Budaya
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Total Views: 10114 Share : Facebook ShareFacebook Twitter ShareTwitter Google+ ShareGoogle+
Page 4 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›

angel.wijaya - 27/09/2011 10:02 AM
#61

Berikut ini adalah MAKNA DAN ARTI YANG TERKANDUNG DALAM SESAJEN DALAM AJARAN SUNDA yang dituliskan oleh Ki Demang Wangsafyudin ( Salah satu Budayawan Sunda yang sekarang menetap di Yogjakarta):

1. Parukuyan dan menyan
Parukuyan adalah:tempat arang/bara api yang terbuat dari tanah=(tempat sari pati/badan sakujur)
Merah = melambangkan api
Kuning = melambangkan angin
Putih = melambangkan air
Hitam = melambangkan tanah

Maknanya : bahwa saripati dari api,angin, air dan tanah adalah asal badan sakujur/penopang hidup.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Membakar kemenyan/ngukus = mendapat keberkahan dari Sang Pencipta
Maknanya : Mengkaji dan menghayati seta menelusuri hakekat dari nilai-nilai Ke Tuhanan.
Menyan = Temen tur nyaan/nu enyana/sa enya-enyana
Maknanya : Dalam penelusuran/kajian/penghayatannya harus secara sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya.
Wangi kemenyan = Silih wawangi=Perbuatan baik.

2. Amparan/Samak/Tikar
Maknanya : Bahwa sesungguhnya kita harus satu maksud,satu tujuan yg kesemuuanya itu hrs di dasari
oleh nilai-nilai : Ke Tuhanan,Ke Manusiaan,Ke Bangsaan,Ke Rakyatan,Ke Adilan
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

3. Alas lawon Bodas (Kain putih sebagai alas)
Lawon = awon = buruk
Bodas = putih = suci bersih
Maknanya : Hendaknya dalam tindakan dan ucapan harus di landasi oleh kebersihan hati fikiran.

4. Kendi di eusi cai make hanjuang (Kendi di isi air dan di beri daun hanjuang)
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Kendi = Taneuh =Tanah
Cai = Air
Hanjuang = Hana ing Juang (Hana = hirup/aya,Juang = berjoang)
Maknanya : Hidup harus berjuang berbakti pada nusa dan bangsa.

5. Sang Saka Dwi Warna (Sasaka Pusaka Buhun)=Bendera merah putih
Dwi Warna = Dua warna Beureum Bodas =Merah Putih
Beureum = Indung/ibu pertiwi
Bodas = Bapa/Rama angkasa
Sang saka = Soko = Tiang utama=Patokan
Pusaka = Pupuhu Saka-Beh/Cikal-bakal
Buhun = kolot/Bahan
Maknanya : Bahwa suatu kewajiban kita menghargai orang tua yang telah melahirkan dan mengurus kita,juga terhadap tanah air yg telah memberi kehidupan.Itu hrs di jadikan yg utama dlm kehidupan
(harus di jadikan soko/patokan)

6. Kembang Tujuh Rupa nu Seungit (7 jenis bunga yg wangi)
Tujuh = Tujuh psngswasa nu aya na diri (Kawasa,Kersa,Uninga,Hirup,Tingali,Ngarungu,Ngandika)=
GURU HYANG TUJUH
= Tujuh kuasa yg ada pd diri yg berasal dari Tuhan
Kembang seungit = Bunga wangi
maknanya : Mengembangkan tujuh kuasa tadi dg jalan belas kasih ke sesama mahluk.

7. Rujak Tujuh Rupa(tujuh macam rujak)
Rujak =r ujak (rasa:manis,pahit,asam,keset dll)
Tujuh rupa = tujuh poe/tujuh hari
Maknanya : dalam tujuh hari kita mengalami berbagai rasa kehidupan

8. Kopi pahit,kopi manis & air bening, didalam wadah batok
Makna : ]Didalam menjalani hidup pasti melewati pahit & manis kehidupan akan terlewati dengan pikiran yg sadar & ati yg bening (ikhlas).

9. Sangu tumpeng
Makna : menumpuk menjadi satu sehingga bermanfaat utk kehidupan kita

10. Bakakak hayam
Makna : pasrah kepada sang pencipta

11. Puncak manik(congcot yang diatasnya ada telur ayam)
makna : puncak kehidupan adalah rukun dengan sesama, telur diartikan cita-cita yang tinggi dalam hidup yang akan melahirkan perbuatan yang baik


12. Daun jati tilu lambar(3 lembar)
Makna: manusia dalam menjalankan hidup & kehidupan harus didasari tekad, ucapan dan perbuatan sejati yang baik

13. Lemareun/seupaheun/Sirih lengkap
Makna : jika ingin mengucap, jangan suka asal bicara, jika akan menyakiti orang lebih baik dibuang seperti orang sedang memeakan sirih


Intinya adalah didalam sesajen terdapat nilai luhur kearifan lokal yang dijadikan pedoman pandangan hidup agar kita tidak salah dalam melangkah.

Sumber
prabuanom - 27/09/2011 10:07 AM
#62

Quote:
Original Posted By angel.wijaya
Berikut ini adalah MAKNA DAN ARTI YANG TERKANDUNG DALAM SESAJEN DALAM AJARAN SUNDA yang dituliskan oleh Ki Demang Wangsafyudin ( Salah satu Budayawan Sunda yang sekarang menetap di Yogjakarta):

1. Parukuyan dan menyan
Parukuyan adalah:tempat arang/bara api yang terbuat dari tanah=(tempat sari pati/badan sakujur)
Merah = melambangkan api
Kuning = melambangkan angin
Putih = melambangkan air
Hitam = melambangkan tanah

Maknanya : bahwa saripati dari api,angin, air dan tanah adalah asal badan sakujur/penopang hidup.

beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Membakar kemenyan/ngukus = mendapat keberkahan dari Sang Pencipta
Maknanya : Mengkaji dan menghayati seta menelusuri hakekat dari nilai-nilai Ke Tuhanan.
Menyan = Temen tur nyaan/nu enyana/sa enya-enyana
Maknanya : Dalam penelusuran/kajian/penghayatannya harus secara sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya.
Wangi kemenyan = Silih wawangi=Perbuatan baik.

2. Amparan/Samak/Tikar
Maknanya : Bahwa sesungguhnya kita harus satu maksud,satu tujuan yg kesemuuanya itu hrs di dasari
oleh nilai-nilai : Ke Tuhanan,Ke Manusiaan,Ke Bangsaan,Ke Rakyatan,Ke Adilan
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

3. Alas lawon Bodas (Kain putih sebagai alas)
Lawon = awon = buruk
Bodas = putih = suci bersih
Maknanya : Hendaknya dalam tindakan dan ucapan harus di landasi oleh kebersihan hati fikiran.

4. Kendi di eusi cai make hanjuang (Kendi di isi air dan di beri daun hanjuang)
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya
Kendi = Taneuh =Tanah
Cai = Air
Hanjuang = Hana ing Juang (Hana = hirup/aya,Juang = berjoang)
Maknanya : Hidup harus berjuang berbakti pada nusa dan bangsa.

5. Sang Saka Dwi Warna (Sasaka Pusaka Buhun)=Bendera merah putih
Dwi Warna = Dua warna Beureum Bodas =Merah Putih
Beureum = Indung/ibu pertiwi
Bodas = Bapa/Rama angkasa
Sang saka = Soko = Tiang utama=Patokan
Pusaka = Pupuhu Saka-Beh/Cikal-bakal
Buhun = kolot/Bahan
Maknanya : Bahwa suatu kewajiban kita menghargai orang tua yang telah melahirkan dan mengurus kita,juga terhadap tanah air yg telah memberi kehidupan.Itu hrs di jadikan yg utama dlm kehidupan
(harus di jadikan soko/patokan)

6. Kembang Tujuh Rupa nu Seungit (7 jenis bunga yg wangi)
Tujuh = Tujuh psngswasa nu aya na diri (Kawasa,Kersa,Uninga,Hirup,Tingali,Ngarungu,Ngandika)=
GURU HYANG TUJUH
= Tujuh kuasa yg ada pd diri yg berasal dari Tuhan
Kembang seungit = Bunga wangi
maknanya : Mengembangkan tujuh kuasa tadi dg jalan belas kasih ke sesama mahluk.

7. Rujak Tujuh Rupa(tujuh macam rujak)
Rujak =r ujak (rasa:manis,pahit,asam,keset dll)
Tujuh rupa = tujuh poe/tujuh hari
Maknanya : dalam tujuh hari kita mengalami berbagai rasa kehidupan

8. Kopi pahit,kopi manis & air bening, didalam wadah batok
Makna : ]Didalam menjalani hidup pasti melewati pahit & manis kehidupan akan terlewati dengan pikiran yg sadar & ati yg bening (ikhlas).

9. Sangu tumpeng
Makna : menumpuk menjadi satu sehingga bermanfaat utk kehidupan kita

10. Bakakak hayam
Makna : pasrah kepada sang pencipta

11. Puncak manik(congcot yang diatasnya ada telur ayam)
makna : puncak kehidupan adalah rukun dengan sesama, telur diartikan cita-cita yang tinggi dalam hidup yang akan melahirkan perbuatan yang baik


12. Daun jati tilu lambar(3 lembar)
Makna: manusia dalam menjalankan hidup & kehidupan harus didasari tekad, ucapan dan perbuatan sejati yang baik

13. Lemareun/seupaheun/Sirih lengkap
Makna : jika ingin mengucap, jangan suka asal bicara, jika akan menyakiti orang lebih baik dibuang seperti orang sedang memeakan sirih


Intinya adalah didalam sesajen terdapat nilai luhur kearifan lokal yang dijadikan pedoman pandangan hidup agar kita tidak salah dalam melangkah.

Sumber


sips mantab mbah thumbup:
Kiageng Grubyuk - 27/09/2011 01:36 PM
#63

Quote:
Original Posted By balaprabu
keripik keri ning pikiran D


sebelumnya kan suruh mbah, kesusu le arep weruh D D hammer:
balaprabu - 27/09/2011 03:52 PM
#64

Quote:
Original Posted By Kiageng Grubyuk
sebelumnya kan suruh mbah, kesusu le arep weruh D D hammer:


wehehehhehe D
mantab mbah D
mas muso - 27/09/2011 10:00 PM
#65

akhirnya ada juga thread yang membahas tentang simbolisasi ubo rampe thumbup:

@TS ane usul donk o di page one mending dibuat index aja untuk update simbolisasi ubo rampe ini malu: jadi biar kita gampang nyarinya Peace:
balaprabu - 28/09/2011 01:39 AM
#66

Quote:
Original Posted By mas muso
akhirnya ada juga thread yang membahas tentang simbolisasi ubo rampe thumbup:

@TS ane usul donk o di page one mending dibuat index aja untuk update simbolisasi ubo rampe ini malu: jadi biar kita gampang nyarinya Peace:


maslaahnya saya sendiri ga ngerti bikin indeksnya D hahaha D
balaprabu - 28/09/2011 11:12 AM
#67
falsafah tumpeng
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya


Tumpeng adalah hidangan tradisional khas Jawa yang terbuat dari nasi yang dimasak bersama santan dan dibentuk menjadi kerucut yang menyerupai gunung.sekelilingnya dihias dengan sayuran dan lauk pauk.

Biasanya dihidangkan ketika ada acara seremonial/upacara tertentu.Misalnya acara selamatan Pernikahan, Khitanan,Bersih Desa/Merti Bumi, bahkan untuk ulang tahun dan peresmian/pembukaan suatu tempat.

Puncak kerucut sebagai simbol Tuhan.Sayuran dan lauk pauk yang mengelilinginya sebagai simbol alam dan lingkungannya. Warna Kuning pada nasi menandakan tingginya kekayaan dan kemuliaan.

Falsafah tumpeng berkait erat dengan kondisi geografis Indonesia, terutama pulau Jawa, yang dipenuhi jajaran gunung berapi. Tumpeng berasal dari tradisi purba masyarakat Indonesia yang memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para hyang, atau arwah leluhur (nenek moyang). Setelah masyarakat Jawa menganut dan dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, nasi yang dicetak berbentuk kerucut dimaksudkan untuk meniru bentuk gunung suci Mahameru, tempat bersemayam dewa-dewi.

Sesungguhnya 'tumpengan' istilah untuk acara dimana disajikan nasi tumpeng, tidak hanya untuk acara selamatan (kenduri) atau perayaan kebahagiaan semata, beberapa acara tumpengan yang biasa ada dimasyarakat antara lain:


[*]Tumpeng Robyong - Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah dan cabai.

[*] Tumpeng Nujuh Bulan - Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Selain satu kerucut besar di tengah, tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang.

[*] Tumpeng Pungkur - digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi.

[*] Tumpeng Putih - warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Digunakkan untuk acara sakral.

[*] Tumpeng Nasi Kuning - warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, dan sebagainya.

[*] Tumpeng Nasi Uduk - Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi.

[*] Tumpeng Seremonial/Modifikasi


[code]http://awalnya.blogspot.com/2010/10/tumpeng.html[/code]
mas muso - 28/09/2011 11:15 AM
#68

Quote:
Original Posted By balaprabu
maslaahnya saya sendiri ga ngerti bikin indeksnya D hahaha D


kaya gini nih contohnya https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=490123297&postcount=1
balaprabu - 28/09/2011 11:22 AM
#69
hiasan pernikahan ala surakarta
Hiasan Pernikahan

Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi janur kuning yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan:

2 pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimanapun).


Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.


Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.


Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.


Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang bekletepe yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut.


Sebelum Tarub dan janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari: pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, dan lainnya.


Arti simbolis dari sesajian ini adalah agar diberkati leluhur dan dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah Tarub, di jalanan di dekat rumah, dan sebagainya.


Dekorasi lain yang dipersiapkan adalah Kembar Mayang yang akan digunakan dalam upacara panggih

[code]http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_adat_Surakarta[/code]
balaprabu - 28/09/2011 11:25 AM
#70

Quote:
Original Posted By mas muso
kaya gini nih contohnya https://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=490123297&postcount=1


wah kayanya biar saja tread saya ini sederhana apa adanya aja tanpa indeks \)

sekalian melatih agar pembacanya mau membaca keseluruhan isi tread, ga cuma membaca yang perlunya saja terus pergi. biar belajar rasa kebersamaan D
roni7704 - 28/09/2011 09:32 PM
#71

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah kayanya biar saja tread saya ini sederhana apa adanya aja tanpa indeks \)

sekalian melatih agar pembacanya mau membaca keseluruhan isi tread, ga cuma membaca yang perlunya saja terus pergi. biar belajar rasa kebersamaan D


hehehe...setuju mbah prabu, jadi gak instant dan mau baca keseluruhan :thumbup
Digdadinaya - 28/09/2011 09:43 PM
#72

Quote:
Original Posted By balaprabu
wah kayanya biar saja tread saya ini sederhana apa adanya aja tanpa indeks \)

sekalian melatih agar pembacanya mau membaca keseluruhan isi tread, ga cuma membaca yang perlunya saja terus pergi. biar belajar rasa kebersamaan D


hu uh...dan juga kenalan sama kita2...D
balaprabu - 28/09/2011 10:06 PM
#73

Quote:
Original Posted By roni7704
hehehe...setuju mbah prabu, jadi gak instant dan mau baca keseluruhan :thumbup


udah saya bales yah \)
balaprabu - 28/09/2011 10:07 PM
#74

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
hu uh...dan juga kenalan sama kita2...D


hehhehee ya kan sambil baca dan ngobrol ngobrol enak D
Digdadinaya - 28/09/2011 10:09 PM
#75

Quote:
Original Posted By balaprabu
hehhehee ya kan sambil baca dan ngobrol ngobrol enak D


dan kalomalem bisa ihik2 bersama :shutups
balaprabu - 28/09/2011 10:14 PM
#76

Quote:
Original Posted By Digdadinaya
dan kalomalem bisa ihik2 bersama :shutups


pasti kebanyakan ubo rampe kuku bima neh ngakaks
K120NY - 29/09/2011 12:38 AM
#77

Quote:
Original Posted By balaprabu
udah saya bales yah \)


thank you mbah, shakehand
balaprabu - 29/09/2011 12:57 AM
#78
falsafah tradisi ritual ojung
beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya

Tradisi ojung merupakan sebuah tradisi yang hingga kini masih tetap dipertahankan warga Desa Klabang, Bondowoso yang bertujuan untuk meminta turun hujan agar desa mereka tak mengalami kekeringan ketika musim kemarau panjang tiba.

Tradisi yang pada puncaknya akan digelar sebuah pertandingan saling memukul menggunakan rotan dengan peserta laki-laki yang berusia rata-rata antara 17 hingga 50 tahun ini dibuka dengan dengan pergelaran dua tarian yang masing-masing bernama tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung.

Asal-usul dari dua tarian diatas sendiri konon bermula dari sebuah tokoh desa tersebut yang dianggap pahlawan pada masa lalu yakni Juk Seng karena kegigihannya dalam mengusir penjajah. Juk Seng pada masa itu adalah seorang demang yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh pengikut setianya bernama Jasiman bersama murid-muridnya.

Konon pada masa itu, untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah Juk Seng kerap ngamen dengan menggelar pertunjukan dua tarian tersebut. Dan karena warga tahu bahwa uang hasil dari ngamen itu akan digunakan sebagai penunjang perjuangan maka warga pun tak segan untuk menyawer uang mereka.

Tradisi menyawer inilah yang sampai sekarang pun masih tetap dilakukan warga ketika dua tarian ini dipentaskan, tak terkecuali ketika dua tarian tersebut digelar pada tradisi ojung.

Begitu tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung selesai digelar barulah kemudian warga menyiapkan sesaji-sesaji sambil membakar dupa di samping mata air yang ada di desa itu. Setelah acara doa bersama selesai barulah kemudian warga tumplek blek di samping mata air tersebut untuk makan bersama.

Setelah semua ritual selesai digelar barulah kemudian acar inti pun dilaksanakan yakni sebuah pertandingan saling memukul menggunakan rotan. Ketika wasit memberi aba-aba, semua peserta pun dengan tangkas saling memukul badan lawannya menggunakan rotan.

Panasnya sekujur tubuh akibat lecutan rotan lawan inilah yang konon akan mendatangkan rasa iba pada sang pemilik kehidupan untuk segera menumpahkan air hujan agar segala panasnya badan dapat terbasuh.
************

[code]http://budayanusantara.blogsome.com/2009/10/20/tradisi-ojung-untuk-meminta-hujan/[/code]
balaprabu - 29/09/2011 01:20 AM
#79
falsafah upacara pelet kandhung madura
Upacara pelet kandhung atau pelet bettang adalah sebuah upacara ritual orang hamil yang biasa dilakukan oleh penduduk yang berdiam di daerah Bangkalan dan Sampang Madura. Sebenarnya upacara pelet khandung ini mirip dengan tradisi yang biasa dilaksanakan oleh beberapa tempat di nusantara ketika masa kehamilan telah mencapai usia 7 bulan. Tapi seperti halnya pepatah lama yang berbunyi lain lubuk lain belalang, maka meskipun upacara ini sama-sama dilakukan oleh orang yang sedang hamil, tapi tentu saja cara dan prosesi yang dilakukan berbeda-beda.

Sebelum upacara pelet kandhung dilaksanakan, si ibu yang tahu bahwa dirinya hamil akan mengadakan upacara nandai yaitu sebagai penanda bahwa dirinya hamil. Setelah upacara nandai usai, maka akan ditaruh sebiji bigilan atau beton (biji dari buah nangka) di atas sebuah leper (tatakan cangkir) dan diletakkan di atas meja. Setiap bulannya, di leper itu ditambah satu biji bigilan sesuai dengan hitungan usia kandungan perempuan tersebut. Dan, pada saat di atas leper itu telah ada tujuh biji bigilan yang menandakan bahwa usia kandungan telah mencapai tujuh bulan, maka barulah diadakan upacara pelet kandhung atau pelet betteng.

Sebagaimana halnya upacara pada umumnya, dalam upacara pelet kandhung yang biasanya akan dilaksanakan pada saat bulan sedang purnama dan selepas isya ini pun memiliki tata cara tersendiri dan dibagi dalam beberapa tahap yang harus dijalankan oleh yang akan melaksanakan upacara. Disamping itu, harus disiapkan juga berbagai peralatan dan perlengkapan yang akan menunjang pelaksanaan upacara pelet kandhung. Adapun peralatan dan perlengkapan untuk upacara pelet kandhung ini antara lain :


[*]Kain putih sepanjang 1½ meter untuk digunakan sebagai penutup badan sang ibu hamil ketika melaksanakan upacara dimandikan
[*] Air 1 belanga besar untuk mandi
[*] Bunga setaman untuk campuran air mandi pada saat upacara pemandian
[*] Gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya
[*] 1 butir telur ayam mentah dan 1 butir telur ayam matang dengan direbus
[*] Ketan kuning yang telah masak
[*] Seekor ayam muda
[*] Minyak kelapa untuk digunakan mengurut dalam pijat perut
[*] Kemenyan Arab
[*] Setanggi
[*] Uang logam yang nantinya dicemplungkan kedalam air yang akan dipakai dalam upacara pemandian
[*] sepasang kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang Arjuna dan Sembodro serta dibubuhi tulisan Arab atau Jawa
[*] Kue procut, juadah pasar (jajanan pasar), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen), untuk makanan yang akan disajikan dalam upacara kenduri atau orasol



Dan tahap-tahap yang harus dilalui oleh orang yang dalam hal ini si ibu hamil dalam upacara pelet kandhung itu yakni :

Tahap pijat perut


Upacara ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat Al Quran (Surat Yusuf dan Maryam) oleh para undangan laki-laki yang dipimpin oleh seorang Kyae. Dan selagi para lelaki itu membaca Alquran di ruang tamu, di dalam bilik perempuan yang mengandung itu mulai dilaksanakan prosesi pelet kandhung. Dukun baji mulai memelet atau memijat bagian perut perempuan tersebut dengan menggunakan minyak kelapa. Maksud dari tindakan ini adalah untuk mengatur posisi bayi di dalam kandungan. Dan sementara dukun baji itu memijit perut perempuan hamil itu, secara bergiliran sanak kerabat akan masuk kedalam bilik untuk mengusap perut si perempuan hamil itu sembari memanjatkan doa agar si calon ibu dan bayinya selalu dilindungi Tuhan sampai proses melahirkan kelak.

Tahap penyepakan ayam

Setelah upacara pijat perut selesai, maka sang dukun baji ini akan membimbing si ibu hamil menuju ayam yang diikat di kaki ranjang untuk di sepak sampai menimbulkan bunyi “keok”. Ayam yang telah di sepak ini nantinya setelah upacara selesai akan diberikan kepada dukun baji sebagai ucapan terima kasih sekaligus sebagai pengurip

Tahap penginjakan telur dan kelapa muda

Setelah tahap penyepakan ayam dilewati maka sang dukun baji pun kembali membimbing si ibu hamil tadi menuju prosesi berikutnya yakni upacara penginjakan telur dan kelapa muda. Dalam prosesi ini si ibu hamil terlebih dahulu diminta untuk memakai kain putih untuk kemudian disuruh kaki kanannya menginjak kelapa muda, dan kaki kiri menginjak telur. Yang unik dari prosesi ini adalah apabila telur yang diinjak itu berhasil dipecahkan maka mereka meyakini bahwa anak yang bakal lahir nanti berjenis kelamin laki-laki. Tapi bila tak berhasil dipecahkan maka si dukun baji akan memungut telur tersebut untuk digelindingkan ke perut sang ibu hingga menggelinding menyentuh tanah. Begitu telur itu pecah maka para undangan yang hadir pun akan berseru “Jabing! Jabing!” yang berarti bahwa bayi yang akan lahir kelak berjenis kelamin perempuan.

Tahap ritual dimandikan

Pada tahap ini ibu hamil dimandikan oleh kerabat menggunakan air tertentu yang telah diberi kembang setaman di kamar mandi atau halaman belakang. Sang dukun baji ini pertama-tama akan mengambil gayung terbuat dari tempurung kelapa dan gagangnya dari ranting pohon beringin yang masih ada daunnya, kemudian menaburkan kembang setaman dan uang logam ke dalam air kongkoman dari periuk tanah, kemudian mengambil air tersebut menggunakan gayung tadi lalu diguyurkan kepada si ibu hamil.

Selesai dukun baji barulah kemudian giliran kerabat dan handai taulan si ibu hamil ikut memandikan menggunakan air yang sama tadi hingga air kongkoman habis. Selesai dimandikan kemudian si ibu hamil ini pun akan dibawa kembali ke dalam kamar untuk dirias dan dipakaikan baju paling bagus agar begitu si ibu hamil di bawa keluar menemui tamu undangan para tamu akan berseru “Radin! Radin!” yang berarti cantik.

Setelah itu, acara diteruskan dengan penyerahan dua buah cengker yang telah digambari tokoh wayang Arjuna dan Sembodro kepada Kyae untuk didoakan. Setelah selesai didoakan barulah cengker itu kembali diserahkan kepada matowa bine untuk diletakkan di tempat tidur menantu perempuannya yang sedang hamil itu hingga si perempuan melahirkan bayinya. [Sebagai catatan, cengker itu tetap ditaruh di tempat tidur hingga si perempuan melahirkan bayinya. Dan, dengan adanya cengker di sisi tempat tidurnya, maka sejak saat itu suaminya tidak diperkenankan lagi menggauli hingga bayi yang dikandungnya lahir dan telah berumur 40 hari.]


Dan tahap terakhir adalah pemberian jamu dek cacing towa untuk diminum si ibu hamil dan pemberian nasi ponar dan telur rebus. Oh iya, setelah jamu dek cacing towa diminumkan maka tempat jamu (cengkelongan) itu kemudian dilemparkan ke halaman. Masyarakat Madura meyakini bahwa jika cengkolan tersebut jatuh terlentang maka bayi yang akan lahir akan berjenis kelamin laki-laki dan sebaliknya.

Tahap Orasol atau kenduri

Pada tahap ini semua tamu undangan akan diajak makan bersama dengan hidangan-hidangan khas upacara pelet kandhung seperti Kue procut, juadah pasar (jajanan pasar), lemeng (ketan yang dibakar dalam bambu), tettel (penganan yang terbuat dari ketan), minuman cendol, la’ang dan bunga siwalan (semacam legen) dan sebagainya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan sekaligus terimakasih kepada semua kerabat yang telah ikut membantu terlaksananya upacara pelet kandhung ini.

Dengan digelarnya orasol ini maka selesailah serangkaian upacara pelet kandhung ini.

[code]http://budayanusantara.blogsome.com/2009/10/04/upacara-pelet-kandhung-pada-masyarakat-madura/[/ code]
balaprabu - 29/09/2011 02:14 AM
#80

Quote:
Original Posted By K120NY
thank you mbah, shakehand


nggeh sami sami
Page 4 of 13 |  < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 >  Last ›
Home > LOEKELOE > SUPRANATURAL > Budaya > beberapa simbolisasi ubo rampe dan falsafahnya