Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›

balaprabu - 23/09/2011 08:41 AM
#21
falsafah ketupat
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Makna Ketupat

Ketupat sebagai karya budaya dikaitkan dengan suatu hasil dengan beraneka macam bentuk. Sedang ketupat sebagai ungkapan budaya adalah merupakan simbol yang di dalamnya terkandung manka dan pesan tentang kebaikan. Sebagai ungkapan budaya, ketupat antara lain memberikan makna dan pesan:

1. Ketupat terdiri dari beras/nasi yang dibungkus daun kelapa muda dan janur (bahasa Jawa). Beras/nasi adalah simbol nafsu dunia. Sedangkan Janur yang dalam budaya Jawa Jarwa dhosok adalah “Jatining nur” (sejatinya nur), yaitu hati nurani. Jadi ketupat dimaksudkan sebagai lambang nafsu dan hati nurani, yang artinya agar nafsu dunia dapat ditutupi oleh hati nurani.

Pesan yang terkandung di dalamnya adalah agar seseorang dapat mengendalikan diri, yaitu menutupi nafsu-nafsunya dengan hati nurani (dilambangkan nasi bungkus dengan janur). Sebagaimana disadari bahwa di dalam diri manusia terdapat nafsu-nafsu buruk yang dapat mempermainkan manusia itu sendiri.

Di samping itu Tuhan memberikan kepada manusia hati nurani, yaitu suara hati nurani/suara kecil yang memberikan kepada manusia peringatan-peringatan apabila akan melakukan hal-hal yang menyimpang dari garis keutamaan. Oleh karena itu hati nurani merupakan kunci kewaspadaan manusia terhadap perilakunya sehari-hari di dunia ini, hati nurani sebagai alat kendali nafsu-nafsu manusia.

Dalam hubungan ini apabila manusia tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsu dunianya, maka seseorang akan menampakkan sifat ego dan tindak yang dilakukannya mencerminkan nafsu angkara. Ini berarti cahaya Tuhan berkurang di dalam menyinari hati manusia. Seharusnya seseorang mampu memerangi nafsu angkaranya sehingga tercapai pengendalian diri yang serasi.

Demikian makna yang terkandung dalam ketupat, yaitu memberikan pesan agar seseorang mampu mengendalikan diri dari nafsu-nafsu buruknya.

2. Ketupat yang dalam bahasa Sunda juga disebut kupat, dimaksudkan agar seseorang jangan suka ngupat, yaitu membicarakan hal-hal buruk pada orang lain karena akan membangkitkan amarah.

Dengan lambang ketupat ini dipesankan agar seseorang dapat menghindarkan diri dari tindak ngupat tersebut.

3. Ketupat, kupat dalam budaya Jawa sebagai “Jarwa dhosok” juga berarti “ngaku lepat”. Dalam hal ini terkandung pesan agar seseorang segera mengakui kesalahannya apabila berbuat salah.

Tindakan “ngaku lepat” ini telah menjadi kebiasaan atau tradisi pada tanggal satu Syawal, yaitu setelah melaksanakan ibadah puasa dengan menyediakan hidangan ketupat berikut lauk pauknya di rumah-rumah, sehingga disebut dengan ketupat lebaran. Semua ini sebagai simbol pengakuan dosa baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun terhadap sesama manusia.

4. Seiring dengan makna di atas dan erat sekali hubungannya dengan tanggal satu syawal, kupat adalah “jarwo dhosok” dari “laku papat” (empat tindakan). Budaya menyediakan hindangan ketupat pada tanggal satu syawal terkandung pesan agar seseorang melakukan tindakan yang empat tersebut, yaitu: lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa satu syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa, maka satu syawal biasa disebut dengan Lebaran. Di hari Lebaran itu diharuskan untuk makan, tidak puasa lagi, puasanya sudah selesai.

Luberan, terkandung arti melimpah ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sadaqoh dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut.

Hal ini dapat dilihat dalam tradisi Islam, yaitu memberikan sadaqoh atau zakat fitrah pada satu syawal.

Leburan, seiring dengan pengertian ngaku “lepat”, yaitu saling mengaku berasal dan saling meminta maaf dalam budaya Jawa pelaksanaan Leburan dalam satu syawal nampak pada ucapan dari seseorang yang lebih rendah status sosialnya kepada seseorang yang lebih tinggi status sosialnya atau dari anak kepada orang tua, yaitu ucapan “Mugi segeda lebur ing dinten menika”. Maksudnya bahwa semua kesalahan dapat lepas dan dimaafkan pada hari tersebut.

Laburan. Labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Dalam hal ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan leburan (saling maaf memaafkan) dipesankan untuk menjaga sikap dan tindak yang baik, sehingga dapat mencerminkan budi pekerti yang baik pula.

Demikian makna yang terkandung dalam ketupat yang dihidangkan yang makan dapat ingat akan makna dan pesan yang ada dan dapat melaksanakan pesan tersebut dalam wujud sikap dan tindak sebagai pengamalan budi luhur khususnya pada satu syawal dan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Ketupat pada saat tertentu digunakan sebagai pelengkap sesaji dalam upacara daur hidup, yaitu untuk pelengkap sesaji selamatan empat bulan orang mengandung. Adapun jenis ketupat yang digunakan adalah ketupat jago, ketupat sinta, ketupat sido lungguh dan ketupat luwar. Belum ditemukan sumber yang mengungkap makna yang ada di dalamnya dan kiranya perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut. Dalam upaya memberikan suatu yang baik, maka ketupat sebagai pelengkap sesaji selamatan empat bulan kehamilan diberikan makna sebagai berikut:
- Empat jenis ketupat digunakan, diperkirakan ada hubungannya dengan masa kehamilan empat bulan.
- Ketupat jago, dikandung maksud agar kelak jabang bayi yang akan lahir apabila leki-leki diharapkan dapat menjadi jago, yaitu mempunyai watak kesatriya dan mempunyai kedudukan yang tinggi.
- Ketupat sinta. Sinta adalah simbol wanita cantik dan berburi luhur. Dalam hubungan ini diharapkan apabila anak yang akan lahir adalah wanita, memiliki paras yang cantik dan berbudi luhur.
- Ketupat sido lungguh. Ada keyakinan bahwa pada kehamilan empat bulan Tuhan Yang Maha Esa meniupkan roh pada si jabang bayi, dengan demikian dalam kehamilan empat bulan jabang bayi yang di dalam kandungan menjadi sempurna lahir batin, dalam arti sebagai manusia kecil yang telah diberi unsur jiwa dan raga. Demikian pula jabang bayi yang diberikan kedudukan (sido lungguh) sebagai manusia kecil.
- Ketupat luwar. Ketupat luwar diberikan arti lepas atau keluar. Simbol ini memberikan pesan agar kelak jabang bayi dapat lahir dengan mudah dan selamat. Juga simbol ini memberikan pesan “ngeluwari ujar”, yaitu lepasnya suatu harapan. Dalam hubungan dengan kehamilan berarti tercapainya harapan orang tua yang menginginkan anak melalui proses kehamilan. Dalam hal lain ketupat luwar digunakan sebagai sarana upacara yang terkandung maksud telah tercapainya suatu yang diinginkan.

- Dari uraian yang sangat terbatas tentang ketupat tersebut dapat diketahui sekaligus memberikan gambaran bahwa perlu adanya pengembangan lebih lanjut tentang ketupat, baik sebagai karya budaya yang dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai seni, maupun sebagai ungkapan budaya yang merupakan simbol yang memiliki makna dan pesan baik.

Demikianlah ketupat perlu dimasyarakatkan dalam rangka menambah wawasan khasanah budaya bangsa.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[code]http://uun-halimah.blogspot.com/2007/12/ketupat-sebagai-karya-dan-ungkapan.html[/code]
balaprabu - 23/09/2011 08:46 AM
#22

Quote:
Original Posted By antost
ternyata ada maknanya shakehand:

kalo makanan "jadah" di bentuk orang2an apaan ya artinya D





novbotmode novbotmode novbtomodenovbotmode novbotmode novbtomodenovbotmode novbotmode novbtomode


wah belum nemu dari googling neh saya maknanya mbah
balaprabu - 23/09/2011 08:47 AM
#23

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
bubur abang putih..
ingkung...
ketupat...
apem...
tumpeng sego kuning...

ikutan ah....cari bahan dulu.....................................ngacir:


asal mau nyari, pasti ada D
petroexs - 23/09/2011 09:19 AM
#24

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
bubur abang putih..
ingkung...
ketupat...
apem...
tumpeng sego kuning...

ikutan ah....cari bahan dulu.....................................ngacir:


Sekalian ya puh,ubo rampe pas kenduri(kalau bahasa sy sih kenduren) bisa di babar di sini,penasaran banget nih dah coba cari ga ketemu2 mu tanya mbah modin blom sempet pulkam ...hehehe

Mosok ea kenduren aja sampai mau dilarang ....cape dech
angel.wijaya - 23/09/2011 09:41 AM
#25

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Makna Ketupat

2. Ketupat yang dalam bahasa Sunda juga disebut kupat, dimaksudkan agar seseorang jangan suka ngupat, yaitu membicarakan hal-hal buruk pada orang lain karena akan membangkitkan amarah.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[code]http://uun-halimah.blogspot.com/2007/12/ketupat-sebagai-karya-dan-ungkapan.html[/code]


sedikit tambahan dari kepercayaan sunda & Betawi

Ketupat (kupat) dipercaya merupakan kependekan dari 'ngaku lepat' (mengaku salah)
yg berfilosofi bahwa seseorang didalam kehidupannya tak lepas dari kesalahan & diwajibkan mengakui kesalahannya kepada sesama & Sang Pencipta Peace:

Sumber : lisan dari sesepuh disini Peace:
balaprabu - 23/09/2011 09:43 AM
#26
seri falsafah kembang setaman
Kembang

Atau bunga. Bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya. Menurut pengalaman saya pribadi, masing-masing aroma bunga, dapat menjadi ciri khas masing-masing leluhur. Desa mawa cara, negara mawa tata. Beda daerah, beda masyarakatnya, beda leluhurnya, beda pula tradisi dan tata cara penghormatannya. Bahkan aroma khas bunga serta berbagai jenis dedaunan tertentu sering menjadi penanda bau khas salah satu leluhur kita. Bila bau harum bunga tiba-tiba hadir di sekitar anda, kemungkinan besar ada salah satu leluhur anda yang hadir di dekat anda berada.

Kembang Setaman

Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, mawar, melati, kanthil, dan kenanga.


[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
balaprabu - 23/09/2011 09:48 AM
#27
falsafah kembang kantil
Kembang KANTHIL, kanthi laku, tansah kumanthil


beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani (Lihat dalam thread; Serat Wedhatama). Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama). Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. Yakni cirahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk. Jika semua umat manusia bisa melakukan hal demikian tanpa terkotak-kotak ragam “kulit” agama, niscaya bumi ini akan damai, tenteram, dan sejahtera lahir dan batinnya. Tak ada lagi pertumpahan darah dan ribuan nyawa melayang gara-gara masing-masing umat manusia (yang sesungguhnya maha lemah) tetapi merasa dirinya disuruh tuhan yang Maha Kuasa. Tak ada lagi manusia yang mengklaim diri menjadi utusanNya untuk membela tuhan Yang Maha Kuasa. Yaah, mudah-mudahan untuk ke depan tuhan tak usah mengutus-utus manusia membela diriNya. Kalau memang kita percaya kemutlakan kekuasaan Tuhan, biarkan tuhan sendiri yang membela diriNya, biarkan tuhan yang menegakkan jalanNya untuk manusia, pasti bisa walau tanpa adanya peran manusia! Toh tuhan maha kuasa, pasti akan lebih aman, tenteram, damai. Tidak seperti halnya manusia yang suka pertumpahan darah !! Seumpama membersihkan lantai dengan menggunakan lap yang kotor.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
balaprabu - 23/09/2011 09:52 AM
#28
falsafah kembang melati
Kembang MLATHI, rasa melad saka njero ati.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
balaprabu - 23/09/2011 09:54 AM
#29
falsafah kembang kenongo
3. Kembang KENANGA, Keneng-a!

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Atau gapailah..! segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
balaprabu - 23/09/2011 09:59 AM
#30
falsafah kembang mawar
4. Kembang MAWAR, Mawi-Arsa

Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari tuhan apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya) sebagaimana ketulusan tuhan/kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk. Pastilah tanpa pamrih.

4.1. Mawar Merah

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambang dumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur manis gula jawa).

4.2. Mawar Putih

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Mawar putih adalah perlambang dari bapa yang meretas roh kita menjadi ada. Dalam lingkup makrokosmos, Bapanya adalah Bapa langit, Ibunya adalah Ibu Bumi. Bapanya jiwa bangsa Indonesia, Ibunya adalah nusantara Ibu Pertiwi. Keduanya mencetak “pancer” atau guru sejati kita. Maka, pancer kita adalah pancerku kang ana sa ngisore langit, lan pancerku kang ana sa nduwure bumi. Sang Bapa dalam bancakan weton dilambangkan pula berupa bubur putih (santan kelapa). Lalu kedua bubur merah dan putih, disilangkan, ditumpuk, dijejer, merupakan lambang dari percampuran raga antara Bapa dan Ibu. Percampuran ragawi yang diikat oleh rasa sejati, dan jiwa yang penuh cinta kasih yang mulia, sebagai pasangan hidup yang seiring dan sejalan. Perpaduan ini diharapkan menghasilkan bibit regenerasi yang berkwalitas unggul. Dalam jagad makro, keselarasan dan keharmonisan antara bumi dan langit menjadukan keseimbangan alam yang selalu melahirkan berkah agung, berupa ketentraman, kedamaian, kebahagiaan kepada seluruh penghuninya. Melahirkan suatu negeri yang tiada musibah dan bencana, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
balaprabu - 23/09/2011 10:03 AM
#31

Kembang Telon

Terdiri tiga macam bunga. Bisa menggunakan bunga mawar putih, mawar merah, dan kanthil. Atau mawar, melati, kenanga. Atau mawar, melati, kantil. Telon berasal dari kata telu (tiga). Dengan harapan agar meraih tiga kesempurnaan dan kemuliaan hidup (tri tunggal jaya sampurna). Sugih banda, sugih ngelmu, sugih kuasa.


Kembang Boreh, Putihan

Terdiri dari tiga macam bunga yang berwarna putih. Yakni kanthil, melati, dan mawar putih. Ditambah dengan “boreh” atau parutan terdiri dua macam rempah; dlingo dan bengle. Agar segala sesuatu selalu dalam tindak tanduk, perilaku yang suci murni. Karena putih di sini melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Kembang telon bermakna pula sebagai pengingat agar supaya kita selalu eling dan waspada.


Kembang Tujuh Rupa

Berupa kembang setaman ditambah jenis bunga-bunga lainnya sampai berjumlah 7 macam. Lebih sempurna bila di antara kembang tersebut terdapat kembang wora-wari bang. Atau sejenis bunga sepatu yang wujudnya tidak mekar, tetapi bergulung/gilig memanjang (seperti gulungan bulat memanjang berwarna merah). Ciri lainya jika pangkal bunga dihisap akan terasa segar manis. Kembang tujuh rupa, dimaksudkan supaya apa yang sedang menjadi tujuan hidupnya dapat terkabul dan terlaksana. Tujuh (Jawa; pitu) bermakna sebuah harapan untuk mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari tuhan yang Mahakuasa.

[code]http://sabdalangit.wordpress.com/2010/05/02/bahasa-simbol-makna-bunga/[/code]
petroexs - 23/09/2011 10:41 AM
#32

Nice share...

ga rugi jalan2 ke forsub,sudah hawanya adem banyak bacaan menarik yg menambah wawasan soal budaya

:2thumbup:2thumbup
balaprabu - 23/09/2011 11:45 AM
#33

Quote:
Original Posted By petroexs
Nice share...

ga rugi jalan2 ke forsub,sudah hawanya adem banyak bacaan menarik yg menambah wawasan soal budaya

:2thumbup:2thumbup


sub forum forsup, forum budaya shakehand
AdipatiBerbah - 23/09/2011 12:54 PM
#34

Mantaffff...................lanjut mbah prabu...
rakyat bergitar - 23/09/2011 01:58 PM
#35

ikuuttt bersila sambil manggut2....
luar biasa masprabu... lanjut.
balaprabu - 23/09/2011 02:36 PM
#36

Quote:
Original Posted By AdipatiBerbah
Mantaffff...................lanjut mbah prabu...


lanjutnya besok ya mbah... D

Quote:
Original Posted By rakyat bergitar
ikuuttt bersila sambil manggut2....
luar biasa masprabu... lanjut.


matur suwun D
petroexs - 23/09/2011 03:15 PM
#37

Quote:
Original Posted By balaprabu
sub forum forsup, forum budaya shakehand


hehe salah ketik yaa....
maksud saya forbud om bro ...

kenalin ya cman penggembira nih maen di forbud ....malu
balaprabu - 23/09/2011 03:19 PM
#38

Quote:
Original Posted By petroexs
hehe salah ketik yaa....
maksud saya forbud om bro ...

kenalin ya cman penggembira nih maen di forbud ....malu


monggo mbah hehehe shakehand
nyumbang artikel juga boleh lho shakehand
balaprabu - 23/09/2011 06:41 PM
#39
upacara king hoo ping
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

REMBANG (KRjogja.com) - Puluhan warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menggelar "King Hoo Ping" atau "Sembahyang Rebutan" di Kelenteng Cu An Kiong, Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Minggu petang.

Ibadah itu dilakukan dua kali dalam setahun yakni setiap tanggal 15 dan 19 bulan 7 Imlek untuk mengenang serta menghormati arwah para leluhur.

Prosesi sembahyang tersebut dimulai dengan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian dilanjutkan menyanyi lagu rohani, mendengarkan makna upacara "King Hoo Ping", dan diakhiri sembahyang bersama.

Seorang pengurus Kelenteng Cu An Kiong Lasem, Liem Kiem Bing, mengatakan, "King Hoo Ping" bermakna penghormatan kepada leluhur atau sahabat.

"Terutama arwah yang tidak lagi mendapat perhatian dari sanak keluarganya yang masih hidup, arwah gentayangan, dan arwah yang terpinggirkan. Para leluhur itu tetap dihormati," katanya, Minggu (14/8).

Ia menjelaskan, upacara semacam itu tidak berarti mendewakan para leluhur.

Namun, katanya, dilakukan untuk mengingatkan kepada manusia agar tidak melupakan asal-usulnya, sehingga umat manusia tidak melupakan budi, jasa, dan kasih dari leluhurnya.

Saat pelaksanaan upacara, pihaknya menyertakan sesaji berupa 12 masakan, berbagai jenis makanan, minuman, dan buah-buahan.

"Sesaji itu untuk mengenang seolah-olah memperlakukan leluhur ketika masih hidup," kata Liem Kiem Bing alias Budi Karuna Sutikno itu.

Buah-buahan yang disajikan, katanya, minimal berupa pisang dan jeruk.

"Kedua buah itu memiliki arti sangat penting. Pohon pisang selalu tumbuh setiap saat dan ada di mana-mana. Dengan harapan, para umat mendapatkan berkah setiap saat tanpa ada batas waktu," katanya.

Ia mengatakan, buah jeruk juga memiliki arti yang banyak.

"Harapannya, setiap warga yang berdoa selalu mendapat limpahan berkah yang banyak juga," katanya.

Makanan lain yang disuguhkan berupa tiga daging yakni daging ayam, ikan laut (ikan bandeng), dan babi.

Ketiganya, kata dia, juga memiliki filosofi tersendiri.

Ia mengatakan, ayam simbol binatang yang rajin.

"Mulai pagi hingga sore, ayam selalu berkeliaran yang diartikan sebagai rajin bekerja. Manusia juga diharap bisa rajin bekerja seperti filosofinya ayam. Begitu pula ikan laut. Ikan diartikan tidak pernah habis kalau dimakan. Sebab sisanya masih terdapat tulang. Maknanya, kalau kita sudah rajin bekerja dan mendapat keuntungan, maka harus dihemat," katanya.

Ia mengatakan, babi ibarat celengan yang menjadi simbol bahwa manusia harus pandai menabung untuk hari tua

[code]http://www.krjogja.com/news/detail/96488/Warga.Tionghoa.Rembang.Gelar.Acara..King.Hoo.Ping..htm l[/code]
empeldhom3 - 23/09/2011 09:46 PM
#40

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


dalam bahasa jawa tujuh itu dikenal dengan nama pitu. pitu ini dikaitkan dengan konsep pitulungan. sehingga apapun yang diikatkan dengan angka tujuh mempunyai makna bahwa kita meminta pertolongan, nyuwun pitulungan, atau memohon kepada tuhan untuk pertolongannya.



hmm:cool

7=pitu
berawal dari pitutur,pituduh baru ke pitulungan
(perkataan, pengarahan,,dapatlah itu pertolongan)
Page 2 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya