersih mempunyai dua pengertian, pertama bersih tubuh jasmani dari noda dan kotoran (najis) dan kedua bersih rohani dan jiwa dari segala hal yang dapat mengganggu ketulusan dalam mengabdi (menyembah) kepada Tuhan. Bersih dalam arti yang pertama yakni bersih tubuh jasmani dari segala noda dan kotoran inilah yang memerlukan air bersih, air dalam pengertian ini adalah air yang turun dari langit atau yang keluar dari bumi yang belum tercemar oleh noda dan kotoran (najis). Misalnya; air hujan, air sungai, air laut, air sumur, air salju, air embun, dan air dari mata air.

Keberadaan air pun sangat mereka hargai sebagai salah satu penyangga kehidupan, karena manusia tidak akan dapat hidup tanpa air, serta penggunaan air untuk mengairi lahan pertanian mereka.

k. Kelapa muda

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Kelapa muda mengandung makna bahwa setiap perbuatan manusia haruslah berguna dan bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, agama, maupun bangsa.

Manusia haruslah bermanfaat layaknya buah kelapa, karena semua bagian dari kelapa bisa dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari sabut, tempurung, hingga isi dan airnya.


l. Buah-buahan dan sayuran

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Merupakan suatu bentuk persembahan sebagai simbol yang akan mengingatkan mereka untuk senantiasa bersyukur akan apa yang telah mereka dapatkan (panen). Makna lainnya adalah bahwa hasil buah-buahan dan sayuran tersebut merupakan suatu karya Tuhan melalui manusia, artinya manusia menanam, Tuhan memberikan kehidupan. Dalam hal ini tersirat karunia Tuhan kepada manusia sehingga manusia wajib mensyukurinya.

m. Rurujakan (7 macam rujak)

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Angka 7 (tujuh) yang ditunjukkan pada jumlah macam rujak menggambarkan kalau dalam satu minggu ada tujuh hari yang harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif. Angka 7 merupakan simbol dari jumlah hari yang mengatur hidup manusia. Rujak-rujak tersebut terdiri atas beberapa jenis, yaitu rujak asem, rujak roti, rujak pisang, rujak kelapa, rujak kembang, rujak tebu, dan rujak kopi.

n. Uang.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Uang menggambarkan rejeki yang harus dicari oleh setiap orang dalam hidup. Uang, ternyata bukan hanya “benda” yang digunakan sebagai satuan nilai dalam jual beli. Uang telah menjadi bagian dari kelengkapan sesajen dalam ritual atau upacara adat. Dengan kata lain, upacara, sebagai tindakan yang terikat adat dan kepercayaan, pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dengan uang. Karena uang, seluruh kebutuhan upacara, baik yang bersifat spiritual maupuan material bisa dipenuhi: benda-benda upacara, pakaian adat, sesajen, tempat upacara, fasilitas upacara, makanan, jumlah hewan yang dikorbankan dan lain-lain. Uang pun bisa menjadi simbol status sosial, kepangkatan, gengsi, atau harga diri.
Sebagai sesaji, uang yang dipersembahkan biasanya bervariasi nilai nominalnya. Juga, tata cara penyajiannya pun berbeda antarbudaya masyarakat. Ada yang berupa uang kepeng, pecahan uang logam, hingga uang kertas yang nilainya ribuan sampai ratusan ribu rupiah, tapi ada pula yang memakai uang tiruan. Demikian juga dengan tata cara mempersembahkannya, ada yang dicampur dengan beras, ada juga yang dibungkus kertas atau sapu tangan yang disemprot minyak wangi, tapi tidak sedikit yang dibakar atau ditanam dalam tanah.

Dalam penyajian seni tarawangsa uang yang dipergunakan adalah uang benggol. Mungkin dalam perkembangannya nanti, jenis uang tersebut akan digantikan dengan uang recehan dalam bentuk rupiah.

o. Telur

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Telur adalah simbol kehidupan yang akan memberi kesuburan atau umur yang panjang. Hal ini dihubungkan dengan kebangkitan atau “reinkarnasi” alam semesta sesudah “kematian”, dan juga dengan beberapa mitos penciptaan yang mengambarkan sebutir telur sebagai awal kehidupan.yang mempunyai makna bahwa setiap manusia harus mengalami reborn atau lahir baru.
buhitoz - 27/10/2011 04:45 AM
#185

2. Bentuk dan Makna Simbol Pada Tata Cara Penyajian Seni Tarawangsa

Pada seni tarawangsa, adab dan tata cara penyajiannya harus dimulai dengan kelengkapan dan persembahan sesajen dan minta ijin kepada arwah para leluhur. Penyajian tarawangsa merupakan sebuah prosesi inti dan lebih bersifat batiniah. Penyajian seni tarawangsa ini biasanya dilakukan pada waktu sehabis panen, ngalaksa, rayagungan, ruwatan, dan sebagainya. Penyajian seni tarawangsa ini dilaksanakan pada malam hari yaitu sekitar pukul 19.30 wib sampai dengan pukul 04.00 wib. Pelaksanaan seni tarawangsa dipimpin oleh saehu yang terdiri dari seorang saehu laki-laki dan seorang saehu perempuan.

Penyajian seni tarawangsa tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa ketentuan yang harus dilakukan dan ditaati, di antaranya adalah :

a. Harus menyediakan sesajen dan permohonan ijin pada arwah leluhur.

b. Pelaksanaan harus dilakukan pada malam hari.

c. Harus dilakukan di dalam ruangan atau dalam rumah.

d. Penari haruslah orang yang telah dewasa.

e. Wanita yang sedang haid tidak diperkenankan turut.


Apabila semua ketentuan di atas sudah terpenuhi dan semua perlengkapan upacara ini sudah memadai, maka upacara akan segera dimulai. Pelaksanaan upacara terbagi menjadi beberapa tahapan, yaitu:

1. Ngukus

Ngukus biasanya dilakukan oleh seorang kuncen atau tokoh masyarakat yang dituakan. Kemenyan yang dibakar sebelumnya telah diberi mantra-mantra yang bertujuan untuk mengundang roh-roh leluhur untuk datang menghadiri upacara yang akan dilaksanakan. Setelah kemenyan dibakar, dilanjutkan dengan pengolesan minyak kelapa pada keris yang selanjutnya diasapi di atas pembakaran kemenyan tersebut.

2. Ijab Kabul

Setelah melakukan hal di atas, saehu kemudian melaksanakan Ijab Kabul yang merupakan suatu pengantar yang disampaikan oleh saehu sebagai pemimpin upacara yang ditujukan untuk seluruh peserta upacara, isinya mengemukakan maksud dan tujuan diadakannya upacara tersebut, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan juga mendoakan arwah para leluhur yang sekaligus sebagai pernyataan akan segera dilaksanakannya upacara.

3. Lulungsur

Lulungsur adalah sebuah prosesi yang bertujuan untuk menjemput atau mengundang para roh-roh suci untuk “hadir” pada pelaksanaan upacara. Pada prosesi ini, ineban dikeluarkan dari dalam padaringan atau paniisan[4] ke tempat upacara.

4. Nema

Nema mengandung pengertian menyambung giliran. Nema juga mengandung arti menerima. Seorang panema berkewajiban untuk melanjutkan tugas yang telah dilaksanakan oleh pelaksana pertama. Dalam upacara nema terdapat dua saehu, yaitu saehu perempuan dan saehu laki-laki. Kedua saehu tersebut akan menari secara bergiliran sesuai dengan isyarat tertentu. Apabila kedua saehu tersebut sudah menari dan mendekati keadaan trance, acara selanjutnya adalah nema syukuran, pada acara ini semua peserta upacara diperbolehkan menari secara bergiliran.

5. Nyumpingkeun

Nyumpingkeun adalah sebuah upaya untuk mengundang dan mengumpulkan roh para leluhur, terutama roh yang semasa hidupnya telah berjasa terhadap daerah Rancakalong ke tempat upacara tarawangsa akan dilaksanakan. Sesi ini juga ditujukan kepada Dewi Sri untuk datang ke tempat upacara. Bagian ini dipimpin oleh saehu perempuan, yang dilengkapi dengan perlengkapan kecantikan.

6. Nginebkeun

Nginebkeun merupakan prosesi terakhir yaitu berupa tarian untuk mengantarkan kembali Dewi Sri dari tempat upacara menuju ke dalam padaringan atau paniisan. Ineban yang berjumlah sembilan wadah kemudian dibawa satu persatu secara berurutan untuk dipindahkan. Cara memindahkannya tidak boleh sembarangan, namun dengan cara ditimang-timang secara perlahan dan halus.

Sembilan wadah menggambarkan bahwa dalam kehidupannya manusia mulai diperkenalkan pada angka sembilan sebelum kehadirannya didunia, buktinya manusia harus melewati sembilan bulan dalam kandungan ibu sebelum mampu menatap indahnya warna-warni dunia. Setelah mulai mengenali dunia dan berbagai objek disekelilingnya, pada bulan ke sembilan manusia mulai belajar menjejakan kakinya tanpa bantuan tangan orang lain, karena pada bulan ke sembilan lah seorang anak mulai belajar berdiri dengan kedua kakinya.

Ketika mengenal pendidikan, manusia mulai belajar akan esensi hidup, memulai pencarian jati diri bahkan mulai belajar tentang agama yang ia yakini. Pemeluk Islam di Indonesia mengenal sembilan wali (wali songo) sebagai tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Indonesia. Angka sembilan pun akan mengarah pada kesempurnaan dari 99 nama Allah swt yang terangkum dalam asmaul husna.

sumber:

http://sunda-duraring.blogspot.com/2009/03/seni-tarawangsa.html
http://sunda-duraring.blogspot.com/2009/03/simbol-simbol-pada-seni-tarawangsa.html
angel.wijaya - 27/10/2011 07:46 AM
#186

Quote:
Original Posted By buhitoz

n. Uang.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Uang menggambarkan rejeki yang harus dicari oleh setiap orang dalam hidup. Uang, ternyata bukan hanya “benda” yang digunakan sebagai satuan nilai dalam jual beli. Uang telah menjadi bagian dari kelengkapan sesajen dalam ritual atau upacara adat. Dengan kata lain, upacara, sebagai tindakan yang terikat adat dan kepercayaan, pada dasarnya tidak bisa dipisahkan dengan uang. Karena uang, seluruh kebutuhan upacara, baik yang bersifat spiritual maupuan material bisa dipenuhi: benda-benda upacara, pakaian adat, sesajen, tempat upacara, fasilitas upacara, makanan, jumlah hewan yang dikorbankan dan lain-lain. Uang pun bisa menjadi simbol status sosial, kepangkatan, gengsi, atau harga diri.
Sebagai sesaji, uang yang dipersembahkan biasanya bervariasi nilai nominalnya. Juga, tata cara penyajiannya pun berbeda antarbudaya masyarakat. Ada yang berupa uang kepeng, pecahan uang logam, hingga uang kertas yang nilainya ribuan sampai ratusan ribu rupiah, tapi ada pula yang memakai uang tiruan. Demikian juga dengan tata cara mempersembahkannya, ada yang dicampur dengan beras, ada juga yang dibungkus kertas atau sapu tangan yang disemprot minyak wangi, tapi tidak sedikit yang dibakar atau ditanam dalam tanah.

Dalam penyajian seni tarawangsa uang yang dipergunakan adalah uang benggol. Mungkin dalam perkembangannya nanti, jenis uang tersebut akan digantikan dengan uang recehan dalam bentuk rupiah.



maaf ada yg saya bold, sekedar nambahin yah kang shakehand
sebenernya buka karena perbedaan tapi itu disesuaikan dg tingkat kemampuan dari org tsb kang
setau saya dahulu yg digunakan berupa koin emas (ada yg meyebutnya perakan) kira2 beratnya 17 sd 20gram
dg relief khusus yg punya makna tertentu pula,
setelah selesai acara koin tsb akan diberikan kembali pada org yg membawanya

itu melambangkan bahwa org tsb harus bisa menjalani hidup spt emas, yg tidak boleh dijual sepanjang hidupnya
falsafahnya bahwa org yg emas akan selalu di uji (ibarat org menjual emas tp tak ada suratnya maka harus diuji dahulu ke asliannya),
perbuatan yg dilarang
- makan daging mentah (berbuat asusila dg lawan jenis tanpa menikah)
- nulung kanu butuh, nalang kanu susah (menolong pada yg membutuhkan)
- hade teu kedah di puji, goreng teu kedah dihina (kebaikan yg tdk blh dipuji, dan jgn menghina keburukan)
balaprabu - 27/10/2011 10:43 AM
#187

wah makasih mbah buhitoz dan papi angel, mantab pembahasannya. hehe saya dah lama ga update tread ini. bingung mau posting apa hahaha D
buhitoz - 27/10/2011 02:03 PM
#188

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah makasih mbah buhitoz dan papi angel, mantab pembahasannya. hehe saya dah lama ga update tread ini. bingung mau posting apa hahaha D

Sama2 mbah.
Kebetulan aja nemu bacaan he he

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
balaprabu - 27/10/2011 02:08 PM
#189

Quote:
Original Posted By buhitoz
Sama2 mbah.
Kebetulan aja nemu bacaan he he

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


saya nyari nyari malah ga nemu, adapun kok ga lengkap o
balaprabu - 27/10/2011 02:19 PM
#190
Kebo bule
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya



DI Keraton Kasunanan Surakarta, ada sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kyai Slamet. Bukan sembarang kerbau, karena hewan ini termasuk pusaka penting milik keraton. Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II, sejak istananya masih di Kartasura, sekitar 10 kilometer arah barat keraton yang sekarang.

Menurut seorang pujangga kenamaan Keraton Kasunanan Surakarta, Yosodipuro, leluhur kerbau dengan warna kulit yang khas, yaitu bule (putih agak kemerah-merahan) itu, merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Paku Buwono II, yang diperuntukkan sebagai cucuk lampah (pengawal) dari sebuah pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet. Sekadar catatan, sampai sekarang pihak keraton tidak pernah bersedia menjelaskan apa bentuk pusaka Kyai Slamet ini.

“Karena bertugas menjaga dan mengawal pusaka Kyai Slamet, maka masyarakat menjadi salah kaprah menyebut kebo bule ini sebagai Kebo Kyai Slamet,’’ kata Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Winarno Kusumo,

Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk keraton yang baru, tahun 1725, leluhur kebo-kebo bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem keraton, hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi Keraton Kasunanan Surakarta –sekitar 500 meter arah selatan Kantor Balai Kota Solo.

Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, Kebo Bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Sura menurut pengganggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo keramat ini selalu dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka keraton.

Ritual kirab malam 1 Sura itu sendiri sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab.

Kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab puasaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo keramat Kyai Slamet. Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Maka, kirab pun dimulai. Kawanan keerbau keramat akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka keraton Kyai Slamet yang dibawa para abdi dalem keraton. Kerumunan orang pun menyemut dari keraton hingga di sepanjang perjalanan yang dilalui arak-arakan.

Dan inilah yang menarik: orang-orang menyikapi kekeramatan kerbau Kyai Slamet sedemikian rupa, sehingga cenderung tidak masuk akal. Mereka berjalan mengikuti kirab, saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh tubuh kebo, orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut mendapatkannya. Tidak masuk akal memang. Tapi mereka meyakini bahwa kotoran sang kerbau akan memberikan berkah, keselamatan, dan rejeki berlimpah. Mereka menyebut berebut kotoran tersebut sebagai sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah Kyai Slamet.

Mengapa justru kawanan kebo bule tersebut yang menjadi tokoh utama dalam tradisi ritual kirab malam 1 Sura?

Menurut Kepala Sasono Pustoko Keraton Surakarta Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger, kirab pusaka dan kerbau sebenarnya berakar pada tradisi sebelum munculnya Kerajaan Mataram (Islam), pada prosesi ritual wilujengan nagari. Pusaka dan kerbau merupakan simbol keselamatan. Pada awal masa Kerajaan Mataram, pusaka dan kerbau yang sama-sama dinamai Kyai Slamet, hanya dikeluarkan dalam kondisi darurat, yakni saat pageblug (wabah penyakit) dan bencana alam.

”Pusaka dan kerbau ini diharapkan memberi kekuatan kepada masyarakat. Dengan ritual kirab, Tuhan akan memberi keselamatan dan kekuatan, seperti halnya Ia memberi kekuatan kepada pusaka yang dipercaya masyarakat Jawa memiliki kekuatan,” ungkapnya.

Sementara sejarawan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Sudarmono, menuturkan, selain dekat dengan kehidupan petani, sosok kerbau memang banyak mewarnai sejarah kerajaan di Jawa. Semasa Kerajaan Demak, misalnya, seekor kerbau bernama Kebo Marcuet mengamuk dan tak ada satu prajurit pun yang bisa mengalahkannya. Karena meresahkan, kerajaan menggelar sayembara: barang siapa mampu mengalahkannya akan diangkat menjadi senopati.

Secara mengejutkan, Jaka Tingkir atau Mas Karebet mampu mengalahkan Kebo Marcuet dengan tongkatnya. Mas Karebet kemudian mempersunting putri Raja Demak Sultan Trenggono, dan akhirnya mengambil alih kekuasaan.

”Jaka Tingkir sebenarnya keturunan Kebo Kenongo, Raja Pengging Hindu yang dikalahkan Kerajaan Demak. Pemindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang, yang dekat Pengging, adalah upaya Joko Tingkir mengembalikan pengaruh kekuasaan kerajaan ke pedalaman yang sarat tradisi agraris,” katanya.

Dari sejarah itu, lanjut Sudarmono, kerbau selalu dijadikan alat melegitimasi kekuasaan kerajaan. ”Dalam budaya agraris, kerbau simbolisasi kekuatan petani. Sosok kerbau dihadirkan dalam kirab, yang diikuti abdi dalem dan rakyat, sebenarnya ingin menunjukkan legitimasi keraton atas rakyatnya yang sebagian besar petani.”

Kemunculan kebo bule Kyai Slamet dalam kirab, kata Sudarmono, adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang). Dalam pendekatan periodisasi sejarah, sosok kebo bule ditengarai hadir semasa Paku Buwono (PB) VI pada abad XVII. PB VI merupakan raja yang dianggap memberontak kekuasaan penjajah Belanda dan sempat dibuang ke Ambon.

”Meski PB VI dibuang ke Ambon, namun semangat pemberontakan dan keberaniannya menghidupi rakyatnya. Dalam peringatan naik takhta, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kebo bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kyai Slamet dalam kirab pusaka,” tambah Sudarmono.

Pada sisi lain Puger menuturkan, Keraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran) kerbau bisa mendatangkan berkah. ”Kalau tlethong dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk, itu masih diterima akal. Namun kami memahami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan. Mereka sekadar membutuhkan semangat untuk bangkit.”

Winarno mengungkapkan, saat ini kebo bule keraton berjumlah 12 ekor. Namun kebo bule yang dipercaya sebagai keturunan asli Kyai Slamet sendiri hingga saat ini hanya tersisa enam ekor. Mereka adalah Kiai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Muda.

“Yang menjadi pemimpin kirab biasanya adalah Kyai Bodong, karena dia sebagai jantan tertua keturunan murni Kyai Slamet. Disebut keturunan murni, karena mereka dan induk-induknya tidak pernah berhubungan dengan kerbau kampung.”

Kyai Bodong sendiri memiliki adik laki-laki yang diberi nama Kyai Bagong. Namun, kata Winarno, kerbau tersebut sekarang ini berada di kawasan Solo Baru, Sukoharjo, dan dengan alasan yang enggan disebutkan, kebo bule itu tidak bisa dibawa pulang ke Keraton Surakarta.

Sejak dulu, sekawanan kebo keramat tersebut memang memiliki banyak keunikan. Kawanan kerbau ini, misalnya, sering berkelana ke tempat-tempat jauh untuk mencari makan, tanpa diikuti abdi dalem yang bertugas menggembalakannya. Mereka sering sampai ke Cilacap yang jaraknya lebih 100 km dari Solo, atau Madiun di Jawa Timur. Namun anehnya, menjelang Tahun Baru Jawa, yakni 1 Sura atau 1 Hijriah, mereka akan kembali ke keraton karena akan mengikuti ritual kirab pusaka.

Winarno menambahkan, malam 1 Sura sangat berarti bagi orang Jawa, karena tidak saja memiliki dimensi fisik perubahan tahun, namun juga mempunyai dimensi spiritual. Sebagian masyarakat Jawa yakin, bahwa perubahan tahun Jawa menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis Jawa, terutama kehidupan masyarakat agraris.

Nah, peran kebo bule Kyai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa. Di luar itu, kerbau secara umum juga mempunyai nilai tinggi dalam sebuah ritual, tidak saja di keraton Surakarta, tetapi juga di Sulawesi, Kalimantan, sehingga secara material ia menjadi simbol kejayaan dan kesuburan. Sebuah cita-cita yang ingin diwujudkan oleh raja beserta rakyatnya.

“Kyai Slamet adalah sebuah visi Raja. Secara harfiah, visi Keraton Surakarta, yaitu ingin mewujudkan keselamatan, kemakmuran, dan rasa aman bagi masyarakatnya,” ujar Winarno. (Ganug Nugroho Adi)

[code]http://kabarsoloraya.com/2009/06/27/kebo-bule-simbol-tradisi-agraris-keraton-surakarta/[/code]
buhitoz - 27/10/2011 06:44 PM
#191

mbah, yang ane belum nemu makna dari
menanam atau ngelarung kepala kerbau.

paling-paling yang ane dapet
hanya gambaran umum
bahwa itu melambangkan bentuk sukur


sedangkan kepala kerbaunya itu sendiri melambangkan apa ya, mbah?
prabuanom - 27/10/2011 07:42 PM
#192

Quote:
Original Posted By buhitoz
mbah, yang ane belum nemu makna dari
menanam atau ngelarung kepala kerbau.

paling-paling yang ane dapet
hanya gambaran umum
bahwa itu melambangkan bentuk sukur


sedangkan kepala kerbaunya itu sendiri melambangkan apa ya, mbah?


kesuburan dan kemakmuran?kerbau lambang agraris?. entahlah...saya aja mencari arti lambang kerbau, banteng, atau sapi dalam sistem kebudayaan kok susah. paling cuma dijelaskans ebagai bentuk lambang pancasila. padahal simbol pni dan pdip kan juga banteng?lambang marhaenisme?lambang lembu andini yang ditunggangi bhatara guru?entahlah....kayanya ada yg hilang mengenai hal ini......o
buhitoz - 27/10/2011 07:47 PM
#193

Quote:
Original Posted By prabuanom
kesuburan dan kemakmuran?kerbau lambang agraris?. entahlah...saya aja mencari arti lambang kerbau, banteng, atau sapi dalam sistem kebudayaan kok susah. paling cuma dijelaskans ebagai bentuk lambang pancasila. padahal simbol pni dan pdip kan juga banteng?lambang marhaenisme?lambang lembu andini yang ditunggangi bhatara guru?entahlah....kayanya ada yg hilang mengenai hal ini......o


iya ya, mbah

"Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan"

kenapa kepala banteng ya?

mesti cari buku jaman P4 dulu
mungkin ada
ha ha ha
prabuanom - 27/10/2011 07:52 PM
#194

Quote:
Original Posted By buhitoz
iya ya, mbah

"Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan"

kenapa kepala banteng ya?

mesti cari buku jaman P4 dulu
mungkin ada
ha ha ha


hehehhee makanya saya iseng masukin kebo bule, karena disana ada tulisan penjelasan kebo bule lambang agrarisme. apalagi ada yg aneh dengan budaya kebo bule. yaitu kirab di pimpin oleh serombongan kerbau yang berjalan didepan?. nah maknanya apa ini?masih sangat membingungkan buat saya. yg jelas keraton surakarta ga mungkin sembarangan pasti ada maknanya. tambahan lagi dijatim katanya ada tradisi bantengan, kaya model barongsai tp pake kepala banteng. sudah saya post didepan. ini juga bisa untuk menelusuri mengenai budaya "banteng, lembu, kebo atau sapi" sakral ini.
buhitoz - 27/10/2011 07:56 PM
#195

Quote:
Original Posted By prabuanom
hehehhee makanya saya iseng masukin kebo bule, karena disana ada tulisan penjelasan kebo bule lambang agrarisme. apalagi ada yg aneh dengan budaya kebo bule. yaitu kirab di pimpin oleh serombongan kerbau yang berjalan didepan?. nah maknanya apa ini?masih sangat membingungkan buat saya. yg jelas keraton surakarta ga mungkin sembarangan pasti ada maknanya. tambahan lagi dijatim katanya ada tradisi bantengan, kaya model barongsai tp pake kepala banteng. sudah saya post didepan. ini juga bisa untuk menelusuri mengenai budaya "banteng, lembu, kebo atau sapi" sakral ini.


beneran, mbah
ane sampe begadang penasaran soal itu

biasanya kalo ada bangunan baru
ritualnya kan suka nanem kepala kebo
sudah ane cari-cari, tapi gak nemu yang spesifik penjelasannya

jadi nemu yang lain-lain
yang udah diposting di atas.
prabuanom - 27/10/2011 08:02 PM
#196

Quote:
Original Posted By buhitoz
beneran, mbah
ane sampe begadang penasaran soal itu

biasanya kalo ada bangunan baru
ritualnya kan suka nanem kepala kebo
sudah ane cari-cari, tapi gak nemu yang spesifik penjelasannya

jadi nemu yang lain-lain
yang udah diposting di atas.


coba dilacak ke tradisi hindu budha mbah....katanya setiap membuat bangunan kan memang ada pengorbanan lembu atau binatang lain, sejak jaman kerajaan kutai?. kaya dalam prasati mengenai raja kudunga itu?. cuma istilahnya apa saya juga masih bingung. pasti ada istilah hindu budhanya. mungkin lebih ke tradisi hindu kayanya mbah?


http://yonwahyudi.blogspot.com/2010/05/prasasti-kutai.html

Naskah Prasasti B

1.Crimato Ncamukhyasya
2.Rajnah RiMulavarmanah
3.Danam Punyatame Ksetre
4.Yad=Dattam=Vaprakevare
5.Dvijatibhyo Gnikal Pebhyah
6.Vunatir=Ngosahasrikam
7.Tasya punyasya Yupo Yam
8.Krto iprair=Ihagatasi

Terjemahan Prasasti B

Ketika Raja yang tersohor dan terkenal Mulawarman memberikan hadiah seribu ekor lembu dan sebatang pohon kepada sang Brahmana yang menyerupai api pengorbanan ditempat yang paling diberkati (bernama) Vaprakeswara atas budi baiknya itulah tiang upacara peringatan ini dibuat olah para pendeta yang berkumpul disini.
prabuanom - 27/10/2011 08:25 PM
#197
Tata Upacāra Membangun Pura
Tata Upacāra Membangun Pura


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


a. Upacāra Ngeruwak Karang atau Upacāra Pamungkah

Upacāra ini dilaksankan sebagai Upacāra awal dalam persiapan membangun sebuah Pura, yakni merubah status tanah; yang sebelumnya mungkin adalah hutan, sawah, ataupun ladang. Jenis Upacāra ini dilaksanakan secara insidentil bukan bersifat rutinitas, tetapi Upacāra ini dilaksanakan berkaitan dengan adanya pembanguan baru ataupun pemugaran pura secara menyeluruh sehingga nampaknya seperti membangun sepelebahan pura baru.

b. Upacāra Nyukat Karang

Upacāra ini dilaksanakan dengan maksud mengukur secara pasti tata letak bangunan pelinggih yang akan didirikan, dan luas masing-masing mandala (palemahan) pura, sehingga tercipta sebuah tatanan pura yang seusai dengan aturan yang termuat baik dalam Asta Kosala-Kosali, maupun Asta Bumi.

c. Upacāra Nasarin

Upacāra ini adalah Upacāra peletakan batu pertama, yang didahului dengan Upacāra permakluman kepada Ibu Pertiwi, dengan mempersembahkan Upakāra sesayut Pertiwi, pejati, dan Upakāra lainnya. Pada Upacāra ini ditanam sebuah bata merah yang telah dirajah dengan Padma angalayang dangan aksaranya Dasaksara dan Bedawannala yang bertuliskan Angkara, dibukus dengan kain merah dan diisi kuangen. Sebuah batu bulitan yang dirajah dengan aksara Ang-Ung- Mang. Lalu dibungkus kain hitam dan diisi sebuah kuangen. Dan sebuah klungah kelapa gading ditulisi dengan aksara Omkara Gni, dibungkus dengan kain putih dan diisi kuangen.

d. Upacāra Memakuh, Melaspas

Upacāra ini bertujuan untuk membersihkan semua pelinggih dari kotoran tangan undagi (para pekerja bangunan) agar para Dewa/ Bhatara/ Bhatari berkenan melinggih di pura ini setiap saat terutama pada saat dilangsungkan Upacāra pujawali, sedangkan untuk membersihkan/ mensucikan areal pura secara niskala dilaksanakan Upacāra pecaruan berupa Panyudha Bumi.

Pelaksanaan pemelaspasan yang menyangkut tingkatannya, dengan memperhatikan kedudukan dan fungsi Pura masing-masing, maka akan ditentukan atas/ berdasarkan petunjuk para Sulinggih yang dikaitkan dengan adat setempat yang telah berlangsung sejak dahulu dengan asumsi pelaksanaan Upacāra akan menjadi lebih sempurna.

e. Upacāra Mendem Pedagingan

Setelah Upacāra pemelaspasan dan Sudha Bumi akan dilaksanakan Upacāra Mendem Pedagingan, sebagai lambang singgasana Hyang Widhi yang disthanakan. Bentuk serta jenis pedagingan antara satu Pelinggih dengan Pelinggih yang lainnya tidak sama – hal ini tergantung dari jenis bangunan Pelinggih yang bersangkutan, termasuk jenis bebantennyapun juga ada yang berbeda.

Tata cara membuat dan memendem pedagingan ini disamping mengikuti sastra agama, juga mengikuti isi Bhisama dari Mpu Kuturan, sebagaimana dilaksanakan ketika membangun Meru di Besakih.

Adapun cuplikan Bhisama dimaksud adalah sebagai berikut : “Yan meru tumpang 11, tumpang 9, tumpang 7, tumpang 5, sami wenang mepadagingan tur mangda memargi manista, madya, utama, lwir, yaning meru tumpang 11, pedagingannya ring dasar salwiring prabot manusa genep mewadah kwali waja. Sejawaning prabot manusa, maweweh antuk ayam mas, ayam selaka, bebek mas, slaka, kacang mas, slaka tumpeng mas, slaka, naga mas, slaka, mamata mirah, prihpih mas, slaka, tembaga miwah jarum mas, slaka, tembaga, padi mas, ika dados dasar. Tumpang meru ika wilang akeh ipun, sami medaging prihpih kadi ajeng, saha mawadah rerapetan sane mawarna putih, mwah wangi-wangian setegepe, mawastra putih, rantasan sapradeg. Ring madyaning tumpang merune, madaging prihpih, jarum kadi ajeng, miwah padhi musah 2, wangi-wangian setegepe. Ring puncaknya, taler prihpih mas, slaka miwah jarum kadi ajeng, tur maweweh mas 1, masoca mirah, murda wenang. Asampunika kandaning meru tumpang 11, pedaginganipun, yaning buat jinah punika manista madya utama, utama jinah papendemane 11 tali, madya 8 tali, nista 4 tali.

Malih pedagingan padmasana ring dasar pedaginganipun, Bhadawangnala mas, slaka mwah prabot manusa genep, wangi-wangian pripih mas, slaka, tembaga, jarum mas, slaka, tembaga, miwah podhi mirah 2, tumpeng mas, slaka, capung mas, sampian mas, slaka, nyalian mas, udang mas, getem (ketam) temaga, tanlempas mewangi-wangian segenepa, mewadah rapetan putih, metali benang catur warna. Malih pedagingan ring madya, lwire pripih mas, merajah makara, pripih slaka merajah kulum, pripih tembaga merajah getem, miwah jarum manut pripih, phodi mirah 2, tan sah wangi-wangian setegepa mewadah rerapetan putih. Malih korsi mas mewadah lingir sweta, punika ngaran utama yadnyan nista, madia utama, sluwir-luwir padagingan ika, kawanganya maprasistha rumuhun. Sampunang pisan mamurug, dawning linggih Bhatara, yang ande kapurug, kahyangan ika wenang dadi pesayuban Bhuta pisaca, makadi sang mewangun kahyangan ika, tan memanggih rahayu terus tumus kateka tekeng putra potrakanya, asapunka kojarnya sami mangguh lara roga. Malih pedagingan ring luhur luwire, padma mas, masoca mirah korsi mas, phodi mirah, asapunika padagingannya ring padmasana”

Untuk cuplikan ini kiranya tidak perlu dialih bahasakan lagi, karena telah mempergunakan bahasa Bali lumrah, sehingga telah dapat dimengerti oleh sebagian masyarakat umat Hindu yang ada di Bali.

f. Ngenteg Linggih

Ngenteg Linggih adalah sebagai rangkaian Upacāra paling akhir dari pelaksanaan Upacāra mendirikan sebuah pura, secara estimologinya ngenteg berarti menetapkan – linggih berarti menobatkan/ menstanakan.

Jadi Ngenteg Linggih adalah Upacāra penobatan/ menstanakan Hyang Widhi dengan segala manifestasi-Nya pada Pelinggih yang dibangun, sehingga Beliau berkenan kembali setiap saat terutama manakala dilangsungkan segala kegiatan Upacāra di pura yang bersangkutan. Mengenai pelaksanaan ngenteg linggih yang dilaksanakan itu secara garis besarnya adalah sebagai berikut :

Upacāra ditandai dengan membangun Sanggar tawang rong tiga, dilengkapi dengan bebanten suci 4 (empat) soroh dan banten catur, tegen-tegenan, serta Perlengkapan lainnya berupa sesayut gana, telur, benang, kelapa sebanyak 40 (empat puluh) butir yang dikemas dalam empat bakul, uang kepeng 52 (lima puluh dua). Jika di Sanggar tawang menyempatkan tirta, mesti dilengkapi lagi dengan banten suci sejumlah tirta yang ditempatkan di sana dan reruntutan lainnya (menurut petunjuk Sulinggih). Pada undakan Sanggar tawang bebantennya adalah suci samida beserta beras pangopog sebakul berisi bunga lima jenis, seperangkat peras pagenayan bertumpeng merah, ayam biing dipanggang, dilengkapi dengan daksina berisi benang merah. Pada Sanggar tawang memakai lamak 4 (empat) buah pada rong yang ditengah memakai lamak surya dan lamak candra, lamak segara pada rong selatan, lamak gunung pada rong paling utara. Pada masing-masing ruangan juga dilengkapi dengan ujung daun pisang kayu, plawa dilengkapi pajeng, tetunggul empat warna: putih, kuning, merah dan hitam. Pada bangunan panggungan perlengkapannya adalah pring kumaligi, beralaskan pane diisi beras dan uang kepeng 225, benang setukel dan memakai busana lengkap. Perlengkapan lainnya berupa sesantun beras senyiru, 5 butir kelapa, telur, benang, uang 5.000,- (lima ribu), jerimpen 5 (lima) tanding, dijadikan lima nyiru, ini disebut banten paselang.

Banten di bawah panggungan dilengkapi dengan gayah, sate bebali dan gelar sanga ditambah dengan plegembal. Di depan lubang yang nantinya digunakan mepulang/ menanam pedagingan, didepannya digelar baying-bayang (kulit) kerbau hitam, sesajen selengkapnya dengan bebangkit warna hitam, pulakerti 1, suci 1, pagu putih ijo cawu guling, cawu renteg, isu-isu, kwangi.

Pada Sanggar tutuwan, bebantennya adalah banten penebus, dengan perlengkapannya suci putih, bebangkit dan pula kerti, sedangkan banten penyorohnya adalah dihaturkan kehadapan manifestasi Hyang Widhi yang berstana di Sapta Patala (nama Pelinggih), berupa suci 1, bebangkit hitam, guling dan dedaanan, bebanten di natar pura, berupa caru panca sanak, baying-bayang (kulit) angsa, bebek belang kalung, anjing belang bungkem, kambing hitam, dilengkapi dengan suci, bebangkit hitam, pula kerti dan beras serba sepuluh. Setelah semua Perlengkapan Upacāra ini disiapkan, barulah pemujaan oleh Sulinggih, kemudian diakhiri dengan persembahyangan bersama.

Catatan: Tingkatan Upakāra dan Upacāra dari Ngeruwak sampai Ngenteg Linggih pelaksanaannya agar disesuaikan dengan petunjuk sastra dan petunjuk para Sulinggih yang menjadi Manggala Upacāra saat Ngnteg Linggih

[code]http://dharmavada.wordpress.com/2009/08/24/pengertian-pengelompokan-dan-tata-upacara-membangun- pura/[/code]
19.NOV.10 - 27/10/2011 09:44 PM
#198

ijin nyimak gan shakehand
lumayan buat nambah2 ilmu budaya ane malu:
prabuanom - 27/10/2011 09:56 PM
#199

Quote:
Original Posted By 19.NOV.10
ijin nyimak gan shakehand
lumayan buat nambah2 ilmu budaya ane malu:


silakan gan shakehand
buhitoz - 28/10/2011 01:01 AM
#200
Menanam Kerbau Perjaka Untuk Hilangkan Kebodohan
Keraton Surakarta kembali menggelar Hajaddalem Wilujengan Nagari di Alas Krendhawahana Gondangrejo Karanganyar kamis (31/3). kepala dan kaki kerbau dikubur dalam ritual itu.

Suara lantunan doa dari umat Hindu dan Budha silih berganti terdengar di Alas Krendhawahana. Setelah itu, doa dari umat Islam menyusul kemudian. Pembacaan doa secara bergantian itu, sebagai pembuka ritual Hajjaddalem Wilujengan Nagari yang digelar Keraton Surakarta. Setelah pembacaan doa rampung kepala kerbau dan kakikerbau ditanam atau dikubur di alas itu.

Kepala kerbau dan kakinya yang dikubur, secara simbolis untuk menghilangkan kebodohan. Pujangga Keraton KP Yugisworo Suryohadiningrat mengatakan ritual itu juga untuk membangun kerukunan antar umat.

"Kerbau itu adalah binatang yang manutan dan kuat, namun bodoh, sehingga kepala kerbau sebagai lambang kebodohan harus dikubur sedalam-dalamnya. Kemudian kaki kerbau melambangkan tuntunan jalan yang harus dalam rel kebenaran. Sedang tubuhnya dapat dibagikan kepada umat agar menjadi kuat seperti kuatnya sang kerbau."

Doa-doa yang dipanjatkan memang dari tiga agama secara berurutan yakni Hindu, Budha dan Islam. urutan itu disesuaikan dengan waktu masuknya agama-agama itu ke Jawa.

"Agama yang masuk, dimulai dari Hindu dulu, kemudian Budha lalu Islam. Hal ini juga bertujuan untuk menggambarkan dan menjaga sikap toleransi yang dimiliki oleh warga."

"Digelar setiap tahun sesuai kalender Jawa, agar makna dan arti dari ritual ini tidak hilang dan dapat terus terjaga."

" Alas Krendhawahana di pilih sebagai tempat ritual karena lokasi ini sebagai tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwono VI Keraton Surakarta beberapa tahun silam. Pertemuan itu untuk membahas strategi menghadapi Belanda."



--------------------------------------

Sumber: harian Joglo Semar
Jumat 1/4/2011
http://harianjoglosemar.com/berita/menanam-kepala-kerbau-perjaka-untuk-hilangkan-kebodohan-40286.html

---------------------------------------

yang menarik untuk ane adalah
lantunan doa dari tiga agama, Hindu, Budha dan Islam secara berurutan
dengan tujuan saling menghormati dan menjaga toleransi

Siapa yang menjadi penata acara ritual ini?
Adalah Kearifan Lokal kita.

makna yang bisa ane tangkap adalah dahulu kita tidak hanya bisa menerima semua pengaruh yang masuk
namun juga menjaga semuanya untuk tetap damai.

bisa menganut kepercayaan baru tanpa kehilangan identitas.
Page 10 of 13 | ‹ First  < 5 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya