Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 3 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›

empeldhom3 - 23/09/2011 10:27 PM
#41

wah:matabelo
rasengojo ngewalek ngakaks

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Makna Ketupat

. Seiring dengan makna di atas dan erat sekali hubungannya dengan tanggal satu syawal, kupat adalah “jarwo dhosok” dari “laku papat” (empat tindakan). Budaya menyediakan hindangan ketupat pada tanggal satu syawal terkandung pesan agar seseorang melakukan tindakan yang empat tersebut, yaitu: lebaran, luberan, leburan dan laburan.

Lebaran, dari kata lebar yang berarti selesai. Ini dimaksudkan bahwa satu syawal adalah tanda selesainya menjalani puasa, maka satu syawal biasa disebut dengan Lebaran. Di hari Lebaran itu diharuskan untuk makan, tidak puasa lagi, puasanya sudah selesai.

Luberan, terkandung arti melimpah ibarat air dalam tempayan, isinya melimpah sehingga tumpah ke bawah. Ini simbol yang memberikan pesan untuk memberikan sebagian hartanya kepada fakir miskin, yaitu sadaqoh dengan ikhlas seperti tumpahnya/lubernya air dari tempayan tersebut.

Hal ini dapat dilihat dalam tradisi Islam, yaitu memberikan sadaqoh atau zakat fitrah pada satu syawal.

Leburan, seiring dengan pengertian ngaku “lepat”, yaitu saling mengaku berasal dan saling meminta maaf dalam budaya Jawa pelaksanaan Leburan dalam satu syawal nampak pada ucapan dari seseorang yang lebih rendah status sosialnya kepada seseorang yang lebih tinggi status sosialnya atau dari anak kepada orang tua, yaitu ucapan “Mugi segeda lebur ing dinten menika”. Maksudnya bahwa semua kesalahan dapat lepas dan dimaafkan pada hari tersebut.

Laburan. Labur (kapur) adalah bahan untuk memutihkan dinding. Dalam hal ini sebagai simbol yang memberikan pesan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan leburan (saling maaf memaafkan) dipesankan untuk menjaga sikap dan tindak yang baik, sehingga dapat mencerminkan budi pekerti yang baik pula.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[code]http://uun-halimah.blogspot.com/2007/12/ketupat-sebagai-karya-dan-ungkapan.html[/code]


makna lain dari kupat=laku papat
bnisa juga diterjemahkan dengan 4 perbuatan yaiotu:takbir,zakat fitrah (masih nyambung dg luber tadi ya??D),shalat idul fitri dan silaturahmi(mungkin maksudnya ujung,ato silaturahmi untuk meminta maaf,masih ada hubungannya dengan laburan ya???)
balaprabu - 23/09/2011 10:33 PM
#42

Quote:
Original Posted By empeldhom3
wah:matabelo
rasengojo ngewalek ngakaks



makna lain dari kupat=laku papat
bnisa juga diterjemahkan dengan 4 perbuatan yaiotu:takbir,zakat fitrah (masih nyambung dg luber tadi ya??D),shalat idul fitri dan silaturahmi(mungkin maksudnya ujung,ato silaturahmi untuk meminta maaf,masih ada hubungannya dengan laburan ya???)


hehehehee sip gan tambahannya D

laku papat, atau ada yg bilang nutup kang opat. shakehand
balaprabu - 24/09/2011 08:06 AM
#43
Makna simbolik dalam upacara panggih adat yogyakarta
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Penyerahan sanggan yang lazim disebut tebusan

Arti Nominal : Buah pisang raja yang diletakkan di nampan yang dihias dengan daun pisang, yang kemudian diserahkan oleh pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita. Yang terdiri dari: buah pisang raja satu tangkep, suruh ayu, gambir, kembang telon, dan lawe wenang.

Makna :

Pisang sanggan terdiri dari dua kata yaitu pisang dan sanggan. Pisang mengandung arti “jenis buah-buahan” dan sanggan yang berarti “segala hal untuk menyangga” (Poerwadarminta, 1939:543). Sanggan pada umumnya dikenal dengan tebusan.

Suruh ayu, berasal dari dua kata suruh berarti “daun sirih” dan ayu berarti “cantik”. Daun sirih harus dalam kondisi yang baik, mengandung maksud daunnya masih utuh dan segar. Suruh ayu mempunyai makna simbolis ketika menjadi pengantin, hendaknya terlihat segar dan menarik. Segar dan menarik menyimbolkan kebahagiaan. Daun sirih yang digunakan harus yang temu ros “bertemu ruasnya” hal ini melambangkan bahwa sepasang pengantin dipertemukan dahulu.

Gambir merupakan kelengkapan dalam menginang, gambir digunakan supaya rasanya semakin mantap. Makna simbolik penggunaan gambir dalam upacara panggih melambangkan kemantapan. Orang yang sudah siap untuk menikah berarti sudah mantap dengan pilihannya.

Kembang telon terdiri dari tiga macam bunga terpilih diantara bunga yang lain, yaitu mawar, melati dan kantil. Dipilih tiga macam bunga tersebut mempunyai makna simbolik bahwa ketiga bunga tersebut merupakan bunga yang menjadi raja di taman. Nama bunga ini jika dikeratabasakan menjadi “apa kang binawar (mawar) saking kedaling lathi (mlathi) bisa kumanthil-kanthil ing wardaya”. Artinya “apa yang dinasihatkan oleh orang tua hendaknya selalu dapat diingat oleh calon mempelai”.

Lawe wenang, terdiri dari dua kata lawe berarti benang lembut yang akan ditenun (Poerwadarminta, 1939:263). Wenang berarti “bisa atau dapat” (Poerwadarminta, 1939: 660). Lawe wenang merupakan uba rampe pisang sanggan dalam upacara panggih. Lawe wenang digunakan untuk mengikat lintingan daun sirih. Ikatan lawe wenang ini mempunyai makna simbolik ikatan pernikahan. Dipilih benang yang berwarna putih mempunyai makna simbolik suci. Lawe wenang mempunyai makna simbolik bahwa pernikahan merupakan merupakan ikatan yang lembut dan suci.

[code]http://dunianyamaya.wordpress.com/[/code]
balaprabu - 24/09/2011 08:13 AM
#44
Keluarnya pengantin wanita yang didahului kembar mayang atau kepyok kembar mayang.
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Arti Nominal : Kembar mayang adalah dua buah rangkaian hiasan yang terdiri dari dedaunan terutama daun kelapa, yang ditancapkan ke sebuah batang pisang yang daun tersebut dirangkai dalam bentuk gunung, keris, cambuk, payung, belalang, dan burung. Selain itu juga terdapat daun beringin, daun dadap srep, dlingo bengle.


Makna :

Makna simbolik dari kepyok kembar mayang ini adalah membuang sial pada pengantin pria. Kembar mayang adalah sebuah rangkaian yang terdiri dari dedaunan terutama daun kelapa, yang ditancapkan ke sebuah batang pisang. Kembar mayang ini berasal dari cerita wayang kulit, hiasan kembar mayang adalah kehendak dari Sri Kresna pada waktu pernikahan agung antara sembadra, adik Sri Kresna dengan Harjuna dari keluarga Pandawa. Kembar mayang ini sungguh suatu hiasan yang sangat elok yang mempunyai arti simbolis yang luas.


[*]- Bentuknya yang seperti gunung memberikan arti bahwa gunung itu tinggi dan besar, maksudnya seorang pria itu harus mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman dan harus sabar.

[*]- Bentuk hiasan seperti keris, artinya supaya pasangan itu berhati-hati dalam hidupnya, pandai dan bijak.

[*]- Bentuk hiasan seperti pecut, mengandung maksud supaya pasangan itu tidak mudah putus asa, harus selalu optimis dan dengan ketetapan hati membina kehidupan yang baik.

[*]- Bentuk hiasan seperti payung, dimaksudkan supaya mereka menjadi pelindung keluarga dan masyarakat.

[*]- Bentuk hiasan seperti belalang, supaya mereka bersemangat, cepat dalam berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan keluarga.

[*]- Bentuk hiasan seperti burung, supaya mereka mempunyai motivasi yang tinggi dalam hidupnya.



Daun beringin supaya mereka melindungi keluarga dan orang lain, daun kruton dimaksudkan supaya terlepas dari godaan makhluk-makhluk jahat, daun dadap srep supaya keluarga itu selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam menghadapi berbagai macam masalah, dlingo bengle dimaksudkan untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh jahat.

Kesimpulannya, upacara ini melambangkan perjalanan hidup kedua mempelai lancar tidak menemui halangan dan rintangan sehingga cepat mencapai kebahagiaan hidup. Selain itu juga melambangkan bahwa seorang pria itu harus mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman serta harus sabar, kedua mempelai juga diharapkan berhati-hati dalam hidupnya, pandai dan bijak, kedua mempelai diharapkan tidak mudah putus asa, harus selalu optimis dan dengan ketetapan hati membina kehidupan yang baik, kedua mempelai diharapkan menjadi pelindung keluarga dan masyarakat, kedua mempelai juga diharapkan bersemangat, cepat dalam berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan keluarga, kedua mempelai juga diharapkan mempunyai motivasi tinggi dalam hidupnya, kedua mempelai juga diharapkan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam menghadapai berbagai macam masalah, selain itu juga diharapkan mempelai bisa melindungi diri dan terlepas dari godaan makhluk-makhluk jahat.

[code]http://dunianyamaya.wordpress.com/[/code]
balaprabu - 25/09/2011 09:43 AM
#45
Lempar sirih atau balangan gantal
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Arti Nominal :

Pengantin pria dan pengantin wanita saling melemparkan tujuh ikat daun sirih yang diisi dengan kapur sirih dan diikat dengan benang putih. Untuk pria berjumlah 4 ikat dan wanita 3 ikat, pria dulu yang melempar.

Makna :

Melambangkan ikatan dan kejernihan pikiran. Balangan berarti ‘melempar’ , sedangkan gantal berarti ‘daun sirih yang sudah diikat dengan benang’. Suruh yang diikat dengan benang sebagai lambang perjodohan dan telah diikat dengan tali suci. Selain itu juga melambangkan suatu perwujudan perkenalan pertama antara calon suami dan calon istri.

[code]http://dunianyamaya.wordpress.com/[/code]
balaprabu - 25/09/2011 09:46 AM
#46
Wijikan dan Memecah Telur
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Arti Nominal :

Pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria. Perlengkapan yang dipakai yaitu ranupada yang terdiri gayung, bokor, baki, bunga sritaman dan telur. Pemaes mengambil telur ayam yang kemudian disentuhkan di dahi pengantin laki-laki dahulu kemudian pengantin perempuan, lalu dibanting di ranupada.

Makna :

Ranupada berarti ‘tempat mencuci kaki’, ranupada mempunyai makna simbolik sebagai tanda bakti istri pada suami. Gayung dipakai pengantin wanita untuk mengambil air dari bokor, melambangkan supaya istri diberi kemudahan untuk melayani suami. Bokor dipakai pada saat upacara wijikan sebagai tempat air bunga setaman. Dipilih bokor karena pada jaman dahulu bokor merupakan tempat air. Bokor terbuat dari tembaga atau logam yang kuat, maka dari itu bokor tidak mudah bocor. Bokor mempunyai makna simbolik kekuatan. Bunga sritaman atau bunga setaman melambangkan keharuman cita-cita mengarungi bahtera rumah tangga. Baki digunakan sebagai alas dalam wijikan atau memecah telur, mengandung makna jika sudah resmi menjadi suami istri maka segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama.

[code]http://dunianyamaya.wordpress.com/[/code]
balaprabu - 25/09/2011 09:50 AM
#47

Berjalan bergandengan jari kelingking menuju ke pelaminan

· Arti Nominal :

Kedua mempelai berdiri berdampingan dengan kelingking tangan kiri pengantin pria dikaitkan dengan kelingking tangan kanan pengantin wanita. Dalam posisi kelingking terkait, kedua mempelai berjalan menuju pelaminan.

· Makna :

Bergandengan jari kelingking, melambangkan hubungan dengan orang tua tinggal sedikit.

Tampa kaya

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


· Arti Nominal :

Pengantin wanita menerima “lambang harta” dari pengantin pria, kemudian diserahkan kepada Ibu pengantin putri.

Makna :

Tampa kaya adalah sebuah tahap dimana pengantin pria memberikan ‘lambang harta’ dengan cara dikucurkan pada pangkuan pengantin wanita yang dibawahnya dialasi dengan kain. Tampa kaya mempunyai makna simbolik bahwa seorang pria bertanggung jawab unutk mencukupi kebutuhan keluarganya. ‘Lambang harta’ yang terdiri dari segala macam biji-bijian dan uang logam sebagai simbol rejeki yang melimpah, bunga-bungaan melambangkan keharuman dan kewibawaan nama pengantin sedangkan dlingo bengle sebagai lambang kesehatan. Diusahakan isinya jangan sampai tercecer, karena tercecer melambangkan sikap yang boros. Selanjutnya pengantin wanita menyerahkan ‘lambang harta’ yang sudah diikat kepada Ibunya, hal ini mempunyai makna simbolis wujud bakti seorang anak memberi apabila orang tua membutuhkan.

Tampa kaya mempunyai makna sebagai lambang bahwa sikap seorang wanita seharusnya bersyukur menerima nafkah dari suami sebesar apapun dan mengelolanya dengan benar, cermat dan berhati-hati dan sebagai seorang pria wajib bertanggung jawab akan kehidupan keluarganya, suami tidak boleh curang, semua kekayaan hasil jerih payahnya harus diserahkan kepada istrinya. Serta mempunyai makna pengharapan aliran rejeki yang lancar. Selain itu juga mengandung makna wujud bakti seorang anak kepada ibunya, wujud bakti seorang anak memberi apabila orang tua membutuhkan.

Dahar klimah

· Arti Nominal :

Pengantin pria membuat nasi yang dikepal sebanyak tiga kali untuk pengantin wanita. Kemudian pengantin wanita memakan nasi kepalan tersebut yang terdiri dari rangkaian sayuran berupa kacang panjang, nasi kuning, telur dadar, kedelai goreng, tempe goreng, abon, dan hati ayam kampung yang dimasak pindang antep.

· Makna :

Dahar Klimah terdiri dari rangkaian sayuran berupa kacang panjang yang menyimbolkan cinta kasih pasangan pengantin sepanjang masa, ditengahnya nasi kuning dengan lauk pauk yang lengkap dengan segala jenis sayuran menyimbolkan harapan pengantin akan limpahan rejeki dengan murah pangan. Lauk ini diantaranya telur dadar, kedelai goreng, tempe goreng, abon serta hati ayam kampung dimasak pindang yang dinamakan pindang antep. Pindang antep ini menyimbolkan kemantapan hati kedua pengantin untuk mengarungi bahtera rumah tangga.

[code]http://dunianyamaya.wordpress.com/[/code]
Mich43ls - 25/09/2011 06:46 PM
#48

Quote:
Original Posted By prabuanom
ubo rampe atau piranti sesajian ada banyak sekali, misal bunga bungaan. kue, janur, dan banyak lagi lainnya. semua pasti memiliki makna kenapa dipakai, dipilih dan dipergunakan sebagai sarana ritual. saya ingin membahasanya satu persatu, tetapi mohon maaf tidak bisa urut karena kebanyakan ilmunya dari hasil googling. jadi kalo ada yang ingin menambahkan sangat dipersilakan sekali untuk ikut menambahkan atau mendiskusikannya. mari kita mulai membahasnya sedikit demi sedikit falsafah dan simbolisasi dalam ubo rampe, piranti dan peralatan, atau ritualnya itu sendiri. sebagai bagian dari khazanah budaya kita shakehand
iloveindonesiasiloveindonesias
Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Janur kuning, menjadi ornamen yang sangat familiar di setiap hajatan pengaten, pernikahan, di berbagai sudut negeri kita. Sebagai wujud lestarikan budaya dan ornamen penghias prosesi pernikahan, ternyata, tersirat makna dari seni lipat daun kelapa ini.

Apa makna simbolis yang terkandung?

Janur, bermakna sejane ning nur (arah menggapai cahaya Ilahi). Sedangkan, kuning bermakna sabda dadi, (yang dihasilkan dari hati/jiwa yang bening). Dengan demikian boleh kita ambil makna, arah menggapai cahaya Ilahi yang dihasilkan dari hati/jiwa yang bening. Olehkarena bahwa janur kuning mengisyaratkan :

Cita-cita mulia lagi nan tinggi untuk mencapai cahaya (nur)-Nya dengan dibarengi hati yang jernih.

Betapa mulia kandungan janur kuning dalam kultur prosesi pernikahan.

[code]http://celoteharra.wordpress.com/2010/08/27/makna-dibalik-janur-kuning/[/code]


Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

angka tujuh merupakan suatu fenomena. sering kita dengar bahwa banyak hal mengenai sesajian, ritual, atau lelaku berhubungan dengan angka tujuh. seperti tujuh sumur, tujuh putaran, tujuh jenis kembang, apa makna yang tersimpan dari angka tujuh ini sebenarnya?

dalam bahasa jawa tujuh itu dikenal dengan nama pitu. pitu ini dikaitkan dengan konsep pitulungan. sehingga apapun yang diikatkan dengan angka tujuh mempunyai makna bahwa kita meminta pertolongan, nyuwun pitulungan, atau memohon kepada tuhan untuk pertolongannya.

demikianlah maka konsep penggunaan angka tujuh ini menjadi suatu yang sangat ditepati dan digunakan. karena dalam falsafahnya saja ternyata mengandung arti yang sangat mendalam bagi mereka yang mau untuk memahami dan menghayatinya shakehand
iloveindonesias


Quote:
Original Posted By angsip
cool:

Filosofis Canang

Canang berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain. Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri. Canang belum bisa dikatakan bernilai agama jika belum dilengkapi porosan yang bahan pokoknya sirih.
Perlengkapan canang adalah alasnya dipakai ceper atau daun pisang berbentuk segi empat, diatasnya berturut – turut disusun plawa, porosan, urasari kemudian bunga.
Makna masing – masing perlengkapan canang :
1. Plawa adalah daun – daunan. Telah disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa plawa merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, sehingga dapat menangkal pengaruh busuk dari nafsu duniawi.
2. Porosan adalah dari pinang dan kapur yang dibungkus daun sirih. Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan pinang, sirih dan kapur adalah lambang pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Tri Murti. Pinang lambang pemujaan pada Dewa Brahma, kapur lambang pemujaan pada Dewa Siwa, sirih lambang pemujaan pada Dewa Wisnu.
3. Urasari adalah jejahitan, reringgitan, dan tetuwasan sebagai lambang ketepatan dan kelanggengan pikiran dan lambang permohonan pada TYME agar alam lingkungan hidup kita selaras dan seimbang.
4. Bunga adalah lambang keikhlasan. Apapun yang mengikat diri kita di dunia ini harus kita ikhlaskan sebab cepat / lambat dunia inipun akan kita tinggalkan.
Jadi canang mengandung arti dan makna perjuangan hidup manusia dengan selalu memohon bantuan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, untuk dapat menciptakan, memelihara dan meniadakan yang patut diciptakan, dipelihara, dan ditiadakan demi suksesnya cita – cita hidup manusia yakni kebahagiaan.
Canang dari segi penggunaannya dan bentuk serta perlengkapannya ada beberapa macam, misalnya : Canang Genten, Canang Burat Wangi, Lenge Wangi, Canang Sari, Canang Meraka, dan lain – lain.


Filosofis Kewangen

Kewangen berasal dari bahasa jawa kuno yaitu kata “Wangi” yang artinya harum. Mendapat awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ menjadi kewangian disandikan menjadi kewangen artinya keharuman yang berfungsi untuk mengharumkan nama Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa.
Kewangen digunakan sebagai sarana dalam upacara yaitu sebagai pelengkap upakara / bebantenan. Kewangen paling bangak digunakan dalam upacara persembahyangan. Selain itu juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya.
1. Dewa Yadnya, sebagai pelengkap Banten Tetebasan, prascita, dan berbagai jenis sesayut.
2. Rsi Yadnya, juga sebagai pelengkap Banten Tetebasan.
3. Pitra Yadnya, dipakai dalam upacara menghidupkan mayat secara simbolis untuk diupacarakan yaitu pada setiap persendian tubuhnya.
4. Manusia Yadnya, digunakan pada setiap upacara ngotonin, potong gigi, perkimpoian, dan pelengkap banten.
5. Bhuta Yadnya, digunakan dalam upacara memakuh, macaru, dll
Sarana untuk membuat kewangen :
a. Kojong, dibuat dari selembar daun pisang yang berbentuk segitiga lancip melambangkan Ardacandra.
b. Pelawa, potongan daun kayu seperti andong, pandan harum, puring, dan lain sejenisnya yang berwarna hijau lambang ketenangan.
c. Porosan, dibuat dari dua lembar daun sirih digulung dengan posisi menengadah satu, telungkup satu, disatukan. Ini disebut porosan silih asih lambang hubungan timbal balik antara baktinya umat manusia dengan kasih Ida Sang Hyang Widhi.
d. Kembang Payas, berbentuk cili, dibuat dari serangkaian jejahitan janur yang sudah diringgit / dibentuk. Melambangkan nada, reringgitan melambangkan rasa ketulusan hati.
e. Bunga, yaitu bunga hidup yang masih segar dan berbau harum / wangi melambangkan kesegaran dan kesucian pikiran dalam beryadnya.
f. Uang kepeng logam dua buah melambangkan Windu, uangnya melambangkan sesari / sarining manah. Selain itu uang berfungsi sebagi penebus segala kekurangan yang ada.


[CODE]http://mudiartana.blogspot.com/2010/02/filosofis-canang.html[/CODE]


cool:


Ijin baca" & menyimak serta memahami kang Prabu & kang Bolo serta kang Angsip shakehand2
buhitoz - 25/09/2011 07:15 PM
#49
Ubo Rampe bagi Ibu Hamil yang Sulit Melahirkan
mbah, permisi lagi....
ikut nyumbang artikel...


Berikut ini saya tayangkan materi yang disajikan bagi ibu yang mengalami kesulitan saat akan melahirkan. Yang dimaksud dengan kesulitan di sini adalah apabila usia bayi dalam kandungan sudah melewati batas perhitungan normal.

Soal berhasil tidaknya semua itu menjadi ketentuan akhir dari Gusti Hyang Mahawisesa. Namun biasanya tata cara berikut mempunyai akurasi cukup besar yang bisa diharapkan.

1. Melompati pintu depan (pintu ruang tamu) sambil menelan minyak kelapa sesendok makan. Untuk saat ini minyak kelapa bisa diganti dengan ViCO (Virgin Coconut Oil) yang manfaatnya jauh lebih besar untuk kesehatan badan. Minyak kelapa di sini dimaksudkan agar dapat memperlancar proses kelahiran.

Caranya, anda melangkahi pintu dari dalam rumah ke arah luar rumah. Saat melangkahi pintu sambil berucap mantra demikian :

“Jabang bayi kang ono ing guwa garbaku, enggal metuo kanthi lancar lan slamet, slamet jabang bayine slamet ibune, dadi bocah pinunjul, bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, hambeg lakutama. Kabeh saka kersaning Gusti Allah”.

Kalimat di atas sebagai bentuk komunikasi antara si Ibu dengan si Jabang bayi. Dengan adanya komunikasi batin dan lahir, diharapkan ada keselarasan kehendak dan rasa di antaranya. Kemauan si Ibu dan si jabang bayi bisa harmonis dan sinergis yang akan menimbulkan efek energi baru untuk segera lahir dan melahirkan.

2. Cara yang lain adalah menyiapkan materi atau uborampe berikut ;

Dengan mengucapkan mantra sebagai mana no 1 di atas. Materinya terdiri dari :

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

a. Dawet brojol, agar mudah mbrojol (keluar dengan menelusup), segar-bugar, dan lancar dan licin keluar seperti cendol.

b. Gula Jawa (gula merah), supaya jabang bayi segera ngejawa (keluar/ngejawantah/lahir).

c. Kelapa dibelah, agar supaya hatinya terbuka, menjadi tenteram, tidak gelisah dan khawatir. Berarti pula, memecah kebuntuan, membuka jalan bagi si jabang bayi, membuka segala hal yang menjadi penghalang dan penghambat. Karena perasaan gelisah dan khawatir saat akan melahirkan bayi justru sangat mempengaruhi kelancaran melahirkan. Semakin takut, khawatir, gelisah akan menimbulkan hambatan-hambatan saat akan melahirkan.

d. Kembang setaman : terdiri mawar merah dan putih, kathil, melati, kenanga. Harum bunga, indah warna membuat hati senang, tenteram, dan tenang.

Selain itu, ubo rampe juga untuk mewujudkan rasa penghormatan kepada semua leluhur yang menurunkan anda, dengan harapan selalu njangkung dan njampangi saat-saat melahirkan si jabang bayi.

sumber: http://posyandu.org/tradisional/70-upacara-tradisional/254-selamatan-usia-hamil.html
balaprabu - 25/09/2011 11:22 PM
#50

Quote:
Original Posted By Mich43ls
Ijin baca" & menyimak serta memahami kang Prabu & kang Bolo serta kang Angsip shakehand2


silakan mbah shakehand
balaprabu - 25/09/2011 11:24 PM
#51

Quote:
Original Posted By buhitoz
mbah, permisi lagi....
ikut nyumbang artikel...


Berikut ini saya tayangkan materi yang disajikan bagi ibu yang mengalami kesulitan saat akan melahirkan. Yang dimaksud dengan kesulitan di sini adalah apabila usia bayi dalam kandungan sudah melewati batas perhitungan normal.

Soal berhasil tidaknya semua itu menjadi ketentuan akhir dari Gusti Hyang Mahawisesa. Namun biasanya tata cara berikut mempunyai akurasi cukup besar yang bisa diharapkan.

1. Melompati pintu depan (pintu ruang tamu) sambil menelan minyak kelapa sesendok makan. Untuk saat ini minyak kelapa bisa diganti dengan ViCO (Virgin Coconut Oil) yang manfaatnya jauh lebih besar untuk kesehatan badan. Minyak kelapa di sini dimaksudkan agar dapat memperlancar proses kelahiran.

Caranya, anda melangkahi pintu dari dalam rumah ke arah luar rumah. Saat melangkahi pintu sambil berucap mantra demikian :

“Jabang bayi kang ono ing guwa garbaku, enggal metuo kanthi lancar lan slamet, slamet jabang bayine slamet ibune, dadi bocah pinunjul, bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, hambeg lakutama. Kabeh saka kersaning Gusti Allah”.

Kalimat di atas sebagai bentuk komunikasi antara si Ibu dengan si Jabang bayi. Dengan adanya komunikasi batin dan lahir, diharapkan ada keselarasan kehendak dan rasa di antaranya. Kemauan si Ibu dan si jabang bayi bisa harmonis dan sinergis yang akan menimbulkan efek energi baru untuk segera lahir dan melahirkan.

2. Cara yang lain adalah menyiapkan materi atau uborampe berikut ;

Dengan mengucapkan mantra sebagai mana no 1 di atas. Materinya terdiri dari :

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

a. Dawet brojol, agar mudah mbrojol (keluar dengan menelusup), segar-bugar, dan lancar dan licin keluar seperti cendol.

b. Gula Jawa (gula merah), supaya jabang bayi segera ngejawa (keluar/ngejawantah/lahir).

c. Kelapa dibelah, agar supaya hatinya terbuka, menjadi tenteram, tidak gelisah dan khawatir. Berarti pula, memecah kebuntuan, membuka jalan bagi si jabang bayi, membuka segala hal yang menjadi penghalang dan penghambat. Karena perasaan gelisah dan khawatir saat akan melahirkan bayi justru sangat mempengaruhi kelancaran melahirkan. Semakin takut, khawatir, gelisah akan menimbulkan hambatan-hambatan saat akan melahirkan.

d. Kembang setaman : terdiri mawar merah dan putih, kathil, melati, kenanga. Harum bunga, indah warna membuat hati senang, tenteram, dan tenang.

Selain itu, ubo rampe juga untuk mewujudkan rasa penghormatan kepada semua leluhur yang menurunkan anda, dengan harapan selalu njangkung dan njampangi saat-saat melahirkan si jabang bayi.

sumber: http://posyandu.org/tradisional/70-upacara-tradisional/254-selamatan-usia-hamil.html


makasih mbah sudah menambahkan thumbup:
detiklink - 25/09/2011 11:55 PM
#52

Quote:
Original Posted By balaprabu
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

angka tujuh merupakan suatu fenomena. sering kita dengar bahwa banyak hal mengenai sesajian, ritual, atau lelaku berhubungan dengan angka tujuh. seperti tujuh sumur, tujuh putaran, tujuh jenis kembang, apa makna yang tersimpan dari angka tujuh ini sebenarnya?

dalam bahasa jawa tujuh itu dikenal dengan nama pitu. pitu ini dikaitkan dengan konsep pitulungan. sehingga apapun yang diikatkan dengan angka tujuh mempunyai makna bahwa kita meminta pertolongan, nyuwun pitulungan, atau memohon kepada tuhan untuk pertolongannya.

demikianlah maka konsep penggunaan angka tujuh ini menjadi suatu yang sangat ditepati dan digunakan. karena dalam falsafahnya saja ternyata mengandung arti yang sangat mendalam bagi mereka yang mau untuk memahami dan menghayatinya shakehand
iloveindonesias


Weleh-weleh...trit baru tho ini mas Prabu? shakehand2

Lha kalo angka 7 itu angka saya mas, selain angka 3.. 7 Selain pitulungan, mungkin juga bisa pitutur ya...\)
empeldhom3 - 26/09/2011 12:34 AM
#53

Quote:
Original Posted By detiklink
Weleh-weleh...trit baru tho ini mas Prabu? shakehand2

Lha kalo angka 7 itu angka saya mas, selain angka 3.. 7 Selain pitulungan, mungkin juga bisa pitutur ya...\)


pitutur..pituduh,,baru pitulungan gun shakehand
balaprabu - 26/09/2011 12:36 AM
#54

Quote:
Original Posted By detiklink
Weleh-weleh...trit baru tho ini mas Prabu? shakehand2

Lha kalo angka 7 itu angka saya mas, selain angka 3.. 7 Selain pitulungan, mungkin juga bisa pitutur ya...\)


mantab mbah shakehand
yang penting madep manteb ya mbah shakehand
balaprabu - 26/09/2011 01:28 AM
#55
falsafah roti buaya betawi
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Roti buaya sepasang adalah suatu persembahan atau bentuk ‘seserahan’ mempelai pria kepada wanitanya. Roti ini untuk selanjutnya tidak dimakan melainkan hanya dipajang saja di atas meja dan kadang-kadang sering pula ditempelkan di dinding dekat pelaminan.

Penggunaan roti buaya tersebut adalah konsep dunia mitos Betawi yang sangat mengagungkan buaya putih sebagai pertanda baik untuk perkimpoian. Buaya putih adalah hewan mistis penunggu sungai yang dianggap keramat bagi mereka. Sepasang roti buaya itu mensimbolkan suatu kekuatan spiritual yang akan melindungi pasangan yang menikah untuk saat ‘keriaan’ tersebut berlangsung.

Selain itu juga dari nilai kelakuan dan karakter yang terkandung didalamnya, yakni diharapkan kedua mempelai dapat berkelakuan seperti sepasangan buaya seperti layaknya. Buaya biasanya monogami dan memiliki sarang yang tetap dan tidak berpindah-pindah.

Oleh karena filosofis sikap kesetiaan pasangan hidup buaya tersebut juga digunakan oleh masyarakat Betawi sebagai cermin bagaimana seharusnya pasangan mempelai bertindak dan berperilaku. Selalu setia, memiliki rumah yang tetap dan mengharamkan perselingkuhan adalah nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai norma dan etika hidup bersosial inilah yang sangat agung dan perlu ditumbuhsuburkan pada masyarakat Betawi modern saat ini.

[code]http://anakbetawi.blogdrive.com/archive/o-10.html[/code]
balaprabu - 26/09/2011 01:34 AM
#56
falsafah kue keranjang
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Salah satu kue khas perayaan Tahun Baru Imlek adalah kue keranjang. Kue sejenis dodol berbentuk bulat itu merupakan penganan wajib yang harus tersedia di rumah masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek. Menurut kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek (enam hari sebelum pergantian tahun), Dewa Tungku akan pulang ke Surga untuk melaporkan tugasnya. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan Dewa Tungku. Seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut Kue Keranjang.

Kue Keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut Kue Kranjang (tii kwee) adalah kue wajib imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang terbuat dari keranjang. Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun, itu yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.


Dalam dialek Hokkian, tii kwee berarti kue manis, jadi orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis. Kue-kue yang disajikan pada hari raya tahun baru Imlek pada umumnya jauh lebih manis daripada biasanya, karena dengan demikian diharapkan di tahun mendatang jalan hidup bisa menjadi lebih manis lagi daripada di tahun-tahun sebelumnya.

Kue Keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Karena terbuat dari tepung beras ketan, Kue keranjang jadi lengket. Makna dibalik "lengketnya" ini adalah ikatan erat. Jadi setiap anggota keluarga harus makan kue itu sebagai simbol perekat atau eratnya hubungan antaranggota keluarga.

Sudahkah Anda menikmati manis dan lengketnya Kue Keranjang bersama-sama anggota keluarga Anda tahun ini?

[code]http://freshdee.blogspot.com/2008/02/filosofi-kue-keranjang.html[/code]
balaprabu - 26/09/2011 09:31 PM
#57
falsafah baju adat pernikahan aceh
Budaya

SETIAP suku di dunia ini punya pakaian adat tersendiri. Itu menjadi ciri khas yang membedakan antara satu suku dengan lainnya. Misalnya pakaian adat suku Jawa berbeda dengan pakaian adat suku batak atau dengan pakaian adat orang Minang. Bagaimana pula bentuk pakaian adat Aceh. Pakaian adat Aceh baik yang digunakan kaum perempuan atau kaum lelaki, memiliki bentuk sendiri meskipun coraknya sama. Yang membedakannya adalah atribut, baik itu pakaian adat resmi maupun yang digunakan keseharian.

Untuk pakaian adat yang dikenakan kaum laki-laki berwana hitam. Warna hitam bagi masyarakat Acehbermakna kebesaran adat. Maka bila seseorang mengenakan baju dan celana hitam berarti orang tersebut dalam pandangan masyarakat Aceh sedang memakai pakaian kebesarannya. Ini bedanya dengan masyarakat di daerah lain, bila memakai pakaian warna hitam, itu bisa berarti mereka sedang berkabung karena sesuatu musibah yang dialaminya.

Di Aceh, jika seorang pengantin laki-laki Aceh (linto baro), secara adat ia diwajibkan memakai pakaian warna hitam dan tidak dibolehkan memakai pakaian warna lain. Begitu juga jika akan menghadiri upacara-upacara kebesaran resmi lainnya, kaum laki-laki Aceh diharuskan mengenakan pakaian berwarna hitam. Kecuali bila menghadiri acara-acara yang tidak resmi, itu bisa saja mengenakan pakaian warna lain.

Kenyataan sekarang ini pakaian adat itu tak lagi diperhatikan. Kita menjumpai penggunaan pakaian adat Aceh yang tidak lagi menurut adat itu sendiri; baik dari segi warna penyematan atribut (perhiasan) maupun tatacara menggunakannya. Misal, pemberian motif sulaman kasap pada bagian depan baju (bagian dada) dengan sulaman warna emas yang hampir penuh sampai ke leher baju. Motif seperti itu sebetulnya tidak perlu, karena pakaian (baju) adat Aceh telah dihiasi dengan atribut lain, seperti Ija Seumadah yang dilengkapi dengan Boh Ru, ayeum bajee, rencong atau siwah. Jadi kalau memakai atribut (hiasan) sulaman kasap pada baju adat Aceh cukup sulaman yang sederhana saja.

Demikian pula jika pengantin pria yang diharuskan mengenakan kupiah meukeutop lengkap dengan teungkulok dan tampok. Pada kupiah meukeutop ini juga dihiasi dengan hiasan prik-prik yang dipakai sebelah kanan kupiah sampai ke telinga untuk lebih indah kelihatannya. Pada pakaian linto baro juga dilengkapi dengan kain sarung yang dililit dari pinggang hingga atas lutut. Dan pada bagian pinggang diselipkan sebilah senjata tajam Aceh, yaitu rencong atau siwah.

Secara adat, dalam satu prosesi kebesaran seperti upacara pesta perkimpoian, senjata tajam yang digunakan seorang linto baro seharusnya adalah siwah, bukan rencong. Karena rencong adalah senjata yang melambangkan kepahlawanan. Namun saat sekarang ini kita akui, untuk mendapatkan siwah memang sangat sulit, karena jenis senjata tajam itu sudah sangat langka di temukan dalam masyarakat Aceh. Kalau pun ada jumlahnya sangat terbatas, hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja dari kaum bangsawan di Aceh. Apa lagi siwah ini sekarang nyaris tak ada lagi yang membuatnya. Itu sebabnya, linto baro di Aceh sekarang banyak yang mengenakan rencong daripada siwah.

Jangan salah pakai

Ada satu hal perlu diperhatikan dalam memakai Rencong, terutama bagi linto baro dan dalam upacara kebesaran. Seringkali ketika memakai rencong, kita temukan orang salah meletakkannya. Bagi linto baro tidak boleh memakai rencong dengan posisi lekuk (cunggek) gagangnya ke bawah, lekuk gagangnya harus ke atas. Kalau posisi lekuk gagang rencong itu ke bawah secara adat Aceh orang itu dianggap sedang dalam keadaan bahaya. Sedangkan kalau rencong itu dipakai dalam posisi lekuk gagangnya ke atas, secara adat menggambarkan orang yang memakai rencong tersebut berada dalam keadaan aman.

Dalam aturan penggunaan rencong ada ungkapan: “Pantang peudeueng meulinteung sarong, pantang rincong meulinteueng mata”. Ungkapan ini bermakna, jika rencong yang dipakai itu gagangnya bercunggek ke bawah, itu berarti mata rencong yang dipakainya (bagian yang tajam) melintang ke atas. Dalam falsafah adat Aceh, bila mata rencong yang dipakai seseorang sudah melintang ke atas berarti orang itu sedang dalam bahaya dan siap untuk bertempur. Jadi, bila seorang linto baro dalam mengenakan pakaian adat Aceh dengan memakai rencong gagangnya bercunggek ke bawah. Dalam pemahaman adat Aceh tentu sangat bertentangan dengan suasana prosesi upacara kebesaran yang dilakukannya.

Logikanya, seorang pengantin baru yang sedang menjalani upacara perkimpoiannya tidak mungkin ia dalam keadaan tidak aman. Namanya saja “raja sehari”, sudah tentu hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan. Aman, tenang dan damai. Bukan hari berbahaya. Karena itu, secara adat letak rencong yang dipakai pengantin baru di Aceh bukan masalah sepele. Inilah jarang menjadi perhatian kita selama ini atau akibat ketidakmahfuman adat istiadat Aceh.

Semestinya hal-hal kecil jangan diabaikan. Sebab bukan mustahil akan menjadi kesalahan aturan adat yang besar dan akan berefek pada generasi Aceh yang tidak lagi tahu adat-istiadat indatunya. Contoh lain tentang penggunaan kain berwarna pada tebung rencong (antara sarung dengan gagang). Bagi seorang linto baro atau bagi orang yang menghadiri acara-acara serimoni dengan menggunakan pakaian adat Aceh yang lengkap dengan rencongnya, warna kain yang harus dipakai pada rencong dan siwah adalah warna kuning. Sedangkan khusus bagi orang pengawal atau orang yang akan berperang warna kain yang harus dipakai pada rencongnya adalah warna merah.

Ija seumadah

Dalam mengenakan pakaian adat Aceh khususnya bagi laki-laki juga dikenal dengan Ija Seumadah; sepotong kain empat segi yang biasanya dibuat dari sutra dan benang mas. Ada juga dibuat dalam bentuk modifikasi, pinggirannya dari kain sutra yang disulam benang mas dan di tengahnya diberi kain biasa. Pada empat sisi Ija Seumadah ini digantung beberapa jenis mainan yang terbuat dari emas, suasa atau perak. Mainan tersebut berbentuk Boh Ru, korek kuping dan beberapa anak kunci penting, serta alat-alat lainnya yang dianggap sangat penting dibawa serta setiap saat oleh yang menggunakan Ija Seumadah.

Semua mainan itu digantung pada tiap segi ujung Ija Seumadah, lalu kainnya diletakkan di atas bahu sebelah kanan, maka mainan yang tergantung pada kain itu diletakkan dibagian depan hingga mainan tersebut tampak menonjol dan indah. Sedangkan bagian dalam kain diisi sirih dan seperangkat alat makan sirih lainnya seperti daun sirih, kapur, pinang, gambir, dan sebuah cubek (alat pelumat sirih bagi yang giginya sudah tidak kuat lagi). Dengan memakai mainan tersebut letak kain Seumadah akan berimbang ketika digantung di bahunya. Kegunaan sirih yang ada dalam Ija Seumadah ini, yaitu bila mereka menghadiri pertemuan dengan orang-orang penting, maka pada saat istirahat sirih tersebut langsung dibuka dan dimakan sambil menunggu musyawarah atau pertemuan dilanjutkan kembali.

Sekarang ini bentuk Ija Seumadah ini sudah banyak dimodifikasikan. Malah fungsinya juga tidak lagi dijadikan sebagai pelengkap kain yang dapat membawa alat-alat makan sirih. Bentuk kain Seumadah sekarang kelihatan hanya digantung beberapa mainan saja yang dijahit di bagian depan atau disisipkan dengan jarum pentul. Sehingga kelihatannya lebih berfungsi untuk perhiasan daripada fungsi dan kegunaan Ija Seumadah itu sendiri.

Ayeum bajee

Dalam pakaian adat Aceh yang dipakai laki-laki ada juga perhiasan yang disebut Ayeum Bajee. Perhiasan ini dikenakan saat memakai pakaian tradisional Aceh, ataupun pakaian mempelai. Pakaian tersebut terdiri dar tiga untai rantai yang disangkut pada kantong jas Aceh. Dua untai di antaranya digantung di luar dan dikaitkan dengan hiasan bermotif ikan dan kunci.

Ikan yang dirangkai dengan bunga kelapa atau bunga aren pada untaian perhiasan (ayeum bajee) ini dapat diartikan bahwa dalam Islam-meskipun ikan itu telah mati tanpa disembelih-tapi masih halal untuk dimakan. Sedangkan kunci yang digantung pada perhiasan ayeum bajee melambangkan bahwa orang Aceh sangat menjaga harta bendanya. Sehingga kemana pun ia pergi kunci lemarinya tetap dibawa serta.

Sementara satu untaian lagi dari tiga untaian rantai tadi bentuknya agak panjang dan dimasukkan ke dalam kantong, yang di ujung untaian rantai itu disangkutkan sebuah jam kantong. Ini melambangkan orang Aceh sangat menghargai waktu. Semua bentuk perhiasan Ayeum Bajee ini ada yang terbuat dari emas dan ada yang dari perak. Sekarang bentuk Ayeum Bajee sudah ada yang dihiasi dengan Pinto Aceh dan rencong kecil. Malah sekarang ada yang menghiasi Ayeum Bajee ini dengan paun rupiah. Akan tetapi penghiasan Ayeum Bajee dengan paun rupiah itu tidak mencerminkan budaya Aceh, karena paun itu buatan luar negeri yang bertuliskan Amerika atau Nederland (Belanda).

Penggunaan simbol-simbol adat dalam pakaian laki-laki menurut adat Aceh mestinya dapat dipakai kembali dalam upaya pelestarian nilai-nilai adat istiadat Aceh di tengah kekhawatiran terhadap kehilangan identitas nilai-nilai kebudayaan Aceh, akibat pengaruh budaya global sekarang ini. Inilah satu hal yang hendaknya dijadikan rujukan dalam event Pekan Kebudayaan Aceh kelima ini.

* Penulis adalah kolektor benda-benda warisan budaya Aceh, Ketua Bidang pusaka adat Aceh MAA.

[code]https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=164589284&postcount=26[/code]
balaprabu - 27/09/2011 01:41 AM
#58
Selamatan Mitoni atau Tingkeban Orang Hamil
Secara umum selamatan mitoni atau ningkebi orang hamil dilaksanakan ketika kehamilan sudah menginjak usia tujuh bulan. Persediaan yang harus ada adalah tumpeng, procot, bubur merah putih atau disebut bubur sengkolo, sego (nasi) golong, rujak sepet ( dari sepet sabut kelapa muda ), cengkir gading dll.

Semua ‘uborampe’ tersebut juga merupakan doa bil isyaroh, doa dengan perlambang. Perlambang-perlambang itu antara lain sebagai berikut :

Tumpeng.

Tumpeng atau buceng merupakan nasi yang dibentuk menyerupai kerucut, membentuk seakan-akan gunung kecil. Ini merupakan lambang permohonan keselamatan. Bagi masyarakat Jawa gunung melambangkan kekokohan, kekuatan dan keselamatan.


Procot.

Sejenis penganan terbuat dai ketan yang dibungkus daun pisang bulat memanjang. Dinamakan dengan procot dengan harapan lahirnya si bayi kelak ‘procat-procot’, mudah maksudnya.


Bubur sengkolo.

Bubur sengkolo itu merupakan bubur dengan warna merah dan putih. Merupakan lambang dari bibit asal-muasal kejadian manusia selepas Bapa Adam dan Ibu Hawa, yaitu diciptakan Allah melalui perantaraan darah merah dan darah putih dari ibu bapak kita. Harapan dari bubur sengkolo adalah mudah-mudahan yang punya hajad itu ‘kalis ing sambikolo’ terlepas dari segala aral bahaya, baik bayinya maupun keluarganya.

Sego atau nasi golong.

sego golong merupakan doa agar rejekinya ‘golong-golong’ artinya banyak berlimpah ruah.

Rujak.

Dari kirotobosonya menimbulkan arti ‘saru yen diajak’ artinya tidak patut lagi kalau si istri yang lagi hamil tua itu diajak ‘ajimak-saresmi’ lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.

Cengkir.

Ngencengake pikir artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan ‘titipan Ilahi’. Tekad untuk apa saja ? Ya tekad untuk memelihara dan mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekeri luhur.

Demikianlah serba sedikit tentang berbagai tradisi yang masih hidup pada masyarakat Jawa. Semua itu ternyata merupakan doa dengan kiasan perlambang atau doa bil isyarah. Jadi jangan cepat-cepat memfonis tahayul dan sebagainya. Karena para leluhur Jawa dahulu memang penuh kehalusan dalam ‘pasemon’ untuk mengungkapkan isi hati. Dari sifat itulah yang kemudian banyak menghasilkan berbagai hasil budaya yang adiluhung misalnya karya batik, wayang kulit, berbagai tembang dan lain sebagainya.

[code]https://hidupsuksestiknan.wordpress.com/tag/sego-golong/[/code]
Digdadinaya - 27/09/2011 09:52 AM
#59

Quote:
Original Posted By balaprabu

................................

Rujak.

Dari kirotobosonya menimbulkan arti ‘saru yen diajak’ artinya tidak patut lagi kalau si istri yang lagi hamil tua itu diajak ‘ajimak-saresmi’ lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.

Cengkir.

Ngencengake pikir artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan ‘titipan Ilahi’. Tekad untuk apa saja ? Ya tekad untuk memelihara dan mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekeri luhur.

[code]https://hidupsuksestiknan.wordpress.com/tag/sego-golong/[/code]


oalah...rujak tu ada krito bosonya to pakdhe..
brarti rujak tu sebenernya paweling buat suami ya.biar gak "macul" dulu.

*ngertinya cuma Krikil =keri neng sikil, Kripik = keri neng .....
balaprabu - 27/09/2011 09:56 AM
#60

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
oalah...rujak tu ada krito bosonya to pakdhe..
brarti rujak tu sebenernya paweling buat suami ya.biar gak "macul" dulu.

*ngertinya cuma Krikil =keri neng sikil, Kripik = keri neng .....


keripik keri ning pikiran D
Page 3 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya