Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 11 of 13 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 > 

prabuanom - 28/10/2011 01:12 AM
#201

Quote:
Original Posted By buhitoz
Keraton Surakarta kembali menggelar Hajaddalem Wilujengan Nagari di Alas Krendhawahana Gondangrejo Karanganyar kamis (31/3). kepala dan kaki kerbau dikubur dalam ritual itu.

Suara lantunan doa dari umat Hindu dan Budha silih berganti terdengar di Alas Krendhawahana. Setelah itu, doa dari umat Islam menyusul kemudian. Pembacaan doa secara bergantian itu, sebagai pembuka ritual Hajjaddalem Wilujengan Nagari yang digelar Keraton Surakarta. Setelah pembacaan doa rampung kepala kerbau dan kakikerbau ditanam atau dikubur di alas itu.

Kepala kerbau dan kakinya yang dikubur, secara simbolis untuk menghilangkan kebodohan. Pujangga Keraton KP Yugisworo Suryohadiningrat mengatakan ritual itu juga untuk membangun kerukunan antar umat.

"Kerbau itu adalah binatang yang manutan dan kuat, namun bodoh, sehingga kepala kerbau sebagai lambang kebodohan harus dikubur sedalam-dalamnya. Kemudian kaki kerbau melambangkan tuntunan jalan yang harus dalam rel kebenaran. Sedang tubuhnya dapat dibagikan kepada umat agar menjadi kuat seperti kuatnya sang kerbau."

Doa-doa yang dipanjatkan memang dari tiga agama secara berurutan yakni Hindu, Budha dan Islam. urutan itu disesuaikan dengan waktu masuknya agama-agama itu ke Jawa.

"Agama yang masuk, dimulai dari Hindu dulu, kemudian Budha lalu Islam. Hal ini juga bertujuan untuk menggambarkan dan menjaga sikap toleransi yang dimiliki oleh warga."

"Digelar setiap tahun sesuai kalender Jawa, agar makna dan arti dari ritual ini tidak hilang dan dapat terus terjaga."

" Alas Krendhawahana di pilih sebagai tempat ritual karena lokasi ini sebagai tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwono VI Keraton Surakarta beberapa tahun silam. Pertemuan itu untuk membahas strategi menghadapi Belanda."



--------------------------------------

Sumber: harian Joglo Semar
Jumat 1/4/2011
http://harianjoglosemar.com/berita/menanam-kepala-kerbau-perjaka-untuk-hilangkan-kebodohan-40286.html

---------------------------------------

yang menarik untuk ane adalah
lantunan doa dari tiga agama, Hindu, Budha dan Islam secara berurutan
dengan tujuan saling menghormati dan menjaga toleransi

Siapa yang menjadi penata acara ritual ini?
Adalah Kearifan Lokal kita.

makna yang bisa ane tangkap adalah dahulu kita tidak hanya bisa menerima semua pengaruh yang masuk
namun juga menjaga semuanya untuk tetap damai.

bisa menganut kepercayaan baru tanpa kehilangan identitas.


wah dapat juga ahirnya maknanya mbah shakehand

hem menarik itu bisa diadakan secara berurutan, tanpa harus saling klaim paling bener thumbup:
prabuanom - 28/10/2011 01:18 AM
#202
kirab tebu temanten
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

YOGYAKARTA - Menjelang musim giling tebu tahun 2010 ini yang akan dimulai pada tanggal 12 Mei mendatang, PG/PS Madukismo, Yogyakarta menggelar acara ritual kirab Tebu Temanten. Acara ini merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak diresmikannya PG/PS Madukismo oleh Presiden RI Seokarno pada tahun 1958.

Ritual yang digelar menjelang setiap musim giling di PG/PS Madukismo mendapatkan perhatian ribuan dari masyarakat sekitar PG Madukismo dan sekitarnya yang berdesak-desakan untuk melihat tebu temanten yang dibawa dengan kereta kuda dan dua kuda serta seorang kusir.

Judiman (63), tokoh masyarakat setempat sekaligus mantan pegawai PG Madukismo menceritakan, kirab tebu temanten ini merupakan prosesi awal penggilingan tebu. Disebut Kirab tebu manten, karena tebu yang akan digiling pertama kali di mesin penggilingan dikirab terlebih dahulu atau dibawa dengan berjalan kaki mulai dari Rumah Besaran yaitu rumah Bapak Administratur PG menuju ke Kantor Tebang Angkut kemudian ke Kantor SPUK ( Serikat Pekerja Unit Kerja ).

Kirab tebu ini juga disertai dengan sepasang Boneka Temanten. Untuk tahun 2010 ini, tebu temanten dinamai Kyai Tumpak dan Nyai Pahing karena bertepatan dengan hari Sabtu Pahing.

"Sepasang boneka temanten ini merupakan simbol adanya tebu lanang atau tebu yang berasal dari daerah lain, sedangkan tebu wadon berasal dari PG sendiri atau tebu yang asli ditanam oleh PG," katanya, Sabtu (24/4/2010).

Menurutnya tahap paling awal dalam prosesi, adalah melakukan penebangan tebu yang akan digunakan untuk kirab, terlebih dahulu dilaksanakan syukuran atau selamatan di kebun tebu yang telah ditunjuk atau ditentukan oleh PG.

Syukuran atau selamatan ini dilakukan seperti syukuran atau selamatan yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu menggunakan nasi tumpeng dan perlengkapan lainnya. Syukuran ini bertujuan agar prosesi kirab tebu manten ini berjalan dengan lancar mulai dari awal tebang, angkut, penggilingan sampai dengan akhir penggilingan nanti.

"Yang mengikuti syukuran atau selamatan ini adalah para pekerja di kebun tebu tersebut dan beberapa staf atau karyawan yang merupakan utusan dari PG," terangnya.

Tebu yang akan ditebang dan yang akan digunakan dalam prosesi kirab, melalui beberapa tahapan mulai dari mendata kebun, seleksi varitas, dan tingkat kemasakan tebu. Dipilih tebu yang betul-betul layak untuk digiling agar dicapai rendemen atau hasil gula setinggi-tingginya.

Pada saat melakukan penebangan tebu, dihadiri para staf karyawan PG di antaranya adalah Sinder Kebun Kepala (SKK) Rayon Wilayah, SKK Tebang dan Angkut, Sinder Kebun Wilayah (SKW), Pembina Penyuluh Lapangan (PPL), dan para undangan beberapa Perangkat desa serta wakil dari para petani. Secara simbolis dilakukan penyerahan sabit dari SKW yang ditunjuk, kepada Sinder Kebun Kepala Tebang Angkut (SKK TA), kemudian baru dilakukan penebangan.

"Tebu yang telah ditebang, diangkut dan dihias sedemikian rupa di Kantor Tebang Angkut," paparnya.

Lebih lanjut Judiman menyatakan, untuk penyembelihan dua hewan kerbau jantan dan betina, dilakukan di halaman samping rumah Bapak Administratur. Selesai penyembelihan daging langsung dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu di sekitar pabrik gula.
Kemudian 2 ( dua ) kepala kerbau dihias, 1 ( satu ) kepala diletakkan disebelah mesin gilingan dan satunya lagi diletakkan dimesin masakan. Kerbau dibiarkan 2 ( hari ) ditempat tersebut.

Sedangkan untuk kirab tebu temanten, kata Judiman dimulai pukul 15.30 WIB dari rumah Bapak Administratur tebu manten diarak menuju kantor tebang angkut kemudian diserahkan kepada SKK TA. Dari kantor tebang angkut tebu manten diarak menuju kantor SPUK diiringi barisan pembawa tebu manten, semua karyawan bagian tebang angkut, barisan reog, dan traktor hias.

Dari kantor SPUK diarak menuju ke kantor Akuntansi dan Umum (AkU) diterima oleh Bapak kepala bagian AkU dilanjutkan diserahkan kepada Bapak kepala bagian tanaman. Iringan tebu manten berhenti sebentar dan dilanjutkan diserahkan kepada Bapak Administratur.

"Terakhir tebu manten diserahkan kepada kepala bagian instalasi dan kepala bagian pengolahan yang kemudian diletakkan di meja gilingan bersamaan dengan sesaji berupa nira atau perasan tebu, kembang setaman, telur, dan beras kuning. Setelah semua siap menunggu sirine isyarat dibunyikan kemudian boneka, tebu manten, dan sesaji digiling bersamaan," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur PT Madubaru, Rahmad Edi Cahyono mengatakan untuk musim giling tahun ini pihaknya akan menggiling 535.147 ton tebu dengan luas lahan mencapai 4972 hektar yang tersebur di 4 Kabupaten di Provinsi DIY dan 4 Kabupaten di wilayah provinsi Jawa Tengah seperti Sragen, Purworejo, Magelang, Temanggung dan Kebumen.

"Dengan 535.147 ton tebu yang akan digiling pada tahun ini diperkirakan akan menghasilkan gula sebanyak 40 ribu ton. Masa giling sendiri akan berlangsung selama 162 hari ditambah libur hari raya selama 10 hari sehingga total masa gilingnya mencapai 172 hari," katanya.

Dengan menghasilkan gula 40 ribu ton untuk sekali musim giling, Edi menyatakan produksi PG Madukismo sendiri belum mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat DIY dalam satu tahunnya yang mencapai 45 ribu ton.

"Langkah ke depan kita akan meningkatkan luas lahan tebu dan juga perbaikan peralatan mesin penggilingan tebu sehingga akan menghasilkan gula yang lebih banyak dengan kualitas lebih baik," tandasnya.
(Daru Waskita/Trijaya/hri)

http://news.okezone.com/read/2010/04/24/340/326017/musim-giling-tebu-ritual-kirab-tebu-temanten-digel ar
prabuanom - 28/10/2011 01:25 AM
#203

Quote:
Original Posted By buhitoz
Keraton Surakarta kembali menggelar Hajaddalem Wilujengan Nagari di Alas Krendhawahana Gondangrejo Karanganyar kamis (31/3). kepala dan kaki kerbau dikubur dalam ritual itu.

Suara lantunan doa dari umat Hindu dan Budha silih berganti terdengar di Alas Krendhawahana. Setelah itu, doa dari umat Islam menyusul kemudian. Pembacaan doa secara bergantian itu, sebagai pembuka ritual Hajjaddalem Wilujengan Nagari yang digelar Keraton Surakarta. Setelah pembacaan doa rampung kepala kerbau dan kakikerbau ditanam atau dikubur di alas itu.

Kepala kerbau dan kakinya yang dikubur, secara simbolis untuk menghilangkan kebodohan. Pujangga Keraton KP Yugisworo Suryohadiningrat mengatakan ritual itu juga untuk membangun kerukunan antar umat.

"Kerbau itu adalah binatang yang manutan dan kuat, namun bodoh, sehingga kepala kerbau sebagai lambang kebodohan harus dikubur sedalam-dalamnya. Kemudian kaki kerbau melambangkan tuntunan jalan yang harus dalam rel kebenaran. Sedang tubuhnya dapat dibagikan kepada umat agar menjadi kuat seperti kuatnya sang kerbau."

Doa-doa yang dipanjatkan memang dari tiga agama secara berurutan yakni Hindu, Budha dan Islam. urutan itu disesuaikan dengan waktu masuknya agama-agama itu ke Jawa.

"Agama yang masuk, dimulai dari Hindu dulu, kemudian Budha lalu Islam. Hal ini juga bertujuan untuk menggambarkan dan menjaga sikap toleransi yang dimiliki oleh warga."

"Digelar setiap tahun sesuai kalender Jawa, agar makna dan arti dari ritual ini tidak hilang dan dapat terus terjaga."

" Alas Krendhawahana di pilih sebagai tempat ritual karena lokasi ini sebagai tempat bertemunya Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwono VI Keraton Surakarta beberapa tahun silam. Pertemuan itu untuk membahas strategi menghadapi Belanda."



--------------------------------------

Sumber: harian Joglo Semar
Jumat 1/4/2011
http://harianjoglosemar.com/berita/menanam-kepala-kerbau-perjaka-untuk-hilangkan-kebodohan-40286.html

---------------------------------------

yang menarik untuk ane adalah
lantunan doa dari tiga agama, Hindu, Budha dan Islam secara berurutan
dengan tujuan saling menghormati dan menjaga toleransi

Siapa yang menjadi penata acara ritual ini?
Adalah Kearifan Lokal kita.

makna yang bisa ane tangkap adalah dahulu kita tidak hanya bisa menerima semua pengaruh yang masuk
namun juga menjaga semuanya untuk tetap damai.

bisa menganut kepercayaan baru tanpa kehilangan identitas.


Ritual tanam kepala kerbau adalah bagian dari upacara cembengan yaitu upacara awal musim giling tebu. Sesajen berupa tujuh kepala kerbau tertsebut, hanya ditemukan di pabrik gula Tasikmadu Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar Jawa Tengah yang bertujuan meminta kelancaran proses penggilingan tebu (29/04/2010.)

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Ritual dimulai dengan arak-arakan sesajen dari balai Desa Suruh dengan berjalan kaki menuju Pabrik Gula Tasik Madu, yang berjarak sekitar dua kilometer. Arak-arakan sesajen berisi bermacam hasil bumi, bubur dan makanan tradisional lainya. Ikut diarak pula, gagar mayang dari dua batang pohon tebu, kembang telon serta tujuh kepala kerbau yang merupakan simbol kekuatan dalam menolak bala.

Sesajen di arak menggunakan jolen atau joli yang dibuat dari bambu kertas hias yang diusung warga secara bergantian. Warga percaya sesaji ini akan membawa berkah, terutama bagi para pekerja pabrik yang akan melakukan proses produksi gula pasir.

Sebelum masuk ke lokasi penggilingan, terlebih dahulu tokoh adat setempat memasang sesajen di depan monumen lokomotif yang berada di pintu pabrik. Hal ini dilakukan agar kekuatan jahat, yang berada di sekitar pabrik tidak masuk dan mengganggu proses ritual.

Tumbal jenis ini biasanya untuk gangguan kelas berat. Kegunaannya bukan untuk meredamdan menetralisir makhluk-makhluk yang sifatnya kotor. Kotor dimasukkan ke dalam kotoran, maka lenyap kotorannya karena menyatu. Asalnya dari kotoran kembali ke kotoran.

Setelah itu, sesaji termasuk kepala kerbau dibawa masuk ke dalam pabrik untuk selanjutnya didoakan. Sesajen kemudian diletakkan di sejumlah tempat di dalam pabrik, terutama di depan deretan mesin giling.

Menurut kepala tanaman pabrik Gula Tasikmadu, Sri Harjanto, ritual bertujuan memohon keselamatan kepada Tuhan dalam proses penggilingan tebu, untuk selanjutnya diproses menjadi gula pasir. Sementara kepala kerbau sendiri, adalah simbol dari etos dan semangat dalam bekerja. “Semua simbol memiliki arti tersendiri”, Sri Harjanto.

Ritual berlanjut hingga Jumat pagi (30/04/2010,) dengan upacara temu manten tebu pria dan perempuan yang dimeriahkan layaknya resepsi pernikahan. Upacara ijab dinyatakan setelah pasangan tebu temanten, dimasukkan bersama-sama dengan tebu penggiring di stasiun gilingan.
Syukuran atau selamatan ini dilakukan layaknya syukuran yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, yaitu menggunakan nasi tumpeng dan perlengkapan lainnya. Syukuran ini bertujuan agar prosesi kirab tebu manten ini berjalan dengan lancar mulai dari awal tebang, angkut, penggilingan sampai dengan akhir penggilingan nanti.
Ritual ini merupakan tradisi yang sudah berumur sekitar 150 tahun dan merupakan peninggalan Mangkunagoro keempat, penguasa Pura Mangkunegaran Surakarta yang mendirikan pabrik gula ini pada tahun 1871.

Melihat sejarahnya, ritual kepala kerbau ini sangat penting, terutama bagi para pekerja pabrik gula. Selain itu ada nilai-nilai budaya Jawa yang diperlihatkan dalam ritual ini.

http://www.berita86.com/2010/04/ritual-tanam-kepala-kerbau-awali-musim.html
buhitoz - 28/10/2011 01:37 AM
#204

Quote:
Original Posted By prabuanom


wah dapat juga ahirnya maknanya mbah shakehand

hem menarik itu bisa diadakan secara berurutan, tanpa harus saling klaim paling bener thumbup:

Iya, mbah
Sangat menarik

Adem ngebayanginnya
Gk gontok2an beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
angel.wijaya - 28/10/2011 07:33 AM
#205

Quote:
Original Posted By prabuanom
hehehhee makanya saya iseng masukin kebo bule, karena disana ada tulisan penjelasan kebo bule lambang agrarisme. apalagi ada yg aneh dengan budaya kebo bule. yaitu kirab di pimpin oleh serombongan kerbau yang berjalan didepan?. nah maknanya apa ini?masih sangat membingungkan buat saya. yg jelas keraton surakarta ga mungkin sembarangan pasti ada maknanya. tambahan lagi dijatim katanya ada tradisi bantengan, kaya model barongsai tp pake kepala banteng. sudah saya post didepan. ini juga bisa untuk menelusuri mengenai budaya "banteng, lembu, kebo atau sapi" sakral ini.


dalam tradisi (entah umum atau lokal daerah dekat saya saja)
kepala kerbau dilambangkan sebagai jiwa pemikir

dimaksudkan agar masyarakat bisa berpikir layaknya kerbau (jgn baca harafiah)
ada sedikit arti simbolik dari kerbau ditanah sunda mbah
"mulih ka jati mulang ka asal, kebo mulih ka pakandangan"
yg dpt dimaknai bahwa kerbau saja, jika tersesat tetapi tetap selalu ingat ke kandangnya & pasti akan pulang ke kandangnya bukan ke kandang lain.... kira2 begitu mbah Peace:
buhitoz - 28/10/2011 08:54 AM
#206

Kepala kerbau

Dalam cerita yang dituturkan turun-temurun di masyarakat pesisir Cirebon, nadran merupakan ritual syukur atas rezeki yang dilimpahkan alam kepada nelayan. Nadran berasal dari kata nazar, yang berarti doa. Puncak ritual dilakukan dengan melarung sesajen (lereng sajen) yang berisi kepala kerbau (mahesa) di dalam replika kapal.

Dari sejarahnya, seperti tertuang dalam Kitab Negara Kertabumi karya Pangeran Wangsakerta, tahun 410 Masehi, Raja Tarumanegara memerintahkan penguasa Kerajaan Indraprahasta membangun tempat pemandian, Bengawan Kriyan. Tradisi mandi suci pun mengikuti perkembangan zaman dan bergeser menjadi pesta laut (nadran).

Kepala kerbau yang dilarung mengacu pada tradisi upacara masyarakat Hindu. Mahesa bisa diartikan Maha Esa, sedangkan laut adalah kehidupan dan ikan adalah manusianya.

Ada juga pengertian lain. Kepala kerbau bisa diartikan sebagai kebodohan sehingga harus dibuang jauh-jauh.

”Karena itu, saat replika perahu berisi kepala kerbau dilarung, kami hanya berebut kain pembungkus. Bukan sesajen. Kain pembungkus dianggap suci dan bisa memberikan berkah bagi pemilik kapal,” kata Tarjo.

Nelayan yang mendapatkan kain pembungkus akan mengikatkan kain itu di tiang kapal atau menyematkan di bagian depan kapal.

Setelah sesajen dilarung, nelayan menyiramkan air laut ke kapalnya, dengan harapan mendapat berkah. Beberapa nelayan bahkan sengaja berenang di sekitar sesajen karena yakin bisa awet muda.

Keyakinan masyarakat pesisir Cirebon diharapkan bisa memelihara tradisi nadran yang secara rutin digelar sejak abad ke-15, yaitu pada masa Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), meski kini sudah terselip nuansa komersial.

http://yklindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=141%3Anadran-simbol-tradisi-dan- komersialisasi&catid=34%3Ainfo&Itemid=12
-----------------------

menarik ya,
berarti satu benda bisa bermakna lain
sesuai dengan tujuan ritual itu dilaksanakan.

jadi kepala kerbau itu bisa bermakna:
- kebodohan, maka nya harus dikubur dalam-dalam.
- untuk mengusir gangguan berat
- simbol dari etos dan semangat dalam bekerja.
- melambangkan jiwa pemikir
- bahkan kalo dlm Hindu, melambangkan Maha Esa ( diambil dari kata Mahesa)
balaprabu - 28/10/2011 10:14 AM
#207

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
dalam tradisi (entah umum atau lokal daerah dekat saya saja)
kepala kerbau dilambangkan sebagai jiwa pemikir

dimaksudkan agar masyarakat bisa berpikir layaknya kerbau (jgn baca harafiah)
ada sedikit arti simbolik dari kerbau ditanah sunda mbah
"mulih ka jati mulang ka asal, kebo mulih ka pakandangan"
yg dpt dimaknai bahwa kerbau saja, jika tersesat tetapi tetap selalu ingat ke kandangnya & pasti akan pulang ke kandangnya bukan ke kandang lain.... kira2 begitu mbah Peace:


semua tergantung niatannya ternyata ya mbah shakehand
balaprabu - 28/10/2011 10:15 AM
#208

Quote:
Original Posted By buhitoz
Kepala kerbau

Dalam cerita yang dituturkan turun-temurun di masyarakat pesisir Cirebon, nadran merupakan ritual syukur atas rezeki yang dilimpahkan alam kepada nelayan. Nadran berasal dari kata nazar, yang berarti doa. Puncak ritual dilakukan dengan melarung sesajen (lereng sajen) yang berisi kepala kerbau (mahesa) di dalam replika kapal.

Dari sejarahnya, seperti tertuang dalam Kitab Negara Kertabumi karya Pangeran Wangsakerta, tahun 410 Masehi, Raja Tarumanegara memerintahkan penguasa Kerajaan Indraprahasta membangun tempat pemandian, Bengawan Kriyan. Tradisi mandi suci pun mengikuti perkembangan zaman dan bergeser menjadi pesta laut (nadran).

Kepala kerbau yang dilarung mengacu pada tradisi upacara masyarakat Hindu. Mahesa bisa diartikan Maha Esa, sedangkan laut adalah kehidupan dan ikan adalah manusianya.

Ada juga pengertian lain. Kepala kerbau bisa diartikan sebagai kebodohan sehingga harus dibuang jauh-jauh.

”Karena itu, saat replika perahu berisi kepala kerbau dilarung, kami hanya berebut kain pembungkus. Bukan sesajen. Kain pembungkus dianggap suci dan bisa memberikan berkah bagi pemilik kapal,” kata Tarjo.

Nelayan yang mendapatkan kain pembungkus akan mengikatkan kain itu di tiang kapal atau menyematkan di bagian depan kapal.

Setelah sesajen dilarung, nelayan menyiramkan air laut ke kapalnya, dengan harapan mendapat berkah. Beberapa nelayan bahkan sengaja berenang di sekitar sesajen karena yakin bisa awet muda.

Keyakinan masyarakat pesisir Cirebon diharapkan bisa memelihara tradisi nadran yang secara rutin digelar sejak abad ke-15, yaitu pada masa Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), meski kini sudah terselip nuansa komersial.

http://yklindonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=141%3Anadran-simbol-tradisi-dan- komersialisasi&catid=34%3Ainfo&Itemid=12
-----------------------

menarik ya,
berarti satu benda bisa bermakna lain
sesuai dengan tujuan ritual itu dilaksanakan.

jadi kepala kerbau itu bisa bermakna:
- kebodohan, maka nya harus dikubur dalam-dalam.
- untuk mengusir gangguan berat
- melambangkan jiwa pemikir
- bahkan kalo dlm Hindu, melambangkan Maha Esa ( diambil dari kata Mahesa)


mantab mbah shakehand
angel.wijaya - 28/10/2011 10:22 AM
#209

Quote:
Original Posted By balaprabu
semua tergantung niatannya ternyata ya mbah shakehand


iya mbah, sebab ada juga yg percaya bahwa kerbau binatang yg pintar

tp ada pula yg bilang sebaliknya, walau beda tp sampe hari ini tetap akur saja thumbup:
balaprabu - 28/10/2011 11:05 AM
#210

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
iya mbah, sebab ada juga yg percaya bahwa kerbau binatang yg pintar

tp ada pula yg bilang sebaliknya, walau beda tp sampe hari ini tetap akur saja thumbup:


yg penting rukun ya mbah D
balaprabu - 30/10/2011 12:55 AM
#211
Pertamanan Tradisional Bali Berlandaskan Unsur Satyam, Siwam, Sundaram, Relegi &Usada
Oleh Ahmad Prajoko

A rti Kata Satyam, Siwam, Sundaram, Relegi dan Usada
Satyam artinya kebenaran
Siwam artinya kebersihan, kesucian, kemuliaan
Sundaram artinya keindahan, kecantikan, keharmonisan
Relegi artinya bunga-bunga pada pertamanan adalah sebagai unsur pokok dalam upakara suci kehadapan Tuhan
Usada artinya pertamanan itu sendiri secara keseluruhan sudah merupakan usada (obat) Keindahan Bali

Sudah sejak dahulu kala, keindahan alam Bali dipuja dan dipuji oleh para leluhur. Lontar Anyanag Nirartha menyebutkan bahwa Dang Hyang Nirartha pada abad XV dari pulau Nusa dua mengungkapkan perasaannya akan betapa indahnya kawasan Peti Tenget, Uluwatu, maupun Nusa Dua yang menjorok ke laut. Keindahan Gunung Agung, terbitnya matahari, deburan ombak, lambaian daun nyiur, nyanyian binatang dengan pasir putihnya, merupakan pesona alam yang sangat mengangumkan dapat dilihat dan dirasakan dari pulau ini.

Di dalam kekimpoi Ramayana Bab XXV. 16, dinyatakan bahwa binatang akan menjadi saleh, burung siung tekun mempelajari pengetahuan keindahan. Lebih jauh dalam Kitab Suci Negara Kertagama karangan Prapanca pupuh XXXII melukiskan : “Berhamburan bunga naga kusuma di halaman yang dilindungi selokan andung, karawira, menuh serta kayu puring yang dipagari batu giok”. Kekimpoi Bharatayudha Bab V.2-3 menyebutkan, di sebelah Barat ada taman yang dihias dengan batu-batuan dan dihiasi bunga tanjung, selalu bercahaya. Di sinilah wanita-wanita cantik bermain-main di bawah sinar bulan.

Konsep Pertamanan Bali

Di Bali, pertamanan bukan saja melibatkan arsitektural, fungsional, estetika, akan tetapi juga melibatkan filosofi budaya Bali di setiap penempatan komponen pertamanannya, sehingga terpola sedemikian rupa, baku dan khas untuk setiap komponen yang ada. Pertamanan Bali atau Pertamanan Tradisional Bali mempunyai filosofi yang sangat tinggi, sehingga dimuat di berbagai lontar dan kitab suci. Filosofi Pertamanan Tradisional Bali diawali oleh cerita pemutaran Gunung / Mandara Giri.

Dalam lontar Adi Parwa halaman VXIX disebutkan bahwa dalam pemutaran Mandra Giri di Ksirarnawa memunculkan beberapa komponen yaitu :

Ardha Chandra, atau bulan sabit, yaitu unsur keras dan keindahan. Setelah dianalisis keluar sebagai aspek bangunan dengan segala bentuk dan keindahannya. Kayu Kasta Gumani, sebagai unsur tanaman yang memberi kehidupan atau kalpataru, memunculkan Panca Wriksa yaitu lima tanaman pertama yang tumbuh dan memberi kehidupan, yaitu beringin (Ficus bengalensis) yang dapat memberikan keteduhan dan kedamaian hidup, ancak atau pohon bodhi (Hemandia Pellata) sebagai tempat meditasi untuk berhubungan dengan Tuhan, memohon kehidupan dan kedamaian, pisang (musa sp), yang merupakan makanan yang memberikan kehidupan, tanaman uduh (Caryota mitis) yang merupakan tempat menerima “pituduh/wangsit” atau petuah serta tanaman peji, sebagai tempat memuji atau menyembah kebesaran Tuhan. Air yang mengental, sebagai pelambang air kehidupan yang merupakan unsur terpenting yang dapat memberikan kesejukan, baik kesejukan pikiran maupun kesejukan lingkungan, jadi merupakan air amertha atau air kamandalu, karena amertha berarti tidak mati atau kehidupan yang langgeng. Penjabaran lebih jauh dari air ini, menghasilkan “Pancara”, yaitu rekayasa air untuk lingkungan, yang meliputi : seta atau jembatan, tama atau tetaman, tambak atau perikanan, telaga atau ekositem dan peken atau pasar.

Dewi Laksmi, sebagai pelambang keindahan, baik dalam keindahan kedamaian, keserasian, keharmonisan dan lingkungan, yang bermuara memberikan amertha kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Kuda Oncersrawa (kuda putih), sebagai pelambang kreativitas tata ruang. Bongkah, adalah sebagai pelambang bentuk yang tidak beraturan seperti bebatuan, tanah. Prelaya, adalah kehancuran, kematian atau tidak utuh.

Pemunculan komponen tersebut yang dipakai landasan dalam membuat atau mendisain sebuah taman atau lanskap di Bali, yang harus sesuai pula dengan unsur Satyam (kebenaran), Siwam (kebersihan, kesucian, kemuliaan), Sundaram (keindahan, kecantikan, keharmonisan) yang menjiwai konsep Tri Hita Karana, Tri Mandala, Tri Angga maupun Asta Dala.

Tri Hita Karana adalah tiga sebab yang memberikan kebahagiaan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Konsep Tri Mandala (tiga areal) juga dipakai dalam konsep ini, yaitu Utama Mandalanya adalah Parhyangan atau tempat suci atau pemerajan atau sanggah, Madya Mandalanya adalah pekarangan rumah yang meliputi bangunan tempat tinggal, dapur, kamar mandi, kerumpu atau jineng dan “teba” atau tegalan, sedangkan Nista Mandalanya adalah pekarangan luar rumah atau jaba atau pekarangan sebelum memasuki pekarangan rumah.

Selain itu juga memasukkan unsur Tri Angga (tiga bagian badan), yaitu Ulu (kepala), Badan dan Kaki. Ulu (kepala) adalah gunung, akan memberikan tuntutan berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, agar mendapatkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin. Badan adalah perkampungan dengan perkotaannya tempat masyarakat mencari penghidupan, sedangkan Kakinya adalah lautan, tempat membuang segala mala petaka dan kotoran lahir dan batin lainnya.

Asta Dala adalah delapan penjuru arah mata angin, yaitu Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut.

Pola ruang dibagi berdasarkan konsep natah atau halaman rumah bagi budaya Bali, yaitu “Tapak dara” adanya sumbu perancangan Timur-Barat sebagai sumbu religi dan Utara-Selatan sebagai sumbu bumi. Perputaran kekanan dari “Tapak dara” menghasilkan Swastika Yana yaitu yang memberi gerak kehidupan yang seimbang dan harmonis secara abadi menuju kesucian. Di bagian perpotongan sumbu tersebut dilengkapi dengan bangunan Padma (tempat suci), sebagai tempat memuja Çiwa Reka yang menghubungi antara Pertiwi (tanah) dengan Akasa (langit).

[code]http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=11[/code]
balaprabu - 30/10/2011 01:00 AM
#212
Filosofi Tanaman Dan Penempatannya
Penanaman tanaman penting dalam satu tapak pekarangan rumah yaitu sebelum pintu masuk di sebelah kanan sebaiknya ditanami tanaman “blatung gada”/kaktus (Pachycereus Sp), sedangkan di sebelah kiri ditanami tanaman dapdap wong (Erytherina variegata) yang diyakini dapat melawan maksud-maksud tidak baik. Setelah memasuki pintu masuk, di sebelahnya ditanami bergu/ weregu (Rhapis exelsa) yang diyakini mampu menghancurkan kekuatan negatif yang lebih kuat, sedangkan dekat dapur ditanami kelor (Moringaoleivera L) sebagai penangkal kejahatan terakhir di pekarangan rumah. Di pintu masuk Utama Mandala (merajan, sanggah) ditanami jepun petak (putih) dan sudamala (Plumeria rubra), yang mempunyai makna filosofi membersihkan dan memarisuda semua orang yang akan memasuki areal suci tersebut, serta kayu tulak dan kayu sisih (Phillantus boxipolius Muell Arg) yang diyakini mampu menolak dan menyisihkan segala pikiran yang baik dan yang buruk. Hanya orang yang berpikiran baik saja yang boleh masuk ke halaman Utama Mandala. Di bagian dalam Utama Mandala ditanami salah satu di antaranya adalah nagasari (Mesua ferica L) adalah tanaman yang auranya paling putih bersih dan dingin, sehingga dianggap sebagai tanaman kesayangan para Dewi. Nagasari berarti Naga Anantaboga dan Basukih yang mengikat “sahananing sarining gumi dan manah” dalam bahasa bali yang artinya segala amerta dari bumi dan dari pikiran. Selain itu juga ditanami tanaman yang berbau harum seperti pudak, cempaka, sandat, mawar, kenanga, dapdap, siulan dan tanaman keperluan upakara lainnya.

Di areal “natah” sebaiknya tidak ditanami tanaman yang berbuku-buku seperti kelapa, tebu dan sejenisnya, karena diyakini dapat menyebabkan terputus-putusnya kehidupan dan rejeki. Demikian pula kurang baik kalau ditanami beringin yang akarnya sampai masuk ke dalam tanah, karena dapat menjadi tempat hunian Banaspati Raja yang kurang baik bagi penghuninya. Akan menjadi lebih baik kalau ditanami tanaman-tanaman berbagai jenis bunga dan beberapa tanaman buah terutama belimbing. Tanaman buah-buahan sebaiknya ditanam di areal “teba” (tegalan) dekat dapur atau di bagian luar natah lainnya.

Tanaman untuk keperluan dapur dan tanaman obat-obatan untuk keluarga (toga) biasanya ditanam di dekat dapur. Pola penanaman semua jenis tanaman tersebut, sebaiknya tetap memperhatikan nilai estetikanya selain tindakan budidaya yang dianggap penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Dalam pertamanan di Bali, baik untuk pertamanan rumah, pura, perkantoran atau pertamanan untuk umum lainnya, untuk mewujudkan Bali sebagai Pulau Taman diharapkan dan dianjurkan menggunakan tanaman lokal Bali sebagai tanaman pertamanannya. Selain dapat dipakai sebagai pemenuhan arsitektural, estetika, dan fungsional, juga untuk keperluan upakara dan usada. Penempatan dari masing-masing tanaman disesuaikan dengan kegunaan yang diharapkan dari tanaman tersebut. Kalau tanaman tersebut dapat diharapkan berfungsi ganda, misalnya selain sebagai tanaman obat dapat pula dipakai sebagai tanaman hias, maka baik ditanam di sekitar dapur atau di halaman rumah lainnya. Seperti blatung gada/kaktus misalnya, selain dipakai penolak bala di halaman luar rumah, menurut Isnandar (2003) dapat dipakai sebagai obat hepatitis, bisul maupun radang kulit, jadi penempatannya dapat di halaman luar pintu rumah atau sekitar dapur.

[code]http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=11[/code]
balaprabu - 30/10/2011 01:03 AM
#213
Aspek Relegi Pertamanan Tradisional Bali
Seperti diketahui bahwa sarana upakara di Bali (Hindu), terdiri dari air, daun, bunga, buah dan api. Selain unsur api dan air, selebihnya adalah merupakan unsur tanaman. Sloka pada Weda V.11.6 berbunyi : “Tvam agne agniraso guhahitam Anuavidan sinriyanam vane-vane” yang artinya kurang lebih bahwa tanaman merupakan ciptaan Tuhan untuk menunjang kebutuhan makhluk hidup termasuk manusia (makan dan keperluan lainnya). Lebih jauh lontar Bhagawad Gita IX sloka 26 menyebutkan bunga sebagai unsur pokok dalam upakara selain buah-buahan, daun dan air yang bunyinya : Pattram Puspamtoyam Yo me bhakty prayacchati Tad aham bhaktyupahrtam Asn-mi prayat-tmanah yang artinya kurang lebih adalah siapa pun dengan kesujudan hati mempersembahkan pada Ku (Tuhan) daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci, aku terima. Unsur-unsur persembahan itu dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi “banten” atua sesaji (sesajen).

Lontar Aji Fanantaka dan Kunti Sraya, menyebutkan ada beberapa tanaman yang dapat dan tidak dapat dipakai sebagai kelengkapan upakara.

Bagian tanaman yang paling banyak dipakai sebagai kelengkapan dalam upakara adalah bunga, kemudian buah dan daun. Bunga selain mempunyai makna keindahan, juga umumnya berbau harum, sehingga dapat memberi pengaruh kesucian dan membantu pemusatan pikiran menuju Tuhan.

Penempatan atau penanaman tanaman disesuaikan dengan Pengider Bhuana (putaran bumi) terutama dilihat dari segi warna bunga atau buahnya. Tanaman mendori putih, sebaiknya ditanam di Timur atau Purwa karena sebagai pelambang dari Sang Hyang Iswara.

Tanaman jambe atau pinang terdiri dari beberapa jenis, seperti buah pinang sari, buah gangga, dan jenis buah pinang lainnya akan lebih baik ditanam di bagian Selatan atau daksina, karena sebagai pelambang dari Sang Hyang Brahma. Tanaman siulan, sebaiknya ditanam di bagian Barat atau pascima, banyak dipakai dalam kwangen (sarana sembahyang), dan sesajen lainnya. Tanaman teleng biru, akan lebih baik kalau ditanam di bagian Utara atau uttara, digunakan dalam setiap sesaji. Tanaman tunjung atau teratai yang terdiri dari berbagai macam warna, yang dipakai di berbagai keperluan upakara dewa-dewi, penempatannya di pekarangan mengikuti warnanya yaitu biru di uttrara (utara), putih di purwa (timur), merah di daksina (selatan) dan kuning di pascima (barat). Demikian pula halnya dengan jenis tanam-tanaman lainnya, seperti kelapa merupakan unsur terpenting dari berbagai jenis kelengkapan upakara seperti dalam upakara keagamaan Hindu seperti Padudusan, pecaruan Rsi Gana, labuh Gentuh dan pecaruan besar lainnya. Kelapa gading di barat untuk Dewa Mahadewa, Kelapa Bulan (warna putih) di timur untuk Dewa Iswara. Kelapa Gadang (hijau) di utara untuk Dewa Wisnu. Kelapa Udang di selatan untuk Dewa Brahma. Kelapa Sudamala (Wiswa warna, campuran keempat warna yang telah dikemukakan) di tengah untuk Dewa Siwa. Jenis kelapa yang lain dan juga digunakan dalam kelengkapan upakara adalah kelapa Bojog, Rangda, Mulung, dan Julit. Penanamannya di luar “natah” dapat disekitar dapur, areal pekarangan, tegalan.

Dengan adanya persembahan dan sarana sesajen dalam upakara Dewa Yadnya, yaitu persembahan kepada Dewa Nawa Sanga (sembilan dewa) adalah : Dewa Wisnu di Utara dipersembahkan godem atau jawaras (Sorgum vulgare Pers), Manggis (Garcinia mangosta L), Pangi (Pangium edule Reinw) daun poh atau mangga (Mangifera indica). Kehadapan Dewa Brahma di Selatan dipersembahkan : Jagung (Zea mays L), salak (Zalacca sdulis BL), pinang (Areca atechu L), dan daun manggis. Dewa Iswara di Timur dipersembahkan : Kemiri (Alereutes molucana Wild), cereme (Phyllanthus acidus Skeels), dan daun durian (Durio zibethinus Mere). Dewa Mahdewa di Barat dipersembahkan : Kelapa (Cocos nusifera L), jagung, dan daun duku (Lancium domesticum Jack). Dewa Siwa di Tengah dipersembahkan : beras (Oriza sativa L), Jali (Coix Lacryma-jobi L), dan nanas (Ananas comosus L).

Demikian pula jenis bunga yang digunakan dalam persembahyangan disesuaikan dengan warna yang dipilih sesuai dengan Asta Dala dan baunya harum. Beberapa jenis bunga yang baik dipakai dalam persembahyangan masing-masing Dewa yang dipuja adalah sebagai berikut : Dewa Wisnu adalah bunga kenanga atau teleng, Dewa Brahma adalah bunga mawar merah, teratai biru, bunga soka, kenyeri, kembang kertas merah, Dewa Iswara adalah bunga teratai putih, jepun atau kamboja petak (putih), cempaka putih. Dewa Mahadewa adalah bunga teratai kuning, cempaka kuning, kembang kuning atau alamanda.

Itulah beberapa jenis bunga yang baik dipakai kalau kita melakukan persembahyangan pada saat upacara suci umat Hindu.

[code]http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=11[/code]
balaprabu - 30/10/2011 01:05 AM
#214
Aspek Usada Dalam Pertamanan Tradisional Bali
Pertamanan/lansekap itu sendiri secara keseluruhan sudah merupakan usada (obat), karena dapat menghilangkan stres, kelelahan, letih, lesu, kebingungan, marah dan sebagainya, akibat dari keindahan dan kesejukan yang dipancarkan dari taman itu sendiri. Adalah sudah menjadi pandangan umum kalau pertamanan dapat mengubah karakter atau prilaku orang yang menempati atau penikmatnya, ditambah lagi dengan aura yang dipancarkan, maka jiwa yang sedang marah atau pemarah dapat menjadi penuh kasih sayang, duka menjadi periang, pendiam menjadi humoris dan sebagainya.

Bukan saja secara kolektif tanaman dapat sebagai usada (obat), akan tetapi secara sendiri-sendiri juga sering dipakai sebagai obat atau usada, seperti misalnya tanaman janggar ulam (tanaman penyedap masakan) sangat baik dipakai sebagai obat menurunkan dan menstabilkan tekanan darah tinggi. Isnandar (2003) menyebutkan bahwa tanaman makuto dewa, sangat baik untuk mencegah penyakit kanker. Tanaman tanjung kalau dicampur dengan buah pinang yang masih muda dan gambir, sangat baik untuk memperbesar dan mengencangkan payu dara. Petikan cina, pulosari baik sekali dipakai untuk meningkatkan vitalitas kaum laki. Bila sulit punya anak/mandul dapat diatsi dengan meminum ramuan umbi bangle, bawah putih, kencur dan daun jempiring.

pertamanan tradisional Bali mempunyai filosofi yang sangat tinggi sebagai unsur tanaman yang memberi kehidupan, keteduhan, kedamaian, keindahan, tempat meditasi, memuji dan menyembah kebesaran Tuhan sebagai warisan budaya Hindu di Bali.


[code]http://www.parissweethome.com/bali/cultural_my.php?id=11[/code]
buhitoz - 31/10/2011 01:16 PM
#215
Memahami Sifat Alami Air Dalam Acara Ritual Kungkum
Pada hakekatnya semua unsur alam adalah energi yang berbeda kerapatannya. Hal tersebut sejalan dengan Rumus Einstein “masa” pun dalam kondisi Fungsi Kecepatan Tertentu sama dengan energi. Berdasarkan kerapatan energi, maka 5 unsur alami adalah sebagai berikut:
1. Ruang / angkasa, yang mampu menyebarkan getaran (kerapatan paling kecil).
2. Udara / angin, yang mampu menghantar getaran suara dan sentuh.
3. Sinar / api, yang mampu membawa getaran suara, sentuh, dan pandang.
4. Air, yang mampu membawa getaran suara, sentuh, pandang, kecap ( rasa).
5. Padat / tanah, yang mampu membawa getaran suara, sentuh, pandang, kecap (rasa) dan hirup, bernapas.

Air kalau dipanaskan akan berubah menjadi uap air yang ringan dan melayang di udara, sedangkan kalau didinginkan akan berubah bentuk menjadi es yang padat. Air termasuk unsur yang mudah berubah bentuknya dan selalu berguna dalam bentuk apa pun. Air juga mempunyai sifat membersihkan, dan mendinginkan. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran, apabila air mendengarkan lagu yang indah, didoakan atau dihormati, maka air akan membentuk kristal hexagonal yang indah. Pengetahuan ini penting, karena bumi ini mengandung air sekitar 70%, demikian pula organ-organ tubuh kita mengandung air yang bervariasi dengan rata-rata pada orang dewasa sekitar 70% juga. Sejak lahir hingga mati kita membutuhkan air.

Pengetahuan tentang unsur alami air ini berkaitan erat dengan sifat alam. Pasang surut air laut dipengaruhi oleh tarikan bulan dan matahari, pada waktu air pasang, maka 70% air di tubuh manusia juga mengalami pasang. Pada waktu terjadi gerhana dimana matahari, bulan dan bumi pada pada posisi garis lurus, maka pasang terbesar akan terjadi. Karena ada bagian bumi yang pasang, maka akan ada belahan bumi yang mengalami surut. Pada waktu bulan purnama leluhur kita merasa bahagia, mumpung padhang rembulane, pasangan berasyik-masyuk, beberapa hewan juga berkasih-kasihan karena air di tubuh mereka sedang pasang. Bagi yang tirakat, mereka melakukan puasa, menahan nafsu yang juga sedang pasang.

Kalender matahari yang dipakai saat ini berdasarkan pertimbangan pengaruh matahari terhadap bumi. Karena matahari paling dekat berada pada titik kulminasi pada jam 12 siang, maka pergantian hari disepakati 12 jam kemudian pada pukul 00.00. Hitungan pasaran berdasar kalender bulan, walaupun jam nya mengikuti kalender matahari, akan tetapi perubahan hari dihitung saat bulan nampak, muncul sekitar pk.18.00. Sehingga ada istilah Malem Selasa Kliwon, yang perhitungan harinya masih Senin, sebelum pukul 24.00, tetapi pasarannya sudah Kliwon. Berlainan dengan Tahun Matahari, dimana pergantian tahunnya diperingati dengan bersuka-ria, perubahan Tahun Bulan, 1 Suro, diperingati dengan Tirakat, Olah Batin, misalnya Kungkum, berendam di sungai atau mata air, Tapa Mbisu, Puasa Bicara, menghormati Pusaka dengan kirab ataupun mencuci Pusaka.

Konon Almarhum Pak Harto diwaktu muda sering Kungkum di Tempuran, pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo, yang dipasang tugu peringatan sebagai Tugu Suharto di kota Semarang. Berdoa atau afirmasi batin sambil berendam di kali memunculkan efek Magnifying, peningkatan daya yang luar biasa. Efek dari pertemuan dari dua arus sungai yang berlainan dan tubuh kita membuat semacam pusaran. Konon, pusaran searah jarum jam untuk keinginan duniawi dan pusaran yang berlawanan dengan jarum jam melepaskan keterikatan dari duniawi, seperti mengencangkan sekrup atau mengendorkan sekrup. Leluhur kita juga menganjurkan berdoa atau afirmasi sewaktu ada hujan, di mana doa atau afirmasi kita di sebarkan dengan cepat ke seluruh alam. Anjuran ini sejalan dengan pengetahuan dari Dr. Masaru Emoto, yang membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran. Dalam Srimad Bhagavatam, Resi Narada menyuruh anak kecil yang sadar Dhruva agar pergi ke tepi sungai Yamuna di mana Tuhan selalu hadir, berendam tiga kali satu hari, melakukan pranayama, olah napas dan menujukan pikiran terhadap Tuhan. Konon Dhruvalah yang menjadi Bintang Dhruva yang selalu bersinar.

Pada saat ini kungkum di sungai cukup berbahaya karena banjir sering datang secara tiba-tiba di musim penghujan dan sungai surut dan tercemar pada waktu musim kemarau. Kita sudah tidak menghormati air, sehingga air hujan yang biasanya krasan berada di gunung-gunung berhutan, kini tidak betah di gunung yang gundul dan segera cepat pergi ke lembah. Butiran-butiran tanah klayu, ikut air dan diendapkan di sungai-sungai. Karena di seluruh daerah tangkapan air, seluruh air hujan tidak krasan, maka mereka berjejal-jejal di sungai dan mengakibatkan banjir. Demikian pula pada musim kemarau, air di gunung sudah kosong dan jadilah sungai-sungai kering di musim kemarau. Saat ini Kungkum banyak dilakukan di sendang, mata air, dimana air jernih muncul pertama kali dari permukaan bumi. Terima kasih leluhur, semoga kami semua cepat sadar dan selalu bertindak selaras dengan alam.

Triwidodo.

April 2008.

http://wayangmaya.web.id/2011/07/20/memahami-sifat-alami-air-dalam-acara-ritual-kungkum/
prabuanom - 31/10/2011 04:21 PM
#216

makasih tambahannya mbah buhitoz
rakyat bergitar - 17/11/2011 12:30 PM
#217

Quote:
Original Posted By buhitoz

Leluhur kita juga menganjurkan berdoa atau afirmasi sewaktu ada hujan, di mana doa atau afirmasi kita di sebarkan dengan cepat ke seluruh alam. Anjuran ini sejalan dengan pengetahuan dari Dr. Masaru Emoto, yang membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran.

Terima kasih leluhur, semoga kami semua cepat sadar dan selalu bertindak selaras dengan alam.



:2thumbup

maturnuwun mbah.. aku inget baik2 petuah luar biasa ini.
empeldhom3 - 17/11/2011 01:49 PM
#218

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Sudah menjadi tradisi masyarakat Yogyakarta Hadiningrat sejak ratusan tahun silam, bahwa setiap malam 1 Suro (tahun baru Jawa) masyarakat melaksanakan tradisi kirab mubeng benteng mengitari Kraton. Kirab agun adalah malam hening cipta, atau mesu budi, bertujuan untuk maneges keselamatan lahir dan batin kepada Sang Hyang Jagad Nata. Acara mesu budi dimulai tepat pukul 00.00 wib berangkat dari alun-alun utara Kraton dengan dipandu oleh para abdi dalem kraton yang mengusung pusaka Tumbak Kyai Slamet dan pusaka pendampingnya. Kirab agung ditempuh dengan berjalan tanpa alas kaki mengitari benteng Kraton sembari tapa mbisu alias diam seribu bahasa (tidak berbicara apapun). Kirab agung adalah bentuk meditasi atau semedi sambil berjalan. Eneng ening sinambi mlampah. Ngalap berkah tumurune wahyu dyatmika. Keselamatan bukan hanya untuk diri sendiri, juga untuk keselamatan bumi seisinya meliputi binatang, tumbuhan, dan mahluk halus.

Sepuluh tahun lalu, acara ini sempat meredup diakibatkan oleh adanya upaya penggusuran tradisi secara sistematis antara lain dengan cara menempelkan stigma negatif pada acara tersebut. Namun sejak gempa besar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu, masyarakat seolah seperti terbangun kesadarannya, bahwa selama ini telah melupakan nilai-nilai luhur warisan para pendahulu bangsa. Sejak itu peserta Kirab Agung kian ramai lagi. Dua hari sebelum malam 1 Suro, Jogja dan wilayah sekitarnya dalam seharian siang dan malam selalu diguyur hujan sangat lebat sesekali disertai guntur menyambar-nyambar. Namun rupanya berkah alam gayung bersambut. Malam 1 Sura ini langit bersih terang benderang, hawa tidak gerah, terasa lebih sejuk dari biasanya, malam pun terasa begitu hening seolah-olah alam semesta sedang melaksakanan meditasi. Ada suatu fenomena yang fantastis, malam ini malam 1 Suro 1944 (malam 8 Desember 2010) kirab Agung yang dimulai dari pukul 00.00 hingga 03.00 wib diikuti sekitar 5000 perserta, terdiri dari laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa bahkan anak-anak dengan latar belakang beragam etnis dan agama.

Sebagaimana prinsip dalam pandangan hidup Jawa, Kirab Agung memiliki nilai universal, tidak sektarian dan primordial. Hal ini sebagai refleksi akan pemahaman spiritual Javaisme yang anti sektarianisme dan primordialisme, karena bagi pemahaman Javaisme, kedua mazab pikir tersebut justru mencerminkan level kesadaran seseorang masih sangat rendah. Setelah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu, kini masyarakat Jogjakarta seolah dibangunkan kesadaran spiritualnya yang kedua kali dengan peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi lebih menyadari pentingnya keharmonisan dan keselarasan antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Kesadaran spiritual yang tergugah itu telah memberikan impilkasi dengan melonjaknya jumlah peserta Kirab Agung secara signifikan. Yah, terlepas dari ada tidaknya “skenario” besar Ki Sabdopalon dan Ki Noyogenggong, yang jelas lingkungan alam di sekitar kita telah mengajarkan kepada manusia supaya hidup lebih arif dan bijaksana dengan memahami dan menghayati gamabudi; budi pekerti luhur.

TAPA MBISU

Tapa mbisu hakekatnya adalah bentuk laku prihatin dengan me-nonaktifkan mulut untuk hal-hal negatif dan sia-sia. Melalui tapa mbisu ini kita diajarkan untuk mampu memenej mulut kita. Maka dalam kirab agung seluruh mulut peserta harus diam non-active, sementara itu yang diaktifkan adalah mata batinnya. Ini sebagai bentuk laku sembah cipta, sembah kalbu. Tapa mbisu adalah cara untuk melatih diri kita untuk tidak terbiasa besar mulut, omdo atau omong doang, sampai mulut berbusa. Karena tabiat ini bukanlah gambaran budi pekerti yang luhur. Diam itu lebih baik ketimbang obral bicara tanpa makna. Diam adalah lebih baik daripada bersuara (provokatif) yang akan menimbulkan ketakutan, kebencian dan amarah orang lain. Istilah kasarnya, menengo, ojo kakehan cangkem !! Jika mulut kita terkendali dengan sebaik-baiknya, ia akan menjadi berkah buat diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Sebaliknya, mulut akan berubah menjadi “harimau” (malapetaka) buat diri sendiri.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/12/08/kirab-agung-tapa-mbisu/[/code]


seeep mbah shakehand
gundhul2pacul - 14/01/2012 06:36 AM
#219

@mbah Buhitoz: Dibabar lagi dong mbah pembahasan soal kungkum'nya. Mungkin tata cara sebelum atau disaat kungkum itu sendiri... malus
prabuanom - 14/01/2012 11:01 AM
#220
jaranan
Jaranan atau jaran kepang adalah seni tradisional yang diyakini sebagai kesenian asli Kediri. Meskipun begitu tak banyak orang Kediri yang mengetahui secara pasti sejarah terciptanya Jaranan .

selain seperangkat gamelan, pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji yang harus disediakan dari sang dalang jaranan yang lazim disebut Gambuh antara lain: Dupa (kemenyan yang dicampur dengan minyak wangi tertentu kemudian dibakar), Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar, satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja), Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo), Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat), Kinangan (berupa satu unit gambir, suruh, tembakau dan kapur yang dilumatkan menjadi satu lalu diadu dengan tembakau).

elanjutnya sang gambuh dengan mulut komat-kamit membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari maka penari yang telah disusupi raganya oleh roh tersebut bisa menari dibawah sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusup di dalam raganya. Sambil menari, jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang lazim makan pecahan kaca semprong.

Di Kediri kesenian Jaranan sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu penting, acara peresmian maupun pesta-pesta keluarga, terlebih untuk acara yang berlangsung pada bulan Suro.

http://www.suryahotelsgroup.com/beta/merdeka/index.php?first=pages&second=pariwisata.13
Page 11 of 13 | ‹ First  < 6 7 8 9 10 11 12 13 > 
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya